Anda di halaman 1dari 15

Asam amino merupakan prekursor dari banyak senyawa komplek nitrogen yang penting dalam fungsi fisiologis.

Porfirin salah satu dari komplek tersebut, adalah senyawa siklik yang membentuk heme dan klorofil. Sebagai gugus prostetik dari banyak protein, heme membentuk sejumlah hemeprotein yang secara terus menerus mengalami proses sintesa dan degradasi. Sebagai contoh, 6 sampai 7 gram hemoglobin disintesa setiap hari untuk menggantikan heme yang hilang dalam proses katabolismenya.

Pembentukan dan pemecahan komponen porfirin dari hemoglobin berperan dalam menjaga keseimbangan nitrogen tubuh. Sejumlah kelainan dapat terjadi selama proses sintesa porfirin dan hasil penguraian senyawa porfirin akan membentuk pigmen empedu yaitu bilirubin. Gangguan dalam metabolisme bilirubin selanjutnya akan memunculkan keadaan klinis yang sering dijumpai yaitu ikterus. Ikterus disebabkan adanya kenaikan kadar bilirubin karena sintesanya yang berlebih atau gangguan ekskresinya, biasanya muncul pada sejumlah penyakit yang berkisar dari anemia hemolitik hingga hepatitis serta penyakit kanker pankreas.

Heme adalah kompleks senyawa protoporfirin IX dengan logam besi yang merupakan gugus prostetik berbagai protein seperti hemoglobin, mioglobin, katalase, peroksidase, sitokrom c dan triptophan pirolase. Kemampuan hemoglobin dan mioglobin mengikat oksigen tergantung pada gugus prostetik ini yang sekaligus memberi warna khas pada kedua hemeprotein tersebut. Heme terdiri atas bagian organik dan suatu atom besi. Bagian organik protoporfirin tersusun dari empat cincin pirol. Keempat nya terikat satu sama lain melalui jembatan metenil, membentuk cincin tetrapirol. Empat rantai samping metil, dua rantai samping vinil dan dua rantai samping propionil terikat kecincin tetrapirol tersebut .

Dalam kondisi faali orang dewasa sehat, setiap jam 1-2 x 108 eritrosit dihancurkan. Oleh sebab itu dalam 1 hari seorang dengan berat badan 70 kg mempertukarkan sekitar 6 gram hemoglobinnya. Jika dihancurkan globin akan diurai menjadi asamasam amino pembentuknya yang kemudian akan digunakan kembali, dan besi heme memasuki kopartemen besi untuk di daur ulang. Porifirin yang bebas besi juga diurai terutama di retikuloendotel hati, limpa, dan sumsum tulang. Katabolisme cincin heme dimulai oleh enzim heme oksigenase dan menghasilkan tetrapirol linier.

Biliverdin adalah produk awal katabolisme dan pada reaksi reduksi menghasilkan bilirubin Bilirubin diangkut oleh albumin dari jaringan perifer ke hati, tempat senyawa ini diserap oleh hepatosit. Besi di heme dan asam amino globin disimpan dan digunakan kembali. Di hati bilirubin dibuat menjadi larut air melalui konjugasi dengan molekul asam glukoronida dan dieksresi ke dalam empedu. Kerja enzim bakteri di usus menghasilkan urobilinogen dan urobilin, yang diekresikan ke tinja dan urin.

Pada mamalia, suatu enzim larut yang dinamai biliverdin reduktase mereduksi jembatan metin antara pirol III dan pirol IV ke gugus metilen untuk menghasilkan bilirubin, suatu pigmen kuning. Diperkirakan bahwa 1 g hemoglobin menhasilkan 35 mg bilirubin. Pembentukan bilirubin harian pada orang dewasa adalah sekitar 250-350 mg yang terutama berasal dari hemoglobin. Bilirubin yang terbentuk dijaringan perifer di angkut ke hati oleh albumin plasma.

1. 2. 3.

Penyerapan bilirubin oleh sel parenkim hati Konjugasi bilirubin oleh glukoronat di retikulum endoplasma. Sekresi bilirubin kedalam empedu.

Jika bilirubin darah melebihi 1 mg/dl Hiperbilirubinemia akan timbul.


Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan bilirubin yang melebihi kemampan hati normal untuk mengekresikannya, atau disebabkan oleh kegagalan hati (karena rusak) untuk mengekresikan bilirubin yang diproduksi dalam jumlah normal, tanpa adanya kerusakan hati, obsruksi saluran ekresi hati, dengan menghambat ekresi bilirubin juga menyebabkan Hiperbilirubinemia.

1. 2.

3.

Prahepatik (mis anemia hemolitik) hepatik (mis. hepatitis) Pascahepatik (mis. Obstruksi duktus billaris komunis ). Pada semua kadaan ini , biliburin tertimbun di dalam darah, dan jika konsentrasinya mencapai nilai tertentu (sekitar 2-2,5 mg /dl), senyawa ini akan berdifusi ke dalam jaringan yang kemudian menjadi kuning Kadaan ini di sebut ikterus atau jaudice Dalam pemeriksaan klinis pengukuran bilirubin serum sangat bermanfaat.

Anemia hemolitik Ikterus fisiologi neonatus Sindrom crigler-najjar, tipe I; ikterus nonhemolitik kongenital Sindrom crigler-najjar, tipe II Sindrom gilbert Hiperbilirubinemia toksik

Obstruksi saluran empedu Sindrom dubin johnson Sindrom rotor

Keadaan transien (sementara) ini merupakan kasus tersering pada hiperbilirubinemia tak terkonyugasi Keadaan ini terjadi akibat percepatan hemolisis di sekitar waktu lahir dan sistem hati yang masih imatur untuk menyerap, mengkonyugasikan, dan mengekresikan bilirubin Karena yang meningkat adalah bilirubin yang tak terkonyugasi, senyawa ini mampu menembus sawar darah otak, jika konsentrasinya dalam plasma meleb ihi konsentrasi yang dapat diikat erat oleh albumin Hal ini dapat menyebabkan ensefalopait toksik hiperbilirubinemia, atau kernikterus, yang dapat menyebabkan retardasi mental

Pemberian fenobarbital, untuk menginduksi metabolisme bilirubin Fototerapi dengan sinar UV untuk mendorong ekskresi bilirubin tak terkonyugasi oleh hati dengan mengubah sebagian bilirubin menjadi turunan lain, misal fragmen malaimid dan isomer-isomer geometrik yang diekresikan dalam empedu

Heme adalah senyawa besi porfirin, dimana empat cincin pirol disatukan oleh jembatan metenil. Delapan rantai samping dari empat cincin pirol dapat berupa gugus asetil, metil, vinil dan propionil. 2. Biosintesa cincin heme berlangsung dalam mitokondria dan sitosol melalui delapan tahapan enzymatik 3. Gangguan dalam setiap tahapan enzymatik sintesa heme mengakibatkan kelainan bawaan yaitu porfiria. 4. Katabolisme heme menghasilkan senyawa biliverdin yang akan direduksi menjadi bilirubin. Zat besi pada heme dan asam amino dari globin akan disimpan atau digunakan kembali. 5. Bilirubin akan diambil oleh sel-sel hati, kemudian dirubah menjadi bentuk larut dan disekresi kedalam kandung empedu. Kerja enzym bakteri dalam usus terhadap bilirubin akan membentuk urobilinogen dan urobilin yang kemudian diekskresi dalam feces dan urine. 6. Kadar bilirubin darah yang meninggi disebut hiperbilirubinemia, menjadi penyebab ikterus. Kelainan ini dikelompokkan berdasar penyebab prehepatik, hepatik dan posthepatik. Pengukuran kadar biliribin dalam darah dan urine serta urobilinogen dalam urine dapat menjadi petunjuk diagnostik dari kelompok penyebab ikterus tersebut.