Anda di halaman 1dari 67

KOMPILASI MATERI ESTETIKA

SEMESTER III

ESTETIKA

SENI RUPA MURNI

FAKULTAS SASTRA & SENI RUPA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

Disusun oleh : Oki, Aditiya Wibowo, Almukalis Farisada, Aprilias Kukuh W, Dinar Maharani P, Diah W Lestari, Dwi Putra PP, Dwi Rizkiy Fauziah, Era Ocktaviani, Fatra, Frendy Pratama Aditya, I Gede Agung, Juita Indah S, Nanang Setiawan Jodi, M Fakhri A, Hre Dharma,

A. MENJELASKAN

PENGERTIAN

FILSAFAT

DAN

MEMBEDAKANYA

DENGAN PENGETAHUAN PENGETAHUAN LAINYA. Perbedaan filsafat,agama dan ilmu pengetahuan Filsafat adalah induk pengetahuan, filsafat adalah teori tentang kebenaran. Filsafat mengedepankan rasionalitas, pondasi awal dari segala macam disiplin ilmu yang ada. Filsafat juga bisa diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal. bersifat Sehingga mencapai spekulatif. Mendekati hakikat agak segala mutlak. situasi tersebut.Filsafat dipastikan kebenarannya. Filsafat timbul kerana adanya suatu kepercayaan dan dianggap benar. Sehingga muncullah suatu teori yang menyatakan kebenaran tersebut.Agama adalah lahir sebagai pedoman dan panduan bagi kehidupan manusia. suatu keyakinan yang mempercayai bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Agama lahir tidak didasari dengan riset, rasis,ataupun uji coba. Melainkan lahir dari proses peciptaan zat yang berada di luar jangkauan manusia. Agama diyakini berasal dariTtuhan dengan wahyu-wahyu-Nya. Agama adalah suatu perantara yang bisa mengantarkan manusia mencapai kepuasan hidup yang tidak bisa di dapat dalam ilmu-ilmu lain. Kebenaran agama bersifat mutlak atau absolute. Ilmu pengetahuan adalah suatu hasil yang diperoleh oleh akal sehat, ilmiah, empiris dan logis. Ilmu adalah cabang pengetahuan yang berkembang pesat dari waktu ke waktu. Segala sesuatu yang berawal dari pemikiran logis dengan aksi yang ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan dengan sebuah bukti yang konkret. Harus mempercayai paradigma serta metode-metode yang jelas yang juga dikorelasikan dengan bukti yang empiris yang mampu

Kebenaran dari filsafat kadang berupa keragu-raguan yang belum bisa

diterapkan secara transparan. Kebenaran ilmu pengetahuan bersifat nisbi atau relative.Keragu-raguan tentang agama, filsafat bisa memberikan jawaban tentang kebenarannya. http://ilmipenulis.wordpress.com/2011/10/29/perbedaan-agama-filsafat-danilmu-pengetahuan/ PENGERTIAN FILSAFAT, ILMU DAN ILMU PENGETAHUAN PENGERTIAN FILSAFAT Filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalahmasalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa kerana masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada, yaitu: hakikat tuhan, hakikat alam semesta, dan hakikat manusia, serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut. Perlu ditambah bahwa definisi-definisi itu sebenarnya tidak bertentangan, hanya cara mengesahkannya saja yang berbeda. Secara singkat dapat dikatakan Filsafat adalah refleksi kritis yang radikal. Refleksi adalah upaya memperoleh pengetahuan yang mendasar atau unsur-unsur yang hakiki atau inti. Apabila ilmu pengetahuan mengumpulkan data empiris atau data fisis melalui observasi atau eksperimen, kemudian dianalisis agar dapat ditemukan hukum-hukumnya yang bersifat universal. Oleh filsafat hukum-hukum yang bersifat universal tersebut direfleksikan ataudipikir secara kritis dengan tujuan untuk mendapatkan unsur-unsur yang hakiki, sehingga dihasilkan pemahaman yang mendalam. Kemudian apa perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Filsafat. Apabila ilmu pengetahuan sifatnya taat fakta, objektif dan ilmiah, maka filsafat sifatnya mempertemukan berbagai aspek kehidupan di samping membuka dan memperdalam pengetahuan. Apabila ilmu

pengetahuan objeknya dibatasi, misalnya Psikologi objeknya dibatasi pada perilaku manusia saja, filsafat objeknya tidak dibatasi pada satu bidang kajian saja dan objeknya dibahas secara filosofis atau reflektif rasional, karena filsafat mencari apa yang hakikat. Apabila ilmu pengetahuan tujuannya memperoleh data secara rinci untuk menemukan pola-polanya, maka filsafat tujuannya mencari hakiki, untuk itu perlu pembahasan yang mendalam. Apabila ilmu pengetahuannya datanya mendetail dan akurat tetapi tidak mendalam, maka filsafat datanya tidak perlu mendetail dan akurat, karena yang dicari adalah hakekatnya, yang penting data itu dianalisis secara mendalam. PENGERTIAN ILMU a. Hakikat Ilmu Ilmu Merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan

mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain). Pemahaman bermakna ataupun sesuatu yang memberikan makna kepada diri individu apabila datangnya sesuatu sumber yang dikatakan berkaitan dengan sesuatu kajian ataupun memerlukan kefahaman. b. Ciri-Ciri Ilmu Ilmu boleh dipertuturkan Ciri ini membezakan ilmu dengan perasaan dan pengalaman. Contohnya, sesetengah "pengalaman diri" seperti mimpi adalah sukar dipertuturkan melalui bahasa. Tetapi bagi ilmu, ia haruslah sesuatu yang dapat dipertuturkan melalui bahasa.

Ilmu mempunyai nilai kebenaran Sesuatu yang digelar sebagai ilmu biasanya dianggap benar. Ciri ini membezakan pengucapan ilmu dengan pengucapan sasastera yang biasanya mengandungi unsur-unsur tahayul. Ilmu adalah objektif Ciri ini bermaksud bahawa ilmu adalah sesuatu yang tidak dapat diubah menurut keinginan ataupun kesukaan seseorang individu. Ilmu diperolehi melalui kajian Ilmu adalah hasil daripada kajian. Ia bukanlah sesuatu rekaan. Ilmu mengenai cara memeroleh ilmu itu dikenali sebagai perkaedahan penyelidikan ilmiah Ilmu Sentiasa berkembang Ilmu adalah sentiasa berada dalam proses pertambahan, pemantapan dan penyempurnaan.

PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN Ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan yang bermanfaat untuk percobaan lebih lanjut (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995). Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusiadari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Ilmu bukan sekedarpengetahuan (knowledge), tetapi

merangkum disepakati

sekumpulan dan dapat

pengetahuan secara

berdasarkan teori-teori sistematik diuji

yang dengan

seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi. Hakekat ilmu pengetahuan dapat ditelusuri dari 4 (empat) hal, yaitu: 1) Sumber ilmu pengetahuan itu dari mana. Sumber ilmu pengetahuan mempertanyakan dari mana ilmu

pengetahuan itu diperoleh. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio). Sehingga timbul faham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. Aliran empirisme yaitu faham yang menyusun teorinya berdasarkan pada empiri atau pengalaman. Tokoh-tokoh aliran ini misalnya David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704), Berkley. Sedang rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Tokoh-tokoh aliran ini misalya Spinoza, Rene Descartes. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah induksi, sedang rasionalisme menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant adalah tokoh yang mensintesakan faham empirisme dan rasionalisme.

2)

Batas-batas Ilmu Pengetahuan. Menurut Immanuel Kant apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu hanya terbatas pada gejala atau fenomena, sedang substansi yang ada di dalamnya tidak dapat kita tangkap dengan panca indera disebut nomenon. Apa yang dapat kita tangkap dengan panca indera itu adalah penting, pengetahuan tidak sampai disitu saja tetapi harus lebih dari sekedar yang dapat ditangkap panca indera.

Yang dapat kita ketahui atau dengan kata lain dapat kita tangkap dengan panca indera adalah hal-hal yang berada di dalam ruang dan waktu. Yang berada di luar ruang dan waktu adalah di luar jangkauan panca indera kita, itu terdiri dari 3 (tiga) ide regulatif: 1) ide kosmologis yaitu tentang semesta alam (kosmos), yang tidak dapat kita jangkau dengan panca indera, 2) ide psikologis yaitu tentang psiche atau jiwa manusia, yang tidak dapat kita tangkap dengan panca indera, yang dapat kita tangkap dengan panca indera kita adalah manifestasinya misalnya perilakunya, emosinya, kemampuan berpikirnya, dan lain-lain, 3) ide teologis yaitu tentang Tuhan Sang Pencipta Semesta Alam. 3) Strukturnya. Yang ingin mengetahui adalah subjek yang memiliki kesadaran. Yang ingin kita ketahui adalah objek, diantara kedua hal tersebut seakan-akan terdapat garis demarkasi yang tajam. Namun demikian sebenarnya dapat dijembatani dengan mengadakan dialektika. Jadi sebenarnya garis demarkasi tidak tajam, karena apabila dikatakan subjek menghadapi objek itu salah, karena objek itu adalah subjek juga, sehingga dapat terjadi dialektika. 4) Keabsahan. Keabsahan ilmu pengetahuan membahas tentang kriteria bahwa ilmu pengetahuan itu sah berarti membahas kebenaran. Tetapi kebenaran itu nilai (axiologi), dan kebenaran itu adalah suatu relasi. Kebenaran adalah kesamaan antara gagasan dan kenyataan. Misalnya ada korespondensi yaitu persesuaian antara gagasan yang terlihat dari pernyataan yang diungkapkan dengan realita. Terdapat 3 (tiga) macam teori untuk mengungkapkan kebenaran, yaitu: a) Teori Korespondensi, terdapat persamaan atau persesuaian antara gagasan dengan kenyataan atau realita.

b)

Teori Koherensi, terdapat keterpaduan antara gagasan yang satu dengan yang lain. Tidak boleh terdapat kontradiksi antara rumus yang satu dengan yang lain.

c)

Teori Pragmatis, yang dianggap benar adalah yang berguna. Pragmatisme adalah tradisi dalam pemikiran filsafat yang berhadapan dengan idealisme, dan realisme. Aliran Pragmatisme timbul di Amerika Serikat. Kebenaran diartikan berdasarkan teori kebenaran pragmatisme. PERBEDAAN FILSAFAT, ILMU DAN ILMU PENGETAHUAN

2.1 HUBUNGAN ILMU, FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN Untuk melihat hubungan antara ilmu, filsafat dan ilmu pengetahuan, ada baiknya kita lihat pada perbandingan antara ilmu, filsafat dan ilmu pengetahuandalam bagan di bawah ini, (disarikan dari Drs. Agraha Suhandi, 1992) Ilmu Segi-segi dipelajari agar yang pasti Filsafat yang Mencoba dihasilkan Mencari segi bahkan memandang sesuatu secara dan keseluruhan Ilmu Pengetahuan merumuskanIlmu prinsip-prinsiplingkungan pandangannya cenderung segala umum pengetahuan penguasaan hidup

dibatasi pertanyaan atas jawaban.adalah umum, tidak membatasimanusia.

rumusan-rumusan

Obyek

penelitian Keseluruhan yang ada

Ilmu

pengetahuan

yang terbatas

adalah kajian tentang dunia material.

Tidak menilai obyek Menilai obyek renunganIlmu dari suatu sistem nilai dengan tertentu. misalkan suatu , makna,adalah

pengetahuan definisi

religi,eksperimental

kesusilaan, keadilan dsb. Bertugas memberikan Bertugas jawaban mengintegrasikan ilmu Ilmu ilmu-dapat kebenaran pengetahuan sampai pada melalui

kesimpulan logis dari pengamatan empiris

PERBEDAAN:

Obyek material [lapangan] filsafat itu bersifat universal [umum], yaitu

segala sesuatu yang ada [realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu Obyek formal [sudut pandangan] filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifatv teknik, yang berarti bahwa cara ideide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita

Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan

daya spekulasi, kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan

riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya

Filsafat

memuat

pertanyaan

lebih

jauh

dan

lebih

mendalam

berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu

Filsafat memberikan penjelasan yang terakhri, yang mutlak, dan

mendalam sampai mendasar [primary cause] sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang sekunder [secondary cause]

http://fitriyani501.blogspot.com/2012/09/pengertian-filsafat-ilmu-dan-ilmu.html

B. MENJELASKAN KEINDAHAN DAN SENI SEBAGAI SALAH SATU NILAI DASAR FILOSOFI

Istilah dan pengertian keindahan tidak lagi mempunyai tempat yang terpenting dalam estetika karena bersifat taksa untuk menyebut berbagai hal, bersifat longgar untuk menyatakan penilaian pribadi terhadap sesuatu yang kebetulan menyenangkan. Untuk membedakan nilai keindahan dengan jenis nilai lainnya, maka nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Filsuf Amerika, George Santayana (1863-1952) berpendapat bahwa estetik berhubungan dengan pencerapan dan nilai-nilai. Dalam bukunya The Sense of Beauty, beliau memberikan batasan keindahan sebagai nilai positif, intrinsik dan diobjektifkan. Nilai estetis selain terdiri dari keindahan sebagai nilai yang positif kini dianggap pulabmeliputi nilai yang negatif. Hal yang menunjukkan nilai negatif ialah kejelekan. Estetika kadang dirumuskan pula sebagai cabang filsafat yang berhubungan dengan teori keindahan. Kalau definisi keindahan memberi tahu orang untuk mengenali, maka teori keindahan menjelaskan bagaimana memahaminya. Estetika berasal dari kata Yunani Aesthesis, yang berarti perasaan atau sensitivitas. Itulah sebabnya maka estetika erat sekali hubungannya dengan selera perasaan atau apa yang disebut dalam bahasa Jerman Geschmack atau Taste dalam bahasa Inggris. Keindahan pada umumnya ditentukan sebagai sesuatu yang memberikan kesenangan atas spiritual batin kita. Nilai estetis lebih mendasar, murni dan abstrak, sedangkan nilai seni sebagai suatu cita yang berkaitan dengan bentuk visual dan auditif dari manusia, alam dan binatang, disamping bentuk yang abstrak seperti gerak

hati, ekspresi dan rasa citra. Niali seni juga banyak terdapat pada masalah teknis kesenian dan fisik material seni keseluruhan. C. MENJELASKAN SENI DAN KEINDAHAAN BESERTA LATAR BELAKANG PEMIKIRAN FILSAFAT SENI ZAMAN YUNANI KLASIK. 1. Makna Estetika Seni merupakan ekspresi kreatif manusia yang dituangkan dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam seni tentunya terdapat karya seni yang memiliki nilai estetik atau keindahan. Secara umum, karya seni merupakan hasil dari proses kreatif manusia yang membentuk kedinamisan dan keindahan. Karya seni tercipta sesuai keteraturan serta imajinasi pikiran manusia untuk mengekspresikan diri. Menurut Lowenfeld (dalam Susanti, 2010) seni adalah dinamika dari kesatuan aktivitas manusia dalam penggunaan simbol-simbol sebagai ungkapan dan abstraksi lingkungan manusia yang diorganisasi menjadi suatu konfigurasi. Adapun Depdikbud (dalam Susanti, 2010) membatasi seni sebagai segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya yang bersifat indah sehingga dapat menggerakan perasaan manusia. Karya seni juga bisa diartikan sebagai hasil aktivitas manusia untuk mengkomunikasikan pengalaman batin pada orang lain yang dijadikan dalam tata susunan indah, menarik, dan mempesona sehingga menimbulkan pengalaman baru dan pengalaman estetik bagi pengamat. Pengertian estetika secara umum merupakan sebuah filosofi yang mempelajari tentang nilai-nilai sensoris yang terkadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Adapun menurut Muharam (dalam Susanti, 2010) estetika umumnya dikaitkan dengan pengetahuan keindahan, sedang batasan singkat estetika adalah filsafat dan pengkajian ilmiah dari komponen estetika dan pengalaman manusia. Dalam kehidupan sehari-hari,

estetika disamaartikan dengan keindahan, yaitu tentang terbentuknya suatu keindahan dan seseorang bisa merasakannya. Karya seni diciptakan memiliki tujuan tertentu. Bagi masyarakat tradisional, karya seni biasanya digunakan sebagai pemujaan atau ritual, sebagai tuntunan yang didekatkan dengan religi, dan sebagai tontonan serta hiburan. Bagi masyarakat modern, karya seni digunakan sebagai ekspresi diri, media pendidikan, industri, terapi, dan media komersial. Bagi seorang seniman, tujuan menciptakan sebuah karya seni digunakan sebagai ungkapan ekspresi pribadi, komunikasi ide, keindahan, dan sebagai hiburan, baik secara fisik maupun hiburan secara batiniah. Ketika seorang seniman menciptakan sebuah karya seni, maka nilai estetik pun akan terbentuk dalam sebuah karya seni tersebut. Nilai estetik dibagi menjadi empat bagian, yaitu indah, indah sekali, sangat indah, dan luar biasa indah yang terdapat pada objek berkeindahan yang selanjutnya akan diserap oleh indrawi manusia. Setiap karya seni pastilah memiliki nilainilai keindahan, namun segala sesuatu yang indah belum tentu bisa disebut sebagai karya seni. Contohnya objek yang ada di alam seperti pelangi, bintang, bulan, pantai, dan yang lainnya yang berkeindahan juga bisa dikatakan indah walaupun bukan merupakan karya seni. Manfaat estetika dalam sebuah karya seni digunakan sebagai harmonisasi agar tercipta suatu ketenteraman, ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang mendatangkan kebahagiaan. Melalui kelima indera maka keindahan tersebut bisa dirasakan dan dinikmati. Selain itu keindahan tersebut didukung dengan karya yang memang diakui banyak pihak yang memenuhi standar keindahan. Pembahasan tentang estetika sebuah karya seni memiliki keterkaitan yang kuat pada masa Yunani dan Romawi beserta tokoh-tokohnya seperti Plato, Aristoteles dan Plotinus. Plato berpendapat bahwa secara umum

keindahan pada zaman Yunani berkaitan dengan keadilan, keikhlasan, dan kebijaksanaan. Menurutnya keindahan juga berasal dari cinta kasih yang dekat dengan etika. Keindahan terwujud karena adanya ukuran atau proporsi. Bentuk yang proporsional akan menghasilkan objek yang indah. Contohnya tinggi manusia normal adalah 7,5 kali kepala manusia. Plato juga berpendapat bahwa sumber keindahan itu bukan berasal dari manusia, satusatunya sumber keindahan berasal dari dunia idea. Aristoleles yang merupakan murid dari Plato kurang setuju dengan teorinya Plato, Aristoteles berpendapat bahwa keindahan yang ditiru bukan dari dunia idea, melainkan berasal dari alam sekitar sehingga objek keindahan ada di alam. Selanjutnya Plotinus yang memperkenalkan konsep Plato dan Aristoteles ke seluruh Eropa pada abad 3 Masehi. Namun, yang lebih penting adalah rahasia estetika sebuah karya seni yang sampai saat ini sulit untuk diungkapkan. Oleh karena itu, rahasia-rahasia tersebut akan dibahas dalam makalah ini. 2. Makna Estetika Dalam Sebuah Karya Seni Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, yaitu tentang terbentuknya suatu keindahan dan seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni. Estetika berasal dari Bahasa Yunani aisthetike, pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada tahun 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan melalui perasaan. Pandangan mengenai falsafah dan estetika sangat berhubung rapat tentang kesenian. Apabila disentuh tentang keindahan maka secara langsung akan dibicarakan hal-hal yang berkaitan dengan seni dan kesenian. Persoalan estetika banyak dibincangkan oleh ahli-ahli falsafah kuno dan ahli falsafah sekarang. Apabila persoalan estetika dibahas maka secara langsung

persoalan kesenian dan nilai keindahan akan disentuh. Nilai estetika itu sendiri adalah seni. Perkataan estetika dalam bahasa Yunani ialah aisthesis membawa maksud hal-hal yang dapat diserapkan oleh pancaindera atau lebih khusus lagi ialah kepekaan. Estetika juga boleh diertikan sebagi persepsi pancaindera atau sense of perception. Ahli filsafah Jerman yang bernama Alexander Baumgarten adalah orang pertama yang memperkenalkan perkataanaisthetika. Namun demikian Cottfried Leibniz telah meneruskan pendapatnya mengenai estetika dan memberi penekanan kepada pengalaman seni sebagai suatu bentuk ilmu. Estetika sering diungkapkan sebagai persamaan makna seni, tetapi ia berbeda dengan falsafah keindahan, karena estetika tidak semata-mata menjadi permasalahan falsafah. Di dalam estetika menyangkut pembahasan ilmiah berkaitan dengan karya seni, sehingga menangkapi bidang ilmiah, antaranya meliputi perbincangan tentang keindahan dalam seni atau pengalaman estetik, gaya atau aliran seni, perkembangan seni dan sebagainya. Secara langsung pengkajian falsafah estetika bersangkutan dalam bidang-bidang seperti psikologi, sosiologi, antropologi dan lain-lain yang bersangkutan. Estetika dalam kehidupan sehari-hari menurut bahasa diartikan sebagai keharmonisanagar tercipta suatu ketenteraman, ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan yang tertuju pada keindahan. Keindahan tidak hanya tercipta dari Tuhan, melainkan ada pula yang tercipta oleh kegiatan atau proses kreatif manusia yang menghasilkan sebuah karya seni. Di setiap karya seni tentunya memiliki keindahan yang bervariasi antara pandangan satu orang dan orang lainnya serta antara suatu karya seni dan karya seni lainnya. Nilai keindahan tersebut dibagi menjadi empat macam yaitu indah, indah sekali, sangat indah, dan luar biasa indah. Berhubungan dengan adanya keindahan dalam sebuah karya seni, maka George dalam bukunya aesthetic (dalam Ghazali, 2009) mengajukan tiga

permasalahan yang sering dikemukakan dalam estetika diantaranya sebagai berikut. a. Persoalan kritis yang menggambarkan, menafsirkan atau menilai karyakarya seni yang khusus. b. Pernyataan yang bersifat umum oleh para ahli sastra, musik dan seni halus untuk memberikan ciri-ciri khas artistik. c. Persoalan tentang keindahan, seni imitasi dan lain-lain.

3. Keterkaitan Antara Estetika Dan Karya Seni Antara estetika dan karya seni memiliki hubungan yang kuat seakan tidak bisa dipisahkan oleh suatu jarak. Hal ini disebabkan karena adanya satu kesatuan antara estetika dan karya seni. Satu kesatuan tersebut amatlah bermakna dan menjadi sesuatu yang mendasar. Dalam hal ini akan memunculkan sebuah konsep yang biasa disebut dengan the beauty and the ugly yangmerupakan perkembangan lebih lanjut yang menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan. Sejarah penilaian keindahan sudah dinilai begitu karya seni pertama kali dibuat. Namun rumusan keindahan pertama kali yang terdokumentasi adalah oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan

datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan. Tokoh-tokoh ahli falsafah barat klasik seperti Plato, Aristoteles, dan Hegel meneliti tentang persoalan keindahan melalui pembicaraan dalam bentuk estetika. Misalnya Plato dalam bukunya Symposium telah menghuraikan panjang lebar mengenai persoalan objek cinta ialah keindahan. Dalam bukunya itu beliau menyampaikan dalam bentuk dialog-dialog watak utama seperti Phaedrus, Eryximachus, Aristophanes, Agathon dan Socrates. Terang-terang dalam dialog watak ini menyatakan bahawa proses mencintai tentang keindahan itu perlu diasaskan pada zaman kanak-kanak lagi. Sebenarnya bangsa Yunani kuno telah menghayati pengalaman keindahan sebagai mewarisi bangsa mereka. Bangsa Yunani juga mengenal kata keindahan dalam arti estetik yang disebutnya sebagai symmetria untuk keindahan visual. Sementara perkataan harmonia adalah keindahan pendengaran. Lantaran itu pengertian keindahan adalah meliputi persoalan keindahan seni, alam, moral, dan intelektual. Sejak zaman ahli falsafah Socrates telah membincangkan persoalan nilai keindahan yang terlibat dalam pemikiran tentang keberadaan dalam objek yang menyebabkan ia indah. Mereka yang menikmati karya-karya seni mengalami penghayatan estetika. Pengalaman itu adalah perasaan yang timbul kepada seseorang ketika memandang sesuatu yang indah pada alam atau karya seni. Secara langsung ia telah memperkatakan tentang estetika dalam diri orang yang bertanya. Walaupun keindahan dan kecantikan adalah nilai yang subjektif, dua orang yang bertanya tentang kecantikan kepada sesuatu barang itu sifatnya berbeda pada nilai keindahan. Tetapi setiap orang menginginkan benda-benda yang cantik dan indah. Tidak ada satupunmanusia yang menginginkan keburukan. Itulah hakikatnya fitrah manusia yang dikaruniai oleh Tuhan.

Enam perkara yang penting dalam seni meliputi hal-hal sebagai berikut. a. Benda Seni Benda seni secara langsung berkisar kepada karya seni itu sendiri. Medium atau material karya seni menghasilkan suatu bentuk seni yang indah. Seni terwujud melalui media pendengar untuk audio dan media penglihatan untuk visual yang tampak. Media ini memberi peranan kepada kategori kepada seni misalnya seni harus lebih kepada media visual, seni teater lebih kepada media dengar dan visual, seni muzik lebih kepada media audio dan lain-lain. Persoalan yang diperdebatkan sejak zaman Plato dan Aristoteles mengenai benda seni ialah persoalan ekspresi seni, unsur peniruan atau mimesis, persoalan seniman sebenarnya dan pengamatan seni itu sendiri. b. Pencipta Seni Persoalan pengkarya seni adalah persoalan asas dalam konteks kreativitas dan ekspresi seniman. Yang sering diperbincangkan ialah soal gaya atau style karyanya, pribadinya misalnya pengaruhnya, persekitaran dan jantanannya menjadi persoalan dalam penghasilan karyanya. Di samping itu perbincangan juga menyentuh mengenai zaman dan bermulanya karya seni dihasilkan. c. Publik Seni Publik seni menyentuh persoalan komunikasi karya seni terhadap orang awam atau masyarakat. Seni itu adalah publik, tanpa orang lain menghayati karya seni maka karya seni itu tidak dapat berdiri dengan sendiri. Maka komunikasi dalam karya seni membuahkan sebuah karya seni akan berjaya dan menjadi milik masyarakat. d. Nilai Seni

Nilai seni selalu berhubungan dengan normal-normal yang esensial di samping sesuatu kepentingan yang sangat peribadi. Biasanya nilai seni bersangkutan mengenai kualitas, bersifat kontekstual dan esensi al-universal. e. Pengalaman Seni Pengalaman seni merupakan keterlibatan dalam penghayatan seni itu secara langsung. Pengalaman bersangkutan tentang ruang waktu dan penglihatan seni. Seni sebagai komunikasi adalah pengalaman yang melibatkan kegiatan panca indera, nalar, emosi dan intuisi seniman. Oleh sebab itu pengalaman seni terlibat dalam ruang waktu sebelum, semasa dan sesudah. f. Konteks Seni Jika membincangkan konteks seni, secara langsung akan

membincangkan keperluan masyarakat terhadap seni. Seni secara langsung menyangkut nilai-nilai setempat atau sejaman. Oleh yang demikian pemahaman seni amat erat dengan konteks jaman tersebut. Misalnya seni jaman sebelum merdeka di negara ini konteksnya adalah bentuk seni jaman tersebut. Begitu juga dalam konteks masyarakat yang Islam tidak menerima patung sebagai karya seni kerana bertentangan dengan syariah Islam.

D. MENJELASKAN SENI DAN KEINDAHAAN BESERTA LATAR BELAKANG PEMIKIRAN FILSAFAT SENI ZAMAN YUNANI KLASIK SAMPAI PLOTUS Filsafat keindahan bisa juga disebut estetika atau seni. Tujuannya sebagaimana tuuan filsafat, dapat dirumuskan mengikuti perumusan Harold Titus dengan mengaitkannya tentang masalah-masalah keindahan, yaitu: (1) Mentukan sikap terhadap keindahan yang terdapat dalam alam, kehidupan manusia dan karya seni; (2) Mencari pendekatan yang memadai dalam menjawab masalah obyek pengamatan indra, khususnya karya seni, yang menimbulkan pengaruh terhadap jiwa manusia; (3) Mencari pandangan yang menyeluruh tentang keindahan dan obyek-obyek yang memperlihatkan rasa keindahan; (4) Mengkaji masalah-masalah yang berhubungan dengan bahasa dan penuturannya yang baik, sesuai keperluan, misalnya dalam karya sastra, serta mengkaji penjelasan tentang istilah-istilah dan konsep keindahan; (5) Mencari teori untuk menentukan dan menjawab persoalan di sekitar karya seni dan obyek-obyek yang menerbitkan pengalaman indah.[1] Buku paling awal yang memandang estetika sebagai ilmu tersendiri ialah Baumgarten, seorang filsuf rasionalis Jerman. Karyanya yang terkenal adalah Aesthetica (1750). Kata aesthetica diambil dari kata Yunani aesthesis artinya pengamatan indra atau sesuatu yang merangsang indra. Dari arti pengamatan tersebut Baumgarten mengartikan estetika sebagai Scientia cognitio sensitiva atau pengetahuan yang berkaitan dengan apa yang dapat diamati dan merangsang indra, terutama karya seni. Di dalam perkataan aisthesis juga tercakup pegertian sensasi atau reaksi organisme tubuh manusia terhadap rangsangan luar. Di dalamnya juga tercakup perasaan, kecendrungan dan kegandrungan jiwa manusia terhadap sesuatu hal.[2] Pengertian estetika menurut Baumgarten dikritik oleh banyak ahli

filsafat, diantaranya Comaraswamy dan Gadamer. Menurut Comaraswamy pengertian semacam itu mereduksir karya seni dan obyek-obyek indah hanya sebagai fenomena psikologi dan selera subyektif. Padahal seni bukan semata-mata sebagai masalah perasaan dan selera pribadi, atau sematamata bertalian dengan pengalaman sensual. Masalah keindahan dan karya seni bertalian dengan hasrat manusia yang lebih tinggi, yaitu pengalaman kerohanian dan kepuasan intelektual.[3] Konsep Keindahan Menurut Plato Plato lahir di Athena pada 428 SM dan wafat pada 348 SM. Ia adalah seorang filosof edialis besar pertama dalam sejarah pemikiran Barat. Pemikiran falsafahnya jadi pembahasan dan perdebatan para filosof di Eropa dan Dunia Islam selama berabad-abad. Teorinya tentang keindahan dan seni disebar dalam bukunya yang berbentuk dialog seperti Apologia, Ion, Crito, Protagoras, Gorgias, Meno, Parmenides, Timaeus, Phaedo, Phaedrus, Republic dan Symposium. Dalam buku-bukunya itu dia juga berbicara tentang maslah etika, politik, metafisika, dan epistemologi. Salah satu bukunya yang banyak mengandung pembicaraan tentang estetika ialah Symposium. A.A.M. Djelantik dalam bukunya mengemukakan ada beberapa syarat ciri-ciri keindahan menurut Plato: Pertama,Ukuran dan Proporsi. Menurut plato pengetahuan tentang ukuran dan proporsimerupakan syarat utama keindahan. Persyaratan ini yang dikemukakan oleh Plato adalah pengaruh dari faham yang dianut oleh masyarakat Yunani pada umumnya tentang alam semesta. Manusia Yunani sangat terkesan oleh keindahan alam dan pengalaman bahwa segala peristiwa alam semesta ternyata mengandung suatu tata aturan tertentu. Terbitnya matahari dan bulan di langit, pasang surut air di laut, pemusiman iklim di dunia, teraturnya bulan purnama dan tilem, dan lain sebagainya. Keindahan alam dilihatnya dari bentuk bungabunga, susunan tubuh binatang dan manusia, yang semuanya mempunyai

ukuran dan proporsi yang tertentu. Plato menghendaki agar manusia seyogyanya mengikuti ukuran yang harmonis yang ada pada alam semesta. Karena itu ia mensyaratkan bahwa dalam keindahan ada ukuran dan proporsi sesuai dengan yang ada di alam semesta. Ukuran dan proporsi yang tepat menimbulkan harmoni, dan harmoni menimbulkan rasa indah pada manusia. [4] Kedua, Keindahan dan Cinta. Dalam hal ini Plato meuangkan pikirannya dalam suatu karangan berupa dialog antara filosof Sokrates dengan seorang wanita yang dianggap arif, bijaksana, bernama Diothema, sebagai juru tenung. Dalam bukunya yang berjudul Symposium itu, Plato menceritakan sebagai ucapan dari Diothema, bahwa asal dari semua keindahan adalah cinta (kasih sayang). Ia kemukan bahwa kita merasakan sesuatu sebagai indah karena kita mearuh cinta padanya, hingga kita selalu ingin kembali menikmatinya lagi. Untuk bisa menikmati sesuatu, perlu adanya cinta. Cinta memberi kemampuan untuk menikmati keindahan, sehingga aspek rasa cinta harus dikembangkan pada manusia.[5] Plato mengisyaratkan betapa pentingnya manusia mencintai keindahan karena keindahan merupakan pancaran dari kebenaran. Dalam mencintai keindahan biasanya manusia menempuh dua tahapan, yaitu tahapan cinta jasamaniah dan tahapan cinta rohaiah. Gerak naik dari cinta jasmaniah menuju cinta rohaniah itu dilakukan dengan tujuan untuk menghayati wujud yang lebih tinggi dari keindahan lahir, yaitu keindahan batin yang sifatnya abstrak atau ideal. [6] Ketika masih anak-anak, seseorang berada dalam tahapan cinta jasmaniah atau hahiriyah. Anak-anak biasa diajar untuk mencintai sesamanya secara badaiah, yang melaluinya kelak akan menyadari bahwa badan jasamainya sama indahnya dengan badan jasmani orang lain di sekitarnya. Sesuadah menyadari hal itu lambat laun kepekaannya meningkat ke tahapan cinta rohaiah. Dalam tahapan inilah ia mulai

menyadari bahwa keindahan rohaiah lebih tinggi dibanding keindahan jasmaniah. Apabila cinta rohaniah sudah mulai tumbuh, maka ia mulai kepekaannya dipupuk untuk mencintai perbuatan dan tindakan-tindakan yang baik secara moral. [7] Plato membedakan dua hal dalam obyek pencerapan keindahan. Yaitu obyek-obyek indah yang dapat dicerap secara inderwi dan keindahan itu sendiri yang tidak bisa dicerap secara inderawi. Melainkan kekuatan perenungan. Sekuntum bunga tulip yang merah menyala adalah obyek yang indah yang dapat dicerap secara inderawi. Tetapi keindahan hakiki yang berada di balik bunga tulip itu tidak dapat dicerap secara inderawi. Hanya akal pikiran yang dapat menangkap keindahan itu. Dalam Philebus Plato ciri-ciri penting dari obyek-obyek yang disebut indah. Ciri-ciri itu semua saling terkait, namun apabila masing-masing dipisahkan satu sama lain maka ciri-ciri itu tidak menjelaskan apa-apa tentang keindahan. Keindahan pada benda-benda yang sederhana unsurnya berbeda dari keindahan yang terdapat pada benda-beda yang kompleks unsur-unsurnya. Keindahan dari obyek yang bersahaja seperti air atau warna putih dapat dengan mudah ditangkap dengan indra. Obyekobyek ini memiliki keindahan tersendiri. Gambar ilmu ukur yang sederhana seperti segi tiga atau trapesium juga demikian, memiliki keinddahan mutlak dan abadi dalam dirinya, serta mudah ditangkap indra. [8] Ciri dari obyek yang bersahaja ini pada umumnya sama, yaitu kesatuan, kemantapan dan kebersahajaan ( simplicity). Kita tidak dapat memberikan pengertian terhadap keindahan dari obyek-obyek bersahaja ini. Kita sudah merasa cukup mengatakannya sebagai sesuatu itu indah. Tetapi lain halnya apabila kita menghadapi obyek-obyek pengamatan yang susunan dan unsur-unsurnya kompleks seperti sebuah karya arsitektur. Karya tersebut disebut indah karena memiliki proporsi yang sesuai dan hubungan unsur-unsurnya mempunyai hubugan yang serasi apabila diamati

secara seksama. Proporsi ditentukan oleh ukuran-ukuran yang dletakkan pada bangunan itu. Dengan adanya proporsi itu maka bangunan itu menjadi seimbang dan sempurna. Seperti sudah saya bahas di atas tentang konsep ukuran dan proporsi.[9] Konsep Keindahan Menurut Aristoteles Aristoteles (388-322 SM) dalah seorang filosof besar sesudah Plato. Ia lahir di Stagyra, Mecedonia. Ayahnya adalah seorang dokter pribadi raja Macedonia. Ia belajar filsafat di Akademi Plato selama 20 tahun di bawah bimbingan Plato. Sekembalinya ke Macedonia, ia menjadi penasehat pribadi Alexander Agung dan membuka lembaga pendidika tinggi yang disebut Lyceum. [10] Aristoteles berpendapat kendahan itu adalah atribut, perlengkapan, dan sifat yang melekat pada benda itu sendiri. Keindahan mewujud dalam ciri-ciri benda yang kita lihat. Ciri tersebut menyebabkan timbulnya rasa indah pada sang pengamat. Penikmatan ini dicapai oleh manusia sendiri dan bukan suatu hal yang harus menunggu karunia dari Tuhan. Aristoteles memandang nikmat-indah sebagai peristiwa yang biasa dan memberi peranan lebih banyak kapada intelek manusia untuk menikmati keindahan. [11] Aristoteles merumuskan ciri-ciri utama dan sifat-sifat yang dimiliki benda indah atau benda kesenian yang merangsang rasa-indah. Yaitu:[12] Pertama, Harmoni, Berukuran, dan Tepat Proporsinya. Ia bermaksud menandaskan, dalam segala pengukuran yang dilakukan terhadap sesuatu yang indah selalu terdapat keseimbangan. Kedua, Murni dan Jernih. Yang ia acu dari kata murni dan jernih adalah: dalam karya seni itu tidak ada samar. Kesemuanya harus tenang, jelas, lugas, tidak keruh, tidak berisi hal-hal yang meragukan. Semua karya seni itu

harus dapat dimengerti dengan mudah. Ketiga, Kesempurnaan dan keutuhan. Sesuatu yang utuh dan padu tanpa cacat memiliki satu kesatuan dan kepaduan antara unsur-unsurnya. Konsep Keindahan Menurut Plotinus Plotinus dilahirkan di kota Lise, Mesir pada tahun 205 dan wafat pada tahun 270. Ia dianggap seagai penerus ajaran Plato dan sekaligus penghubung antara tradisi filsafat Yunani dan tradisi Abad Pertengahan Eropa. mula-mula ia tertarik pada filsafat setelah mempelajari pemikiran Ammonius Saccas yang mengajar di Akademi Iskandariah. Ia meninggalkan Mesir dan mengembara ke Syiria, Iraq dan Iran (Persia) setelah menyelesaikan kuliahnya di Iskandariah. Pada tahun 245 M Plotinus pindah ke Romawi melalui Byzantium dan mendirikan mazhab filsafat tersendiri. Aliran filsafatnya disebut Neoplatonisme. Melalui pemikiran filsafatnya ini pengaruh filsafat Timur tersebar dan terserap dalam tradisi pemikiran filsafat di Eropa, terutama melalui tradisi pemikiran Kristen. Menurut Plotinus, keindahan terdapat pada banyak benda atau obyek pengamatan indera. Obyek paling nyata memancarkan keindahan ialah yag dapat diindra mata, dicerap pendengaran seperti ritme, musik dan irama, atau perkataan-perkataan yang disusun dengan cara tertentu serta berirama pengucapannya. Akal pikiran juga dapat merasakan keindahan yang tidak terdapat di alam benda. Misalnya keindahan berkenaan pola hidup, pandangan hidup, cara berpikir atau tindakan intelektual. Keindahan juga dapat dirasakan atau dinikmati melalui kearifan, kebijaksanaan dan kebajikan moral seseorang. Plotinus meolak keseimbangan sebagai ciri yang mesti ada pada keindahan sebagamana dikatakan Aristoteles. Keseimbangan hanaya tampak apabila bagian dibandingkan dengan bagian lain. Benda yang bersahaja tidak memiliki bagian yang dapat dibandingkan dan demikian tidak

memiliki keindahan apabila ukuran keindahan adalah keseimbangan. Keseimbangan hanya ada pada obyek-obyek yang memiliki lebih dari satu atau banyak bagian atau banyak komponen seperti sebuah gedung yang bagus beserta tamannya. Dalam teori keindahan Plotinus ide utama ialah kontemplasi (renungan) dan pengamatan hati. Pengalaman estetik yang tertinggi bersumber dari renungan dan pengamatan batin. Plotinus mengaitkan renungan dengan sesuatu yang berada di atas jangkauan indra, misalnya keindahan menuntut ilmu, keadilan, kearifan dan kebenaran. Sarana untuk mencerap keindahan tersebut dapat ditemui dalam obyek-obyek yang dapat dicerap melalui indra.misalnya seorang ahli botani yang meneliti tanaman tertentu, pertamatama adalah melalui pengamatan indrawi, baru menggerakkan pikiran dan jiwanya untuk menemukan pengetahuan dari tanaman yang ditelitinya. Menurut Plotinus keindahan yang tinggi tak punya bentuk. Misalnya keindahan menuntut ilmu atau pribadi seseorang. Keindahan yang diperoleh dari dua hal tersebut di antaranya ialah perasaan bahagia, rasa tahu yang mendalam dan takjub. Semua itu timbul karena dapat membawa kita menuju kebenaran yang tinggi. Di sini Plotinus membuat kerangka teori keindahan yang berperingkat dari keindahan alam indrawi ke tahap keindahan yang lebih tinggi, yaitu kebenaran yang dapat dicerap melalui renungan dan penelitian yang mendalam atas sesuatu. Kendati demikian ia beranggapan bahwa keindahan alam indrawi merupakan jalan menuju kebenaran. Di samping itu keindahan alam indrawi dapat membawa kita ke arah yang berlawanan, yaitu apabila kenikmatan yang diperoleh daripadanya dicermati kedudukan dan hawa nafsu, sehingga membuat jauh dari kebenaran. Misalnya lelaki melihat seorang wanita cantik yang berpakaian minim. Oleh karena itu, menurut Plotinus, dalam melihat atau mengalami keindahan, jiwa kita sendiri perlu dijadikan indah dan suci. Caranya ialah dengan merenung dan melihat ke dalam jiwa kita sendiri. Jika belum

sempurna hendaknya diperbaiki sehingga diri kita bersinar-sinar dengan kebajikan dan kemuliaan. Penutup Kita mengetahui, kepuasan atau rasa akan tergugah bila kita mengalami peristiwa yang menyenangkan-terutama peristiwa baik yang terjadi antara manusia dengan manusia. Bila kita menyaksikan kebahagiaan seorang ibu yang tiba-tiba didatangi anaknya yang sudah lama tidak pernah dilihat atau menyaksikan orang dengan penuh kasih sayang sedang menolong orang lain atau saat kita sendiri sempat memberi pertolongan kepada orang yang menderita, kita tergugah oleh perasaan seolah-olah kita mengalami atau menikmati sesuatu yang indah. Pada manusia naluri ini menjadi kesadaran, dijadikan kesadaran sosial, memberi rasa tanggungjawab, dan bila itu telah dipenuhi akan menjelma menjadi rasa bahagia dan indah. Rasa nikmat dan indah yang terjadi pada kita, timbul karena peran panca indra, yang memiliki kemampuan untuk menangkap rangsangan dari luar dan meneruskannya ke dalam. Rangsangan itu diolah menjadi kesan. Kesan ini dilanjutkan lebih jauh ke tempat tertentu dimana perasaan kita bisa menikmatinya. Penangkapan kesan dari luar, yang meimbulkan nikmat-indah terjadi melalui dua dari panca indra kita, yakni melalui mata dan atau telinga. Yang melalui mata kita sebut visual dan yang melalui telinga disebut akustik. Kesan visual dapat dicapai dengan melihat keindahan bunga, waranawarni, pemandangan sawah atau bentuk suara gapura. Sedangkan kesan akustik dapat diperoleh dari bunyi alam, seperti bunyi ombak di laut, bunyi angin yang menyentuh daun-daun, bunyi air yang mengalir di parit atau air mancur, yang semuanya bisa kita nikmati sebagai indah. Kedua indra ini telah mengambil peran tambahan, melakukan fungsifungsi yang jauh lebih tinggi, bukan hanya peran vital, tetapi telah melibatkan

proses-proses yang terjadi dalam budi dan intelektualitas. Lebih bertujuan untuk memberi pengetahuan dan kebahagiaan, baik jasmaniah maupun rohaniah. Nikmat-indah termasuk kepuasan tidak bisa disebut indah, demikian juga kita tidak mengatakan bau bunga itu indah tetapi enak atau harum.

Rujukan A.A.M, Djelantik, (1999). Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Perkembangan Indonesia Abdul Hadi W.M, Kumpulan Modul-Modul Perkuliahan Estetika dan Falsafah Seni. Pada Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina. [1] Dari Makalah Abdul Hadi W.M, Estetika Sebagai Ungkapan Religiusitas dalam Mata Kuliah Estetika (Falsafah Seni). [2] Ibid [3] Ibid, [4] A.A.M, Djelantik, (1999). Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Perkembangan Indonesia. Hal. 86 [5] Ibid, hal. 87 [6] Abdul Hadi W.M, Kumpulan Modul-Modul Perkuliahan Estetika dan Falsafah Seni, [7] Ibid [8] Ibid [9] Ibid [10] Ibid [11] A.A.M, Djelantik, (1999). Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Perkembangan Indonesia. Hal. 95 [12] Ibid, hal. 96

[13] Abdul Hadi W.M, Kumpulan Modul-Modul Perkuliahan Estetika dan Falsafah Seni.

E. MENJELASKAN

SENI

DAN

KEINDAHAAN

BESERTA

LATAR

BELAKANG PEMIKIRAN FILSAFAT AGUSTINUS Seni dan Keindahan? Pandangan Agustinus tentang seni dan keindahan. Menurut kesatuan. keseimbangan, Agustinus dan sumber keteraturan atau dia dasar keindahan ciri khas adalah dari

pandangan-pandangan

tentang

keselarasan,

menjadi

keindahan.Pengamatan dia

mengenai keindahan sebenarnya ada

memuat suatu penilaian yaitu apabila kita menilai suatu obyek itu indah, kita mengamatinya sebagai sesuatu yang sesuai dengan apa yang seharusnya ada di dalamnya yaitu keteraturan. Dan apabila kita menilai suatu obyek itu jelek, kita mengamatinya sebagai yang sesuatu yang menyimpang dari apa yang seharusnya terdapat di dalamnya yaitu ketidakteraturannya. Diantara semua itu kesatuanlah yang dikemukakan Agustinus sebagai sumber atau dasar keindahan.

Sumber Buku: Judul Pengarang Penerbit Tahun : Estetika Filsafat Keindahan : Dr.Fx. Mudji Sutrisno : Kanisius : 1993

F. PENGERTIAN

SENI

DAN

KEINDAHAN

BESERTA

LATAR

BELAKANG PEMIKIRAN FILSUF THOMAS AQUINAS Pengantar Pengalaman Manusia Tentang Keindahan Menurut pandangan fenomenologi setiap pengalaman yang ada pada manusia selalu terjadi sebagai pengalaman tentang sesuatu. Tetapi apa yang mau diuaraikan fenomenologi itu bukan sesuatu itu, melainkan apa yang merupakan inti dari pengalaman tentang sesuatu itu yang terjadi pada manusia. Dalam filsafat keindahan pengalaman estesis menurut pandangan fenomenologi merupakan pengalaman estesis tentang sesuatu; tak jarang para filsuf yang mau mengupas hejala keindahan, dalam hal itu mau langsung memeriksa sesuatu itu dalam rangka keindahan apa itu kiranya. Dengan perkataan lain cirri-ciri obyek yang bersangkutan itu mau diselidiki; mengapa ada obyek yang disebut indah (atau jelek), sedangkan nyatanya banyak obyek lain seakan-akan acuh tak acuh dalam rangka keindahan? Cara pendekatan itu mereka pakai karena takut kalau-kalau terperangkap dalam jurang subyektivisme selera. Dalam uraian tentang pengalaman estetis itu berturut-turut akan dikumpulkan unsur-unsur pokok yang kiranya paling mencolok, lalu akan diadakan suatu refleksi atas unsur-unsur itu dengan maksud agar pengalaman estetis tersebut dapat digambarkan menurut kedudukannya dalam seluruh kehidupan manusia. Rupa-rupanya pengalaman estetis merupakan sesuatu yang khas manusiawi; maka dari itu uraian pengalaman itu dapat berguna untuk mengenal manusia itu sendiri dengan cara yang mendalam.

Thomas Aquinas (1225-1274) Pandangan Thomas Aquinas tentang keindahan hanya tersebar sana sini dalam seluruh karyanya. Tetapi ada pentingnya kita memperhatikan karya Thomas Aquinas karena pandangannya memuat unsur baru yang merintis jalan bagi perkembangan pandangan tentang keindahan masa modern. Selain itu teori Thomas sangat kerap dikutip. Rumusan Thomas yang paling dikenal ialah : Keindahan berkaitan dengan pengetahauan;kita menyebut sesuatu itu indah jika sesuat itu menyenangkan mata sang pengamat. Di samping tekanan pada pengetahuan, yang paling mencolok ialah peranan subyek dalam hal keindahan Rumusan Thomas yang terkenal lainnya : Keindahan harus mencakup tiga kualitas : integritas atau kelengkapan..., proporsi atau keselarasan yang benar, dan kecemerlangan. Unsur-unsur itu sudah berulang kali kita lihat dalam sejarah. Dalam kutipan ini unsur-unsur ini secara tepat dan ringkas dihubungkan satu sama lain. Di sini peranan obyek yang indah yang dikenal dan dialami manusia nampak mencolok. Ada satu kutipan lagi: keindahan terjadi jika pengarah si subyek muncul lewat kontemplasi atau pengetahuan inderawi. Dengan begitu pada pokoknya indra-indra terasosiasi dengan keindahan yang paling berperanan bagi pengetahuan kita, misalnya penglihatan dan pendengaran yang berperanan bagi akal; kita bicara tentang penglihatan yang indah dan suara yang bagus; tetapi kita tidak berbicara tentang perasaan yang indah dan bau yang bagus; kita tidak membicarakan keindahan dengan mengacu pada tiga indera lainnya. Di sini nampaklah sekali lagi tekanan subyek dalam hal pengetahuan. Selain itu, dalam teks ini Thomas menunjukkan berakhirnya kegiatan dan

tercapainya sesuatu yang diidam-idamkan. Lagipula dalam teks itu peranan indera, dengan membedakan penglihatan dan pendengaran dari indera lainnya, tampak jelas. Secara umum gagasan Thomas merupakan rangkuman segala unsur filsafat keindahan yang sebelumnya dihargai. Dengan mengajukan peranan dan rasa si subyek dalam proses terjadinya keindahan, Thomas mengemukakan sesuatu yang baru. Peranan subyek sebenarnya sudah diangkat juga dalam teori Aristoteles tentang drama. Aristoteles sama seperti Thomas, menggarisbawahi betapa pentingnya pengetahuan dan pengalaman empiris-aposteoriori yang terjadi dalam diri manusia. Latar Belakang Pemikiran Thomas Aquinas Kalau Agustinus dalam teori estetikanya dipengaruhi oleh plato, bahwa perlu adanya Terang Ilahi (ide) untuk mencapai ketaraturan ideal dalam karya seni, maka Aquinas lebih cenderung pada pendapat Aristoteles. Menurut Aristoteles, peranan subyek dan benda seni amat menentukan dalam seni. Maka Aquinas juga menekankan pentingnya pengetahuan subyek dan pengalaman (empiris) kesenian. Dengan demikian terdapat penggabungan dua teori, yakni teori subyektif (tentang perlunya pengalaman keindahan) dan teori obyektif (perlunya benda seni). Pengaruh Aristoteles tampak dalam pengajuannya terhadap peranan subyek dalam proses terjadinya keindahan. Pengetahuan dan pengalaman empiris amat menentukan terjadinya pengalaman keindahan dalam diri manusia.

Daftar Pusaka Dr. Fx. Mudji Sutrisno SJ & Prof. Dr. Christ Verhaak SJ Estetika Filsafat Keindahan, Yogyakarta, KANISIUS, 1993 Jakob Sumardjo Filsafat Seni, Bandung, ITB Bandung, 2000

G. PENGERTIAN SENI DAN KEINDAHAN MENURUT BEBERAPA FILSUF KEINDAHAN PADA ZAMAN RENAISSANCE 1. Pengantar Secara etimologis kata renaissance (kelahiran kembali) berasal dari kata re (kembali) dan naissance (kelahiran). Artinya masa kebangkitan kembali minat ppada budaya Yunani Kuno platonisme). Manusia seakan lahir kembali dari tidur Abad Pertengahan. Seluruh kebudayaan Barat dibangunkan dari suatu keadaan statis yang berlangsung seribu tahun. (Neo-

2. Ciri ciri Estetika Renaissance A. Seni lukis dan seni pahat-patung merupakan hal yang bersifat mental dan ineligensi B. Seni dan puisi menirukan alam dan untuk tujuan ini, ilmu-ilmu empiris, memberikan petunjuk berguna. C. Seni-seni plastis, seperti sastra, juga mengejar tujuan moral yakni perbaikan status sosial, namun tetap bercita-cita menuju yang ideal D. Tujuan segala seni, yakni keindahan adalah properti objektif dari benda-benda yang terdiri atas tatanan, harmoni, proporsi, dan

kebenaran. Dan kebenaran ini sebagian dapat diungkapkan secara matematis. E. Puisi dan seni visual yang telah mencapai kesempurnaan serta bentuk yang definitif di masa Klasik rahasianya telah hilang dan kesenian semakin merosot atau menurun nilainya. F. Seni harus tunduk atau mengikuti aturan-aturan kesempurnaan yang secara rasional dapat dimengerti dan secara tepat dapat diformulasikan dan diajarkan. Aturan aturan ini adalah inheren di dalam karya-karya dan dapat dipelajari lewat studi karya-karya tersebut serta terhadap alam. G. Unsur perspektif menjadi penting dalam proses menciptakan sebuah ilusi tentang kedalaman suatu karya seni H. Seni di masa renaisans banyak berhutang pada penggalian kembali mitologi-mitologi klasik dan filsafat mistik.

3. Seni dan Keindahan Menurut Tokoh-tokoh pada Masa Renaissance A. Leon Battista Alberti (1404-1472) Alberti harmoni mendefinisikan keindahan Definisi sehubungan ini dengan

antar

bagian-bagian.

mengakibatkan

keindahan menjadi identik dengan tingkat harmoni tertentu, bukan harmoni sebagai sebuah kondisi atau syarat bagi keindahan. Definisi Alberti bersifat objektif, karena hanya merujuk pada properti benda-benda dan bukan pada kondisi pikiran si subjek. Ia memang mengajukan sebuah postulat tentang rasa keindahan khusus dalam diri manusia, leawat mana keindahan itu ditangkap

Sedangkan seni sendiri, ia lebih mengungkapkan bahwa seni adalah hasil inspirasi yang bersumber dari alam, artinya seseorang harus mempelajari alam sebelum mempelajari seni. Dengan mempelajari alam, gagasan yang ada dalam diri seniman akan lebih mudah untuk divisualisasikan. Dalam ulasannya mengenai karya seni, Alberti menggunakan istilah: kesatuan, keragaman, keanggunan, kesempurnaan, penemuan, imajinasi, fantasi dan caprice.

B. Marsilio Ficino (1433-1499) Ficino menyelidiki masalah keindahan secara teoritis. Ia berpendapat bahwa Dengan suatu konsentrasi yang mengarah pada inti batin, seorang seniman menciptakan karya seni yang kemudian diwujudkan secara konkret. Seni menurut Ficino adalah suatu kesinambungan

pengamatan karya seni dengan munculnya rasa keindahan atau pengalaman estetis.

DAFTAR PUSTAKA

Aldrich, Virgil C. Philosophy of Art, Englewood Clifffs: Prentice Hall, Inc., 1963. Foundation of Philosophy Series.

Audi, Robert. The Cambridge Dictionary of Philosophy, New York: Cambridge University Press, 2006

Barilli, Renato. A Course on Aesthetics, translated by Karen E. Pinkus, Minneapolis, London: University of Minnesota Press, 1993

Beardsley, M. Aesthetics, New York: Harcourt Brace, 1958.

Blavatsky, H.P. The Theosophical Glossary, Los Angeles, California: The Theosophical Company, 1990

Bell, Clive. Art , Capricorn Books, 1958

Cazeaux, Clive (ed.). The Continental Aesthetics Reader, London and New York: Routledge, 2000.

Chang, Garma C. C. The Practice of Zen, New York: Perennial Library, Harper & Row, Publishers, 1970

Cooper, David., A Companion to Aestheticis, Oxford: Blackwell Publisher Ltd, 2002

Daw Mya Tin (Trans.). Dharmapada, Verses and Stories, Bibiliotheca Indo-Tibetica Series-XX, Sarnath Varanasi: Central Institute of 1990. Higher Tibetan Studies,

H. PENGERTIAN SENI DAN KEINDAHAN BESERTA PEMIKIRAN FILSAFAT KRITIS Filsafat Kant berusaha mengatasi dua aliran tersebut dengan

menunjukkan unsur-unsur mana dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam akal. Kant menyebut perdebatan itu antinomy, seakan kedua belah pihak merasa benar sendiri, sehingga tidak sempat memberi peluang untuk munculnya alternatif ketiga yang barangkali lebih menyejukkan dan konstruktif. Mendapatkan inspirasi dari Copernican Revolution, Kant mengubah wajah filsafat secara radikal, dimana ia memberikan filsafatnya, Kant tidak mulai dengan penyeledikan atas benda-benda yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai objek. Lahirnya pengetahuan karena manusia dengan akalnya aktif mengkonstruksi gejala-gejala yang dapat ia tangkap. Kant mengatakan: Akal tidak boleh bertindak seperti seroang mahasiswa yang Cuma puas dengan mendengarkan keterangan-keterangan yang telah dipilihkan oleh dosennnya, tapi hendaknya ia bertindak seperti hakim yang bertugas menyelidiki perkara dan memaksa para saksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri telah rumuskan dan persiapkan sebelumnya. Upaya Kant ini dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis, suatu nama yang diberikannya sendiri. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan.

1. Kritik atas Rasio Murni Dalam kritik ini, atara lain kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan, yaitu: a. Putusan analitis apriori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (msialnya, setiap benda menempati ruang). b. Putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan meja itu bagus di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bhs latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. c. Putusan Misalnya, sintesis apriori; putusan yang disini dipakai sebagai suatu sumber

pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. berbunyi segala kejadian mempunyai sebabnya. Putusan ini berlaku umum dan mutlak, namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian sebab. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika dan ilmu pengetahuan alam disusu atas putusan sintetis yang bersifat apriori ini. Tiga tingkatan pengetahuan manusia, yaitu: a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung) Unsur apriori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu. Dengan unsur apriori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi meruang dan mewaktu. Pengertian kant mengenai ruang dan waktu ini berbeda dengan ruang dan waktu dalam pandangan Newton.

Kalau Newton menempatkan ruang dan waktu di luar manusia, kant megnatakan bahwa keduanya adalah apriori sensibilitas. Maksud Kant, keduanya sudah berakar di dalam struktur subjek. Ruang bukanlah ruang kosong, ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan; ruang bukan merupakan ruang pada dirinya sendiri (Raum an sich). Dan waktu bukanlah arus tetap, dimana pengindraan-pengindraan berlangsung, tetapi ia merupakan kndisi formal dari fenomena apapun, dan bersifat apriori. Yang bisa diamati dan diselidiki hanyalah fenomena-fenomena atau penampakan-penampakannya saja, yang tak lain merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentukbentuk apriori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia. b. Tingkat Akal Budi (Verstand) Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan datadata indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Dalam hal ini akal budi bekerja dengan bantuan fantasinya (Einbildungskarft). Pengetahuan akal budi baru dieroleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi tadi dengan bentukbentuk apriori yang dinamai Kant dengan kategori, yakni ide-ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologis dalam diri manusia. c. Tingkat intelek / Rasio (Versnunft) Idea ini sifatnya semacam indikasi-indikasi kabur, petunjuk-petunjuk buat pemikiran (seperti juga kata barat dan timur merupakan petunjukpetunjuk; timur an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat

dibawahnya,

yakni

akal

budi(Verstand) dan

tingkat

pencerapan

indrawi (Senneswahnehmung). Dengan kata lain, intelek dengan ideaidea argumentatif. Kendati Kant menerima ketiga idea itu, ia berpendapat bahwa mereka tidak bisa diketahui lewat pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut kant, hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga Idea itu berada di dunia noumenal (dari noumenan = yang dipikirkan, yang tidak tampak, bhs. Yunani), dunia gagasan, dunia batiniah. Idea mengenai jiwa, dunia dan Tuhan bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan benda pada dirinya sendiri (das Ding an Sich). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologis yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretisempiris. 2. Kritik atas Rasio Praktis Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang perseorangan (individu), sedangkanimperative (perintah) merupakan azas kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan. Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku apapun, dengan ia bersyarat (hypothetical)atau kelayakan dapat juga tanpa kant, syarat (categorical). Imperatif kategorik tidak mempunyai isi tertentu merupakan formal (=solen). Menurut perbuatan susila adalah perbuatan yang bersumber paa kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat (achtung).Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia. Kant, ada akhirnya ingin menunjukkan bahwa kenyataan adanya kesadaran susila mengandung adanya praanggapan dasar.

Praanggapan dasar ini oleh Kant disebut postulat rasio praktis, yaitu kebebasan kehendak, immortalitas jiwa dan adanya Tuhan. Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya apa yang disebut dengan argumen moral tentang adanya Tuhan. Sebenarnya, Tuhan dimaksudkan sebagai postulat. Sama dengan pada rasio murni, dengan Tuhan, rasio praktis bekerja melahirkan perbuatan susila. 3. Kritik atas Daya Pertimbangan Kritik atas daya pertimbangan, dimaksudkan oleh Kant adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam. Idealisme Transedental : Sebuah Konsekuensi Tidak mudah memahami kant, terutama ketika sampai pada teorinya: realisme empirikal (Empirical realism)dan jika Idealisme mencoba transendental (transendental idealism), apalagi

mempertemukan bagian-bagian dari teorinya itu. Istilah transenden berhadapan dengan istilah empiris, dimana keduanya sama-sama merupakan term epistemologis, maksud yang berbeda; dalam namun sudah tentu mengandung dari yang yang pertama berarti independent saja realisme

pengalaman (dalam arti transenden), sedang yang terakhir disebut berarti imanen pengalaman. Begitu berlawanan dengan idealisme, adalah dua istilah ontologis yang

masing-masing bermakna: lepas dari eksistensi subyek (independet of my existance) dan bergantung pada eksistensi subyek (dependent of my existence). Teori Kant ini mengingatkan kita kepada filsuf Berkeley dan Descartes. Berkeley sduah tentu seorang empirisis, tetapi ia sekaligus muncul sebagai seroang idealis. Sementara Descartes bisa disebut seorang realis karena ia percaya bahwa eksistensi obyek itu, secara umum, independen dari kita, tetapi ia juga memahami bahwa kita hanya mengetahui esensinya melalui idea bawaan innate ideas) secara clear and distinct, bukan melalui pengalaman. Inilah yang kemudian membuat Descartes sebagai seorang realis transendental.

I. MENJELASKAN

SENI

DAN

KEINDAHAAN

BESERTA

LATAR

BELAKANG PEMIKIRAN FILSAFAT HAGEL Menurut G.W.F Hegel (1770-1831), Filsuf Idealisme Jerman, berpendapat karya seni adalah medium material sekaligus faktual. Keindahan karya seni bertujuan menyatakan kebenaran. Baginya kebenaran adalah "keseluruhan". Sehubungan dengan gagasan kebenaran yang dikemukakannya, karya seni adalah presentasi indrawi dari ide mutlak (Geist) tingkat pertama. Dalam pemikiran Hegel, ide atau roh subyektif dan roh obyektif senantiasa berada didalam ketegangan. Ide-ide mutlak mendamaikan ketegangan ini. Maka sebagai ide mutlak tingkat pertama pada seni roh subyektif dan roh obyektif didamaikan. Subyek dan obyek kemudian berada didalam keselarasan sempurna. Filsafat estetika atau keindahan Hegel menilai bahwa seni adalah bagian yang tak terpisahkan dari sistem filsafat filsuf. Untuk memahaminya dengan tepat, kita harus mengetahui kedudukan seni dalam sistem ini. Pemaparan fenomenologis mengenai aktivitas Roh adalah keseluruhan bagian sistem ini. Pengetahuan yang tidak dapat dibedakan mana yng diketahui dan yang mengetahui, dan dipahami dan rasional disebut sebagai pengetahun absolut. Untuk mengenal yang Absolut adalah dengan mengenal hasil determinasi dirinya seperti mengenal Tuhan melalui ciptaan-Nya. Konsep-konsep seni yang selama ini dikenal merupakan hasil dari filsafat yang menjadikan seni sebagai objeknya. Maka, seni dapat dipahami dengan logis dan konseptual karena merupakan bagian dari filsafat. Meski awalnya, Hegel menyatakan bahwa hanya keindahan karya seni yang dihasilkan oleh

manusia yang termasuk dalam filsafat keindahan (estetika). Namun, ia pun menambahkan bahwa keindahan alam perlu diperhatikan.

J. SCHOPENHAUWER Biografi Arthur Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Schopenhauer lahir di Danzig pada tahun 1788. Ia menempuh pendidikan di Jerman, Perancis, dan Inggris. Ia mempelajari filsafat di Universitas Berlin dan mendapat gelar doktor diUniversitas Jena pada tahun 1813. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfurt, dan meninggal dunia di sana pada tahun 1860. Dalam perkembangan filsafat, Schopenhauer dipengaruhi dengan kuat oleh Imanuel Kant dan juga pandangan Buddha. Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda-padadirinya-sendiri (das Ding an sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni "kehendak". Pemikiran Filosofis Filsafat Keinginan Schopenhauer memberikan fokus kepada investigasinya terhadap motivasi seseorang. Sebelumnya, filsuf terkemuka Hegel telah

mempopulerkan konsep Zeitgeist, ide bahwa masyarakat terdiri atas kesadaran akan kolektifitas yang digerakkan di dalam sebuah arah yang jelas. Schopenhauer memfokuskan diri untuk membaca tulisan-tulisan dua filsuf terkemuka pada masa kuliahnya, yaitu Hegel dan Kant. Schopenhauer sendiri mengkritik optimisme logika yang dijelaskan oleh kedua filsuf terkemuka tersebut dan kepercayaan mereka bahwa manusia hanya didorong oleh keinginan dasar sendiri, atau Wille zum Leben (keinginan untuk hidup) yang diarahkan kepada seluruh manusia. Schopenhauer sendiri berpendapat bahwa keinginan manusia adalah sia-sia, tidak logika, tanpa pengarahan dan dengan keberadaan, juga dengan seluruh tindakan manusia di dunia. Schopenhauer berpendapat bahwa keinginan adalah sebuah keberadaan metafisikal yang mengontrol tindak hanya tindakan-tindakan individual, agent, tetapi khususnya seluruh fenomena yang bisa diamati. Keinginan yang dimaksud oleh Schopenhauer ini sama dengan yang disebut dengan Kant dengan istilah sesuatu yang ada di dalamnya sendiri. Pandangan filosofis Schopenhauer melihat bahwa hidup adalah penderitaan. Schopenhauer menolak kehendak. Apalagi dengan kehendak untuk membantu orang menderita. Ajaran Schopenhauer menolak kehendak untuk hidup dan segala manifestasinya, namun ia sediri takut dengan kematian. IAM STAY AT HERE :) Keputusan dan Hukuman Schopenhauer menjelaskan seseorang yang hendak

mengambil keputusan. Menurut dia, ketika kita mengambil keputusan, kita akan diperhadapkan dengan berbagai macam akibat. Oleh sebab itu, keputusan yang diambil memiliki alasan atau dasar. Keputusankeputusan ini menjadi tidak bebas lagi bagi si pemilihnya. Pemilih itu

harus

diperhadapkan

kepada

beberapa

akibat

dalam

sebuah

keputusan. Segala tindakan yang dilakukan seseorang merupakan kebutuhan dan tanggung jawabnya. Segala kebutuhan dan tanggung jawab itu pun sudah dibawa sejak lahir dan bersifat kekal. Schopenhauer juga menegaskan jika tidak ada keinginan bebas, haruskah kejahatan dihukum? Catatan Filsafat Schopenhauer dengan ini termasuk ke dalam Idealisme Jerman. Keduanya

Jerman. Pendapat ini dibuktikan melalui perbandingan antara filosofis Schopenhauer pandangan Idealisme mengajarkan bahwa realitas bersifat subjektif, artinya keseluruhan kenyataan merupakan konstruksi kesadaran Subjek. Dunia ini juga dipandang sebagai ide. Pandangan Schopenhauer ini pun dijadikan wakil dari Idealisme Jerman. Sekalipun memang ada hal-hal yang bersifat lebih khusus dan fundamental yang membedakan pemikiran Schopenhauer dengan Idealisme Jerman. Bagi Schopenhauer, dasar dunia ini transcendental dan bersifat irasional, yaitu kehendak yang buta. Kehendak ini buta, sebab, sebab desakannya untuk terus-menerus dipuaskan tidak bisa dikendalikan dan tidak akan pernah terpenuhi. Namun, justru keinginan yang tak sampai berarti penderitaan. Selanjutnya, menurut dia bahwa kehendak transendental itu mewujudkan diri dalam miliaran eksistensi kehidupan, maka hidup itu sendiri merupakan penderitaan. Jalan keluar yang diusulkan Schopenhauer ini pun cukup logis. Kalau hidup ini adalah penderitaaan, maka pembebasan dari penderitaan tersebut tentunya akan tercapai melalui penolakan kehendak untuk hidup. Konkretnya adalah lewat kematian raga dan bela rasa.

Cara pemikiran Schopenhauer ini menarik. Namun, tetap saja memiliki kesalahan. Masalah dalam filsafatnya berkaitan dengan pandangannya atas pengetahuan tentang prinsip individuasi. Menurut Schopenhauer, berkat pengetahuan inilah manusia sadar bahwa dirinya adalah sama dengan semua makhluk hidup lain (dasar dari sikap bela rasa) sehingga dia tidak perlu memutlakkan diri dan keinginannya (dasar sikap mati raga atau penyangkalan diri). Tanpa pengetahuan ini, manusia tidak akan mengalami pencerahan dan tetap berada dalam kegelapan. Anggapan Schopenhauer ini menekankan dua hal, yaitu bahwa kesadaran manusia terbukti lebih kuat dibandingkan nafsu dan keinginannya, dan bahwa karena itu ia juga mampu memperhatikan keadaan kepentingan orang lain, di dalam hal ini berarti bahwa manusia bukanlah makhluk egois sebagai mana yang dipikirkan oleh Schopenhauer. Namun, jika kesadaraan bisa menguatkan manusia menyangkal diri dan berbela rasa, bukankah demikian kehendak untuk hidup itu sendiri bukan merupakan dasar dari segalanya? Pengaruh Kendatipun demikian, pengaruh Scopenhauer dalam perkembangan pemikiran selanjutnya cukup besar. Ia membuka jalan bagi orang suatu psikologi tentang alam bawah sadar ala Freud. Pemikiran Schopenhauer tentang kehendak untuk hidup di kemudian hari mempengaruhi filsafat Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa (Der Wille zur Macht)'. Setengah abad kemudian, ajaran Schopenhauer ini memberikan inspirasi pada filsafat hidup (Vitalisme), misalnya pada pemikiran Henry Bergson (1859-1941). Selain itu, ia menghidupkan

perhatian dan minat orang Baratpada studi kesustraan dan agamaagama Timur, terkhusus Buddhisme.

INTI PEMIKIRAN NIETZCHE MENGENAI SENI DAN KEINDAHAN

Estetika menurut Nietzche bukanlah diperoleh melalui hukum penyebaban yang logis, melainkan melalui suatu kepastian visi. Nietzche memiliki pemikiran dan mengangkat anggapan dalam dunia seni mengenai sifat dualitas seni. Dimana dalam anggapan itu seni dimanifestasikan sebagai Apollonion dan Dionysion. Pada Appolonion terdapat sifat ketenangan dan keteraturan, sedangkan Dionysion mewakili pengalaman yang meluap-luap. Konsep Apollonion mengartikan seni dalam sifat yang tenang dan berasal dari perencanaan dan pengenalan akal budi, sedangkan Dionysion mengartikan seni yamg bersifat meluap-luap dan berasal dari emosi. Dari dua macam seni Apollonion dan Dionysion yang memiliki sifat bertolak belakang, akan terjadi benturan dan pertentangan terus-menerus, namun secara periodik akan mengalami rekonsiliasi. Kecenderungan sifat yang berbeda ini berjalan paralel satu sama lain, dan saling mempengaruhi untuk menghasilkan hal-hal yang baru dan bertentangan, namun secara superfisial disatukan dalam satu istilah, yaitu seni.

L. HEIDEGGER,MARTIN 1889-1976 Di Jerman,filsafat eksistensi diwakili oleh Martin Heidegger dan Karl Jaspers.Heidegger lahir di Masskirch pada tanggal 26 September 1889.Ia mula-mula masuk biara Yesuit,kemudian ia belajar filsafat di Freiburg pada Rickert dan Husserl.Di sini ia menjadi dosen privat dari tahun 1915-1917.Pada tahun 1916 ia mempersiapkan diri menjadi Lektor dengan Thesis berjudul Die Kategorlen und | Bedeutungslehre des Duns Scotus.Dari tahun 1923-1928 ia menjadi guru besar di Marburg.Buku Karyanya yang ditulis pada masa di Marburg ialah Sein und Zeit I (Berada dan Waktu) yang terbit pada tahun 1927.Rencana buku yang tiga jilid tidak pernah terlaksana.Pengaruh yang besar padanya datang dari Edmund Husserl yang pada tahun 1916pindah ke Freiburg.Pada tahun 1928,Heidegger pindah ke Freiburg lagi untuk menggantikan Husserl.Atas bantuan Nazi pada tahun 1933 ia diangkat menjadi Rektor di UniversitasFreiburg dan pada bulan Mei 1993 ia mengucapkan inaugurasi dengan judul Die Selbsbedeutung der deutschen Universitt.Pidato ini kurang menguntungkan baginya,karena cenderung pada Ideologi Nazi. Heidegger ingin memecahkan persoalan tentang arti berada yang sampai sekarang menurutnya hanya samar-samar saja.Persoalan ini harus dijawab secara ontologis dan dengan metode fenomenologis. Yang dimaksud dengan berada ialah beradanya manusia,sebab bagi benda-benda tidak berada,hanya terletak begitu saja.Istilah yang dipergunakan Heidegger ialah vorhaden.Menurut Heidegger harus

dibedakan antara sein dan seinade.Sein adalah berada bagi manusia,sedangkan benda-benda hanya seinade,yang berada.Berada bagi manusia adalah Dasein,berada di sana,menempati tempat tertentu dan pada saat atau waktu yang tertentu pula.Manusia berada di dunia ini tidak sendiri,ia berada bersama-sama,maka Dasein manusia ditentukan pula oleh Dasein dari manusia lain,ditentukan oleh Mistein(berada bersama).Dasein manusia ini juga disebut eksistensi. Manusia di dunia disibukkan dengan benda-benda yang harus ditangani,disibukkan untuk memelihara.Manusia yang terbuka ini berdasarkan pada tiga hal ialah kepekaan (Befindlichkeit),mengerti (Verstehen) dan kata (Rede).Kepekaan ini terlihat dalam bentuk perasaan dan emosi;kepekaan dapat menekan,sehingga manusia tidak mampu menanggulanginya dan manusia merasa terlempar (geworfen) pada nasib.Kepekaan yang terpenting ialah rasa cemas (Angst). Dalam manusia berada di dunia,maka manusia menghadapi dunia yang sudah ada untuk ditangani sehingga benda-benda tadi dapat dipakai.Di dalam kesibukan dan kecintaan untuk memelihara manusia merasa cemas akan ketiadaan karena ketiadaan ini mengancam ada.Kematian ini adalah akhir yang selalu hadir.Maka eksistensi manusia adalah eksistensi yang menuju ke kematian.Dasein manusia dapat dikatakan Sein zum Tode. Sumber Judul buku Penulis Penerbit : FILSUF-FILSUF DUNIA DALAM GAMBAR : Dra.Endang Daruni Asdi-Drs.A.Husnan Aksa : Karya Kencana

Kota terbit

: Yogyakarta

Tahun Terbit : 1982

M. WALTER BINJAMIN Biografi Walter Benjamin ialah (Berlin, 15 Juli 1892 Portbou, Spanyol, 27 seringkali

September 1940)

seorang filsuf asal Jerman yang

dianggap sebagai salah satu pemikir terpenting Mazhab Frankfurt. Beberapa pemikiran yang memengaruhi tulisan-tulisannya antara lain Marxisme Bertolt Brecht, mistisismeYahudi Gershom Scholem. Karya-karyanya memiliki landasan teori yang sangat kuat, tapi gaya penulisan dan pemilihan subyek kajiannya seringkali tidak mengikuti standar zamannya. Beberapa studi yang dilakukan setelah kematiannya menunjukkan bahwa dia ialah pemikir brilian yang seringkali tidak diakui semasa hidupnya. Dia meninggal setelah tentara Nazi menyita seluruh isi perpustakaannya dan dia terpaksa meninggalkan Jerman. Di perbatasan Jerman dan Perancis, dia menemui ajalnya. Sampai saat ini, tidak diketahui apakah dia melakukan bunuh diri atau tidak. Hidup dan Karya Walter Benjamin dilahirkan Dia dikenal di semasa dalam hidupnya sebuah sebagai

keluarga Yahudi di Berlin.

seorang esais, penerjemah dan kritikus sastra. Semenjak penerbitan kumpulan tulisannya pada tahun 1955, 15 tahun setelah kematiannya, karya-karya Walter Benjamin telah dijadikan kajian berbagai buku dan esai. Sebagai seorang sosiolog dan kritikus menggabungkan yang merupakan sebuah sumbangan kebudayaan, Walter ide-ide baru Benjamin intelektual

dari mistisismeYahudi danmaterialisme sejarah di dalam sebuah proyek

terhadap filsafat Marxisme dan teori estetika. Sebagai penerjemah, dia menerjemahkan karya-karya Marcel Proust dan Charles Baudelaire. Salah satu esai Walter Benjamin, ' The Task of the Translator dianggap sebagai salah satu teks terbaik di dalam teori penerjemahan. Beberapa karya Walter Binjamin : Goethes Wahlverwandtschaften (Goethe's Elective

Affinities / 1922), Ursprung des deutschen Trauerspiels (Origin of German Tragic Drama [Mourning Play] / 1928), Einbahnstrae (One Way Street / 1928), Das Kunstwerk im Zeitalter seiner technischen

Reproduzierbarkeit (The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction / 1936), Berliner Kindheit um 1900 (Berlin Childhood around

1900 / 1950, published posthumously), Uber den Begriff der Geschichte (On the Concept of History / Theses on the Philosophy of History) / 1939, published posthumously).

Das Paris des Second Empire bei Baudelaire (The Paris of the Second Empire in Baudelaire / 1938)

Karya

terakhir

Benjamin

yang

tidak

sempat

terselesaikan sebagai keunikan

berjudul Passagenwerk atau Arcades terutama mengenai pasar beratap

Project direncanakan yang menciptakan

sebuah mahakarya mengenai kehidupan di kota Paris di abad ke-19,

kehidupan

jalanan

dan

terciptanya

budaya "jalan-jalan".

Setelah

kematian Walter Benjamin, karya ini telah diedit dan diterbitkan di dalam bentuknya yang belum selesai. Walter Benjamin seringkali bertukar pikiran dengan Theodor

Adorno dan Bertolot Brecht, dan juga beberapa kali mendapatkan sumbangan finansial dari Lembaga Penelitian Sosial Frankfurt yang, pada waktu itu, berada di bawah kepemimpinan Adorno dan Max Horkheimer. Pengaruh-pengaruh yang bertabrakan dari sebuah mistisisme Yahudi, Critical Theory dan Marxisme merupakan

arena konflik pusat di dalam pemikiran Walter Benjamin, dan sampai di akhir hayatnya dia belum bisa membuat sebuah sintesa di antara ketiga paham teori tersebut. Gaya penulisan yang digunakan Walter Benjamin bisa dikatakan sangat mampu membangkitkan minat dan juga rumit. Susan Sontag membuat komentar bahwa kalimat-kalimat yang digunakan oleh Walter Benjamin tidak memiliki kesinambungan seperti di dalam penggunaan biasa. Hubungan antar kalimat seringkali seperti tidak memiliki hubungan logis, dan setiap kalimat seakan-akan memiliki "sesuatu yang penting untuk dikatakan", tapi "kemudian lenyap karena kekuatan konsentrasinya sendiri". Memang sampai di akhir hayatnya, Walter Benjamin masih belum menyatukan seluruh proyek intelektualnya ke dalam sebuah penyatuan teoritis. Selain itu, Walter Benjamin, seperti Adorno, menyatakan bahwa proses penulisan seharusnya hanya memiliki arti denotatif dalam hubungannya dengan subyek kajian. Di dalam salah satu esainya ( The Task of the Translator), Benjamin menyatakan secara terbuka bahwa sebuah proses penerjemahan akan dipengaruhi oleh 'kesalahan

membaca' yang tidak bisa dihindari dan sebuah perkelahian dengan teks asli yang tidak mungkin dipindahkan keseluruhan artinya ke dalam sebuah bahasa asing. Argumen ini secara langsung memengaruhi filsafat dekonstruksiJacques Derrida di hari kemudian.

N. JEAN-FRANCOIS LYOTARD Jean-Francois Lyotard (1984) dikenal sebagai tokoh yang pertama kali mengenalkan konsep Postmodernisme dalam filsafat. Istilah postmodern sudah lama dipakai di dunia arsitektur. Posmo menolak ide otonomi aesthetik dari modernis. Kita tidak dapat memisahkan seni dari lingkungan politik dan sosial, dan menolak pemisahan antara seni yang masuk akal dengan budaya populer. Posmo menolak hirarkhi, oleh geneologik, menolak kontinuitas, dan perkembangan. Posmo berupaya mempersentasikan yang tidak dapat dipersentasikan modernisme, demikian Lyotard. Mengapa modernisme tidak dapat mempresentasikan, karena logikanya masih terikat pada logika standart, sedangkan posmo mengembangkan kemampuan kreatif membuat makna baru, menggunakan logika yang tidak standart. Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya

menjelaskan perilaku sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan POSMO merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara bertingkat seseorang akan

kehilangan individualitas kemandiriannya, konsep diri, atau jati diri. Menurut Denzin, 1986; Murphy, 1989; Down, 1991; Gergen, 1991 (dalam Hasan Mustafa) bahwa dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan. Berdasarkan pandangan posmodernisme, pengikisan tingkat

individualitas muncul bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mengurangi pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan-nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa dihasilkannya.

Setelah Perang Dunia II, manusia makin dipandang sebagai konsumen dan juga sebagai produsen. Industri periklanan dan masmedia menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup. Manusia lalu dinilai bukan oleh kepribadiannya tetapi seberapa besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita pertimbangkan sebagai pilihan kita sendiri dalam hal musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat kita dan struktur ekonomi masyarakat kita. Misalnya, kesukaan remaja Indonesia terhadap musik rap tidak lain adalah disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain sebagainya. Gemar musik rap menjadi gaya hidup remaja. Lalu kalau mereka tidak

menyukai musik rap tidak menjadi gaya hidup remaja. Perilaku seseorang ditentukan oleh gaya hidup orang-orang lain yang ada di sekelilingnya, bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut posmo.

Intinya,

teori

peran,

pernyataan-harapan,

dan

posmodernisme

memberikan ilustrasi perspektif struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan masyarakat mempengaruhi perilaku sosial individu. Sesuai dengan perspektif ini, struktur pola sosial interaksi yang sedang terjadi dalam sebagian masyarakat.Dalam pandangan ini, individu mempunyai peran yang pasif dalam menentukan perilakunya. Individu bertindak karena ada kekuatan struktur sosial yang menekannya. Menurut Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas.Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas. Kedua, teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya. Seperti Baudrillard (1990:72) yang memahami gerakan atau

impulsi yang besar, dengan kekuatan positif, efektif dan atraktif mereka (modernis) telah sirna. Postmodernis biasanya mengisi kehidupan dengan penjelasan yang sangat terbatas atau sama sekali tidak ada penjelasan. Namun, hal ini menunjukkan bahwa selalu ada celah antara perkataan postmodernis dan apa yang mereka terapkan. Sebagaimana yang akan kita lihat, setidaknya beberapa postmodernis menciptakan narasi besar sendiri. Banyak postmodernis merupakan pembentuk teoritis Marxian, dan akibatnya mereka selalu berusaha mengambil jarak dari narasi besar yang menyifatkan posisi tersebut. Ketiga, pemikir postmodern pramodern pengalaman cenderung seperti personal, menggembor-gemborkan perasaan, intuisi, kebiasaan, kekerasan, fenomena refleksi, metafisika, besar tradisi, emosi, spekulasi,

kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik. Seperti yang terlihat, dalam hal ini Jean Baudrillard (1988) benar, terutama pemikirannya tentang pertukaran simbolis (symbolic exchange). Keempat, teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademis, budaya dan kehidupan, fiksi dan teori, image dan realitas. Kajian sebagian besar pemikir postmodern cenderung mengembangkan satu atau lebih batas tersebut dan menyarankan bahwa yang lain mungkin melakukan hal yang sama. Contohnya Baudrillard (1988) menguraikan teori sosial dalam bentuk fiksi, fiksi sains, puisi dan sebagainya. Kelima, banyak postmodernis menolak gaya diskursus akademis modern yang teliti dan bernalar (Nuyen, 1992:6). Tujuan pengarang postmodern acapkali mengejutkan dan mengagetkan pembaca alih-alih membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan argumentatif. Hal itu juga cenderung lebih literal daripada gaya akademis.

Akhirnya,

postmodern

bukannya

memfokuskan

pada

inti

(core)

masyarakat modern, namun teoritisi postmodern mengkhususkan perhatian mereka pada bagian tepi (periphery). Seperti dijelaskan oleh Rosenau (1992:8) bahwa perihal apa yang telah diambil begitu saja (taken for granted), apa yang telah diabaikan, daerah-daerah resistensi, kealpaan, ketidakrasionalan, ketidaksignifikansian, penindasan, batas garis, klasik, kerahasiaan, ketradisionalan, kesintingan, kesublimasian, penolakan, ketidakesensian, kemarjinalan, keperiferian, ketiadaan, kelemahan, kediaman, kecelakaan, pembubaran, diskualifikasi, penundaan, ketidakikutan. Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa teoritisi postmodern menawarkan intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity), perbedaan daripada sintesis dan kompleksitas daripada simplikasi. Secara lebih umum, Bauman (1992:31) menetapkan kebudayaan postmodern antara lain: pluralistis, berjalan di bawah perubahan yang konstan, kurang dalam segi otoritas yang mengikat secara universal, melibatkan sebuah tingkatan hierarkis, merujuk pada polivalensi tafsiran, didominasi oleh media dan pesan-pesannya, kurang dalam hal kenyataan mutlak karena segala yang ada adalah tanda-tanda, dan didominasi oleh pemirsa. Lebih lanjut Bauman (1992:98) menjelaskan bahwa postmodernitas berarti pembebasan tunggal yang yang akan yang yang pasti dari kecenderungan modern khusus untuk mengatasi ambivalensi dari mempropagandakan Postmodernitas ketidakmungkinan Postmodernitas kejelasan keseragaman telah berdamai mengakui semula. dengan adalah adalah modernitas proyek modernitas

terjadinya

direncanakan

kemustahilannya dan memutuskan, tentang baik dan buruknya, untuk

hidup dengannya. Praktik modern berlanjut sekarang, meskipun sama sekali tanpa objektif (ambivalensi) yang pernah memicunya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa postmodernitas

mengkhawatirkan namun demikian masih menggembirakan. Atau dengan kata lain, postmodernitas penuh dengan sebuah inomictercerabut antara kesempatan yang ia buka dan ancaman-ancaman yang bersembunyi dibalik setiap kesempatan. Juga kebanyakan kaum postmodernis memiliki, sebagaimana kita akan ketahui, sebuah pandangan yang jauh lebih pesimistis atas masyarakat postmodern. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Jameson (1989) bahwa masyarakat postmodern tersusun atas lima elemen utama, antara lain: (1) masyarakat postmodern dibedakan oleh superfisialitas dan

kedangkalannya. (2) ada sebuah pengurangan atas emosi atau pengaruh dalam dunia postmodern. (3) ada sebuah kehilangan historisitas, akibatnya dunia postmodern disifatkan dengan pastiche. (4) bukannya teknologi-teknologi produktif, malahan dunia postmodern dilambangkan oleh teknologi-teknologi reproduktif dan. (5) ada sistem kapitalis multinasional.