Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG

Sebenarnya pembahasan tentang konsep kebudayaan dan peradaban dalam islam oleh para pakar memang sudah lama terjadi kesimpang siuran. Banyak pakar yang menggunakan istilah kebudayaan dan peradaban bergantian tetapi dalam pengertian yang sama. Namun ada juga yang memilah-milah pengertian antara kebudayaan dan peradaban itu sendiri. Dalam bahasa Inggris, kata kebudayaan merupakan terjemahan dari kata culture Sedangkan kata peradaban merupakan terjemahan dari kata civilization. Perbedaan pengertian juga dapat dilihat dalam bahasa Arab, kata tsaqafah adalah terjemahan dari kata kebudayaan dan tamaddun atau hadharah diterjemahkan dengan peradaban. Dalam Islam sendiri, belum ditentukan suatu pengertian yang definitive tentang kebudayaan. Islam hanya memberikan kerangka dasar atau prinsup yang bersifat substansial (hakiki). Islam hanya memberikan konsep dasar dan membebaskan kita menrapkannya sesuai pada pemahaman kita masing-masing. Namun, ada ciri khas yang membedakan antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan lain adalah bahwa Islam memiliki kebudayaan yang ditegakkan atas dasar akidah dan tauhid yang bernafaskan wahyu Ilahi dan Sunah Nabi yaitu suatu kebudayaan akhlak mulia yang muncul sebagai perwujudan ajaran Al-Quran dan Hadits dimana keduanya merupakan sumber ajaran, norma dan hukum dalam Islam yang utama. II. RUMUSAN MASALAH Bagaimana konsep kebudayaan dan peradaban islam? Bagaimana karakteristik kebudayaan dan peradaban islam? Bagaimana pencatatan periodisasi sejarah kebudayaan dan peradaban Islam? Bagaimana perkembangan pasang surut kebudayaan dan peradaban Islam? Bagaimana peranan masjid dan madrasah sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam?

III.

TUJUAN Mengetahui konsep kebudayaan dan peradaban Islam Mengetahui karakteristik kebudayaan dan peradaban dalam Islam Mengetahui pencatatan periodisasi sejarah kebudayaan dan peradaban Islam Mengetahui pasang surut kebudayaan dan peradaban Islam

Mengetahui peranan masjid dan madrasah sebagi pusat kebudayaan dan peradaban Islam

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Kebudayaan dan Perdaban dalam Islam Seperti yang telah kita bahas sedikit pada latar belakang di atas, Islam memliki cara sendiri dalam menyikapi kebudayaan dan peradaban. Tentu saja sumbernya berasal dari sumber ajaran Islam yang pertama yaitu Al-Quran dan Hadits. Kebudayaan dalam konteks keislaman, paling tidak memiliki 3 unsur dasar yaitu : kebudayaan Islam sebagai hasil cipta karya orang Islam, kebudayaan tersebut didasarkan pada ajaran Islam dan merupakan pencerminan kesatuan yang utuh antara satu dengan yang lain tidak bisa dipisahkan. Sedangkan menurut J.J Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi 3, yaitu : 1. Gagasan (Wujud Ideal) Wujud ideal suatu kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide, gagasan. Nilai, norma, peraturandan segalanya yang sifatnya abstrak-tidak bisa disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam pemikiran warga masyarakat. Apabila gagasan atau ide tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan, maka letak kebudayaan ideal itu beralih pada karangan dan buku hasil karya penulis tersebut. Dalam Islam Indonesia sendiri, wujud gagasan seperti adanya kesamaan paham dalam masyarakat Islam-indonesia atas berlakunya norma-norma yang mengatur kehidupan berumah tangga, bertetangga dan bermasyarakat sesuai pesan dan ajaran Islam. Dalam bentuk tulisan dapat dicontohkan dengan buku-buku benfaskan Islami. 2. Aktifitas (Tindakan) Aktifitas adalah wujud kebudayaan sebagi suatu tindakan berpola dari manusia-manusia dalam masyarakat itu atau sering disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial sendiri terdiri dari aktifitas manusia yang berinteraksi dan melakukan kontak atau interaksi denagn manusia lain menurut tata kelakuan. Adapun aktifitas sifatnya nyata/ konkret terjadi dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati dan didokumentasikan. Contohnya adalah kegiatan gotong royong. 3. Artefak (Karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktifitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau segala hal yang dapat disentuh, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya adalah ornamen Istana Kesultanan Islam, bangunan masjid dan Kaligrafi.

Sedangkan peradaban sendiri menurut A.A.A Fyze menjelaskan bahwa civilization atau peradaban berasal dari kata civies/ civil yang berarti menjadi kewarganegaraan yang maju. Sehingga peradaban memiliki 2 makna yaitu : proses menjadi beradab dan suatu bentuk (tingkat) masyarakat yang sudah maju ditandai dengan gejala kemajuan di berbagai bidang. Berbeda dengan Fyze, menurut Abdullah Ulwan peradaban juga mengandung 2 pengertian. Pertama, bahwa al-hadharah merupakan hasil karya manusia. Kedua, peradaban memiliki parameter yang jelas jelas. Istilah peradaban seringkali digunkakan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat yang kompleks. Kebudayaan diyakini sebagai hasil olah akal budi, cipta rasa, karsa, dan karya manusia yang tidak lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Hasil olah akal budi, rasa, dan karya yang telah terseleksi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang universal berkembang menjadi sebuah peradaban. Fungsi agama diaini diperlukan agar dapat membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya. Sehingga tercipta kebudayaan yang berbeda. Jadi peradaban Islam adalah hasil perkembangan kebudayaan yang bernafaskan Islam. Hal ini tentu berhubungan dengan diutusnya Rasulullah untul menjadi Rahmat bagi seluruh umat manusia. 2.2 Karakteristik Kebudayaan dan Peradaban Islam Nabi Muhammad SAW telah mewariskan ajaran Islam yang begitu berpengaruh pada kebudayaan lampau dan terus berkembang yang tentunya bertujuan menjamin kebahagiaan dunia sekaligus akhirat. Kebudayaan Islam dapat dibagi menjadi 2 aspek, yaitu : a. Aspek pertama didasarkan pada metode ilmiah dan kemampuan rasio. b. Aspek kedua didasarkan pada ajaran Islam yang normative, pemahaman subjektif dan pemikiran metafisik. Kedua aspek tidak dapat dipisahkan karena saling menyatukan pendapat atau gagasan yang membentuk kebudayaan Islam yang berpedoman dengan didasari iman yang kuat. Dalam Islam , kebudayaan berkaitan dengan kenyataan penciptaan oleh Allah, meliputi proses penciptaan (khalq), penyempurnaan (taswiyyah), denagn member ukuran dan hukum tertentu (taqdir) dan diberikan petunjuk (hidayah). Dengan demikian manusia telah diberi bekal oleh Allah untuk memenuhi tugas kejadiannya di dunia. Islam sebagaimana yang haq disusun atas dasar tiga komponen yaitu batiniyah yang merupakan esensi ajaran tauhid; komponen simbolik yang merupakan bentuk ibadah yang bersifat internal; dan muamalah yang merupakan ekspresi agama Islam itu sendiri. Ismail Raji al-Faruqi menyatakan bahwa inti dari kebudayaan Islamadalah tauhid, suatu pengakuan bahwa Allah Maha Esa, Maha Pencipta dan pusat dari seluruh kehidupan yang dijalani manusia menuju kebenaran Allah. Dalam Islam, kebudayaan sifatnya dinamis yang berarti merupakan proses meruhaniyahkan manusia, bahwa segala yang telah dilakukan di dunia semata-mata karena ibadah pada Allah. Lahirnya kebudayaan Islam sendiri dimulai dengan menyadari bahwa segalanya termasuk alam berhubungan dengan perlakuan kita. Apabila kesadaran tersebut sudah sampai pada tingkatan iman, iman tersebut

akan terus membimbing kita kepada jalan yang sesuai dan diridhoi oleh Allah. Segala aspek kehidupan, baik sosial, budaya, hukum, politik, maupun ekonomi seharusnya didasarkan pada akhlak yang mulia. Dewasa ini, menemui fakta sosial yang menunjukkan di belahan dunia barat dan Timur sedang mencari pegangan ruhani yang baruyang dapat menuntun mereka ke jalan yang benar bukannya malah menganut paganism dan mammoisme ( penyembahan kepada harta dan materi) yang merusak nilai kemanusiaan. Sesungguhnya semuanya sudah tertuang dalam Al-Quran, manusia hanya perlu membaca, memahami dan mengamalkannya untuk memperbaiki moral agar lebih luhur dan bermartabat.

2.3 Periodisasi Sejarah Kebudayaan dan Peradaban Islam

Adapun dalam mencapai masa puncak kejayaan peradaban Islamdahulu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal dan eksternal Internal Berasal dari norma-norma atau ajaran Islam. Artinya bahwa norma-norma islam yang bersumber dari Al-Quran dan hadits memiliki motivasi dan inspirasi yang sangat luar bias bagi para pemeluk agama Islam. Dari Al-Quran banyak sekali ditemukan anjuran-anjuran untuk kritis dan analitis dalam menghadapi segala fenomena yang ada dan dalam Hadits terdapat banyak anjuran yntuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan, mengkaji dan menelitinya demi kemajuan peradaban manusia. Inilah motivasi internal yang luar biasa dahsyatnya bagi peradaban Islam. Eksternal Faktor kedua ini sebenarnya berhubungan erat dengan faktor internal. Apabila motivasi internal yang dimiliki begitu besar maka untuk memiliki semangat islam, perkembangan organisasi Negara, Perkembangan ilmu pengetahuan dan perluasan wilayha Islam menjadi sangat mudah.

Untuk meneliti sejarah islam yang merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Islam, tidak terlepas adanya peranan cabang ilmu pengetahuan lain seperti al-Quran, sunnah, fikih, tauhid, tarikh tasyri dan sebagainya. Akhirnya ditemukan metode yang dapat meringkas sejarah dibagi periodisasi waktu atau fase tertentu dalam rentang tertentu yang disebut degan pendekatan periodik. Menurut As-Shiddiqi, dasar penentuan metode sejarah adalh sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Sistem politik, hali ini biasanya digunakan pada sejarah konvensional Persoalan ekonomi, maju mundurnya ekonomi sebuah Negara. Tingkat peradaban dan kebudayaan suatu bangsa. Masuk dan berkembangnya suatu agama.

Sedangkan menurut Arkou, titik penentu dalam periodisasi adalah berdasarkan perubahan dinasti yang berkuasa (penguasa atau raja). Periodisasinya adalah sebagai berikut ; 1. 2. 3. 4. Periode al-Khulafa al-Rasyidin 632M-661M Periode dinasti Umawiyah 661M-750M Periode dinasti Abbasiyah 750M-1924M Periode dinasti/ kesultanan Utsmaniyah 1517M-1924M

Ada pendapat lain mengenai periodisasi Islam yaitu : 1. Periode awal- abad ke-3H : memiliki cirri belum terpisahkannya antara legenda dan tradisi arab sebelum Islam. Contohnya buku Khudai Nama (buku raja-raja) 2. Periode abad ke-3H 6H : memiliki cirri berkembangnya ilmu agama sebagai ilmu yang berdiri sendiri serta banyak bermunculannnya sejarawan-sejarawan Islam. 3. Periode abad ke-6H 10H : memiliki cirri menggunakan dua bahasa sekaligus yaitu Arab dan Persia. 4. Periode abad ke 10H-13H : memiliki cirri digunakannya bahasa Turki dalam penulisan sejarah yang merupakan masa kejayaan Dinasti Turki Usmani. Menurut harun Nasution adalah sebagai berikut : 1. Periode Klasik (650M-1250M) : masa al-Khulafa al-Rasyidin, Daulah Umawiyyah dan permulaan Daulan Abbasiyyah, lahirnya para mahzab yakni : Imam Syafii, Imam Hambali, dan Imam Maliki. Bersamaan pula dengan lahirnya filosof muslim pertama yakni al-Kindi (865M), al-Razi (865M), dan al- Farabi (870M) 2. Periode Pertengahan (1250M-1800M) : dapat dikatakan sebagai era kemunduran dengan kejayaan tiga kerajaan besar : Turki Usmani di Asia Tengah, Daulah Syafawiyah di Persiadan Daulah Mughaliyah di India Disebut kemunduran karena filsafat mulai dijauhkan dari umat islam sehingga ada kecenderungan dipertentangkannya akal dan wahyu, iman dengan ilmu serta dunia dengan akhirat. 3. Peride Modern (1800M-sekarang) : memudarnya kekhalifahan dalam Islam dan berlakunya hegemoni Barat pada dunia Islam, antara lain penerapan demokrasi dalam sistem pemerintahan, hegemoni dalam teknologi dan dunia sains, kapitalisme ekonomi, dll.Hingga sekarang keterpurukan Islam masih melanda meskipun sudah mulai muncul tokoh pembaharuan dalam pemikiran Islam seperti M. Abduh. Rashid Ridha dan Jamaluddin alAfghani.