Anda di halaman 1dari 4

Patofisiologi Uveitis Medius / Intermediet Uveitis Intermediate adalah bentuk peradangan yang tidak mengenai uvea anterior atau

posterior asecara langsung. Sebaliknya ini mengenai zona intermediate mata. Uveitis intermediet, juga disebut siklitis, uveitis perifer, atau pars planitis. Tanda terpenting dari uveitis intermediet adalah peradangan vitreous (badan kaca). Uveitis intermediet khasnya bilateral dan cenderung mengenai pasien pada masa remaja akhir atau dewasa muda. Pria lebih banyak yang terkena dibandingkan wanita.Vaughan Gejala-gejala khas meliputi floaters dan pengelihatan kabur. Nyeri, fotofobia dan mata merah biasanya tidak ada atau hanya sedikit. Temuan pemeriksaan yang paling mencolok adalah vitrits. Vitritis sering kali disertai kondensat vitreous yang melayang bebas seperti bola salju (snowballs) atau yang menutupi pars plana dan korpus siliare (snowbanking). Peradangan pada bilik mata depan mungkin hanya minimal. Sel radang lebih banyak terdapat di vitreous anterior (retro lental) daripada di bilik mata depan. Ada kalanya peradangan bilik mata depan sangat jelas hal ini lebih tepat jika disebut panuveitis atau uveitis difus. Jarang terjadi sinekia posterior ataupun anterior. Vaughan

Gambaran Vitritis Snowballs Vitritis Snowballs, Edward S. Harkness Eye Institute, Department of Ophthalmology of Columbia
University. http://dro.hs.columbia.edu/lc1.htm

Gambaran oftalmoskop dan diagram dari Vitritis Snow Banking Uveitis, Brian Ang MD http://www.visionand-eye-health.com/uveitis.html

Gejala-gejala lain yang khas pada uveitis intermediet uveitis, Edward S. Harkness Eye Institute, Department of
Ophthalmology of Columbia University, intemediethttp://dro.hs.columbia.edu.htm

1. Mutton fat. Mutton fat adalah satu tipe keratic percipitate yaitu sel-sel radang yang berada di belakang endotel retina. Untuk tipe mutton fat berukuran besar dan berwarna putih berminyak dan sering membentuk bentukan segitiga yang disebut Artls triangle.

2. Granuloma iris yaitu nodul pada iris yang terdiri dari penumpukan sel-sel radang. Nodul koeppe terletak di bagian marginal dari iris sedangakan nodul busacca terletak di permukaan iris.

Nodul Busacca

Nodul Koeppe

Penyebab uveitis intermediet tidak diketahui pada sebagian besar pasien, tetapi sarkoidosis dan sklerosis multipel berperan pada 10-20% kasus. TBC harus disingkarkan dulu sebelum menegakkan diagnosis sarkoidosis dan sklerosis multipel. Komplikasi tersering dari uveitis intermediet adalah Edema Makula Kistoid, Vaskulitis Retina, dan Neovaskularisasi pada diskus optikus. Vaskulitis Retina berbentuk seperti selubung di perivaskular di pembuluh darah retina.Vaughan

Penyebab tersering dari proses infeksi yang dapat menyebabkan uveitis intermediet yaitu TBC. Uveitis intermediet yang disebabkan oleh penyakit ini disebabkan penyebaran secara hematogen ke daerah mata. Uveitis intermediet sering terjadi pada kasus yang kronis. Pada kasus uveitis intermediet oleh karena infeksi TB akan mengalami kesembuhan saat infeksi utama sudah dapat teratasi.Vaughan

Uveitis Multiple Sclerosis

Ellen Yu MD, Uveitis in Multiple Sclerosis

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDQQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.uveitis.org%2F docs%2Fdm%2Fmultiple_sclerosis.pdf&ei=2ei4UKnZNMnirAfx4ICYAQ&usg=AFQjCNG3x_5Thfq0XdUmc6GpxmaoGxPSgw&cad=rja

Multiple sclerosis adalah penyakit yang menyerang selubung myelin dari saraf. Selubung myelin yang terkena MS akan mengalami degenerasi sehingga penghantaran impuls saraf terhambat. Diagnosa MS dapat ditegakkan dengan adanya gejala klinis gangguan neurologi yang bersifat menyeluruh dan imaging dengan MRI. Pada pasien dengan MS sering ditemukan radang pada pars planitis mata. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bentukan snow banking yang terlihat pada pemeriksaan oftalmoskop. Belum ditentukan secara pasti apa yang menyebabkan proses peradangan dari pars planitis.Terapi dari pars planitis karena MS adalah dengan injeksi cortocosteroid transseptal lalu diikuti dengan pemberian corticosteroid oral. Uveitis Tuberculosis Julie H. Tsai, Uveitis TBC
http://eyewiki.aao.org/Talk:Tuberculosis_Uveitis

Infeksi tuberculosis pada mata dapat secara primer dengan infeksi aktif ataupun secara sekunder karena reaksi imun terhadap mycobacterium. Penyebaran secara hematogen dari struktur yang bersebelahan merupakan penyebab utama dari kebanyakan kasus TB Uveitis. Manifestasi oculer dari infeksi TB bervariase mulai dari scleritis, intertistial keratitis, infiltrat kornea, nodul iris kesemua tanda ini dapat terjadi tanpa adanya tanda-tanda infeksi sistemik. Tanda klinis dari uveitis TB adalah mutton fat, granuloma iris (koeppe dan busacca), hypopion dan sinekia posterior. Cara untuk mendiagnosis uveitis TB adalah dengan swab dan kultur bakteri. Tes tuberculin pada uveitis TB bisa menunjukkan hasil positif akan tetapi sering enghasilkan false positif oleh karena riwayat vaksinasi BCG. Penatalaksanaan dari uveitis TB adalah menyembuhkan infeksi dari TB yaitu dengan menggunakan regimen antibiotik yang sama dengan TB. Antibitotik yang digunakan mulai dari isoniazid, rifampmicin, streptomycin, dll.

Uveitis Sarcoidosis

Steven Hamilton, M.D., University of Washington School of Medicin,e

http://www.washington.edu/medical/som/index.html

Sarcoidosis adalah penyakit inflamasi sistemik, yang penyebabnya belum diketahui. Pada penyakit ini didapatkan penumpukan dari sel-sel inflamasi kronis seperti monosit, macrofag dan sel T teraktivasi yang membentuk nodul pada lebih dari satu organ. Tanda kelainan sarcoidosis pada mata dapat berupa mutton fat, nodul di trabecular meshwork, snowballs dan snowbanking, lesi chorioretinal multipel, microaneurisma multipel, ndoul di cawan optik, serta kelainan-kelainan ini bersifat bilateral. Terapi utama untuk sarcoidosis adalah immunospresan, salah satu contohnya adalah prednisolon. Prednisolon sdah umum digunakan sebagai terapi dari sarcoidosis.

Pengobatan umum untuk uveitis intermediet adalah dengan menggunakan kortikosteroid topikal. Itupun dilakukan jika sudah parah dan mengganggu pengelihatan pasien. Jika dengan penggunaan kortikosteroid topikal tidak mempan maka dilakukan injeksi kortikosteroid subtenon. Komplikasi dari administrasi kortikosteroid adalah katarak oleh karena itu penggunaan kortikosteroid harus dilakukan dengan hati-hati.Vaughan