Anda di halaman 1dari 35

e-learning-smkn5pdg.

com

PPML 2

MOTOR INDUKSI 3 FASA


Motor induksi tiga phasa (Three phase induction motor) juga disebut dengan poly phase induction motor adalah suatu motor listrik yang mempunyai 3 buah kumparan stator yang dipasang pada keliling stator yang letaknya masing-masing bergeser 120o listrik maupun mekanik. Sesuai dengan namanya, maka motor jenis ini memerlukan sumber tegangan bolakbalik tiga phasa. Konstruksi motor induksi tiga fasa terdiri dari 2 bagian utama yaitu: 1. Stator Secara prinsip stator motor induksi adalah sama dengan stator motor sinkron maupun generator. Pada stator terdapat susunan kawat yang dimasukkan kedalam alur untuk menerima belitan stator dari motor akan membawa belitan menurut jenis motornya misalkan motor satu fasa, maka statornya akan membawa belitan satu fasa, dimana diumpan dari penyedia tegangan satu fasa sedangkan untuk motor jenis tiga fasa, maka statornya akan membawa belitan tiga fasa yang diumpan dengan penyedia tegangan tiga fasa. Jumlah kutub dari suatu motor akan menentukan lambat cepatnya putaran suatu motor. Makin banyak jumlah kutub yang terpasang maka makin lambat putaran yang dihasilkan sedangkan apabila jumlah kutubnya makin sedikit maka putaran yang dihasilkan makin cepat. 2. Rotor Motor induksi sering disebut motor asyinkron (tidak serempak), disebut demikian karena jumlah putaran rotor tidak sama dengan putaran medan magnit stator. Jenis rotor yang digunakan yaitu:

Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

a) Jenis rotor lilit (wound rotor) Motor jenis ini berkapasitas besar, juga sering disebut motor slipring atau motor cincin seretatau cincin hubung singkat. Rotor jenis ini memiliki belitanbelitan kawat yang jika didistribusikan maka motor jenis ini juga dapat kita fungsikan sebagai alternator (generator) dengan demikian pada rotor ini akan memiliki kutubkutub pada stator belitan internal rotor dari motor ini dihubungkan secara bintang (tiga fasa) kemudian terminal belitan tersebut dikeluarkan dan disambungkan ke tiga buah slip ring terisolasi yang diletakkan pada poros motor dengan sikat diatasnya. Ketiga sikat ini secara eksternal dihubungkan ke suatu reostat yang membentuk bintang. Reostat pada motor ini berfungsi untuk meningkatkan torsi asut motor pada saat periode pengusutan. Apabila motor ini bekerja pada kondisi normal, maka slip ring secara otomatis terhubung pendek. Sehingga ring diatas tangkai terhubung bersama oleh suatu logam yang tertekan selanjutnya secara otomatis sikat tersebut terangkat dari slip ring yang berfungsi untuk mengurangi rugirugi gesekan.

Gambar 1. Konstruksi Rotor Lilit

Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

b) Jenis rotor sangkar (squarel cage rotor) Motor jenis ini sering disebut motor dengan rotor hubung singkat. Secara umum hampir 90% dari motor induksi banyak menggunakan rotor dengan jenis ini. Karena rotor jenis ini, pada motor induksi adalah paling sederhana dan kuat rotor jenis ini dibuat dari baja silicon dan terdiri dari inti yang berbentuk silinder yang sejajar dengan alur/slot dan diisi dengan tembaga atau alumunium yang berbentuk batangan.

Gambar 2. Konstruksi Rotor Sangkar Selain dua bagian utama tersebut motor induksi juga mempunyai konsturksi tambahan antara lain rumah stator, tutup stator, kipas dan terminal hubung.

Gambar 3. Konstruksi Motor Induksi 3 Fasa


Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Motor induksi 3 fasa banyak sekali digunakan di industri untuk menggerakkan peralatan mekanik, yang membutuhkan jumlah putaran relatif konstan. Jenis motor induksi baik 1 fasa maupun 3 fasa banyak digunakan, disebabkan banyak hal yang menguntungkan antara lain: Konstruksi sederhana Harga relatif murah Effesiensi cukup tinggi Faktor daya cukup baik Perawatannya mudah A. Prinsip Kerja Motor Induksi 3 Fasa Jika lilitan stator dihubungkan pada sumber tegangan 3 fasa, maka pada lilitan stator akan terjadi fluks medan magnit putar. Pada rator tedapat lilitan, sehingga berdasarkan percobaan Faraday, pada lilitan rotor tersebut terbentuk ggl induksi. Lilitan rator motor induksi biasanya dihubung singkat untuk rator sangkar, maka pada rator tersebut akan mengalir arus yang cukup tinggi. Sesuai dengan percobaan Lorentz maka pada lilitan rator terbentuk suatu gaya yang dapat memutar rotor. Putaran rotor selalu mempunyai arus yang sama dengan arah putaran medan magnit stator. Di dalam kenyataannya bahwa putaran rotor lebih rendah dari putaran medan statornya. Selisih putaran rator dengan jumlah medan statornya disebut slip (S). Jika dua belitan pada masing-masing fasa dililitkan dalam arah yang sama. Sepanjang waktu, medan magnet yang dihasilkan oleh setiap fasa akan tergantung kepada arus yang mengalir melalui fasa tersebut. Jika arus listrik yang melalui fasa tersebut adalah nol (zero), maka medan

Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

magnet yang dihasilkan akan nol pula. Jika arus mengalir dengan harga maksimum, maka medan magnet berada pada harga maksimum pula. Karena arus yang mengalir pada system tiga fasa mempunyai perbedaan 120o, maka medan magnet yang dihasilkan juga akan mempunyai perbedaan sudut sebesar 120o pula. Ketiga medan magnet yang dihasilkan akan membentuk satu medan, yang akan beraksi terhadap rotor. Untuk motor induksi, sebuah medan magnet diinduksikan kepada rotor sesuai dengan polaritas medan magnet pada stator. Karenanya, begitu medan magnet stator berputar, maka rotor juga berputar agar bersesuaian dengan medan magnet stator.

Gambar 4. Putaran Motor Induksi 3 Fasa dan Medan Putar

Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

B. Konsep Gulungan Stator Motor Induksi 3 Fasa Stator dari motor tiga fasa di desain mempunyai tiga bagian besar kumparan yang sama, baik jumlah kumparan, jumlah lilitan perkumparan, diameter kawat , jumlah alur yang digunakan, dan langkah alur. Dimana setiap bagian biasa disebut kumparan satu fasa , jadi lilitan motor tiga fasa mempunyai satu kumparan setiap fasanya. Maka motor tiga fasa umumya mempuyai ujung (terminal) sebanyak 6 buah (kecuali motor dahlander), yang lazim diberi tanda U, V, dan W sebagai pangkal kumparan dan X, Y dan Z sebagai ujung

kumapran. Kumparan fasa sekurangnya mempunyai dua kumparan (grup) yang berjarak 180.

Gambar 5. Langkah Alur Kumparan 1. Bentuk Kumparan Stator Bentuk kumparan stator dari motor induksi 3 fasa dapat dibagi menjadi 3 macam, hal semacam ini adalah tergantung dari cara melilitkannya kedalam aluralur stator. Bentuk kumparankumparan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

a. Kumparan jerat atau lilitan bertumpuk (Lap winding juga dapat dinamakan dengan lilitan spiral (seperti gambar 6a). b. Kumparan terpusat (concentric winding) seperti gambar 6b. c. Kumparan gelombang (wave winding) seperti gambar 6c.

b Gambar 6. Bemtuk Kumparan Stator a. Bentuk kumparan jerat b. Bentuk kumparan sepusat c. Bentuk kumparan gelombang.

Fungsi dari ketiga jenis kumparan tersebut adalah sebagai berikut: a. Kumparan jerat (spiral) benyak digunakan untuk motormotor (generator) dengan kapasitas yang relatif besar. Umumnya untuk kelas menengah keatas, walaupun secara khusus ada mesin listrik dengan kapasitas yang lebih besar, kumparan statornya menggunakan sistem kosentris. b. Kumparan sepusat (concentric) pada umumnya sistem ini banyak digunakan untuk motor dan generator dengan kapasitas kecil. Walaupun ada juga secara khusus motor motor dengan kapasitas kecil menggunakan kumparan dengan tipe spesial. c. Kumparan gelombang/wave winding untuk motor dengan belitan sistem ini banyak digunakan kapasitor besar.
Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

2. Pengkutupan Pada Motor 3 Fasa Motor 3 fasa umumnya mempunyai enam ujung (terminal) yaitu : U, V, dan W sebagai pangkal kumparan dan X, Y dan Z ujung kumparan. Terminal terminal ini akan diatur sedemikian rupa sehingga terjadi sambungan bintang (Y) atau sambungan segitiga () sehingga dapat dilayani sumber tegangan tiga fasa (arus putar). Sumber tegangan 3 fasa juga mempunyai pergeseran fasa sebesar 120 listrik terhadap fasa lainnya seperti pada gambar berikut.

Gambar 7. Grafik Tegangan 3 Fasa Jadi dalam mementukan pengkutupan pada motor 3 fasa pada bentangan stator dilaksanakan dengan: dua fasa dalam keadaan teganagn positif (meninggalkan titik pangkal terminal motor) dan satu teganagn dalam keadaan negatif (digambarkan menuju terminal pangkal motor), seperi pada gambar 12 atau juga dapat digunakan dua fasa dalam keadaan negatif dan satu dalam keadaan positif. Perlu ditambahkan penggulungan
Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

atau pengutupan yang benar, arah arus pada sisi sisi kumparan harus balance, maksudnya jumlah sisi yang arahnya keatas harus sama dengan sisi yang arahnya kebawah. Bila yang keatas kita sebut membentuk kutub U (utara) dan arahnya kebawah kita sebut membentuk kutub S (selatan), maka sisi yang membentuk kutub U harus sama dengan sisi yang membentuk kutub S seperti gambar 8.

Gambar 8. Bentangan Stator Motor 3 Fasa 4 Kutub 3. Langkah Langkah Kumparan Stator Motor 3 Fasa a. Sistem kumparan satu jalan (single layer) Untuk motor 3 fase, seluruh aluralur stator dibagi tiga sama banyak sehingga masingmasing fasa memiliki kumparan bagian sebanyak G/2.P.3 kumparan. Apabila jumlah fasa = m fasa, maka masing fasa akan mempunyai kumparan sebanyak G/2.P.m

Muharmy Kurniawan, A.Md

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Cara memasang sisi kumparan yaitu apabila salah satu berada didepan kutub U, maka sisi yang lain harus berada didepan kutub S. Hal tersebut dikarenakan masing masing fasa mempunyai kumparan bagian sebanyak G/2.P.m , maka pada tiap kutub masingmasing fasa akan menempati alur sebanyak G/2.P.m alur. Apabila banyaknya alur pada tiap kutub untuk masingmasing fasa diberikan tanda g, maka jumlah alur perkutub perfasa yaitu: q = G/2.P.m alur. Sedangkan cara menggulung kumparan stator motor 3 fasa pada prinsipnya sama dengan motor 1 fasa, dua fasa, perbedaannya ialah pada jumlah belitannya (kumparannya). Untuk motor 3 fasa masingmasing belitan ditempatkan saling bergeseran tempat sejauh 120oel jadi 2/3 jarak kutub atau = 2/3 langkah belitan (Yg) Untuk motor dengan ukuran 500 watt keatas akan lebih ekonomis apabila dibuat 3 fasa. Sebab apabila dilaksanakan dengan 2 atau 1 fasa, maka motor tersebut harus menggunakan kondensator (capasitor) dengan kapasitas relatif besar. Jadi hal tersebut akan sangat merugikan, akibat dari sifatsifat kondensator. Untuk memperjelaskan keterangan tersebut diatas. b. Sistem kumparan dua jalan (double layer) Bentuk kumparan dengan sistem dua jalan (double layer) mempunyai kelebihan bila dibanding dengan kumparan sistem satu jalan (single layer). Salah satu kelebihannya adalah kepala kumparan stator menjadi tidak terlalu tebal dan mempunyai bentuk yang rapi, terutama untuk motor yang berdaya relatif besar, hal tersebut dikarenakan selain jumlah belitannya banyak, juga ukuran disekitar kawatnya relatif besar.
Muharmy Kurniawan, A.Md

10

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

G 2p

KAR

360 O r G

G 2p.m G 2p

KAL KAR.P
120 O KAL

Kp

p=

p
G 2p q n f m

= Langkah alur dari sisi kumparan 1 ke sisi kumparan 2 = Jumlah alur = Jumlah kutub p = pasang kutub = Banyak kumparan tiap kelompok = Kecepatan putaran motor = Frekuensi = Jumlah fasa

KAR = Kisar alur dalam derajat radial KAL = Kisar alur dalam derajat listrik Kp K = Kisar fasa = Jumlah sisi kumparan tiap kutub

Jika fasa pertama berangkat dari alur 1 maka langkah kumparan ialah : 1 + Ws (Ws = p )

fasa kedua berangkat dari alur 1+ . p

Muharmy Kurniawan, A.Md

11

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

dan fasa ketiga berangkat dari alur 1+2

Berikut ini ada beberapa contoh motormotor 3 fasa yang akan dilakukan penggulungan kembali. Contoh 1. Sebuah motor 3 fasa , 4 kutub mempunyai alur 12 alur, tentukan. a. Banyak kumparan tiap kelompok b. Langkah alur c. Gambarkan bentuk bentangan stator Penyelesaian. Diket : m = 3 2p = 4 G = 12 Ditanya : q, p , bentuk bentangan stator Jawab :
q G 2.p.m

G 2.p

=
= 1 alur/kutub/fasa

= = 3 alur

Lebar kumparan Ws = p Ws = 3 alur

Muharmy Kurniawan, A.Md

12

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Maka langkah gulungan fasa 1 : 1 + Ws 1+3=4 Langkah gulungan fasa 2 : 1+ . p

1+

.3 =3

Langkah gulungan fasa ke 3 : 1+2

1+2 Daftar lilitan Fasa 1 Fasa 2 Fasa 3

. 3=5

U V W

Alur Alur Alur

14 36 58

X Y X

Alur Alur Alur

7 10 9 12 11 12

Muharmy Kurniawan, A.Md

13

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Gambar 9. Bentangan Stator Motor 3 Fasa 4 Kutub Lilitan motor diatas adalah lilitan satu lapis (single layer), artinya setiap alur diisi satu sisi kumparan. Selain dari pada lilitan satu lapis ada juga motor yang digulung dengan lilitan dua lapis (double layer)

Gambar 10. Bentangan Satu Fasa Double Layer dari Motor 3 Fasa

Muharmy Kurniawan, A.Md

14

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Gambar 11. Bentangan Motor 3 Fasa Double Layer Contoh 2. Motor AC dengan stator beralur 24, terdapat 2 pasang kutub, tiga fasa, frekuensi 50 Hz. Dililit tahap tunggal Penyelesaian:

G 24 6 2p 4

Langkah 1 -7

G 24 2 2. p.m 4.3 G 24 6 2. p 4

2 Kumparan tiap kelompok

6 sisi kumparan tiap kutub

KAR

360 o r 360 o r 15 o r 6 24

KAL = KAR.p = 15 x 2 = 30o Listrik


120 o L 120 Kp 4 KAL 30
Muharmy Kurniawan, A.Md

kisar fasa 1 - 5

15

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Daftar Lilitan U 1-7 2-8 13 - 19 14 - 20

5 - 11 6 - 12

17 - 23 18 - 24

9 - 15 10 - 16

21 - 3 22 - 4

Gambar bentangan stator

Gambar 12. Bentangan Stator Single Layer Motor 3 Fasa 24 Alur 2 Pasang Kutub

Muharmy Kurniawan, A.Md

16

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Jika kumparan double layer, maka: 1-7 U 2-8 13 - 7 14 - 20 1 - 19 14 - 8 13 - 19 2 - 20 X

5 - 11 V 6 - 12

18 - 12 17 - 11

17 - 23 18 - 24

6 - 24 Y 5 - 23

9 - 15 W 10 - 16 Gambar bentangan stator

22 - 16 21 - 15

21 - 3 22 - 4

10 - 4 Z 9-3

Gambar 13. Bentangan Stator Double Layer Motor 3 Fasa 24 Alur 2 Pasang Kutub

Muharmy Kurniawan, A.Md

17

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Contoh 3. Motor AC 3 fasa beralur 36, dibuat 3 pasang kutub, frekuensi 50 Hz, dililit tahap tunggal (single layer) Penyelesaian:

G 36 6 2p 6

Langkah 1 -7

G 36 2 2. p.m 6.3

2 Kumparan tiap kelompok

G 36 6 2. p 6

6 sisi kumparan tiap kutub

KAR

360 o r 360 o r 10 o r G 36

KAL = KAR.p = 10 x 3 = 30o Listrik


Kp 120 o L 120 4 KAL 30

--------> kisar fasa 1 - 5

Daftar Lilitan 1-7


U

13 - 19 14 - 20 17 - 23 18 - 24 21 - 27 22 - 28

25 - 31
X

2-8 5 - 11
V

26 - 32 29 - 35 30 - 36 33 - 3 34 - 4

6 - 12 9 - 15 10 - 16

Muharmy Kurniawan, A.Md

18

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Gambar Bentangan

Gambar 15. Bentangan Stator Single Layer Motor 3 Fasa 36 Alur 3 Pasang Kutub Jika dibuat tahap ganda (doubel layer) Daftar lilitan
1-7 2-8 14 - 8 13 - 7 13 - 19 14 - 20 26 - 20 25 - 19 25 - 31 26 -32 2 - 32 1 - 31

5 - 11 6 - 12

18 - 12 17 - 11

17 - 23 18 - 24

30 - 24 29 - 23

29 - 35 30 - 36

6 -36 5 - 35

9 - 15 W 10 - 16

22 - 16 21 - 15

21 - 27 22 - 28

34 - 28 33 - 27

33 - 3 34 - 4

10 - 4 Z 9-3

Muharmy Kurniawan, A.Md

19

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Gambar Bentangan

Gambar 16. Bentangan Stator Double Layer Motor 3 Fasa 36 Alur 3 Pasang Kutub Contoh 4. Sebuah motor 3 fasa mempunyai 24 jalur stator, akan digulung kembali dengan bentuk kumparan sepusat (consentric) dan kumparan jerat (spiral), agar dapat menghasilkan putaran rotor sebesar 3000 rpm pada frekuensi 50 Hz. Buatlah skema belitan dan diagram bentangan dari kedua bentuk kumparan tersebut? Penyelesaian.

p=

= 1 pasang kutub

q=

= 4 kumparan tiap kelompok

p =
K

= 12 langkah belitan
G 24 12 sisi kumparan tiap kutub 2. p 2

KAR

360 o r 360 o r 30 o r G 12

Muharmy Kurniawan, A.Md

20

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

KAL = KAR.p = 30 x 1 = 30o Listrik


120 o L 120 Kp 4 KAL 30

kisar fasa 1 - 5

fasa 1 : 1 + Ws = 1 + 12 = 13 Fasa 2 1+ . Ws = 1 + . 12 = 9

Fasa 3 1+2. . Ws = 1 + 2 . . 12 = 17

Daftar lilitan kumparan jerat (spiral) 1 13 2 14 3 15 4 16

9 21 10 22

11 23 12 24

17 5 18 6

19 7 20 8

Muharmy Kurniawan, A.Md

21

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Gambar Bentangan kumparan jerat (spiral).

Gambar 17. Bentangan Stator Kumparan Sepusat Motor 3 Fasa 24 Alur 1 Pasang Kutub

Muharmy Kurniawan, A.Md

22

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Gambar Bentangan kumparan sepusat (consentric).

Gambar 17. Bentangan Stator Kumparan Sepusat Motor 3 Fasa 24 Alur 1 Pasang Kutub

Muharmy Kurniawan, A.Md

23

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Langkah Langkah Menggulung Ulang Kumparan Stator Motor Induksi 3 Fasa


Pada penggulungan ulang kumparan stator perlu dipertimbangkan langkah langkah yang dilaksanakan sehingga pekerjaan penggulungan tepat dan efektif. Langkah langkah tersebut dapat kita bagi atas tahap sebagi berikut : 1. Membongkar rumah stator 2. Mengambil data 3. Membongkar gulungan 4. Mengisolasi alur 5. Menggulung/membuat kumparan 6. Memasang kumparan 7. Menghubungkan kumparan 8. Pengetesan 9. Mempernis 1. Membongkar Rumah Stator Untuk memperbaiki kumaran dari suatu motor atau penggantian bantalan atau perawatan (pembersihan debu, minyak pelumas) dalam suatu motor, harus dibongkar terlebih dahulu. Berikut langkah langkah pembongkaran rumah stator. a. Melonggarkan pasangan sekrup puli. Peganglah puli dengan tangan puli kuat-kuat, dan longgarkan pasangan sekrup dengan obeng, berilah pelumas atau pemanasan bila susah dibuka atau gunakan treaker.

Muharmy Kurniawan, A.Md

24

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

b. Melepaskan puli. Pasanglah obeng antara dua puli dan penutup pada satu garis yang melalui pusat poros dan bukalah dengan menggunakan ungkitan. Setelah lepas lepaskan kunci dara poros. c. Melepaskan tutup sisi berlawanan dengan puli. Beri tanda berupa garis atau titik sejajar antara tutup dan rumah stator. Lepaskan mur tutup, masukan dua obeng tutup dan longgarkan tutup dengan ungkitan dari puli. d. Melepaskan pelat perisai angin e. Melepaskan tutup sisi puli. Pertama keluarkan pasangan stud tutup. Longgarkan tutup dan keluarkan rotor dan pelat perisai angin terpasang. Hati-hati jangan sampai merusak kumparan rotor. f. Melepaskan rotor dari tutup. Dengan tutup bawah, peganglah rotor dengan satu tangan atau ragum, dan dengan memutar-mutar tutup, pukullah tutup dengan pemukul karet (mallet) untuk mengeluarkan rotor dari tutup. g. Keluarkan dan simpan bantalan bola. Bersihkan dan simpan bagian yang sudah dilepaskan. 2. Pengambilan Data Semua data harus dicatat untuk mempermudah pelaksanaan menggulung ulang kumparan stator tanpa kehilangan waktu, data yang paling perlu antara lain :

Muharmy Kurniawan, A.Md

25

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

a.

Data pada name plate. Jumlah alur Jumlah kumparan coil Tipe hubungan Jumlah lilitan per coil Ukuran kawat Lebar kumparan Ukuran dan jenis kawat kumparan Jenis isolasi Prosedur pengambilan data spesifikasi motor induksi tiga fasa. 1) Hal yang diselidiki sebelum pembongkaran kumparan. Sebelum pembongkaran kumparan perlu diselidiki atau diambil data-data motor seperti spesifikasi kumparan dan pembentukan lilitan, pemasukan dan hubungan kumparan. Apa bila spesifikasi kumparan tidak didata maka kita akan memerlukan rancangan baru. 2) Lihat papan nama untuk mencatat ukuran spesifikasi seperti : a. Klasifikasi bahan isolasi : Kelas A : sarung katun, pita katun, kertas kraft yang dicelup dengan pernis suhu max 105 derajat. Kelas E : resin poliester dan sebagainya, suhu maksimum 120 derajat

Kelas B : epoksi, mika, serat gelas, dsb, suhu max 130 derajat Kelas F : kain gelas di vernis, asbest di vernis, mika, dsb suhu max 155 derajat b. Struktur rotor : C : jenis kurungan biasa K1 : jenis kurungan khusus, kelas 1 K2 : jenis kurungan khusus, kelas 2
Muharmy Kurniawan, A.Md

26

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

W : jenis rotor belitan c. Jumlah kutub Sebuah kutub U dan kutub S disebut sepasang, dan sepasang kutub U dan kutub S disebut sepasang. d. Tegangan nominal; dalam V hubungan / Y e. Daya nominal; biasanya dinyatakan dalam KW dan DK atau HP f. Frekwensi nominal; dinyatakan dalam Hz. g. Putaran motor (rpm) h. Arus asut; menyatakan terhadap arus yang diperoleh pada pengasutan jala-jala (pengasutan tegangan penuh) i. Model simbol motor; biasanya dinyatakan dengan simbol pembuatannya untuk klasifikasi miliknya j. Tahun produksi k. Tegangan sekunder dan arus sekunder. 3) Periksa dan hitung jumlah alur; untuk membuat spesifikasi kumparan. 4) Periksa cara belitan : a. Model lilitan (doble layer / single layer) b. Bentuk kumparan (kumparan gelung/rantai/terpusat) 5) Periksa jumlah kumparan seri Hitung jumlah kumparan yang dipakai untuk membentuk kutub U dan S 6) Periksa kisar/langkah kumparan Berpa banyak alur mencakup kumparan, misalnya alur yang ditempati sisi kumparan alur 1 dan alur 10 maka kisar kumparanya 10 1 = 9 alur
Muharmy Kurniawan, A.Md

27

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

7) Periksa sistem hubungan Untuk dapat berputar, kumparan yang bersangkutan harus dihubungkan sehingga membentuk medan putar dalam stator. Selain spesifikasi isolasi kumparan dan jumlah lilitan kumparan untuk menggulung ulang perlu juga melengkapi gambar lilitan kumparan stator atau gambar bentangan lilitan stator, kemudian gambar diagram hubungan. Kalau ini tidak terbaca karena dalam keadaan terbakar parah atau kosong perlu dilakukan perencanaan ulang atau dengan menggunakan data spesifikasi motor yang sama. Hubungan antara alur-alur dari stator, fasa, kutub, dan kumparan seri dinyatakan dalam persamaan berikut : Jumlah alur stator = m x p x n x s Dimana : m p n = Jumlah fasa (untuk fasa tunggal =1, untuk tiga fasa = 3) = Jumlah kutub = Jumlah alur diperlukan untuk satu kumparan (2 untuk belitan lapisan tunggal atau 1 untuk lap[isan doble) s = Jumlah kumparan seri.

3. Pembongkaran kumparan Suatu proses membongkar kumparan jangan sampai merusak bentuk alur dan jangan terbukanya lemel-lemel dari stator. Sebelum melepaskan kawat-kawat kumparan dari stator pastikan spesifikasi kumparan atau hubungan sudah dicatat. Adapun langkahlangkah atau cara pembongkaran kumparan stator sbb : 1. Bila kumparan sudah terbakar dapat segera dibongkar.
Muharmy Kurniawan, A.Md

28

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

2. Panaskan kumparan untuk melelehkan isolasi. 3. Longgarkan pasak atau keluarkan pasak alur. 4. Potong kumparan pada sisi yang tidak ada hubungan terminal. 5. Dorong kumparan keluar alur dengan besi seukuran alur. 6. Simpan sebagian kumparan aslinya untuk pengambilan data. 7. Periksa kelas isolasi kawat dan alur. 8. Periksa jumlah lilitan dan diameter kawat email. 9. Timbang berat kumparan. 10. Bersikan alur. Lepaskan prespan dan bersihkan alur-alur dari sisa kertas prespan atau serlak. Kumparan dipotong pada satu sisi dan kemudian ditarik keluar dari sisi yang lain disisakan satu kumparan untuk ukuran pada pembuatan kumparan baru (mal). 4. Membersihkan dan mengisolasi alur Stator Isolasi stator harus diganti dengan ketebalan dan tipe yang sama dengan diharapkan alur-alur telah dibersihkan dari sisa-sisa vernis dan kotoran-kotoran lain. Isolasi dipotong selebar keliling alur yang akan diisolasi dan panjang isolasi dipotong lebih panjang dari alur tersebut, sehingga dapat dibentuk. 5. Menggulung / membuat Kumparan Kumparan motor-motor kecil dapat digulung berbentuk persegi panjang dan kedua kepala dibentuk melingkar atau bentuk diamond dengan menariknya pada tengah-tengah kepala yang berlawanan. Dalam membuat kumparan ini tergantung kepada peralatan yang ada, misalnya apakah kita mengerjakan dengan menggunakan papan mal atau kita bekerja dengan mesin penggulung yang telah mempunyai mal (coil winding head). 6. Memasang Kumparan di dalam Alur

Muharmy Kurniawan, A.Md

29

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

Lilitan kumparan dimasukkan secara teratur kedalam alur, kadang-kadang ujung sisi kumparan dibalut sesudah setiap kumparan masuk dalam alur seperti gambar.

Untuk memudahkan pemasukkan lilitan kedalam alur, pisahkan lilitan pada satu sisi kumparan dan pegang pada suatu sudut lain sehingga semua lilitan dapat dengan mudah dimasukkan kedalam alur dengan bantuan alat bilah. Untuk mengisolasi sisi kumparan didalam alur, yaitu dengan menyelipkan dan mendorong sehingga menutup semua sisi kumparan dan isolasi ini diharapkan lebih panjang kira-kira 1/8 melebihi ujung alur agar kumparan tetap aman pada tempatnya diberi pasak Slot weage. 7. Menghubungkan Kumparan Stator Penyambungan kumparan-kumparan stator ini dilakukan setelah semua kumparankumparan stator dimasukkan kedalam alur-alur stator dengan langkah jumlah alur yang betul. Untuk mempermudah penyambungan biasa juga kita beri kode pada pangkal dan

Muharmy Kurniawan, A.Md

30

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

ujung dari kumparan-kumparan misalnya U1 U2 dan U3 U4 dengan seterusnya seperti pada gambar. Penyambungan ini dilakukan seperti gambar. Sambungan disambung dengan solder dan selanjutnya ujung fasa disambung keterminal motor biasanya dengan kabel lemas dengan demikian penyambungan kumparan dianggap telah selesai. 8. Memvernis (Penyerlakan) Setelah diyakinkan bahwa kumparan-kumparan tidak mengalami gangguan maka pekerjaan selanjutnya ialah memberi isolasi alur yaitu isolasi cair atau biasa disebut vernis atau serlak isolasi. Bagian-bagian yang perlu divernis ialah semua alur yang didalam berisi kawat-kawat kumparan dan kepala-kepala kumparan dengan maksud supaya isolasi makin baik dan kumparan semakin kokoh. Pelaksanaan ini dapat dilakukan dengan : a. Menuangkan/mencorkan vernis kedalam alur-alur stator sampai penuh atau menetesi alur dengan kuas. b. Menyemprotkan vernis dengan sprayer (penyemprot) dimana vernis ini sudah dikemas khusus. c. Merendam stator kedalam vernis dengan cara merendam stator adalah cara yang paling baik asal saja sarananya tersedia, hal ini karena dengan merendam vernis dengan mudah masuk/menembus semua celah-celah kumparan. Sebelum merendam stator terlebih dahulu memanasinya hingga + 1000C. Untuk mengeluarkan bekas uap-uap air yang kemungkinan ada sehingga tidak

terjebak/terperangkap didalam kumparan. Kelemahan dari cara merendam ini ialah


Muharmy Kurniawan, A.Md

31

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

bagian-bagian yang tidak perlu kena vernis ikut tercelup dan bagian-bagian ini harus segera dibersihkan setelah diangkat dari perendaman. Setelah kumparan stator siap divernis, kumparan tersebut perlu dikeringkan. Pengeringan biasanya dibantu dengan pemanasan. Pemanasan dapat dilaksanankan dengan : Panas udara dalam ruangan atau dijemur pada panas matahari. Oven listrik dengan sistem konveksi atau radiasi.

9. Langkah pengujian (pengetesan) Motor yang telah digulung kembali harus ditest/diuji tentang kerusakan-kerusakan ground (hubungan ketanah/badan), short circuit, open circuit dan pengukuran. a. Hubungan badan (grounding) Pada saat memasukkan kumparan kedalam alur, mungkin kawat-kawat kumparan luka dan terhubung kebadan motor, hal ini disebut ground (hubungan badan). Untuk mengetahui atau mengujinya kita membutuhkan megger. Pelaksanaanya yaitu salah satu ujung megger dihubungkan ke badan motor sedangkan ujung megger yang lainnya pada ujung terminal-terminal motor yang telah tersambung hubungan bintang atau segi tiga. Kumparan stator dapat dikatakan baik (tidak ada hubungan badan) bila megger menunjukkan tahanan besar dan sebaiknya sama setiap pengukuran. Bila stator terhubung kebadan diperlukan untuk mencari kelokasi dan menghilangkannya. Pertama-tama coba mencari lokasi hubungan badan tersebut

Muharmy Kurniawan, A.Md

32

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

dengan pengamatan. Bila tidak terdapat dengan pengamatan tersebut dapat diteruskan dengan pengetesan setiap fasa secara terpisah seperti hasil pengukuran harus besar, sebaiknya sama setiap fasa. Pengukuran yang hasilnya rendah adalah lokasi terjadinya hubungan badan. Pengamatan lebih diarahkan ke fasa tersebut. Pada motor yang dihubungkan delta bukalah sambungan fasa-fasa tersebut, dan lakukan pengukuran setiap fasa secara terpisah. b. Short circuit (hubungan singkat) Keterampilan yang kurang untuk memasukkan kumparan kedalam alur sering mengakibatkan terjadinya hubungan antara fasa-fasa sebagai akibat kawat-kawat rusak. Untuk melokalisir kumparan yang terhubung singkat umumnya adalah dengan menggunakan internal glower seperti ditunjukkan pada gambar. Tempat kumparan yang terhubung singkat diamati dari getaran daun gergaji. Bila posisi glower ditahan beberapa saat kumparan yang terhubung singkat menjadi panas. Metode lain untuk menentukan apakah terjadi hubungan singkat ialah dengan menghubungkan motor kesumber listrik tiga fasa. Kemudian mengukur arus pada setiap fasa sebaiknya dengan tang ampere. Arus seharusnya sama pada setiap fasa. Pembacaan yang lebih tinggi pada satu fasa biasanya menunjukkan fasa yang terhubung singkat. Metode ini sulit digunakan bila hubungan singkat terjadi antara fasa dengan fasa lain. c. Open circuit (hubungan terbuka) Rangkaian terbuka (open circuit) dapat diakibatkan kumparan putus, longgar pada sambungan atau mungkin belum tersambung. Untuk mencari tempat (lokasi)
Muharmy Kurniawan, A.Md

33

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

terjadinya open circuit dapat dilakukan dengan lampu tes. Bila motor terhubung bintang, maka lampu test lead dihubungkan pada titik bintang dan tset lead yang lain pada ujung-ujung kumparan motor. Lampu seharusnya menyala sewaktu

dihubungkan kesumber dan bila motor tersambung segitiga maka sambungan fasafasa di test setiap fasa secara terpisah. Lampu tidak menyala bila ada fasa terbuka. d. Pemeriksaan pengkutuban Untuk mengetahui apakah langkah penggulungan besar membentuk kutub-kutub sesuai dengan sebenarnya dapat dilakukan : a. Dengan menghubungkan satu fasa dari motor tersebut pada satu sumber arus searah. Pada gambar, fasa U X dialiri listrik arus searah, dan kemudian kita mendekatkan kompas kesekeliling stator dari bagian dalam (kompas sebagai rotor), maka kompas akan bergerak/bertukar-tukar yaitu tergantung kutub-kutub stator. b. Pengujian pengkutuban dapat dilaksanakan dengan cara menghubungkan stator motor dengan sumber tiga fasa yang lebih rendah dari sumber sebenarnya (50%) dan didalam stator diletakkan sebuah ball bearing seperti gambar. Maka pada saat tegangan kita hubungkan dan ball bearing didorong atau kita bantu bergerak, maka bila pengkutuban benar maka bakk bearing akan bergerak mengikuti medan putar yang terjadi pada stator tersebut.

Muharmy Kurniawan, A.Md

34

e-learning-smkn5pdg.com

PPML 2

c. Pengujian langsung. Bila pengujian-pengujian gangguan hubungan badan, short circuit dan open circuit telah dilaksanakan dan ternyata tidak ada gangguan, maka pengujian langsung dapat digunakan. Hanya diingatkan pengujian jangan lama, apalagi rotor motornya tidak berputar atau terdapat gangguan.

Referensi : Yuliadi Hefri. (2006). Melilit dan Membongkar kumparan. Medan : P4TK Medan

Muharmy Kurniawan, A.Md

35