Anda di halaman 1dari 66

BAB II LANDASAN TEORI 2.1.

Geologi Teknik Untuk Perencanaan Bangunan Sipil dan Bangunan Air Dalam perencanaan suatu proyek bangunan pengairan, Geologi memberikan sumbangan dalam hal penelitian batu dan tanah sehubungan dengan bangunan yang direncanakan, penyelidikan geomorfologi dan keairan, mengetahui struktur geologi dan informasi tentang bahan bangunan yang ada di suatu daerah. Geologi sebenarnya mulai dipakai pada pertengahan abad ke-18, seperti pembuatan terowongan ELIFFOTON di Inggris. Pada awalnya dalam pembangunan bangunan-bangunan sipil maupun pengairan pada waktu itu sama sekali tidak memperhatikan faktor tanah sebagai dasar bangunan. Sampai pada peristiwa jebolnya bendungan di St. Francis (California), barulah disadari bahwa faktor tanah ternyata sangat menentukan. Pada saat ini, Geologi banyak memberikan sumbangan yang berarti dalam pekerjaan perencanaan bangunan air. Banyak informasi-informasi Geologi yang dijadikan acuan dalam merencanakan suatu bangunan air. Seperti peta geologi, hasil foto udara, foto satelit, hasil survey darat, ataupun Sistem Informasi Geografi. Dalam pelaksanaan penelitian lapangan, biasanya digunakan berbagai teknik dan cara seperti: 1. pemetaan geologis dan geologi teknik 2. pengungkapan batuan 3. pemboran inti dan pengungkapan inti pemboran 4. pengukuran geofisis 5. pengambilan contoh untuk penelitian di laboratorium 6. percobaan di lapangan 7. galian-galian percobaan ( sumur-sumur dan terowongan) Semua ini ditujukan untuk memperoleh suatu penjelasan yang cermat mengenai kondisi tanah bawah. Data yang dikumpulkan mengenai tanah bawah misalnya sifatsifat seperti berat janis, porositas, permeabelitas, elastisitas, dan gaya tekan. Pada bangunan air terjadi reaksi dari tekanan hidrostatis air sehingga terjadi perubahan permukaan air dalam masa tanah. Perkolasi air tanah dapat melarutkan mineral-mineral tertentu dan dapat menimbulkan rongga-rongga besar di dalam tanah. Apabila rongga-rongga ini bertambah besar, maka tanah akan menjadi tidak stabil dan akhirnya ambruk.

2.2. Mineral Mineral terbentuk secara alamiah, terdiri dari beberapa komposisi tertentu dan pada umumnya terdiri dari anorganik, susbstan kristalin padat. Kebanyakan dari mineral yang telah berada dalam keadaan mengkristal dan hanya sejumlah kecil dalam keadaan amorphous (tidak berbentuk). Beda antara keadaan mengkristal dan keadaan tidak berbentuk ialah bila unsur-unsur berada dalam bentuk kristal, molekul-molekul, atomatom, dan ion-ion dari tiap-tiap unsure tersebut tersusun dalam susunan yang teratur dan membentuk suatu spatial lattice. Sifat fisik yang perlu diperhatikan untuk membedakan mineral-mineral yang satu dengan yang lain ialah warna, kilap, belahan, pecahan dan bentuk (yang dapat diamati dengan bantuan kaca pembesar dengan pembesaran 10 kali), cerat, kekasaran dan berat jenisnya. a. Warna mineral Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, tetapi tidak dapat diandalakan didalam pemberian mineral, karena satu macam mineral dapat berwarna lebih dari satu, tergantung keanekaragaman komposisi kimia dan pengotorannya. Sebagai contoh kwarsa dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walaupun demikian ada beberapa mineral yang berwarna khas, seperti olivine berwarna hijau pucat, galena berwarna abu-abu, azurite berwarna biru dan malasit berwarna hijau. b. Kilap Kilap ialah kenampakan permukaan mineral yang segar didalam memantulkan cahaya. Secara garis besar kilap mineral dibedakan menjadi dua, yaitu 1) Kilap logam, nampak seperti permukaan logam yang telah digosok. 2) Kilap bukan logam yang dibedakan menjadi beberapa: a) Kilap tanah (permukaan suram seperti tanah) b) Kilap minyak (permukaan seperti minyak) c) Kilap kaca (permukaan seperti kaca) d) Kilap intan (permukaan sangat mengkilap) e) Kilap sutera c. Belahan Kekuatan ikatan atom didalam struktur kristal tidak seragam kesegala arah, apabila mineral dikenai gaya (pukulan) maka mineral akan pecah sesuai dengan arah ikatan atom yang lemah. Ikatan atom yang lemah biasanya membentuk suatu bidang,

sehingga balahan selalu membentuk bidang yang rata. Karena keteraturan sifat dalam mineral, mak abelahna akan nampak berjajajr teratur dan mempunyai arah tertentu. Arah bidang belah bisa 1 arah (mika), 2 arah (feldspar, pirksen, amfibla), 3 arah (galena, kalsit, dolomite), 4 arah (fluorit) dan 6 arah (spalerit). d. Pecahan Beberapa mineral mempunyai tenaga pengikat atom di dalam struktur kristal sangat kuat, sehingga bidang belah tidak tampak dan mineral tersebut akan cenderung pecah menuruti pola yang tidak teratur. Pecahan yang tidak teratur ini disebut pecahan. Perbedaan pecahan dan belahan dapat dilihat dari sifat permukaanya dalam memantulkan sinar. Permukaan bidang belah akan nampak halus dapat memantulkan sinar seperti pada cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar kesegala arah. Jenis pecahan yang banyak dijumpai adalah: 1) Pecahan kerang (conchoida): pada permukaan pecahan nampak bergelombang memusat, seperti kenampakan kulit kerang atau botol ynag pecah sebagai permukaannya. 2) Pecahan berserat/berserabut (splinteri/fibrous) : bila pada permukaan pecah nampak gejala serabut seperti batang bamboo atau kayu yang patah. 3) Pecahan rata (even) : bila permukaan pecahan nampak rata. Pecahan rata ini biasanya merupakan bidang belahannya. 4) Pecahan tidak rata (uneven/irregular) : bila permukaan pecahan nampak tidak rata, seperti permukaan bata yang pecah. Satu jenis mineral tertentu dapat mempunyai belahan dan pecahan, mineral lain hanya mempunyai : belahan saja dan yang lain hanya mempunyai pecahan saja. e. Bentuk Secara garis besar dapat dibedakan bentuk teratur (kristalin) dan bentuk tidak teratur (amorf). Bentuk teratur dikendalikan oleh system kristalnya. System kristal tersebut antara lain : 1) Kubik/regular 2) Hexagonal 3) Trigonal 4) Tetragonal 5) Ortorombik 6) Monoklin

7) Triklin Bentuk tidak teratur ialah bentuk-bentuk yang tidak nampak didalam pola yang teratur. Bentuk tak teratur bisa disebabkan oleh : muka kristal pada mineral tidak berkembang dengan baik, mineral tersusun oleh kristal-kristal yang sangat halus (cryptocrystalline) contoh kalsedon, atom penyusun mineral tidak tersusun didalam pola yang teratur (amorf) contoh opal. Walaupun mineral berbentuk teratur, keraturannya tidak selalu dikendalikan oleh system kristalnya, tetapi terkendali oleh antara lain pembelahanya, sebagai contoh adalah kelompok mika yang bersistem monoklin. Bila terdapat hal-hal seperti itu dan hal tersebut sangat membantu pemerian mineral, maka kenampakan yang menyolok tersebut dapat dimasukkan sebagai bentuk mineral. Bentuk tersebut : lembaran (mika), berserat (serpentin, asbes). f. Cerat Yang dimaksut dengan cerat adalah warna serbuk halus suatu mineral. Cerat dapat dipakai sebagai penciri suatu mineral, karena walaupun warna mineral beraneka ragam maka ceratnya selalu tetap. Untuk mendapatkan cerat, mineral digoreskan pada permukaan perselin yang tidak diberi lapisan pengkilat (unglazed) atau disebut keeping cerat (streak plate). Perlu diperhatikan bahwa cerat yang dilihat terutama untuk mineralmineral yang kekerasan kurang dari 6 skala Mohs. g. Kekerasan Kekerasan adalah ketahanan suatu mineral terhadap goresan. Sifat ini sangat berhubungna erat dengan struktur kristal dan ikatan atomnya. Untuk mengukur kekerasan nisbi, dua mineral digoreskan, maka mineral yang lebih keras akan menggores mineral ynag lebih lunak. Guna kepentingan pemerian mineral, tolak ukur kekerasan telah dibuat, oleh Friedrich Mohs dari Jerman yang dikenal dengan Skala Mohs yang terdiri dari 10 kekerasan tidak seragam. Sebagai contoh bila diambil nilai mutlaknya maka kekerasan intan akan 42 kali kekerasan talkum. Kekerasan itu sendiri dipengaruhi oleh keanekaragaman komposisi (kimia) mineral, sehingga mengakibatkan mineral yang sama kadang-kadang lebih keras atau lebih lunak dari pada kekerasan normalnya. Dianjurkan didalam melakukan pengukuran kekerasan dilakukan pada permukaan yang segar/tidak lapuk.

Mineral Pokok

Skala

Benda sehari-hari

Intan Korundum Topas Kwarsa Ortoklas Apatit Fiourit Kalsit Gypsum Talkum

10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 SKALA MOHS

Pisau baja (6) Pecahan kaca (5.5) Uang logam (3.5) Kuku jari (2.5) -

h. Berat Jenis (specific gravity) Berat jenis mineral adalah perbandingan berat mineral terhadap berat air pada hitungan air yang sama. Untuk pemerian mineral secara sambil lalu dapat diperkirakan dengan cara menimang-nimangnya ditangan. Mineral-mineral yang berat jenis besar antara lain : galena 7,5, pirit 5, sedangkan mineral-mineral pembentuk batuan yang umum seperti kwarsa, feldspar, kalsit mempunyai berat jenis sekitar 2.6 2.8 (gram). Lebih kurang 3000 jenis mineral telah diketahui pada saat ini, tetapi hanya sejumlah kecil dari padanya terdapat hampir dimana-mana di lapisan kerak bumi, sisanya sangat jarang ada. Semua mineral yang telah diketahui, berdasarkan komposisi kimiawi dan bentuk jaringan kristalnya, terbagi atas beberapa kelas yang terpenting antaranya adalah: 1. Native elements (unsur-unsur murni/mulia) unsur-unsur mulia jarang terdapat di alam ini mereka bukan golongan rockforming. Asal mulanya terwujudnya unsure-unsur mulia boleh jadi berkaitan dengan pengerasan atau pembekuan magma dengan reaksi-reaksi kimia yang sekunder atau dengan reaksi yang bertemperatur dan bertekanan tinggi. Yang termasuk unsurunsur murni/mulia antara lain: a) Graphite (C), jarang sekali dijumpai dalam bentuk butiran-butiran kristal yang kecil-kecil dari system hexagonal. Mempunyai warna gelap, dari abu-abu baja sampai hitam. Sinarnya sub-metalik. Jenis kerapuhannya perfect pada satu bidang. Flakes-nya (lempengan) tebal dan mudah kering. Bobot kekasarannya 1. Berat jenisnya 2.09 sampai 2.23. Di atas kertas meninggalkan berkas hitam dan kalau disentuh dengan tangan terasa agak berminyak dan mengotori tangan. Asal mula terwujudnya graphite berkaitan dengan proses-proses metamorfik dan magmatik. Banyak dipergunakan dalam pabrik-pabrik pensil dan peralatan dapur

seperti piring, mangkuk, teko yang tahan api, sebagai bahan pelumas jika minyak tidak dapat dipergunakan karena suhu tinggi. b) Intan (diamonds), sejenis kristal karbon murni. Sangat transparan, sangat keras (bobot kekerasan = 10), sinarnya kemilau dan sangat jarang terdapat. Digunakan sebagai perhiasan dan sebagai ujung tombak alat alat penyebaran atau penggoresan permukaan-permukaan yang keras dalam dunia engineering. c) Sulphur (S). kadang terbentuk dalam bentuk kristal-kristal dengan system orthorhombic, berbidang permukaan baik dan membentuk druse dalam bentuk sinter, tapi lebih sering kedapatan dalam massa yang menyerupai tepung tanah. Warnanya kuning dalam berbagai variasi, fracturenya berminyak dan tidak mengkilap. Sulphur bersifat translucent. Sifat kerapuhannya imperfect. Bentuk patahan (fracture)nya conchoidal. Bobot kekerasan 1-2. berat jenis 2.05-2.08. sulfur menghasilkan arus listrik bila terjadi penggesekan (friction), mudah menyala dengan nyala api warna biru, mengeluarkan gas belerang yang bau.

gambar 2.1. Endapan sulfur yang berasap, Kilauea, Hawaii

d) Belerang murni (native sulphur) terwujud selama proses penguraian sulfat dan mineral yang mengandung sulfur, dan sebagai akibat sublimasi dari uap air dan gas yang dikeluarkan oleh kawah gunung berapi. e) Emas (Au), yaitu logam mulia dan kedapatan dalam bentuk kristal-kristal, butiran-butiran, lamellae, dan bongkahan-bongkahan. Emas mengkristal dalam system kubus. Warnanya kuning dan kadar berat jenis tinggi (15.6-19.3). Mudah dibentuk, bobot kekerasan = 2.5-3. baik di primer maupun di placers deposit, emas terdapat dalam bentuk butiran serbuk, tetapi sering juga dalam bentuk bongkahan puluhan kg. f) Platinum (Pt), seperti emas. Terdapat dalam bentuk butiran halusseperti serbuk tepung (grains) dan flakes (lempengan) dalam berbagai ukuran, jarang dalam

bentuk bongkahan. Berwarna putih keperak-perakan. Bobot kekerasan 4-5. berat jenis 14-19. berasal dari primer dan dan placers deposit. Sifatnya infusible, stabil dalam aksi-aksi kimia dan menghantar listrik dengan baik, sehingga banyak digunakan dalam industri kimia dan elektronik. 2. Sulfide kelompok sulfide menduduki posisi kedua setelah silicate dalam hal banyaknya jumlah anggota mineral (lebih dari 250 anggota) yang dimilikinya. Tetapi kalau ditinjau dari banyak sedikitnya massa yang terdapat di lapisan kerak bumi, sulfide menduduki salah satu posisi terakhir seperti unsur-unsur mulia, dan bukan rockforming. a) Pyrite (FeS2), jenis mineral terbanyak dari sulfide.berbentuk kristal dengan system kubus yang baik. Juga terdapat bentuk seperti butiran-butiran serbuk tepung, atau compact cluster, dan dalam bentuk bundaran-bundaran yang keras dengan struktur radial. Berwarna kuning muda atau kuning emas. Berkasnya hitam atau hitam kehijau-hijauan. Berkilap metalik cerah. Pyrite tidak transparan. Kerapuhannya imperfect. Patahan atau retakan pyrite adalah conchoidal dan kadang-kadang juga tidak teratur. Patahan pyrite yang kedapatan dalam bentuk cluster adalah seperti butir-butiran serbuk tepung. Bobot kekerasan dari 6 sampai 6.5. berat jenis = 4.9-5.2.

Gambar 2.2. Pyrite

b) Chalcopyrite (CuFeS2) mengkristal dalam system tetragonal. Kadang-kadang terdapat dalam bentuk massa padat. Kristalnya langka. Warnanay berbeda dengan pyrite, yaitu berwarna kuning kemilau. Bobot kekerasannya 3-4. berat jenis 4.1-4.3. terdapat hampir di mana-mana dalam rupa biji tembaga. c) Galena (PbS); mengkristal dengan system kubik. Bentuknya butiran-butiran zat tepung, jarang sekali dalam bentuk zat padat yang compact. Kristalnya

berbentuk kubus dan jarang sekali dalam bentuk kubus octahedrons. Berwarna abu-abu timah hitam. Berkasnya hitam kehijau-hijauan dan bersinar. Tidak transparan, berkilap metalik. Kerapuhannya sempurna pada tiga bidang perekat yang sejajar dengan bidang-bidang permukaan kubus. Bobot kekerasan 3-4. berat jenis (specific gravity) 3.5-4.2. sphalerite adalah bijih seng yang utama.

Gambar 2.3. Galena (PbS)

3. Halide kelompok halide mencakup sejumlah besar mineral yang merupakan garam-garam dari asam haloid yang mengendap dari larutan zat cair. Hanya beberapa saja dari kelompok Halida ini, terutama khlorida, yang tergolong mineral rock-forming. a) Halite (NaCl); mineral dari halide yang banayak terdapat. Mengkristal dengan system kubus. Halite murni tidak berwarna atau putih bening. Tetapi kadang terdapat warna yang berbeda-beda. Halite mempengaruhi warna. Berkilap seperti kaca. Halite bersifat transparan dan translucent. Kerapuhannya sempurna pada tiga bidang kerapuhan yang sejajar dengan bidang permukaan kubus. Bobot kekerasan 2, berat jenis 2.1-2.2. melarut cepat dalam air dengan cepat dalam air dan mempunyai rasa asin yang khas. Lapisan dan jaringan Halite terdapat juga dalam lapisan yang bertingkat-tingkat dan saling tumpang tindih dengan lapisan batu-batuan. Halite digunakan sebagai garam dapur dan juga dalam industri-industri kimia.

Gambar 2.4. Halite

b) Sylvite (KC1); terbentuk dalam kondisi yang sama dengan Halite, hanya terdapat lebih jarang. Terdapat dalam bentuk butiran-butiran tepung diantara butiran-butiran tepung halite. Sifat fisiknya sama dengan sifat fisik halite. Cirri khas yang membedakan Sylvite dan Halite adalah rasa asin yang tajam dan warnanya yang merah cerah dan biru gelap. c) Fluorite (CaF2); mengkristal dengan system kubus, berbentuk gumpalan serbuk tepung (grapular clusters); kedapatan dalam bentuk kristal-kristal kubus yang terpisah-pisah dan jarangditemukan sebagai kristal octahedrons. Warnanya bervariasi : kuning, hijau, biru, violet, merah jambu, dan bahkan tidak berwarna. Mineral ini mempunyai kilap seperti kaca (vitreous lustre); translucent;varietas murninya transparan (optical fluorite). Kerapuhannya sempurna pada empat bidang yang parallel dengan bidang-bidang octahedron. Bobot kekerasan = 4. berat jenis = 3.1-3.2. Jika dipanaskan, fluorite akan berpijar di ruang gelap. Fluorite larut dalam asam belerang dan melepaskan fluoric acid (HF) yang dapat membuat kaca menjadi berkarat. Asal mula terwujudnya fluorite bertumpu kepada larutan-larutan panas. Kadan-kadang fluorite terbentuk dari endapanendapan dari air-air dingin. Fluorite penting artinya bagi bidang metalurgi (industri logam).

Gambar 2.5. Fluorite

4. Oksida dan Hidroksida Oksida dan hidroksida adalah kelompok-kelompok yang beranggotakan mineralmineral yang paling banyak jumlahnya. 17% dari mineral-mineral yang terkandung didalam lapisan lithosphere termasuk grup oksida dan hidroksida. Dalam kelompok ini terdapat minera-mineral yang merupakan kombinasi dari berbagai jenis unsur seperti dengan oksigen dan dengan Hidroksil OH. a) Quartz (SiO2); adalah salah satu daripada mineral-mineral yang paling lazim terdapat di lapisan kerak bumi. Komponen paling penting bagi pembentukan lapisan batu-batuan, di dalam dan di permukaan lapisan kulit bumi; berperan

serta dalam pembentukan batu-batu magmatik, batu-batu endapan, dan batu-batu metamorfik. Terdapat dalam bentuk gumpalan-gumpalan butiran tepung yang tidak beraturan; kadangkala Quartz terbentuk dalamrekahan lapisan batu sebagai kristal yang berpotongan baik, atau sebagai gumpalan kristal. Kristal Quartz memiliki bentuk prisma hexahedral yang berujung pada satu atau dua titik dalam rhombohedrons. Bidang-bidang permukaan prisma selalu dihiasi stripstrip transversal yang indah. Quartz yang transparan disebut juga batu-batu kristal. Kristal Quartz selalu memantulkan warna tinta, meskipun kristal Quartz tidak berwarna, atau kalau yang murni berwarna putih. Bidang permukaan kristal Quartz mempunyai kilap yang jernih dan patahan/retakannya agak berninyak. Quartz mempunyai sifat kerapuhan untuk tidak sempurna. Bentuk patahan atau retakan choncoidal. Bobot kekerasan = 7; berat jenis yang rendah, yaitu 2.5-2.8. Hanya larut dalam hydrofluoric acid. Proses pembentukan Quartz terjadi selama pengerasan atau pembentukan magma (magma solidification) di mana Quartz memisahkan diri dari larutan-larutan panas dan juga selama metamorphose batu. b) Chalcedony (S1O2); adalah varietas cryptocrystalline dari Quartz yang terdapat dalam bentuk zat padat, cluster sinter dan cluster reuniform atau punnodulenodule ( benda yang berbentuk nodular). Tercampur dengan unsure-unsur lain yang membuatnya tidak murni, misalnya tercampur dengan semacam partikel tanah liat disebut silicon. Warnanya variasi warna-warni, umumnya abu-abu. Jenis ini yang berwarna cerah dan tersusun dalam bentuk lingkaran yang konsentris disebut agate. Transparan pada lapisan permukaannya agak berminyak dan kilapnya buram. Bentuk patahan/retakan conchoidal. Bobot kekerasan 6-7. berat jenis = 2.4-2.5. c) Opal (SiO2.nH2O); adalah mineral amorphous. Mempunyai kandungan 1-5%, tetapi kandungan airnya airnya kadangkala mencapai 34%. Biasanya terdapat dalam bentuk massa sinter yang padat, tidak berwarna, tetapi Opal yang tidak murni berwarna. opal bersifat semitransparan atau translucent pada bagian permukaannya. Tidak begitu mengkilap. Bentuk patahan atau retakan conchoidal. Bobot kekerasan 5-5.5, kadang sampai 6. berat jenis 2.2-2.5. pada umumnya Opal terbentuk pada lapisan permukaan Bumi sebagai akibat pelapukan silikatdan pengendapan yang terjadi di lembah-lembah berair (water basin). Beberapa jenis protozoa dan tumbuh-tumbuhan bersel satu diketahui

mempunyai kerangka opal. Opal tidak tahan larutan panas. Digunakan dalam manufaktur benda-benda seni. d) Hematite (Fe2O3); mengkristal dalam system trigonal. Biasanya berbentuk mikro kristal yang padat, bersisik atau konsentrasi-konsentrasi dari lamelliform (iron glance, specular iron), bentuk nodule-nodule dengan struktur conchoidal ataupun radiated dan juga dalam bentuk massa cryptocrystalline.warna dari hematite kristal adalah hitam dan yang cryptocristal merah. Kilap kristal bervariasi. Bobot kekerasan 5.5-6. berat jenis 5-5.3, yang merupakan ciri khas dari berat jenisnya mineral-mineral yang mengandung besi. Hematite mengurai di larutan yang bersifat panas dan juga selama metamorphose. Ia merupakan unsure bijih besi yang penting. e) Magnetite (FeO,Fe2O3), mengkristal dengan system kubik. Berbentuk kepingankepingan yang terbuat dari serbuk tepung yang padat, dan kristal-kristal octahedron. Sifat fisiknya menyerupai hematite kristaal, bedanya terletak pada berkas yang ditinggalkan, dimana magnetite meninggalkan berkas hitam, dan juga pada sifat kemagnitannya. proses pembentukannya terjadi selama pembekuan magma dan mengurai dari larutan-larutan yang bersifat panas, serta selama proses metamorphose. f) Limonite (F2O3nH2O); hidroksida dari besi. Kandungan air dlam mineral ini bervariasi. , yang mengakibatkan terjadinya perubahan warna. warna limonite tidak padat kuning muda, sedangkan Warna limonite padat adalah coklat, coklat kemerah-merahan atau hitam. Bobot kekerasan 1-5. berat jenis 3.3-4. limonite adalah suatu mineral yang asli yang terdapat dipermukaan dan terbentuk selama pelapukan dari mineral-mineral yang mengandung zat-zat bijih besi lainnya berkat aktivitas-aktivitas mikroorganisme. Juga terdapat mengendap pada permukaan lembah-lembah aliran sungai. Limonite adalah bijih besi. g) Corundum (Al2O3) mengkristal dengan system trigonal dan merupakan kristalkristal yang berbentuk bulat panjang, pyramid dan lamellar. Berwarna biru gelap, merah, hijau dan coklat, tapi pecahan-pecahan yang terpisah dari kristal yang sama bisa berbeda warna. Bobot kekerasan 9. berat jenis 3.9-4. Corundum tidak larut dalam larutan asam. Corundum adalah mineral yang aslinya berasal dari magma. 5. Karbonat

Mineral yang termasuk dalam kelompok ini adalah garam-garam asam karbon (carbonic acid salts). Beberapa diantaranya adalah merupakan mineral-mineral rockforming yang berasal dari endapan dan metamorphose dari lapisan tanah dan batu. Ciri khas dari carbonat adalah bereaksi dengan HCl. a) Calcite (CaCO3). Mengkristal dengan system trigonal dan kristalnya berbentuk kristal druse atau seperate. Sering membentuk sinter-sinter seperti stalagtite dan stalagmite. Berwarna putih atau tidak berwarna. mempunyai kilap yang bening seperti kaca,mutiara asli, transparan atau translucent. Mempunyai tiga bidang kerapuhan, yang parallel dengan bidang-bidang permukaan rombohedron. Bobot kekerasan 3. berat jenis 2.6-2.8. dengan HCl calcite bereaksi cepat sekali. Jenis calcite yang tidak berwarna dan transparan disebut Iceland spar. Bersifat refraksi ganda dan digunakan dalam industri alat-alat optic.

Gambar 2.6. Calcite (CaCO3)

b) Aragonite (CaCO3)mengkristal dengan system orthorhombic. Selalu dalam bentuk kepalan-kepalan sinter yang padat. Oolite, asikular.bobot kekerasan 3.54; aragonite mengendap dari sumber-sumber air mineral. c) Magnesite (Mg CO3); bobot kekerasan dan berat jenisnya lebihtinggi daripada calcite atau aragonite. Digunakan untuk memproduksi semen dan batu bata anti api. d) Dolomite (MgCO3CaCO3); terdapat hampir dimana-mana. Tidak berwarna atau putih, karena polusi, jadi berwarna gelap keabu-abuan. Terbentuk dalam lapisan yang cukup tebal. Bobot kekerasan 3.5-4. berat jenis 1.8-2.4. Hanya Dolomite yang berbentuk tepung yang bereaksi dengan HCl. e) Siderite (FeCO3); mineral berwarna coklat atau kuning kecoklat-coklatan, bening seperti kaca. Bobot kekerasan 3.5-4.5, dan berat jenis 3.7-3.9. Dalam keadaan bebas siderite merupakan campuran bijih besi yang sempurna.

f) Malachite (CuCO3.Cu(OH)2); merupakan mineral yang banyak terdapat yang mengandung 57.4% kandungan tembaga. Mengkristal dalam system monoklinik. Warna hijau kebiru-biruan sampai hijau gelap. Kilapnya seperti sutra. Bobot kekerasan 3.5-4.5, dan berat jenis 3.9-4.1. g) Azurite (2CuCO3.Cu(CH2); mengkristal dengan system monoclinic. Berbentuk kristal, serbuk tepung, dan kepalan-kepalan tanah, kerak, dan lain-lain. Warna azurite kristal adalah biru gelap. Yang berbentuk kepalan-kepalan tanah berwana biru cerah. Kristal azurite pada umunya kilap bening seperti kaca. Bobot kekerasan 3.5-4, berat jenis 3.7-3.9. Kerapuhan medium pada satu bidang. Azurite dengan gampang mengurai bila dioksidasikan, dan mengeluarkan gas asam carbon. 6. Sulfat Mayoritas mineral sulfat adalah mineral rock-forming yang terbentuk dari batu endapan. Proses pembentukannya adalah sebagai akibat dari mengendapnya garamgaram asam belerang dari permukaan air ataupun merupakan proses oksidasi sulfide. a) Gypsum (CaSO4.2H2O) adalah mineral utama dari rock forming yang terbentuk dari batu endapan. Kadang-kadang ditemukan dalam bentuk kristal yang berpotongan bagus dengan system monoklinik. Kadang berbentuk bulat panjang atau petak-petak.kerapuhan sempurna. Bobot kekerasan 2. dapat digores dengan mudah oleh kuku jari. Berat jenis 2.3.

Gambar 2.7. Kristal kembar gypsum yang menyerupai ekor

burung

7. Fosfat

camar

Apatite (Ca3(PO4).(CaF2) (CaCl2)); adalah mineral yang paling banyak dijumpai diantara mineral-mineral yang tergolong fosfat. Mengkristal dengan system hexagonal, biasanya ditemukan ditemukan dalam bentuk gumpalan-gumpalan serbuk tepung. Warna bervariasi : hijau pucat atau biru kehijau-hijauan, kuning,

ungu, merah, atau coklat. Pada bidang permukaannya ia berkilap bening seperti kaca. Pecahannya tidak sempurna. Bobot kekerasan 5. berat jenis 3.2. 8. Silikat Hampir sepertiga dari semua mineral termasuk kelompok silikat; 75% dari berat lapisan kerak Bumi sama dengan berat keseluruhan massa silikat yang terdapat padanya. Silikat merupakan komponen dari batu yang terbentuk selama proses pembekuan magma (magmatic rock), juga endapan batu dan batu metamorfik (metamorphic rock), yang mengalami metamorphose karena pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi. Pada umumnya silikat mempunyai susunan unsure-unsur kimia yang kompleks. Salah satu dari cirri khas silikat ialah terdapatnya grup SiO 4 tetravallent ionic dengan ion-ion oksigen pada apex-apexnya dan satu ion silicon pada titik pusatnya.

Si Gambar 2.8

Diagram yang menunjukkan susunan ion-ion dalam silico-oxygeneous tetrahedron a) Olivine (Mg, Fe)2 SiO4) adalah silikat dengan kandungan silicon oksida yang rendah. Struktur tergantung pada tertrahedron silico-oxygeneous yang terisolasi. Olivine mengkristal dalam system orthorhombic. Kristalnya mempunyai bentuk bulat sering terdapat dalam bentuk gumpalan-gumpalan serbuk tepung. Warnanya bervariasi, dari warna achromatic sampai hitam. Mempunyai kilap yang bening seperti kaca dan juga berminyak. Kerapuhan sedang dan tidak sempurna. Bentuk pecahan atau patahan tidak teratur. Olivine yang terdapat dalam gumpalan-gumpalanserbuk tepung mempunyai pecahan yang granular. Bobot kekerasan 6.5-7. berat jenis 3.3-3.5. Olivine adalah mineral rock-forming dari batu-batuan ultra basic dan batu-batu basic silica yang rendah. Jenis olivine yang transparan disebut Chrysolite, merupakan batu semi-mulia. b) Augite (Ca,Na) (Mg, Fe, Al) (Si, Al)2O6); mengkristal dengan system monoclinic, dan kristalnya mempunyai bentuk bilah octahedral yang pendek. Warnanya hitam dan hitam kehijau-hijauan. Mempunyai kilap yang seperti kaca.

Pembelahannya sedang atau tidak sempurna dengan dua bidang belahan yang membentuk sudut 90o. Augite adalah mineral rock-forming (berbentuk batu) dari jenis batu-batu magmatik dan metamorfik. Bobot kekerasan = 5 6. berat jenis 3.3-3.6. c) Hornblende ((Ca,Na)2(Mg,Fe2+)4(al,Fe3+)(AlSi3O11)2(OH2); mengkristal dengan system monoklinik. Seperti Augite, hornblende juga merupakan mineral rockforming dari batu-batu magmatikdan metamorfik. Bentuk kristalnya prisma yang panjang atau berbentuk bulat panjang hexagonal ataupun berbentuk serat-serat panjang yang asikular. Kerapuhan sempurna, dengan dua bidang belahan yang membentuk sudut 120o atau 60o. berat jenis lebih rendah daripada augite (3.13.3) d) Muscovite (KAl2(OH)2(AlSi3O10)); mempunyai kristal yang biasanya tidak berwarna, tetapi sering bertinta hijau atau kuning pucat. Mempunyai kilap karang mutiara yang bening seperti kaca. Berkat sifat transparannya, dulu ia digunakan sebagai kaca jendela. Kerapuhannya eminen pada satu bidang; lembaran-lembarannya elastis. Bobot kekerasan 2-3. berat jenis 2.7-3. Muscovite digunakan dalam industri-industri elektronik sebagai bahan isolator. Sumber-sumber muscovite yang komersil berdekatan dengan pegmatite. e) Biotite (K(Mg,Fe)3(OH)2(AlSi3O10)); mineral ini berbeda dengan muscovite dalam hal warna; coklat atau hitam; transculent dan mempunyai berat jenis yang sedikit lebih tinggi (3-3.10). Bila biotite (mika hitam) melapuk, ia menjadi bertinta warna perungggu. f) Talc (Mg3(OH)2(Si4O10)). Berbentuk gumpalan-gumpalan padat yang bercanai tipis seperti daun atau bersisik. Kristal-kristalnya jarang yang terpisah. Berwarna putih, hijau pucat, hijau kebiru-biruan dan perak. Mempunya kilap karang mutiara. Mempunyai kerapuhan yang eminen pada satu bidang belahan. Pelatpelat tipis talc yagn terbentuk akibat perekahan pada bidang kerapuhannya adalah fleksibel dan non-resilient. Talc agak berminyak pada bidang permukaannya. Bobot kekerasannya 1, berat jenis 0.7-2.8. Talc terbentuk sebagai akibat metamorphose dari silikat-silikat yang banyak mengandung magnesium, terutama dari Olivine, pyroxene, dan amphiboles. Talc digunakan sebagai bahan pelumas. g) Serpentine (Mg6(OH)8(Si4O10); biasanya ditemukan dalam bentuk massa-massa padat, hanya kadang-kadang dalam bentuk gumpalan-gumpalan sinter.

Warnanya bervariasi, mulai dari hijau keputih-putihan sampai hijau kehitamhitaman. Mempunyai kilap kuning seperti kaca yang beminyak. Hanya jenis antigorite yang memiliki kerapuhan. Bobot kekerasan 2.5 atau 4. berat jenis 2.52.6. Serpentine terbentuk selama proses metamorphose dari batu-batu dasar. h) Kaolinite (Al4 (OH)8 (Si4O10)); ditemukan dalam bentuk kepalan-kepalan tanah yang padat. Kristalnya amat sangat kecil, yang hanya bisa diteliti dengan menggunakan mikroskop.berwarna putih, dalam bentuk kristal tidak berwarna. kilapnya buram. Bobot kekerasan =1, berat jenis=2.6. berminyak pada permukaan. Dalam keadaan kering mudah menyerap kelembaban dan menjadi lentuk (plastis). Kaolin terbentuk pada permukaan bumi selama proses alumusilicate, terutama mika dan feldspar. i) Chlorite. Diramu dalam bentuk kepalan-kepalan yang padatatau dalam bentuk kepalan berwarna hijau gelap yang bersisik. Mereka memiliki kilap karang mutiaradan bening seperti kaca. Bobot kekerasannya 2-2.5. kerapuhannya eminen pada satu bidang belahan. Chlorite pecah menjadi skala-skala tapi tidak elastis. Berat jenis 2.6-2.8. proses pembentukan chlorite semata-mata berkaitan dengan metamorphose. j) Glauconite; komposisinya mirip dengan ferrosgeneous mica (lepidomeline), bedanya : Glauconite mempunyai kandungan K2O yang lebih kecil, dan kandungan besi dan air yang lebih tinggi. Struktur kristalnya hanya sedikit yang telah ditelaah. Kristalnya ditemukan dalam bentuk serbuk-serbuk tepung bulat atau hampir bulat pada lapisan batu-batuendapan yang berasal dari laut. Bobot kekerasan 2-3, berat jenis 2.2-2.8. Digunakan sebagai pupuk potassik, bahan pembuat cat hijau, atau untuk lebih mencairkan zat-zat cair. k) Feldspar; mengkristal dengan system triklinik atau monoklinik. Berwarna cerah. Bobot kekerasan 6-6.5. mempunyai kilap yang bening seperti kaca. Mempunyai pembelahan yang membentuk sudut hampir 90o dan berat jenis 2.5-2.7.

Berdasakan komposisi kimianya, feldspar dibagi atas 2 subkelompok: 1) Soda potash feldspar atau anorthoclases Merupakan mineral yang paling banyak terdapat pada soda potash. Mengkristal dengan system monoklinik. Warna bervariasi. Mempunyai dua bidang belahan yang membentuk sudut 90o. pada belahan yang satu,

belahannya sempurna, sedang pada bidang yang alin, belahannya medium. Bobot kekerasan = 6. berat jenis = 2.5 2) Lime-soda feldspar atau plagioclases Terdiri dari mineral-mineral yang merupakan larutan keras dari dua molekul : Na (AlSi3O8) dan Ca (Al2Si2O8) yang tercampurdalam segala macam perbandingan sehingga membentuk satu seri dari persenyawaan dengan sifat dan komposisi yang senantiasa berubah-ubah. 2.3. Batuan Batuan merupakan bahan dari kerak bumi yang selalu dapat kita lihat dimanamana. Batuan dapat didefinisikan sebagai semua bahan yang menyusun kerak bumi, yang merupakan agregat dari mineral-mineral yang telah mengeras. Tanah dan bahanbahan lepas lainnya merupakan hasil dari proses pelapukan dan erosi. Jadi, segala sesuatu yang menjadi bahan kerak bumi disebut sebagai batuan. Batuan dalam pengertian sehari-hari sangat berbeda dengan pengertiannya dalam ilmu Geologi. Dalam pengertian Geologi, yang disebut batuan adalah massa materi mineral baik yang tampak keras maupun yang tidak, yang membentuk bagian kerak bumi dimana terbentuknya melalui proses alamiah. Batuan bisa berasal dari satu macam mineral (monomineralistik), tetapi pada umumnya berasal dari satu kumpulan (agrogate) dari berbagai macam mineral. Mineral itu sendiri didefinisikan sebagai bahan alam yang dibuat oleh tenaga atom yang bersifat homogen dan tersusun dari senyawa-senyawa organik yang sifat fisik dan kimianya tertentu serta mempunyai struktur atom yang konstan. Dari hasil penelitian kimia, unsur-unsur penyusun batuan yang paling penting adalah O2, Si, Al, K, Mg. Kesatuan unsur tersebut membentuk sebagian dari bermacam-macam silikat, karbon oksida serta membentuk sebagian mineral utama. Batuan dibagi ke dalam berbagai macam dan jenis berdasarkan cara terbentuknya batuan tersebut atau berdasarkan sifat-sifat tertentu yang dimilikinya. Berdasarkan pada sifat-sifat khusus yang dimilikinya batuan dibagi atas: 1. Tekstur Tekstur adalah sifat yang menyangkut hubungan antar butir penyusun batuan yang ditentukan oleh ukuran, bentuk dan susunan mineral dalam batuan. Sifat butiran tersebut ditentukan oleh beberapa hal:

a. Derajat kristalisasi 1. Hablur atau kristalin 2. Amorf atau gelas 3. Klasik atau fragmental b. Granularity 1. Besar butiran: kasar, sedang, halus 2. Warna butiran: hijau, merah, kuning, dsb. c. Fabrise 1. Semuanya hablur 2. Segmentasi 3. Kuat, kompak 2. Mineralogis Mineralogis adalah susunan mineral yang menyusun batuan yang memiliki ciri khas yaitu: kilap, warna, belahan, pecahan, cerat, kekerasan, berat jenis dan bentuk. Sedangkan berdasarkan cara terbentuknya batuan dapat dibedakan menjadi 3 macam yang tergambar dalam siklus batuan berikut ini: pelapukan, pengangkutan Batuan beku penyerapan, pembatuan pelapukan peleburan, pembekuan Batuan Metamorf Gambar 2.9 pengendapan pengangkutan pembatuan Batuan sedimen

2.3.1. Batuan Beku 2.3.1.1. Teori Batuan Beku Batuan beku adalah batuan yang terjadi karena pembekuan larutan silika cair dan pijar, yang kita kenal dengan nama magma. Penggolongan batuan beku sudah banyak dilakukan dari dulu hingga sekarang. Berbagai cara telah dilakukan, seperti

penggabungan dari jenis-jenis yang sama dalam satu golongan, dan pemisahan dari jenis-jenis yang tidak menunjukkan persamaan. Karena tidak adanya kesepakatan di antara para ahli petrologi dalam mengklasifikasikan batuan beku, mengakibatkan sebagian dari klasifikasi dibuat atas dasar yang berbeda-beda. Perbedaan ini sangat berpengaruh dalam menggunakan klasifikasi pada berbagai lapangan pekerjaan. Bila kita dapat memilih salah satu klasifikasi dengan tepat, maka kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Penggolongan batuan beku dapat didasarkan kepada tiga patokan utama, yaitu berdasarkan genetik batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkandung, dan berdasarkan susunan mineraloginya. 2.3.1.2. Klasifikasi Batuan Beku Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbedabeda meskipun dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya. Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi: Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan. Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan. Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T. Huang (1962), jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik. Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes, 1962), yaitu: Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit. Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya adalah dasit. Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah andesit. Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah basalt. Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943), yaitu: Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.

Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik. Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik. Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut: Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%. Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%. Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%. Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%. Kasifikasi batuan beku berdasarkan genesa atau tempat terjadinya dapat dibagi tiga, yaitu : a) Batuan Intrusi Batuan intrusi atau plutonik adalah batuan yang terbentuknya berada jauh di dalam bumi (1550 Km). Karena tempat pembentukannya dekat dengan astenosfer, maka pendinginan berjalan sangat lambat. Karena itu bentuk batuannya besar besar dan mempunyai kristal yang sempurna dengan bentuk tekstur holokristalin (semua komposisi disusun oleh kristal sempurna), karena pembentukan kristalnya sangat sempurna mengingat waktu penghablurannya sangat lama. (Munir, 1995). Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang sering dijadikan hiasan rumah) dan lain-lain.

Gambar 2.2 Gabro b) Batuan Ekstrusi Magma yang bergerak dari dalam ke permukaan bumi, sebagian besar membeku di dalam sebagai batuan plutonis, hanya kurang dari 1/10 nya yang membeku di permukaan bumi dan dikenal sebagai Batuan Vulkanis atau vulkanik. Suatu aktivitas vulkanisme akan mengeluarkan materi materi berupa gas, cair dan

padat. Kelompok batuan ekstrusi terdiri dari semua material yang dikeluarkan ke permukaaan bumi baik di daratan ataupun di bawah permukaan laut. Material ini mendingin dengan cepat, ada yang berbentuk padat, debu atau suatu larutan kental dan panas, cairan ini disebut lava. Ada dua tipe magma intrusi, yang pertama memiliki kandungan silika yang rendah dan vikositasnya rendah. Tipe kedua dari lava ini adalah bersifat asam, yang memiliki kandungan silika yang tinggi dan vikositas relatif tinggi. (Graha, 1987) Contoh batuan beku vulkanik adalah basalt, andesit (yang sering dijadikan pondasi rumah), dan dacite.

Gambar 2.3 Basalt c) Batuan Gang Batuan gang antara batuan dalam dan batuan leleran terdapat gejala antara batuan yang terbentuk dalam celah celah serta rekahan rekahan dalam kerak bumi. Batuan yang terbentuk adalah batuan gang atau batuan korok disebut juga batuan hypo-abisik. Gang disini adalah suatu badan yang bentuknya seperti sebuah kitab besar. Magma yang membeku dalam gang adalah magma yang sedang menuju ke permukaan bumi atau membeku dalam celah celah di kerak bumi. Misalnya magma yang mempunyai susunan granit itu membeku dalam sebuah gang, maka batuan yang terbentuk disebut porfiri granit yang berarti batuan granit bertekstur porfiri. (Munir, 1995) Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Kimiawi ( CJ. Hughes, 1962 ) 1. Batuan Beku Asam jika mengandung SiO2 lebih dari 66%. Contohnya Granit , Rhyolit

Gambar 2.4

Granit

2. Batuan beku Menengah/ intermediate jika mengandung SiO2 52-66% . Contohnya Diorit, andesit.

Gambar 2.5 Diorit 3. Batuan Beku basa jika mengandung SiO2 45-52%. Contohnya Gabro , Basalt.

Gambar 2.6 Gabro

Gambar 2.7

Basalt

4. Batuan Beku ultra basa jika mengandung SiO2 kurang dari 52%. Contohnya Peridotit, dunit.

Gambar 2.8 peridotit 2.3.1.3. Proses Pembentukan Batuan Beku Magma dapat mendingin dan membeku di bawah atau di atas permukaan bumi. Bila membeku di bawah permukaan bumi, terbentuklah batuan yang dinamakan batuan beku dalam atau disebut juga batuan beku intrusive (sering juga dikatakan sebagai batuan beku plutonik). Sedangkan, bila magma dapat mencapai permukaan bumi kemudian membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan beku ekstrusif. A. Batuan Beku Dalam Magma yang membeku di bawah permukaan bumi, pendinginannya sangat lambat (dapat mencapai jutaan tahun), memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya, menjadi tubuh batuan beku intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya. Bentuk-bentuk batuan beku yang memotong struktur batuan di sekitarnya disebut diskordan, termasuk di dalamnya adalah batholit, stok, dyke, dan jenjang volkanik. Batuan beku dalam selain mempunyai berbagai bentuk tubuh intrusi, juga terdapat jenis batuan berbeda, berdasarkan pada komposisi mineral pembentuknya. Batuanbatuan beku luar secara tekstur digolongkan ke dalam kelompok batuan beku fanerik. B. Batuan Beku Luar Magma yang mencapai permukaan bumi, keluar melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan ekstrusif. Keluarnya magma di permukaan bumi melalui rekahan disebut sebagai fissure eruption. Pada umumnya magma basaltis yang viskositasnya rendah dapat mengalir di sekitar rekahannya, menjadi hamparan lava basalt yang disebut plateau basalt. Erupsi yang keluar melalui lubang kepundan gunung api dinamakan erupsi sentral. Magma dapat mengalir melaui lereng, sebagai aliran lava atau ikut tersembur ke

atas bersama gas-gas sebagai piroklastik. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung apda komposisi magmanya dan tempat terbentuknya. Apabila magma membeku di bawah permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), dinamakan demikian karena pembentukannya di bawah tekanan air. Dalam klasifikasi batuan beku batuan beku luar terklasifikasi ke dalam kelompok batuan beku afanitik. 2.3.1.4. Komposisi dan Sifat-Sifat Batuan Beku Tekstur batuan memiliki hubungan antara penyusun batuan. Tekstur batuan sangat ditentukan oleh ukuran, bentuk dan susunan butir mineral di dalam batuan. Tekstur batuan beku berkembang tergantung kecepatan pendinginan magma dan komposisinya. Magma yang terletak jauh di dalam kulit bumi akan mengalami pendinginan dengan lambat, sehingga suatu kristal mendapat kesemptan tumbuh dengan baik dan berukuran lebih kurang seragam, mencapai beberapa sentimeter, sebaliknya pendinginan yang sangat cepat tidak akan memberikan kesempatan, kristal tumbuh sehingga ukuran kecil-kecil dan batuannya pun kadang-kadang nampak pasif dan tanpa struktur. Bila sejarah pendinginan magma cukup komplek, akan terjadi pendinginan lambat yang diikuti pendinginan cepat, yang memungkinkan terjadinya kristal yang berbeda ukuran. Ukuran kristal yang dipengaruhi oleh kekentalan magmanya. Dari magma kental berkembang kristal kecil-kecil sedang dari magma yang lebih cair akan menghasilkan kristal dengan ukuran lebih besar. Kekentalan magma sangat tergantung dari komposisi dan kandungan gasnya. Magma yang banyak mengandung silika akan lebih kental dibanding magma yang sedikit mengandung silika, demikian pula magma yang mengandung unsur gas akan lebih cair. Tekstur batuan beku dapat dibedakan menjadi lima macam : Kelompok dari Granit, yaitu: a) Phaneritik 1. Terdiri dari batuan pluton yang biasa disebut batolit, dimana kenampakan di permukaan bumi sangat besar, sedangkan kedalaman dari batuan ini tidak diketahui dasarnya. 2. Berbutir sangat kasar, dengan kombinasi warna antara abu-abu dan putih.

3. 4. 5.

Tekstur batuan ini pada dasarnya adalah holokristalin, hipidiomorfik, dan equigranular, kadang-kadang juga memiliki tekstur porpiri. Xenolit juga terdapat dalam granit dengan jumlah yang sangat kecil sekali. Struktur batuan ini biasanya adalah struktur join, yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu: a). Struktur blok yang berbentuk kubus. b). Struktur blok yang diakibatkan oleh proses konsolidasi. c). Struktur blok yang diakibatkan oleh proses pelapukan. Disamping itu, di dalamnya juga terdapat struktur miarolitik, orbikular, dan rapakivi. d) Variasi senyawa kimia pada batuan granit didominasi oleh silika.

b) Aphanitik 1. Terdiri dari batuan ekstrusi yang berupa lava dan batuan intrusi yang berupa dike. 2. Tekstur batuan ini adalah bertekstur porfirik, yaitu percampuran antara yang berbentuk halus dari mikrokristalin sampai kacaan. 3. Komposisi mineralogi dari penyusun utama terdiri dari kuarsa, potasium feldspar dari jenis ortoklas dan sanidin, plagioklas dari jenis oligoklas, sedangkan mineral feromagnesia dari biotit dan hornblende. Mineral pengiringnya terdiri dari magnetit dan apatit. Sedangkan mineral sekundernya terdiri dari hasil aliterasi dari mineral feldspar dan mineral feromagnesia. Kelompok dari Syenit, yaitu: a) Phaneritik 1. 2. 3. Terdapat sebagai stok dan boss, tidak pernah ditemukan sebagai bentuk besar seperti batolit dan granit. Terbentuknya syenit biasa berasosiasi dengan granit sebagai fasies tipis. Tekstur yang biasa ditemukan adalah equigranular, holokristalin, phaneritik dan batuan plutonik. 4. Butiran kristal cukup besar dan terlihat sebagai pegmatik. 5. Mineral utama terdiri dari potasium feldspar dari jenis ortoklas dan mikrolin, plagioklas dari jenis albit-oligoklas, sebagian besar mineral feromagnesia dari hornblende, serta sedikit dari biotit dan piroksen. Mineral pengiring terdiri dari sphen, oksida besi dan apatit. Sedangkan mineral sekunder merupakan hasil aliterasi dari feldspar, yang kemudian membentuk variasi dari mineral lempung. kasar (penokris) seperti dari kuarsa, feldspar, dan hornblende dengan masa dasar yang

6. Kandungan alkali (Na2O dan K2O) sangat tinggi, hal ini disebabkan kandungan mineral potasium feldspar. b) Aphanitik 1. 3. 4. 5. 6. 7. Terjadi sebagai aliran lava yang meliputi daerah yang luas. Tekstur lain yang biasa terdapat pada batuan ini adalah tekstur aliran. Struktur join banyak terdapat di batuan ini. Komposisi mineral dari mineral utama terdiri dari potasium feldspar dari jenis sanidin, ortoklas dan mikrolin, plagioklas, biotit, hornblende, dan augit. Kandungan mineral terdiri atas plagioklas dari jenis albit, hornblende, biotit, Kfeldspar dari jenis ortoklas dan mikrolin, nefelin, dan mineral bijihnya magnetit. Ukuran kristal berukuran kasar (phaneritik/holokristalin). Kelompok dari Diorit, yaitu: a) Phaneritik 1. Berada di tengah, yaitu antara kelompok batuan asam dan kelompok batuan basa. 2. Terdapat sebagai stok, dike ataupun sill. 3. Tekstur dari batuan ini adalah holokristalin, equigranular, porpirik dengan penokris berbentuk euhedral dan phaneritik. 4. Komposisi mineralogi, dimana penyusun mineral utama adalah plagioklas dari jenis oligoklas-andesit dan hornblende. Mineral pengiring berupa kuarsa, sphen, apatit dan magnetit. b) Aphanitik 1. Terjadi sebagai intrusi sekunder, seperti sebagai dike. 2. Tekstur biasanya adalah porpirik, dengan penokris berbentuk euhedral. 3. Komposisi mineralogi dan kimianya sama dengan kelompok batuan diorit. 4. Terdiri dari hornblende andesit, yang mempunyai ukuran kristal yang halus dan tidak sama besar. 5. Mineral yang berukuran kasar (penokris) terdiri dari plagioklas dari jenis andesit dan hornblende. Kelompok Gabro, yaitu: a) Phaneritik 1. Terbentuk sebagai lakolit, stok, dike, sill, dan biasanya sebagai batuan plutonik. pegmatik. 2. Tekstur yang biasanya terdapat adalah equigranular, holokristalin, phaneritik dan 2. Terdapat sebagai korok vulkanik yang bertekstur porfirik.

3. Butiran kristal berukuran kasar. 4. 5. Struktur yang berkembang pada umumnya struktur masif dan sistem join. Komposisi mineralogi dan kimia dari gabro adalah batuan basa, dimana prosentase silika, sodium, dan potasium relatif rendah sedangkan prosentase besi dan magnesium relatif tinggi. 6. 7. 8. Mineral plagioklas dan feromagnesia banyak mengandung kalsium. Kandungan mineralogi yang terbanyak adalah dari jenis labradorit. Mineral pengiring terdiri atas magnetit, ilmenit, apatit, biotit, kromit, dan spinel dengan jumlah yang kecil. b) Aphanitik 1. 2. 3. 4. Terdapat berupa lembaran di permukaan bumi dan mendominasi dari batuan beku yang berhubungan dengan sabuk orogenik (orogenic belt). Teksturnya adalah holokristalin, kacaan, porfirik dan equigranular. Komposisi mineralogi dan kimia sama dengan batuan gabro yang terdiri atas plagioklas, piroksin, dan olivin. Mineral pengiring terdiri dari magnetit, ilmenit dan apatit. Tekstur holokristalin dan phaneritik dari batuan plutonik. Kandungan mineral mafiknya sangat tinggi dan indeks warnanya di atas 70 dengan berat jenis (BJ) sangat tinggi. Tipe batuan pada ultra mafiknya ditandai dengan monomineral (seperti piroksen, olivin dan hornblende). Mineral pengiring sedikit sekali (seperti oksida besi, spinel, biotit dan kromit). 2.3.1.5 .Kekuatan Batuan Beku(Rock Strength) Batuan beku merupakan batuan yang memiliki kekutan tinggi. Hal ini dikarenakan teksturnya yang umumnya keras kecuali yang sudah mulai lapuk. 2.3.2. Batuan Sedimen 2.3.2.1. Teori Batuan Sedimen Batuan sedimen adalah batuan yang terjadi dari hasil lithifikasi (pembatuan) hancuran batuan lain atau larutan kimiawi, atau pertumbuhan binatang pada suatu lingkungan endapan. Dalam pengertian batuan, lithifikasi tidak harus menghasilkan Kelompok dari Ultra Basa, yaitu:

batuan yang keras. Proses lithifikasi diawali transportasi material, sedimentsi, kompaksi, dan lithifikasi. Lingkungan pengendapan yang dimaksud tidak harus air, tetapi dapat juga di darat. Kalau dilihat dari proses pembentukan batuan sedimen, maka komposisi batuan sedimen terdiri dari : pecahan batuan mineral fosil (sisa kehidupan) Klasifikasi batuan sedimen didasarkan atas tekstur , dimana tersebut merupakan pencerminan proses pembentukan (asal muasal) batu sedimen. Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan dari beberapa sentimeter sampai beberapa kilometer. Juga ukuran butirnya, dari sangat halus sampai sangat besar dan beberapa proses yang penting lagi yang termasuk ke dalam batuan sedimen. 2.3.2.2. Klasifikasi Batuan Sedimen Batuan sedimen yang ada di muka bumi ini dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok besar, pengelompokan ini berdasarkan cara terbentuknya batuan tersebut. Setiap kelompok tersebut mempunyai tempat pengendapan tersendiri, mulai pengendapan di lingkungan darat, sungai, danau sampai ke lingkungan laut. Pembagian batuan sedimen tersebut, seperti : 1. Batuan Sedimen Detritus (Klastik). Batuan sedimen ini diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar dan pembagian ini beradasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk di lingkungan darat atau di lingkungan air (laut). Batuan yang berukuran besar seperti breksi, dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunung berapi. Batuan konglomerat biasanya diendapkan di lingkungan sungai, dan batuan batu pasir dapat terjadi di lingkungan laut, sungai maupun delta. Semua batuan tersebut di atas termasuk ke dalam golongan detritus kasar. Sedangkan golongan detritus halus terdiri dari batu lanau, serpih, batu lempung, dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya diendapkan di lingkungan laut, dari laut dangkal sampai laut dalam. 2. Batuan Sedimen Evaporit.

Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang mempunyai larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat memungkinkan selalu terjadinya pengayaan unsurunsur tertentu. Batuan-batuan yang termasuk ke dalam golongan ini adalah gip, anhidrit, batugaram dan sebagainya. 3. Batuan Sedimen Batubara. Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu dari tumbuh-tumbuhan, dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati tertimbun oleh suatu lapisan tebal di atasnya, tidak memungkinkan bagi tumbuhan itu untuk melapuk. Lingkungan terbentuknya batubara adalah khusus sekali dan harus memiliki banyak sekali tumbuhan, sehingga kalau tumbuhan itu mati atau tumbang, maka akan tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut. 4. Batuan Sedimen Silika. Batuan ini terdiri dari rijang (chert), radiolaria dan tanah diatom. Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara proses organik, seperti radiolaria atau diatom dan proses kimiawi. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit sekali dan sangat terbatas. 5. Batuan Sedimen Karbonat. Batuan ini sudah umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera atau lainnya yang bercangkang kapur. Atau melalui proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan diendapkan di suatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoral sampai neritik, sedangkan proses kedua diendapkan pada laut neritik sampai batial. Jenis dari batuan karbonat ini banyak sekali, tergantung dari material penyusunnya. 2.3.2.3. Proses Pembentukan Batuan Sedimen Faktor Transoport pembentukan Batuan Sedimen Rounding Sorting Deposition Lithification Compaction Cementation

Crystallization

2.3.2.4. Komposisi dan Sifat Batuan Sedimen 1. 2. 3. 4. Warna merah dan abu-abu tua Butiran terdiri dari pecahan-pecahan fragmen batuan, mineral, kristal, dan cangkang-cangkang fosil (zat organik) lainnya. Butiran pada umumnya ditentukan oleh ukuran butirnya (Wentworth, 1922). Terdapat 2 macam kemas (fabric), yaitu: a) Kemas Terbuka (opened fabric), yaitu butiran tanah tidak saling bersentuhan (mengambang di dalam matriks). b) Kemas Tertutup (closed fabric), yaitu butiran saling bersentuhan satu sama lainnya. 5. 6. 7. A. Struktur sedimen terbentuk akibat dari proses fisika, kimia maupun proses lainnya. Adanya unsur lapisan. Lapisan yang dibentuk dari proses sedimentasi beragam, mulai dari yang tipis sampai yang tebal (Mc Kee dan Weir, 1953). Batuan sedimen klastik Dalam batuan sedimen ini terdapat berbagai kenampakan susunan butiran (struktur), yang disebut sebagai struktur sedimen. Struktur ini terbentuk bersama-sama dengan berlangsungnya pembentukan batuan sedimen tersebut, atau dikenal dengan struktur primer. Butiran pada umumnya ditentukan oleh ukuran (struktur) butirannya (Wentworth, 1992) Struktur yang sering dijumpai antara lain : 1. Struktur berlapis berlapis sejajar berlapis simpang siur berlapis tersusun laminasi

Kenampakan struktur ini karena perbedaan warna, tekstur, perbedaan komposisi dan porositas. 2. Struktur berfragmen

Struktur ini menunjukkan adanya perbedaan ukuran butir dan jenisnya. Dimana hal ini mencirikan adanya pencampuran material saat sedimentasi berlangsung. 3. Struktur berfosil Bila nampak adanya fragmen fosil dalam batuan tersebut. 4. Struktur kompak Bila tidak dijumpai lapisan dan ukuran butir seragam dan hampir seragam B. 1. Batuan sedimen non klastis Tekstur dari batuan sedimen non klastis dicirikan oleh : Kenampakan interlocking (saling menutupi), yaitu kenampakan individu mineral yang amat besar ukurannya atau bahkan sangat kecil, yang saling mengunci sehingga tidak ada kenampakan pori. 2. C. a). 1. 2. 1. 2. 3. 4. 5. Kenampakan kristalisasi : nampak ada pertumbuhan kristal-kristal Batu Pasir Kuarsit Mineral penyusun terbanyak adalah kuarsa. Warna batuan terang, yang disebabkan oleh warna kuarsa yang putih. Berwarna gelap. Pemilahan buruk karena transportasinya pendek. Bentuk butir menyudut karena jarak transportnya yang dekat. Mempunyai struktur graded bedding, yang disebabkan karena arus turbit. Mineral penyusunnya antara lain kuarsa, plagioklas, mika, dan fragmen batuan dengan semen karbonat. c). Arkose D. Mudah terkena proses pelapukan karena didominasi oleh feldspar. Berwarna terang kemerah-merahan. Bentuk butir sama dengan bentuk butir greywacke. Batu Lempung 1. Dibentuk oleh mineral-mineral lempung yang sulit dibedakan satu sama lainnya. 2. Bersifat plastis. 3. Berwarna hitam kelabu, hijau, dan merah. E. Batuan Evaporit 1. .Mineral penyusunnya bersifat monomineral (mineral garam).

b). Greywacke

2. Mineralnya terdiri dari gip (CaSO4.2H2O), anhidrit (CaSO4) dan halit (NaCl). 3. Terdapat dalam keadaan murni dan berlapis-lapis. 4. Berbentuk kristal.

Batuan Gip

5. Berbentuk kristal kasar sampai halus granular 6. Bersifat masif 7. Berstruktur pseudo porphyritic dengan kristal selenit sebagai penokris

Batuan Anhidrit

8. Berlapis-lapis, masif, dan tebal 9. Struktur sedimennya memperlihatkan permukaan yang keriput 10. Bertekstur granular halus

Batu Garam (Halit)

11. Terdapat secara masif dan berbentuk kristal kasar 12. Lapisannya sering bercampur dengan sisipan tipis dari anhidrit dan dolomit 13. Bentuk kristal kubus 14. Berat jenis relatif rendah dibandingkan batuan yang lainnya 15. Mempunyai sifat yang mudah mengalir pada temperatur dan tekanan yang rendah F. Batuan Karbonat 1. Terbentuknya klastik sebagai fragmentasi/pembentukan sekunder. Sebagai contohnya adalah colitik dan pengendapan yang menyerupai detritus. 2. Komposisi kimia dan mineral terdiri dari gragonit (CaCO3/ ortorombik), kalsit (CaCO3/ heksagonal), dolomit (CaMg(CO3)2), high magnesium kalsit, dan magnesti (MgCO3). 3. Tekstur batuan karbonat meliputi: a). Besar butir Mikrit: mulai 0,0625 mm ke bawah, yaitu berupa lumpur (mud) atau berbutir halus (aphanitik). Grain (Klas): kurang dari 1 mm. b). Bentuk Butir Non fragmental dan speruidal serta ovoid. c). Semen Terdiri dari hablur-hablur kalsit yang jelas (sparry calcite) atau spar. d). Matriks

Berukuran halus sekali, sehingga tidak dapat teridentifikasi. Berupa: 1. pengendapan langsung sebagai jarum (aragonit) secara kimiawi/biokimiawi yang kemudian berubah menjadi kalsit. 2. merupakan hasil abrasi. 2.3.2.5. Kekuatan Batuan Sedimen Batuan ini sudah mengalami konsolidasi sangat kuat, umumnya keras, kompak, kuat; terutama yang berumur tua. Sedangkan yang berumur muda/ tidak terkonsolidasi kuat, atau yang sudah lapuk, umumnya kekuatannya lebih rendah (breksi, konglomerat, batu pasir, batu lempung, batu lanau, dll.). 2.3.3. Batuan Metamorf 2.3.3.1. Teori Batuan Metamorf Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan-perubahan fundamentil batuan yang sebelumnya telah ada. Panas yang intensif, dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi, dan menyebabkan metamorfosa kontak. Metamorfosa regional meliputi daerah yang sangat luas, disebabkan oleh efek tekanan dan panas pada batuan yang terkubur sangat dalam. Pada kedua tipe metamorfosa, fluida dalam batuan dapat membantu perubahanperubahan kimiawi. Air adalah fluida utama, tetapi unsur-unsur kimia seperti klor, fluor, brom dan lain-lain dapat keluar dari batuan disekelilingnya. Namun harus dipahami bahwa proses metamorfosa terjadi dalam keadaan padat, dengan perubahan kimiawi dalam batas-batas tertentu saja dan meliputi proses-proses rekristalisasi, reorientasi, dan pembentukan mineral-mineral baru dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimia yang sebelumnya telah ada. Metamorfosa terjadi dalam suatu lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan dimana batuan asalnya terbentuk. Banyak mineral-mineral hanya stabil dalam batas-batas tertentu dalam temperatur, tekanan dan kimiawi. Jika batuan tersebut dikenakan temperatur dan tekanan yang lebih tinggi daripada dekat permukaan, maka batas kestabilan mineral dapat terlampaui. Penyesuaian mekanis dan kimiawi dapat terjadi dalam batuan membentuk mineral-mineral baru yang stabil dalam kondisi baru. Batuan metamorfosa dapat dibagi menjadi metamorfosa kontak (termal) di sekitar suatu intrusi magma, dimana panas dan fluida-fluida sebagai pemegang peranan.

Metamorfosa dinamis (kataklastik) di sekitar dislokasi, dimana tekanan memegang peranan dan metamorfosa regional, dimana kedua efek ini memegang peranan penting.

2.3.3.2. Klasifikasi Batuan Metamorf Tekstur/ ukuran butir FOLIASI (mm) Sangat Kasar Kasar > 60 260 KLORIT FELDSPAR AMPHIBOLE PIROKSIN Sedan g Halus 0.06 2 0.06 Sangat Halus 2 < 0.02 Slaty cleavage Batu sabak Filit Slate Phyllitic Schistose Genes Schist Sekis Pnyllite Migmatiti c Gneissic Struktur Komposisi Mineral KWARSA MIKA Nama Batuan FELDSPAR AMPHIBOLE PIROKSIN Migmatit Ciri Khas Warna kemerahan, feldspar jelas Kw mika Foliasi bergelombang Warna kelabu, hitambelahan & Fld kaya

Gneiss

berseling,

tdk berkembang Warna kelabuhijau kilap suram

Kasar Sedang Halus

Brecciated Liniation Mylonitic

Batuan asal, kl, Breksi kw, klst Amphibole, kwarsa Min.lmp, kl, klst, kw Kwarsa Kwarsit sesar Amphibolit Mylonite

Seperti breksi Hitam kehijauan Halus, kehijauan

Keras, beraneka

warna

Non-FOLIASI

Kwarsa, Mika Dolmit, Kalsit

Hornfels Marble Marmer Serpentinit

Warna gelap, butir halus Bereaksi dgn HCl, warna putih&hitam Warna hijau, berserat spt kayu

Serpentin Karbon Talk Keterangan : Kw Kl klst min. Lmp fld = kwarsa, = klorit, = klastika, = mineral lempung, = feldspar

Antrasit Soapstone Batu sabun

Hitam mengkilap, pecahan konkoidal Lunak, licin, warna kelabu-biru

2.3.3.3. Proses Pembentukan Batuan Metamorf Proses metamorfosa terjadi dalam keadaan padat, dengan perubahan kimiawi dalam batas-batas tertentu saja dan meliputi proses-proses rekristalisasi, reorientasi, dan pembentukan mineral-mineral baru dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimia yang sebelumnya telah ada. Metamorfosa terjadi dalam suatu lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan dimana batuan asalnya terbentuk. Banyak mineral-mineral hanya stabil dalam batas-batas tertentu dalam temperatur, tekanan dan kimiawi. Jika batuan tersebut dikenakan temperatur dan tekanan yang lebih tinggi daripada dekat permukaan, maka batas kestabilan mineral dapat terlampaui. Penyesuaian mekanis dan kimiawi dapat terjadi dalam batuan membentuk mineral-mineral baru yang stabil dalam kondisi baru. 2.3.3.4. Komposisi dan Sifat Batuan Metamorf Metamorfosa adalah proses rekristalisasi di kedalaman kerak bumi (3-20 km), yang keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat, yakni tanpa

melalui fasa cair, sehingga terbentuk struktur dan mineralogi baru yang sesuai dengan lingkungan fisik pada tekanan (P) dan temperatur (T) tertentu. Batuan metamorf merupakan jenis yang mineraloginya stabil di sekitar permukaan bumi, yakni pada tekanan dan temperatur rendah. Proses metamorfosa adalah suatu proses yang tidak mudah untuk dipahami, karena sulitnya menyelidiki kondisi di kedalaman dan panjangnya waktu. Proses perubahan yang terjadi di sekitar muka bumi, seperti pelapukan, diagenesa, sedimentasi sedimen, tidak termasuk ke dalam pengertian metamorfosa. Mineral dalam batuan metamorfosa disebut mineral metamorfosa yang terjadi karena kristalnya tumbuh dalam suasana padat, dan bukan mengkristal dalam suasana cair. Karena itu kristal yang terjadi disebut blastos. Idiomorf untuk mineral metamorfosa adalah idioblastik, sedangkan xenomorf adalah xenoblastik. Kristal yang ukurannya lebih besar daripada masa dasarnya disebut profiroblastik. Kristalisasi selama deformasi batuan, mengakibatkan mineral-mineral terarah secara membidang dan disebut sekistositas atau dapat juga menggaris disebut lineasi. Sekistositas atau foliasi, terjadi oleh karena mineral yang pipih atau membatang tersusun dalam bidang-bidang tertentu, yakni bidang sekistositas. Bidang ini dapat searah dengan lapisan sedimen asalnya dapat pula tidak, atau mungkin searah dengan sumbu lipatan. Lepidoblastik adalah jenis sekistositas karena membidangnya mineral pipih (mika), sedangkan nematoblastik karena membidangnya mineral prismatik (aktinolit). Pada batuan metamorfosa termal ( batu tanduk), butirnya mengacak arahnya dan disebut genestositas dan batuannya disebut genesan. Dalam golongan batuan hasil metamorfosa dinamo, tak jarang batuan mengalami kehancuran sehingga sifatnya menjadi fragmental. Untuk itu, istilah tekstur kataklastik dipergunakan bila komponen batuan asalnya masih ada yang tersidik. Tekstur flaser adalah bila komponen batuan asal yang masih dapat tersidik berukuran kasar dan berbentuk lensa yang tersebar pada matrik berukuran lebar. Tekstur milonit adalah istilah untuk tekstur yang sangat hancur dan menjadi bubuk, sehingga berfoliasi dengan kristal asal yang membundar. Mineral atau tekstur batuan asal yang masih tersimpan dalam batuan metamorfosa dinamakan mineral relik atau struktur relik. Susunan mineral di dalam batuan metamorf secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kategori.

1. Foliasi Batuan metamorf yang tersusun oleh mineral-mineral yang menunjukkan penjajaran. Batuan yang mempunyai struktur ini sebagian besar tersusun oleh mineral pipih. Batuan jenis ini biasanya dihasilkan oleh metamorfisme regional. 2. Nonfoliasi Batuan yang tersusun oleh mineral-mineral yang tidak menunjukkan penjajaran. Penamaan batuan biasanya didasarkan atas komposisi mineral yang dominan dan mempunyai ciri khusus. Selain kedua struktur tersebut, beberapa batuan metamorf mempunyai struktur transisi antara struktur foliasi dan nonfoliasi. Hal ini disebabkan metamorfisme yang berlangsung tidak sempurna. Batuan-batuan ini umumnya masih menunjukkan struktur batuan asal. Kalau berasal dari batuan beku, maka struktur batuan beku masih terlihat. 2.3.3.5. Kekuatan Batuan Metamorf Kekuatan batuan metamorf bervariasi, tergantung pada jenis, tingkat metamorfose, dan tekstur batuannya. Batuan metamorf yang masif (kuarsit, marmer, filit) dapat mempunyai kekuatan yang tinggi, tetapi batuan metamorf yang berlapis (misalnya sekis mika, batu sabak) kekuatannya sangat tergantung pada kehadiran foliasi/ perlapisan atau bidang lemah lain yang terdapat pada batuan tersebut. 2.3. 2.3.1. Tanah dan Proses Pembentukannya Pengertian Tanah Pengertian dari tanah secara umum ialah tanah merupakan hasil pelapukan batuan yang dapat digali tanpa menggunakan peledak dan memungkinkan tanaman untuk tumbuh. 2.4.2. Pelapukan Pelapukan (weathering) adalah suatu istilah untuk menggambarkan suatu proses yang merupakan gabungan dari proses-proses mekanik (fisika), kimia dan biologis (organik) yang terjadi di permukaan bumi, yang juga merupakan akibat adanya pengambangan (perbedaan tinggi rendah) temperatur udara, pembekuan air, aksi dan reaksi oksigen dan karbondioksida di udara, pengendapan penguatan atmosfer (curah hujan) dan aksi-aksi dan reaksi asam-asam organik di permukaan dan di dalam tanah.

Kita membedakan pelapukan-pelapukan yang terjadi berdasarkan proses-proses kimia, fisika dan biologi, tetapi sering terasa sangat sulit sekali, jika bukan tidak mungkin, untuk melihat perbedaan di antara mereka. Proses pelapukan kimia, fisika dan biologi terjadi secara simultan di alam semesta ini. Pelapukan fisik atau pelapukan mekanis A. Pelapukan Fisika Hal ini disebabkan adanya perubahan temperatur mineral-mineral dan batu-batu, yang mana perubahan temperatur disebabkan oleh pengembangan-pengembangan suhu udara dan juga karena mendapat panas langsung dari matahari.mineral dan batu akan memuai kalau dipanaskan dan menciut atau mentusut kalau didinginkan. Pemuaiyan dan penyusutan itu sendiri sebenarnya tidaklah terlalu berarti, terapi kalau hal tersebut secara konstan terjadi berulang-ulang kali dalam kurun ratusan dan ribuan tahun, tertentu dampaknya sangat terasa. Dibawah pengaruh penyusutan dan pemuaian yang berulang-ualng ini, ikatan antara molekul-molekul dalam suatu batu akhirnya secara bertahap menjadi rapuh, semakin besar molekul, semakin cepat ikatan antara mereka merapuh, karena molekul-molekul yang lebih halus pemuaiannya tidaklah sebesar molekul yang besar. Warna batu juga penting. Mineral yang berwarna gelap dan merah lebih cepat menyerap panas dan dengan demikian volumenya bertambah lebih besar dengan cepat dari pada mineral-mineral dan batu-batu yang berwarna cerah. Ikatan antara molekul-molekul pada batu-batu yang berwarna-warni merapuh atau merenggang lebih cepat dari pada molekul-molekul batu-batu yang mempunyai satu macam warna. Batu-batu yang mempunyai molekul-molekul yang kasar dan berwarna-warni paling lemah terhadap perubahan temperatur. Pemanasan disiang hari setelah pendinginan dimalam hari mulai menimbulkan suatu proses desquamasi, sementara pendinginan menyebabkan batu-batu menjadi retak. Dalam kurun waktu berabad-abad, pemuaian dan penyusutan yang tewrjadi silih berganti menyebabkan tanpilnya keretakan-keretakan pada bagan-bagan mineral. Secara bertahap mereka memuai terus dan dengan sendirinya keretakan-keretakan dapat terlihat dengan mata, sehingga batu dan mineral monolitihik mulai terpilah-pilah. Pembelahan secara mekanik ini semakin menguat terhadap massa mineral pada waktu perubahan temperatur yang tajam terjadi selama musim semi dan musim dingin, terutama didaerah beriklim continental, misal di gurun pasir, dimana permukaan bumi atau batu menerima panas sampai 70% disiang hari, sedangkan pada malam hari menjadi dingin sampai 0o C. di daerah-daerah gurun

pasir perubahan volume mineral sangat menyolok dan pelapukan fisika memainkan peranan yang sangat penting. Air juga memprasaranai aksi panas dan dingin. Dalam musim hujan batu-batu menjadi basah dan kering silih berganti. Pembasahan dan pengeringan yang berulangulang ini memperlemah ikatan antara partikel-partikel yang terkandung di dalam batubatu tersebut. Air yang membeku di dalam pori-pori dan retakan batu-batu bahkan memainkan peranan yang lebih penting lagi. Perubahan temperatur terjadi di wilayah-wilayah kutup dan ini mengakibatkan terjadinya suatu hal yang dikenal dengan istilah pelapukan frost. Air berubah menjadi es jika suhu turun sampai di bawah 0o C, dan volumenya bertambah besar sepersebelas. Jadi jika pada siang hari suhu kembali naik menjadi di atas 0 o C, es kembali menjadi cair yang mengisi tempat-tempat kosong diretakan-retakan batu, dan air itu cenderung untuk memperlebar retakan air manakala ia membeku kembali dimalam hari. Tekanan ynag amat kuat, yang kadang-kadang sampai ribuan kg/cm2 kuatnya, dilancarkan oleh air yang membeku terhadap retakan-retakan dinding. Itulah sebabnya, di daerah-daerah yang memiliki perbedaan suhu udara dalam perputaran satu hari yang menyolok, terutama dari positif kenegatif, pelapukan fisika terjadi dengan intensif dan mengakibatkan terbentuknya Talus, yang berakumulasi pada dasar dan lereng-lereng batu-batu karang yang rusak. Talus-talus ini bersifat astatik dan sulit untuk diubah bentuknya. Pada bidang permukaan karang, batu-batu berdesintegrasi (melepaskan diri) melalui pelapukan dan berubah menjadi boulder-boulde. Fenomena elektrik atmosfer juga mempengaruhi pelapukan batu. Kilat menyambar dan memecahkan batu-batu dan sekaligus mencairkan mereka, namun fenomena ini sangat jarang terjadi. B. Pelapukan Kimia Uap-uap dan gas-gas yang beraksi di udara dan sinar matahari mengakibatkan perubahan kimia terhadap kompiosisi mineral dan batu-batu. Uap air yang berkondensasi (mengental) menjadi cairan boleh jadi mengandung berbagai jenis unsur dalam larutan, yang menambah kecairan larutan-larutan mineral. Kelembapan yang kaya dengan asam-asam organik bukan hanya bahan pelarut tetapi juga menstimulir terjadinya proses-proses seperti hydrolisis dan oksidasi. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai pelapukan kimia, mari kita lihat reaksi penguraian Fledspar di bawah pengaruh kelembapan udara dan karbon

dioksida, yang menghasilkan Kaolin lunak (lithomarge) dari Fledspar padat, seperti berikut: Na2O.Al2O3.6SiO2+H2O+CO2 = Na2CO3+SiO2.nH2O+2H2O.Al2O3.2SiO2 Dibawah pengaruh kelembapan udara dan oksigen, pelapukan mineral yang mengandung belerang, seperti Pyrite umpamanya, berlangsung dengan (mirip) cara yang sama dan melepaskan senyawa-senyawa Ferro Sulfat dan asam belerang. FeS2 + 8H2O + FO = FeSO4 + 7H2O + H2SO4 Bila batu-batu unhydrous menjadi subjek dalam suatu pelapukan kimia, mereka kadang-kadang mengikat air dan berkembang menjadi senyawa hidrat. Dengan cara seperti itu, anhidrat mengubah Gypsum (CaSO4 + 2H2O = CaSO4 . 2H2O), dan besi menjadi Limonite (2Fe2O3 + 3H2O = 2Fe2O . 3H2O). Transformasi-transformasi ini sangat sering terjadi di alam. Sodium Karbonat, Potassium Karbonat, Alkalin Sulfat, larutan-larutan silica yang melarut dengan cepat dalam air, juga terbentuk akibat pelapukan kimia. Dengan berpenetrasi ke dalam produk-produk pelapukan, air atmosfer (hujan, salju yang mencair) melarutkan dan membawa mereka ke dalam lapisan-lapisan permukaan tanah. Produk-produk pelapukan yang tidak melarut seperti tanah liat, pasir, rockwaste, gruss, dan lain-lain tetap tinggal di permukaan. 2.4.3. Klasifikasi Tanah Tanah dapat dikelompokkan ke dalam 2 group besar : 1. Tanah yang terjadi oleh penumpukan produk pelapukan ditempat asalnya : Tanah Residu butirannya lebih halus dipermukaan, dan semakin besar dengan semakin dalamnya dari permukaan. 2. Tanah yang terjadi oleh produk pelapukan yang kemudian terbawa ketempat lain. Tanah ini dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok tergantung jenis pembawa dan cara pengendapan (deposisi) nya di tempat yang baru. a. Tanah Glacial : terbentuk karena terangkut dan terdeposisi oleh gletser (sungai es). b. Tanah Aluvial : terbentuk karena terangkut oleh air yang mengalir dan terdeposisi disepanjang aliran (sungai). c. Tanah Lacustrine: terbentuk karena deposisi di danau-danau yang tenah d. Tanah Marine: terbentuk karena deposisi laut e. Tanah Aeolian: terbentuk karena terangkut oleh angin

f. Tanah Calluvial: terbentuk oleh pergerakan tanah dari tempat asalnya karena gravitasi seperti yang terjadi pada tanah longsor 2.5. Proses Geologi 2.5.1. Proses Endogenik Dalam proses perkembangan lapisan kerak bumi, kekuatan yang berasal dari dalam perut bumi dapat mengakibatkan terjadinya proses-proses geologis. Dan hal ini sangat besar pengaruhnya. Ini disebut proses endogen yang meliputi: perambatan magma ke lapisan kerak bumi, keluarnya magma ke permukaan bumi dari dalam perut bumi, gerakan-gerakan tektonik dari lapisan kerak bumi yang mengakibatkan terjadinya peninggian permukaan secara perlahan-lahan dan perubahan-perubahan di beberapa tempat, guncangan-guncangan yang kuat yang kadang-kadang sangat berbahaya di beberapa tempat di bumi, gangguan di lapisan batu yang horisontal. 2.5.1.1. Teori Tektonik Lempeng Tektogenetik adalah perubahan letak kedudukan lapisan kulit bumi baik secara horizontal maupun vertikal. Gerakan tektogenetik ada yang menyebut dengan istilah dislokasi. Berdasarkan kecepatan gerak lurus dan luas daerah, tektogenetik terdiri atas: 1. Gerak epirogenetik (gerak pembentukan kontinen atau benua) adalah gerakan yang mengakibatkan turun naik lapisan kulit bumi relatif lambat dan berlangsung agak lama di suatu daerah yang luas. Tanda-tanda yang kelihatan jelas dari gerak epirogenetik dibedakan menjadi dua: Epirogenetik positif (perubahan permukaan laut positif), yaitu gerak turunnya suatu daratan sehingga kelihatannya permukaan air laut naik.. Epirogenetik negatif (perubahan permukaan laut negatif), yaitu gerak naiknya suatu daratan sehingga kelihatannya permukaan air laut turun. 2. Gerak orogenetik (gerak pembentuk gunung, lipatan atau patahan) adalah gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi yang relatif lebih cepat dari pada epirogenesa serta meliputi daerah yang sempit, gerak orogenesa ini menyebabkan tekanan horisontal atau vertikal pada kulit bumi sehingga terjadilah peristiwa dislokasi baik dalam bentuk lipatan dan patahan. 2.5.1.2. Gempa Gempa bumi adalah bencana alam yang dapat menghancurkan daerah-daerah luas, menelan korban jiwa dan memporak-porandakan kota-kota besar dan kecil. Kebanyakan

dari kejutan goncangan gempa bumi ini sangat lemah dan hanya dapat dicatat dengan suatu alat yang disebut seismograph. A. Asal Mula Terjadinya Gempa Bumi. Gempa bumi dibagi dalam tiga kelompok, tergantung kepada penyebabnya : Gempa bumi runtuhan (fall earthquake), terjadi akibat runtuhnya batu-batu raksasa dari sisi-sisi gunung, atau akibat runtuhnya atau gua-gua besar. Radius getarannya tidak begitu terasa. Gempa bumi ini dapat dijabarkan sebagai fenomena pseudoseismik. Gempa bumi vulkanis (volcanic earthquake), terjadi akibat aktivitas gunung berapi. Dalam banyak peristiwa, gempa bumi ini mendahului erupsi gunung berapi, tetapi sering mereka terjadi bersamaan. Getaran gempa vilkanis lebih terasa ketimbang getaran gempa runtuhan, di mana getarannya terasa di daerahnya yang lebih luas. Di daerah-daerah yang masih memiliki gunung-gunung berapi yang masih aktif, kejutan gelombang sering mendahului erupsi. Yang paling dahsyat adalah gempa vulkanius yang disewbabkan oleh erupsi Gunung Krakatau di Selat Sunda, di mana gempa dan letusan terjadi bersamaan yang mengakibatkan terjadinya gelombang pasang yang melanda seluruh penduduk pulau-pulau di sekitarnya, dan menimbulkan kerusakan berat di Sumatera, Jawa, dan pulau-pulau di sekitarnya. Gempa bumi tektonik (Tectinic earthquake), diiringi oleh proses-proses pembuatan lapisan gunung-gunung dan pegunungan. Gempa bumi tektonik adalah yang paling sering terjadi. Gempa bumi ini terjadi terutama di dalam lapisan batu sialic, pada kedalaman sampai 70 km. Gempa bumi yang pernah tercatat pada ke dalaman 800 km, terjadi di Laut Okhotsk. B. Pergerakan Kerak Bumi Selama Gempa Bumi. Dengan membandingkan seismogram-seismogram yang ada, adalah mungkin untuk menentukan sifat gerakan-gerakan yang timbul di hyposentrum. Dua tipe gerakan gelombang getaran dapat dibedakan yaitu : Longitudinal atau compressional. Gelombang ini menimbulkan getaran gelombang yang sangat cepat bergerak, dengan laju kecepatan 7 atau 8 km per detik pada lapisan batu yang padat dan agak lebih rendah pada lapisan batu lepas.

Transversal atau distortional. Laju kecepatan gelombang transversal kira-kira separuh laju kecepatan gelombang longitudinal dan lebih dahulu mencapai episentrum dan yang terlebih dahulu yang tercatat oleh seismograph. Gelombang panjang yang membentang ke semua arah timbul di episentrum. Meskipun gelombang ini bergerak pada laju kecepatan gelombang transversal, tetapi gempa yang dihasilkan lebih destruktif. Tingkat dan sifat kerusakan yang ditimbulkan goncangan gempa di permukaan bumi dan terhadap bangunan-bangunan di atasnya, tergantung kepada arah gelombang. C. Gempa Laut Goncangan-goncangan seismik kadang terjadi di dasar samudera. Goncangangoncangan yang menimbulkan gelombang besar disebut tsunami, yang mencapai ketinggian beberapa puluh meter dan menimbulkan kerusakan besar ketika mendekati pantai dan membanjirinya. Tsunami terjadi terutama di Pasifik tetapi juga terjadi di Samudera Atlantik dan Laut Tengah. 2.5.1.3. Vulkanisme Kegiatan letusan meliputi serangkaian proses yang berkaitan dengan kegiatan kekuatan-kekuatan yang bersumber dari dalam perut bumi dan dimanifestasikan dalam perambatan magma ke lapisan kerak bumi lalu dalam peledakannya ke permukaan bumi yang berlanjut dengan pembekuan magma. Dalam peristiwa pertama kita menelaah masalah intrusif (perambatan) dan yang kedua adalah kegiatan ledakan yang effusif atau vulkanisme. Pada kegiatan vulkanis yang bersifat intrusif, magma memasuki lapisan kerak bumi, membentuk lapisan-lapisan magmatis atau intrusi-intrusi di dalamnya. Ukuran dari intrusi-intrusi di bawah ini dan hubungannya dengan batu-batu di sekitarnya bervariasi. Batholith: lapisan benda-benda magmatis yang tidak beraturan dengan sisi-sisi yang curam. Lapisan ini terbentuk ketika magma membeku di kedalaman yang lumayan di bagian tengah dari daerah yang berlipat-lipat. Batu-batuan di sekitarnya pecah sebagaimana ketika mereka ditemukan magma, dan oleh karena itu batholith tidak menjadi lapisan yang selaras dengan mereka. Lapisan batholith terbentuk terutama oleh batu-batu asam dari tipe granit (di bagian barat dari bukit barisan Zeravshan di Pamir).

Stock: lapisan benda-benda magmatis yang lebih kecil, dari lapisan batholith (kurang dari 100 km2) tetapi mempunyai kondisi pembentukan, bidang dan komponen batu yang sama. Laccolith: lapisan benda-benda magmatis yang berbentuk seperti kubah dengan permukaan yang cembung dan dasar yang datar. Diameternya bervariasi, berkisar beberapa ratus meter sampai beberapa kilometer. Lapisan ini membentuk kubah yang mengatasi batu-batu lainnya dan berselaras dengan batu-batu tersebut. Gununggunung yang terisolir di sekitar Pyatigorak (Mashuk, Beshtau, Zheleznaya dan yang lainnya) adalah gunung-gunung yang mempunyai lapisan laccolith. Endapanendapan yang terlebih dahulu telah terletak padanya, sekarang hampir semuanya telah terkikis sehingga ada batu-batu ignius (batu beku/api) yang kosong di puncak gunung-gunung ini. Fissured intrusions: intrusi-intrusi yang merupakan jalur-jalur panjang terbentuk ketika magma memasuki rekahan-rekahan lapisan batu-batuan menjauhi lapisanlapisan intrusif yang besar. Rekahan-rekahan seperti jalur panjang boleh jadi memotong sepanjang lapisan batu-batu (intrusive sheet) atau memotongnya dalam beberapa arah (discordant atau intrusions transgressive). Sesuai dengan itu, hubungan antara intrusi-intrusi fissured dengan batu-batu yang ada di sekitarnya boleh jadi berbeda. Lapisan intrusif yang pecah-pecah disebut veins. Sebagai akibat proses penerobosan dan pembongkaran, batu-batu yang tidak selaras yang menutupi suatu vein (pembuluh) bisa tercerai-berai, sementara batu-batu membentuk intrusi dengan jalur-jalur panjang tetap tinggal pada tempatnya sehingga menjadi seperti goronggorong. Formasi ini disebut dyke. Sheet vein (lembaran pembuluh): adalah lapisan-lapisan intrusif yang besar yang dapat dilacak di wilayah-wilayah yang luas dan terdapat di antara lapisan-lapisan batu-batu di sekitarnya yang berselaras dengan batu tersebut. Lebar vein (pembuluh) di lembaran pembuluh (sheet veins) ini bisa 40 meter sampai 50 meter dan panjangnya bisa 150 kilometer sampai 200 kilometer. Pembuluh-pembuluh yang memotong lebarnya bisa 3 meter bahkan lebih. Suatu kajian mengenai proses pembentukan lapisan benda-benda intrusif dan hukum yang mengatur pendistribusiannya sangat penting artinya baik untuk teori maupun untuk praktek, karena deposit dari mineral-mineral yang berharga berkaitan dengan lapisan intrusif ini.

Letusan gunung berapi adalah salah satu fenomena alam yang paling menakutkan. Kalau kita berbicara tentang gunung berapi maka secara umum kita akan bertanya apakah gunung tersebut masih aktif atau tidak, tetapi pembagian aktif atau tidak aktif ini semata-mata bersifat konvensional. Gunung-gunung api yang dianggap aktif adalah gunung api yang bererupsi secara berkesinambungan atau yang telah pernah meletus menurut perjalanan sejarah. Pada masa kini terdapat 476 gunung api yang masih aktif dan 4000 yang sudah tidak aktif lagi. Gunung-gunung api bisa mencapai daratan dan dasar samudra. Seperti telah merupakan ketentuan, jika gunung api tersebut meletus, maka massa unsur-unsurnya akan terlempar ke luar dalam jumlah yang banyak, membentuk struktur-struktur baru di dalam permukaan laut dan tanah. Sebagai contoh adalah tipe vulkano Hawaiian yang terletak kira-kira 8000 meter di bawah permukaan laut. Sebagai suatu gambaran bagaimana cepatnya suatu produk vulkano berakumulasi ditunjukkan oleh gunung api di bawah permukaan laut Fayal di Azores, Atlantik Utara. Pada tahun 1957, pulau gunung api yang kecil ini muncul di dekat Pulau Fayal dalam waktu 3 hari. Banyak pelaut-pelaut yang menyaksikan vulkano tersebut tumbuh berkembang sebelum gunung tersebut meletus, dengan pertambahan areal 300 meter persegi setiap 12 jam. Biasanya vulkano adalah gunung yang berbentuk kerucut yang tingginya sampai beberapa kilometer. Di puncaknya berpermukaan cekung (seperti mangkuk atau kawah) melalui mana gunung api menyemburkan asap hitam dan lidah-lidah api. Semacam terusan yang relatif tegak yang disebut vent funnel (leher vulkano), melalui mana materi-materi yang disemburkan ke luar, menghubungkan dasar kawah dengan dapur magma. Salah satu gunung api kerucut yang terbesar di dunia adalah Gunung Vesuvius. Kekuatan erupsi masing-masing vulkano tidak sama. Pada setiap vulkano dapat diamati periode silih berganti dari masa aktivitas tinggi dan masa aktivitas rendah. Aktivitas suatu vulkano kadang-kadang secara bertahap bertambah besar dan lalu secara perlahan-lahan sirna, sementar itu tiba-tiba terjadi suatu ledakan dahsyat yang berbahaya. Produk-produk erupsi ada yang berbentuk cair, padat dan gas. Produk yang berbentuk padat terdiri dari abu, pasir, lapili dan bom vulkanis. Debu vulkanis terdiri dari partikel-partikel massa mineral yang halus yang terbentuk akibat penghancuran batu-batu yang membentuk dinding-dinding leher vulkano dan juga akibat perubahan bentuk dari lava. Ukuran dari partikel-partikel ini berkisar dari pecahan beberapa

milimeter. Partikel-partikel yang pecahannya sama dengan butir-butir pasir disebut pasir volkanisnya. Partikel-partikel yang lebih besar dari partikel pasir ini, yang ukurannya beberapa cm disebut lapili (batu kecil). 2.5.2. Proses Eksogenik Relief permukaan bumi tidaklah permanen. Ia berubah secara konstan akibat gerakan air, udara, pengambangan temperatur dan lain-lain. Perubahan-perubahan terhadap topografi planet bumi ini karena adanya pengaruh-pengaruh eksternal yang disebut proses eksogen (exegenous). 2.5.2.1. Geomorfik Proses oleh Air Permukaan Curah hujan dan salju yang turun dari lapisan atmosfer dan juga air yang datang dari sumber-sumber mata air mengalir di permukaan bumi dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah; menjalankan fungsi geologis dalam perjalanannya. Dibedakan sekarang aksi gerakan air yang mengalir di permukaan bumi tetapi tidak dalam saluran-saluran tertentu (bidang erosi atau proses deluvial) dengan aksi gerakan air yang mengalir di permukaan bumi dalam saluran-saluran tertentu, yaitu arus-arus air dan sungai (erosi linear atau proses erosif). a. Proses deluvial Dalam hal ini, air mengalir dari dataran yang lebih tinggi ke dataran yang lebih rendah, dalam peristiwa ini terbentuklah arus-arus air yang saling berpotongan dan berhubungan pada bidang hamparan air (water sheet). Di bawah pengaruh kondisi alam, air pada bidang hamparan tersebut, terbentuk di antara lereng-lereng dataran tinggi dan sisi-sisi jurang dan lembah sungai. Komposisi unsur dalam lapisan-lapisan endapan deluvial, warnanya, ketebalannya dan faktor-faktor lainnya tergantung kepada ketinggian lereng, kecuramannya dan bobot kekerasan batu yang terkikis. Endapan deluvial pada pinggir-pinggir lembah terdiri dari suatu seri tanah-tanah liat, mempunyai corak yang sama kecuali kalau terkikis kembali. Tetapi endapan deluvial yang terdiri dari berbagai jenis batu-batu tidaklah sama. b. Erosi Jika terdapat suatu celah (alur atau lurah) pada sisi bukit, maka ke situ akan banyak mengalir arus atau alur air. Erosi berlanjut secra lebih intensif di dalam celah sisi bukit ini ketimbang tempat-tempat lainnya. Dengan demikian celah sisi bukit ini akan semakin panjang hingga mencapai puncak sisi bukit. Celah sisi bukit ini

akhirnya melebar, sementara bagian sebelah bawah sisi bukit semakin merata akibat bertumpuknya kikisan-kikisan tanah yang terbawa arus air yang mengalir di celah sisi bukit itu. Akhirnya terbentuklah lembah di sisi bukit di mana air mengalir dari puncak bukit melalui lembah ini dan disebut Gully (selokan). Jadi Gully adalah alur air mengalir melalui lembah di celah-celah sisi bukit. Setiap bagian dari Gully (selokan) ini (bagian atas, tengah dan bawah) mempunyai peristiwa geologis yang berbeda. Erosi (pengikisan) terjadi di bagian atas, transportasi hasil pengikisan terjadi di bagian tengah dan pengendapan hasil pengikisan terjadi di bagian bawah. 2.5.2.2. Geomorfik Proses oleh Air Tanah Air tanah bermula dalam berbagai cara. Salah satu diantaranya ialah perembesan air hujan atau salju yang mencair ke dalam tanah. Air tanah bisa juga terbentuk akibat rembesan air dari danau, sungai, saluran air buatan, waduk-waduk dan lain-lain ke dalam tanah. Air tanah mengalir dengan pergerakan jauh lebih lambat daripada pergerakan air di atas permukaan tanah. Kecepatan geraknya rata-rata 0,5 1 meter per hari. Laju kecepatannya bergantung pada ukuran pori-pori dalam lapisan batu-batu (laju geraknya lebih cepat melalui lapisan batu-batu yang berpori besar), derajat kemiringan hidrolik dari lapisan batu pembawa air, jarak yang ditempuh dan temperatur yang menentukan kecairannya. Dalam lapisan tanah dan batu yang sulit diterobos air, air tanah memerlukan waktu berbulan-bulan untuk mencapai jarak beberapa ratus meter. Aktivitas air tanah yang destruktif tercermin dalam penglarutan batu-batuan, erosi mekanis dan penghanyutan partikel-partikel yang terkena erosi. Tidak seperti air sungai, air tanah sangat padat dengan unsur-unsur mineral, kadang-kadang mencapai kepadatan air garam. Sifat kelarutan mineral atau batu-batu dalam air bervariasi. Mineral yang mudah larut adalah batu garam, sodium karbonat dan sodium sulfat. Itulah sebabnya endapan batu bergaram terdapat di daerah-daerah di mana mereka terlindung oleh lapisan kedap air (tanah liat). Keseluruhan rangkaian fenomena geologis yang berkaitan dengan pelarutan sebagian dan erosi lapisan tanah dan batu dan pembentukan lubang-lubang perembesan (pori) di dalamnya disebut Karst dan area dimana fenomena ini berkembang disebut area karst. Ketika air bergerak di lapisan batu, air mengikis lapisan-lapisan batu dalam perjalanan memotong jalur-jalur air tadi, sehingga mempertinggi arus-arus bawah tanah

dengan cabang-cabang aliran. Sebagian dari arus-arus ini menerobos ke permukaan, dimana mereka membuat mata air karst. Beberapa mata air karst bisa sangat tinggi tergantung kepda lusanya area alimentasi dan besarnya curah hujan. Jika suatu proses di mana air mengendapkan garam-garam berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, maka semua ruang akan terisi penuh dengan unsur-unsur mineral penyemen. Dalam hal ini misalnya pasir-pasir berubah menjadi batu-batu pasir, jalur-jalur rekahan pada lapisan tanah dan batu tertutup dan terisi penuh oleh mineral sehingga terbentuklah jalur-jalur mineral dalam jalur-jalur rekahan di lapisan batu-batu tersebut. Endapan-endapan dari bijih-bijih (perak-timah hitam, tembaga, emas, besi, seng, timah hitam, dan logam-logam lainnya) bisa terbentuk karena garam-garam yang larut di dalam air tersebut bisa mengandung garam-garam logam. 2.5.2.3. Geomorfik Proses oleh oleh Angin Kekuatan efektif dari angin yang berhembus tergantung kepada kecepatannya. Angin yang berhembus dengan kecepatan beberpa cm/detik, sudah cukup kuat untuk menerbangkan debu. Suatu tiupan angin yang berhembus dengan kecepatan yang lebih kuat, dapat memindahkan batu-batu dengan ukuran diameter beberapa cm dari tempatnya semula. Angin topan dan angin puyuh yang kecepatannya berhembus kadang-kadang bisa melampaui 50 meter per detik adalah sangat deduktif. Partikel-partikel yang diterbangkan angin dari permukaan tanah pindah sampai jarak yang sangat jauh, tergantung besarnya butir-butir unsur tanah yang diterbangkan angin. Arus angin berhembus tidak hanya pada bidang-bidang horisontal di permukaan bumi, tetapi juga pada bidang-bidang vertikal, dengan akibat bahwa unsur tanah tersebut terlempar dari permukaan tanah, tinggi ke lapisan udara. Partikel-partikel yang terbawa angin tersebut membentuk beberapa rintangan dalam perjalanannya (batu, batu boulder, dan benda-benda lainnya). Pada benda-benda ini partikel-partikel tersebut hinggap dan berkembang menjadi bertambah banyak, mengotori bahkan menyemir dan mengikisnya. Peristiwa ini disebut Corrasion (korasi). Di daerah-daerah padang pasir, jendela-jendela pada sisi bangunan yang disentuh oleh tiupan angin kadang-kadang dilapisi oleh lapisan debu yang demikian tebalnya sehingga memberi kesan seakan-akan telah membeku. Pelapisan ini diakibatkan oleh debu-debu yang diterbangkan angin. Unsur-unsur yang terbentuk dan melekat akibat korasi tadi, diterpa lagi oleh angin dan terbawa lebih jauh. Peristiwa ini

disebut deflasi. Korasi dan deflasi adalah dua peristiwa yang saling berhubungan dan saling melengkapi. Korasi tidak hanya memberi dampak kepada batu-batu karang atau lapisanlapisan boulder, tetapi juga terhadap permukaan horisontal: kalau permukaan tersebut keras, dampak korasi terhadapnya hanya berupa pelapisan, tetapi kalau permukaan itu lunak maka ia akan terukir (membentuk relief) yang disebut dengan yardang ataupun ukiran-ukiran yang berupa lengkung yang paralel. Korasi juga menghantam pecahanpecahan batu di padang pasir, dan gesekan dengan permukaan pasir turut membantu mereka membentuk trihedron-trihedron yang khas. 2.5.2.4. Pelapukan oleh Pantai dan Air Laut Gerak geologis laut berpola sama dengan gerak geologis sungai-sungai, lapisan es dan angin, yaitu meliputi bidang-bidang erosi (pengikisan permukaan dan lapisan tanah), transportasi (pemindahan hasil erosi), grinding (pemerataan atau penggusuran permukaan tanah), sorting (pemisahan permukaan tanah), depositasi (pengendapan hasil erosi) dan transformasi. Tetapi, ada sejumlah segi-segi tertentu dalam kehidupan geologis laut yang membuat ia penting artinya bagi perikehidupan di muka bumi. Lapisan batu-batu organik, yang terdapat sedikit pada endapan-endapan daratan, merupakan endapan yang utama di antara endapan-endapan yang terjadi di laut. Akumulasi endapan-endapan laut mengikuti keadaaan permukaan wilayah tertentu, yang tergantung kepada relief dasar laut, garis pantai dan faktor-faktor lainnya. Gerak laut juga tergantung kepada tipe lapisan batu-batuan yang dikandung daratan pantai. Lapisan batu lepas paling cepat berguguran. Daratan pantai yang terdiri dari lapisan batu-batu pasir argillasius yang lepas, tidak menghasilkan pecahan-pecahan kasar kalau ia dihantam gelombang, tetapi pecahan-pecahan yang besar berakumulasi sepanjang daratan pantai yang terdiri dari lapisan batu-batu keras. Posisi batu di daratan pantai juga menentukan. Pengikisan berlangsung dengan cepat jika lapisan-lapisan tersebut terletak curam menjorok ke daratan, dan berlangsung lebih lambat jika ia terletak menjorok dengan landai ke arah laut. Pengikisan berkurang pada lapisan-lapisan yang terletak horisontal karena tingkap-tingkap atau teras-teras terbentuk padanya dan ini memperlemah kekuatan gelombang. Ketika gelombang menghantam tebing pantai yang curam secara bertubi-tubi, gelombang-gelombang membentuk lekukan horisontal. Lapisan batu dan tanah yang terletak di atas lekukanlekukan ini secara bertahap melapuk dan akhirnya berguguran akibat berat mereka

sendiri. Dengan cara ini daratan pantai yang perlahan-lahan melandai dan permukaannya yang datar disebut pantai (beach). Tidak semua gerakan air laut bersifat destruktif. Materi-materi yang terkikis mengendap di sepanjang pantai dan juga pada keseluruhan wilayah laut dangkal. Pengendapan unsur-unsur yang besar pada lereng pantai yang amat landai lama kelamaan sering menjadi pembentukan off-shore bars (bendungan panjang di lepas pantai). Materi yang terbawa ke tempat tersebut tidak hanya dihanyutkan lebih jauh oleh gelombang. Endapan-endapan ini berkembang membentuk balokan-balokan panjang yang lebarnya 1012 meter. Kadang-kadang beberapa balokan-balokan panjang terletak sejajar satu sama lainnya. Endapan-endapan ini juga terdapat di dasar laut. Endapanendapan dasar laut ini diklasifikasikan sebagai berikut: endapan litoral, endapan laut dangkal, endapan abyssal. Dalam jangka waktu yang lama, kegiatan destruktif dan konstruktif oleh perubahan-perubahan laut akan menentukan bentuk tepian pantai, serta relief permukaan bumi melalui pengikisan daratan dan mengisi palung-palung laut di mana endapan-endapan berakumulasi. Proses akumulasi batu-batu ini di laut-laut maupun di samudra-samudra terjadi seiring dengan bermulanya waktu. Pada masa kini, batu-batu ini terletak dalam lapisan-lapisan tebal, dan membentuk bagian atas kerak bumi. 2.5.2.5. Gerakan Tanah Pengertian dari tanah secara umum ialah tanah merupakan hasil pelapukan batuan yang dapat digali tanpa menggunakan peledak dan memungkinkan tanaman untuk tumbuh. Kerak bumi telah mengalami perubahan yang sangat berarti dalam usia bumi. Bukti-bukti geologi menunjukkan bahwa daratan yang luas pada benua-benua untuk suatu periode tertentu tertutup oleh laut-laut dangkal. Bukti-bukti ini didapatkan dari studi mengenai fosil yang dijumpai dalam sediment dan batuan yang tersingkap. Bukti geologis menunjukkan bahwa pegunungan Appalachian adalah terbentuk dan dibentuk kembali selama zaman Paleozoikum dan sampai zaman Cenozoikum (225-sekitar 63 juta tahun yang lalu). Erosi yang cukup berarti telah terjadi dan gaya angkat yang menyusul kemudian telah membentuk dataran tinggi Piedmont dan memindahkan sediment-sedimen yang menutupi dataran pantai ke arah luar menuju ke timur, lke arah laut Atlantik.

Gerakan kerak bumi menghasilkan perubahan bentuk structural yang disebut lipatan (folds), patahan (faults) dan kekar (joint). Sinklin (syncline) melengkungkan lapis-lapis batuan dalam bentuk cekung ke arah atas; antiklin (anticline) yang cembung ke arah atas. Geosinklin (geosyncline) merupakan depresi dari suatu daerah, sering sejajar dengan pegunungan, yang terisi dengan sediment dan sisa vulkanis yang kemudian akan terangkat dan membentuk pegunungan. Monoklin (monocline) merupakan lipatan tunggal tunggal, dan perlu dicatat bahwa antiklin dan sinklin mungkin akan berdampingan, tergantung pada jumlah pelipatan. Istilah-istilah yang dipergunakan untuk geometri dari dasar batuan yang miring dan terlipat itu antara lain ialah jurus (strike) yaitu sudut sumbu dasar dari utara kompas; dan kemiringan (dip) yaitu sudut sumbu dasar dari bidang horizontal yang diukur sesuai dengan arah jurus. Apabila tegangan yang ada di dalam kerak batuan melebihi tegangan runtuh dari batuan, maka akan terjadi retakan. Apabila hanya terjadi sedikit gerakan sepanjang zona retakan itu, maka retakan itu disebut kekar (join). Patahan normal (normal fault) terjadi apabila terdapat gerakan sepanjang retakan dalam arah vertical. Dengan dinding gantung (hanging wall) pada blok yang rubtuh. Jurus-gelincir (strikelips) terjadi apabila gerakan patahan adalah lateral. Banyak patahan yang merupakan patahan delincir, dimana gerakan vertical dan lateral keduanya terjadi. Di bagian yimur Afrika terdapat patahan gelincir dengan zona retakan sepanjang 6000 km. Pegunungan Beartooth di Montana dan Wyoming terjadi sebagian disebabkan oleh suatu blok patahan berukuran 64 x 128 km yang naik secara vertical sampai 1000 m. Istilah Scrap dipergunakan untuk menerangkan tepi dari tebing batu (cliff) yang terbentuk akibat terjadinya perubahan yang sekonyong-konyong dari elevasi akibat terjadinya patahan jenis tersebut. Patahan San Andres di Califonia yang dimulai dekat Salton Sea pada batas dengan Meksiko, dan bergerak sepanjang pantai sampai 960 km ke poin area di California Utara, dimana terlihat dia memasuki lautan teduh, adalah merupakan patahan jurus gelincir. Oleh karena gerakan reliefnya terutama sejajar dengan zona retakan (dan permukaan tanah). Apabila gerakan relative adalah kecil atau telah terjadi sedemikian lamanya sehingga erosi telah menghapuskan semua bukti di permukaan bumi, maka satu-satunya cara untuk mendeteksi patahan ialah dengan studi yang teliti terhadap bor mencapai batuan dasar (bad rocks) Dalam kasus apapun suatu patahan adalah merupakan suatu kelemahan structural yang menambah kemungkinan adanya gerakan kerak bumi dalam

zona tersebut apabila tegangan kerak bumi terkumpul dan bertambah di dalam suatu periode waktu. Gempa bumi akan terjadi bila tegangan itu terjadi terlalu besar dan gerakan massa batuan secara relative akan terjadi secara tiba-tiba. Dari segi pandanngan geologi, zona patahan berguna pula, oleh karena banyak deposit tambang yang berharga yang tersingkap dan dijumpai di sepanjang garis patahan itu. Dilihat dari cara terbentuknya tanah dapat dibedakan menjadi dua macam : Tanah insitu (saprolit soil), yaitu tanah yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan dan masih berada dibagian atas batuan induknya. Tanah jenis ini pada umumnya mempunyai perubahan warna dan tekstur secara gradual, dari bawah ke atas. Namun beberapa macam batuan mempunyai warna dan tekstur yang berubah secara mencolok, misalnya batuan gamping. Tanah terangkut (transported soil), yaitu tanah yang telah berpindah dari tempat asal pembentukannya. Tanah jenis ini pada umumnya mempunyai perbedaan warna, stuktur dan tekstur yang mencolok dengan batuan atau tanah disekitarnya. Dalam pengertian geologi tanah jenis ini sudah dimasukkan dalam batuan sediment, meskipun belum terkonsolidasi. Lapisan kerak bumi melakukan gerakan yang konstan akibat aksi kekuatan dari dalam perut bumi yang dimanifestasikan dengan adanya peninggian dan penurunan permukaan tanah, penekanan terhadap lapisan-lapisan hingga membentuk lipatanlipatan dan pemecahan lapisan-lapisan batu. Pergerakan ini timbul disebabkan kekuatan tektonik, yang aktivitasnya menimbulkan perubahan-perubahan yang esensial dalam struktur lapisan kerak bumi.Aktivitas yang bersumber dari tenaga dalam (internal force) bumi dapat dilihat dalam beberapa cara. 2.6 Geohidrologi 2.6.1 Pengertian Dan Siklus Air Geohidrologi adalah suatu studi interaksi antara kerja kerangka batuan dan air tanah yang dalam prosesnya menyangkut aspek-aspek kimia dan fisika yang terjadi di dekat atau di bawah permukaan bumi (Kodoatie, 1996). Berbicara geohidrologi tidak akan lepas dari daur hidrologi sebagai berikut; evaporasi dari tanah atau air laut dan transpirasi dari tumbuh-tumbuhan kondensasi dalam awan presipitasi dalam bentuk

hujan infiltrasi dan perkolasi ke dalam tanah atau menjadi air limpasan (sungai dan danau) kembali ke awal.

Gambar 3.3. Daur Hidrologi (Davies dan DeWiest, 1966, dalam Rahn, 1996)

2.6.2 Sifat Hidrolis Batuan Batuan terbentuk dari berbagai proses yang berbeda di setiap klasifikasi batuan. Sifat-sifat dan komposisi batuan bergantung dari proses pembentukan batuan. Banyak batuan dan mineral hanya ditemukan jauh di bawah permukaan bumi, tetapi ada juga yang ditemukan dekat permukaan bumi. Secara tidak langsung dapat diketahui bahwa batuan juga memiliki sifat hidrolis.Seperti halnya air, batuan juga akan mengalami perubahan fase apabila dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Ketika terjadi perubahan temperatur, yang akan terjadi pada batuan adalah batuan tersebut akan mengembang pada suhu tinggi, dan mengerut pada suhu rendah. Curah hujan yang tinggi disertai dengan intensitas sinar matahari yang tinggi secara bergantian, membuat batuan akan mengalami perubahan secara fisik, yakni mengerut dan mengembang hinnga akhirnya lapuk. Melalui proses pengikisan, baik pengikisan oleh air sungai, tenaga gelombang, maupun tenaga angin, massa batuan diuraikan dan dipindahkan.

2.6.3 Akuifer Air yang meresap ke dalam tanah akan membentuk suatu sistem aliran air bawah permukaan (air tanah), yang akan berbeda pada masing-masing daerah, tergantung dari litologi dan bentang alamnya. Litologi atau lapisan batuan yang mengandung air tanah

disebut lapisan akuifer. Berdasarkan sifat fisik dan kedudukannya dalam kerak bumi, akuifer dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : Akuifer bebas, yaitu akuifer tak tertekan (unconfined aquifer) dan merupakan Air tanah dangkal (umumnya <20 m), umum dijumpai pada daerah endapan aluvial. Airtanah dangkal adalah airtanah yang paling umum dipergunakan sebagai sumber airbersih oleh penduduk di sekitarnya. Akuifer setengah tertekan, disebut juga akuifer bocor (leaky aquifer), merupakan akuifer yang ditutupi oleh lapisan akitard (lapisan setengah kedap) di bagian atasnya, dapat dijumpai pada daerah volkanik (daerah batuan tuf). Akuifer tertekan (confined aquifer), yaitu akuifer yang terletak di antara lapisan kedap air (akiklud), umumnya merupakan airtanah dalam (umumnya > 40 m) dan terletak di bawah akuifer bebas. Airtanah dalam adalah airtanah yang kualitas dan kuantitasnya lebih baik daripada airtanah dangkal, oleh karenanya umum dipergunakan oleh kalangan industri termasuk di dalamnya kawasan pertambangan.

Gambar 3.4. Ilustrasi dari tiga jenis akuifer menurut Kruseman dan deRieder, 1994

Air merupakan sumber kehidupan yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun juga. Tanpa air manusia, hewan dan tanaman tidak akan dapat hidup. Salah satu air yang ada di bumi adalah air tanah. Air tanah adalah air yang berada di bawar permukaan

tanah. Air tanah dapat kita bagi lagi menjadi dua, yakni air tanah preatis dan air tanah artesis. Saat ini air tanah telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penggunaan air tanah sebagai air yang layak konsumsi. Air tanah dapat diminum, mencuci dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 2.6.4 Mata Air dan Jenisnya Air yang berada di bumi ini berputar pada sebuah siklus. Siklus tersebut dinamakan siklus hidrologi. Air yang berada di laut, sungai, rawa, danau, tumbuhan, sebagian akan menguap dan berkumpul membentuk titik-titik air di atmosfer (awan). Jika titk air tersebut terkondensasi, maka terjadilah hujan. Ketika hujan turun, sebagian air mengalir di permukaan melalui sungai, danau, dan lain-lain. Sebagian lagi masuk ke dalam tanah dan mengalir di bawah tanah melalui zona jenuh air sebagai airtanah. Airtanah mengalir melalui pori-pori batuan yang permeabel (akuifer). Jika air yang mengalir melalui akuifer ini muncul di permukaan, maka manifestasi tersebut dinamakan mata air. Mata air sendiri ada beberapa jenis. Mata air depresi terjadi jika garis muka air tanah berpotongan dengan garis ketinggian yang sama. Mata air yang muncul di permukaan melalui batas kontak antar batuan disebut mata air kontak. Biasanya akuifer berada di atas lapisan batuan impermeabel. Jika suatu akuifer dibatasi oleh lapisan impermeabel di atas dan bawahnya (confined aquifer) dan terjadi suatu rekahan atau struktur, maka airtanah akan mengalir dan muncul ke permukaan melalui rekahan tersebut sebagai mata air rekahan. Ada juga mata air yang muncul akibat proses pelarutan, biasanya pada batugamping disebut mata air pelarutan. Intinya, airtanah akan muncul ke permukaan jika muka airtanah lebih tinggi dari muka tanah. Hal ini juga berlaku untuk sumur.

gambar jenis-jenis mata air 2.6.5 Penyelidikan Air Tanah Penyelidikan air tanah dapat menggunakan metode geolistrik. Metode geolistrik hampir sama dengan pengukuran daya hambat dengan batuan elektroda pada jarak yang berbeda-beda dalam lubang pemboran. Pada jarak elektroda ukur yang sama di permukaan, elektroda arus ditempatkan semakin jauh satu dari yang lain, sehingga pengaruh yang ditimbulkan oleh lapisan yang lebih dalam terhadap medan listrik jadi meningkat. Perubahan yang dicatat pada elektroda ukur memberikan sebuah gambaran tentang daya hantar ke arah kedalaman. Namun demikian, penetrasi dapat dikatakan tidak begitu banyak terjadi. Interpretasi hanyalah mungkin berdasarkan model-model yang sederhana dari psket lapisan yang memiliki daya hambat tertentu. Dengan demikian, pada prinsipnya suatu profil geologis harus kita ketahui, agar penyimpangan dari model-model-model tersebut dapat kita lokalisasi dan interpretasikan. Profil geologis banyak digunakan untuk penelitian hidrologis, lapisan dengan air tawar, air agak asin dan air asin.

2.7. Penyelidikan Geologi Teknik 2.7.1. Teori Dasar Peta Topografi

Kata topografi berasal dari Bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu topos (lapangan) dan grafos (penjelasan dari lapangan). Sedangkan pengertian dari peta, adalah 1. Gambaran pada suatu permukaan datar dari seluruh atau sebagian dari permukaan bumi, untuk memperlihatkan kenampakan fisik atau yang lainnya. 2. Gambaran konvensional dari permukaan bumi, yang diperkecil kenampakannya seperti dilihat dari atas dengan tambahan tulisan-tulisan sebagai tanda. Jadi, peta topografi adalah peta dengan skala tertentu yang memuat detail dengan lengkap, baik gambar jalan, batas kampung, hutan-hutan sampai pada bentuk-bentuk tanah. 2.7.2 Peta Topografi Peta topografi adalah peta yang menggambarkan tinggi rendahnya muka bumi. Dari peta topografi kita dapat mengetahui ketinggian suatu tempat secara akurat. Cara menginterpretasikan peta topografi berbeda dengan peta umum karena simbolsimbol yang digunakan berbeda. Sebelum menginterpretasikan peta topografi, lakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Siapkan peta topografi yang akan diinterpretasikan, misalnya peta Pulau Jawa. 2) Perhatikan legenda untuk memahami makna simbol-simbol yang terdapat pada peta. 3) Perhatikan persebaran data pada wilayah tersebut. 4) Perhatikan tahun pembuatan peta untuk mengetahui apakah peta tersebut masih relevan atau tidak. Interpretasi peta topografi untuk melihat daerah mana saja yang banyak dihuni penduduk (ketinggian rendah atau topografi relatif datar) dan daerah mana saja yang jarang dihuni penduduk (biasanya ketinggian sedang-tinggi atau topografi perbukitanpegunungan). Untuk menentukan kawasan penduduk (disuatu desa) yang benar-benar butuh air, maka dilakukan pemodelan antara informasi peta dan data hasil perhitungan. Informasi peta yang dipergunakan adalah letak wilayah pemukiman yang terdapat dalam peta rupa bumi skala 1:25.000.

2.7.3. Peta Geologi Banyak proyek yang harus didahului oleh penelitian geologis. Umumnya seorang ahli geologi harus dapat berorientasi dan memahami pentingnya peta-peta yang

membuat berbagai fakta geologis. Yang menjadi dasar peta geologi adalah peta tofografi. Hubungan antara tepi lapisan tanah dan tofografi dapat memberikan sebuah gambaran tentang formasi-formasi tepi lapisan tersebut. Pada lapisan tanah horizontal, tepi lapisan pada peta adalah sejajar dengan garis tinggi ( konturnya ). Pada lapisan yang terletak miring di betulan perpotongan dengan lembah, tepi lapisan akan tampak seperti huruf V yang menunjukkan arah kemiringannya. Pada lapisan tanah yang vertikal, jalannya tepi lapisan tidak akan terpengaruh oleh konturnya. Macam-macam peta geologi: a. Peta geologi permukaan, atau peta rincian (surface geological map) memberikan formasi geologi yang langsung terletak dibawah permukaan. Tetapi umumnya dasar pelapukan tidak dicantumkan (peta yang ditutupi). Skalanya adalah 1:50.000 atau lebih besar. Peta ini berguna dalam penentuan lokasi bahan bangunan (pasir dan kerikil), drainase, pencarian air, pembuatan lapangan terbang dan jalan, dan lain sebagainya. b. Peta pengungkap (out crop map), pada umumnya berskala besar. Yang dicantumkan hanyalah tempat di temukannya batuan padat, yang dapat memberikan keterangan dari pemboran dan sebagainya beserta sifat batuan dan kondisi strukturalnya. Peta ini digunakan untuk menentukan dimana misalnya material untuk pecahan batu dapat ditemukan langsung di bawah permukaan. c. Peta ikhtisar geologi, umumnya berskala sedang atau kecil, 1:100.000 atau lebih kecil. Peta ini tidak saja memberikan pengamatan langsung terhadap formasiformasi yang telah tersingkap, akan tetapi ada kalanya pula ekstrapolasi atas daerah-daerah yang beberapa formasinya diliputi oleh lapisan holosen. Kadang agak skematis. d. Peta struktur, berskala besar hingga sedang. Peta ini adalah peta dengan garis kedalaman yang dikontruksikan pada permukaan lapisan tertentu, yang berada di tanah bawah. e. Peta isopach, berskala sedang hingga besar, disebut peta foto geologi. Pada umumnya foto udara diambil vertikal ke bawah. Titik potong sumbu optik negatif dalam kamera (yakni permukaan bumi dalam keadaan sebenarnya) disebut titik utama, yaitu pusat proyeksi. Lewat pengimpitan foto-foto, terdapat kemungkinan dilakukannya studi stereoskopik; antara lain paralaks, pengukuran selisih ketinggian, dan pembuatan kontur.

2.7.4 Simbol-Simbol Dalam Peta Geologi Kontak, dengan besarnya kemiringan Kontak, tegak (kiri) dan membalik

Kontak, lokasi diperkirakan

Kontak, lokasi tidak pasti

Kontak gradasi

Sesar, dengan arah kemiringan Sesar sangat diragukan Sesar mendatar

Sesar naik

Zona sesar dengan kemiringan rata-rata

Sesar normal/sesar turun

Antiklin dan siklin

Antiklin tidak simetris

Antiklin membalik Antiklin dengan dua arah penunjaman,

dengan kulminasi

Antiklin membalik bentuk sama Arah sumbu antiklin kecil (kiri) dan siklin

Arah sumbu perlipatan

Jurus dan kemiringan perlapisan

Jurus dan kemiringan lapisan (membal

Undulasi (perlapisan menggelombang) Jurus dan kemiringan foliasi Jurus dari foliasi tegak

Foliasi mendatar

Sejajar foliasi

Jurus dan kemiringan cleavage

Jurus dari cleavage tegak Cleavage mendatar

Jurus dan kemiringan kekar

Tambang terbuka dan cadangan

Portal dari terowongan atau Adit Shaft di permukaan, tegak )kiri) dan Shaft diperluas ke atas (kiri)dan dasar Lubang bor mendatar (kiri) dan miring 30o Shaft, tegak (kiri) dan miring Adit, terbuka (kiri) dan miring

Paritan (kiri) dan prospek Penambangan/cadangan Pasir, kerakal, dan lubang lempung

2.7.5 Penggambaran Peta geologi selalu harus disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya melalui pengukuran di lapangan. Penelitian lapangan dapat memberikan banyak petunjuk. Seorang ahli geologis harus berusaha agar petunjuk-petunjuk ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemakai. Berbagai hasil pengukuran dan perhitungan dialihkan ke dalam sejumlah tabel dan grafik. Pekerjaan tersebut dilengkapi dengan peta-peta dan profil-profil geologi teknik, semua ini penting sekali, karena pada peta dan profil tersebut dapat disajikan dengan baik berbagai faktor geologis yang terkait. Kita dapat membedakan dua jenis peta geologi : 1. Peta khusus yang dibuat untuk pemerintah dan berisi ciri-ciri teknik geologis yang sangat penting untuk tujuan teknik sipil. 2. Peta teknik geologis yaitu dari tempat-tempat pembangunan. 2.7.6. Eksplorasi Geofisika 2.7.6.1. Seismik Pada pengukuran geofisis sering terdapat perbedaan antara nilai-nilai yang ditentukan terhadap material tertentu (di laboratorium) dan terhadap massa (di lapangan). Sebuah pelaksanaan mengenai hal ini adalah pengukuran kecepatan seismik (sonik). Apabila jumlah diatas dan patahan bertambah pada suatu massa satuan, maka kecepatan seismik melalui masa tersebut lebih kecil dibandingkan dengan kecepatan melalui material. Semakin banyak diaklas kita temukan dalam masa batuan, maka semakin besar pula kemungkinan untuk mendapatkan batuan disebuah tempat penggalian dengan bantuan metode mekanik daripada menggunakan bahan peledak. Dengan bantuan pengukuran kecepatan secara seismik, kita dapat menentukan apakah suatu masa batuan itu tersayatkan (rippable) atau tidak. Beberapa metode seismik di permukaan bumi: 1. Refraksi seismik Prinsip Variasi vertikal dan horisontal dalam bawah tanah dari rambatan gelombang kejut kita amati melalui perubahan dalam lama perjalanannya. Jenis petunjuk

Struktur bawah tanah, kecepatan rambat gelombang seismik untuk berbagai satuan dalam bawah tanah. Permukaan air tanah kita catat sebagai perbandingan kecepatan antara massa jenuh dan massa tidak jenuh.

Penggunaan Penentuan struktur geologis, ketebalan lapisan penutup. Penentuan sifat batuan dan lapisan penutup (tanah), misalnya porositas, diskontinuitas, stastisitas, kadar zat cair. Pada prinsipnya, semua jangkauan kedalaman adalah mungkin. Hasil yang dicapai lebih cermat, namun tekniknya lebih mahal dibanding metode hambatan elektrik. 2. Refleksi seismik Prinsip Gelombang sonik yang dihasilkan dekat permukaan air direfleksikan oleh dasar laut, dasar sungai, atau dasar danau, dan bidang pemisah dalam lapisan geologi yang terletak dibawahnya. Jenis petunjuk Lokasi dasar dan bidang pemisah antara lapisan di bawah dasar. Kecepatan rambat gelombang seismik pada material geologis di bawah lapisan dasar. Penggunaan Pemetaan dasar laut, dasar sungai, dasar danau, dan struktur geologis yang terletak dibawahnya. 2.7.6.2. Geolistrik Metode geolistrik hampir sama dengan pengukuran daya hambat dengan batuan elektroda pada jarak yang berbeda-beda dalam lubang pemboran. Pada jarak elektroda ukur yang sama di permukaan, elektroda arus ditempatkan semakin jauh satu dari yang lain, sehingga pengaruh yang ditimbulkan oleh lapisan yang lebih dalam terhadap medan listrik jadi meningkat. Perubahan yang dicatat pada elektroda ukur memberikan sebuah gambaran tentang daya hantar ke arah kedalaman. Namun demikian, penetrasi dapat dikatakan tidak begitu banyak terjadi. Interpretasi hanyalah mungkin berdasarkan model-model yang sederhana dari sket lapisan yang memiliki daya hambat tertentu. Dengan demikian, pada prinsipnya suatu profil geologis harus kita ketahui, agar penyimpangan dari model-model tersebut dapat kita lokalisasi dan interpretasikan.

Profil geologis banyak digunakan untuk penelitian hidrologis, lapisan dengan air tawar, air agak asin dan air asin. 2.7.6.3. Pemboran Pemboran dapat memberikan informasi data mengenai keadaan bawah tanah melalui garis lubang pengeboran. Pemboran dapat dilakukan secara vertikal maupun menyudut. Dari sebuah pengeboran dibuat sebuah laporan pemboran . Di dalamnya tedapat catatan mengenai material-material apa saja yang telah ditemukan, dan selain itu kecepatan penetrasi dan perilaku dari alat pemboran. Kita dapat menggunakan beberapa metode, yang bervariasi mulai dari pendesakan sebuah besi sondir atau pipa pancang ke dalam bawah tanah, penjatuhan sebuah puls atau pahat (perkusi), penyemprotan tanah hingga lepas dengan tombak semprot, sampai kepada pemutaran atau teknik perkusi putar. Pada hampir semua metode ini, material akan muncul dalam keadaan sangat terganggu di permukaan bumi. Dengan demikian hanya dapat diterangkan jenis material yang ditemukan pada kedalaman tertentu. Akan tetapi lubang dapat dilewati oleh kamera TV, atau kita dapat melakukan pengukuran geofisis terhadap lubang pemboran. Seringkali hasil pengeboran tergantung dari kualitas orang-orang yang melakukan pengeboran yang bersangkutan. 2.7.7. Pemboran Pemboran dapat memberikan informasi data mengenai keadaan bawah tanah melalui garis lubang pengeboran. Pemboran dapat dilakukan secara vertikal maupun menyudut. Dari sebuah pengeboran dibuat sebuah laporan pemboran . Di dalamnya tedapat catatan mengenai material-material apa saja yang telah ditemukan, dan selain itu kecepatan penetrasi dan perilaku dari alat pemboran. Kita dapat menggunakan beberapa metode, yang bervariasi mulai dari pendesakan sebuah besi sondir atau pipa pancang ke dalam bawah tanah, penjatuhan sebuah puls atau pahat (perkusi), penyemprotan tanah hingga lepas dengan tombak semprot, sampai kepada pemutaran atau teknik perkusi putar. Pada hampir semua metode ini, material akan muncul dalam keadaan sangat terganggu di permukaan bumi. Dengan demikian hanya dapat diterangkan jenis material yang ditemukan pada kedalaman tertentu. Akan tetapi lubang dapat dilewati oleh kamera TV, atau kita dapat melakukan pengukuran geofisis terhadap lubang pemboran. Seringkali hasil pengeboran tergantung dari kualitas orang-orang yang melakukan pengeboran yang bersangkutan.

Pemboran dapat dibagi menjadi: 1. Pemboran dalam tanah Teknik pemboran yang sering digunakan dalam tanah pemboran dengan bor spiral atau gerek (auger drilling) dan pemboran secara pengurasan (wash, flush boring). Dinas geologi negeri Belanda menggunakan metode-metode berikut: a. Teknik bor tangan Sebuah bor diputar dengan tenaga tangan ke dalam tanah (jenis: bor sekrup, bor tusuk, bor sendok). Dengan cara ini dapat diperoleh contoh-contoh pasir (di atas permukaan air tanah) dan lempung atau gambut (juga di bawah permukaan air tanah) yang berkualitas baik. Dengan menggunakan pipa sedot Ven der Staay kita dapat mengambil contoh pasir hingga kedalaman 10 meter dibawah permukaan air tanah. b. Sistem bor kuras Dengan bantuan sebuah tombak semprot, kita dapat menembus tanah. Seringkali untuk mencegah terjadinya runtuhan, lubang bor diberi sebuah selubung (casing). Metode straigh-flush (kedalaman maksimal 65 meter, diamater 65 mm) cukup cepat, namun sukar untuk menetukan sifat material yang berada di bawahnya, untuk ini digunakan counter-flush. Pada sistem ini contoh terganggu dapat diambil dari kedalaman yang sudah ditentukan dengan cermat. c. Pemboran dengan puls Dalam pipa-pipa bor yang didesak kedalam tanah, material dikeluarkan dengan menggunakan puls. Puls terdiri dari sebuah pipa yang panjangnya 1-1,5 m dan bagian bawahnya diberi pemotong. Bagian atas tepi pemotong terdapat sebuah katub horisontal, yang menjaga agar tanah yang terambil tidak jatuh dari puls. Puls digantungkan pada seutas kabel yang secara berselang-seling diangkat dan dilepaskan, seperti pada pemancangan tiang pancang. Dengan sistem ini dapat mencapai kedalaman hingga 100 m. d. Pemboran secara rotasi Dengan peralatan khusus (truk dengan sebuah Nordeyer mobil Drilling rig tipe OXBI), kita dapat melakukan pemboran kering cara rotasi dan perkusi hingga kedalaman 60 meter. Dengan bantuan pompa sentrifugal, dapat dilakukan pemboran kuras straigh-flush hingga kadalaman 200 m dan pemboran counter-

flush hingga 60 meter. Dengan pompa torak bertekanan tinggi dapat dilakukan pemboran hingga kedalaman 200 meter. 2. Pemboran dalam batuan Pemboran dalam batuan dilakukan dengan teknik rotasi, perkusi, atau dengan teknik rotasi-perkusi. Pada pemboran lubang-lubang secara normal, serbuk hasil pemboran dapat diteliti untuk menentukan sifat dari batuan. Lubang bor dapat digunakan untuk pengukuran geofisis. Pemboran inti dilakukan jika harus meneliti beberapa contoh dan menentukan RQD, atau jika kita harus mengumpulkan beberapa contoh untuk keperluan di laboratorium. Pengintian dapat dilakukan di seluruh panjang pemboran atau dari sebuah kedalaman tertentu. Untuk itu biasanya dilakukan pemboran lubang dengan diameter yang lebih besar, yang dapat diberi sebuah selubung ( casing) sebagai pencegah kemungkinan terjadinya runtuhan. Maka pada bagian dasar lubang dapat dilakukan sebuah pemboran inti yang berdiameter lebih kecil. Pada umumnya, pemboran inti dilakukan dengan mesin rotasi. Pipa contoh diperkuat dengan kepala potong kosong yang berbentuk silinder, hingga dapat dipotong dari batuan. Jenis kepala bor tergantung dari batuan yang harus ditembus. Pipa bor dapat berupa sebuah pipa tunggal, akan tetapi dapat ada juga yang terdiri dari satu atau dua buah pipa dalam.