Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Tumbuhan paku (atau paku-pakuan) adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati (Tracheophyta, memiliki pembuluh kayu dan pembuluh tapis) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksi seksualnya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini mempertahankan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi (Anonymous, 2010). Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000, dengan perkiraan 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Sebagian besar anggota pakupakuan tumbuh di daerah tropika basah yang lembab (anonymous, 2005). Paku-pakuan cenderung ditemukan pada kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang lembab, tebing perbukitan, merayap pada batang pohon atau batuan, di dalam kolam/danau, daerah sekitar kawah vulkanik, serta sela-sela bangunan yang tidak terawat. Meskipun demikian, ketersediaan air yang mencukupi pada rentang waktu tertentu diperlukan karena salah satu tahap hidupnya tergantung pada keberadaan air, yaitu sebagai media bergeraknya sel sperma menuju sel telur (Anonymous, 2011). Tumbuhan paku pernah merajai hutan-hutan dunia di Zaman Karbon sehingga zaman itu dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil dan mengalami mineralisasi sekarang ditambang orang sebagai batu bara (Anonymous, 2003). Menurut petunjuk-petunjuk paleontologi, banyak yang bersepakat bahwa dari suatu bentuk tumbuhan paku purba terwujudlah tumbuhan berbunga, suatu kelompok tumbuhan yang mendominasi vegetasi masa kini (Cummings, 2010).

Tumbuhan paku tergolong tumbuhan kormus berspora, yang disebut Pteridophyta. Istilah ini berasal dari bahasa Greek, yaitu pteron=sayap, bulu. Pteridophyta adalah tumbuhan kormus yang menghasilkan spora, dan memiliki susunan daun yang umumnya membentuk bangun sayap (menyirip) dan pada bagian pucuk tumbuhan itu terdapat bulu-bulu. Daun mudanya membentuk gulungan/ melingkar (Anonymous, 2011). Tumbuhan paku memperlihatkan pergiliran keturunan yang jelas seperti halnya Bryophyta, hanya fase gametofitnya masih berbentuk thallus yang disebut prothalium dan sangat kecil bentuknya sehingga tidak mudah terlihat. Adapun fase sporofitnya jelas terlihat, yang dikenal srbagai tumbuhan paku. (Yudianto:1992)

B. Tujuan Diharapkan setelah melakukan praktikum mengenai Divisi Pteridophyta, mahasiswa mampu: 1. Mengetahui ciri-ciri utama Divisi Pteridophyta; 2. Mengidentifikasi spesies yang termasuk ke dalam Divisi Pteridophyta; 3. Membuat klasifikasi Pteridophyta

C. Waktu dan Tempat Hari/tanggal PukuL Tempat : Rabu/ 26 Desember 2012 : 08.00-16.00 WITA : Pangaleroang, Desa Tallangbalao Sendana Kabupaten Majene

BAB II TINNJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun. Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti warga divisidivisi yang telah dibicarakan sebelumnya, alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Oleh sebab itu, sementara ahli taksonomi membagi dunia tumbuhan dalam dua kelompok saja yang diberi nama Cryptogamae dan phanerogamae. Cryptogamae (tumbuhan spora) meliputi yang sekarang kita sebut dibawah nama Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, dan Pteridophyta (Anonymous, 2011). Tumbuhan paku merupakan komponen vegetasi yang lebih menonjol dari pada lumut, walaupun kelompok tersebut jumlah jenisnya jauh lebih besar (sekitar 20.000 jenis). Diduga tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang menghuni daratan bumi. Fosilnya dijumpai pada batu-batuan zaman Karbon, yaitu kira-kira 345 juta tahun yang lalu. Tumbuhan paku ada yang hidup di air (hidrofit), hidup di tempat lembab (higrofit), hidup menempel pada tumbuhan lain (epifit), dan ada yang hidup pada sisa-sisa tumbuhan lain atau sampah-sampah (saprofit) (Anonymous, 2005). Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembap. Tumbuhan ini cenderung menyukai kondisi air yang melimpah karena salah satu tahap hidupnya tergantung dari keberadaan air, yaitu sebagai tempat media bergerak sel sperma menuju sel telur. Tumbuhan paku pernah merajai hutan-hutan dunia di Zaman Karbon sehingga zaman itu dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini

yang memfosil dan mengalami mineralisasi sekarang ditambang orang sebagai batu bara (Anonymous, 2003). Kebanyakan paku memiliki perawakan yang khas, sehingga tidak mudah keliru dengan macam tumbuhan lain. Sebagian dari kekhasan itu adalah adanya daun muda yang menggulung yang akan membuka jika dewasa, ciri yang hamper unik ini disebut Vernasi bergelung. Sebagai akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun sebelah atas daripada sebelah bawah pada perkembangan awalnya. Ukuran dan bentuk paku sangat bervariasi yang berkisar dari paku pohon yang dapat mencapai tinggi 5 meter, sampai paku mini berlapis tipis yang daunnya hanya selapis sel dan sering tertukar dengan lumut. Sebagai tambahan terhadap berbagai jenis terrestrial yang tampak khas, banyak paku (terutama paku sarang burung)tumbuh di atas pohon dan batu karang (Hanifan, 2011). Pembuahan sel telur oleh spermatozoid dibantu oleh air. Zigot yang dihasilkan berkutub satu, sehingga akarnya tidak berkembang seperti tumbuhan biji (Anonymous, 2011). Bila sporangium kering, anulus membuka dan terlemparlah spora-spora ke luar. Spora jatuh pada tempat yang lembab, akan tumbuh menjadi prothalium. Selanjutnya prothalium akan tumbuh menghasilkan antheridium dan archaegonium. Dari perkawinan antara spermatozoid dan ovum menghasilkan zygote. Zygote tumbuh menjadi tumbuhan paku (sporofit) (Anonymous, 2011). Pergiliran keturunan tumbuhan paku yang homospora dengan heterospora, serta paku peralihan terdapat perbedaan. Perhatikan gambar dan bagan di bawah ini:

Gambar Metagenesis Paku Homospora (Cummings:2010)

Pada metagenesis tumbuhan paku, baik pada paku homospora, paku heterospora, ataupun paku peralihan, pada prinsipnya sama. Ketika ada spora yang jatuh di tempat yang cocok, spora tadi akan berkembang menjadi protalium yang merupakan generasi penghasil gamet atau bisaa disebut sebagai generasi gametofit, yang akan segera membentuk anteredium yang akan menghasilkan spermatozoid dan arkegonium yang akan menghasilkan ovum. Ketika spermatozoid dan ovum bertemu, akan terbentuk zigot yang diploid yang akan segera berkembang menjadi tumbuhan paku. Tumbuhan paku yang kita lihat sehari-hari merupakan generasi sporofit karena mampu membentuk sporangium yang akan menghasilkan spora untuk perkembangbiakan. Fase sporofit pada metagenesis tumbuhan paku memiliki sifat lebih dominan daripada fase gametofitnya. Apabila kita amati daun tumbuhan paku penghasil spora (sporofil), di sana akan kita jumpai organ-organ khusus pembentuk spora. Spora dihasilkan dan dibentuk dalam suatu wadah yang disebut sebagai sporangium. Bisaanya sporangium pada tumbuhan paku terkumpul pada permukaan bawah daun. (Rahmawati:2011)

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat Kantong kresek Kamera digital/kamera handphone Alat tulis menulis Pisau/silet 2. Bahan Tumbuhan paku-pakuan

B. Cara Kerja Adapun cara kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Mengelilingi kawasan praktikum yang telah ditentukan oleh korlap (koordinator lapangan) 3. Memasukkan hasil penelitian kedalam kantong kresek untuk di amati. 4. Menggambar (Phyteridopyta) 5. Menggambar hasil pengamatan, memberikan keterangan pada gambar dengan jelas, membahas hasil pengamatan serta menyimpulkannya. dan mengamati bentuk morfologi tumbuhan paku

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan a. Gambar paku kawat (Lycopodinae) Selaginella caudata

Keterangan: 1. Batang 2. Akar 3. Daun 4. Sorus 5. Sporangium

b. Gambar paku ekor kuda (Equisetinae) Equisetum sp

Keterangan: 1. Akar 2. Batang 3. Daun 4. Sorus 5. Sporangium

c. Gambar Paku sejati (Filicinae) 1) Paku suplir (Adiantum cuneatum)

Keterangan: 1. Akar 2. Batang 3. Daun 4. Sorus 5. Sporangium

2) Paku sarang burung (Asplenium nidus)

Keterangan: 1. Akar 2. Batang 3. Daun 4. Sorus 5. Sporangium

10

3) Paku sayur (Dryopteris affinis)

Keterangan: 1. Akar 2. Batang 3. Daun 4. Sorus 5. Sporangium

11

4) Paku Pedang (Pteris cretica)

Keterangan: 1. Akar 2. Batang 3. Daun 4. Sorus 5. Sporangium

12

B. Pembahasan a. Paku kawat (Lycopodinae) Lycopodium berasal dari kata lukos Yunani, yang artinya serigala dan podion, mungil, pous, kaki), juga dikenal sebagai pinus tanah atau pohon cedardalam Familia Lycopodiaceae (Ensiklopedi Kolombia, 220-221). Tidak memiliki bunga, memiliki vaskular, tanaman terestrial atau epifit, dengan percabangan meluas, tegak, atau batang merayap, dengan kecil, sederhana, daun seperti jarum. Daunnya seperti untai tunggal, tidak bercabang dan terdapat pembuluh angkut microphylls. Sporangia berbentuk ginjal atau reniform mengandung spora dari satu jenis saja (isosporous, homosporous) berada pada permukaan atas dari bilah daun-daun khusus (sporophylls) (Cummings, 2010). Lycopods bereproduksi secara seksual dengan spora. Suatu tanaman memiliki fase seksual di bawah tanah yang menghasilkan gamet dan bergantian dalam siklus kehidupan dengan tanaman yang memproduksi spora. Prothallium dikembangkan dari spora, massa jaringan bawah tanah yang cukup besar dan berruang baik organ jantan dan betina (antheridium dan archegonia). Namun, lebih umum bahwa mereka didistribusikan secara vegetatif melalui atas atau di bawah rimpang (Cummings, 2010). Menurut Kevin Bordeauxx, 2001.Ada sekitar 950 spesies, Dengan 37 spesies tersebar luas di daerah beriklim sedang dan tropis, meskipun mereka terbatas pada pegunungan di daerah tropis (Hanifan, 2011). Genera Diphasiastrum, Lycopodiella dan Huperzia pernah termasuk dalam genus ini, tetapi sekarang diakui sesuatu yang berbeda. Beberapa ahli memisahkan beberapa genera lebih, termasuk Dendrolycopodium untuk L. obscurum dan spesies terkait, dan Spinulum untuk L. annotinum dan spesies terkait (Cummings, 2010). Spora dan spesies Lycopodiumdan Diphasiastrum telah dipanen dan digunakan sebagai bedak Lycopodium yang memiliki nilai ekonomis

(Cummings, 2010).

13

Gametofit paku kawat berukuran kecil dan tidak berklorofil. Gametofit memperoleh makanan dari jamur yang bersimbiosis dengannnya. Gemetofit paku kawat ada yang uniseksual, yaitu mengandung anteridium saja atau arkegonium saja. Gametofit paku kawat juga ada yang biseksual, yaitu mengandung anteridium dan arkegonium. Gametofit uniseksual terdapat pada Selaginella. Selaginella merupakan tumbuhan paku heterospora sedangkan gametofit biseksual terdapat pada Lycopodium (Aqsha, 2012). Jenis paku kawat yang kami temukan pada saat praktikum adalah Selaginella caudata. Salaginella memiliki batang berbaring dan sebagian berdiri tegak, bercabang-cabang menggarpu dan tidak meperlihatkan pertumbuan sekunder. Dimana ia memiliki akar-akar yang keluar dari bagian-bagian batang yang tidak memiliki daun dan dinamakan pendukung akar. Habitatnya pada tanah atau ia dapat epifit pada bebatuan (Saleh, 2010). Adapun bagian-bagian dari tumbuhan Selaginella caudata adalah sebagai berikut: 1) Batang Sebagian besar jenis tumbuhan paku batangnya berada di dalam tanah (berupa rimpang) sehingga tidak tampak dari luar. Kalaupun muncul ke permukaan tanah, maka ukuran batangnya akan terlihat sangat pendek. Batang berfungsi sebagai jalur lewatnya unsur hara yang diserap oleh akar dari dalam tanah keseluruh bagian tumbuhan. 2) Akar Memiliki bentuk akar seperti akar serabut. Akar pada tumbuhan ini mempunyai sel puncak yang merupakan titik tumbuh akar yang berbentuk bidang empat dan di setiap ujung-ujung akar dilindungi oleh kaliptra. Akar berungsi sebagai penopang berdirinya tumbuhan dan sebagai penyerap unsur hara dari dalam tanah.

14

3) Daun Berdasarkan bentuk dan ukurannya, daun pada tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Mikrofil, merupakan daun yang berukuran kecil dan berbentuk seperti sisik, tidak mempunyai tangkai dan tulang daun. Makrofil, kebalikan dari mikrofil, daun tipe makrofil mempunyai ukuran yang besar, memiliki tangkai dan tulang daun, dan bercabang-cabang. Sementara itu berdasarkan fungsinya, daun pada tumbuhan paku dibedakan menjadi: Tropofil, daun ini berfungsi untuk melakukan fotosintesis. Sporofil, selain dapat digunakan untuk berfotosintesis, daun ini bisa menghasilkan spora yang merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan paku. 4) Sorus merupakan kumpulan sporangium yang terdapat baik pada batang (paku ekor kuda), ketiak daun (paku kawat), dan pada permukaan bawah daun (paku sejati). 5) Sporangium atau kotak spora berfungsi membentuk spora.

Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Lycopodiophyta : Lycopodiopsida : Selaginellales : Selaginellaceae : Selaginella : Selaginella caudata

15

b. Paku ekor kuda (Equisetinae) Batang Equisetinae berongga dan pada umumnya memiliki cabang yang berkarang pada buku-buku batang. Daun-daun kecil berbentuk sisik tumbuh pada buku batang secara berkarang. Sporofil berbentuk perisai dengan sejumlah sporangium pada sisi bawahnya serta semua sporofil tersusun

dalam strobilus (kerucut) pada ujung batang atau cabang (Rudi, 2011). Nama daerahnya biasa disebut paku ekor kuda. Merujuk pada segolongan kecil tumbuhan (sekitar 20 spesies) yang umumnya herba kecil dan semua masuk dalam genus Equisetum (dari equus yang berarti "kuda" dan setum yang berarti "rambut tebal" dalam bahasa Latin). Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Hasil analisis molekular menunjukkan kedekatan hubungan dengan Marattiopsida. Paku ekor kuda bersifat tahunan, terna berukuran kecil (tinggi 0.2-1.5 m), batang tumbuhan ini berwarna hijau, beruas-ruas, berlubang di

tengahnya, berperan sebagai organ fotosintetik menggantikan daun. Batangnya dapat bercabang. Cabang duduk mengitari batang utama. Batang ini banyak mengandung silika. Ada kelompok yang batangnya bercabang-cabang dalam posisi berkarang dan ada yang bercabang tunggal. Daun pada semua anggota tumbuhan ini tidak berkembang baik, hanya menyerupai sisik yang duduk berkarang menutupi ruas. Spora tersimpan pada struktur berbentuk gada yang disebut strobilus yang terletak pada ujung batang (apikal) (Ombrello, 2010). Spora yang dihasilkan paku ekor kuda umumnya hanya satu macam (homospor). Sporanya berbeda dengan spora paku-pakuan karena memiliki empat "rambut" yang disebut elater. Elater berfungsi sebagai pegas untuk membantu pemencaran spora (Ombrello, 2010). Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini. Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku

16

ekor kuda purba dan kerabatnya (Calamites, dari divisio yang sama, sekarang sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi. Beberapa spesies dapat tumbuh sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil yang ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai sisa-sisa fosil dari hutan purba yang telah membatu (Ombrello, 2010). Adapun bagian-bagian dari tumbuhan Equisetum debile adalah sebagai berikut: 1) Batang. Sebagian besar jenis tumbuhan paku batangnya berada di dalam tanah (berupa rimpang) sehingga tidak tampak dari luar. Kalaupun muncul ke permukaan tanah, maka ukuran batangnya akan terlihat sangat pendek. Batang berfungsi sebagai jalur lewatnya unsur hara yang diserap oleh akar dari dalam tanah keseluruh bagian tumbuhan. 2) Akar Memiliki bentuk akar seperti akar serabut. Akar pada tumbuhan ini mempunyai sel puncak yang merupakan titik tumbuh akar yang berbentuk bidang empat dan di setiap ujung-ujung akar dilindungi oleh kaliptra. Akar berungsi sebagai penopang berdirinya tumbuhan dan sebagai penyerap unsur hara dari dalam tanah. 3) Daun Berdasarkan bentuk dan ukurannya, daun pada tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Mikrofil, merupakan daun yang berukuran kecil dan berbentuk seperti sisik, tidak mempunyai tangkai dan tulang daun. Makrofil, kebalikan dari mikrofil, daun tipe makrofil mempunyai ukuran yang besar, memiliki tangkai dan tulang daun, dan bercabang-cabang.

17

Sementara itu berdasarkan fungsinya, daun pada tumbuhan paku dibedakan menjadi: Tropofil, daun ini berfungsi untuk melakukan fotosintesis. Sporofil, selain dapat digunakan untuk berfotosintesis, daun ini bisa menghasilkan spora yang merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan paku. 4) Sorus merupakan kumpulan sporangium yang terdapat baik pada batang (paku ekor kuda), ketiak daun (paku kawat), dan pada permukaan bawah daun (paku sejati). 5) Sporangium atau kotak spora berfungsi membentuk spora. Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Pteridophyta (paku-pakuan) : Equisetopsida : Equisetales : Equisetaceae : Equisetum : Equisetum debile

c. Paku sejati (Filicinae) Filicinae adalah golongan paku yang terbesar. Tersebar di seluruh dunia, kebanyakan di daerah tropika, berupa tumbuhan darat, beberapa marga berupa tumbuhan paku air. Daunnya besar, pada waktu muda tergulung (Circinate vernation). Tidak dibentuk stribolus, umumnya homospor. Sporangium terletak pada bagian ventral daun sebelah pinggir. Sporangium berkelompok dalam sorus dengan atau tanpa selaput atau indusium (Cummings, 2010).

18

Adapun jenis paku sejati (Filicinae) yang kami temukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: 1) Paku suplir (Adiantum cuneatum) Suplir memiliki penampilan yang jelas berbeda dari jenis paku-pakuan lain. Daunnya tidak berbentuk memanjang, tetapi cenderung membulat. Sorus terletak di sisi bawah daun pada bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium yang dilindungi oleh indusium. Tangkai entalnya khas, berwarna hitam mengkilap, kadang-kadang bersisik halus ketika dewasa. Sebagaimana paku-pakuan lain, daunnya tumbuh dari rizoma dalam bentuk melingkar ke dalam (bahasa Jawa mlungker) seperti tangkai biola (disebut circinate vernation) dan perlahan-lahan membuka. Akarnya serabut dan tumbuh dari rizoma.Tanaman ini tidak memliliki nilai ekonomi penting. Fungsinya yang utama adalah sebagai tanaman hias yang bisa ditanam di dalam ruang atau di luar ruang (Hanifan, 2011). Adapun bagian-bagian dari tumbuhan Adiantum cuneatum adalah sebagai berikut: 1) Batang Sebagian besar jenis tumbuhan paku batangnya berada di dalam tanah (berupa rimpang) sehingga tidak tampak dari luar. Kalaupun muncul ke permukaan tanah, maka ukuran batangnya akan terlihat sangat pendek. Batang berfungsi sebagai jalur lewatnya unsur hara yang diserap oleh akar dari dalam tanah keseluruh bagian tumbuhan. 2) Akar Memiliki bentuk akar seperti akar serabut. Akar pada tumbuhan ini mempunyai sel puncak yang merupakan titik tumbuh akar yang berbentuk bidang empat dan di setiap ujung-ujung akar dilindungi oleh kaliptra. Akar berungsi sebagai penopang berdirinya tumbuhan dan sebagai penyerap unsur hara dari dalam tanah.

19

3) Daun Berdasarkan bentuk dan ukurannya, daun pada tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Mikrofil, merupakan daun yang berukuran kecil dan berbentuk seperti sisik, tidak mempunyai tangkai dan tulang daun. Makrofil, kebalikan dari mikrofil, daun tipe makrofil mempunyai ukuran yang besar, memiliki tangkai dan tulang daun, dan bercabang-cabang. Sementara itu berdasarkan fungsinya, daun pada tumbuhan paku dibedakan menjadi: Tropofil, daun ini berfungsi untuk melakukan fotosintesis. Sporofil, selain dapat digunakan untuk berfotosintesis, daun ini bisa menghasilkan spora yang merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan paku. 4) Sorus merupakan kumpulan sporangium yang terdapat baik pada batang (paku ekor kuda), ketiak daun (paku kawat), dan pada permukaan bawah daun (paku sejati). 5) Sporangium atau kotak spora berfungsi membentuk spora. Klasifikasi Kingdom Divisi Class Ordo Familia Genus Spesies : Plantae : Pterydophyta : Filicinae : Filicales : Polypodiaceae : Adiantum : Adiantum cuneatum

20

2) Paku sarang burung (Asplenium nidus) Asplenium adalah genus dari sekitar 700 spesies paku, sering diperlakukan sebagai genus satu-satunya dalam famili Aspleniaceae. Beberapa klasifikasi lebih tua meningkatkan Aspleniaceae ke peringkat taksonomi order sebagai Aspleniales. Klasifikasi baru menempatkannya dalam kelompok subordinal disebut Eupolypods dalam ordo Polypodiales. Letak sori di pinggir daun, memiliki daun muda yang menggulung, duduk daun berseling, habitat di tanah, arah tumbuh horizontal, dan batang silindris, termasuk jenis paku heterospora (Asyifa, 2011). Adapun bagian-bagian dari tumbuhan Asplenium nidus adalah sebagai berikut: 1) Batang Sebagian besar jenis tumbuhan paku batangnya berada di dalam tanah (berupa rimpang) sehingga tidak tampak dari luar. Kalaupun muncul ke permukaan tanah, maka ukuran batangnya akan terlihat sangat pendek. Batang berfungsi sebagai jalur lewatnya unsur hara yang diserap oleh akar dari dalam tanah keseluruh bagian tumbuhan. 2) Akar Memiliki bentuk akar seperti akar serabut. Akar pada tumbuhan ini mempunyai sel puncak yang merupakan titik tumbuh akar yang berbentuk bidang empat dan di setiap ujung-ujung akar dilindungi oleh kaliptra. Akar berungsi sebagai penopang berdirinya tumbuhan dan sebagai penyerap unsur hara dari dalam tanah. 3) Daun Berdasarkan bentuk dan ukurannya, daun pada tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Mikrofil, merupakan daun yang berukuran kecil dan berbentuk seperti sisik, tidak mempunyai tangkai dan tulang daun.

21

Makrofil, kebalikan dari mikrofil, daun tipe makrofil mempunyai ukuran yang besar, memiliki tangkai dan tulang daun, dan bercabang-cabang.

Sementara itu berdasarkan fungsinya, daun pada tumbuhan paku dibedakan menjadi: Tropofil, daun ini berfungsi untuk melakukan fotosintesis. Sporofil, selain dapat digunakan untuk berfotosintesis, daun ini bisa menghasilkan spora yang merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan paku. 4) Sorus merupakan kumpulan sporangium yang terdapat baik pada batang (paku ekor kuda), ketiak daun (paku kawat), dan pada permukaan bawah daun (paku sejati). 5) Sporangium atau kotak spora berfungsi membentuk spora. Klasifiasi Kingdom Divisi Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Plantae : Pteridophyta : Filicinae : Filicales : Polypodiaceae : Aspelenium : Asplenium nidus

3) Paku sayur (Drypteris affinis) Drypteris affinis mempunyai sorus berbentuk bulat atau jorong, pada uraturat sebelah bawah daun, kebanyakan ditengah-tengah urat tadi. Sorus yang muda mempunya insidium bentuk ginjal, lekas gugur, tidak mempunyai atau sama sekali tidak ada. Daun tidak dapat terlepas dari rimpang, menyirip tunggal atau menyirip ganda sampai beberapa kali. Drypteris affinis berkembangbiak dengan menggunakan spora. Habitatnya terdapat pada daerah yang mempunyai iklim sedang atau tropis.

22

Drypteris affinis berperan sebagai tanaman hias ataupun tanaman liar. Selain itu berperan pula sebagai makanan bagi hewan pemakan rumput (herbivora) (Cummings, 2010). Adapun bagian-bagian dari tumbuhan Drypteris affinis adalah sebagai berikut: 1) Batang Sebagian besar jenis tumbuhan paku batangnya berada di dalam tanah (berupa rimpang) sehingga tidak tampak dari luar. Kalaupun muncul ke permukaan tanah, maka ukuran batangnya akan terlihat sangat pendek. Batang berfungsi sebagai jalur lewatnya unsur hara yang diserap oleh akar dari dalam tanah keseluruh bagian tumbuhan. 2) Akar Memiliki bentuk akar seperti akar serabut. Akar pada tumbuhan ini mempunyai sel puncak yang merupakan titik tumbuh akar yang berbentuk bidang empat dan di setiap ujung-ujung akar dilindungi oleh kaliptra. Akar berungsi sebagai penopang berdirinya tumbuhan dan sebagai penyerap unsur hara dari dalam tanah. 3) Daun Berdasarkan bentuk dan ukurannya, daun pada tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Mikrofil, merupakan daun yang berukuran kecil dan berbentuk seperti sisik, tidak mempunyai tangkai dan tulang daun. Makrofil, kebalikan dari mikrofil, daun tipe makrofil mempunyai ukuran yang besar, memiliki tangkai dan tulang daun, dan bercabang-cabang. Sementara itu berdasarkan fungsinya, daun pada tumbuhan paku dibedakan menjadi: Tropofil, daun ini berfungsi untuk melakukan fotosintesis.

23

Sporofil, selain dapat digunakan untuk berfotosintesis, daun ini bisa menghasilkan spora yang merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan paku.

4) Sorus merupakan kumpulan sporangium yang terdapat baik pada batang (paku ekor kuda), ketiak daun (paku kawat), dan pada permukaan bawah daun (paku sejati). 5) Sporangium atau kotak spora berfungsi membentuk spora. Klasifikasi Kingdom Divisi Class Ordo Familia Genus Spesies : Plantae : Pterydophyta : Pterydopsida : Polipodiales : Aspidieae : Drypteris : Drypteris affinis

4) Paku pedang (Pteris cretica) Pteris adalah genus dari sekitar 280 spesies paku, asli daerah tropis dan subtropis diseluruh dunia. Pada umumnya memiliki bentuk daun linier. Seperti anggota lain dari Pteridales, Letak sori berada di tepi daun, habitusnya semak ada juga yang herba, duduk daun berhadapan, arah tumbuhnya vertikal, tipe batang silindris, memiliki akar serabut, paku ini termasuk golongan homospora (Hanifan, 2010). Adapun bagian-bagian dari tumbuhan Pteris cretica adalah sebagai berikut: 1) Batang Sebagian besar jenis tumbuhan paku batangnya berada di dalam tanah (berupa rimpang) sehingga tidak tampak dari luar. Kalaupun muncul ke permukaan

24

tanah, maka ukuran batangnya akan terlihat sangat pendek. Batang berfungsi sebagai jalur lewatnya unsur hara yang diserap oleh akar dari dalam tanah keseluruh bagian tumbuhan. 2) Akar Memiliki bentuk akar seperti akar serabut. Akar pada tumbuhan ini mempunyai sel puncak yang merupakan titik tumbuh akar yang berbentuk bidang empat dan di setiap ujung-ujung akar dilindungi oleh kaliptra. Akar berungsi sebagai penopang berdirinya tumbuhan dan sebagai penyerap unsur hara dari dalam tanah. 3) Daun Berdasarkan bentuk dan ukurannya, daun pada tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Mikrofil, merupakan daun yang berukuran kecil dan berbentuk seperti sisik, tidak mempunyai tangkai dan tulang daun. Makrofil, kebalikan dari mikrofil, daun tipe makrofil mempunyai ukuran yang besar, memiliki tangkai dan tulang daun, dan bercabang-cabang. Sementara itu berdasarkan fungsinya, daun pada tumbuhan paku dibedakan menjadi: Tropofil, daun ini berfungsi untuk melakukan fotosintesis. Sporofil, selain dapat digunakan untuk berfotosintesis, daun ini bisa menghasilkan spora yang merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan paku. 4) Sorus merupakan kumpulan sporangium yang terdapat baik pada batang (paku ekor kuda), ketiak daun (paku kawat), dan pada permukaan bawah daun (paku sejati). 5) Sporangium atau kotak spora berfungsi membentuk spora. Klasifikasi Kingdom Divisi : Plantae : Pterydophyta

25

Class Ordo Familia Genus Spesies

: Filicopsida : Polypodiales : Pteridaceae : Pteris : Pteris cretica

26

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Tumbuhan paku tergolong tumbuhan kormus berspora yang disebut Pteridophyta. Pteridophyta tergolong kormofita sejati karena sudah menyerupai tumbuhan tinggi, secara morfologi ciri-ciri dari Pteridophyta yaitu: 1. Batangnya bercabang-cabang dan ada yang berkayu 2. Biasanya daun mudanya menggulung, daun membentuk bangun sayap (menyirip). 3. Daunnya sudah memiliki urat-urat daun tetapi ada yang tidak berdaun dan berdaun serupa sisik. 4. Rhizoidnya sudah berkembang ke bentuk akar. 5. Tumbuhan paku yang terlihat adalah fase sporofitnya. 6. Sedangkan sudah memiliki berkas pembuluh angkut (anatomi)

Pteridophyta dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu: 1. Kelas Psilotinae (paku telanjang) 2. Kelas Lycopodiinae (paku kawat). Berdaun serupa rambut atau sisik dan batang seperti kawat, duduk daun tersebar. 3. Kelas Equisetiinae 4. Kelas Filicinae (tumbuhan paku sejati). Berdaun ukuran besar, duduk daunnya membentuk sayap (menyirip), daun muda menggulung dan sorus dibentuk di bawah permukaan daun

Manfaat tumbuhan paku untuk kepentingan manusia adalah tanaman hias, bahan obat, bahan sayuran, kesuburan tanah, dan gulma pertanian.

27

B. Saran 1. Sebaiknya asisten tidak hanya mendampingi saat PKL (Praktik Kerja Lapangan) berlangsung tetapi juga memberi pengarahan saat pengamatan dilapangan. 2. Sebaiknya pada saat Praktik Kerja Lapangan berlangsung waktu praktikum dilakukan tidak hanya satu hari.

28

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2003). Factsheets for Red Seaweeds (phylum Bryophita ). sp/

http://www.seavege

tables.com/handbook/genera/reds/

Dicranopteris

Dicranopteris sp.htm. [online]. [2 Januari 2013]. Anonim. (2005). Drynaria sp. [Online]. Tersedia: http://iptek.net.id/ind/Master=28. [16 Januari 2013]. Anonim. (2011). Suplir. [Online] tesedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Suplir 2010 [Diakses 30 Januari 2013] Anonim. 2010. Holotype of Cyclophorus foveolatus Alston [family

POLYPODIACEAE]. [Tersedia]. (30 Januari 2013) .

http://plants.jstor.org/specimen/bm001038332.

Cummings, Benjamin. (2010). Metagenesis Paku Homospor [Online]. Tersedia: http://dunianyasari.blogspot.com/2010/11/kingdom-plantae-duniatumbuhan.html. [3Januari 2013]. Hanifan, Dhifan. (2011). Metagenesis Paku Heterospor [Online]. Tersedia: http://dhifanhanifan.blogspot.com/2011/02/tumbuhan-paku-peralihan.html [3Februari 2013]. Hassler, Michael dkk . 2001. Family Pteridaceae, genus Pteris; world species list. http://homepages. caverock.net.nz/~bj/fern/pteris.htm. [Tersedia]. 3 Februari 2013. Ombrello. 2010. Psilotum nudum The Plant of Week.

29