Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM 4 KIMIA FARMASI ANALITIK II

Penetapan Kadar Teofilin Dalam Sediaan Tablet Dengan Metode Volhard (Rabu, 7 Maret 2012)

Disusun oleh : Anggi Klamentina Datu Wage R Susanti Taufik Fajar 31109039 31109042 31109062 31109065 Kelompok 2

PRODI S-1 FARMASI STIKes BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan Praktikum Untuk mengetahui kadar Teofilin dalam sediaan tablet dengan menggunakan Argentometri metode Volhard

B. Dasar Teori 1. Argentometri Argentometri merupakan metode umum untuk menetapkan kadar halogenida dan senyawa-senyawa lain yang membentuk endapan dengan perak nitrat (AgNO3) pada suasana tertentu. Metode argentometri disebut juga dengan metode pengendapan karena pada argentometri memerlukan pembentukan senyawa yang relatif tidak larut atau endapan. Reaksi yang mendasari titrasi argentometri adalah: AgNO3 +Cl- AgCl(s) + NO3Sebagai indikator , dapat digunakan kalium kromat yang menghasilkan warna merah dengan adanya kelebihan ion Ag+. Metode argentometri yang lebih luas lagi digunakan adalah metode titrasi kembali. Perak nitrat (AgNO3) berlebihan ditambahkan ke sampel yang mengandung ion klorida atau bromida. Sisa AgNO3 selanjutnya dititrasi kembali dengan amonium tiosianat menggunakan indikator besi(II) amonium sulfat. Reaksi yang terjadi pada penentuan ion klorida dengan cara titrasi kembali adalah sebagai berikut: AgNO3 berlebih + Cl- AgCl(s) + NO3Sisa AgNO3 + NH4SCN AgSCN(s) + NH4NO3 3NH4SCN + FeNH4(SO4)2 Fe(SCN)3 merah + 2(NH4)2SO4

Sebelum dilakukan titrasi kembali, endapan AgCl harus disaring terlebih dahulu atau dilapisi dengan penambahan dietilftalat untuk mencegah disosiasi AgCl oleh ion tiosianat. Halogen yang terikat dengan cincin aromatis tidak dapat dibebaskan dengan hidrolisis sehingga harus dibakar dengan labu oksigen untuk melepaskan halogen sebelum dititrasi (Gandjar dan Abdul, 2007). Ada beberapa metode dalam titrasi argentometri yaitu metode Mohr, metode Volhard, metode Fajans dan metode Leibig. a. Metode Mohr Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator. b. Metode Volhard Metoda Volhard dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida, bromida, dan iodida dalam suasana asam. Caranya dengan menambahkan larutan baku perak nitrat berlebihan, kemudian kelebihan larutan baku perak nitrat dititrasi kembali dengan larutan baku tiosianat. c. Metode Fajans Pada metoda ini digunakan indikator adsorpsi, yang mana pada titik ekivalen, indikator teradsorpsi oleh endapan. Indikator ini tidak memberikan perubahan warna kepada larutan, tetapi pada permukaan endapan. d. Metode Leibig Pada metode ini, titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan indikator, akan tetapi ditunjukkan dengan terjadinya kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat ditambahkan kepada larutan alkali sianida akan terbentuk endapan putih, tetapi pada

penggojogan akan larut kembali karena terbentuk kompleks sianida yang stabil dan larut. 2. Teofilin

Teofilin [(3,7-dihidro-1,3-di-metilpurin-2,6-(1H)-dion] atau 1,3-dimetilxantin Teofilin adalah bronkodilator yang digunakan untuk pasien asma dan penyakit paru obstruktif yang kronik, namun tidak efektif untuk reaksi akut pada penyakit paru obstruktif kronik. Teofilin merupakan serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit danmantap di udara. Teofilin mengandung tidak kurang dari 98,5 % dan tidak lebih dari 101,5% C7H8N4O2, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Kelarutan dari teofilin yaitu larut dalam lebih kurang 180 bagian air, lebih mudah larut dalam air panas, larut dalam lebih kurang 120 bagian etanol (95%), mudah larut dalam larutan alkali hidroksida dan dalam ammonia encer (FI III, 1979). Kadar teofilin dapat ditentukan dengan argentometri, karena pada strukturnya terdapat atom hidrogen yang dapat lepas, sehingga dapat bereaksi dengan AgNO3 membentuk endapan (Riadi, 2007).

C. Prinsip Percobaan Prinsip dari titrasi teofilin dengan metode Volhard adalah penambahan AgNO3 berlebih ke dalam sampel. Setelah terbentuk endapan, sisa AgNO3 yang tidak bereaksi dengan analit dititrasi dengan larutan tiosianat membentuk endapan AgSCN, dan kelebihan SCN bereaksi dengan ion Fe3+ dari indikator ferialuin membentuk warna merah cokelat.

D. Reaksi Kimia Reaksi kimia yang terjadi pada titrasi penetapan kadar teofilin dengan metode Volhard adalah sebagai berikut: Ag

AgNO3 + AgNO berlebih

+ HNO3 + AgNO3

Sisa AgNO3 + SCN- AgSCN + NO3SCN- + Fe3+ Fe(SCN)3 merah

BAB II PROSEDUR DAN DATA HASIL PENGAMATAN

A. Alat dan Bahan 1. Alat Buret Statif Labu Erlenmeyer Pipet Volume Corong - Alat Sentrifuge - Water Bath - Pipet Tetes - Gelas Ukur - Kertas Saring

2. Bahan Larutan KCNS 0,1 N Larutan AgNO3 0,1 N Larutan Indikator Ferialuin HNO3 6N Larutan NaCl 0,1 N Indikator K2CrO4 Aqua DM Larutan NaOH encer Sampel Tablet Teofilin

B. Cara Kerja

ISOLASI TEOFILIN

1. Sampel ditimbang 1 gram

2. Dilarutkan dalam 10 ml larutan alkali hidroksida

3. Larutan sampel disentrifuge selama 10 menit.

4. Hasil sentrifuge didekantasi.

Pembakuan Larutan AgNO3 0,1 N 10 ml larutan NaCl dipipet ke dalam labu Erlenmeyer Tambahkan 1 ml indikator K2CrO4 Titrasi dengan larutan AgNO3 0,1 N sampai terbentuk endapan berwarna merah coklat.

1.

2.
3.

Pembakuan Larutan KCNS 0,1 N. 1. Pipet 10 ml larutan AgNO3 0,1 N ke dalam labu Erlenmeyer

2. Tambahkan 5 mL HNO3 6N dan 1 mL indikator Ferialuin.


3. Titrasi dengan larutan KCNS 0,1 N sampai terjadi endapan berwarna merah coklat.

C. Hasil Pengamatan dan Perhitungan 1. Pembakuan larutan AgNO3 V NaCl 10 mL 10 mL V AgNO3 10,1 mL 10,2 mL

N AgNO3 (1) =

= 0,099 N

N AgNO3 (2) =

= 0,098 N

N AgNO3 rata-rata =

= 0,098 N

2. Pembakuan Larutan Tiosianat oleh AgNO3 V AgNO3 10 mL 10 mL V Tiosianat 10,7 mL 10,5 mL

Rumus: N Tiosianat

N Tiosianat (1) =

= 0,091 N

N Tiosianat (2) =

= 0,093 N

N Tiosianat rata rata :

= 0,092 N

3. Penetapan Kadar Teofilin dengan metode Volhard mg Sampel 1000 mg 1000 mg V Tiosianat 17,5 mL 17,8 mL

Kadar sampel =

) (

) (

= 0,0125 N Berat analit = N sampel x BE analit = 0,0125 N x 180,17 = 2, 25 gram % b/b = = = 45 %

BAB III PEMBAHASAN

Teofilin adalah salah satu alkaloid turunan xantin. Teofilin menurut farmakope Indonesia edisi III, kelarutannya larut dalam air panas dan larutan alkali hidroksida. Oleh karena itu dalam proses isolasi analit teofilin dari tablet teofilin dipilih dengan cara melarutkannya dengan larutan NaOH encer. Air panas sebagai pelarut teofilin tidak dipilih karena kecenderungan adanya amilum dalam tablet tersebut sangat diperhitungkan, mengingat amilum pun larut dalam air panas. Setelah ditambah larutan alkali, kemudian disentrifuge dengan tujuan memisahkan analit dengan matriks-nya. Kadar teofilin dapat ditetapkan dengan metode argentometri karena memiliki atom hidrogen dalam strukturnya, di mana atom hidrogen tersebut dapat lepas, sehingga teofilin dapat bereaksi dengan perak nitrat (AgNO3) membentuk endapan. Argentometri memiliki banyak macam metode, di antaranya metode Mohr, Volhard, Fajans, Leibig dan Budde. Namun yang dipilih dalam penentuan kadar teofilin ini adalah metode Volhard. Alasan pemilihan metode volhard ini, jika dibandingkan dengan metode Mohr, metode volhard lebih baik dari sisi pengamatan titik akhir titrasi, meskipun langkahlangkah percobaannya lebih panjang. Titrasi pengendapan metode Volhard dilakukan dalam suasana asam, oleh karena itu dalam tahapan sebelum titrasi ditambahkan larutan HNO3 pekat. Bila suasana dalam labu Erlenmeyer basa, ion Fe3+ dari indikator ferialuin akan diendapkan menjadi endapan Fe(OH)3, sehingga titik akhir titrasi akan kacau. Sebelum dilakukan titrasi penetapan kadar, terlebih dahulu dilakukan pembakuan AgNO3 oleh NaCl dan pembakuan KCNS oleh AgNO3. NaCl sebenarnya bersifat

higroskopis, namun dapat dijadikan baku primer setelah melalui proses pemanasan untuk menghilangkan kelembaban. Reaksi Kimia dalam pembakuan AgNO3: AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3 Ag+ bereaksi dengan Cl- menghasilkan endapan warna putih AgCl, dan setelah semua Cl- habis bereaksi dengan Ag+, kelebihan Ag+ dalam sistem akan bereaksi dengan indikator kromat membentuk warna merah coklat, warna merah coklat ini menunjukkan titik akhir titrasi: AgNO3 + K2CrO4 Ag2CrO4 (merah coklat) + KNO3 Reaksi Kimia dalam pembakuan KCNS: AgNO3 + KCNS AgCNS + KNO3 Ag+ bereaksi dengan CNS- menghasilkan endapan warna putih AgCNS, dan setelah semua Ag+ habis bereaksi dengan CNS-, kelebihan CNS- dalam sistem akan bereaksi dengan indikator ferialuin membentuk warna merah coklat, warna merah coklat ini menunjukkan titik akhir titrasi Fe3+ + 6CNS [Fe(CNS)6]3Seperti yang telah diketahui bahwa metode Volhard prinsipnya adalah penambahan AgNO3 berlebih. Pada saat sampel ditambahkan AgNO3, terbentuk endapan perak-teofilin. Untuk menyempurnakan dan mempercepat pengendapan dilakukan pemanasan, dalam percobaan ini dilakukan pemanasan di atas water bath. Hasil endapan yang terbentuk adalah endapan berwarna putih agak abu-abu dan berbentuk gumpalan kecil-kecil. Kemudian endapan disaring dan dicuci untuk memisahkan sisa AgNO3 yang tidak bereaksi dengan teofilin. Setelah itu dilakukan titrasi terhadap filtrat menggunakan pentiter KCNS dan indikator ferialuin dalam suasana asam sampai terbentuk endapan berwarna merah coklat.

Sisa perak yang tidak bereaksi dengan analit akan bereaksi dengan SCN- membentuk endapan AgSCN. Kemudian setelah semua Ag+ bereaksi dengan SCN-, SCN- akan bereaksi dengan indikator ferialuin, dimana Fe3+ bereaksi dengan SCN- menghasilkan Fe(SCN)3 berwarna merah. Ag

AgNO3 + AgNO berlebih

+ HNO3 + AgNO3

Sisa AgNO3 + SCN- AgSCN + NO3SCN- + Fe3+ Fe(SCN)3 merah

Hasil dari titrasi pengendapan didapatkan % b/b adalah sebesar 45%. Sedangkan kadar sebenarnya adalah sebesar 35 %. Maka persentase kesalahannya adalah sebesar: :

Kesalahan dalam analisis dikarenakan kurang tepatnya dalam proses treatment sampel. Artinya pada saat isolasi analit dari matriksnya tidak sempurna. Tidak semua analit terisolasi, sehingga mengacaukan analisis data.

BAB IV KESIMPULAN

Dari uraian pada bab sebelumnya dan merujuk pada tujuan percobaan, dapat disimpulkan bahwa: Kadar teofilin berdasarkan hasil titrasi iodimetri adalah sebesar 45 %. Kadar teofilin yang sebenarnya adalah 35 % Persentase kesalahannya adalah sebesar 28,57 %.

LITERATUR

Day, R.A., Underwood, A.L. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia ed 3.Jakarta: Kopri Sub Unit Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Gandjar, Ibnu Gholib., Rohman, Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Khopkar, S. M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press. English Wikipedia. 2012. Theophylinum.[Online].Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Theophylinum [ 5 Maret 2012 : 15.30]