Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN VISKOSITAS RELATIF (METODE STORMER)

KELOMPOK A - 4 : Setiawan Limantoro Felisia Puspitaningsih 6103011071 6103011086

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2012

I.

TUJUAN Menentukan viskositas relative berbagai macam zat alir terhadap viskositas air berdasarkan

metode stormer

II.

DASAR TEORI Menurut Tupamahu, (1976) viskositas adalah ketahanan karena gaya gesekan internal dimana

cairan viskos dapat menghalangi gaya, dengan kata lain sebagai penghalang aliran. Dengan demikian viskositas dapat didefinisikan sebagai gaya tiap satuan luas (dyne/cm2) yang diperlukan untuk mendapat beda kecepatan sebesar 1 cm/detik antara dua lapisan cairan yang sejajar dan berjarak 1 cm. Viskositas dapat diukur dengan menggunakan alat viskosimeter atau viskometer. Besarnya viskositas dapat diukur dari rata-rata aliran liquid yang dilewatkan pada tabung yang silindris. Untuk mengukur viskositas suatu liquid diperlukan pembanding yang sudah diketahui viskositasnya pada suhu tertentu, biasanya menggunakan air, karena itulah hasil dari pengukuran viskositas liquid tersebut disebut viskositas relatif. (Alberty, R., 1955) Menurut Tupamahu (1976), gaya gesek dapat menahan aliran yang besarnya tergantung dari kekentalan zat. Rumusnya adalah: G = A dv/dy = G/(A dv/dy) Keterangan: G = gaya gesek = viskositas / angka kekentalan dinamis A = luas lapisan dv/dy = gradien kecepatan dari persamaan tersebut, diperoleh satuan angka kekentalan dinamis adalah g/cm.dt, yang disebut poise. Menurut Sukardjo, (2002) hubungan antara viskositas dengan kecepatan aliran yang laminar melalui suatu pipa dinyatakan oleh persamaan Poiseuille sebagai berikut: = r4 P t/ (8 V L) Keterangan : V = volume fluida dalam cm3 t r = waktu yang diperlukan fluida untuk mengalir melalui pipa = jari-jari pipa

L = panjang pipa P = tekanan

Lambang viskositas ialah dan dinyatakan dalam poise atau dyne cm-2 detik. Viskositas fluida juga dapat ditentukan dengan membandingkan dua fluida dengan tabung kapiler sama. Untuk dua zat cair dengan tabung kapiler sama, maka dinyatakan oleh persamaan Poiseuille sebagai berikut 1 / 2 = {( P1 r4 t1) / (8 L V)} x {(8 L V) / ( P2 r4 t2) } Karena tekanan berbanding lurus dengan rapatnya, maka: 1 / 2 = {(P1 . t1) / (P2 . t2)} Dimana

x x tx air air tair


Keterangan : 1 = viskositas fluida 1 2 = viskositas fluida 2 1 = berat jenis fluida 1 2 = berat jenis fluida 2 t1 = waktu alir fluida 1 t2 = waktu alir fluida 2 Viskositas dipengaruhi oleh : Suhu / Temperatur Jika viskositas dari gas bertambah dengan temperatur, maka viskositas dari zat cair berkurang jika temperatur dinaikkan, dan fluiditasnya, yaitu harga resiprok dari viskositasnya, bertambah dengan temperatur. Ketergantungan viskositas zat cair terhadap temperatur dinyatakan secara pendekatan untuk banyak zat oleh suatu persamaan yang analog dengan persamaan Arrhenius untuk kimia kinetik : = A eEv/RT

Keterangan : A = tetapan yang tergantung dari bobot molekul dan volume molar zat cair. Ev = energi aktivasi yang dibutuhkan untuk memulai terjadinya aliran antara molekul-molekul. (Moechtar, 1989). eca a sede hana dapat dikatakan bahwa viskositas da i la utan akan tu un kenaikan Tekanan Kenaikan tekanan akan menyebabkan penurunan viskositas. Berat molekul suhu aniels setiap

Kenaikan berat molekul akan menyebabkan kenaikan viskositas.(Crockford, 1967) Bentuk partikel dari fase dispers Koloid-koloid berbentuk bola membentuk sistem dispers dengan viskositas rendah, sedang seistem dispersi yang mengandung koloid-koloid linier viskositasnya lebih tinggi. Hubungan antara bentuk dan viskositas merupakan refleksi derajat solvaksi dari partikel. Jika suatu koloid linier dimesukkan dalam solven yang mempunyai afinitas rendah, maka ia cenderung untuk menjadi bentuk bola dan viskositasnya turun. (Moechtar, 1989). Gaya gesek Kenaikan gaya gesek akan memperbesar nilai viskositas. Konsentrasi Semakin besar konsentrasi larutan maka nilai viskositas akan semakin besar pula. Penambahan substansi Menurut Crockford, (1967) penambahan elektrolit akan menurunkan viskositas dan penambahan koloid akan menaikkan viskositas

Beberapa faktor lain yang juga dapat mempengaruhi viskositas larutan adalah : Pada umumnya koloid hidrofilik mepunyai viskositas yang berbeda sedikit dari medium di mana koloid tersebut terdispersi. Viskositas hanya meningkat sedikit dengan peningkatan konsentrasi partikel pendispersi. Viskositas sel hidrofilik meningkat dengan meningkatnya hidrasi. Sebagai contoh : molekul gula mempunyai viskositas relatif tinggi daripada air karena mempunyai banyak gugus hidrofilik sehingga mampu menyerap banyak air. Kemampuan menyerap air akan bertambah bila dipanaskan. Sol dengan partikel terkecil menunjukkan viskositas yang lebih tinggi untuk pemberian konsentrasi daripada partikel terkasar pada konsentrasi yang sama. Jumlah non elektrolit yang sedikit meningkatkan viskositas sedangkan jumlah elektrolit yang sedikit menurunkan viskositas larutan dengan jumlah padatan yang banyak biasanya menyebabkan peningkatan viskositas. Viskositas dari sistem koloid menurun dengan peningkatan temperatur. Penurunan viskositas pada koloid hidrofobik lebih sedikit daripada koloid hidrofilik. Viskositas cairan turun dengan bertambahnya temperatur.(Auran dan Wood, 1973)

Viskositas biasanya berhubungan dengan konsistensi yang keduanya merupakan sifat kenampakan yang berhubungan dengan indera perasa. Konsistensi dapat didefinisikan sebagai ketidakmauan suatu bahan untuk melawan perubahan bentuk (deformasi) bila suatu bahan mendapat gaya gesekan (sheering fore). Gesekan yang timbul sebagai hasil perubahan bentuk

cairan yang disebabkan karena adanya resistensi yang berlawanan yang diberikan oleh cairan tersebut dinamakan gaya irisan (sheering stress). Jika tenaga diberikan pada suatu cairan, tenaga ini akan menyebabkan suatu bentuk atau deformasi. Perubahan bentuk ini disebut sebagai aliran (Lewis, 1987).

Ada dua tipe aliran yaitu (Suyitno, 1988): 1. Newtonian Viskositas cairan yang bersifat Newtonian tidak berubah dengan adanya perubahan gaya irisan dan kurva hubungan antara shear stress dan shear ratenya linier melewati titik (0,0) atau dengan kata lain viskositasnya tidak berubah dengan adanya perubahan gaya gesekan antar permukaan cairan dengan dinding. Cairan newtonian biasanya merupakan cairan murni secara kimiawi dan homogen secara fisikawi. Contohnya adalah larutan gula, air, minyak, sirup, gelatin, dan susu. 2. Non-newtonian Viskositas cairan yang bersifat Non-newtonian berubah dengan adanya perubahan gaya irisan dan kurva hubungan antara shear stress dan shear ratenya non linier. Dengan kata lain, viskositasnya berubah dengan adanya perubahan gaya gesekan antar permukaan cairan dengan dinding. Cairan non newtonian ini termasuk cairan yang bersifat non true liquid/non ideal. Contohnya yaitu soas tomat, kecap, slurry permen, dan susu kental manis.

Teknik Pengukuran Viskositas : Saat ini terdapat beberapa model pengukuran Viskositas dan secara garis besar dapat digolongkan sbb. : 1. Falling ball viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan oleh suatu bola jatuh melalui sample pada jarak tertentu. 2. Cup-type Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan mengukur waktu yang diperlukan oleh suatu sample untuk mengalir pada suatu celah sempit (orifice). 3. Vibro Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan cara mengendalikan amplitudo sebuah pelat sensor yang dicelupkan ke dalam sample dan mengukur arus listrik yang diperlukan untuk menggerakkan sensor tersebut. 4. Capillary Tube Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan cara membiarkan sample mengalir di dalam sebuah pipa kapiler dan mengukur beda tekanan di kedua ujung kapiler tersebut. 5. Rotational Viscometer, mendapatkan nilai viskositas dengan mengukur gaya puntir sebuah rotor silinder (spindle) yang dicelupkan ke dalam sample.

Gambar dibawah ini adalah pengukuran viskositas dengan metode Rotational. Pada metode ini sebuah spindle dicelupkan ke dalam cairan yang akan diukur viskositasnya. Gaya gesek antara permukaan spindle dengan cairan akan menentukan tingkat viskositas cairan.

Seperti tampak pada gambar di atas, sebuah spindle dimasukkan ke dalam cairan dan diputar dengan kecepatan tertentu. Bentuk dari spindle dan kecepatan putarnya inilah yang menentukan Shear Rate. Sebagai contoh Viscometer yang menggunakan prinsip ini adalah : Viscometer Model : LVDV-II Pro salah satu viscometer keluaran dari Brookfield Engineering Laboratories, USA. Saat ini viscometer model rotational keluaran Brookfield ini paling banyak dipakai di pasaran.

Kita ketahui bahwa untuk cairan-cairan yang tergolong dalam kategori Non Newtonian hasil pembacaan Viskositas dipengaruhi oleh Shear Rate, dalam hal ini dinyatakan oleh bentuk geometri spindle serta kecepatan putarnya. Oleh karena itu untuk membuat sebuah report Viskositas dengan methode pengukuran Rotational harus dipenuhi beberapa hal sbb. : Jenis Spindle Kecepatan putar Spindle Type Viscometer Suhu sample Shear Rate (bila diketahui) Lama waktu pengukuran (bila jenis sample-nya Time Dependent) Yang dimaksud dengan Time Dependent sample adalah jenis cairan yang nilai viskositasnya berubah seiring dengan lama waktu pengukuran.
(http://duniaanalitika.wordpress.com/2009/12/16/tehnik-penngukuran-viskositas/)

III.

ALAT DAN BAHAN Alat : Buret 25 ml Statis Gelas beker 100 ml Gelas beker 1 L Pengaduk Labu takar Timbangan analitis Piknometer Stopwatch Viskometer Waterbath Corong gelas Pipet tetes

Bahan : Aquades Sirup dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50% Lesitin

Es batu

IV.

CARA KERJA Pengukuran Viskositas Dengan Buret (Metode Stormer)

Alat-alat yang akan digunakan harus bersih dan kering Penentuan densitas zat cair yang akan dianalisis dengan piknometer pada suhu 20oC Buret 25 mL diisi air lebih tinggi dari batas atas(batas atas = 0) Keran buret dibuka, stopwatch dinyalakan ketika aliran air dalam buret tepat melewati batas atas (skala 0) Setelah air mengalir 25 mL stopwatch dimatikan Waktu alir ditentukan Air diganti dengan sirup pada berbagai konsentrasi Percobaan diulangi 3x

Pembuatan Sirup Dengan Berbagai Konsentrasi Penimbangan sirup secara analitis dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% sesuai dengan perhitungan Pengenceran sirup dengan 50 ml akuades dalam beker gelas Pemasukkan larutan tersebut ke dalam labu takar secara analitis Tambahkan akuades hingga tepat 100 ml Homogenkan

Pengukuran Densitas Dengan Menggunakan Piknometer Penimbangan analitis piknometer kosong (bersih dan kering) Pengisian piknometer dengan zat yang hendak di ukur densitasnya Pengkondisian piknometer ada suhu 20C selama 1 menit Penimbangan kembali piknometer beserta zat secara analitis Penghitungan densitas dengan rumus

Pengukuran Viskositas Menggunakan Viskometer (Metode Brookfield)

Alat dihubungkan pada listrik Alat dinyalakan tekan tombol ON pada saklar belakang Alat diposisikan lebih tinggi dengan memutar skala pada sebelah kanan alat Pemeriksaan mata kucing (harus tepat ditengah) Tekan tombol AUTOZERO 2x Pemasangan spindle (searah jarum jam) (*) Beker gelas yang berisi sampel yang hendak dihitung densitasnya diposisikan di bawah alat Alat diturunkan sampai spindel terendam sampai garis batas spindle Termometer dari viskometer dimasukan dalam sampel Tekan tombol SELECT SPINDLE kemudian masukkan nomer spindle yang dipakai Tekan tombol ON Tekan tombol SELECT SPEED masukkan kecepatan Tekan tombol ON lagi Catat Rpm, suhu, dan Cp dan persen (%) yang tertera pada alat Jika angka Cp berkedip atau persen (%) di bawah 10% maka Rpm diganti karena data tidak bisa dipakai/tidak valid Tekan tombol OFF Jika hendak ganti spindle maka alat dinaikkan kembali lepas spindle ganti dengan nomer spindle yang lain

Ulangi langkah-langkah diatas (*) setelah spindle terpasang

V.

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

PENGENCERAN SIRUP 10% Beker kosong (g) Beker + sirup (g) Berat sirup (g) 49,0168 58,9772 9,9604 20% 62,7946 82,7590 19,9644 30% 62,9644 92,8654 29,9010 40% 63,8909 103,8620 39,9711 50% 62,8506 112,8690 50,0184

DENSITAS (MASSA JENIS) Aquades Berat piknometer kosong (g) Berat pikno + zat (g) Berat zat (g) Volume (ml) (g/cm3) 13,3478 23,3925 10,0447 10 1,0045 Sirup 10% 11,9229 22,4942 10,5713 10 1,0473 Sirup 20% 12,6302 23,2232 10,5930 10 1,0494 Sirup 30% Sirup 40% Sirup 50% 13,2863 24,3924 11,1061 10 1,1002 12,5298 23,8250 11,2952 10 1,1189 12,3492 23,7229 11,3737 10 1,1268

Contoh Perhitungan Densitas Suhu ruang = 32C Interpolasi air pada suhu ruang (32C)

Aquades

Sirup 10%

VISKOSITAS RELATIF WAKTU (s) SAMPEL I Aquades Sirup 10% Sirup 20% Sirup 30% Sirup 40% Sirup 50% 24,6 25,9 26,9 28,5 31,1 33,45 II 24,8 26,2 27,4 28 30,9 34,1 III 26 25,4 27,8 28,9 31,3 32,6 RATA RATA WAKTU (s) 25,1 25,8 27,4 28,5 31,1 33,4 VISKOSITAS RELATIF (Pa s) 763,3494 x 10-6 825,7969 x 10-6 878,7702 x 10-6 958,2958 x 10-6 1063,4936 x 10-6 1150,2074 x 10-6

Suhu ruang = 32C Interpolasi Viskositas air pada suhu ruang (32C)

Contoh Perhitungan Viskositas Relatif

Sirup 10%

VISKOMETER

NOMER SPINDLE

KECEPATAN (Rpm) 1,0

VISKOSITAS (Cp) 157 e3 157 e


3

SUHU (C)

% -

2,0 2,5 2,0

31,7

(tidak dicatat) -

152 e3 64500 64000 63000 62800 32750 32400 31700 31200 15600 15400 15040 6100 6000 5880 1470 31,9 31,9 32 32 31,7

2,5 5,0 10,0 4,0

(tidak dicatat) 31,9 31,9 31,7 62,4 15,6 30,7 75,1 12,2 30,0 58,7 14,7

5,0 10,0 20,0 10,0

20,0 50,0 20,0

50,0 100,0

100,0

VI.

PEMBAHASAN Pada percobaan kali ini dilakukan dua metode pengukuran viskositas yaitu metode Stormer dan

metode rotational. Metode stormer yaitu metode pengukuran viskositas menggunakan buret sedangkan metode rotational yaitu metode pengukuran viskositas menggunakan viscometer Brookfield. Sebelum dilakukan percobaan untuk mengukur viskositas menggunakan metode stormer, harus ditentukan terlebih dahulu densitas dari komponen percobaan yaitu akuades dan sirup dengan konsentrasi 10%, 20%,30%,40%, dan 50% dengan menggunakan piknometer. Saat menggunakan piknometer, larutan yang ditentukan densitasnya harus dijaga agar suhunya tetap 20oC sebelum ditimbang analitis, hal tersebut karena prinsip kerja dari piknometer yaitu 10 mL larutan pada suhu 20oC, suhu mempengaruhi volume larutan. Jika tidak dikondisikan 20oC maka volume larutan tidak menjadi 10 mL lagi. Suhu ruangan yang lebih tinggi dari 20oC akan

menaikkan volume larutan dalam piknometer, sedangkan pada suhu ruang yang lebih rendah dari 20oC maka volume larutan akan berkurang dari 10 mL. Kemudian setelah didapatkan berat analitis dari larutan, maka akan diperoleh densitas dengan rumus . Dari hasil

perhitungan, densitas akuades, sirup 10%,20%,30%,40%,dan 50% berturut-turut adalah 1,0473 g/cm3, 1,0494 g/cm3, 1,1002 g/cm3, 1,1189 g/cm3, 1,1268 g/cm3. Hasil tersebut sesuai dengan teori dimana teori menyatakan semakin banyak konsentrasi zat terlarut maka semakin tinggi pula densitasnya. Karena konsentrasi sirup yang semakin tinggi maka semakin banyak jumlah molekul dalam larutan sehingga larutan akan semakin rapat (densitasnya meningkat). Setelah densitas telah ditentukan, selanjutnya adalah pembuatan larutan sirup konsentrasi 10%, 20%,30%,40%,dan 50% dengan volume total 100 mL. Tabung kapiler yang digunakan dalam percobaan ini adalah buret 25 mL. Setelah membuat larutan harus ditentukan batas atas maupun bawah dari larutan untuk menentukan berapa mL viskositas yang diukur pada waktu tertentu. Pada percobaan ini, batas atasnya adalah 0 mL dan batas bawahnya adalah 25 mL. Kemudian larutan yang digunakan dimasukkan ke dalam buret 25 mL dengan corong sampai tinggi cairan dalam buret melebihi batas atas (diatas skala 0). Untuk menentukan viskositas, keran buret dibuka, saat tinggi cairan tepat 0 mL baru stopwatch dinyalakan dan dimatikan saat tinggi cairan tepat pada batas bawah (25 mL). Waktu alir fluida merupakan komponen yang cukup penting dalam penentuan viskositas. Pada data kelompok kami, waktu alir(rata-rata) akuades adalah 25,1 detik, sedangkan sirup konsentrasi 10%, 20% ,30%,40%,dan 50% berturut-turut adalah 25,8 detik, 27,4 detik, 28,5 detik, 31,1 detik, 33,4 detik. Dari data akuades ke data sirup konsentrasi 50% mengalami peningkatan waktu alir . Menurut teori, viskositas sebanding dengan waktu alir fluida, artinya semakin viskus atau kental suatu zat maka kecepatan alirnya semakin rendah. Sebaliknya, semakin encer suatu zat maka kecepatan alirnya semakin tinggi. Viskositas juga sebanding dengan densitas artinya semakin besar densitasnya maka zat tersebut semakin viskus, dan sebaliknya. Nilai densitas akan mempengaruhi besarnya gaya gesek yang menahan laju alir dari zat cair sehingga waktu yang dibutuhkan zat untuk mengalir semakin lama. Untuk menentukan viskositas relatif sirup dilakukan perbandingan viskositas relatif sirup yang dicari dibanding viskositas relatif air dengan rumus

x x t x , adalah masa jenis sedangkan a a t a

t adalah waktu alir. Dari data percobaan didapatkan viskositas relatif sirup konsentrasi 10%, 20%, 30%,40%,dan 50% berturut-turut adalah 825,7969x10-6 Pa s, 878,7702x10-6 Pa s, 958,2958x 10-6 Pa s, 1063,4936x10-6 Pa s, 1150,2074x10-6 Pa s Dari data tersebut terlihat viskositas relatif sirup konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi terus meningkat. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan konsentrasi zat terlarut dalam sirup tersebut. Semakin tinggi konsentrasi zat terlarut maka semakin

besar viskositasnya. Hal ini disebabkan karena dengan meningkatnya konsentrasi larutan maka jumlah molekul-molekul dalam fluida juga akan bertambah, sehingga dengan ruang gerak yang tidak berubah akan mengakibatkan meningkatnya kerapatan fluida. Peningkatan kerapatan ini akan menghambat aliran fluida dan meningkatkan viskositasnya. Selain itu pada zat cair (fluida) yang mengalir molekul-molekulnya akan saling bergesekan, di mana gaya tersebut dapat menahan kecepatan aliran fluida karena memiliki arah yang berlawanan dengan arah alirannya. Pertambahan konsentrasi akan meningkatkan pula gaya gesek antar molekulnya. Akibatnya kecepatan aliran fluida akan menurun dan meningkatkan resistensi fluida terhadap gaya yang diberikan padanya (viskositas). Dalam praktikum ini, selain konsentrasi gula, ada beberapa hal yang mempengaruhi viskositas fluida. Hal tersebut adalah : Suhu / Temperatur viskositas da i la utan akan tu un Tekanan Kenaikan tekanan akan menyebabkan penurunan viskositas. Berat molekul Kenaikan berat molekul akan menyebabkan kenaikan viskositas. Gaya gesek Kenaikan gaya gesek akan memperbesar nilai viskositas. Banyaknya molekul gula mengakibatkan meningkatnya gaya gesek antar partikel maupun partikel dengan dinding kapiler. setiap kenaikan suhu

Pada pengukuran viskositas menggunakan viscometer Brookfield digunakan sampel Lesitin. Pengukuran viskositas lesitin pada alat ini adalah dengan memasukkan spindle pada sampel yang hendak di ukur viskositasnya. Spindle harus berada dalam cairan pada batas tertentu yaitu hingga pertengahan batas spindle agar ukuran viskositasnya bisa sesuai. Spindle tersebut digunakan sebagai alat pengukur viskositas larutan. Kemudian setelah spindle tersebut masuk ke dalam larutan, kita memasukkan nilai kecepatannya (dalam Rpm) yang diinginkan maka muncul data pada layar alat seperti data Cp, Rpm (kecepatan), suhu larutan, serta %.Wadah yang digunakan pada pengukuran viskositas dengan menggunakan metode Brookfield adalah beaker glass 1 L agar spindle yang berputar untuk pengukuran tidak terkena pada dinding maupun dasar tabung sehingga pengukurannya akurat (viskositas yang terukur adalah harga viskositas sebenarnya, tidak dipengaruhi oleh gaya gesekan antara spindel dengan wadah cairan). Nilai Cp yang muncul merupakan nilai viskositas dari lesitin. Jika nilai Cp yang muncul pada layar alat berkedip-kedip maka menunjukan bahwa larutan yang uji tidak stabil sehingga perlu

merubah Rpm dengan cara menaikkan atau menurunkan nilai Rpm nya sampai nilai Cp pada layar tidak berkedip-kedip. Pada umumnya larutan yang dapat diukur viskositasnya mempunyai nilai Rpm berkisar 8000 10000. Suhu larutan yang tertera pada layar menunjukkan suhu larutan lesitin yang di uji tersebut. Sedangkan % yang tertera pada layar menunjukan valid atau tidak valid nya larutan lesitin tersebut untuk di uji. Larutan dapat uji viskositasnya jika % yang tertera di atas 10%. Jika di bawah 10% maka larutan tidak dapat dihitung viskositasnya karena viskositas larutan tersebut sangat rendah sehingga tidak dapat dihitung. Hasil viskositas lesitin yang tertera berbeda beda dengan nilai Rpm yang berbeda- beda juga. Nomer spindle juga mempengaruhi hasil viskositas. Semakin viskos zat yang hendak di uji maka digunakan spindle dengan ukuran yang kecil dan juga sebaliknya. Hasil yang kita dapatkan pada pengujian ini yaitu terjadi penurunan viskositas. Jika spindle yang digunakan semakin kecil,maka Rpm semakin tinggi (kecepatan putaran spindle semakin cepat) sehingga viskositasnya juga menurun.

VII.

KESIMPULAN Viskositas relatif sirup konsentrasi 10%, 20%, 30%,40%,dan 50% berturut-turut adalah 825,7969x10-6 Pa s, 878,7702x10-6 Pa s, 958,2958x 10-6 Pa s, 1063,4936x10-6 Pa s, 1150,2074x10-6 Pa s sedangkan viskositas relative air adalah Semakin tinggi konsentrasi pada larutan,maka kekentalannya juga semakin tinggi sehingga daya alirnya semakin lambat (viskositas sebanding dengan waktu alir fluida) Pada percobaan dengan menggunakan viscometer Brookfield,semakin kecil spindle yang digunakan maka viskositasnya semakin kecil. Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas dalam praktikum ini adalah konsentrasi, suhu, Berat Molekul, tekanan, dan gaya gesek. Sirup dengan konsentrasi 50% memiliki viskositas relatif yang paling besar (paling lambat) Air memiliki viskositas relatif yang paling kecil (paling cepat)

VIII.

DAFTAR PUSTAKA Alberty, R. 1955. Physical Chemistry. New York : John Wiley & Sons, Inc. Auran, L.W. and A.E. Woods. 1973. Food Chemistry. West Port, Connecticut: The AVI Publishing Company, Inc. Crockford, H.D and S.B. Knight. 1967. Fundamentals of Physical Chemistry Second Edition. New York : John Wiley and Sons, Inc. Daniels, F. dan R. A. Alberty. 1955. Physical Chemistry. New York : John Wiley and Sons, Inc. Lewis, E.E. 1987. Introducion to Reliabillity Engineering. Department of Mechanical and Nuclear Engineering Northwestern Univercity

Moechtar. 1989. Farmasi Kimia : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Sukadjo. 2002. Kimia Fisika. Jakarta : PT Rineka Cipta. Tupamahu, M. 1976. Kimia Fisik I. Bandung: Yayasan Karyawan Kimia ITB. http://duniaanalitika.wordpress.com/2009/12/16/tehnik-penngukuran-viskositas/