Anda di halaman 1dari 29

Jurnal Reading

Tobacco Use and Oral Leukoplakia


Jolan Bnczy, D. Sc, Zeno Gintner, Ph.D., Csaba Dombi, Ph.D.

DISUSUN OLEH : SHAKTI BHIMANTONO 205.12.1.0034

PEMBIMBING: DRG. WAHYU S., SP. PROS.

LABORATORIUM KESEHATAN GIGI DAN MULUT RSUD KANJURUHAN KEPANJEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG 2013

Latar belakang
Hongaria memiliki angka kematian tertinggi akibat

kanker orofaringeal dari empat puluh enam negara di dunia. Konsumsi tembakau diduga berdampak cukup signifikan terhadap perkembangan kanker mulut dan leukoplakia oral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara konsumsi tembakau dan terjadinya kasus leukoplakia oral


Fokus

penelitiankawasan Eropa Tengah dan Hungaria. Didapatkan bukti yang kuat mengenai peran kebiasaan merokok terhadap terjadinya perkembangan kanker mulut maupun leukoplakia oral. Pola Epidemiologi menunjukkan adanya peningkatan tajam kebiasaan merokok di negaranegara Eropa tengah.

Penelitian cross-sectional menunjukkan prevalensi leukoplakia oral yang lebih tinggi pada perokok, dengan pola hubungan respon-dosis (dose-response) antara konsumsi tembakau dan angka kejadian leukoplakia oral Pada penelitian intervensi telah menunjukkan bahwa terjadi regresi atau penurunan lesi oral setelah penghentian kebiasaan merokok.

Kanker orofaringeal menempati urutan kelima jenis kanker yang paling umum terjadi di seluruh dunia pada pria dan urutan ketujuh pada wanita Tingkat kematian tertinggi ditemukan di Hungaria (11,1) dan Cekoslovakia (7,9), dan diikuti pada tujuh negara lainnya di Eropa Tengah.

Angka kematian tertinggi pada perempuan juga

dilaporkan pada Hongaria (1,5) Angka kematian kanker mulut meningkat lebih dari lima kali lipat sejak awal 1960-an

Tembakau dan alkohol serta diet memiliki peran

keterlibatannya yang besar terhadap terjadinya peningkatan angka penderitaan kanker mulut. Dari jumlah tersebut, penggunaan tembakau dan alkohol diidentifikasi sebagai faktor risiko utama

Untuk

meneliti hubungan antara konsumsi tembakau dan leukoplakia oral, serta peranan konsumsi tembakau terhadap terjadinya keganasan leukoplakia oral di Eropa dan, khususnya, Eropa tengah dan Hungaria, maka poin-poin berikut ini akan dibahas, diantaranya :


Pola epidemiologi ketergantungan atau kecanduan terhadap tembakau, Prevalensi leukoplakia oral, Prevalensi merokok dan leukoplakia oral, pengaruh merokok terhadap kesehatan mukosa oral secara klinis, dan Evaluasi data dan kesimpulan.

Pola Epidemiologi Ketergantungan Terhadap Tembakau

Di antara negara-negara maju, tembakau dianggap bertanggung jawab atas kematian 24 persen dari semua populasi laki-laki dan 7 persen kematian perempuan di negara-negara Eropa Timur

Data statistik terbaru Organisasi Kesehatan Dunia,

Polandia, Yunani, dan Hongaria memiliki tingkat konsumsi rokok tertinggi per kapita, dan telah meningkat selama dua dekade terakhir (Tabel 3). Pada tahun 1991, Hongaria menempati peringkat 42 dalam hal prevalensi kebiasaan merokok dengan 40 persen perokok di kalangan laki-laki dan 27 persen di kalangan perempuan.

Prevalensi Leukoplakia Oral

Survei epidemiologi di Hongaria telah melaporkan

prevalensi antara 0,57 dan 3,6 persen kasus leukoplakia oral (Tabel 4). Berdasarkan gender, prevalensi leukoplakia oral pada penelitian ini adalah antara 1 hingga 7 persen pada pria dan 0,17 hingga 1,5 persen pada wanita.

Merokok dan Prevalensi Leukoplakia Oral

Penelitian deskriptif awal telah menunjukkan bahwa frekuensi leukoplakia oral di kalangan perokok begitu tinggi, kebiasaan merokok tersebut dianggap sebagai penyebab. Renstrupsembilan puluh pasien leukoplakia oral, dua puluh tiga persennya adalah perokok (25,5 persen).


Pindborg, Roed-Petersen, dan Renstrup28di antara 345 perempuan Denmark dengan leukoplakia oral, 32,3 persennya adalah perokok cerutu. Roed-Petersen dan Pindborg450 sampel penderita leukoplakia oral menemukan bahwa tiga puluh dua orang (7.1 persen) secara eksklusif merupakan lakilaki pengguna tembakau (Tabel 5).

Dalam empat penelitian yang dilakukan di Hungaria,

prevalensi merokok sebesar 82,0-100 persen pada pasien leukoplakia oral (Tabel 5). Dalam penelitian cross-sectional oleh Dombi et al., 88 % pasien leukoplakia adalah perokok aktif, 9 % telah berhenti, dan hanya 3 % yang tidak pernah merokok;

Bruszt menyebutkan bahwa hampir semua kasus leukoplakia oral adalah terjadi pada perokok. Banoczy dan Rigoprevalensi leukoplakia oral diantara para perokok sebesar 3,73 dan di antara non-perokok sebesar 0,26.

Hubungan

respon-dosis antara tembakau dan leukoplakia oral Diantara 104 pasien leukoplakia, Banoczy dan Rigo menemukan bahwa 13,5 persen bukan perokok, 9,6 persen merokok 1-10 batang per hari, dan 76,9 persen merokok sepuluh atau lebih batang rokok per hari. Winn menemukan hubungan yang signifikan antara prevalensi leukoplakia oral dan jumlah konsumsi tembakau pada 1.109 orang pemain bisbol dewasa (lihat juga artikel Winn dalam edisi ini).


Dalam penelitian case-control di Kenya, resiko

tertinggi leukoplakia adalah pada perokok. Dalam penelitian Downer12, dari 292 orang di antaranya terdapat Prevalensi leukoplakia oral sebesar 2,9 persen, terdapat peningkatan risiko yang signifikan (rasio odds 3,43) untuk perokok berat (> 20 batang / hari).

Fakta Yang Didapat Dari Penelitian Intervensi Tembakau

Dalam penelitian Roed-Petersens, berhenti merokok setidaknya selama satu tahun menyebabkan penurunan mortalitas leukoplakia oral sebesar 58,3 persen dari kasus. Gupta et al.44 menemukan


Pada penelitian terbaru yang melibatkan 3.051 tentara laki-laki di AS, 302 orang yang menggunakan tembakau 39,3 % menderita leukoplakia oral lebih tinggi dibandingkan dengan non-pengguna yang hanya 1,5 persen. Setelah enam minggu dilakukan penghentian konsumsi tembakau, 97,5 % lesi leukoplakia oral telah menunjukkan adanya resolusi atau penurunan secara klinis (menyembuh).

Peran Kebiasaan Merokok Terhadap Terjadinya Keganasan Leukoplakia Oral


Penelitian di atas sebagian besar memberikan bukti

adanya peran kebiasaan merokok terhadap perkembangan leukoplakia oral. Terdapat juga bukti yang kuat adanya hubungan antara penggunaan tembakau dan perkembangan kanker mulut. Penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan risiko keganasan leukoplakia oral diantara para perokok.


Einhorn dan Wersallrisiko perokok mengalami

keganasan sebesar delapan kali lipat di Swedia, Roed-Petersenresiko mengalami keganasan sebesar lima kali lipat di Denmark. Pada penelitian Banoczy, 87% individu yang merokok mengalami leukoplakia oral, namun hanya 77 persen dari mereka yang berkembang dari leukoplakia menjadi karsinoma.

Pengaruh Merokok Terhadap Kesehatan Mukosa Oral Secara Klinis

Banoczy melaporkan hasil pemeriksaan sitologi apusan oral pada 100 orang dengan mukosa oral yang sehat secara klinis, baik pada perokok laki-laki dan perempuan dan maupun non-perokok. Evaluasi pola keratinisasi sel mengungkapkan adanya peningkatan yang signifikan keratinisasi pada sel epitel lidah dan juga pada bagian palatum dari kedua perokok baik laki-laki maupun perempuan, jika dibandingkan dengan bukan perokok.

Meyer, Rubinstein, dan Medak mengambil spesimen

apusan sepuluh daerah di oral yang normal secara klinis dan menemukan bahwa merokok berdampak terhadap keratinosit Perubahan awal yang lebih jelas pada daerah nonkeratinisasi daripada daerah keratinisasi, menariknya adalah bahwa pada daerah yang nonkeratinisasi tidak ada sel yang berdiferensiasi. Hasil dari kedua penelitian tersebut menunjukkan adanya perubahan seluler sebelum terjadi perubahan secara klinis.

Kesimpulan
Penelitian mengenai peranan kebiasaan merokok terhadap perkembangan terjadinya leukoplakia oral semuanya menunjuk satu kesimpulan yang sama. Terdapat bukti kuat bahwa : Baik kanker mulut maupun leukoplakia oral dapat diinduksi dan dipicu oleh kebiasaan konsumsi tembakau;


Kebiasaan

merokok menunjukkan adanya peningkatan yang tajam terhadap angka insidensi dan mortalitas kanker orofaringeal baik pada pria maupun wanita di Hongaria dan beberapa negara di Eropa tengah


Proporsi pengguna tembakau pada individu dengan

leukoplakia jumlahnya tinggi, sehingga terdapat hubungan yang jelas antara kebiasaan konsumsi tembakau dengan lokasi lesi leukoplakia secara anatomi Pada penelitian cross-sectional telah ditunjukkan adanya prevalensi leukoplakia yang lebih tinggi diantara kalangan perokok daripada non-perokok Terdapat hubungan respon-dose antara kebiasaan penggunaan tembakau dengan terjadinya leukoplakia oral

Pada

penelitian eksperimen (intervensi) menunjukkan adanya regresi atau penurunan angka kejadian leukoplakia oral setelah diterapkan penghentian kebiasaan mengkonsumsi tembakau.

Terimakasih