Anda di halaman 1dari 10

1

PENGARUH WORD OF MOUTH COMMUNI CATIONS TERHADAP PROSES


PENGAMBI LAN KEPUTUSAN PEMBELI AN
(Survei pada pelanggan klinik kecantikan Auraku Skin Solution Ruko Perumahan Taman Mutiara
M - 8 Cimahi)

OLEH :
I KA LESTARI PUJ I ANA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh word of mouth
communications terhadap proses pengambilan keputusan pembelian pelanggan di klinik kecantikan
Auraku Skin Solution. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelanggan klinik
kecantikan Auraku Skin Solution pusat yang berlokasi di Cimahi. Pengambilan sampel dengan
menggunakan non-probabilitas teknik sampling dengan pendekatan purposive sampling. Penelitian ini
menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 100 pelanggan Auraku di Cimahi pada bulan Mei
sampai J uli 2012. Selanjutnya data dianalisis menggunakan deskriptif kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa word of mouth communications memiliki berpengaruh
positif dan signifikan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian pelanggan. Persamaan
adalah Y=15.411+0,988X. Variabel X mengacu pada word of mouth communications dan variabel Y
mengacu pada proses pengambilan keputusan pembelian. Setelah data diolah, dihasilkan nilai (r)
sebesar 0,660 menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat. Kontribusi pengaruh word of mouth
communications terhadap proses pengambilan keputusan pembelian pelanggan sebesar 43,5%, sisanya
56,5% dipengaruhi oleh variabel tidak diteliti. Uji hipotesis menunjukkan terdapat pengaruh antara
word of mouth communications dan proses pengambilan keputusan pembelian.
Kata kunci : Word Of Mouth Communications (WOMC), Proses Pengambilan Keputusan Pembelian
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dewasa ini klinik kecantikan berkembang pesat di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bahwa
kebutuhan manusia itu tidak terbatas, apabila sudah terpenuhi kebutuhan yang satu maka timbul
kebutuhan yang lain. Begitu pula dengan meningkatnya kebutuhan manusia terutama kebutuhan
mempercantik diri baik wanita maupun pria, maka bisnis di bidang klinik kecantikan makin
berkembang.
Kebanyakan klinik kecantikan menawarkan jasa cukup dengan pelayanan yang memuaskan
bagi pelanggannya. Di mana bisnis ini harus berorientasi kepada kepuasan pelanggan agar
2

memenangkan persaingan melalui penyampaian produk dan jasa berkualitas dengan harga bersaing.
Dengan cara ini secara tidak langsung dapat menyebarluaskan usaha ini dari mulut ke mulut atau
word of mouth communications.
Setiap orang melakukan word of mouth communications karena mereka ingin berbagi ide,
opini dan informasi. Meskipun produk dan jasa yang mereka gunakan dan rasakan memberikan
pengaruh baik atau buruk. Sangat wajar untuk membicarakannya kepada orang lain, terkadang lewat
word of mouthlah kita dapat mengetahui secara jujur informasi tentang sebuah produk dan jasa.
Dalamkegiatan pemasaran word of mouth communications merupakan satu aktivitas yang
dapat menghasilkan publisitas, kegembiraan, dan informasi kepada konsumen. Pada umumnya word
of mouth communications akan efektif apabila didukung oleh pengalaman riil, tanpa rekayasa
terhadap merek atau produk. Oleh karena itu, saat ini word of mouth communications mampu
dijadikan sarana utama dalam kegiatan pemasaran dengan alasan keberhasilannya dalam
meningkatkan penjualan low budget high impact marketing anggaran rendah dampak
pemasarannya tinggi (Ali Hasan, 2010:36-37).
Banyak perusahaan yang mengaplikasikan word of mouth communications menjadi bentuk
komunikasi pemasaran mereka. Hal tersebut diadaptasi dari kesuksesan word of mouth
communications yang dipercaya lebih efektif mempengaruhi keputusan membeli konsumen. Sumardy,
Marlin dan Melina dalambukunya yang berjudul The Power of Word of Mouth Marketing (2011)
menjabarkan beberapa contoh perusahaan yang sukses memanfaatkan konsep komunikasi dari mulut
ke mulut diantaranya agen 1000 Sunlight, Body Shop, Apple dan Tupperware.
Begitu pula dengan fenomena yang terjadi di lapangan, bahwa klinik kecantikan Auraku pun
menggunakan komunikasi dari mulut ke mulut selama menjalankan bisnisnya. Hal tersebut dipertegas
oleh hasil wawancara penulis dengan owner (22 Mei 2012, pukul 19:30) bahwa klinik Auraku
hanya memanfaatkan konsep pemasaran melalui komunikasi dari mulut ke mulut para pelanggannya.
Menurut Ali Hasan (2010:25) word of mouth dapat menjadi sumber informasi yang kuat
dalammempengaruhi keputusan pembelian. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil penelitian Ali
Hasan (2010). Dibuktikan dengan hasil riset nya pada tahun 2010 menggunakan 1900 unit analisis
dalam model persamaan struktural peran dominan pengetahuan konsumen, kualitas layanan,
kepuasan, kepercayaan, dan word of mouth dalammembangun niat pembelian. Diperoleh hasil secara
statistik sangat signifikan (to > 2,33, p < 0.1) dimana strategi word of mouth terbukti sangat
bermanfaat karena teridentifikasi sebagai faktor yang kuat dalampembelian industri jasa.
Klinik kecantikan merupakan salah satu industri jasa yang sering memanfaatkan strategi word
of mouth. Seperti yang kita tahu bahwa sangat jarang ditemui klinik kecantikan yang menggunakan
media promosi, mereka hanya berorientasi pada kualitas pelayanan untuk menciptakan kepuasan
pelanggan. Beberapa contoh klinik kecantikan yang telah lebih dulu sukses seperti Natasha, Erha,
Mira Beauty dan London Beauty Center (LBC) yang sudah mempunyai banyak cabang di Indonesia
ini tidak memfokuskan pada media promosi namun memanfaatkan informasi dari mulut ke mulut para
3

pelanggannya. Meskipun beberapa dari mereka pernah memanfaatkan media promosi salah satunya
Natasha pada tahun 2008 yang pernah melakukan promosi melalui media televisi. Namun hal tersebut
tidak berjalan secara terus menerus.
Klinik kecantikan dan perawatan saat ini sudah menjadi trend masyarakat perkotaan, hal ini
menjadikan peluang dan kesempatan besar bagi bisnis ini dalammeraih perhatian masyarakat Kota
Cimahi yang baru berkembang 12 tahun ini. Di Kota Cimahi hanya ada tiga klinik kecantikan dan
perawatan yaitu Auraku Skin Solution, Griya Geulis klinik Estetika dan Werisa Skin Care & Beauty
Center.
Berdasarkan data yang diperoleh dari admin klinik kecantikan tersebut, klinik Auraku
memiliki jumlah pelanggan terbanyak yang sebagian besar adalah masyarakat umum Kota Cimahi
maupun dari luar kota tanpa memanfaatkan media promosi apapun. Griya Geulis Klinik Estetika
memanfaatkan facebook dalammengenalkan produknya kepada konsumen, sedangkan Werisa Skin
Care & Beauty Center menggunakan poster sebagai alat promosinya.
Menurut hasil wawancara dengan owner klinik Auraku (22 Mei 2012 pada pukul 19.30),
setiap pelanggan baru yang ditanya langsung olehnya mengaku mengetahui klinik Auraku Skin
Solution pusat di Ruko Perumahan Taman Mutiara M-8 dari temannya yang lebih dulu melakukan
perawatan disini.
Berdasarkan pengamatan penulis dan hasil klarifikasi kepada pihak klinik Auraku tidak
pernah melakukan kegiatan promosi resmi dalambentuk iklan baik di media cetak maupun media
elektronik untuk mengkomunikasikan keberadaannya dan untuk meningkatkan penjualan. Meskipun
begitu, setiap harinya Auraku dikunjungi oleh 100 pelanggan dan telah memiliki sepuluh cabang.
Selama ini Auraku hanya menggunakan strategi pemasaran seperti, harga produk yang jauh lebih
murah dengan pesaing, lokasi yang strategis, kualitas produk dan memberikan pelayanan yang baik.
Dalam mengkomunikasikan produk kepada konsumen, klinik kecantikan ini menggunakan
konsep word of mouth communications. Hal tersebut menjadi alat pemasaran yang menguntungkan
bagi perkembangan pasar dan bisnisnya, di mana yang tadinya hanya membuka praktek di rumah kini
telah membuka cabang di tujuh kota di Indonesia. Namun, semua itu tidak lepas dari usaha-usaha
pemasaran Auraku yang sesuai dengan harapan pelanggan. Maka secara otomatis pelanggan secara
sukarela memasarkan Auraku kepada calon pelanggan yang biasanya adalah orang terdekat.
Pelanggan yang puas tidak hanya melakukan pembelian ulang saja, mereka akan memberi
tahu tentang pengalaman baik mereka dengan produk. Informasi positif yang didapat dari teman,
tetangga atau keluarga tersebut akan mengurangi risiko pembelian, karena calon konsumen akan
terlebih dulu melihat dan mengamati produk yang akan dibeli.
Komunikasi disini adalah jenis komunikasi pelanggan yang dapat mempengaruhi calon
konsumen dalammelakukan kegiatan konsumsinya. Kegiatan konsumsinya tidak hanya tindakan
tindakan membeli saja tetapi mencakup seluruh tahapan dalam proses pengambilan keputusan
4

pembelian. Meliputi, pencarian informasi, menentukan sumber informasi yang dipercaya, adanya
keterlibatan terhadap produk, hingga pengambilan keputusan untuk menentukan pembelian.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan Latar Belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu, Bagaimana
Pengaruh Word of Mouth Communications Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian
(survey pada pelanggan klinik Auraku Skin Solution di Cimahi).
MAKSUD DAN TUJ UAN PENELITI AN
Dalam penelitian ini ditetapkan beberapa maksud dan tujuan untuk menfokuskan
permasalahan dengan hasil laporan akhir adalah laporan akhir. Adapun maksud dan tujuan penulisan
adalah : Mengetahui bagaimana Pengaruh Word of Mouth Communications Terhadap Proses
Pengambilan Keputusan Pembelian (survey pada pelanggan klinik Auraku Skin Solution di Cimahi).
TI NJ AUAN TEORI
1. Komunikasi Pemasaran
Konsep komunikasi pemasaran menurut Shimp (2003:4) yaitu gabungan semua unsur dalam
bauran pemasaran merek, yang memfasilitasi terjadinya pertukaran dengan menciptakan suatu arti
yang disebarluaskan kepada pelanggan atau kliennya.
2. I ntegrated Marketing Communication (I MC)
Asosiasi Biro Iklan Amerika (American Association of Advertising Agencies) menyusun definisi
IMC atau komunikasi pemasaran terpadu dalamMorissan (2010:8) yaitu, suatu konsep perencanaan
komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah dari satu rencana komprehensif yang
mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplin ilmu komunikasi-misalnya, iklan umum, respons
langsung, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat-dan menggabungkan berbagai disiplin
tersebut guna memberikan kejelasan, konsistensi, serta dampak komunikasi yang maksimal.
Menurut Smith dan Taylor (2010:8) bauran promosi juga bisa dikatakan sebagai bauran
komunikasi (communication mix). Di mana terdapat beberapa alat komunikasi yang tersedia untuk
pemasar seperti berikut ini; Selling, Advertising, Sales promotion, Direct marketing, Publicity (and
public relation), Sponsorship, Exhibitions, Packaging, Point-of-sale and marchandising, Word Of
Mouth, E-marketing, dan Corporate identity.
3. Word of Mouth
Word of mouth menurut Sumardi, et al. (2010:67) adalah tindakan penyediaan informasi oleh
konsumen kepada konsumen lain. WOM sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu:
(a) Organic Word Of Mouth adalah WOM yang terjadi secara alami. Orang-orang yang merasa
senang dan puas pada sebuah produk, memiliki hasrat alami untuk membagi dukungan dan
antusiasme mereka.
(b) Amplified Word Of Mouth adalah WOM yang terjadi by design oleh perusahaan. WOM
jenis ini terjadi ketika pemasar/perusahaan melakukan kampanye yang dirancang untuk
mendorong atau mempercepat WOM pada konsumen.
5

Alasan mengapa orang ingin mendiskusikan produk atau pesan iklan menurut After Bone (1995)
dalamFill (2009: 52) mengacu pada tiga unsur word of mouth communications, yaitu;
1) Direction, input WOM di mana Pelanggan mencari rekomendasi sebelummembeli dan pada
output WOM yaitu ekspresi perasaan sebagai hasil dari pengalaman pembelian.
2) Valence; perasaan positif atau negatif yang dihasilkan dari pengalaman.
3) Volume; jumlah orang dimana pesan disampaikan.
4. Perilaku Konsumen
The American Marketing Association mendefinikan perilaku konsumen dalam Setiadi
(2008:3) Perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan
lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalamhidup mereka.
5. Proses Pengambilan Keputusan Pembelian
Pada proses pengambilan keputusan pembelian menggunakan model high-involvement
decision making process (proses pengambilan keputusan pembelian keteribatan-tinggi). Fill
(2010:176) mengungkapkan jika keterlibatan tinggi terjadi ketika konsumen merasakan pembelian
yang diharapkan yang tidak hanya dari relevansi pribadi tinggi tetapi juga merupakan tingkat resiko
yang tinggi dirasakan. Keterlibatan rendah terjadi ketika konsumen merasakan pembelian yang
diharapkan dengan sedikit ancaman atau risiko kepada pelanggan.
Ketika keterlibatan tinggi dalampengambilan keputusan, individu melihat tingkat resiko yang
tinggi dan memikirkan tentang pembelian dimaksud. Elemen penting dalamurutan ini adalah bahwa
banyak informasi yang dicari awalnya dan sikap dikembangkan sebelum komitmen atau niat untuk
percobaan ditentukan.
Pada pendekatan ini, konsumen bergerak melalui tahap-tahap proses keputusan dengan cara
linear, dan tingkat pemrosesan informasi yang tinggi terjadi pada setiap tahap (Mowen dan Minor,
2002: 6-7).
KERANGKA PEMI KI RAN












Direction
Valence
Volume
1. Pemberian informasi mengenai produk
2. Konsumen direkomendasikan produk
3. Konsumen didorong untuk melakukan pembelian terhadap produk
1. Perasaan positif yanng timbul dari informasi mengenai produk
2. Perasaan positif yang ditimbulkan dari cerita tentang pengalaman
konsumsi orang lain
3. Ketertarikan terhadap hasil produk yang terlihat nyata
1. Perolehan informasi mengenai produk didapatkan lebih dari satu
sumber WOMC
2. Banyaknya penerimaan informasi mengenai produk
Proses pengambilan
keputusan pembelian

1. Awareness
2. Entensive information
search
3. Attitude/interaction
4. Trial/experimentation
5. Long-run behavior

Sumber: Fill (2009: 179)

I nput Proses Output
6

METODE PENELITI AN
Penelitian ini termasuk kedalamstudi kausalitas yaitu penelitian yang menunjukan arah
hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, disamping mengukur kekuatan hubungannya
(Kuncoro, 2003:10).
Dalampenelitian ini alat pokok dalampengumpulan data yaitu dengan mengambil sampel
dari suatu populasi maka metode yang digunakan adalah metode survei. Kerlinger (1996) dalam
Riduwan (2011: 49) mengatakan metode survei merupakan metode penelitian yang dilakukan pada
populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari
populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar
variabel sosiologis maupun psikologis.
POPULASI DAN SAMPEL
1. Populasi
Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah 11.797 pelanggan yang melakukan
perawatan di klinik kecantikan Auraku Skin Solution Ruko Perumahan Taman Mutiara M - 8 Cimahi.
2. Sampel
Penelitian ini pengambilan sampling dilakukan dengan cara non probability dengan teknik
pengambilan sampel purposive sampling. Dalampenelitian ini peneliti mempunyai ketentuan dalam
menentukan sampel yaitu bagi pelanggan yang akan melakukan perawatan seperti facial, spa atau
mereka yang akan konsultasi di Klinik Auraku pusat. Ketentuan tersebut digunakan dengan
pertimbangan waktu yang dimiliki responden akan lebih banyak dibandingkan pelanggan yang hanya
sekedar membeli produk. Kuesioner disebarkan langsung kepada maksimal 5 orang responden yang
dianggap sesuai untuk dijadikan sampel untuk mewakili populasi penelitian.
Untuk mendapatkan berapa minimal sampel yang dibutuhkan jika ukuran populasi diketahui,
digunakan rumus dari Taro Yamane dalamRiduwan (2010: 65) sebagai berikut:
n =
N
N.d
2
+1

n =J umlah sampel
N =J umlah populasi
J
2
=Presisi yang ditetapkan 10% presentase kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan
pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir
n =
11.797
11.797.(0,1)
2
+1

n=
11.797
118,97

n=99,16
Berdasarkan pada perhitungan di atas jumlah sampel yang diambil sebesar 99,16 responden,
dan dibulatkan menjadi 100 responden.

7

PENGUMPULAN DATA
1. Data Primer, merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari
obyek penelitian. Peneliti menggunakan sumber data primer yang di peroleh melalui
wawancara dengan owner klinik kecantikan Auraku Skin Solution dan admin. Kemudian
juga kuesioner yang disebarkan kepada sejumlah sampel yaitu pelanggan klinik Auraku
pusat.
2. Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dari berbagai sumber lain berupa
literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu: buku-buku,
jurnal, internet, hasil riset, dan sumber lain mengenai word of mouth communications dan
proses pengambilan keputusan pembelian.
ANALI SIS DATA
Analisis Regresi Linear Sederhana. Untuk menganalisis data penulis menggunakan metode
statistika regresi linear sederhana, karena variabel yang dianalisis terdiri dari dua variabel yaitu
variabel independen (X) dan (Y). Kegunaannya ialah untuk meramalkan variabel terikat (Y) apabila
variabel (X) diketahui.
HASI L PENELITI AN
DESKRI PSI VARI ABEL I NDEPENDEN (WORD OF MOUTH COMMUNI CATI ONS)
Berdasarkan hasil perhitungan pada penelitian ini menunjukkan skor total dari keseluruhan
penilaian responden Word of Mouth Communications dengan menggunakan 3 elemen yaitu Direction,
Valence, dan Volume yaitu sebesar 76,72% , terletak di antara nilai interval 62,50% dan 81,25%.
Maka dengan demikian respon dari responden (pelanggan) untuk elemen pada variabel WOMC
berada pada kategori baik.
DESKRI PSI VARI ABEL DEPENDEN (PROSES PENGAMBI LAN KEPUTUSAN
PEMBELI AN)
Berdasarkan hasil perhitungan pada penelitian ini menunjukkan skor total dari keseluruhan
penilaian responden untuk kategori Proses Pengambilan Keputusan Pembelian dengan subvariabel
yang mencakup yang terdiri dari lima elemen ukuran, yakni awareness, extensive information search,
attitude/interaction, trial/experimentation dan long-run behavior sebesar 76,23%, terletak di antara
nilai interval 62,50% dan 81,25%. Maka dengan demikian respon dari responden (pelanggan) untuk
elemen pada variabel WOMC berada pada kategori baik.
ANALI SIS REGRESI LI NEAR SEDERHANA
Penelitian ini memiliki fokus untuk mengetahui pengaruh WOMC terhadap proses
pengambilan keputusan pembelian pada klinik kecantikan Auraku Skin Solution CImahi.
Pada persamaaan regresi yaitu Y = 15.411 + 0.988X, angka konstanta sebesar 15,411
menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari variabel WOMC (X), maka nilai proses
pengambilan keputusan pembelian (Y) adalah 15,411. Koefisien regresi sebesar 0,988 menyatakan
8

bahwa setiap penambahan (karena tanda +) satu skor atau nilai proses pengambilan keputusan
pembelian memberikan peningkatan skor sebesar 0,988. Dari persamaan tersebut dapat terlihat bahwa
variabel bebas, yaitu word of mouth communications berpengaruh positif terhadap proses
pengambilan keputusan pembelian dengan koefisiensi sebesar 0,988. Ini berarti bahwa ada pengaruh
positif dari word of mouth communications Klinik Kecantikan Auraku Skin Solution terhadap proses
pengambilan keputusan pembelian konsumen. Pengaruh positif ini menunjukkan semakin baik
penggunaan word of mouth communications, maka proses pengambilan keputusan pembelian
konsumen akan semakin baik pula.
Kemudian pada uji t dapat disimpulkan dengan membandingkan nilai t htung dengan t tabel.
J ika nilai t hitung lebih besar daripada t tabel, berarti H0 ditolak, atau dengan kata lain variabel word
of mouth communications berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap proses pengambilan
keputusan pembelian. Dimana pada penelitian ini nilai t tabel untuk N=100 ialah 1,6606 sedangkan t
hitung ialah 9,899. Kemudian seluruh perhitungan menunjukkan bahwa word of mouth
communications berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan pembelian sebesar 43,5%
sedangkan sisanya 56,5% dipengaruhi faktor lain.
SI MPULAN DAN SARAN
SI MPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil oleh peneliti terkait penelitian ini untuk menjawab identifikasi
masalah yang dipaparkan di awal ialah sebagai berikut :
1. Tanggapan responden (pelanggan) terhadap penerimaan word of mouth communications dari
pelanggan klinik kecantikan Auraku Skin Solution tergolong baik karena sebanyak 70% dari
responden tertarik dengan cerita pengalaman sumber WOMC mengenai produk. Dan dari hasil
perhitungan variabel WOMC didapatkan hasil 76,72% yang termasuk dalamkategori baik karena
berada dalamgaris kontinumantara 62,50% - 81,25%.
2. Proses pengambilan keputusan pembelian konsumen di klinik Auraku termasuk kedalamkategori
baik dengan persentasi 76,23% yang terletak antara rentang 62,50% dan 81,25%. Dimana dalam
proses pengambilan keputusannya, konsumen secara aktif dan dengan sengaja mencari informasi,
sebanyak 44% responden direkomendasikan oleh 2 orang, pelanggan pun melakukan percobaan
sebelumnya terhadap produk setelah sesuai dengan harapan, maka memutuskan untuk melakukan
perawatan secara rutin.
3. Hasil pengujian regresi linier sederhana menunjukkan bahwa variabel X (WOMC) berpengaruh
positif terhadap variabel Y (proses pengambilan keputusan pembelian). Pada pengujian analisis
korelasi Pearson menghasilkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,660 yang berarti kedua variabel
memiliki hubungan yang kuat. WOMC dikatakan kuat dalam mempengaruhi keputusan
konsumen karena memberikan manfaat kepada yang bertanya dengan pengalaman langsung
tentang produk melalui pengalaman teman dan kerabat. Hasil penelitian ini adalah word of mouth
communications memiliki pengaruh sebesar 43,5% terhadap proses pengambilan keputusan
9

pembelian. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa konsumen yang
memutuskan melakukan perawatan di klinik kecantikan Auraku Skin Solution setelah menerima
informasi dari mulut ke mulut (word of mouth communications) pelanggan klinik Auraku
(sumber WOMC) secara langsung.
SARAN
Saran Bagi Klinik Kecantikan Auraku Skin Solution
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka diajukan saran-saran
sebagai pelengkap terhadap hasil penelitian. Saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Pelanggan klinik kecantikan Auraku Skin Solution kebanyakan adalah wanita dewasa dengan
ekonomi diatas rata-rata, maka perlu adanya penyesuaian dengan karakteristik dan lifestyle
mereka untuk meningkatkan prestige dengan memperbaiki fasilitas seperti; memiliki desain
interior yang khas agar mewakili brand dari Auraku itu sendiri, ruang tunggu yang lebih luas,
ruangan yang difasilitasi wifi dan memperluas area parkir.
2. Klinik kecantikan Auraku Skin Solution perlu memiliki database pelanggan dengan
menggunakan peralatan yang lebih modern yang ditunjang dengan SDM yang diberikan
pelatihan ataupun disekolahkan agar lebih efektif dan efisien.
3. Dari hasil penelitian yang menunjukan bahwa WOMC berpengaruh kuat terhadap proses
pengambilan keputusan pembelian pelanggannya, maka dapat dijadikan sebagai strategi
pemasaran dengan mendorong terjadinya WOM (amplified WOM/by design) dengan
merangsang customer dengan memberikan reward setelah mengajak temannya atau
meberikan voucher facial gratis bagi pelanggan baru.
Saran Bagi Penelitian Selanjutnya
1. Sebaiknya penelitian selanjutnya tidak hanya mengulas tentang word of mouth
communications saja, tetapi juga bisa menggabungkan dengan strategi pemasaran
perusahaannya.
2. Peneliti selanjutnya dapat membuat penelitian mengenai studi Word of Mouth Commucations
namun dengan karakteristik bisnis yang berbeda.
3. Dalammelakukan penelitian selanjutnya, dapat menggunakan teknik analisis data dengan
pengujian tiap sub variabel sehingga dapat mendapatkan hasil kesimpulan secara spesifik.
4. Peneliti selanjutnya juga dapat menggunakan metode penelitian kualitatif ataupun kombinasi
(mixed methods) untuk mencari temuan dengan cara yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Ferrinadewi, Erna. (2008). Merek dan Psikologi Konsumen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Fill, Chris. (2009). Marketing Communications, (Edisi ke-5). Pearson Education Limited.
Hasan, Ali. (2010). Marketing dati Mulut ke Mulut. Yogyakarta: Media Pressindo.
10

Kotler, Philip dan Gary Armstrong. (2008). Prinsip-prinsip Pemasaran. (Terjemahan, Edisi ke-12
jilid 1). J akarta: PT Penerbit Erlangga.
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. (2009). Manajemen Pemasaran. (Terjemahan, Edisi ke-13 jilid
1). Jakarta: PT Penerbit Erlangga.
______________________________________. (2009). Manajemen Pemasaran. (Terjemahan, Edisi
ke-13 jilid 2). Jakarta: PT Penerbit Erlangga.
Mowen, J ohn C., dan Michael Minor. (2002). Perilaku Konsumen. (Terjemahan, Edisi ke-5 jilid 1).
J akarta: PT Penerbit Erlangga.
________________________________. (2002). Perilaku Konsumen. (Terjemahan, Edisi ke-5 jilid 2).
J akarta: PT Penerbit Erlangga.
Nitisusastro, Mulyadi. (2012). Perilaku Konsumen: DalamPerspektif Kewirausahaan. Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Prasetijo, Ristiyanti dan J ohn J .O.I Ihalauw. (2005). Perilaku Konsumen. Yogyakarta: Dani.
Rangkuti, Freddy. (2011). Riset Pemasaran. J akarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Riduwan., dan Achmad Engkos Kuncoro. (2011). Cara Mudah Menggunakan dan Memaknai Path
Analysis (Analisis J alur). Bandung: Alfabeta.
Riduwan. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. (2010). Bandung: Alfabeta.
Schiffman, Leon G., dan Leslie Lazar Kanuk. (2008). Perilaku Konsumen. (Terjemahan, edisi ke-7).
PT Indeks.
Shimp, Terence, A. (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu. (Terjemahan,
edisi ke-1 jilid 5). Jakarta: Erlangga.
Setiadi, Nugroho J . (2008). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian
Pemasaran. J akarta: Kencana.
Smith, P. R., dan J onathan Taylor. (2010). Marketing Communications: An Integrated Approach).
Sugiyono. (2009). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
________. (2011). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods. Bandung: Alfabeta
Sumardy, Marlin Silviana, dan Meilina Melone. (2010). The Power of Word of Mouth Marketing.
J akarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Supramono dan Oktavian J ony Haryanto. (2005). Desain Proposal Penelitian Studi Pemasaran.
Yogyakarta: Dani.
Suryani, Tatik. (2008). Perilaku Konsumen: Implikasi pada Strategi Pemasaran. (Edisi 1).
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Taniredja, Tukiran dan Mustafidah Hidayat. (2011). Penelitian Kuantitatif Sebuah Pengantar.
Bandung: Penerbit Alfabeta.
Tjiptono Fandy (2009). Service Marketing. Esensi dan Aplikasi. Yogyakarta: Marknesis.
Griffin W. Ricky dan Ebert J. Ronald (2007). Bisnis (edisi ke-8 jilid 1). Penerbit Erlangga.