Anda di halaman 1dari 10

FRAUD AUDITING AND FORENSIC ACCOUNTING RESUME CHAPTER 2 FRAUD PRINCIPLES DEFINISI : APAKAH FRAUD ITU?

Definisi fraud dapat berbeda-beda tergantung dari siapa yang mendefinisikannya dan bagaimana keadaan orang yang mendefinisikanya. Seseorang dapat mengartikan fraud dalam bentuk dari kecurangan yang disengaja (termasuk berbohong dan berbuat curang) adalah kebalikan dari kebenaran, keadilan, kejujuran, dan equity. Fraud juga dapat diartikan sebagai cedera. Seseorang dapat mengakibatkan orang lain cedera karena kekuatan atau melalui fraud. Fraud merupakan satu kata yang memiliki banyak definisi, diantaranya adalah sebagai berikut : Fraud sebagai tindak kriminal. Fraud (penipuan) merupakan kata yang menggambarkan segala perbuatan tidak jujur (curang) yang dirancang/dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh keuntungan, baik dengan cara mendiamkan, memperdaya, licik dan cara-cara tidak adil untuk mencurangi orang lain. Corporate Fraud adalah fraud yang dilakukan oleh, untuk, dan terhadap suatu korporasi bisinis. Management Fraud adalah kesalahan penyajian yang disengaja oleh perusahaan atau unit-unit kerja didalamnya yang dilakukan oleh karyawan dalam lingkungan manajemen perusahaan dengan tujuan promosi, bonus atau keuntungan ekonomis lainnya serta simbol status. Definisi Fraud menurut Layperson adalah ketidakjujuran dalam bentuk kecurangan yang disengaja atau kesalahan penyajian yang disengaja dari suatu fakta yang material. Definisi Fraud menurut ACFE dapat berupa fraud pada pekerjaan dan penyalahgunaannya (penipuan karyawan), yaitu seseorang yang menggunakan pekerjaannya untuk memperoleh keuntungan personal dengan cara penyalahgunaan atau mencuri sumber daya atau aset perusahaan; fraud atas laporan keuangan yaitu kesalahan penyajian yang disengaja dari keadaan keuangan perusahaan melalui kesalahan dan kelalaian dalam menyajikan jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabui pengguna laporan keuangan. Fraud sebagai kerugian. Pada Tahun 1887 US Supreme Court mendefinisikan fraud dari sisi masyarakat sipil sebagai : Pertama : Terdakwa merepresentasikan sebuah fakta material. Kedua : Representasi tersebut salah. Ketiga : Representasi tersebut tidak sepenuhnya dipercaya oleh terdakwa dengan dasar yang rasional untuk menyatakan bahwa hal tersebut adalah benar. Keempat : Representasi tersebut dibuat dan dilakukan dengan sengaja. Kelima : Hal tersebut dilakukan oleh complainant atas kerugian yang ditimbulkannya. Keenam : Hal yang dilakukan oleh complainant tersebut merupakan pengalihan atas kesalahannya, dan dipercaya sebagai kebenaran olehnya. Dari sisi hukum, bagian terpenting apabila telah terjadi fraud adalah pembuktian kesengajaan dari tindakan fraud tersebut. Apabila terdapat kejadian/kecurangan atas transaksi atau aktivitas yang merugikan perusahaan dan dilakukan dengan pola tertentu yang telah dirancang secara memadai maka hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat kesengajaan dalam kejadian tersebut dan dapat dinyatakan kejadian tersebut sebagai fraud.

SINONIM : PENIPUAN, PENCURIAN, DAN PENGGELAPAN Penipuan, pencurian, penyalahgunaan wewenang, ketidakwajaran, kejahatan kerah putih dan penggelapan merupakan jenis kata-kata yang sering digunakan secara bergantian. Walaupun seluruhnya memiliki kesamaan, namun dari sisi hukum sama sekali tidak sama. Misalnya, dalam hukum Inggris, pencurian diartikan sebagai mengambil dan membawa hak milik orang lain dengan

maksud untuk memilikinya, dalam pencurian tersebut pencurinya memiliki barang yang secara hukum bukan miliknya. Sedangkan dalam penggelapan, pelaku secara sah merupakan pemilik barang/properti namun digunakan oleh orang lain RISET KLASIK TENTANG FRAUD Fraud secara substansial sangat merugikan baik bagi masyarakat maupun dari segi bisnis secara individual, namun hanya sedikit orang yang mengerti tentang fraud tersebut. Untuk mengerti falsafah fraud serta ruang lingkup dan bagaimana fraud tersebut, maka diperlukan literatur-literatur terkait dengan fraud. Fraud biasanya dipersamakan dengan kejahatan kerah putih, hal ini antara lain disampaikan oleh Edwin H. Sutherland dalam White Collar Crime; Donald R. Cressey dalam Other Peoples Money; Norman Jaspan dan Hillel Black dalam The Thief in The Whit Collar; dan Frank E. Hartung dalam Crime, Law, and Society. SEGITIGA FRAUD Untuk mencegah, mendeteksi dan merespon adanya fraud, maka kita harus mengerti mengapa seseorang melakukan fraud. Salah satu model untuk mengerti perilaku fraud adalah Segitiga Cressey. Pada Tahun 1950 Cressey dalam disertasinya, bersama-sama dengan Sutherland melakukan wawancara kepada 200 narapidana yang melakukan penggelapan, dan menyimpulkan bahwa dalam setiap fraud terdapat tiga hal yang sama yaitu (1) tekanan (dhi dapat berupa motivasi dan biasanya kebutuhan sendiri); (2) rasionalisasi (dari etika); dan (3) pengetahuan dan kesempatan untuk melakukan kejahatan. Tekanan (Pressure) Tekanan atau motivasi merupakan kejadian yang terjadi dalam kehidupan pribadi seseorang sehingga mengakibatkan orang tersebut memiliki kebutuhan yang sangat mendesak yang pada akhirnya mendorong sesorang tersebut untuk melakukan pencurian. Kebutuhan tersebut biasanya dalam bentuk kebutuhan keuangan, misalnya seorang penjudi akan sangat membutuhkan uang yang banyak untuk memenuhi kebiasaannya tersebut sehingga melakukan pencurian untuk memenuhinya. Namun selain karena kebutuhan, dapat juga karena keserakahan yang mendorong orang-orang yang telah berkecukupan untuk melakukan fraud. Selain tekanan finansial, fraud juga dapat terjadi karena tekanan sosial dan politik. Seseorang dapat melakukan fraud agar posisinya dalam kekuasaan dapat diamankan, maka acapkali dia berbohong mengenai pandangannya terhadap sesuatu atau hal yang dilakukannya di masa lalu, atau fraud yang dilakukan untuk memenuhi status sosialnya sebagai orang kaya. Rasionalisasi Rasionalisasi merupakan alasan-alasan yang diungkapkan oleh pelaku fraud sebagai pembenaran atas tindakan yang dilakukannya. Misalnya: karena gajinya kecil sedangkan tugasnya berat maka dia mengambil sesuatau dari perusahaan, ketika ketahuan mencuri maka akan beralasan bahwa dia hanya meminjam dan akan dikembalikan nanti, dan lain sebagainya. Kesempatan Dalam penelitiannya Cressy menyatakan bahwa tindakan fraud dapat terjadi karena adanya pengetahuan dan kesempatan yang dimiliki oleh pelaku fraud. Pelaku biasanya memiliki pengetahuan atas kelemahan dari perusahaan dan kesempatan diperoleh karena pelaku berada dalam posisi yang sangat dipercaya di perusahaan tersebut. Faktor utama dari kesempatan seseorang dapat melakukan fraud adalah pengendalian intern dari perusahaan tersebut. Kesempatan tersebut akan membesar ketika pengawasan dari manajemen perusahaan sangat longgar dan pengendalian internal perusahaan tidak memadai sehingga menimbulkan motivasi seseorang untuk melakukan fraud. LINGKUP FRAUD

Lingkup terjadinya fraud adalah di hampir seluruh perusahaan menengah sampai dengan perushaan yang besar. Dari hasil penelitian yang dilakukan ACFE selama tahun 1996 2008 pada perusahaan-perusahaan di Amerika menunjukkan bahwa fraud yang terjadi mencapai 6% dari pendapatan per tahun. Terkait dengan financial fraud, terdapat penelitian yang dilakukan oleh COSO dan hasilnya diterbitkan pada tahun 1998. Dalam penelitian tersebut, dilakukan analisa atas kasus-kasus yang ditangani SEC pada tahun 1987-1997 dengan hasil yang menarik yaitu kebanyakan fraud pada perusahaan publik dilakukan oleh perusahaan kecil, dewan direktur didominasi oleh orang dalam dan berpengalaman, sekitar 83% dari kasus yang ada mengidentifikasikan fraud atas laporan keuangan dilakukan oleh eksekutif perusahaan, rata-rata fraud dilakukan diatas periode 23,7 bulan. Pada Tahun 2009 KPMG menerbitkan hasil survey yang dilakukan pada 204 orang eksekutif perusahaan dengan pendapatan perusahaan diatas $250 juta. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa resiko fraud meningkat ketika pengendalian atau program kepatuhan dalam perusahaan tidak memadai. Wilayah yang sangat perlu ditingkatkan adalah komunikasi dan pelatihan karyawan, pemeriksaan dan teknik monitoring secara kontinyu dengan berdasarkan teknologi, dan asessment resiko fraud. Berdasarkan laporan dari survey yang dilakukan oleh ACFE menunjukkan bahwa kerugian yang diderita akibat fraud selama 1996 s.d 2008 adalah 6% dari pendapatan yang dilaporkan pada tahun 1996, 2002 dan 2004, 5% pada Tahun 2006, dan 7% pada Tahun 2008. Dengan demikian lingkup dari fraud adalah rata-rata sebesar 6% dari ekonomi Amerika Serikat.

CIRI CIRI FRAUDSTERS Aspek kunci dari pencegahan dan pendektesian fraud adalah dengan memahami ciri pelaku kecurangan (fraudsters) berdasarkan jenis fraud yang dilakukan. Pelaku biasanya adalah orang yang sama sekali tidak dicurigai, sehingga menyebabkan fraud semakin sulit untuk dicegah ataupun dideteksi. Siapa yang Melakukan Fraud? Beberapa pandangan menyatakan bahwa fraud terjadi karena adanya dorongan dari luar kepada sang pelaku, seperti ekonomi, persaingan, faktor politik dan sosial, serta kemiskinan. Namun pada kenyataannya, beberapa orang cenderung melakukan fraud walaupun tidak ada faktor eksternal. Menurut Gwynn Nettler (Lying, Cheating, and Stealing), pelaku kecurangan dan penipuan adalah sebagai berikut: a. Orang yang pernah mengalami kegagalan lebih mungkin untuk melakukan kecurangan b. Orang yang tidak disukai dan tidak menyukai dirinya sendiri lebih mungkin untuk menipu (licik) c. Orang yang impulsif, mudah digoda, dan tidak sabar dalam memperoleh sesuatu lebih mungkin terlibat didalam penipuan. d. Orang yang memiliki perasaan takut akan ditangkap dan dihukum, lebih tahan terhadap godaan untuk melakukan penipuan. e. Orang cerdas cenderung lebih jujur daripada orang tidak tahu. Orang kelas mengengah ke atas cenderung lebih jujur daripada orang kelas bawah f. Semakin mudah untuk melakukan kecurangan dan pencurian, semakin banyak orang yang akan melakukannya. 3

g. Masing-masing orang memiliki tingkat kebutuhan berbeda yang akan mendorong untuk berbohong, berbuat curang, atau mencuri h. Kebohongan, Kecurangan, dan Pencurian meningkat ketika seseorang memiliki tekanan yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan i. Perjuangan untuk bertahan dapat menyebabkan ketidakjujuran. Perbuatan kebohongan, kecurangan, dan pencurian di tempat kerja dalam berbagai situasi diikuti dengan: 1. Variabel Personal Bakat / Kemampuan Sikap / Pilihan Kebutuhan / Keinginan Pribadi Nilai / Keyakinan 2. Variabel Organisasi Ruang lingkup pekerjaan Peralatan / Pelatihan yang disediakan Sistem pemberian penghargaan Kualitas manajemen dan supervisi Kejelasan tanggung jawab peran Kejelasan tujuan pekerjaan Kepercayaan antar pribadi Motivasi dan iklim etika kerja (nilai dan etika dari atasan dan rekan kerja) 3. Variabel Eksternal Tingkat kompetisi di dalam industri Kondisi perekonomian Nilai-nilai di dalam masyarakat (etika persaingan, sosial, dan model politik) Mengapa Karyawan Melakukan Kebohongan, Kecurangan, dan Pencurian di Tempat Kerja? Terdapat 25 alasan atas kejahatan karyawan yang sering ditemukan, antara lain: 4

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Karyawan percaya bahwa dia bisa lolos Karyawan berpikir bahwa dia sangat membutuhkan atau menginginkan uang tersebut Karyawan merasa frustasi atau tidak puas dengan beberapa aspek pekerjaannya Karyawan merasa frustasi atau tidak puas dengan beberapa aspek kehidupan pribadi yang tidak terkait dengan pekerjaannya Karyawan merasa tertekan oleh atasan dan ingin melakukan pembalasan Karyawan tidak peduli atas konsekuensi jika tertangkap Karyawan berpikir Semua orang melakukannya, kenapa saya tidak? Karyawan berpikir Keuntungan perusahaan sangat banyak, mencuri sedikit tidak akan menyakiti siapapun Karyawan tidak tahu bagaimana mengatur keuangannya sendiri, sehingga selalu bangkrut dan bersiap untuk mencuri

10. Karyawan merasa bahwa perbuatan tersebut adalah tantangan bukan hanya untuk keuntungan ekonomi 11. Karyawan kehilangan masa kecil karena masalah ekonomi, sosial, maupun budaya 12. Karyawan merasakan kekosongan dalam kehidupan pribadinya dan membutuhkan cinta, perhatian, dan persahabatan 13. Karyawan tidak memiliki pengendalian diri dan mencuri diluar dari keterpaksaan 14. Karyawan percaya temannya di tempat kerja telah mengalami penghinaan, penganiayaan atau diperlakukan secara tidak adil 15. Karyawan malas yang tidak mau bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan 16. Pengendalian internal organisasi yang sangat longgar sehingga membuat setiap orang tergoda untuk mencuri 17. Tidak pernah ada yang di tuntut karena mencuri dari organisasi 18. Sebagian besar karyawan yang mencuri tertangkap secara tidak sengaja daripada karena adanya audit atau sistem. Karena itu rasa takut tertangkap bukan menjadi halangan untuk terjadinya pencurian 19. Karyawan tidak didorong untuk mendiskusikan masalah pribadi atau keuangan di tempat kerja atau untuk mencari saran dan nasihat dari manajemen mengenai hal-hal tersebut 20. Pencurian oleh karyawan merupakan situasi yang situasional. Setiap pencurian terjadi pada kondisi tertentu dan setiap pelaku mempunyai motifnya masing-masing 5

21. Karyawan mencuri untuk alasan apapun yang muncul yang dapat dipikirkan dan dibayangkan. 22. Karyawan tidak pernah masuk penjara atau tuntutan yang keras untuk dipenjara karena melakukan pencurian, penipuan, atau penggelapan dari pemberi kerja mereka 23. Manusia adalah mahluk yang lemah dan rentan terhadap dosa 24. Karyawan masa sekarang memiliki moral, etika, dan kerohanian yang buruk 25. Karyawan cenderung untuk mengikuti atasan mereka, kalau atasan mereka mencuri atau berbuat curang, maka mereka juga cenderung untuk melakukannya. Agar dapat menghindari hal-hal tersebut, maka hukum harus dilaksanakan dengan baik, yaitu hukum harus rasional, adil dalam penerapannya, dan diterapkan secara cepat dan efisien. Kebijakan perusahaan terkait hal tersebut harus rasional, adil, dan ditujukan sepenuhnya untuk kepentingan ekonomi perusahaan. Perbuatan yang menyebabkan kehilangan, kerusakan atau kehancuran yang substansial atas aset perusahaan cukup serius untuk dilarang dan dihukum. Hukuman yang diberikan harus setimpal dan dapat menyebabkan efek jera, karena pada kenyataannya, kejahatan kerah putih masih terus terjadi karena hukuman yang diberikan atau konsekuensi atas perbuatan yang dilakukan masih dibawah ambang batas yang dapat diterima Pencuri High-Level dan Low-Level Pencurian pada tingkat yang lebih tinggi pada organisasi lebih mudah dilakukan karena dapat melewati kontrol perusahaan. Pencurian yang dilakukan oleh manajer cenderung lebih banyak daripada yang dilakukan oleh personel kelas rendah. Association of Certified Fraud Examiner (ACFE) Report To The Nation (RTTN) telah mengumpulkan ciri-ciri pelaku kecurangan berdasarkan survey yang dilakukan oleh CFEs. Semakin besar fraud dalam segi biaya dan kehilangan, dilakukan oleh fraudster yang (a) telah lama bekerja di perusahaan, (b) memiliki penghasilan yang tinggi, (c) biasanya pria, (d) usia di atas 60 tahun, (e) berpendidikan tinggi, (f) tidak bekerja sendiri, dan (g) tidak memiliki catatan kriminal. Sedangkan fraud yang lebih sering terjadi adalah fraud yang dilakukan oleh fraudster dengan ciri-ciri yang berbeda, yaitu (a) telah lama bekerja di perusahaan, (b) memiliki penghasilan yang rendah, (c) bisa pria atau wanita, (d) usia antara 41 sampai dengan 50 tahun, (e) lulusan sekolah menengah/kejuruan, (f) bekerja sendiri, dan (g) biasanya tidak memiliki catatan kriminal. Hall and Singleton juga memberikan ciri-ciri yang hampir sama secara general mengenai fraudster, yaitu (a) memiliki peran penting di perusahaan, (b) biasanya pria, (c) usia di atas 50 tahun, (d) telah menikah, dan (e) berpendidikan yang tinggi. Ciri-ciri tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh ACFE RTTN, sehingga dapat disimpulkan bahwa penjahat kerah putih tidak terlihat seperti kriminal SIAPA YANG PALING SERING MENJADI KORBAN FRAUDSTER? Pengendalian untuk melindungi dari fraud baik dari dalam maupun luar (vendor, supplier, atau kontraktor) haruslah memadai. Pengendalian tidak hanya dilakukan dari atas namun juga harus ada dukungan dari bawah. Pihak petinggi perusahaan harus dapat mempercayai bawahannya agar tercipta loyalitas dan kejujuran, karena rasa tidak percaya dari petinggi perusahaan kepada bawahannya biasanya menyebabkan terjadinya fraud. Namun, kepercayaan penuh tanpa adanya akuntabilitas juga merupakan benih terjadinya fraud. 6

Bukti empiris menunjukkan bahwa faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya fraud adalah karena kurangnya pemisahan tugas tanpa adanya pengendalian yang memadai biasanya terjadi pada perusahaan kecil. Sehingga biasanya perusahaan kecil memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya fraud. PENGKLASIFIKASIAN FRAUD Hampir seluruh survei tentang fraud memiliki sistem yang berbeda dalam pengklasifikasian fraud. Sementara beberapa memiliki kesamaan, beberapa yang lainnya menimbulkan masalah dalam kegiatan antifraud. Pengelompokan Secara Umum Atas Frauds a. Investor dan Konsumen Frauds Fraud dapat terjadi pada penjual, kreditor, investor, pemasok, bankir, pemerintah. b. Fraud Pidana dan Perdata atau otoritas

Fraud Pidana membutuhkan bukti adanya keinginan untuk melakukan penipuan, sedangkan fraud perdata harus ada kerugian yang diderita korban. c. Fraud yang menguntungkan dan merugikan perusahaan Fraud perusahaan dapat dikelompokan menjadi dua kategori, yaitu (1) fraud yang merugikan perusahaan, dan (2) fraud yang menguntungkan perusahaan. d. Fraud dari dalam dan dari luar perusahaan Fraud yang dilakukan oleh perusahaan atau manajemen dikategorikan sebagai internal fraud, sedangkan fraud eksternal adalah yang dilakukan oleh vendor, pemasok, dan kontraktor. e. Manajemen dan Non-Manajemen Fraud Fraud terjadi pada setiap level perusahaan, tidak hanya dilakukan oleh tingkat eksekutif (pemilik perusahaan), namun juga dilakukan oleh manajer perusahaan. Kategori Frauds Secara Spesifik Seperti yang telah dikemukakan di awal, fraud adalah perbuatan yang secara sadar untuk melakukan penipuan/kecurangan. Berdasarkan jenis fraud yang dilakukan, maka secara spesifik fraud memiliki banyak istilah lainnya, antara lain:

Accounts payable fabrication Accounts receivable lapping Bank fraud Bid rigging Cash lapping Check forgery Check kiting Consumer fraud Credit card fraud Duplicity Forged documents Industrial espionage Infringement of copyrights Expense account fraud False identity False information Insurance fraud Material misstatement Overbilling Price xing Procurement fraud Wire fraud dan sebagainya.

Hal tersebut menunjukkan betapa sulitnya untuk mengklasifikasikan fraud secara spesifik. KATEGORI DAN SPESIFIKASI FRAUD 8

Fraud merupakan bentuk penipuan yang dilakukan dengan sengaja, umumnya berupa suatu kebohongan atau penipuan. Akan tetapi pencurian dengan tipu daya dan penggelapan terkadang juga dikategorikan sebagai suatu fraud. Unsur utama fraud ialah landasan sama yang mereka bagi. Adapun klasifikasi dari fraud antara lain sebagai berikut: Fraud yang dilakukan oleh orang dalam perusahaan, yaitu: Penyimpangan kas dan pencurian Pemalsuan pengesahan cek Manipulasi piutang seperli lapping dan manipulasi atas tagihan piutang Manipulasi hutang seperti meningkatkan tagihan dari vendor. Manipulasi daftar gaji seperti menambah jumlah pegawai yang sebenarnya tidak ada. Manipulasi persediaan seperti mengklasifikasikan persediaan sebagai persediaan yang telah usang, rusak atau barang sampel. Suap oleh vendor, penyalur dan kontraktor kepada karyawan. Fraud yang dilakukan oleh pihak luar Fraud yang dilakukan oleh vendor, penyalur dan kontraktor, seperti mengganti barang dengan mutu yang lebih rendah, penagihan ganda, penagihan tetapi pengiriman kepada tempat yang lain. Korupsi yang dilakukan oleh karyawan vendor, Penyalur, dan kontraktor Korupsi yang dilakukan oleh pelanggan Frauds yang dilakukan oleh perusahaan Merekayasa keuntungan dengan cara memanipulasi penjualan, menilai terlalu rendah beban, losses dan kewajiban yang tidak dilaporkan, menunda pencatatatn pengembalian penjualan. Cek kitting Price fixing Penipuan terhadap pelanggan seperti mengganti dengan material yang lebih murah. Melanggar peraturan bidang pemerintah Korupsi oleh pelanggan Korupsi pada bidang politik Tambahan biaya atas kontrak pemerintah FRAUD TREE ACFE telah mengembangkan suatu model untuk menggolongkan fraud yang dikenal sebagai fraud tree, yang menggolongkan sekitar empat puluh sembilan skema fraud yang berbeda yang dikelompokkan pada kategori dan subkategori. Ke tiga kategori utama adalah ( 1) pernyataan yang tidak benar (fraudulent statements), ( 2) Penyalahgunaan aset, dan ( 3) korupsi. fraudulent statements biasanya dilaksanakan oleh para eksekutif. Merupakan fraud yang mengakibatkan kerugian yang paling tinggi namun jarang terjadi. Para eksekutif yang melakukan fraud biasanya didorong oleh motivasi yang berhubungan dengan harga saham di bursa saham. Penyalahgunaan Aset biasanya dilaksanakan oleh karyawan dan meliputi sejumlah besar rencana berbeda. Hal ini merupakan fraud yang paling umum terjadi akan tetapi tidak mengakibatkan biaya yang tinggi. Hal ini disebabkan fraud yang dilakukan merupakan transaksi yang tidak terlalu penting, terutama transaksi yang dilaksanakan oleh 9

individu, fraud ini sulit untuk dideteksi oleh pemeriksa intern ketika dilaksanakan pengawasan internal. Korupsi melibatkan sejumlah rencana, seperti penyuapan dan pemerasan, yang pada umumnya melibatkan seseorang di dalam perusahaan dan bekerjasama dengan seseorang di luar perusahaan, walaupun salah satu pihak tidak secara suka rela melaksanakannya. ACFE menggunakan Fraud tree karena dapat digunakan untuk mencegah terjadinya fraud. Contohnya, penyalahgunaan aset adalah kelompok fraud paling mungkin terjadi. Fraud ini akan dilakukan oleh karyawan garis depan yang berada pada posisi dipercaya. Namun jumlah kerugian yang terjadi tidak sebesar kelompok fraud lain. Jadi akan lebih baik jika entitas mempekerjakan fungsi audit internal untuk mengatasi kelompok fraud ini karena fraud ini tidak material, sehingga tidak perlu menggunakan auditor eksternal untuk mendeteksinya namun kelompok fraud ini sering terjadi sehingga tidak dapat diabaikan. EVOLUSI DARI FRAUD Kebanyakan fraud mengikuti suatu pola atau langkah-langkah di dalam proses terjadinya fraud. Ada perbedaan yang dipertimbangkan tergantung pada jenis fraud. Sebagai contoh, suatu skema fraud adalah tidak mencatatnya pada buku oleh karena itu fraud tersebut tidak perlu dirahasiakan. Demikian juga, motivasi untuk financial statement fraud pada umumnya sangat berbeda dari penipuan penyalahgunan aset. Suatu evolusi umum pada suatu fraud antara lain sebagai berikut: (1) Motivasi, (2) Kesempatan, (3) Dalih, Pembenaran, (4) Melaksanakan fraud, (5) Mengkonversi aset menjadi kas, (6) menyembunyikan kejahatan, (7) red flag, (8) Timbul kecurigaan atau mulai ditemukan, (9) Menentukan prediksi bahwa terjadi fraud, (10) teori/hipotesis/asumsi tentang fraud yang terjadi (11) investigasi terhadap fraud, (12) membuat laporan atas investigasi. (13) Disposisi; pemutusan kerja (14) Disposisi; Penuntutan (15) Pengadilan, penyajian bukti di pengadilan.

10