Anda di halaman 1dari 7

KETIDAKPASTIAN DALAM PENGUKURAN (A-1) I.

TUJUAN PERCOBAAN Menentukan ketidakpastian dalam pengukuran Menuliskan hasil pengukuran secara benar

II. ALAT-ALAT PRAKTIKUM DAN FUNGSINYA Kalkulator Berfungsi untuk membantu dalam proses perhitungan data manual. Seperangkat komputer Berfungsi sebagai alat pengolah data III. TINJAUAN PUSTAKA Pengukuran pada dasarnya berarti membandingkan suatu objek yang diukur dengan sesuatu objek lain yang sejenis yang ditetapkan sebagai satuan. Pengukuran biasanya dilakukan dengan berbagai macam alat ukur. Alat-alat ukur yang digunakan biasanya memiliki tingkat ketelitian yang bermacam-macam pula. Ketelitian didefinisikan sebagai ukuran ketepatan yang dapat dihasilkan dalam suatu pengukuran terhadap nilai sebenarnya, dan hal ini berhubungan dengan akurasi dari alat ukur yang digunakan dalam pengukuran. Proses pengukuran dalam praktikum fisika merupakan proses yang sangat penting untuk dilakukan secara teliti dan akurat. Hasil pengukuran terhadap suatu objek yang dihasilkan dari alat ukur harus menunjukkan ketelitian dan keakuratan yang tinggi. Namun, secara fakta karena keterbatasan alat ukur yang digunakan dan orang yang melakukan pengukuran, seringkali hasil pengukuran menunjukkan nilai yang bukan sebagaimana mestinya. Dari proses pengukuran yang berulang-ulang seringkali dihasilkan nilai pengukuran yang berbeda-beda.

PENULISAN NILAI PENGUKURAN Melihat dari fakta diatas, maka dalam penulisan hasil pengukuran suatu hasil pengukuran harus disertai dengan ketidakpastian (sesatannya), sebagai: X = X0 X, dimana X0 = nilai hasil pengukuran, dan X = nilai sesatan/ ketidakpastian mutlak Yang menyatakan nilai X berada pada interval X0 - X X X0 + X. Nilai X dipilih sekecil mungkin dan dapat mengandung informasi yang berarti. Semakin kecil nilai ketidakpastian mutlak (X) maka nilai pengukuran makin mendekati nilai sebenarnya. Misalnya kita mempunyai nilai pengukuran panjang suatu benda adalah 23,7 0,005, berarti nilai 0,005 merupakan nilai sesatan pada hasil pengukuran panjang benda tersebut. Nilai X0 dan X didapat dari pengukuran melalui alat ukur. Suatu nilai sesatan sangat erat berkaitan dengan kaidah-kaidah statistik (dalam pengukuran data berulang )serta kaidah-kaidah angka penting. Angka penting yang dinyatakan dalam X menentukan kedekatan nilai pengukuran dengan nilai sebenarnya. Banyaknya angka yang harus dituliskan bergantung pada nilai sesatannya. Jika angka pertama (selain nol) pada sesatannya bernilai 1,2,3, atau 4, maka sesatannya dapat ditulis dengan dua angka berarti. Sedangkan jika angka pertama tersebut lebih besar dari 4, maka sesatannya ditulis satu angka saja. Adapun aturan pembulatan adalah sebagai berikut: Jika angka awal yang akan dihilangkan kurang dari 5, maka angka tersebut dibulatkan ke bawah, misal 1,342 dibulatkan menjadi 1,3 Jika angka awal yang akan dihilangkan lebih dari 5, maka angka tersebut dibulatkan ke atas, misalnya 2,879 dibulatkan menjadi 2,9 Jika angka awal yang dihilangkan sama dengan 5, diusahakan agar angka sebelumnya menjadi genap.

TEKNIK PENGUKURAN Dalam fisika pengukuran dibagi menjadi dua jenis pengukuran yaitu pengukuran langsung dan pengukuran tidak langsung. Pengukuran langsung merupakan pengukuran yang dilakukan terhadap besaran pokok objek yang akan diukur seperti berat objek yang diukur dengan menggunakan timbangan, neraca dan sebagainya, panjang objek yang diukur menggunakan mistar, jangka sorong ataupun mikrometer, dan suhu objek yang diukur menggunakan termometer. Sedangkan pengukuran tidak langsung ialah pengukuran yang menghitung suatu besaran lain dimana nilainya didapat dari besaranbesaran lain, misalnya mengukur massa jenis suatu benda () yang dapat diukur setelah terlebih dahulu menghitung massa dan volume objek yang diukur. Pengukuran akan menghasilkan data, namun kumpulan data pun bisa didapatkan dengan cara sampel. Syarat sampel ialah bahwa sampel tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan dan dapat mewakili data yang lain dalam satu kumpulan data tersebut, artinya karakteristik data lainnya trcermin pula dalam sampel yang diambil itu. A. Sesatan Pada Pengukuran Langsung Pengukuran langsung dibagi menjadi pengukuran sekali dan pengukuran berulang. Pada pengukuran langsung sekali, maka nilai X 0 merupakan hasil pembacaan, dan sesatannya merupakan sesatan taksiran. Nilai sesatan taksiran bergantung pada ketelitian alat ukur yang digunakan dan keberanian orang yang melakukan pengukuran untuk menyatakan nilai hasil pengukuran. Jika pengukuran dilakukan berulang-ulang maka X0 dan X ditentukan berdasarkan konsep statistik. Nilai X0 ditaksir dengan nilai rata-rata X yaitu:
N

X =

X
i =1

.(1)

Sedangkan sesatannya merupakan sesatan statistik, dapat dipilih simpangan baku terhadap nilai rata-rata:

SX =

SX = N

[X
N i =1

X]

(2)

N ( N 1)

Dengan:

SX =

[X
N i =1

X]

..(3)

N 1

Makna statistik dari ungkapan ini adalah bahwa jika pengukuran diulang berkalikali, dan setiap kali pengulangan dihitung nilai rata-ratanya, B. Sesatan Pada Pengukuran Tidak Langsung Pengukuran tidak langsung berarti kita mengukur suatu besaran yang dihitung dari variabel (besaran) lain. Misalnya kita menghitung massa jenis suatu zat cair. Massa jenis berarti massa zat per volume zat tersebut. Oleh karena dalam pengukuran massa ataupun volume terdapat sesatan, maka nilai dari massa jenis pun mengalami sesatan atau tidak didapat hasil yang seharusnya. Penentuan sesatan dari pengukuran tidak langsung dapat dibedakan atas tiga masalah: semua sesatan pengukuran merupakan sesatan taksiran jika semua sesatan pengukuran merupakan sesatan taksiran, maka sesatan dari pengukuran tak langsung yang diperoleh dapat ditentukan sebagai :
F = F X X +
X ,Y ,

F y

y +...
X ,Y ,

(4) dengan tingkat kepercayaan 100%. Semua sesatan pengukuran merupakan sesatan statistik

Jika semua sesatan pengukuran berasal dari sesatan statistik, maka dengan tingkat kepercayaan 68% penjalaran sesatannya dapat ditentukan sebagai berikut :

F F = x

2 X ,Y ,

F ( X ) 2 +

y X ,Y ,

( y ) 2 +... ...

(5) Sesatan pengukurannya merupakan campuran dari sesatan taksiran dan sesatan statistik. Sedangkan jika sesatan pengukurannya merupakan campuran dari sesatan taksiran dan statistik, maka tingkat kepercayaannya dijadikan 68% dengan mengalikan kesalahan taksiran 2/3, kemudian digunakan rumus sesatan statistik (persamaan-5). IV. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Dikumpulkan data yang bersifat acak kemudian menentukan nilai rata-rata ( X ), simpangan baku ( S X ), dan simpangan baku terhadap nilai rata-ratanya ( S X ), serta menuliskan pelaporan nilai besaran tersebut. 2. Dikumpulkan kumpulan data kedua yang memenuhi hubungan y = ax2, menghitung nilai variabel y dan x kemudian menentukan nilai a serta nilai ketidakpastiannya, kemudian menuliskan pelaporannya. 3. Dikumpulkan kumpulan data ketiga yang memenuhi hubungan y = ax2, kemudian menentukan nilai a serta kesalahannya, kemudian menuliskan pelaporannya. 4. Menjalankan program PRAKT1 yang telah diinstal di komputer, kemudian pilihlah MENU untuk mengolah kumpulan data-data yang telah diberikan asisten, kemudian mencatat hasil yang diperoleh, serta membandingkannya dengan perhitungan dengan menggunakan kalkulator.

V. TUGAS PENDAHULUAN 1. Tulislah hasil pengukuran berikut ini secara benar : a. 46,984354 2,76832 5

b. 356,29874 832469 c. 12,34234 0,65123 d. 6567548 23632 Jawab: a. 47,0 2,8 b. (3,56 0,08) 102 c. 12,3 0,7 d. (6,567 0,023) 106 2. Tentukan perumusan kesalahan pada penentuan rapat massa silinder alumunium jika massa silinder alumunium diukur sekali pengukuran, sedangkan diameter dan panjang silinder alumunium diukur berulang kali. Jawab:

3. Apakah perbedaan makna antara S X dan S X

Jawab:
S X = simpangan baku
S X = simpangan baku terhadap nilai rata-ratanya

PUSTAKA Kanginan, Marthen. 1999. Fisika 2000 Jilid 1A. Jakarta:Erlangga. Sudjana. 2000. Statistika Untuk Ekonomi dan Niaga. Bandung:Tarsito. White, Harvey. 1980. Modern College Physics. Tokyo:Charles E. Turtle Company.