P. 1
KELOMPOK 1 - STRUKTUR BANGUNAN

KELOMPOK 1 - STRUKTUR BANGUNAN

|Views: 80|Likes:
Dipublikasikan oleh Feri Arrahman
strukur bangunan menurut undang-undang
strukur bangunan menurut undang-undang

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Feri Arrahman on Apr 15, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2013

pdf

text

original

STRUKTUR BANGUNAN

KELOMPOK I
BRAMSON MANIK (0907114102) FIAN SYAUQI (0907121292)

KELAS C

STRUKTUR BANGUNAN

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG

STRUKTUR BANGUNAN

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Penyelenggaraan bangunan gedung adalah kegiatan pembangunan yang meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran. Pemanfaatan bangunan gedung adalah kegiatan memanfaatkan bangunan gedung sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan, termasuk kegiatan pemeliharaan, perawatan, dan pemeriksaan secara berkala.
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

Pemeliharaan adalah kegiatan menjaga keandalan bangunan gedung beserta prasarana dan sarananya agar selalu laik fungsi.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

 Bangunan gedung diselenggarakan berlandaskan asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya.  hemat, tidak berlebihan, efektif dan efisien, serta sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan teknis yang disyaratkan

 semaksimal mungkin menggunakan material yang mudah didapatkan
 terarah dan terkendali sesuai rencana, program dan fungsi pengguna gedung,
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Pengaturan bangunan gedung bertujuan untuk:

• mewujudkan bangunan gedung yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungannya; • mewujudkan tertib penyelenggaraan bangunan gedung yang menjamin keandalan teknis bangunan gedung dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan; • mewujudkan kepastian hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung.
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

Undang-undang ini mengatur ketentuan tentang bangunan gedung yang meliputi fungsi, persyaratan, penyelenggaraan, peran masyarakat, dan pembinaan.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Meliputi Fungsi :
FUNGSI HUNIAN KEAGAMAAN FUNGSI USAHA

SOSIAL & BUDAYA

FUNGSI KHUSUS

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Meliputi Fungsi :
FUNGSI HUNIAN KEAGAMAAN FUNGSI USAHA

SOSIAL & BUDAYA

FUNGSI KHUSUS

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Meliputi Fungsi :
FUNGSI HUNIAN KEAGAMAAN FUNGSI USAHA

SOSIAL & BUDAYA

FUNGSI USAHA

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Meliputi Fungsi :
FUNGSI HUNIAN KEAGAMAAN FUNGSI USAHA

SOSIAL & BUDAYA

FUNGSI USAHA

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Meliputi Fungsi :
FUNGSI HUNIAN KEAGAMAAN FUNGSI USAHA

SOSIAL & BUDAYA

FUNGSI USAHA

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Meliputi Fungsi :
FUNGSI HUNIAN KEAGAMAAN FUNGSI USAHA

SOSIAL & BUDAYA

FUNGSI USAHA

reaktor nuklir, instalasi pertahanan dan keamanan, dan bangunan sejenis yang diputuskan oleh menteri
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Klasifikasi bangunan menurut tingkat kompleksitas: • bangunan dengan karakter sederhana,
BANGUNAN SEDERHANA serta memiliki kompleksitas dan teknologi sederhana, • masa penjaminan kegagalan bangunan adalah 10 tahun

BANGUNAN TDK SEDERHANA

BANGUNAN KHUSUS
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

Contoh: •bangunan gedung kantor dengan jumlah lantai s.d. 2 lantai dan luas hingga 500 m2 •bangunan rumah tidak bertingkat •gedung pelayanan kesehatan sederhana •gedung pendidikan dasar/lanjutan dengan jumlah lantai s.d. 2 lantai

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Klasifikasi bangunan menurut tingkat kompleksitas: • Bangunan dengan karakter tidak
BANGUNAN SEDERHANA sederhana, serta memiliki kompleksitas dan atau teknologi yang tidak sederhana • Masa penjaminan kegagalan adalah 10 tahun •Contoh: •gedung kantor yang belum ada prototipenya, atau luas lebih dari 500 m2, atau gedung lebih dari 2 lantai •bangunan rumah lebih dari 2 lantai atau rumah susun •bangunan rumah sakit •gedung pendidikan tinggi, atau pendidikan dasar/lanjuta lebih dari 2 lantai

BANGUNAN TDK SEDERHANA

BANGUNAN KHUSUS
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Klasifikasi bangunan menurut tingkat kompleksitas: • Bangunan yang memiliki penggunaan
BANGUNAN SEDERHANA dan persyaratan khusus Masa penjaminan kegagalan 10 tahun •Contoh:

BANGUNAN TDK SEDERHANA

BANGUNAN KHUSUS
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

•Istana presiden •Wisma negara •Instalasi nuklir •Instalasi pertahanan dan keamanan •Gedung laboratorium •Stasiun kereta api •Stadion olah raga •Rumah tahanan •Gudang benda berbahaya •Gedung bersifat monumental

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. 1. Persyaratan Administratif Bangunan Gedung 2. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas Bangunan Gedung 3. Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung 4. Persyaratan Pengendalian Dampak Lingkungan 5. Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung 6. Persyaratan Keselamatan 7. Persyaratan Kesehatan 8. Persyaratan Kenyamanan 9. Persyaratan Kemudahan 10.Persyaratan Bangunan Gedung Fungsi Khusus
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

1. Persyaratan Administratif Bangunan Gedung

• status hak atas tanah, dan/atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah, • status kepemilikan bangunan gedung, dan • izin mendirikan bangunan gedung, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas Bangunan Gedung

Meliputi koefisien dasar bangunan (KDB), koefisien lantai bangunan (KLB), dan jumlah lantai bangunan. tinggi maksimum, Jarak bebas bangunan gedung
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

KDB (Koefisien Dasar Bangunan)

Adalah nilai persen yang didapat dengan membandingkan luas lantai dasar dengan luas kavling. kalau kita mempunyai lahan 300 m2 dan KDB yang ditentukan 60% maka areal yang dapat kita bangun hanya 60% x 300 m2 = 180 m2. Kalau lebih dari itu artinya kita melebihi KDB yang ditentukan. Kurangi lagi ruang yang dianggap tidak terlalu perlu. Sisa lahan digunakan untuk ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area resapan air.
KLB (Koefisien Luas Bangunan) Kalau KDB hanya melibatkan luas lantai dasar, maka KLB melibatkan seluruh lantai yang kita desain termasuk lantai dasar itu sendiri. Cara perhitungannya tetap sama yaitu membandingkan luasan seluruh lantai dengan luas kavling yang ada Contoh, setelah kita menghitung luas lantai dasar beserta lantai atasnya ternyata luasannya 200 m2. Kalau lahannya 200 m2, maka nilai KLB bangunan kita adalah 1.0. Kalau ditentukan KLB di rumah kita 1.2, maka nilai KLB kita masuk. Yang tidak boleh adalah melebihi dari yang ditentukan.

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

KETINGGIAN BANGUNAN. Yang dimaksud dengan ketinggian bangunan adalah berapa lantai yang diijinkan oleh developer di area tersebut yang dapat dibangun. Ketinggian bangunan ini sebenarnya hanya untuk menciptakan skyline lingkungan yang diharapkan. Yang sering terjadi di lapangan adalah ketinggian bangunan melebihi dari yang ditentukan. Misalnya area tersebut adalah area perumahan dengan ketinggian rata-rata 2 lantai, karena tanahnya kecil sementara ruangan yang diperlukan banyak, maka rumahnya mencapai 4 lantai seperti halnya ruko-ruko. Itu yang tidak boleh. Skyline lingkungan tidak terbentuk. Bisa dibayangkan ada bangunan tinggi di antara bangunan rendah. Atau sebaliknya, di area cluster untuk rumahrumah yang besar dengan ketinggian rata-rata 2 lnatai ada bangunan kecil dengan ketinggian 1 lantai. Apa yang terjadi? Tentu saja suasana lingkungan yang diharapkan tidak tercipta semestinya.
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

3. Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung

a. Syarat penampilan bangunan gedung b. Syarat Tata ruang dalam c. Syarat keseimbangan, keserasian dan keselarasan bangunan gedung
Wujud arsitektur: 1. mengutamakan fungsi bangunan 2. seimbang, serasi dengan lingkungan 3. indah namun tidak berlebihan 4. efisien dalam pemanfaatan dan pemeliharaan 5. mempertimbangkan nilai sosial budaya 6. memperhatikan kaidah pelestarian bangunan (sejarah dan langgam arsitektur)

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

4. Persyaratan Pengendalian Dampak Lingkungan

a.

Syarat-syarat penampilan bangunan gedung Penerapan persyaratan pengendalian dampak lingkungan hanya berlaku bagi bangunan gedung yang dapat menimbulkan dampak penting yaitu perubahan yang sangat mendasar pada suatu lingkungan yang diakibatkan oleh suatu kegiatan terhadap lingkungan.

b. Persyaratan lingkungan bangunan gedung meliputi :

Ruang terbuka hijau pekarangan, ruang sempadan bangunan, tapak basement, hijau pada bangunan, sirkulasi dan fasilitas parkir, pertandaan, pencahayaan ruang luar bangunan gedung
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

c. Persyaratan terhadap dampak lingkungan berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 15.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

5. Persyaratan Keandalan Bangunan Gedung

Persyaratan keandalan bangunan gedung adalah keadaaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang telah ditetapkan berdasarkan fungsi bangunan gedung
6. Persyaratan Keselamatan

Persyaratan keselamatan bangunan gedung meliputi :
 Persyaratan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan  Persyaratan kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

 Persyaratan kemampuan bangunan gedung dalam mencegah bahaya petir

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

7. Persyaratan Kesehatan

a. b. c. d.

Persyaratan sistem penghawaan. Persyaratan Ventilasi Persyaratan pencahayaan Sanitasi, meliputi : 1) 2) 3) 4) Sistem air bersih Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah. Sistem pembuangan kotoran dan sampah Sistem penyaluran air hujan.

e. Persyaratan penggunaan bahan bangunan gedung
8. Persyaratan Kenyamanan
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

Persyaratan kenyamanan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan Antar ruang, kondisi udara dalam ruang, pandangan, serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

9. Persyaratan Kemudahan

Persyaratan kemudahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) meliputi kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan gedung, serta kelengkapan prasarana dan sarana dalam pemanfaatan bangunan gedung.

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Penyelenggaraan bangunan gedung meliputi kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran.
Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, penyelenggara berkewajiban memenuhi persyaratan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Bab IV undang-undang ini. Penyelenggara bangunan gedung terdiri atas pemilik bangunan gedung, penyedia jasa konstruksi, dan pengguna bangunan gedung. Pemilik bangunan gedung yang belum dapat memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Bab IV undang-undang ini, tetap harus memenuhi ketentuan tersebut secara bertahap.
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Peran masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung dapat : a. memantau dan menjaga ketertiban penyelenggaraan; b. memberi masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam penyempurnaan peraturan, pedoman, dan standar teknis di bidang bangunan gedung; c. menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan, rencana teknis bangunan gedung tertentu, dan kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan; d. melaksanakan gugatan perwakilan terhadap bangunan gedung yang mengganggu, merugikan, dan/atau membahayakan kepentingan umum.

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Pemerintah menyelenggarakan pembinaan bangunan gedung secara nasional untuk meningkatkan pemenuhan persyaratan dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 16 Desember 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Ttd
STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

BAB I

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII

Setiap pemilik dan/atau pengguna yang tidak memenuhi kewajiban pemenuhan fungsi, dan/atau persyaratan, dan/atau penyelenggaraan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini dikenai sanksi administratif dan/atau sanksi pidana.

NEXT

STRUKTUR BANGUNAN 2013 KELOMPOK 1 KELAS C

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN

ANSWER

JAKARTA. Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan, banyak daerah belum memiliki peraturan daerah (perda) terkait standar dan kualitas bangunan. Jika ini berlangsung lama, dikhawatirkan banyak gedung di Indonesia rawan roboh jika ada gempa bumi. Dalam catatan Kementerian PU, sampai akhir tahun 2012, ada 353 kabupaten/kota yang belum memiliki Perda Bangunan Gedung dari total 498 kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Padahal, Perda Bangunan Gedung diwajibkan sesuai amanat Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Guratno Hartono, Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan, Kementerian PU mengatakan, pihaknya kesulitan mendorong daerah membuat perda bangunan gedung karena UU Bangunan Gedung itu tidak menyertakan sanksi jika ada daerah yang membangkang.

banyak Pemda membuat Peraturan Daerah tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk tujuan menambah pendapatan asli daerah (PAD).
Namun di sisi lain pengawasan pemerintah terhadap implementasi, serta partisipasi dan kesadaran masyarakat masih lemah.

Jangka waktu diberikan untuk pelaksanaan UUBG tersebut adalah delapan tahun sampai seluruh wilayah Indonesia memiliki Perda yang mendukung. Namun, setelah sepuluh tahun berlalu, belum semua daerah memiliki Perda yang mendukung UUBG. "UUBG mengamanatkan target 2012. Waktunya sudah lewat, baru sedikit daerah yang memiliki Perda BG. Setelah dipacu dengan pendampingan pemerintah, jumlahnya bertambah. Berdasarkan pengalaman, pada 2020 nampaknya mungkin seluruh daerah memiliki Perda BG," ujar Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum, Hartono Guratno, di acara "Kampanye Satu Dasawarsa Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung" di Jakarta, Rabu (15/8/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagian besar wilayah Indonesia masuk daerah rawan bencana gempa bumi. Tapi, mayoritas bangunan di daerah rawan lindu tidak memenuhi standar nasional sehingga bangunan-bangunan tersebut rawan ambruk ketika gempa mengguncang. Kondisi tersebut bukan tak mungkin terjadi. Padahal, di sisi lain pemerintah pusat sudah mengeluarkan aturan main soal standar bangunan antigempa. Ketentuan ini termaktub dalam Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Sayangnya, masih banyak pemerintah daerah yang belum menindaklanjuti beleid itu dengan menerbitkan peraturan daerah (perda).

Menurut Guratno, UU No. 28/2002 mewajibkan setiap pemilik gedung mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB) dan sertifikat layak fungsi (SLF). Faktanya, saat ini masih banyak gedung yang berdiri tanpa IMB, apalagi SLF. Ridwan Kamil, pakar arsitektur, bilang, dalam menerapkan UU No. 28/2002, yang terpenting adalah pengawasan dari pemerintah.

"Banyak fakta menunjukkan, IMB belum terbit tapi bangunan sudah berdiri atau sebaliknya,” ujar dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

REFERENSI : http://properti.kompas.com/ http://wartapedia.com/nasional/nusantara/ http://nasional.kontan.co.id/ http://bolmutpost.com

Copyright @ 2013 - ppt designed by Fian Syauqi

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->