Anda di halaman 1dari 3

Spektroskopi Infra Merah (Infrared Spectroscopy)

Infra merah (infrared) merupakan salah satu dari spektrum gelombang elektromagnetik yang memiliki jumlah gelombang antara 10 sampai 14000 per cm (panjang gelombang 0.8 1000 m). Area spektrum ini berada di antara spektrum microwave (dengan panjang gelombang yang lebih panjang) dan spektrum cahaya tampak (dengan panjang gelombang lebih pendek). Spektrum cahaya tampak (visible) sendiri adalah panjang gelombang yang dapat diterima oleh retina mata manusia yang dapat diterjemahkan menjadi spektrum warna, seperti warna pada pelangi (mejikuhibiniung). Bohlam lampu memancarkan spektrum cahaya tampak sehingga mata kita dapat menangkap cahaya yang dipancarkannya. Meskipun demikian, bohlam memancarkan gelombang dalam spektrum cahaya tampak hanya sekitar 10% dari total gelombang elektromagnetik yang dipancarkan, sedangkan sisanya merupakan adalah gelombang infrared yang tidak dapat kita lihat.

Seperangkat instrumen FTIR

Dalam bidang kimia analisis, salah satunya dalam analisis dan identifikasi suatu senyawa organik, aplikasi spektrum gelombang elektromagnetik memainkan fungsi yang sangat vital. Dua spektrum yang luas dimanfaatkan adalah ultraviolet dan infrared ini. Dalam aplikasinya keduanya menggunakan prinsip yang hampir sama, yaitu absorbansi atau penyerapan gelombang elektromagnetik oleh suatu senyawa kimia.

Bagan sistem kerja FTIR dengan interferometer-nya

Dalam kimia organik, suatu senyawa memiliki beberapa gugus fungsi, setiap gugus fungsi mampu menyerap gelombang elektromagnetik pada spektrum atau panjang gelombang tertentu. Prinsip inilah yang digunakan untuk identifikasi jenis atau karakter suatu senyawa kimia. Untuk instrumen analisis (spektrofotometer), desain dari penggunaan infrared dan ultraviolet sedikit berbeda. Untuk infrared mengaplikasikan sistem FTIR (Fourier Transform Infrared), di mana dengan interferometer, mekanisme pancaran spektrum elektromagnetiknya pada range tertentu (biasanya pada wavenumber range 400-4000 cm-1) terjadi secara simultan, sehingga prosesnya lebih cepat. Berbeda dengan ultraviolet spectroscopy yang yang menggunakan monochromator dimana, spektrum gelombang ultraviolet (biasanya pada range 200-800 nm) dipancarkan secara berturutan.

Potassium bromide disk.

Sampel yang akan dianalisis menggunakan infrared spektrofotometer dicampur dengan senyawa garam yang tidak mengintervensi adsorbansi gelombang infrared oleh senyawa yang diidentifikasi. Jenis garam yang biasa digunakan adalah potasium bromida (KBr), yang kemudian setelah dicampur dengan sampel, dicetak dalam bentuk sebuah piringan (disk). Disk inilah yang kemudian dimasukkan dalam spektrofotometer. Untuk alat FTIR modern, dengan penambahan instrumen tertentu telah mampu menganalisa sampel dalam bentuk larutan, sehingga lebih praktis.

Spektrum IR dari Kalopanaxsaponin-A

Data yang dihasilkan dari infrared spektrofotometer berupa spektrum dengan beberapa peak pada wavenumber (jumlah gelombang) tertentu yang diwujudkan dengan satuan (cm-1) dan intensitas peak dalam (%). Spektrum inilah yang kemudian dianalisis berdasarkan kriteria atau ciri khas dari suatu gugus fungsi, di mana memiliki nilai wavenumber yang spesifik untuk gugus fungsi tertentu. Pembahasan mengenai identifikasi gugus fungsi ini akan dibuat dalam artikel terpisah.