Anda di halaman 1dari 27

I. II. III. IV. V.

Judul Waktu Percobaan Selesai Percobaan Tujuan Percobaan Dasar Teori

: Sifat Koligatif Larutan : Selasa, 9 April 2013 ;14.0 WIB : Selasa, 9 April 2013; 16.30 WIB : Mempelajari pengaruh jenis larutan terhadap titik didihnya :

a. Pengertian Sifat Koligatif Larutan Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang hanya dipengaruhi oleh jumlah partikel zat terlarut di dalam larutan dan tidak dipengaruhi oleh sifat dari zat terlarut. Larutan merupakan campuran homogen antara dua atau lebih zat. Adanya interaksi antara zat terlarut dan pelarut dapat berakibat terjadinya perubahan sifat fisis dari komponen-komponen penyusun larutan tersebut.

Gambaran umum sifat koligatif

b. Molalitas (m)
Molalitas (kemolalan) adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarutMolalitas didefinisikan dengan persamaan berikut

Keterangan : m = molalitas larutan (mol / kg) n = jumlah mol zat terlarut (g / mol) P = massa pelarut (g) Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.

c. Sifat Koligatif Larutan Nonelektrolit


Meskipun sifat koligatif melibatkan larutan, sifat koligatif tidak bergantung pada interaksi antara molekul pelarut dan zat terlarut, tetapi bergatung pada jumlah zat terlarut yang larut pada suatu larutan. Sifat koligatif terdiri dari penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik

Penurunan Tekanan Uap


Marie Francois Raoult (1830 - 1901) ilmuwan yang menyimpulkan tentang tekanan uap jenuh larutan Molekul zat cair yang meninggalkan permukaan menyebabkan adanya tekanan uap zat cair. Semakin mudah molekul - molekul zat cair berubah menjadi uap, makin tinggi pula tekanan uap zat cair. Apabila tekanan zat cair tersebut dilarutkan oleh zat terlarut yang tidak menguap, maka partikel - partikel zat terlarut ini akan mengurangi penguapan molekul - molekul zat cair. Laut mati adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. Air berkadar garam sangat tinggi ini terletak di daerah gurun yang sangat panas dan kering, serta tidak berhubungan dengan laut bebas, sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi[3]. Persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis :

P0 P

dimana

P0 > P

Keterangan :

P0 = tekanan uap zat cair murni P = tekanan uap larutan Pada tahun 1808, Marie Francois Raoult seorang kimiawan asal Perancis melakukan percobaan mengenai tekanan uap jenuh larutan, sehingga ia menyimpulkan tekanan uap jenuh larutan sama dengan fraksi mol pelarut dikalikan dengan tekanan uap jenuh pelarut murni Persamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis. Kesimpulan ini dikenal dengan Hukum Raoult dan dirumuskan denganPersamaan penurunan tekanan uap dapat ditulis P = P0 x Xp = P0 x Xt

Keterangan :

P = tekanan uap jenuh larutan P0 = tekanan uap jenuh pelarut murni Xp = fraksi mol zat pelarut Xt = fraksi mol zat terlarut

Kenaikan Titik Didih


Titik didih zat cair adalah suhu tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini, tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara di sekitarnya. Hal ini menyebabkan terjadinya penguapan di seluruh bagian zat cair. Titik didih zat cair diukur pada tekanan 1 atmosfer Dari hasil penelitian, ternyata titik didih larutan selalu lebih tinggi dari titik didih pelarut murninya Hal ini disebabkan adanya partikel - partikel zat terlarut dalam suatu larutan menghalangi peristiwa penguapan

partikel - partikel pelarut Oleh karena itu, penguapan partikel - partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar. Perbedaan titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni di sebut kenaikan titik didih yang dinyatakan dengan ( ). Persamaannya dapat ditulis:

Keterangan :

Tb = kenaikan titik didih kb = tetapan kenaikan titik didih molal m = massa zat terlarut Mr = massa molekul relative Tabel Tetapan Kenaikan Titik Didih (Kb) Beberapa Pelarut Pelarut Aseton Benzena Kamfer Karbon tetraklorida Sikloheksana Naftalena Fenol Air Titik Didih 56,2 80,1 204,0 76,5 80,7 217,7 182 100,0 Tetapan (Kb) 1,71 02,53 05,61 04,95 02,79 05,80 03,04 00,52

Penurunan Titik Beku


Adanya zat terlarut dalam larutan akan mengakibatkan titik beku larutan lebih kecil daripada titik beku pelarutnya. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut

Keterangan :

Tf = penurunan titik beku kf = penurunan titik beku molal m = molal larutan Mr = massa molekul relatif Tabel Penurunan Titik Beku (Kf) Beberapa Pelarut Pelarut Aseton Benzena Kamfer Karbon tetraklorida Sikloheksana Naftalena Fenol Air Titik Beku -95,35 5,45 179,8 -23 6,5 80,5 43 0 Tetapan (Kf) 2,40 5,12 39,7 29,8 20,1 6,94 7,27 1,86

Tekanan Osmotik
Van't Hoff

Tekanan osmosis adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel (proses osmosis) . Membran semipermeabel adalah suatu selaput yang dapat dilalui molekul - molekul pelarut dan tidak dapat dilalui oleh zat terlarut. Menurut Van't Hoff, tekanan osmotik larutan dirumuskan PV = nRT Karena tekanan osmosis = , maka :

Keterangan :

= tekanan osmotik M = molaritas larutan R = tetapan gas ( 0,082 ) T = suhu mutlak

Tekanan osmosis

Larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih rendah dari yang lain disebut larutan Hipotonis. Larutan yang mempunyai tekanan lebih tinggi dari yang lain disebut larutan Hipertonis. Larutan yang mempunyai tekanan osmosis sama disebut Isotonis.

Penurunan Tekanan Uap Jenuh

Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapan berkurang.

Gambaran penurunan tekanan uap Menurut Roult : p = po . XB keterangan: p : tekanan uap jenuh larutan

po : tekanan uap jenuh pelarut murni XB : fraksi mol pelarut Karena XA + XB = 1 , maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi :

Po P = Po . XA keterangan: P : penuruman tekanan uap jenuh pelarut po : tekanan uap pelarut murni

XA : fraksi mol zat terlarut

d. Sifat Koligatif Larutan Elektrolit


Pada konsentrasi yang sama, sifat koligatif larutan elektrolit memliki nilai yang lebih besar daripada sifat koligatif larutan non elektrolit.. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit di dalam pelarutnya mempunyai kemampuan untuk mengion. Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada konsentrasi yang sama. Untuk larutan elektrolit kuat, harga derajat ionisasinya mendekati 1, sedangkan untuk elektrolit lemah, harganya berada di antara 0 dan 1 (0 < < 1). Atas dasar kemampuan ini, maka larutan elektrolit mempunyai pengembangan di dalam perumusan sifat koligatifnya. Banyaknya partikel zat terlarut hasil reaksi ionisasi larutan elektrolit dirumuskan dalam faktor Van't Hoff. Perhitungan sifat koligatif larutan elektrolit selalu dikalikan dengan faktor Van't Hoff

Keterangan :

= faktor Van't Hoff n = jumlah koefisien kation = derajat ionisasi

Penurunan Tekanan Uap Jenuh

Rumus penurunan tekanan uap jenuh dengan memakai faktor Van't Hoff adalah =P0

Kenaikan Titik Didih

Persamaannya adalah =

Penurunan Titik Beku

Persamaannya adalah : =

Tekanan Osmotik

Persamaannya adalah = Sifat-Sifat Reagen a. Gula (C12H22O11) Gula merupakan larutan non elektrolit yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. Jika gula dilarutkan dalam air, molekul-molekulnya tidak terionisasi dalam larutan, sehingga tidak ada ion yang bermuatanyang dapat menghantarkan arus listrik. b. Garam dapur (NaCl) Garam merupakan larutan elektrolit kuat. Jika garam dilarutkan dalam air, maka ia akan terurai menjadi ion.

Sifat NaCl : Berbentuk kristal Mudah larut dalam air (36 gr/100 ml air dari pada 20oC) Dalam bentuk bubuk bersifat higroskopis Banyak terdapat di udara (dari air laut) Campuran NaCl dengan es cair mencapai -20oC.

E. PENERAPAN PENURUNAN TEKANAN UAP Laut mati adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap pelarut oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. Air berkadar garam sangat tinggi ini terletak di daerah gurun yang sangat panas dan kering, serta tidak berhubungan dengan laut bebas, sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi. Pada saat berenang di laut mati, kita tidak akan tenggelam karena konsentrasi zat terlarutnya yang sangat tinggi. Hal ini tentu saja, dapat dimanfaatkan sebagai sarana hiburan atau rekreasi bagi manusia. Penerapan prinsip yang sama dengan laut mati dapat kita temui di beberapa tempat wisata di Indonesia yang berupa kolam apung. F. PENERAPAN PENURUNAN TITIK BEKU 1. Membuat Campuran Pendingin Cairan pendingin adalah larutan berair yang memiliki titik beku jauh di bawah 0 oC. Cairan pendingin digunakan pada pabrik es, juga digunakan untuk membuat es putar. Cairan pendingin dibuat dengan melarutkan berbagai jenis garam ke dalam air. Pada pembuatan es putar cairan pendingin dibuat dengan mencampurkan garam dapur dengan kepingan es batu dalam sebuah bejana berlapis kayu. Pada pencampuran itu, es batu akan mencair sedangkan suhu campuran turun. Sementara itu, campuran bahan pembuat es putar dimasukkan dalam bejana lain yang terbuat dari bahan stainless steel. Bejana ini kemudian dimasukkan ke dalam cairan pendingin, sambil terus-menerus diaduk sehingga campuran membeku. 2. Antibeku pada Radiator Mobil Di daerah beriklim dingin, ke dalam air radiator biasanya ditambahkan etilen glikol. Di daerah beriklim dingin, air radiator mudah membeku. Jika keadaan ini dibiarkan, maka radiator kendaraan akan cepat rusak. Dengan penambahan etilen glikol ke dalam air radiator diharapkan titik beku air dalam radiator menurun, dengan kata lain air tidak mudah membeku. 3. Antibeku dalam Tubuh Hewan Hewan-hewan yang tinggal di daerah beriklim dingin, seperti beruang kutub, memanfaatkan prinsip sifat koligatif larutan penurunan titik beku untuk bertahan hidup. Darah ikan-ikan laut mengandung zat-zat antibeku yang mempu menurunkan titik beku air hingga 0,8oC. Dengan demikian, ikan laut dapat bertahan di musim dingin yang suhunya mencapai 1,9oC karena zat antibeku yang dikandungnya dapat mencegah pembentukan kristal es dalam jaringan dan selnya. Hewan-hewan lain yang tubuhnya mengandung zat antibeku antara lain serangga ,

ampibi, dan nematoda. Tubuh serangga mengandung gliserol dan dimetil sulfoksida, ampibi mengandung glukosa dan gliserol darah sedangkan nematoda mengandung gliserol dan trihalose. 4. Antibeku untuk Mencairkan Salju Di daerah yang mempunyai musim salju, setiap hujan salju terjadi, jalanan dipenuhi es salju. Hal ini tentu saja membuat kendaraan sulit untuk melaju. Untuk mengatasinya, jalanan bersalju tersebut ditaburi campuran garam NaCL dan CaCl2. Penaburan garam tersebut dapat mencairkan salju. Semakin banyak garam yang ditaburkan, akan semakin banyak pula salju yang mencair. 5. Menentukan Massa Molekul Relatif (Mr) Pengukuran sifat koligatif larutan dapat digunakan untuk menentukan massa molekul relatif zat terlarut. Hal itu dapat dilakukan karena sifat koligatif bergantung pada konsentrasi zat terlarut. Dengan mengetahui massa zat terlarut (G) serta nilai penurunan titik bekunya, maka massa molekul relatif zat terlarut itu dapat ditentukan. C. 1. PENERAPAN TEKANAN OSMOSIS

Mengontrol Bentuk Sel Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmosis yang sama disebut isotonik. Larutanlarutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih rendah daripada larutan lain disebut hipotonik. Sementara itu, larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih tinggi daripada larutan lain disebut hipertonik. Contoh larutan isotonik adalah cairan infus yang dimasukkan ke dalam darah. Cairan infus harus isotonik dengan cairan intrasel agar tidak terjadi osmosis, baik ke dalam ataupun ke luar sel darah. Dengan demikian, sel-sel darah tidak mengalami kerusakan. 2. Mesin Cuci Darah Pasien penderita gagal ginjal harus menjalani terapi cuci darah. Terapi menggunakan metode dialisis, yaitu proses perpindahan molekul kecil-kecil seperti urea melalui membran semipermeabel dan masuk ke cairan lain, kemudian dibuang. Membran tak dapat ditembus oleh molekul besar seperti protein sehingga akan tetap berada di dalam darah. 3. Pengawetan Makanan Sebelum teknik pendinginan untuk mengawetkan makanan ditemukan, garam dapur digunakan untuk mengawetkan makanan. Garam dapat membunuh mikroba penyebab makanan busuk yang berada di permukaan makanan. 4. Membasmi Lintah Garam dapur dapat membasmi hewan lunak, seperti lintah. Hal ini karena garam yang ditaburkan pada permukaan tubuh lintah mampu menyerap air yang ada dalam tubuh sehingga lintah akan kekurangan air dalam tubuhnya. 5. Penyerapan Air oleh Akar Tanaman Tanaman membutuhkan air dari dalam tanah. Air tersebut diserap oleh tanaman melalui akar. Tanaman mengandung zat-zat terlarut sehingga konsentrasinya lebih tinggi daripada air di sekitar tanaman sehingga air dalam tanah dapat diserap oleh tanaman. 6. Desalinasi Air Laut Melalui Osmosis Balik Osmosis balik adalah perembesan pelarut dari larutan ke pelarut, atau dari larutan yang lebih pekat ke larutan yang lebih encer. Osmosis balik terjadi jika kepada larutan diberikan tekanan yang lebih besar dari tekanan osmotiknya.

Osmosis balik digunakan untuk membuat air murni dari air laut. Dengan memberi tekanan pada permukaan air laut yang lebih besar daripada tekanan osmotiknya, air dipaksa untuk merembes dari air asin ke dalam air murni melalui selaput yang permeabel untuk air tetapi tidak untuk ion-ion dalam air laut. Tanpa tekanan yang cukup besar, air secara spontan akan merembes dari air murni ke dalam air asin. Penggunaan lain dari osmosis balik yaitu untuk memisahkan zat-zat beracun dalam air limbah sebelum dilepas ke lingkungan bebas.

VI.

Alat dan Bahan

: 8 buah 1 buah 2 buah 1 buah 2 buah 2 buah 1 buah 1 buah 450 mL 4,08 gram 23,94 gram

1. Gelas kimia 100 mL 2. Gelas ukur 50 mL 3. Kaki tiga dan kasa 4. Termometer 5. Pembakar spirtus 6. Kaca arloji 7. Statif dan klem 8. Spatula 9. Aquades 10. Garam dapur (NaCl) 11. Gula (C12H22O11)

VII. Prosedur : mL aquades 25 mL aquades 25 25 mL aquades Kerja 1. Kenaikan titik didih larutan elektrolit dan non elektrolit

- Dimasukkan ke dalam gelas kimia - Ditambahkan 3,42 g gula

- Dimasukkan ke dalam gelas kimia - Ditambahkan 0,58 g

- Dimasukkan ke dalam gelas kimia - Dipanaskan hingga

Suhu

Suhu

Suhu

Garam dapur - Dipanaskan hingga mendidih - Dicatat suhunya - Dipanaskan hingga mendidih - Dicatat suhunya

mendidih - Dicatat suhunya

2. Kenaikan suhu larutan elektrolit dan non elektrolit 50 mL aquades - Dimasukkan ke dalam gelas kimia 1a, 2a, 3a, 4a - Dipanaskan hingga mendidih - Dicatat suhunya Suhu - Ditambahkan gula ke dalam gelas kimia 1a, 2a, 3a, 4a masing-masing 3,42 g; 6,84 g; 10,26 g; 13,68 g - Diaduk sampai gula larut semua - Dipanaskan hingga mendidih - Dicatat suhunya 50 mL aquades - Dimasukkan ke dalam gelas kimia 1b, 2b, 3b, 4b - Dipanaskan hingga mendidih - Dicatat suhunya Suhu - Ditambahkan garam dapur ke dalam gelas kimia 1b, 2b, 3b, 4b masing-masing 0,58 g; 1,17 g; 1,75 g; 2,35 g - Diaduk sampai gula larut semua - Dipanaskan hingga mendidih - Dicatat suhunya Suhu Suhu

VIII. Data Pengamatan Prosedur Percobaan


elektrolit dan non elektrolit Tabung 1
50 ml Aquades

: Hasil Pengamatan Hipotesis Kesimpulan Berdasarkan NaCl (s) + H2O (l) NaCl
(aq)

1. Kenaikan titik didih larutan Suhu Awal aquades:

1. Tabung 1 : 30 C 2. Tabung 2 : 30 C 3. Tabung 3 : 30 C

percobaan yang kami lakukan, urutan titik didih dari yang paling rendah ke titik didih yang paling tinggi adalah pelarut murni (aquades), larutan non elektrolit (gula), dan yang paling tinggi adalah larutan elektrolit (garam).

-dimasukkan kedalam gelas kimia -ditambahkan 3,42 gram gula -dipanaskan hingga mendidih -dicatat suhunya

C12H22O11 (s) + H2O (l) C12H22O11 (aq) Suhu Akir Pemanasan: 1. Tabung 1 : 95 C (aquades) 2. Tabung 2 : 97 C (Gula) 3. Tabung 3 : 98 C (Garam)

suhu
Tabung 2
50 ml

Aquades

-dimasukkan ke dalam gelas kimia -ditambahkan garam dapur -dipanaskan hingga mendidih 0,58 gram

-dicatat suhunya

suhu

Tabung 3 50 ml aquades -dimasukkan kedalam gelas kimia -dipanaskan hingga mendidih -dicatat suhunya

suhu 2. Kenaikan

suhu

larutan Percoban 1 Suhu aquades: 1. Tabung 1a : 95 C 2. Tabung 2a : 95 C 3. Tabung 3a : 95 C 4. Tabung 4a : 95 C Awal pemanasan

NaCl (s) + H2O (l) NaCl Berdasarkan


(aq)

elektrolit dan non elektrlit


Aquades

percobaan yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa massa zat terlarut mempengaruhi titik didih larutan. Semakin besar massa zat terlarut, semakin besar pula titik

-dimasukkan ke dalam gelas


kimia 1a,2a,3a,4a masingmasing 50 ml aquades -dipanaskan mendidih -dicatat suhunya hingga

C12H22O11

(s)

+ H2O

(l)

C12H22O11 (aq)

suhu
-ditambahkan gula ke dalam gelas kimia 1a,2a,3a,4a masing-masing 3,42 gr,6,84 gr,10,26 gr,13,68 gr -diaduk sampai gula larut semua -dipanaskan mendidih -dicatat suhunya hingga

Suhu Akir Setelah Penambahan Gula: 1. Tabung 1b: 97 C (3,42 gr) 2. Tabung 2b: 98 C (6,84 gr) 3. Tabung 3b: 98 C(10,26 gr) 4. Tabung 4b: 99 C(13,68 gr)

didihnya.

suhu

Aquades

Percoban 2 pemanasan

-dimasukkan ke dalam gelas Suhu Awal kimia 1b,2b,3b,4b masing- aquades: masing 50 ml -dipanaskan hingga mendidih -dicatat suhunya

1. Tabung 1 : 95 C 2. Tabung 2 : 95 C 3. Tabung 3 : 95 C 4. Tabung 4 : 95 C

suhu
-ditambahkan garam dapur ke dalam 1b,2b,3b,4b gr gelas kimia

masing-masing Suhu Akir Pemanasan:

0,58 gr,1,17 gr,1,75 gr,2,35 1. Tabung 1 : 98 C (0,58 gr)

2. Tabung 2 : 99 C (1,17 gr)

-diaduk sampai garam dapur 3. Tabung 3 : 100 C (1,75 gr) larut semua 4. Tabung 4 : 102 C (2,35 gr) -dipanaskan hingga mendidih -dicatat suhunya

suhu

IX.

Analasis Data

Pada percobaan pertama, tabung 1, 2, dan 3 yang masing-masing berisi 50 ml aquades, memiliki suhu awal yang sama yaitu 30 C. Setelah penambahan zat terlarut dan dipanaskan, titik didih larutan berubah. Pada tabung 1 yang hanya berisi aquades, setelah dipanaskan titik didihnya berubah menjadi 95oC. Pada tabung 2 yang berisi aquades, setelah penambahan zat terlarut (gula) sebesar 3,42 gram dan dipanaskan, titik didihnya berubah menjadi 97 oC. Pada tabung 3 yang berisi aquades, setelah penambahan zat terlarut (garam) sebesar 0,58 gram dan dipanaskan, titik didihnya berubah menjadi 98oC. Pada percobaan kedua, tabung 1a, 2a, 3a, 4a, 1b, 2b, 3b, dan 4b yang masing-masing berisi 50 ml aquades, setelah dilakukan pemanasan titik didihnya sebesar 95oC. Setelah penambahan zat terlarut dan dipanaskan kembali, titik didih larutan berubah. Pada tabung 1a, 2a, 3a dan 4a ditambahkan zat terlarut (gula) yang masing-masing sebesar 3,42 gram, 6,84 gram, 10,26 gram dan 13,68 gram. Setelah penambahan zat terlarut tersebut, masing-masing tabung dipanaskan kembali, dan didapatkan titik didih larutan masing-masing sebesar 97oC, 98oC, 98oC, dan 99oC. Pada tabung 1b, 2b, 3b, dan 4b ditambahkan zat terlarut (garam) yang masing-masing sebesar 0,58 gram, 1,17 gram, 1,75 gram dan 2,35 gram. Setelah penambahan zat terlarut tersebut, masing-masing tabung dipanaskan kembali, dan didapatkan titik didih larutan masingmasing sebesar 98oC, 99oC, 100oC, dan 102oC.

X.

Pembahasan Percobaan 1 Berdasarkan teori, titik didih larutan elektrolit lebih besar dari pada titik didih larutan non-elektrolit dan titik didih pelarut murni. Hal ini disebabkan karena larutan elektrolit memiliki partikel (penghalang untuk melepaskan uap) yang lebih besar dibandingkan dengan larutan non-elektrolit sehingga larutan elektrolit memerlukan suhu yang besar untuk melepaskan uap-uapnya. Misalnya saja pada larutan gula (nonelektrolit) dan larutan garam (elektrolit). Jika gula pasir (nonelektrolit) dilarutkan ke dalam air, gula pasir akan terhidrasi ke dalam bentuk molekul-molekulnya. Akibatnya, jika satu mol gula pasir dilarutkan dalam air, akan dihasilkan satu mol molekul gula pasir di dalam larutan itu seperti reksi berikut : C12H22O11(s) C12H22O11(aq) Satu molal gula pasir dapat meningkatkan titik didih hingga 1,86C. Sedangkan jika garam dapur (elektrolit) dilarutkan dalam air, garam tersebut akan terionisasi membentuk ion Na+ dan Cl atau terbentuk dua mol ion seperti reksi berikut :. NaCl(s) Na+(aq) + Cl(aq)

Satu molal larutan garam dapur dapat meningkatkan titik didih menjadi dua kali lipat titik didih non-elektrolit atau setara dengan 3,72C. Sedangkan pada pelarut murni (aquades) yang dipanaskan, memiliki titik didih paling rendah karena dalam pelarut murni tersebut tidak terdapat zat terlarut sehingga tidak ada penghalang bagi pelarut murni untuk melepaskan uap nya. Hal ini mengakibatkan pelarut murni tidak memerlukan titik didih yang tinggi untuk melepaskan uap-uapnya. Selain hal tersebut, alasan mengapa larutan elektrolit memiliki titik didih yang paling besar adalah karena larutan elektrolit memiliki faktor Vant Hoff yaitu parameter untuk mengukur seberapa besar zat terlarut berpengaruh terhadap sifat koligatif (yang dalam hal ini adalah kenaikan titik didih larutan). Faktor Vant Hoff dihitung dari besarnya konsentrasi sesunguhnya zat terlarut yang ada di dalam larutan dibanding dengan konsentrasi zat terlarut hasil perhitungan dari massanya. Dalam faktor Vant Hoff ini, derajat ionisasi sangat berpengaruh untuk menentukan besarnya faktor Vant Hoff. Derajat ionisasi adalah kemampuan suatu larutan untuk mengion. Larutan elektrolit mampu terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit dan pelarut murni, tidak terurai menjadi ion-ion. Hal inilah yang menyebabkan titik didih larutan elektrolit paling besar dibandingkan dengan titik didih larutan nonelektrolit dan pelarut murni. Urutan titik didih larutan dari yang terkecil sampai yang terbesar adalah pelarut murni, larutan non-elektrolit, dan yang paling besar adalah titik didih larutan elektrolit. Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan, besarnya titik didih pelarut murni (aquades) adalah 95 C. Sedangkan titik didih larutan nonelektrolit yang dalam hal ini adalah larutan gula, besarnya 97 C, dan titik didih larutan garam (larutan elektrolit) adalah 98 C. Dapat disimpulkan bahwa urutan titik didih dari yang paling rendah ke yang paling tinggi secara berurutan adalah titik didih aquades (pelarut murni), larutan gula (larutan non-elektrolit), dan larutan garam (larutan eletrolit). Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara teori dan hasil percobaan yang kami lakukan. Percobaan 2 Berdasarkan teori, massa zat terlarut dapat mempengaruhi besarnya titik didih larutan. Semakin besar massa zat yang terlarut dalam suatu larutan, maka semakin

besar pula titik didih larutan tersebut. Hal ini disebabkan karena besarnya zat terlarut dapat menimbulkan partikel-partikel sebagai penghalang larutan untuk melepaskan uap-uapnya dalam pemanasan. Dengan semakin besarnya penghalang untuk melepaskan uap-uap tersebut, maka diperlukan titik didih larutan yang semakin besar pula untuk melepaskan uap-uap tadi. Dengan demikian maka semakin besar massa zat terlarut semakin besar pula titik didihnya. Berdasarkan percobaan yang kami lakukan, 3,42 gram gula yang dilarutkan dalam 50 ml aquades, memiliki titik didih sebesar 97 C. Dengan jumlah pelarut yang sama, gula dengan massa 6,84 gram memiliki titik didih sebesar 98 C, 10,26 gram memiliki titik didih sebesar 98 C, dan 13,68 gram memiliki titik didih sebesar 99 C. Sedangkan pada garam, 0,58 gram garam yang dilarutkan dalam 50 ml aquades, memiliki titik didih sebesar 98 C. Dengan jumlah pelarut yang sama, garam dengan massa 1,17 gram memiliki titik didih sebesar 99 C, 10,26 gram memiliki titik didih sebesar 100 C, dan 2,35 gram memiliki titik didih sebesar 102 C. berdasarkan hasil percoban kedua jenis larutan tersebut, dapat dikatakan bahwa semakin besar massa zat terlarut semakin besar pula titik didih larutan. Hal ini membuktikkan bahwa adanya kesesuaian antara teori dan hasil percobaan yang kami lakukan. Namun, pada gula dengan massa 6,84 gram dan 10,26 gram, memilik titik didih yang sama, yaitu 98 C. hal ini tidak sesuai dengan teori dan akan kami bahas pada lembar diskusi.

XI.

Diskusi

XII.

Kesimpulan

Berdasarkan percoban sifat koligatif ini, dapat disimpulkan bahwa: Larutan garam merupakan larutan elektrolit yang memiliki titik didih terbesar dibandingkan dengan larutan gula yang merupakan larutan non-elektrolit dan pelarut murni (aquades). Urutan titik didih dari yang paling tinggi ke titik didih yang paing rendah adalah larutan garam (elektrolit), larutan gula (non- elektrolit), dan aquades (pelarut murni). Massa zat terlarut mempengaruhi titik didih larutan, semakin tinggi zat terlarut maka kenaikan titik didihnya semakin tinggi pula. XIII. Jawaban Pertanyaan :

1. Mengapa titik didih larutan gula lebih tinggi dibandingkan titik didih air? Karena pada larutan gula terjadi ikatan hidrogen antara O dan H yang mengakibatkan energi yang dibutuhkan semakin besar untuk melepaskan ikatan tersebut, sehingga titik didihnya lebih tinggi dari titik didih air. 2. Mengapa sifat koligatif larutan elektrolit lebih besar dibandingkan larutan non elektrolit?

Karena larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ionnya, sehingga sifat koligatif larutan elektrolit lebih besar dibandingkan non elektrolit. 3. Titik didih manakah yang lebih tinggi jika anda memasak air di pegunungan, dengan di dekat permukaan air laut? Pada umumnya bahwa air mendidih pada suhu 100 derajat celcius. Pemikiran awal kita bahwa suhu di pantai lebih panas dibanding dengan suhu di pegunungan, sehingga kenaikan suhu air untuk mencapai titik didih lebih cepat dibandingkan dengan jika suhu di sekitarnya lebih dingin. Pada kenyataannya tidaklah demikian. Hal ini dipengaruhi oleh tekanan udara disekitarnya juga. Kita tahu bahwa nilai 100 derajat Celcius adalah titik didih air pada tekanan udara normal yaitu 1 atm (atmosfer) yang setara dengan 76 cmHg. Kita tahu juga bahwa tekanan udara di dataran rendah lebih tinggi dibanding tekanan udara di pegunungan. Tekanan udara dipengaruhi oleh kerapatan udara juga. Jika tekanan udara besar maka kerapatan udara menjadi besar pula. Jadi air akan cepat mendidih di daerah pegunungan daripada di pantai dikarenakan titik didih di pegunungan < 100 derajat celcius. Pembuktian sederhananya dapat kita lihat pada panci presto. Pada suhu 100 derajat celcius air di panci presto belum mendidih. 4. Mengapa pada saat memasak sup, penambahan garam dilakukan setelah sup mendidih? Karena garam dapat menguraikan vitamin yang terkandung dalam sup jika diberikan sebelum mendidih. Sehingga jika itu dilakukan akan merusak kandungan dari sup dan tidak baik untuk dikonsumsi. 5. Mengapa garam dapat membuat salju retak? Karena garam membuat air cair dapat berada di bawah titik beku air murni. Sehingga salju yang terkena garam akan retak karena ion-ion garam telah menurunkan titik didih salju.

Daftar Pustaka

Tim Kimia Dasar. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Dasar Lanjut. Surabaya: UNESA Tim Kimia Dasar. 2010. KIMIA DASAR II. Surabaya: Unesa University Press http://id.wikipedia.org/wiki/Sifat_koligatif_larutan (diakses 12 pril 2013, pukul 19.00 WIB) http://song2dragon.blogspot.com/2011/08/sifat-koligatif-larutan-elektrolit.html (diakses 12 pril 2013, pukul 19.15 WIB) http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/sifat-koligatiflarutan/ (diakses 12 pril 2013, pukul 19.15 WIB) http://bojonegoroohbojonegoro.blogspot.com/2010/11/tahukah-anda-memasakair-di-gunung.html (diakses 12 pril 2013, pukul 19.15 WIB) http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Aang %20Suhendar_060928_/SKL%20Larutan%20Elektrolit.html (diakses 12 pril 2013, pukul 19.15 WIB) LAMPIRAN

Grafik Titik Didih Larutan Gula Berdasarkan Teori dan Hasil Percobaan

Keterangan : Pada Larutan gula = Tabung 1 berisi 3,42 gram Tabung 2 berisi 6,84 gram Tabung 3 berisi 10,26 gram Tabung 4 berisi 13,60 gram

Grafik Titik Didih Larutan Garam Berdasarkan Teori dan Hasil Percobaan

Keterangan : Pada Larutan Garam = Tabung 1 berisi 0,58 gram Tabung 2 berisi 1,17 gram Tabung 3 berisi 1,75 gram Tabung 4 berisi 2,35 gram

Percobaan 1

Pengukuran Garam

Pengukuran Gula

Pengukuran titik didih akhir setelah pemanasan

Pengukuran titik didih

Percobaan 2

Pengukuran titik didih awal setelah pemanasan

Tabung 1a, 2a, 3a, dan 4a setelah pemanasan

Pengukuran Titik didih tabung 1b,2b,3b,4b