Anda di halaman 1dari 281

Pengalaman Ngentot Pertama

Cerita Panas ini adalah pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks, yang uniknya juga dengan pacar pertamaku. Namaku Panji dan pacarku bernama Keke. Kami satu sekolah di Jakarta dan kami resmi menjadi pacar di kelas 3 setelah sekitar setahun sering pulang bareng karena rumah kami searah. Keke sendiri adalah seorang gadis yang bertubuh mungil, tingginya mungkin tidak lebih dari 155 cm dan bertubuh kurus, namun memiliki ukuran payudara yang besar, mungkin seukuran dengan payudara Febby Febiola. Sampai-sampai teman-temanku sering berkata kalau nafsu seksnya pun pasti besar. Tapi bukan itu yang jadi penyebab aku mencintainya, sikap manja dan tawanya yang lepas membuatku senang bersama dan bercanda dengannya. Hubungan pacaran kami layaknya gaya pacaran remaja era 90-an, tidak lebih dari nonton bioskop atau makan di restoran cepat saji. Tapi memang setelah pulang sekolah aku sering mampir ke rumahnyauntuk ngobrol atau mengerjakan tugas bareng. Biasanya ada ibunya dan adik laki-lakinya yang masih smp. Sehari menjelang acara liburan perpisahan sekolah kami, seperti biasa aku mengantarnya pulang dan mampir ke rumahnya. Ternyata hari itu ibunya sedang ke Kota Malang bersama adiknya untuk menjenguk kakaknya yang kuliah dan sedang sakit di sana. Sedangkan bapaknya memang biasa pulang malam. Jadilah kami hanya berdua di rumah tersebut. Mau nonton VCD ga? Aku punya VCD baru ni, katanya seperti biasa dengan ceria. Boleh, sahutku. Bentar ya, aku mo ganti baju dulu, bau, katanya sambil beranjak ke kamarnya. Aku pun memasukkan keping VCD ke dalam VCD playernya sambil menunggunya ganti baju. Tidak lama dia pun kembali ke ruang tengah dengan celana pendek sekitar 20 cm di atas lutut dan kaos ketat. Kami pun menonton film dengan duduk bersebelahan di sofanya. Film yang kami tonton adalah film Armageddon. Kugenggang tangannya dan menariknya menempelkan bahunya dengan bahuku, dia pun merapat dan lenganku pun kini berada di atas payudaranya yang kenyal. Dia sudah terbiasa dengan hal ini, toh biasanya pun seperti itu tiap kali nonton di bioskop atau di perjalanan. Semakin lama posisi duduknya makin bergeser dan kini dia tiduran dengan kepalanya berada di atas pahaku. Cantiknya gadisku ini, pikirku dalam hati. Tanganku pun kuletakkan di atas perutnya. Ketika adegan ada adegan panas di film, kurasakan nafasnya berubah. Terus terang aku pun merasa terangsang, pelan-pelan kugeser telapak tanganku ke atas payudaranya, tapi dia menolaknya.

Karena terbawa suasana, kucium keningnya dan dia tersenyum kepadaku. Kulanjutkan dengan mengecup pipi dan bibirnya, lagi-lagi dia tersenyum. Itu adalah ciuman pertama kami. Ciuman yang awalnya hanya menempel kurang dari sedetik, kini sudah menjadi ciuman penuh nafsu. Lidah kami saling bermain dan tanganku pun sudah meremas-remas payudaranya. Tiba-tiba dia bangun dan duduk di sebelahku, udah ya, nanti keterusan lagi. Sorry ya, abis kamu gemesin sih. Tau ngga, itu tadi ciuman pertamaku lho, ujarku polos. sammma, jawabnya lagi sambil menampilkan senyumnya yang bikin makin cinta itu. Kami pun meneruskan menonton film dan hanya menonton. Setelah film selesai, dia bangkit dari duduknya, Mau ke mana? tanyaku. Mau beresin baju dulu buat besok, jawabnya. Memang besok kami akan pergi ke luar kota bersama seluruh teman satu sekolah. Mau dibantuin? tanyaku. Ayo, jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya. Aku pun mengikutinya ke kamarnya dan inilah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Kamarnya betul-betul menunjukkan kalau dia masih manja, dengan cat pink dan tumpukan boneka di atas ranjangnya. Dia mulai mengeluarkan baju-bajunya. Yang ini jangan dibawa, terlalu seksi, kataku ketika dia mengeluarkan bajunya yang memang tipis dan berbelahan dada besar. Jangan protes doang, nih beresin sekalian, jawabnya seolah protes dengan memasang wajah ngambek, tapi lagi-lagi tetap terlihat manja. Aku pun mengambil alih lemarinya dan kupilih-pilih baju yang kupikir cocok untuk dibawanya. Tibatiba muncul ide isengku untuk memilihkan juga pakaian dalamnya. Kuambil satu yang berwarna krim, ih jangan pegang-pegang yang itu jerit manjanya sambil berusaha merebut dari tanganku. Aku pun berlari menghindar, Wah ini toh bungkusnya, gede juga, candaku. Dia pun menarik tanganku dan memelukku untuk merebut bra dari tanganku yang lain. Segera saja kucium lagi bibirnya dan dia pun membalas ciumanku. emmmhemhhh, suaranya mendesah sambil tangannya memegang tanganku. Kudorong tubuhnya ke ranjang sambil terus berciuman. Kini posisiku ada di atasnya dan menempel di tubuhnya. Terasa betul payudara kenyalnya di dadaku. Kugeser tubuhku ke sampingnya agar dapat meremas payudaranya. emmmhemhhhhhemhhhh, desahnya makin jelas dan kini tangannya sudah menyentuh penisku dari luar celanaku. Sudah nafsu banget, pikirku. Perlahan-lahan kumasukkan tanganku ke dalam kaosnya dan meremas payudaranya langsung. Kuangkat ke atas kaosnya sehingga kini terpampang payudaranya yang besar terbungkus bra krim.

Segera kuciumi kedua payudaranya dan tidak lama dia pun melepas sendiri bra tersebut. Benar-benar payudara yang besar dan indah, warnanya kecoklatan dengan puting yang lebih gelap. Kumainkan kedua putingnya, kujilati bergantian. emmmh.emhhhhkamu juga buka dong, pintanya sambil menahan desah. Segera kubuka baju seragam dan celana sekolahku hingga tinggal celana dalam, kulanjutkan dengan membuka celana pendeknya. celana dalamnya jangan, tolaknya ketika aku akan menarik lepas celana dalam coklatnya. Kulanjutkan jilatan-jilatanku di puting payudaranya, tangan kiriku memainkan puting yang satu lagi, sedangkan tangan kananku menggesek-gesek vaginanya dari luar celana dalam. Enak? tanyaku. Dia hanya mengangguk sambil meremas-remas penisku dari luar celana dalam. Tiba-tiba dia menarik keluar penisku. dibuka aja ya? tanyaku sambil kubuka celana dalamku. Tangannya makin kuat meremas-remas penisku, sementara tangan kananku mulai memasuki vaginanya dari samping celana dalamnya. Kugesekkan jari telunjukku ke bibir vaginanya yang sudah basah. Pelan-pelan kumasukkan jariku ke dalam vaginanya, kulihat kepalanya mendongak ke atas sambil terus mendesah. Boleh dimasukin ga? tanyaku sambil menatap wajahnya yang sekarang menjadi begitu seksi. Pelan-pelan ya, jawabnya dengan nafas terengah-engah. Mendapat persetujuan, aku pun berdiri di bawah ranjangnya dan di antara kedua kakinya. Kutarik lepas celana dalamnya sehingga kini untuk pertama kalinya aku melihat langsung vagina seorang gadis. Vaginanya berwarna coklat dan kedua bibir vaginanya begitu rapat seolah tidak ada lubang di sana. Bulu-bulu kemaluannya yang tipis sudah terkena lendir-lendir yang keluar dari vaginanya ketika kumasukkan jari telunjukku tadi. Kucium vagina tersebut, iiiihh, apaan sih. Jangan dicium, jijik ah, tolaknya sambil kedua telapak tangannya menutup vaginanya. Abis imut sih, kataku sambil tersenyum kepadanya. Kulepaskan kedua tangan yang menutupinya dan langsung kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Sesekali kujilat-jilat kedua putingnya. ehmmmehhhhm. lenguhnya makin tidak jelas. Ji, masukin ji, masukin.emmmhhhh, pintanya. Segera kudorong penisku memasuki lubang vaginanya, begitu sempit namun karena sudah dipenuhi cairan-cairan, akibat rangsangan tadi, perlahan-lahan penisku kun menembus vaginanya. Ooooooohohhhhhhh, kali ini aku pun ikut mendesah keenakan. Setelah penisku masuk seluruhnya, kurasakan denyutan-denyutan vaginanya menjepit kepala penisku, begitu nikmat. Kutatap wajahnya, mata kami pun berpandangan seolah membuat kesepakatan untuk mulai memompa.

Kutarik pelan-pelan penisku lalu kumasukkan kembali pelan-pelan. Ji, enak banget ji. Aduh enak banget.emmmmhh, teriaknya makin meracau. Semakin lama kocokan penisku semakin kencang. Kedua tanganku pun terus memainkan kedua puting payudaranya, sambil sesekali meremasnya dan menjilatnya. Dia pun menarik tubuhku memeluknya. Kini tubuh kami serasa menempel, payudaranya menempel di dadaku yang telah berkeringat. Bibir kami berpagutan dan lidah kami saling membelit. Nikmat sekali. Hanya penisku yang masih bisa bergerak keluar masuk vaginanya. Ji..ohhhhhohhhh.jiii , tiba-tiba tubuhnya menegang kemudia lemas sebentar. Kamu keluar ya? tanyaku sambil menghentikan kocokan penisku namun masih terbenam di vaginanya.Iya, enak banget, enak banget. Kamu belum ya? jawabnya sambil kepalanya menggeleng-geleng pelan seolah baru merasakan sangat enak. Tidak kujawab pertanyaannya tapi kembali kukocok penisku. Jangan cepet-cepet, masih geli, pesannya. Karena memang sebetulnya aku pun hampir ejakulasi, tidak lama kemudian aku pun mengeluarkan maniku. Ohhhhhhohhhhhke.keee , racauku sambil menyemprotkan maniku ke dalam vaginanya. Kucabut penisku dan tidur di sebelahnya. Enak banget, makasih ya ke, ucapku. Dia Cuma tersenyum dan memelukku dengan kepalanya bersandar di dadaku. Setelah itu kami pun mandi bersama. Besoknya di acara liburan perpisahan sekolah, kami menjadi semakin rapat seperti sepasang pengantin baru. Kami pun beberapa kali mengulangi aktivitas seks di rumahnya. Hingga akhirnya kami berpisah jarak karena harus kuliah di kota yang berbeda dan berujung dengan putus karena sulit mempertahankan pacaran jarak jauh.

Ibu Dosen Kekasih Gelapku


Cerita Panas, ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester VI di salah satu PTS di Bandung. Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku. Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain, Ibu Vivin namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Vivin bertanya, Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa yok? Jangan-jangan ngelamunin yang itu.. Itu apanya Bu? tanyaku. Memang dalam kesehari-harianku, ibu Vivin tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita, Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku, kataku. Oh.. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri, kata Ibu Vivin. Begitu dekatnya aku sama Ibu Vivin sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Vivin. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam 11:00 siang saat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kokhari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur. Eh Ibu Vivin, nggak ngajar Bu? tanyaku. Kamu kok nggak kuliah? tanya dia. Habis sakit Bu, kataku. Sakit apa sakit? goda Ibu Vivin. Ah.. Ibu Vivin bisa aja, kataku. Sudah makan belum? tanyanya. Belum Bu, kataku. Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya, katanya. Dengan cekatan Ibu Vivin memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Vivin nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama

nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya. Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu? tanyaku. Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu, katanya. Oh kalau gitu Ibu Vivin masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis, kataku. So pasti dong, katanya. Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin, dengan enaknya aku nyeletuk. Aku bersedia kok, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya. Ibu Vivin agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Vivin kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya. Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Vivin, kataku. Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu, katanya. Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Vivin terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, Aku sayang kamu, Ibu Vivin, tapi dia tidak menjawab sedikitpun. Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup.. dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh.. tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, Aah.. cup.. cup.. cup.. dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja. Aah.. jangan panggil Ibu, panggil Vivin aja ya! Kubisikkan Ibu Vivin, Vivin kita ke kamarku aja yuk!. Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak.. indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya. Ah.. ssh.. terus Ian, Ibu Vivin tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, Aah.. ssh.. dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, Aah.. aku juga sudah mulai terangsang. Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu.. cantiknya

gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, Aah.. uh.. ssh.. Ian kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi, sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Vivin juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. Oh.. besar amat, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku, Uuh.. uh.. shh.. dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, Aah.. uh.. ssh.. terus Ian, Vivin mengerang. Aku juga enak Vivin, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, Assh.. oh.. ah.. Vivin terus sayang, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, Aahk.. uh.. ssh.. sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya. Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, Aakh.. sshh.. pelan-pelan ya Ian, aku masih perawan, katanya. Haa.. aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blesst, Aahk.. teriak Vivin, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Vivin.. Aakh.. ushh.. ussh.. ahhkk.. aku mau keluar Ian, katanya. Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh.. kataku. Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan.. Crot.. crot.. cret.. banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. Aakh.. aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, Kamu menyesal Ian? tanyanya. Ah nggak, kitakan sama-sama mau. Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Vivien hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Vivien menjadi pacar gelapku.

Ngentot Pembantu Tetangga


Aku ditinggal di suatu komplex perumahan, kebetulan disebelah rumahku dibuat kantoran. Kalo siang memang ada beberapa karyawan yang mengerjakan sesuatu diditu, tetapi malam hari kelihatannya sepi. Subuh itu ketika aku sedang merapikan tanaman di kebun kulihat ada perempuan muda yang seksi sekali keluar dari rumah sebelah. Kelihatannya dia mau olah raga karena dia memakai celana pendek dan kaos saja. Yang menarik adalah pakaiannya ketat menempel dibadannya sehingga mempertontonkan keindahan toketnya yang montok dan pantatnya yang besar. Segera aku keluar dari rumah dan olahraga ringan didepan rumah, menunggu dia

kembali lagi. Kebetulan dia hanya berlari2 jalanan rumahku yang cuma terdiri dari beberapa rumah saja. Aku tersenyum, dan menyapanya : Tinggal disebelahi ya, rajin banget olahraga, pantes badannya kenceng dan montok. Mataku jelalatan memandangi bodinya dari atas sampe ke bawah. Ya, abis gak ada yang mau nememin ya jogging sendirilah, bapak tinggal disini ya. Suka kan sama yang montok kan pak, jawabnya menggoda. Suka banget, saya Ardi, kataku memperkenalkan diri. Saya Ines, pak, jawabnya. Kuremas tangannya ketika berjabat tangan. Kok sendirian pak, tanyanya lagi. Saya sudah cerai dan anak saya ikut ibunya. Kamu sendiri?, jawabku. Iya pak, Ines sendiri, nungguin kantor. Kalo siang bantu2 yang kerja disini, merapikan rumah, menyiapkan makan dan minum, jawabnya. Kalo malem, tanyaku. Kalo malem ya bengong pak, abis gak ada yang nemenin, katanya sambil tersenyum genit. Kalo nemenin saya mau enggak, kataku mancing. Kalo malem, kerjaan dah beres ya ayo aja pak, asal saya enggak mengganggu bapak, jawabnya. O ya enggak lah, masak ditemeni ngobrol sama cewek yang montok kaya kamu terganggu. Paling yang terganggu adikku, kataku lagi. O, bapak tinggal ama adik bapak, jawabnya gak mengerti. Sendiri sih, adik yang kecil yang terganggu, pengen berontak kalo ngeliat cewek montok kaya kamu, jawabku sambil tersenyum. Ih bapak, genit, katanya lagi. Ya sudah, sampe ntar malem ya, kataku. katanya. Boleh gak tau no HP nya. Supaya gampang kalo mau janjian. Dia memberikan no HPnya dan masing2 kembali kerumah. Malam sudah agak larut ketika aku sms dia. Dia mengenakan sarung bali dan tanktop saja. Aku sudah menunggunya dipintu pagerku, menungguku dikegelapan karena lampu depan rumahnya sengaja tidak kunyalakan. Masuk yuk, kataku sambil mengunci pintu pager. Dia kugandeng masuk kerumahku. Makan malem yang kubelinya direstoran sudah kusiapkan di meja makan. Aku mengajaknya makan sambil ngobrol. Selesai makan dia membantunya mencuci peralatan makan, kemudian kami duduk disofa di depan TV. Aku duduk disebelahnya, langsung memeluk pundaknya. Sarung balinya agak terangkat sehingga pahanya yang putih terlihat dan langsung kucium bibirnya. Dia mendorongku, eit sabar dulu dong..bapak udah napsu banget ya. Iya nih, jawabku sambil kembali melumat bibirnya. Dia pun membalas dengan memainkan lidahnya, sesekali dia menghisap lidahku. Tanganku mulai memainkan toketnya, dan mulai menciumi lehernya. shhh..uhfff..terus pak..enak banget, desahnya. Sepertinya dia sudah pengalaman urusan begituan, padahal umurnya masih muda, paling ampir 20tahunan. Kumasukkan tanganku kedalam tank tonktopnya dan ternyata dia tidak pake bh..kuremas-remas kedua toketnya. Dia nampak sangat menikmatinya, tangannya mengelus-elus kepalaku dan mulutnya mengeluarkan desahan desahan kenikmatan. Kulepaskan tanktop serta sarung balinya dan kini dia telah bugil karena dia juga sudah tidak mngenakan cd. Dia pun juga melepaskan baju dan celana pendek serta cd ku. Wow gede banget kon tol bapak, ga muat nih masuk no nok Ines, katanya sambil mengelus-ngelus kon tolku. Lebih gede mana kon tolku atau kon tol pacarmu? tanyaku. Ines gak punya pacar pak, jawabnya. Tapi sudah pernah ngerasain kon tolkan, jawabku mendesaknya. Iya sih pak. Ines berapa kali dien tot ama majikan sebelumnya. kon tol bapak jauh lebih gede, Ines takut ntar no nok Ines jadi longgar kalo sering kemasukan kon tol segede ini, jawabnya, sementara itu tangannya

masih mengelus-elus kon tolku. Dia pun tersenyum dan langsung melumat bibir ku, aku pun membalas dengan hangat dan kumainkan i tilnya dengan jari-jariku. Shhhuhffff., erangnya. Kini kujilat pentil toketnya. Shhhoh..ouchhh enak banget pak, terus pak, gak tahan nih, kembali dia mendesah. Kini kepalaku turun kearah perutnya dan tangannya mendorong kepalaku supaya lebih turun ke bawah. Kuturunkan kepalaku arah no noknya, jembut nya lebat, kemudian ku mainkan i tilnya dengan lidahku. Ouhuhff..enak banget pak, lidah bapak enak banget..terusin pak, puasin Ines malam ini ya pak, suaranya mulai meracau. Kok muasin kamu, kamu yang mestinya muasin aku, kataku. Sama2 muasin pak, aah, desahnya lagi. Lanjutin lagi pak, lidah bapak enak banget. Aku pun melanjutan memainkan i tilnya dan jariku memainkan bibir no noknya. uhfff..enak banget pak, Ines ngga tahan, desahnya kembali. Rupanya napsunya besar banget sehingga sudah berkobar2 seperti ini. Akupun semakin liar memainkan lidah ku kadang kumasukkan kedalam no noknya. Dia pun kadang menjambak rambut ku menahan nikmat, tanpa ada rasa sungkan. Pak Ines ga tahan nih, Ines mau nyampe, terus pak, ouhhh..Ines nyampe pak.uhffffff, jeritnya, cairan kenikmatan keluar dari no noknya dan aku terus menjilatnya sampai bersih. Aduh pak, bapak hebat banget. Belum dien tot Ines udah nyampe. Aku pun maju kedepan sehingga kon tolku kini berada didepan bibirnya. Kutarik kepalanya sehingga kon tolku kini menempel dibibirnya. Dia membuka mulutnya dan kudorong kon tolku pelan pelan sehingga kon tolku masuk setengah. Dia pun mengulumnya, mulutnya memompa kon tolku. Ouhhh nikmat banget Nes, terusin isep yang kuat kon tolku, kini aku yang mendesah. Dia pun melepaskan kon tolku dan menyuruhku berbaring di sofa. Bapak berbaring aja, biar Ines isep, kon tol bapak enak banget, kini dia asik mengulum kon tolku dengan ganasnya dan tangannya memainkan biji pelirku. Ouhh..Nes enak banget, terus, kocok terus kon tolku pake mulut kamu, aku mendesah kembali saking nikmatnya. Dia melanjutkan mengulum kon tol ku. Kemudian aku menghentikan aktivitasnya, dia kubaringkan di sofa dan aku mulai menjilati i tilnya lagi. Dia kembali berteriak2 minta segera dien tot. Kugendong dia dan kubawa ke kamar. Di kamar kuletakkan dia dikasur dan aku menindihnya. Aku memainkan kon tol ku di bibir no noknya. shhhh..ouhhh masukin pak, Ines ga tahan nih, pintanya. Akupun memasukkan kon tolku pelan-pelanagak susah karena kon tolku lumayan besar walaupun no noknya sudah sangat becek. Dorong yang dalem pak, kon tol bapak enak banget, terus paak, kembali dia mendesah. Bles. kon tolku masuk semua kedalam no noknya. Aku pun mulai memompa kon tolku. ouh..hhshhhhuhfff..terus pak, en tot terus no nok Ines., desahnya lagi. Enak gak kon tolku, mana lebih enak kon tolku atau kon tolnya majikan kamu, tanyaku. kon tol bapak lebih enak, gede banget, terus pak, en tot terus, tusuk yang dalem no nok Ines, jawabnya sambil bergerak tidak teratur menahan nikmat. Terus pak, Ines aku mau nyampe nihh, en tot terus no nok Ines, terusouhhhhInes nyampe pak, jeritnya sambil menggelepar. kon tol ku serasa dijepit dan kemudian terasa hangat karena cairan kenikmatannnya. Akupun terus memompa no noknya yang sudah sangat becek. Clep..clep terdengar bunyi dari no noknya yang terus ku pompa. Nes no nok kamu enak banget, aku en tot terus yakon tolku rasanya ga mau lepas, kataku. en tot terus no nok Ines pak, enak banget, terus pak, kon tol bapak perkasa

banget, desahnya berulang2. Dia pun mengoyangkan pingulnya mengikuti irama kon tolku, tampaknya napsunya telah bangkit kembali.Kutekuk kakinya kedepan sehingga kon tolku lebih leluasa menerobos no noknya. oh nikmat banget pak, kon tol bapak masuk dalam banget, terus pak, en tot yang kuat no nok Ines, nikmatin sepuas bapak ..ouhhhhuhfff, desahnya lagi. Pak, Ines mau nyampe lagi nihh.terus pak, yang kenceng, kon tol bapak enak pak. Akupun mempercepat goyangan ku dan sekali lagi tubuhnya kembali mengejang dan menumpahkan cairan kenikmatan. Kucabut kon tolkudan kulihat no noknya nampak merah dan cairan kenikmatannya keluar mebasahi kasur. Ines cape banget pak, ternyata bapak hebat muasin wanita., katanya lemes. Aku pun melumat bibirnya dengan nafsu. Nes, isep kon tol ku lagi dong, pintaku. Walaupun lemes, dia mulai mengulum kon tolku lagi.Bapak kok kuat banget sihhh, mulai tadi belum keluar, no nok Ines aja udah tiga kali, katanya sambil mengocok kon tolku, kemudian kembali diemutnya. Aku hanya tersenyum, terus Nes, kuluman kamu enak banget, isep yang kuat kon tolku. Dia pun dengan ganas mengulum kon tolku. Pak, en tot Ines lagi ya, sekarang ya, Ines ga tahan nihhh, kon tol bapak gede bangetno nok Ines udah gatel nih pengen rasain lagi kon tol bapak, pintanya. Luar biasa napsunya, katanya udah lemes tapi masih minta dien tot lagi. Aku pun menyuruhnya menungging ala dogy style, kudorong pelan-pelan kon tolku sampai amblas kedalam. ouhnikmat banget kon tol bapak, terus pak, goyang, pintanya. Ku pompa terus no nok nya. Kembali dia mendesah2, Pak, enak banget, shhhh..uhff.en tot terus pak, en tot Ines terus pak, Ines suka dien tot ama bapak. Dia mulai meracau tidak karuan. Aku hanya diam karena sedang berkonsentrasi mengkon toli no noknya. Pak, Ines mau keluar nih, terus pak, en tot terus.ouh.. Cret..cret..cret..terasa kon tolku disiram oleh cairan cintanya. Aku pun terus memompanya karena aku belum apa-apa. Enak Nes kon tol ku, tanyaku.Enak banget pak, en tot terus no nok Ines, terus pak, jawabnya sambil memutar-mutar pingulnya sehingga kon tolku serasa terpilin-pilin. Terus Nes..aku mau ngecret nihenak banget, giliranku yang mendesah. Iya pak, Ines juga mau keluar lagi, en tot yang kenceng no nok Ines pak, jawabnya mendesah juga. Ngecretin dimana Nes, tanyaku. Ngecretin didalam aja pak, no nok Ines pengen ngerasin peju bapak, jawabnya. Aku pun menggenjot dengan cepat no noknya. Ines keluar nih pakouhaahhhh, dan akhirnya aku juga, Aku juga Nes..ouhhhhh. Cret..cret..cret aku pun menumpahkan pejuku didalam no noknya sambil kupompa pelan-pelan. Pejuku sebagian keluar lewat bibir no noknya. Enak banget di en tot sama bapakuhfffInes cape banget, katanya kembali lemes. Aku pun mencabut kon tolku, Ines pun tersenyum manis dan dengan lahap mengulum kon tol ku yang masih lemas, dia memasukkan semua kon tolku sampai kemulutnya dan menghisapnya. Kurasakan lidahnya bermain diujung kon tolku. ohhh nikmat banget Nesterus, kon tolku mulai bangun nih. kon tol ku pun mulai tegang kembali, ines mengulumnya dengan lembut seperti sedang menikmati lolypop. Cepet juga nih ngacengnya, katanya. Isep terus ya..isepan kamu enak banget, jawabku terengah. Ines pun meghisap kon tolku sambil lidahnya menggelitik ujungnya. Hampir sepuluh menit dia menghisap kon tolku, masukin lagi ya pak, ines udah ga tahan nih liat kon tol bapak. Ines pun jongkok diatas kon tol ku dan mengarahkan kon tol ku keno noknya. Pelan

-pelan tapi pasti dia menurunkun pantatnya.kulihat rona mukanya yang memerah menahan nikmat yang diberikan oleh kon tol ku. ouhkon tol bapak kok bisa gede banget sih, kayanya sampe ke rahim ines deh. Ines pun mulai menggoyang pinggulnya seperti inul sedang goyang ngebor. ouhh Nes, enak banget, terus, kon tol ku serasa di pijat dari segala arah sementara tangan ku meremas toketnya dengan kuat menahan rasa nikmat. oh pak..kon tol bapak enak banget remas yang kuat toket ines. Aku pun meremas toketnya dengan kuat dan menggoyang pinggulku Nikmat banget pak. Ines mau nyampe nih.terus, dia pun meremas tanganku yang berada ditoketnya,sepertinya dia sedang menahan sesuatu yang sangat nikmat dan kepalanya menengadah keatas. ouhhhh.Ines keluar lagi pak, nikmat banget..uhffff. Cairan cintanya pun mengalir dikon tolku dan membasahi jembut ku. Dia pun menunduk mencium bibir ku sementara kon tolku masih berada dino noknya. Pak, nikmat banget deh, Ines capek banget nih. Aku pun tidak memperdulikannya kubaringkan dia dan ku pompa kembali no noknya. ouhhh, terus pak. Aku pun memompa semakin liar. no nok kamu enak banget Nes .terus Nes goyang terus pinggul kamu, aku mau ngecret nih. Ines pun menggoyang pinggulnya. Terus Nes, aah, akhirnya pejuku pun menyembur kembali didalem no noknya. Pak, nikmat banget deh, katanya terengah. Ines berbaring mengangkang, pejunya basah karena lelehan cairan no noknya dan pejuku yang keluar ketika kon tol kucabut. aku menelungkup diselangkangannya dan mulai menjilati no noknya yang sudah sangat becek, terasa asin namun nikmat. Pak, masih pengen ya, bapak kuat banget sih napsunya. balikin badan bapak biar Ines isep kon tol bapak. soalnya ines tambah napsu kalo isep kon tol bapak. Aku pun berbalik, kini kami bergaya 69 menyamping, kepala ku dijep it oleh pahanya lidahku terus memainkan lubang no noknya dan kadang kutusuk masuk keno noknya. Semantara jari ku kutusuk masuk kedalam lubang pantatnya. Enak pak, kocokin pantat Ines pak, terus pak, enak banget. Ines belum pernah dicolok lubang pantatnya. Ternyata nikmat juga ya. Kini pinggulnya mulai bergoyang menekan mulutku, semantara kon tolku terus dihisap dengan kuat sehingga kini kon tolku telah ngaceng kembali. Terus pak hisap yang kuat lubang no nok Ines.ohhh, Ines mau nyampe lagi pak ouhhhhhachhh. Cret..crettterasa cairan asin membasahi lidahku, aku pun menjilatnya sampai habis. udah Nes..kamu puas kan, aku pun memeluknya. puas banget pak, kon tol bapak enak banget, pengen rasanya isep kon tol bapak terus. Pak, kon tol bapak masih ngaceng tuh, gara-gara Ines isep tadi ya. Biarin aja aku udah cape banget nih ntar lemes sendiri kok. Kulihat jam telah pukul 2 pagi dan aku sangat ngantuk namun nampaknya ines tidak mau menyia-nyiakan kon tol ku yang lagi ngaceng. Bapak tiduran aja ya,,biar kon tolnya Ines isep ampe ngecret.kasian udah terlanjur ngaceng nih. Ternyata Ines punya nafsu yang tinggi, dia pun mengulum kon tolku dengan lahapnya sementara aku hanya berbaring menikmatinya. shhhuhfff terus Nes. Sekitar setengah jam dia mehisap akhirnya aku mau ngecret. isep terus Nes, aku mau ngecret nih. Dia pun mengulum kon tolku dengan cepat dan cret..cretpejuku kembali keluar di mulutnya dan nampaknya hanya sedikit. dia pun asik menjilati nya sampai bersih dan badanku pun terasa lemas sekali. Kulihat Ines terus menjilat kon tolku dan

aku pun memejamkan mata karena mengantuk dan akhirnya tertidur.. Ines pun tertidur disamping kon tolku. Kira-kira pukul 8 aku terbangun. Aku keluar kamar, kulihat Ines sedang menyiapkan sarapan, rambutnya basah habis keramas. dia hanya memakai sarung bali yang dililitkan sampai didadanya. udah bagun pak, mandi gih sana trus makan nih, pasti bapak laper banget kan. Oke deh, jawabku. Aku masuk kamar mandi, pintunya tidak kututup. kulihat ines memandangku terus penuh nafsu. Ines terus memandangiku dan kini tangannya meremas toketnya sendiri. akupun memanggilnya, dia langsung masuk ke kamar mandi dan melepaskan sarung balinya. Pak, Ines pengen dien tot lagi. no nok Ines gatel nih liat kontol bapak. Nesga ada cape nya. abis bapak sih, mandi kaga tutup pintu, ya Ines napsu deh ngeliat kon tol bapak. Dia pun jongkok mulai menghisap kon tolku yang masih lemas. Tidak berapa lama kemudian kon tol ku kembali berdiri tegak. Kusuruh dia nungging dan tangan nya berpegang ke bak mandi. Kumasukkan kon tolku kedalam no noknya yang sudah basah, dan kuenjot dengan penuh napsu. pelan-pelan aja pak, kan kita masih punya banyak waktu. Hari ini kantornya tutup kok, jadi Ines gak usah si ap2. Aku tidak peduli dengan ucapannya dan terus menggoyang pinggulku semakin ganas. nikmatttt pak.terusen tot terusss. Aku memompa no noknya dan tanganku meremas-remas toketnya yang bergelantungan. nikmat banget pak, terus.kontol bapak gede banget. Dia terus meracau dan tidak lama kemudian kurasakan tubuhnya mengejang. ouhhh Ines nyampe pak, enak banget deh kon tol bapak. Aku pun mencabut kon tol ku dari no noknya. Ines isep lagi ya pak, sampe ngecret. Ngga ah , aku mau en tot kamu aja ampe ngecret .sekarang kamu baring di ranjang ya. Dia kuseret keluar dari kamar mandi dan kudorong ke ranjang sampe telentang. kubuka lebar lebar pahanya sehingga terlihat jelas no noknya yang merekah. Ku tancapkan kon tolku perlahan lahan dan beberapa saat kemudian kon tolku sudah keluar masuk di no noknya. ouchhh nikmat banget pak, en tot terus pak, siram no nok Ines dengan peju bapak. Nampaknya gejolak napsunya sudah memuncak sehingga dia meracau tidak karuan. kepalanya menggeleng kekiri dan kekanan sehinga terlihat sangat seksi. Aku pun memompa semakin cepat. en tot Ines terus pak, tusuk terus no nok Ines. Ines mau nyampe lagiterus pak.ouchhh..ahhInes dah nyampe pak. Cairan cinta pun keluar dari no noknya sementara itu aku juga udah mau ngecret. Kuenjotkan kon tolku dengan cepat dan keras sehingga Crotcrottcrotpejuku mucrat kemabli didalam no noknya. Setelah reda gelombang kenikmatan yang menerpa, aku berdiri. dia kutarik juga dan kami pun mandi bersama-sama.

Ganasnya Nafsu Sepupu Istriku


Aku menikah disurabaya, waktu itu Aku kost dirumahnya dan anak ibu kost ini masih sekolah di SMK jjurusan TUP. Kami pacaran dan dengan didasari cinta kamipun dipadukan dalam perkawinan isteriku asli madura tapi sejak lahir sudah berada disurabaya,jadi bahasanya meddok bahasa suroboyoan ciri khas maduranya telah hilang sama sekali aku masih ingat pada saat pesta perkawinan dulu ada

seorang gadis manis yang datang lebih awal sebelum hari h perkawinan kami isteriku memperkenalkan namanya Irma, sepupu isteriku, ia tinggal di bangkalan dan sekolah disana dan saat perkawinan kami berjalan setahun kami pernah ke bangkalan dan mampir dirumah irma rupanya dia juga telah menikah dengan seorang pengusaha katanya, setelah lama kuketahui suaminya jualan velg dan ban bekas disurabaya, rumah irma tidak jauh dari rumah orangtuanya alias rumah tante isteriku genap 2 tahun perkawinan kami kami telah dikarunai seorang anak laki laki yang sehat dan saat itu masih berusia 27 hari, berarti sudah lebih 1 bulan adik kecilku diselangkangan nganggur aku ditugaskan oleh kantor ke bangkalankarena urusan ini selama 2 hari terpaksa harus menginap dibangkalan, iseng iseng aku main ke rumah Irma, suami Irma sudah barang tentu tidak ada dirumah karena hanya seminggu sekali ia balik kebangkalan yaitu cuma hari sabtu dan hari seninnya suaminya balik lagi kesurabaya, kami ngobrol banyak tentang keluarga dan tak terasa makan kian larut, niat utk nginap di rumah irma semenjak siang tadi sudah menjadi cita cita, tapi dengan alasan yang dibuat buat, aku bangkit berdiri ingin pamitan. Lho..mo kemana???? Mo balik ke penginapan jawabku. Udah malam nih mas adiiitanggung nginap disini aja.khan ada kamar kosong tuhpaling depan.lagi pula mas aku disurabaya kok.sepi rasanya rumah gak ada laki lakinya bi irah..sudah tidur dari tadi beliau jam 8 sudah ndengkur malah. tambahnya lagi Aku bersorak dalam hati, Horeee umpanku berhasil juga pikirku. kemudian lagi tambahnya, Irma paling senneng nonton KONAK yang ditayangkan T**** TV tapi acaranya malam benner, kalo sendiri Irma kadang takut dirumah yang sebesar ini Rupanya KONAK menayangkan acara selingkuh selingkuhan dengan gaya KOCAK, akupun menikmatinya, kami duduk berdekatan disofanya yang panjang, sambil minum coca cola dan kacang garuda yang kubawa tadi sore, ia asik menatap adegan demi adegan di TV, aku meliriknya achhhhhhsepupu isteriku ini memang cantik..dan lincah.juga periang.. Bisikku dalam hati Apabila adegan lucu yang disaksikannya di TV membuatnya tertawa lebar terkadang kepalanya disandarkannya ke banhuku, seakan mengajakku ikut tertawayeah, aku ikut tertawa tapi adik kecilku malah marah, maklum sudah 1 bulan lebih gak berendam, dan akhirnya kuberanikan diri pas saat ia akan menyandarkan kepalanya malah bibirku yang kusodorkan dan

cuupp Pas pipi kirinya, ia menatapku sejenak, sambil meninjuki ku seakan kejadian itu juga lucu, ia hanya senyum, tidak marah achhhhhhhh aku harus lanjutkan perjuanganku demi adik kecilku Kataku dalam hati Kudempetkan badanku kami duduk rapat sekali, tanganku melingkar diatas pundaknya ia cuma diam, kutarik badannya mendekati badanku, ia juga diam, kubalikkan wajahnya, kukecup bibirnya pelan, selembut mungkin, ia hanyut, ciumanku dibibirnya, terbalas, lidahnya bergoyang dalam mulutku, kamipun berpagutan, akhirnya dengan tidak diketahui siapa yang mulai kami berdiri, TV kami matikan, kami berjalan kekamar paling depan, kami berpagutan lagi, dasternya kulepas, BH nya, juga sdh lepas, kami bergumul, diatas ranjang, foreplay, berlangsung sangat singkat, kemaluanku sdh sangat mendesak, dan akhirnya, berendamlah adik kecilku, 45 menit berlalu, permainan kami berlangsung dengan ganasnya, rupanya nafsu Irma, sangat besar, dan iapun mendapatkan orgasmenya yang pertama, Kami terdiam sesaat kemudian Aku kepengen pipisss sayang, aku kekamar kecil dulu yah????..boleh ? pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku. Boleh, tapi jangan lama-lama ya, aku belum apa-apa nih.. ujarku jahil sambil tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Irma melepas pelukannya, melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya Plop.. Sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar, aku menatapi Irma berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Tubuh Irma mengigil menikmati sensasi yang baru saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap, aku diam dan kubiarkan Irma menikmati sensasi kenikmatan klimaksnya. Ahh..punyamu enak ya Irma..bisa ngempot-ngempot gini..ujarku memuji Enak mana sama punya isterimu ? tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan tersenyum Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh.. kucium mesra bibirnya dan Irma memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku

Ploop.. Aahh.. Irma agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. Setelah Irma merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, aku berada diatasnya sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya Mmhh..mmhh.. tangan kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam bertempur Kamu hebat Di, udah 2 jam masih keras aja..dan kamu bener-bener bikin aku puas. puji Irma, Sekali lagi yaa, yang ini gong nya, aku bikin kamu puas dan nggak akan ngelupain aku selamanya, oke ?! balasku, sambil berkata aku mulai menggeser tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu. Sleepp.. Auuwhh.. Irma agak menjerit. Perlahan tapi mantap kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis wanita ini, Irma merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat didinding-dinding vaginanya yang becek Hehhnghh..engghh..aahh.! . erangnya. Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Irma yang berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga tubuhku, Irma mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh Aahh.oohh..sshh..aahhhemhh..enghh..aahh..adhii..aahh..teruss..teruss. . .oohh..enghh Sementara akupun terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya Enghh..Irrmaa..oohh..ennakh..sayang..? tanyaku He-eh..enghh..aahh..enghh..enakhh..banghethh..dhiiaahh.. lenguhannya kadang meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya

Oohh..adhii..oohh..enghh.. Tubuhnya mulai bergelinjangan dan berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami, aku yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar pinggul Irma yang menimbulkan sensasi memilin-milin di batang penisku, nikmat sekali. Kulepas pelukanku untuk kemudian aku merubah posisiku yang tadinya menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Irma yang indah dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin basah dan makin menghisaphisap Enghh..Adhii..oohh..shaa..yang..aahh.. kedua tangan Irma meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas. Kemudian aku mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bulat membusung dan memuntir-puntir puting susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Irma tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya agar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh. Oohh..Ahh..Dhii..enghh..ehn..nnakhh..aahh..mmnghh..aahh..enghh..oohh.. desahan dan rint ihan Irma menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling memburu.ruarbiasa.. Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju penisku, aku merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah basah oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil aku merapatkan tubuhku diatas tubuh Irma, kedua kaki Irma mulai menjepit pinggangku lagi untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration, rintihan dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami sambil berciuman Mmnghh..mmhh..oohh..ahh..Dhii..mmhh..enghh..aahh..

Oohh..Irmaa..enghh..khalau..mau sampai..oohh..bhilang..ya..sha..yang..enghh..aahh.. ujarku meracau Iyaa.. Iyaa.oohh..enghh..aahh..aahh.. tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir dengan permainan lidah yang panas disertai gerakan maju mundur pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekana! n dan kekiri pinggul Irma. Oohh..enghh..aahh..dhii..oohh..uu..dhahh..belomm..engghh..akhu..udahh..ngga k khuat..niihh..aahh.. Erangan-erangan kenikmatan Ima disertai tubuhnya yang makin menggelinjang hebat dan liang vaginanya yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai klimaksnya Dhikit..laghi..sayang..oohh..enghh..mmhh..aahh ..aahh.. sambutku karena penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut Aahh..aa..dhii..noww..noww..oohh..oohh.. enghh..aahh..aahh.. jeritnya Yeeaa..aahh..iimm..aahh..aahh..enghh..aahh.. jeritanku mengiringi jeritan Irma, akhirnya Aahh..aahh..enghh..mmhh..aahh.. Kami mencapai klimaks bersamaan, Srreett..crreett..srreett..crreett..srreett..crreett.. kami secara bersamaan dan bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, aku menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang vag! ina Irma, sementara Irma membelit pinggangku dengan kedua kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman. Aahh..mmhh..oohh..enghh..emnghh..Adhi..aahh..emmhhhhuuhh.. Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Irma masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya sampai habis, dan penisku masih berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping kanannya.

Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya. Adi..kamu hebat banget, gue sampai puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh.. Ima berkata sambil menghela nafas panjang Ma kasih ya sayang..thank you banget..ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari 4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya pulang dari kegiatan masing-masing. Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku Adi..kalo gue telpon, kamu mau dateng untuk temenin gue ya sayang.. Pasti ! jawabku, lalu kami kembali berciuman.

Gairah Binal Tanteku


Cerita Panas ini terjadi saat gw masih berumur 16thn dan masih bersekolah di salah satu SMA di Jakarta. Nama gw Doni peranakanCanada Indonesia so kata teman-teman wajah gw lumayan.ganteng_hehehe.dengan tinggi 180cm bisa dibilang gw di atas rata2 jadi bakal gampang ngegaet kaum hawa. Gw lahir di Canada tapi wktu umur 10thn Papa ditugasin tuk balik lg kerja di Jakarta so gw juga ikut,mula2 Jakarta asing juga bagi gw tapi lama kelamaan gw juga dapat terbiasa. Terus terang walau lama tinggal di Luar pemikiran gw lebih condong ke pemikiran timur coz nyokap tetap berpegang teguh pada adat istiadat timur and terus menanamkan adat istiadat plus prinsip2 yg keras ma anaknya.awal mula kisah gw ni dimulai saat musim liburan,bokap n nyokap gw balik ke Canada tuk liburan tapi gw ga ikut karena males bgt kalo cuma bentar doank liburan ke sana sogw lebih milih liburan di sini. Sebelum berangkat Mama bilang ma gw kalau nanti bosen di sini mendingan jalan jalan ke bandung aja sekalian jenguk kakek serta tante Anne(adik Mama) dan seingatku Tante Anne dah lama bgt ga ke Jakarta dan mama hanya berhubungan via telphone doank. Petualangan dimulai ketika seminggu kemudian gw maen ke Bandung,hari pertama di Bandung gw habiskan melepas kangen ma kakek. hari kedua di Bandung gw minta di antar ma supir ke rumahnya

tante Anne. Rumahnya terletak di salah satu kompleks perumahan yg cukup elit di Bandung,sebelumnya mama sudah menelfon dan memberitahukan kepadanya bahwa gw akan datang. Doni..wahh sudah besar sekali kamu sekarang yah,sudah tidak ngeh lagi tante sama kamu sekarangHahaha kira-kira begitulah katanya sewaktu pertama kali melihatku setlah sekian tahun ga ketemu. Wajahnya masih saja seperti yang dulu seakan tidak bertambah tua sedikitpun. Oh yah..tuh supirnya disuruh pulang ja nanti Doni pake aja mobil tante kalau mau pulang gw pun mengiyakan dan menyuruh supir pulang. Hari itu kami banyak bercerita dan tak terasa tiba waktunya untuk dinner. makan dulu yuk Donitu sudah disiapkan makanannya sama bibikatanya sambil menunjuk pembantunya. kita tidak menunggu om joe dulu tantegw coba menanyakan suaminya.ga usah lah tadi om sudah nelf dan bilang ga bakal pulang malam initante anne menjelaskan,maklum suaminya tante anne anak salah satu konglomerat di Bandung.rumah sebesar ini Cuma dihuni sendirian bersama pembantunya karena walau dah lama menikah tapi tante yg satu ini mang lom dikaruniai anak.sambil makan kami bercerita panjang lebar. kamu berani pulang sendiri semalam ini donkatanya sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam 21.00. ahh berani kok tantejawab gw. mendingan kamu tidur disini aja malem ini dehnanti tante yang telephone kakek,lagian diatas kan ada kamar kosong. Aku pun mengiyakan tawaran tante anne dan dalam hati aku mengira dia menyuruhku menginap karena takut sendirian,sumpah ga da sama sekali pikiran negatif tentang tawarannya. oh iyakalau mau mandi air panas pake aja kamar mandi di kamar tante.nanti kamu pakai aja bajunya om joe. Yuk siniajak tante anne.aku pun mengangguk sambil mengikutinya.kamar mandi yang dimaksud terletak di dalam kamarnya. Lalu dia mengambil T-shirt dan celana pendek untuk gw,gw langsung membawa pakaian itu ke kamar mandi,abis mandi gw kaget ngliat tante anne. Dia tidur tengkurap peke aju tidur tipis,kliatan jelas Cdnya tapi gw gax ngliat tali bra di punggungnya.Terangsang juga ngliat pemandangan kaya gitu,kayaknya dia tertidur waktu nonton TV karena Tvnya masih menyala. Gw berjalan ke arah TV untuk matiin tuh TV,melihat adegan panas yg berlangsung di layar kaca mendadak gw langsung diem n ga jadi matiin.gw liat kebelakang tante anne masih tidur , sekedar iseng gw berdiri sambil nonton tuh adegan. Tiba-tiba terdengar teguran halus tante anne diikuti tawa tertahannnya. Gw malu banget sambil berbalik ke belakang dan mencoba senyum semanis mungkin_wuakakaka,waktu gw berbalik tante anne dah duduk tegak diatas kasur. kirain tante dah tidurgw coba memecahkan kebuntuan otak sambil berjalan keluar kamar. Doni..bisa tolong pijit badan tante ga??.pegel semua nihterdengar suara hlaan nafas panjang dan suara kain jatuh ke lantai.saat gw berbalik mo ngejawab tante anne dah tidur tengkurap but this time dah tanpa baju tidur,satu-satunya yang masih dipakai cuma celana dalam.Thanks god >_< Kayak kucing dikasih ikan asingw pun langsung jalan mendekati tante anne.sedikit canggung

langsung gw letakkan tangan di bahunya. Om Joe kapan pulang tante?iseng nanya coz takut di gerebek ma suaminya. hhhmmmkalau om tuh jarang pulang,kebanyakan meeting ke luar kota kayak sekarang inijawab tante anne. FffffuuuhNgedenger kata luar kota helaan nafas panjang terdengar dari mulut gw. turun dikit donk Donmasa di bahu teruspinta tante anne,aku pun langsung menurunkan pijitan ke daerah punggung. Tak lama kemudian kamu duduk aja di atas pantat tantesupaya lebih kuat pijitannyagw yang tadi duduk di sampingnya langsung mengambil posisi ke atas pantatnya. uungnnnghhberat juga kamu..dengus tante anne. Heehehehetadi katanya disuruh duduk di sinijawab gw asal coz dah ga konsen gara2 pantatntya yang empuk banget. Alat kelamin gw dah tegang banget,sesekali gw tekan ke belahan pantatnya tante anne. Sudah belom tan..??dah cape nih!!!kata gw setelah tangan dah kerasa pegel. iyah.kamu berdiri duludehtante mu balik,aku berdiri dan tante anne sekarang berbalik posisi. Sekarang gw bisa ngliat wajahnya yg cantik serta payudaranya yang masih kenceng itu tepat di hadapan gw.puting susunya yang merah kecoklatan terlihat begitu menantang. Gw sampe bengong ngliat gituan. hey pijit bagian depan donk sekarangkatanya. Gw duduk diatas pahanya,langsung ja gw remas dengan lembuat kedua teteknya. Geli.hihihihicekikikan dia. gw benar-benar dah ga bisa ngendaliinafsu gw lagi. Gw tarik celana dalamnya dengan agak kasar,gw akui inilah pertama kalinya ngliat wanita telanjang secara nyata di depan mata. Tante anne membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya gw lepas dan langsung mem*knya lengkap dengan sang klitoris yg dihiasi bulu halus yg dicukur rapi membentuk segitiga indah. kamu sudah sering beginian Don??,tanyanya, Ehhh.tidak koqbaru kali ini tante..jawabku dengan nafas yang semakin memburu..kata kata pun sudah sulit tuk gw ucapkan. Nafas tante anne juga sudah gax tenang,kliatan dari dadanya yg dah mulai naik turun ga teratur. Jilatin donk sayang.katanya memelas dengan mata sayu yang dah sangat meminta tuk gw puaskan. Mulanya ragu juga tapi gw dekatkan juga kepala gw ke mem*knya. ga ada bau sama sekali,pasti tante anne rajin ngerawat MQnya. Gw kluarin lidah menjamah mem*knya menjilati dari bawah menuju pusar . beberapa menit lidah gw bermain dengan mem*knya tante anne sudah mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Gw berdiri sebentar dan melepaskan semua pakaian. Bengong dia ngliat kont*l gw yg 18 cm itu,gw Cuma tersenyum dan melanjutkan permainan lidah gw di mem*knya dia. Beberaa saat kemudian ia meronta menjepit kepalaku dngan pahanya lalu menekan kepala gw dengan kedua tangannya supaya lebih menempel lagi dengan mem*knya yang dah basah. Ngeliat dia kyak gitu,langsung ja gw kulum klitorisnyadan memainkannya dengan lidah di dalam mulut, beberapa lama gw meraasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari alat kelaminnya. Aaaarrrrgghhh.jilatan kamu enak banget Don,kata tante anne waktu mencapai klimaks pertamanya. benar-benar hebat lidah kamu Don,tante sudah ga kuat lagi berdiridah lama tante ga puas kaya gini,gw Cuma tersenyum kecil..perlahan ge tarik kedua kakinya ke pinggir tempat tidur,gw buka pahanya selebar-lebarnya dan skarang mem*knya dah terbuka lebar.

Nampaknya dia masih nikmatin peristiwa tadi dan ga sadar yang sedang gw lakuin. Begitu dia sadar kont*l gw sudah menempel di bibir mem*knya. Ia menjerit tertahan,lalu ia pura2 meronta nggak mau,gw juga ga tahu cara memasukkan kont*l gw karena punya tante anne berbeda banget ma punya bule yang sering gw liat di DVD2 blue. Lubangnya tante anne kecil banget mana bisa masuk neh pikir gw. Tiba2 gw ngerasain tangan tante anne memegang kont*l gw dan membimbing ke mem*knya, tekan disini yach dontapi pelan pelan,punya kamu gede bangetpelan ia membantu senjata gw masuk ke dalam mem*knya. Belum sampai sperempat bagian yang masuk dia dah kesakitan dengan tangan kirinya yg masih menggenggam kont*l gw menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras sementara tangan kanannya meremas kain sprei,kadang memukul tempat tidur. Gw ngerasain alat kelamin gw kaya di urut-urut di dalam, gw berusaha menekan lebih dalam tapi tangan tante anne menahannya. Langsung ja gw tarik tangannya and gw dorong masuk smua batangan gw yang dah tegang banget,Doniii..,teriaknya sambil meluk badan gw kenceng banget. Tante anne mengerang dan meronta,gw suka banget sensasi mukanya yang binal. Ga sabar lagi langsung gw pegang pinggulnya supaya berhenti meronta. Langsung gw pompa tubuh tante seiring kont*l gw yg keluar masuk dalam mem*knya, terusss Doni..puasin tante lagi sayang,bisik tante anne di telinga gw sambil matanya merem melek dan kukunya mencakar seluruh punggung gw . setelah lamaan dikit tante anne menggerakkan pinggulnya seiring dengan goyangan gw. tanteeee..enak banget goyangannya..gw mencoba ngeluari kata biar dia lebih bersemangat nggoyang pinggulnya. Tiba tiba gw ngerasain mem*knya menjepit barang gw dgn kuat,tubuh tante anne mulai menggelinjang hebat dengan nafas yang ga karuan. Tante sudah mau keluar Donkamu masih lama ga sayang,tante pengen kita klimaks bareng,katanya dengan mata merem melek. Aku tak menjawab hanya mempercpat goyanganku,tante anne menggelinjang dengan hebat,kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku;Kurasakan aku juga sudah mau keluar,kusemprotkan saja seluruh cairanku di dalam kelaminnya. Argghhhh tante kataku ketika cairanku membasahi alat kelaminnya dan kulihat tante anne hanya mendesis panjang. Kamu hebat ..sudah lama tante tidak pernah klimaks_kita mandi lagi yuk..lengket nieh,ia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya. Kami mandi sambil berpelukan di bawah siraman shower air hangat. Luv u so much tante.,batinku sambil memeluknya.

Pemuas Nafsu
Hari itu aku sedang sibuk menyelesaikan salah satu proyekku untuksebuah perusahaan tekstil. Isengiseng untuk refreshing, aku buka e-mailku, dan membalas e-mail yang masuk. Ada beberapa e-mail ucapan terimakasih dari mereka yang telah sukses mengikuti langkahku menggeluti bisnis wiraswasta

ini. Ada juga e-mail dari calon pelanggan meminta proposal. Juga ada beberapa e-mail joke dari teman-temanku. Sedang asyik-asyiknya membaca dan membalas e-mail, tiba-tiba HPku berbunyi.. Yang.., sedang apa nih? Aku kangen.. suara Monika pacarku terdengar di ujung sana. Hai Mon.., biasa sedang nyelesaiin kerjaan nih. Kamu masih kuliah ya? Iya.. Lagi nunggu kelas berikutnya. Nanti malam jadi khan? Pasti donk.. Aku juga kangen banget sama kamu.. jawabku mesra. Iya deh.. Udah dulu ya yang.. Dosennya udah datang.. Bye.. Aku pun kemudian melanjutkan membalas e-mail. Setelah itu, kututupprogram e-mailku, dan akupun kembali mengerjakan proyekku. Lagi-lagi HP-ku berbunyi. Kulihat di layar, ternyata tante Sonya menelponku. Halo Wan.., apa kabar sayang? Baik tante.. Kamu kok udah beberapa hari ini nggak main ke sini? Sedang sibuk ya? Iya tante.. Sombong ya.. Mentang-mentang banyak proyek lupa sama tante.. Nggak tante.. Kan.. Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, tante Sonya sudah memotong pembicaraanku.. Wan.. Tante punya teman.. Dia katanya punya proyek buat kamu. Kamu hubungi dia hari ini ya.. Baik tante.. Tante Sonyapun kemudian memberikan nama dan alamat serta nomor telepon temannya. Asal jangan lupa kamu harus ke sini besok. Tante sudah kengen.. OK tante.. Terimakasih ya. Besok pasti Wawan ke sana. Kangen juga sama tante yang seksi abis.. jawabku bercanda. Ih.. Kamu nakal ya.. Awas ya besok.. jawabnya sambil tertawa kecil. Memang aku sudah ketagihan berhubungan seks dengan tante Sonya. Semenjak bertemu saat membeli mobilnya dulu, seringkali kami tetap bertemu dan saling memuaskan birahi masing-masing. Sebagai lelaki normal, siapa juga yang akan menolak diajak berselingkuh dengan tante secantik itu. Sambil memegang secarik kertas berisi nama teman tante Sonya, akupun berpikir apakah aku masih punya waktu untuk menerima proyek baru lagi. Sebab setelah proyek untuk perusahaan tekstil ini

masih ada dua proyek lagi yang harus aku selesaikan. Tetapi kupikir aku terima saja, nanti kalau tidak bisa mengerjakannya sendiri, aku bisa minta tolong temanku yang dulu mengenalkanku pada bisnis ini untuk membantu. Alternatif lain, aku bisa minta deadline yang agak panjang dari teman tante Sonya ini. Singkat cerita, sore itu aku segera bergegas menuju alamat sebuahgallery di kawasan Kemang. Setelah mengutarakan maksud kedatanganku pada satpam yang membuka pintu, akupun memasukkan mobilku ke dalam pekarangan Gallery yang luas itu. Sore.. Saya ingin bertemu dengan ibu Yulia.. Oh.. Ya silakan tunggu dulu ya Mas.. Namanya siapa darimana? jawab resepsionis di gallery itu. Wawan.. Saya sudah punya janji kok Resepsionis itupun kemudian menelepon, dan setelah itu berujar.. Mari Mas, saya antar ke dalam Kamipun menuju ruang kantor ibu Yulia sambil melewati ruang gallery. Gallery tersebut indah sekali dengan banyaknya lukisan yang bagus-bagus diterpa lampu sorot sehingga menambah keindahannya. Permisi Bu.. Ini Mas Wawan kata si resepsionis setelah kami memasuki ruangan kantor ibu Yulia. Kuperhatikan ternyata ibu Yulia ini masih muda, mungkin sekitar 30 tahunan. Wajahnya cantik dan berkulit putih mulus. Saat itu dia memakai gaun dengan tali tipis di pundaknya, serta syal yang melingkar indah di lehernya yang jenjang. Gaun itu tampak tak sanggup menahan payudaranya yang membusung padat. Ditambah dengan gaun mininya yang memperlihatkan kakinya yang mulus, menambah darah mudaku bergejolak melihatnya. Hai Wawan.. Saya Yulia Kurasakan tangannya yang lentik itu halus menjabat tanganku. Ayo silakan duduk.. katanya mempersilakanku duduk di sofa dalam ruangan kantornya. Ibu Yuliapun kemudian duduk di seberangku. Kamipun berbincang basa-basi sebentar. Ternyata dia adalah teman fitness tante Sonya. Tante Sonya telah bercerita banyak tentangku termasuk bisnisku. Kamipun kemudian berbincang lebih serius mengenai bisnisku. Untuk melihat penjelasanku yang menggunakan notebook, ibu Yuliapun pindah duduk di sebelahku. Tubuhnya menyebarkan wangi parfum yang lembut, menambah bergejolaknya nafsu kelelakianku. Sambil berbincang, sesekali

kulihat belahan payudaranya yang putih mulus tersembul dari gaunnya. Ingin rasanya kuremas payudaranya yang menggemaskan itu, tetapi aku tentu harus bersikap professional. Singkat kata, ibu Yulia tertarik dan menyetujui harga yang kuminta. Iapun memintaku untuk menyiapkan kontrak kerja untuk disetujui bersama. Tapi saya minta sedikit kelonggaran waktu ya Bu.. Soalnya saya masih ada beberapa proyek yang harus diselesaikan kataku. Oh.. Begitu ya.. Berapa lama punya saya selesainya? Kira-kira satu bulan ya Bu.. Ok deh.. Nggak apa.. katanya Oh ya kamu mau minum apa Wan? Apa aja deh.. Ibu Yulia pun kemudian menelepon pembantunya dan meminta dua orange juice. Kamu masih kuliah ya Wan Masih Bu.. Tahap akhir Oh.. Kamu jangan panggil saya Bu.. Saya masih muda lho.. Panggil saja tante Oh iya tante Akupun terenyum dalam hati. Persis pengalamanku dengan tante Sonya dulu yang tidak mau dipanggil ibu. Pembantu tante Yulia kemudian masuk menyajikan minuman. Ayo diminum Wan kata tante Yulia saat si pembantu beranjak pergi. Tante Yulia lalu bangkit mengikuti pembantunya kemudian menutup pintu ruang kantor dan menguncinya. Kembali tante Yulia duduk di sebelahku sambil meminum orange juicenya. Pahanya yang putih mulus tampak begitu menggoda saat dia menumpangkan kakinya. Akupun tak tahan untuk tidak melihat pemandangan indah itu. Sedang lihat apa Wan? katanya sambil tersenyum manis. Oh nggak kok tante.. Ayo kamu sedang mikir yang jorok ya.. katanya lagi menggoda. Nggak kok tante.. Cuma kagum aja.. Habis tante cantik banget.. Ih.. Kamu genit juga ya.. Pinter merayu godanya lagi. Tangannya kemudian meraih tanganku dan diletakkannya di atas pahanya.

Kamu pengin ini kan? sambil berkata begitu tante Yulia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. Tak kuat menahan nafsu yang sedari tadi telah bergolak, kubalas ciuman tante Yulia dengan penuh gairah. Sambil berciuman, kuremas dan kuusap pahanya yang mulus itu, sementara tanganku yang lain mengusap-usap rambutnya. Ehh.. erang tante Yulia ketika tanganku menyentuh celana dalamnya yang telah basah. Erangannya makin menjadi-jadi ketika tanganku menyibakkan celana dalam itu dan menemukan klitorisnya. Kuusap-usap klitoris tante cantik ini, dan cairan vaginanya semakin mengucur deras. Ahh.. Enak Wan.. Memang betul kata Sonya kamu hebat.. Terus Wan erangnya lebih lanjut. Sementara tanganku masih mengusap-usap vaginanya, akupun menciumi pundak putih tante Yulia. Kemudian kuturunkan tali gaunnya sehingga payudaranya tampak meskipun masih terbungkus BH. Kuturunkan cup BH-nya dan payudaranya yang padat meloncat keluar seperti menantangku untuk menghisapnya. Langsung kuterkam payudara kenyal itu dan kuisap serta kujilati putingnya yang berwarna merah muda. Ahh.. Yess.. I like it.. Oh god.. erangan tante Yulia semakin menjadi memenuhi ruangan kantor itu. Terus kujilati puting yang semakin mengeras itu, dan tanganku yang satu masih terus memberikan kenikmatan pada klitorisnya. Oh Wan.. Yes.. Terus wan.. Oh.. God racau tante Yulia merasakan nikmat yang kuberikan. Setelah itu aku menghentikan sejenak aktifitasku. Tampak wajah tante menampakkan kekecewaannya Wan.. Dont stop please.. Ayo terusin wan.. pintanya Takut ketahuan tante.. Emang nggak ada siapa-siapa nih? kataku sambil menciumi wajahnya yang cantik. Nggak ada.. Cuma pembantu sama satpam aja.. Mereka juga nggak akan tahu. Suami tante? Nggak ada.. Sedang ke luar negeri.. Ayo Wan.. Puasin tante ya sayang.. katanya sambil mendorong kepalaku ke arah payudaranya yang montok itu. Kuisap dan kukulum puting payudara tante Yulia. Bergantian kuhisap sepasang payudaranya. Tante Yulia kembali mengerang dan badannyapun menggeliat menahan nikmat.

Setelah puas menikmati payudara montok tante Yulia, akupun mengangkat gaunnya sehingga tampak celana dalam mininya yang seksi berenda. Kulepas celana dalam itu, sehingga tampak vaginanya yang bersih tak berbulu sedikitpun. Langsung kujilati dan kuciumi vagina tante Yulia, sehingga tubuhnya agak melonjak dari sofa. Ahh.. Wan.. Yes.. Ohh.. erang tante Yulia. Sambil mengerang, tubuhnya tampak sedikit melengkung ke belakang menahan nikmat. Tangannya tampak meremas-remas payudaranya sendiri. Kubuka lebih lebar paha tante Yulia, dan kujilati dan kadang kugigit perlahan klitorisnya. Sementara tanganku menggantikan tangannya untuk meremas-remas sepasang payudaranya yang kenyal itu. Ruangan semakin dipenuhi oleh erangan tante Yulia, dan juga bunyi sofa karena gerakan tubuhnya yang mengeliat-geliat nikmat. Tiba-tiba HP tante Yulia berbunyi. Kamipun tak mempedulikannya dan aku terus memberikan kenikmatan oral pada tante yang cantik ini. Tetapi bunyi HP terus berbunyi.. Shit.!! maki tante Yulia. Sebentar ya Wan. Tante Yulia pun bangkit dari sofa dan berjalan ke meja kerjanya. Diraihnya HP dan dijawabnya dengan nada kesal. Ya.. Ada apa? Aku baik-baik aja dear.., sedang sibuk untuk pameran minggu depan jawabnya sambil kembali duduk di sofa. Kamu sendiri gimana di Kuala Lumpur? sambil berkata begitu tangan tante Yulia meraih kepalaku yang masih berjongkok di depan sofa dan mendorong ke arah tubuhnya. Akupun mengerti kemauannya. Kembali kusibakkan gaunnya dan mulutku kembali menciumi dan menghisapi bibir vaginanya. Kemudian kutelusuri vaginanya dengan lidahku, untuk kemudian kuhisaphisap kembali klitorisnya. Iya dear.. Hmm.. Udah dulu ya.. Aku banyak kerjaan nih.. I love you.. sambil berbicara tangannya mengusap-usap rambutku. Kulihat tante Yulia menggigit bibirnya sendiri menahan erangannya, agar suaminya di ujung telepon tidak curiga. Iya.. Nggak apa.. Aku bisa jaga diri kok.. Ok.. Bye dear.. setelah menutup HP -nya, erangan tante Yulia yang tadi terpaksa ditahannya langsung meledak.

Oh.. God.. Terus Wan.. Yes.. Semakin cepat kujilati klitoris tante Yulia. Ahh.. Wan.. Kamu hebat.. Aku keluar Wan.. Ohh..my godd.. Tubuh tante Yulia mengelinjang hebat dan cairan vaginanya semakin mengucur banyak. Terus kuhisap dan kuciumi vagina indah tante Yulia yang cantik ini, sampai tubuhnyapun lemas terhempas di atas sofa. Kuraih tisu di atas meja dan kubersihkan mulutku dari cairan nikmat tante Yulia. Kemudian kuhabiskan sisa orange juiceku, dan kuambil dan kuberikan orange juicenya. Minum dulu tante kataku. Thank you Wan.., aduh belum pernah tante orgasme kayak tadi.. Kamu benar-benar laki-laki Wan.. Lalu diteguknya orange juicenya sampai habis. Sekarang giliran kamu ya.. katanya Dimintanya aku berdiri di depannya. Tante Yulia yang masih duduk di sofa lalu membuka celana panjangku. Aku pun membuka kemejaku, dan tak lama akupun tinggal bercelana dalam di depannya. Kata Sonya punyamu besar ya Wan katanya sambil tersenyum menggoda. Tangannya kemudian menanggalkan celana dalamku, dan penisku yang memang lumayan besar itupun mencuat keluar dengan gagahnya sampai hampir mengenai wajahnya yang cantik. Oh.. God.., besar banget Wan.., I like it.. katanya sambil mengelus-elus kemaluanku dengan jemari tangannya yang lentik. Sambil mengocok perlahan penisku, wajah tante Yulia mendekat dan tak lama lidahnya telah menjilati batang penisku. Ah.. Tante.. erangku ketika kepala penisku dijilatinya. Sambil menjilati kepala penisku, tante Yulia meremas-remas buah zakarku sambil matanya menatapku nakal menggoda. Kemudian dibukanya mulut mungilnya dan dikulumnya penisku. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhku ketika tante Yulia menggerakkan kepalanya maju mundur menghisapi penisku. Kuremas-remas kepalanya sambil merasakan kehangatan mulut tante muda yang cantik ini. Tampak tante Yulia begitu menikmati penisku. Dihisap, dijilati dan diremasnya penisku dengan penuh gairah. Sesekali gumaman nikmat terdengar dari mulutnya saat dia mengulum penisku. Sedangkan erangankupun semakin keras terdengar memenuhi ruangan kantor gallery itu.

Now.. Please fuck me Wan.. Aku pengin ngerasain barangmu yang gede itu. katanya sambil bangkit berdiri. Dia pun kemudian berbalik membelakangiku. Kuciumi lagi pundaknya dan kuremas payudaranya. Kemudian tante Yulia memposisikan dirinya sehingga dia menungging di atas sofa tamu. Kusibakkan gaunnya dan kuarahkan penisku ke liang vaginanya. Oh.. God.. erangnya ketika kepala penisku mulai masuk menyesaki liang vaginanya yang sempit. Kudorong tubuhku sehingga peniskupun masuk lebih dalam, dan mulai kupompa vagina tante muda ini. Ahh.. Yes.. Fuck me.. Fuck me.. Yes.. Yes.. erang tante Yulia setengah menjerit. Payudaranya tampak bergoyang-goyang menggemaskan karena gerakan tubuhnya. Jepitan vagina sempit tante Yulia terasa begitu nikmat di sepanjang penisku. Sambil memompa tubuhnya, sesekali kuremas payudaranya yang menggantung menggemaskan. Setelah beberapa menit kami bersetubuh dengan doggy-style, akupun kemudian duduk di sofa. Tante Yulia segera menaiki tubuhku dan kami kembali bersetubuh dengan duduk saling berhadapan. Dengan posisi ini, aku leluasa untuk kembali menikmati payudaranya yang montok itu. Tante Yulia menaikturunkan tubuhnya di pangkuanku, dan tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat dan padat. Wan.. Wan.. Aku hampir keluar lagi wan.. Oh.. God.. erang tante cantik ini . Aku lalu kembali menghisapi payudaranya sambil tanganku mendekap erat punggungnya. Sambil tanganku yang lain memegang erat pantatnya, aku lalu menggenjot cepat penisku dalam liang vaginanya. Ahh.. Ahh.. God.. God.. Ahh.. jerit tante Yulia mendapatkan orgasmenya yang kedua. Butir keringat tampak mengalir membasahi wajahnya yang cantik dan sebagian menetes ke payudaranya yang indah. Akupun terus menggenjot tubuhnya dan tak lama akupun merasa akan segera menyemburkan spermaku dalam liang vaginanya. Hmmhh.. erangku tertahan saat orgasme, karena mulutku masih menghisapi payudara tante Yulia. Banyak sekali spermaku yang menyembur ke dalam vagina tante Yulia. Mungkin karena aku begitu terangsang melihat wajahnya yang cantik serta bodynya yang seksi. Setelah itu akupun melepaskan dekapan eratku di tubuh tante cantik pemilik gallery ini. Tubuhnyapun rubuh lemas di samping tubuhku.

Tante puas banget Wan.. Belum pernah dapat yang seperti tadi dari suami tante Wawan juga puas banget tante. Tante cantik banget sih Ih.. Kamu bisa aja jawabnya sambil mencubit tanganku. Kami pun beristirahat beberapa saat, sebelum aku pamit pulang karena ada janji dengan pacarku. Aku pun berjanji akan mengirim draft surat kontraknya lewat e-mail sesegera mungkin. Jangan lewat e-mail Wan.. Kamu bawa aja sendiri.. Mumpung suamiku belum pulang.. Aku tunggu ya. katanya sambil tersenyum manis. Tamat

Percintaan di Kelas
Cerita ini berawal pas gw duduk di SMU.. pertama kali gw masuk kelas 3.. gw pindahan dari surabaya.. SMP gw di jakarta cuma sampai kelas 2 semester 1.. kelas 2 SMP.. selanjutnya gw terusin di surabaya.. maklum bonyok pindah kerja melulu terpaksa gw ikut juga waktu itu hari pertama gw masuk kelas 3.. gw di kenalin di salah satukelas kalu nggak salah 3 IPA gw orang pinter wajar masuk IPA hauahahhauah!!.. gw di kenalin sama guru gw n kepsek di kelas udah gitu gw di suruh duduk di samping cewe yang langsung gw kenal namanya meita tingginya sebahy gw.. badannya sintel banget payudaranya yang selalu buat gw ndisir melulu klo deket dya. gw sempet tuker-tukeran no. hp sama dya setelah gw tau dya kaya gimana gw coba aja jadian sama dya Gw jalan sama dya masih sampai sekarang dya klo deket gw rada binal Napsuan bersyukur banget gw dapet cewek macem gitu waktu itu pelajaran biologi, kebetulan gurunya nggak masuk gw sama meita ngobrol aja dipojok kelas.. maklum tempat duduk gw sama dya di taro di pojok sama walas pertama gw sich nggak berani ngapangapain dya di kelas tapi klo udah masuk ke mobil gw abis tuch cewe. waktu itu gw liat temen gw lagi cipokan di depan kelas. balakng meja guru tiba aja cewe gw ngomong gini tuch rido aja berani.. masa kamu kalah sama dya?? ha? aku kalah belum sempet selesai bibir gw di lahap sama meita di bales aja dengan ciuman n sedotan yang bikin dya ampunan sama gw meita sempet ngasih lidahnya ke gw.. tapi gw lepas ciumannya kenapa?? gw bilang aja begini aku nggak mau maen lidah di kelas.. takut kelewatan y udah.. maen biasa aja gw lanjutin ciuman gw di bawah.. bangku meja gw gw dorong ke depan supaya lebih luas gw

ngelakuin ciuman demi ciumanahhhhhh. ahhhh dittttt.. kata itu selalu keluar dari mulutnya. setelah gw puas ciumin tuch bibir gw turun ke bawah ke lehernya dya yang makin membuat dya kewalahan dan tangan gw ngeremes payudara dya.. yang ukurannya gw taksir 35 tau A B C D.. cuz setiap gw tanya dya g pernah mau jawab. gw remes tuch dadanya sampe dya kelojotan setelah gw nandain tanda merah di lehernya dya ngeremes remes kontol gw yang membuat ni ADEK kagak kuat lagi buat nahan didalam kancut. maupun masih make baju seragam n gw ngelakuin di dalam kelas gw tetep nggak gentar. gw bukan resleting seragam gw n gw keluarin tuch siADEK.. dan si meita udah siap dengan mulutnya yang menganga. gw sempet nutupin dya pake jaket gw sehingga misalnya temen gw nanya gw bilang aja lagi sakit.. jilatan demi jilatan dya beri untuk gw.. isapan dya bikin gw nggak kuat lagi buat nahan keluarnya mani gw.. lidahnya bergoyang di ADEK gw. akhhhhhhh. crotttttt croooootttt crotttttttttttt. keluar mani gw.. meita membersihkannya dengan mulutnya dan di kocok trus di ADEK gw.. selesai itu gw bersiin mulutnya dya paketissue yang ada di kantongnya. gw sama meita kembali berciuman freenc kiss,,, lidahnya dya ber gelugit di dalam mulut gw jam 12.00 gw balik sekolah. sebelum gw gas mobil gw ke rumah gw di bilangan bekasi.. nggak jauh dari rumahnya meita.. gw bermain dadanya meita dolo di mobil gw. gw buka kancing seragam pelan di bantu meita dengan napsu yang ganas meita ngerti maksud gw and dya nge buka tali BHNya dan 2 buah gunung merapi yang bakal mengeluarkan volcano gara isapan gw muncul di depan gw.. dengan napsu di ujung rambut gw isap puting susunya tangan kiri gw megangin kepala belakang dya.. and tangan kanan gw ngeremes dada yang satu lagi. ahhhhh.. radit pelan donkkk. meita udah nggak bisa nahannnnn lagiiiii nehhhhhhhh.. puting meita yang berwarna merah ke merah mudaan tertelan abis oleh mulut gw and tiba aja tubuhhhhh meita mejelijang seperti cacing kepanasan. gw sedot trus dada meita. sampai puting itu terasa keras banget di mulut gw. meita cuma diam dan terkulai lemas di mobil gw. gw liat parkiran mobil di sekolahan gw udah sepi. meita mengancingi baju seragamnya satu gw bantu supaya cepet. selama perjalanan pulang meita tetap lemas dan memejamkan matanya gw kecup keningnya sesampai di rumah gw. meita bangun dan dya pengen ke kamar kecil gw suruh dy ganti seragam dengan baju kaos yang dya bawa dari rumah sebelum berangkat kesekolah. selesai dari kamar mandi gw liat meita nyopot BHnya. terlihat jelas putingnya dan bongkahan susu sebesar melon itu.. belum sempat masukin baju ke tasnya dya dya gw dorong gw tempat tidur dan gw lahap bibirnya dan dya membalas nya dengan penuh hot panas bercampur dengan napsu gw yang cuma make bokser doank ke walahan tangan dy bermain di selangakangan gw.. gw bermain di leher dya dan gw buat cap merah lagi di lehernya. gw sibak SMA negeri yang hanya sampai lutut itu dy cuma

make CD G string dengan perlahan dya nurunin roknya dan dy hanya menggunakan CDnya gw copot dan gw jilatin vaginanya.. ahhhhhhhhhhhhhhhhhh.. . dit..ahhh hhhhhhh cuma kata itu yang keluar daru mulutnya.. gw rasain vagina meita semakin keras dan gw gigit kelentitnya dya terik semakin kencang untung di rumah cuma da pembantu gw.. dit.. puasin gwwww dunkkkkkkk. nggak pake cing cong gw jilat n gw sodok tuch vagina pake telunjuk gw dittttttttttttttttt.. .. gw keluarrrrrrrrrrrrrrrr.. vagina meita basah ketika di depan mata gw di sedot sampai bersih tuch vagina udah gitu gw liat dya memegang bantal dengan keras. gw deketin dya dan gw cium bibir dya. ternyata dya blum lemas.. dy bangkit dan memegang kontol gw dan di kocokinnya sampe si ADEK mengacung sangat keras.. kontol gw di masukin ke mulutnya meita. di masukan di keuarkan. sampai di sedot.uhhhhhhhhh.. nikmat banget yang sekarang dari pada yang di kelas tadi. biji zakar gw juga nggak lupa ikut ke sedot.. pass biji gw di sedot rasanya gw pengen FLY. kocokin meita semakin panas dan hisapannya semakin nggak manusiawi lagi wajahnya tambah maniss kalo dya sambil horny begini.. ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.. . crottttttttttttttttttttttttttt tt many gw tumpah semua ke lantai kamar gw. yang sisanya di jilatin meita sampai bersuh gw bangkit dan menarik tangan meita gw ciumin dadanya gw kenyotlagi putingnya sampai merah.. gw cupang di sebelah putingnya. manis banget susunya. membuat gw semakin napsu sama dya meitaku sayang. masukinnn sekarang yach?? ya udahhhh cepetannn aku dari tadi Nungggu kamu.. gw bertukar posisi meita di bawah. dan gw di atas sebelum gw masukan gw gesek dolo di depan vaginanya belum gw masukin aja meita udah meringis. gw dorong perlan Dit pelan sakit. nee.. di bantu dengan tangannya dya perlahan kontol gw masuk. baru seperempatnya masukkk gw cabut lagi dannn gw sodok lagi. dan akhirnya masuk semua.. gw lihat meita sangat menderita tapi sepertinya dya seneng banget. udah semuanya masuk gw goyangin gw maju mundurin perlahan lahan.. bokong meita pun ikut bergoyang yang membuatku kewalahan.. setelah beberapa menit gw goyang tiba badan meita mengejang semua.. dan akhirnya meita orgasme untuk ke 3xnya.. gw cabut kembali penisg w dan meita berada di atas gw.. posisi ini membuat gw lebih rileks. meita memasukannya pelan di genggamnya penisku dan di masukannya penisku ke vaginanya. dan blesssss ternanam semua di dalam vaginanya.. badan meita naik turun mengikuti irama. meita mengambil bantal yang da di sebelahnya dan menarohnya di pala gw. posisi ini membuat gw bisa ngerasaain 2 gerakan sekaligus gw emut kecil putingnya meita dan meremas remasnya.. bokong meita terusss bergoyaanggg.. ahhhhhhhhh ahhhhhhhhh.. isappp teruss dit badan meita mengenjang dan radittttttttttttttt akuuu pengen keluar lagi... akuuu juga pengennnnn selesaiiiiii metttt tahannnn sebentarrrrrrr lagi... gw dan meita mempercepat permainan dan

akhirnyaahhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhh.. gw keluar.. kata itu yang menngakiri permainan ini.. sampaiiii sekarang pun meita tetep bermain sama gw kami tetap melakukan banyakk hal. dan gw di tunangin sama meita karena orang tua kami sama setuju atas hubungan kami. Tamat

Gairah Sepupu
Perkenalkan namaku Steven, aku baru saja menginjak umur 30 tahun. Nama panggilan akrabku adalah Steve. Sekarang aku bekerja di suatu perusahaan multimedia design & marketing di Jakarta. Focus dari pekerjaanku lebih menuju ke arah website design. Statusku masih belum menikah, dan juga masih belum punya pacar yang serius. Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak dan adikku laki-laki semua. Sekarang kakak kandungku telah berkeluarga, dan tinggal di Denpasar. Adik kandungku baru saja menyelesaikan kuliah-nya di Jakarta, dan kami tinggal bersama. Sejak aku pindah ke Jakarta, orang tua kami membeli rumah di Jakarta agar aku dan adikku tidak gampang terpengaruh oleh sifat dan kebiasaan anak-anak kost yang tidak benar. Memang aku akui itu kekhawatiran yang berlebihan, tapi bagi kami itu adalah berkat karena telah diberi tempat tinggal oleh mereka. Kakak sulungku sejak tamat SMA (sekarang SMU) langsung pindah ke Denpasar, Bali. Dia mengambil bidang kedokteran, dan kini sekarang dia berhasil membuka praktek sendiri di Denpasar dan menetap di sana. Setelah lama dia berpindah dari 1 tempat ke tempat lain di daerah terpencil untuk ujian praktek dan juga karena suruhan pemerintah. Aku ingin menceritakan pengalaman mengesankan sewaktu aku masih kuliah di kota pahlawan (Surabaya) hampir 10 tahun yang lalu. Pengalaman ini melibatkan hubungan aku dengan kakak sepupuku yang berumur 5 tahun lebih tua dari aku. Kalau aku pikir-pikir lagi sekarang, keperjakaanku diambil oleh kakak sepupuku sendiri, dan tidak ada rasa penyesalan di dalam diriku. Atau mungkin karena aku adalah lelaki, jadi masalah keperjakaan tidak terlalu penting bagi kami kaum Adam. Kakak sepupuku bernama Jesi, tapi sejak kecil aku selalu memanggilnya Ci Jes atau hanya Cici yang artinya kakak perempuan. Kami berasal dari kota yang sama yakni kota Surabaya. Jesi adalah anak dari kakak perempuan ibuku. Dia adalah anak bibi yang sulung dari 3 bersaudara. Jesi pada saat 10 tahun yang lalu berwajah cantik, putih, dengan tinggi badan 165 cm. Dadanya montok, meskipun tidak begitu besar. Tapi pinggulnya bukan main indahnya.

Aneh-nya anak dari ibuku semua-nya lelaki, sedangkan anak dari bibi semua-nya perempuan. Rumah kami tidaklah jauh, dan sewaktu masih SMP dan SMA, Jesi selalu mampir ke rumahku hampir tiap 3 kaliseminggu. Karena tempat les private matematika, dan fisika-nya hanya beberapa meter dari rumahku. Jadi daripada pulang ke rumah-nya dulu seusai sekolah, dia memilih untuk mampir di rumahku untuk makan siang lalu berangkat lagi ke les private-nya. Bisa dikatakan meskipun umur kami beda 5 tahun, tapi kami sangat akrab. Jesi ramah, lembut, dan sangat perhatian kepada kami. Kami menganggap Jesi seperti kakak kandung sendiri. Tapi aku selalu merasa Jesi memberi sedikit perhatian lebih kepadaku. Waktu itu aku berpikir mungkin karena kakak sulungku hampir seumur dengan-nya, dan adik bungsuku umur-nya beda amat jauh darinya. Tapi setelah kejadian malam itu, aku baru mengetahui kenapa Jesi memberikan perhatian lebih kepadaku. Jesi sering bercurah hati denganku, meskipun waktu itu aku masih duduk di bangku SD. Kadangkadang aku tidak mengerti apa yang dia omongkan. Kalau dia tertawa, aku pun ikut tertawa. Meskipun aku waktu itu tidak tau kenapa harus tertawa. Mengingat-ingat itu lagi, aku bisa tertawa sendiri sekarang. Jiwa anak-anak masih lugu dan murni. Semenjak tamat SMA, Jesi pindah ke Bandung dan kuliah di sana. Sejak kepindahan Jesi, terus terang aku merasa kehilangan dan kadang-kadang rindu dengan-nya. Hanya setahun 2 kali Jesi pulang ke Surabaya, dan itu hanya untuk beberapa minggu saja. Dan yang mengesalkan, tiap kali Jesi pulang, selalu saja saat aku harus menghadapi ujian umum. Jadi waktuku untuk bermain-main dengan dia sangatlah terbatas. Aku juga pernah sempat cemburu oleh lelaki yang sekarang menjadi suami Jesi, sewaktu Jesi membawa-nya pulang bertemu keluarga-nya dan keluargaku. Rasa cemburu ini sangatlah beda. Tidak sesakit rasa cemburu terhadap pacar sendiri. Mungkin rasa cemburu karena takut akan kehilangan kakak kesayangan saja. Lelaki itu bernama Bram. Bram berasal dari kota Samarinda, yang kebetulan kuliah di universitas yang sama dengan Jesi. Hubungan Bram dan Jesi terus berlangsung sampai akhir-nya seusai kuliah, mereka memutuskan untuk segera menikah. Keputusan menikah ini atas permintaan Bram, karena dia harus kembali ke Samarinda dan melanjutkan usaha orang tua-nya. Jesi menikah di usia-nya yang ke 24 tahun. Tentu saja setelah menikah Jesi harus ikut Bram ke Samarinda. Semenjak kepindahan Jesi ke Samarinda, hubungan kami sempat terputus selama 2 tahun. Dan kabar tentang Jesi hanya bisaku dapatkan dari bibi (ibu Jesi) saja. Pada saat itu Jesi masih belum dikaruniai seorang anak. Tiap kali aku bertanya kepada bibi mengapa sampai saat itu Jesi belum memiliki momongan, jawaban bibi selalu saja sama, yah antara kesibukan Jesi membantu usaha Bram atau Jesi sendiri masih belum siap memiliki momongan.

Ternyata memang benar, sejak Jesi menikah dan pindah bersama Bram di Samarinda, usaha Bram benar-benar lancar dan berkembang pesat. Bram memiliki toko yang luas dan terbagi menjadi 2 bagian. Bram menangani usaha business dibidang handphones dan aksesorinya. Sedangkan Jesi menangani usaha business di bagian konveksi dan aksesorinya seperti jepit rambut, anting-anting, dan sebagainya. Bram dan Jesi sering terbang ke Jakarta untuk order handphones, dan barangbarang model terbaru di Indonesia untuk dijual di toko mereka. Suatu hari setelah 2 tahun lama-nya tiada kontak dengan Jesi. Tiba-tiba Jesi terbang ke Surabaya karena rindu dengan orang tuanya. Bram tidak datang bersamanya dan Jessi hanya tinggal untuk 10 hari saja. Tapi kunjungan kali ini tidak tepat pada waktunya. Rencana Jesi pulang ini untuk memberi kejutan buat orang tuanya, malah dia lebih dikejutkan lagi oleh orang tuanya. Waktu itu bibi dan paman harus terbang ke Thailand karena liburan dan tidak mungkin dibatalkan karena tiket dan semua akomodasinya sudah dibayar. Jadi Jesi bertemu dengan bibi/paman hanya untuk 2/3 hari saja. Selanjutnya Jesi harus menjaga rumah dan kedua adiknya. Saat itu aku masih duduk di bangku kuliah, dan kebetulan baru memasuki semester baru. Tiada kesibukan yang berarti di saat kami baru memasuki semester baru. Pada hari Jumat siang (kira-kira jam 2 siang), sepulang dari kuliah, aku langsung memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Tidak seperti biasanya. Biasanya setiap hari Jumat, aku dan teman-teman kuliah pasti langsung ngafe atau istilahnya ngeceng (kalo bahasa kami bilangnya mejeng) di mall. Waktu tiba di rumah, Jesi sudah ada di sana dan lagi menonton VCD bersama pembantu. Halo Ci Jes, kapan datang?, sapaku. Halo Steve. Baru aja datang. Cici bosan di rumah. Tara dan Dina lagi keluar tuh ama cowokcowoknya. Jadi cici bosan di rumah sendiri. Jadi yah pindah aja di sini., jawabnya ringan. Ci Jes dah makan belum?, tanya saja. Sudah tadi. Tuh ada ikan goreng ama sambel lalapan mbak punya. Mantep tuh!, canda Jesi sambil melirik ke pembantuku. Aku kemudian masuk kamar dan mengganti pakaian rumah. Jesi waktu itu sedang nonton film Armageddon (Bruce Willis). Salah satu film favoritku. Kemudian aku join dengannya nonton bersamasama sambil makan siang di depan TV. Tapi memang benar, ikan goreng sambel lalapan pembantuku memang tiada tandingannya. Sempat saja aku tambah 2/3 piring. Di tengah-tengah menonton VCD, pembantuku menawarkan kami jus buah. Tentu saja tawaran yang tidak boleh dilewatkan. Di siang bolong begini, jus buah segar adalah penawar yang paling tepat. Aku duduk di atas sofa sambil kakiku naik di meja, dan Jesi duduk pas di sebelahku. Semakin lama Jesi semakin mendekat ke aku. Aku tidak begitu perduli karena aku sudah terbiasa dengan itu. Bau

harum rambutnya sempat tercium saat itu. Jesi tampak bosan, mungkin karena dia telah nonton film itu dulunya. Steve, cici bosan nih!, katanya. Trus Ci Jes mau ngapain?, tanyaku. Ngga tau nih. Mau ke Thailand cici., jawabnya sambil tertawa. Ya sono, beli ticket! Steve anterin deh sekarang, responku seadanya. Tiba-tiba Jesi mencubit perutku. Ci Jes mau ke mall ngga?, tawaranku. Malas ah. Mall mall melulu. Ngga ada yang lain?, tanya Jesi. Ada. Mau ke Tretes? Nginep di sono., tawaranku lagi. Boleh sih, tapi ngga hari ini. Masih panas dan macet lagi jam-jam gini., jawabnya. Trus sekarang Ci Jes mau ngapain?, tanyaku sekali lagi. Ke kamar Steve yuk. Ada computer game baru ngga?, tanya dia. Liat aja sendiri., jawabku santai. Kemudian kami cabut dari depan TV dan membiarkan pembantuku nonton film itu sendiri. Di kamar aku menyalakan AC dan computer. Aku membiarkan Jesi main-main computerku, dan aku hanya berbaring di tempat tidur sambil membaca komik manga. Ternyata Jesi tidak jadi main game computer, tapi malah browsing-browsing foto-foto yang aku scanned sendiri. Jaman itu digital camera masih mahal dan kualitasnya jelek, tidak seperti saat ini. Jesi terlihat senyum-senyum sendiri melihat foto-foto kami waktu masih kecil. Tiba-tiba bak kesambar petir, Jesi membuat aku mati kutu. Aku lupa total kalau di computer itu banyak koleksi film-film porno yang aku dapat dari teman-teman kuliah. Hayo apa ini, Steve?!, tanya dia sedikit menyindir. Weleh Ci Jes jangan buka itu dong! Barang privacy! Khusus laki-laki., jawabku seadanya. Emang cewek ngga boleh liat yah?, tanya dia menyindir lagi. Kalo cewek mau liat, boleh aja, tapi liat nanti saja atau kapan-kapan, jangan sekarang., jawabku sambil malu tidak karuan. Cici mau liat sekarang boleh kan?! Lagian cuman begini saja. Steve lupa yah, cici kan sud ah punya suami., jawab dia lagi. Ya udah. Terserah Ci Jes. Tapi suaranya dikecilin yah. Ntar mbak kedengaran lagi., pintaku. Tanpa basa-basi, Jesi langsung putar aja film-film porno itu. Anehnya seakan-akan Jesi terlihat menikmati film-film porno tersebut. Koleksiku termasuk banyak dan dari banyak negara, ada Amrik, Australia, Canada, Jepang, Hongkong, Taiwan, Thailand, dan sedikit saja yang Indo. Maklum bokep Indo saat itu masih susah didapat. Berbeda dengan jaman sekarang.

Cukup lama Jesi menonton film-film bokep itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh panggilannya. Panggilan inilah awal dari segalanya. Steve, pinjitin cici dong? Minta mama tuh beliin kursi belajar yang enak. Bikin pegal aja., kata Jesi. Terus terang sejak dulu, aku tidak pernah sungkan-sungkan untuk memijat Jesi apabila dia minta. Tapi kali ini aku keberatan, karena Jesi sedang nonton film porno. Sejak tadi aku pengen keluar dari kamar, dan membiarkan Jesi nonton sendirian. Tapi juga ada sedikit rasa ngga enak kalo meninggalkan dia sendiri. Aku berdiri di posisi yang serba salah. Akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Jesi. Ehmmehmmm, suara Jesi keenakan. Kurang keras, ci Jes?, tanyaku. Cukup steve. Tapi rada turun ke lengan sedikit yah., pinta Jesi. Sekarang mau tidak mau aku ikut nonton film bokep itu bersama Jesi. Aku tidak berani berkata apaapa. Malu dan risih itu alasan yang paling tepat. Aku akui sejak dari tadi rudal aku sudah cukup berdiri, tapi masih belum maksimum. Cukup lama aku memijat pundak dan lengan Jesi. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suaranya yang membuat jantungku seakan-akan mau copot. Steve, pengen pijet susu cici ngga?, tanya Jesi. Jeblerrr, kayak kesambar petir, ingin segera pingsan saja aku dengan pertanyaan Jesi itu. Err maksud ci Jes apa yah?, tanyaku pura-pura bego. Iya, cici tanya Steve. Pengen ngga pijet susu cici?, jawab Jesi sambil tangannya meraba payu daranya sendiri. Err , hanya itu yang bisa saja jawab. Dengan malu-malu aku turunkan kedua telapak tangan aku menuju kedua payu daranya, dan meremasnya lembut. Tubuh Jesi tiba-tiba terkejut sejenak, kemudian santai lagi. Hanya beberapa detik saja, tiba-tiba Jesi berkata: Steve, stop dulu. Bentar, cici mau lepas BH dulu. Gila benar nih, aku dibikin ngga karuan saja. Jesi melepaskan BH nya dari dalam kaos putihnya tanpa menanggalkan kaosnya. Nah, kalo begini Steve lebih leluasa., katanya santai. Terang aja, aku bisa merasakan daging lembut yang menonjol jelas dia dadanya, meskipun masih terbungkus kaos putihnya. Aku menelan ludah, malu, risih, grogi tapi kedua telapak tangan masih meremas-remas payu daranya. Rudal penisku sekarang menjadi berdiri tegak, dan amat keras.

Ehmmehmmmahhh, suara Jesi perlahan-lahan berubah seperti suara pemain wanita di film bokep yang sedang kami tonton. Tangan kanan Jesi sekarang sudah tidak memegang mouse computer lagi, tapi meremas telapak tanganku yang sedang sibuk meremas-remas payu daranya. Aku benar-benar masih hijau dibidang beginian. Edukasi seks yang aku dapatkan hanya dari film-film bokep saja. Reality seks experience masih belum pernah sama sekali. Ini saja pertama kali aku meraba, meremas payu dara seorang wanita. Ahh Steve ahhh , suara Jesi makin sexy dan inilah pertama kali aku melihat wajah Jesi dalam keadaan terangsang alias horny. Kakak sepupu yang biasanya manis dan lembut, kini berubah menjadi wanita yang sedang haus akan seks. Aku tidak pernah menyangka kalau Jesi ternyata sangat mahir di bidang ini. Tanpa sungkan-sungkan lagi, Jesi bertanya dengan vulgarnya, Steve, pengen gituan ama cici ngga?!. Anu, gituan apa ci?, tanyaku pura-pura bego lagi. Steve jangan pura-pura bloon ah, jawab Jesi sambil mencubit tanganku. Tapi Steve emang ngga tau, pengen gituan apa sih?, jawabku masih pura-pura lagi. Idihh Steve, reseh nih. Maksud cici itu, Steve pengen ngga ngentot ama cici?, kali ini pertanyaannya semakin bertambah vulgar. Istilah ngentot jarang dipakai di Surabaya waktu jaman itu. Istilah ini umum dipakai di Jakarta dan sekitarnya. Mungkin karena dulunya Jesi pernah kuliah di Bandung, jadi istilah ini sudah biasa diucapkan olehnya. Hah?! Yakin nih ci Jes? Di sini sekarang? Ntar kedengaran mbak loh., jawab panik. Kunci aja pintunya. Kayaknya mbak lagi tidur siang. Lagian kita putar musik aja biar ngga kedengeran., jawab Jesi. Tanpa diberi aba2, dengan cepat aku mengunci pintu kamar, kemudian menutup film bokep tadi dan menggantikannya dengan mp3 program. Jesi sudah berbaring di atas ranjangku sambil memandangku yang sedang berdiri di samping ranjang. Tidak tahu harus mulai dari mana. Seakan-akan mengerti dengan tingkah lakuku yang mau hijau. Jesi kemudian menarik tubuhku agar bergabung dengannya di atas ranjang. Tanpa malu-malu, tangan Jesi menjulur ke dalam celana boxerku, dan dengan singkat saja batang penisku telah digenggamnya dengan mudah. Wah, kok dah tegang nih?, tanya Jesi menggoda. Ah, ci Jes bisa aja nih?, jawabku malu-malu.

Steve pernah ngga gituan ama cewek lain?, tanya Jesi penasaran. Menurut ci Jes gimana?, jawabku malu-malu. Kalau menurut cici sih, kayaknya belum pernah yah. Steve masih malu-malu gitu tapi MAU!, godanya lagi. Cici ajarin Steve yah. Tapi ini untuk kali ini saja. Tidak bakalan ada lain kali. Cici mau ambil Steve punya perjaka., kata Jesi sambil tertawa. Aku seperti tidak mengenal Jesi sebagai kakak sepupuku yang seperti biasanya. Perasaan sayang aku sebagai adik sepupu terhadap kakak sepupu berubah menjadi perasaan nafsu birahi. Pengen sekali aku menidurinya dan menikmati tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan segera saja kulepas semua pakaian yang aku kenakan termasuk celana boxerku. Kini aku yang terlanjang bulat. Mungkin karena terlalu nafsu dan grogi, aku sampai lupa kalau Jesi masih berpakaian lengkap. Brrr semburan angin AC benar-benar dingin. Dengan segera aku matikan AC di kamar. Reflek tubuh aku untuk menghindari dari masuk angin. Ci Jes, ngga lepas baju?, tanya aku lugu. Ntar dulu, pelan-pelan dong sayang., jawab Jesi santai. Terus terang panggilan kata sayang di sini berbeda sekali rasanya dengan kata sayang yang sering Jesi ucapkan dulu-dulunya. Kali ini seakan-akan kata sayang yang berarti seperti aku milikmu atau nikmatilah aku, atau apalah gitu. Yang pasti berbau seks. Aku berbaring di atas ranjang dengan posisi badan terlentang, kedua telapak tangan di atas perut, dan dengan batang penis yang menegang. Jesi seperti mengerti apa yang harus dia perbuat. Jesi mengarahkan tubuhnya diatas tubuhku dan memulai actionnya. Pertama-tama dia mencium leherku, kemudian menjilati kuping aku. Tentu saja bulu romaku berdiri dibuatnya. Aku mencoba mencium bibirnya, tapi tiap kali aku mencoba, Jesi selalu menghindar saja. Ci Jes, Steve mau cium bibir cici., kataku. Jangan Steve. Ciuman bibir kan hanya buat pacar. Cici kan bukan pacar kamu., jawab Jesi . Aku hanya mengangguk saja pertanda setuju, dan kemudian membiarkan dirinya menjelajahi seluruh tubuhku. Jesi benar-benar mahir dalam bidang beginian. Dia dengan cepat bisa mengetahui dimana titik kelemahanku tanpa harus bertanya kepadaku. Dengan tanpa ragu-ragu dia mengulum lembut batang penisku, dengan sesekali menjilat-jilatnya. Tubuhku bak melayang di surga, setiap hisapan yang dia berikan terhadap batang penisku membuatku melayang-layang.

Cukup lama dia bermain dengan batang penisku, akhirnya dia berhenti dan membuka kaosnya. Oh my gosh, pertama kali ini aku melihat sepasang payu dara indah milik Jesi. Selama aku hanya menikmati bagian atasnya saja yang putih mulus ditutupi oleh baju renang. Kali ini semuanya terbuka lebar. Begitu putih, mulus, dan warna putingnya yang coklat muda menantang di depan mataku. Jesi menyuruhku mengulum puting susu-nya. Untuk yang ini aku bisa, seperti mengulum permen cuppa-cup saja. ahh ahh , terdengar suara erangan halus Jesi. Dia berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh pembantuku. Steve, tolong lepas celana cici dong?!, pintanya lembut. Tentu saja tawaran yang mahal. Dengan segera aku lepaskan celana jeansnya plus celana dalamnya. Sekali lagi OH MY aku menjadi sesak napas sekarang. Aku sekarang bisa melihat memek Jesi dengan jelas. Sungguh indah, lebih indah dari memek-memek yang pernah aku lihat dari film-film porno. Jembutnya juga halus dan tidak begitu lebat. Paha-nya mulus, dan perutnya langsing. Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya bahwa Jesi se-sexy ini. Walaupun telah menikah lebih dari 2 tahun, Jesi masih rajin merawat bentuk tubuhnya. Terpintas di dalam pikiranku untuk menjilat-jilati memek milik Jesi seperti yang sering aku lihat di film bokep. Tapi niat ini ditolak oleh Jesi, mungkin karena takut aku tidak tahan mencium aroma memek. Jadi aku hanya diperbolehkan untuk memainkan tanganku di bagian itilnya. Memek Jesi lembut sekali dan kini menjadi basah. Suara erangan nikmat Jesi semakin menjadi-jadi, dan kadang-kadang sedikit terlepas kontrol. Steveee, ahhh ahhh geli Steve, suara Jesi yang sedang bernapsu. Enak ci Jes?, tanyaku. Tapi Jesi seakan-akan tidak mendengar pertanyaan ini. Dia masih tetap berkonsentrasi dan menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang aku berikan. Memek Jesi semakin basah dan licin. Kali ini tubuhnya sedikit menegang. Saat itu aku tidak mengerti apa yang akan terjadi dengannya, yang terdengar dari mulutnya hanya Steve ahh ahh cici mau datangggg cici mau datanggg. Hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba tubuh Jesi mengejang dan menjerit keras. Aku panik dan segera saja aku tutup mulutnya dengan tanganku. Napasnya terengahengah, dan memelukku sekencang mungkin. Tubuh Jesi berkeringat, maklum saat itu AC telah aku matikan, mengingat Surabaya kota yang panas, tidak heran Jesi jadi berkeringat. Steve thank you , katanya sambil terengah-engah. Steve mau rasain masuk ke sini ngga?, katanya sambil menunjuk memeknya yang sudah basah. Aku hanya mengangguk malu-malu sambil berkata, Kalo ci Jes ijinin, Steve mau aja masuk ke sana..

Idih, genit kamu. Jelas cici ijinin dong. Masa cici cuma ijinin pegang. Kan tanggung., jawabnya genit. Kemudian dia menambahkan, Steve, tapi ini hanya untuk hari ini saja yah. Dan ini hanya rahasia kita berdua saja. Jangan sampai ini terbongkar ke orang lain, apalagi kalo sampai suami cici tau. Cici bisa bunuh diri., katanya serius. Husss mana boleh begitu ci Jes, jawabku tegas. Makanya, Steve harus jaga rahasia ini, ok?!, pintanya. Aku hanya memberikan signal peace, yang berarti I swear. Sekarang Steve ambil posisi di atas cici. Cici tuntun dedek Steve dulu. Jangan sembarangan main tusuk yah?!, katanya lagi. Aku hanya bisa mengangguk saja. Dengan mengambil posisi di atasnya, Jesi mencoba menuntun batang penisku masuk ke dalam memeknya. Aku menjadi ngga sabar lagi, pengen cepat-cepat masuk ke dalam. Aku begitu bernafsu saat itu. Selesai berhasil menembus masuk ke dalam memek Jesi, mata Jesi terpejam dan mulutnya bersuara basah ugghh. Saat penisku terbenam di dalamnya, a ku belum ingin mencoba memainkan pinggulku. Aku ingin merasakan hangatnya memek Jesi untuk beberapa saat. Pertama kali penisku masuk ke liang vagina wanita. Kenapa Steve. Kok diam saja?, tanya Jesi. Steve pengen diam dulu ci. Punya cici anget banget., jawabku. Enak?, tanya Jesi sekali lagi, dan aku menganggukan kepalaku. Kalau gitu kocok sekarang yah, ntar kalau Steve pengen keluar pejunya, keluarin aja yah. Jangan mencoba untuk ditahan. Ini kan pertama kali buat Steve, jadi cici bisa maklum kalo Steve belum bisa mengontrol keluarnya peju., jelas Jesi. Perlahan-lahan aku memainkan pinggulku. Aku belum terbiasa. Aku sedikit grogi. Jesi membantuku memainkan pinggulku agar dorongan dan irama kocokan batang penisku lebih berirama. Selangkangan Jesi dibuka lebih lebar olehnya, agar memberikan ruangan untukku bergerak lebih leluasa. AhhhStevecepet pinter kamuyah di sono terus terus lebih dalam lagi, puji Jesi. Aku hanya tersenyum saja. Uhhh ohhh uhhh, desahan Jesi menjadi-jadi. Jesi berusaha sekuat mungkin menahan desahannya agar tidak sampai terdengar terlalu keras. Jesi tampak bernafsu sekali, dan mulai mengeluarkan kata-katanya yang jorok. Aku pun mendengar kata-kata jorok Jesi, menjadi makin bernafsu juga. Aku merasa seperti lelaki satu-satunya yang mampu memuaskan nafsu birahi Jesi. Steveee entotin cici terus entot cici terus kontolnya enakkk bangettt sihhh uuuhhh. Melihat kelakuan Jesi, aku menjadi seakan-akan terbawa olehnya, dan seperti penyakit menular, akupun mulai ngomong yang jorok-jorok pula.

Iya ci Steve entotin terus memek cici kalo bisa entot terus foreverrr , kacau deh kata -kataku. Steveee cici mau kencinggg geliii bangettt uuhhh . Arti kencing di sini bukan bukan air seni beneran, tapi karena terlalu gelinya Jesi merasa seakanakan pengen kencing. Yang pasti memek Jesi makin basah saja. Uhhohhh suka ngga ngentot ama cici suka ngga? memek cici enak ngga? , tanya Jesi kacau. Enakkk bangettt cici enakkk banget Steve nanti kapan-kapan minta lagi yah? ngga mau sekali doang, pleaseee , mohonku. Iyaaa iyaaa asal Steve sukaaa Steve boleh entot cici terusss uuhh oohhh, jawabnya. Aku menjadi amat gembira mendengarnya. Ci Jes suka ngentot ternyataa yahhh baru tau Steve, kataku. Siapaaa di dunia ini yang ngga suka ngentot, heh? Cici juga manusia kann, jawab Jesi. Tubuhku terus memompa-mompa Jesi, dan kali ini aku yang menjadi berkeringat. Hampir seluruh badanku basah, dan itu membuat Jesi semakin bernafsu. Kadang-kadang dia mengusap dadaku yang berkeringat dengan telapak tangannya, dan kadang-kadang menjambak lembut rambutku. Ci Jes ahhh Steve kayaknya mau meledakkk ntar lagii gimana nihhh, kataku panik. Keluarin ajaaa kalo dah ngga tahann , jawabnya. Iyaaa Steve mau keluarrr ntar lagii cici siap-siap yah, kataku lagi. Jesi hanya mengangguk saja. Kupercepat lagi goyangan pingguku. Jesi menjadi seperti cacing kepanasan. Steveee cici juga mau datanggg enakk bener kontolnya sihhh , puji Jesi lagi. Ci Jes dah dipuncakkk nihhh ntar lagiii ntar lagiii , kataku ngga karuan. Barengan yah sayanggg ahhh ahhh cici juga mau datang sayanggg , Jesi mengingau. Mendengar kata sayang lagi, aku menjadi tambah bernafsu lagi. Bendungan pejuku sebentar lagi jebol, dan aku tau pasti kalau itu bakalan tidak lama lagi. Ci Jes Steve ntar lagiii datanggg , kataku memberi aba-aba. Iya sayanggg, keluarin yah sayanggg uuhhh oohhh .. Selang beberapa detik kemudian Ci Jes Steve datanggg ahhhh ahhhh , kataku sambil batang penisku mengeluarkan semua pejunya di dalam liang memek Jesi. Ahhh Steve sayanggg cici juga keluarrrr ahhh ahhh , sahut Jesi sambil memeluk tubuhku yang basah kuyung. Kubiarkan batang penisku menumpahkan lava hangat di dalam liang memek Jesi. Jesi masih memeluk tubuhku dengan napas terengah-engah. Setelah selang beberapa saat, wajah kami saling berhadapan, dan Jesi segera mencium keningku. Steve, thank you sekali lagi yah., kata Jesi.

Steve juga thank you buat ci Jes. Ini pengalaman berharga Steve., jawabku. Ngga nyesel kamu Steve?, tanya Jesi penasaran. Tidak sama sekali., jawabku tegas yang kemudian terlihat Jesi tersenyum manis. Idih peju perjaka banyak banget. Ngga cukup memek cici yang menampung. Tapi sekarang dah ngga perjaka lagi nih!, canda Jesi. Aku hanya tersenyum saja. Tapi untuk ukuran perjaka, Steve termasuk hebat loh. Masih saja mampu bikin cici datang sekali lagi., pujinya. Ci Jes, bener ngga sih kalo cewek menelan peju perjaka bisa awet muda?, tanyaku bercanda. Idih mana ada yang begituan. Itu kan cuman mitos aja, jawab Jesi. Posisi batang penisku masih menancap di dalam memek Jesi. Masih agak keras sih, tapi nafsu birahiku sudah mereda. Aku biarkan batang penisku di dalam sana sambil memeluk tubuh Jesi. Tubuhku basah kuyup, dan untungnya Jesi tidak sungkan-sungkan memeluk tubuhku yang sedang penuh bermandikan keringat. Aku merasa Jesi memang sayang kepadaku. Tak terasa total waktu kita berperang di atas ranjang lebih dari 3 jam. Jam 6 sorean Jesi pamit pulang, karena dia ada janji dengan teman-teman masa SMA-nya dulu. Pada malam harinya aku menerima sms darinya yang berkata: Steve, ingat janjinya yah. Jangan bilang-bilang sama siapasiapa. Ntar cici ngga kasih lagi loh?!. Kemudian aku balas smsnya, Kalau ci Jes mau Steve tutup mulut tentang rahasia ini, tolong sumbat mulut Steve ama susu ci Jes lagi deh.. Idih masih kurang yah?! Dah ketagihan nih yah?! Ntar sebelon cici pulang ke Smrd, cici kasih lagi deh., balesnya. Malam itu aku tidak bisa tidur, teringat-ingat kejadian erotis siang hari itu. Aku tidak menyangka kakak sepupu yang paling aku sayang dan yang paling aku hormati, kini telah aku tiduri. Aku tidak menyangka kalau Jesi adalah wanita pertama yang pernah aku tiduri. Yang lebih mengejutkan lagi, dia adalah kakak sepupu sendiri yang mana kami berdua masih ada sedikit hubungan darah (antara ibuku dan ibunya). Ada sedikit rasa bersalah dan menyesal, tapi karena aku masih tergolong pemuda yang gampang bernafsu, aku masih memiliki pemikiran dan harapan untuk meniduri Jesi sekali lagi sebelum dia pulang ke Samarinda. Dan untungnya pemikiran atau harapanku ini tidaklah sia-sia, selama sisa 6 hari liburannya di Surabaya, kami selalu mencari kesempatan untuk bercinta. Di kamarku, di kamarnya, dan sekali di bak mandi di rumahnya.

Jesi telah berubah bukan saja sekedar kakak sepupu saja, tapi lebih menjadi guru seks-ku. Dia terlihat sangat mahir dalam memuaskan nafsu birahi laki-laki. Jurus goyang pinggulnya dengan posisi dia diatas mampu membuatku babak belur. Seakan-akan dengan posisinya di atas, memeknya terasa seperti meremas-remas dan menyedot batang penisku. Pertama kali Jesi mengenalkan jurus goyang pinggulnya, aku tidak mampu bertahan, dan hanya beberapa kali goyangan pinggulnya, aku langsung ejakulasi. Jesi sempat menyindir canda waktu itu, dan maklum melihat kejadian ini. Sehabis setelah bersetubuh dengan Jesi, aku banyak bertanya tentang pengalaman seks-nya dengan Bram dan kadang kala aku membandingkan diriku dengan Bram. Tentu saja menurutnya, aku masih sedikit kalah dibandingkan suami-nya sendiri. Tapi Jesi mengakui kalau aku sering bermain dengannya, aku akan lebih jago daripada suami-nya sendiri. Masalah ukuran penis, Jesi bilang punyaku lebih panjang daripada punya Bram, tapi milik suami-nya lebih melebar kesamping alias lebih gendut. Sewaktu aku menanyakan enak mana yg panjang atau yang gendut, dia menjawab keduaduanya memiliki keasyikan yang sangat berbeda. Dan dia menambahkan sambil bercanda alangkah lebih baik bila ada yang panjang dan gendut. Langsung aja aku merespon candanya dengan mengajak threesome dengan Bram. Jesi menjawab lebih baik dia mati daripada harus threesome dengan suaminya sendiri. Jesi pernah mengaku bahwa dia tidak pernah sebelumnya menaruh perasaan nafsu kepadaku. Hanya karena dia telah hilang kontak denganku lebih dari 2 tahun lamanya, dan sekembalinya dia ke Surabaya, aku telah banyak berubah terutama dari segi fisik. Dia memujiku bertambah tampan, dan bertubuh padat. Mungkin keaktifanku berenang seminggu 2 kali, menjadikan badanku terlihat padat, meskipun tidak gempal. Karena inilah Jesi mengaku bahwa dia sangat mengagumi perubahan fisikku ini, dan akhirnya memberanikan dirinya untuk mencoba seducing atau menggodaku secara seksual atau singkatnya bermain api denganku. Sebenarnya dia sendiri takut bukan main sebelum persetubuhan kami yang pertama. Takut akan penolakanku, dan takut apabila ketahuan pembantu rumahku. Tapi semenjak persetubuhan pertama kami berhasil, Jesi mengaku menjadi semakin bernafsu denganku. Tidak heran setiap kali aku meminta jatah untuk menyetubuhinya, dia tidak pernah menolak sekali pun. Kalau saja situasinya tidak mengijinkan, dia hanya berbisik atau memberi tanda untuk menahan nafsuku dulu sampai nanti situasinya mengijinkan. Kepulangan Jesi ke Samarinda menjadi pil pahit buatku. Karena guru seks-ku meninggalkanku di Surabaya sendiri. Hampir tiap hari aku ber-masturbasi sendiri sambil membayangkan memori-memori indah menyetubuhi Jesi. Aku merasa seperti pecundang saat itu, karena hanya masturbasi yang bisa aku lakukan. Sering aku menelpon Jesi lewat hp-nya, menceritakan betapa berat aku ditinggal olehnya, dan betapa rindunya aku dengannya. Jujur saja, aku hanya rindu akan kehebatannya bercinta, bau tubuhnya, dan nikmatnya ejakulasi di dalam liang memeknya. Perlu diketahui bahwa selama bersetubuh dengan Jesi waktu itu, aku tidak pernah memakai kondom sekalipun, bahkan belum pernah memegang apa itu kondom sampai hubungan seks berikutnya dengan pacar

pertamaku. Aku tidak pernah menanyakan apa Jesi oke saja dengan aku berejakulasi di dalam liang memeknya. Sempat aku kuatir apabila dia hamil karena spermaku. Namun aku lega karena setelah 1.5 tahun kemudian Jesi baru dinyatakan positif hamil. Jadi jarak waktunya berbeda jauh dengan kekhawatiranku. Semenjak itu, aku belum pernah lagi bercinta lagi dengan Jesi. Meskipun kadang-kadang setiap kali pulang ke Surabaya, aku sempat mengajaknya 1 kali saja. Tapi ajakanku selalu ditolaknya, karena Bram ada di sana pula bersama anaknya yang baru lahir. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Jakarta, mencari karirku di sana. Aku belajar banyak dari Jesi, dia selalu memberiku tips-tips cara menaklukkan wanita di atas ranjang. Meskipun kami sudah tidak pernah lagi bercinta, tapi kamu masih tetap berhubungan baik. Seakanakan tiada rasa bersalah atau rasa aneh semenjak kejadian itu di antara kami. Jesi banyak memberikan nasehat kepadaku tentang perbedaan cinta dan nafsu. Jesi jujur mengatakan kepadaku bahwa saat itu dia hanya nafsu terhadapku, dan hanya ada cinta terhadap Bram. Tips-tips pemberian Jesi amatlah mujarab dan bervariasi. Bekas pacar-pacarku dan teman-teman one night stand di Jakarta (maklum bila di kota metropolis ini, seks bebas telah menjadi rahasia umum) menyukai gaya permainan ranjangku. Mungkin bila ada kesempatan, aku akan menceritakan pengalaman menarik lain yang aku alami dengan bekas pacar-pacarku, dan juga teman-teman one night stand. Perlu para pembaca cerita seru indodiva tau, banyak wanita-wanita karir dan executive di Jakarta yang tidak mengenakan celana dalam waktu mereka sedang tandang di dugem-dugem Jakarta. Percaya atau tidak, ini kebanyakan mereka lakukan dengan sengaja. Setelah aku tanyakan alasan mereka, salah satunya untuk membuatnya praktis memasukkan batang penispasangan-nya tanpa diketahui oleh orang-orang sekitar. Tamat

Ngentot Cewek Imut


Kisah ni berawal dari kesukaanku yang suka chatting. Pada waktu ituaku elihat nama yaitu Lina. tanpa basa-basi aku berkenalan dengan dia. kita ngbrol2 panjang lebar sampai2 perkataan kita tidak terkontrol. Lalu aku bertanya apakah kamu pernah phone sex? dan dya pun menjawab ngpain phonesex gak enak ya kan lebih enak langsung ML gtu... Wah anak ini ternyata hebat juga ya dalam hatiku. Lalu kita saling bertukaran No.tlp. dan kita pun saling bercerita2. lalu aku rayu2 dya agar mau aku ajak ML. Pertamanya dya gak mw tp aku rayu2 ternyata mau dan kita janjian bertemu di salah satu Monumen di tengah Kota Surabaya. Wah ternyata chattingQ gak sia2 cz dia anknya cantik,

manis, dan yang pasti toketnya pas untuk tangan yang pengen remes toketnya yang imut itu. Lalu akhirnya qta berdua mencari hotel dan ketemulah hotel tersebut yang berada disamping salah satu tempat Mall yang terbesar di Surabaya. Lalu kita check in langsung dan masuk kamar. Pertama dia menelpon seorang cowok dan ternyata itu cowoknya. Alamak aku akan ML dengan cewek yang sudah pnya cowok tapi gpplah yang penting aku bisa ML ma dia. Dhit Knp kok bengong gtu ayo lepas bjumu itu kita mandy bareng gtuujar Lina yang udah ga sbar itu. Tanpa basa-basi dya copot semua pakainQ dan q pun bgil lalu q pun juga ikut mncopoti semua pkaian dia tanpa tersisa satupun. dan WAWW. . .toketnya yang imut itu mengundang nafsu birahiQ yang sudah mulai naik. Lalu tangan nakalQ nie ga bsa di ajak kompromi dan q pun lgsg meremas toketnya dan dia langsung kaget. adhit kan kita mau mandi ntar az ya qta maennyaujar Lina. yawdah qt lgsg az mandi berdua. aku ambilkan sabun lalu aku gsok2kan di toketnya yang putingnya itu uwdah tegang bgd yang berwarna coklat itu.ahhhh sssstttt Geli aDhitQ sayang..aaaaahhhhhhhhh ..ooogghhhsssssttterangan Lina semakin menjadi ketika sabun itu q usap2 ke memek lina yang ckup chubby tersebut aaaahhhh.enK bgd nie ditapalgi klo tgkatmu masuk pzty enak bgd dhit.aaahhhhh.ssssssssttttttt.Lalu dia juga gak sabar dia pun lgsg menyabuni tgkatQ yang uwdah tegang nieaaahhh..eeennnkk bgd sayangaaaahhhherangan desahanQ. Setelah qta selesai mdy qta sma2 mngeringkan bdan qta yg bsah abiz ndy itu Lalu qta sama2 ke tmpt tdur dalam keadaan bugil terus dia rayu2 q dengan tgnnya yang mengelus2 badanQ. Tanpa byk bicara lgsg q daratkan kecupan dibibirnya dan qt saling bercumbu. Lalu q ciumin kelehernya lalu kebawah terus mnuju toketnya yang imut itu. aaaauuuu,,,,..ssssslllluuupppzzzz.ssssllllluuupppzzzz.q sedot2 putingnya itu. aaahhhhh adhit nakal tpi enk bgd kok aaaaaaaaahhhhhhhhhh..sssssssttttttt desahannya yang begitu menggoda. Adhit sayang emut2 terus ya n remes2 juga toket lina ni. lalu q pun meremas kedua toket tersebut yang sangat kencang. Lalu kita merubah gaya menjadi 69. Dia pun lgsg mengulum tgkatQ dengan nafsunya..aaaauuuummmm.ssslllluupppzzz.. gmn enk ga sayang?? Q pun jawab enk bgd say. Lalu q pun tidak mw kalah q emut2 juga memeknya itu yang uwdah bsah dengan cairan yg kluar dari vaginalina..ssssssllllluuuuuuuppppppppzzzzzzzz.ssslllouuuppzzzz.aaahhhhhh geLi yank desahan Lina. Lalu qt uwdah puas saling emut. Lgsg deh dia terbaring dan lgsg az tgkatQ nie Q tancapkan ke memeknya. Pelan-peLan ya sayank tanya Lia. Iya LinaQ sayank Q pelan2 kok.SSSlleeppzzz..ssllleepppzzz aaahhh ckit sayyyerangan Lina. Wah ternyata memeknya smpit bgd jd q harus pelan2 mskin tgkatQ nieaaaahhhhhh.ooooggghhhh tpi enk kok say agak cep at ya yankujar Lina. lalu q percepat sdokanQ dan dia pun mengerang2 tapi nikmat bgdaaaahhhhhtttrrruuussss yyyaannkk enkk bgd kkokk yyaannkk.aaahhhhhhhh.yyeeeesss..aaahhhhhooowwwwgggghhhdesahan Lina yang uwdah mengebu-gebu. Yank kita gani gaya yank Q diatas chayank dibwah ya??ujar Lina. q jwab iya. Q sebenarnya pengen dia az yang kreatif gitu. Lalu dia naik diatasQ dan TgkatQ dia gsek2kin ke memeknya yg bsah ituaaaaaahhhhhh.oooowwwgggghhhh.Q genjot ya sayank..aaaahhhhhh.yyeeesss. . . yyeeesssss..aahhhhhh gmn yank genjotan Lina enk kan?tanya

Lina. Iya enk bgd terus az ssaayyyysmbil goyang ya..tanyaQ. aaaaahhhhhh..oooowwwwhhhhooooooooooooooooggggggghhhhh.yyeeeessssssssssssss mpok.pok..pok bunyi pantat Lina bertabrakan dengan tubuhQ aaaahhhhhh.ooooooowwwwgggghhhhh..Lina ssaayyyaannkk q mw KKlluuaarr nniieee. .Kluarin didalam jga gpp kok yankTanpa bisa q bendung spermaQ yang panas itu akhirnya kluar seiring orgasme Lina aaaaaaaaahhhhhhh.kluar yaannkk iya Q jg kluar aaaaahhhhhhhooooooooooowwwwwwwwwgggggghhhhhhhh. Dia beranjak dari gaya qta itu dan dia lgsg mengulum batang TgkatQ yang masih ad spermanya itu.aaauuuuuuummmmmmm..sssssssssllllluuuuuupppppppppppppppzzzzz..ssssllluuuppzzzzsss slllluuuppppzzz dan Akhirnya pun kita lemas. Adhit ternyata hebat ya daripada co.Q. Q puas banged Ml ma adhitujar Lina.Q juga enk bgd ML ma Lina. Lalu qt tertidur dalam keadaan masih btlanjang bulat. Lalu wktu sudah menunjukkan jam 7 Mlm dan q harus cpt2 ke kampus soalnya ada kuliah. dan Lina pun terbangun dan qt sama2 berpaikain lalu mngglkan hotel tersebut dengsn perasaan seng. Adhit kpn2 Qt maen Lgy ya?tanya Lina padaQ. Oh tentu saja qt kpn2 maen lagi kok. Dan sampe skg pun qt sering bgd ML gtu hehehe. . .

Ngentot Spg
Cerita Panas.Pulang kantor jalanan masih agak macet. Kantorku berada di daerah Harmoni. Pada jamjam sibuk tentu saja macet total. Langit agak mendung, tapi dugaanku sore sampai malam ini tidak akanturun hujan. Dengan langkah sedang aku keluar kantor dan berjalan ke arah Juanda, rencana naik bis dari sana saja. Maklum karyawan baru, jadi masih naik Mercy dengan kapasitas besar. Sampai di Juanda aku cari bis kota tujuan ke Senen. Sebentar kemudian datang bis kota yang sudah miring ke kiri. Aku naik dan menyelinap ke dalam. Aroma di dalam bis sungguh rruarr biasa. Segala macam aroma ada di sana. Mulai dari parfum campur keringat sampai bau asap dan lain-lainnya. Tak lama aku sampai di Senen. Turun di Pasar Senen dan masuk ke dalamnya. Ada beberapa barang yang harus kucari. Putar sana putar sini nggak ketemu juga yang kucari. Malahan digodain sama kapster-kapster di salon lantai 2. Dengan kata-kata yang menjurus mereka merayuku untuk masuk ke salonnya. Kubalas saja godaan mereka, toh aku juga lagi nggak ada keperluan ke salon. Sekedar membalas dan menyenangkan mereka yang merayu untuk sekedar gunting, facialatau creambath. Akhirnya kuputuskan untuk cari di Atrium saja. Aku nyeberang di dekat jembatan layang. Memang budaya tertib sangat kurang di negara ini. Senangnya potong kompas dengan mengambil resiko.

Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam Atrium, mataku tertuju pada seorang wanita setengah baya, kutaksir umurnya tiga puluh lima tahun. Ia mengenakan blazer hijau dengan blouse hitam. Pandangannya kesana kemari dan gelisah seolah-olah menunggu seseorang. Aku lewat saja di depannya tanpa ada suatu kesan khusus. Sampai di depannya dia menyapaku. Maaf Mas mengganggu sebentar. Jam berapa sekarang? tanyanya halus. Dari logatnya kutebak dia orang Jawa Tengah, sekitar Solo. Aduh, sorry juga Mbak, saya juga tidak pakai jam, sambil kulihatkan pergelangan tanganku.Mbak mau kemana, kok kelihatannya gelisah? tanyaku lagi. Lagi tunggu teman, janjian jam setengah lima kok sampai sekarang belum muncul juga jawabnya. Ooo.. komentarku sekedar menunjukkan sedikit perhatian. Mas mau kemana, baru pulang kantor nih? dia balik bertanya. Iya, mau beli sesuatu, tadi cari di Proyek nggak ada, kali-kali aja ada di Atrium. Akhirnya meluncurlah dari mulut kami beberapa pertanyaan basa-basi standar. Oh ya dari tadi kita bicara tapi belum tahu namanya, saya Vera, katanya sambil mengulurkan tangan. Anto, sahutku pendek, OK Vera, saya mau jalan dulu cari barang yang saya perlukan. Silakan, saya masih tunggu teman di sini, barangkali dia terjebak macet atau ada halangan lainnya. Kami berpisah, saya masuk ke dalam dan langsung ke Gunung Agung. Kulihat Vera masih menunggu di pintu Atrium. Setengah jam keliling Gunung Agung ternyata tidak ada barang yang kucari. Kuputuskan pulang saja, besok coba cari di Gramedia atau Maruzen. Aku keluar dari pintu yang sama waktu masuk, arah ke Proyek. Kulihat Vera masih juga berdiri di sana. Kuhampiri dia dan kutanya. Masih ada disini, belum pulang?. Ini mau pulang, besok aja kutelpon dia ke kantor, jawabnya. Waktu itu, 1994, HP masih menjadi barang mewah yang tidak setiap orang dapat memilikinya. Mbak naik apa? Oh, saya bawa mobil sendiri, meskipun butut. OK, kalau begitu saya pulang, saya naik Mercy besar ke Kampung Melayu. Dia kelihatan agak berpikir. Baru pada saat ini aku mengamati dia dengan lebih teliti. Tingginya kutaksir 158 cm, kulitnya kuning kecoklatan, khas wanita Jawa dengan perawakan seimbang. Rambutnya berombak sebahu, matanya agak lebar dan dadanya standar, 34.

Kenapa, something wrong? kataku. Nggak, nggak aku juga mau jalan lagi suntuk. Rumah saya di Cinere, jam segini juga lagi full macet sambil memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan. Boleh saya temani, sahutku asal saja. Jujur aku hanya asal berkata saja tanpa mengharap apapun. Dia menatapku sejenak dan akhirnya.. Boleh saja, kalau nggak mengganggu jawabnya. Kami menuju basement tempat parkir mobilnya. Dia memberikan kunci mobilnya padaku. Bisa bawa mobil kan? tanyanya. Aku terkejut, karena aku memang bisa nyetir mobil tapi masih belum lancar sekali dan tidak punyai SIM. Aduh, so.. Sorry, jangan aku yang bawa. Aku nggak punya SIM, kataku mengelak. Baiklah kalau begitu, biar aku sendiri yang bawa, katanya sambil tersenyum. Vera naik mobil dan membukakan pintu sebelah kiri depan dari dalam. Mobilnya Suzuki Carry warna merah maron. Kulihat di atas jok tengah berserakan map dan kertas. Kemana kita? katanya. Terserah ibu sopir saja, asal jangan ke Bogor, jauh sahutku bercanda. Kita ke Monas saja deh katanya sambil terus tetap menyetir. Karena dia mengenakan rok span selutut, jadinya waktu duduk menyetir agak ketarik ke atas, pahanya terlihat sedikit. Aku menelan ludah. Monas terlihat sepi sore ini, jam di dashboard menunjukkan 17.55. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di pelataran parkir. Vera memarkir mobilnya agak jauh dari mobil lainnya. Ia mematikan kontak dan membuka jendela. Kami tetap duduk di dalam mobil. Uffh, hari yang melelahkan. Vera menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil. Blazernya tidak dikancingkan sehingga dadanya kelihatan menonjol. Ngomong-ngomong Mas Anto ini kerja di mana? Karyawan swasta, kantornya di Harmoni, Mbak Vera sendiri di mana? balasku. Saya agen sebuah Asuransi BUMN, rencananya tadi dengan teman saya, Dewi, akan prospek di sebuah kantor di Kramat, makanya janjian di Atrium. Eh, dianya nggak datang. Eh, bagaimana kalau kita masing-masing panggil dengan nama saja tanpa sebutan basa-basi supaya lebih akrab. Toh umur kita nggak jauh berbeda. Aku tiga puluh lima, kutaksir kamu paling-paling tiga puluh.

Ternyata taksiranku tepat, taksirannya meleset. Waktu itu umurku sendiri baru dua puluh lima. Mungkin karena warna kulitku agak gelap dan berkumis maka wajahku kelihatan lebih tua. Tapi menurut teman-temanku baik perempuan ataupun laki-laki, dengan wajah cukup ganteng, tinggi 170 cm, perawakan tegap, berkumis dan dada berbulu aku termasuk idaman wanita. Vera ternyata seorang janda dengan satu anak. Ketika kutanya kenapa dia bercerai, air mukanya berubah dan ia menghela napas panjang. Sudahlah, itu kenangan buruk dari masa laluku, tak usah dibicarakan lagi katanya. Baiklah, maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu, kataku. Senja semakin merambat, lampu jalan sudah mulai dinyalakan mengalahkan temaram senja. Di bawah lampu merkuri wajah Vera terlihat pucat. Tiba-tiba saja kami bertatapan. Vera terlihat sangat lelah, tapi bibirnya dipaksakan tersenyum. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja tangan kananku sudah kulingkarkan di lehernya dan kurengkuh ia ke dalam pelukanku. Kucium bibir tipisnya dan ia membalasnya dengan melumat bibirku lembut. Kami saling memandang dan tersenyum. Anto, maukah kamu menemaniku ngobrol? Lho, bukankah sekarang ini kita lagi ngobrol. Maksudku, kita cari.. Nggh.. Tempat yang tenang. Kucium bibirnya lagi dan ia membalas lebih panas dari ciuman yang pertama tadi. Tanpa kujawab mestinya ia sudah tahu. Ayo kita berangkat, ajaknya sambil menghidupkan mesin mobil. Baiklah kita ke arah Tanah Abang saja yuk, jawabku. Dari Monas kami menuju ke Tanah Abang. Kami sempat terjebak kemacetan di sekitar Stasiun Tanah Abang. Akhirnya kuarahkan dia ke Petamburan. Kulihat dia ragu-ragu untuk masuk ke halaman sebuah hotel. Ayolah masuk saja, nggak apa-apa kok. Hotelnya cukup bersih dan murah kataku meyakinkannya. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin mobilku terlihat secara mencolok di halaman hotel sahutnya. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir yang cukup terlindung dari jalan umum. Setelah membereskan urusan di front office, kami masuk ke dalam kamar. Kuamati sejenak keadaan di dalam kamar. Di dinding sejajar dengan arah ranjang dipasang cermin selebar 80 cm memanjang sepanjang dinding. Aku tersenyum dan membatin rupanya hotel ini memang dipersiapkan khusus untuk pasangan yang mau kencan.

Kamu sering masuk ke sini, To? Kelihatannya sudah familiar sekali tanyanya. Nggak juga. Namanya nginap di hotel kan tahapannya standar aja. Lapor ke front office, serahkan ID, bayar bill untuk semalam lalu ambil kunci kamar. Beres kan? Kalau lagi prospek, bagaimana pengalamanmu. Sering dijahili klien nggak tanyaku memancing. Yahh, ada juga yang iseng. Tapi kalau orangnya oke, boleh juga sih. Sudah dapat komisi plus tip plus enak gila. Ternyata beginilah salah satu sisi dunia asuransi. Saya nggak menghakimi, tetapi semua itu kembali tergantung pada orangnya. Aduh, kalau begitu saya nggak bisa kasih tip. Kita pulang saja yuk kataku pura-pura serius. Huussh.. Kamu kok nganggap saya begitu sih. Kami berbaring berjejer di ranjang yang empuk. Vera tengkurap di sebelahku dan menatapku sejenak, lalu ia mendekatkan mukanya ke mukaku dan mencium bibirku. Aku membalas dengan perlahan. Vera terus menciumiku sambil melepas blazernya. Kaki kirinya membelit kakiku. Tangannya merayap di atas kemejaku dan mulai melepas kancing serta menariknya sehingga dadaku terbuka. Vera semakin terangsang melihat dadaku yang berbulu. Ia membelai-belai dadaku dan sekali-sekali menarik perlahan bulu dadaku. Simbarmu iku lho To, bikin aku.. Serr bisiknya. Simbar adalah sebutan bulu dada dalam bahasa Jawa. Mandi dulu yuk kataku. Nggak usah, nanti aja. Bau tubuhmu lebih merangsang daripada bau sabun bahkan parfum katanya. Bibirnya bergeser ke bawah dan kini ia menciumi leherku. Aku menggelinjang kegelian sekaligus nikmat. Napas kami mulai berat dan memburu. Sambil terus menciumi dadaku, Vera melepaskan blousenya. Kulihat buah dadanya yang masih kenyal dan padat terbungkus bra warna merah jambu. Seksi sekali. Tangannya bergerak ke bawah, membuka kepala ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluitingku dan langsung menariknya ke bawah. Aku sedikit mengangkat pantatku membantu gerakan tangannya membuka celanaku. Kini tangannya bergerak ke belakangnya, tidak lama kemudian roknya sudah merosot dan hanya dengan gerakan kakinya rok tersebut sudah terlepas dan terlempar ke lantai. Tangan kananku bergerak ke punggungnya dan terdengar suara tikk kancing pengait branya sudah terlepas. Aku melepas branya dengan sangat perlahan sambil mengusap-usap bahu dan lengannya. Vera mengangkat tangannya dari tubuhku dan akhirnya terlepaslah bra merah jambu yang dipakainya. Buah dadanya berukuran sedang, taksiranku 34 saja, terlihat kenyal dan padat. Uraturatnya yang membiru di bawah kulit terlihat sangat menarik seperti alur sungai di pegunungan.

Putingnya yang merah kecoklatan menantangku untuk segera mengulumnya. Payudara sebelah kanan kuisap dan kukulum, sementara sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku, demikian bergantiganti. Tangan kiriku mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Vera mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat. Ououououhh.. Nghgghh, Anto teruskan.. Ouuhh.. Anto Payudaranya kukulum habis sampai ke pangkalnya. Vera menghentakkan kepalanya dan menjilati telingaku. Akupun sudah merangsang hebat. Senjataku sudah mengeras dan kepalanya sudah nongol di balik celana dalamku. Vera melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia yang aktif menjilati dan menciumi tubuhku bagian atas. Dari leher bibirnya menyusuri dadaku, menjilati bulu dadaku dan.. Oukhh, Vera.. Yachh. aku mengerang ketika mulutnya menjilati puting kiriku. Kini bibirnya pindah ke puting kananku. Aku mendorong tubuhnya, tak tahan dengan rangsangan pada puting kananku. Vera semakin ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku yang masih terbungkus celana dalam. Tangannya juga bergerak ke bawah, menarik celanaku sampai ke lutut dan akhirnya menariknya ke bawah dengan kakinya. Aku tinggal memakai kemeja saja yang kancingnya juga terbuka semua.

Sepupuku Yang Seksi


Cerita seks di masa puber, sungguh indah rasanya. Di usiaku yang masih dini, aku sudah mengenal yang namanya seks. Namaku Andi, ketika aku SMP, aku tinggal dengan saudaraku di Jakarta, di rumah itu aku bersama tiga orang anak dari saudaraku itu yang usianya sebayaku kecuali Marlena si bungsu, gadis kecil yang masih kelas enam SD.

Setahun sudah aku tinggal dengan mereka, di usia puber sepertiku, semakin hari tubuh Marlena yang biasa kupanggil Lena, terlihat semakin bongsor saja, dengan kulitnya yang putih bersih semakin terlihat menggairahkan nafsuku. Maklumlah turunan dari ibunya yang bertubuh bongsor dan montok. Setiap pulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan Lena, sekedar untuk melihatnya dari dekat, apalagi payudaranya mulai terlihat bentuknya. Aku pun mulai mengincarnya, suatu ketika aku akan mendekatinya, pikirku. Dihari berikutnya saat Marlena pulang dari sekolah langsung menuju ke kamar tempat cucian-cucian yang belum kering, karena di rumah lagi tidak ada orang, akupun mengikutinya. Aku berusaha agar kedatanganku tidak mengagetkannya.

Lenudah pulang..? iya kak, sambil melepas sepatunya. Awas dongmau ganti baju nih! katanya memohon. Iya..aku keluar deh..tapi kalo udah ganti baju boleh masuk lagi ya! pintaku padanya. Iya..boleh ungkapnya. Aku masuk ya! pintaku dari luar sambil membuka pintu. Wow..seperti bidadari Marlena memakai daster kecilnya yang bertali satu, jantungku berdegup kencang seakan tidak percaya akan pemandangan itu. Lenkamu cantik sekali pakai baju itu..! ungkapku jujur padanya. Masa sih..! kata Marlena sambil berputar bergaya seperti peragawati. Aku boleh bilang sesuatu nggak Len? tanyaku agak ragu padanya. Mau bilang apaan sih kakserius banget deh kayaknya! ungkap Marlena penasaran. A..aku.. boleh peluk kamu nggak..,sebentar aja! ungkapku memberanikan diri. Aku janji nggak ngapa-ngapain.sungguh..! janjiku padanya. Iiihpeluk gimana sih.., emang mau ngapain, nggak mau ah! bantahnya. Sebentar.aja.yaLen.. kembali aku membujuknya, jangan sampai dia jadi takut padaku. Ya udah cepetan ahyang enggak-enggak aja sih ungkapnya agak genit sambil berdiri membelakangiku. Tak kusia-siakan aku langsung memeluknya diri belakang, tanganku melingkar di tubuhnya yang kecil mulus, dan padat itu, lalu tanganku kuletakkan di bagian perutnya, sambil ku usap-usap dengan perlahan. Gila..kontolku langsung berdenyut begitu menyentuh pantat Marlena yang empuk dan bentuknya sedikit menungging menyentuh ke arah kontolku. Langsung saja kugesek-gesekkan pelan-pelan di pantatnya itu. Iiih.diapain sih tuhudah.ah! seru Marlena sambil berusaha melepaskan pelukanku. Aku terangsang Lenabis kamu cantik sekali Len! ungkapku terus terang. Marlena pun membalikkan badannya menghadapku, sambil menatapku penuh rasa penasaran. Anunya bangun ya kak? tanya Marlena heran. Iya Lenaku terangsang sekali ungkapku sambil mengelus-elus celanaku yang menyembul karena kontolku yang sudah tegang. Kamu mau lihat nggak Len? tanyaku padanya. Nggak ahentar ada orang masuk lho! katanya polos. Kita kunci aja dulu pintu gerbangnya ya! ungkapku, sambil beranjak mengunci pintu gerbang depan. Sementara Marlena menungguku dengan sedikit salah tingkah di kamar itu. Sekembali mengunci pintu gerbang depan, kulihat Marlena masih di kamar itu menunggu dengan malu-malu, tapi juga penasaran.

Ya udah aku buka ya..? ungkapku sambil menurunkan celana pendekku pelan-pelan. Kulihat Marlena mengbuang muka pura-pura malu tapi matanya sedikit melirik mencuri pandang ke arah kontolku yang sudah kembali ngaceng. Nih lihat.cepetan mumpung nggak ada orang! ungkapku pada Marlena sambil kuelus-elus kontolku di depannya. Marlena pun melihatnya dengan tersipu-sipu. Iiih ngapain sih. Malu tahu! ungkapnya pura-pura. Ngapain malu Lenkan udah nggak ada orang kataku berdebar-debar. Mau pegang nggak.? Ungkapku sambil menarik tangan Marlena kutempelkan ke arah kontolku. Tampak muka Marlena mulai memerah karena malu, tapi penasaran. Masih dalam pegangan tanganku, tangan Marlena kugenggamkan pada batang kontolku yang sudah ngaceng itu, sengaja ku usap-usapkan pada kontolku, dia pun mulai berani melihat ke arah kontolku. Iiiihtakut ahgede banget sih! ungkapnya, sambil mulai mengusap-ngusap kontolku, tanpa bimbinganku lagi. Aaaahooouw.terus Lenenak banget! aku mulai merintih. Sementara Marlena sesuai permintaanku terus menggenggam kontolku sambil sesekali mengusap-usapkan tangannya turun naik pada batang kontolku, rasa penasarannya semakin menjadi melihat kontolku yang sudah ngaceng itu. Aku boleh pegang-pegang kamu nggak Len? ungkapku sambil mulai mengusap-usap lengan Marlena, lalu bergeser mengusap-usap punggungnya, sampai akhirnya ku usap-usap dan kuremasremas pantatnya dengan lembut. Marlena terlihat bingung atas tingkahku itu, di belum mengerti apa maksud dari tindakanku terhadapnya itu, dengan sangat hati-hati rabaan tanganku pun mulai keseluruh bagian tubuhnya, sampai sesekali Marlena menggelinjang kegelian, aku berusaha untuk tidak terlihat kasar olehnya, agar dia tidak kapok dan tidak menceritakan ulahku itu kepada orang tuanya. Gimana Len.? ungkapku padanya. Gimana apanya! jawab Marlena polos. Aku kembali berdiri dan memeluk Marlena dari belakang, sementara celanaku sudah jatuh melorot ke lantai, sekalian saja kulepas. Marlena pun diam saja saat aku memeluknya, sentuhan lembut kontolku pada daster mini warna bunga-bunga merah yang dipakai Marlena membuatku semakin bernafsu padanya. akupun terus menggesek-gesekkan batang kontolku di atas pantatnya itu. Sementara tangan Marlena terus menggenggam batang kontolku yang menempel di pantatnya, sesekali dia mengocoknya pelan-pelan. Tak lama setelah itu perlahan kuangkat daster tipis Marlena yang menutupi bagian pantatnya itu, lalu dengan hati-hati kutempelkan batang kontolku diatas pantat Marlena yang tidak tertutupi oleh daster tipinya lagi. Len.buka ya celana dalamnya.! pintaku pelan, sambil membelai rambutnya yang terurai sebatas bahunya itu.

Eeeh.mau ngapain sih.pake dibuka segala? tanyanya bingung. Nggak apa-apa nanti juga kamu tahu Lena tenang aja! bujukku padanya agar dia bersikap tenang, sambil perlahan-lahan aku turunkan celana dalam Marlena. Tuh kan..malumasa nggak pake celana dalam sih! ungkapnya merengek padaku. Udah nggak apa-apa.kan nggak ada siapa-siapa..! aku menenangkannya. Kamu kan udah pegang punyakusekarang aku pegang punyamu yaLen..? pintaku padanya, sambil mulai ku usap-usap memeknya yang masih bersih tanpa bulu itu. Ah..udah donggeli nih ungkap Marlena, saat tanganku mengusap-usap selangkangan dan memeknya. Ya udah.punyaku aja yang ditempelin deket punyamu ya..! ungkapku sambil menempelkan batang kontolku ditengah-tengah selangkangan Marlena tepat diatas lubang memeknya. Pelan-pelan kugesek-gesekkan batang kontolku itu di belahan memek Marlena. Lama kelamaan memek Marlena mulai basah, semakin licin terasa pada gesekkan batang kontolku di belahan memek Marlena, nafsu birahiku semakin tinggi, darahku rasanya mengalir cepat keseluruh tubuhku, seiring dengan degup jantungku yang makin cepat. Masih dalam posisi membelakangiku, aku meminta Marlena membungkukkan badannya ke depan agar aku lebih leluasa menempelkan batang kontolku di tengah-tengah selangkangannya. Marlena pun menuruti permintaanku tanpa rasa takut sedikitpun, rupanya kelembutan belaianku sejak tadi dan segala permintaanku yang diucapkan dengan hati-hati tanpa paksaan terhadapnya, meyakinkan Marlena bahwa aku tidak mungkin menyakitinya. Terus kita mau ngapain nih? ungkap Marlena heran sambil menunggingkan pantatnya persis kearah kontolku yang tegang luar biasa. Kutarik daster tipisnya lalu kukocok-kocokkan pada batang kontolku yang sudah basah oleh cairan memek Marlena tadi. Lantas aku masukan kembali batang kontolku ketengah-tengah selangkangan Marlena, menempel tepat pada belahan memek Marlena, mulai kugesek-gesekan secara beraturan, cairan memek Marlena pun semakin membasahi batang kontolku. AaahLenenaaaak.bangeet! aku merintih nikmat. Apa sih rasanya.emang enakya? tanya Marlena, heran. IyaLenrapetin kakinya ya! pintaku padanya agar merapatkan kedua pahanya. Waw nikmatnya, kontolku terjepit di sela-sela selangkangan Marlena. Aku terus menggenjot kontolku disela-sela selangkangannya, sambil sesekali kusentuh-sentuhkan ke belahan memeknya yang sudah basah. Ah geli nih. udah belum sihjangan lama-lama dong! pinta Marlena tidak mengerti adegan ini harus berakhir bagaimana. IyaLen sebentar lagi ya! ungkapku sambil mempercepat genjotanku, tanganku meremas pantat Marlena dengan penuh nafsu.

Tiba-tiba terasa dorongan hebat pada batang kontolku seakan sebuah gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya. AaaaakhaaaowwLeennaku mau keluaarrcrotttcrottcrottt.. oouhh! air maniku muncrat dan tumpah diselangkangan Marlena, sebagian menyemprot di belahan memeknya. Iiiih.jadi basah..nih! ungkap Marlena sambil mengusap air maniku diselangkangannya. Hangatlicinya? ungkapnya sambil malu-malu. Apaan sih ini.namanya..? Marlena bertanya padaku. Hmmitu namanya air maniLen! jelasku padanya. Dipegangnya air mani yang berceceran di pahanya, lalu dia cium baunya, sambil tersenyum. Aku pun menatap Marlena sambil melihat reaksinya setelah melihat tingkahku padanya itu. Tapi untunglah Marlena tidak kaget atas tingkahku itu, cuma sedikit rasa ingin tahu saja yang terlihat dari sikapnya itu. Aku sungguh beruntung dengan keadaan di rumah itu sore itu yang telah memberiku kesempatan untuk mendekati Marlena gadis kecil yang cantik. Marlenapun menurunkan daster mininya sambil mengusapkannya ke selangkangannya yang belepotan dengan air maniku, lalu dipakainya kembali celana dalamnya yang kulepas tadi. Lenmakasih yaudah mau pegang punyaku tadi! ungkapku pada Marlena yang masih terheranheran atas ulahku tadi. Kamu nggak marahkan kalau besok-besok aku pengen seperti ini lagi..? pintaku pada Marlena. Iyanggak apa-apaasal jangan lagi ada orang aja..kan malu! ungkap Marlena polos. Setelah itu Marlena pun bergegas mengambil tas sekolahnya berlalu ke dalam kamarnya, aku benarbenar merasa puas dengan kepolosannya tadi, pokoknya nanti aku akan bujuk dia untuk seperti itu lagi, kalau perlu kuajari yang lebih dari itu.

Nakalnya Tante Ninik


Cerita panas mengenai tante cantik memang mengundang sensasi yang beda. Seperti kisahku dengan Tante Ninik, sebuah hubungan yang tidak didasari rasa cinta, mutlak hanya seks. Kriing.. jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata. Wah gawat, telat nih dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi. Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau.

Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari. Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja. Met pagi semua aku ucapkan sapaan seperti biasanya. Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya? Fifi membalas sapaanku. Iya nih kesiangan aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga. Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh. Dari dapur tante menyuruh aku. OK Tante jawabku singkat. Ayo duo cewek paling manja sedunia. celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar. Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya. Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan. Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik. Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan. Terdengar suara desahan lirih, Hmm, ohh, arhh. Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak

bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku. Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho. Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku. Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya. Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar. Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur. Hmm.. geli ah Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring disebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung. Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun. Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%. Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang. Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja. Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya. Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi celetukku sekenanya. Lho, jadi kamu.. Tante kaget dengan mimik setengah marah. Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan? agak takut juga aku kalau dia marah. Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah. Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini.. dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya. Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya. aku semakin salah tingkah. Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan? tanya tanteku dengan mimik keheranan. Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..! Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku. Langsung aku kecup payudaranya bergantian

kiri dan kanan. Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir. tante Ninik merengek perlahan. Hmm..shh tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya. Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras. Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh. tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya. Ya sudah dibuka saja tante. pintaku. Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum. Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe. Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD. Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya. Tante.. ngapain berhenti? aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya. Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..? agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku. Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding sambil tersenyum dia ngoceh lagi. Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm. Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku. Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya. Hmm, iya deh. Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P. Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P Ahh.. enak tante, terusin hh. aku mulai meracau. Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini. Sambil tangan tante mengusap vaginanya. OK tante aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih. Shh.. ohh tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku. Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh tante mulai berbicara tidak teratur. Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar. tante mengerang dengan keras. Ahh.. erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang. Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya. Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan? dengan manja tante memeluk tubuhku. Ehh, gimana ya tante.. aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri. Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas. Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok. Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya. tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku. Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan. Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P aku memberi peringatan ke tante. Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih. tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P. Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru. Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh tante berbicara sambil merasa keenakan. Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak Aku membalas omongan tante.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante. Ahh.. kami berdua melenguh. Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik. Plok.. plok.. plokk suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan. Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras Ahh.. Fir tante nyampai lagi Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P. Tante, aku mau keluar nih, di mana? aku bertanya ke tante. Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun. Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol. Arghh.. tante aku nyampai. Aku juga Fir.. ahh tante juga meracau. Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra. Fir, kamu hebat. puji tante Ninik. Tante juga, vagina tante rapet sekali aku balas memujinya. Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi pinta tante. Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam? aku balik bertanya. Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku. Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi. ***** Itulah pengalamanku dengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.

Menikmati Memek Gadis Smp


Keperawanan bukanlah harga mati bagi para gadis di zaman sekarang ini. Seperti apa yang dilakukan Rina, dengan mudahnya kunikmati memek perawannya. Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, dan sekarang sudah tingkat akhir. Untuk saat ini aku tidak mendapatkan mata kuliah lagi dan hanya mengerjakan skripsi saja. Oleh karena itu aku sering main ke tempat abangku di Jakarta. Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP. Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah. Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet. Hallo, Oom Ryan..! Rina yang baru masuk tersenyum. Eh, tolong dong bayarin Bajaj uang Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya. Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah. Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Dia memandang kepadaku dan tertawa geli. Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat. Gugup aku menjawab, Rina kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin. Aahhh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem.

Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah. Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan. Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai bergerak, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku. Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga. Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..! Ah, gampang! Semut lagi push -up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..? Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan. Yang bener Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..! Aahhh Oom Ryan ngeledek..! Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan tersandung! Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Rina makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. Uuuhh mmmhhh Rina menggelinjang. Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya

dari atas kepalanya. Aahhh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos! Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya. Ehhh mmmaaahhh.., tangan Rina meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan. Ooohh aduuhhh.., Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak terengah -engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai -belaikan di pipi Rina. Mmmhh mmmhhh ooohhhmmm.., ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku. Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya. Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang. Ohhmm, mam msuk hhh msukin Omm hhh ehekmm Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya. Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Rina mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau. Aduhhh ssshhh iya terusshh mmmhhh aduhhh enak Oommm Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jarijariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak. Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Rina makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa -sisa kenikmatan orgasme. Aduh, Oom Rina lemes. Tapi enak banget. Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang. Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme,dan Rina entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah. Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku blowjob, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.

Ulah Abg Smp


Masa itu masa awal kenalanku, masa awal naluri lelakiku bermain. Dan dia menjadi awal dari semua nafsu seks masa puber yang bergejolak. Cerita panas berikut menceritakan aksi seksku pada masa smp. Namaku Andi, ketika aku SMP, aku tinggal dengan saudaraku di Jakarta, di rumah itu aku bersama tiga orang anak dari saudaraku itu yang usianya sebayaku kecuali Marlena si bungsu, gadis kecil yang masih kelas enam SD. Setahun sudah aku tinggal dengan mereka, di usia puber sepertiku, semakin hari tubuh Marlena yang biasa kupanggil Lena, terlihat semakin bongsor saja, dengan kulitnya yang putih bersih semakin terlihat menggairahkan nafsuku. Maklumlah turunan dari ibunya yang bertubuh bongsor dan montok. Setiap pulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan Lena, sekedar untuk melihatnya dari dekat, apalagi payudaranya mulai terlihat bentuknya. Aku pun mulai mengincarnya, suatu ketika aku akan mendekatinya, pikirku. Dihari berikutnya saat Marlena pulang dari sekolah langsung menuju ke kamar tempat cucian-cucian yang belum kering, karena di rumah lagi tidak ada orang, akupun mengikutinya. Aku berusaha agar kedatanganku tidak mengagetkannya. Lenudah pulang..? iya kak, sambil melepas sepatunya. Awas dongmau ganti baju nih! katanya memohon. Iya..aku keluar deh..tapi kalo udah ganti baju boleh masuk lagi ya! pintaku padanya. Iya..boleh ungkapnya. Aku masuk ya! pintaku dari luar sambil membuka pintu. Wow..seperti bidadari Marlena memakai daster kecilnya yang bertali satu, jantungku berdegup kencang seakan tidak percaya akan pemandangan itu. Lenkamu cantik sekali pakai baju itu..! ungkapku jujur padanya. Masa sih..! kata Marlena sambil berputar bergaya seperti peragawati. Aku boleh bilang sesuatu nggak Len? tanyaku agak ragu padanya. Mau bilang apaan sih kakserius banget deh kayaknya! ungkap Marlena penasaran. A..aku.. boleh peluk kamu nggak..,sebentar aja! ungkapku memberanikan diri. Aku janji nggak ngapa-ngapain.sungguh..! janjiku padanya. Iiihpeluk gimana sih.., emang mau ngapain, nggak mau ah! bantahnya. Sebentar.aja.yaLen.. kembali aku membujuknya, jangan sampai dia jadi takut padaku. Ya udah cepetan ahyang enggak-enggak aja sih ungkapnya agak genit sambil berdiri membelakangiku.

Tak kusia-siakan aku langsung memeluknya diri belakang, tanganku melingkar di tubuhnya yang kecil mulus, dan padat itu, lalu tanganku kuletakkan di bagian perutnya, sambil ku usap-usap dengan perlahan. Gila..kontolku langsung berdenyut begitu menyentuh pantat Marlena yang empuk dan bentuknya sedikit menungging menyentuh ke arah kontolku. Langsung saja kugesek-gesekkan pelan-pelan di pantatnya itu. Iiih.diapain sih tuhudah.ah! seru Marlena sambil berusaha melepaskan pelukanku. Aku terangsang Lenabis kamu cantik sekali Len! ungkapku terus terang. Marlena pun membalikkan badannya menghadapku, sambil menatapku penuh rasa penasaran. Anunya bangun ya kak? tanya Marlena heran. Iya Lenaku terangsang sekali ungkapku sambil mengelus-elus celanaku yang menyembul karena kontolku yang sudah tegang. Kamu mau lihat nggak Len? tanyaku padanya. Nggak ahentar ada orang masuk lho! katanya polos. Kita kunci aja dulu pintu gerbangnya ya! ungkapku, sambil beranjak mengunci pintu gerbang depan. Sementara Marlena menungguku dengan sedikit salah tingkah di kamar itu. Sekembali mengunci pintu gerbang depan, kulihat Marlena masih di kamar itu menunggu dengan malu-malu, tapi juga penasaran. Ya udah aku buka ya..? ungkapku sambil menurunkan celana pendekku pelan-pelan. Kulihat Marlena mengbuang muka pura-pura malu tapi matanya sedikit melirik mencuri pandang ke arah kontolku yang sudah kembali ngaceng. Nih lihat.cepetan mumpung nggak ada orang! ungkapku pada Marlena sambil kuelus-elus kontolku di depannya. Marlena pun melihatnya dengan tersipu-sipu. Iiih ngapain sih. Malu tahu! ungkapnya pura-pura. Ngapain malu Lenkan udah nggak ada orang kataku berdebar-debar. Mau pegang nggak.? Ungkapku sambil menarik tangan Marlena kutempelkan ke arah kontolku. Tampak muka Marlena mulai memerah karena malu, tapi penasaran. Masih dalam pegangan tanganku, tangan Marlena kugenggamkan pada batang kontolku yang sudah ngaceng itu, sengaja ku usap-usapkan pada kontolku, dia pun mulai berani melihat ke arah kontolku. Iiiihtakut ahgede banget sih! ungkapnya, sambil mulai mengusap-ngusap kontolku, tanpa bimbinganku lagi. Aaaahooouw.terus Lenenak banget! aku mulai merintih. Sementara Marlena sesuai permintaanku terus menggenggam kontolku sambil sesekali mengusap-usapkan tangannya turun naik pada batang kontolku, rasa penasarannya semakin menjadi melihat kontolku yang sudah ngaceng itu. Aku boleh pegang-pegang kamu nggak Len? ungkapku sambil mulai mengusap-usap lengan

Marlena, lalu bergeser mengusap-usap punggungnya, sampai akhirnya ku usap-usap dan kuremasremas pantatnya dengan lembut. Marlena terlihat bingung atas tingkahku itu, di belum mengerti apa maksud dari tindakanku terhadapnya itu, dengan sangat hati-hati rabaan tanganku pun mulai keseluruh bagian tubuhnya, sampai sesekali Marlena menggelinjang kegelian, aku berusaha untuk tidak terlihat kasar olehnya, agar dia tidak kapok dan tidak menceritakan ulahku itu kepada orang tuanya. Gimana Len.? ungkapku padanya. Gimana apanya! jawab Marlena polos. Aku kembali berdiri dan memeluk Marlena dari belakang, sementara celanaku sudah jatuh melorot ke lantai, sekalian saja kulepas. Marlena pun diam saja saat aku memeluknya, sentuhan lembut kontolku pada daster mini warna bunga-bunga merah yang dipakai Marlena membuatku semakin bernafsu padanya. akupun terus menggesek-gesekkan batang kontolku di atas pantatnya itu. Sementara tangan Marlena terus menggenggam batang kontolku yang menempel di pantatnya, sesekali dia mengocoknya pelan-pelan. Tak lama setelah itu perlahan kuangkat daster tipis Marlena yang menutupi bagian pantatnya itu, lalu dengan hati-hati kutempelkan batang kontolku diatas pantat Marlena yang tidak tertutupi oleh daster tipinya lagi. Len.buka ya celana dalamnya.! pintaku pelan, sambil membelai rambutnya yang terurai sebatas bahunya itu. Eeeh.mau ngapain sih.pake dibuka segala? tanyanya bingung. Nggak apa-apa nanti juga kamu tahu Lena tenang aja! bujukku padanya agar dia bersikap tenang, sambil perlahan-lahan aku turunkan celana dalam Marlena. Tuh kan..malumasa nggak pake celana dalam sih! ungkapnya merengek padaku. Udah nggak apa-apa.kan nggak ada siapa-siapa..! aku menenangkannya. Kamu kan udah pegang punyakusekarang aku pegang punyamu yaLen..? pintaku padanya, sambil mulai ku usap-usap memeknya yang masih bersih tanpa bulu itu. Ah..udah donggeli nih ungkap Marlena, saat tanganku mengusap-usap selangkangan dan memeknya. Ya udah.punyaku aja yang ditempelin deket punyamu ya..! ungkapku sambil menempelkan batang kontolku ditengah-tengah selangkangan Marlena tepat diatas lubang memeknya. Pelan-pelan kugesek-gesekkan batang kontolku itu di belahan memek Marlena. Lama kelamaan memek Marlena mulai basah, semakin licin terasa pada gesekkan batang kontolku di belahan memek Marlena, nafsu birahiku semakin tinggi, darahku rasanya mengalir cepat keseluruh tubuhku, seiring dengan degup jantungku yang makin cepat. Masih dalam posisi membelakangiku, aku meminta Marlena membungkukkan badannya ke depan agar aku lebih leluasa menempelkan batang kontolku di tengah-tengah selangkangannya. Marlena pun

menuruti permintaanku tanpa rasa takut sedikitpun, rupanya kelembutan belaianku sejak tadi dan segala permintaanku yang diucapkan dengan hati-hati tanpa paksaan terhadapnya, meyakinkan Marlena bahwa aku tidak mungkin menyakitinya. Terus kita mau ngapain nih? ungkap Marlena heran sambil menunggingkan pantatnya persis kearah kontolku yang tegang luar biasa. Kutarik daster tipisnya lalu kukocok-kocokkan pada batang kontolku yang sudah basah oleh cairan memek Marlena tadi. Lantas aku masukan kembali batang kontolku ketengah-tengah selangkangan Marlena, menempel tepat pada belahan memek Marlena, mulai kugesek-gesekan secara beraturan, cairan memek Marlena pun semakin membasahi batang kontolku. AaahLenenaaaak.bangeet! aku merintih nikmat. Apa sih rasanya.emang enakya? tanya Marlena, heran. IyaLenrapetin kakinya ya! pintaku padanya agar merapatkan kedua pahanya. Waw nikmatnya, kontolku terjepit di sela-sela selangkangan Marlena. Aku terus menggenjot kontolku disela-sela selangkangannya, sambil sesekali kusentuh-sentuhkan ke belahan memeknya yang sudah basah. Ah geli nih. udah belum sihjangan lama-lama dong! pinta Marlena tidak mengerti adegan ini harus berakhir bagaimana. IyaLen sebentar lagi ya! ungkapku sambil mempercepat genjotanku, tanganku meremas pantat Marlena dengan penuh nafsu. Tiba-tiba terasa dorongan hebat pada batang kontolku seakan sebuah gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya. AaaaakhaaaowwLeennaku mau keluaarrcrotttcrottcrottt.. oouhh! air maniku muncrat dan tumpah diselangkangan Marlena, sebagian menyemprot di belahan memeknya. Iiiih.jadi basah..nih! ungkap Marlena sambil mengusap air maniku diselangkangannya. Hangatlicinya? ungkapnya sambil malu-malu. Apaan sih ini.namanya..? Marlena bertanya padaku. Hmmitu namanya air maniLen! jelasku padanya. Dipegangnya air mani yang berceceran di pahanya, lalu dia cium baunya, sambil tersenyum. Aku pun menatap Marlena sambil melihat reaksinya setelah melihat tingkahku padanya itu. Tapi untunglah Marlena tidak kaget atas tingkahku itu, cuma sedikit rasa ingin tahu saja yang terlihat dari sikapnya itu. Aku sungguh beruntung dengan keadaan di rumah itu sore itu yang telah memberiku kesempatan untuk mendekati Marlena gadis kecil yang cantik. Marlenapun menurunkan daster mininya sambil mengusapkannya ke selangkangannya yang belepotan dengan air maniku, lalu dipakainya kembali celana dalamnya yang kulepas tadi. Lenmakasih yaudah mau pegang punyaku tadi! ungkapku pada Marlena yang masih terheran-

heran atas ulahku tadi. Kamu nggak marahkan kalau besok-besok aku pengen seperti ini lagi..? pintaku pada Marlena. Iyanggak apa-apaasal jangan lagi ada orang aja..kan malu! ungkap Marlena polos. Setelah itu Marlena pun bergegas mengambil tas sekolahnya berlalu ke dalam kamarnya, aku benarbenar merasa puas dengan kepolosannya tadi, pokoknya nanti aku akan bujuk dia untuk seperti itu lagi, kalau perlu kuajari yang lebih dari itu.

Seks di Masa SMA


Cerita panas dari masa muda waktu duduk di bangku SMA. Saya pun sangat merindukan masa-masa itu dengan beberapa kenangan indahnya. Masa SMA merupakan masa yang paling menyenangkan. Dimana penjajakan dari anak culun menjadi pemuda dengan proses pembelajaran baik dari diri sendiri, maupun dari luar. Saya sendiri masuk di sekolah yang cukup bonafit dan terkenal dengan lulusan yang masuk ke universitas negeri, swasta terbaik, bahkan sampai ke luar negeri. Aktif di dalam organisasi dan menyukai ilmu sains membuat saya cukup banyak teman di sekolah, baik itu teman cowok atau cewek. Cukup banyak saya disibukkan dengan kegiatan yang cukup banyak, tugas sekolah yang tak habis2nya dan juga ujian yang sangat menyita waktu. Saya sangat ambisius untuk meraih goal saya untuk bisa menjadi siswa teladan dan bisa mendapat beasiswa kuliah. Tapi 1 hal yang membuat saya iri dengan teman2 yang lain. Mereka santai saja, tidak ada goal, dan mereka punya pacar. Pacar lah yang tidak saya punya. Sibuk mikirin yang lain, jadi gak pernah kepikiran sampai kesitu. Akhirnya saya memutuskan kalo saya naik kelas 2 dan masuk kelas sains, saya mau punya pacar biar bisa memotivasi belajar saya lebih banyak. Dan memang benar, saya masuk kelas sains dan temanteman cewek di kelas saya adalah para idola di sekolah. Kegemaran saya pada matematika dan fisika sangat menonjol di kelas dan selalu menjadi tangan kanan para guru untuk bantu teman2 pada kelas tambahan. Bahkan saya jadi asisten lab di sekolah buat pelajaran fisika kelas 1. Dan itu semua saya lakukan untuk menarik perhatian para wanita di kelas saya. Ada 1 yang menarik perhatian saya, namanya adalah Mita. Mita sangat cantik dan ayu. Rambutnya yang panjang diikat rapih dan kulitnya putih. Sepertinya dia sangat menjaga kecantikannya dengan perawatan yang rutin. Itu semua terlihat dari alat2 komestik yang dia bawa ke sekolah. Tapi yang saya kagum, dia tidak pernah menor. Terlihat sangat alami, karena semua kosmetiknya hanya untuk perawatan kulitnya saja. Benar-benar luar biasa. Bodinya sangat sintal, pantatnya sangat padat dan kencang (karena saya pernah senggol), dan payudaranya sangat pas sekali untuk seumuran dia.

Saya mulai mendekati dia, dan cukup sering ajak dia ngobrol. Tidak jarang juga saya membantu dia belajar pelajaran di sekolah. Kadang2 saya suka menelepon dia ajak ngobrol, bahkan sampai curhat. Kedekatan kami makin membuat saya bahagia, sampai suatu saat saya mau ajak dia jalan2 keluar. Dan dia dengan spontan menjawab iya. Saya jemput kerumahnya. Karena kita mau wisata ke daerah pegunungan dan kalau sempat mau ke pedesaan. Dia membawa segala perlengkapannya, dari jauh kelihatan paras wajah cantiknya yang sangat mempesona. Dalam perjalanan, kami juga bersenda gurau sambil tertawa dengan iringan musik membuat suasana menjadi hangat. Ketika kami sampai di tempat wisata, kami berjalan2. Dia juga tidak lupa untuk mengabadikan foto2 dengan kamera SLRnya. Setelah cukup lelah berjalan2, kami duduk di kafe dengan pemandangan yang sangat luar biasa indahnya. Kami pilih kursi untuk berdua dan makan siang disana. Setelah selesai, kami pesan ice cream sebagai penutup dan setelah itu ngobrol untuk menikmati pemandangan yang ada. Saya tembak dia untuk jadi pacar saya dan setelah ngomong bla.. bla.. bla.. akhirnya dia mau jadi pacar saya. Wah senangnya hatiku, Mita akhirnya jadi pacar saya. Kami bergandengan tangan ke mobil dengan hati yang berbunga2. Setelah 2 bulan kami berpacaran, saya belum pernah mencium dia. Sampai kepada hari valentine, saya bikin dia surprise dan dia sangat senang akan semua itu. Pada waktu di mobil, dia bilang terima kasih dan saya disuruh pejamkan mata. Disitulah saya dicium bibir dengan bibirnya yang sangat lembut. Tidak sampai FK, karena kami masih newbie untuk hal2 begitu. Mulai dari situ, kami cukup sering berciuman malah hampir tiap hari sehabis pulang sekolah. Sebulan kemudian, kami beranikan untuk memakai lidah dalam berciuman. Aneh rasanya pertama kali, tetapi hari-hari selanjutnya, sangatlah menyenangkan sekali. Bahkan bisa sampai berjam-jam kami cipokan, tapi rangsangan akan FK ini cukup besar kadang2 sampai kemaluan saya tegak dan Mita pun merapatkan kakinya pertanda kalo dia terangsang. Penjelajahan seksualitas kami pun berlanjut karena perasaan ingin tahu saya yang makin meninggi. Apa rasanya megang tetek? Gimana kalau kontol dikocokin cewek sendiri? Apa sih rasanya hubungan badan itu? Tiba saatnya libur sekolah, dan prestasi kami berdua cukup luar biasa. Walaupun kami bukan rank 1 dan 2, tapi kami masuk 5 besar di kelas. Kami berdua sangat senang dan orangtua kami pun bangga akan hal itu. Karena disamping itu, 5 besar dari tiap kelas akan menjadi perwakilan untuk olimpiade sains dan dibagi-bagi berdasarkan minat. Mita dan saya mendapatkan masing-masing kimia dan fisika.

Sewaktu liburan, orang tua Mita keluar negeri untuk mengunjungi kakaknya yang ada di Eropa. Daripada keluar duit jalan-jalan, mendingan ngapel di rumah Mita aja, begitu saya pikir. Kami berpacaran di rumahnya, dan yang ada cuman pembantunya yang sudah sangat tua. Pada saat tidur siang, kami tidur berdua di kamarnya dan kepalanya ditaruh di dadaku. Tapi saya tidak tidur saat itu, melainkan hanya menciumi rambutnya yang sangat harum. Dan pahanya yang putih itu disilangi ke pahaku, jadi bisa kugesek kelaminku ke pahanya yg membuat kontol saya menegang. Akhirnya dia terbangun juga dari tidurnya, dan saya mencium bibirnya yang lembut itu dan akhirnya kami bercipokan cukup lama. Dadanya bisa kurasakan, masih kencang dan berisi, karena dia berada di atasku posisinya. Kami bermain lidah, bahkan kadang2 sampai ludah kami belepotan, tapi kami hanya tertawa saja dengan apa yang kami lakukan itu. Pada saat hot2nya kami bercumbu, tanganku mencoba untuk nakal dengan meraba pantatnya yang sangat berisi itu dan sekali-sekali mengelus pahanya yang mulus. Itu semua membuat ciuman kami tambah hot dan sangat liar. Lalu tangan mulai naik sedikit2 hingga ke daerah dada. Saya raba tanpa memberi tekanan dan membuat Mita terkejut. Geli tau! katanya manja. Harusnya kan sayang bilang2 dulu mau megang tetek aku, Iya Mit, dadamu sangat merangsang. Boleh kan aku pegang2? jawabku. Lalu dia menggelengkan kepala pertanda setuju.Lalu kami melanjutkan petualangan cipokan yang membahana. Waktu pun sudah malam dan aku pun pamit pulang. Tapi aku sudah berjanji kalo aku bakal balik lagi besok pagi. Pagi2nya saya datang dan Mbok langsung mempersilahkan masuk tanpa bertanya banyak. Terlihat Mita masih tidur, lalu saya bangunkan dia dengan pelukan dari belakang dengan tangan melingkari perutnya. Lalu saya mencium tengkuk dibawah kupingnya dan Mita kegelian dan terbangun. Dia tersenyum dan menyambut, Met pagi sayangku! lalu aku cium bibirnya dan kami lanjutkan dengan cipokan. Pada saat tangan saya menyentuh dadanya, ternyata dia tidak menggunakan BH. Saya kaget dan Mita hanya tersenyum. Kaget yah aku gak pake BH, jadi kamu bisa pegang tetekku langsung. Iya Mit, aku kaget banget, tapi lembut bang et Mit. Aku boleh lihat gak. Buka bajumu yah?. Lalu Mita membuka bajunya dan terpampanglah dua bukit kembar menggantung yang ranum sekali. Ternyata yang kenyal yang selama ini aku cuman lihat di film2 itu sangat indah bentuknya. Kulit putih Mita membuat putingnya menjadi begitu bercahaya karena warna merah muda yang terpancar. Dan yang paling saya kagumi, pentil Mita itu bentuknya puffy. Jadi lebih mancung. Heh, jangan ngelamun, udah dibukain berarti harus dimainiin, bukan didiemin kata Mita dengan kedipan nakalnya. Dengan cepat saya lahap bibirnya dan tangan saya mulai meraba dan meramas teteknya. Lalu ciuman saya turun ke dadanya dan pentilnya yang pink dan mancung itu. Kulihat Mita kegelian disitu. Cukup lama saya bermain2 di sekitar dadanya, saya jilati, kadang2 lidah

saya melingkari putingnya lalu melahap seluruhnya untuk masuk kedalam mulutku. Dan lama2 pentilnya mengeras dan dia menjadi tambah geli dengan erangan2 erotis pertanda kenikmatan. Tangan Mita mulai nakal dan meraih kemaluanku. Disitu dengan cekatan dia membuka celana jeansku dan juga celana dalamku. Ihh, udah bangun yah adeknya. Lalu tangannya memegang dan setruman 1000V menjalar di badanku. Keras yah, aku mainin yah yang?. Iya Mit, enak banget. Nikmat. Kocokin yah mpe spermanya muncrat. Mita dengan cekatan melakukan pekerjaan tangannya dengan lihai. Lalu surprisenya, dia memasukkan kontolku yg 15cm itu ke dalam mulutnya yang imut. Saya makin menggila dan merasa sangat nikmat. Dia percepat untuk menghisap dan lidahnya menggesek2 dinding kontolku. Aku mengerang dan bilang kalau aku mau keluar.Mit.. Aku mau keluar.. ntar lagi Mit. Tepat pada saat spermaku muncrat pertama kali, dia stop gerakannya, dan hanya memberi tekanan dari lidahnya. Dan itu luar biasa nikmatnya. Crettt..Cret t. ntah berapa kali aku muncrat, dan Mita tidak menelannya. Tapi membuangnya ke tissue. Enak gak? Mita ngocoknya bener gak? Itu yg Mita pelajarin dari film2 katanya. Enak Mit. Lain kali lagi yah. Tapi aku juga bisa bikin kamu jadi enak seperti yang aku rasakan kok. Mau?. Mita mengangguk dan aku raih pantatnya dan membuka celananya. Disitu terlihat celana dalamnya yang berwarna pink, dan bulu2nya yang hitam mulai terlihat. Kubuka celana dalamnya dan terpampanglah memek Mita, wanita cantik idamanku di kelas. Bulunya halus, dan rapi, cukup lebat untuk menutupi bentuk memeknya. Aku buka selangkangannya, dan memek merekah berwarna merah muda dengan lapisan2 memek yang begitu jelas. Aku jilati, dan terlihat dia menggelinjang. Sangat harum sekali memeknya itu, dan aku jilati dengan penuh nafsu. Klitorisnya mengeras dan dia menggelinjang kegelian. Semakin aku konsentrasikan ke bagian itu, makin Mita mengerang, dan akhirnya dia terdiam terkujur lemas. Dia bilang, Enak banget yang. Aku suka kamu gituin. Aku senang. Tapi lemas. Kami lalu tertidur berpelukan dengantelanjang. Ketika kami terbangun, kami lalu mandi bersama. Sambil bercanda2 sebagai mana layaknya orang pacaran, lalu kami saling mengelus vital masing2. Pada saat menyabun, Mita dengan sengaja memainkan kontolku dan aku juga memainkan teteknya dan pentil puffynya itu dan juga memeknya yg mungil itu. Ketika mengeringkan badan, kami langsung ke tempat tidur dan melakukan ritual2 yg sudah kami pelajari. Cipokan, netek, dan oral. Kami melakukan posisi 69 pada saat itu dengan posisik diatas. Jadi seperti berhubungan seks dan lagi2 aku muncrat di mulut Nita. Saya pernah bertanya apakah aku boleh memasukkan kontolku ke memeknya. Dengan bijak dia menolak kalau itu satu2nya mahkota wanitanya buat suami di suatu hari nanti. Lalu kami melanjutkan hubungan kami, dan juga perbuatan mesum kami itu. Kadang2 kami selingin dengan saling memijat, tapi Mita juga pernah mandi kucingkan saya dengan ciuman dan tekanan payudaranya. Sangat luar biasa. Kami melanjutkan hubungan sampai akhir SMA. Dia melanjutkan ke luar negeri untuk ambil

kedokteran, sedangkan saya di dalam negeri saja. Kami berpisah baik2 dan masih email2an sampai sekarang.

Sepongan Nikmat Dita Adik Kelasku


Masa kuliah adalah masa terindah. Pada masa itu aku bebas menuntut ilmu dan tidak lupa berburu cewek-cewek cantik di kampus. Cerita panas dengan Dita adalah salah satunya. Kisah ini kisah nyata dari gw, seorang mahasiswa universitas swasta di daerah grogol Kisah ini bermula waktu gw beli hp blackberry,gw punya adik kelas anak akuntansi, awalnya hubungan gw ama dia biasa aja, ampe gw punya bb, gw add PIN dia, akhirnya gw sering curhat masalah cewek gw ama dia. Sebut saja nama adik kelas gw ini Dita, juju raja gw sange banget ngeliat dia, ngeliat cara dia berpakaian. Kalo di tongkrongan kampus, dia duduk suka keliatan belahan pantatnya. Suatu malem, gw BBMan ama dia, curhat2 gt, ternyata dia baru putus ama cowoknya, bang, gw baru putus ama cowok gw kata dia Kemudian gw dengan bijaksananya member nasihat agar dia tabah, Dan iseng iseng, gw nanya ama dita dit, tapi lo ga pernah ngapa2in kana ma cowok lo? kata gw maksudnya bang? Tanya dita yaa kaya anak muda pacaran lah gimana kata gw Akhirnya Dita jelasin dia sering petting ama cowoknya, setiap ketemu cowoknya minta di sepongin. *disini pikiran nakal gw main, berarti dia nakal, daripada selama ini dia cuma bacol gw, akhirnya gw beranikan diri buat spik spik Hari selasa, waktu itu dia lagi kuliah di gedung K lt.5, dan waktu itu gw BBMin dia, gw bilang gw baru putus *padahal mah speak doing alias boong * Dan gw ngajak dia nonton, waktu itu gw ama dia nonton orphan di pelangi (plasa semanggi) Pas nonton gw curi2 liat toket dia, maklum dia pake baju yg agak keliatan belahannya. Gw inget banget dia pake baju putih ketat banget, BH item tapi pake cardigan abu abu. Selesai nonton gw berniat mau pulang, sesampai di mobil, di parkiran basement, dia curhat gitu tentang dia ama cowoknya *jujur aja gw bodo amat dia mau curhat, gw cuma pengen nikmatin toket ama memeknya* sambil dia curhat di nyenderin kepalanya di bahu gw. Dan gw pun sedikit konak hehehehe Gw lupa di parkiran basement banyak satpam yang suka mondar mandir, akhirnya gw cabut dari mal itu, gw naik tol, menuju bekasi, karena rumah gw ama dia di daerah bekasi,

Dari mulai keluar mal ampe masuk tol dia terus nyenderin kepalanya di bahu gw gapapa kan bang gw pinjem bahu lo? Ga ada yg marah kan Tanya dia gapapa lah dit, gw kan dah putus, lupa ya lo? sambung gw Akhirnya dia terus curhat, gw juga curhat, gw mulai colongan pegang2 tangan dia, elus2 rambut dia, Akhirnya gw sampe di depan rumahnya, salah satu komplek terbesar dan terelit lah di daerah bekasi, tuh komplek gede banget, dan satpamnya jarang mondar mandir *girang* Tiba tiba dita bilang bang, makasih ya bang, gw boleh peluk lo ga bang? Tanya dia *dalam hati gw, silahkan dit lo peluk gw, lo pake gw, lo puasin gw* haha Akhirnya gw ama dia pelukan, dan gw nekat buat nyium bibir gw. Asli gw deg deg an banget, untung si dita nanggepin ciuman gw, akhirnya gw ciuman lama ama dia. jujur gw sange berat, dan gw beraniin diri buat megang toketnya, sebenernya bukan megang, tapi ngelus halus. dan dia no respon akhirnya gw nanya ama dia gapapa dit? gapapa bang, woles aja kata dita mungkin begini lah kalo cewek habis putus, masih labil *bijaksana ya gw, tapi tetep aja sange ga bisa di tahan bos* akhirnya gw grepe toket dia lumayan lama, gw remes tuh toket sambil gw jilatin lehernya ahhh bangggg desah dita dit , gw buka ya? tanya gw ahh, heeh bang jawab dita sambil ngedesah akhirnya gw buka cardigan dia, dan kaos nya, wuhuuuu toketnya mulus sekali di balut BH bewarna hitam tanpa basa basi, gw menuju toketnya tapi tiba tiba dita bilang bang, tapi jangan bilang siapa2 ya bang woles dit, gila aja gw bilang2 jawab gw akhirnya gw jilatin pentilnya yg udah tegang. sambil ngeliatin mukanya dita yg merem melek gw makin sange. ahhhhhh banh pelan pelannn bangg desah dita dan gw arahin tangan dita ke arah kontol gw. secara otomatis dita ngebuka resleting celana dry gw,hehe dengan berdiri tegak, kontol gw berada di alam terbuka *lebay*

dit, kocokin dit pinta gw heehhh kata dita sambil ngedesah akhirnya gw dikocokin ama dita, gw mulai ngedesah keenakkan, sambil jari jari tangan kiri gw bergentanyan di daerah pantat dia, karena dia pake baju kecil banget, jadi waktu dia kocokkin gw, bajunya keangkat dan keliatan belahan pantatnya. dita akhirnya nyepongin gw tanpa gw suruh, ahhh terus dit aah erhhh kali ini gw yang ngedesah tanpa sadar gw udah mau keluar, Dit, udahan dulu dit, gw udah mau keluar pinta gw ya udah bang, jangan lama-lama, ga enak di depan rumah kata dia ya udah akhirnya dia kocokin gw sambil di sepong tuh kontol gw, CROT CROT CROT akhirnya gw keluarin peju peju gw di dalem mulut dia. dia pun buka pintu mobil dan ngebuang peju gw di jalan *hardcore juga nih cewek, kalo tiba-tiba ada yg liat gimana* setelah beres2, gw nanya ke dita Dit , sorry yaa Gapapa bang, yaelah woles aja kali bang, gw juga ga nolak kan kata dita tapi tadi lo bilang ga enak di depan rumah, berarti kalo di tempat lain boleh dong,hehe tanya gw nakal hahaha, ya udah bang, thank you bang ya dita berusaha ga jawab, dan mengalihkan topik,haha akhirnya si dita pulang, dan gw pun pulang, senang banget hari itu gw bisa nikmatin bacol gw di kampus selama gw kuliah di TR*S*KT* , gw ama dia jadi TTMan, tapi sekarang udah jarang, karena gw udah fokus skripsi doain skripsi gw

Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku


Begitu turun kapal di pagi hari di Tanjung Priok, Giman tetangga sebelahku telah menungguku. Dia menggelandangku untuk mampir makan di Saiyo Bundo warung Padang kesukaanku tidak jauh dari dermaga. Sembari makan dengan rakusnya, dengan penuh antusias dia menceritakan bahwa beberapa hari terakhir ini dia melihat dengan perasaan curiga. Seorang lelaki, usianya sekitar 52 tahun, 15 tahun lebih tua dari aku, selama minggu-minggu terakhir ini, setiap dini hari termasuk tadi pagi, sekitar pukul 5, nampak keluar dari rumahku. Dia curiga istriku pasti telah berselingkuh dengan lelaki itu.

Mendengar omongan Giman teman akrab dan tetanggaku yang tak pernah kuragukan jujur dan tanpa pamrihnya sepertinya aku sangat terpukul. Shock. Aku limbung. Jiwaku sungguhsungguh tergoncang. Aku jadi merasa kecil, disepelekan, diabaikan, dikalahkan, dihina, ditinggalkan. Martabat dan harga diriku dihancurkan, diluluh lantakkan. Langsung terbayang di mataku. Seorang lelaki tua seumur bapaknya menggauli dia, Warni istriku yang baru berusia 28 tahun itu. Mungkin lelaki tua yang kekar berotot sebagaimana yang sering diinginkan Warni padaku agar banyak berolah raga supaya tubuhku kekar berotot. Lelaki tua itu bercumbu, berasyik masyuk melepaskan syahwat birahinya pada istriku. Terbayang bagaimana istriku yang sangat mendambakan lelaki berotot menggigiti dadanya yang gempal penuh otot dengan sepenuh gairah birahinya. Tentu Warni mendesakdesakkan pantatnya, sebagaimana yang dia lakukan padaku juga, yang tak sabar menunggu penis lelaki itu menembusi vaginanya. Dan kubayangkan pula bagaimana Warni mendesah atau merintih saat menerima tusukkan penis Pak tua itu di kemaluannya. Aku paham ke-liar-an Warni saat orgasmenya datang menyerbu. Kubayangkan dia bergelinjang sambil menggeliat-geliatkan pinggulnya untuk menahan gatal syahwatnya. Saat dorongan ejakulasinya mendesak-desak untuk muncrat dari lubang vaginanya, tangan-tangannya pasti akan mencengkeram atau mencakar punggung Pak tua itu hingga membuatnya luka dan mengeluarkan darah. Bayangan-bayangan diatas semakin membuat aku sebagai lelaki atau sebagai suami yang tak ada artinya. Aku sepenuhnya menjadi pecundang yang akan melata terseok-seok di tanah. Tetapi aneh.. Dan mengherankan. Kenapa bayangan pada Warni istriku telah membuat aku demikian tercampak itu tidak juga membakar rasa cemburuku. Ada lelaki lain hadir yang selalu berasyik masyuk dengan istriku saat aku berlayar di tengah lautan. Aku yang berlayar demi kehidupan perkawinan dan masa depanku bersama Warni yang telah 5 tahun ini kunikahi. Aku memang merasa terbakar atau terpanggang hidup-hidup. Aku seakan telah menggeliatgeliat tanpa mampu menghindarkan panasnya rasa amarah, tetapi bukan cemburu. Bahkan kemaluanku mengeras. Penisku ngaceng tegak mendorong dalam celanaku. Benarkah terjadi? Mungkinkah pukulan itu langsung merubah kepribadianku? Merubah oreientasi seksualku? Ah, aku harus menyangsikan cerita Giman ini? Apa dia tak salah lihat? Bukankah Warni selalu menunjukkan cinta dan kesetiaannya padaku selama ini? Walaupun tetangga sebelahku ini kuyakini sebagai orang yang paling jujur dan baik, aku tidak boleh begitu saja percaya pada ceritanya. Sebaiknya aku lekas pulang. Aku harus menyaksikannya sendiri. Warni nampak terkejut saat aku muncul di pintu. Memang seharusnya aku belum pulang. Tetapi karena kapalku harus mengisi bahan bakar maka aku bisa pulang ke rumah. Aku tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa saat ketemu istriku. Aku merangkulnya dengan

hangat sambil mencium jidadnya. Demikian pula Warni. Dia menyambutku dengan penuh rindu. Ia cium pipiku dan kemudian merembet ke bibirku. Dia melumat kumis dan bibirku. Kami berasyik bertukar lidah dan ludah. Aku sempat meremas kecil payudaranya yang masih 'getas' itu. Sesungguhnyalah istriku Warni adalah perempuan yang sangat cantik. Tampilan Warni sangatlah menggemaskan mata para lelaki. Aku harus menyisihkan banyak saingan saat aku melamarnya. Di lingkungan desanya Warni adalah kembangnya. Kecantikan Warni sering jadi bahan omongan para lelaki baik yang masih bujangan maupun yang sudah beranak pinak. Menurut pendapatku kecantikan Warni adalah jenis kecantikan alami yang mudah membangkitkan syahwat. Tubuhnya padat dan kencang. Dengan ukuran tubuhnya yang sedang saja mepakai baju apapun Warni akan terlihat luwes dan pantes. Bibirnya, lehernya, anak-anak rambutnya pada tengkuk atau jidad, dadanya yang bidang dengan buah dada yang hhuuhh.. Sungguh membuat penis lelaki langsung ngaceng ingin merasai nikmat legit vaginanya. Pinggul dan pantatnya sangat serasi saat berjalan, membungkuk ataupun duduk. Dan melihat Warni saat melenggang di jalanan sepertinya orang Jawa bilang 'macam luwe' atau harimau yang lapar. Langkah-langkah kakinya saat bergerak maju yang diikuti oleh ayunan pinggul dan pantatnya serta lenggang lengan serta ayunan bahu.. Wwoow.. Aku tak mampu menceritakan keserasian yang sarat dengan pandangan birahiku. Dan kenyataan yang lebih hebat lagi, Warni seperti kuda liar yang binal setiap melayani aku di ranjang. Dia selalu nampak haus dan menunggu belaianku. Warni termasuk perempuan yang tak mudah dipuaskan syahwatnya. Aku sering terpikir, seberapa jauh aku bisa mengimbangi hasrat birahinya. Atau, mampukan aku memberikan kepuasan seksual ke istriku Warni ini?! Adakah itu pula yang menyebabkan lahirnya cerita si Giman tetanggaku itu? Mungkinkah aku terlampau lama melaut hingga Warni tak mampu menahan gelora syahwatnya? Ah.., memang selama ini aku selalu khawatir setiap memikirkan istriku Warni yang 'hot' itu saat aku berada di tengah samudra. Bayangan akan hadirnya lelaki lain memang sering dan membuat hatiku merana. Aku sering membayangkan seandainya itu terjadi. Aku jadi terpukul-pukul dan terluka oleh bayanganku sendiri. Seperti biasa setiap pagi Warni pergi belanja ke pasar. Pagi itu saat hendak berangkat dia menawari aku ingin makan apa? Dia akan masak makanan kesukaanku. Aku serahkan pada dia untuk memilihnya. Aku ingin dia lekas keluar rumah ke pasar. Aku ingin melihat-lihat keadaan rumah, siapa tahu ada petunjuk tentang adanya lelaki tua itu. Aku amati perabotan di rumah. Mungkin ada rokok tyang tertingal. Atau benda-benda khas lelaki lainnya. Aku juga buka-buka lemari pakaian. Adakah yang mencurigakan? Mungkin bau minyak wangi, atau ada baju baru yang kemungkinan pemberian lelaki tua itu. Kemudia kulihat pula tas tangannya atau dompetnya. Siapa tahu disitu ada benda-benda

yang pantas dicurigai?! Ternyata aku tak menemukan apa-apa. Aku lantas duduk diam. Memikirkan kemungkinan lainnya. Dan.. Achh, siapa tahu.. Aku pergi ke kamar mandi. Aku periksa pula pakaian kotornya yang masih nge-gantung di kamar mandi. Bukankah tadi pagi Giman masih memergoki lelaki itu?! Aku lihat blus, kutang dan roknya. Kuamati dengan cukup cermat. Kulihat noda-noda keringatnya yang membentuk seperti peta. Itu tidak membuat aku khawatir atau curiga. Kini kuraih celana dalam Warni yang berwarna merah dengan kembang-kembang lembut. Kuamati cermat pula. Di arah selangkangannya, kemudian di bagian yang menutupi vaginanya. Disitu aku tiba-tiba.. Deg.. Jantungku berdegup kencang.. Aku melihat ada kilatan lendir yang menempel. Jariku cepat meraba.. Kembali.. Deg.. Benar.. Aku meraba lendir. Saat kuperhatikan nampak olehku gumpalan lendir macam putih telor.. Lebih lengket dan kental karena hampir mengering. Berarti peristiwanya belum lama. Aku bisa pastikan ini peristiwa malam tadi. Sperma ini milik lelaki itu. Mungkin celana dalam itu untuk mengorek sperma yang menggumpal di lubang vagina istriku. Sperma yang ditumpahkan lelaki itu. Berkali-kali kuamati sampai aku yakin banget bahwa itu sperma. Sperma lelaki lain yang nempel di celana dalam istriku. Ah.. Kenapa kamu bisa begini Warnii..?! Sekali lagi, kenyataan yang kutemukan itu semakin tidak membakar cemburuku. Bahkan penisku ngaceng menyaksikan sperma lelaki lain di celana dalam Warni ini. Bahkan pula, jari-jariku berusaha merasai benar-benar bagaimana lengketnya gumpalan sperma itu. Rasanya ingin dan sangat menyenangkan apabila aku bisa mendapatkan lebih banyak sperma lagi. Hidung dan matakupun berusaha menangkap citra sperma yang nempel celana dalam itu. Aku mencoba mendekatkan ke hidungku dan membauinya. Kini aku dikejar oleh rasa penasaran. Bukan karena rasa cemburu. Penasaranku itu adalah rasa haus untuk menghadirkan khayalan bagaimana istriku menggigiti dada lelaki itu yang gempal berotot dengan penuh gairah. Bayangan Warni mendesak-desakkan pantatnya, sebagaimana yang dia lakukan padaku juga, yang tak sabar menunggu penis lelaki itu menembusi vaginanya. Dan bayangan Warni yang mendesah atau merintih saat menerima tusukkan penis Pak tua itu di kemaluannya. Aku ngaceng berat. Tanganku serasa ingin mengelusi penisku sambil meneruskan bayangan lelaki tua yang ngentoti istriku Warni. Akhirnya aku perlu bersiasat. Aku persiapkan kemungkinan untuk mengintai kamar pengantinku. Aku pelajari situasi di luar kamarku. Aku mengambil bangku plastik bekas yang ringan dari gudang untuk pijakan berdiri mengintai dari kisi-kisi jendela kamarku itu. Aku samarkan adanya bangku itu di antara pot-pot tanaman hias yang terserak di luar jendela kamarku. Untuk lebih meyakinkan Warni, dan juga cukup waktu untuk mereka berdua, Warni dan lelaki itu, untuk dirundung kerinduan saling bercumbu, pada malam pertama dan kedua kedatanganku aku benar-benar tinggal di rumah. Dan sebagaimana biasa saat sebagai suami istri kami menghabiskan waktu untuk berasyik masyuk menyalurkan syahwat birahi.

Pada pagi hari ke.3 aku bilang pada Warni istriku, bahwa aku menerima telpon dari nakhoda untuk memeriksa mesin, itulah tugasku di kapal, apakah perlu 'repair' selama menunggu bahan bakar. Mungkin aku mesti menginap di kapal untuk menyelesaikan tugasku itu. Dengan menampakkan seakan masih memendam rindunya, istriku melepas aku pergi. Dan aku pergi, tetapi bukan ke kapal. Aku menyelinap masuk ke rumah Giman yang kebetulan lagi sendirian. Istri bersama anaknya lagi pulang mudik. Giman yang teman akrabku ini setuju akan membantu aku memata-matai ulah tingkah Warni istriku. Solidaritas tetangga, katanya. Aku menunggu hari gelap. Tunggu punya tunggu hingga pukul 10 malam tak ada orang yang datang ke rumahku. Dan aku yakin biasanya istriku sudah terlelap tidur. Dia termasuk orang yang tidak tahan melek. Dan Giman yang sedianya akan membantu akupun telah tertidur di bangkunya. Nampaknya dia kelelahan dan tak tahan melek. Aku tak akan membangunkannya. Aku sendiri yang biasa terbiasa tidur tengah malam tetap membuka mata duduk di kegelapan beranda rumah Giman, mengawasi rumahku. Tiba-tiba lampu depan rumahku.. Pet.. Mati. Pasti istriku yang mematikan lampu itu. Sekeliling rumahku jadi sepi. Aku jadi tegang. Kenapa? Adakah seseorang akan datang yang tidak boleh nampak oleh orang lain? Ternyata aku tidak perlu menunggu jawaban terlalu lama. Sekitar 5 menit sesudah lampu dimatikan dari arah kanan, sekitar 50 m dari rumahku nampak seseorang berjalan dalam kegelapan. Yaa.. Seorang lelaki. Dan tepat di pintu pagar rumah dia sesaat berhenti. Dia tengok kanan kiri untuk mengamati adakah orang lain yang melihatinya? Kemudian dia membuka pintu pagar dan bergegas masuk ke halaman rumah atau lebih tepat lagi menuju jendela kamar di mana adalah merupakan kamar pengantinku. Lelaki itu mengetok pelan. Mungkin sekitar 3 ketokan pada daun jendela itu. Kemudian dia kembali bergegas ke pintu masuk rumah. Aku melotot tajam. Aku sangat tegang. Kuusahakan mataku tidak melepas pandangannya pada lelaki dan pintu itu. Tak sampai semenit nampak pintu itu terbuka. Yang nampak hanyalah lubang pintu yang gelap. Aku tak melihat istriku. Dia berada dalam kegelapan lubang pintu itu. Dan dengan cepat lelaki itu menghilang dan pintunya kembali tertutup. Sepi kembali. Tetapi aku tidak sepi. Hatiku gemuruh sepertinya gelombang tzunami yang sedang menyerang pantai Larantuka dan melenyapkan pucuk-pucuk nyiurnya.

Ada semacam bara cemburu yang sangat merangsang hasrat birahiku. Bukan akan menghalangi percumbuan kedua insan ini. Kecemburuanku ini justru menginginkan 'pencurian nikmat syahwat' ini berlangsung sukses. Aku ingin, dan sangat ingin menyaksikan wajah istriku saat menerima nikmatnya sentuhan lelaki lain.

Aku ingin menyaksikan bagaimana Warni membuka pahanya yang putih indah itu 'ngangkang' menunggu penis lelaki itu mendekat ke vaginanya. Aku ingin bagaimana saatsaat penis lelaki itu menyentuh vaginanya. Duhh, duh.. Aku ngaceng berat, nih. Aku menunggu beberapa waktu sebelum aku mengendap memasuki halaman rumahku sendiri. Aku mencoba mendekat ke kamar pengantinku dan mendengarkan apa yang sedang terjadi. Kupingku menangkap suara cekikikan istriku. Sepertinya dia menahan kegelian. Kemudian suara berat dari seorang lelaki yang terkesan penuh wibawa dan sangat melindungi, "Ayoo, War.. sini. Jangan takut. Mas akan bantu supaya nggak terasa sakit" .. Hah..? "Aku khan belum pernah, Mas. Lagian geli, gitu lho" "Jangan khawatir, pelan-pelan saja kok. Biar kuludahi dulu agar licin" "Ad.. Akhh.. Adduhh.. Pelan mass.. Hachh.. Aacchh..". "Dikit lagii.. Huuchh.." "Huucchh, ampuunn.. sudah Mass.. Jangaann.." Edan.. Omongan itu membuat aku sangat tegang. Lagi diapain Warniku. Sepertinya dia menolak sesuatu yang disodorkan padanya tetapi membiarkannya sodoran itu jalan terus. Yang pasti bukan perkosaan atau jenis paksaan lainnya. Dan lelaki itu sepertinya sedang mengejar kenikmatan yang tak terhingga dari istriku, "Ampuunn, Maass.. Enakk bangeett.. Dduh.. Sakiittnyaa.." Sekali lagi edan.. Teriakan 'enak' dan 'sakit' datang bersamaan dan beruntun. Serta merta aku beranjak mengambil bangku plastik yang telah kusiapkan sebelumnya. Aku berdiri di atasnya dan melongok ke kisi-kisi jendela kamarku. Hampir saja aku jatuh terguling begitu aku menyaksikan apa yang telah kusaksikan. Aku seakan kena pukul palu godam penghancur beton sebesar mesin giling. Aku melihat lelaki tua itu sedang menaiki pantat istriku. Mereka berdua bugil seperti anjing di musim kawin. Kusaksikan tubuh lelaki tua itu sangat seksi. Dadanya gempal dengan bukit-bukit otot buah dadanya. Puting susunya nampak menghitam. Demikian pula bagian tubuh lainnya yang penuh otot membuat lelaki itu nampak sangat jantan. Dia seperti seorang petarung yang selalu menang. Tetapi yang membuat aku hampir kelenger adalah penisnya. penis lelaki itu sungguh besar dan panjang luar biasa. Aku jadi ingat tongkat pemukul 'base ball'. Maka kini lengkaplah seluruh bentuk ke-kalahan-ku. Tampilan keseluruhan lelaki itu benarbenar menempatkan aku menjadi pecundang total. Dan aku yakin bahwa selama 2 malam bersamaku, Warni tidak benar-benar memberikan perasaan maupun hatinya padaku lagi. Dia pasti hanya tertuju nikmat-nikmat syahwat yang berlimpah dari lelaki ini. Lelaki ini terlampau hebat bagiku. Bahkan telah menjadi kenyataan, aku kini benar-benar ngaceng melihat sosoknya. Aku sangat kehausan untuk menerima kenikmatan bagaimana dikecilkan, disepelekan,

diabaikan, dikalahkan, dihina, ditinggalkan. Bagaimana nikmat martabat dan harga diriku dihancurkan, diluluh lantakkan oleh lelaki yang sangat seksi ini. Dan nikmat itu benar-benar telah merambati sanubariku saat ini dimana seperti anjing kawin lelaki itu lagi asyik berusaha ngentot lubang pantatnya. Penis itu sedang mendesak-desaki pantat Warni. Dan Warni yang suaranya terus meng'aduh' campur meng-'enak' bukannya sedang cemas atau ketakutan. Justru tangannya nampak aktip mengarahkan penis gede itu ke lubang pantatnya. Kontan ngaceng penisku langsung mentok habis. Aku membayangkan seakan mulutku menjadi pantat Warni yang harus menerima sodokkan kemaluan gede lelaki itu. Aku merasakan sakit adanya jepitan dalam celanaku. Aku terpaksa melepaskan kancing celanaku dan membuka resleitingku. Aku melepaskan kemaluanku dari jepitan celanaku. Dan tanganku menyenggolinya agar rasa gatal birahiku tersalurkan. Nampak penis lelaki itu semakin bisa diterima pantat Warni. Dengan kocokkan-kocokkan kecil gerbang atau katup anal Warni akan terkuak. Kulihat lelaki itu menggerakkan pantatnya maju mundur mendorongi kemaluannya. Dan di pihak lain, Warni menyongsongkan pantatnya untuk menjemputi kemaluan gede lelaki itu. Beberapa saat kemudian, dengan rintihan sakit dan sekaligus desahan nikmat yang keluar dari bibir Warni, lelaki tua itu mulai leluasa mengayun-ayunkan pinggul dan pantatnya untuk mendorong dan menarik penisnya masuk dan keluar menembusi dubur istriku Warni. Kemudian aku melihat dia merubah posisinya. Tubuhnya rebah memeluki punggung istriku. Dia mencium dan melumati punggung dan tengkuk Warni sambil tangan-tangannya meraih dan meremas-remas buah dadanya. Aku kini benar-benar melihat ekspresi wajah istriku. Wajah yang sedang mengarungi awang nikmat itu matanya setengah tertutup. Dia terkadang mendongak dan kemudian merunduk bagai mahkluk yang gelisah. Sesekali kepalanya menyibakkan rambut panjangnya dengan cepat. Dan rambut itu terlempar ke belakang menyapu kepala lelaki yang sedang memagut tengkuk atau punggungnya. Pantat lelaki itu terus berayun penuh irama dengan sangat indahnya. Naik turun maju mundur, mengayun menggelombang seperti pantat zebra liar ditengah pelariannya saat dikejar sang 'predator' di padang Serengeti, Afrika. Bibir Warni terkadang menyeringai pedih, terkadang lain seperti senyum yang sarat nikmat. Makin jelas nampak olehku dua orang manusia ini sedang dalam perjalanan nikmat surgawi di anjungan syahwat birahi hewaniah mereka yang lepas dan liar. Aku perhatikan seprei ranjang pengantiku telah teraduk berantakkan. Bantalku nampak terlempar ke lantai menindih busana istriku dan busana lelaki itu. Sepertinya para busana itupun sedang saling berasyik masyuk di mataku. Amppuunn.. Aku tak tahan lagi. Aku bukan cemburu atau sakit hati. Kini justru aku merasakan nikmat syahwat yang luar biasa. Menonton Warni yang demikian menampakkan nikmat dalam pompaan lelaki itu aku mendapatkan sensasi birahiku. Belum pernah kurasakan kenikmatan

yang luar biasa macam kini. Membayangkan Warni melupakan aku yang suaminya mendorong tanganku dengan cepat mengelusi dan mengocokki kemaluanku. Aku semakin terangsang dengan adanya suara merintih atau mendesah dari istriku karena jejalan penis lelaki itu di lubang pantatnya. Tetapi ada yang bagai dinamit meledakkan nafsuku adalah saat kudengar pula suara lelaki itu, "Ayoo, Warni, enakk nggaakk peniskuu?? Enakk?? Enak mana dengan penisku atau penis suamimu?? Ayyoo Warnii.. Ngomongg.. Enak mana penisku atau penis suamimu..??" Dan belum juga Warni menyahut pertanyaan lelaki itu aku yang telah mendengarnya langsung bergetar. Lututku langsung gemetar. Aku merasakan merinding dan darahku mendesir hebat. Aku merasakan semakin nikmatnya mengocok kemaluanku sendiri. Aku merasakan spermaku sudah teraduk dari kelenjarnya. Aku merasakan seakan spermaku akan terkuras habis saat mendengar omongan lelaki tadi. Aku menghadapi orgasmeku dengan hasrat nikmat yang belum pernah kualami. Aku berteriak tertahan sambil mataku terbeliak menyisakan warna putihnya. Berdiriku oleng dan aku akan jatuh terjengkang. Pegangan tanganku pada kisi-kisi jendela itu luput. Dan kini aku benar-benar melayang ke arah belakang terjerembab jatuh ke tumpukan puing bekas bongkaran rumahku. Entah terluka atau tidak aku tak lagi merasakannya. Aku cepat beringsut ke kegelapan, khawatir suara jatuhku membuat yang di dalam kamar pengantinku mendengar dan mencari sumber suaranya. Aku tetap terus mengocok penisku. Nikmat ini harus kukejar dan selesaikan hingga puncak syahwatku itu tumbang. Dalam keadaan terguling ke bebatuan dan akhirnya tersungkur ke tanah spermaku muncrat-muncrat. Aku benar-benar meraih kepuasan nafsu birahiku. Aku terseok kemudian bersandar ketembok dan terkulai. Aku yakin mereka, lelaki tua itu dan istriku Warni terlampau asyik menimba nikmat yang sedang mereka rengkuh sehingga sama sekali tak mendengar suara aku jatuh terjerembab. Bahkan saat aku telah terkuras tenagaku berkat spermaku yang tumpah ruah mereka belum juga usai berayun-ayun. Suara-suara desah dan rintih mereka semakin cepat saling bersahutan. Aku masih perlu waktu untuk mengembalikan hasrat seksualku. Biarlah aku mendengarkan saja suara-suara itu hingga iramanya terdengar semakin tak terkendali. Itu pertanda bahwa mereka kini sedang menapaki puncak syahwatnya. Tetapi akhirnya aku tergelitik untuk kembali mengintip. Aku betulkan letak bangkuku kembali. Kali ini aku jaga dari kemungkinan terguling kembali. Dengan hati-hati aku menaiki kursiku dan tanganku berpegang kuat pada kisis-kisi jendelaku. Aku lihat tubuh istriku basah mengkilat oleh keringatnya. Demikian pula lelaki itu. Tubuhnya nampak dialiri keringatnya yang menderas. Wajahnya setiap kali disapunya agar matanya tidak pedih tertutup keringatnya. Kini mereka benar-benar sedang berpacu dengan hasrat birahinya yang meledak-ledak. Kepala istriku yang bergoyang mengibas-ibaskan rambutnya telah nyata dalam keadaan

setengah sadar. Dia sedang terbang di samudra nikmat tak terhingga. Dia akan melupakan berbagai hal. Dan tak mungkin secuilpun mengingat aku. Kenikmatan itu benar-benar telah merampas kesadarannya. Rasa panas atau pedas pada lubang duburnya tak lagi menjadi kendala. Pacuan itu mendekati garis finalnya. penis lelaki itu terus menggojlok-gojlok meruyaki lubang analnya. Dinding anus Warni mungkin sedang meremas-remas batang penis lelaki itu. Hingga.. Datanglah puncak nikmat mereka. Lelaki itu menyambar rambut istriku dan menjadikannya tali kekang. Dia menghela istriku bagai kuda tunggangannya. Dia berteriak dan mendesis. penisnya menyemburkan cairan panas yang sangat kental ke dalam lubang anus Warni. Bertubi-tubi puncratan sperma yang didahului kedutan urat-uratnya menyemprot dari lubang penisnya. Secara bersamaan keduanya tumbang dan rubuh ke ranjang. Tetapi seperti anjing kawin pula, kemaluan lelaki itu tidak lepas dari lubang anal Warni. Dan dalam posisi saling diam mereka sepertinya mempertahankan penis yang terbenam dalam anus itu. Dari arah belakang lelaki itu justru mempererat rangkulannya, dan sebaliknya Warni juga semakin memegang lengan berotot lelaki itu. Adegan diam itu berlangsung seperti sebuah 'pantomime'. Berlangsung bermenit-menit. Kemudian aku mulai melihat si lelaki bergerak. Dia memajukan mukanya untuk bisa mencium Warni. Dan dengan refleksnya Warni menyambut. Dalam keadaan 'gancet' dimana tubuh yang satu lengket pada tubuh lainnya, mereka berlumatan bibir. Bibir-bibir Warni membuka dan mengatup merespon bibir-bibir lelaki itu. Mereka meludahi dan diludahi. Mereka saling menikmati dan meminum ludah lawannya. Warni menelan dengan setengah menutup matanya. Dengan cara itu rupanya mereka ingin memulai kembali permainan syahwatnya. Mereka ingin mengulang ledakkan nikmat yang didapatkan sebelumnya. Mereka kini ber-ancangancang memasuki ettape lanjutan. Ciuman mereka berkembang semakin panas. Mulut lelaki itu mulai turun merambahkan ciumannya ke dagu Warni. Aku mendengar desahan tertahan dari mulut Warni. Aku juga melihat penis lelaki itu melepas dari lubang anus dan Warni berbalik hingga mereka menjadi saling berhadapan. Bibir lelaki itu mengejar gundukkan payu dara Warni. Bibir yang menggigit dengan gemas membuat Warni bergelinjangan meliak-liukkan tubuhnya bak ular kobra dalam tangkapan. Berikutnya adalah Warni yang ganti mematuk. Dia menghunjamkan ciumannya ke leher lelaki itu. Dia juga menggigit-gigit kecil dan menarik bibirnya turun melata dari leher menuju ke dadanya. Otot-otot gempal lelaki itu menjadi sasaran hasrat birahi istriku. Dia menggigit penuh dendam gumpalan otot buah dada lelaki tua itu. Warni menjadi sangat menikmati saat merasakan betapa lelaki itu menggelinjang dan mengaduh nikmat. Warni jadi mem-buas. Tangannya menggapai bagian-bagian tubuh lelaki

itu dengan sangat liarnya. Dia raih apapun yang menonjol pada tubuh lelaki itu. Tangannya meremas, mencengkeram dan terkadang juga mencakar.

Ciuman Warni terus turun ke perut. Godaan hasratku bangkit menyaksikan otot perut lelaki tua itu. Demikian kencang dan sangat serasi tampilannya. Aku iri dengan bentuk perut indah macam itu. Betapa nikmat selusuran bibir Warni merambahi perut lelaki itu. Rasa iriku ini mendorong nafsuku untuk ikut menciuminya. Yaa, aku demikian ingin menciumi tubuh lelaki yang jelas-jelas telah menggeluti dan menumpahkan spermanya ke tubuh istriku sendiri. Aku dilanda sensasi erotis yang membuat orientasi seksualku tiba-tiba bergeser. Aku yang seharusnya melawannya malahan kini menjadi menikmati syahwat dari kekalahanku. Aku berubah menjadi pemuja penaklukku. Aku ingin menggantikan peranan Warni. Aku membayangkan aku sebagai Warni yang sedang menciumi otot-otot gempal lelaki yang bukan suamiku. Aku menjadi sangat kehausan. Tenggorokanku terasa sangat kering. Dan rasanya obatnya hanyalah menyaksikan sperma lelaki itu tumpah di mulut istriku dengan bayangan syahwat yang membuat seakan sperma itu tumpah di mulutku. Tampak Warni tak melewati seinchipun ciuman dan bahkan kini juga jilatannya pada perut lelaki itu. Dan aliran bibir dan lidah Warni alur selanjutnya sudah kubayangkan. Pasti ciuman dan jilatannya akan meluncur ke arah kemaluan lelaki itu. Dan itu terjadi. Warni memang type perempuan penikmat syhawat sejati. Lihatlah, tangannya yang penuh perasaan dan peka dia merintis dengan rabaan-nya merambah ke wilayah kemaluan lelaki itu. Dan kini bibir Warni 'napak tilas' mengikuti alur rintisan tangannya. Lidah dan bibir Warni menapaki jalur jari-jarinya untuk mencium dan menjilati batang kemaluan lelaki itu. Seperti si buta dengan tongkatnya. Jari-jari Warni menjadi pedoman bibir dan lidahnya dalam upaya melumat 'tongkat base ball' milik lelaki itu. Dan kini jari-jarinya sedang mengelusi batang tegar kaku serta hangat penuh otot itu untuk menuntun jalan jilatan dan lumatan lidahnya. Dan ketika bibir dan lidah Warni menyentuh kemudian menciumi dan menjilati batang penis itu, si lelaki tua mendesis. Kenikmatan erotis yang sungguh luar biasa telah menimpanya. Tangannya yang kekar penuh otot merampas rambut-rambut Warni dan memerasinya. Dia menebar rasa pedih pada kulit kepala istriku. Dia ingin mendengarkan rintihan sakit yang nikmat dari mulut Warni. Saat dia benar mendengar rintih dan jerit sakit Warni, tangannya menekan keras kepala istriku. Dia tunjukkan keinginan hewaniahnya. penisnya dijebloskan lebih dalam ke mulut Warni. Dia ingin istriku melumati penisnya. Tak lama kemudian kusaksikan lelaki itu cepat berbalik. Dia dorong Warni untuk telentang. Lelaki tua itu bergerak setengah berdiri untuk melangkahkan pahanya dan meng-angkangi dada istriku. Masih dalam remasan tangannya rambut Warni ditekankannya ke bantal sehingga kepala Warni terdongak dengan bibir yang setengah menganga. Pada saat itulah kangkangan lelaki itu bergeser maju. penisnya kembali disorongkan ke mulut istriku agar dilahapnya. Dan istriku cepat me-respon. Kini aku menyaksikan kembali gerakan

mengayun. Dengan penisnya yang gede panjang lelaki itu ngentot mulut istriku Warni. Seperti bayi yang berangkang dengan selangkangannya pas diatas wajah lelaki itu berayun naik turun memompa mulut istriku. penisnya keluar masuk menembusi bibir indah Warni. Nampak pipi Warni menjadi penuh seperti anak rakus yang menjejalkan seluruh kuenya masuk kemulutnya. Mulailah kedua mahkluk ini saling mengayuh, yang satu jemput dengan mulutnya dan yang lain antar penisnya. Ucchh.. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.. Aku mengakui stamina hasrat seksual kedua orang ini. Belum lama mereka telah menumpahkan hampir semua energinya saat menjemput orgasmenya tadi, kini mereka telah kembali ke arena pacu untuk kembali melampiaskan syhawat birahinya. Aku yakin puncak nikmat ke dua segera menyusul. Aku sendiri sepertinya kena sihir. Apa yang istriku lakukan bersama lelaki itu telah mengeksplorasi seluruh cadangan energiku. Aku telah pulih dan langsung bergairah untuk kembali melakukan eksplorasi pada kemaluanku. Tanganku mengelusi, mengocok-ocok, menjepit atau mencubiti penisku yang tak seberapa besar ini. Aku mencoba merasakan setiap elusan atau kocokkan tanganku sejauh bisa merangsang libidoku. Apa yang kini tampak di depan mataku mendorong habis hasrat birahiku. Aku mempercepat kocokkanku seiring dengan percepatan kuluman dan pompaan penis lelaki itu pada mulut istriku. Kini aku merasakan kembali nikmatnya tanganku mengocok sendiri kemaluanku. Sarafsaraf peka baik yang langsung tersentuh elusan atau kocokkan tanganku maupun yang cukup tersentuh oleh khayalan syahwat ku telah berhasil merangsang kantong spermaku untuk memompakan simpanannya. Kini tak bisa kuhindari, aku merasakan spermaku merambati jaringan pipa-pipanya untuk selekasnya bisa menyembur keluar dari penisku. Yang membuat aku menjadi sangat terbakar adalah datangnya khayalanku yang bisa melahirkan sensasi baru bagi dorongan syahwatku. Aku membayangkan betapa aku menjadi Warni yang kini sedang dijejali batangan panas gede dan panjang milik lelaki itu. Aku membayangkan tak lama lagi cairan kental panas akan luber muncrat memenuhi mulutku. Aku sudah membayangkan rasa asin, gurih, lengket atau kenyal-kenyal sperma lelaki itu di mulutku. Yang kemudian mengalir memasuki tenggorokanku. Rambatan itu demikian gatal dan nikmatnya. Dengan paduan penuh irama tanganku yang mengelus, mengocok dan mejit-pijit aku sedang memasuki ambang orgasmeku. Aku semakin melototkan kepalaku ke arah wajah istriku. Kulihat pompaan penis lelaki itu mengayun semakin cepat dan semakin cepat.. Cepat.. Cepat.. Woowww.. Ayyoo.. Warnii.. Hohh.. Hohh.. Hohh.. Wajah lelaki itu.. Wajah ituu.. Aku kembali melayang.. Gelapnya malam serasa berputar.. Bayangan lampu jalusi nampak bergoyang seperti jendela kapalku. Kembali tanganku di jalusi itu lepas. Kembali aku

terayun limbung. Kakiku tak mampu berpijak tegak. Bangku plastikku lepas dari injakanku. Amppuunn.. Aku tak mampu melepaskan kocokkan tanganku.. Spermaku muncrat tepat saat aku oleng dan melayang jatuh terguling ke tumpukkan puing bongkaran rumahku. Sementara itu sayup-sayup kudengar pula suara lelaki dan perempuan yang seperti sedang meregang jiwa dari kamar pengantinku. Rupanya pada saat yang bersamaan aku dan mereka sama-sama dilanda gegap orgasme. Tanganku masih terus menggerakkan kocokkannya untuk memperpanjang nikmat orgasme dengan berusaha menangkapi suara-suara erotis dari istriku bersama lelaki itu. Dan hasilnya adalah hadirnya orgasme beruntunku. Desahanku serasa tak pernah henti. Dalam keadaan terjerembab ke tumpukan puing itu aku terus mendesah dan mendesis mengiringi denyutan muntah spermaku. Entah apa yang terjadi, rasanya spermaku terus muntah tak mau berhenti. Pelan-pelan aku bergeser ke kegelapan di balik pot-pot tanaman hias. Aku tunggu beberapa saat kemungkinan yang berada dalam kamar mendengar suara jatuh dan menengok keluar jendela. Ternyata tak ada yang memperhatikan jatuhku. Rupanya mereka begitu asyik dalam jebakan nikmat syahwatnya. Mereka tetap tidak mendengar suara yang cukup gaduh karena tubuhku yang terjengkang ke puing ini. Aku sendiri sudah nggak lagi tahu, apakah aku terluka atau tidak. Aku masih tetap ingin menuntaskan keingin tahuanku. Sejauh mana dan apa yang diperbuat Warni istriku bersama lelaki itu dalam kamar pengantinku. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku terseok bangun dari tumpukan puing di luar jendela kamarku. Walaupun tubuhku terasa ngilu dan pedih aku tetap berusaha mengatur bangku plastik untuk kembali ke lubang kisi-kisi jendela. Kulihat betapa Warni yang memang betul-betul perempuan penuh haus syahwat ketemu dengan lelaki yang memiliki kekuatan untuk melayaninya. Dalam telanjang bugilnya dan coreng moreng wajahnya sperma di seputar mukanya istriku menindih dan memagut bibir lelaki itu. Nampak sesekali mengangkat wajahnya untuk melihati wajah lawannya kemudian kembali memagut bibir dan mengelus-elusi rambut lelaki itu. Ooo.. Rupanya Warni masih menuntut agar vaginanya mendapatkan giliran penis lelaki itu. Nampak kini tangan kanannya turun untuk mengelusi kemaluan lelaki itu. Dan nampak banget olehku betapa Warni begitu 'keranjingan' pada penis gede panjang milik lelaki itu. Kusaksikan lembutnya tangan Warni demikian bertolak belakang dengan kasar otot-otot kemaluan lelaki itu. Dan tangan lembut itu memeras, memijit dan mengelusi batang yang kekar dan kasar itu. Sungguh sebuah 'kontrastistik erotisme' yang sangat indahnya. Tak diragukan lagi, kedua insan ini langsung memasuki keadaan yang memanas penuh atmosfir birahi. Warni dan lelaki itu siap untuk menempuh pergulatan barunya. Mereka memasuki ettape ke.3-nya menuju puncak syahwat berikutnya. Dan yang terjadi kemudian kendali di atas ranjang itu beralih ke sang lelaki itu. Dia mendorong telentang kembali tubuh Warni. Dia raih tubuh itu pada tungkai kakinya menuju pinggiran ranjang.

Tepat saat bokong Warni menyentuh tepiannya, lelaki itu mengangkat tungkai kiri Warni untuk dipanggul ke bahunya sementara tungkai lainnya menjuntai ke lantai. Selanjutnya yang terlihat adalah penis lelaki itu dengan pasti diarah tuntunkan ke vagina istriku yang sudah demikian menantinya. Semuanya berjalan begitu mengalir, seakan hal demikian sudah merupakan ritual rutin dalam pertemuan-pertemuan mereka. Butuh beberapa detik untuk lelaki itu mendesakkan kemaluannya ke vagina Warni. Aku melihat betapa kepalanya penis yang demikian bulat dan berkilatan menekan bibir vagina Warni hingga terbawa melesak ke dalam. Dan betapa desis nikmat langsung terbit dari mulut istriku mengiringi amblasnya penis ke dalam lubang kemaluannya. Yang kusaksikan melalui kisi-kisi jendelaku ini menjadi 'gong' dari perselingkuhan istriku dengan lelaki itu. Dalam posisi begini kulihat mereka lebih 'profesional' dalam saling mengayun. Irama sodokkan penis dan lahapan bibir vagina yang teriringi oleh desah dan rintihan bertalu-talu dari pasangan selingkuh itu. Wajah lelaki yang begitu nikmat merasai lubang sempit vagina istriku, atau wajah istriku yang begitu hanyut dalam pusaran nafsu birahinya merasai batang tegar gede panjang milik lelaki yang bukan suaminya itu benarbenar sesuatu yang nyata telah kuhadapi. Dan tak aku pungkiri, aku menikmati ke-selingkuhan istriku. Aku menikmati bayanganku yang mengajak orientasi seksualku untuk bergeser ikut menjilati atau melahap tubuh lelaki itu. Aku merindukan peristiwa ini berulang dan aku bisa menyaksikannya lagi. Goyang dan ayun Warni bersama lelaki itu sampai pada puncaknya saat tiba-tiba istriku bangkit dan tangannya merenggut gumpalan dada lelaki itu. Kulihat cakarnya terhunjam pada daging dadanya yang menghasilkan alur luka yang panjang berdarah. Itulah puncak orgasme Warni yang buas dan liar. Nafsu hewaniahnya yang tak pernah dia perlihatkan padaku. Ketika segalanya telah usai, sementara ketelanjangan dalam kamar pengantinku belum juga berakhir, lelaki itu mengambil sepotong kain berwarna terang dan lembut yang terserak di lantai. Sementara Warni istriku telentang kelelahan di ranjang, dengan sabar lelaki itu menge-lap sperma dia yang tercecer pada tubuh istriku dengan celana dalam istriku yang ada di tangannya. Dia menge-lap spermanya yang meleleh dari lubang dubur, dari lubang vagina serta di seputar selangkangannya dan juga yang terserak di dagu, pipi, leher serta buah dada istriku. Kuperhatikan pula saat celana dalam istriku dia lemparkan kembali ke lantai. Aku tak lagi menyangsikan cerita Giman. Tetapi aku hari ini bukan lagi aku kemarin lusa yang seorang suami baru turun dari kapalnya. Aku sekarang adalah lelaki yang menikmati istrinya mendapatkan nikmat syahwat dari lelaki lain. Lelaki itu pulang sangat dini hari. Mungkin sekitar pukul 4.30 pagi. Mungkin istriku mengingatkan kemungkinan aku suaminya pulang pagi ini.

Dan aku memang pulang pagi ini. Aku telah berdiri di ambang pintu rumahku jam 7.30 pagi. Istriku menyambut aku dengan penuh rindu. Dia sedang bersiap untuk belanja ke pasar. Dia bertanya padaku ingin masakan apa untuk makan siang nanti. Aku serahkan saja padanya. Dia toh tahu kesukaanku. Aku hanya berharap Warni lekas berangkat ke pasar. Aku sudah tak sabar untuk memasuki kamar mandi. Aku menemukan apa yang sangat ingin kutemukan pagi itu. Celana dalam istriku yang berwarna terang dan lembut nampak berada di gantungan kamar mandi. Tanganku meraihnya dan jari-jariku merabainya hingga kutemukan gumpalan lengket itu. Kini aku tak lagi sekedar menciumnya. Aku mempersiapkan seluruh diriku. Celana dalam itu kuamati lebih cermat. Kupandangi dimana saja gumpalan-gumpalan lengket nempel pada celana dalam itu. Kemudian aku memulai apa yang sangat aku rindukan. Aku dekatkan celana dalam itu kemulutku. Aku mulai melahap. Aku lumat-lumat celana itu pada gumpalan lengketnya. Aku merasai sperma dingin yang sangat kental larut dalam mulutku. Aku meyakini sedang mengunyah dan akan menelan sperma milik lelaki teman selingkuh Warni istriku. Aku mendapatkan nikmat orgasmeku tanpa tanganku menyentuh apalagi mengocok penisku. Air maniku muncrat-muncrat saat sperma lelaki itu mulai mengaliri tenggorokanku. TAMAT

Syarat Jadi PNS Dengan Ngentot Mbak Ayi


Perkenalkan Nama gw Andika ( nama samaran )! Gw baru lulus kuliah dan kepengen sekali menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil ) masa depan cerah gitu kata orang! menjadi PNS merupakan impian bagi sebagian besar orang! Bergagai cara dilakukan agar bisa lolos tes CPNS. ikut bimbingan tes CPNS, mengasi uang pelicin, menyewa joki, sampai ke dukun sekalipun akan dilakukan. Entah karena putus asa setelah beberapa kali gagal dalam tes, akhirnya gw juga memakai jasa dukun atau orang pintar dan bukan mak errot lho. Menurut info yang gw peroleh dari sahabatku , ada seorang dukun di pinggir kota yang dulu pernah meloloskannya menjadi PNS.

Begini cerita seks nya. Malam itu gw sendirian pergi mencari rumah dukun itu. Setelah sempat muter-muter nanya sana-sini, akhirnya gw tiba di sebuah rumah sederhana yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya. Halamannya yang luas dan tertutup rimbunnya pohonpohon mangga membuat suasana menjadi sejuk dan tenang. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, seorang wanita setengah baya dengan senyum ramahnya membukakan pintu. Permisi, apa benar ini rumahnya Mbak Ayik ( nama samaran juga )? tanya kemudian. Oh iya, saya sendiri. Silakan masuk, Pak! Setelah dipersilakan duduk, tanpa basa-basi gw

segera memperkenalkan diri dan langsung mengutarakan maksud kedatanganku. Ooo, jadi Pak Andika ini juga pengen jadi PNS tohhhh? Iya Mbak! Saya juga sudah membawa sebotol madu murni sebagai syarat, seperti yang dikatakan teman saya. Gw menyodorkan satu botol madu murni kepada Mbak Ayik . Kalau begitu, silakan Pak Andika ikut saya ke dalam! Mbak Ayik beranjak dari duduknya sambil membawa botol madu yang gw berikan tadi. Beliau berjalan menuju ke sebuah kamar di ujung ruangan. Dari belakang gw membuntutinya sambil memperhatikan gerakan pantat montoknya yang membuatku menelan ludah. Sesampainya di dalam ruangan yang redup itu, Mbak Ayik menutup pintu dan menyuruhku membuka pakaianku. Maaf ya Pak Pak ! Tolong pakaiannya di lepas dan silakan berbaring di ranjang itu! Kita akan segera memulai ritualnya! Semuanya, Mbak? tanyaku malu-malu. Mbak Ayik tersenyum, Pak Andika gak usah malu. Anggap saja saya tidak ada. Toh ini kan juga demi cita-cita Pak Andika ! Mbak Ayik benar, pikirku. Lagi pula gw sudah terlanjur datang ke sini, jadi gw tidak perlu malu lagi. Sementara Mbak Ayik menyiapkan kelengkapan ritual, gw segera menanggalkan semua busanaku kemudian berbaring di atas ranjang yang tidak terlalu empuk itu. Beberapa saat kemudian, dengan sebotol madu di tangannya, Mbak Ayik datang dan duduk di sampingku. Sesaat gw sempat melihat Mbak Ayik mengamati tubuh telanjangku. Pandangannya terkesan liar, seolah tengah melihat ayam panggang yang siap untuk di santap. Dengan duduk bersimpuh di sampingku, Mbak Ayik mulai menuangkan madu murni itu ke sekujur tubuhku. Gw memejamkan mata saat tangan lembut Mbak Ayik mulai menyentuh dada gw, meratakan madu yang lengket itu ke setiap sudut tubuhku. Jemarinya yang lentik dengan lihai menari-nari, meremas-remas dada bidangku dan putingnya, dan mempermainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di atasnya. Gw menggigit bibirku sendiri, mencoba mengendalikan aliran darahku yang bergejolak menuju ke arah pangkal paha gw. Pak Andika sudah punya pacar? tanya Mbak Ayik memecah keheningan. Eh, saya baru menikah enam bulan yang lalu, Mbak! ehmmm jadi masih pengantin baru to! Wah, lagi panas-panasnya dong, Pak ! kata Mbak Ayik meledek. Ah, Mbak Ayik ini bisa saja! Tanpa sengaja tanganku menyentuh lutut Mbak Ayik ketika beliau memindahkan tanganku yang tadi menutupi kemaluanku. Gw juga sempat melirik pahanya yang sedikit tersingkap. Wah, mulus juga pahanya, pikirku. Tanganku jadi betah berlama-lama di atas paha mulus itu. Mbak Ayik membiarkannya ketika tanganku mengelusnya. Bahkan beliau malah melebarkan pahanya. Seolah memberikan tanganku peluang untuk bergerak menelusuri paha bagian dalamnya.

Darahku semakin mendidih manakala dengan lincahnya jemari Mbak Ayik turun ke perutku, membelai bulu-bulu halusnya dan memijat perutku, yang keras dan liat. Wah badan Pak Andika kekar juga yah? Tinggi lagi. Pasti Pak Andika rajin olah raga. Ya, setiap enam hari dalam seminggu, setiap pagi dan sore saya usahakan untuk olah raga meskipun hanya sejam. Biasanya sih saya rutin fitnes. wahhhh.. pantesan adik Pak Andika gede! Maksud Mbak Ayik , adik yang mana? tanyaku pura-pura bodoh. Maksud saya adik yang ini.. kata Mbak Ayik sambil meremas kejantananku tanpa rasa canggung. Ada rasa kaget sekaligus senang dengan perlakuan Mbak Ayik . Beliau dengan lembut melumuri kejantananku dengan madu, kemudian mengocoknya pelan. opsttt Mbak! Enak! gw melenguh nikmat. Gw juga semakin berani dengan menyingkap roknya dan memilin pahanya lebih jauh lagi. Dan ternyata Mbak Ayik menanggapi positif tindakanku itu. Terbukti dengan ia sedikit mengangkat pantatnya agar gw bisa mencapai pangkal pahanya. Wow! Sekali lagi gw terkejut sekaligus senang manakala tanganku menyentuh rambut-rambut halus di antara pangkal paha Mbak Ayik . Ternyata beliau sudah tidak memakai celana dalam. Perlahan-lahan gw mulai menggosok bibir memek Mbak Ayik yang sudah basah itu dengan jariku. Mbak Ayik bertambah kelojotan dan semakin bersemangat mengocok batang kontolku. Perlahan-lahan batang kejantananku itu mulai membesar dan mengeras. Tanpa rasa jijik, Mbak Ayik mulai menjilati sisa-sisa madu yang menempel di sekitar pangkal paha gw, melumat buah zakarku, kemudian bergerak naik menyapu urat-urat kontolku yang sudah bertonjolan. Gimana Pak Pak ? Enak kan? tanya Mbak Ayik di sela-sela aksinya. Ahh nikmat banget Mbak! Saya belum pernah merasakan senikmat ini! Gw memang belum begitu berpengalaman dalam hal sex. Selama berhubungan dengan isteriku, kami hanya melakukan dengan cara konvensional saja. Namun kali ini Mbak Ayik memberikan pelajaran baru yang ekstrim. Ekstrim enak Terbukti ketika Mbak Ayik dengan lembut memasukkan ujung kontolku ke mulut mungilnya, langsung saja berjuta kenikmatan menghampiriku. ohhhhh..yeahhh nak, Mbak! nafasku semakin memburu. gw merintih -rintih nikmat, namun Mbak Ayik masih asyik mempermainkan kontolku di dalam rongga mulutnya. Gw juga semakin berani. Kutarik roknya sampai terlepas. Bahkan Mbak Ayik juga turut melepaskan kaosnya sendiri. Gila! Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ternya Mbak Ayik masih memiliki tubuh yang bagus. Kulitnya putih mulus, Tokednya yang kencang dan montok, serta pantatnya yang bulat menggemaskan membuatku seolah ingin mengunyahnya. Oh, sungguh seksi sekali dukun ini. wakzzz. kontol Pak Andika memang luar biasa besarnya. Hhhmmmm. saya memang sudah lama mendambakan kontol sebesar ini.Hhhmmm! dengan rakus Mbak Ayik kemb ali melumat kejantananku. Kali ini beliau mengangkangi tubuhku dan menyodorkan memeknya

tepat ke wajahku. Dengan naluriku, gw mendekatkan mulutku ke memek Mbak Ayik yang merekah merah. Bau harum yang keluar sangat merangsang syaraf otakku untuk menjilatnya. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku, dan kusapu permukaan memeknya dengan lembut. ohhhhh..yahhhhh begitu Pak ! Jilat terus punya saya.!Oooghhhtuhan! Mbak Ayik bertambah semangat mempermainkan kontolku di dalam mulutnya. Sementara tangannya mengocok batang kontolku, kepalanya juga bergerak naik turun. Sesekali beliau menyedot-nyedot ujung kontolku kuat-kuat. Cukup lama kami dalam posisi ini, saling menjilat, mengulum dan mengocok kemaluan masing-masing. Berapa saat kemudian Mbak Ayik melepaskan kulumannya. Gimana, Pak Andika Suka kan? tanya Mbak Ayik sambil tersenyum pada gw. Gw hanya mengangguk pelan sambil menikmati jemari Mbak Ayik yang masih memijit-mijit batang kontolku. Berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan orang yang mempunyai kontol b esar mempunyai keinginan yang besar pula. Saya yakin, kali ini Pak Andika pasti akan bisa jadi Pegawai Negeri. kata Mbak Ayik menjelaskan. Tapi sekarang, biarkan saya bersenang senang dulu dengan kontol Pak Andika yang besar ini! Mbak Ayik mengambil posisi duduk di atas paha gw. Perlahan-lahan beliau meraih kejantananku dan membimbingnya menuju ke liang sugawinya yang sudah basah. Dia terlihat meringis saat ujung kontolku mulai memasuki memiawnya yang hangat. Entah karena memiaw Mbak Ayik yang sempit, ataukah karena kontolku yang besar, proses penetrasi itu berjalan dengan lambat namun nikmat. Mbak Ayik tampak susah payah berusaha agar batang kontolku bisa masuk utuh ke dalam memiawnya. Sampai akhirnya Aaougghh. aduh Pak Andika ! Gede banget kontolmu! tubuh Mbak Ayik yang mulus tampak berkilat-kilat oleh cucuran keringatnya. Beberapa kali ia menghirup nafas dalamdalam sambil membiarkan batang kontolku terbenam dalam rongga memeknya yang sempit. Beberapa saat kemudian Mbak Ayik mulai beraksi. Dengan kedua tangannya bertumpu pada dada bidangku, beliau mulai mengayunkan pantatnya naik-turun. uuhhhhh ohhhhhhhh! Gw mendesah-desah keenakan. Kedua tanganku memegang pinggul Mbak Ayik untuk mengatur gerakan naik-turunnya. Sesekali tanganku juga merayap naik, menggapai dua buah benda kenyal yang melambai-lambai indah seiring dengan gerakan naik turun tubuhnya. Dengan liar Mbak Ayik menghentak-hentakkan pantatnya, meliuk-liuk di atas tubuhku, seperti seekor ular betina yang tengah membelit mangsanya. Terkadang beliau juga membuat goyangan memutar-mutar pantatnya sehingga jepitan memeknya terasa mantap. Batang kontolku terasa seperti di pelintir dan dipijit-pijit di

dalam lubang kenikmatan itu. Terasa sangat hangat dan nikmat. Ooouuuhhh Semakin lama gerakan Mbak Ayik semakin liar tak terkendali. Menghujam-hujam kejantananku semakin dalam dan mentok sampai dinding terdalam rongga memeknya. Nafas kami juga semakin memburu, seperti bunyi lokomotif tua yang berjalan dengan sisasisa tenaganya. Oh, Pak Andika , sayasudahnggak kuatlagi! Mbak Ayik menjerit nikmat berbarengan dengan muncratnya magma panas dari dalam rahimnya. Beliau mencengkeram kuat-kuat dada gw. Seolah ingin menancapkan kukukukunya ke dalam bukit dada gw. Ooohhh sebentar lagi Mbak! Saya juga sudah mau keluar ooohhh yeaahhh.! Gw juga mempercepat gerakanku. Meskipun Mbak Ayik terlihat lelah, namun gw masih bisa menopang tubuhnya dan menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah. Beberapa menit kemudian, gw merasakan batang kontolku semakin mengencang dan mulai berdenyutdenyut. Gw segera mempercepat gerakanku. Kuhentak-hentakkan tubuh Mbak Ayik . Bunyi berkecipak semakin terdengar nyaring. Sampai akhirnya.. Saya keluar Mbak! Oogghhh! gw meregang nikmat bersamaan dengan menyemburny a sperma di dalam rongga kenikmatan Mbak Ayik . Seketika tubuhku lemas. Gw sudah tak mampu lagi menopang beban Mbak Ayik yang berada di atas tubuhku. Beliau ambruk menindih tubuhku sementara batang kejantananku masih tetap menancap di memeknya yang hangat. Dalam hati gw kagum dengan wanita ini. Beliau telah memberikan pengalaman baru dalam bercinta. Belum pernah gw merasakan pengalaman senikmat ini dalam berhubungan sex. Pak Andika memang benar-benar hebat! kata Mbak Ayik sambil membelai dan sesekali menciumi bulu-bulu halus di dadaku. Mbak juga hebat! Belum pernah saya sepuas ini, Mbak! Gw mengecup kening beliau dan membelai-belai rambut dan Tokednya yang terurai panjang. Tak berapa lama kemudian kami pun terlelap saling berpelukan. Entah sudah berapa lama gw terpejam, ketika gw merasakan sesuatu yang merayap di atas perutku. Sesuatu yang hangat dan lembut. Perlahan gw membuka mataku, ternyata Mbak Ayik tengah asyik menciumi, menjilati dan melumat permukaan kulit perut sixpackku. Aahhh, Mbak Ayik masih pengen nambah lagi? desahku pelan. Mbak Ayik tersenyum manja, Habis, kontol Pak Andika guede sih! Siapa sih yang gak ketagihan ama kontol segede ini! Ah, Mbak Ayik ini bisa aja! gw hanya merem melek, menikmati tangan beliau yang bermain main nakal di selangkanganku. Dengan lembut Beliau membelai kejantananku dan

mengurut-urutnya dengan jempol dan telunjuknya. Terasa nikmat memang. Mbak Ayik bertambah antusias ketika batang kontolku mulai membesar dan mengeras. Dan dengan rakus, Mbak Ayik mulai menjilatinya, melumat dan mengocok kejantananku dengan mulut mungilnya. Aaahhh, aaahhh, enak Mbak! Oohhh! gw hanya bisa mengerang keenakan. Hhhhmmm., Pak Andika mau yang lebih enak lagi? tanya Mbak Ayik menggoda. Emang ada yang lebih nikmat, Mbak? Coba Pak Andika berdiri! gw menuruti perintah Mbak Ayik . Dengan kondisi tubuhku masih telanjang bulat, gw berdiri di atas ranjang. Sementara itu, Mbak Ayik yang berlutut di hadapanku tampak memandangi batang kejantananku yang sudah berdiri menganggukangguk. Perlahan-lahan Mbak Ayik meraihnya dan mengocoknya dengan lembut. Kukira beliau akan memasukkan batang kontolku ke dalam mulutnya, tapi ternyata tidak. Beliau ternyata malah menggosok-gosokkan batang kontolku di permukaan Tokednya yang lembut. Oohhh. yaaahhh! Enak banget Mbak! Ini masih belum seberapa, Pak ! Coba Pak Andika rasakan yang ini Mbak Ayik menggeser batang kontolku dan menyelipkannya di antara belahan Tokednya. Sekarang, coba ayunkan pantat Mas Andika ! Gw menurut saja. Perlahan-lahan gw mengayunkan pantatku maju dan mundur, sementara Mbak Ayik menekan-nekan Tokednya kencang sehingga batang kontolku terasa terjepitjepit diantara susunya yang kenyal. Oouuhhh! Mbak Ayik memang benar-benar pandai memanjakan pria! Ini benar-benar luar biasa, Mbak! gw mendesah-desah nikmat. Susu Mbak Ayik yang menekan-nekan kontolku membuat diriku serasa melayang. Lama juga kami melakukan foreplay ini. Sampai akhirnya Mbak Ayik meminta gw untuk segera menuntaskan permainan itu. Aahhh, Pak Andika ! Mbak sudah kepengen banget nih! rengek Mbak Ayik . Beliau melepaskan jepitan susunya dan kemudian mengambil posisi seperti orang sedang menungging. Meskipun gw masih belum begitu pengalaman, namun gw sudah pernah melihat posisi seperti itu dalam film porno. Perlahan-lahan gw membimbing kejantananku yang sudah berdiri keras ke arah lubang kewanitaan Mbak Ayik yang menganga dari belakan. Mbak Ayik tampak menggigit bibir sendiri ketika gw mulai menggesek-gesekkan ujung kontolku di bibir memeknya. Ooouhhh, ooohhh! Cepetan masukin dong Pak ! rengek Mbak Ayik . Pelan-pelan kutusukkan ujung kejantananku ke arah memek Mbak Ayik yang memerah.

Aahhhh! gw melenguh nikmat. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, tapi Mbak Ayik masih memiliki memiaw yang seret lagi keset. Jepitannya masih terasa kuat, seolah-olah ingin meremukkan batang kontolku. Terlebih ketika seluruh batang kontolku tertanam dan terhisap di dalam rongga memiawnya. Sesaat gw membiarkan kontolku tertancap. Kemudian, pelan tapi pasti gw mulai mengayunkan pantatku maju-mundur. Aaaahhhh, yeaahhh.! Sodokanmu mantep banget Pak Andika , Ooohhh! Mbak Ayik mengoceh tak karuan. Ah-uh-ah-uh, oh-yeh-oh-yeh! Beliau juga hanya bisa meremasremas seprei kusut itu saat gerakanku mulai cepat. Lama juga kami bermain dalam posisi doggy itu, sampai akhirnya Mbak Ayik terlihat sangat lelah. Aduh, Oouhhh kita istirahat dulu ya sayang! Ooohhh! Gw mencabut kontolku, sedangkan Mbak Ayik terguling ke samping dan terkapar dengan tubuh bersimbah keringat. Payudaranya yang montok tampak naik turun seiring dengan deru nafasnya yang terengah-engah. Setelah mengatur nafas beberapa saat, gwpun mulai melanjutkan aksiku. Kubentangkan kaki Mbak Ayik ke samping lebar-lebar, kuangkat kaki kanannya dan kuletakkan di atas bahuku. Perlahan-lahan kutarik pinggang Mbak Ayik dan kuarahkan batang kontolku menuju liang surgawinya yang menganga, dan sleeeep! Kembali kejantananku tertanam dalam lobang hangat itu. Aduuhh, pelan-pelan dong sayang! rintih Mbak Ayik . Kembali gw ayunkan pantatku perlahan-lahan namun pasti. Mbak Ayik yang berada di bawahku tampak kelojotan menikmati aksiku ini. Terlebih ketika gw membercepat ayunanku dan menekan kuat-kuat batang kontolku ke dalam rahimnya. Beliau hanya bisa mengerang nikmat sambil mencengkeram kuat-kuat otot-otot lengan dan dadaku. Sambil terus bergerak maju mundur, seskali gw meremas-remas, menjilat, dan menciumi Tokednya. Iyaahaaghhh! Terus sayangyahhhyaahhoouugghhh. ! Mbak Ayik mengoceh tak karuan. Namun gw tidak menghiraukannya. Gw terus memompa tubuh seksinya dengan gerakan mengorek-ngorek lubang nikmat itu. Semakin lama gerakanku semakin liar. Ooohh, Pak ! Saya sudah nggak sanggup lagi., Ooohhh., saya mau keluarrr.! Gw merasakan dinding-dinding memek Mbak Ayik mengerut dan berdenyut-denyut, mencengkeram dan meremas-remas batang kontolku dari dalam. Semakin lama kedutan memek Mbak Ayik semain cepat, hal yang sama juga terjadi padaku. Batang kontolku sudah terasa ngilu dan berdenyut-denyut. Sampai akhirnya.. Aaarrggghhh.! Gw keluar lagi Pak ! Mbak Ayik menjerit puas. Gw semakin mempercepat gerakanku, mengoyak-ngoyak isi memek Mbak Ayik . Namun sebelum sperma keluar, gw segera mencabut kontolku. Sambil mengocoknya dengan tanganku, gw menyodorkan batang kontolku ke bibir Mbak Ayik yang terbuka. Gw semakin mempercepat kocokan

tanganku sampai akhirnya. Aaaaggghh.aaaghh.aaaghhh! Crotcrotcroottt! Cairan putih kental muncrat beberapa kali ke mulut Mbak Ayik . Tanpa rasa jijik beliau menelan habis spermaku, kemudian menjilati sisanya yang masih menempel di batang kontolku. Seketika tubuhku lemas, tulang-tulangku seolah rontok. Dan gw pun terkapar di sisi Mbak Ayik . Oh, Pak Andika benar-benar perkasa! Terima kasih ya Pak ! gw memeluk tubuh Mbak Ayik dan mencium keningnya. Beliau tampak tersenyum puas sambil meletakkan kepalanya di atas dadaku dan mengusap-usap bulu-bulu halus di atasnya. Kalau saya berhasil jadi Pegawai Negeri, Mbak Ayik mau minta apa? tanyaku kemudian. Mbak Ayik bangkit dan duduk bersimpuh di sampingku. Saya tidak minta apa-apa kok, Pak ! beliau tersenyum, Pak Andika tidak perlu membelikan saya apapun! Saya cuma minta ini.. Mbak Ayik meraih kontolku yang terkulai tak berdaya. Kemudian mengurut -urutnya dengan jemarinya yang lentik. Maksud Mbak Ayik ? tanyaku tidak mengerti. Kalau Pak Andika berhasil jadi PNS, saya cuma ingin Pak Andika mengunjungi saya setiap seminggu dua sampai tiga kali, memberi saya jatah untuk dient*t pakai punya Pak Andika yang besar dan panjang ini.. lanjut beliau sambil menjilati sisa-sisa sperma yang masih lengket di batang kontolku. Ah, kalau itu sih gampang! Dengan senang hati saya akan selalu siap melayani mbak! Mendengar jawabanku Mbak Ayik kegirangan. Dan beliau kembali menggugah birahiku dengan memberikan kuluman dan kocokan di batang kontolku. Beberapa minggu kemudian akhirnya gw benar-benar lolos menjadi PNS. Dan setelah dilaksanakan pelantikan, gw memenuhi janjiku kepada Mbak Ayik . Setiap kali ada kesempatan, gw selalu berkunjung ke tempat Mbak Ayik . Tentu saja untuk memberinya kepuasan. Dan selama berhubungan dengannya, beliau masih saja mengakui kejantananku dalam bermain cinta! Cerita Ngentot Dukun Sexy kali ini demi cita citaku menjadi seorang PNS.

Tamat.

Gadis Warteg Pemuas Birahi


Siang panas di kota T******g membuat aku berkeringat. Belum habis jam kerja, kuputuskan saja buat pulang ke kamar kost. Sambil menyeka keringat, kudorong masuk motor inventaris kantor ke teras kamar kost. Perut terasa perih setelah sedari pagi berkeliling meninjau proyek pemerintah yg sedang dikerjakan oleh para pemborong lokal. Maklum, di kota ini pemborong lokal dikenal sedikit nakal jika tidak diawasi. Dan tugasku mengawasi agar dana pemerintah digunakan dengan benar serta kualitas pekerjaan para pemborong sesuai dengan standar pemerintah. Setelah ganti baju dengan kaus oblong, aku menuju warteg langganan di seberang jalan. Sambil memesan makanan kuperhatikan seorang pegawai baru yg berbodi lumayan montok dgn payudara yg besar. Kulitnya putih dan betis dan lengannya ditumbuhi bulu halus. "Ada yg baru Mbak Ning?" aku berbasa basi dgn pemilik warteg. "iya, keponakan dari Brebes, baru datang semalam". "Namanya siapa mbak?" tanyaku sambil pandanganku tak lepas dari tubuhnya yg ternyata membuatku sedikit bergairah. "Murni Mas" jawabnya singkat. Memang bener - bener murni pikirku. Sambil menikmati makan siang, pikiranku melayang memikirkan Murni. Imajinasiku melayang membayangkan aku sedang bergumul dgnnya dikasur. "Mau minum apa mas?" Pertanyaan Murni membuyarkan mimpiku. "Es Tawar aja" jawabku singkat. Pertemuan dgn Murni membuat aku semakin bersemangat pulang kerja. Singkatnya, karena kedekatanku dgn Mbak Ning sang pemilik warteg, aku berhasil dekat dgn Murni. Sampai satu hari aku nekat menembaknya saat warteg sedang sepi di malam selasa. "Murni, udah punya pacar blm dikampung?" tanyaku membuka pembicaraan. "Belum mas, emang kenapa?". "Gak, nanya aja. Masa gadis secantik Murni ga punya pacar? bo'ong aja nih!" candaku "Suer mas, murni blm punya pacar. Dulu pernah pacaran. Tapi skrg dah putus". "Lho kok putus? Mangnya knp?" tanyaku "Cowo aku dulu doyan selingkuh. Baru pcaran sehari dah pcaran lagi sama cewe lain. Dah gitu dia doyan mabok. Kalo udah mabok rese. Suka remes-remes dada aku. Kan aku malu mas". Wah dah berani curhat nih, pikirku. "Trus, klo skrg ada cowo yg mau sama murni, Murni mau ga?" tanyaku. "Emang ada cowo yg mau sama pelayan warteg kaya aku mas?" tanyanya. "ada" jawabku singkat "siapa mas?" "Aku". "Ah, mas becanda. Mas kan Pegawe Negri. Ga mungkin mau sama aku. paling juga sebulan aku udah diputusin. atau aku ga dikawin. Makasih mas. Aku ga mau sakit keduakalinya!" jawabnya sambil berlalu. Aku pun hanya tertegun. Menikmati kegagalan malam ini. Tapi aku tidak putus asa. Lewat Mbak Ning, kuutarakan perasaan hatiku kepada keponakannya. Mbak Ning pun setuju membantu akau. Katanya Murni memang udah pantas menikah dan ia ingin ada keluarganya yg bisa mengangkat derajat keluarga Murni. Sebab dikampungnya, PNS sangat dihormati dan disegani. Singkatnya, setelah berjuang selama kurang lebih dua bulan, kudapatkan cinta Murni pada saat acara panggung hibura 17 Agustus di halaman kecamatan. Sambil menikmati musik dangdut alakadarnya, kucoba lagi menyatakan cintaku pada Murni. "Murni, mas benar benar suka sama kamu. Benar-benar cinta dan tidak ada sedikitpun niat untuk melepaskan Murni. Mungkin saya lebih baik buta daripada lihat Murni dengan orang lain" kataku menggombal ria. "Mas, Murni dah tau dari Bu LikNing. Kalo emang mas benr serius sama Murni. Murni mau nerima asal dengan syarat mas.". Hnnnnaaaaaaah, akhirnya ........ "Syarat apa Murni? jangankan satu, seribu syarat akan mas penuhi asal Murni mau menerima cinta Mas." gombal maning. "Cuma satu kok mas. Mas jangan pernah menyakiti hati Murni". "Murni, aku sudah bilang, gak akan pernah menyakiti kamu. Jadi kamu mau

nerima mas?" tanyaku. "Mas terima ga syarat dari murni?" dia malah balik tanya. "Aku terima semua syarat yg kamu berikan. Jadi kamu mau jadi pacar mas?" aku medesaknya. "Jangankan pacar mas, aku malah sudah siap jadi istri kamu!" Mendadak suara musik dangsut tak terdengar. Yang terdengar hanya suara jantungku yg berdegup keras, saking senangnya perjuangan aku tak sia-sia. Kuraih bahu Murni dan ia tdk menolak. kupeluk dia dari samping dan kukecup rambutnya. dan dia melingkarkan tangannya dipinggangku. Resmilah kami jadi sepasang kekasih. Sejak aku berpacaran dengan Murni, aku merasa ada perlakuan lain dari Mbak Ning. Ia mulai sering menyuruh Murni meninggalkan pekerjaannya jika melihat motorku datang. Dan biasanya Murni menghampiri aku dan cium tangan seperti layaknya seorang istri kpd suaminya. Seperti sore itu, aku pulang kantor tiba-tiba Mbak Ning menghampiriku. "Mas Adi, Mbak mau ke Depok. Ada saudara yg hajatan. Mungkin Mbak nginep beberapa hari. tlg titip anak-anak di warung ya, soalnya ga ada orang lakinya. Suami Mbak juga ikut". "Oke Mbak" jawabku. "jangankan beberapa hari, setahun juga aku mau!" jawabku sambil tersenyum. "Ya iyalah, kan ada Murni! Makasih ya mas" Mbak Murni sambil berlalu. Malam itu Warteg tutup lebih awal. Sehingga aku punya banyak waktu ngobrol dgn Murni. "Mas, ngobrolnya di sana yuk, ga enak dsini. Rame, brisik lagi!" kata Murni mengajaka aku ngobrol di teras kostan aku. "Ya udah, tapi tlg buatkan aku kpoi yah!" pintaku sambil berjalan menuju kostan. Tak lama Murni menyusul dgn membawa segelas kopi hitam kesukaanku. Malam ini dia terlihat makin seksi dgn kaos ketat kuning dan celana legging hitam. Kontras dgn kulinya yg putih dan montok. Mulailah pikiran kotor merasuki otakku. Setelah Murni duduk di depanku, kami melanjutkan obrolan seputar keadaan keluarga kami masing-masing. Sekitar satu jam Murni terlihat BT. "Mas boleh numpang nonton TV ga?" "masuk aja nonton sana, aku masih mau ngroko sambil ngopi" jawabku. Murni pun berlalu kedalam dan menyalakan TV. 14" tuaku. Stlah sebatang rokok kuhabiskan, kususul Murni kedalam dan duduk sebelahnya. Tak kukira Murni langsung merebahkan kepalanya didadaku. Kesempatan nih, pikirku. Kuusap dan kubelai rambunya yang panjang melewati bahu. Murni nampak menikmati. Kuberanikan diri mengangkat kepalanya dan kukecup lembut bibirnya. Murni sedikit kaget. Maklum, setelah cintaku diterima, kita hanya sekedar mengobrol. Ga pernah lebih. Namun, ia membalas ciumanku. Malah badannya dihadapkan ke diriku. kamipun berciuman dgn posisi murni duduk dipangkuanku. Kuberanikan diri meraba payudaranya. Murni sedikit menepis tanganku. Tapi aku tak putus asa. kucoba dan kucoba lagi sampai akhirnya Murni membiarkan tanganku meraba dan mermas lembut payudaranya. Ciuman Murni semakin gencar ketika tanganku kucoba menerobos masuk lewat belakang bajunya. Terasa lembut payudara atasnya yg masih terbungkus kutang berenda. Tiba-tiba Murni bangkit. Yaaaah, ngambek dia., pikirku. Tapi ga kusangka ternyata murni bangun untuk menutup pintu dan kembali ke pangkuanku dan meraih kepalaku. Kami lanjutkan kembali pekerjaan yg tertunda tadi. Semakin berani aku meciumi sekujur wajahnya. Nafas Murni sedikit tersengal ketika kuciumi daerah belakng telinganya. Kucoba mengangkat kaosnya. Tak ada perlawanan. Kaos Murni sudah terlpeas dan didepanku terpampang pemandangan indah. Sepasang payudara montok yg putih bersih walau masih terbalut kutang berenda. Kuciumi dengan uas daerah belahan toketnya, dan Murni nampak menikmatinya. Sambil kupeluk, kucoba melepaskan kait kutang dipunggung Murni. Berrhasil!!!. Kutang Murni terlepas dan kuloloskan dari bwah dan Munri melepaskan ciumannya agar kutangnya cepat terlepas. Langsung kujilati pentil susunya yg kemerahan.

sementara tanganku meremas toket senbelahnya. Murni bergelinjang menahan kegelian dengan nafas yg tersengal-sengal. Nampaknya ia sudah terangsang. Puting susunya semakin maju dan mengncang. Kulepas Bajuku dan kuajak murni merebahkan diri sambil terus menjilati, mengulum dan meremas toket yg sudah lama kuidam-idamkan. Murni semakin bernafsu dengan meremas-remas pantatkusambil mengerang nikmat. Kucoba meraba selangkangannya dan Murni agak menolak dengan merapatkan pahanya. Tapi terasa sedikit oleh jariku. Memeknya mulai basah. Kuusap usap kemaluannya dari luar dan tiba tiba Murni memelukku dengan erat dan ia membekapkan mulutnya ke dadaku. Maassss, aaaaaahhhhhhhhhh..... Murni pipis..... Rupanya ia orgasme akibat rangsanganku di payudaranya. Murnipun bangun dan meraba selangkangannya. "Mas gimana ini, Murni ga tahan pengen pipis tadi, celana Murni basah". "kamu orgasme sayang, bukan pipis". jwbku menerangkan. "enak ga?" tanyaku "enak mas, sampe pipis hehehehe..." katanya sambil tertawa. Akupun bangun dan mengunci pintu. "Emang pipisnya banyak sayang?" tanyaku. "Boleh liat ga celananya?" tanyaku bersiasat. Padahal aku pengen liat memeknya yg terlihat munjung dari balik celana leggingnya. "Ga mau ah, malu. Masa Murni buka celana disini!". "Gapapa sayang, kan kamu calon istriku. Nanti klo kita menikah juga kita saling telanjang!" kataku menggombal. Murnipun bangun dan melorotkan celana legginga. ASTAGA!!! dari balik CDnya menyembul daging kemaluan yg menurutku hampir sama dengan ukuran toketnya (saking munjungnya tuh memek!) Tak kuat menahan konak langsung aku berlutut dan menciumi memeknya dari luar. "Mas, mau ngapain... Ih.... ngapain sih... oooh... shhhhh ... ahhhh.." prote Murni tak kudengar sambil sesekali kucoba menelusupkan jari kesela-sela CDnya. "Mmmmmaaaaassssssssshhhhhhh...... geli mas..... aaaahh. sshhhhhhh...." Murni terus mendorong kepalaku agar menjauh dari memeknya. Tapi aku tak peduli, aku terus mendesakkan kepalaku dan menjilati sekitar selangkangannya dan tanganku mencoba melorotkan CD Murni yg masih dlm posisi berdiri. Dengan sekali sentak, CD itu berhasil turun dan alamak........ bongkahan daging yg ditumbuhi jembut yg jarang jarang. Merah merekah, membuat gairahku semakin tinggi. Kuturunkan terus CDnya hingga benar-benar berada dibetisnya. Sementara lidahku mencoba menerobos ke sela sela belahan memeknya. "Mmmmmmmmmaaaaaaaaaassssssss, oooooohhhhhhhhhh........... aaaaaahhhhhhh........ sssssshhhhhhh.... aduh ......" Hanya itu yg keluar dari mulutnya sambil terus mendorong kepalaku. Sementara itu, entah kapan aku melepasnya, aku hanya tinggal memakai sempak. Kuajak Murni berbaring dan ia menurut. Kulepas CDnya yg masih nyangkut di kakinya sambil merenggangkan kedua belah kakinya. Saat kakinya merenggang nampaklah isi dari memek Murni yg merah, kelentitnya yg meruncing kujilati dengan rakus sambil sesekali memasukan lidahku ke rongga memeknya. Tiba-tiba, rambutku dijambaknya dan Murni kembali orgasme. "Mmmmmaaaaaaaasssssssss, aaaaaaaaaauwwwwhhhhhhhhh, nnnnnnnnnggggggghhhhhhhhhhhh. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!!!!!" itulah yg keluar dari mulutnya sambil melepas cairan kenikmatannya. KUjilati lelehan cairan memek yg membasahi sekitar bibir dan kumisku. Tak kulepaskan pula cairan yg meleleh sekitar memeknya. Tubuhnya melemas setelah dua kali kubuat orgasme. sambil kupandangi tubuh yg mulus yg tergolek lemas, kulepas celana dalamku. Kontolku langsung mnerobos setelah sedari tadi kukurung didalam CD. Langsung kuarahkan kepala kontolku kehadapan memeknya. Ku oles-oles di permukaan memeknya yg basah. Kembali Murni menggelinjang dan berdesah. Tak sabar kucoba masukkan kontolku ke liang memeknya. Murni sedikit menolak dengan kembali merapatkan pahanya. "Gapapa sayang, aku dah ga kuat lagi

sayang..." pintaku memelas.... "Ga mau mas, Murni takut hamil. Nanti Bu Lik NIng marah sama aku!" "Murni sayang, aku kan sudah bilang kita akan menikah, ga usah takut. Bu Lik Ning sudah merestui hubungan kita. Ayo sayang, jangan siksa aku ....!?" kataku sambil terus berusaha membuka pahanya yg masih merapat. Nafsu birahi yg semakin memuncak membuat aku berbuat sedikit kasar dengan memaksanya mebuka pahanya yg tertekuk. Akhirnya Murni menyerah. Ia membuka pahanya dan tak buang waktu lagi langsung kusodokkan kontolku kedlam memeknya dengan perlan. "Awwwh... pelan-pelan mas, sakit... aaahhh... ssshhhh...". "Tenang sayang, sakitnya cuma sebentar, nanti juga enak!" rayuku sambil terus berusaha memasukkan kontolku. Kogerkan pantaku maju mundur dengan irama santai agar Murni menikmati sensasi kepala kontolku yg mencoba menembus memeknya. Dan akhirnya, blesssssss... cretttt.... kontolku masuk sebagian dan dilelehi cairan darah perawannya diiringi dengan lenguh kesakitan Murni dan tangannya mencengkeram erat lenganku. Kulihat ia mengigit bibir agar tidak berteriak. Kudekatkan wajahku dan kulumat bibirnya. Agar Murni terangsang kembali, kuremas pelan payudaranya dan sesekali kuplintir halus putingya. Alhasil, putingnya kembali mngeras tanda ia mulai terangsang lagi. Kurubah posisi tubuhku sedikit berjongkok sambil kupegangi kedua belah pahanya. Kulakukan lagi gerakan maju mundur. Kulihat murni menangis, kuseka air matanya dgn jariku sambil terus kupompa memeknya. Tak lama, kudengar Murni mulai melenguh nikmat, "aaaahhhh, sssshhhhhhhhh, oooooooowwwwwwwwwwwwhhhhh........ nnnnnnnnnnnnngggggggghhhhhhhhhh..... aaaaaahhhhh.....!" terus kopompa memeknya dengan sodokan kontolku. Tak terasa hampir seluruh kontolku sudah masuk keliang mememknya. kuturunkan pahanya agar menindih pahaku. Kuletakkan tangan diatas lantai dan terus memompa memek Murni yg sempit dan licin. Sekitar 10 menit kupompa memeknya, terasa aku akan ejakulasi. kupercepat gerakanku agar cepat kunikmati sensasi orgasmeku. dan tak lama, "Aaaaaaaaaaaaaassssssshhhhhhhh............ uuuughhhhhh...... crrrroooooooooot....... crot. crottttt.... kulepas lendir kenikmatan di dalam memek Murni dan akupun terkulai lemas. Setelah mengatur napas, kucabut pelan kontolku dan kucari pakaian kotorku untuk mengelap lelehan spermaku dan cairan memek Murni yg telah tercampur dgn darah perawannya. Kulap memek Murni dengan lembut sambil sesekali kucium aroma memeknya. Terlihat Murni matanya basah, kurebahkan badanku disebelahnya dan kuciumi pipinya. "Sayang kenapa nangis? Kamu nyesel melakukan ini dengan mas" tanyaku. "Murni ga nyesel mas, Murni nagis karena nahan sakit tadi. Murni seneng kok mas. Murni seneng bisa bikin mas bahagia, murni juga pengen mas bikin Murni sebahagia mas. Jangan pernah ninggalin Murni mas!". Tak kujawab malah kuraih kepalanya dan kulumat lembut bibirnya. Kuangkat tubuhnya agar menindih tubuhku. Murni memelukku. dan kami bergumul saling memagut bibir. Akibatnya, kontolku kembali bangun. Kupinta Murni menjilati kontolku tapi ia menolak terus. Akhirnya kupinta ia berjongkok diatas mukaku. Kujilati lagi memeknya yg montok. Sesekali kugigitb lembut kelentitnya yg meruncing. dan kami melanjutkan kembali pertempuran. Kupinta Murni nungging, mula-mula ia bingung. "Mas jangan dimasukin ke pantat. Bau ih.... !!".... "Nggak sayang, kamu diem aja, aku mau masukin ke memek kamu dr belakang. Rasanya lebih enak sayang..." Kusodk pelan memeknya yg sudah mulai kuyup lagi. 5 menit kulakukan gaya shaggy. Kusuruh Murni merapatkan pahanya sambil berpegangan ke tembok. Terus kusodk dia dgn irama agak cepat. Akhirnya, "Massssss... Murni mau kluar nih ...... aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhsssssss...... sssssssssshhhhhhh... aaaaaaaaaahhhhhhhhhhh...!" . "tahan sayang, kita keluar barengan aja." Pintaku. dan tiba tiba murni berdiri dan terjatuh

sambil mergeng melepas orgasmenya.... ooooooooooooooooooooooooooooohhhhhhhhhhhhhh....mas Murni lemes banget. Sementara aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme pula. kudekatkan payudaranya ke kontolku dan kujepit kontolku dgn payudaranya. Koyang-goyang payudaranya hingga kontolku terasa seperti dikocok dan ... aaaaaaaahhhhhhhh.......... akhirnya kulklepaskan kembali lahar kenikmatanku di toket murni. Sampai jam 12 malam kami bersetubuh. dan ketika hendak berpakaian kuajak Murni ke kamr mandi dan kulap tubuhnya dengan handuk kecil yg sudah aku basahi. Ketika mengelap pyudaranya kembali aku terangsang dan menjilatinya lagi. sambil berjongkok kulap seluruh tubuh mulusnya dgn handuk basah. dan saat mengelap memeknya kubenamkan kepalaku dimemeknya seakan aku tak mau lepas dari barang yg sudah memberikan 3 kali kenikmatan padaku. Kuberikan CD dan celana Leggingnya, "Ga usah pake cd mas, basah ntar lengket. simpen aja disini. besok Murni cuci. Takut ketauan klo dibawa kewarung". "Kirain buat kenang-kenangan aku sayang", jawabku sambil mengecup bibirnya. "Udah dapet isinya, bungkusnya juga masih mau!" katanya sambil memakai celana legging. kamipun berpakian kembali dan kulepas Murni pulang dengan pelukan erat dan kecupan halus dibibirnya. "Kapan-kapan kita lakukan lagi ya sayang!?" pintaku. "Asal ada waktu dan kesempatan, kapan mas mau aku kasih. Asal jangan mas kasihkan mainan baruku ke perempuan lain ya mas." jawab Murni.

The End

Makiko Suster Jepang


Spoiler untuk Pertama :

Saat Suami saya, saya mau menceritakan Tentang perawat. Kebetulan otonashi kecelakaan dan terpaksa dirawat Baru, untungnya Selalu ditemani cewe saya, saya regular tidak Bosan Jadi Terlalu. Saya Jadi ingat samaseorang perawat di Dai Nippon. Kisah Suami terjadi di Osaka (Kisah serangkaian Artikel Baru Masih Yakuza) saya, saya bekerja Masih / kenshu di salah Satu anak pajak tangguhan Konstruksi terbesarnya di Sana. Nah, suatu ketika Saya sakit Jatuh, bulan Oktober 1999. Ini at Kisah Tina, cewek Sumitomo Vietnam Yang blasteran ITU Perancis. Saya kira-kira Baru 2 bulan Tinggal di Osaka. Saya ingat kalau 10 bulan Sekali ITU adalah bulan peralihan ke Musim Dingin dan Badai Topan BANYAK Sekali. Nah, suatu pagi Saya sengaja berdiri menantang Badai Dari balkon Kamar Lantai 7 Saja Hanya otonashi mengenakan Celana KESAWAN. Ternyata angin Typhoon ITU panas, Dingin regular tidak (tetapi Bukan KARENA Balpirik). Regular tidak tahunya, Besok pagi otonashi Darah muntah. Langsung Saja Saya ke klinik (byoin) terdekat, sebab Saya dilindungi asuransi. Ternyata Saya Perut flu. Penghasilan kena pajak otonashi didiagnosis dan diberi obat ITU (2 hari sembuh lho Itulah hebatnya Dokter Nippon!). Tetapi pengobatan Pembongkaran ITU mengeluarkan Saja 30,000 atau 2,5 juta rupiah! Pesan otonashi: Asuransi bepergian Tanpa Jangan.

, Bukan Jay kalau regular tidak sempat ngelaba kebetulan susternya cantik, namanya kulihat Penghasilan kena pajak, wah Tulisan kanji saya, saya regular tidak mengerti. Terpaksa saya, saya Hanya sekedar melirik dan melempar senyum kuda. Tetapi ditempatkan beruntung, Tiga hari kemudian Kami bertemu di warung ramen (mie Kuah) lunchbreak ketika saatnya. Kalau di Osaka, cobalah Kin Ryu Ramen, warung mie pagar ngetop dan enak Sekali, Masih lebih enak walaupun tentu segar mecky. Tetapi mana ADA mecky over di warung? hehe. Kembali ke suster. Singkat Saja, namanya Makiko, panggilannya Makichan. Dia sempat menanyakan otonashi Kesehatan.Penghasilan kena pajak basa-basi, Kami janjian bertemu di Sony Tower Yodoyabashi PADA hari Jum'at. Rencananya mau mengajak dialog otonashi ke Funky Kurapu buat joged (Disko). Dari kerlingannya ketika beranjak Keluar warung, ketahuan suster Juga Suami panas. Jum'at malam pulang kebetulan otonashi Dari penentuan waktu di Kyoto. Dari stasiun Namba saya, saya Langsung ke Ebisucho dan Berjalan Cepat Menuju Sony Plaza Tower. Dari kejauhan Tampak Bangunan putih menjulang saya, saya semakin Sudah Dekat. Swatchku menunjukkan jam 08:15. Otonashi Padahal janjian jam 8. Wah, Semoga Belum Pergi. diameter Itu, Dari kejauhan nampak seorang gadis berambut merah api mengenakan jas dan span putih Pendek ketat putih. Makiko! Dia menyambutku senyum manis walaupun sebelumnya Artikel Baru sempat melirik jam di tangannya. Setelan bajunya sungguh Menarik. Rupanya dialog memadukan rok bawahan seragamnya Artikel Baru Juga blazer ketat putih, Sampai Belahan dadanya nampak menonjol KARENA Terlalu ketat.Sudah diganti sepatunya Sedangkan sepatu hak Tinggi (15cm) cewek gaul Khas Nippon yang, beludru Membuat Hitam Jadi Bahan tingginya melonjak hampir setinggi Saya. Wah, Kasihan Juga cewek imut manis Suami menunggu kedinginan di Tengah Udara Dingin Musim postfall Osaka. Di tangannya terselip sebatang Rokok putih, Sekali seksi wah. Inilah gadis Nippon modern Yang di kala siang Giat bekerja sebagai perawat berpenampilan Bidadari. Namun di kala malam berubah menjadi wanita berkelas Yang sungguh seksi. Kacamata biasanya lensa telah berganti biru muda lembut. Di leher jenjangnya terbelit warna hitam bulu Syal, namun regular tidak menutupi payudaranya Belahan Yang terdesak ketatnya blazer Yang dipakainya, hmm kecoklatan, rupanya diameter Sering Liburan ke Pantai. Hmm, yummy .. benar-benar fuckable! "Ashkunate sumimasen!" ujarku meminta maaf Atas keterlambatanku. "Iie, daijobu des yo!" jawabnya memaafkanku. Akhirnya Kami Langsung Saja Sepanjang jalan Arcade sambil bercengkerama Shinshaibashi saya, saya Artikel Baru bahasa Jepang pas-pasan otonashi dan Makiko Artikel Baru terbatabata inggris. Yang jelas ketawanya BANYAK. Orang Jepang Bila Belum kenal terkesan sombong, namun Bila Sudah kenal ramahnya Luar Biasa. Ternyata diameter suka berlibur ke Kuta. Karena Dia begitu tertarik ITU otonashi Mengenal Yang Indonesiajin. Tetapi dialog Belum industri tahu kalau otonashi Pejuang aktivitas penis bermottokan Yang internasional, "Semoga nusantara Tetap memek Jaya!" Kalau industri tahu diameter iuran pasti akan Segera lari .. memesan Kamar .. hehehe. Mitos bahwa cewe Jepang hot-Benar sepenuhnya panas ITU. Bayangkan kalau * Semua cowok Indonesia sibuk berkarir dan stress Selalu, giliran mau ML Kasar, padahal

batangnya lembek. Bisa dijamin cewek Indonesia Juga panas-panas. Lha, wong sekarang Sudah Saja panas .. kan pake AC. Obrolan Kami semakin Hangat dan Makiko (Yang akhirnya kupanggil Kiko) Mulai tanganku merangkul. Saat otonashi mengenakan setelan jas hitam ITU wol ditambah Kemeja abu-abu tua. Jadilah Kami Pasangan Hitam putih. Udara Dingin Osaka Membuat Kiko semakin merapatkan Diri. Dadanya menempel terkini PADA lenganku Yang Kekar. Sampailah Kami PADA sebuah Tangga ke Bawah Tanah Yang Dari Luar Biasa terlihat Pembongkaran ruang bawah tanah apartemen, eh .. Penghasilan kena pajak ternyata Masuk terdengar musik soul funk menghentak diiringi lampu laser warna warni berputar Menari. Penghasilan kena pajak Membayar daya 5.000 tiket (semua Anda dapat minum) kira-kira 400 ribu rupiah, Kami memasuki ruang seluas Lapangan voli Orang Yang Penuh joged berjajar rapi (Khas Nippon). Tengah di ruangan terdapat semacam catwalk berliku Dimana gadis-gadis berpakaian super seksi berjoged pembohong. Mereka jika siang hari berprofesi sebagai Sekretaris, kantor panitera account executive Sampai, * Semua Menari sambil Riang laugh seksi. Suami Saat Pertama kali Masuk otonashi underground 'Kurapu' Terus Terang. Ternyata Benar-Benar Mungil tetapi ramai. Jadi maklum kenapa turis Jepang kalau di Bali pengasinan suka. Maklum, 'bigtime' regular tidak Biasa di Tempat Yang Benar-Benar. Langsung Saja Kiko menyeretku untuk joged, Juga menari wah kotor. Si Jendral jelas siaga Perang. Paha Kami saling mengapit sambil bergoyang funk (ITU lho musik negro 70an). Serasa John Travolta di Pulp Fiction. Sekali-kali Kiko Artikel Baru sengaja menggesekkan dada dan perutnya padaku. Buahdada semangkok bakso ITU Sekali padat ternyata, KARENA tekanan blazer ketatnya mungkin. Kancing tetap Permanent blazer Kiko Sudah dilepas, sehingga renda BH hitamnya mengintip, beserta Belahan susu ranumnya tentu. Sejenak otonashi berpikir ADA Yang Kurang, oh ya saya, saya minum Belum. Kebiasaan (Buruk) otonashi doyan alkohol. Apalagi di bar minuman berkelas Suami * Semua ADA. Kalau ADA Yang Pembaca tukang protes, dan Gele mabok kok KUAT ML, kali beruntung. Mungkin mas-mas ADA Yang kalo mabok to'olnya lupa berdiri, Yang otonashi Artikel Baru iuran pasti berbeda ITU. Saccharin ITU, Kiko Tampak terpejam menikmati goyangan musik. Terus Saya menanyakan barnya, BAGI otonashi uang 400 ribu rupiah termasuk BANYAK untuk semalaman bahagia. Saya Bukan termasuk pemakai obat-obatan PT, extacy atau SS, Bisa mengehabiskan Yang jutaan rupiah KESAWAN semalam ditambah ceweknya pemesanan. Itu cukong pecundang! Kalau Saya cukup minuman dan pot ditambah cewek Sendiri Yang nyantol. Murah tetapi seru. Sesampainya di bar, Langsung Saja Yang minta otonashi Pihak yang pagar. "Ichiban suyoi kudasai!", Pinta Saya. Penghasilan kena pajak bergelas-gelas sierra, dan gorbatchev Chivas Reaksi regular tidak menampilkan agung. Akhirnya bartender (ternyata Juga Arsitek) memberiku arak rahasianya. "Kore wa nana ju go pasento!", Kata bartender. 75 persen alkohol, tetapi reaksinya diameter regular tidak mau tanggung jawab. Saya mengangguk Saja. Cepat kutenggak. Aw, serasa terbakar tenggorokan! Kalau tiak salah,

namanya Roncalli. Warnanya hijau muda. Sambil minum saya, saya dihampiri beberapa gadis Yang menawarkan untuk menemani Dagangan, Dari tampangnya sepintas Dari Asia Tenggara. Saya tersenyum Saja otonashi mengatakan kalau sambil Orang RI. Mereka laugh dan Terus ngeloyor Pergi. Salah satunya sempat Bilang, "Salam buat rumah Orang, mas!" Belum sempet Saya menanggapinya, cewek putih, seksi, Sudah ITU berambut Panjang Menyapa laki-laki berjas lain. Mungkin KARENA KantorKu Pakaian, mereka mengira Saya Kesepian Yang esmud. Jangan salah, BANYAK Juga cewek Indonesia di Sana.Penghasilan kena pajak ITU otonashi ngeloyor turun ke Bawah. Ternyata minuman iblis ITU Mulai bereaksi. Sambil jalan saya, saya berjoged sambil meremasi pantat gadis-gadis Yang kulewati. Kalau ADA protes, yang, Bilang cukup, "Yurushite, yopparai Chotto desu". (Maaf agak mabok nih). Paling mereka diam, lagian kebanyakan regular tidak protes, kok. Nah, ngapain Lagi mereka kalau regular tidak 'kurapu' Ingin ke digoda cowok Artikel Baru. * Bagi para feminis saya, saya akui malam ITU otonashi Amat pria regular tidak. Maklum pemabuk horny. Juga lama, akhirnya Saya Sampai ke Kiko. Dia dikelilingi Tengah 3 CBL (cowok bertampang loser) Yang berjoged. Semuanya berdasi, wah tampaknya salaryman kesasar. Memang BANYAK Juga Mencintaimu pulang kantor mampir. Sama Pembongkaran di Sini (Indonesia). Tampak Kiko memegang gelas. Rupanya para CBL tadi berusaha Membuat diameter bangka. Tetapi tampaknya Kiko cukup cuek. Langsung Saja Pergi cari kuajak Kiko Tempat Duduk sambil kuseret tangannya. Para CBL tadi Tampak kecewa tetapi regular tidak Berani menentangku. Bayangkan Saja, ADA cowok berbadan Besar (BAGI mereka otonashi termasuk berbadan Besar), berambut diikat Panjang, Pakaian hitam-hitam dan bermata merah Serta bau alkohol. Serem kan? Kiko tampaknya Senang saya, saya Sudah diameter menyelamatkan. Tanpa otonashi cerita, Kiko tampaknya Bisa Melihat otonashi kalau minum gila-gilaan Baru saya, saya Saja alkohol belepotan kerah. Dasar Orang Udik saya, saya Sampai kapuk. Lalu Kiko mengajakku Keluar aula. Lalu Kami Menuju ke loker Barisan, KARENA otonashi Mulai kepanasan memakai jas Terus.Penghasilan kena pajak memasukkan koin 100 , Saya Langsung kunci. Lalu Saya mengajak Kiko ke otomat untuk beli kopi instan.Ternyata Kiko ADA akal lain, diseretnya tanganku Menuju ke WC berdua Lalu Kami Masuk ke salah KESAWAN Bilik Satu. Kalau anda baca cerita Jay Yakuza, anda iuran pasti berpikir, kenapa Jay Selalu memakai beraktivitas tertutup untuk Tempat Umum (ML), jawabnya KARENA Memang di Jepang, Yang namanya Rabu Hoteru (motel Esek-Esek) harganya Mahal Juga dan BAGI para muda Petualang, lebih seru di Tempat Umum. Memang Composition Komposisi kamike pipis Bukan sekedar WC. Tahu kan? Kiko memelorotkan Celana dalamnya Lalu Duduk kencing di kloset. Penghasilan kena pajak ITU, Gantian otonashi mengeluarkan si Jendral. Penghasilan kena pajak otonashi kencing cukup BANYAK dan berbau alkohol saya, saya Cuci pakai semprotan udara.Ternyata KARENA agak bangka, airnya mengenai Celana Sempurna. Untung KARENA Hitam Jadi regular tidak kelihatan Terlalu. Tetapi ditempatkan perawat, Kiko Lalu mengambil kertas

toilet, Lalu jongkok membersihkan Saya Celana Basah. Saccharin ITU si Jendral Masih celana boxer dan Keluar melongok risluiting otonashi, dikeringkan Dibuat cekatan Tangan Sekalian Yang Kiko. Terkena jemari mulus ITU Yang Dingin, Saja jelas, kuning siaga Langsung si Jendral. Melihat ITU, Kiko Lalu tersenyum dan melirik ke arahku, Lalu Jendral otonashi Yang mekar Langsung dikulumnya Saja. Terkena perubahan SUHU begitu, si merah Langsung kode Jendral. Mulut Kiko imut Yang Khas wanita Nippon Jadi regular tidak Mampu menampung keseluruhannya, Hanya palkon (kepala kemaluan) dan batang sedikit. * Bagi rekan cowok Yang Ingin merasa jantan, jangan sama bule, sama cewe Nippon Saja. Coba modem.jpg film bokep Jepang, burung cowoknya Kecil-Kecil, Saja diandalkan Sudah ITU. Untung melayu Orang Masih berdarah Melanesia, Jadi Campuran Asia Artikel Baru Polinesia. Saya Pernah baca survey mengenai Panjang kelamin fuu sedunia, ternyata rata-rata cowok Asia memiliki Panjang 12,5 cm (5 inci), Lalu otonashi kalau 15 cm (6 inci) dan Negro 17,5 cm (7 inci). Nah, kalau diantara mas-mas Punya Yang lebih Dari Sekalian Panjang 13 cm, bersyukurlah, anda Sudah di Asia tetap Permanent cowok rata-rata. Jadi sebesar ITU akan aktivitas KESAWAN jaya ML. Bersambung. . . .

Spoiler untuk "kedua : Kembali ke Kiko, mungkin Melihat KARENA si Jendral Yang tegap, Gagah dan Tinggi, diameter Jadi Sangat bernafsu, atau mungkin Juga Khas cewe Nippon kalau oral suka pembohong ITU Pembongkaran kali ya. Lidahnya Semangat Sekali mengitari palkon sambil sesekali menggigit kantung zakarku Yang Sudah mengeras. Sesekali disedotnya Ujung Lalu palkonku ditarik mulutnya sehingga mengeluarkan bunyi, "SPOK .. SPOK ..". Mulut Mungil indahnya bagaikan vacuum cleaner, menyedot Jendral si. Jemari halusnya menyelinap di pantatku ANTARA Celah dan Sekali-kali menggenggam si Jendral Yang Mulai berontak terkena siksaan. Pokoknya, ITU & e saya, saya terasa mabok vehicles Yang Memang, Hanya Bisa ngelus-elus kepala dan mencengkeram rambut merah Kiko. Tetapi mendadak merasa mual otonashi Sekali, Yang Lalu berikutnya terjadi Sangat regular tidak panas. Saya tarik Kiko ke Samping. "Hooekk .." otonashi muntah Berupa gumpalan kehijauan, akibat minum sembarangan tadi tentu. Kiko sempat tertegun sejenak tetapi kemudian tergelak melihatku Sendiri polahku akibat terkena. Satu tangannya menggenggam Masih si Jendral, satunya Lagi menutup mulutnya. Tawanya lucu Sekali Pembongkaran anak Kecil. Sifat Itulah Kawai atau lucu (lucu dan menggemaskan) Khas Yang cewe Jepang. Insting perawat dimilikinya Membuat diameter Yang beralih membantu memijat tengkukku agar-agar seluruh Racun serangga ITU Bisa Keluar. Lalu diameter Artikel Baru membantuku membersihkan jaringan. Akhirnya Kami Keluar dan Duduk-Duduk di Tangga Masuk. Sepi. Kiko mengajakku ke apartemennya tetapi ADA subway Baru selai 04:30. Saya

bersandar lemas ke pundaknya sambil merangkul. Tangan kananku menyelinap Masuk ke KESAWAN blazer sekaligus BH-nya, Hangat wah. Terasa bongkahan susunya enak Yang Besar Sekali diremas. Kumainkan Mencari susunyaibarat menempatkan Gelombang radio Siaran. Wah lagu Masih Belum, sebab Yang Keluar Hanya desis suara Dari mulut Kiko Yang lama-lama keenakan. Akhirnya Kami Berjalan berpelukan menembus Udara Dingin fajar Osaka. Untung tukang ADA yakimot (ubi rebus). Kami makan sambil minum kopi otomat. Singkat Saja, Kami Sampai di apartemen (mansion) Kiko. Memang Kecil ukurannya. Terdiri Dari Ruang Utama Yang sekaligus ADA dapur dan sofa TV. Lalu Kamar Tidur 4 tatami (3X4m) dan Kamar mandi. Rapih Juga ruangannya. Tampak di sofa Keranjang ADA binatu, ADA wah celana merahnya, ternyata Kiko betul panas. Aha, untuk APA Lagi cewe pakai CD merah kalau regular tidak untuk memikat cowok di Ranjang? Melihat Arah pandanganku, Kiko Artikel Baru sigap memindahkan Keranjang Dinding lemari ke KESAWAN.Lalu Kami Duduk di sofa kulit empuk. Otomatis otonashi Tangan meraih remote dan menyalakan TV. Wah ADA Doraemon, Aneh, sepagi Suami ADA Siaran kartun. Kiko Lalu tiduran di pangkuanku sambil menonton Ikut. Jemariku menelusuri rambutnya dan menyisirnya. Kadangkala laugh Bersama Kami. Perlahan Kami tertidur Artikel Baru Mulai Posisi Tetap, Sudah jemariku dan bersarang PADA bukit lembutnya. Entah kenapa saya, saya merasa Nyaman dan jantan Sekali. Mungkin KARENA alkoholnya perlahan-Lahan Mulai Hilang dan sikap Manja Kiko membuatku merasa jantan yang. Cewe Nippon Memang servisnya terkenal atas. Kira-kira jam 8 lebih saya, saya terbangun Yang Dibuat Sinar Matahari menerobos Jendela Celah gordin Canada. Kiko terlelap pangkuanku KESAWAN Masih. Tubuhnya meringkuk Pembongkaran anak Kecil, lucu dan diameter Yang sedang mengenyot jempolnya Pembongkaran Bayi. Nah, Kawan-Kawan, cewe Yang Punya kebiasaan begini, oralnya iuran pasti oke, sebab palkon Kita mereka anggap titik. Hehehe. Juga regular tidak tahan kubelai rambut Kiko tergerai Yang di Atas pahaku. Oh ya, PADA Saat Suami saya, saya Sudah Pakaian Tinggal petinju celana pendek Kemeja Artikel Baru Saja digulung.Saccharin Kiko memakai kaos kebesaran Artikel Baru Tidur Celana Pendek berbahan sutra hitam. Masih memakai Pakaian KESAWAN Lengkap. KARENA rambut Kiko tergerai di paha, KARENA Terus Memang Sudah pagi TIAP kebiasaan, Maka si Jendral menggeliat dan menegak. Kalau film di To Liong To, jurus Suami Pilar Penyangga Langit. Kulirik paha Kiko tersingkap yang, hmm, coklat kemerahan. Kebayang cewe Suami Sering berjemur. Pasti seksi keringatan begitu. Ah, Yang lucu Suami parts kubelai dulu gadis imut nan. Ternyata belaianku Membuat Kiko terbangun. Walaupun regular tidak Membuka mata tetapi senyumannya mengembang, jempolnya sambil menghisap Masih. Tangan satunya terkini ANTARA menyelinap di pahanya dan pahanya semakin dirapatkan. Kuperhatikan betisnya Yang lencir bulir padi, Sekali indah, ditambah tumit lancip Kecil Yang berwarna merah muda. Walaupun Udara Kamar regular tidak Terlalu Dingin, namun Tetap Saja Kami merinding kulit terkena Udara dinginnya pagi. Tampaknya heaternya MAMPUS mati kalau jam segini. Biasanya Sudah jamnya Pergi ke kantor. Gentlemanku insting membuatku berusaha meraih jas woolku di Meja, Lalu kupakai menyelimuti Kiko, kontras Artikel Baru warna kulit putih mulusnya.

"Samui desuka?" (Dinginkah) tanyaku. Hanya Kiko mendesah sambil tubuhnya menggeliat merapat. Saya Sudah regular tidak tahan dibuatnya. Toh, lagipula jelas Kiko Sadar dan iuran pasti merasakan kalau si Jendral tegak di Dekat kepalanya, tanganku menyelinap Lalu ke timbal balik jas Sempurna mengelus paha mulus Kiko. "Jay, nemui desuyo" (Jay ngantuk nih), TIBA-TIBA Kiko protes, Manja. Mendengar ITU otonashi bukannya berhenti malah jemariku menyelinap Mulai Arah ke Pangkal pahanya. Hanya Kiko Manja mendesah. Kini terasa lembutnya Celana Pendek piyama sutra. Kugesek sebentar Kawasan seks spotnya, wah, Langsung merembes PADA Celana sutra hitamnya. Kalau putih iuran pasti Jadi Pulau! "Oooh, Jay, aku seperti itu!" erang Kiko. Kusingkirkan jasku Lalu kutegakkan tubuh Kiko sejenak dan kubaringkan. Lalu kuambil Posisi menindihnya tetapi Masih kutopang Artikel Baru tanganku. Lembut kukecup Bibir Kiko Yang merekah. Langsung Dia menyedot dan mengulum Bibir bawahku. Tangan Kiko terkini merangkul tengkukku dan Bermain rambutku Artikel Baru. Tangan kananku menopang tubuhku Masih, & e Yang Kiri, merangsang Celah Kiko mecky. Jemariku terkini menyelinap ke KESAWAN Celana sutra dan CD-nya dan merasakan halusnya labia mayoranya Basah Sudah yang, ternyata meckynya tercukur rapih. Jari tengahku Mulai Berani menembus Celah Basah ITU. Wah, Juga sempit. Clup .. clup .. clup, jarang dipakai. Heran kan? Cewek seliar rapat Suami Masih canggih. Memang cewek Jepang biasanya walaupun pembohong tetapi kalau kenyataannya KESAWAN Pemalu, Pemalu Artinya regular tidak dapat BANYAK batang kejantanan (rea kanjeut). Kiko Mulai mendesah dan menggelinjang. Sekalian Saja Saya tanggalkan * Semua. Kiko regular tidak protes, malah membantu. Giliran celana boxer terkini, tanggalkan Saya. Kiko tampaknya regular tidak sabaran Juga, kaosnya longgar Langsung Yang dilepas, Lalu BH-nya. Kemudian Artikel Baru ganasnya Kancing diameter mencopoti kemejaku. Satu kancingnya Sampai Putus (sekarang memorabilia untuk simpan otonashi Masih). Jadilah Kami berdua benar-benar telanjang dan siap untuk memompa. Perlahan kugesekkan si medan pertempuran ke Jendral. Mulai Palkonku menyentuh labia minora Makiko. Woow .. rasanya panas, kontras Artikel Baru Kamar hawa Dingin yang. Lalu perlahan-Lahan Mulai Makiko mencoba memasukkan si Jendral ke liang vaginanya tangannya Artikel Baru bantuan. Kedua tanganku menopang Kekar tubuhku PADA sofa. "Aaah .. Kiko desuyo Oishi." desahnya. Palkonku menembus meckynya Bibir. Enak. Wah Artikel Baru Saja Hanya Masuk kepalanya jelas otonashi regular tidak tahan. "Blesek." Artikel Baru Mulai otonashi sentakan menekan ke Bawah supaya si Jendral Bisa Masuk lebih KESAWAN, untung si Kiko Sudah Basah. Hanya Dia melotot kaget sebentar, at diameter akhirnya merangkul tengkukku dan menekanku dadanya PADA Yang bulat sintal putih. (Buah dadanya KARENA putih ketika berjemur tertutup BH, Jadi Pembongkaran bikini line tampaknya). "Jay, iku .. iku .. iku .. Jay, mo okii na." (Jay sakit, kebesaran tuh) Kiko Terus merintih, sepertinya kesakitan betul.

Sudah ya saya, saya Lalu pelankan sedikit temponya. Kalau cewe bule iuran pasti akan Bilang: Kurang-kurangmasukinnya. "Sori Kiko, kalau sakit yah Bilang!" (Artikel Baru bahasa Indonesia Penghasilan kena pajak mengalami pengeditan) seruku Berbisik lembut. Kiko mengangguk, tampak setetes air mata di Sudut matanya. Wah regular tidak tega Saya. Ya Sudah kubiarkan diameter Yang menentukan kecepatannya. Walaupun terasa vaginanya Sampit dan Basah, tetapi sempit Sekali. Artikel Baru perlahan tetapi iuran pasti, Kiko Tetap Masuk memaksa si Jendral. Perlahan diameter menaikkan pinggulnya. Artikel Baru setengah Gerakan berputar, si Jendral tertekan untuk menyodok meckynya Dilaporkan. Si Jendral Sudah regular tidak sekeras tadi gara-gara Melihat otonashi Kasihan nafsuku Membuat Kiko kesakitan. Lama-lama longgar (sedikit) Juga, Lalu kuberanikan Mulai mengenjot Si Jendral KESAWAN kemaluannya di liang. Kiko regular tidak karuan mengerang-ngerang Mulai. Liar dan seksi, meremaspantatku terkini tangannya. "Mpffhh, shh, ahh, ughh." desahnya regular tidak berhenti untuk regular tidak menentu sambil memintaku. Gila APA berhenti? Jelas-jelas enak Lagi. Beberapa menit begitu bersemangat Kami KESAWAN berpacu melodi hingga Saat suatu, seketika si Jendral serasa dijepit Dibuat mecky Makiko, terasa Dinding vaginanya meremas-remas Artikel Baru Sekali Dahsyat. Lalu pinggulnya menggelinjang pembohong Artikel Baru KUAT, orgasme rupanya. Penghasilan kena pajak Basah terasa ITU Sekali Sampai cairannya menetes PADA kantung zakarku. Tiba-TIBA muncul seleraku menikmati juicenya ITU Yang jelas Banjir. Kucabut si Jendral disambut protes, Wajah Yang Kiko merengut yang. Namun begitu kuraih pinggulnya diameter industri tahu maksudku. Artikel Baru Cepat diameter berbalik nungging Lalu, kedua tangannya menopang PADA Sandaran sofa sedang lututnya terkembang PADA dudukan. Yang pantatnya bulat indah, megal-megol menggoda untuk dimasuki. Kiko tersentak kaget ketika ternyata otonashi Dilaporkan regular tidak melakukan penetrasi melainkan berlutut dibelakangnya Lalu menjilati Celah meckynya. Satu tangannya meraih ke belakang menjambak rambutku. Dia melenguh Keras dan menikmatinya. Regular tidak lama kemudian Dilaporkan Kiko mengejang dan hidungku mendadak Basah terkena cairan berbau Khas Yang meleleh. Ya Sudah, sekarang giliran Saya. Tubuh Kiko Langsung merosot lemas di Atas sofa. Langsung Saja Lalu kuangkat pantatnya, memberkati .. Si Jendral Masuk Lagi Dari belakang. Licin Sekali Sampai bunyi kentut Orang Pembongkaran KARENA Terlalu kencangnya genjotan. "Iie, dame, dame Jay, dame!" Kiko berteriak menyuruhku berhenti tetapi mana Saya mau berhenti. Tangannya mencengkeram erat sofa dan tubuhnya menggelinjang Terus Hebat. Penghasilan kena pajak Kurang lebih 10 menit menggenjot pembohong, akhirnya Saya cabut si Jendral, Lalu kubalikkan tubuh Kiko. Artikel Baru Gerakan Cepat Saja kusodorkan batang kemaluan otonashi ITU mukanya ke, Langsung disosor, seketika rasanya Sampai Puncak. Kukeluarkan segenap benih cintaku ke mulut Kiko KESAWAN Yang Terus menyedot. Wah, BANYAK Sekali (Sudah 2 Minggu seks tidak). Sesekali si Jendral lolos, muncrat ke mukanya Lalu. Kira-kira 6-7 semprotan kukeluarkan habis dilahap, Kiko Dibuat. Ternyata pengalaman nonton film

bokep Jepang ADA gunanya. Hari sabtu ITU Bersama Kami mandi sebentar, Lalu Keluar Mencari sarapan ke Ohsho (fast food Jepun). Lalu Bisa ditebak dong, APA Yang Kami lakukan siang malamnya Sampai. Bahkan malam Minggu pun otonashi Masih menginap di Sana.Penghasilan kena pajak malamnya Kami Mencari ramen dan melakukan ML Terus. Tetapi hari Minggunya saya, saya ganti aktivitas, notebook Penghasilan kena pajak dan mengambil baju di hotel (sebelumnya di rumah Kiko pakai celana pendek petinju Saja) Lalu Dilaporkan Lagi ke Tempat Kiko. Membuat Laporan sambil dipijat Kiko sang perawat seksi bugil Yang. Tetapi ya, mana tahan sih? Lebih Baik Besok senin dimarahi sama bos small melewaktan kesempatan emas, hehehe. Selanjutnya Kami Masih beremu walaupun kadang tanpa pamrih tetapi ya Bukan sekedar Saja akhir pekan berselingkuh. Kan gentleman? Hehehe. TAMAT

Nikmatnya Teman Pacar


Sejak berpacaran dengan Lina, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Bandung, yang berbeda dua angkatan dengannya, Andi mulai bergaul dengan teman-teman Lina. Aktifitas Lina membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Hukum yang seperti teman-teman baru bagi Andi. Kenyataan ia satu-satunya anak Ekonomi saat berkumpul dengan teman-teman Lina membuatnya mudah dikenali. Dari sering berkumpul ini pula ia mulai kenal satu persatu anak Hukum. Sikapnya yang mudah bergaul membuat ia juga diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas anak-anak Hukum. Sebagai anak Ekonomi dan punya pengalaman organisasi lebih banyak dibanding temanteman Lina, membuatnya sering memberikan wawasan baru bagi anak-anak Hukum angkatan Lina. Di sini juga ia menjadi kenal Lira, yang sama seperti teman Lina yang lain, sekedar kenal dengannya. Lira sering ikut datang karena statusnya sebagai pacar Boy, salah satu pentolan angkatan Lina. Tidak ada perhatian khusus Andi kepada Lira, kecuali tentu saja, sebagai laki-laki normal, dadanya yang super. Meski bersikap biasa kepada Lira dan cenderung bersikap sama terhadap teman Lina yang lain, kelebihan pada tubuh Lira kerap membuatnya tak kuasa melirik lebih dalam, terutama saat Lira memakai baju yang memamerkan lekuk tubuhnya secara sempurna, apalagi kulit Lira putih bersih dan mulus. Perkenalan lebih terjadi saat Lina meminta Andi mengantarnya ke kost Lira karena perlu meminjam bahan kuliah. Saat itu pun Andi masih belum sadar Lira itu siapa, dan baru paham setelah disebutkan pacar Boy. Meminjam buku menjadi waktu bertamu yang lebih lama setelah Andi dan Lira ternyata punya selera musik yang sama. Obrolan itu masih dalam batas koridor pertemanan, hanya bedanya setelah itu, Andi jadi lebih ingat siapa Lira, paling tidak namanya. Lira sendiri sebetulnya bukan teman akrab Lina. Bisa dikatakan beda gank, tapi hubungan mereka baik. Aktifitas mengantar Lina ke kampus pun kini menjadi lebih menyenangkan bagi Andi karena ia sering bertemu Lira. Namun, sekali lagi ini sebatas karena mereka punya selera musik yang sama. Paling tidak, saat menunggu Lina berurusan dengan orang lain, terutama di

lingkungan organisasi mahasiswa kampus, Andi punya teman ngobrol baru yang nyambung diajak ngobrol. Lina pun merasa beruntung Andi mengenal Lira karena ia jadi lebih santai mengerjakan sesuatu di kampus terutama jika ia minta Andi menunggunya. Sampai tiba masa-masa sibuk di organisasi mahasiwa Hukum yaitu pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Rapat-rapat sering digelar untuk merumuskan strategi kampanye. Kasihan kepada Andi, pada suatu hari Lina tidak minta ditunggu lagi oleh pacarnya itu, tapi ia minta dijemput lagi pukul empat sore, dua jam setelah rapat dimulai. Andi pun memutuskan untuk menunggu di kost-an salah satu teman yang kost di dekat kampus. Sayang, saat tiba di kost-kostan tersebut temannya sedang keluar. Tak habis akal ia menuju kost-an temannya yang lain. Namun, jalan ke kost-an temannya itu melewati kostan Lira. Dari jalan, yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari deretan kamar kost tersebut. Ia melihat Lira keluar dari kamarnya hendak menjemur handuk. Andi melambatkan motornya dan berharap Lira melihat. Dan, harapannya terkabul. Ia akhirnya memutuskan main di kost Lira sembari menunggu Lina selesai rapat. "Lina lagi rapat ya?" Lira membuka pembicaraan sambil sibuk menata rambutnya yang basah. Ia mempersilakan Andi duduk di atas karpet karena di kamarnya memang tidak ada kursi. Semua perabot terletak di bawah termasuk sebidang meja kecil tempat Lira belajar. "Iya. Loe kok ngga ikut Lir?" "Males. Gue tau pasti lama. Lagian sekarang kan yang rapat pentolan aja." "Boy di sana juga?" "Iyalah, dia kan proyeknya. Masa' dia ngga dateng. Ini juga gue lagi nungguin dia. Janjian ntar gue jemput jam enam, mau nonton." Andi baru sadar kalau ini adalah malam Minggu dan ia belum punya rencana. Dari tadi pandangannya tidak lepas dari rambut ikal sebahu Lira yang basah habis mandi. Ia hanya bisa menelan ludah melihat Lira yang seksi sekali dalam kondisi seperti itu. Aroma yang cukup familiar baginya merebak dari rambut Lira yang masih basah. "Shampo loe shampo bayi ya, Deedee kan, rasa strawbery?" "Hahaha, kecium ya, kok tau sih? "Yah, elo Lir, gue kan juga pake Deedee. Cemen yah?" "Buset, orang kayak loe shamponya Deedee? Lina yang mau apa emang elo yang suka?" "Gue udah pake shampo itu sejak SMA," "Hihihi..., geli gue, lucu aja, liat loe shamponya Deedee," ledek Lira sambil tertawa geli. Keduanya terdiam sesaat. Sampai tawa Lira berderai lagi. "Kok sama lagi sih. Kita emang udah jodoh ketemu kali nih. Jodoh jadi temen gitu maksud gue." Lira berusaha meluruskan kalimatnya karena sadar perkataannya bisa diartikan berbeda. Keduanya memang saling nyambung awalnya karena punya selera musik yang sama.

"Mungkin kali ya...., loe bocor sih," sahut Andi terkekeh. Obrolan pun terus berlanjut mengalir seperti sungai. Lira yang cerewet selalu punya bahan pembicaraan menarik demikian pula dengan Andi. Uniknya obrolan tersebut selalu nyambung. Di tengah ngobrol Andi sekali-sekali melirik dua tonjolan di dada Lira yang luar biasa ranum. Soal cewe, selera Andi memang yang memiliki dada besar. Ia sudah bersyukur punya Lina yang berdada lumayan berisi, namun melihat Lira, rasanya rugi kalau diabaikan, membuat darahnya berdesir kencang. Saat melihat dari jalan tadi, Andi menemukan Lira hanya memakai kimono mandi dan sedang menjemur handuk. Ia sempat diminta menunggu cukup lama oleh Lira karena harus berpakaian dulu. Harapannya, Lira keluar dengan pakaian lebih tertutup, tapi yang didapati adalah Lira hanya memakai tank top putih yang memamerkan ceplakan branya dengan jelas hingga renda-renda di dalamnya berikut celana pendek yang membuat 3/4 pahanya terbuka. "Eh, Lir, gue mo nanya nih...." "Apaan?" "Tapi jawab jujur ya...." "Apaan dulu?? "Ya ini gue mo nanya?." "Oke, jujur...." "Anak-anak Hukum sebetulnya risih ngga sih gue sering ngumpul bareng mereka." "Angkatan gue?? "Iya." "Jujur kan?...Ngga, yakin gue. Eh, tapi maksudnya ngumpul karena loe nemenin Lina kan?" "Iya." "Ya ngga sama sekali. Yang suka sama loe banyak kok." "Bener loe? Kalo cowo-cowonya gimana?" "Ngga juga. Kenapa sih? Ya kalo ada paling yang dulu naksir Lina tapi keserobot elo?hahahaha...." "Sialan loe?, serius nih gue." "Gue juga serius. Bener kok, percaya deh sama gue." "Mereka, terutama yang cewe, malah yang gue tau pada keki sama Lina." "Keki kenapa? emang salah gue apa?" "Maksudnya keki soalnya Lina dapet cowo kayak elo." "Emang gue kenapa?" "Ya?loe kan sabar banget tuh mau nungguin Lina, terus gabung sama kita-kita, maen bareng?" "Gitu ya...?" "Iya pak Andi. Nih ya, gue kasih bandingan: cowo gue yang dulu, itu sama sekali ngga mau gabung. Sebates nganterin gue aja. Sombong banget, kayak ngeliat apaan gitu kalo kita ngumpul. Ngga tau, pembawaan anak teknik kali ya, berasa pintar sedunia." Lira nyerocos tapi dari sorot matanya terlihat ia sangat serius. "Dulu gue tuh sering nahan hati soalnya cowo gue itu diomongin terus sama temen-temen gue. Sombong lah, belagu lah. Ya mereka sih ngomongnya baik-baik, minta gue ajak dia

bergabung. Tapi cowo gue ngga mau gimana. Jadi serba salah kan?" "Anak teknik? Dani maksud loe?" "Betul pak! Dani. Mungkin juga karena ketuaan kali ya? Tapi ngga tau ah! Nah, ketika loe masuk dan mau mencoba berbaur. Temen-temen gue, ngga cewe ngga cowo, jelas seneng. Apalagi loe bisa nyambung. Yang cowo respek sama loe, yang cewe,....hihihi, demen." Lira sengaja hanya sampai kata itu. Sebetulnya ia ingin bilang ke Andi bahwa anak-anak, cewe-cewe tentunya, banyak yang naksir Andi. "Demen apaan?" Andi berusaha memaksa Lira memperjelas omongannya sambil tergelak. "Ya demen...ih, loe GR ya?" kata Lira sambil menunjuk Andi. "GR apaan? kan gue cuman minta diperjelas," "Nih ya, ada satu temen gue yang bilang berharap banget loe putus sama Lina. Katanya, gue mau deh, biar bekas temen juga...tuh..." "Yang bener loe? Siapa?" "Ngga usah gue kasih tau. Kalo perasaan loe peka, loe pasti tau deh! Eh, bener tuh, dalem hati loe pasti seneng juga kan disenengin cewe-cewe....hahaha." "Sialan loe!" balas Andi sambil terkekeh. Tanpa sadar, Andi mendorong paha kiri Lina. Sejak perkenalan pertama mereka saat ngumpul bersama teman-teman yang lain sepuluhan bulan yang lalu. Baru kali ini mereka benar-benar saling bersentuhan secara fisik. Meski sebuah sentuhan tanpa maksud apaapa, tak kurang Lira tertegun sejenak. Syaraf sensorik di pahanya seperti mengalirkan sesuatu yang menbuatnya berdesir. Hampir tidak ada yang tahu, bagian yang didorong dan disentuh Andi justru bagian paling sensitif pada Lira, bagian yang mampu mengalirkan perasaan erotik dalam diri cewe berumur 20 tahun itu. Lira berusaha tidak memandang mata Andi, tapi ia tak kuasa menahannya. Rangkaian kejadian yang hanya berlangsung sekitar satu detik itu seperti membuat tubuhnya mengalirkan darah demikian cepat. "Eh, Lir, sorry ya kalo terlalu keras. Ngga sakit kan?" Kali ini Lira malah berharap Andi kembali menyentuhnya. Desiran akibat sentuhan tak sengaja tadi benar-benar membuatnya merasakan sensasi yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tapi, ia berusaha mengendalikan diri. Pahanya yang merinding tersentuh tangan Andi berusaha ia tutupi. "Ngga kok Ndi, ngga papa, cuma kaget." "Aduh, gue jadi ngga enak. Bukan maksud gue mau lancang ke loe kok, Lir reflek aja." "Iya gue tau," Lira berusaha menahan agar mulutnya tidak mengatakan bahwa bagian yang Andi sentuh adalah daerah paling sensitif dari tubuhnya. Andi benar-benar jadi tidak enak dan salah tingkah. Lira bukan tidak menyadari hal tersebut. Ia kini paham, Andi memang bukan tipe cowo yang suka merayu perempuan, bukan cowo yang suka pegang-pegang perempuan sembarangan. Memang tidak salah teman-teman di kampusnya banyak yang suka pada Andi. Sikapnya gentleman banget, sama sekali tidak terlihat dibuat-buat. Dan, kenyataannya Andi memang benar-benar

menyesal telah berlaku kasar, menurut ukurannya, kepada seorang perempuan. Ia adalah laki-laki yang paling tidak bisa berbuat kasar pada perempuan. "Gue juga termasuk yang dongkol sama Lina, kenapa gue justru nyambung sama cowonya...hahaha," Lira berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan joke yang sejujurnya ngga lucu. Andi pun tertawa meski masih agak dipaksa. Ia benar-benar merasa bersalah karena tanpa terkontrol menyentuh paha Lira terlalu dalam. Maksudnya hanya pengakuan 'kekalahan' karena didesak soal banyak perempuan yang menyenanginya. Sejujurnya ia juga suka Lira karena ia anggap perempuan yang suka bicara tanpa basa basi, apalagi dengan orang yang ia rasa bisa membuatnya nyaman. Sikapnya itu membuat Andi merasa lebih dekat dengannya, meski dengan dasar suka sebagai teman. Dari sisi laki-laki, Andi juga terkesiap dengan sentuhannya itu. Ia jadi menyadari Lira memiliki tubuh yang kencang dengan kulit yang halus. Benar-benar membuat kelakilakiannya bangkit. Ingin rasanya berbuat lebih dari itu. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia juga sadar, situasi seperti ini sudah cukup sebagai tanda bahaya bagi dua insan berlainan jenis yang berada dalam satu ruangan. Hanya ia juga tak kuasa dan tak mengerti bagaimana menghentikannya. Langsung pergi, jelas akan membuat Lira marah, ia bisa menangkap bahwa Lira tidak menginginkan itu. Masih diliputi perasaan tak menentu dan membuatnya tertegun seperti patung, Andi terkejut ketika Lira sudah menjulurkan tangan dan meraih tangannya. Tapak tangannya digenggam kedua tangan Lira dan diarahkan ke bibirnya. Dalam keadaan terbuka, Lira menciumi perlahan-lahan permukaan telapak tangan kanannya. Andi benar-benar tegang bercampur kaget. Ia tahu itu sudah lebih dari sekedar pertanda Lira menginginkan sesuatu, lebih dari sekedar sentuhan tanpa sengaja. Lira pun bukan tanpa maksud seperti itu. Ia sadar antara dirinya dan Andi baru benar-benar kenal beberapa bulan belakangan. Tapi, akal sehatnya tak kuasa menahan keinginannya untuk disentuh lebih dalam oleh Andi. Andi benar-benar bimbang. Ia tahu, Lira sudah membuka gerbang dan kini dialah yang harus memainkan bola. Semua ada di tangannya. Di antara bimbang untuk meneruskan, yang artinya ia dan Lira sudah melanggar komitmen pada pasangan masing-masing, atau menghentikan, yang artinya ia bisa kehilangan kesempatan merasakan sesuatu yang selama ini sering membuat badannya bergetar dan hanya ia lampiaskan pada Lina, tangannya seperti bergerak sendiri membelai pipi kiri Lira. Jantung Andi berdegup kencang, bukan lagi takut Lira akan menolak, tapi sadar ia telah membuat sebuah pilihan penuh resiko tapi pasti sangat menyenangkan. Lira tersenyum. Merasakan belaian lembut jemari Andi di pipinya. Andi pun bergerak menyisir leher dan tengkuk Lira. Sampai di punggung, tangan kirinya ikut merangkul Lira dan seketika keduanya sudah berpelukan. Lira membenamkan seluruh tubuhnya ke Andi. Pelukannya bahkan lebih kuat dari Andi dan pantatnya ia geser mendekat. Keduanya masih duduk di lantai beralaskan sebuah karpet tebal berwarna merah. Andi mengangkat wajah Lira perlahan. Ia bisa melihat Lira tersenyum bahagia merasakan kehangatan tersebut. Andi

sadar, ia melakukannya bukan untuk mengejar perasaan Lira, tapi lebih pada nafsu. Nalurinya sebagai laki-laki berkata bahwa ini adalah kesempatan merasakan nikmatnya tubuh seksi Lira yang selama ini sudah ia kagumi. Dalam hati ia terus membatin untuk tidak tanggung-tanggung dan ragu. Ia bertekad menunjukkan pada Lira bahwa ia memang lakilaki sejati. Sambil mulai menjilati daun telinga Lira, Andi berusaha membisikkan kata-kata rayuan ke telinga Lira. Glek! Mulutnya justru seperti terkunci. Semuanya sangat sulit untuk dikatakan. Balasan Lira hanya sebuah erangan manja berikut usapan halus disekujur punggung Andi. Tanpa ragu ia mendekatkan bibirnya yang merekah menyentuh bibir Andi. Halus, lembut dan perlahan penuh perasaan, keduanya saling mengulum bibir lawannya. Berpagutan dan saling bertukar lidah membuat suasana semakin hangat. "Ndi...," Lira berusaha mengontrol dirinya. Ia ingin terus merasakan belaian laki-laki yang dikaguminya itu. Andi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia paham ini adalah titik kebimbangan Lira. Memaksa Lira menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya sama saja berpeluang menghentikan semuanya. Ia terus mencium Lira penuh kehangatan. Tangannya mulai menggerayangi sisi kiri tubuh Lira dan berbalik ke atas menuju sebuah bongkah daging keinginan setiap laki-laki. Ia mulai dengan meraba permukaannya halus dan meremasnya pelan. Persis seperti yang ia lakukan pada Wita, sahabatnya, beberapa tahun silam. Perbuatan berdasarkan naluri yang membuat ia dan Wita hampir mengakhiri persahabatan erat yang mereka bangun sejak masuk kuliah, runtuh hanya bersisa nafsu. Andi seperti merasakan kembali sensasi itu. Sensasi bercumbu dengan perempuan yang rela menyerahkan tubuhnya secara total pada dirinya. Sesuatu yang justru tidak ia rasakan saat melakukannya pertama kali dengan Lina. Status berpacaran membuat mereka mudah melakukan apapun seperti ciuman, pelukan, bahkan rabaan. Andai dulu ia mengabaikan pertanyaan Wita apakah mereka benar melakukan hal tersebut, ia dan Wita saat ini pasti sudah tak ubahnya dua insan yang saling mengejar nafsu. Tidak ada lagi keindahan persahabatan dan keagungan sebuah kedekatan yang tidak dilandasi nafsu, murni sebuah kasih sayang dua manusia yang saling membutuhkan. Tapi dulu tindakannya tepat. Karena, ia dan Wita lebih membutuhkan hubungan tanpa berlandaskan nafsu birahi. Walaupun akhirnya ia dan Wita menghentikan semuanya sebelum keduanya bersatu dalam sebuah persetubuhan, perlu waktu berbulan-bulan untuk membangun kembali landasan yang telah mereka hancurkan sendiri. Kini, terhadap Lira, semuanya berbeda. Tidak ada halangan untuk melakukannya saat ini. Benar atau salah, itu soal nanti, karena saat ini nafsulah yang melandasi hubungan dirinya dengan Lira. Lira bukan teman dekatnya. Sejak awal ia tertarik pada Lira karena tubuh Lira yang menggoda iman. Kalau kemudian ia menjadi dekat dengan Lira karena sesuatu hal, itu tak ubahnya alat untuk masuk ke dalam perasaan Lira. Remasannya ke dada Lira semakin kuat. Tanpa ragu, ia menyisipkan jarinya dari sisi atas untuk merasakan langsung lembutnya bongkahan indah itu. Lira mengerang dan berusaha mendekap Andi lebih kuat. Tangan Andi meremasnya makin kuat dan semakin ia

merasakan betapa kencangnya dada Lira. Kencang, halus dan terawat. Ia pun kagum kepada Lira yang menyadari bahwa bagian tubuhnya yang sedang remas Andi adalah daya tarik utama dirinya, terbukti dari hasil perawatan yang dilakukannya itu. Sembari tangan kanannya meremas dada Lira, dan lidahnya menjilati leher Lira. Tangan kirinya membuka pengait bra di belakang. Sekali terbuka, kedua tangannya menyusup dari bawah dan mengangkat pakaian Lira melewati leher. Dan sekejab ia langsung bisa melihat bukit besar menantang itu langsung di depan matanya. Sejenak ia kembali mengagumi keindahan yang terpampang di depan matanya itu. Dua bongkah daging yang sejak setahun lalu membuat dirinya kerap tak bisa tidur. Tak berlama-lama puting susu Lira sudah menjadi sasaran mulutnya. Kuluman bibir, gigitan kecil plus sapuan lidah membuat Lira terlonjak tak bisa menahan diri. Badannya menegang setiap Andi menghisap putingnya. Ingin rasanya Andi mengecup kuat area di kulit yang menutupi tonjolan dada Lira, tapi ia sadar hal tersebut akan mempersulit posisi Lira. Apalagi Lira memohon dengan suara lirih. "Jangan ada...bekasnya...Ndi...." Dua bukit besar itu seperti mainan baru bagi Andi. Ia juga sering merasakannya dari Lina, tapi yang disodorkan Lira dua kali lebih nikmat. Lina juga keras dan kencang, tapi tidak sebesar Lira. Besar tapi masih proporsional. Ia bisa merasakan puting Lira menyentuh telinganya saat ia berusaha membenamkan kepalanya ke sela-sela di antara dua bukit tersebut. Erangan pelan mulai terdengar keras keluar dari mulut Lira. Nafas Lira mulai memburu dan matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dan setiap isapan Andi di putingnya mengeras, kepalanya terlonjak ke belakang. Tangannya hanya bisa menekan kuat punggung Andi. Kendali dirinya benar-benar sudah hilang tertutup kenikmatan isapan dan sapuan lidah Andi di kedua payudaranya. Bahkan angin dingin khas kota Bandung yang kencang dari luar sudah tak terasa lagi di kulitnya. Tak hanya Lira yang terlena, Andi pun semakin bernafsu menggarap buah dada Lira yang menggairahkan itu. Sensasinya seperti mendapatkan sebuah mainan baru. Ia menjelahi setiap titik buah dada Lira tanpa terlewatkan. Ia ingin tahu reaksi apa yang diberikan Lira setiap ia menjelajah setiap permukaan buah dada itu. Keduanya sedikit tersentak ketika pintu kamar Lira tertutup sendiri tertiup angin kencang dari luar. Andi terdiam dan memandangi Lira sesaat. "Geblek, lupa ditutup...." Andi langsung bangkit dan memeriksa keadaan di luar dari jendela, apakah ada mata-mata tersembunyi yang menyaksikan perbuatan mereka. "Kunci Ndi..., sekalian korden..." Sebut Lira dengan suara parau dan lemah. Lira langsung menggamit lengan Andi dan memeluk laki-laki itu dan menempelkan keningnya ke dada bidang penuh bulu itu. Menunduk, ia bisa melihat puting buah dadanya menempel di atas perut Andi. "Ndi..., tolong...," Ia melepaskan tangan Andi yang mengusap-usap halus punggungnya. Tangan kanannya membimbing tangan Andi ke arah selangkangannya. Ia merasakan sendiri sedikit demi sedikit kewanitaannya mulai basah mengalirkan cairan hangat. Ia tahu persis telah

dihinggapi nafsu. Sejenak Lira was-was. Ia takut Andi melakukannya tindakan bodoh seperti laki-laki lain yang tidak peduli fase-fase seksualitas wanita. Ia ingin dilayani juga sebagai makhluk yang juga memiliki nafsu. Selama ini, yang ia alami hanya melayani keinginan laki-laki tanpa ada balasan dari laki-laki itu. Tapi kekhawatirannya segera lenyap saat Andi menyambut bimbingan tangannya dan mulai aktif menggerayangi daerah kewanitaannya. Dimulai dengan usapan lembut di atas daerah vaginanya yang masih tertutup dua lapisan, celana dan celana dalam. Dilanjutkan gosokan sedikit keras yang menekan alat genitalnya. Sekali lagi, saat Andi menyentuh paha bagian dalamnya, darahnya berdesir kencang, nafsunya semakin melonjak. Aliran darah seketika seperti mengalir deras di tengah-tengah selangkangannya. Andi pun tak mau berlama-lama menunggu. Sekali tarik, ia meloloskan celana pendek dan celana dalam yang membuat Lira makin tak berdaya telanjang bulat. Tangan Andi mulai mengusap-usap klitoris dan bagian luar vaginanya. Rasanya seperti melayang setiap sapuan jemari Andi mengenai alat kelaminnya itu. Dipadu permainan lidah di putingnya, Lira semakin lemah tak berdaya. Lututnya terasa lemas yang membuat Andi semakin mudah menjelajahi daerak kemaluannya karena menjadi terbuka. Tak tahan melakukannya sambil berdiri, Lira memundurkan tubuhnya dan menjatuhkan badannya ke ranjang. Lututnya ditekuk dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar. Andi melepas sendiri kaus yang dikenakannya dan tak menyia-nyiakan pemandangan indah bibir-bibir vagina berwarna coklat muda yang terpampang di depannya. Bulu-bulu kemaluan Lira sangat terawat karena terlihat dari cukuran yang rapi. Bulu-bulu itu hanya tersisa di atas klitoris dan panjangnya tidak ada yang melebihi satu milimeter. Sambil memeluk pinggang Lira dengan tangan kiri, ia mulai memainkan jari kanannya di seluruh permukaan kewanitaan Lira. Pengalaman dengan Lina mengajarkannya untuk tidak langsung memasukkan jari ke dalam vagina. Ia lebih mementingkan usapan di klitoris. Dengan ibu jari dan jari tengah, ia membuka kulit penutup klitoris. Jari telunjuknya mulai meraba-raba permukaan klitoris yang menyembul berwarna merah muda. Lonjakan pantat Lira terasa kuat setiap ia mengusap klitoris itu dibarengi erangan keras dari mulut Lira. Lira meremas-remas sendiri buah dadanya. Ia menahan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya. Puas jemarinya memainkan klitoris Lira, lidahnya mulai bergabung. Setiap jilatan sanggup membuat Lira menjerit. Kedua pahanya berusaha menjepit kepala Andi yang membuat Andi semakin ganas memainkan lidahnya. Sesekali permainan itu ia gabung dengan isapan keras klitoris Lira. Tak usah ditanya reaksi Lira karena perempuan muda itu semakin berisik mengeluarkan erangan dari mulutnya. Rasanya memang gila permainan mereka, karena jika erangan Lira terdengar sampai keluar, entah apa yang akan terjadi. Andi sudah mengarahkan lidahnya turun menuju vagina Lira ketika Lira menahan tubuh Andi dan bangkit meraih kancing celana Andi dan melepasnya. Bersama celana dalam, satu

sorongan ke bawah langsung menjulurkan batang kemaluan Andi yang sudah mengacung sejak tadi. Lira tahu, apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bersama dan kini gilirannya membelai, mencium, menjilat, dan meremas milik Andi. Tak canggung ia menggenggam penis Andi yang mengacung keras. Kedua tangannya mengenggam bersama, terasa besar dan penuh penis itu memenuhinya. Satu kocokan, kini giliran Andi yang terpaksa memejamkan mata merasakan nikmatnya genggaman tangan halus nan hangat itu. Dari bawah, Lira melirik ke atas dan tersenyum kepada Andi yang berlutut di kasur. Ia paham arti senyum balasan Andi. Tanpa berlamalama lagi, ia lumat batang tersebut di dalam mulutnya. Sedikit gigitan, ia jilat seluruh permukaannya yang mengkilat itu. Urat-urat di sekujur penis Andi semakin membuat nafsunya memuncak. Ingin rasanya segera merasakannya merayap di dinding vaginanya. Andi terengah merasakan isapan dan kulumannya. Masih ada sedikit rasa dongkol pada Lina, kenapa temannya itu yang bisa mendapatkan laki-laki yang mampu menggetarkan hati setiap wanita itu. Di tengah usahanya memasukkan seluruh batang kemaluan Andi kemulutnya, Lira hampir tersedak karena ujung kemaluan Andi menyentuh pangkal rongga mulutnya sementara di luar masih tersisa. Ia semakin bernafsu mengulum penis ini. Pelan tapi pasti ia keluar masukkan penis itu di mulutnya. Lidahnya ia sentuhkan ke ujung penis yang kokoh itu. Ia paham laki-laki amat senang diperlakukan seperti itu. Terlihat dari paha Andi yang semakin terbuka membuat penisnya makin mengacung kencang. Seketika ia melihat penis Andi, Lira langsung merasakan rangsangan semakin besar dalam dirinya. Tanpa ragu ia berusaha memberikan pelayanan sempurna pada Andi, laki-laki yang sanggup membuatnya panas dingin meski hanya beradu pandang. Ia ingin Andi merasakan kenikmatan terdalam pelayanan perempuan. Lira memang tidak salah karena Andi pun mulai merasakan apa yang diharapkannya. Baru kali ini Andi merasakan perlakuan total perempuan selain Lina terhadap dirinya. Apalagi saat Lira mulai menjilati dan mengulum kantung buah zakarnya. Semuanya terasa berbeda, benar-benar sensasi yang memabukkan. Selain merasakan nikmatnya kuluman dan isapan Lira, pemandangan indah sekaligus ia dapatkan. Posisi Lira yang merangkak setengah menunduk membuat bongkahan pantatnya menjulang ke atas. Pasti nikmat membenamkan penisnya ke kemaluan Lira sekaligus menggenggam dan mengusap pantat yang padat dan berisi itu. Lira merasa belum cukup ketika Andi menarik lengannya. Tapi, ia mengikuti saja keinginan pujaan barunya itu dan menyambut kecupan hangat Andi di bibirnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menarik Andi. Lira sudah tahu kelakuan laki-laki. Jika sudah menarik dan merebahkan tubuh perempuan berarti laki-laki itu sudah ingin melakukan penetrasi. Namun, dugaannya meleset. Andi justru merebahkan badannya di sisi Lira. Berbaring miring, Andi mengisap lagi buah dadanya. Lira semakin kagum akan laki-laki yang satu ini, benar-benar penuh kendali diri. Ia semakin kaget ketika jemari Andi mulai bermain lagi di sekitar kemaluannya. Kali ini usapannya sedikit keras dan cepat menggosok klitorisnya. Lira menggelinjang menerima perlakuan Andi. Benar-benar laki-laki penuh misteri, pikirnya. Laki-laki sempurna, pikir Lira menyadari betapa beruntungnya ia berhasil mendapatkan Andi seperti sekarang. Bisa mendapatkan lagi sesuatu yang dulu hilang direnggut kejamnya

Dani terhadap dirinya. Kalau saja ia tahu Dani hanya mempermainkannya saat itu, tidak akan ia mau menyerahkan semua kehormatannya kepada laki-laki brengsek pengecut itu. Rasanya muak hatinya mendengar semua orang membicarakan perkawinan Dani saat ia baru dua bulan memadu kasih dengan laki-laki keparat itu.Untung Boy hadir sebagai penyelamat. Ia sayang pada laki-laki ini, tapi kadang perasaannya tak tega melihat kebaikkan hati Boy. Tapi kali ini ia ingin total merasakan kehangatan Andi. Kekagumannya membuat ia semakin senang akan apa yang dilakukan Andi padanya saat ini. Menikmati usapan jemari Andi yang cepat itu membuatnya ia sanggup melupakan semua pikirannya pada dua laki-laki yang telah sempat mengisi relung hatinya. Di tengah lonjakan-lonjakan kecil menikmati permainan Andi, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya sebuah rambatan energi tiada tara yang membuat sejenak dirinya seperti melayang. Suara-suara di sekitarnya seketika seperti lenyap, hanya terasa desiran tiada tara yang membuat tubuh sempat terbujur kaku sejenak dan berikutnya terlonjak-lonjak demikian kuat yang semakin lama semakin melemah frekuensi dan intensitasnya. Matanya terpejam, ia baru saja merasakan sensasi terbesar yang belum pernah sekalipun ia rasakan dengan laki-laki lain. Liang vaginanya pun terasa berdenyut lebih kuat dan saat semuanya belum mereda, Andi sudah menindih tubuhnya. Ia bisa merasakan bobot tubuh Andi terutama di bagian bawah pinggangnya. Tangan Andi sudah tegak di sisi buah dada Lira kekar menopang badannya sendiri. Ia bisa merasakan bagian tubuh bawah Andi bergerakgerak berusaha mengarahkan acungan penisnya. Lira pun langsung meraih penis nan kokoh itu dan membimbingnya ke ujung vaginanya. Andi tersenyum dan Lira membalasnya dengan senyuman manis diiringi anggukan penuh kepasrahan tanpa paksaan. Terasa Andi mendorong kuat pantatnya dan Lira juga bisa merasakan rengsekan batang kemaluan Andi di dinding vaginanya. Sungguh halus dan penuh perasaan Andi memasukkan penisnya ke vagina Lira. Perlahan cairan di dalam vagina melumasi permukaan penis Andi. Tak ada rasa sakit sama sekali meski penis tersebut lebih besar ketimbang milik Dani dan Boy. Itu karena Andi melakukannya tanpa terburu-buru dan tanpa memaksa. Mulai terasa perih ia menarik kembali penisnya sedikit dan membenamkannya lagi sampai akhir seluruh penisnya dilumat vagina Lira. Sodokan pertama penis tersebut masuk seluruhnya sanggup menyentuh bagian dalam vagina Lira yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Lira pun merasakan sekali lagi kenikmatan luar biasa itu. Apalagi, Andi tidak langsung memompa pantatnya cepat-cepat dan keras. Pertama masuk penuh, ia menahannya dan memandangi wajah Lira dan kali ini ditambah sebuah kecupan mesra. Lira seperti diawang-awang diperlakukan seperti itu. Ia merasa dirinya demikian berharga di hadapan Andi, Andi sendiri merasa telah memenangi sebuah peperangan. Penisnya yang sudah bersarang di vagina Lira adalah sebuah tanda babak baru hubungannya dengan Lira yang tidak akan mudah dikembalikan seperti sedia kala. Bersatunya kedua tubuh mereka adalah sebuah ikatan emosi yang hanya bisa dirasakan oleh Andi dan Lira, tak seorangpun bisa merasakan itu.

Setelah itu, mulailah Andi menggerakkan pantatnya mengangkat dan menekan yang membuat penisnya keluar masuk bergesekan dengan liang vagina Lira. Hangat dan lembut bisa Andi rasakan lewat sekujur penisnya dari dalam vagina Lira. Lira menyambut setiap gerakan Andi dengan jepitan dan gerakan kecil pantatnya. Dari mulutnya keluar erangan yang semakin lama semakin keras dan cepat berirama. Melihat Lira terpejam dan mengerang dengan mulut yang sedikit terbuka sambil mendongakkan kepala membuat Andi makin bernafsu. Lira semakin seksi dalam kondisi seperti itu. Lehernya yang putih dan guncangan kuat pada buah dadanya membuat Andi semakin ingin membenamkan penisnya dalam-dalam di vagina Lira. Apalagi setiap ujung penisnya menyentuh pangkal vagina Lira. Rasanya sungguh tiada tara. Derit ranjang mulai terdengar seiring semakin kuatnya sodokan Andi. Tapi mereka sudah tidak peduli. Lira bukan tidak menyadari seseorang pasti ada yang mendengar deritan tersebut di bawah. Apalagi kalau teman kost yang menempati kamar di bawahnya sedang berada di kamar. Tapi ia yakin semua temannya akan maklum. Semakin kuat dan cepat sodokan Andi membuat Lira merasakan lagi desakan rasa luar biasa yang akan tiba. Ia hanya bisa mencengkram punggung Andi keras-keras ketika desiran itu semakin kuat dan mencapai puncak. Kepalanya benar-benar mendongak ke atas hingga kedua bola matanya hanya terlihat tinggal putihnya. Setelah sampai, sekali lagi ia merasakan tubuhnya ringan dan aliran darah mengalir deras ke arah vaginanya. Dinding vaginanya berdenyut kuat hingga Andi juga bisa merasakannya. Andi langsung menghentikan gerakannya membiarkan penisnya merasakan cengkraman kuat yang terjadi hanya beberapa detik itu. Tindakan Andi juga membuat Lira merasakan kenikmatan luar biasa. Kali ini terasa lebih nikmat karena denyutan vaginanya tertahan penis Andi yang sedang membenami kemaluannya itu. Semakin banyak saja kekaguman Lira pada Andi. Tahu kapan ia akan merasakan puncak kenikmatan dan menghentikan sodokan membuat Lira bisa merasakan sepenuhnya kenikmatan tersebut. Sebuah teknik bercinta yang baru kali ini Lira rasakan. "Andi...,nikmat sekali...," Lira memeluk Andi kuat-kuat dan menciumi pipi dan pundak laki-laki itu. Sekali lagi Andi tersenyum membalas Lira. "Enak?" "Banget!" Jawab Lira singkat dan tegas. "Gaya lain...?" Lira langsung mengangguk dan menunggu aba-aba Andi gaya apa yang diinginkan Andi. Andi membalik badan Lira dan mengangkat badan bagian bawah Lira dengan memeluk pinggang dari belakang. Lira langsung berdebar-debar begitu tahu Andi ingin melakukan gaya doggy. Missionari saja sudah sanggup mencapai pangkal vaginanya, apalagi doggy. Tak menunggu lama Andi langsung memasukkan penisnya. Lira menunduk sambil menggigit bibirnya merasakan seluruh penis Andi terbenam makin dalam di vaginanya. Pantatnya terangkat tinggi yang membuat Andi semakin tak bisa mengendalikan birahinya. Kali ini Andi langsung mendorong dengan cepat dan Lira mengikuti irama dengan

mendorong pantatnya ke belakang. Keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang lebih dalam. Masuk hitungan belasan menit menyodok vagina Lira, belum ada tanda-tanda dorongan Andi melemah. Sebaliknya justru makin kuat, membuat Lira makin bernafsu. Tetesan peluh mulai membasahi keduanya, namun baik Lira dan Andi justru makin bersemangat. Lira, yang bisa dua kali beruntun merasakan kenikmatan puncak saat disodok Andi dari belakang justru semakin ingin merenguk terus kenikmatan itu. Pantat dan pinggangnya makin bergerak liar membuat Andi tak mampu menahan lenguhannya. Tiba-tiba ganti Lira yang berinisiatif. Ia lepaskan penis Andi dari vaginanya dan mendorong Andi sampai terlentang. Ia langsung memanjat tubuh Andi dan duduk di atas acungan penis Andi yang masih kokoh berdiri. Melihat Lira bergerak naik turun, Andi tak kuasa untuk tidak meremas buah dada Lira yang terguncang-guncang. Telapaknya yang besar berusaha meraup seluruh permukaan buah dada itu, tapi tidak pernah berhasil. Remasannya makin kuat membuat Lira makin mempercepat gerakannya. Sekali lagi Lira harus mengaku kalah. Karena meski ia telah mencoba berbagai goyangan yang dipadu dengan gerakan naik turunnya, justru ia yang kembali merasakan desakan kenikmatan dari liang vaginanya. Lira langsung ambruk menindih Andi yang sudah siap menerimanya dengan pelukan mesra dan kecupan hangat di ubun-ubunnya. "Kamu kuat banget Ndi..." "Kamu di bawah lagi ya...?" Lira mengangguk lemah dan menggulingkan badannya ke sisi kanan Andi. Sebelum Andi memasukkan lagi penisnya ke vagina Lira, Lira memberikan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada laki-laki manapun yaitu memasukkan penis tersebut ke mulutnya. Sebelumnya ia tidak mau mengulum penis yang sudah masuk ke vaginanya. Tapi, untuk Andi, yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara, ia lakukan itu. Puas mengulum dan menjilati penis yang dipenuhi lendir sisa persetubuhan mereka, Lira kembali merebahkan dirinya dan menyuruh Andi memulai lagi aksinya. Andi langsung bergerak dan dorongan seperti saat pertama mereka memulainya yaitu perlahan dan terus semakin lama semakin kuat dan cepat. Lira sudah pasrah kalau ia harus sekali lagi merasakan orgasme, tapi baru ia berpikirbegitu, tiba-tiba sodokan Andi terasa lebih keras dari sebelumnya. Sesaat kemudian Andi mengerang panjang dan menyodokkan penisnya sangat kuat beberapa kali. Lira pun bisa merasakan hangatnya muncratan sperma Andi di dalam vaginanya. Andi masih terus menyodok terputus-putus dan semakin melemah. Sperma Andi juga Lira rasakan mengalir keluar setiap Andi menyodokkan lagi penisnya. Setelah benar-benar selesai, Andi pun ambruk menindih Lira. Andi terdiam sesaat di atas buah dada idamannya itu merasakan betapa nikmat persetubuhannya dengan Lira. Lira mengusap lembut kepala Andi penuh kehangatan. "Puas Ndi...?" Andi hanya mengangguk. Badannya terasa lemas. Lira tersenyum bahagia mendapatkan jawaban Andi. Paling tidak, tekadnya membuat Andi merasakan kenikmatan tertinggi

berhasil ia lakukannya. "Lir, nikmatnya benar-benar ngga ada yang nyamain..." "Kamu juga hebat Ndi. Baru kali ini aku ngerasain orgasme...." Keduanya pun duduk berdampingan di sisi ranjang. Lira merebahkan kepalanya di pundak Andi. Sambil membakar rokok, Andi merangkul Lira. Keduanya hanya bisa terdiam dan sama-sama tidak percaya apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Lira masih tidak percaya ia telah melakukan hubungan seks dengan Andi, pacar Lina, teman satu angkatannya. Meski ia memang sudah kagum pada Andi sejak pertama berkenalan, tapi akhirnya sampai berhubungan intim dengan Andi, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Andi, walaupun ia juga tertarik pada Lira diawali oleh ketertarikan fisik, tetap saja apa yang baru saja ia alami benar-benar di luar dugaannya. Apalagi Lira seperti menyambut keinginan terpendam Andi itu yang sebetulnya ia simpan dalam-dalam. Ia kenal Boy dan tahu bagaimana Boy selalu menerima sarannya dalam hal aktifitas di kampus. Ia juga tahu Boy sangat menghormatinya terutama sebagai senior meski beda fakultas. Dalam diamnya, Lira tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Lina yang terkenal emosional di kampus. Serupa dengan Lira, Andi juga sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada Boy jika ia tahu apa yang dilakukannya dengan Lira. Boy memang pendiam dan tenang, tapi Andi tahu Boy adalah orang yang keras. Andi mengeratkan rangkulannya pada Lira. Lira pun membalasnya diikuti kecupan di bibir. Tapi Andi tak membalasnya yang membuat Lira bingung. "Kenapa...?" Andi menggeleng sambil tersenyum dan mengecup kening Lira dan mendekap Lira lebih dalam. "Yuk ke kampus...," ajak Andi sambil melepas pelukannya. Lira mengangguk sambil tersenyum. Berpakaian, kedua lantas keluar kamar bersikap biasa. Andi lebih dulu menuju motornya di lantai bawah. "Bareng aja...," sahut Andi. "Oke!" Waktu saat itu menunjukkan pukul 4.15 sore. Keduanya tak sadar telah dua jam bercumbu dan berhubungan intim. Kalau sesuai janji, Andi sebetulnya sudah terlambat. Dan memang benar, saat tiba di kampus FH, anak-anak yang rapat sudah duduk-duduk di koridor kampus. "Bareng Lira?" Tanya Lina tanpa curiga. "Iya, tadi ketemu di jalan, ya sekalian aja." "Tunggu bentar ya, 10 menit lagi." "Oke, aku tunggu di sini ya." Di tempatnya duduk, Andi melihat Lira berdiri di samping Boy. Boy masih sibuk membahas

beberapa masalah dengan teman-temannya. Lira pun melirik ke arah Andi dan memberikan sebuah senyum yang manis. Keduanya memang harus kembali bersikap normal, tapi di hati kecil mereka, baik Andi dan Lira sama-sama berharap kejadian yang mereka alami terulang lagi?

Kak Linda Tetanggaku


Perkenalkan namaku Rendi, umurku saat ini 20 tahun. Kuliah dikota S yang terkenal dengan sopan santunnya. Aku anak kedua setelah kakakku Ana. Ibuku bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ayahku juga bekerja di kantor. Tinggi badanku biasa saja layaknya anak seusiaku yakni 169 kg. Di situs ini aku akan menceritakan kisah unikku. Pengalaman pertama dengan apa yang namanya sex. Kisah ini masih aku ingat selamanya karena pengalaman pertama memang tak terlupakan. Aku punya teman sebayaku namanya Putri, dia juga duduk di bangku SD. Aku dan dia sering main bersama. Dia anak yang sangat manis dan manja. Dia mempunyai dua kakak. Kakak pertama namanya Rio di sudah bekerja di Jakarta. Dan kakaknya yang satu lagi namanya Linda. Saat itu dia kuliah semester 4 jurusan akuntansi salah satu perguruan tinggi di kota kelahiranku. Dia lebih cantik dari pada adiknya Putri. Tingginya kira kira 160 cm dan ukuran payudaranya cukup seusianya tidak besar banget tapi kenceng. Waktu itu hari sangat panas, aku dan Putri sedang main dirumahnya. Maklum rumahku dan rumahnya bersebelahan. Saat itu ortu dari Putri sedang pergi ke Bandung untuk beli kain. Putri ditinggal bersama kakaknya Linda. "Main dokter dokter yuk, aku bosen nich mainan ini terus"ajak Putri Segera aku siapkan mainannya. Aku jadi dokter dan dia jadi pasiennya. Waktu aku periksa dia buka baju. Kami pun melakukan seperti itu biasa karena belum ada naluri seperti orang dewasa, kami menganggap itu mainan dan hal itu biasa karena masih kecil. Waktu aku pegang stetoskop dan menyentuhkannya didadanya. Aku tidak tahu perasaanya. Tapi aku menganggapnya mainan. Waktu itu pintu tiba tiba terbuka. Linda pulang dari kampusnya. Dengan masih telanjang dada Putri menghampiri kakaknya di depan pintu masuk. "Hai kak baru pulang dari kampus" "Ngapain kamu buka baju segala" Kak Linda memandangi adiknya. "Kita lagi main dokter dokteran, aku pasiennya sedangkan Rendi jadi dokternya, tapi sepi kak masa pasiennya cuma satu. Kakak lelah nggak. Ikutan main ya kak?" "Oh mainan toh... Ya sudah aku nyusul, aku mau ganti pakaian dulu gerah banget nih" Kami bertiga pun segera masuk ke kamar lagi, aku dan Putri asyik main dan Kak Linda merebahkan tubuhnya ditempat tidur disamping kami. Aku melihat Kak Linda sangat cantik ketika berbaring. Setelah beberapa menit kemudian dia memperhatikan kami bermain dan dia terbengong memikirkan sesuatu.

"Ayo Kak cepetan, malah bengong" ajak Putri pada kakaknya. Lalu dia berdiri membuka lemari. Dia kepanasan karena udaranya. Biasanya dia menyuruh kami tunggu di luar ketika dia ganti baju "Ayo tutup mata kalian, aku mau ganti nih soalnya panas banget" Kak Linda menyuruh kami. Dia melepaskan pakaian satu persatu dari mulai celana panjangnya, dia memakai cd warna putih berenda dengan model g-string. Saat itu dia masih dihadapan kami. Tertampang paha putih bersih tanpa cacat. Setelah itu dia melepas kemejanya dicopotnya kancing stu perstu. Setelah terbuka seluruh kancingnya, aku dapat melihat bra yang dipakainya. Lalu dia membelakangi kami, dia juga melepas branya setelah kemejanya ditanggalkan. Aku pun terbengong melihatnya karena belum pernah aku melihat wanita dewasa telanjang apa lagi ketika aku melihat pantatnya yang uuuhhh. Dia memilih baju agak lama, otomatis aku melihat punggungnya yang mulus dan akhirnya dia memakai baby doll dengan potongan leher rendah sekali tanpa bra dan bahannya super tipis kelihatan putingnya yang berwarna coklat muda. Kulitnya sangat putih dan mulus lebih putih dari Putri. Putri melihatku. "Rendi koq bengong belum lihat kakakku buka baju ya? Lagian kakak buka baju nggak nyuruh kita pergi." Kak Linda ngomel,"Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?"dia bercanda. Akupun menundukan mukaku karena malu."Tapikan kak, susunya kakak sudah gede segitu apa nggak malu ama Rendi." Putri menjawab ketus."Kamu aja telanjang kayak itu apa kamu juga nggak malu sudah ayo main lagi." Linda menjawab adiknya. Kami pun bermain kembali. Giliran Kak Linda aku periksa. Dia menyuruh aku memeriksanya, dia agak melongarkan bajunya. Ketika stetoskop aku masukkan di dalam bajunya lewat lubang lehernya, tepat kena putingnya. Dia memekik. Aku pun kaget tapi aku pun tidak melihatnya karena malu. Dia menyuruhku untuk untuk lama lama didaerah itu. Dia merem melek kayak nahan sesuatu, dipegangnya tanganku lalu ditekan tekan daerah putingnya. Aku merasa sesuatu mengeras. "Kak ngapain... Emang enak banget diperiksa... Kayak orang sakit beneran banget." Putri Tanya ama kakaknya. Kak Linda pun berhenti."Yuk kita mandi soalnya sudah sore lagikan kamu Putri ada les lho nanti kamu ketinggalan." Ajak Kak Linda pada kami berdua. Dia menyuruh bawa handuk ama baju ganti. Setelah mengisi air, aku pun membuka bajuku tanpa ada beban yang ada dan telanjang bulat begitu juga ama Putri. Kamipun bermain air di bathup. Kamar mandi disini amat mewah ada shower bathup dan lain lain lah, maklum dia anak terkaya dikampungku. Setelah itu pintu digedor ama kakaknya dia suruh buka pintu kamar mandinya. Aku pun membukanya. Kak Linda melihatku penuh kagum sambil menatap bagian bawahku yang sudah tanpa pelindung sedikitpun, aku baru tahu itu namanya lagi horny. Lalu dia masuk segera di membuka piyama mandinya. Jreng... Hatiku langsung berdetak kencang, dia

menggunakan bra tranparan ama cd yang tadi dia pake dihadapan kami. "Bolehkan mandi bersama kalian lagian kalian kan masih anak kecil." "Ihh... Kakak... Punya kakak itu menonjol" ledek adiknya. Dia hanya tersenyum menggoda kami terutama aku."biarin"sambil dia pegang sendiri putting dia menjawab lalu dia membasahi badannya ama air di shower. Makin jelas apa yang nama payudara cewek lagi berkembang. Beitu kena air dari shower bra Kak Linda agak melorot kebawah. Lucu banget bentuknya pikirku. Payudaranya hendak seakan melompat keluar. "Ayo cepat turun dulu, aku kasih busa di bathupnya... ". Putri bergegas keluar tapi aku tidak, aku takut kalau ketahuan anuku mengeras, aku malu banget. Baru kali ini aku mengeras gede banget. Lalu Kak Linda mendekat dan melihatku serta menyuruhku untuk turun. Aku turun dengan tertunduk muka Kak Linda melihat bagian bawahku yang sudah mengeras sama pada waktu aku bermain tapi bedanya sekarang langsung dihadapan mata. Dia hanya tersenyum padaku. Aku kira dia marah. Dia kayak sengaja menyenggol senjataku dengan paha mulusnya. "Ooohh... Apa itu... " (pura pura dia tidak tahu) Putripun tertawa melihatnya. "Itu yang dinamakan senjatanya laki laki yang lagi mengeras tapi culun ya kalau belum disunat" Kak Linda memberitahukan pada adiknya. Setelah busanya melimpah di air kami pun nyebur bareng. "Adik adik, Kakak boleh nggak membuka bra kakak" pinta Kak Linda pada kami. "Buka aja to Kak lagian kalau mandi pakai pakaian kayak orang desa." adiknya menjawab. Tapi aku nggak bisa jawab. Dengan pelan pelan kancing dibelakang punggung dibukanya lalu lepas sudah pengaman dan pelindung susunya. Dengan telapak tangannya dia menutupi payudaranya. "Sudah buka aja sekalian cd nya nanti kotor kena bau cd kakak," ujar Putri kepada kakaknya. Segera dia berdiri diatas bathup melorotkan cdnya dengan hati hati(kayaknya dia sangat menunggu ekspresiku ketika melihat wanita telanjang bulat dihadapannya). Ketika dia berdiri membetulkan shower diatas kami, aku melihat seluruh tubuhnya yang sudah telanjang bulat. "Kak anu... anu... Susu kakak besarnya, ama bawahan kakak ada rambutnya dikit," aku memujinya. dia hanya tersenyum dan memberitahu kalau aslinya bawahan nya lebat hanya saja rajin dicukur. Dia agak berlama lama berdiri kayaknya makin deket aja bagian sensitivenya

dengan wajahku, ada sesuatu harum yang berbeda dari daerah sekitar itu. Kak Linda terus berdiri sambil melirikku. Sambil membilasi payudaranya dengan air hangat serta digoyang dikit dikit bokong bahenolnya. Dia menghadap kami sambil mnyiram bagian sensitifnya. Aku pun tak berani langsung menatapnya. Sambil memainkan payudaranya sendiri dia punya saran plus ide gila. "Mainan yuk. Aku jadi ibunya, kamu jadi anaknya." Lalu Kak Linda menyuruh mainan ibu ibuan, dia menyuruh kami jadi bayi. Lalu dia menyodorkan susunya pada kami. "Anakku kasihan, sini ibu beri kamu minum" dia berkata pada kami. Putri pun langsung mengenyot puting susu kakaknya, tapi aku pun tak bergerak sama sekali, lalu dia langsung menyambar kepalaku ditarik ke arah payudaranya. "Ayo sedot yang kuat... Ahhh... Cepet... Gigit pelan pelan... Acchhh," kata itu keluar. Tapi koq nggak keluar airnya. Punya Mama keluar air susunya. Tiba tiba Putri berhenti. "Uhh... Ini kan namanya mainan jadi nggak beneran. Kamu udahan aja sudah jamnya kamu les" Putri pun bergegas turun dan berganti pakaian sejak saat itu aku tak memdengar langkah dia lagi. Aku pun masih disuruh mainan dengan putingnya tangan kiriku dikomando supaya meremas susu kirinya. Tiba tiba ada sesuatu yang bikin aku bergetar, ada sesuatu yang berambat dan memegangi anuku. Dengan kanan kanan memegangi tangan kiriku untuk meremas payudaranya ternyata tangan kanannya memainkan penisku. Segera dia memerintahkan untuk turun dari situ. Kami pun turun dari situ. Lalu. Dia duduk di pingiran sambil membuka selakangannya. Aku baru melihat rahasia cewe. "Rendi ini yang dinamakan vagina, punya cewek. Tadi waktu kakak berdiri aku tahu kalau kamu memperhatikan bagian kakak yang ini. Ayo aku ajarin gimana mainan ama vagina" akupun hanya mengangguk. Dia menyuruh menjilatinya setelah dia mengeringkannya dengan handuk. Aku pun menjulurkan lidahku kesana tapi bagian luarnya. Dia hanya tersenyum melihatku. Dengan jari tangan nya dia membuka bagian kewanitaan itu. Aku benar benar takjub melihat pemandangan kayak itu. Warnanya merah muda seperti sebuah bibir mungil. Setelah dia buka kemaluannya, lalu dia suruh aku supaya menjilatinya. Ada cairan sedikit yang keluar dari bagian itu rasanya asin tapi enak. Disuruh aku menyodok dengan kedua jariku, terasa sangat becek. Dia menyuruhku berhenti sejenak. Ketika dia menggosok gosok sendiri dengan tangannya dengan cepat lalu dia menyambar kepalaku dengan tangannya

ditempelkan mukaku dihadapannya. Seeerrr... Serr... bunyi air yang keluar dari vaginanya banyak sekali. Sambil berteriak plus mendesis lagi merem melek. Setelah itu dia jongkok, aku kaget ketika dia langsung menjilati kepala penisku. Di buka bagian kulup hingga kelihatan kepalanya. "Kakak enggak jijik ya kan buat kencing" aku bertanya pada dia tapi dia terus mengulumnya maju mundur. Sakit dan geli itu yang kurasakan tapi lama lama enak aku langsung rasanya seperti kencing tapi tidak jadi. Dia menggunakan sabun cair katanya biar agak licin jadi nggak sakit. Saking enaknya aku bagai melayang badanku bergetar semua. Setelah dibilas dia mengkulum penisku, semua masuk didalam mulutnya. "Kak aku mau kencing dulu" aku menyela. Setelah itu dia berbaring dilantai dia menyuruh bermain dengan kacang didalam vaginanya. Pertama aku tidak tahu, dia memberi tahu setelah dia sendiri membukanya. Aku sentuh bagian itu dengan kasar dia langsung menjerit dia mengajari bagaimana seharusnya melakukannya. Diputar putar jariku disana tiba tiba kacanga itu menjadi sangat keras. Sekitar 5 menit aku bermain dengan jariku kadang dengan lidahku. Keluar lagi air dari vaginanya. Aku disuruh terus menyedotnya. Dia kayaknya sangat lemas lunglai. Setelah beberapa saat dia memegang penisku dan menuntunnya di vagina. "Coba masukan anumu ke dalam sana pasti aku jamin enak banget rasanya" dia menyuruhku. Dengan hati-hati aku masukkan setelah masuk aku diam saja. Dia menyuruh aku untuk menekan keras. Dan blesss masuk semuanya dia memberi saran kayak orang memompa. Masuk-keluar. "Acchc terus... yang cepet... ah... ah... ah... " dia mendesis, dia menggoyangkan pantatnya yang besar kesana kemari. Tapi sekitar 3 menit rasanya penisku kayak diremas oleh kedua daging itu lalu aku ingin sekali pipis. Saat itu penisku kayak ada yang air mengalir. Dan serrr... seeerrrs air kencingku membanjiri bagian dalamnya. Setelah kelelahan kami pun keluar dia langsung pergi ke kamar masih keadaan bugil. Kemudian dia berbaring karena lelah, aku mendekatinya dan dia memelukku seperti adiknya, payudaranya nempel di mukaku. Setelah aku melihat wajahnya dia menangis. Lalu dia menyuruh aku pulang. Aku mengenakan pakaian dan pulang. Dia menyuruh merahasiakan kalau aku berbicara ama orang lain aku nggak boleh bermain ama adiknya. Kami pun terus melakukannya sekitar 1 tahun tanpa ada siapa yang tahu. Sekitar aku kelas 1 SMP dia kimpoi ama temannya karena dia hamil. Ketika 2 minggu lalu (saat ini) aku

bertemu dia bertanya masih suka main seperti dulu. Akupun hanya tertawa ketika aku tahu itu yang namanya sex dan aku ngucapin terima kasih buat kakak, itu adalah pengalamanku yang pertama.

Ditha Stories - dari Minimarket sampai Ring Road

Hai hai,,, Nama gua Ditha, gua asli manado & sekarang sedang menyelesaikan semester akhir di sebuah PTS di Jogja.. Gua tinggal disebuah perumahan di daerah jogja utara bersama adik gua yang baru saja masuk kuliah. Ya sebenernya nggak utara2 amat sih,, disini jg uda jd semacam new town di jogja, dan gua cm tinggal berdua sm adik gua.. Dan karena dasarnya dia juga jarang dirumah, jadi rumah ini berasa milik gua sendiri haha So, mari kita langsung mulai saja cerita kita,, Malam ini, gua sedang merencanakan eksib plan untuk kesekian kalinya, dan motor Kawasaki adik gua, termasuk dalam acara,,, so, malam ini gua bujuk adik gua habis2an untuk jalan pake mobil gua,,, dan syukurlah, dia nurut sama cicinya.. (harus doong),,, dan rencana berjalan dengan mulus Jam 11 malam, kayanya jalanan uda mulai sepi, dan gua uda bersiap-siap diatas motor adik gua. Malam ini gua pake jaket hitam yang panjangnya selutut.. Nah, untuk dalemannya, gua cukup pakai half cup bra berenda warna hitam, plus celana dalam hitam ^^ .. celana dalamnya biasa-biasa aja sih,, agak tebel dan gak seksi-seksi amat,, biar agak berkesan celana pendek gt, kalau pake yang hitam berenda, gua punyanya lingerie,, T_T ,, bisa bahaya tar.. & target pertama gua malam ini adalah mas2 penjaga minimarket disebuah kompleks perumahan dipusat kota sono.. Gak sampe 30 menit, gua uda sampe didepan mini market. Mini marketnya sebenernya gk jaoh2 bgt sih,, paling gak sampe 6 km dari rumah, dan kebetulan jalanan juga lg lumayan sepi.. Cuma,, naek motor pake jaket sepanjang ini agak ribet,, jadi, agak makan waktu hehe Seperti biasa, jam segini minimarket ini emang gak ramai-ramai banget, cuma ada beberapa motor diparkir dibahu jalan. Setelah memarkir motor, gua pun berjalan menuju pintu kaca didepannya. Agak deg2an juga rasanya, tapi setelah lihat cuma ada mas-mas penjaga titipan barang, plus mas-mas penjaga kasir, gua pun langsung masuk. Pertama sih gua berlagak cuek,, langsung jalan menuju dalem,,, sampe mas-mas penjaga titipan barang negur gua: maaf mbak, jaketnya dititipkan

dulu Huhuhu,, pucuk dicinta ulam pun tiba. Gua kontan balik badan menuju mas-mas muda yang nggak ganteng-ganteng amat itu. harus dititip ya mas? kata gua belagak bloon maaf mbak, iya, harus dititip tapi aku td buru-buru mas, sebenernya aku udah mau tidur, tapi lupa beli aqua jawab gua sekenanya, sambil membuka satu-persatu kancing jaket gua.. Gua bisa lihat ekspresi muka si mas-mas penjaga titipan barang,,, gua buka kancing jaket gak sampe 1menit, tapi bagi dia mungkin berasa 1jam. Haha.. Mas-mas penjaga kasir yang berada agak jaoh dibelakang gua, kayanya jg sedang memperhatikan kami Freeze for a moment,, sampe gua menyingkap jaket gua dari bahu dan menarik tangan kanan gua dari lengan jaket, eh,, mbak, kalau mau dipake juga tidak apa-apa kok ah,, jangan lah, tar kamu dimarahin bos kamu jawab gua sambil melepas jaket, mengulurkanya ke dia, trus langsung masuk menuju deretan rak didalam.. Yesss!! Mission accomplished.. akhirnya gua jalan-jalan di minimarket ini cuma pake celana dalam + half cup bra!! Gua sadar, mata dua personil minimarket itu mengikuti kemanapun gua pergi,, dan tentu saja, gua malah semakin menikmatinya Haha Well,, karena agak deg2an, gua cepet2 aja ambil 2 botol aqua trus ngeloyor ke kasir. Disini emng cm ada gua dan ini emng jam sepi2nya,, tp ttp aj gw takut kalau ada pelanggan datang So, jalan-jalannya gk usah lama-lama deh.. hehe Pas bayar, keliatan banget kalau mas-mas kasir juga grogi.. hoho.. dia berusaha untuk tidak melihat gua,, tapi begitu gua beranjak, matanya gak brenti liatin gua.. wkwkwk Finally,, gw bayar belanjaan, ambil jaket trus cepet ngloyor keluar xixixi Dijalan, gua sempat kepikiran. Kayanya tadi kurang hot deh,, kenapa tadi gua gak pake gstring sekalian yak?? Biar mata-mata yang sok malu-malu itu terhibur dengan pantat gua.. haha (soalnya mereka gak brani liat kalo dari depan sist,,,),, So, hasrat belum terpuaskan deh.. gua menuju rumah dan berencana ganti outfit.. ini baru pemanasan!! Nyampe rumah,. Gua langsung masuk kamar dan ganti outfit. Tadi rencana gua mw pake lingerie set berupa g-string dan half cup bra, trus ditutup sama jaket panjang yang gua pake tadi. Tapi gak jadi karena ada exib plan yang lebih hebat. Haha Kali ini gua ganti pake hotpant plus jaket kain yang biasa gua pake buat jogging,, cuma, didalem hotpan dan jaket

ini, gua gak pake apa-apa lagi alias polos didalem,, haha.. And the next destination is: nyamperin adik gua yang lg karaokean sama temen-temen barunya. Alesan gua adalah ambil mobil alias gak jadi pinjem motor dia.. hoho Dan, perlu diketahui sebelumnya,,,, bahwa untuk menuju jalan besar dari rumah gua,, gua mesti melewati areal persawahan yang cukup panjang. Perumahan tempat tinggal gua memang lokasinya agak menjorok dari jalan. Gak jauh2 banget sih, paling sekitar 800meter, tapi aksesnya masih kurang bagus. Hanya jalan selebar +/- 2meter yang cuma diterangi lampu2 neon. Kanan-kirinya areal persawahan dan jalannya belum diaspal halus. Mungkin rencana kedepannya emang mau dibangun sampe situ kali ya?? So, its the main course, gua sudah duduk lg diatas motor ijo adik gua yang gua parkir didepan rumah.. Dan dengan sengaja gua tidak mangancingkan resleting jaket gua, alias cuma diapake kaya rompi,, haha.. gua langsung starter motor, trus buru-buru jalan keluar dari gerbang perumahan (mumpung satpamnya lagi gak ada di pos),, xixixi Segera setelah melewati gerbang, gua bisa menghayati telanjang dada gua ditengah-tengah segarnya udara persawahan. Gua sengaja naek motor perlahan, menikmati dinginnya udara segar yang langsung menerpa my boobies huhu.. dan lama-lama makin dingin deh,, bagian belakang jaket gua mulai berkibar dengan indahnya, wkwkw.. And,, upss,,,, jalan besar uda didepan mata.. dan parahnya lg, ada sepasang sorot lampu yang tiba-tiba berbelok masuk kesini.. Ampuun, kaget setengah mati gua!! Gua langsung berhenti trus buru-buru mengancingkan resleting jaket gua.. kalau trnyata itu tetangga gua kan bisa berabe.. hehe.. Dan setelah tertutup rapat, gua pun segera maju lagi dan berpapasan dengan si sorot lampu,, Bener dah,, itu om Danu, tetangga depan rumah. Beliau membuka jendC praktis seakan si jaket cuma nyantol sama tangan gua.. haha.. sesekali gua buka juga paha gua sedikit lebar, tujuannya, biar hawa dingin bisa menyusup ke sela-sela hotpant gua, dan bagian bawah gua juga bisa menghirup dinginnya udara segar,.la mobilnya dan menyapa gua: mbak ditha malem-malem mau kemana? ke minimarket om, beli aqua jawab gua lagi-lagi sekenanya oo,, ya udah ati2 sahut si om sambil tersenyum trus nginjek gas lagi Huhu,, aman dah,, om Danu gak nyadar kalau tadi boobies gua sempat diangin-anginkan ditengah sawah xixixi Nyampe jalan besar, belok kiri trus, segera kembali menuju kota jogja, kearah kompleks ruko tempat adik gua karaoke. Dan gak lama kemudian, gua uda parkir didepannya..

Gua masuk & tanya sama resepsionis: room 211 mana mbak? Lantai 2 kak. Naik tangga, kekiri, nanti paling ujung,, mau diantar kak? oh, nggak, usah sahut gua cepet sambil melenggang naik Diujung tangga ada meja resepsionis lagi. Tapi disitu biasanya gak rame2 bgt, biasanya cuma ada 1-2 security. Nah, tuh security tugasnya periksa barang bawaan, geledah2 isi tas gitu lah. Tapi, kali ini gua gak bawa tas, barang gua cuma konci motor, hape, sama hotpant plus jaket.. haha Dan tak lama gua uda nyampe diujung tangga.. but, buset dah,, kok disitu rame banget yah?? Ada sekitar 3-4 orang. Waduuuhh,, gua turun lagi aja deh. Gua sms adik gua aj suruh turun Tapi ternyata, yang rame-rame gak berlangsung lama. Mereka ternyata mas-mas petugas yang mampir setelah membersihkan salah satu room Nah, ada beberapa botol bir tadi sempat ditaruh disitu dan mereka mampir buat ngambil tu botol.. Ya karena mereka sudah bubar, akhirnya gua gak jadi turun lagi xixixi Yang jaga resepsionis cuma 1 orang,, bapak2 beperawakan tinggi besar, umurnya sekitar 40an kali ya?? Orangnya juga ramah,, sopan laahh.. bisa dibantu mbak? begitu sapanya,, ehm, room 211 mana ya pak? Saya mau ketemu adik saya room paling ujung disebelah kanan mbak,, jawabnya sambil menujuk salah satu lorong mau tunggu adiknya atau mau ke ruangan mbak?? sahutnya kemudian saya tak kesana saja pak jawab gua singkat.. Jelas-jelas mau ke ruangan laah,,, kl nunggu disini, gak jadi eksib dunk gua xixixi oh, kalau begitu, saya periksa dulu sebentar ya mbak,, katanya sambil meletakkan HT ke meja resepsionis silahkan pak,, sahut gua rada grogi.. tiba-tiba gua sedikit berkeringat dingin, jantung gua seakan memompa darah lebih cepat dari biasanya moga-moga suruh buka jaket,,, begitu kata gua dalam hati maaf mbak, bole saya periksa?? katanya sambil jari-jarinya nunjuk ke gua.. bahasa tubuh yang mengatakan kalo dia mau periksa isi jaket gua.. huhu.. Yesss!! Lagi-lagi si ulam pun tiba lagi.. dengan masih rada grogi, gua turunkan resleting jaket yang masih mengunci dileher gua.. ehm,, saya nggak bawa apa2 kok pak,, soalnya tadi juga buru-buru dari rumah begitu sahut gua sambil membuka resliting jaket hingga mentok bawah, berikut segera membebaskan pengait resleting diujung bawahnya.. eh,, mbak nggak pake baju to? sahut pak security cepat. Wajahnya agak kaget juga,, tapi

dia menutupi kagetnya dan mencoba bersikap tenang.. Gua perhatikan, matanya terpana dengan belahan boobies gua.. wkwkwk.. ehm,, nggak pak,, soalnya tadi buru-buru sahut gua sambil menyingkap perlahan jaket gua.. yes,, karena ternyata keadaan memang memungkinkan, gua sengaja membuka lebar-lebar bagian depan jaket gua dan melonggarkanya kebelakang,, hehe.. Dan sekarang, tampaklah dengan jelas sepasang boobies gua,, lengkap dengan putingnya pula.. bukannya sombong siih,, payudara gua emang gak gede2 amat, ukuran cuma 34, tapi menurut gua, ukuran ini udah pas buat gua.. sudah terbukti,, semua orang yang pernah melihatnya selalu terpana.. haha yesss!! Lagi2 mission accomplished!!! ehm,,, sudah belum pak?? kata gua sambil tetap merentangkan tangan plus my boobies yang menyembul bebas.. eh,, sudah mbak.. maaf ya mbak,, soalnya ini prosedur perusahaan,, untuk menciptakan family karaoke yang benar2 bebas dari narkoba dan blablabla.. Huhuhu,,, whatever dah,, u such a lucky guy puas dah lu, frontal ngliatin boobies gua,, haha.. terima kasih ya pak,, kata gua cuek, sambil ngeloyor ke ujung lorong dan ung gua lepas damengancingkan kembali jaket gua sama-sama mbak Sampe di room, gua gk mau bnyk basa-basi lagi.. gua ketemu adik gua, gua kasih kunci motor + kartu parkir, trus gua keluar lagi dan jalan turun menuju parkiran. Diujung tangga, gua lagi-lagi ketemu sama si pak security,, dia tersenyum sok manis ketika gua lewat didepannya, sudah mbak?? tanyanya sudah pak.. begitu jawabku singkat sambil turun ke parkiran Masuk mobil, lagi2 pikiran nakal muncul,, kayanya, sesi angin-anginan boobies tadi masih kurang deh.. habisnya pake acara papasan sama om Danu siih So, dengan santainya pula gua turunin lagi resleting jaket gua, trus langsn lempar ke jok belakang.. nglepasnya persis kaya kalau pas habis jogging, cuma bedanya, kalau waktu jogging biasanya gua masi pake tank top didalamnya,, kalau sekarang,, acara angin-anginan.. xixixi.. Gua nyalain mesin, nyalain AC, dan kembali gua rasakan nikmatnya hembusan sejuk mengguyur my titties huhuhu Mobil gua diparkir melintang, dan didepan gua banyak orang lalu lalang, tapi jelas2 mereka

tidak bisa melihat jelas kesini. Kaca mobil gua dilapisi windows film hitam pekat, dari belakang, samping, sampai kaca depan.. Masuk gigi mundur, dan langsung melaju menuju pos parkir,, dan disinilah tantangannya.. hehe.. sampai di pos parkir, gua cuma buka kaca sedikit banget.. maklum, gua sering ke kompleks ruko ini,,, kalo dia tahu gua telanjang dada, trus dia inget2 muka gua, bisa mati konyol lah gua.. haha Dan ternyata aman,, karcis sudah disusupkan ke sela2 jendela dan tampaknya si penjaga parkir tidak sadar kalau ada sepasang payudara menggantung indah disini hehe Keluar kompleks ruko, belok kiri, kemudian ambil kanan.. seharusnya kalau mau balik ke rumah belok kiri sih,, tapi gua sengaja mau jalan2 dulu Jam di dashboard menunjuk pukul 12.25, dan ini malam minggu. Pasti dijalanan masih rame anak2 klub pada nongkrong deh,, so,, gua banting stir kearah jalan protokol,, tujuan gua saat ini, merasakan sensasi bertelanjang dada ditengah lautan anak-anak nongkrong haha.. Masuk jalan protokol, puter balik ke arah barat.. disana biasanya banyak anak-anak klub motor/mobil yang suka nongkrong,, its a wonderful place maju terus lah pokoknya Sampai pertigaan pertama, gua kena lampu merah.. tapi jalanan berasa agak sepi Cuma ada 2 motor berhenti disamping kiri gua, plus 1 mobil ikut ngantri lampu merah dibelakang.. Sementara, hembusan dingin AC kembali gua rasakan diujung-ujung boobies huhu.. agak merinding rasanya, rasanya suasana malam ini makin hot deh.. Berhubung timer traffic light masih berada di angka 63,, gua jadi sempat kepikiran mencopot hot pant gua.. Lepas-Nggak,, Lepas-Nggak,,, gua smpat kepikiran bberapa saat,, dan akhirnya, gua putuskan untuk membuka kancing hotpant gua, menurunkan reslitingnya, kemudian memelorotkan satu2nya lapisan penutup itu kebawah huhu.. Yesss!! Akhirnya bagian bawah juga menghirup udara segar!! kata gua dalam hati sambil mengarahkan kisi-kisi AC kearah pangkal paha gua Timer traffick light menunjuk angka 11detik,, dan gua akhirnya memutuskan membebaskan hotpant gua yang masih nyangkut dimata kaki, menariknya keluar, dan memperlakukannya seperti jaket gua tadi.. hehe.. gua lempar hotpant gua ke jok belakang, kemudian menginjak pedal kopling dengan kaki yang bebas, dan melaju menuju area para anak nongkrong berkumpul huhu 1 perempatan lagi terlewati, & gua sudah berada dijalan yang cukup rame.. di kanan-kiri banyak mobil & motor yang diparkir, dengan para pemiliknya yang nongkrong disekitar situ,, dan gua benar-benar bugil disini,, huhu.. totally naked!! how exciting!!! Lagi-lagi jantung gua berdegup kencang begitu memasuki kawasan ini..

Gua jalan perlahan disini, kebetulan jalan disini satu arah,,, Gua kembali mengatur posisi hembusan AC,,, yang disisi kanan gua arahkan ke bawah (kearah paha gua), yang ditengah dashboard gua arahkan ke boobies. dan gua menikmati kebugilan gua disini,, bertelanjang bulat ditengah lautan manusia yang ramai dipinggir jalan. haha Didepan sudah perempatan lagi,, dan kayanya gua dapat lampu merah lg, soalnya emang sengaja gua tunggu lampu merahnya.. hehe.. Tapi kayanya perjalanan gua malam ini masih kurang hot.. kayanya orang2 itu bener-bener nggak sadar kalau ada tubuh bugil disini.. apa karena kaca film gua terlalu gelap ya?? Tapi kalau diapasang yang lebih terang, buntutbuntutnya malah gua yang gak brani bugil2an lg,, soalnya gua uda pnah pake yang agak terang dan gua malah parno.. haha So,, kita akhiri saja perjalanan malam ini,, putar kemudi ke kanan dan ngebut menuju kawasan sepi alias jalan lingkar jogja.. sampai jalan yang dituju, gw tekan pedal gas kuatkuat sambil pencet tombol power window disamping kanan gua.. gak cuma 1 tombol yang gua pencet,, gua buka kaca mobil gua sampe mentok ke bawah, empat-empatnya sekaliguss!! dan gak cuma itu, biar sekalian puas,, gua nyalain lampu kabin dibalik spion tengah, sama sekalian buka sunroof diatas kepala gua.. haha.. (tapi beraninya baru sambil ngebut dijalan lingkar yang sepi sih,, xixixi..).. Dan akhirnya acara angin segar untuk boobies & pussie malam ini diakhiri dengan agenda ngebut menuju rumah via ringroad, dengan posisi lampu kabin dinyalakan, semua jendela dan sunroof dibuka lebar,, dan gua bener2 menikamatinya.. hehe Bdw tiba2 gua pngn punya mobil convertible yah?? T_T
Narti
Aku sangat menyukai pergi dengan menggunakan mobil, terutama untuk daerah daerah yang belum pernah aku kunjungi dengan demikian aku dapat melihat banyak pemandangan alam serta juga untuk menjaga stamina tubuh. Karena dengan berkendaraan jarak jauh, pastilah dibutuhkan stamina yang tinggi dan ini aku sukai. Ada lagi hal hal kecil yang aku sukai karena dengan berkendaraan seorang diri, kadang kadang aku bisa mendapat rejeki berupa perempuan cantik yang kerap kali kutemui diperjalanan. Hal ini aku alami ketika suatu hari aku pergi ke Semarang dengan mengendarai Mercedesku, semuanya berjalan dengan lancar, aku sempat mampir dibanyak tempat untuk sekedar bersantai dan menikmati pemandangan alam. Tetapi tanpa diduga disatu jalan pintas ditengah hutan yang aku sendiri kurang mengenal, aku terjebak pohon roboh. Aku jadi kuatir, karena kota terakhir yang aku lewati sekitar 50 km dibelakangku, padahal saat itu hari sudah agak sore, dengan kesal aku keluar dari mobil dan menunggu sebentar, aku sudah hampir memutuskan untuk kembali kekota Pekalongan ketika kulihat ada sepeda motor datang

menghampiriku. Aku segera melambai lambaikan tangan memintanya berhenti. Ternyata penumpangnya adalah seorang pria dan wanita, si pria seorang laki laki dengan tubuh tinggi besar berkumis melintang dan wajah yang kasar sekali, rupanya adalah seorang polisi hutan, hal ini kulihat dari seragamnya, yang membuat aku berdebar adalah perempuannya. Si perempuan benar benar menarik, badannya montok, tinggi besar, berkulit putih bersih dan wajah yang menarik sekali. Hidung mancung, mata yang bulat dan bibir penuh menampilkan sensualitas seorang wanita. Si pria dengan tersenyum senyum yang aku lihat memuakkan sekali menanyakan apa keperluanku, kukatakan apa dia bisa membantu menyingkirkan pohon yang roboh itu, kukatakan kalau aku mau bayar berapa saja asal pohon dapat disingkirkan dan aku dapat meneruskan perjalanan. Dengan wajah yang dibuat sesopan mungkin dia menyatakan bahwa dia sanggup untuk mencari orang untuk meminggirkan pohon tersebut. Mendengar itu aku langsung mengeluarkan uang 200 ribu untuk kuberikan padanya.Kukatakan bahwa itu untuk uang muka, nanti kalau pohonnya sudah minggir akan aku beri lagi. Menerima uang itu dia segera bertindak, disuruhnya perempuan cantik yang rupanya isterinya itu untuk menunggu dan dia segera pergi dengan sepeda motornya. Aku bersorak girang karena ditinggal berdua dengan perempuan secantik ini ditengah hutan sepi, tetapi aku tak berani semberono karena aku belum mengerti bagaimana perempuan ini. Ternyata Narti nama isteri polisi hutan itu gampang diajak bicara bahkan sedikit genit, apalagi ketika kutanya hal yang agak agak berbau porno, berkali kali dia tertawa terkikik mendengar perkataanku. Aku benar benar suka dengan perempuan ini, giginya putih dan rata sekali, susunya besar sekali, karena kuperhatikan dari tempat dudukku, susunya yang putih itu kelihatan menonjol sekali. Suasana yang sepi membuat nafsuku jadi naik keotak, kontolku juga ngaceng tapi aku masih kuatir kalau Narti menolak. Akhirnya tanpa pikir panjang aku pura pura kencing dipohon dekat mobilku, aku yakin kalau dia memperhatikan aku, karena cara kencingku sengaja sedikit kuarahkan padanya. Benar saja Narti tertawa melihat kontolku dan dia melengos, melihat reaksinya itu aku makin berani, secara sengaja aku mendekati dia sementara kontolku yang ngaceng masih kukeluarkan dari celana. "Apa punya suamimu sebesar ini Nar ?" tanyaku penuh nafsu. Narti mendorong badanku sambil berkata "Lebih besar lagi, sana Pak, nanti ada yang lihat lho !" Aku tertawa sambil memasukkan kontolku, aku menganggap kata katanya tadi itu hanya omong kosong, aku yakin dia juga suka denganku, hanya mungkin dia masih takut kalau ketahuan suaminya yang memang wajahnya galak dan licik itu. Dalam hati aku sudah memutuskan untuk malam ini bermalam dirumahnya saja, karena aku benar benar ingin menikmati tubuh Narti yang montok itu. Rupanya keberuntungan masih berpihak kepadaku, karena ternyata ketika Hartono suami Narti kembali, dia belum menemukan cukup orang untuk memindahkan pohon itu, mungkin agak malam baru ada cukup banyak orang. Dengan nekad aku bertanya apakah aku bisa bermalam saja dirumahnya agar besok pagi bisa melanjutkan perjalanan Seperti yang kuduga, dengan senang hati Hartono mengajak aku kerumahnya, aku menarik nafas lega, ketika aku menoleh ke Narti, Narti yang berdiri dibelakang suaminya tersenyum mendengar aku akan bermalam dirumahnya. Kukeluarkan lagi uang 200 ribu dan kuberikan pada Narti dengan pesan untuk belanjanya. Narti ragu ragu menerima, tetapi aku paksa saja. Hartono sangat senang, dia terus tersenyum dan berbicara panjang lebar, tetapi tak bisa menghilangkan kesan kejam dan licik dari wajahnya. Aku sendiri sempat heran, kenapa orang secantik Narti bisa dikawin pria seperti Hartono ini. Kuiikuti sepeda motor Hartono yang bergoncengan dengan Narti untuk menuju rumahnya,

ternyata rumah mereka agak jauh ditengah hutan jati yang menjadi tanggung jawab Hartono sebagai polisi hutan. Rumahnya cukup besar tetapi masih terbuat dari bambu, dikelilingi oleh pohon jati yang besar. Meskipun terpencil, ternyata rumah itu memiliki tenaga listrik yang berasal dari diesel kecil. Menurut Hartono tenaga listrik diperlukan untuk komunikasinya dengan pusat pengawasan hutan di Semarang. Aku mendapat kamar yang kecil dengan dinding dari bambu, tetapi keadaan kamar itu cukup rapi dan bersih. Ketika aku dan Hartono sedang berbincang, kulihat Narti lewat dengan hanya memakai sarung yang menutupi buah dadanya, aku menelan ludah melihat kemulusan pundaknya serta susunya yang menyembul keluar dari balik sarung itu, aku pura pura tak memperhatikannya, karena aku kuatir kalau Hartono jadi curiga kepadaku. Aku terus mengharap agar Hartono mau keluar sebentar agar aku bisa mencari alasan untuk mengintai Narti yang sedang mandi tetapi Hartono terus saja berbicara tanpa henti. Akhirnya aku jadi bosan dan putus asa, aku memperkirakan bahwa tak mungkin aku dapat menikmati tubuh Narti karena suasananya yang tak memungkinkan ini. Sampai Narti masuk kembali setelah dari kamar mandi, aku masih terus bercakap dengan Hartono. Narti kuperhatikan sedang mempersiapkan makan malam untuk kami. Makan malam sederhana sekali tetapi Narti rupanya pandai memasak dan lagi pula dia ingin menjamuku sehingga segala persediaan makanan dikeluarkan. Selesai makan aku segera minta permisi untuk tidur. Rupanya kamarku bersebelahan dengan kamar Narti dan Hartono, karena tadi kulihat Narti keluar masuk kekamar sebelah begitu juga dengan Hartono. Setelah kurapatkan pintu aku duduk diatas tempat tidur sambil melamun, saat itulah pandanganku tertambat pada sebuah lubang kecil didinding bambu pembatas kamarku dan kamar Hartono, letaknya agak tinggi sehingga aku harus mencari kursi untuk memanjat. Setelah aku yakin bahwa pintu kamarku telah terkunci rapat, barulah aku berani mengintai kekamar sebelah, aku jadi berdebar debar, karena aku bisa melihat pemandangan dikamar sebelah dengan sangat leluasa sekali, aku dapat melihat tempat tidur mereka dan semua bagian kamar itu tanpa ada yang tersisa. Kubayangkan seandainya nanti Narti berganti pakaian atau apa dikamar itu, pasti aku dapat melihatnya dengan jelas. Kuperhatikan Narti dan Hartono masih bercakap cakap diluar, kadang kadang kudengar tertawa Narti yang merangsang, mungkin mereka sedang bercumbu, agar mereka tak curiga kalau aku tak tidur, maka aku sengaja mematikan lampu kamarku. Tak lama kemudian kudengar pintu kamar Hartono dibuka dan langkah kaki memasukinya, aku segera berjingkat menaiki kursiku dan mengintai, kulihat Narti didalam kamar sendirian, entah dimana Hartono, tetapi tak lama kemudian Hartono masuk kekamar dan menyusul Narti yang sudah berbaring diatas tempat tidur itu. Hartono kulihat merangkul Narti dan berbisik bisik. Setelah itu keduanya bangkit dari berbaringnya dan sama sama membuka pakaiannya, hatiku berdebar keras. Seperti yang kuduga, mereka akan bersetubuh ! Tubuh Narti yang telanjang bulat betul betul membuat liurku bertetesan, mulus dan montok sekali, susunya seperti semangka dengan pentil yang kecil sekali sementara perutnya langsing dengan selangkangan yang penuh oleh jembut hitam keriting. Tetapi yang paling membuat aku takjub adalah Hartono ! Kontol Hartono benar benar hebat, panjangnya melebihi panjang kontolku ditambah lagi dengan ujungnya yang membengkak seperti jamur besar sekali. Aku membayangkan betapa leganya Narti merasakan tusukan kontol sebesar itu. Dasar orang desa, setelah sama sama telanjang, Narti langsung tidur mengangkang sambil tangannya merentangkan liang nonoknya sendiri, Hartonopun langsung menindih Narti dan menuntun kontolnya keliang nonok Narti. Aku

melotot melihat nonok Narti yang merah tua menganga menanti kontol Hartono, begitu kontol Hartono masuk kedalam liangnya, Narti langsung mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil direntangkan lebar lebar, rupanya dia juga merasa kalau kontol suaminya terlalu gede. Dengan sangat cepat Hartono menggerak gerakkan pantatnya maju mundur sementara Narti dengan cepat pula memutar mutar pantatnya mengimbangi gerakan Hartono ! Suara Narti yang merintih rintih membuat aku jadi makin bernafsu, kontolku rasanya tak tahan ingin mencari nonok untuk kusetubuhi, tetapi sungguh sial nasibku, ditengah hutan tanpa nonok, aku justru harus menyaksikan adegan persetubuhnan yang seperti ini. Hartono dengan kasar terus merojok nonok Narti sambil mulutnya menciumi susu Narti, tiba tiba saja Hartono melenguh seperti kerbau yang digorok dan gerakan pantatnya mengejang ngejang. Aku yakin kalau Hartono sudah memuntahkan air maninya. Setelah berdiam diri beberapa saat, Hartono langsung menggulingkan dirinya kesamping sehingga kontolnya yang sekarang sudah mengkerut itu tampak menjijikkan karena penuh dengan lendir air maninya. Kuperhatikan wajah Narti ternyata tak sedikitpun terlihat kepuasan diwajah itu, justru yang terlihat adalah rasa kecewa, rupanya Narti belum berhasil mencapai kepuasannya sementara Hartono sudah loyo. Narti berbaring terlentang dengan kakinya terkuak lebar menampakkan nonoknya yang berkilau karena lendir dari kontol Hartono, tangannya diam diam menggosok gosok susunya. Hartono sendiri, tampaknya tak perduli dengan isterinya, ia menarik selimut dan langsung tidur dengan membelakangi Narti. Aku merasa inilah saatnya bagiku untuk beraksi, tetapi apakah aku harus masuk kekamar Narti, bukankah itu terlalu berbahaya. Narti sendiri kelihatan melamun sambil tetap berbaring telanjang bulat, ia menggoyang goyangkan tubuh suaminya tetapi tak ada reaksi dari Hartono, dengan kecewa ia memukul punggung Hartono dan tiba tiba saja ia bangkit dan turun dari tempat tidurnya, diraihnya sarung diatas tempat tidur serta dilibatkan kebadannya lalu ia keluar dari kamarnya. Aku berdebar, apakah mungkin ia akan masuk kekamarku ini ? tetapi dugaanku keliru, rupanya Narti menuju kebelakang rumahnya untuk membersihkan nonoknya. Akupun segera menyusul keluar dari kamarku, saat itu aku hanya memakai sarung yang dipinjamkan Narti sebagai selimut, didalamnya akupun tak memakai apa apa. Kontolku yang ngaceng membuat sarungku jadi menonjol seperti orang sunatan. Nafsuku yang sudah memuncak membuat aku jadi nekad luar biasa disamping aku yakin sekali bahwa Narti pasti mau main denganku, permasalahannya bagaimana agar suaminya tidak tahu. Ketika aku sampai dekat sumur, Narti baru saja keluar dari kamar mandinya, aku langsung memeluknya sambil berbisik agar jangan ribut. Narti terkejut melihatku, tetapi seperti yang sudah kuduga, ia diam saja ketika tanganku meremas remas susunya serta juga nonoknya yang masih basah itu, ketika kubisikkan agar dia menungging supaya bisa memasukkan kontolku, Narti menurut saja, dengan posisi seperti itu, kontolku dengan lancar berhasil memasuki liang surga Narti, rasanya peret sekali karena Narti baru saja mencucinya, aku meraba raba mencari susunya dan setelah ketemu langsung kuremas dengan penuh nafsu. Narti sendiri juga membantu rasa nikmatku dengan mengelus elus buah pelirku sementara dia sendiri asyik memutar mutar pantatnya. Tiba tiba Narti berbisik "Pak ayo dikamar Bapak saja, nanti kelihatan orang kalau disini !" Dengan penuh rasa kuatir aku bertanya "lalu kalau suamimu bangun gimana ?" Narti menjawab, "tak mungkin dia bangun, kalau tidur seperti orang mati " Dengan mengindap indap aku dan Narti masuk kekamarku, dari omongan Narti aku yakin kalau Narti seringkali memasukkan laki laki dalam rumahnya, jadi

meskipun kelihatannya sangar, ternyata Hartono seorang pria yang bodoh, aku tersenyum membayangkan hal ini. Dikamar, Narti langsung berbaring dan menguakkan pahanya, kontolku dituntunnya memasuki nonoknya, aku sangat menyukai suasana seperti ini, perempuan montok dengan tubuh putih mulus, nonok yang merekah lebar siap menerima serangan kontolku. Begitu kontolku masuk semua, Narti menyuruhku diam dan dia yang mulai memutar mutar pantatnya pelan pelan tetapi mantap sekali. Aku memejamkan mata merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Narti ini, kuciumi bibirnya dan dia juga balas menggigiti bibirku sambil memeluk badanku. Rasanya masih baru beberapa menit Narti memutar pantatnya ketika tiba tiba ia mencakar punggungku dan merintih pelan. Kurasakan nonoknya mengejang saat ia memuntahkan kenikmatannya. Aku diam saja, karena memang aku kepengen dia puas barulah nanti aku yang akan mencari kepuasanku sendiri. Benar saja, setelah dirasanya sudah lega dan puas, Narti menyuruhku mulai menggoyangkan kontolku, aku sendiri sudah sekian lama menahan nafsuku yang bergejolak, maka tak lama aku sudah memuntahkan air maniku, kutancapkan dalam dalam kontolku supaya benar benar dapat kunikmati kepuasan ini. Narti terus mengelus elus punggungku dan menciumi aku. Rupanya dia benar benar senang denganku disamping dia berhasil mencapai kepuasannya. Saat itulah dia berbisik kepadaku, agar supaya besok pagi berpura pura badan sakit semua, pasti nanti Hartono menyuruh Narti untuk memijat, saat itu bisa main sekali lagi. Kucabut kontolku dan kuminta Narti kembali kekamarnya setelah sebelumnya kuberi uang 300 ribu, dengan pelan pelan Narti keluar kamarku dan menuju sumur untuk cuci lagi. Aku menutup pintu kamarku dan tidur pulas yang kuingat adalah besok pagi harus berpura pura sakit agar supaya Narti bisa memijatku, dan begitu Hartono berangkat, aku bisa menggarap Narti dengan bebas ! Paginya aku terbangun setelah mendengar suara orang berbicara dikamar sebelah, ketika kulirik jam tanganku rupanya hari sudah pukul 7 pagi, aku segera meloncat dari tempat tidurku, tetapi aku segera insaf bahwa pagi ini aku harus berpura pura sakit agar supaya bisa dipijat Narti. Dengan bergaya seolah olah kelelahan aku keluar dari kamar dan langsung duduk dikursi meja makan, Hartono segera menyambutku dengan ucapan selamat paginya yang memuakkan, Narti sendiri juga menyapaku dengan menanyakan apakah tidurku nyenyak. Aku menjawab bahwa badanku sakit semua entah karena apa. Seperti yang sudah diperkirakan Narti, dengan cepat Hartono menyatakan kalau sebaiknya aku tiduran saja biar nanti dipijit isterinya. Aku hanya mengangguk seolah olah kesal dengan keadaanku, padahal dalam hatiku aku bersorak gembira. Kulirik Narti yang hanya memakai sarung dilibatkan diatas buah dadanya itu, aku yakin dia tak memakai apapun dibalik sarungnya itu, aku meneguk teh yang tersedia dimeja dan segera kembali kekamarku. Sedang aku berbaring melamun menantikan Hartono berangkat, tiba tiba kudengar suara Hartono dan Narti yang berbisik bisik dikamar sebelah. Ketika kuintip, astaga...... benar benar jago si Hartono itu, karena ternyata dia sempat lagi mendayung nonok Narti. Dengan hanya memelorotkan celana panjangnya sementara Narti telanjang bulat, dengan rakus Hartono menyodok nyodokkan pantatnya sementara tangannya meremas remas pantat isterinya yang bulat dan montok itu. Kaki Narti tergantung diatas pundaknya. Aku hanya dapat berkata dalam hati, awas nanti kalau kamu sudah pergi pasti akan kulumat habis isterimu itu. Tak lama kemudian kudengar Hartono mengetuk pintu kamarku dan ketika kupersilahkan

masuk, Hartono masuk bersama Narti yang kulihat tambah cantik dan segar setelah disetubuhi suaminya itu. Dengan sopan Hartono pamit dan sekaligus juga mengantarkan Narti yang akan memijat aku. Dengan berpura pura menahan rasa sakit, aku mengambil dompetku dan memberikan lagi uang pada Hartono sebanyak 500 ribu, kusuruh dia memakainya untuk memindahkan pohon yang menghalangi jalan itu. Mata Hartono mendelik melihat begitu banyak uang yang kuberikan, ia segera bergegas berangkat tanpa menoleh lagi pada isterinya, aku yakin kalau uang tersebut paling hanya diberikan sebagian kecil pada mereka yang memotong pohon, sisanya masuk kantong pribadinya. Kutoleh Narti yang saat itu sudah memakai daster, tanpa basa basi aku langsung merengkuh tubuh Narti yang montok itu kedalam pelukanku dan langsung kucium bibirnya yang penuh itu. Narti memeluk tubuhku erat erat, Narti sangat pandai memainkan lidahnya, terasa hangat sekali ketika lidahnya menyelusup diantara bibirku. Tanganku asyik meremas susu Narti yang kencang dan padat itu, pentilnya kupuntir puntir membuat Narti memejamkan matanya karena geli. Dengan sigap aku menarik daster Narti, dan seperti biasanya Narti sudah tak mengenakan apa apa dibalik dasternya itu. Tubuh Narti benar benar aduhai dan merangsang seleraku, tubuhnya tinggi besar, putih dengan susu yang luar biasa montoknya ditambah nonok yang berjembut lebat mencembung. Kalau tadi malam aku tak terlalu jelas melihatnya, maka kali ini aku benar benar puas, ketika kubentangkan bibir nonoknya, itilnya yang sebesar biji salak langsung menonjol keluar. ketika kusentuh dengan lidahku, Narti langsung menjerit lirih. Aku langsung mencopot celanaku sehingga kontolku langsung mengangguk angguk bebas. Ketika kudekatkan kontolku kewajah Narti, dengan sigap pula Narti menggenggamnya dan kemudian mengulumnya. Kulihat bibir Narti yang tebal itu sampai membentuk huruf O karena kontolku yang besar itu hampir seluruhnya memadati mulutnya, Narti sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum kontolku ia berkali kali melirik kearahku. Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis Narti ini. Mungkin posisiku kurang tepat bagi Narti yang sudah berbaring itu sementara aku sendiri masih berdiri disampingnya, maka Narti melepaskan kulumannya dan menyuruhku berbaring disebelahnya. Setelah aku berbaring dengan agak tergesa gesa Narti merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling kontolku, mulai dari pelirku, terus naik keatas sampai keliang kencingku semuanya dijilatinya, bahkan Narti dengan telaten menjilati liang duburku yang membuat aku benar benar blingsatan. Aku hanya dapat meremas remas susu Narti serta merojok nonoknya dengan jariku. Aku sudah tak tahan dengan kelihaian Narti ini, kusuruh dia berhenti tetapi Narti tak memperdulikanku malahan ia makin lincah mengeluar masukkan kontolku kedalam mulutnya yang hangat itu. Tanpa dapat dicegah lagi air maniku menyembur keluar yang disambut Narti dengan pijatan pijatan lembut dibatang kontolku seakan akan dia ingin memeras air maniku agar keluar sampai tuntas. Ketika Narti merasa kalau air maniku sudah habis keluar semua, dengan pelan pelan dia melepaskan kulumannya, sambil tersenyum manis ia melirik kearahku. Kulihat ditepi bibirnya ada sisa air maniku yang masih menempel dibibirnya, sementara yang lain rupanya sudah habis ditelan oleh Narti. Narti langsung berbaring disampingku dan berbisik "Bapak diam saja ya, biar saya yang memuaskan Bapak !" Aku tersenyum sambil menciumi bibirnya yang masih berlepotan air maniku sendiri itu. Dengan tubuh telanjang bulat Narti mulai memijat badanku yang memang jadi agak loyo juga setelah tegang untuk beberapa waktu itu, pijatan Narti benar benar nyaman, apalagi ketika tangannya mulai mengurut kontolku yang setengah ngaceng itu, tanpa dihisap atau diapa apakan, kontolku ngaceng lagi, mungkin

karena memang karena aku masih kepengen main beberapa kali lagi maka nafsuku masih bergelora. Aku juga makin bernafsu melihat susu Narti yang pentilnya masih kaku itu, apalagi ketika kuraba nonoknya ternyata itilnya juga masih membengkak menandakan kalau Narti juga masih bernafsu hanya saja penampilannya sungguh kalem . Melihat kontolku yang sudah tegak itu, Narti langsung mengangkangi aku dan menepatkan kontolku diantara bibir nonoknya, kemudian pelan pelan ia menurunkan pantatnya sehingga akhirnya kontolku habis ditelan nonoknya itu. Setelah kontolku habis ditelan nonoknya, Narti bukannya menaik turunkan pantatnya, dia justru memutar pantatnya pelan pelan sambil sesekali ditekan, aku merasakan ujung kontolku menyentuh dinding empuk yang rupanya leher rahim Narti. Setiap kali Narti menekan pantatnya, aku menggelinjang menahan rasa geli yang sangat terasa diujung kontolku itu. Putaran pantat Narti membuktikan kalau Narti memang jago bersetubuh, kontolku rasanya seperti diremas remas sambil sekaligus dihisap hisap oleh dinding nonok Narti. Hebatnya nonok Narti sama sekali tidak becek, malahan terasa legit sekali, seolah olah Narti sama sekali tak terangsang oleh permainan ini. Padahal aku yakin seyakin yakinnya bahwa Narti juga sangat bernafsu, karena kulihat dari wajahnya yang memerah, serta susu dan itilnya yang mengeras seperti batu itu. Aku makin lama makin tak tahan dengan gerakan Narti itu, kudorong ia kesamping sehingga aku dapat menindihinya tanpa perlu melepaskan jepitan nonoknya. Begitu posisiku sudah diatas, langsung kutarik kontolku dan kutekan sedalam dalamnya memasuki nonok Narti. Narti menggigit bibirnya sambil memejamkan mata, kakinya diangkat tinggi tinggi serta sekaligus dipentangnya pahanya lebar lebar sehingga kontolku berhasil masuk kebagian yang paling dalam dari nonok Narti. Rojokanku sudah mulai tak teratur karena aku menahan rasa geli yang sudah memenuhi ujung kontolku, sementara Narti sendiri sudah merintih rintih sambil menggigiti pundakku. Mulutku menciumi susu Narti dan menghisap pentilnya yang kaku itu, ketika Narti memintaku untuk menggigiti susunya, tanpa pikir panjang aku mulai menggigit daging empuk itu dengan penuh gairah, Narti makin keras merintih rintih, kepalaku yang menempel disusunya ditekan keras keras membuatku tak bisa bernafas lagi, saat itulah tanpa permisi lagi kurasakan nonok Narti mengejang dan menyemprotkan cairan hangat membasahi seluruh batang kontolku. Ketika aku mau menarik pantatku untuk memompa nonoknya, Narti dengan keras menahan pantatku agar terus menusuk bagian yang paling dalam dari nonoknya sementara pantatnya bergoyang terus diatas ranjang merasakan sisa sisa kenikmatannya. Dengan suara agak gemetar merasakan kenikmatannya, Narti menanyaiku apakah aku sudah keluar, ketika aku menggelengkan kepala, Narti menyuruhku mencabut kontolku. Ketika kontolku kucabut, Narti langsung menjilati kontolku sehingga cairan lendir yang berkumpul disitu menjadi bersih. Kontolku saat itu warnanya sudah merah padam dengan gagahnya tegas keatas dengan urat uratnya yang melingkar lingkar disekeliling batang kontolnya. Narti sesekali menjilati ujung kontolku dan juga buah pelirku. Ketika Narti melihat kontolku sudah bersih dari lendir yang membuat licin itu, dia kembali menyuruhku memasukkan kontolku, tetapi kali ini Narti yang menuntun kontolku bukannya keliang nonoknya melainkan keliang duburnya yang sempit itu. Aku menggigit bibirku merasakan sempit serta hangatnya liang dubur Narti, ketika kontolku sudah menyelusup masuk sampai kepangkalnya, Narti menyuruhku memaju mundurkan kontolku, aku mulai menggerakkan kontolku pelan pelan sekali. Kurasakan betapa ketatnya dinding dubur Narti menjepit batang kontolku itu, terasa menjalar diseluruh batangnya bahkan terus menjalar sampai keujung kakiku. Benar benar rasa nikmat yang luar biasa, baru beberapa kali aku menggerakkan kontolku, aku menghentikannya karena aku kuatir kalau

air maniku memancar, rasanya sayang sekali jika kenikmatan itu harus segera lenyap. Narti menggigit pundakku ketika aku menghentikan gerakanku itu, ia mendesah minta agar aku meneruskan permainanku. Setelah kurasa agak tenang, aku mulai lagi menggerakkan kontolku menyelusuri dinding dubur Narti itu, dasar sudah lama menahan rasa geli, tanpa dikomando lagi air maniku tiba tiba memancar dengan derasnya, aku melenguh keras sekali sementara Narti juga mencengkeram pundakku. Aku jadi loyo setelah dua kali memuntahkan air mani yang aku yakin pasti sangat banyak. Tanpa tenaga lagi aku terguling disamping tubuh Narti, kulihat kontolku yang masih setengah ngaceng itu berkilat oleh lendir yang membasahinya. Narti langsung bangun dari tempat tidur, dengan telanjang bulat ia keluar mengambil air dan dibersihkannya kontolku itu, aku tahu kali ini dia tak mau membersihkannya dengan lidah karena mungkin dia kuatir kalau ada kotorannya yang melekat. Setelah itu, disuruhnya aku telungkup agar memudahkan dia memijatku, aku jadi tertidur, disamping karena memang lelah, pijatan Narti benar benar enak, sambil memijat sesekali dia menggigiti punggungku dan pantatku. Aku benar benar puas menghadapi perempuan satu ini. Aku langsung memikirkan bagaimana caranya agar perempuan ini bisa ikut aku ke Jakarta dan melayani aku sepuas puasnya, bila perlu biar dia kupekerjakan dirumahku agar supaya aku dapat setiap waktu menikmatinya. Nanti aku akan bicara pada suaminya, karena kunci utama adalah suaminya, kalau suaminya aku beri pekerjaan yang enak, pasti isterinya juga ikut.............................. Aku tertidur cukup lama, ketika terbangun badanku terasa segar sekali, karena selama aku tidur tadi Narti terus memijit tubuhku. Ketika aku membalikkan tubuhku, ternyata Narti masih saja telanjang bulat, kontolku mulai ngaceng lagi melihat tubuh Narti yang sintal itu, tanganku meraih susunya dan kuremas dengan penuh gairah, Nartipun mulai meremas remas kontolku yang tegang itu. Entah darimana, ia memberikan semacam minyak untuk menggosok kontolku, terasa hangat dibatang kontolku. Ketika kutanya minyak apa itu, Narti menjawab bahwa itu minyak bulus, remasan Narti yang lembut membuat kontolku makin membengkak, mungkin juga akibat pengaruh minyak bulus itu. Sedang asyik asyiknya Narti mengurut kontolku, tiba tiba kudengar suara perempuan memanggil manggil nama Narti sambil mengetuk pintu depan. Aku agak terkejut, tetapi kulihat Narti tenang saja, " itu Luluk tetangga sebelah, biar saya bukakan dulu" Setelah meraih sarung dan dilibatkan ketubuhnya, Narti segera keluar untuk membukakan pintu, aku diam saja didalam kamar sambil memandang kontolku yang sudah tegak lurus seperti Monas itu. Tak berapa lama kudengar suara pintu ditutup dan langkah kaki menuju kedalam, hatiku lega karena kupikir Narti akan berbincang lama dengan tamunya itu. Tetapi diluar dugaanku, Narti masuk kembali kekamarku sambil mengajak tamunya tadi, seorang gadis muda, aku terduduk kaget, karena tak menyangka. Narti dan gadis muda tadi hanya tersenyum melihat aku terduduk itu. Melihat ini semua, otakku bekerja cepat, kalau Narti berani mengajak perempuan lain kekamarku padahal dia tahu aku sedang telanjang bulat, pasti perempuan ini juga bisa disantap ! Tetapi yang membuat aku jadi bingung adalah perempuan ini kelihatannya masih remaja sekali, umurnya paling belum 17 tahun, apakah dia sudah berpengalaman ? Narti memperkenalkan padaku gadis remaja itu katanya namanya Luluk, dia tinggal didekat rumah Narti dan Luluk juga pandai memijat, sambil berkata Narti mengedipkan matanya. Aku mulai yakin bahwa gadis remaja yang kelihatan segar sekali ini rupanya juga doyan kontol. Aku hanya tersenyum sambil memperhatikan Luluk yang hanya tersenyum senyum itu. Wajahnya cantik dengan hidung yang bangir dan

badan langsing tetapi padat sekali. Pakaiannya sederhana, tetapi tak dapat menyembunyikan kecantikan alamiahnya. Aku tak berani bertanya macam macam pada Narti, tetapi aku menduga bahwa Luluk pasti sudah pernah dimakan oleh Hartono suami Narti, bahkan paling tidak mereka sering main bertiga sehingga Narti tak canggung mengajak Luluk masuk. Memikir ini semua aku berkata, "Sebentar ya Luk, kamu duduk dulu, saya mau meneruskan hajat yang belum selesai" langsung aku tarik tangan Narti dan kubuka jariknya. Narti hanya menurut saja dan segera terlentang ditempat tidur sambil mengangkat kakinya lebar lebar, ketika kulirik Luluk, kulihat dia duduk dikursi sambil memperhatikan Narti. Tanpa sungkan lagi aku langsung mengarahkan kontolku keliang nonok Narti dan sekali tekan kontolku amblas. Narti merintih rintih sambil memutar mutar pantatnya, sementara tangannya memeluk pinggangku erat erat. Aku dengan penuh nafsu menggigiti susu Narti yang kenyal itu, nafsuku benar benar memuncak, kurasakan peretnya nonok Narti menjepit kontolku, berkali kali Narti berbisik katanya kontolku bertambah mekar. Aku diam saja karena kurasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Seperti yang sudah kuduga, Narti tak dapat menahan nafsunya lagi, dia tiba tiba saja mengerang dan mengejang, kurasakan nonoknya menjepit kontolku keras sekali dibarengi dengan licinnya liang nonok Narti. Rupanya Narti keok, aku yang sedang tanggung meneruskan genjotanku agar kenikmatanku juga segera tiba, tetapi Narti menahan pantatku sehingga aku tak dapat bergerak. Saat itu Narti berkata kepada Luluk "Luk, ayo ikut, kok diam saja !" Ketika kulirik Luluk, kulihat wajahnya merah padam, entah malu entah menahan nafsunya, yang jelas mendengar ajakan Narti dia langsung berdiri dan membuka pakaiannya. Aku menelan ludah melihat Luluk telanjang bulat didepanku, susunya putih dan besar sekali untuk remaja seusianya, kencang dengan pentil yang mendongak keatas. Perutnya rata dengan bukit nonok yang mencembung dihiasi jembut yang cukup tebal. Begitu mendekat Luluk langsung menjilati liang nonok Narti dari belakang, padahal kontolku masih tertanam diliang nonok itu. Kulihat Narti memejamkan matanya sambil berbisik, "ayo pak Luluk sudah gatal, cepat tiduri dia !" Tanpa menunggu dua kali aku mencabut kontolku dan turun dari tempat tidur, Luluk hanya tersenyum melihat aku mencabut kontolku, tetapi dia kembali asyik menjilati bibir nonok Narti. Melihat posisinya yang agak menungging, maka aku berjongkok dan mendekati Luluk dari belakang, nonok Luluk hanya berupa garis panjang agak kemerah merahan, tanpa disuruh aku langsung menjilatinya, merasakan jilatanku, Luluk langsung mengangkangkan kakinya sehingga mulutku lebih mudah mencapai bibir nonoknya, bahkan sampai keitilnya yang sudah kaku itu. Aku yang sudah hampir "muntah" merasa tak tahan lagi, langsung saja ku genggam tongkat wasiatku dan kutusukkan kenonok Luluk. Nonok Luluk yang sudah basah dengan mudah menelan kontolku yang termasuk besar itu, namun meskipun demikian, nonok Luluk tetap seolah olah menggenggam kontolku dan sepertinya meremas remasnya, sungguh sungguh nikmat, sampai sampai aku tak berani menggerakkan pantatku lagi karena kuatir kalau spermaku muncrat. Dalam hal nonok, aku harus mengakui bahwa kepunyaan Luluk lebih enak daripada kepunyaan Narti, tetapi kalau dari segi seksinya, tetap Narti lebih meyakinkan. Kuremas remas susu Luluk yang kenyal itu, Luluk hanya diam saja dan mulutnya tetap asyik menjilati nonok Narti , aku kagum pada Luluk yang mampu memuaskan dua orang sekaligus, pasti ini didikan Narti ! Benar saja tak lama kemudian Narti merintih keras sambil menggerak gerakkan kepalanya, rupanya ia sudah mencapai klimaksnya. Aku melihat semua ini jadi tak tahan, tanpa dapat kucegah lagi, spermaku memancar keluar dengan derasnya menghantam dinding nonok Luluk. Aku benar benar lelah, tenagaku terkuras habis, tanpa memperdulikan Luluk lagi,

aku langsung mencabut kontolku sehingga air maniku meleleh keluar dari liang nonok Luluk, aku langsung membaringkan diriku disamping Narti dan memejamkan mataku untuk tidur, aku rasanya sudah tak perduli lagi dengan Hartono, biarpun dia saat ini pulang aku tetap akan tidur dan menghilangkan penat disekujur badanku ini. Tanpa kuduga, dengan lemah lembut kedua perempuan yang sudah memuaskan aku itu sama sama memijati tubuhku. Narti memijat punggungku sedang Luluk memijati kakiku. Aku merasa seperti dalam harem saja, tanpa terasa aku sudah lelap dan tertidur menikmati semua rejekiku ini...............

1. kontrakan birahi
Kontrakan Birahi

Dek, ayo buruan sebelum aku kesiangan kata mas Andri, suamiku. Dia berdiri di samping meja makan yang telah bersih dari peralatan makan, sambil mengurut perlahan batang penisnya. Iya aku datangdasar tikus hutan . Candaku sambil tertawa. Aku letakkan piring dan gelas kotor di dapur, lalu aku kembali kearah ruang makan. Aku lepas cd yang membungkus vaginaku dan aku lempar ke atas tumpukan cucian kotorku. Cd itu adalah cd terakhirku, karena semua cd yang aku miliki belum sempat aku cuci. Sekarang, satu-satunya baju yang masih menempel di tubuhku adalah daster batik berbelahan dada rendah yang menggantung sepanjang separuh pahaku. Adalah suatu rutinitas, hampir setiap pagi aku harus melayani nafsu suamiku yang menggebu-gebu. Nafsu seks yang seolah-olah tak pernah ada habis-habisnya. Sepertinya, yang ada diotaknya ketika ada aku, hanyalah tentang seksngentotmake lovengewe. Hanya itu saja. Aku, sebagai istrinya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkat yang aku anggap lucu ini. Aku mendekat, sambil menurunkan tali pundak daster miniku. Daster itu meluncur turun dengan cepat, dan langsung menampakkan kepolosan tubuh putihku. Putingku telah ereksi, dan vaginaku juga mulai basah. Dikecupnya kening, pipi, hidung, leher dan bibirku. Karena aku mudah sekali terbakar nafsu birahi, tak perlu menunggu terlalu lama untuk pemanasan. Langsung saja lidah kami bergulat. Tangan kiri mas Andri mulai memelintir dan meremas putting payudaraku, dan tangan kanannya merogoh vaginaku dari depan. Aku pun tak mau tinggal diam, aku raih batang penisnya yang sudah menegang dengan kedua tanganku dan aku kocok penis mas Andri, naik turun dengan cepat. Memek kamu cepet sekali basah dek Kamu dah sange ya sayang? tanyanya sambil tersenyum. Ya iyalah. Siapa coba yang ga sange klo jari mas mengobok-obok memek adek kayak gitu.. Mas Andri tersenyum, ia menatap wajahku yang sudah mulai memerah sayu. Mas Andri mendadak menghentikan gulat lidahnya, dan mengarahkan mulutnya ke payudaraku. HAP. Dia langsung mencaplok dada kananku. Disedotnya kuat-kuat, lidahnya menari lincah diatas putingku. Geli. Tak lama, mulutnya pun pindah ke payudaraku yang kiri. HOP. Annnnggg kali ini giginya ikut bermain, dengan menggigit perlahan puttingku yang mulai mengeras. Owhh sssshh Aku hanya bisa mendesis menerima semua perlakuannya. Mas, sekarang ya. Bisikku lirih. Aku sudah tak tahan. Mas Andri mengangguk -

anggukkan kepalanya. Tubuh telanjangku dibalik menghadap ke arah meja makan dan ia mendekap tubuh mungilku dari belakang. Walau sudah berubah posisi, kedua tangannya masih saja menggerayangi tubuhku. Tangan kiri meremas perlahan payudaraku, dan tangan kanan mencolokkan beberapa jemari gemuknya ke dalam vaginaku. Aku merasakan penisnya berada tepat di belahan bokongku, digesek-gesekkannya penis itu dengan penuh perasaan. Mas.. ayo. Dimasukkin Adek udah nggak kuat lagi. rengekku memelas. Mengerti akan hasratku yang tak bisa aku tahan lagi, mas Andri lalu mendorong pundakku ke depan dan bertumpu pada meja makan. Lebarin kakimu dikit dek. Nah gitu Aku terperanjat ketika merasakan, tangan kanan suamiku mencoblos perlahan vaginaku dari arah pantat. Pemanasan katanya menenangkanku. Disodok-sodokkan jemari gemuknya beberapa kali di vaginaku. Cairanku membanjir. Dengan perlahan, mas Andri mulai mengarahkan kepala penisnya kearah vaginaku. Digesek-gesekkan batang penis itu diluar bibir kemaluanku. Ia berusaha melumasi seluruh batang penisnya dengan cairan vaginaku. Mas Andri mengambil ancang-ancang. Kurasakan kepala penisnya di antara bulatan bokongku. Perlahan ia mulai mendorong batang penisnya dan mulai menyeruak masuk. Benda itu begitu hangat, kenyal namun keras. Sambil tetap meremas-remas kedua dadaku dengan satu tangan, mas Andri mendorong sedikit demi sedikit kepala penisnya. CLEP kepala penisnya telah masuk. Uhh aku mendesah sambil memejamkan mataku rapat-rapat. Walau aku sudah terbiasa dengan ukuran penis mas Andri, namun tetap saja, ada sedikit rasa nyeri yang timbul. Mas Andri menggeser-geser posisi tubuhku, mencoba membuatnya menjadi lebih mantap ketika kami bersetubuh. Perlahan, batang penisnya mulai ia dorong masuk ke vaginaku. Aku merasakan denyut-denyut pelan yang membuat organ kewanitaanku semakin membanjir basah. Sedikit demi sedikit, sampai batang sepanjang 16 cm itu benar-benar hilang ditelan organ kewanitaanku. Mmmmas. Suaraku gemetar menahan nafsuku. Kenapa dek? Enak? mas Andri mengecup punggungku ketika melihat aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Saking nafsunya, cairan vaginaku menjadi tak terbendung, karena aku merasakannya mulai turun, mengalir ke arah pahaku. CLEP CLEP CLEP mas Andri mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, mengaduk dan menusukkan batang penisnya dalam-dalam, semakin lama semakin cepat. PLAK PLAK PLAK Suara tubuh kami ketika saling bertabrakan. SREEKSREEKSREEK Meja makan yang aku buat sebagai tumpuan tubuhku juga perlahan mulai bergerak, tiap kali pinggul mas Andri menabrak pantatku. Kaki mejanya berderit-derit, tergeser oleh gerakan liar kami berdua. DUG DUG DUG Suara bibir meja ketika menabrak tembok dan desahan suara kami memenuhi ruang makan yang sempit ini. Enak dek? tanyanya dari arah punggungku sambil terus meremas payudaraku. Saking enaknya, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, tersenyum mendesis sambil mengangguk-anggukan kepalaku. Mulut mas Andri tak henti-hentinya mengucapkan kata Aku sayang kamu dek tiap kali ia memompa penisnya diliang vaginaku. Terkadang ia mengecup dan menjilat punggungku. Aku hanya bisa menundukkan kepala sambil melenguh keenakan, merasakan tusukan-tusukan tajam penis mas Andri.

Pagi hari yang berisik pikirku tiap kali kami bersetubuh. Karena memang benar, kami adalah pasangan yang tidak bisa diam, selalu bercinta tiap kali ada kesempatan. Tak peduli akan waktu, tempat ataupun situasi. Oleh karenanya aku panggil suamiku tikus hutan, karena nafsunya mirip dengan aktivitas makhluk kecil itu, hanya bercinta dengan pasangannya sampai dia mati. Gelombang kenikmatan itupun perlahan datang. Jantungku bercetak semakin cepat, nafasku memberat, siap menyambut orgasme pertamaku di pagi hari ini. Shhhh Aku mau keluar masayo tusuk memek adek lebih dalam kataku menyemangatinya. Tanpa menunggu perintahku untuk yang kedua kalinya, mas Andri semakin mempercepat sodokannya. Tubuhku terhentak-hentak dengan keras, tiap kali menerima sodokan penis mas Andri. Penisnya terasa begitu cepat, keluar masuk dengan ritme yang semakin cepat. Meja makan tempat aku menyandarkan tubuhku pun sepertinya ikut merasakan dorongan brutal mas Andri, berderit dengan keras dan menabrak tembok seiring desahan kenikmatan kami berdua. Shhhayo mas aku sudah dekat.. aku mau keluar . Ssshhhh erangku kepada suamiku. Dengan tangan kiri yang masih menopang badanku, aku pegang pantatnya dengan tangan kanan. Aku gerak-gerakan pantat semok itu kearahku, berharap mas Andri semakin mempercepat goyangannya. Masayo. sodok aku dengan keras tusuk aku dengan tititmu aku mau keluar mas Di tengah-tengah pendakian kami ke puncak gunung kenikmatan. Tiba-tiba mas Andri menghentikan sodokannya. Dia terdiam, menusukkan penisnya dalam-dalam ke arah vaginaku, dan. Aaahhhhhhkkkkk ahhhh ahhhh mas Andri berteriak lirih. Gumpalan cairan hangat langsung memenuhi rongga rahimku. Tak begitu banyak, namun cukup membuat liang rahimku agak sedikit penuh. Mas Andri mendorong tubuh gemuknya ke arahku dengan brutal tiap kali penisnya memuntahkan lahar panasnya. Sampai aku merasa sakit pada bagian paha depanku yang terkena bibir meja. Enam kali sodokan keras aku terima pada vaginaku ketika suamiku ejakulasi, sebelum akhirnya ia merubuhkan tubuhnya ke arahku. Berat sekali. Nafasnya tersengal-sengal. Aku sayang kamu dek ucapnya sambil mengecup bagian belakang leherku. Iya.. Aku juga sayang kamu mas jawabku lirih. Sebenarnya ada rasa kesal karena aku masih belum mendapatkan orgasmeku. Sekali lagi, mas Andri gagal memberiku kenikmatan yang telah lama aku inginkan. Tidak sampai 5 menit dia sudah terpuaskan, mas Andri selalu saja begitu, terlalu cepat ejakulasi. Mas aku masih pingin ayo ngewe lagi ayo mas kataku. Aduh mas dah terlambat dek ntar malem ya kita sambung lagi elaknya. Selalu saja, kata-kata itu yang menjadi alesan. Mas Andri memeluk tubuh telanjangku sambil tersenyum penuh kepuasan. Sebagai istri yang harus selalu patuh, aku harus menyembunyikan rasa ketidakpuasanku. Aku harus bisa ikut tersenyum melihat kepuasan yang terpancar dari wajahnya, dan membiarkan kehausan nafsuku hilang dengan sendirinya. PLOP Aku masih merasakan kedutan pelan di din ding vaginaku ketika batang penis mas Andri yang telah lemas, jatuh keluar dengan sendirinya. Sekarang penis itu menggelatung tak berdaya di luar bibir vaginaku. Meneteskan lendir kenikmatan kami berdua di belakang paha dan betisku. Dek, aku berangkat dulu, khawatir ketinggalan angkutan dah siang nie kata mas Andri

sambil mengangkat badan lebarnya dari punggungku. Dia menepuk pantat semokku dan balikkan badanku yang masih tengkurap diatas meja makan. Aku sekarang dalam posisi telentang, menatap langit-langit rumah kontrakanku. Dengan kaki yang menjuntai di tepi meja makan. Mas Andri tiba-tiba mencium vaginaku dan menyeruput cairan yang keluar dari vaginaku. Hayo kamu lupa ya dek? tanyanya sambil tertawa. Hahaha.. geli mas geliiya iyaadek inget. Jawabku berusaha menjauhkan mulutnya dari selangkanganku. Memang sudah menjadi kebiasaan, jika setelah kami bersetubuh, aku selalu membersihkan seluruh batang penisnya dengan mulutku. Aku segera bangun, turun dari meja makan dan langsung berjongkok di depan selangkangan suamiku. Aku raih batang penisnya yang menggelantung lemas itu, dan aku jilat perlahan. Kuhirup dalam-dalam aroma kewanitaanku yang bercampur dengan spermanya. Sejak pertama kali kami bersetubuh, aku memang suka sekali meminum sperma, teksturnya mirip dawet, minuman khas dari pulau jawa yang terbuat dari campuran gula merah dan santan kelapa, terlebih lagi aromanya, mirip aroma daun pandan. Kubuka mulutku lebar-lebar, lalu aku masukkan seluruh batang penisnya. Aku kecap, hisap dan urut batang penis lemasnya dengan mulutku. Berharap penis itu bisa tegang kembali. Namun setelah beberapa menit aku oral, sama saja, penis itu tetap menggelayut lemas. Nah..Dah bersih mas kataku. Dah sana berangkat kerja Mas Andri menyuruhku berdiri, dan sekali lagi, ia kecup keningku. Kamu yakin? Nggak mau menunggu besok Minggu buat mengerjakan semua pekerjaan rumah ini? Kamu mau mengerjakannya semua ini sendirian? Jangan terlalu capek ya istriku sayang tanyanya begitu mengkhawatirkanku. Iye baweeeeel aku yakin dah ah jangan menganggap aku cewek manja seperti dulu aku dah berubah sana buruan berangkat kataku pada suamiku tercinta. Dengan tubuh telanjang bulat dan vagina yang masih meneteskan cairan kenikmatan kami berdua, lalu aku antar mas Andri ke pintu depan sambil bergelayutan manja dipundaknya. Dah ah sana buruan pakai dasternya ntar ada orang yang ngliat loh kata suamiku. Ah.. kagak ada yang bakalan ngeliat mas khan rumah kita paling tertutup Berani yaaaa. Kata mas Andri sambil mencubit pantatku.. He he he Iyeeeee. Diciumnya kening dan bibirku tuk terakhir kali, dan tak lupa salam berangkat kerja andalannya. Meremas kedua belah dadaku, memelukku dari depan dan menepuk keraskeras kedua bongkahan pantat semokku. Salam sayang buat mimi imutku jaga baik-baik ya dek katanya sambil tersenyum manja. Jaga juga dedenya jangan diapa-apain sampai ntar malam kamu pulang ya mas sambungku. Mimi dan Dede adalah panggilan sayang kepada alat kelamin kami masing-masing. Mas Andri melambaikan tangan, dan melangkah menjauh meninggalkan aku sendirian di rumah kontrakan baruku ini. Mas Andri, suamiku, berumur 32 tahun, berpostur agak gemuk, 170cm/90kg, dan berkulit putih mirip denganku. Dia baru saja diangkat jabatan menjadi seorang pengawas lapangan disebuah Perusahaan Pengeboran Minyak Internasional. Mas Andri adalah seseorang yang

bijaksana dalam pengambilan keputusan, pandai dan penuh dengan perhitungan. Bukannya pelit dek tapi khan lumayan kita bisa menghemat uang jutaan rupiah perbulan loh kalo tinggal di rumah ini daripada aku harus menyewa rumah mewah dekat kantor toh beda jaraknya cuma 1 jam itulah kalimat yang selalu di ulang-ulang ketika aku sedikit ngambek karena keputusannya mengambil rumah yang jauh dari peradaban ini. Rumah kontrakanku adalah rumah petak, yang terbagi menjadi beberapa bagian, teras, ruang tamu, ruang tidur, dapur, kamar mandi dan halaman belakang untuk cuci dan jemur. Aku dan suamiku kebagian rumah paling ujung. Rumah yang paling jauh dari pintu masuk komplek kontrakan, namun memiliki ukuran paling besar diantara rumah kontrakan yang lain. Hari yang cerah untuk memulai aktifitas kataku dalam hati. Aku ambil daster kecilku yang teronggok di kaki meja makan lalu aku mulai mengenakannya lagi melalui atas kepalaku. Malas sekali rasanya ketika aku mulai mengenakan dasterku. Sepertinya sangat nyaman jika bisa hidup seperti kaum nudis yang tak perlu repot-repot menggunakan selembar bajupun ketika beraktifitas. Kubawa piring dan gelas kotor ke dapur, aku letakkan di dalam bak pencucian. Aku pandang tumpukan cucian kotor yang sudah lama teronggok dan mulai mengeluarkan bau tak sedap di sudut kamar mandi. Sabtu ini akan menjadi hari yang melelahkan. Ayo Liani, kamu pasti sanggup menjalani ini semua aku menyemangati diriku sendiri dan mulai mengerjakan pekerjaan rumahku itu. Aku harus bisa menjadi istri yang bisa diandalkan oleh suamiku. Menyapu, mengepel dan mencuci piring bisa aku lakukan dengan cepat. Namun ketika aku akan memulai mencuci tumpukan baju kotor, langsung terbayang betapa lelahnya tubuhku nanti malam. Ternyata menyeret bak cucian basah itu begitu susah, berat, dan licin. Perlu tenaga ekstra untuk bisa memindahkannya ke dari kamar mandi ke halaman belakang. Lagi mau nyuci mbak? Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara seorang pria. Celingukan aku mencari asal suara itu. Banyak juga cuciannya mbak dah berapa minggu tuh baju-baju nggak dicuci? tambahnya lagi. Ternyata suara itu berasal dari penghuni rumah kontrakan di samping tempat aku tinggal. Mas Manto, begitu tetanggaku biasa memanggilnya, adalah seorang satpam yang bekerja di perumahan dekat komplek kontrakan tempat aku tinggal. Selama aku tinggal disini, baru pertama kali ini aku melihat seperti apa bentuk suami mbak Narti sebenarnya. Mas Manto berumur sekitar 40 tahunan. Posturnya mirip dengan suamiku namun agak kurus 170cm/60kg dengan kumis tipis yang dipotong rapi diatas bibir tebalnya. Kulitnya coklat kehitaman dengan rambut kriting pendek. Sedangkan istrinya, Mbak narti, berusia 35 tahunan, berperawakan gemuk dengan payudara yang meluap-luap, khas badan ibu-ibu, adalah seorang pelayan toko yang juga bekerja pasar dekat komplek rumah kontrakan kami. Iya jawabku sekenanya. Dah hampir 2 minggu nie belum diapa-apain. tambahku lagi. Sebenarnya aku sudah mengenal siapa mas Manto, karena hampir setiap hari aku melihatnya berangkat kerja, tapi selama aku dan suamiku tinggal di rumah kontrakan ini, belum pernah sekalipun aku bercakap-cakap. Hanya kenal sebatas sapa dan cerita saja. Saya Manto mbaksuami si Narti.. katanya lagi sambil menjulurkan tangan.

Mmm Nama saya Liani jawabku sambil menyalami tangannya. Langsung saja tubuhku merinding begitu menyentuh tangan mas Manto. Tangan itu begitu dingin, hitam, dan keriput, sangat kontras dengan tanganku, putih, mulus. Entah kenapa, begitu aku melihat wajah dan postur tubuhnya, aku langsung terbayang akan cerita-cerita pemerkosaan sadis yang menimpa kepada para perantau di tanah orang. Apalagi saat itu aku hanya mengenakan daster pendek tanpa baju dalam sama sekali. Memamerkan kaki panjang dan belahan dadaku. Mas Andri kerja mbak? tanyanya lagi, membuyarkan lamunanku. I Iya baru saja berangkat Oooowwwh.. saya permisi ya mbak gerah habis mencucimau mandi dulu jawabnya sambil tersenyum. Iya.silakan kataku sambil melihat deretan cucian mas Manto yang masih meneteskan air sabun. Sopan juga dia ternyata aku salah pikir terhadap mas Manto. Walau hanya dari perkenalan singkat tadi, aku merasa kalau mas Manto tak seperti orangorang kebanyakan. Sopan, tak seperti orang yang berpandangan jahil terhadap wanita berbusana seksi sepertiku barusan. Aku berpostur badan sedang dan terbilang langsing, 165cm/45kg, berkulit putih dengan ukuran buah dada yang cukup besar. Yang membedakan aku dengan wanita lain adalah pinggangku sangat kecil dan kakiku agak lebih panjang dari kebanyakan teman-temanku. Mata bulat lebar, bibir merah dan rambut panjang hitamkulah yang selalu aku banggakan. Sebenarnya aku kurang begitu suka dengan baju seksi, tapi aku lebih memilih baju yang berukuran kecil, karena merasa nyaman aja ketika digunakan untuk beraktifitas. PRAK. Bak cucianku pecah, ketika aku mencoba menggesernya kehalaman belakang. Pecah karena tak kuat menahan beban rendaman baju kotor kami. Air cucian kotorpun langsung keluar dari sela-sela bak cuci pecahku, menggenang, disertai bau apek yang cukup menyengat. Sialan belum juga mencuci emosiku langsung meninggi sabar Liani sabar Aku diam sejenak, memikirkan apa yang harus aku lakukan. Daripada beli, mungkin lebih baik aku pinjam saja sebentar. Pikirku Mas Manto.. Walau pintu halaman belakang rumahnya terbuka begitu saja, tapi aku berusaha tuk sopan. Aku ketuk pintu rumahnya beberapa kali. Mas Manto Tak ada jawaban. Mas Manto.. aku panggil namanya l agi dengan suara lebih lantang. Iya sebentar jawabnya dari dalam rumah. maaf tadi saya masih mandi ada apa ya mbak?? tanyanya sambil mengikatkan handuk kecil berwarna hijau yang sudah lusuh dan sedikit berlubang di pinggangnya yang ramping. Badannya basah kuyup, dengan rambut yang juga masih meneteskan air.. Ada apa ya mbak? Kok kayaknya kebingungan gitu? tanyanya. Aku tak menjawab, aku masih terkesima melihat postur tubuhnya, badannya begitu hitam, kekar, dengan bongkahan dada dan lengan yang menonjol disana-sini. Mbak? tanyanya lagi. Ada yang bisa saya bantu? Eehmaafanu.. bak cuci aku pecah kataku terbata-bata. Apa boleh aku pinjem bak cucinya? Ntar begitu sel..

Boleh-boleh bentar ya saya ambilin dulu potongnya sebelum aku menyeles aikan kalimat. Mas Manto buru-buru masuk, dan mengambil bak mandi yang tergeletak di sudut lantai kamar mandinya. Ketika dia membalikkan badan, kembali aku terkesima melihat otot-otot kekar badannya. Punggungnya lebar dan pantat yang hanya ditutupi handuk merah lusuh itu begitu semok. Aku sedikit tertawa ketika melihat kaki mas Manto. Pahanya besar tapi betisnya kecil. Mirip badan tokoh film kartun yang memang hanya badan bagian atasnya saja yang besar, namun bagian bawahnya kecil. Dan dari disinilah cerita itu dimulai. Ketika dia membungkuk tuk mengambil bak cuci miliknya, bagian belakang handuk itu otomatis meninggi, mengikuti gerak badannya. Dan dari sela-sela paha belakang mas Manto, aku melihat barang yang tak seharusnya tak liat. Hitam, panjang menjuntai, dengan ujung besar berwarna merah kehitaman. DEG.Detak jantungku terasa berhenti sejenak. Langsung saja aku tinggalkan pintu rumahnya dan masuk kedalam rumahku. Aku tutup pintu dapur, dan langsung saja aku duduk terjatuh. Lututku lemas dan dadaku berdebardebar mengingat hal yang baru saja aku lihat. Aku melihat barang yang seharusnya tidak boleh aku lihat, barang yang menjadi simbol kejantanan dan kebanggaan kaum pria. Ya, barang itu biasa disebut penis, titit, atau kontol. Walau sekilas, seumur-umur, baru saja aku melihat barang yang bukan milik suami aku sendiri. Walau sekilas, tapi aku bisa membayangkan bagaimana bentuk keseluruhan dari barang milik mas Manto itu. Hitam, besar, dengan urat-urat yang mengelilingi sekujur batangnya, berkepala merah kehitaman dengan mulut kemaluan yang lebar menganga, bau amis asam selangkangan yang menusuk hidung dan rambut kemaluan yang lebat. Mbak loh kemana orangnya.? Suaranya terdengar pelan dari sebelah rumah. Mbakini bak cucinya panggilnya dari samping rumahku. Mas Manto pun akhirnya mengantarkan bak cuci miliknya ke halaman rumahku. Karena melihat aku yang tak langsung keluar, mas Manto mendekat kearah pintu dapur, mengintip kedalam dari jendela dapur, dan mengetuknya perlahan. Mbak Liani ini bak cucinya panggilnya. Andai saja mas Manto agak menunduk dan melihat kebawah, mungkin saja ia bisa melihatku yang meringkuk di balik pintu dapur rumahku. Meringkuk menahan malu yang seharusnya tak aku rasakan. toh yang terlihat adalah bukan aurat tubuhku. Detak jantungku masih berdetak begitu kencangnya sampai aku sama sekali tak berani untuk bergerak. Susah rasanya aku berdiri dengan kedua kakiku. Lemas, tak bertenaga. Dengan gerak super pelan, aku mencoba berdiri, memasang telinga, untuk mendengarkan, mungkin saja ia masih ada di dekat jendela. Tenagaku perlahan pulih, setelah melihatnya berdiri tak jauh dari pintu dapur. Membelakangiku sambil berkacak pinggang. Dari balik korden tipis jendela dapur, aku amati gerak-geriknya. Dengan muka kebingungan, mas Manto hanya bisa celingukan ke arah rumah kontrakanku lalu mengamati banyaknya cucian kotor yang terhampar di depannya. Karena mungkin merasa iba, diapun membantu memindahkan cucian kotor yang ada di bak cuciku yang telah pecah, ke bak cuci miliknya. Sekali lagi, ketika mas Manto memindahkan baju-baju kotorku, aku pun kembali melihat barang hitam miliknya. Handuk kecilnya naik turun. Memperlihatkan barang yang ada dibaliknya setiap kali ia membungkukkan badan untuk memindahkan cucian kotorku. Ketika sedang dalam posisi membungkukkan badan tuk mengambil baju-bajuku, tiba-tiba mas Manto terdiam. Masih dalam posisi menungging. Lama sekali. Dan selama itu pula aku menatap tajam ke arah benda yang bergelatungan di balik handuk kecilnya. Bergoyang goyang seiring gerakan pantat mas Manto.

Apa yang dia lakukan tanyaku dalam hati. Ternyata hal yang membuatnya terdiam adalah. Tumpukan baju dalam kotor milikku. Iya, benar sekali, mas Manto mengamati baju dalam kotorku. Tiba-tiba mas Manto berdiri, membalikkan badannya dan melihat ke arah rumahku, matanya celingkuan mencari dimana aku gerangan. Dia berpindah posisi, memutari bak cucian kotorku, mengawasi segala gerakan dari dalam rumah. Matanya sangat tajam, mengamati setiap sudut rumahku dengan seksama. Namun aku yakin dia tak bisa mengetahui posisiku, karena terhalang oleh korden tipis jendela dapurku. Karena menurutnya aman, diapun membungkukkan badannya kembali dan dengan tangan kirinya, dia mengambil salah satu cd kotorku. Cd putih dengan pinggiran berenda. Dengan mata yang masih celingukan penuh rasa was-was, dia mengamati dalam-dalam cd kotorku itu. Diamati bercak lendir lengket berwarna putih yang menepel di bagian depan cdku. Dan dengan jemari tangan kanannya, disentuhlah bercak lendir itu, dikorek-korek. Lalu, apa yang sama sekali tak pernah aku bayangkan terjadi. Mas Manto, tanpa rasa jijik sedikitpun, menjilat jemari tangan bekas mengkorek cd kotorku. Karena kurang puas, dia menghirup, menjilat dan mengecapnya, seolah-olah itu adalah makanan paling enak sedunia. Gila. Dia lakukan itu semua dengan tanpa rasa jijik sedikitpun. Tiba tiba, perlahan namun pasti, ada sesuatu yang bergerak dari dalam handuk kecilnya. Penisnya mulai ereksi. Naik, sedikit demi sedikit, semakin menggembung, mengembung dan mengeras. Ereksi dengan diiringi kedutan denyut nadi yang ada di batang penisnya. Handuk kecilnya tersingkap, terdorong ke atas, oleh batang kejantanan seseorang yang sama sekali belum aku kenal dekat. Penis hitam yang sempurna, keras, berurat, dengan ujung berwarna merah pekat. Buah zakarnya mengelantung pasrah, ukuran zakarnya pun tak kalah hebohnya, sebesar jeruk nipis. Penis itu terlihat begitu gagahnya, mulai meninggi keatas disertai dengan kedutan yang berirama. Naik, naik, naik dan terus naik. Berkedut naik, sampai melewati pusarnya. Sekarang yang ia lakukan sungguh nekat. Sama sekali tak khawatir akan adanya orang yang melihat. Dia berdiri di halaman belakang rumahku, menghadap tepat ke arahku dengan penis yang tegak mengacung sambil menjilat dan mengecap cd kotorku dengan rakus. Merasa tak cukup hanya mengecap satu cd kotorku, dengan tangan kanannya yang masih bebas, diapun kembali mengambil cd kotorku. Kali ini yang berwarna hijau muda dengan gambar bunga bunga di bagian vagina. Sekarang di kedua tangannya, ia memegang cd kotorku. Tapi kali ini ada yang berbeda. Cd hijau yang ada di tangan kanannya tak hanya ia cium dan jilat saja. Melainkania pakai sebagai sarana masturbasinya. Ia lilitkan cd hijauku ke batang penisnya dan ia mulai menggerakkan tangan kanannya maju mundur. Makin lama makin cepat, main cepat dan makin cepat. Dia mengocokkan penis yang terbungkus cd hijauku dengan kecepatan tinggi. Dengan sangat bernafsu dan brutal. Melihat tingkah laku mas Manto, detak jantungku pun semakin berdebar-debar tak karuan. Tubuhku menghangat, nafasku memberat, putingku mengeras dan yang paling tak aku sadari, kemaluanku mulai membasah. Secara reflek, aku sentuh cd yang aku pakai, dan aku raba belahan bibir kemaluanku. Aku basah, aku horny, aku terhanyut akan tingkah laku kurang wajar yang telah dipertontonkan oleh mas Manto. Bagian depan cdku terasa sangat hangat dan basah oleh cairan kewanitaanku. Astaga, aku benar-benar dibuatnya mabuk kepayang. Mas Manto, seseorang yang sama sekali belum aku kenal dengan dekat, berani berbuat hal yang begitu nekat. Begitu gila, yang sama sekali tak pernah aku bayangkan. Dengan tanpa rasa malu sama sekali ia masturbasi dengan menggunakan cd kotorku di halaman belakang rumahku. Badan kekar berotot, kulit hitam yang basah oleh air bekasnya mandi, ditambah

sinar matahari yang menerangi halaman belakangku, membuat apa yang ia lakukan terlihat begitu seksi. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasakan perasan yang berbeda kepadanya. Perasan yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Hanya ada rasa penasaran dan ingin tahu yang begitu menggebu. Mas Manto semakin mempercepat kocokannya. Badannya membungkuk dan membusur. Otot-otot tangan dan lehernya mengejang. Ia merem melek, pupil matanya tak terlihat, hanya putih. Ia terlihat begitu menikmati semua yang sedang ia lakukan. Melihatnya begitu menikmati akan apa yang sedang ia perbuat, aku jadi ikut merasakan kenikmatan. Tiba-tiba, muncul perasaan aneh dari dalam diriku. Perasaan nakal, binal, liarku sepertinya muncul. Ingin rasanya aku membuka pintu dapurku dan mendekap tubuhnya, mencium bibirnya dan meraih penisnya. Ingin rasanya aku membantu menuntaskan semua hasrat nafsunya. Menjilat batang penis yang begitu besar, hitam, panjang. Ingin sekali aku merasakan tusukan dan sodokan penis dahsyatnya di liang vaginaku. Dan Aku ingin mas Manto menumpahkan semua spermanya di dalam rahimku. Liani..mbak Liani.terima persembahanku untukmu.. mbak Lianiku.. bisiknya lirih sembari dia mempercepat kocokannya. Mbak Lianiku.? Tanyaku dalam hati. Heran. Ooooooohhhhh..mbak Liani!!! Mas Manto tiba-tiba menghentikan kocokan tangan kanannya dan dengan cd di tangan kiri, ia berusaha menampung semua tumpahan cairan kenikmatannya. Crut crut crut crut Mas Manto orgasme. 8 tembakan sperma menabrak cd putih di tangan kirinya. Semburan benih-benih kejantanan seorang lelaki menyemprot keluar dari mulut penisnya yang lebar. Begitu banyak. Sampai-sampai cd putihku yang ia gunakan untuk menampung tumpahan cairan nafsu mas Manto, tak mampu membendung itu semua. Cairan itu merembes keluar dari cd hijauku yang ia gunakan untuk melilit penisnya, dan menetes jatuh ke atas cucian kotorku. Sungguh menakjubkan melihat ekspresi wajahnya. Semua terjadi seperti dalam gerakan slow motion. Andai aku punya handycam, pasti aku kan merekam semua kejadian barusan. Penisnya berkedut dengan hebatnya. Berkedut sambil memuntahkan semua cairan spermanya. tiiiiiiiiitt.. tiiiiiiiiitt.. tiiiiiiiiitt.. tiiiiiiiiitt.. kami berdua dikejutkan oleh suara SMS dari HP milikku. Suara yang walau lirih, tapi terdengar begitu lantangnya. Memecah kesunyian yang terjadi selama beberapa menit ini. Mas Manto terlihat begitu panik, dia bingung, celingukan, mengkira-kira, kapan aku bakal menampakkan diriku dari dalam rumah. Dia juga bingung dengan benda yang sekarang masih ada di kedua telapak tangannya. Cd putih yang ia gunakan tuk menampung tumpahan sperma dan cd hijau yang ia gunakan tuk membungkus batang penisnya, semua basah karena sperma. Dibuang sayang, di letakkan di bak cucian pun khawatir aku akan curiga. Karena kehabisan akal, mas Manto akhirnya melepas handuk kecil yang melilit pinggang dan meletakkannya di pundak. Astaga, sekarang aku dapat melihat keseluruhan tubuh telanjang beserta penis raksasa mas Manto yang masih menggelatung lemas setelah dikocoknya habis-habisan. Penis itu telihat seperti buah terong, panjang, besar, berwarna hitam kemerahan dengan ujung kepala yang menggelembung. Dan anehnya lagi, penis itupun masih berkedut dan mengeluarkan sperma. Ga ada habisnya tuh peju pikirku kagum. Dengan cepat, mas Manto langsung mengenakan cd putihku yang penuh dengan spermanya. Cd tersebut dipaksa untuk dapat masuk, karena mas Manto tak dapat

menemukan lokasi tuk menyembunyikan cd tersebut. Janggal sekali aku melihatnya mengenakan cd wanita. Ujung kepala penisnya tak dapat sepenuhnya tertampung. Masih menjulang keatas, melawati karet kolor cdku. Sampai-sampai ia harus bersusah payah tuk menekuk batang penisnya ke bawah, kearah pantat, supaya tak terlihat lagi. Biji testisnya pun terlihat tak nyaman, menggelambir keluar dari masing-masing celah celana dalamku. Dan cd hijau, yang juga terciprat spermanya, ia sembunyikan di dalam tumpukan baju kotorku. Setelah itu, ia segera melilitkan kembali handuk kecilnya, dan bertingkah seperti tak ada apa-apa.. Mbak Liani panggilnya. MbakIni bak cucinya Eeh iya sebentar mas. Jawabku. Aku mencoba mengatur nafas, menyembunyikan deru nafsuku yang juga masih menggebu-gebu ini.. Maaf mas tadi mas Andri telpon, jadi mas Manto langsung saya tinggal deh Oh gapapa mbakini baju kotornya sudah saya pindahkan ke bak cuci saya jadi mbak Liani tinggal meneruskan saja mas Manto berkata sambil mengurut -urut telapak tangannya di depan selangkangan, mencoba menutupi gundukan penis yang aku kira mulai menggeliat lagi. I.iyama kasih mas jadi ngerepotin nie ceritanya. Kataku. Ah.. gapapa kali mbak. Lagian aku kasian kalau melihat cewek secantik mbak Liani harus bercapek-capek sendirian gini. Katanya tersenyum meringis. Wah sepertinya dia mulai merayuku batinku. Aku hanya bisa tersenyum-senyum mendengar kalimat mas Manto. Hhmmm anu mas kalau boleh apa saya bisa.. Boleh bolehmo apa ya? potongnya. Anu apa bisa saya minta tolong buat ..sekalian penuhin bak cuci dengan..? Wah bisa banget mbak.. tenang aja potongnya lagi. bahkan kalau mau saya bisa bantu mbak liani nyuciin bajunya Dengan sigap, mas Manto memindahkan air dari bak penampungan ke bak cucinya. Dia terlihat sama sekali tak merasa terbebani dengan segala perintahku. Dan tak lama, semua bak cucinya penuh dengan air bersih. Yup.semua bak cuci sudah saya penuhi .apa ada hal lain yang bisa saya kerjakan??. Matanya berbinar-binar penuh harap. Terlihat seperti anjing yang haus akan perintah dari majikannya. Hmmmm sepertinya itu saja deh mas. Kataku sambil tersenyum. Mbak Liani tuh orangnya murah senyum ya? Jadi seneng saya mbantuinnya jadi ga ada capek-capeknya dah candanya. Langsung saja aku duduk di bangku kecil yang ada disisi bak cuciku, mulai mengucek dan membilas semua baju kotorku. Tapi begitu aku duduk di bangku kecil itu, aku baru sadar. Aku tak mengenakan cd dan bra sama sekali, dan di depanku, ada mas Manto, suami tetanggaku. Aku merasakan hal yang sangat kurang nyaman. Bangku itu terasa begitu pendek, hanya 15 cm dari lantai. Jadi, mau tidak mau, aku harus duduk dalam posisi jongkok. Paha, betis, lengan dan belahan dadaku terpampang jelas di depan mata mas Manto. Dan yang paling parah, daster kecilku ini sama sekali tak mampu untuk menutupi selangkanganku. Walau vaginaku bersih dan aku bisa dengan santai berbugil ria di hadapan mas Andri, tapi tetap saja, mas Manto adalah orang lain, orang yang baru aku kenal sekitar 30 menit yang lalu. Pasrahhanya itu yang dapat kulakukan. Aku hanya jongkok, merapatkan kedua lututku, dan menempelkan dada montokku kearah paha. Berusaha

sebisa mungkin tak memperlihatkan vagina dan belahan dadaku sama sekali. Melihat aku yang kebingungan mencari posisi paling aman tuk menyembunyikan auratku, Mas Manto pun ikut sedikit menjauh. Dia mengambil posisi di seberang halaman, dan duduk di bangku kayu panjang, yang berjarak sekitar 2m dari tempatku duduk mencuci. Bangku itu hanya setinggi lutut orang dewasa, yang jika mas Manto duduk menghadapku, lutut dan pantatnya berada dalam posisi yang sejajar. Sehingga membuatku dapat dengan leluasa menerawang kedalam handuk kecilnya dan melihat perjuangan cd putih kecilku menyembunyikan penis besar mas Manto. Jadi sama-sama tau aurat masing-masing lah pikirku gampang. Mas Manto ternyata orang yang mudah bergaul, ramah, dan suka memuji. Tak heran, aku yang biasanya tertutup akan adanya orang baru, merasa begitu nyaman dan bisa ngobrol lama dengannya. Apalagi dia bukan orang yang mata keranjang. Karena walau aku berbaju begitu minim, mas Manto mampu menahan keinginannya tuk menatap tubuhku lama-lama, hanya sekilas saja ia melihat, lalu melengos ke arah lain, seolah-olah tak peduli sama sekali. Situasi tegang diantara kamipun lama-lama mencair, karena mas Manto tahu sekali bagaimana berbicara denganku. Sering becanda dan pintar merayu orang. Diapun tak segan tuk tertawa terbahak-bahak ketika aku bercerita lucu. Bahkan tak jarang selangkangannya dapat aku lihat dengan jelas ketika dia tertawa. Ketika tertawa, kadang ia mengangkat kaki dan memegang perut sehingga penis yang terbungkus cd putihku sering terpampang dengan jelas. Sama sekali tak berusaha tuk menutupinya. Penis hitam mas Manto berusaha menampakkan dirinya penis itu bersembunyi di dalam cd putihku yesss. aku bisa melihat penisnya lagi. penis besarnya hanya itu pikirku ketika melihatnya tertawa puas. Kadang aku berpikir, apakah mas Manto adalah seorang ekhibisionis. Seorang yang memiliki penyakit psikologis, suka memamerkan penisnya kepada orang lain. Iya aku yakin dia adalah seorang ekshibisionis.. tapi,ah masa bodoh yang jelas mas Manto adalah teman yang enak diajak ngobrol. toh aku sudah merasa begitu nyaman dengannya pikirku, berusaha untuk tak memperdulikan kekurangannya. Karena aku sangat yakin akan tingkah mas Manto, yang terkadang dengan sengaja membuka lulutnya lebar-lebar, seolah mempersilakan mataku tuk mengagumi batang penisnya yang hitam, membuatku pelan-pelan, juga mulai membuka diri, melemaskan semua pertahanan tubuhku. Semula aku yang hanya duduk jongkok, menutup semua aurat, sekarang sudah mulai melebarkan lututku, sedikit mengkangkang. Selain aku merasa capek dengan posisi jongkok yang rapat itu, aku juga ingin mempernyaman posisi mencuciku. Mas Manto bersandar di dinding pagar halaman belakang rumah kami, sambil menatap ramah kearahku. Sesekali ia beranjak, memindahkan air dari bak penampungan, dan menuangkannya ke bak cuci yang aku pinjam darinya. Ia tampak begitu tenang, walau aku tau, saat ini penisnya dah mengeliat karena melihat kemolekan tubuhku. Tapi wajah itu, begitu santai, seperti tak ada kejadian apa-apa. Aku terhanyut oleh auranya. Iya. Aku hanyut olehnya. Terbukti, walau tak beberapa lama kami bercakap-cakap, tapi aku sudah merasa kalau mas Manto tuh seperti orang yang benar-benar dekat denganku. Bahkan tak jarang kami mulai melontarkan ejekan dan gurauan jorok. Mas Manto jorok deh.. dah gede gitu masih ngompol kataku disela -sela percakapan seru kami.. Ngompol. Idih nggak lah? Lalu itu apa hayoo? kok ada yang ngalir dari dalem handuknya? Ah pasti ngompol tuh?

godaku lagi.. Ohh ini? mas Manto menunduk, mencari tau apa yang aku maksud, diusapnya cairan yang merembet turun dari dalam handuknya, dia pun mencium, dan merasakan cairan yang ada di tangannya. Dia melirik kearahku. Lalu berkata Cuihini mah sabun bekas aku mandi tadi. Sabun? tanyaku heran. Sebenarnya aku tahu kalau yang mengalir turun dari dalam pahanya tuh bukan sabun, melainkan spermanya sendiri yang tak tertampung di cd putihku yang ia kenakan. Hahahaha bisa aja Cucian demi cucian telah selesai dibilas, sampai akhirnya aku temukan cd hijauku. Cd yang bekas digunakan mas Manto untuk melilit batang penisnya ketika ia onani. Onani brutal yang membayangkan dan menyebut namaku. Cd hijau bergambar bunga-bungan dibagian vagina, yang berlumur sperma mas Manto. Kuraih cd hijauku dan kurasakan lendir yang menempel di permukaannya. Hangat, licin, dan bertekstur. Detak jantungku kembali berdetak dengan cepat. Aku memegang peju mas Manto batinku. Aku merasakan benih -benih yang dimuntahkan oleh penis mas Manto Ingin aku rasanya mendekatkan cd hijauku yang berlumuran sperma itu kehidungku. Menghirup aroma anyir spermanya, menjulurkan lidahku, menyentuh dan merasakan tekstrur sperma mas Manto. Mengecapnya, penis mas Manto, oh, mas Manto. Mbak? Kok diem aja ?. Hayo ngelamunin apa? suara mas Manto membuyarkan lamunanku. Eh anu ini jawabku bingung, mencoba mengembalikan pikiranku dari imajinasi yang tak jelas. Waduh itu bekas pejunya mas Andri ya mbak? celetuknya, langsung, to the point. Eh.. kenapa mas? Tanyaku, kaget. Iya itu pejunya mas Andri khan?banyak juga ya mbak pasti tadi pagi habis jawabnya lagi. Memperjelas kalimat yang tadi ia tanyakan sambil tertawa cengengesan. Aku merasa mukaku seperti kepiting rebus, merah padam, menahan malu. Sepertinya mas Manto mengetahui apa yang terjadi antara aku dan suamiku tadi pagi. Sepertinya suara desahan kami terlalu keras sehingga terdengar sampai rumahnya. Sepertinya itu alasan kenapa tadi ketika onani, mas Manto memanggil-manggil namaku. Ia pasti membayangkan bersetubuh denganku. Mas Andri pasti seorang yang sangat beruntung ya mbak mas Manto beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan kearahku. Tiap malam bisa hmmm anu ia tak meneruskan kalimatnya dan menantikan jawabanku. Anu apa???.. tanyaku lagi. Anu itu tuh jawabnya sambil memajukan bibirnya, menunjuk kearah dada dan selangkanganku .pokoknya puas deh mas Andri sepertinya.punya istri cantik dan bahenol kayak mbak Liani Hahahahahaha kelakarnya. Idih ngaco jawabku tersipu. Aku ambil air dengan gayung, lalu aku lemparkan air itu ke badannya. Dasar otak mesum. Aku tertawa. Omong-omong, mas Manto tau cd putihku nggak? pancingku. Cd putih? tanyanya sambil mengaruk rambut kepalanya yang tak gatal . Iya cd putih yang ada rendanya kali aja mas tau soalnya khan mas yang mindahin semua baju kotor aku pancingku. Aku tatap wajahnya, mencari tau, apa akan yang ia

lakukan setelah mendengar pertanyaanku barusan. Terlihat ada sedikit keterkejutan yang tersirat di wajah mas Manto namun langsung saja hilang, dan berganti lagi dengan raut wajah yang tenang. Hmmm yang mana ya? jawabnya pura-pura tidak tahu. Cd putih yang ada renda-rendanya.. ulangku lagi. Kembali aku tatap wajahnya, tapi kali ini aku alihkan tatapanku. Dari wajahnya yang tenang ke arah selangkangannya yang melompong. Sebenarnya aku tahu bahwa cd putihku tak hilang, melainkan dipakainya sebagai bahan onani. Dan sekarang cd itu ia kenakan untuk menahan konaknya agar tak muncul dan terlihat olehku. Waduh saya kurang tahu tuh mbak mungkin terselip kali di tumpukan cucian tadi jawabnya Eh tapi ntar klo saya temuin, saya dapet apa? bisa dapet isinya nggak? Idih ngawur aja deh. Yaaa kali aja bisa dapet. Pasti masih kenceng deh. ga memble kayak punya si Narti gitu . jawabnya enteng. Kenceng mobil balap kali mas? Iyalah itu buktinya ada di cd mbak Lianipejunya mas Andri bisa tumpah ruah seperti itu. berarti isi cd itu masih kenceng khan? Klo Narti kayak gitu, saya bisa p unya banyak anak nih hahahahaha Entah kenapa, mendengar kelakar mas Manto, seharusnya aku marah, tapi yang aku rasakan beda. Aku merasa malu tapi sekaligus bangga. Punya banyak anak? Aku tatap cd hijau itu yang belepotan sperma mas Manto dalam-dalam. Andai yang ia dikatakan itu benar, betapa bahagianya aku. Aku dan mas Andri sebenarnya telah menikah selama 3 tahun, namun selama itu, kami masih belum dikaruniai seorang anak. Suamiku bukannya mandul, melainkan ada gangguan pada testisnya, sehingga benih sperma yang dikeluarkan, banyak yang tidak lengkap. Selain itu, volumenya juga tidak begitu banyak. Konsultasi dan terapi kesehatan sudah kami lakukan, namun belum juga membuahkan hasil. Aku sisihkan cd hijauku itu, tak aku campur dengan cucianku yang sudah bersih. Mas Manto hanya tersenyum-senyum melihat tingkah lakuku dalam memperlakukan cd hijau yang terkena spermanya. Dan aku pun membalas senyumannya. Segera aku selesaikan cucianku, dan aku jemur. Mas Manto pun tak mau tinggal diam. Dia ikut membantuku menjemur semua baju-bajuku. Tak jarang kami saling pandang, dan tersenyum. Bahkan terkadang tangan kamipun bersentuhan ketika mengambil baju yang akan dijemur. Tibatiba aku merasa seperti kembali ke masa lalu. Masa dimana aku dan mas Andri sedang kasmaran. Saling lirik, saling senyum dan saling sentuh. Namun kali ini orang yang membuatku kasmaran bukanlah mas Andri, melainkan mas Manto, tetangga baru kenal yang aku rasa begitu nyaman jika dekat dengannya. Kamu cantik banget mbak. Mas Manto merayuku. Seksi.. Aku hanya bisa tersenyum sambil tersipu malu. Pujiannya sungguh membuatku melayang ke awang-awang. Makasie ya mas.. buat pinjaman .. Ah biasa aja mbak potongnya. kalau mbak butuh yang lain saya misalnya langsung saja ya mbak ga usah sungkan-sungkan hehehehehe tambahnya lagi, tersenyum penuh harap. Ketika tanganku hendak mengambil bak cuci mas Manto, dia langsung mencegahnya, memegang pundakku, dan meraih tanganku.

Gak usah repot-repot mbak biar saya saja yang membawa bak cucinya Cukup lama tanganku berada didalam genggaman tangannya. Dan selama itu pula mas Manto memainkan jemari jangannya. Meraba, mengelus, dan meremasnya dengan perlahan. Melihat aku yang hanya diam saja, mas Manto pun mengangkat talapak tanganku dan dikecupnya perlahan. Mukaku kembali memerah. Malu. Kalau butuh saya ya mbak Iya. Iya. Jawabku gugup. Aku langsung menarik tangan dan mengambil cd hijauku. Ma makasih banyak ya mas Aku langsung masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu dapurku rapat-rapat, meninggalkan mas Manto sendirian di halaman belakang rumahku. Detak jantungku tak bisa diatur, nafasku berat, dan mukaku merah. Gila Sangat gila Ini adalah awal mula sebuah perselingkuhan kataku dalam hati. Aku tahu ini semua mulai berjalan kearah yang salah, namun jauh didalam hatiku, aku menginginkan semua kesalahan ini. Aku dekap cd hijauku erat-erat, aku tatap dalam-dalam dan aku bayangkan semua kejadian barusan. Aku merasa terangsang. Cairan vaginaku terasa seperti mengucur keluar dengan derasnya. Aku kembali menatap keluar melalui jendela dapurku, mencari tau apa yang sedang dilakukan oleh mas Manto sekarang. Berharap dia masih ada di tempat semula. Dia masih ada batinku. Mulutku semakin lebar mengembangkan senyum. Apalagi setelah tahu yang ia lakukan sekarang. Jauh lebih nekat. Mas Manto berada di belakang pintu dapurku. Berdiri agak membungkuk. Handuk hijau lusuhnya sudah tersampir di pundak kirinya. Cd putihku yang ia kenakan tadi, sudah ia turunkan sampai sebatas paha, tangan kirinya kedepan, menopang tubuhnya pada dinding pintu dapurku, dan tangan kanannya, menggenggam erat batang penis miliknya yang sudah berwarna sangat merah. Dikocoknya penis itu dengan cepat, sampai terdengar bunyi tek tek tek. Suara kulit penis yang terenggang dan tertarik oleh tangan kekarnya. Mbak Liani.. ohhh. Mbak Liani.. erangnya tertahan. Lututku kembali melemas. Aku langsung jatuh terduduk. Menyandarkan punggung dibawah jendela dapurku. Mas Manto sedang beronani di balik pintu dapurku batinku girang.mas Manto s edang mengocok penis besarnya di belakang pintuku Jantungku terasa seperti mau loncat melalui mulutku. Aku sudah sangat terangsang. Vaginaku gatal, berdenyut hebat, pengen sekali digaruk oleh kejantanan mas Manto. Aku tatap lembar pintu dapur yang ada disamping kananku. Aku tatap gagang pintu yang berada ditengahnya. Hanya sekali putar saja, aku bisa membuka pintu itu dan mempersilakan mas Manto tuk masuk ke rumahku. Aku sudah begitu terangsang, tanganku, entah sejak kapan juga sudah mengobok-obok vagina dan klitorisku. Aku benar-benar menginginkan mas Manto untuk masuk ke dalam rumahku, menciumku, menjilat payudaraku, menyodok vaginaku, dan menumpahkan seluruh spermanya yang kental kedalam rahimku. Seumur hidup, tak pernah aku merasakan nafsu seperti ini. Dengan lutut yang masih gemetar, aku memberanikan diriku tuk berdiri. Aku coba mengintip, apa yang mas Manto lalukan sekarang. Dia masih dalam posisi yang sama. Mengocok batang penisnya kuat-kuat. Aku bulatkan tekad, memberanikan diri tuk membuka pintu dapurku. Aku tak peduli akan apa yang akan orang lain katakan jika mereka melihat kami selingkuh. Aku tak peduli akan resiko yang akan aku peroleh jika

hubungan gelap yang akan aku mulai dengan mas Manto ini sampai diketahui oleh suamiku. Ya. Hanya itu. Aku ingin kenikmatan dan kepuasan. Aku ingin merasakan kenikmatan yang selalu gagal aku capai dengan mas Andri, suamiku. Aku raih gagang pintu dapurku. aku tarik nafas dalam-dalam, dan aku putar ke bawah. Arrrrrgggggghhhhh.Mbak Liaaaaannnniiiiiiii. Aku dikagetkan oleh suara erangan mas Manto. Enam semburan kencang ditembakkan ke arah pintu dapurku. Mas Manto telah orgasme duluan, sama seperti mas Andri, aku kembali ditinggalkan terangsang seorang diri. Aku urungkan niatku. Gagang pintu itu tak sempat aku putar. Aku hanya bisa menyesali ketidak beranianku. Mas Manto. Aku hanya bisa memanggil namanya lirih. aku merasa begitu kecewa dan mengutuk diriku yang tak berani mengambil resiko. Masih dari balik korden jendela dapurku, aku lihat mas Manto berdiri tertegun. Menatap penis dan cipratan sperma yang membasahi pintu dapurku. dada bidangnya naik turun, dan nafasnya terengah-engah. Mukanya berwarna merah. Dengan tangan yang masih mengurut-urut batang penisnya ia berusaha mengeluarkan semua cairan dari dalam kantong zakarnya. Tak lama kemudian, dengan kondisi masih tanpa mengenakan baju apapun, mas Manto melangkah mundur, pergi meninggalkanku, lalu masuk ke dalam rumahnya. Mendadak, tak terdengar suara sedikitpun. Sunyi. Plukplukpluk Saking sunyinya, sampai telingaku mampu mendengar suara tetesan air keran yang berada di halaman belakang rumahku. Blak keblak.. keblak Suara kebatan baju basah milikku yang dihembus oleh semilir angin. Sunyi.perlahan, aku putar gagang pintu dapurku dan kugeser perlahan pintu dapurku sampai terbuka semua. Aroma tajam sperma langsung menyengat hidungku. Aroma dari kejantanan seseorang yang baru saja menjadi idolaku. GilaBanyak sekali. Pikirku. Sperma itu membasahi pintu dapurku, setinggi perut. Terdapat sekitar enam lokasi cipratan sperma yang masih menempel dan merayap turun ke tanah. Rasa penasaran itu pun muncul kembali. Aku julurkan tanganku, menyentuh sperma yang masih mengalir turun itu. Aku usap-usap, dan aku masukkan beberapa jemari tanganku ke dalam mulut. Inikah rasanya? bibirku mengecap perlahan. Merasa kurang puas merasakan sperma yang masih menempel itu, aku lalu jongkok. Memposisikan diriku dihadapan lokasi cipratan sperma mas Manto yang masih menempel di pintu dapurku. Aku julurkan lidah, menutup kedua mata, dan memajukan kepalaku. Kutempelkan lidahku ke pintu kayu yang belepotan sprema itu. Asin kataku dalam hati. Mendadak, aku seperti merasa tak mengenali diriku lagi. Aku merasa tidak seperti Liani yang sopan, berpendidikan, dan bermoral baik. Sekarang aku merasa seperti pelacur yang haus akan kepuasan. Aku bersihkan semua cipratan itu dengan tangan dan lidahku. Bahkan tak jarang, sperma yang belepotan ditangan, aku colok-colokkan di vaginaku, membayangkan kalau tangan kecil milikku itu adalah penis besar mas Manto. Aku tak peduli jika ada tetangga yang melihat aktivitas gak wajarku. Yang jelas, saat ini, aku begitu bernafsu untuk dapat menghabiskan semua sperma gurih yang menempel di pintu dapurku. **********

To be continued

Reply With Quote

2.

02-02-2011 01:08 PM#2

penjilat_susu

Semprot Awal Join Date Nov 2010 Posts 6 Thanks 0 Thanked 0 Times in 0 Posts

*** Dek liat deh yang sudah mas bawain buat kamu sambil tersenyum, suamiku mengangkat kantong kresek hitam yang ia bawa. Aku bawain kamu sup dan sate kambing buat bekal kita menghabiskan malam minggu ini bersama hehehehe Aduh kamu emang yang paling top deh mas Setelah menyantap makan malam, tak lama kemudian aku dan mas Andri pun memulai apa yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Ya, kami bersetubuh. Aneh. Dalam persetubuhan kali ini, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda muncul dari dalam diriku. Aku lebih bisa mengekspresikan diriku, lebih bebas, dan lebih agresif. Tak ada lagi rasa nyeri seperti yang tadi pagi aku rasakan ketika mas Andri menusukkan batang penisnya kevaginaku. Semua terasa begitu nikmat. Malah, sekarang aku tak malu lagi untuk melenguh, mendesis dan berteriak lebih lantang. Jauh lebih lantang daripada biasanya. Dan yang paling aku rasa aneh adalah, aku mampu dua kali orgasme. Sekali ketika disodok dari belakang oleh mas Andri, di samping meja makan. Mirip seperti posisi tadi pagi. Dan sekali ketika aku dalam posisi telentang, diatas kasur tidur kami yang luas. Aku tak tau, perubahan dalam diriku ini dikarenakan sop dan sate kambing atau karena hal lain. Hal lain Malam ini kamu benar-benar beda dek. lebih beringas mas suka itu hahahaha kata suamiku sambil mengacak-acak poni rambutku. Apaan sie mas adek mah biasa aja kok. Mas aja kali yang yang dah nggak sabar pengen ngewe sama adek. Bener dek kamu beda tatapan mata kamu senyum kamudan yang paling beda memek kamu lebih peret pujinya. Aah mas bisa aja Aku sayang kamu dek tangannya yang besar menelungkup diatas tubuhku, menyelimutiku dengan rasa sayangnya. Adek juga sayang kamu, mas

Masih dalam keadaan telanjang bulat, kamipun akhirnya tertidur. *********** Minggu pagi datang begitu cepat. Met pagi ratu manjaku kecupan hangat dan basah mendarat di putting kananku. Segera saja aku buka mataku dan membalas salam pagi suamiku. Dasar tikus hutanku.. tawaku renyah. Seharian itu kami merasa seperti penganten baru. Bersetubuh, bersetubuh, dan bersetubuh. Seolah-olah kami mendapat kekuatan baru yang membuat badan kami selalu fit. Pintu dan jendela rumah sama sekali tak kami buka, karena kami bersetubuh di seluruh area rumah. Memasak, mencuci dan segala aktifitas rumah tangga pun, kami lakukan seperti kaum nudis. Tanpa menganakan baju sama sekali. Semua terasa seperti mimpi. ********** Masku sayang ayo ah bangun. kataku sambil memukul -mukulkan batang penis lemasnya yang sudah bersih keperut buncit suamiku. dah bersih nih dedenya. Mas Andri yang masih dalam kondisi telanjang bulat, tetap saja berdiam diri, telentang di atas kasur dan membuka tangannya lebar-lebar. Dadanya naek turun dan nafasnya masih terengah-engah. Dia memutar kepalanya kebawah, menatap aku yang masih menungging setia di atas pahanya. Aduuuh mas masih capek nih dek. 10 menit lagi ya jawabnya. Gemas karena mendengar jawaban malas, aku gigit batang penisnya pelan. Iyaiyaiya ampun. Mas bangun. Ampun dek Hahahahaha nah gitu donkini udah siang ayo berangkat kerja katanya nt ar ada meeting? Astaga kamu bener Tergopoh-gopoh mas Andri bangun dan berlari ke kamar mandi. Tak menutup pintu kamar mandi, mas Andri langsung mengguyur kepalanya. Sayang tolong siapkan semua perlatan kantorku ya mas dah telat nih Sambil keramas , dia menginstruksikan padaku barang apa saja yang mau dibawanya meeting. Syukurin biar aja telatmakanya jadi tikus hutan tuh liat -liat waktu donk sini kalo masih mau nambah adek siap melayani hahahaha kataku sambil berdiri di depan pintu kamar mandi, meliuk-liukkan tubuhku bak penari erotis. Comeon come to mama ejekku lagi awas kamu ya kata mas Andri sambil melempar air dengan gayung Dek, mas berangkat dulu ya harus buru-buru nih ntar malem kayaknya mas pulang agak telat deh jadi kamu jaga diri baik-baik ya nasehatnya sambil mengecup keningku. Iyeiye.dasar baweeeeel sana gih buruan berangkat kataku pada suamiku tercinta. Dengan gemas. Mas Andri melakukan salam perpisahan khas kami. Meremas kedua belah dadaku, memelukku dari depan dan menepuk keras-keras kedua bongkahan pantat semokku. Ia lalu beranjak pergi sambil melambaikan tangan. Kembali, aku seorang diri lagi rumah kontrakan baruku ini. Menjadi ibu rumah tangga. Menyapu, mengepel, mencuci piring dan mencuci baju. Tiba-tiba aku teringat akan kejadian kemarin lusa. Kejadian gila yang membuatku berubah menjadi Liani yang baru. Liani yang nakal, binal dan tak kenal malu ini. Kejadian awal perselingkuhanku dengan tetangga samping rumahku. Mas Manto. Kakiku melangkah ringan menuju belakang rumah, lalu kuputar gagang pintu dapurku. kubuka lebar-lebar pintu itu dan mengamati keadaan di sekelilingku. Masih tetap sepi seperti kemaren lusa. Hanya saja, aku tak melihat cucian mas Manto yang dijemur. Hari ini, hanya ada beberapa helai cucian kotor yang teronggok basah di bak cuciku. Tapi entah kenapa, aku sepertinya ingin segera mencuci lagi. Dengan hanya mengenakan daster pendek tanpa daleman sama sekali, kembali, aku menyeret bak cuciku kearah halaman belakang rumah kontrakanku. Cburrr..cbuuurrrr aku mendengar suara air dan gayung. Wah mas Manto sedang mandi nie pikirku. Vaginaku yang masih basah karena baru saja disodok-sodok mas Andri tadi, mulai kembali berdenyut. Cairannya mulai membanjir turun kearah pahaku. Putting dadaku juga mulai

mencuat, menampakkan keberadaannya dibalik daster tipisku. Dadaku berdebar-debar dengan hebatnya dan lututku pun mulai melemas. Tok tok tok aku ketuk pintu dapur mas Manto yang tertutup rapat. Suara deburan air itupun sejenak terhenti. Mas Manto menutup keran airnya, dan berteriak lantang. Yaaa sebentar. Syapa ya? Sa saya mas kataku putus-putus menahan nafsu yang sudah memuncak Liani Aku mendengar mas Manto membuka pintu kamar mandinya, berjalan kearah pintu dapur dan membukanya perlahan. Yaa? Ada apa ya mbak.? Katanya tenang. Pria idamanku sekarang berada di depan mataku. Pria yang selalu aku bayangkan ketika bersetubuh dengan mas Andri, suamiku, sekarang benar-benar ada didepanku. Dia terlihat begiru segar, sama persis seperti saat aku meminjam bak cucinya sabtu kemaren. Badan dan rambut yang masih sama, basah terkena air mandi, namun kali ini agak berbeda. Aku tak lagi melihat handuk lusuh berwarna hijau yang terikat di pinggang rampingnya. Saat ini, mas Manto dengan sangat percaya diri, berdiri dalam kondisi tanpa mengenakan penutup aurat sama sekali. Telanjang bulat, memamerkan batang penisnya yang menjulang tinggi melewati pusarnya. Cairan vaginaku sudah tak tertahankan lagi. Meleleh turun, membasahi paha dan betisku. Aku benar-benar terangsang. Mas Manto bisa pinjem .. tanyaku lirih sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin. Bisa potongnya sambil memamerkan senyum paling indah sedunia. Senyum tenang yang selalu menghanyutkan diriku. Diraihnya pergelangan tanganku, dikecupnya pelan, dan diletakkannya telapak tanganku tepat di kepala penisnya yang sudah berdenyut hebat. Yukmbak Aku terima ajakan mas Manto, melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya, dan menutup pintu dapur di belakangku rapat-rapat.

Inah Pelayan Seksi


Linda mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sedang-sedang saja, sesekali mulutnya bersenandung kecil mengikuti lagu yang sedang diputar pada stereo- tape, panasnya udara Jakarta pada siang hari yang terik itu tak mempengaruhi siapapun yang berada didalam kendaraan itu, karna Air-conditioner selalu siap memanjakan siapa pun yang berada didalamnya dengan hembusan udara sejuknya. sementara disampingnya seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan yang nampak lugu,dengan posisi duduk agak kaku dan tidak rilek,sesekali pandangannya menerawang mengamati seisi ruangan didalam mobil, terbersit perasaan canggung berada didalam mobil semewah itu, baru kali ini didalam hidupnya ia berada didalam mobil seperti itu, dialah Inah,wanita desa berasal dari Sukabumi yang barusaja dijemput oleh Linda dari terminal bus antar kota, untuk dipekerjakan dirumahnya. Inah walaupun seorang wanita desa namun berwajah cukup manis berkulit kuning langsat dan memiliki tubuh yang sekal,bentuk payudara indah, montok,namun tidak terlalu gemuk dan merupakan seorang janda yang sudah satu tahun cerai. Inah dicerai suaminya karna sudah 7tahun perkawinan mereka belum dikaruniai anak ,sehingga suaminya menceraikannya,namun Inah dengan tabah menerima kenyataan itu dan akhirnya setelah hampir satu tahun hidup menjanda dikampung ia merasa jenuh dan kemudian ia putuskan untuk pergi keJakarta setelah ada ajakan dari Linda yang bersedia mempekerjakan inah dirumahnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Linda seorang General-Manager muda yang cantik, yang berusia 36 tahun dari perusahaan Otomotif yang cukup bonafids. Linda sengaja mengambil pembantu yang menarik seperti

Inah adalah disamping untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga juga untuk fariasi dalam petualangan sexnya dengan suaminya Rudi . yang berusia sekitar 38 tahun yang bekerja sebagai pejabat di departemen perpajakan,tak heran bila penghasilan Rudi begitu besar,tak sebanding dengan gaji yang semestinya ia terima,maklum seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa bagian pajak adalah lahan yang basah, beruntung ia tidak tertangkap seperti Gayus tambunan Setelah sampai dirumah Linda menyuruh Inah untuk istirahat setelah makan siang Nah, ini kamarmu dan dilemari itu ada beberapa pakaian untuk kau kenakan, dan itu a da alat-alat kosmetik bisa kamu gunakan sambil menunjuk keatas meja rias. Ini untuk saya nyah..ta..tapi jawab inah gugup saat melihat seisi ruangan. Sudah jangan banyak tanya nanti aku ajarkan kau menggunakannya. Sepeninggalan Linda Inah terheran-heran menyaksikan alat-alat kosmetik yang diberikan oleh nyonyanya. untuk apa nyonya memberikan kosmetik yang beraneka ragam seperti ini. dan tentu mahal harganya sambil berfikir ia memperhatikan seisi ruangan . ruangan yang cukup nyaman pikirnya, tidak sesuai dengan kamar pembantu. Diatas meja tersedia TV lengkap dengan DVD Player, lalu ia membuka lemari dan terlihat pakaian-pakaian yang tidak pernah ia lihat sebelumnya serta pakaian-pakaian dalam yang sexy dengan corak dan warna yang mencolok serta menantang. Lalu ia membuka laci dimeja tv, tampak dia lihat beberapa cassette dvd yang bergambar orang-orang bule sedang bersetubuh,yang ia ketahui sebagai dvd porno. Setelah ia mandi ia berfikir sebenarnya apakah pekerjaan dia dirumah ini, kalau hanya seorang pembantu rumah tangga mengapa disediakan fasilitas-fasilitas seperti ini namun dia berfikir lagi Ah, tak perdulilah mau jadi apa kek.., mau diapain kek.. yang penting aku telah senang disini dan akan aku nikmati segalanya. Pikirnya. Seraya ia putar dvd porno yang juga pernah ia tonton dirumah tetangganya dikampung waktu ia menjanda disana. Senja telah tiba dan Rudi baru saja pulang dari kantornya seraya memarkir mobilnya digarassi. Selesai memasukan mobilnya digarassi,rudi berpapasan dengan inah yang sedang menyapu halaman. Yang langsung disapa oleh inah dengan agak menunduk. Selamat sore tuan sapa inah dengan ramah. Oh..ya..ya..sore,sore kamu tentu inah ya, kapan datang tanya rudi dengan agak gugup karna terpana dengan kemolekan tubuh inah. Tadi siang tuan, dijemput oleh nyonya diterminal jawab inah. Oh, begitu, tapi tolong jangan panggil saya tuan, kau bisa panggil aku Om atau bapak Ma-af tuan.. eh..Om, ma-af Om jawab inah gugup. Rudi segera menemui Linda yang sudah menunggu didalam,dan seraya memuji. Ah, gila bahenolnya. hebat juga kamu dapetin tuh cewek, aku langsung horny nih Lin Dasar kamu kontol nakal begitu ngeliat cewek montok langsung semaput sambil tangan nya meremas penis suaminya itu. Aduuh kau main remes aja aku jadi tambah konak nih. Sambil meremas kemaluan milik suaminya Linda berbisik lembut diteliga Rudi Sabar sayang kita akan pesta nanti malam menikmati ayam kampung dari Sukabumi itu seraya dia berikan kecupan lembut kebibir suaminya. Sekitar pukul 21.00 setelah mereka selesai makan malam Linda memasuki kamar Inah dengan mengenakan sepatu lars tinggi berwarna merah serta celana dalam seksi dan BH berwarna merah dengan rias wajah yang menantang serta rambut disasak seperti wanita dalam film-film Blue. Inah serta merta merasa kaget hampir tidak mengenali yonyanya tersebut Ya, ampun, ada apa nyah pekiknya. Tenang nah kita akan melakukan permainan yang mengasyikan yang tentu kau pun akan menyukainya Dengan lembut

Linda mejelaskan,sambil jari jemarinya yang lentik serta dihias pewarna kuku itu mengusap usap piggul Inah. Permainan apa nyah ? Nanti kamu akan tahu sendiri, sekarang mari aku bantu mengenakan pakaian yang aku berikan padamu Inah masih terheran -heran ketika Linda mulai membantu mengenakan stoking serta menghias wajah inah dengan make-up yang menantang . Sambil memberi make-up pada wajah Inah mata Linda tertuju pada beberapa CD yang tergeletak diatas meja tv. Rupanya kau telah menonton film-film itu nah, bagaiman asyik enggak..? tanya Linda sehingga Inah tampak malu-malu. Habis iseng sih nyah, makanya saya stel film itu, dikampung kadang -kadang juga suka nonton film begituan dirumah tetangga, yah, namanya juga janda, iseng nyari hiburan. Jawab Inah polos. Kamu mau nah, melakukan seperti yang ada difilm itu.? Tanya Linda,sehingga Inah tampak semakin kikuk mendengar pertanyaan Linda Ah, nyonya bisa aja, saya kan janda nyah sama siapa saya akan melakukannya Kalau sama suamiku kamu mau nah? hampir terbelalak inah mendengar ajakan nyonyanya itu, bagaimana mungkin dia berhubungan badan dengan tuannya sementara nyonyanya tahu. Lihatlah dirimu dicermin itu kau tampak sexy pasti suamiku tergila gila melihatmu Inah terheran -melihat penampilannya didepan cermin namun dalam hati timbul rasa bangga melihat betapa sexy dan menggairahkan dirinya dengan penempilan seperti itu mirip seperti wanita-wanita difilm porno yang tadi siang ia tonton. Ketika Inah terpesona dengan dirinya, Linda menuntun inah keruang utama dan disana Rudi sudah menunggu dengan hanya mengenakan celana dalam. Rudi tampak seperti tersihir melihat penampilan Inah sehingga benda yang berada didalam celana dalamnya tampak semakin menonjol Woow.. sangat luar biasa begitu seksi dan sangat menantang pujinya Inah tampak tersipu malu namun juga merasa terangsang melihat rudi yang berwajah tampan serta berbadan atletis hanya mengenakan celana dalam sehingga tampak menggairahkan bagi seorang janda kesepian seperti dirinya. Linda segera mengecup bibir suaminya dan saling berpilin lidah sambil tangan Linda meremas remas batang penis rudi yang sudah menegang, lalu Linda melorotkan celana dalam rudi dan mendorong rudi kesofa sehingga rudi terduduk disofa dengan penis mengacung Linda segera membelai belai batang penis rudi dan menjilatiya , sementara Inah memandaginya sambil berdiri , Linda sambil berjongkok semakin gencar mengulum penis rudi. Lalu menarik lengan inah. Inah kau berjongkok disini pegang kontol ini dan lakukan seperti yang aku lakukan, jangan sungkan-sungkan kau bebas melakukan apapun yang kau mau Lalu dengan ragu inah memegang kemaluan rudi dan memasukannya kedalam mulutnya mula-mula ia agak canggung namun nafsu yang sudah begitu besar membuat ia tak peduli ia telan habis batang penis itu seperti yang ia lihat difilm Blue. Sementara rudi terus merem melek menahan nikmat. Linda menghampiri rudi dan melumat lidah rudi seraya berbisik. Bagaima sayang telah kau rasakan mulut wanita desa itu dengan kontolmu Zzzzzz..aaaaaaaahhh!! sedaaap sekali lin kontolku serasa diawang awang ..aaaaaeehh teruuuss naah enaakk niiihh. Inah semakin bersemangat mengulum batang rudal rudi, lalu lidahnya turun kebawah dan menjilati biji pelirnya serta mengisap-hisap buah telur milik rudi. Dan rudi semakin meracau tak karuan. Linda segera berdiri disofa dan mengarahkan vaginanya kewajah rudi. Hisap memekku sayang perintah Linda , segeralah rudi melumat vagina Linda sambil batang zakarnya dihisap inah. Linda memejamkan matanya saat rudi menjilati dan melumat vaginanya sambil tangannya memegang tembok dibelakang sofa. Iya, terus rud, jilati memekku aiiih.. ah..ah iya terus rud, itilnya rud itilnya kau jilat

uuuuuhh..asyiiiik Rudi semakin bersemangat mendengar racauan Linda ia semakin bernafsu melumat vagina Linda yang sudah basah tersebut. Sementara Inah dengan penuh nafsu dia lumat terus batang penis rudi. satu tahun menjadi janda tanpa pernah sekalipun melakukan hubungan badan membuat dia sangat haus sekali dengan permainan sex apalagi ditambah dengan seringnya ia menonton vcd porno bertambah saja menumpuk nafsu birahinya yang iya pendam selama setahun, selama dikampung apabila ia habis menonton vcd porno ingin sekali ia melakukan adegan-adegan yang ada difilm tersebut namun tak pernah kesampaian. Hingga pada akhirnya ia berada disini dan segala impianya itu bisa ia wujudkan disini dengan pria setampan rudi, maka seluruh nafsu birahi ia tumpahkan disini sambil terus melumat kontol rudi tangan kirinya mengobel-ngobel memeknya sendiri hingga memeknya tampak basah. Hampir sepuluh menit inah meghisap kontol rudi dan rudi mennjilati memek Linda, dan Linda segera turun dari sofa dan segera menungging dilantai yang telah dipasang karpet permadani tersebut. Ayo rud! entot memekku dari belakang sambil tangannya menggosok-gosok memeknya. Rudi segera mengarahkan kontolnya tepat dimulut memek Linda lalu dia tekan seluruhnya memek Linda yang sudah basah tersebut. Linda memejamkan mata saat batang rudal rudi menembus liang memeknya serasa nikmat menjalari tubuh Linda hingga mulutnya berkicau tiada henti. Zzzzz..aaaaahhhh, uuh..uuh terus rud. Goyang terus rud yang kenceng rud ooooohh..yea oooohh..yea memekku terasa nyaman sekali rud. eenaaaaak tenaan. Rudi terus menancapkan batang kontolnya dengan sekuat tenaga kelobang memek Linda, irama yang terdengar dari memek Linda sangat erotis karna memek Linda sudah basah cloooob.clooob .clooob sleeb..sleebsleeb begitu seterusnya secara berirama sehingga Inah degan terpana menyaksikan bagaimana kontol rudi menusuk-nusuk memek Linda . Inah memelihat dari jarak hanya sekitar 10 cm sehingga dengan jelas dia dapat melihat betapa indahnya saat kontol rudi keluar masuk memek linda, sambil tangannya mengobel ngobel kemaluannya sendiri ia sudah tidak sabar ingin merasakan hantaman kontol rudi. Linda sambil menikmati hantaman kontol rudi ia menyaksikan apa yang diperbuat Inah lalu tersenyum dan berkata Inah kamu jangan ngeliatin aja dong, kamu jilatin kontol suamiku, jangan malu-malu kan sudah aku bilang kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, kau praktekan apa yang pernah kamu lihat divcd porno Sebenarnya memang itu yang diinginkan oleh inah maka tanpa ragu-ragu ia hisap buah pelir rudi sambil terus batang kontol rudi keluar masuk memek Linda. Maka serasa ganda kenikmatan yang dirasakan oleh rudi yaitu kenikmatan memek Linda dan kenikmatan hisapan mulut inah di buah pelirnya. Rudi memejamkan mata sambil menusuk-nusukan kontolnya kememek Linda Aahh, asssiiik terus nah hisapi biji pelerku nikmaaaaat iya teruuuuss kalau perlu kau telan semua. Sssssss. Aaaaahhh Inah terus melumat pelir ru di sambil sesekali menjilati batang kontol rudi yang masih terselip diantara memek Linda. Melihat keinginan inah untuk menjilati batang kontolnya maka rudi segera mencabut kontolnya dari memek Linda, kontol tersebut sudah basah oleh cairan memek linda, dan ia masukan kemulut inah Hisap kontolku nah aku tau kau sangat menginginkannya dengan rakus inah langsung melumat batang kontol rudi yang telah basah oleh cairan memek Linda tersebut. hanya beberapa saat rudi langsung menusukan kembali kedalam lubang memek Linda, ia kocok beberapa kali lalu ia keluarkan kembali dan ia masukan lagi kedalam mulut inah, inah

menghisapnya beberapa saat untuk kemudian rudi menusukan lagi kedalam memek Linda ia kocok beberapa kali lalu ia keluarkan dan dimasukan kembali kemulut inah untuk dihisap, begitu serusnya secara berirama. Hingga pada akhirnya Linda berteriak Aaaaaahhh terus rud kocok yang kuat aku mau keluar niiih rudi terus menghatam memek Linda dengan sekuat tenaga dan dengan irama yang sangat cepat, dan akhirnya Linda sampai pada puncaknya. Aaaaaaaaaaahhh.aaaasyyyyyyiiik ennnnnnnaaaaaaaaak ooooooooohh. Begitu banyak cairan yang keluar dari memek Linda sehingga menimbulkan bunyi yang indah saat kontol rudi mengocoknya jrrrrrrrooot.jrrooooot.clloookcloook clooop Linda tersenyum puas sambil terus menugging dan rudi masih menghantam memeknya Lalu Linda berseru. Stop rud, sekarang kau giliran mengentot memek inah Linda segera bangkit dan mendorong tubuh inah hingga terlentang dilantai. Nah sekarang kau akan merasakan nikmatnya batang kontol suamiku, aku tau kau sudah tidak sabar bukan..? sambil tangan Linda mengobel ngobel memek inah. Iya nyah aku sudah kepingin sekali nyah lalu Linda meraih kontol rudi dan dihisapnya beberapa saat lalu berbisik kepada rudi. Sekarang kau entot memek wanita desa ini rud sambil tangan nya membelai kontol rudi yang sudah tegang ia berikan kecupan mesra pada suaminya. Selamat menikmati sayang lalu ia tuntun batang kontol rudi kearah lubang memek inah yang mengangkang ia tekan kontol rudi hingga masuk seluruhnya liang memek inah. Inah terpejam saat batang kontol rudi menembus kelubang memeknya nikmat yang sudah lama tidak ia rasakan kini ia rasakan kembali dengan pria yang setampan rudi dan batang kontol yang begitu besar. Aaaaahhhh asyyyyyyik terussss, legit Ooom. enaaak , sssssssssess.aaaaahhh. enaak Eeeuuuuuuuyy terus inah meracau tanpa rasa canggung karna rasa canggung nya telah terbenam oleh rasa nafsu dan nikmat yang begitu menggelora. Rudi menggigit bibir bawahnya karna merasakan legitnya memek inah yang belum pernah ia rasakan sebelumya. Bagaimana rud enak memeknya ? bisik Linda. Luar biasa lin, gurih sekali barang wanita kampung ini aaaaaahhh..aaaaahhh. zzzzzzaaahhh Linda mengecup bibir rudi sambil tangan nya membantu mendorong pantat rudi agar lebih tandas masuk kememek inah. Inah terus meracau tak karuan dengan logat sunda yang masih kental sambil pantatnya ia goyang mengimbangi hantaman kontol rudi. Enaaak eeuuyy aaaaaahhh, ayu atuh Oom. geol yang kuat rudi tak tahan melihat sexy nya tingkah laku inah lalu ia lumat dengan rakus bibir inah dan mereka saling berpilin lidah, inah dengan nafsu langsung menyambut ciuman rudi sambil ia cengkram kepala rudi dengan kedua tangan seolah-olah tidak ingin ia lepaskan. Melihat adegan itu Linda segera berinisiatif untuk menjilati batang kontol rudi yang keluar masuk memek inah sambil sesekali ia jilati juga memek inah sehingga inah merasakan semakin nikmat saat lidah Linda menjilati bibir memeknya. Iya nyah assyik nyah jilatin terus nyah geli euy Mendengar perkataan inah, Linda semakin bersemangat menjilati bibir memek inah dan juga itilnya sehingga inah semakin blingsatan. Hampir lima menit rudi menggojlog memek inah dan memek inah tampak semakin basah oleh cairan birahinya. Sementara Linda mulai menjilati biji pelir rudi dan juga lubang anus

rudi tak luput dari jilatannya sehingga rudi merasa geli-geli nikmat saat ujung lidah Linda menggelitik lubang anusnya. Iya enaak lin terus kau jilati lubang pantatku aaahhh.aaaaahhhgeli, lin Rasa nikmat yang dirasakan rudi dari dua sisi yaitu dari batang kontolnya yang menembus memek inah dan lubang pantatnya yang dijilati Linda, membuat ia tidak tahan dan akhirnya sampailah pada klimaksnya disertai jeritan panjang rudi Aaaaaaaaaaaaaah aku keluar liiiin Disusul pula secara bersamaan oleh jeritan inah yang mencapai orgasme. Aduuuuh ennaaaak euuuy.. sehingga susana sangat riuh pada saat detik -detik kenikmatan tersebut. Dan rudi segera mengeluarkan batang kontolnya, Linda dengan cepat menyambut cairan air mani yang keluar dari kontol rudi dengan mulutnya, begitu banyak sperma yang keluar sehingga mulut Linda serasa penuh oleh cairan gurih-gurih asin itu. sperma tersebut menghiasi juga pipi dan dagu Linda, inah pun segera bangkit dan menjilati sisa-sisa sperma dari batang kontol rudi. Melihat inah menghisap-hisap kontol rudi untuk mendapatkan sisa-sisa sperma, Linda segera tanggap dan ia tarik rambut inah sehingga inah tertengadah dengan mulut menganga lebar,lalu Linda menumpahkan sebagian sperma rudi yang berada dimulutnya kedalam mulut inah yg telah menganga, inah dengan rakus langsung menelannya bahkan sperma yang melekat didagu dan pipi Linda ia jilati pula. Linda dan inah akhirnya saling berpilin lidah dan saling berciuman untuk menikmati sperma yang ada dimulut masingmasing. Rudi terduduk disofa sambil menyaksikan atraksi yang erotis yang diperagakan oleh Linda dan inah. Dan akhirnya inah bersandar dibawah sofa sambil melepas lelah dengan meminum segelas Orange juice. Linda berbaring telentang diatas karpet sambil menikmati rokok Sampoerna A mild kesukaannya. Sementara rudi duduk disofa sambil menenggak sekaleng bir Heineken.

Kira-kira setengah jam mereka melepas lelah sambil berbincang-bincang dan menyantap makanan kecil, tubuh mereka sudah mulai pulih kembali, Linda segera menangkap batang kontol rudi dan menghisapnya lalu memberikannya pada inah Nah ini, ayo kau hisap kita akan segera melakukan permaian kedua yang lebih mendebarkan dan yang belum pernah kau alami sebelumnya, dan pasti kau akan menyukainya pula inah segera menghisap kontol rudi dengan bersemangat, dan Linda membisikan sesuatu pada rudi. Ayo rud, kita segera akan melakukan Anal sex, anusku sudah tidak tahan menerima hantaman batang rudalmu Iya sayang aku pun sudah tidak tahan untuk menikmati lubang anusmu yang legit itu bisik rudi pula.sambil mengobel lubang anus Linda. Lalu Linda terlentang diatas karpet sambil mengangkang dan menusuk-nusukan jari telunjuknya kedalam lubang anusnya sendiri sambil sesekali mengoleskan air liur pada lubang anusnya. Bagaimana inah apakah sudah siap batang kontol yang kau hisap itu untuk menghantam lubang anusku, cepat aku sudah tidak tahan nih. Iya, sebentar nyah Lalu inah segera mengeluarkan batang kontol rudi dari mulutnya dan

segera menuntunnya kearah lubang anusnya. Rudi segera menekan kontolnya kedalam lubang dubur Linda serasa peret dan enak, batang kontolnya serasa dijepit oleh anus Linda dan lindapun memejamkan matanya menahan nikmatnya batang kontol rudi menusuk nusuk anusnya Aaaaaaahhhasssyyyik terus rud hantam lobang pantatku auh..auh..iya, iya Rudi terus menggenjot kontolnya secara berirama sambil memejamkan matanya dan tersenyum nikmat merasakan batang kontolnya yang dijepit oleh anus Linda, serasa nikmat membawa tubuhnya keawang-awang. Inah terpana menyaksikan kontol rudi yang begitu besar menembus tanpa ampun kedalam lubang dubur Linda, namun Linda tampak merasa nikmat yang luar biasa. Sungguh permainan yang belum pernah dirasakan oleh inah sebelumnya namun inah sering menyaksikannya divcd porno, dan ia ingin sekali mencobanya dengan rudi. Inah segera menjilati biji pelir rudi dari belakang sambil sesekali ia jilati pula batang kontol yang terselip diantara lubang pantat Linda, sampai pada akhirnya ia jilati pula lubang dubur rudi, mula-mula ia agak jijik namun setelah beberapa saat ia mulai merasakan kenikmatan tersendiri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, maka dengan rakus ia jilati terus lubang dubur rudi sampai ia tancapkan ujung lidahnya kedalam dubur tersebut, Menerima aksi inah yang atraktif tersebut membuat rudi semakin merasakan kenikmatan yang luar biasa, lubang duburnya serasa digelitik benda lembut saat inah menancapkan ujung lidahnya kedalam dubur rudi. Sementara rudi memejamkan mata saat menikmati dubur Linda dan juga lubang duburnya yang dijilati oleh inah. Aaaaah. Asyyyiiiiik jilatin terus lubang pantatku nah, masukan seluruh lidahmu kedalam anusku, serasa sukmaku melayangsseess..aah Linda memeluk leher rudi dan melumat bibir rudi dan mereka saling beradu lidah dalam menikmati permainan tersebut. Aaahh teruuuus rud, goyang terus batang kontolmu kedalam lubang pantatku, tandaskan seluruhnya rud, biarkan sukmaku melayang karna nikmat yang kau berikan ini rudi terus menghantam dubur Linda dengan kekuatan penuh, sementara lidah inah masih terus bergerilya didalam lubang anus rudi. Pada menit kesepuluh permainan tersebut, mereka merubah posisi, kini rudi telentang dikarpet, sementara Linda diposisi atas dengan berjongkok membelakangi wajah rudi, setelah inah menghisap beberapa saat batang kontol rudi lalu Linda mulai memasukannya kembali kedalam lubang pantatnya dan langsung memompanya sambil berjongkok dengan irama yang mula-mula lambat hingga lama kelamaan sangat cepat Hihh hihhh..hihh.. rasakan goyanganku ini rud semoga kau menikmatinya Iya terus lin enak sekali kontolku serasa tersedot oleh lubang anusmu Kemudian rudi segera memerintahkan inah untuk memberikan memeknya kemulutnya, maka segera saja inah berjongkok diatas wajah rudi dan rudi dengan rakus segera menjilatinya sehingga inah menggigit bibir bawahnya sambil matanya terpejam karna merasakan nikmat Aaaaaahasyiiiik om, geli-geli enaaaak terus Oom. emmmmmmm..aaahhh Inah terus meracau sambil menjambak rambut rudi, dan rudipun tidak hanya menjilati memek inah tetapi ia mulai pula menjilati lubang dubur inah, sehingga inah semakin merasa nikmat dan juga agak geli saat ujung lidah rudi menggelitiki lubang dubur inah , sehingga ia sesekali tertawa manja saat merasakannya

Aiiihhauuwgeli Oom.hiii..hiii..hiiiaiihh.. auuw..auuw hiiihiii..hiii tapi asyiik om, geli geli enak, terus om.. terruuuuss.. mmmmmmm..ahhhh. Lebih dari sepuluh menit Linda memompa batang kontol rudi dengan lubang anusnya sambil berjongkok membuat peluh ditubuhnya bertambah deras hingga ia merasa kehabisan tenaga dan menghentikan kegiatan tersebut. Lalu ia berbisik kepada inah Nah, sekarang giliran lubang pantatmu yang menerima hantaman kontol rudi, apakah kamu sudah siap, nah? seraya mengecup bibir inah dengan mesra. Iya, nyah saya sudah tidak sabar ingin merasakannya nyah Rud, apakah kau sudah siap untuk mengentot lubang pantat inah yang masih perawan itu bisik Linda kepada rudi. Ow.. tentu sayang, aku sudah tidak sabar untuk memerawani lubang anus wanita desa yang seksi dan mulai nakal ini Lalu Linda segera telentang dan memerintahkan inah untuk menungging diatas tubuhnya. Kau akan merasakan sesuatu yang menakjubkan dalam hidupmu nah, saat melakukan permainan ini dan inahpun segera menungging diatas tubuh Linda yang telentang dengan posisi memek inah tepat berada diatas wajah Linda dan posisi memek Linda berada didibawah wajah inah, seperti posisi 69. Lalu linda segera menjilati lubang dubur inah dan mencolok-colok nya dengan jari telunjuk sambil mengoleskan air ludah kedalam dubur inah, Lalu rudi segera memasukan batang kontolnya kedalam mulut Linda untuk kemudian linda menghisapnya dengan rakus beberapa saat kemudian ia keluarkan batang kontol rudi dari mulutnya dan mulai ia arahkan kontol rudi kelubang dubur inah Selamat menikmati sayang bisik Linda dan rudi pun langsung menekan batang kontol nya kearah anus inah yag telah basah oleh air ludah Linda, ia tekan dengan lembut dan penuh perasaan karna memang agak sulit memasukan batang kontolnya kedalam lubang pantat yang masih perawan seperti inah. Beberapa kali sempat meleset dan akhirnya berhasil juga tembus berkat usaha Linda membantu menuntunnya serta melumasinya dengan air ludah. Pada saat tembus kedalam lubang duburnya, inah sedikit meringis karna merasa agak perih, namun kira-kira beberapa detik kemudian ia mulai merasakan kenikmatannya sehingga ia tampak memejamkan matanya merasakan nikmat. Mmmmmmmmm..aaaaahhh.. asyyiiiiiik..terus om, entot lobang dubur saya om, enaaak. Inah menikmati tusukan batang kontol rudi yang menghantam lubang anusnya sambil menjilati memek Linda yang berada dibawah wajahnya. Inah benar-benar merasakan petualangan yang mengasyikan dan ia benar-benar menikmati itu semua. Rudi menikmati keperawanan anus inah sambil memejamkan matanya, sambil sesekali meringis karna anus inah serasa masih begitu sempit dan peret karna belum pernah dimasukan oleh batang kontol, berbeda dengan lubang anus Linda yang sudah sering dihantam oleh berbagai macam kontol. Sehingga rudi tidakbisa menggoyang batang kontolnya dengan terlalu keras, namun harus penuh kelembutan dan penuh perasaan. Linda beraksi dengan menjilati pangkal kontol rudi yang masih tersisa diluar anus inah serta menjilati lubang memek inah secara bergantian, sambil merasakan kenikmatan lubang memeknya yang dijilati oleh inah. Hampir sepuluh menit rudi menikmati anus inah, dan rudi segera mengeluarkan batang kontolnya dan ia masukan kemulut Linda untuk dihisap, Linda menghisapnya dengan rakus, aroma anus inah masih terasa melekat pada kontol rudi

sehingga menambah rasa kenikmatan tersendiri bagi Linda hingga dengan lahap ia melahap kontol rudi tersebut. Hanya beberapa detik kemudian rudi memasukan kontolnya kembali kedalam dubur inah, lalu ia pompa beberapa kali dan ia keluarkan lagi dan dimasukan kembali kedalam mulut Linda untuk dihisap oleh Linda, begitu seterusnya untuk bebeberapa kali. karna rudi mengerti Linda sangat suka menikmati kontol yang baru saja dikeluarkan dari lubang anus. Aroma anus yang melekat pada batang kontol sangat membangkitkan gairah bagi Linda, itulah yang dikatakan oleh Linda kepada rudi beberapa waktu lalu. Akhirnya, setelah inah menerima hantaman kontol rudi yang bertubi-tubi pada lubang duburnya, dan juga jilatan lidah Linda pada lubang memeknya, sampailah inah pada puncak kenikmatannya disertai dengan jeritan yang keras. Aaaaaaaaaaaaaaaahhh.. enaaaakk Euiiiiiiiiiiiiiiiyy. Maka tumpahah cairan hangat yang bening keluar dari lubang memek lnah, dan Linda dengan rakus langsung menghirup cairan tersebut dan menelannya. Beberapa saat kemudian disusul oleh jeritan rudi yang telah mencapai klimaks. Aaaaaaaah aakku.. keluar lin dan rudi segera menarik keluar batang kontolnya dan dikeluarkan air maninya diatas lubang dubur inah. Crrrooootcrrrrrootttcrooot. Banyak sekali sperma rudi yang keluar memenuhi sekitar lubang anus inah, dan dengan rakusnya Linda segera menjilati sperma disekitar lubang dubur inah tersebut dan ditelannya sampai habis, sampai dijilatinya kedalam lubang dubur inah dengan harapan masih tersisa air mani rudi. Mmmmmmnyeemmmnyeemm..nyeemm. gurih sekali air manimu rud, apalagi bercampur dengan aroma dubur inah serasa nikmat tiada tara sambil terus menjilati sis asisa air mani rudi yang terselip didalam lubang anus inah. Inah terkapar lemas diatas tubuh Linda yang masih menjilati lubang anusnya. Inah terkapar lemas namun senyum bahagia tampak terlukis diwajahnya karna benar-benar ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dan tak akan pernah ia lupakan sampai kapanpun. Dan ia berharap ini jangan cepat-cepat berakhir, karna ia ingin terus merasakan kenikmatan seperti ini lagi. SEKIAN DULU AH....nanti kl ada kesempatan akan dilanjutin

Gairah Keluarga Istriku


Satu lagi kisahku yang berkaitan dengan isteriku adalah ketika aku harus ke Menado untuk suatu urusan. Biasanya aku tak pernah mampir kerumah keluarga isteriku yang memangnya berasal dari sana, tetapi kali ini aku terpaksa harus mampir ke Amurang karena isteriku menitipkan beberapa barang untuk adik dan kakaknya disana. Setelah selesai urusanku dikota Manado, maka aku segera memanggil taksi untuk ke Amurang yang letaknya cukup jauh dari kota Manado. Aku sebenarnya kepengen menginap di Manado saja karena disana ceweknya hebat hebat dan menyenangkan, tetapi karena aku harus ke Amurang, maka aku putuskan untuk menginap disana saja, tokh aku tahu kalau rumah keluargaku cukup besar disana dan aku bisa menempati paviliunnya yang sangat menyenang-kan. Aku sampai di Amurang sekitar jam 4 sore, dirumah aku disambut oleh mertuaku, Elsa kakak isteriku serta Vera adik isteriku. Aku menatap wajah ketiga orang ini dengan pikiran yang melayang layang, karena sejujurnya saja baik itu ibu mertuaku, kakak

iparku maupun adik iparku semuanya cantik dan mempunyai keseksiannya sendiri sendiri. Mereka tanpa canggung memelukku serta menciumiku seperti biasanya orang yang kangen. Tetapi aku jadi cekot cekot sendiri. Bayangkan, meskipun mertuaku sudah hampir 55 tahun, tetapi badannya masih montok dengan buah dada yang benar benar hebat ditambah lagi wajah yang cantik, kalau Evie kakak iparku wajahnya kalem khas Manado, tetapi bentuk badannya benar benar ideal karena tinggi langsing dengan buah dada dan pinggul yang tak terlalu besar, kulitnya bersih dan bibirnya selalu tersenyum, berbeda sekali dengan adik iparku Vera yang wajahnya seksi dengan tubuh yang pendek dan padat ditambah buah dada yang montok hampir hampir tak sesuai dengan badannya yang kecil itu. Aku jadi bertanya tanya apakah Vera masih perawan, karena badannya begitu subur. Kami masuk kerumah bersama sama, Ibu mertuaku merangkul aku dengan mesra sehingga dapat kurasakan buah dadanya menempel ketat dilenganku. Aku jadi nggak karu karuan, apalagi ketika kuperhatikan Vera, roknya yang tipis menyebabkan pantatnya yang memakai celana dalam kecil itu terbayang nyata dihadapanku. Benar benar membuat jakunku turun naik. Aku memang menyadari sejak dulu bahwa keluarga isteriku semuanya cantik, tetapi aku tak pernah menduga bahwa aku dihadapkan pada suasana seperti ini, aku sudah merasakan bahwa malam ini aku akan mendapat santapan yang lezat, entah yang mana tetapi aku pasti akan main dengan salah satu dari mereka atau bahkan dengan ketiganya, karena ibu mertuaku sendiri juga masih "layak dinikmati" Dalam kamar aku berusaha untuk tidur sejenak karena memang tubuhku penat sekali, aku mencoba untuk tidur barang satu jam agar supaya nanti bisa keluar makan malam dengan keluargaku semuanya. Tetapi entah berapa lama aku tertidur karena ketika aku bangun kulihat diluar sudah gelap dan tak seorangpun yang berani membangunkan aku. Dengan tergesa gesa aku mengambil handukku dan pergi mandi. Tak kulihat seorangpun dirumah, entah kemana semua, tetapi ketika aku mendekati kamar mandi kudengan suara deburan air serta nyanyian wanita yang sayup sayup. Dari suaranya kukira itu suara ibu mertuaku. Benar saja ketika kuketuk pintunya ibu mertuakulah yang menjawab. Kutunggu dimuka pintu dan tak lama kemudian keluarlah mertuaku dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dilibatkan dibadannya. Aku terpana menyaksikan sembulan buah dada mertuaku yang menonjol dari balik handuk yang dipakainya itu, apalagi ketika mertuaku mengambil pakaian yang ditaruhnya digantungan maka aku dapat melihat bulu ketiaknya yang lebat dan hitam itu. Secara otomatis aku melihat keantara selangkangannya sayang tertutup dengan handuk yang sedikit menutupi pangkal pahanya itu. Dengan nekad aku sengaja menjatuhkan handukku dan ketika mengambilnya aku melirik kepangkal paha mertuaku, benar saja, kulihat kerimbunan jembutnya yang masih basah dengan air. Entah mengerti atau tidak, tetapi mertuaku hanya tersenyum melihatku. Aku segera masuk kekamar mandi dan mulai mandi. Pikiranku yang ngeres menyebabkan kontolku jadi ngaceng nggak karu karuan. Kupercepat mandiku dengan harapan aku bisa nyamperin mertuaku yang kuharapkan masih belum berganti pakaian. Kusambar handuk, kubiarkan bajuku tergantung dikamar mandi dan aku setengah berlari menuju kekamar mertuaku untuk menjalankan tipu muslihatku. Dengan hanya memakai handuk saja aku berhenti sejenak didepan kamar mertuaku, aku menarik nafas panjang dan tanpa mengetuk aku masuk kekamar itu. Benar saja kulihat mertuaku telanjang bulat

didepan kaca sambil menyisir rambutnya yang panjang. Mataku terbeliak melihat buah dada serta jembut mertuaku yang amit amit tebalnya itu. Mertuaku menjerit kaget, dan menoleh kearahku, wajahnya merah padam, tetapi tak sedikitpun ia berusaha untuk menutupi nonoknya ataupun susunya. Dengan wajah yang kubuat serius aku meminta tolong mertuaku untuk melihat kontolku yang kukatakan digigit semut, memang tadi sengaja aku mencari semut merah didepan kamar mandi dan kugigitkan kebatang kontolku sehingga kontolku jadi bintul kena sengat semut kecil itu. Ketika melihat aku menyodorkan kontolku yang seperti anak kucing besarnya itu mertuaku jadi terpana, dia tak bisa berkata apa apa namun kuperhatikan matanya terus melekat memandang kontolku itu. Mertuaku mengambil duster dan memakainya untuk kemudian mengambil obat gosok dan mendekati aku. Dengan agak gemetar mertuaku mendekat dan dipegangnya kontolku untuk melihat bagian yang digigit semut itu. " Aduh Roy, ngana ini kok ada ada saja sih, untung nih Evie dan Vera lagi keluar, kalau nggak kan Mamie jadi nggak enak ya, sini Mamie kasih minyak gosok biar nggak sakit" Aku merasakan sentuhan tangan mertuaku yang dingin sekali, kurasa kalau dia masih sungkan atau takut karena kenekadanku ini. Setelah membubuhkan minyak gosok, mertuaku mau berdiri, tetapi aku sengaja bilang " Mamie masih sakit nih, tolong dong dipijit pijit biar nggak terasa sakitnya. Mertuaku tertawa geli dan menyuruh aku duduk dikursi panjang yang ada dikamar itu, setelah aku duduk mertuakupun duduk disampingku dan tangannya mulai memijit mijit bagian kontolku yang sakit itu. Tapi dasar kontolku memang kurang ajar, begitu dipijit sedikit langsung saja dia ngaceng dan berdiri tegak lurus. Mertuaku dengan setengah berbisik berkata " Roy ngana punya barang kok galak sekali ya " Aku diam aja karena aku juga merasakan sentuhan buah dada mertuaku yang menyenggol lenganku. Tanpa ragu ragu aku membetulkan tangan mertuaku agar supaya memegang kontolku dengan lebih tepat. Tiba tiba saja mertuaku melepaskan tangannya dan sambil tertawa menyuruh aku keluar dari kamarnya " Ayo Roy, itu sudah sembuh sekarang ngana keluar " Aku yang sudah bernafsu yakin bahwa mertuaku sebenarnya juga kepengen merasakan kontolku ini, tetapi mungkin dia kuatir sehingga dia menyuruh aku keluar. Karena itu tanpa bicara ba atau bu langsung saja kuterkam mertuaku dan kutarik dusternya sehingga kami sama sama telanjang bulat. Langsung aku menciumi bukit nonoknya yang penuh dengan jembut keriting itu sementara tanganku dengan terlatih memilin milin puting susu mertuaku. Mertuaku berusaha untuk memberontak dan mendorong kepalaku, meskipun aku tahu itu tidak dengan sungguh hati, dan justru karena gerakannya itu paha mertuaku jadi terkuak yang menyebabkan aku mudah untuk menyelipkan bibirku keliang nonoknya. Sekali lidahku menyentuh itilnya, mertuaku langsung ambruk dan terlentang diatas kursi panjang tanpa berdaya apa apa. Matanya terpejam sambil menggigit bibir, menahan rasa geli yang aku berikan. Tanpa menunggu lama, aku langsung mengarahkan kontolku keliang nonok mertuaku dan sekali kedut kontolku langsung amblas, begitu aku menggerakkan kontolku, mertuaku langsung merangkul aku dan menggigit pundakku dengan keras sekali, kedua kakinya diangkat tinggi dan dijepitkan pada pinggangku. Kurasakan nonok mertuaku sudah longgar, tetapi untuk ukuran kontolku yang over size ini, maka nonok seperti ini cocok sekali rasanya, karena kalau terlalu sempit justru membuat aku cepat finish. Benar saja justru beberapa saat kemudian mertuaku yang berkelojotan merasakan

nikmatnya gesekan kontolku dan mencapai kepuasannya. Aku tak merasakan perihnya gigitan mertuaku pada pundakku karena aku sedang asyik memacu kontolku untuk mengejar ketinggalanku, ketika kurasakan air maniku sudah hampir menyemprot keluar, kurasakan nonok mertuaku sepertinya makin menjepit kontolku sehingga aku jadi melenguh panjang dan semprotan demi semprotan air maniku memancar keluar memenuhi liang nonok mertuaku. Baru saja aku menikmati empotan nonok mertuaku yang khas itu, tiba tiba saja mertuaku mendorong badanku sambil berkata " Roy, ngana nekad sekali, bagaimana kalau kelihatan anak anak yang lain, Mamie bisa mati berdiri" Aku hanya menyeringai, kusambar handukku dan aku segera keluar menuju kamar mandi lagi. Kucuci kontolku yang penuh lendir dan segera keluar dari kamar mandi. Benar benar aku merasakan petualangan yang hebat, karena aku tak pernah menyangka bahwa aku dapat mencicipi tubuh mertuaku yang begitu padat dan seksi serta benar benar berpengalaman membuat pria merasakan kenikmatan yang sejati. Aku tahu bahwa dari cara mertuaku menikmati persetubuhan tadi, dia sudah lama tak pernah merasakan ****** pria, tetapi aku yakin hal itu tak berarti dia tak pernah merasakannya semenjak mertua laki lakiku meninggal. Pasti ada satu atau dua pria yang mengisi kesepiannya dengan memberikan kehangatan seks. Aku sendiri sebenarnya masih belum puas dengan permainan tadi, karena dengan tubuh seperti mertuaku itu, rasanya aku masih mampu mendayung dua tiga kali lagi, tetapi apa mau dikata, mertuaku kuatir kalau diketahui orang. Ketika aku lewat kamar mertuaku, kulihat kamar itu tertutup rapat, sebenarnya aku ingin mengetuknya, tetapi saat itu kulihat Evie berjalan kearahku, sehingga aku mengurungkan niatku itu. Evie tersenyum melihatku,"kenapa ngana kok baru mandi Roy ?" aku jawab kalau aku ketiduran karena terlalu lelah. Evie tersenyum manis yang membuat jantungku berdegup keras, senyuman itu benar benar merangsang dan penuh isyarat undangan yang dapat kutangkap. Sesampai dikamar, aku berbaring dulu ditempat tidur, disamping untuk relax, aku juga memikirkan Evie kakak iparku yang cakep itu. Kalau dilihat dari wajahnya sih memang cantik isteriku yang juga adiknya, tetapi kalau badannya, isteriku bukan apa apa dibandingkan Evie yang lebih mirip mamienya itu. Kubayangkan, apakah mungkin malam ini rejekiku bertumpuk tumpuk sehingga bisa menyantap ketiga wanita yang ada dirumah ini, memikirkan hal ini aku jadi tersenyum sendiri. Aku berpikiran bahwa ketiga perempuan dirumah ini memang kelihatannya nafsunya gede, aku bandingkan mertuaku dengan isteriku yang juga anaknya, tidak jauh berbeda nafsunya. Entah kalau si Evie atau Vera, tetapi aku berani bertaruh bahwa mereka itu juga hebat. Sedang asyiknya aku melamun, kudengar ketukan pelan dipintu kamarku, aku melompat dari tempat tidurku membenahi handukku dan membuka pintu itu. Kulihat Evie dimuka pintu sambil tersenyum dia berkata " Roy ayo ngana makan dulu, biar nggak letih itu badan" Aku menyahut "nggak dulu deh Ev, gimana kalau kita omong omong saja dulu disini, nanti kita makan sama sama ya" Evie tak menyahut, tetapi dia langsung masuk dan aku dengan acuh tak acuh menutup pintu itu. Jantungku berdegup keras,"ini dia dapat lagi satu santapan". bagiku Evie bukan sekedar merangsangku karena tubuhnya, tetapi aku lebih tertarik karena dia adalah kakak isteriku seperti aku juga tertarik pada mertuaku sendiri yang ternyata juga mau main dengan menantunya itu. Karena kursi dikamar itu hanya satu, maka agar supaya Evie duduk diatas tempat tidurku, maka aku cepat cepat duduk dikursi yang cuma satu itu. Benar saja, Evie setelah menoleh kiri kanan dan tak

menemukan tempat duduk maka dia duduk diatas tempat tidurku. Dengan hanya memakai handuk aku mengajak Evie berbicara sementara mataku memperhatikan Evie yang memakai duster tanpa lengan itu. Kalau kuperhatikan, Evie tampaknya tak memakai beha, aku hanya ingin dia mengangkat tangannya agar aku bisa melihat ketiaknya, apakah lebat seperti isteriku dan juga mamanya ataukah bersih yang kurang kusukai itu. Evie menanyaiku keadaan Jakarta, juga bagaimana keadaan Novie isteriku disana. Aku bercerita panjang lebar tentang keadaan keluarga di Jakarta, juga aku ceritakan tentang Vicky adik laki laki satu satunya yang juga membantu perusahaanku di Jakarta. Pembicaraan kami jadi makin serius ketika aku mulai menanyakan keberadaan bung Denny, suami Evie. Denny seorang dokter yang ganteng dan baik sekali, sayangnya sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak seorangpun, entah siapa yang salah. Ketika kutanyakan dimana bung Denny, Evie menjawab kalau Denny sedang dinas kedaerah untuk beberapa hari. Hal ini membuatku gembira karena berarti kesempatanku makin besar untuk menikmati Evie. "Evie kenapa sih kok belum punya anak juga, apa memang dicegah ?" Evie tersenyum simpul saja katanya "Bagaimana mau punya anak, kalau produksinya jarang jarang" Aku tersenyum dan dengan santai aku bercerita tentang hubunganku dengan Novie isteriku dalam hal seks. Kuceritakan betapa Novie hampir setiap malam mengajakku untuk main, belum lagi hobby Novie yang senang posisi macam macam. Evie hanya menyeringai saja mendengar ceritaku yang seram itu, aku yakin kalau dia terangsang mendengarnya. "Roy, kenapa sih Novie kok demikian gede nafsunya, apa kamu kasih minum obat ya?" Aku jawab enteng, "enggak tuh, tapi biasanya, perempuan yang bulunya lebat, itu nafsunya juga gede" Evie terkikik mendengar jawabku itu, aku langsung bertanya lagi " apakah Evie juga lebat bulunya, kasih lihat dong !" Evie dengan terus tertawa geli balas bertanya "bulu apa Roy ?" Kujawab "bagaimana dengan bulu ketiak Evie ?" Evie dengan malu malu mengangkat lengannya yang putih bersih itu sehingga aku bisa melihat ketiaknya yang penuh dengan rambut hitam keriting itu. Aku bergaya tenang saja, padahal hatiku dag dig dug melihat ketiak yang lebatnya melebihi ketiak isteriku bahkan lebih lebat dari ketiak mertuaku tadi. Sambil mengatur suaraku agar tak kentara kalau aku nervous aku berkata lagi "waduh Evie, nafsumu pasti segede nafsu Novie, malah bisa bisa kamu lebih gede lagi, kalau bung Denny nggak punya modal yang hebat, pasti rontok deh sama kamu" "Apakah barangnya Denny gede dan mainnya kuat Ev ? Evie tak menjawab malahan bertanya "kalau Roy gimana ?" Inilah pertanyaan yang aku tunggu tunggu langsung saja kujawab "kalau aku sih minimal dua kali semalam ya masih OK, karena barangku cukup besar untuk membuat Novie puas dalam waktu yang relatif singkat" Saat itu dengan sengaja kusingkap handukku hingga kontolku yang sudah setengah ngaceng itu dapat dilihat dengan nyata oleh Evie. Evie menjerit lirih melihat kontolku itu, katanya " aduh Roy masukkan deh, aku ngeri habis gede sekali sih" Aku tertawa saja, tanpa berusaha untuk menutup handukku lagi, malah aku bertanya : "kalau punya Denny seberapa Ev ? Evie menjawab "pokoknya nggak segede punya kamu deh" "Ah nggak apa apa Ev, Noviepun aku rasa susunya tak semontok kepunyaanmu, pasti Denny senang karena punya isteri yang susunya gede" "Coba aku lihat Ev, sebentar saja" Evie tertawa tawa malu namun dibukanya kancing dusternya bagian atas sehingga terbukalah buah dadanya yang putih mulus tanpa beha itu. Benar benar besar dan padat sekali, pentilnya

coklat muda dan dibeberapa tempat kulihat masih ada bekas gigitan yang berwarna merah. Aku berdiri dan mendekati Evie, kataku "aduh Evie, susumu bagus sekali, aku kepengen memegangnya ya" tanpa menunggu aku sudah meremas buah dada yang montok itu, sementara karena tadi handukku terlepas, maka ketika aku berdiri aku sudah tak memakai apa apa lagi. Sengaja kupepetkan badanku ketubuh Evie sehingga sementara tanganku meremas susu Evie, kontolku yang panjang itu menggeser geser lengan Evie. Evie hanya diam saja merasakan remasan dan pelintiran jariku pada putingnya. Bahkan dia berkata "Roy aku boleh pegang barangmu ya!" Aku tak menjawab, hanya kontolku kusorongkan kearahnya, dengan gemas Evie balas meremas kontolku dan entah disengaja atau tidak Evie menarik kontolku sehingga aku terjerembab keatas tempat tidur menimpa tubuhnya. Saat itu aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya yang tebal dan menantang itu. Evie membalas ciumanku dengan menggigit bibir bawahku pelan pelan seperti dimamah. Aku membalas ciuman Evie dengan menyelusupkan lidahku kedalam rongga mulutnya yang dibalas Evie dengan menghisap ujung lidahku itu. Benar benar jago berciuman, sementara bibir kami bertautan, tanganku mulai mengembara kepaha Evie, kurasakan celana dalamnya menutupi bukit nonoknya, karena itu pelan pelan kutarik celana dalam itu hingga terlepas, ketika kuraba bukit nonoknya aku merasakan kerimbunan yang sangat tebal. Ketika jariku berusaha mencari liang nonok Evie, aku berhasil menyentuh itil Evie yang sudah membengkak dan keras itu. Nonok Evie sudah licin dengan cairan sehingga jariku dengan mudah menelusup kedalam liangnya yang hangat dan terus menerus mempermainkan itilnya itu. Saat itu Evie berbisik agar supaya aku mengunci pintu lebih dahulu. Dengan tergesa gesa aku menuju pintu serta menguncinya. Kembali ketempat tidur kulihat Evie sudah membuka dusternya sehingga tubuhnya yang montok dan putih mulus itu terpampang dihadapanku. Kaki Evie sudah direntangkannya sendiri membuat liang nonoknya yang berwarna merah tua itu merekah berkilat karena lendir yang membasahinya. Aku tak mau lagi menunggu terlalu lama, kuarahkan kontolku keliang nonoknya dan pelan pelan kutusukkan keantara bibir nonok Evie, aku sengaja tak memasukkannya sekaligus karena aku kepengen Evie yang bereaksi menekan kontolku agar masuk semuanya. Evie yang sudah bernafsu itu menekan pantatku sehingga akhirnya kontolku amblas dalam liangnya. Begitu Evie merasakan ujung kontolku sudah menyentuh leher rahimnya, dia langsung memutar mutar pantatnya seperti ayakan agar supaya ujung kontolku itu makin kuat menggeser leher rahimnya. Kulihat mata Evie terpejam rapat, begitu juga bibirnya. Setiap kali dia merasakan kegelian pada nonoknya, Evie merintih, aku dapat mengetahui hal ini karena setiap kali merasa geli, nonok Evie selalu mengejang. Ku biarkan saja Evie memuaskan dirinya, sementara aku asyik menciumi susunya yang montok itu, aku sama sekali tak berani menggigit susunya karena aku kuatir kalau bung Denny curiga. Merasa kurang puas dengan posisi dibawah, Evie mendorong tubuhku dan menyuruhku terlentang dengan posisi kontolku menjulang keatas, dengan gemetar ia mengangkangi kontolku dan ditepatkannya ujung kontolku keantara bibir nonoknya, sambil tetap menggenggam kontolku, Evie pelan pelan menurunkan badannya sehingga kontolku tertelan oleh jepitan nonoknya itu, tanpa sungkan sedikitpun Evie dengan penuh nafsu mulai menaik turunkan pantatnya, matanya terpejam rapat dan susunya terguncang guncang karena gerakan Evie yang cepat itu. Evie merintih " Ssst...Roy, barangmu rasanya mekar ya, aduh geli sekali

Roy, aku tak tahan lagi Roy...........! Gerakan Evie yang tadinya ritmis meskipun cepat itu mendadak jadi seperti tersendat sendat, Evie meremas sendiri susunya dan ".......aduh...... Roy, aku .kkkkkellluuuuuuaaarrrrr ! Kurasakan nonok Evie mengejang seakan memijat batang kontolku yang masih belum merasakan apa apa itu. Memang setelah sekali memuntahkan sperma setelah main dengan mamie mertuaku, aku sekarang jadi agak kebal terhadap geli, jadi meskipun kontolku ngaceng dan siap tempur, tetapi justru spermaku yang tak mau keluar sehingga membuat aku jadi berang juga. Setelah kulihat Evie berhenti bergerak dan menelungkup diatas dadaku, aku langsung menggulingkan tubuhku sehingga sekarang Evie yang ada dibawah lagi. Aku segera memompa lagi nonok Evie yang masih basah kuyup dengan lendir itu, aku tak perduli dengan suaranya yang berkecipakan itu. Keringatku bertetesan sementara pantatku terus bergerak untuk memompa sperma keujung kontolku. Evie berkali kali merintih karena ia kembali mengalami orgasme, padahal aku belum apa apa sama sekali. Karena kurasakan nonok Evie licin sekali, maka aku mengeluarkan kontolku dan kubersihkan nonok Evie dengan handukku agar lebih kering dan tidak terlalu menimbulkan suara, Evie hanya diam saja, dia benar benar sudah keok, tangannya terentang dan pahanya mengangkang sementara dispreiku penuh dengan bercak bercak lendir dari dalam nonok Evie. Ketika sudah cukup kering, kembali aku mengarahkan kontolku keliang nonok Evie, Evie sendiri membantuku dengan merentangkan liang nonoknya agar aku mudah untuk menyelipkan kontolku diantaranya. Mendadak saja, kami sama sama terperanjat karena dipintu terdengar ketukan serta suara Vera yang memanggil namaku. Evie segera mendorong tubuhku dan mengambil dusternya, dengan tergopoh gopoh ia lari kejendela dan melompat keluar dari jendela yang tertutup kerimbunan pohon pohon itu, sebelumnya masih sempat ia mencium serta menggigit bibirku sambil berpesan agar nanti malam aku datang kekamarnya. Aku hanya tersenyum, setelah kulihat Evie sudah lenyap, aku segera memakai handukku lagi dan membuka pintu untuk Vera. Vera terkejut melihat wajahku yang merah padam serta tubuhku yang penuh keringat itu. Ia bertanya dengan pelan " kenapa ngana Roy ?" Kujawab kalau aku barusan berolahraga, tanpa kusuruh Vera masuk kedalam kamarku dan berkeliling memeriksa kamarku itu, aku diam saja melihat tingkah adik iparku itu, ketika ia melihat bercak bercak dispreiku ia menoleh kearahku dan tersenyum " itu apa Roy ?" Aku agak gelagapan juga mendengar pertanyaan Vera itu, aku terdiam dan tak menjawab sedang Vera sendiri juga tak bertanya lagi, hanya matanya saja yang menatap tonjolan kontolku yang ada dibalik handuk itu. Ketika kupersilahkan untuk duduk, Vera langsung duduk dikursi sambil berkata, "Roy ayo kita makan, Mamie menunggu". "Tunggu ya Roy mau ganti dulu ya !". Meskipun tahu kalau aku mau ganti pakaian, Vera tetap saja duduk dikursi itu, aku jadi salah tingkah, apakah memang Vera ini juga doyan seperti yang lainnya ? Karena sudah dua kali mendapat green light, kali ini aku juga mau mencoba rejekiku, paling tidak aku bisa menunjukkan pada Vera kontolku yang seperti anak kucing itu, pasti dia tak akan pernah lupa sampai kapanpun. Dengan pikiran seperti ini, aku langsung saja melepaskan handukku sehingga kontolku yang masih ngaceng itu, langsung menyembul keluar. Meskipun posisiku agak jauh dan menyamping disisi Vera, tetapi aku yakin Vera melihat keadaanku yang telanjang itu,.Sengaja aku minta tolong Vera untuk mengambilkan parfumku yang ada dimeja,

dengan tenang Vera berjalan kearahku sambil tersenyum senyum katanya "Roy barang ngana mengerikan ya, kenapa dingin begini kok malahan berdiri ? Aku menjawab dengan cepat, " Dia berdiri karena melihat kamu yang tak pakai beha itu ! Susu kamu membuat dia marah marah ! Vera tertawa menyeringai. Memang dari balik dusternya yang tipis jelas sekali kelihatan kalau Vera tidak memakai beha, susunya besar dan padat sekali, bahkan pentilnya kelihatan menonjol. "Susu kamu besar sekali Ver, punya Novie tak ada apa apanya dibanding punya kamu lho ! Vera hanya tertawa, malahan ia sengaja membusungkan dadanya sambil berkata " Ia dong, ini kan Vera rawat baik baik, setiap hari Vera massage biar montok dan kencang ! Ketika Vera menyerahkan botol parfum itu, langsung saja kutangkap tangannya dan kutarik Vera sehingga susunya menempel didadaku yang telanjang itu, Vera hanya tersenyum sambil memandangku, langsung saja aku cium bibirnya yang merekah tipis itu. Vera dengan hangat membalas ciumanku, sementara tangannya langsung saja sudah meremas kontolku. Ketika kuremas susu Vera, Vera malahan menyuruh aku membuka dusternya itu, ketika sudah kubuka, Vera langsung berjongkok dan mengulum kontolku itu. Kuluman Vera benar benar ganas, dijilatinya ujung kontolku serta dikulumnya kontolku sampai habis dan digigitnya pelan pelan. Aku yang sebenarnya sudah kebal selama permainan dengan Evie tadi sekarang benar benar jadi keenakan. Cepat cepat kutarik kontolku dan kudorong Vera ketempat tidur untuk langsung kusetubuhi, Vera mandah saja ketika kudorong ketempat tidur, ketika kuturunkan celana dalam Vera, aku terperangah karena tidak seperti mertuaku atau seperti kakaknya, Vera sama sekali tak berjembut, nonoknya licin, persis seperti bayi, ketika kubuka liang nonoknya, itilnya yang merah itu kelihatan sudah membatu. Aku langsung naik keatas tempat tidur dan kutindih Vera sambil mengarahkan kontolku keliang nonoknya itu. tetapi Vera merangkulku sambil berbisik "Roy, ngana masih perawan, masukan saja dipantat ya " ! Aku terkejut lagi mendengar pengakuan Vera ini, Vera langsung mengganjal pantatnya dengan bantal sambil mengangkat kedua pahanya tinggi tinggi. Kulihat nonok Vera memang masih rapat seperti garis, tetapi lubang pantatnya yang justru agak menganga menanti coblosan kontolku. Langsung saja aku mendekatkan kontolku keantara kedua selangkangannya dan dengan tenang Vera menuntun kontolku kearah liang pantatnya itu. Ketika sudah tepat arahnya, Vera menepuk pundakku sementara matanya terpejam erat. Dengan pelan pelan kudorong kontolku memasuki liang pantat Vera, terasa peret sekali dan agak sulit untuk maju. Kulihat Vera agak menyeringai merasakan desakan kontolku yang besar itu diliangnya, tetapi dia malahan menekan pantatku agar kontolku bisa masuk makin dalam. Dengan lancar akhirnya kontolku bisa masuk semuanya, tanpa menunggu dua kali aku langsung menggoyang pantatku mendayung Vera. Vera dengan sigap menarik kepalaku dan menciumi bibirku, dengan bibir yan bertautan aku terus merasakan kenikmatan pantat Vera yang seret itu. Tanganku asyik meremas susu Vera yang montok dan kenyal itu dengan penuh nafsu. Rasa nikmat yang kudapat benar benar lain daripada yang lain, belum lagi rasa kuatir ketahuan oleh orang, karena sebenarnya aku kan diajak makan, menyebabkan nafsuku makin memuncak sehingga mendadak spermaku sudah menyemprot nyemprot dalam liang pantat Vera. Vera sendiri menggigit bibirku, rupanya dia juga mencapai kenikmatannya dengan hanya berciuman dan diremas remas susunya. Ketika aku

sudah merasa lega, langsung aku cabut kontolku dan Vera sendiri langsung memakai dusternya serta lari keluar kamarku tanpa berkata apa apa lagi. Aku tertawa geli, tak kusangka bahwa seisi rumah ini dapat kulahap dalam sekali jalan. Andaikan saja Novie ikut, berarti aku sekaligus akan menyantap empat orang...

Binalnya Tante Asih


Namaku Adit, umurku 16th, aku masih sekolah kelas satu di salah satu SMU di Jakarta. Ibuku adalah dua bersaudara dengan tanteku yang bernama Asih, umur tanteku 23th, tidak terlalu jauh diatasku. Tante Asih sangat baik dan perhatian padaku, terutama dengan sekolahku jangan sampai aku gagal mencapai cita-citaku. Dia sering memberiku uang jajan dan membelikan baju yang bagus untuku. Maklumlah dia bekerja di tempat yang lumayan basah katanya dan kudengar dia juga berpacaran dengan seorang pejabat di salah satu instansi ternama di Jakarta ini. Tanteku sangat hobi berbelanja, suatu hari aku diajaknya jalan-jalan oleh tanteku ke sebuah Mall. Katanya kalau nyetir sendiri dia suka pusing, makanya dia memintaku menemaninya. Andaikan aku bisa menyetir, tanteku tidak perlu lagi pusing... ... seperti sekarang ini..? pikirku dalam hati. Dalam perjalanan seusai berbelanja Tante Asih menyapaku. Adit udah lapar ya? tutur tanteku. Iya nih, Adit udah lapar banget, tante! seruku padanya dengan manja. Akhirnya kamipun mampir untuk makan saat itu. Oya.., tante sebenernya pengen ajarin Adit nyetir..! kata tanteku ketika kami selesai menyantap makan siang bersama. Emangnya.., Adit udah boleh bisa nyetir, tante..? kataku pura-pura tidak mengerti. Iya.., boleh..dong, biar besok-besok kalau Tante Asih pergi, Adit bisa nyetirin tante! kata tanteku. Singkat cerita, tanteku mengajariku nyetir di daerah Pulomas, kebetulan rute kami pulang ke arah sana. Capek juga ternyata belajar nyetir itu pikirku. Akhirnya tanteku nyuruh aku istirahat sejenak, sambil meminggirkan mobilnya di tempat yang agak teduh. Kamipun istirahat sambil mengobrol ringan tanpa turun dari dalam mobil, tanteku mulai bertanya-tanya kepada aku. Adit udah pernah pacaran, belum? belum jawabku dengan polos. Adit udah gede, jadi udah boleh punya pacar..! kata tanteku. Coba.deh.., tante mau liat punya Adit! sambil dia mengarahkan tangannya ke selangkanganku. Aku kaget sekali tanteku berbuat seperti itu terhadapku, tapi aku tidak berani menolaknya, aku hanya diam saja saat itu.

Perlahan tanteku membuka resulting celanaku, dan mulai mengelus-elus kontolku dari luar celana dalamku. Aaaah.aah! aku merasakan geli bercampur nikmat karena sentuhan tanteku itu, terus terang aku belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, tapi kenapa harus tanteku yang pertama kali mengelus-elus kontolku. Pikiranku berkecamuk antara rasa penasaran, malu tapi nikmat, semua bercampur membuat dag dig dug detak jantungku saat itu. Adit jangan malu., sama tantenya sendiri kok malu! ujar tanteku. Aku diam saja, karena bingung mesti berkata apa. Tante ingin agar Adit tahu gimana rasanya., kan Adit udah gede., nanti juga Adit akan merasakan hal seperti ini kalau Adit udah punya pacar .! bujuk tanteku. Aaaaah..sssshh! tanpa kusadari aku merintih karena rasa nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tanteku mulai memasukkan tangannya meraih batang kontolku yang sudah mulai tegang, aku malu bukan main, karena selama ini aku sangat hormat sekali padanya. Tangan tanteku memang lihai, dia remas-remas dengan lembut kontolku, sampai akhirnya benar-benar tegang dan berhasil digenggam sepenuhnya. Celana dalamku diturunkan olehnya, tampak kontolku mengacung keatas saking tegangnya. Tanteku tersenyum bangga, sambil mulai mengocoknya dengan lembut. Aaaaow..nikmaaaaat sekali.rasanya.! pikirku. Gimana ya, kalo tiap hari merasakannya, aku jadi mengkhayal jauh, pasti pacar tanteku yang pejabat itu mendapat kenikmatan seperti ini setiap hari. Waaahpasti puas hidupnya kali ya? semakin terbayang olehku jika aku jadi seperti dia. Sementara itu, tanteku terus mengocok-ngocok batang kontolku, sambil sesekali memberikan pijatan-pijatan pada bagian tertentu yang membuatku jadi kelojotan menahan denyut demi denyut rasa nikmat yang luar biasa. Tampaknya tanteku sangat berpengalaman dalam bidang kocok mengkocok barang lakilaki, pantas kalo selama ini aku dengar dari ibuku, bahwa tanteku ini lagi diperebutkan banyak laki-laki yang ingin mengawininya. Wah aku jadi keponakan yang paling beruntung dong, dibanding orang -orang yang berebut tadi.! Sambil merem melek saking nikmatnya, tiba-tiba tanteku menundukan kepalanya ke arah kontolku, aku jadi heran apa yang akan dilakukannya. Gila.! dia masukan batang kontolku ke dalam mulutnya dan, Aaaakh.,ooooooouw..! hangat sekali rasanya.

Aku tidak tahan lagi saat tanteku menghisap dan menjilati kontolku mulai dari bijinya sampai ke semua bagian tanpa terlewatkan. Gimana rasanya..Adit? tanya tanteku. Aku diam saja karena malu Ya udah.Adit. keluarin aja..jangan ditahan-tahan..ya! ungkap tanteku. Makin terasa pada batang kontolku seakan ada yang berdenyut dan hendak mendesak keluar, tiba-tiba Aaaaakh.croottscrooottsooooh tanteee,Aditkeluaaaar.!! Cukup dengan tujuh kali hisapan saja pada batang kontolku, air maniku muncrat tidak bisa dibendung lagi, dan berceceran membasahi celana yang kupakai, tanteku puas melihatnya. Itulah pengalaman pertama dan termanis yang aku terima dari Tante Asihku yang binal. Semenjak itu aku jadi ketagihan dikocok oleh Tante Asihku, sampai saat ini kocokan Tante Asihku masih kudapatkan, bahkan meningkat, Tante Asihku mengajarkan hal lain yang lebih seru, dan hal tersebut kami lakukan bertiga bersama suaminya. Kini atas permintaan Tante Asihku dan suaminya, kami tinggal bersama satu rumah, dengan tanpa henti-hentinya kami menikmati permainan panas bertiga setiap saat. TAMAT

Tante Mulatku....
Antara Aku Dan Tante Mulat Namaku Adith, umurku 30 tahun dengan tinggi badan 185 cm dan berat badan 82 kg. Aku kini bekerja sebagai supervisor di salah satu perusahaan di Jakarta. Aku lebih menyukai wanita setengah baya. Aku sangat suka membaca cerita di 17Tahun.com khususnya di bagian Setengah Baya. Aku ingin menceritakan kisah nyata dengan tanteku sendiri, Tante Mulat. Cerita yang dituangkan di sini adalah kisah nyata dan bagi yang kebetulan merasa sama nama atau kisahnya mohon dimaafkan itu hanyalah kebetulan. ***** KejAdithan ini terjAdith sekitar 6 tahun yang lalu, waktu itu aku masih berusia 24 tahun. Aku mempunyai seorang tante bernama Lina yang umurnya waktu itu 36 tahun. Tante Mulat adalah Adithk dari Mamaku. Tante Mulat sudah menjanda selama lima tahun. Dari perkawinan dia dengan almarhum suaminya tidak di karunia anak. Tante Mulat sendiri melanjutkan usaha peninggalan dari almarhum suaminya. Dia tinggal di salah satu perumahan yang tidak jauh dari rumahku. Dia tinggal dengan seorang pembantunya, Mbak Sumi. Tante Mulat ini orangnya menurutku seksi sekali. Payudaranya besar bulat dengan ukuran 36C, sedangkan tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati dan perutnya rata soalnya dia belum punya anak. Hal ini membuatku sering ke rumahnya dan betah berlama-lama kalau sedang ada waktu. Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan Tante Mulat yang seksi ini dan dia itu orangnya supel benar tidak canggung cerita-cerita denganku. Dari cerita Tante Mulat bisa aku tebak bahwa dia itu orangnya kesepian sekali semenjak suaminya meninggal. Maka aku berupaya menemaninya dan sekalian ingin melihat tubuhnya yang seksi. Setiap kali aku melihat tubuhnya yang seksi, aku selalu terangsang dan aku lampiaskan dengan onani sambil membayangkan tubuhnya. Kadangkala timbul pikiran kotorku ingin bersetubuh

dengannya tapi aku tidak berani berbuat macam-macam terhadap dia, aku takut nanti dia akan marah dan melaporkan ke orang tuaku. Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan Tante Mulat semakin kuat saja. Kadang-kadang kupergoki Tante Mulat saat nabis mAdithth, dia hanya memakai lilitan handuk saja. Melihatnya jantungku deg-degan rasanya, ingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang-kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Benar-benar memancing gairahku. Sampai pada hari itu tepatnya malam minggu, aku sedang malas keluar bersama temanteman dan aku pun pergi ke rumah Tante Mulat. Sesampai di rumahnya, Tante Mulat baru akan bersiap makan dan sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah. Kami pun saling bercerita, tiba-tiba hujan turun deras sekali dan Tante Mulat memintaku menginap saja di rumahnya malam ini dan memintaku memberitahu orang tuaku bahwa aku akan menginap di rumahnya berhubung hujan deras sekali. Dith, tante mau tidur dulu ya, udah ngantuk, kamu udah ngantuk belum?, katanya sambil menguap. Belum tante, jawabku. Oh ya tante, Adithth boleh pakai komputernya nggak, mau cek email bentar, tan yaku. Boleh, pakai aja jawabnya lalu dia menuju ke kamarnya. Lalu aku memakai komputer di ruang kerjanya dan mengakses situs porno. Dan terus terang tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar wanita setengah baya bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali berukuran sekitar 15 cm karena aku sudah terangsang sekali. Tanpa kusadari, tahutahu Tante Mulat masuk menyelonong begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saking kagetnya aku tidak sempat lagi menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Mulat sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang hingga langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis. Hayyoo lagi ngapain kamu, Dith? tanyanya. Aah, nggak apa-apa tante lagi cek email jawabku sekenanya. Tapi Tante Mulat sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku. Ada apa sih tante? tanyaku. Aah nggak, tante cuma pengen ajak kamu temenin tante nonton di kamar jawabnya. Oh ya sudah, nanti saya nyusul ya tante jawabku. Tapi jangan lama-lama yah kata Tante Mulat lagi. Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak menuju ke kamar tante dan menemani Tante Mulat nonton film horor yang kebetulan juga banyak mengumbar adegan-adegan syur. Melihat film itu langsung saja aku menjAdith salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi. Malah Tante Mulat sudah memakai baju tidur yang tipis dan gilanya dia tidak memakai bra karena aku bisa melihat puting susunya yang agak mancung ke depan. Gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi apa boleh buat aku tidak berani berbuat macam-macam. Batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku terpaksa bergerak-gerak sedikit guna membetulkan posisinya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu Tante Mulat rupanya langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku. Lagi ngapain sih kamu, Dith? tanyanya sambil tersenyum. Ah nggak apa-apa kok, tante jawabku malu. Sementara itu Tante Mulat mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat di atas ranjang.

Kamu terangsang yah, Dith, lihat film ini? Ah nggak tante, biasa aja jawabku mencoba mengendalikan diri. Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Mulat pun rupanya sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu. Menurut kamu tante seksi nggak, Dith? tanyanya. Wah seksi sekali tante kataku. Seksi mana sama yang di film itu? tanyanya lagi sambil membusungkan payudaranya sehingga terlihat semakin membesar. Wah seksi tante dong, abis bodynya tante bagus sih kataku. Ah masa sih? tanyanya. Iya benar tante, swear.. kataku. Jarak kami semakin merapat karena Tante Mulat terus mendekatkan tubuhnya padaku, lalu dia bertanya lagi padaku.. Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama tante. Mmaauu tante.. Ah, seperti ketiban durian runtuh, kesempatan ini tidak tentu aku sia siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada Tante Mulat. Wahh barang kamu lumayan juga, Dith katanya. Ah tante bisa aja.. Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. Sampe saya gemes deh ngeliatnya.. kataku. Ah nakal kamu yah, Dith jawabnya sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku. Waahh jangan dipegangin terus tante, ntar bisa tambah gede loh kataku. Ah yang benar nih? tanyanya. Iya tante.. Ehh.. Ehh aku boleh pegang itu nggak tante? kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yang besar itu. Ah boleh aja kalo kamu mau jawabnya. Wah kesempatan besar, tapi aku agak sedikit takut, takut dia marah tapi tangan si tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus payudaranya. Ahh.. Arghh enak Dith.. Kamu nakal ya kata tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku. Loh kok dilepas sih Dith? tanyanya. Ah takut tante marah kataku. Oohh nggak lah, Dith.. Kemari deh. Tanganku digenggam Tante Mulat, kemudian diletakkan kembali di payudaranya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas payudaranya. Aarrhh.. Sshh rintihnya hingga semakin membuatku penasaran. Lalu aku pun mencoba mencium Tante Mulat, sungguh di luar dugaanku, Tante Mulat menyambut ciumanku dengan beringas. Kami pun lalu berciuman dengan nafsu sekali sambil tanganku bergerilya di payudaranya yang sekal sekali itu. Ahh kamu memang hebat Dith.. Terusin Diith.. Malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama tante yah.. Arhh.. Arrhh. Tante, aku boleh buka baju tante nggak? tanyaku. Oohh silakan Dith, sambutnya.

Dengan cepat kubuka bajunya sehingga payudaranya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat payudaranya yang memang aku kagumi itu. Arrgghh.. Arrgghh.. lagi-lagi tante mengerang-erang keenakan. Teruuss.. Teerruuss Dith.. Ahh enak sekali.. Lama aku menjilati putingnya sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya. Lalu sekilas kulihat tangan Tante Mulat sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kulepaskan. Aahh buka saja Dith.. Ahh Nafas Tante Mulat terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan aku langsung membuka CD-nya dan lalu kuciumi. Sekarang Tante Mulat sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu. Lalu dengan pelan-pelan kumasukkan jariku untuk menerobos liang kemaluannya yang sudah basah itu. Arrhh.. Sshh.. Enak Dith.. Enak sekali jeritnya. Setelah puas jariku bergerilya lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin dan mengkilap itu. Lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluannya dengan lidahku turun naik seperti mengecat saja. Tante Mulat semakin kelabakan hingga dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meremas payudaranya. Aah.. Sshh tante udaahh nggaakk tahaann laaggii.. Tante udaahh maauu kkeeluuaarr.. Ohh, dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yang semakin basah. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya akan orgasme. Lalu kupercepat jilatanku dan tusukan jariku sehingga dia merasa keenakkan sekali lalu dia menjerit.. Oohh.. Aarrhh.. Tante udah keeluuaarr Diith.. Ahh sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan dan lidahku masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali. Wah ternyata kamu hebat sekali, tante sudah lama tidak merasakan kepuasan ini loh.. ujarnya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir Tante Mulat. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh Tante Mulat dan aku pun masih memilin-milin puting tante yang sudah semakin keras itu. Aahh.. desahnya sambil terus mencumbu bibirku. Sekarang giliran tante.. Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh tante. Tangan Tante Mulat segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit tapi kudiamkan saja karena terasa enak juga diremas-remas oleh tangan Tante Mulat. Lalu aku juga tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Rupanya Tante Mulat mulai terangsang kembali ketika tanganku meremas-remas payudaranya dengan sesekali kujilati putingnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan, kukulum terus puting susunya sehingga Tante Mulat menjAdith semakin blingsatan. Aahh kamu suka sekali sama dada tante yah, Dith? Iya Tante abis tetek tante bentuknya sangat merangsang sih.. Terus besar tapi masih tetap kencang..

Aahh kamu memang pandai muji orang, Dith.. Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu Tante Mulat mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Tante Mulat berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku. Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. Aku benar-benar merasakan nikmatnya service yang diberikan oleh Tante Mulat. Lalu dia mulai membuka mulutnya dan lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya. Selang beberapa menit setelah tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Mulat kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas ranjang. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku. Aahh Dith, ayolah masukin batang kemaluan kamu ke tante yah.. Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek tante disodok-sodok sama batangan kamu itu. Iiyaa tante kataku. Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tapi aku tidak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan terlebih dulu ke bibir kemaluannya sehingga Tante Mulat lagi-lagi menjerit keenakan.. Aahh.. Aahh.. Ayolah Dith, jangan tanggung-tanggung masukiinn.. Lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluannya sehingga agak sulit memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang sekali itu. Aahh.. Sshh.. Oohh pelan-pelan Dith.. Teruss-teruuss.. Aahh Aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Tante Mulat sehingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya. Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Mulat juga ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat Tante Mulat menjAdithkan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam. Sementara itu aku terus menjilati puting dan menjilati leher yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Mulat mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi. Oohh.. Sshh.. Dith.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh.. mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini. Aahh.. Cepat Di, tante mau keluuaarr.. Aahh Tubuh Tante Mulat kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik. Rupanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang sedang merojok-rojok liang kemaluannya. Aahh.. Sshh.. Sshh, desahnya, lalu tubuhnya kembali tenang menikmati sisa -sisa orgasmenya. Wahh kamu memang hebaat Dith.. Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar Iiyaa tante.. Bentar lagi juga Adithth keluar nih.. ujarku sambil terus menyodok liang

kemaluannya yang berdenyut-denyut itu. Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Terusin Dith.. Terus.. Aahh.. Sshh erangan Tante Mulat membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya. Aauuhh pelan-pelan Dith, aahh.. Sshh Aduh tante bentar lagi aku udah mau keluar nih.. kataku. Aahh.. Dith.. Keluarin di dalam aja yah.. Aahh.. Tante mau ngerasain.. Ahh.. Shh.. Mau rasain siraman hangat peju kamu.. Iiyyaa.. Tante.. Lalu aku mengangkat kaki kanan tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku. Aahh.. Oohh.. Aahh.. Sshh.. Tante, Adith mau keluar nih.. Ahh lalu aku memeluk Tante Mulat sambil meremas-remas payudaranya. Sementara itu, Tante Mulat memelukku kuatkuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Aahh tante juga mau keluar lagi aahh.. Sshh.. lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. Seerr.. Seerr.. Croott.. Croott.. Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Ahh.. Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante Mulat untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Mulat menbelai-belai rambutku. Ah kamu ternyata seorang jagoan, Dith.. Setelah itu dia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya kemudian dimasukkan kembali ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. Dan kemudian kami berdua pun tidur saling berpelukan. Malam itu kami melakukannya sampai tiga kali. Setelah kejadian itu kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno. Hubungan kami pun berjalan selama dua tahun dan akhirnya diketahui oleh orang tuaku. Karena merasa malu, Tante Mulat pun pindah ke Bandung dan menjalankan usahanya di sana. Aku benar-benar sangat kehilangan Tante Mulat dan semenjak kepindahannya, Tante Mulat tidak pernah menghubungiku lagi.

Suami-Suami Edan; Tergiur dengan Tante Mona


Sebut saja namaku Setio, usiaku 32 tahun, sudah empat tahun perkawinanku tapi seorang anak belum kami dapatkan. Karena cintaku pada istriku, tidak ada niat untukku berselingkuh, tapi sejak perkenalanku dengan wanita itu, aku tergoda untuk selingkuh. Perkenalanku dengan wanita itu berawal 2 tahun yang lalu, saat kakak istriku mau menikah, kami mengunjungi rumah calon mempelai wanita untuk melamar, aku melihat seorang wanita berumur kira-kira 40 tahunan yang kutahu dia adalah istri dari pamannya calon pengantin wanita, dan kutahu kemudian namanya Tante Mona, karena kami samasama panitia perkawinan iparku. Awalnya kuanggap biasa perkenalan ini, tetapi pada waktu hari perkawinan iparku, aku terpana melihat kecantikan Tante Mona yang memakai baju kebaya bordiran, sehingga lekuk tubuh dan bentuk payudaranya terbayang ditutupi kemben (pakaian kain Jawa) hitam yang membuatku ingin sekali melirik kemana perginya Tante Mona dan membayangkannya di saat Tante Mona telanjang.

Setelah acara pernikahan itu selesai, otomatis kami jarang sekali bertemu, karena Tante Mona harus menemani suaminya yang tugas di Surabaya. Hampir satu tahun lamanya aku ingin melupakan dirinya, tetapi ketika iparku memiliki anak, aku bertemu lagi dengan Tante Mona pada waktu menengok bayi. Saat itu Tante Mona mengenakan baju dan jeans ketat, sehingga lekuk tubuhnya membayangi lagi pikiranku yang terbawa hingga kutidur. Sebulan kemudian, ketika acara syukuran bayi iparku, tante Mona datang dengan suaminya dan ibunya Tante Mona yang duduk di kursi roda akibat sakit stroke yang katanya sudah 4 tahun diderita. Dan dari iparku, kuketahui Tante Mona sekarang satu bulan di Jakarta untuk menjaga ibunya dan satu minggu menemani suaminya di Surabaya. Seminggu setelah itu, temanku datang ke rumah untuk menawarkan bisnis "MLM" berbasis food suplement yang dapat membuat beberapa penyakit sembuh. Langsung pikiranku tertuju kepada ibunya Tante Mona. Setelah dapat nomor telpon Tante Mona dari iparku, aku langsung menghubunginya. Setelah obrolan kami, Tante Mona setuju untuk mencobanya terlebih dahulu. Keesokan harinya, ketika aku mengantar obat itu, aku berharap bisa ketemu Tante Mona, tapi karena ibunya sedang anval, otomatis aku hanya bertemu pembantunya. Satu minggu kemudian, tiba-tiba HP-ku berdering, sebenarnya aku malas menerimanya karena nomor yang tertera tidak kukenal, tapi dengan agak malas kuterima juga telpon itu yang rupanya dari Tante Mona. "Dik.. Setio, ya..? Disini Tante Mona." "Eh.. iya Tante.. apa khabar..?" "Wah.., Dik.. tante senang loh kayaknya obat yang adik kirim buat ibu bagus sekali, ibu sekarang sudah nggak pakai kursi roda lagi.. kalau begitu tante pesan lagi yach..? Kapan bisa kirim..?" "Selamet deh Tante.. eng.. kalau begitu besok siang deh.. Tante.. saya kirim ke rumah..!" "Ya.. sudah.. sampai besok yach..!" Keesokannya, pukul 11:00 aku ke rumah Tante Mona. Ketika sampai, aku disuruh menunggu oleh pembantunya di ruangan yang sepertinya ruang perpustakaan. Tidak lama kemudian Tante Mona muncul dari pintu yang lain dari tempat kumasuk ruangan itu. Saat itu Tante Mona mengenakan baju model jubah mandi yang panjang dengan tali di pinggangnya, dan mempersilakan aku duduk di sofa yang dia pun ikut duduk, sehingga kami berhadapan. Ketika dia duduk, satu kakinya disilangkan ke kaki yang lain, sehingga betisnya yang bunting padi dan putih bersih terlihat olehku, membuat pikiran kotorku kepada Tante Mona muncul lagi. Kami mengobrol panjang lebar, Tante Mona menanyakan hal tentang perkawinanku yang sudah 4 tahun tetapi belum dikaruniai keturunan, sedangkan dia menceritakan bahwa sebenarnya Tante Mona menikah disaat suaminya telah mempunyai anak yang sekarang sudah kuliah. Setelah hampir satu jam kami mengobrol, Tante Mona mengatakan padaku bahwa ia senang kalau ibunya sudah agak membaik. "Oh.. ya berapa nih harga obatnya..?"

"Ah.. sudah Tante, nggak usah, gratis kok, tujuan saya khan yang penting Ibu bisa baik." "Ah.. nggak lah Dik, Tante ambil dulu yach uangnya di kamar." Tante Mona berdiri dan masuk ke pintu tempat tadi dia datang, tapi pintu itu dibiarkannya terbuka, sehingga kulihat kalau kamar di sebelah ruang kududuk adalah kamar tidur Tante Mona. Dari dalam dia teriak ke arahku menanyakan harganya sambil memanggilku. "Dik.. Setio, berapa sih harganya..? Kamu sini deh..!" Dengan agak ragu karena perasaanku tidak enak masuk kamar orang lain, kuhampiri juga Tante Mona. Begitu sampai di pintu, aku seperti melihat suatu mukjizat, dan tiba-tiba perasaanku terhadap Tante Mona yang pernah ada dalam pikiranku muncul. Tante Mona berdiri di samping tempat tidurnya dengan jubah yang dipakainya telah tergeletak di bawah kakinya. Aku melihat tanpa berkedip tubuh Tante Mona yang sedang berdiri telanjang dada dan pangkal pahanya tertutup celana dalam berwarna pink memperlihatkan sekumpulan bulu hitam di tengah-tengahnya. "Dik, kalau kamu nggak mau dibayar sama uang, sama nafsu Tante Mona aja yach..? Kamu mau khan..?" "E.. e.. eng.. bb.. boleh deh Tante..!" Tiba-tiba kali ini aku bisa melihat Tante Mona yang setengah bugil dan memohon kepadaku untuk melayani nafsunya, kuhampiri dia sambil menutup pintu. Bentuk tubuh Tante Mona sungguh indah di mataku, kulitnya putih bersih, payudara yang berukuran 36B berdiri dengan tegaknya seakan menantangku, lekukan paha dan kaki jenjangnya yang indah dan betisnya yang bunting padi, persis bentuk tubuhnya penyanyi Jennifer Lopez. Aku seakan tidak bisa menelan ludahku karena Tante Mona sekarang tepat berdiri di depanku. "Dik.. Setio, layani Tante yach..! Soalnya sudah dua bulan Tante tidak dijamah Om.." "Iya.. Tante, ta.. tapi.. kalau anak-anak Tante datang gimana..?" "Anak-anak kalau pulang jam 5:00 sore, lagi itu kan anak-anaknya Om." "Ok.. deh Tante, Tante tau nggak, kalau hal ini sudah saya impikan sejak pernikahan Desi, soalnya Tante seksi banget sih waktu itu." "Sekarang.. sudah nggak seksi dong..?" "Oh.. masih.. apa lagi sekarang, Tante kelihatan lebih seksi." Bibir tipisnya mencium bibirku dengan hangat, sesekali lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun membalasnya dengan lidahku. Tangan lembutnya mulai melepaskan dasi dan bajuku hingga kami sudah telanjang bagian atasnya. Dada bidang dan perut sixpackku mulai diciumi dengan nafsunya, sementara lehernya dan pundaknya kuciumi. Wangi tubuhnya membuat nafsuku juga meningkat, sehingga batangku mulai mengeras mendesak celana dalamku. Tangannya mengelus celanaku di bagian batangku yang sudah mengeras, sedangkan aku mulai memainkan mulutku di payudaranya yang terbungkus kulit putih bersih, putingnya yang putih kemerahan sudah jadi bulan-bulanan lidah dan gigiku, kugigit dan kusedot, sehingga Tante Mona mengelinjang dan makin keras tangannya mencengkram batangku.

Celana panjangku mulai dibuka dengan tangan kirinya, lalu celana dalamku ditarik turun sehingga batangku sudah dipegang tangan halusnya dan mulai mengocok batangku. "Dik.. batangmu besar sekali yach..? Kalau punya Om paling setengahnya aja, berapa sih besarnya..?" "Kalau panjangnya 20 cm, kalau diameternya 4 cm." "Wah.. gede banget yach.. pasti Tante puas deh.., boleh Tante isap nggak.." Aku hanya mengangguk, Tante mona langsung jongkok di hadapanku, batangku dipegangnya lalu dimainkan lidahnya pada kepala batangku, membuatku agak gelisah keenakan. Batangku yang besar berusaha dimasukkan ke dalam mulut mungilnya, tetapi tidak bisa, akhirnya kepala batangku digigit mulut mungilnya. Kira-kira 15 menit, dia berdiri setelah kelelahan mengulum batangku, lalu dia merebahkan dirinya di sisi tempat tidur. Kali ini aku yang jongkok tepat di sisi kedua kakinya, tangan kananku melepaskan celana dalam pinknya, saat itu juga aroma wangi langsung bertebaran di ruangan yang rupanya aroma itu adalah aroma dari vagina Tante Mona yang bentuknya sangat indah ditutupi bulu-bulu halus di sekitar liang vaginanya. "Ah.. Tante Mon.. vagina Tante harum sekali, boleh saya jilatin..?" "Ah.. jangan Dik.. kamu nggak jijik, soalnya si Om nggak pernah menjilatinya." "Wah.. payah si Om.. vagina itu paling enak kalau dijilatin, mau yach.. Tante.. enak.. kok..!" "Iya deh.. kalau kamu nggak jijik." Paha putihnya sudah kuusap lembut dengan tangan kiriku, sementara jari tengah tangan kananku mulai menjamah liang vaginanya. Kulihat Tante Mona melirik ke arahku sambil berkata, "Dik.. jilatnya yang enak yah..!" Aku hanya mengangguk sambil mulai kutempelkan lidahku pada liang vaginanya yang rupanya selain wangi rasanya pun agak manis, membuatku semakin bernafsu untuk menjilatinya, sementara kulirik Tante Mona sedang merasakan geli-geli keenakan. "Ah.. ah.. ssh.. argh.. iya.. yach.. Dik.. enak deh rasanya.. wah kalau gini.. besok-besok mainnya sama Dik Setio aja deh.. sama Om.. ntar-ntar deh.. abis.. enak.. banget.. sih.. Dik Setio mau khan..? Ah.. argh..!" Aku tidak menjawab karena lidahku sudah menemukan biji klitoris yang rasanya lebih manis lagi dari liangnya, sehingga makin cepat kujilati. Rasa manisnya seakan-akan tidak pernah hilang. Tante Mona semakin menggelinjang tidak karuan, sementara tangannya menekan kepalaku yang seakan dia tidak mau kalau kulepaskan lidahku dari biji klitorisnya. Hampir 30 menit klitoris manis itu kujilati ketika tiba-tiba tubuh Tante Mona mengejangngejang, dan dari klitoris itu mengalir deras cairan putih bersih, kental dan rasanya lebih manis dari biji klitoris, sehingga dengan cepat kutangkap dengan lidahku, lalu kutelan cairan itu sampai habis. Tante Mona pun mendesah dan langsung tubuhnya lemas. "Argh.. argh.. agh.. ssh.. sshh.. eegh.. eegh.. Dik.. Setio.. enak.. buangget.. deh.. kamu.. pintar.. membuat.. Tante.. keluar.. yang belum pernah Tante.. keluarin dengan cara begini.. kamu.. hebat deh, agh.. agh..!" Kuubah posisi Tante Mona, kali ini kakinya terjuntai ke bawah, lalu kuposisikan batangku tepat di liang kemaluannya yang masih agak basah. Dengan jariku, kurenggangkan liang

vaginanya, lalu dengan sedikit hentakan, batang kejantananku kudorong masuk, tapi agaknya vagina itu masih agak sempit, mungkin karena batangku yang besar. Kucoba lagi hingga 5 kali tapi belum bisa masuk. "Tante.. Vagina Tante.. sempit.. yach.. padahal saya sudah tekan berkali-kali.." "Iya.. dik.. mungkin karena belum pernah melahirkan.. yach.. tapi tekan.. aja terus.. biar batang adik.. masuk.. nggak apa-apa kok.. kalau sampai vagina saya robek.." Kucoba lagi batangku kutekan ke dalam vagina Tante Mona. Akhirnya setelah 15 kali, Tante Mona menjerit keenakan, masuklah batang kejantananku yang super besar itu merobek liang kewanitaannya. "Ooowww.. argh.. argh.. gila.. hegk.. hegk.. gede.. banget.. sich.. Dik batangmu rasanya nembus ke perut Tante nich.. tapi.. enak.. banget dech.. trus.. Dik.. trus.. tekannya.. argh.. argh..!" desahnya tidak menentu. Kulihat Tante Mona berceracau sambil dengan perutnya berusaha menahan batangku yang masuk lubang kenikmatannya. Kutekan keluar masuk batangku pada vaginanya berkali-kali, tangannya memegang perutku berusaha menahan tekanan batangku pada vaginanya. Tanganku mulai meremas-remas payudaranya, kupelintir putingnya dengan jariku. Hampir satu jam Tante Mona melawan permainanku. Tiba-tiba tubuh Tante mona menggelinjang dengan hebatnya, kakinya disepak-sepak seperti pemain bola dan keluarlah cairan dari vaginanya yang membasahi batangku yang masih terjepit di liang senggamanya. Cairan itu terus mengalir, sehingga meluber keluar membuat pahaku dan pahanya basah, tetapi aku belum merasakan apa-apa. Yang kukagetkan adalah ketika kulirik cairan yang mambasahi paha kami ada tetesan darahnya, aku berpikir bahwa selama ini Tante Mona pasti masih perawan walau sudah berkali-kali main dengan suaminya. Kulihat tubuh Tante langsung tergolek loyo, "Argh.. arghh.. ssh.. aawww.. oohh.. Dik Setio.. kamu.. e.. emang.. hebat..! Batangmu.. yahud. Aku benar-benar puas.. aku.. sudah.. keluar. Besok.. besok.. aku hanya.. mau.. memekku.. dihujam.. punyamu.. saja. Ah.. arghh.. ah.. ah.. ah.. ah..!" Badan Tante mona langsung kuputar hingga kali ini dia tengkurap, pantatnya yang dibungkus kulitnya yang putih bersih dengan bentuk yang padat dan sexy, membuat nafsuku bertambah besar. Kuangkat sedikit pantatnya supaya agak menungging dan terlihatlah vagina yang tersembunyi di balik badannya. Aku agak menunduk sedikit, sehingga memudahkan lidahku memainkan liang kemaluannya untuk menjilati sisa-sisa cairan yang baru saja dikeluarkan oleh Tante mona. Cairan itu sangat manis rasanya sehingga langsung kuhisap habis. Setelah cairan itu habis, kutempelkan lagi batang keperkasaanku pada liang senggamanya. Karena tadi Tante mona sudah orgasme, jadi liang kemaluannya sedikit lebih lebar dan memudahkanku dalam menekan batang kejantananku untuk masuk ke lubangnya Tante Mona. "Jleb.. bless.. jleb.. bless.. ah.. ah.. sedapnya.. memek.. Tante.. deh.. ah..!" Aku memasukkan batang kejantananku ke liang Tante Mona dengan berceracau, karena liang senggama Tante mona sangat sedap sekali rasanya. Sementara kulihat Tante Mona

tidak bersuara apa-apa, karena dia sudah tertidur lemas. Batang kejantananku keluar masuk liangnya dengan lembut, sehingga aku pun menikmatinya. Hal itu berlangsung satu jam lamanya. Tiba-tiba Tante Mona terbangun dan dia mengatakan bahwa dia mau mencapai orgasme yang kedua kalinya, dan meneteslah cairan kental lagi dari liang kewanitaan Tante mona yang membasahi batang kemaluanku. "Agh.. agh.. aawww.. arghh.. sshh.. Dik.. Se.. Setio ka.. kamu memang.. he.. hebat..! Tante sampai dua.. kali.. keluar.., tapi.. kamu.. masih tegar.. argh.. sshh..!" "Ah.. Tante.. saya juga sudah.. mau keluar.. saya.. mau.. keluarin.. di luar.. Tante.. agh..!" "Jangan.. Dik Setio.. keluarin.. aja.. di dalam.. memek.. Tante.. Tante.. mau.. coba.. air.. mani.. Dik.. Setio. Siapa tahu nanti.. Tante bisa.. hamil.. Keluar di dalam.. yach.. Dik..!" Tante Mona merengek meminta untuk air maniku harus dikeluarkan di dalam vaginanya, sebenarnya aku agak bingung atas permintaannya, tetapi setelah kupikir, aku dan Tante menginginkan seorang keturunan. Akhirnya kulepas cairan maniku ke liang senggamanya dengan sedikit pengharapan. "Crot.. crot.. serr.. serr.. agh.. aghr.. agh.. Tante.. Tante mona.. memek Tante memang.. luar biasa.. argh.. argh..!" "Ahh.. ahh.. Dik.. air mani.. kamu.. hangat.. sekali.. ahh.. Tante.. jadi segar.. rasanya..!" Cairanku dengan derasnya membasahi lubang kemaluan Tante Mona, sehingga agak meluber dan rupanya Tante Mona menyukai air maniku yang hangat. Akhirnya kami pun ambruk dan langsung tertidur berpelukan. Aku terbangun dari tidurku ketika batangku sedang dihisap dan dijilat Tante mona untuk mengeringkan sisa air maniku, jam pun sudah menunjukkan waktu 4:30. Aku berpikir bahwa hampir 3 jam aku dan Tante mona berburu nafsu birahi. "Dik Setio, terima kasih yach..! Tante Mona puass deh sama permainan seks kamu.. Kamu lebih hebat dari suami saya. Kapan kita bisa main lagi..? Tante udah pingin main lagi deh.." "Iya Tante, besok pun juga boleh. Habis saya juga puas. Tante bisa mewujudkan mimpi saya selama ini, yaitu menikmati tubuh Tante Mona dan Tante luar biasa melayani saya hampir tiga jam. Wahh, Tante memang luar biasaa.." "Iya.., kamu pun hebat, Dik Setio. Saya suka sekali ketika batangmu menghujam memek saya. Terlebih air mani kamu, hanggatt.. sekali. Besok kita bisa main lagi khan..?" "Iya.. sayangku. Sekarang kita bersih-bersih, nanti anak dan suamimu datang..!" Kukecup bibir Tante Mona yang setelah itu kami membersihkan badan kami bersamaan. Di kamar mandi, Tante mona sekali lagi kusodok liang senggamanya sewaktu bershower ria. Setelah itu, hampir setiap hari aku bertemu Tante Mona untuk memburu nafsu birahi lagi. Hingga sekarang sudah berlangsung 3 bulan lebih lamanya, dan yang agak menyejukkan hati kami berdua bahwa sejak sebulan lalu, Tante mona dinyatakan hamil. TAMAT

Di angkot
"Ledeng! ledeng!" Seorang calo angkutan kota yang dekil begitu agresif memburu calon penumpang. Aku setengah berlari menuju angkot jurusan Abd. Muis - Ledeng yang biasa lewat depan Yogya Dept. Store jalan Sunda, Bandung. Moga-moga kebagian aja nih, karena kulihat penumpang berebutan. Kulihat beberapa cewek cakep ikut berdesakan di pintu yang cukup sempit. Hup! akhirnya aku kebagian tempat duduk paling ujung. "Sialan!" umpatku. Biasanya penumpang yang duluan masuk memilih duduk sedekat mungkin ke pintu yang terletak di bagian sisi depan, dan mereka enggan menggeser duduknya ke arah ujung dalam karena nanti susah untuk mencapai pintu keluar. (Posisi duduk penumpang berhadapan, dan kondisi ini terjadi bila muatan penuh). Ah biarlah! Yang penting keangkut! mana aku ada ujian Sosiologi jam delapan pagi, moga-moga aja nggak telat! Selagi aku asyik berfikir sendiri, aku baru sadar di sebelah aku adalah seorang cewek cantik. Seluruh perhatianku langsung tersita olehnya. Rambutnya lurus panjang. Mengenakan kaos ketat warna kuning. Bawahannya celana jeans ketat warna hitam. Kakinya lumayan panjang. Seksi banget deh pokoknya. Darahku langsung berdesir. Melihat posturnya yang seperti itu, pasti anaknya tinggi dan langsing. Aku mengira-ngira karena ia dalam posisi duduk. Secara diam-diam aku menyapu pandangan dari rambut, leher, tengkuk, hingga dadanya yang agak kecil. akulangsung pepetkan body-ku ke body-nya yang seksi itu. Hmm, harum dan seger banget. Dia baru mandi. Sesaat rambutnya tergerai jatuh ke lenganku. Yang paling bikin jantungku berdegup adalah kulit lengannya yang mulus banget. Lengan kaosnya sangat pendek sehingga aku bisa mengintip keteknya serta sedikit bra berwarna putih. Tali branya begitu jelas tercetak di balik kaos ketatnya yang tipis sehingga aku dapat melihat bayangan tali bra serta kulit punggungnya. Kulihat jelas pori-pori kulit tengkuk dan lehernya saat ia menyibakkan rambutnya yang wangi. Jalanan macet banget, terutama di jalan Purnawarman. Beberapa penumpang turun dan naik. aku nggak peduli lagi telat ujian, yang penting aku bisa berlama-lama di sebelah cewek seksi ini. akuharap-harap cemas nggak pengin doi turun. aku dapat menebak cewek ini pasti kuliahan. aku sudah prepare kalo doi nggak turun di UNPAS, pasti ia akan turun di Cipaganti. Di situ ada jalan tembus menuju STBA. Kalo ngak turun di situ, ia pasti anak ENHAI (perhotelan). Apa boleh buat aku cuma bisa nebak-nebak karena aku nggak punya nyali untuk negur ngajak kenalan. Apalagi kendaraan lagi Full-house. Tepat di depanku ada nyokap-nyokap lagi ngantuk. Sebelahnya lagi ada mahasiswa. Agaknya ia curi-curi pandang pula sama cewek di sebelahku ini. Trus di sananya lagi deket pintu ada anak-anak SMA sedang ngerumpi dengan dua temannya yang duduk tepat di belakang kursi supir. Setelah membaca situasi ini, nggak mungkinlah aku melakukan move. Tengsin berat. Belum lagi kalo dijudesin. Jadi aku memutuskan untuk melakukan "silent-movement". Mobil lama sekali terhenti di lampu merah jalan Merdeka. Tiba-tiba dia mengeluarkan buku dari tas kulit yang dari tadi didekapnya dengan mesra. Saya perhatikan gerakannya yang seksi. Saat bergerak, kulit lengannya bergesekan dengan kulit lenganku (aku juga mengenakan kaos lengan pendek). Aku seperti merasakan aliran listrik yang membuat juniorku berdiri tegak mengeras tapi kejepit posisiku yang duduk rapat. Dibukanya buku catatan itu. Aku mencuri lihat catatan tersebut. Aku tidak mengerti itu mata kuliah apa, tapi berbau-bau manajemen. Rangsangan yang dihasilkan oleh gesekan kulit lengan itu

membuatku ketagihan. Tiba-tiba aku tak dapat menahan keinginan untuk meraba kulit lengannya dengan jemariku. Aku mencari akal untuk bisa melakukan itu. Kupeluk ranselku dan kuatur agar ujung tangan kiriku menyentuh kulit lengannya yang mulus itu dan gatcha! kutahan posisi itu dan kunikmati beberapa saat. Dia nampaknya tidak terganggu dengan posisi tanganku tersebut. Ia tetap asyik membaca. Ada dua kemungkinan, dia tidak sadar, atau menikmati persentuhan kulit ini. Aku mencoba untuk menggerakkan jemariku mengelus-elus kulitnya ke atas dan ke bawah. Ia terlihat bereaksi atas move-ku. Dia menjauhkan lengannya dari jemariku. Dengan spontan kutarik jemariku karena takut terlihat orang di depan. Aku langsung berfikir untuk tidak meneruskan aktivitasku. Tapi sesaat kemudian ia merubah kembali posisi tangannya seperti semula hingga lengannya nempel lagi. Yes! Rupanya dia juga menikmati sensasi sentuhan. Aku tambah yakin saat 2 penumpang di sebelahnya pada turun. Hingga tempat duduk yang sejajar dengan kita kosong. Ia sama sekali tidak menggeser posisi duduknya menjauhiku walaupun banyak space. Aku semakin berani untuk mengelus-elus lagi lengannya dari atas bahu sampai pangkal lengan dengan hati-hati dan selembut mungkin, dan tentu saja berusaha untuk tidak ketahuan. Aku tidak perlu khawatir karena ibu-ibu di depanku nampak seperti tertidur. Eh, ternyata ia diam saja tidak menghindari elusan tanganku samasekali. Aku semakin berdebar dan terasa jemariku agak gemeteran. Tapi selama aktivitas rabaan ini berlangsung kita sama sekali tidak saling menatap. Ia melihat kearah kabin pengemudi, Diam seribu bahasa. Jadi aku hanya dapat melihat wajahnya dari samping, itupun tertutup rambut. Aku mengerti ia pasti malu dan jengah. Bibirku pun seperti terkunci. Aku tak berniat sama sekali untuk melakukan kontak secara verbal. Angkot kini melewati kampus UNPAS dan ternyata dia ngak turun. Syukurlah, gumamku dalam hati. Ngeliat dia nggak bereaksi apa-apa, bibirnya terkatup rapat. Tubuhnya tampak tidak bergeser se-inci pun. Aku pun makin merapatkan tubuhku. Berahiku yang udah sampai ubun-ubun tak kuasa untuk menahan keinginan untuk menyentuh toketnya yang mengintip di antara ketiak dan lengannya. Aku mencoba menyusupkan jariku lebih jauh di antara celah itu. Sedikit.. sedikit.. sedikit.. aha!! Akhirnya kurasakan sesuatu yang kenyal. Kutahan tanganku sebentar di posisi itu untuk melihat reaksi cewek itu. Di luar dugaanku ia melonggarkan posisi lengannya agak ke atas seolah memberi akses bagiku agar tanganku leluasa menerobos di antara ketiaknya. Kupastikan sekali lagi bahwa tanganku dalam posisi yang tak terlihat dari depan. Kugeserkan ranselku dengan tangan kanan sementara tangan kiriku menyilang ke arah dalam. Jemari kiriku sudah sepenuhnya mendarat di area bukit yang sebelah kiri. Setengah tegang dan gemetar aku mulai meremas-remas toketnya yang berukuran nggak terlalu besar namun sangat kenyal. Cewek itu membetulkan posisi duduknya serta menyibakan rambutnya agar tanganku yang sudah hinggap di toketnya tertutup ujung rambutnya yang cukup tebal. Punggungnya seperti setengah bersandar ke bahuku. Suhu tubuhku sudah sangat panas. Aku tidak habis pikir bisa sebegini nekat. Aku benar-benar menikmatinya, terutama karena melakukannya secara sembunyi-sembunyi diantara orang banyak. Mereka tidak ada yang sadar dengan apa yang sedang kami lakukan. Sudah begitu aku tidak kenal cewek cantik

ini. Benar-benar stranger. Ia diam saja saat aku semakin gencar bergerilya. Kedua kakinya yang jenjang ditutup rapat-rapat. Ia mendekap tas kulitnya erat-erat seperti sedang merasakan sesuatu yang tertahan. Sungguh seksi sekali. Aku pun menempelkan pahaku ke pahanya sambil menekan kuat-kuat ranselku ke arah juniorku yang sudah sangat tegang. Aku dapat merasakan puting susunya walaupun tersembunyi dibalik kain T-shirt serta Branya. Bra-nya kayaknya tidak terlalu tebal. Dan tanpa busa pengganjal. Cewek itu mendesah "konak". Aktifitas ini berlangsung kira-kira 20 menit sampai kurasakan ada cairan hangat di celana dalamku. Tiba-tiba ia mendongakan kepalanya sambil berteriak, "Kiri.. kiri Bang!" Shit! Kulihat ini jalan Setiabudi. Rupanya ia sudah tiba di tujuan, Tepat di depan kampus "ENHAI". Kuperhatikan saat ia turun. Pantatnya yang cukup montok. Begitu jelas tercetak dibungkus jins scretch. Aku melihat kulit punggungnya karena ujung kaosnya sangat pendek. Fpuihh, seksinya. Minta ampun! Aku pusing banget. Ia turun dengan agak tertatih kemudian buru-buru membayar ongkos. Meninggalkanku dalam keadaan "konak" yang tertahan. Pikiranku sangat kacau akibat spaneng. Ingin banget aku ikut turun dan mengejarnya, tapi seluruh badanku seperti terpatok di atas jok, tak mau bergerak sampai akhirnya angkot melaju kembali. Di jendela aku melihat ia berjalan hendak menyeberang. Ia menoleh singkat kearahku sambil tersenyum manis.Sesaat kuperhatikan payudaranya yang tadi selama 20 menit kuremas-remas, sampai akhirnya si tinggi seksi itu menghilang dari pandangan. Aku menggigil sambil menjerit dalam hati. Ooh gadis cantik, siapa gerangan namamu? Aku ingin ngentot sama kamu, tuntaskan hasrat yang terpotong. Maaf kepada pembaca, karena di sini ngak ada acara bersetubuh, padahal saat kutulis pengalaman ini ingin rasanya mendramatisir atau menambah sedikit fantasi di bagian akhir: bahwa aku mengejarnya ke kampusnya, ngajak kenalan kemudian terus bercinta. Setelah kupikir, kubiarkan saja ceritanya seasli mungkin dengan kejadian sebenarnya, tanpa diseruseruin. Aku hanya luck! Karena terus-terang aku jadi ketagihan dengan mencoba melakukan aksi itu lagi saat naik angkot, atau KA parahyangan. Tapi ngak ada satupun yang merespon seperti si cewek cantik dan seksi di atas. Tamat

Modal ngisi bensin bonus SPG


nama gw kahim. ya nama samaran lah! masa iya ada orang namanya kahim? gw adalah seorang mahasiswa di kampus grogol. cerita ini berawal ketika suatu hari gw balik dari kampus. masi pada inget kan beberapa tahun yang lalu pertamina pernah bikin event "pertamina on the move" (kalo ga salah) pas pertamina lagi promosi gitu, gw jadi sering ngisi bensin di kuningan, karena banyak SPG cewenya nah pas gw isi bensin, emang sengaja gw milih tempat bensin yang SPG nya bagus. akhirnya pilihan gw jatuh ke SPG yang agak gelap kulitnya, gak terlalu tinggi, dan rambutnya dikuncir buntut kuda gitu. pas mobil gw lagi diisi, gw disapa sama dy "permisi mas, boleh saya tanya2 sebentar?" "lama juga gapapa kak" jawab gw waduh senyumnya manis banget. sambil dy kanjutin pertanyaan "mas namanya siapa?"

"nama gw kahim. nama lo siapa? "saya elin. boleh minta nomer telpon mas?" (karena emang diminta data2nya) "boleh aja sih kak, tapi ntar harus ditelpon ya sama kakak?" dy cuma ngasi senyum lagi tapi ga ngomong apa2 "yauda ni saya kasih nomer saya deh, tapi ntar harus ditelpon yaa. " kata gw sambil ngasi nomer hape gw "yauda makasi ya mas" (gw lupa apa aja yang ditanya, seinget gw itu doang) sampelah gw dirumah, beres2 nonton tipi di kamar. seinget gw sih gw uda lupa sama kejadian di pom bensin. yaelah secara itu cuma iseng2 berhadiah. dapet sukur, ga dapet ya kasian juga adek gw tiba2 ada telpon dari nomer ga dikenal. begitu gw angkat, suara cewe yang ngomong. "halo....ini kahim bukan?" "iya ni siapa ya? sori nomernya ga gw save" kata gw "ya iyalah lo ga tau nomer gw. gw aja baru tau nomer lo tadi." "emang ini siapa? "ini gw elin" "elin? elin siapa?" sumpah gw uda lupa sama kejadian di pom bensin tadi "ini gw elin yang tadi nanya lo kuisioner di pom bensin" kata dy "buset! kalo jodoh emang ga kemana." ini kata adek gw "oooh elin. sori2 gw lupa. gw baru nyampe rumah soalnya." kata gw "haha iya gapapa him." "lo lagi dimana lin?" "ni gw lagi di kosan" dan kita ngobrol lama sampe gw tau kalo dy ngekos di tebet dan dy lagi kuliah di sahid. akhirnya udahan telponnya dan kita janjian buat ketemu lagi. sore 2 hari kemudian, elin nelpon gw pas g lagi di kampus. "lagi dimana him?" "ni gw lagi dikampus. lo dmana lin?" "gw lagi siap2 mau jaga shift di spbu kemaren" "oh gitu? ampe jam brapa?" "sampe jam 9 doang kok" "yauda ntar jam 9 gw jemput ya? nanti jam 9 gw nyampe spbu kuningan" "oke boleh. see you." wiiiii, lumayan ada temen "main" hari ini gw langsung ke mobil, ngambil stok ganja (andelan gw banget ni kalo lagi mau minta jatah ama selir), trus langsung sibuk ngelinting buat persiapan nanti. akhirnya jam 8 gw cabut dari kampus dan sampe spbu jam 9. si elin uda siap gw angkut tuh, langsung aja dy masuk mobil gw. "hei apa kabar?" "baik. ga nyangka ya lo beneran nelpon gw kemaren." kata gw. "abis lo lucu sih. gw suka aja. " kata dy. *haha adek gw langsung manggut2 kesenengan gitu "yauda ni kita mau kemana ni?" tanya gw "ke kosan gw aja him, gw uda cape banget." "yauda tunjukin jalan ya. nih biar ga cape" kata gw sambil ngasi baks ke dy

"wah bob marley. gw doyan banget nih. ada lagi ga?" tanya dy kesenengan "ada banyak kok, tenang aja. ntar bikin lagi di kosan ya" elin ga jawab, uda sibuk sendiri sama bob marley "nih belok kanan him, nah itu kosan gw yang sebelah kanan pagernya warna ijo." kata dy waktu nunjukin jalan ke kosannya trus kita turun dan masuk ke kosannya. ternyata kosannya campur gitu. gw dibawa langsung masuk ke kamarnya. kamarnya enak, kasurnya dibawah, ac nya dingin jadi ntar kalo main ga keringetan nih kayaknya..haha.. yauda kita ngobrol2 dikasur "gw ngampus di sahid him" kata dy "oh, masi kuliah?" tanya gw "iya ni lagi ada kerjaan jadi SPG aja dari agency gw" "eh him, bikin lagi dong baksnya" kata elin minta ganja "yauda gw bikin dulu" lagi asik-asiknya ngelinting, dy berdiri, "gw ganti baju dulu ya him" kata elin gw kira dy mau keluar ganti di wc, eh taunya dy langsung copot kaos didalem kamar. emang si ngebelakangin gw, tapi kurang ajar juga, nantangin gitu. haha. ga tahan gw ngeliat badan dy yang mengkel! langsung aja gw samperin, gw peluk pinggangnya dari belakang sambil gw cium belakang lehernya. "mmhhh.." desah elin sambil merem nikmatin ciuman gw di lehernya. "bandel sih lo, ganti baju di depan gw" kata gw sambil terus nyiumin lehernya dan tangan gw yang udah naik ke dadanya yang tinggal make bh, karena kaosnya uda dilepas sama dy "kan biar lo tergoda" kata dy sambil masang muka bitchy waduh, liat mukanya yang nakal langsung naik drastis titit gw. titit gw jadi naik kena ke pantatnya. "hahaha kok uda kenceng banget?" kata elin sambil muter badannya dan meluk gw dari depan. "berarti uda kepengen sayang.." sumpah uda konak banget gw waktu itu tp elin cuma nyium bibir gw dan bilang "baks dulu yuk, uda lama gw ga ngebaks" dan ****** gw sih uda manggut2 aja kita ke kasur dan ngobrol lagi sambil ngebaks. enak banget coy, ngebaks tapi di depannya ada cewe yang tinggal make bh doang baru aja gw mikir gitu, dy iseng lagi langsung buka bhnya, dan topless. wah nice banget toketnya, ga terlalu kenceng dan ga terlalu turun. cocok lah sama selera gw. "ngeliatin apa lo him?" tanya dy "nggak, gw lagi ngerencanain gerakan-gerakan pas nanti gw ngisep toket lo" "hahaha begoo" kata elin "buka celananya dong, ga afdol kalo atasnya doang" kata gw sambil nyengir elin langsung berdiri dan ngebelakangin gw. ngelepas celana jeansnya dengan sensual sangat! pelan-pelan cy buka jeansnya, sambil mukanya ngliat gw dengan muka menggoda. beuh! mana pake g-string lagi..!!

baru kali itu gw ngebaks sambil di kasi private striptease!! sadis!! setelah jeansnya lepas, elin duduk dan ngangkang. sekarang dy ngelepas g-stringnya di depan mata gw dan di depan adek gw. wow, bags deh memeknya. ga ada bulu sama sekali, udah gitu memeknya tembem menantang gitu elin yang uda telanjang merangkak mendekati gw dan bisik "gw pengen dikontolin please...dingin.." aw shit! titit gw langsung berdiri tegak menantang. gw lepas kaos gw sambil celana gw dipelorotin sama dy (untung gw cuma pake celana pendek) "aku mau isep ****** kamu yaaaa..." kata dy ****** gw pun langsung disepong dengan cara yang sensual. dijilat dari pangkal batang sampe ujung kepala titit. "mmhh enak lin, diemut sayang..." ****** gw langsung ditelen abis sama mulutnya, dan lanjut dikocokin sama mulutnya sambil tangannya mijet2 biji gw. "aaaah teruss.." gw pun cuma telentang sambl menikmati keberuntungan gw nyepongnya enak deh, lidahnya ngejilatin semua batang titit gw dan diakhiri dengan jilatan di ujung kepala bosen juga gw disepongin, gw angkat badannya dan dy langsung ngambil posisi duduk diatas paha gw. (lagi-lagi gw cuma pasrah dan biarin dy yang kerja) dipegang ****** gw, dan digesek2in ke memeknya yang uda becek banget. lagi enak2nya dy nikmatin gesekan ****** gw, gw naikin pantat gw tiba2 sampe ****** gw masuk semua ke memeknya. "aaaaaaaaaarrrggghhhhh... pelan2 hiiiimmm" kata dy dengan mata yang berkaca2 nahan sakit emang sih memeknya masih sempit, ****** gw langsung serasa dipijet2 sama memeknya. ga lama ****** gw di dalem memeknya, dy mulai terbiasa dan mulai goyangin badannya naik turun. " aachh... enak ****** kamuuu...." belom tau aja si elin kalo gw punya jurus lidah sambil elin masih goyang naik turun, gw jilatin pentil kanan sambil gw mainin yang kiri. gw pelintir dan gw isep pentilnya sampe dy teriak "geli hiiimm..!!!" "aaccchhhhhhh elin nyampeeee...!!!!" setelah dy ngomong gitu, ****** gw serasa dipencet sama memeknya dan kepala ****** gw serasa dicipratin air. enak banget ****** gw dipress sama memeknya badan elin pun roboh ke badan gw, gw kasi elin napas bentar. begitu gw rasa napasnya uda teratur, gw posisiin dy ke doggy style. muka elin ngeliat ke belakang sambil tangannya yang ngelebarin memeknya mempersilakan adek gw masuk langsung gw masukin ****** gw sampe mentok, untung aja memeknya masi becek dan pantatnya elin yang ga terlalu besar. jadi ****** gw bisa masuk sampe dalem banget. waktu ****** gw menotk, mulut elin kebuka lebar nikmatin ****** gw. mukanya meringis sakit +enak. "ouugghh...panjang banget yang ****** kamuu.. entot aku lagi yang....." dikasi komando, langsung gw tancap aja dengan rpm tinggi. gw goyang sambil gw pegangin pantatnya yang kecil tapi padet. elin ga kalah seksinya pasang gaya, sambil nungging, dy mainin klitnya. ""uugggghhhh enak him..teruss..aachhhh.." waaah desahnya oke banget, makin napsu gw make dy. ga tahan desahannya napsuin

banget. gw genjot terus memeknya sambil gw cium leher belakangnya dan tangan gw yang ngeremes toketnya. elin cuma bisa geleng2 keenakan "aacchhh enak bangeeett..kocok terus memekku hiim...mmhhh aku suka banget......" karena gw rasa gw uda mau keluar, gw buru2 ganti gaya ke gaya MOT. gw lepas ****** gw dan gw balik badannya dy. mungkin si elin lagi tinggi banget ya, dy langsung ngangkang dan narik ****** gw buat langsung masuk memeknya "cepet entot lagi sayang..aku suka banget sama ****** kamuu" gw goyang lagi ****** gw maju mundur sambil kita ciuman dengan liar. ga lama gw ngrasa kalo gw uda mau keluar dan uda susah ditahan. begitu gw mau narik ****** gw, elin ngelingkerin kakinya di pantat gw buat nahan ****** gw tetep di memeknya. "keluarin di dalem aja yang, biar kamunya enak" wow! okelah kalo begitu gw goyang lagi ****** gw asal-asalan biar cepet keluar, dan gak lama, peju gw pun keluar nyembur ke dalam memeknya elin. crot! "mmmmhhh aku keluar liin...aaahhh" "keluarin di dalem sayangg..."teriak elin wow nice! lemes banget gw abis ngecrot. gw lepas ****** gw dan gw tiduran di sampingnya. sumpah capek banget. gara2 mainnya sambil giting kali ya? jadi berasa double capeknya. kita berdua pun tanpa banyak omong langsung ketiduran sambil pelukan bugil. gw kebangun sekitar jam 2 malem. ngliat sebelah gw ada korban baru gw yang tidur tanpa baju karena gw harus balik, gw beres deh mau pulang. gw selimutin badan elin, dan gw bangunin. "lin, sori gw cabut ya.. gw ga bisa nginep" bisik gw "yauda ati2, besok kabarin lagi ya?" "oke sayang" abis nyium bibir dy, langsung deh gw cabut ke rumah. *aduh gw jadi kangen lagi ama elin sayangnya gara2 gw waktu itu kebanyakan stok selir, si elin ga keurus karena kalah saing sama selir2 gw yang lain sekarang sih uda lost contact ama si elin. tapi masi ada fotonya kalo pada mau liat ****************************** ** ya begitulah pengalaman gw ngisi bensin berhadiah bispak makasi uda mau baca pengalaman pribadi gw kalo berkenan, minta ijo2 ato gak minimal klik thanks

FANTASI NGENTOT DI SUNGAI

Jam 1.30 kira2 kita mulai makan siang dan di tengah acara baru tampak Wian dan dua temannya keluar dari kamar, rupanya baru bangun. Mereka langsung cuci muka dan ikut makan bareng kita. Jam 3 aku ajak Rani ke sungai untuk ngobrol dan kita duduk di batu besar dekat pohon pisang. Kita ngobrol ngelanjutin omongan tadi soal gaya pacaran Ranidengan cowocnya. Ran boleh ngga aku nyobain cara kamu kalo mainin cowoc loe? tanyaku. Tadi khan udah jawab Rani. Itu Ran yang pake dijepit segala kataku lagi. Tanpa menjawab tangan Rani mulai bergerilya ke permukaan celana pendekku. Dielusnya perlahan dari kepala, batang sampe ke bijinya dan sesekali menyusup di antara kedua pahaku. Setelah beberapa lama meriamku mulai menegang danRani mulai meremas-remas gemas dia mulai menyusupkan jemarinya lewat lobang bawah, di sela paha kananku, dan siapun mulai berjongkok hingga pantatnya terendam air, terus karena mungkin dia merasa repot maka celana pendekku berikut CDku ditariknya sekaligus. Dia mulai lagi mengurut meriamku ach nikmatnya, mana yang ngocokin cewec kece banget lagi dan aku mulai berpikir, ini anak terlalu sempurna untuk sebuah kenyataan, aku harus berhasil memilikinya dan sekaligus membawanya ke tempat tidur (jelasnya ya dientot). Sementara pikiranku melayang jauh rasa di selangkanganku mulai mengayun seirama tingginya nafsuku dan Rani mulai menjulurkan lidahnya perlahan dia jilat bijiku dan lidahnya menari berputar di sekitar bijiku, aku pandang wajahnya aduh cantik banget ini cewec aku ngga habis2nya memuji dalam hati, dan di antara desahku aku makinmembulatkan tekadku untuk memilikinya, tapi gimana caranya? Aku elus rambutnya yang rada2 coklat (bukan pirang), dia mendongak dan tersenyum manis sekali, kini aku merasakan kocokannya makin cepat dan makin cepat seirama dengan nafsuku yang kian menggelora Aduh Ran enak sekali ngga kuat rasanya nahan lama2 kataku di antara eranganku. Kalo mo keluar bilang ya pesannya. Seiring dengan kocokannya yang makin cepat, jilatannyapun kini telah merambah sampai setengah batang meriamku dan sesekali diselingi dengan gigitan kecil tak lama kemudian Ran aku mo keluar teriakku tertahan, takut di dengar orang lain. Dengan sigap Rani mencaplok kepala meriamku dan menyemburlah laharku menyirami rongga mulutnya yang mungil. Aku mengejang di atas batu besar dekat pohon pisang dan Rani menghisap habis sisa laharku dan diakhiri dengan jilatan pada lobang penisku Nikmat sekali Bang komentarnya setelah melahap habis spermaku yang kutumpahkan. Ran kita berenang yuk ajakku setelah kami istirahat sejenak. Rani mulai melolosi pakaiannya dan berendam, akupun tidak mau ketinggalan dan kami sama2 berenang telanjang bulat menuju ke arah sungai yang lebih dalam, lama juga kami berenang berduaan di situ, lokasinya sekitar 20 meter dari tempat kami meletakkan pakaian, tapi posisi sungai yang menikung menyebabkan kami tidak dapat melihat pohon pisang di mana aku dan Rani meletakkan pakaian kami. Tiba-tiba kami dikagetkan dengan munculnya Resti dari dalam air yang disusul oleh Wian ternyata mereka menyelam dari arah batu sampe ke tempatku berenang dan aku lihat Vina hanya dengan bikini ditutup kain Bali sebatas pinggang menyusur jalan di tepian sungai dan di belakangnya aku lihat Ratna. Ayo kita renang rame2 ajakku. Dan merekapun ikut menanggalkan pakaiannya jadilah kita berenam berenang bugil total pemandangan ini kalo dilihat dari atas bener2 kaya di taman Firdaus kali ya? Mana pemandangan indah, cewec dan cowoc pada bugil pokoknya asyik punya dech saat itu. Aku menyelam mendekati dasar sungai dan melewati kaki2 mulus dari situ aku bisa melihat body mulus milik Vina, Resti, Rani dan Ratna juga melihat pinggul Rani aku jadi terangsang pinggulnya cukup gede dan putih bersih mana bulunya masih sangat jarang lagi karena nafasku mulai habis, aku menyembul ke permukaan pas di depanRani saat menyembul mukaku hampir saja menyentuh dadanya yang super besar itu Rani sedikit kaget karena aku terlalu dekat. Aku pegang pundak Rani dan mendorongnya rebah di air Rani mulai tenggelam dengan posisi tengadah dan aku berusaha renang di atas tubuhnya, otomastis meriamku menyapu mulai paha sampai ke dada Rani dengan sigapRani merusaha meraih meriamku yang melintas di depan wajahnya membuatku oleng dan aku berenang menukik ke bawah, sesaat kemudian kami sama2 keluar kepermukaan dan posisi kami saling berhadapan, Rani masih menggenggam meriamku dengan sedikit meremasnya tiba2 Vina berenang ke arah kami dan menerobos di antara aku dan Rani setelah itu dia keluar kepermukaan untuk mengambil nafas lalu kembali menyelam kali ini hanya berjongkok di depanku dan aku merasakan ada yang menggenggam meriamku kembali, belum aku sempat menoleh ke bawah, aku telah merasakan meriamku tersedot-sedot ternyata Vina sedang menghisap meriamku dari dalam air aduh enak sekali rasanya tak lama Vina muncul lagi kepermukaan dan bilang Enak Joss?, belum sempat aku menjawab, dia telah masuk ke

air lagi dan mulai menghisap lagi sebentar kemudian dia keluar lagi Ran pinjem Jossy bentar ya katanya permisi pada Rani. Tanpa menanti jawaban dari yang ditanya, tau2 dia telah berdiri di depanku dengan menggenggam meriamku dan dijepitkannya di antara kedua pahanya. Ternyata tidak cuman itu dia berusaha memasukkan meriamku ke dalam liang vaginanya dan setelah beberapa kali berusaha, akhirnya masuk juga meriamku dalam liang Vina dan kami saling berciuman aku mulai menggoyang perlahan maju mundur. Setelah beberapa saat Vina mengajakku untuk pindah ke tepi sungai, dekat batu yang cukup besar, di mana air hanya sampai di lutut, di situ Vina menunggingkan pantatnya dan minta aku tusuk dari belakang, dengan kaki kananku bertumpu di atas batu dan kaki kiriku terendam air, aku mulai mengarahkan meriamku ke liang kehangatan Vina yang tampang menganga merah jambu sebelum mulai masuk, aku bilas dulu meriamku dengan air sungai yang cukup dingin Aku pegang pinggul Vina dan mengayun pinggulku dengan irama yang teratur sesekali aku pindahkan tanganku untuk meremas dadanya beberapa lama kemudian aku dengar nafas Vina mulai memburu dan makin menderu seirama dengan makin kerasnya tempo ayunanku kemudian Vina mulai mengerang dan aku rasakan ada dua nafas yang memburu bersahutan, satu Vina tapi satunya lagi bukan aku, aku menoleh ke asal suara yang ada di belakangku, rupanya aku lihatRani sedang menggosok-gosokkan jarinya di antara selangkangannya dengan sedikit membungkuk dan wajah yang merintih, aku jadi makin bersemangat dan membayangkan Vina yang sedang kukerjai ini adalah Rani beberapa detik kemudian bobollah pertahananku menyusul Vina. Rani rupanya belum juga selesai dengan menggosok-gosoknya dia pindah duduk dekat batu besar di mana aku baru bermain dengan Vina. Bang tolong donk pintanya memelas. Akupun sadar, tapi bagaimana aku baru keluar dan Rani masih perawan, jadi dengan membungkuk (berjongkok) aku mencium dan menjilati vagina Rani, tubuhku terendam sepinggang karena posisiku yang berjongkok dipinggiran sungai.Rani rebahan di batu besar, sedang Vina rebahan di sebelah Rani. Aku julurkan lidahku menyapu permukaan bibir vertikal Rani aku mainkan dengan cepat pas di permukaan kacangnya Rani mengerang hebat, makin ganas aku mainkan lidahku dengan menyelingi sedotan pada kacang Rani itu rasa asin2 asyik. Ranipun mengejang pada akhirnya. Aku duduk di dasar sungai sampai sebatas dada dan bersandar pada batu besar itu. Kepalaku aku sandarkan di batu di antara betis Rani yang terjuntai ke bawah, lalu Vinapun menyusul duduk di sisiku dengan merebahkan kepalanya di pundakku. Aku coba untuk memejamkan mata dan meresapi arti nikmat yang baru kudapat. Sambil menikmati sisa2 kenikmatan serta lelah, aku dengan mata masih terpejam, mulai memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan untuk nanti malam. Jam 7.20 malam itu setelah selesai makan dalam kegelapan, karena kalo pas hari Nyepi di Bali khan tidak boleh nyalakan lampu, api dan segala sejenisnya. Emang sich kita makannya dari jam 6 lebih dan selesainya sekitar jam 7an jadi masih ada sinar dikit, karena sunset di Bali sekitar jam 6.30 6.45 WITA. Malam itu sepertinya juga gerhana bulan jadi ngga ada bulan nampak gelap banget jadinya apa lagi di Ubud di mana kalian tau sendiri seperti apa lokasinya pokoknya gelap banget dech. Kita semua duduk2 di teras belakang menghadap ke sungai d i bawah sana yang saat itu sudah tidak tampak lagi karena gelapnya. Iseng2 aku ajak mereka jalan2 menyusuri sungai sambil patroli, dari pada iseng di rumah nganggur. Boleh aja, tapi gua ganti celana panjang dan pake mantel dulu ya sahut Vina. Iya gua juga mo ganti pakean dulu susul Resti. Kita siap ke sungai sekitar jam 7.45an kali ini kita ke arah kiri dari belakang rumah, kalo tadi siang kita ke arah kanan rumah. Kita berjalan beriringan, selain jalannya sempit kita jalannya nerobos kebun orang. Jauh juga kita berjalan dan terkadang kita berhenti, perjalanan emang tersendat karena saking gelapnya dan kita ngga nyalain senter atau obor. Ratna berjalan paling depan karena dia yang paling hafal jalan setapaknya, sedang aku berjalan paling belakang. Sampe dekat tebing yang cukup tinggi kita tidak dapat meneruskan perjalanan dan di sisi kanan kita sungainya cukup dalam jadi kita berbelok ke kiri jalannya sedikit nanjak Bli di depan ini rumahnya orang bule cowocnya temen kita, dia guide kita intip yuk ajak Ratna. Ayuk kamu duluan Gek Pas sampe dekat rumah itu, kami lihat ada sinar dikit di ruang tengah aku coba dekatin jendela untuk melihat lebih jelas ke dalam. Tampak ruangan kosong saja Wian tampak menjentikkan jarinya dan melambaikan tangan rupanya dia udah dapat yang kita cari dari celah korden mereka mengintip dalam ruangan yang rada gelap. Di dalam tampak pria dengan badan tegap, berkulit hitam legam dan rambut acak model Bob Marley warna rada pirang campur belang2, butut banget pokoknya dan cewecnya hanya kelihatan sedikit rambutnya cepak orangnya masih muda kelihatannya kurus dan kakinya tampak panjang mereka bertelanjang total dan si pria menindih tubuh si bule cewec karena agak susah mengintip aku pindah lokasi ke lobang angin2 dengan manjat kursi rotan aku berhasil mendapat posisi baik. Sementara mereka berlima masih bergerombol dekat jendela samping rumah lalu aku panggil Rani dia ikut manjat di kursi lalu aku peluk pinggangnya supaya dia tidak oleng kita ngintip bareng Pria itu tampak bangun dari posisinya dan kini dia mainkan posisi 69 pada saat dia pindah posisi aku dapat melihat sedikit wajahnya karena dia menghadap ke arahku dan sinar lilin di kamar itu cukup untuk menerangi wajah jeleknya shit itu khan Komang temenku dulu yang di Kuta waktu aku ngegembel jadi cowoc pantai sama dia dan Agung kok badannya jadi gede gitu rambutnya dulu emang panjang tapi ngga gembel kaya Bob Marley gitu ach waktu telah merubahnya demikian pikirku. Aku diam saja dan perhatian apa yang Komang lakukan dengan pacar bulenya itu tampak dia memulai permainan

dengan jari2nya yang segede pisang dia kutik2 selangkangan bule itu tapi sayang aku ngga dapat melihat detailnya karena posisinya cukup gelap terhalang paha si bule. Ran itu cowocnya gua kenal bisikku pada Rani. Dia tidak menjawab hanya menoleh dan tersenyum manis sekali lalu kembali ngintip. Aku mulai mencium tengkuk Rani dan meraba toketnya yang super besar itu sejenak aku mulai mendengar nafas rani agak memburu dan aku coba intip permainan di dalam kamar ternyata Komang telah menyarangkan meriamnya yang besar dan hitam itu ke sasarannya dia pompa dengan keras tampak jari2 si bule itu menancap di punggung Komang kemudian Komang bangkit dengan posisi berdiri dia ge ndong bule itu dan disandarkannya di dinding persisi samping jendela tempat temen2 ngintip perpindahan gaya itu sama sekali tidak melepas meriam Komang dari liang si bule si bule itu menjepitkan kakinya yang jenjang ke pinggang Komang sedang dua tangan Komang masuk ke sela-sela ketiak dan menahan di pundak si bule Posisiku yang ngintip dari belakang rumah dapat melihat bagaimana Komang dengan rajinnya menghunjam si buletapi posisi Wian lebih pas karena lebih dekat sepertinya mereka tidak dapat melihat si cewec bule itu dengan jelas karena terhalang korden. Aku turun dari kursi dan mulai menyingkap rok Rani. aku elus pahanya naik ke CDnya dan aku sibak CDnya aku angkat sebelah kaki Rani ke sandaran kursi itu dan memasukkan kepalaku di antara kedua paha Rani aku mulai menjilati kacang Rani wow rasanya enak dan gurih bahkan lebih enak dari kacang Rahayu (kacang khas Bali). Jilatanku makin cepat dan kini pinggul Rani ikut bergoyang maju mundur. tak lama kemudian kakinya mulai mengejang kaku pahanya menjepit kepalaku dan diapun berjongkok. di depanku Bang keluarnya pas sama mereka selesai bisiknya. Mereka udahan? tanyaku. Entahlah? Tapi aku tadi lihat temen Abang nancepin dalem2 sepertinya dia keluar udahan sahut Rani tetap berbisik. Aku berdiri dan mengintip ke dalam ternyata Komang sedang duduk di pinggir ranjang dan cewec bulenya sedang menghisap bersih sisa sperma komang yang meleleh aku merasa meriamku mulai diraba oleh Rani dan sejurus kemudian meriamku telah keluar dari sarangnya dan bersarang dalam mulut Rani sebentar saja meriamku sudah pada posisi siaga penuh. Ran gua ngga kuat ni pengen keluar Bang masukkin aja dulu ke anak2 tuh jawabnya sambil menunjuk ke anak2 yang sedang ngegerombol di jendela. Lalu aku turun dari kursi itu dan menghampiri Resti aku elus pinggul dan pantat Resti yang sedang ngintip dengan posisi nungging itu. Aku elus juga pinggulnya, trus merambat ke dadanya. dia masih diem aja, tetap konsentrasi pada target intipan. Satu dua jenak kemudian mulai ada reaksi nafas memburu dan dia noleh sebentar lalu asyik balik lagi ngintip ach cuek aja lalu aku telusuri bagian depan celananya dan aku cari zippernya dan dapat aku tarik zipper itu dan juga kaitnya sehingga dengan mudah aku dapat meloloskan celana panjang resti dan kini tinggal CDnya yang masih menghalang. Aku tarik langsung CD itu dan aku berjongkok pas di belakangnya, aku sibak sedikit gumpalan pantatnya lalu aku jilat2 sekian jenak daerah kemaluannya, lobang pantatnya sementara Rani memainkan meriamku dari belakang dia terus meremas kadang diselingi dengan hisapan mautnya lalu dia berbisik Bang udah sikat aja. Aku bangkit lalu aku arahkan meriam Jagurku pada selangkangan Resti tanpa tunggu lebih lama lagi aku kuak sedikit liangnya dan mulai aku benamkan meriam kesayanganku setelah masuk semuanya karena emang udah basah jadi lebih gampang dan aku mulai mengayun dengan irama lokomotif beberapa menit aku tetap saja dengan gaya dan alunan goyang yang sama lalu aku mulai sedikit putar. seperti mengorek gigi Hek ach desah Resti Vina menoleh ke arah kami sebentar lalu memalingkan wajahnya lagi dan kembali mengintip Kakiku digeser oleh Rani untuk lebih lebar dan dia menjilat bijiku dari bawah wah nikmat sekali setiap goyangan mendatangkan nikmat yang berbeda terkadang Rani pindah menjilat kacang Resti dengusan dan irama nafas Resti makin memburu dan diapun mengejang Sodok daleman donk dan akupun menuruti dengan sodokan lebih keras sehingga aku lupa kalo dia itu menghadap kaca jendela. BRAAAK suara pundak dan kepala Resti nabrak jendela tempat mereka ngintip. Sssssttt semua yang di situ menyuruh aku dan Resti untuk lebih tenang, tapi waktu mereka balik mengintip, ternyata orang yang mereka intip sudah tidak ada di kamar. Tiba-tiba muncul Komang bersama cewec bulenya dengan berbalut ala kadarnya dari arah belakang rumah. Mau apa kalian gerombol di sini? bentaknya, karena dia tidak dapat melihat dengan jelas hanya tampak olehnya gerombolan orang di samping rumah yang gelap dia juga ngga tau kalo aku dan Resti sedang dalam keadaan acak2an. Dia datang menghampiri kami dan semua rombangan kami pada diam ketakutan, mereka nggak nyangka akan tertangkap basah saat ngintip. Begitu dekat pada kami tampak sekali bahwa Komang belum dapat menguasai keadaan, matanya masih sulit melihat wajah kami, malam itu emang gelap sekali. Mang, ini aku Jossy kataku sebelum terjadi masalah lebih gawat, karena aku takut Komang main pukul aja karena dikira maling atau apa. Jossy yang bener, Jossy siapa? tanya Komang masih bingung. Aku baru dateng beberapa hari di sini Mang kataku lagi.

Rupanya dia mulai ingat dan mengajak kami masuk ke rumahnya sambil jalan aku rapikan pakaianku, demikian juga dengan yang lain tadinya udah pada kacau semua pa kaian udah nggak pada bener. Masuk ke ruang belakang di mana ada sedikit sinar, Komang mulai dapat melihat wajahku dengan lebih jelas. Lalu dia memelukku, kemudian kita saling mengenalkan teman2. Komang sempat nanya juga lagi ngapain aku dan temen2 malem itu, dan akhirnya aku jawab juga kalo kami sedang ngintip mereka main. Dan Komang dengan segera menawarkan main rame2 karena dia juga melihat cewec2 yang aku ajak rata2 oke punya. Pas dia ngelihat Ratna, dia kaget banget, karena dia kenal banget sama Ratna. Saat mata mereka beradu aku dapat melihat wajah Ratna yang merah padam walau dalam kegelapan dengan bantuan sedikit sinar tampak sekali bahwa dia sangat malu. Kami masuk ke dalam kamar yang sama dengan yang kami intip tadi, lalu dengan selimut kami tutupi semua lobang di mana tadi kami bisa ngintip, takut ada yang ngintip kita dan jadi makin repot. Ratna dan rani duduk bersandar di dinding, sementara Wian dan Vina di sebelahnya sambil berpelukan, si bule duduk di pinggir ranjang den telah membuka pakaianny a. Mang pacuan lagi yuk kaya dulu ajakku. Ayo Joss Lalu kami sama2 menerangkan pada pasangan masing2 untuk ambil posisi, sebenarnya gayanya adalah doggy style tapi bersebelahan dan permainan ini ada unsur fightnya, cowocnya harus bisa tahan lama dan dapat bikin cewecnya orgasme beberapa kali dan pada posisi cewecnya adalah dengan segala cara mereka harus bisa menumbangkan cowocnya sesegera mungkin, jadi nanti akan keluar pemenang cewec dan pemenang cowoc, lalu pemenang cewec boleh main dengan pemenang cowoc dan yang kalah harus ngaso. Keuntungannya adalah pemenang dapat merasakan pasangan lawannya. Setelah Resti dan si bule ambil posisi merangkak di atas kasur aku dan Komang bersiap dari arah belakang. Mula2 aku ukul2kan meriamku ke pantat Resti dan setelah agak bangun dengan bantuan tanganku aku gesek2kan ke bibir vaginanya pas aku sudah siap, aku nengok ke Komang Udah siap Mang? tanyaku. Ayo udah siap Secara bersamaan kita memasukkan meriam masing2 ke arena pertempuran dan sama2 mulai menggoyang dengan jurus2 andalan masing2. Aku berpengangan pada pantat Resti dan tiba2 aku merasakan putaran pantatnya yang nikmat sekali, untuk mengimbanginya aku harus memainkan jurus putar emang lebih sulit main jurus putar pada doggy style rupanya serangan Resti makin gila wah kayanya Resti pengen menang pertandingan dan pengen nyobain barangnya komang yang dia intip tadi dan kelihatan gede banget. Sementara aku lihat Komang dengan memegang dada si bule itu dan mengayun dengan irama keras. Si bule juga ngga mau kalah dia ikut maju mundurin pinggulnya tangan Komang yang kiri diletakkan di atas punggul si bule dan tangan kanannya masih meremas dada si bule, dari posisiku aku dapat melihat dadanya lumayan besar dan kencang. wah aku mesti menang untuk bisa ngerasain main ama nih bule. Aku putar lebih keras dan aku coba untuk membungkuk lalu aku cium pundak Resti perlahan diapun mendesah lalu aku tekan lebih kuat lagi hingga posisinya kini nyaris tidur tengkurap, hanya saja pantatnya masih nungging sehingga tidak menyulitkan aku untuk menusuknya, kedua tanganku aku susupkan untuk meremas dadanya acchhaarrgh Resti mulai mengerang pertanda seranganku mengena aku teruskan dengan jurus yang sama tapi makin kupergencar serangan di dadanya serta ciuman di pundak dan belakang telinganya. Tak lama kemudian Resti tampak mengejang belum habis erangan Resti tiba2 disusul oleh erangan si bule itu rupanya 1 sama scoreku dengan Komang. Lalu aku tarik pinggul Resti untuk lebih ngungging dan kepalanya masih tetap rata dengan kasur, berpegangan pinggulnya aku mulai serangan maju mundur dengan keras dan cepat sesekali aku selingi dengan menancapkan meriam kesayanganku dalam2 dan memutarnya di dalam orgasme Resti yang kedua telah menyusul. Sementara aku lihat si bule mencontoh gaya Resti tapi tangan kanannya digunakan untuk menggapai dan mempermainkan biji Komang diselingi oleh erangan manja penuh nikmat dan gayanya seakan benar2 menikmati permainnya yang tiada duanya. Wajahnya menoleh ke Resti dan Komang makin nafsu menyerangnya. Gaya si bule ini emang sangat merangsang pada saat dia mengalalmi orgasme erangannya panjang sekali juga Komang seakan tidak ingin menghentikan serangannya dan ingin bikin rekor orgasme terpanjang kali. Score saat ini 2 sama tapi Komang ingi bikin sensasi atau orgasme beruntun aku nggak jelas tapi ngelihat gayanya yang masih konstan menyarangkan meriamnya ke liang si bule ini sambil matanya terpejam tiba2 diapun ikut mengejang dan ditancapkannya dalam2 didorongnya kuat sampe si bule terjat uh rata dengan kasur. Saat melihat Komang roboh aku langsung sadar bahwa sebentar lagi aku dapat menikmati cewecnya. Tapi tugasku pada Resti aku selesaikan dulu dan karena pertandingan sudah usai, maka kami boleh ganti gaya lain selain doggy style, kali ini aku minta Resti untuk tidur miring dengan kaki rada silang aku tidak perlu mencabut meriamku dan gaya ini masih mirip dengan doggy style tapi aku merasakan jepitan Resti makin rapet. Aku serang terus dengan putaran2 maut aku ingin segera memberikan gol yang indah buat Resti beristirahat. Aku lihjat Resti menggelepar penuh nikmat saat aku sendiri sebetulnya sudah hampir tidak kuat, kalo tidak sedang pertandingan kali udah aku lakukan bongkar muat ini tapi karena ingin ngerasain barangnya bule maka aku hentikan serangan yang penting Resti puas dan aku masih belum keluar. Aku tancapkan dalam2 supaya Resti dapat menikmati ganjalan meriamku di dalamnya. Sambil menanti turunnya temperatur nafsuku yang hampir puncaknya aku elus dan ciumin Resti ini bagian da ri cooling down untuk Resti dan diapun tersenyum manis sekali aku telah menghadiahkan nikmat malam ini. Lalu aku cabut meriamku dan disambut oleh si bule yang kutahu namanya setelah permainan dengannya usai. Jadi

tadi saat kenalan aku nggak jelas namanya siapa karena Komang menyebutnya perlahan lagian saat itu aku kurang konsen. Namanya Joan lengkapnya sebodo EGP. Joan langsung memegang meriamku yang masih tegang dan mulai menjilatnya perlahan dari ujung dan lidahnya berputar di kepala jamurku.Lalu aku pindah posisi saat Komang berdiri dan keluar kamar. Aku tiduran di samping Resti dan Resti rebah di dadaku sedang Joan kembali menjilati meriamku, dia menjilat dari biji terus naik ke mushroom, lalu berputar di mushroom baru kemudian dikulumnya. Jangkauan mulutnya cukup baik aku rasakan karena selama ini aku baru lihat orang dapat memasukkan meriamku sampai setengah bagian pas biasanya masih kurang dari itu perlahan dia masukkan lebih dalam lagi dan kali ini dia melepas tangannya. dengan kepalanya mengangguk-angguk meriamku keluar masuk mulutnya yang memiliki bibir mungil. Saat dia mengangguk -angguk aku lihat dadanya berayun-ayun indah sekali ingin rasanya menggapainya tapi tangganku nggak sampai karena Joan berada di atas kakiku. Dia lepas kulumannya dan kembali menjilati dari biji sampe ke mushroomku kembali naik dan turun jari2nya tidak menggenggam meriamku tapi hanya sedikit menahannya sesekali diselinginya dengan menjilat berputar perlahan di seputaran bijiku rasanya nikmat sekali karena bosan diam saja aku pindah posisi untuk main segitiga dengan Resti dan Joan jadi Joan masih menghisap meriamku, Resti menjilati dan kadang menusukkan jarinya ke liang Joan dan aku memainkan liang Resti karena ranjang itu tidak terlalu besar jadi rada sempit juga. Setelah puas dengan permainan ini lalu Joan bangkit dan mulai menunggangiku sedang Resti tetap pada posisinya permainan baru saja mulai ketika secara mendadak Vina ikut bergabung dan menyodorkan dadanya untuk kujilati sebenta kemudian pakaiannya sudah lolos semua dan diapun bugil. Vina lalu menaikiku dan menyodorkan liangnya untuk kujilati rada susah juga aku dengan posisi ini hampir sulit bernafas. Sementara meriamku bekerja untuk Joan, jari kiriku untuk Resti dan lidahku asyik menari dibelahan bibir kenikmatan Vina. Yang masih nganggur hanya jari kananku saat itu dan aku gunakan untuk meremas dada Vina Saat rangsangan yang aku rasakan di meriamku makin keras, usahaku terhadap Resti maupun Vina juga makin gencar Joan melenguh keras sambil menancapkan dalam2 dan masih memutarnya perlahan dengan penuh tekanan. tangannya berpegangan pada pundak Vina aku pilin puting Vina dan aku sedot kuat2 biji kacangnya. Vinapun melenguh nggak lama kemudian Resti masih belum sempat aku selesaikan saat wian meminta bagian untuk menuntaskan Resti. Komang yang masuk kamar denagn membawa minuman keras import di genggaman tangannya dan dengan langkah sedikit terhuyung dia menghampiri Vina dan mulai merabai Vina. Akupun bangkin untuk memberikan tempat buat Komang dan yang lain sedang aku pindah tiduran di lantai di atas pangkuan Ratna. Rani mengelus lembut rambutku dan menciumiku. Bang istirahat dulu nanti kecapaian katanya. Dan akupun mencoba memejamkan mataku.

Asti Ananta
Dingin sangat terasa malam ini, sedikit kesal karena yang di tunggu belum tampak juga. Tak terasa waktu menunjukan pukul 12 malam. Sambil mengisap sebatang rokok, ku melihat keadaan di sekeliling tempat parkir salah satu stasiun televisi. Hanya satu orang yang ku tunggu yaitu Asti Ananta. Ku dengar dia menjadi salah satu presenter acara, jadi ku sengaja menunggu dia pulang. Tak lama kemudian, ku lihat dia menaiki mobilnya. Tanpa di kawal oleh body guard nya. Karena body guard nya adalah salah satu teman ku juga, dan dia sudah di kasih uang untuk segera pulang. ya mungkin dia beralasan istri nya sakit atau apa lah, tak penting juga, yang penting Asti pulang sendiri malam ini. Tak lama Asti segera meninggalkan lapangan parkir, dan ku ikuti mobil nya, setelah lama juga akhir nya sampai juga di rumah nya. Ku memarkirkan mobil lumayan jauh dari rumah nya, supaya tidak timbul rasa curiga. Setelah Asti masuk rumah, aku mulai melihat keadaan sekeliling komplek rumah nya. "Aman" dengan hati - hati ku mulai masuk pekarangan rumahnya, lalu ku mulai mencungkil jendela rumahnya, dengan sangat hati - hati sehingga tak mengeluarkan suara. Tak lama pun aku sudah berada didalam sepi hanya ada Asti seorang, ku tau bahwa keluarganya sedang keluar kota dari gosip hari ini (bermanfaat juga nonton gosip), rumahnya sangat luas, berisikan peralatan - peralatan yang sangat mahal pastinya, "hmm.. dasar artis" pikirku. Ku lihat sekeliling rumahnya,dan akhirnya kujumpai juga pintu kamarnya yang berada di tingkat dua, lalu kucungkil pintunya hati - hati sekali. "Yess bisa". Aku pun masuk kedalam

kamarnya, dam ternyata Asti sedang berada di kamar mandi, "tinggal tunggu sajah" pikir ku. Ku sembunyi di belakang gorden kamarnya,dan tak lama Asti pun keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, mungkin habis mandi atau membersihkan make up nya. Kemudian asti pun duduk dekat meja rias,"kesempatan". Aku pun segera membungkam mulut Asti dengan saputangan yang sudah dibasahi oleh obat bius. Asti berontak hampir berteriak, tapi tak lama asti pun lemas tertidur. Segera ku bopong ke tempat tidur, ku ikat tangannya dan kaki nya sehingga kaki nya terbuka lebar. Mulutnya ku sumpal,"hm... memang cantik dan seksi" pikirku. Kulitnya yang putih, rambut yang panjang, serta body yang sangat seksi dengan payudara montok. Tak lama ku langsung menghampirinya, dan mulai ku cium pipinya, ku jilati bagian belakang telinganya, Asti hanya bergelinjing dan masih tidak sadar. Mulai ku ciumi bibirnya yang mungil,ku jilati lehernya, dan mulai membuka handuk yang menyelimuti tubuhnya, terlihat didepan mataku, payudara yang sangat montok di bungkus BH warna hitam berenda, dan celana dalamnya yang berwarna hitam juga. Langsung ku raba - raba payudaranya, semakin nafsu birahi ku, ku mulai meremas - remas payudaranya. Tiba - tiba Asti terbangun, dan berontak, matanya seakan tak percaya dirinya terikat ditempat tidurnya sendiri. "udah diam sajah, nikmati saja" kata ku dengan nada mengancam sambil memegang pisau ditangan, ku mulai meremas - remas payudaranya,Asti semakin berontak. Kemudian ku mulai meraba - raba bagian selangkangan Asti, dan mulai mengesek - gesekan jari ku. Asti semakin berontak dan kulihat dia mulai mengucurkan air mata. Tak peduli ku langsung memotong BH nya, dan terlihat payudara yang sangat indah, puting nya yang berwarna merah muda, Asti hanya mencoba untuk berteriak dan berontak. "Udaa percuma aja..." kata ku sambil tersenyum lebar. Lalu langsung ku jilati putingnya, Asti semakin menggeliat, tak peduli ku semaking nafsu, sambil memainkan puting nya satu lagi, tangan yang lain tidak berhenti menggesek- gesek selangkangan nya. "Wah... mulai basah nih..." kataku ke Asti sambil tersenyum. Asti mulai kelelahan dan tidak berontak lagi, lalu ku masukan tangan ku kedalan celana dalam nya, Asri kaget. "Hmm... memang basah" vagina Asti basah oleh cairannya sendiri. Lalu ku buka celana dalamnya, "Wow... vagina yang sangat indah, warnanya masih merah muda, dengan dihiasi rambut - rambut kemaluan yang tertata rapih, basah oleh cairan vagina Asti. Kubuka sumpal mulutnya, asti sudah tampak kelelahan dan sudah tidak berteriak lagi, ku jilati vaginanya yang basah. Asti mengelinjing, matanya mulai merem melek. Sambil mendesah tak karuan, "aah... jangan... aaaah..." . Ku masukan jariku kedalam vagina Asti, Asti kaget tapi tak berdaya dibawah ancaman ku. "sakitt... ampuuunn... apa salaaah ku... aaah... aaa...h..." sambil matanya berkaca - kaca. Terus jari ku masukan kedalam vagina Asti, tak lama tubuh Asti mengejang "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh..." asti berteriak disertai vaginanya memuntahkan cairan yang cukup banyak. Hangat dan licin, ku jilati lagi vaginanya hmmm... bau yang khas dan sangat licin, kujilati sampai habis. Belum puas, kumainkan klitorisnya dengan lidah,"aaaaghh... aaaaah... " Asti mulai mendesah lagi. Kumasukan jariku lagi, sambil mengocok vaginanya terus menerus, "aaaaaaaaaaaaaaahhhh...." Asti berteriak lagi sambil badannya terguncang, vaginanya mengeluarkan cairan lagi. Sambil kujilati terus vaginanya. Asti sangat terlihat lemas, ku mulai membuka celana, dan langsungku masukan kedalam vagina Asti. Asti berteriak

kesakitan "aaaaaaaahhh... jangan.... saaaakit.... aaaampunnn". Aku sudah tak peduli teriakannya,langsung kugenjot vaginanya. Ugh masih sempit, hangat dan berdenyut, dibasahi cairan vagina Asti. "Ahhhh... ah... aaah.... " Asti mendesah. Sambilku jilati dan mainkan putingnya. "Aaah... aaaah...aaaa...h" Keringat mulai membasahi tubuh Asti dan diriku. Tak lama kemudianku merasakan kesemutan dipenisku, tanda mau orgasme, semakin cepat ku genjot vagina Asti, badan Asti mulai mengejang lagi, Asti orgasme bersamaan dengan diriku. "Aaaaah... aaahhh... aaaah..." nikmat sekali. Kutinggalkan Asti terkulai lemas diranjangnya yang basah oleh cairan vaginanya, dengan ku ancam akan kusebarkan video Asti jika Asti melapor kepolisi. Dengan perasaan senang ku tinggalkan rumah Asti. Oh... Asti Ananta, pasti aku akan kembali lagi...

Mbak dian mantap


Kejadian ini terjadi tepatnya pada tahun 2006, nama gue Donny Suhendra... Gue berasal dari suatu keluarga yang cukup berada di bilangan Jakarta Timur. Gue merupakan anak ke empat dari lima bersaudara yang sekarang berumur 25 tahun... gue punya pembokat namanya Dian yang sampai sekarang masih setia ngabdi di keluarga gue semenjak masih gadis hingga udah menikah dan kemudian cerai dengan suaminya. Kriteria pembokat gue dengan postur body menantang toket ukuran 36 B plus bokong yang bak bemper yang padet, tinggi badannya kira kira 160 dan berkulit putih.... karena pembantu gue ini orang asal Kota Bandung, umurnya sekarang kira kira 29 tahun. silakan bayangkan gimana bodynya, gue aja kalo liat dia lagi ngepel langsung otomatis dede yang di dalem celana langsung mengeliak saat bongkahan dadanya memaksa keluar dari celah kerah bajunya. Terkadang di pikiran gue terlintas pemikiran kapan yang bisa nyicipin tubuh montok pembokat gue yang aduhai itu... udah naga bonar gak bisa di ajak kompromi lagi, liat sedikit aja langsung bangun dari tidurnya... Pernah suatu hari gue lagi mau ganti baju di dalam kamar pas waktu itu gue lupa ngunci pintu... tiba tiba gue kaget pembokat gue masuk tanpa ngetuk ngetuk lagi, mungkin dia pikir udah lama kerja sama keluarga gue n udah kenal gue dari gue masih SD... "Eh..., lagi ganti baju ya... Donn" kata pembantu gue sambil buka pintu kamar gue tanpa ada rasa kegelisahan apa apa saat liat gue gak pake apa apa... cuma tinggal CD aja yang belom gue lepas. "Mbak, ketok dulu dong kalo mau masuk kamar Donny... gimana kalo pas masuk Donny lagi telanjang..." celetuk gue sama dia. "Emangnya kenapa sih Donn, saya kan udah lama kerja di keluarga Donny... ,lagian'kan waktu masih SD juga kamu suka pake CD aja kalo di rumah...". Kata Dian sama gue yang kayaknya acuh terhadap posisi gue yang telanjang. "Mbak... itu'kan dulu, waktu saya masih SD. Sekarang'kan saya sudah besar... Mbak memang gak malu yah liat saya kalo telanjang bulat gak pake apa apa..." celetuk asal keluar dari mulut. "Iiiihhh.... malu gapain... lagian saya juga gak mau liat... yah udah sana kalo mau ganti baju, mbak mau beresin kamar kamu nih yang berantakan mulu tiap hari kayak kandang sapi..." Karena dia menjawab dengan rasa yang tidak keberatan kalo gue ganti baju disaat ada dia. Dengan santai gue mulai turunin CD gue yang nutupin kont*l gue yang udah mulai agak kenceng dikit... Tanpa sengaja gue tangkap lirikan matanya yang memandang ke arak selangkangan gue yang di tumbuhin rambut yang lebat... "Nah... tuh ngeliatin mulu... katanya tadi mbak Dian gak mau liat, sekarang liat mulu..."

"Siapa yang liat... wong saya lagi beresin sprei yang berantakan ini kok..." bantah dia karena malu mungkin kepergok ngelihat kearah selangkangan gue. AKhirnya gue tinggal dia di dalam kamar gue yang sedang beresin kamar gue yang berantakan itu, di luar gue jadi teringat gimana yah caranya buat bisa nikmatin tubuh pembantu gue yang bahenol ini... dan gue rasa dia juga kayaknya penasaran sama kont*l gue yang gede ini... buktinya beberapa kali gue pergokin dia ngelirik terus kearah gue. Pas suatu hari libur, hari minggu keluarga gue pada pergi ke rumah kerabat gue yang mau nikahin anaknya. "Donny... kamu mau ikut gak. Mama semuanya mau pergi ke pesta pernikahan anaknya tante Henny di Bandung...". Tanya Mama gue. "Kapan pulangnya Ma,..." Jawab gue sambil ngucek ngucek mata karena baru bangun... "Mhhhmmm,... mungkin 2 hari deh baru pulang dari Bandung, kan capek dong Donn... kalo langsung pulang... kamu tanya kapan pulang, kamu mau ikut gak... atau mau di rumah saja" tanya mamaku kembali... "Kayaknya dirumah aja deh Ma... abis capek ah, jauh... lagian besok Donny ada acara sama teman teman Donny..." jawab ku seraya kembali membenamkan kepalaku kembali ke bantal... "Yah udah... mama mau berangkat jalan kamu baik baik yah jaga rumah... mau apa minta aja sama Mbak dian..." "Dian... Dian... Dian..." panggil Mamaku "Iyah Nyah..., Maaf saya lagi nyuci. Kurang denger tadi Nyonya panggil. Kenapa Nyah..." Jawab Mbak Dian Sambil datang dari belakang yang ternyata sedang cuci baju... baju yang dikenakan sebetulnya tidaklah menantang, namun karena terkena air sewaktu mencuci menjadi bagian paha dan dadanya seakan transparan menantang... "Dian... kamu jaga rumah yah selama saya dan tuan pergi ke Bandung" "Iyah Nyah... ," jawab kembali pembokat gue itu ke mama gue... Setelah kira kira selang beberapa jam setelah keberangkatan mamaku... akhirnya aku keluar dari kamar hendak buang air kecil. Perlu Bro Bf ketahui jarak antara tempat pembantu gue nyuci sama kamar mandi deket banget... waktu gue jalan ke kamar mandi, gue liat pembantu gue yang lagi nyuci baju dengan posisi duduknya yang buat naga di dalam cd gue bangun... Pembantu gue pake T shirt putih yang tipis karena dah lama di tambah lagi kaosnya kena air, secara langsung keliatan jelas banget BH krem yang dipake pembantu gue berserta paha mulusnya yang udah agak terbuka karena duduknya hingga keliatan CD putihnya... "Anjriiit, mulus juga nih pembantu gue meskipun udah janda anak satu tapi dari paha dan teteknya masih keliatan kenceng, kayak cewek yang belum pernah kesentuh sama laki laki".oceh gue dalam hati sambil kencing trus ngelirik ke pahanya yang mulus itu. Sambil kencing gue mikir gimana caranya buka omongan sama pembantu gue, biar gue bisa agak lamaan liat CD dan teteknya yang aduhai itu... pantes banyak tukang sayur selalu suka nanyain Mbak Dian mulu kalo tiap pagi... "Mbak gimana kabar Ani, sekarang udah umur berapa... Mbak Dian kok bisa sampai cerai sih sama suaminya"Iseng gue tanya seputar hubungan dia sama mantan suaminya yang sekarang udah cerai, dan kenapa bisa sampai cerai... gugup juga sih gua waktu nanyanya

kayak gue nih psikolog aja... "Kok tiba tiba Donny tanya tentang itu sih sama Mbak... " "Gak pa pa kan Mbak... " "Anak mbak sekarang udah umur lima tahun, mbak cerai sama suami mbak karena dia pengangguran... mau nya enak doang. Mau bikinnya tapi gak mau besarin. Yah... lebih baik mbak minta cerai aja. masa sih mbak sendiri yang banting tulang cari uang, sedangkan suami mbak cuman bangun, makan, main judi sampai subuh... males Donn punya suami pengangguran, lebih baik sendiri... sama aja kok" Jawab pembantu ku panjang lebar, seraya tangannya tetap membilas baju yang sedang ia cuci. Ini dia masuk ke dalam dialog yang sebenarnya... akhirnya pembicaraan yang gue maksud agar gue arahin pembicaraan hingga tentang persoalan hubungan intim. "Lah... bukannya enakan punya suami, mbak... daripada gak ada..." "Enak dari mananya Donn... punya suami sama gak punya sama aja ah..." "Loh beda dong mbak..." "Beda dari mananya Donn... coba jelasin, aah kamu ngomongnya kayak kamu dah pernah ngerasain menikah aja sih Donn..." tanya pembantuku sambil bercanda kecil. "Yah beda lah mbak... dulu kalo masih ada suami kan kalo lagi pengen tinggal minta sama suami mbak... sekarang udah cerai pas lagi pengen... mau minta sama siapa..." Jawab gue sambil menjuruskan kalimat kalimat yang gue tuju ke hal yang gue inginin. "Maksud Donny apa sih... mau apa. Ngomongnya jangan yang bikin mbak bingung dong Donn..." "Gini mbak, maksudnya apa mbak gak pernah pengen atau kangen sama ini nya laki laki..." waktu gue ngomong gitu sambil gue turunin dikit celana pendek gue, trus gue keluarin punya gue ngadep ke depan mukanya... "Iiih gede banget punya kamu Donn... punya mantan suami mbak sih gak begitu gede kayak gini..." Jawab mbak dian sambil melotot ke kont*l gue yang udah Super tegang, karena dari tadi udah minta di keluarin. "Kangen gak sama Kont*l laki laki mbak..." tanya kembali saya yang sempat membuyarkan pandangan mbak dian yang dari setadi tak lepas memandang kont*lku terus. "...... waduh mbak gak tahu deh Donn..., kalo punya mbak dimasukin sama punya kamu yang gede kayak gini. Gimana rasanya mbak gak bisa ngebayangin..." "Loh... mbak saya kan gak tanya apa rasanya di masukin sama punya saya yang lebih gede dari punya mantan suami mbak. Saya kan cuman tanya apa mbak gak kangen sama punyanya laki laki"Padahal didalam hati gue udah tahu keinginan dia yang pengen ngerasain kont*l gue yang super size ini...

"mmmmhhhhh... maksud mbak dian sih... yah ada kangen sama punya laki laki... tapi kadang kadang mbak tahan aja, abis mbak kan dah cerai sama suami... " jawab mbak dian yang keliatan di pipinya merona karena merasa jawabannya ngawur dari apa yang gue tanyain ke dia" "Mbak... boleh gak saya pegang tet*k mbak " "Iiihh... Donn kok mintanya sama mbak sih, minta dong sama pacar Donny... masa sama mbak..." "Yah... gak pa pa sih, saya mau ngerasain begituan sama mbak dian... gimana sih begitu sama ce yang udah pernah punya anak... boleh yah mbak... " kata gue sambil mendekatkan kont*l gue lebih dekat ke mulutnya... "iiih donny... punya kamu kena mulut mbak nih... memangnya kamu gak malu gituan sama mbak dian..." jawab mbak dian sambil merubah posisi duduknya sambil menghadap ke kont*l gue dan ngelepasin baju yang sedang dia bilas... "Yah gak lah kan gak ada yang tahu... lagian kan gak ada yang tahu, kan sekarang gak ada orang selain mbak dian sama saya" jawab gue sambil yakinin ke dia, biar di mau kasih yang gue pengen. "Tapi jangan keterusan yah... trus kamu mau di apain sama mbak..." "Mbak mulutnya di buka dikit dong, saya mau masukin punya saya ke dalam mulut mbak dian..." "Iih... gak ah jijik... masa punya kamu di masukin ke dalam mulut mbak... mbak gak pernah lakuin kayak gini sama mantan suami mbak, gak ahh... " tapi posisi tangannya sekarang malah megang kont*l gue sambil ngocok ngocok maju mundur. "Cobain dulu mbak enak loh... anggap aja mbak dian lagi kemut permen lolipop atau es krim yang panjang" rayu gue ngarep mbak dian mau masukin kont*l gue ke dalam mulutnya yang mungil itu. Akhirnya permintaan gue diturutin tanpa banyak ngomong lagi mbak dian majuin mukanya kearah kont*l gue yang udah super tegang itu kedalam mulutnya yang mungil... sementara dia kemut kont*l gue maju mundur yang terkadang di selingin jilatan jilatan yang bikin gue pegang kepalanya trus gue tarik maju hingga kepala kont*l gue mentok sampe kerongkongan mbak dian. "Ooooooh... mbak emut truuuus mbak.... ennnnak banget" sambil tangan gue mulai turun megang tet*knya yang mengoda itu. Tangan gue masuk lewat kerah kaosnya, trus langsung gue remes kera tet*knya... Tangan mbak dian juga kayaknya gak mau kalah sama gue. Dia malah makin ngedorong pantat gue dengan tangannya hingga hidungnya nempel sama jembut gue... Karena tempatnya kurang tepat untuk bertempur lalu gue ajak mbak dian ke ruangan tengah sambil ngemut kont*l gue jalan ke ruangan tengah. Perlu di ketahui mbak dian merangkak seperti ****** yang haus sex gak mau lepas dari kont*l gue, merangkak berjalan ngikutin langkah kaki gue yang mundur ke arah ruang tengah. Gue liat mulutnya yang mungil sekarang terisi kont*l gue... tangannya sambil remas remas

buah dadanya sendiri... " Mbak dian lepasin dulu dong kont*l saya, buka dulu baju mbak dian. Entarkan mbak juga nikmatin sepenuhnya punya saya..." " Donnn.... punya kamu enak banget... mbak kira dari dulu jijik kalo liat ce ngemut punyanya cowok... ehh ternyata nikmatnya bener bener bikin ketagihan Donn..." Dengan cepat cepat mbak dian membuka seluruh baju dan roknya yang tadi basah karena kena air... Wooow, sungguh pemandangan yang sangat indah... kini di hadapan gue telah ada seorang wanita yang telanjang tanpa tertutup sehelai benang... berjalan menghampiri gue dengan posisi doggie style mbak dian kembali memasukkan kont*l gue ke dalam mulutnya yang mungil itu. Dengan jels bisa gue liat buah dada yang gelantungan dan bongkahan pantat yang begitu padat, yang slama ini udah banyak bikin kont*l gue penasaran pengen di selipin diantara bongkahan itu... nafas suara mbak dian semakin lama semakin membara terpacu seiringin dengan birahi yang selama ini terkubur di dalam dirinya. Sekarang terbangun dan mendapatkan suatu kepuasan seks yang selama ini ia tahan tahan. Sementara mbak dian ngemut kont*l gue, gue remas tet*knya yang menantang itu terkadang gue pegang MQ nya yang ternyata udah banjir oleh cairan kenikmatan. Gue tusuk tusuk jari tengah gue ke dalam mem*knya hingga mbak dian ngeluarin desahan sambil meluk pantat gue... " Mmmmhhhhh..... ooooooohhhhhh......" desahannya begitu menambah gue buat semakin cepat menusuk nusuk liang kenikmatannya semakin cepat. "Donnn.....OOooooohhhh.... Donnn... enak donnn... enak...." Desahan mbak dian benar benar membuat semakin terangsang... tusukan jari yang gue sodok sodok pun semakin gencar... " Aaaaaahhhh.... Donnnyyyyyy.... OOOhhhhh Dooooonnn... mbakkkkk..... mmmmbb..... klllluuuaar... " bersamaan dengan desahan mbak Dian yang panjang, akhirnya mbak Dian telah mencapai puncak kenikmatannya yang terasa di jari tengah yang gue sodok sodok ke lubang MQ nya waktu mbak Dian menyemprot cairan kenikmatannya.... Karena mbak Dian telah mengalami organismenya yang pertama, maka Gue pun tak mau kala. Irama sodokkan kont*l gue percepat kedalam mulut mbak Dian berkali kali hingga desahan panjang gue pun mulai keluar yang menandakan sperma gue akan muncrat... anuanuan.gif " Mbak Donny mau kkkkelllluaaar.... aaaaahhhh.... sedot mbak... sedot peju Donny.... " kata gue sama Mbak Dian sambil menahan kepalanya untuk memendamkan kont*l gue hingga masuk ke tenggorokannya. Namun Mbak Dian meronta ronta tidak menginginkan sperma gue keluar di dalam mulutnya... sia sia rontahan mbak Dian Sperma gue akhirnya keluar hingga penuh di dalam mulutnya. Crroooot.... Crooot... crooot... crotz.gif akhirnya Gue semburkan berkali kali peju gue di dalam mulut mbak Dian. Meskipun pada saat Mbak Dian tidak ingin menelan Sperma gue namun gue memaksanya untuk menelannya dan menikmati Sperma gue yang segar itu.

Posisi mbak Dian masih sama seperti sebelumnya, namun sekarang kakinya seperti kehilangan tenaga untuk menahan berat badannya mengalami kenikmatannya... dari sela sela bibirnya mengalir sisa spermaku yang di jilat kembali. Tubuh mbak Dian kini terkapar tak berdaya namun menampilkan sosok wajah penuh dengan kepuasan yang selama ini tak ia dapatkan. Melihat expresi wajahnya membuat gue kembali semakin nafsu... karena dari tadi gue anggap hanyalah pemanasan. Tom_Haunan, 6 September 2007 #1 zoldyek and iblizzz like this. Tom_Haunan [DS] Mania Gue berjalan mendekat ke tubuh mbak dian yang sedang lemes... trus menelentangkan posisi tubuhnya dan gue rengangkan kedua belah pahanya. Dengan tangan sebelah kanan gue genggam kont*l gue yang udah tegang terus menerus mengesek gesekan kepala kont*l gue di atas permukaaan Mem*k mbak dian yang udah licin, basah karena cairan kenikmatan milik mbak dian. Saat Gue mau menjebloskan kont*l gue yang udah menyibak bibir mem*knya, tiba tiba mbak dian menahan dada gue dan berharap gue gak masukin kont*l gue ke dalam mem*knya yang sudah lima tahun gak pernah terisi sama kont*l laki laki... Karena saat itu nafsu gue udah sampe otak, gue dah gak perduli lagi sambil tetap ngeliat ke bawah tempat dimana kont*l gue sekarang akan menembus liang kenikmatan yang sungguh sungguh mengiurkan... "Tenang mbak tahan dikit... saya ngerti mungkin kont*l saya terlihat terlalu besar dibandingkan mem*k mbak. Tapi nanti disaat udah masuk kedalam mem*k mbak... nikmatnya akan 10x lipat nikmat yang pernah mbak dian rasain sama mantan suami mbak..." gue bisa liat di matanya takut saat detik detik gue akan menghujang basoka yang besar ini kedalam mem*knya yang terbilang sempit... " Dooonnnn..... peeellllannn... mbak ngeri liat punya kamu yang besar banget itu.... " kata mbak Dia sambil melirik ke arah basoka rambo yang siap mengaduk gaduk isi mem*knya. " Iya... Donny coba pelan pelan masukin nya... mbak tahan dikit yah... mungkin karena dah lama aja mbak kali mbak... " kataku kembali kepada mbak Dian seraya meyakinkan hatinya. Sambil kembali menaikkan kembali libidonya, gue gesek gesek kepala kont*l gue tepat diatas bibir mem*knya yang mulai kembali basah sama cairan kewanitaannya. Terkadang gue selipin sedikit demi sedikit ke dalam liang mem*knya mbak Dian, lalu gue tarik kembali dan mengesekkan kembali ke itil nya yang merah segar itu. sleep...sleep... sleeep... mungkin sangkin basahnya mem*k mbak Dian hingga mengakibatkan suara seperti itu.... " hhmmmmm... eeee... ssstttt..... Donnn... Donnn... Kamu apain punya mbak Dian. " tanya mbak Dian sambil matanya terpejam mengigit bibir bawahnya sendiri... " Donn... udah dong... jangan bikin mbak Dian kayak gini trus.... masukkin aja Donn "

" Mbak mohon kasihan kamu... entot*n mbak... mbak gak tahan lagi... ooohhh... eemmmm... " rengge mbak Dian sama gue mengharap segera kont*l gue masuk ke dalam mem*knya dan memompa dia. " Tahan mbak yah... " lalu tanpa menunggu jawaban selanjutnya ku tancapkan seluruh batang kont*l gue yang udah dari tadi mau mengobok gobok isi mem*knya. " Doooooonn...... " sahut mbak Dian di saat pertama gue terobos mem*knya, tangannya langsung merangkul leher gue. Seperti orang yang mengantungkan setengah badannya. " Pelan... pelan... Donn... nyeri... bannngeet ..." Namun gue gak sahutin ucapan mbak Dian, karena gue lagi nikmatin sesuatu yang memijit kont*l gue yang terkadang menyedot yedod kont*l gue ini. Rasanya begitu nikmat hingga gue tanjap lagi lebih dalam sampai terasa kont*l gue mentok di dasar rahim mbak Dian yang motok ini. Desahan liar mbak Dian pun semakin tak karuan... terkadang dengan tangannya sendiri mbak Dian memelintir puting susunya yang udah mengeras... " Gimana Mbak masih sakit... sekarang rasanya apa... enak gak mbak... " tanya ku kepada mbak Dian setelah gue liat raut mukanya yang penuh dengan expresi kenikmatan. Gerakkannya dan goyangan pinggulnya yang mengikuti irama enjotan gue pun semakin lama semakin liar. Kadang kadang pantatnya di hentakkan ke atas yang berbarengan dengan sodok sodokkan yang gue hujam ke mem*knya. " Donnn... Donnn... kamu hebat banget... Donnnn...." " Donnn... mmmmmaaauuu... mmmmmbbbaaakk keluar lagi nih... OOOOOoooooohhh " Cengkraman tangannya di punggungku dan lipatan kedua kakinya pada pinggangku bersamaan dengan erangan panjang yang menandai bahwa mbak Dian akan menyemburkan air maninya untuk kedua kalinya... Karena gue masih ngaceng dan semakin bertambah bernafsu setelah ngeliat raut muka seorang janda beranak satu ini merasa kepuasaan, lalu tanpa banyak buang waktu lagi. Gue langsung membalikkan tubuh mbak Dian dan memintanya untuk menungging, ternyata mbak Dian tanpa bertanya kembali ia menuruti permintaan gue yang ingin cepat cepat menghajar kembali mem*knya... " Donnn, kamu memang hebat Donn... mbak baru pertama kali di ent*t sama laki laki lain selain mantan suami mbak sendiri " " Donnn, sekarang kamu mau apain aja mbak ikutin aja... yang penting mbak bisa ikut nikmatin peju kamu Donn... " kata mbak Dian sambil mempersiapkan mem*knya dengan membersihkan mem*knya dari cairannya sendiri yang mengalir hingga di kedua pangkal pahanya. Beberapa kali ia seka mem*knya sendiri hingga bersih dan terlihat kering kembali... dan siap untuk di santap kembali. Sekarang di hadapan gue mbak Dian sudah siap dengan 2 pasang bongkahan pantatnya yang masih kenceng, dengan posisi kepalanya lebih rendah dari pada pantatnya. Liang kewanitaannya seakan akan menantang Kont*l gue untuk memompa mem*knya mbak Dian kembali... Jelas terlihat belahan bibir mem*knya yang membuka sedikit mengintip dari celah daging

segar karena barusan gue ent*t. Dengan tangan sebelah kanan gue pegang batang kont*l gue dan tangan sebelah kirinya gue membuka belahan pantatnya yang mulus sambil terkadang gue usap permukaan mem*knya yang tandus bukan karena suka di cukur namun memang sudah keturunan, setiap wanita dikeluarga tidak akan memiliki bulu/jembut pada mem*k. Sungguh indah sekali pemandangan yang terpampang, mem*k yang mengiurkan terjepit oleh dua bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Kumajukan kont*l gue hingga menempel di permukaan mem*k mbak Dian, mengorek gorek permukaan mem*knya dengan kepala kont*l gue. Ternyata apa yang gue lakukan ini sangat dinikmati oleh mbak Dian sendiri... yang terkadang selalu mendesah setiap kali bibir mem*knya tersibak karena gesekan kepala kont*l gue. Lalu dengan gerakan perlahan gue tusuk mem*k mbak Dian perlahan biar sesasi yang timbul akan semakin nikmat disaat itilnya ikut masuk bersama dengan dorongan kont*l gue yang mulai terpendam. " Geli banget Donn rasanya... tapi lebih enak Donn rasanya daripada sebelumnya... " " Donn... lebih keras.... Donn... entot*n mbak... puasin mbak Donn... " pinta mbak Dian sembari memeras buah dadanya sendiri. " Donn... lagiii... laggiii... Donn... lebiiihhh.. kencenggg lagi... " pinta kembali mbak Dian sambil mulutnya yang ter engap engap seperti ikan yang baru saja keluar dari air. Hujangan kont*l ku kini semakin cepat dan semakin gencar ke dalam mem*knya... hingga menimbulkan suara suara yang terjadi karena sodokan sodokan kont*l gue itu. Tingkat aktivitas yang gue lakukanpun kini semakin gencar. Tangan gue memeras buah dada mbak Dian hingga erangan mbak Dian pun semakin menjadi tak kala hentakan kont*l gue yang kencang mengesek dinding liang kewanitaannya. Cukup lama juga gue mengent*t*n mbak Dian dengan style doggie ini, hingga gue menyuruh mbak Dian berganti variasi seks. Posisi mbak dian sekarang tidur terlentang namun kakinya menimpa pada kaki sebelahnya dan badannya agak miring, dengan posisi ini mem*knya yang terhimpit terlihat seakan membentuk belahan mem*k. Lalu kembali lagi gue masukin kont*l gue yang masih keras ini kedalam mem*k mbak Dian, dengan tangan sebelah gue menahan di pinggulnya. Kali ini dengan mudah kont*l gue masuk menerobos liang kewanitaannya, enjotan gue kali ini benar benar nikmat banget karena sekarang posisinya kont*l gue serasa di jepit sama pantatnya. Setiap dorongan kont*l gue menimbulkan sensasi yang lebih di raut muka mbak Dian. Mukanya mendahak ke arah gue sambil memegang lengan tangan sebelah kiri sambil mulutnya terbuka seperti pelacur yang haus kont*l kont*l para pelanggan setianya. " Mbak... enak gak... kont*l Donn... " tanya gue sama mbak Dian dengan nafas yang telah terengah engah. " Enaaaak... Donnn .... Truuus .... Donnn.... jgan brenti... " " Ngomong mbak Dian kalo mulai saat ini mbak memang pelacur Donn... mbak suka banget sama kont*l Donn..." Suruh gue ke mbak Dian buat niru ucapan gue. " Mbak memang pelacur Donnny... kapan aja Donnny mau... mbak layani... sssstt... Dooonn... " " Mbak suka bngeeeeet... koooont*l Donnnnyyy... ennnntot*n mbak Diannn tiap hari

Donnnn... entot*n... entot*n.... trussss " Mendengar seruan mbak Dian yang tertahan tahan karena nafsu yang besar kini sudah menyelubungi seluruh saraf ditbuhnya, menambah birahi gue semakin memuncak. Menambah gue semakin cepat dan cepat mengent*t*n mbak Dian, sampai sampai goyangan buah dadanya seiringan dengan dorongan yang gue berikan ke dalam mem*k... Akhirnya mbak Dian kembali mencapai puncaknya kembali, sambil memasukan jarinya kedalam lubang anusnya sendiri... " Donnnn... mbak.. mmmmau... kllllluaaar laaagi.... ooooooohhh...Doooonnn.... " erang mbak Dian yang hendak memuncratkan air semakin membuat ku terangsang karena mimik mukanya yang sungguh sungguh mengairahkan. Dengan badan yang telah lunglai, mbak Dian terkapar seperti orang yang lemah tak berdaya. Namun pompaan kont*l gue yang keluar masuk tetap gak berhenti malah semakin lama semakin cepat. Tiba tiba gue ngerasain sesuatu yang berdenyut denyut disekitar pangkal kont*l gue. Dengan keadaan mbak Dian yang sudah tidak berdaya aku terus mengent*t*n mem*knya tanpa memperdulikan keadaan mbak Dian yang sekujur tubuhnya berkeringat karena kelelahan setelah gue entot*n dari setadi. " Mbaaaak... Dooonnn...nyyy mmmaaau.. kkklarrrr... Aaaahhhh.... " Seruku disaat sesuatu hendak mau menyembur keluar dan terus menerus memaksa. Crrrooot... Crrrooot... CCrooot... akhirnya gue tersenyum puas dan mencabut kont*l gue dari dalam mem*k mbak Dian dan menghampiri mbak Dian dan memangku kepalanya dan meminta mbak Dian membersihkan bekas bekas peju gue yang bececeran di selangkangan gue... Gak pernah gue sia sia in saat berdua dirumah... setiap saat gue mau, langsung gue ent*t mbak Dian. Saat mbak Dian lagi ngegosok baju tiba tiba gue sergap dia dari belakang dan langsung buka celananya dan gue ent*t mbak Dian dalam keadaan berdiri dan slalu gue keluarin di dalam mem*knya dan yang terkadang gue suruh mbak Dian sepong kont*l gue lalu gue keluarin di dalam mulutnya serta langsung di nikmatin peju gue itu... katanya nikmat manis... Hari hari yang sangat sungguh indah selama beberapa hari gue selalu ent*tin mbak Dian dengan berbagai variasi seks... hingga sampai mbak Dian sekarang hebat dalam mengemut kont*l gue... Mbak Dian pun gak pernah menolak saat gue membutuhkan mem*knya karena dia juga sudah ketagihan sodokan kont*l gue. Sering malam malam mbak Dian suka masuk ke kamar gue dan suka sepongin kont*l gue hingga gue bangun dan langsung gue ent*t mbak Dian. NIKMATNYA PEMBOKAT GUE... KAPANPUN GUE MAU DIA PASTI MENGHIDANGKAN MEM*KNYA UNTUK GUE NIKMATIN.

Empat mata xxx


erita ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa. Di dalamnya termuat kisah erotis dan dewasa terkait dengan hubungan seksual. Jika anda termasuk dalam golongan minor yang masih berusia di bawah umur dan atau tersinggung serta tidak menyukai hal-hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas, tolong JANGAN DIBACA. Internet adalah media bebas untuk menyalurkan semua kreasi. Cerita ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam cerita ini murni ketidaksengajaan dan hanya kebetulan belaka. Penulis tidak menganjurkan dan atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan. Cerita ini diperbolehkan disebarluaskan secara gratis namun tidak boleh digunakan untuk kepentingan komersil tanpa menghubungi penulis dan teamnya terlebih dahulu. Bagi mereka yang ingin menyebarluaskan cerita ini secara gratis, diharapkan untuk tetap mencantumkan disclaimer ini. Copyright (c) 2007 Pujangga Binal & Friends. ********************************* Pernahkah anda membayangkan apa jadinya kalau tayangan Empat Mata dengan presenter super tenar Tukul Arwana adalah sebuah tayangan live-porn? Kalau fantasi kita sama, mungkin seperti di bawah ini kejadiannya. Cerita ini hanyalah fiksi fantasi belaka tanpa ada maksud dan alasan tertentu. Selamat menikmati. Peace! EMPAT MATA XXX ~ Edisi Tamara Bleszynski Ide Cerita oleh HDL & Binal Crew Finishing oleh Pujangga Binal (Penonton bersorak-sorai dan bergemuruh menyambut kehadiran presenter Empat Mata XXX yang terkenal ndeso - Tukul Arwana saat pria berbibir ndower itu memasuki studio) Selamat malam pemirsa, baik yang di studio maupun di rumah. Malam hari ini ki ta kedatangan tamu istimewa yang saya yakin sangat ditunggu-tunggu oleh pemirsa semua. Tamu kita kali ini tentunya tak asing lagi, dia adalah seorang artis terkenal, model, pemain sinetron, pemain film, bintang iklan dan kebetulan dia juga seorang janda kembang yang cantik, menarik, bodynya seksi dan wajahnya melankolis. Walaupun janda kembang ini sudah memiliki seorang anak, tapi saya yakin pasti banyak sekali pemirsa yang mengantri kalau-kalau artis satu ini akhirnya mau menikah lagi. Putra tunggal artis ini kini tinggal bersama mantan suaminya dan walaupun artis ini sudah sangat merindukan sang buah hati, tapi susah sekali bertemu dengannya, kalau saya usul sih, daripada repot mending bikin lagi yang baru. Sebenarnya dia sudah meminta saya menjadi pengganti mantan suaminya itu, tapi saya menolak karena sibuk syuting Empat Mata XXX dan menjadi bintang iklan dimanamana, wahahahaha! Baiklah, mari kita sambut saja Tamara Bleszynski! (Penonton bersorak-sorai dan bergemuruh)

Diiringi lagu yang dimainkan oleh band Peppy, sosok model dan pemain sinetron terkenal Tamara Bleszynski masuk ke panggung. Penonton makin ramai memberi sorak sorai karena penampilan Tamara yang cantik semakin terlihat seksi dengan balutan kemeja dan rok yang ketat berwarna gelap, kontras dengan kulitnya yang putih mulus tanpa cacat. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai indah menambah pesona. Rok yang dikenakan Tamara cukup pendek di bagian bawah sehingga kakinya yang jenjang terlihat menantang dan didukung oleh sepatu berhak tinggi, pantatnya yang bulat terdorong ke atas, sangat menggiurkan mata yang memandang. Tapi tentu saja dari semua kemewahan tubuh memikat Tamara, yang paling menarik adalah buah dadanya yang membusung dan ranum, sangat menggairahkan, konon katanya buah dada itu pernah diasuransikan. Tukul yang didatangi Tamara langsung meneteskan air liur menatap keindahan body tamunya yang seksi ini. Kalau sama yang ginian, Vega alias Ngatini sih kalah jauh. Tak ayal, ular naga Tukul bergerak-gerak di selangkangannya. Selamat malam, Tamara. Sambut Tukul sok akrab. Selamat malam. Jawab Tamara lembut. Tutur katanya yang sopan membuat Tukul tambah belingsatan. Dia berusaha menekan ular naganya yang malah tambah ngaceng saat dekat dengan Tamara. Keduanya bersalaman dengan hangat. Tukul langsung keringetan. Tangan Tamara sangat halus dan mulus. Dengan aksi tipu-tipu pura-pura menyapa penonton, Tukul mengeluskan jempolnya yang besar ke tangan Tamara. Untung saja janda cantik itu sudah biasa menghadapi laki-laki yang memanfaatkan situasi seperti Tukul ini, jadi dia diam saja dan terus tersenyum ke arah penonton. (Penonton bersorak-sorai Cium! Cium! Cium!) Tukul berbisik pada Tamara, Bagaimana Tamara? Penonton meminta saya mencium Tamara? Kalau tidak mau tidak apa-apa lho Tamara tersenyum manis. Sebagai tamu tidak pantas rasanya dia menolak host yang namanya kian kondang di Indonesia ini, lagipula apa salahnya sekedar cium pipi? Boleh saja, kok Mas Tukul, bisik Tamara, cheek to cheek aja kan? Tukul langsung tersipu-sipu malu. Wah, ini yang namanya kesempatan! Iyalah, cuma cipika cipiki biasa aja, sekedar face to face. (Penonton masih terus berteriak Cium! Cium! Cium!) Tamara menyodorkan pipinya pada Tukul untuk cipika-cipiki. Tapi dasar Tukul, mumpung ada kesempatan nyosor janda secantik Tamara, pasti tidak akan disia-siakannya. Kapan lagi

dia bisa dekat dengan Tamara? Sambil memonyongkan bibirnya yang memble, Tukul mendekati pipi Tamara. Dengan senang hati Tamara menerima ciuman pipi kanan dan kiri dari Tukul, tapi janda kembang yang cantik itu kaget saat bibir nyonyor Tukul tiba-tiba saja nyosor ke bibirnya! Nekat amat sih nih orang?! Batin Tamara, Main sosor aja! Tukul menikmati saat terindah dalam hidupnya ini. Dengan pandai dia memanfaatkan situasi dan berhasil mencium bibir indah Tamara. Mantan model itu terkejut dan langsung pucat pasi. Dia kaget sekali karena tiba-tiba saja diserang oleh Tukul. Tapi Tukul malah makin berani saat Tamara bereaksi dan mencoba melepaskan ciumannya. Bibir memble Tukul melekat di bibir Tamara dan ditekan-tekan dengan kasar, dia mengoleskan bibir besar yang basah oleh air liur itu ke bibir sang tamu. Tamara meronta sesaat tapi dia kemudian teringat kalau saat ini mereka sedang berhadapan dengan live audience, tidak saja yang berada di studio tapi juga sebagian besar masyarakat yang menonton di depan televisi sedang memperhatikannya, dia tidak ingin melakukan tindakan brutal dan emosional yang nantinya bisa menimbulkan keributan dan skandal. Sudah cukup semua masalah dan gosip yang menghantuinya sepanjang hidup, kalaupun ciuman si Tukul ini dinilai kurang ajar, dia bisa menuntutnya nanti di pengadilan, tentunya setelah acara ini selesai. Dasar si Tukul mupeng, bukannya berhenti malah tambah hot. Tangannya memeluk Tamara dan bergerak nakal menjelajahi setiap lekuk tubuh Tamara, berulang kali tangan Tukul yang masih memeluk Tamara meremas pantat ibu muda yang cantik itu dengan gemas. Lidah Tukul bergerak seperti ular dan mencoba memasuki lubang kecil mulut Tamara. Janda jelita itu menggeleng dan menolak, tapi apalah artinya penolakan Tamara terhadap seorang pria kutukupret seperti Tukul. Lidah Tukulpun segera masuk ke dalam rongga mulut Tamara dan menjelajah ruang itu dengan buas. Tamara geleng-geleng kepala. Mimpi apa dia semalam kok hari ini bisa-bisanya diajak french kiss sama Tukul? Setelah beberapa saat berciuman, akhirnya Tukul melepaskan Tamara yang megap-megap mengambil nafas. Ciuman sama Tukul ibarat menempelkan bibir ke alat penyedot debu, sedotannya maut! (Penonton bersorak-sorai dengan gembira) Tukul mendekati kamera sambil cengengesan. Gimana pemirsa semua? Pengen ya? Pengen? Makanya jadi orang sukses! Jangan miskin terus! Usaha! Saya bisa begini juga karena bekerja dari nol, kesuksesan ini adalah hasil dari kristalisasi keringat! Saya dulu berawal dari pekerjaan kasar, lalu menjadi cover boy, lalu jadi pelawak sampai sekarang sukses seperti ini (Penonton mengelu-elukan Tukul dan tertawa terbahak-bahak)

Tukul segera mempersilahkan Tamara duduk dan berbincang-bincang sejenak dengannya tentang hal-hal formal. Akhirnya tiba memperkenalkan tamu berikutnya. Pemirsa, setelah mendapatkan restu dari pihak pengadilan, akhirnya Empat Mata XXX mendapat kehormatan untuk mempertemukan Tamara dengan mantan suaminya dalam rangka mencari titik temu secara kekeluargaan hak asuh Rasya anak Tamara dan Rafly. Setelah dikonfirmasi, telah datang tamu yang berikut ini, tidak lain dan tidak bukan, mantan suami Tamara, Rafly! (Penonton bertepuk tangan saat Rafly masuk ke panggung, bersalaman dengan Tukul dan Tamara) Tukul mempersilahkan Rafly untuk duduk. Baik, kembali ke laptop! Tukul memicingkan mata untuk membaca kalimat yang tertayang di layar monitor laptopnya. Untuk Rafly, jadi kedatangannya hari ini ke edisi spesial Empat Mata XXX adalah untuk memberikan solusi bagi Tamara tentang hak asuh Rasya? Benar begitu? Rafly mengangguk dan tersenyum. Benar sekali, Mas Tukul. Setelah menimbang -nimbang, akhirnya saya selaku pengasuh Rasya memberikan kesempatan pada Tamara untuk memperoleh kembali Rasya dengan syarat harus memenuhi beberapa permintaan saya. Untuk Tamara, Tukul menunjuk ke arah tamunya yang cantik. Bagaimana menurut Tamara penawaran Rafly ini? Menurut saya, ini kesempatan yang baik sekali bagi saya untuk membuktikan bahwa tekad saya untuk kembali berdua dengan buah hati saya sangat besar dan tidak akan terkikis oleh apapun juga. Saya bersedia melakukan apapun permintaan Rafly asalkan bisa kembali bersama Rasya. Tukul kembali ke depan kamera. Baiklah pemirsa, sepertinya Tamara dan Rafly akan melakukan perbincangan yang cukup hangat dan serius, apa yang akan terjadi selanjutnya? Saya akan kupas lebih jauh lagi, tetap di EMPAT MATA XXX!! ### Setelah jeda iklan, akhirnya kita kembali bertemu. Kata Tukul sambil cengengesan berdiri di depan kamera. Saya minta maaf, slot iklan kami memang sudah sangat penuh dan banyak perusahaan yang mengantri untuk bisa menampilkan produknya di acara ini. Mudah-mudahan pemirsa sabar yah, ya begini ini ciri-cirinya acara yang sukses, iklannya banyak! Wahahahaah! Tukul duduk kembali. Back to laptop! Untuk Rafly, silahkan mengutarakan keinginannya. Kalau Tamara ingin ketemu Rasya, ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Kata Rafly

kemudian. Pria itu memandang ke arah Tamara dengan pandangan sinis penuh percaya diri, dia saat ini sedang berada di atas angin. Bagaimana? Rafly, Tamara memohon dengan lembut, wajahnya berubah memelas, dia sangat ingin berjumpa dengan Rasya, kamu kan sudah tahu, apa saja yang telah aku korbank an untuk bisa berjumpa dengan Rasya. Kamu tetap saja selalu melarang aku menemuinya, kalau saja ada yang bisa aku lakukan, pasti akan aku penuhi, jangankan cuma tiga permintaan, sepuluh pun pasti aku penuhi. Tidak usah repot-repot. Kata Rafly. Cukup tiga permintaan saja, apa buktinya kalau kamu bersedia melakukan tiga permintaanku? Apa saja, hitam di atas putih? tanya Tamara. Rafly mengangguk dan mengeluarkan beberapa helai kertas berupa surat perjanjian yang rupanya sudah ia siapkan sedari tadi. Rafly juga mengeluarkan ballpoint dan menandatangani beberapa bagian surat tersebut, lalu dia menyerahkannya pada Tamara. Ini surat perjanjian yang sudah aku buat sejak dari rumah, dengan saksi Mas Tukul, Peppy, Ngatini dan semua pemirsa Empat Mata XXX, aku berjanji akan mempertemukan mantan istriku - Tamara Bleszynski untuk bisa menemui anakku - Rasya secara reguler seminggu sekali saat weekend, dengan syarat harus mau memenuhi tiga permintaanku. Kata Rafly. Karena sangat ingin bertemu dengan Rasya, Tamara menandatangani surat perjanjian dengan cepat. Dia sudah tidak sabar lagi ingin segera berjumpa dengan putra tunggal yang sudah tiga bulan lebih tak bisa ditemuinya. Tamara menunjukkannya pada Tukul sebagai saksi dan mengembalikannya pada Rafly. Rafly, memangnya apa tiga permintaan yang diajukan pada Tamara? tanya Tukul. Permintaannya adalah, Rafly tersenyum sadis sambil membaca surat perjanjian yang sudah ditanda tangani Tamara. Satu, selama acara ini berlangsung, dia harus menuruti semua permintaan saya, Mas Tukul dan Peppy. Dua, selama acara ini berlangsung saya ingin Tamara melepaskan semua pakaian yang sekarang ia kenakan sampai bugil. Tiga, saya ingin Tamara melayani Peppy dan Mas Tukul bermain cinta. Tamara terbelalak, wajahnya memerah karena menahan amarah dan berdiri dengan wajah geram hendak memaki-maki Rafly. Dia sudah siap meninggalkan panggung, tapi beberapa orang sekuriti menahan Tamara. Janda cantik itu meronta-ronta, tapi tak dilepaskan oleh sekuriti. Rafly menunjukkan tanda tangan Tamara di surat perjanjian sambil berkata penuh percaya diri, hitam di atas putih. Tamara menundukkan kepala dan berhenti melawan.

Tukul kemudian berdiri dan menunjuk ke arah kamera. Baiklah pemirsa, sepertinya akan ada sesuatu yang menarik yang akan segera terjadi secara live di studio Empat Mata XXX, saya akan kupas lebih jauh lagi, tetap di EMPAT MATA XXX!! ### (Penonton bertepuk tangan dengan riuh menyambut kembalinya Tukul, Tamara dan Rafly) Baiklah, balik maning nang laptop! si Tukul tersenyum melihat kata-kata yang tertera di layar monitor laptopnya. Untuk Tamara: Sekarang saatnya untuk membuka baju yang dikenakan. Tamara terkejut, ma-maaf, Mas Tukul bilang apa? Buka baju yang Tamara kenakan sekarang juga. Mata si cantik itu langsung terbelalak dan kemarahannya tak bisa dielakkan lagi. Gi -gila! Berani-beraninya Mas Tukul bilang begitu pada saya di depan live audience!! Saya tidak mau!! Ini penghinaan! Saya akan tuntut semua Tukul mengambil surat yang dibawa Rafly yang ternyata sudah difotokopi pada saat jeda iklan tadi. Silahkan dituntut, kan Tamara sendiri yang sudah menyetujui perjanjian kita ini? Saya tidak akan mau mengakui perjanjian menjijikkan semacam itu! Puih! Tamara meludah ke wajah Tukul. Tukul berdiri dengan tenang dan cengengesan menghadap ke arah penonton, Baiklah, kita tanyakan saja langsung pada pemirsa semua, khususnya pemirsa yang ada di studio saat ini. Bagaimana, ada yang tertarik melihat Tamara Bleszynski membuka baju untuk pertama kalinya di hadapan live audience? (Penonton bersorak-sorai sambil berteriak-teriak kegirangan Buka, buka, buka!!) Saat itu barulah Tamara sadar kalau semua penonton di studio adalah laki-laki, tidak ada satupun penonton wanita, mereka mengepung stage dengan pandangan yang seram seakan hendak mencaplok Tamara mentah-mentah. Janda cantik yang seksi itupun semakin ketakutan melihat wajah-wajah mupeng dari para penonton. Saya gak berani jamin mereka gak akan menyerang Tamara, kata Tukul menakut -nakuti si cantik Tamara, mending Tamara saya kasih tahu saja, sebenarnya penonton kali ini adalah pemirsa gabungan dari penjara-penjara di seantero Jawa, beberapa diantara mereka terdapat pemerkosa dan pembunuh, orang-orang katro yang taunya hanya bikin masalah. Jangan tanya saya kok bisa mereka dikumpulkan di sini, itu kerjaannya tim kreatif Empat Mata XXX. Kalau saya jadi Tamara, saya tidak akan mau mencari masalah dengan pemirsa di studio yang sepertinya sudah mulai memanas emosinya.

Tubuh Tamara bergetar ketakutan. Lalu, apa yang Mas Tukul inginkan? Kalau mau aman dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Tukul meringis lebar. saatnya membuka baju. Mata Tamara terpejam dengan perasaan tak menentu. Tidak mau!! Saya belum gila!! Saya tidak mau membuka baju di depan Beberapa penonton bangkit dan mendekati stage, para kru TV berusaha keras agar para tahanan yang mulai buas itu tidak melakukan tindakan nekat. Tamara sudah lihat sendiri kan situasinya? Pilih mana, buka baju atau dikerjai ramai-ramai sama para tahanan ini? Wajah Tamara memerah, airmata mulai menetes di pipi wanita jelita itu. Dengan tangan gemetar Tamara mulai membuka kancing bajunya. I-ini mimpi buruk, katanya menenangkan diri sendiri. Ini tidak mungkin terjadi, tidak mungkin! Tamara bergetar hebat ketika dia membuka kemejanya. Aku harap sebelum semuanya terlambat, kamu menyadari kalau saat ini sedang melakukan kesalahan, Mas. Aku tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini. Aku memang telah menceraikanmu, tapi aku yakin kelak kau akan mendapat yang lebih baik lagi Rafly tak bergeming, dengan dingin dia menyingkirkan kemeja Tamara ke arah penonton yang langsung berebut dan menunjuk-nunjuk ke arah roknya. Tak perlu waktu lama untuk melepas rok itu. Tamara berdiri kedinginan di tengah ruangan dengan mengenakan pakaian dalam. Air mata mulai leleh membasahi pipinya. Mata Tamara mulai berkaca-kaca dan memohon ampun pada Rafly. Dia berusaha mengubah permintaan mantan suaminya itu, tapi hanya dibalas dengan pandangan mata tajam yang kejam. Ke tengah-tengah ruangan dan mulailah melepaskan seluruh pakaian, perintah Rafly. Aku ingin memperlihatkan tubuh indahmu pada seluruh pemirsa baik yang di studio ataupun yang ada di rumah, seperti apa sebenarnya tubuh model tercantik di Indonesia itu. Tubuh yang dulu pernah menjadi milikku seorang. Dengan wajah tertunduk Tamara melangkah ke tengah ruangan, di antara panggung dan penonton, tepat di depan kameraman yang meneguk ludah menahan nafsu. Tetes air mata yang menitik di pipi Tamara sempat dizoom olehnya. Tamara mulai melepaskan sepatunya, lalu dia duduk di pinggir stage untuk melepas stoking putih dan rok dalam. Inilah dia, Tamara Bleszynski, model terkenal yang sangat cantik dan menjadi idaman jutaan pria, hanya mengenakan BH dan celana dalam. Semua penonton di studio terdiam menatap keindahan tubuh Tamara yang sangat mempesona, mereka tidak mengira model cantik itu benar-benar akan menelanjangi dirinya sendiri di depan live audience. Air liur Tukul turun tanpa bisa dikendalikan. Keindahan tubuh Tamara benar-benar menakjubkan,

untuk beberapa saat lamanya, semua penonton menahan nafas. (Akhirnya penonton bertepuk tangan dengan gembira, mereka yang hadir bersorak-sorai dan mengeluarkan kata-kata cabul yang ditujukan langsung pada sang artis) Sudah ya? kata Tamara sambil menahan diri agar tidak menangis, nada suaranya bergetar ketakutan, ia melirik ke arah Rafly memohon ampun. Sudah cukup kan mempermalukan aku? Begini sudah puas kan? Apanya puas? Kamu masih pakai BH dan celana dalam, jawab Rafly dingin. lepaskan semuanya. Dengan perasaan ragu Tamara meraih kait BH di bagian punggungnya, sudah kepalang tanggung, dia harus bertemu Rasya malam ini juga, rindunya sudah tak tertahankan. Apapun taruhannya, dia ingin bertemu anaknya. Rafly memang kejam dan tidak tahu diri, nekat mempermalukan mantan istrinya seperti ini, tapi dia punya alasan kuat untuk menjatuhkan harga diri Tamara yang sudah menceraikannya secara sepihak itu. Saat BH Tamara terlepas, buah dada sentosa yang besar dan kencang miliknya terpampang jelas untuk semua orang yang melihat. Penonton terhenyak melihat ukurannya dan berdecak kagum. Tamara belum berhenti, dia meraih celana dalamnya dan mencopotnya ke bawah. Dia telanjang. Tamara Bleszynski, artis cantik dan terkenal berdiri telanjang di hadapan live audience Empat Mata XXX dengan rambut tergerai indah dan dua tangan yang masing-masing berusaha menutup payudara dan gundukan selangkangan. Rafly berdiri, membisikkan sesuatu pada Tukul dan duduk di bar yang berada di dekat Ngatini. Tukul tersenyum-senyum cabul pada Tamara. Tam, tolong dong, aku juga kayaknya jadi pengen telanjang kayak kamu. Kata Tukul sambil meringis menjijikkan. Tamara termangu dan menatap Rafly dengan jengkel. Dia tak mengira Rafly akan menghinanya sampai serendah-rendahnya. Janda cantik itu mengira dia sudah bisa bertemu dengan Rasya dengan menelanjangi dirinya sendiri, ternyata masih jauh dari harapan. Setelah kata-kata Tukul itu Tamara jadi sadar sepenuhnya apa yang diinginkan Rafly darinya, dia ingin Tamara melayani Tukul di depan semua orang yang menonton. Dia ingin si cantik seksi Tamara dinikmati luar dalam oleh si katrok Tukul. Sudah kepalang tanggung, Tamara mendengus kesal. Jangan malah bengong begitu, ayo ke sini! panggil Tukul. Dengan langkah lemas Tamara mendekati Tukul. Dengan gerakan patah-patah karena malu dan grogi Tamara melucuti pakaian Tukul. Janda cantik itu melepas sepatu Tukul yang bau amis sebelum akhirnya melucuti celana. Tamara sempat berhenti sejenak di hadapan selangkangan Tukul, dia bisa melihat ular naga Tukul yang menggeliat dan membesar di

dalamnya. Ukurannya membuat Tamara sangat takjub, luar biasa besar. Tamara meraih celana dalam Tukul dan memelorotkannya ke bawah. Penis berukuran massive milik Tukul meloncat keluar dengan perkasa dan menampar wajah Tamara yang berteriak kaget. Tamara menjerit ketakutan dan meloncat ke belakang, penonton tertawa-tawa. Ayo semua, copot celananya juga! Kasihan kan, masa cuma Tamara doang yang telanjang? ajak Tukul pada pemirsa di studio. Kalau kalian telanjang kan lebih enak nanti colinya, iya nggak? (Iyaaaa jawab penonton yang langsung melucuti pakaian mereka. Hampir semua orang di studio langsung telanjang, termasuk Peppy. Hanya yang berada di bar yang masih berpakaian lengkap, seperti Ngatini dan Rafly) Ketika Tukul lengah, Peppy berlari ke tengah dan menarik Tamara ke dekat bandnya. Tukul sudah siap protes tapi ditahan oleh Rafly. Tamara melirik ke arah mantan suaminya itu dengan pandangan kesal. Peppy langsung menyuruh Tamara berjongkok di hadapannya. Tamara tersentak saat melihat kemaluan Peppy. Masa iya sih? Ternyata tidak cuma janggutnya saja, jembut si Peppy juga dipelintir kecil! Wah wah, Tamara geleng-geleng kepala. Walaupun tidak begitu besar ukurannya, tapi kemaluan Peppy cukup mengintimidasi. Melihat Tamara sudah begitu dekat dengan penisnya, Peppy tambah nafsu. Penis itu kian menegak menantang Tamara. Ku-kumohon, pinta janda cantik itu terbata-bata. jangan lakukan ini. Ini salah. Ini Ambil penis saya dan masukkan ke mulut Mbak Tamara. Tamara terkejut mendengar kata-kata Peppy, janda cantik itu bergerak mundur dan menggelengkan kepala. Jangan kumohon demi kehormatanku, jangan membuatku lebih terhina dari ini, Mas. Jangan permalukan aku, tidak seperti ini, aku tidak mau di depan semua orang Rafly menggebrak meja dan membuat tubuh Tamara bergetar hebat. Tidak ada jalan lain, apapun akan dilakukannya untuk bertemu Rasya. Bahkan jika dia harus menghancurkan karir dan harga dirinya. Sesaat Tamara terdiam, kemudian terdengar suara Peppy. Saya pengen disepong, Mbak. Ayo jangan lama-lama, lihat Mbak Tamara telanjang bikin saya terangsang hebat. Dengan wajah merah karena malu dan mata tertutup, Tamara yang pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa meraih kemaluan Peppy dan memasukkannya ke dalam mulut. Wanita

jelita yang menjadi dambaan jutaan pria di Indonesia itu lalu mulai menjilati dan mengulumnya. Inilah yang namanya impian menjadi kenyataan. Lihat ke atas. Perintah Peppy. Tamara tetap menyepong Peppy dengan mata tertutup. Dia tidak mau melihat ke atas dan menatap mata si gundul itu. Dia tidak mau menatap mata yang menatapnya dengan pandangan puas yang akan membuatnya jauh lebih terhina. Aku bilang LIHAT KE ATAS! ulang Peppy galak. Tak berdaya dan ketakutan, Tamara mendongak ke atas. Kini dia bukanlah Tamara Bleszynski yang anggun lagi, dia bukan lagi Tamara yang artis terkenal dengan gaya high class yang terkenal dan punya style di atas rata-rata. Dia kini hanyalah Tamara sang wanita jalang yang sebentar lagi akan terkenal di seluruh penjuru negeri sebagai wanita gampangan yang bisa dipesan kapan saja. Dia hanya seorang pelacur hina, tidak pantas lagi menjadi artis terkenal, tapi kalau itu bisa membuatnya bertemu dengan buah hatinya, Tamara rela. Disedot dong, Mbak. Kata Peppy. Aneh rasanya dikulum oleh wanita secantik Tamara, ada desir-desir jantung yang tak terkatakan yang dirasakan oleh Peppy. Tamara menggerakkan kepalanya dengan lebih cepat, mengangguk dengan sepenuh tenaga, berusaha membuat Peppy mengeluarkan air maninya. Awalnya janda itu memang menolak menyepong Peppy, tapi kini dia mati-matian ingin Peppy segera mengeluarkan cairan cintanya. Udah udah, kata Tukul. Tamara terus mengulum penis Peppy, sepertinya dia tidak mendengar perkataan Tukul. Peppy juga tetap menikmati kedahsyatan bibir Tamara yang bergerak cepat di kontolnya sambil merem melek. Udah! Kesenengen kamu! Tak sobek-sobek!! kembali Tukul protes sambil melotot ke arah Peppy, ditariknya Tamara menjauh dari si jenggot sehingga mulutnya terpaksa melepas batang kemaluan Peppy. Cairan bening mani Peppy menetes-netes dari pinggir bibir Tamara. Dasar julung-julung! Keenakan kutukupret ini kalau dibiarkan lama-lama. Bintang utamanya kan saya, kok kamu melulu yang diserpis. Udah kamu pulang aja ke pohon, sana! Kata Tukul menghentikan aksi Peppy. Si gundul berjenggot yang tadinya sudah merem melek itu terpaksa gigit jari karena Tamara sudah ditarik oleh Tukul kembali ke tengah panggung. Tukul membimbing Tamara kembali ke sofa. Ayo Tam, berbaring di sini biar enak.

Akhirnya Tukul bisa menikmati keindahan sempurna tubuh telanjang Tamara Bleszynski secara langsung, padahal tadinya dia cuma bisa ngiler dan muncrat-muncrat menyaksikan keseksian Tamara. Dia tidak sendirian, seluruh pemirsa Empat Mata XXX bisa menyaksikan keindahan tubuh janda cantik itu, tubuh wanita dewasa yang sangat indah dan matang. Buah dada Tamara besar dan indah, bulat, kenyal dan kencang. Buah dada sempurna dari seorang wanita cantik yang memiliki tubuh indah. Tapi Tukul sudah tidak tahan lagi, kalau pakai foreplay nanti keburu mancrut, dia mau langsung saja! Dengan tangannya yang nakal Tukul menelusuri tubuh Tamara dari atas sampai ke bawah, ke gundukan selangkangannya. Rambut kemaluan Tamara rupanya dicukur rapi membentuk segitiga, indah sekali dipadu dengan bibir memek yang berwarna merah muda merekah. Wanita jelita ini sangat pandai menjaga tubuh luar dalam. Tapi tujuan utama Tukul adalah belahan bibir bawah yang harum milik Tamara. Ini dia hidangan utamanya! Renggangkan kakimu, Tam, kata Tukul. Wanita cantik itu menurut saja dengan malu malu, dia tidak pernah bugil dan melakukan hal gila seperti ini sebelumnya, apa lagi di hadapan live audience. Malu-malu Tamara membuka kakinya dan Tukul langsung kagum melihat janda cantik itu ternyata sudah mulai mengeluarkan cairan cintanya. Sekali lagi Tamara memejamkan mata dan memutar kepalanya menghindari tatapan langsung Tukul. Mas Tukul, jangan Belum diapa-apain kok sudah bilang jangan. Aku gak akan melakukan apa-apa kok, Tam. Kamu sendiri yang akan melakukannya. Tukul memposisikan penisnya tepat di bibir memek Tamara yang wangi. Bau memek yang sudah basah memenuhi udara studio, ac memang menyala tapi suasana tambah panas. Matanya dibuka dong, kata Tukul. nggak enak menyetubuhi cewek yang merem melulu. Nanti seperti ngentotin kayu. Kalau cuma mau merem terus, mending aku sama Ngatini saja. Masa kamu kalah sama Ngatini? Ayo diambil kontolnya, Tam. Aku tunggu ya. Dengan pandangan marah Tamara menatap ke arah Tukul, wanita cantik itu geram dengan sikap Tukul yang arogan, tambah macam-macam aja orang satu ini, Tamara tidak akan bisa menuntut ke polisi dan mengaku diperkosa kalau dia sendiri yang menarik penis Tukul dan memasukkannya ke dalam vaginanya. Tamara menggerutu dan meraih penis sang presenter. Dengan hati-hati Tamara memasukkan kemaluan Tukul ke dalam lubang memeknya. Essstttt!!! janda cantik itu merintih saat batang kemaluan Tukul perlahan memasuki kewanitaannya. Setelah seluruh batangnya masuk, Tukul mulai memompa vagina Tamara. Waduhh, enaknyaaa!! Pet pet rapet-rapet! Tukul cengengesan melihat wajah Tamara yang berusaha keras agar tidak terpancing

birahinya. Bagaimana mungkin tidak terpancing? ****** Tukul Arwana yang sangat besar menyesaki liang kewanitaan Tamara, tubuh janda cantik itupun bergetar karena tidak mampu menahan rasa nikmat di vaginanya. Tamara memejamkan matanya sebisa mungkin saat Tukul meneruskan gerakan memompanya yang makin lama makin cepat. Asoooy! Bisa kerasa kan, Tam? Unghhh! Rapetnya! Wah wah, salut! Sudah punya anak satu tapi memeknya masih rapet begini, enak banget! dengan kurang ajar Tukul meletakkan satu tangannya di buah dada Tamara, wanita cantik itu menggigit bibir menahan diri. Waduh, ini susu apa melon? Gede banget! Wah, enakkghh! HAAAHH!!! HAHHH!! Bisa kerasa kan kontolku tambah gede di dalam? Iyaaa!! Janda yang masih rapet gini memang asoy!! Fasilitas oke, pengalaman ada!! Ungghhh!! Ayo digoyang! Jangan diem ajaaa! Tadinya Tukul mengira Tamara akan diam saja selama disetubuhi olehnya, tapi akhirnya wong ndeso itu mendengar nafas yang pendek dan cepat, lalu terdengar suara lenguhan pelan, walaupun tidak mau mengakui, si cantik itu jelas-jelas mulai terangsang, lenguhan Tamara makin jelas terdengar. Esssttt Tamara menahan suara karena tak tahan rangsangan luar biasa yang ditimbulkan ****** Tukul dalam memeknya, tapi akhirnya wanita cantik itu menjerit, Kyaaaaghhhh!! Ampuuun!! Ahh! Ahhh! Ahhh! Kamu siapa, Tam? Kamu siapa?? Tukul mempercepat sodokannya. Dulu di infotainment katanya kamu ini binatang jalang, bener begitu? Aku ini binatang jalang, Mas Tukul! Aku ini bintang jalang!! Tamara berteriak campur menangis merasakan kenikmatan sodokan Tukul. Aku binatang jalang! Aaaarrghh! Aduuuhhh!! Ampuuun!! Ahh! Ahhh! Aa-kkuu binatang jalaaang!! Memang jalang kamu ini. Puas kamu dirobek-robek memeknya? Puas puas puasssss? tanya Tukul dengan sedikit berteriak. Tamara mengangguk-angguk sambil terpejam dan masih menahan kenikmatan yang makin lama makin memuncak di selangkangannya. Aku puasss, Mas Tukul! Aku puasss!! Tak perlu waktu lama bagi Tukul membuat Tamara mengeluarkan cairan cinta yang langsung membanjir di dalam memeknya, penis Tukul yang masih keluar masuk vagina Tamara berkecipak-kecipuk seperti seekor kodok di tengah empang, becek sekali rasanya. Walaupun Memek Tamara sudah pernah mengeluarkan seorang bayi, tapi perawatan tubuh yang rutin membuat memek itu terasa masih sempit bagi Tukul, baru saat banjir inilah, memek itu menjadi longgar. Tukul puas sekali merasakan air cinta Tamara membasahi penisnya, sementara janda cantik itu mengembik dan menangis tanpa bisa menghentikan gerakan Tukul yang terus memompa batang kemaluannya keluar masuk liang vaginanya. Tiba-tiba tubuh Tukul mengejang, hal yang paling ditakuti Tamara hampir menjadi kenyataan.

Aduuuh! rengek janda cantik itu, jangaaan, Mas Tukul! Keluarin di luar! Cabut! Cabut! Saya mohon jangan, mas! Di luar ajaaa!! Nanti kalau saya hamil gimana? Anak saya kayak apa nanti?? Jangaaaaan!! Terlambat. Ujung gundul penis Tukul yang masih tertanam di memek Tamara meledak dan mengeluarkan cairan bening diiringi dengan deru nafas lega sang pemilik kemaluan. Tamara menjerit-jerit menolak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Tukul, sayangnya pria katro itu lumayan kuat. Semprotan pejuh Tukul ludes ditelan memek Tamara. Walaupun sudah mencapai klimaks, Tukul tidak melepaskan pelukannya. Ampuuun, Tamara bergumam, udah dong, Mas Tukul saya capek Tukul terdiam. Udah, Mas. Saya harus ke belakang. Saya kebelet pipis Tukul masih tetap cuek dan membiarkan penisnya di dalam memek Tamara sampai mengecil sendiri. Beberapa orang penonton di studio yang sudah tidak kuat menahan nafsu akhirnya memutuskan untuk coli karena pemandangan yang sangat indah itu. Udah aja ya, Mas kata Tamara memohon ampun, wajahnya yang cantik terlihat memelas dan makeupnya belepotan karena terkena airmata. Mas Tukul kan sudah mengeluarkan a-air ma-maninya di dalam, aku takut nanti aku hamil, Mas Lho? Tamara ini gimana sih? Ini kan belum selesai! kata Tukul dengan percaya diri, lalu dia kembali menggerakkan penisnya yang walaupun sudah lemas tapi belum terlalu mengecil. Sensasi kenikmatan menyetubuhi wanita secantik Tamara dan hangatnya lubang memek sang bintang membuat penis Tukul menegang kembali. Jangan, Tamara berbisik pada dirinya sendiri, jangan lagi, aku tidak mau, jangan Tukul menarik penisnya keluar dari lubang memek Tamara, bentuknya yang gagah dan hitam belepotan cairan cinta yang tercampur di dalam memek sang bintang, hal itu memukau penonton yang langsung bertepuk tangan. Tukul melirik ke arah laptop dan langsung meneriakkan kalimat khasnya, Kembali ke laptop! Untuk Tamara Arwana, bagaimana kalau penis Mas Tukul dibikin tegang lagi? kata Tuk ul sambil membaca kalimat di layar monitor laptopnya. Ba-bagaimana? suara Tamara yang lemah terdengar nyaris seperti bisikan. Pakai tangan! Tamara melirik ke arah Rafly yang menatapnya dingin, wanita cantik itu duduk bersimpuh untuk menservis kemaluan sang pembawa acara yang katro. Walaupun penis itu sebenarnya baru saja dipakai, tapi sentuhan lembut janda cantik seperti Tamara

membuatnya cepat menegang kembali. Sepertinya gerakan Tamara amat kaku, ketahuan kalau dia jarang melakukan hal ini sebelumnya, duh, pantesan cerai, yang begini aja jarang-jarang. Setelah benar-benar keras, Tukul membimbing tubuh Tamara agar nungging dengan bersandar pada kursi sofa. Pantatnya yang indah terpampang jelas di depan Tukul dan pemirsa semua. Dengan nakal Tukul menampar pantat itu berulang-ulang sampai merah. (Penonton kembali berteriak Masukin!, masukin, masukin!!) Uuuunggghhh!! Tamara menggigit bibirnya sendiri saat Tukul kembali melesakkan penis ke dalam memeknya. Pria ndeso itu segera memompa vagina Tamara, kali ini dengan kecepatan yang lebih cepat dan stabil, pemirsa di rumah bisa mendengar kantung kemaluan Tukul yang menamparnampar bibir vagina Tamara. OHHHHH! Tamara menjerit-jerit keenakan. AHHHH! Tukul diam saja saat penisnya maju mundur menyetubuhi Tamara. Bukannya tidak mau ngomong apa-apa, tapi pada saat ini Tukul sedang asyik berkonsentrasi dan menikmati tubuh indah Tamara Bleszynski, kapan lagi bisa begini? Mumpung ada kesempatan! Pria ndeso itu tengah berusaha keras membuat Tamara mengeluarkan cairan cinta berulangulang sebelum dia sendiri mengeluarkannya. Belum pernah sepanjang hidupnya Tamara disetubuhi sedemikian cepatnya sehingga dia terus saja mengeluarkan pelumas di dalam liang vaginanya. Tukul memeluk pinggul Tamara lebih erat sambil terus menggiling kemaluan model dan bintang sinetron itu. Tamara sudah mulai lupa kalau adegan ini adalah siaran langsung yang disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Dia berubah menjadi seorang wanita haus seks yang seakan tidak mau lagi peduli pada apapun, dia hanya menginginkan seks, seks dan seks. Tukul bisa merasakan memek Tamara mengejang saat wanita cantik itu hampir mencapai klimaks sekali lagi. Pria ndeso itu hanya berhenti sebentar untuk mencengkeram buah dada Tamara yang sentosa dengan kedua tangannya, lalu kembali meneruskan kegiatannya menyetubuhi sang janda. Ja-jangan!! Aku mohon, Mas Tukul! Jangan! Tidaaak mauu!! Jangaaan!! Jangan buat aku orgasme lagi! Jangaan! Kumohoon! ARRGGHHHHHH!!! Tamara tidak dapat menahannya lagi, begitu pula dengan Tukul. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, Tukul menembakkan isi kantung kemaluannya kepada sang pemilik vagina yang indah. Tamara menggeliat erotis saat sperma Tukul ditembakkan dalam-dalam di liang rahimnya. Pria berwajah ndeso itu akhirnya jatuh karena lemas kelelahan dan menubruk punggung Tamara dengan penis yang masih tertanam di dalam memeknya.

Tetap di empat mata XXX suara Tukul terdengar lemah saat jeda iklan muncul. ### Tukul berdiri dan mengenakan pakaiannya lagi sementara Tamara diam saja terbaring di lantai studio, pantatnya yang bulat merekah menantang langit dan cairan cinta bening yang kental menetes di antara kakinya. Dia tidak mengira keputusannya ikut bergabung dengan acara yang dipandu oleh Tukul ini akan berakhir dengan persetubuhan yang harus dijalaninya. Wajah Tamara terlihat kuyu dan sangat lelah, dia hanya ingin tidur dan beristirahat. Rafly tersenyum puas melihat mantan istrinya itu tergolek tak berdaya usai dikerjai oleh Tukul. Rasain! Itu bayarannya buat istri yang seenaknya sendiri minta cerai! Kamu pengen ketemu Rasya? Huh! Jangan harap! Itu upahnya buat istri katro! Puas kamu dientotin Mas Tukul? Puass? Kamu pikir kita sudah mengadakan perjanjian? Dasar bloon, yang kamu tandatangani tadi justru keterangan resmi dari kamu untuk menyerahkan hak kepengasuhan Rasya total kepadaku. Kamu tidak diperbolehkan lagi menemuinya! Rasain! Makanya baca dulu sebelum tanda-tangan! Mampus! Rafly meninggalkan ruangan dengan tertawa terbahak-bahak. Tamara menangis sesunggukan. Sialan! Dia sudah ditipu mentah-mentah! Si cantik itu hanya bisa menutup ketelanjangannya dengan tangan dan berharap mudah-mudahan karirnya di Indonesia belum tamat karena skandal ini. Tukul bangkit dan menyapa pemirsa untuk kali terakhir. Baiklah, usai sudah Empat Mata XXX hari ini, semua yang terjadi hari ini hanyalah just kidding, just for laugh, pokoknya tetep positive thinking. Tunggu aksi Tukul mengupas artis-artis cantik lain dengan lebih dalam lagi walaupun dalam balutan lelucon wong ndeso yang sederhana dan katro. Siapa bintang tamu selanjutnya? Saksikan, hanya di EMPAT MATA XXX!! EMPAT MATA XXX ~ Edisi Tamara Bleszynski TAMAT

Pameran panti pijat


Salah satu cara favoritku buat 'pameran' dan masih kujalani dengan pola yang hampir sama sampai sekarang adalah ke Panti Pijat (PP). Tetapi sebelumnya, jangan membayangkan seperti yang sering orang bilang, yaitu tempat terselubung buat begituan. Terus terang aku tidak perlu yang begituannya, walaupun ditawari. Aku juga tidak pernah cari yang di daerah Kota, terlalu vulgar/langsung (tahu sendirilah bagaimana di daerah Kota itu). Selalu yang kutuju itu daerah pinggiran seperti Pasar Minggu, Depok, Kebayoran Lama, Cempaka Putih, dan lain-lain. Umumnya yang pasang nama Urut Pengobatan Tradisional, tetap ada sih yang begitunya, tapi masih tidak terlalu to-the-point seperti di daerah Kota, sudah tidak seru lagi

kalau begitu. Enaknya, pemijatnya yang masih polos atau malu-malu. Kenapa aku senang ke panti pijat..? Selain badan jadi enak (karena dipijat betulan), juga terutama bebas berbugil ria tanpa khawatir resiko apa-apa. Ini dia intinya. Salah satunya yang terbaik adalah waktu aku pijat di daerah Lenteng Agung. Aku datang sekitar jam 14.00. Suasananya sepi (memang sengaja). Terus aku ke meja pendaftaran tamunya, yang jaga ibu-ibu. "Mau pijat Mas..?" "Iya," jawabku singkat. Dia langsung mengajak masuk ke dalam untuk menunjukkan kamar, dan aku disuruh menunggu sebentar. Dia memanggil pemijatnya. Rupanya panti pijat ini lumayan sopan, tidak menunjukkan album yang berisi foto pemijatnya untuk dipilih. Kalaupun disuruh memilih foto dulu, aku akan pilih yang wajahnya masih polos/biasa-biasa saja, syukur-syukur kalau lumayan manis. Paling tidak mau deh yang wajahnya sexy/merangsang atau berpengalaman, yang body-nya aduhai. Biasanya yang model begini mijatnya asal-asalan, tidak karuan, maunya cepat saja ditawar, terus selesai. Apa-apaan nih, tidak seru. Bukan itu atau body yang kucari. Tidak lama kemudian pemijatnya datang, cewek berumur sekitar 20 tahunan. Body dan wajahnya biasa-biasa saja tapi bolehlah, lumayan. Untung bukan model germo yang datang. "Selamat siang, pijat ya Mas..?" "Iya," jawabku lagi-lagi singkat. "Bajunya belum dibuka.." katanya. Aku segera membuka baju dan celana panjang, tinggal pakai celana dalam saja. Dan aku langsung rebahan telungkup. Dia mulai memijat dari telapak kaki terus ke paha. Enak juga mijatnya, cuma agak kekerasan. Waktu kubilang, dia mengurangi tekanannya. Selanjutnya dia menawari mau pakai cream atau tidak. Aku setuju (sesuai skenario sih). Setelah mengolesi cream, dia mengulang pijatan dari kaki, naik ke betis dan ke paha. Sampai tahap ini, kulancarkan manuver berikutnya. "Wah, celananya ntar kena cream nggak Mbak..?" "Oh, kalo gitu bisa dibuka aja, nggak apa-apa.." Ternyata, tahap kedua berjalan mulus. Sambil tetap telungkup, kuturunkan celana dalam pelan-pelan, terus dia membantu menarik sampai lepas di kaki. Aku sengaja melakukannya dengan proses yang pelan-pelan, tidak langsung ditunjukkan secara frontal, belum saatnya. Sambil dia bantu menurunkan tadi, kuatur posisi anuku (si otong) mengarah ke bawah/belakang. Jadi kalau dilihat dari arah belakang (posisi telungkup dan kaki mengangkang), di pangkal paha akan kelihatan bijiku, terus ada yang menyembul sedikit di bawahnya (ya kepala/topi baja si otong!). Dengan posisi ini, pasti waktu dia mijat sekitar paha akan menyenggol-nyenggol (he.. he.. he.., canggih ya skenarionya). Aduh, udah mulai ser-seran hatiku. Soalnya walaupun baru sedikit, dia sudah mulai melihat

barangku. Benar juga, waktu dia pijat sekitar paha dalam, biji dan si otong tersentuh tangannya. Kontan si otong bangun terjaga dari lelapnya. Gimanaa gitu rasanya, apalagi membayangkan dia pasti lihat dari belakang si otong sudah bangun memanjang. Pijatan naik ke pantat. Pantatku dipijat pelan-pelan, diputar-putar, diremas-remas. Wah, si otong makin kaku saja. Agak-agak sakit sih karena posisinya ketindihan badan, tapi mantap. Sewaktu pijatan naik lagi ke pinggang, punggung dan leher, rangsangan menurun, dan otomatis si otong mengendor. Tidak apa-apalah istirahat dulu buat ronde selanjutnya yang lebih menegangkan dan full action. Disini aku menikmati juga pijatan seriusnya. "Balik Mas..!" katanya perlahan. Nah, ini dia awal ronde kedua yang kutunggu-tunggu. Dengan semangat '45, aku berbalik. Jreeng.., aku telentang dan telanjang bulat di depan seorang cewek. Si otong melambailambai karena gerakan berbalik tadi. Meskipun sudah sering mengalami ini, aku tetap berdebar-debar. Badanku bergetar waktu merasa sekujur badanku terutama si otong disapu pandangan mata seorang cewek, istilah kerennya di-'scan'. Si otong terasa panas. Berbeda dengan posisi tengkurap dengan kaki mengangkang, waktu telentang kedua kakiku dirapatkan. Teorinya, kedua pahaku rapat mengapit biji dan si otong. So, waktu dia memijat paha, otomatis ya.., itu benar, menyentuh lagi, oke nggak tuh. Dia mulai memijat dari arah kaki lagi. Aku pura-pura ketiduran, tapi mata tidak dimeramkan benar, masih dapat mengintip sedikit. Nikmat rasanya melihat doi yang menganggap aku ketiduran, sekali-sekali melirik si otong yang sedang terangguk-angguk. Bulu kemaluanku merinding rasanya. Pijatan naik ke lutut, terus ke paha. Rangsangan mulai terasa, si otong kena imbasnya, perlahan-lahan menggelembung. Waktu sampai di paha atas, bijiku kegeser-geser lembut tangannya (lagi-lagi sesuai 'GBHN'). Sampai disini si otong sementara tidak kesenggol, karena sudah menjulang dengan gagahnya seperti monas. Bedanya monas, yang atasnya emas, sedangkan si otong puncaknya topi baja. Apalagi waktu dia membuka kedua pahaku yang dikangkangkan untuk memijat pangkal paha terus naik memutari si otong di kiri-kanannya ke arah perut di bawah pusar. Buat cewek kalau tidak salah namanya daerah bukit Venus ya? Gerakan memutar ini mengakibatkan si otong yang walaupun sudah berdiri bebas, tergeser tangannya. Alamak.., selanjutnya dia memijat-mijat, menekan-nekan di daerah bulu kemaluan ke arah pusar. Kemudian ditarik lagi ke bawah memutar ke selangkangan, terus ke bawah biji. Dipijat-pijat dan ditekan-tekan lagi disitu. Diperparah dengan tarikan ke atas ke kantong biji melalui tengah-tengah antara dua biji dan berakhir di pangkal si otong dan disitu ditekan seperti akupunktur. Disini aku udah megap-megap, tidak dapat mengeluarkan suara, nafas saja susah. Kepalaku mau pecah rasanya kena rangsangan seperti ini. Si otong rasanya bergetar saking keras dan kakunya, seperti berubah jadi besi. Mungkin kalau disentil akan berbunyi tingg.. "Udah selesai Mas, ada yang masih kurang..?" katanya menarik kembaliku ke bumi dari suasana melayang-layang.

Nada dan ekspresi wajahnya biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa, padahal aku sudah sedemikian heboh rasanya. Aku agak bengong sebentar karena proses mendarat belum sempurna. "Eeh iya.. iya.." kataku tergagap karena kepala atas dan terutama yang bawah masih nyutnyutan, "Mmm.., boleh minta tissue Mbak..?" "Boleh.., nih..!" katanya manis, "Emangnya buat apa sih..?" "Ngg.. anu.. kepala saya pusing banget, harus 'dikeluarin' dulu.." jawabku tidak kalah polosnya. Pembalasan. "Dikeluarin? Oh.. Mas maksudnya mau 'main'..?" tanyanya, lagi-lagi dengan nada datar. "Nggak, saya biasa dikeluarin sendiri." "Memangnya bisa dikeluarin sendiri..? Caranya..?" disini dia mulai antusias. Waduh, tidak mengerti ngocok/onani/masturbasi ini cewek. "Ya bisalah, dikocok-kocok kayak gini, ntar juga keluar." jawabku sambil mulai melingkarkan jari-jari tangan kiri menggenggam si otong, kemudian membuat gerakan mengocok lembut ke atas ke kepala dan ke bawah ke pangkalnya. "Emangnya enak..?" perhatiannya semakin meninggi, begitu juga spaning-ku karena dialog ini. "Uenak buanget.. kalo nggak enak mana mau saya ngocok kayak makan obat tiga kali sehari, tiap hari." jawabku sejujurnya sambil mengatur nafas. Terus obrolan kulanjutkan sambil terus mengocok perlahan-lahan menikmati tatapan matanya yang terfokus pada tanganku yang bergerak naik turun menyusuri batang si otong. "Emangnya kamu nggak pernah? Cewek kan sama aja, bisa juga main sendiri." "Ih, nggak pernah tuh, caranya juga nggak tau. Pernah denger sih, tapi nggak jelas," jawabnya tanpa melepaskan matanya dari si otong yang sedang kupijat dengan mesranya. "Kalo soal caranya, macem-macem, biasanya pake tangan sendiri dielus-elus, terus jarinya dimasukin dikocok-kocok, ada juga yang pake alat dari plastik yang bentuknya kayak barang cowok, ini lebih nikmat. Atau yang paling gampang, enak dan murah pake timun, atau terong yang pas bener bentuknya." Sudah kayak pakar seksologi saja nih aku. Dia hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan. Setelah itu dia diam, tapi berdiri semakin mendekat persis di sampingku dengan mata yang tidak berkedip. Uuuh, luar biasa sensasinya. Bayangin, aku masturbasi dengan ditonton penuh perhatian oleh seorang cewek! Ini puncak atau level tertinggi kenikmatan bagi seorang exhibionist sepertiku. Kalau ketelanjangan kita dilihat orang itu sudah nikmat, apalagi masturbasi. Karena masturbasi adalah kegiatan paling rahasia dari seseorang. Dilihat lawan jenis dan penuh perhatian lagi. Sampai gemetar tanganku yang lagi mengocok si otong. Tanpa saling bersuara, aku terus mengocok di bawah tatapan matanya. Tangan kananku mengusap-usap biji. Makin lama kocokan semakin kupercepat dan terus dipercepat. Nafasku semakin memburu. Matanya semakin membulat menatap gerakan tanganku, sementara kebalikannya aku menatap tanpa berkedip ke wajahnya menikmati ekspresinya

yang antusias, heran, pengen tahu dan sebagainya campur aduk. Akhirnya aku merasa puncakku hampir sampai, gunung berapi dalam genggamanku mau meletus memuntahkan kenikmatan. Aku memiringkan badan menyesuaikan posisi kepala si otong supaya muntah tepat di tissue yang kuletakkan di kasur. "Udah mau keluar ya Mas..?" tanyanya, tapi aku sudah tidak dapat mengeluarkan suara. Tanpa menunggu jawaban, eh.. dia malah berjongkok persis di samping tissue. Mungkin ingin melihat lebih dekat dan jelas saat-saat bersejarah baginya yang sebentar lagi akan terjadi. Melihat ini aku semakin parah rasanya. Tanpa tertahan lagi, dengan kocokan kecepatan supersonik dan pandangan sekitar yang mengabur karena mataku semakin terfokus hanya kepada wajah dan ekspresinya, si otong meledak sangat dahsyat memuntahkan kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sentakan ledakan yang terjadi membuat seluruh tulang-tulang serasa tercabut, jantung sudah tidak tahu masih ada apa sudah ikut meledak. Ledakkan pertama ini saja sudah memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah banyak. Setelah itu masih diikuti ledakanledakan selanjutnya yang membuat cairan kenikmatanku tidak tertampung di tissue dan meluber ke kasur. Badanku masih mengejut-ngejut dan tersentak-sentak. Sepertinya aku kehilangan kesadaran sebentar karena kenikmatan yang belum pernah terasa sesempurna ini. Rupanya efek melayangnya cukup panjang, walaupun si otong sudah selesai dan kenyang memuntahkan kandungannya. Perlahan-lahan kesadaranku mulai kembali, mata kubuka. Pertama-tama yang kulihat si cewek itu. Kelihatannya dia sedang mengelap lengannya dengan tissue. "Ih, si Mas keluarnya sampe keciprat ke tangan saya." Aku hanya dapat tersenyum, "Maapin deh, kan lagi nggak kontrol tadi." (Untung tidak ketembak mulutnya). "Lagian keluarnya bisa banyak gitu, apa memang selalu segitu kalo keluar Mas?" "Ya nggaklah, tergantung situasi aja." jawabku lemas sekali, mau menggerakkan tangan saja berat rasanya. Selanjutnya dia dengan hati-hati mengangkat tissue basah kuyup dan luber cairan putih itu dari kasur dengan kantung plastik. "Tuh kan si Mas, musti ganti kasur deh saya. Banyak banget sih keluarnya, orang yang begituan beneran aja nggak segitu banyaknya," Lagi-lagi aku hanya dapat tersenyum. "Mau mandi atau dilap air anget aja Mas?" tanyanya. "Dilap aja deh, udah nggak kuat berdiri nih.." Sambil mengelap badan, dia mulai bicara lagi, "Ternyata bisa ya Mas dikeluarin sendiri.." "Kan udah lihat sendiri buktinya. Eh kamu sendiri gimana, ada minat nyoba main sendiri, enak lho nggak tergantung orang lain." "Au ah..," katanya sambil tertawa cekikikan, tidak jelas maksudnya. Waktu sampai giliran si otong yang di lap, dia melingkarkan lap hangatnya membalut si

otong sambil diremas-remas, "Hih, kamu ini muntahnya habis-habisan yah..!" Karena dibungkus lap hangat dan diremas-remas, si otong mendadak bengkak dan memanjang lagi sampai menonjol keluar topi bajanya dari lipatan lap. "Yah, bangun lagi sih.." katanya heran. "Kamu juga sih ngajak ngobrol dia, ya dia nyautin.." "Terus gimana nih..?" "Apanya yang gimana?" aku balik bertanya. "Iyaa, apa musti dikeluarin lagi?" Mendengar ini semangatku bangkit lagi, lupa sama badan yang sudah segitu lemasnya tadi. "Tergantung, kalo waktunya masih ada dan belum diusir" kujawab sambil berharap-harap cemas. "Terserah deh, kalo mau dikeluarin lagi silakan. Tapi jangan di tissue lagi.. dimana ya..?" katanya sambil mencari-cari. Tanpa membuang waktu, aku sudah mulai mengocok lagi, tapi sekarang posisinya duduk di pinggir tempat tidur. Lucu juga membayangkannya, aku telanjang bulat mengocok di pinggir tempat tidur, sementara ada seorang cewek berpakaian lengkap yang lagi sibuk cari tempat buat menampung cairan hasil kocokanku. "Nah disini aja deh langsung..," katanya sambil mengambil tempat sampah dari kolong meja, dan meletakkan di lantai tepat di bawah si otong yang sedang kukocok. Selanjutnya dia berdiri memperhatikan kegiatanku. Lagi-lagi caranya melihat dan memperhatikan membuatku merinding sampai ke ujung bulu kemaluanku dan terangsang hebat. "Eh, nanti malah berceceran di lantai.." katanya sambil mengangkat tempat sampah itu dan memegangnya persis di depan mulut si otong yang lagi megap-megap karena kukocok secepat kilat. Pemandangan dia menampung ini efeknya sangat fantastis buatku. Badanku tergetar hebat. Mendadak gelombang kenikmatan itu datang bergulung-gulung, turun dari otakku terus ke bawah, dan akhirnya meledak di mulut si otong. Sekilas aku mendengar suara cipratan yang berkecipak ketika cairan yang diledakkan dan meluncur dengan kecepatan tinggi dari mulut si otong mengenai dasar tempat sampah plastik yang dipegang cewek itu. Setelah itu si otong masih mengejut-ngejut beberapa kali melepaskan tembakan susulan, walaupun tidak sebanyak ejakulasi pertama. Habis badanku rasanya. Cewek itu hanya geleng-geleng kepala sambil meletakkan tempat sampah kembali ke kolong meja. "Gile bener..," hanya itu komentarnya. Sambil menungguku pakai baju, cewek itu bertanya lagi, "Yang kedua ini keluarnya lebih cepet ya Mas..?" "Yah soal itu sih susah ditentuinnya, nggak bisa dipasti-pastiin bener," jawabku sekenanya. Padahal sebenarnya yang pertama itu harusnya lebih cepat, soalnya rangsangannya kan lebih besar. Tapi karena ingin pameran dan memberikan pertunjukan yang terbaik untuk penonton tunggal ini, ya kuatur-atur deh.

"Terus kalo main betulan sama cewek emangnya si Mas nggak suka atau gimana sih..?" Waduh, pertanyaannya semakin berat, untung kamar sebelah tidak ada tamunya. "Yah yang jelas sampai sekarang saya lebih suka ngocok sendiri. Buktinya saya nggak ngapa-ngapain kamu kan..? Biar kamu telanjang bulat, saya nggak akan bahaya buat kamu, paling-paling saya ngocok lagi, he.. he.. he.." "Nggak pegel ngocok tiap hari..?" Astaga, pertanyaannya membuatku jadi bingung juga. "Lha enak kok.., nggak ngerepotin lagi.." Setelah membereskan masalah administratif, aku keluar dan pergi. Sampai saat ini aku masih belum memutuskan, apakah akan kembali lagi ke tempat itu atau tidak. Soalnya dari pengalaman yang sudah-sudah, pertemuan yang kedua kalinya sudah tidak ada sensasinya lagi. Sensasi itu selalu timbul dari orang yang belum pernah dijumpai/baru. Kalau orangnya yang itu-itu juga, dia sudah tahu kebiasaan kita, mau ngapain selanjutnya dan lain-lain. Tidak seru. Tamat

TERLANJUR BASAH YA SUDAH 01

Namaku Jaka, umur 25 di tahun 2001 ini. Setelah lulus dari sebuah PT di kota Yogyakarta, aku mencoba untuk melanjutkan hidup di kota ini juga. Hingga akhirnya aku diterima di sebuah LSM, meskipun baru pada tingkat magang. Dengan alasan, saat aku kuliah dulu, aku pernah membantu sebuah proyek yang sedang ditangani oleh LSM lain. Dan kisah ini terjadi saat aku terlibat dalam proyek tersebut. Terus terang, sebetulnya dunia yang selama ini kugeluti, sangat jauh dari dunia sex. Dan kalau pun tahu, itu hanya sebatas bacaan-bacaan semacam Nick Carter. Namun, setelah aku mengenal dunia cyber dan mendapatkan situs Ceritapanas.com dari temanku ini, rasanya aku mulai tahu tentang dunia yang satu ini. Dan mungkin bisa experience sharing, sekaligus menyalurkan hobiku dalam hal tulis-menulis. Kisah ini bermula saat kepulanganku dari luar kota setelah melakukan hunting dan survey untuk proyek tersebut. Saat itu, jam di tanganku menunjukkan pukul 10.00 malam. Setelah bus jurusan Yogya-Surabaya yang kunaiki sampai di pertigaan Janti, aku bersiap-siap untuk turun. Beberapa penumpang pun turut berdiri, berjajar di belakangku. Hingga akhirnya, aku dan para penumpang lainnya sudah turun, bus melaju melanjutkan perjalanannya menuju terminal. Setelah sesaat melepas lelah sambil nongkrong di sebuah warung pinggir jalan, aku pun berniat untuk segera pulang lalu istirahat. Saat hendak membayar minum, aku rogoh saku belakangku. Dan aku pun sangat terkejut ketika kudapati, belakang celanaku ternyata robek. Sialan.., makiku. Kenapa, Dik..? tanya penjual minuman itu. Aku sendiri tidak dapat berkata-kata apa-apa. Karena bagaiamanapun juga, toh aku juga harus tetap membayar minuman yang telah kuhabiskan. Dan untung saja, setelah kurogoh seluruh kantong yang ada di baju dan celanaku,

aku menemukan sedikit uang yang cukup untuk sekedar membayar minuman tersebut. Dan akhirnya, aku beranjak meninggalkan warung itu dengan langkah gontai. Yaa terpaksa pulang jalan kaki nih umpatku. Namun tidak berapa jauh aku melangkah, seorang wanita menegurku dari arah belakang. Maaf, Dik.. Meskipun dengan sedikit malas, aku berusaha untuk menanggapi teguran tersebut. Ada apa, Mbak..? tanyaku. Adik tahu jalan ini (dia menyebutkan salah satu jalan di kota ini)..? tanyanya dengan nafas yang memburu terkesan seperti tergesa-gesa. Dan belum sempat aku menjawabnya, ia sudah menyambung dengan kata-katanya. Kalo tahu, tolong dong, saya dianter. Bisa kan..? Please..! Namun dengan berbagai alasan yang kubuat-buat, semula aku menolaknya. Dalam pikiranku, aku cuman mengeluh, sialan nih perempuan, tidak tahu orang lagi suntuk! Namun lama-kelamaan, akhirnya aku merasa iba juga melihatnya, apalagi dia sempat menawarkan imbalan berapa pun yang aku minta asalkan aku mau mengantarkannya. Hingga akhirnya, aku pun bersedia mengantarnya. Dan tentu saja dengan syarat, aku minta ongkos taksi untuk pulang ke kost. Itu saja. Dan ia pun setuju. Singkat cerita, kami pun melaju menuju alamt tersebut dengan sebuah taksi. Di dalam taksi pun, kami mulai saling memperkenalkan diri. Dan ternyata, kami sama-sama satu bus. Hingga akhirnya aku berhasil memancingnya untuk bercerita tentang dirinya. Lalu ia pun bercerita tentang kisah pahit dalam hidupnya. Seolah aku terhanyut dengan cerita-cerita yang mengharukan yang ia tuturkan. Vina, nama perempuan itu. Usianya 30 tahun. Wajahnya cukup cantik. Terlebih lagi, dengan kaca mata yang ia kenakan, semakin menambah anggun kecantikannya. Ia adalah janda yang tidak mempunyai anak. Suaminya pergi dari rumah karena selingkuh dengan seorang karyawan yang kost di rumahnya. Sedangkan di kota ini, ia akan memulai hidup baru bersama kakak perempuannya. Di tengah-tengah cerita, sesekali ia mengusap air mata yang keluar dari pipinya saat bercerita. Atau mencoba menyembunyikan isakan tangisnya dengan menyandarkan kepalanya di atas pudakku. Mungkin, sudah menjadi naluri laki-laki untuk menjadi pengayom bagi seorang wanita. Dan itu juga yang coba kulakukan untuk mencoba menenangkan Mbak Vina. Dengan sedikit gemetar, aku mencoba untuk merangkul pundaknya. Kulontarkan katakata yang kupikir dapat meredam kesedihannya. Tapi entah setan dari mana, tiba-tiba aku teringat akan cerita-cerita panas yang pernah kubaca, ataupun filmfilm dari VCD yang pernah kutonton. Aku sendiri mencoba untuk mengusir khayalan-khayalan itu. Namun, sentuhan-sentuhan yang terjadi di antara kami, meskipun itu tidak di sengaja, justru semakin memancing hasrat kelaki-lakianku. Dan sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan jika penisku mulai menegang. Aku mulai salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan keringat dingin membasahai keningku. Namun, untung saja kejadian ini tidak berlangsung lama. Karena taksi yang membawa kami telah berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar. Sudah sampai, Mas.. kata supir taksi itu. Lalu Mbak Vina pun membayar ongkos dan segera mengajakku menuju rumah itu. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, seorang wanita yang mirip dengan Mbak Vina, tapi lebih tua sedikit, membuka pintu dan langsung berteriak sambil memeluk Mbak Vina. Mbak Vina pun menyambut pelukan itu dengan tangisan yang meledak. Hening sesaat. Oo ini toh Mbak Rani, kakaknya Mbak Vina.. Batinku. Lumayan juga. Kulitnya putih bersih. Dan kondisiku yang masih agak terangsang ini, semakin menjadi-jadi ketika kulihat Mbak Rani yang hanya menggunakan baju tidur, dengan belahan dada yang cukup lebar, sehingga belahan buah dada Mbak Rani dapat terlihat jelas. Aku sempat terpana juga melihat pemandangan seperti itu. Hingga akhirnya aku dikejutkan oleh teguran Mbak Rani untuk mengajak kami masuk. Akhirnya, setelah sedikit berbasa-basi, aku pun dipersilakan istirahat di ruang tidur tamu. Dan malam itu pun, akhirnya aku terpaksa di tidur di rumah Mbak Rani. Namun, meskipun tubuhku ini sangat lelah, aku heran, kenapa aku tidak dapat memejamkan mataku. Justru bayangan Mbak Vina dan Mbak Rani yang terus mengganggu

pikiranku. Aku coba segala caraagar mata ini dapat terpejam, meski akhirnya tidak dapat juga. Lalu kuputuskan untuk melihat-lihat sekeliling kamar hinga aku melihat ada sebuah TV dan VCD player. Lalu kubuka beberapa laci yang ada, dan kutemukan beberapa keping CD. Maka kuputuskan untuk memutar CD tersebut sebagai penghantar tidurku. Namun, justru aku tak dapat memejamkan mataku saat melihat adegan-adegan yang terpampang di film tersebut. Karena dari 5 CD yang ada, empat di antaranya film BF semua. Nggak apalah dari pada nggak ada tontonan dan nggak bisa tidur batinku. Sambil tiduran di ranjang, aku pun menikmati film-film BF tersebut sendirian. Khayalanku pun semakin liar menerawang. Dan penisku pun mulai mengeras. Suara-suara desahan di TV semakin membuat nafsuku bergejolak. Entah sadar atau tidak, perlahan tanganku mulai membelai-belai penisku sendiri. Perlahan celana panjang kuturunkan. Semula hanya sebatas lutut, meski akhirnya, aku tanggalkan seluruhnya. Oohhh mmmhhh desahku mengikuti irama permainan yang ada di layar TV. Semakin lama, semakin cepat pula gerakan tanganku mengocok penisku sendiri. Gerakan tubuhku semakin tak beraturan. Sesekali kakiku mengejang dengan pantat yang sedikit terangkat. Hingga akhirnya, Aaggrkkh..aarrghh.. jeritku dengan suara tertahan. Dan bersamaan itu pula meledaklah larva berwarna putih kental dari ujung kemaluanku. Entah berapa kali semprotan yang keluar, aku tak sempat menghitungnya. Aku pun terkulai lemas. Keringat membasahi tubuhku. Aku limbung sambil masih berusaha menikmati sisa-sisa keletihan dalam kenikmatan itu. Dan entah berapa kali aku beronani di malam itu, aku tak ingat lagi. Karena, 4 CD yang ada kuputar semuanya non stop. Sampai aku tertidur dengan hanya kaos pendek yang melekat di tubuhku. Sementara tubuh bagian bawahku masih tidak mengenakan penutup samasekali. Belum lama mataku terpejam, aku dikejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka. Eh maaf Dik. Aku pikir Dik Jaka udah tidur kata Mbak Rani. Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Aku segera meraih celanaku yang tergeletak di pinggir ranjang. Meski tidak sempat mengenakannya, tapi cukup untuk sekedar menutupi bagian bawah tubuhku, terutama penisku. A.. ada appa Mbak..? tanyaku dengan nada terpatah-patah karena malu bercampur grogi. Sorry, Dik. Aku mau ambil pakaian tidur di lemari itu. Kebetulan, pakaian yang ada di ka mar Mbak, belum di cuci.. jawabnya. Lalu Mbak Rani pun menghampiri lemari di sisi kanan ranjang tempat aku berbaring. Saat ia menoleh ke arah TV yang ternyata masih menyala, Mbak Rani berpaling ke arahku sambil tersenyum. Aku pun terpaksa membalasnya dengan tersenyum juga. Meski pun dengan agak tertahan. Aku segera meraih remote yang ada di sebelahku, lalu segera mematikannya. Kok dimatikan, Dik. Nggak pa-pa kok. Kalo belum selesai, dilanjutin aja. Tanggung kan..? kata Mbak Rani sambil membelakangiku karena sedang mencari pakaian yang ia cari. Nggak ah, Mbak.. sahutku, Lagian juga udah ngantuk nih. Selesai mengambil pakaiannya, Mbak Rani duduk di sisi ranjang. Ia mengambil remote yang ada di tanganku dan kembali menyalakan TV. Nggak usah malu-malu. Santai aja. Apa perlu Mbak temenin biar nggak ngantuk..? Nonton film kaya gini ini, enaknya kan nggak cuman tiduran. Iya nggak Dik..? kata Mbak Rani sambil melirik bagian selangkanganku. Aku hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Dan selanjutnya, kami berdua terdiam. Hanya suara erangan dan desahan dari layar TV yang ada di kamar itu. Aku sendiri tidak dapat menikmati permainan yang sedang berlangsung di film itu. Meskipun kuakui, penisku mulai kurasakan kembali mengeras, namun aku justru salah tingkah sendiri. Sedangkan Mbak Rani, justru kulihat sangat menikmatinya. Mbak Vina, mana Mbak..? tanyaku memecah keheningan dan sekedar untuk menghilangkan gemetarku. Mbak Rani menoleh ke arahku dengan seungging senyum di bibir tipisnya. Dengan perlahan ia mendekatiku. Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku. Kan ada Mbak Rani di sini. Kasihan Mbak Vina, kelihatannya capek. Biarin aja dia istirahat, kata Mbak Rani sambil menyentuh kulit pahaku dan mengelus-elus pelan. Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku. Dan sebelum aku menjelaskan maksud pertanyaanku, tangan kanan mungil Mbak Rani sudah menggenggam kemaluanku. Aku sedikit tersentak terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Terlebih lagi saat tangannya perlahan mengocok penisku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa saat kesadaranku

melayang entah kemana. Ketika tangan kiri Mbak Rani mendorong dadaku, aku perlahan merebah di atas ranjang. Namun, tiba-tiba kesadaranku muncul dan segera menarik tangan kanan Mbak Rani yang sedang membelai penisku. Dan aku segera bergeser ke samping saat tubuh Mbak Rani hendak menindih tubuhku. Jangan, Mbak ini tidak boleh..! aku mencoba mengingatkan Mbak Rani. Pleassee Dik tolong Mbak.. pinta Mbak Rani dengan wajah yang sudah terlihat sayu dengan nafas memburu. Tolong, Mbak. Saya nggak bisa melakukan ini.. sahutku. Mbak Rani hanya terdiam. Kulihat ada rasa kekecewaan di raut wajahnya. Lalu dengan tanpa suara dan wajah sedikit bersungut, Mbak Rani meninggalkanku sendirian di kamar. Aku hanya dapat melihat punggung Mbak Rani meninggalkan kamarku. Akhirnya aku dapat bernafas lega sambil mencoba mengulang kembali peristiwa yang baru saja terjadi. Hingga akhirnya aku pun terpejam dan terlelap dalam tidurku. Pagi harinya, ketika aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku pun segera berkemas dan siap untuk pulang. Setelah kurasa semuanya beres, aku segera beranjak menuju pintu kamar. Namun ketika pintu belum kubuka lebar, aku menyaksikan adegan yang mengejutkan di ruang tengah. Di sebuah sofa di depan TV yang tengah menayangkan sebuah film porno, aku melihat Mbak Rani tengah berciuman dan saling melumat dengan seorang perempuan. Nafasnya jelas sekali terengah-engah dengan sesekali diselingi desahan-desahan. Sementara tangan kanannya memeluk perempuan yang berada di sampingnya. Dan tangan kirinya meremas-remas rambut lelaki yang ada di bawahnya. Dalam pandanganku, nampak kedua tangan lelaki itu meremas-remas payudara sekaligus puting Mbak Rani. Di antara kedua pahanya, kulihat seseorang tengah asyik mempermainkan vagina Mbak Rani. Aku sendiri hanya terdiam, dan kurasakan dadaku mulai naik turun. Kemaluanku pun semakin mengeras. Oochh sshhtt yyaacchh terrruuusss Deedd Mbak Rani meracau sambil mendongakkankepalanya. Sementara perempuan yang berada di sampingnya, terus menerus menelusuri leher Mbak Rani yang terlihat putih jenjang dengan sedikit ada bekas-bekas merah akibat ciuman. Bersambung ke bagian 02

TERLANJUR BASAH YA SUDAH 02

Sambungan dari bagian 01 Aku semakin tidak tahan melihat pergumulan itu. Tanganku bergerak perlahan dan mengusap-usap kemaluanku yang telah mengeras. Aku hanya dapat menggigit bibir bawahku sambil mengusap-usap penisku dari luar. Lalu perlahan aku masukkan salah satu tanganku ke dalam celana jeans-ku. Dengan sangat perlahan karena takut ketahuan, aku menurunkan celanaku. Tiba-tiba, Bruuk..! aku terkejut dengan tas yang tergantung di bahuku terjatuh. Mbak Rani, lelaki dan perempuan itu tiba-tiba segera menghentikan permainannya, dan secara bersamaan menoleh ke arahku. Sialan makiku dalam hati. Aku hanya terdiam dengan ketakutan dan gemetar ketika mereka bertiga melihat ke arahku. Maaf maa.. af.. kataku langsung menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar aku hanya dapat memaki habis-habisan. Aku segera beranjak mendekati tempat tidur. Dan dengan celanaku yang tetap dalam posisi agak melorot, aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja kusaksikan. Aku semakin tidak dapat mengendalikan nafsuku. Dan kocokan-kocokan kecil dari tanganku semakin membuat tubuhku panas dingin.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang dengan tangan kananku yang tetap mengocok penisku. Belum sempat aku menyelesaikan permainanku, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan di depan pintu kulihat Mbak Rani dan kedua temannya sudah berdiri dengan tanpa sehelai benang pun menempel di ketiga orang itu. Aku terkejut dan segera bangun daritidurku, dan membenahi posisi celanaku yang turun ke bawah sampai ke lutut. Akan tetapi, lelaki yang berada di antara Mbak Rani dan seorang perempuan itu dengan cepat segera mengangkat ujung kakiku sambil tangannya mendorong tubuhku. Sehingga dengan sendirinya aku terpelanting ke belakang. Tubuhku pun kembali rebah di atas ranjang tersebut. Lalu dengan cepat, lelaki itu naik ke atas ranjang, dan dengan cepat duduk di atas dadaku dengan kedua lututnya yangberada di samping kanan kiriku sambil kedua tangannya memegang tanganku. Mbak Rani dan teman wanitanya segera mendekatiku. Arya, terus pegang yang kuat. Jangan sampai lepas..! kata Mbak Rani kepada lelaki yang memegang kedua tanganku. Lelaki yang bernama Arya itu pun semakin kuat mencengkeram kedua tanganku. Nov, kamu pegang kakinya.. sambung Mbak Rani sambil mendekati tubuhku yang hampir tidak dapat berkutik. Aku mencoba berontak dengan menedang-nendang kakiku. Namun, kembali kakiku terdiam saat Arya yang duduk berada di atas dadaku menekan tubuhku dengan tubuhnya. Lalu ia tersenyum dengan penuh arti, dan perlahan mengusap-usap pahaku. Aku berusaha untuk meronta, tapi cengkeraman Arya dan Nova justru semakin kuat. Toloong, Mbak Lepaskan saya, pintaku. Mbak Rani tidak memperdulikan kata-kataku. Sekarang ia justru mulai mendekatkan wajahnya ke arah paha dan kemaluanku. Dan tidak berapa lama, aku mulai merasakan kalau pahaku terasa basah. Kemaluanku masih agak tegang. Aku semakin meronta. Tapi itu justru membuat Mbak Rani semakin keranjingan untuk terus menjilati pahaku. Tangan kanannya pun mulai memegang penisku dan mengocoknya perlahan. Akhirnya, aku pun tidak dapat menahan ciuman-ciuman bibir Mbak Rani di pahaku. Tangan lembutnya yang mengocok penisku pun mulai kurasakan sebagai satukenikmatan tersendiri. Namun aku tetap berusaha untuk tidak larut dalam permainan itu. Tapi bagaimanapun juga aku seorang lelaki. Dan mendapat rangsangan seperti itu, terkadang membuat nafasku tersengal akibat birahi di tubuhku mulai memanas. Terlebih lagi ketika lidah Mbak Rani mulai menyentuh batang kemaluanku. Sedangkan Nova yang dari tadi memegang kakiku pun turut memberikan ciuman-ciuman di betisku. Aku semakin tidak kuat untuk menahan rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan akibat jilatan-jilatan lidah Mbak Rani. Sesekali batang kemaluanku masuk ke dalam mulut Mbak Rani. Dan kurasakan hisapanhisapan dari mulutnya membuat tubuhku semakin panas dingin. Bagaimana sayang, kamu menikmatinya kan..? goda Mbak Rani dengan melirik ke arahku. Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah almari di samping ranjang. Tidak berapa lama Mbak Rani kembali dengan membawa beberapa helai kain. Tarik ke atas, Ar, Kata Mbak Rani sambil membentangkan kainnya. Arya pun turun dari atas dadaku, dan dengan kasar Arya pun menarik tubuhku ke atas. Kini Mbak Rani ikut-ikutan ke atas ranjang. Dan dengan santainya, ia segera duduk di atas dadaku untuk mengikat kedua tanganku di tepi ranjang. Saat ia duduk di atas dadaku, kurasakan vaginanya ia tekan dan gesek-gesekkan ke dadaku. Dan saat Mbak Ranimembungkuk untuk mengikat kedua tanganku pun ia gesek-gesekkan pula susu di wajahku. Saat itu pula kurasakan kekenyalan sebongkah susu. Aayyoo sayyangg hisap-hisap susu Mbak racau Mbak Rani mencoba memberikan rangsangan-rangsangan kepadaku. Aku hanya memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri untuk lebih merasakan kekenyalan buah dada milik Mbak Rani. Sementara itu, Arya yang tadi berada di atasku, kini pindah ke bawah dan juga mengikat kedua kakiku dengan kain yangdiambilkan Mbak Rani dari lemari tadi. Sesaat setelah mereka bertiga mengerjaiku seperti ini, lalu mereka duduk di pinggir ranjang sambil sesekali tersenyum melihat kondisiku yang sudah tidak berdaya. Arya, Nova, ayo kita lanjutkan lagi permainan yang tadi belum selesai.. kata Mbak Rani sambil merunduk mendekatkan wajahnya ke penis Arya sambil berjongkok. Arya pun duduk di sisi ranjang dan memberikan penisnya yang lumayan besar itu ke mulut Mbak Rani. Sedangkan Novaberdiri di samping Arya dan memberikan kedua buah dadanya untuk dihisap Arya.

Oorghhh. yaa.. terus Raann Ssstthhh yaanggg kencceenggrrrhhh terdengar desahan Arya menikmati kemaluannya yang terus dikulum Mbak Rani. Oohh sssttthhh teeerrruusss Aarr.. yaanng keerraaa.. ssss hissaapp.. nnyaa..! Nova pun juga mendesah dengan sesekali kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Aku sendiri tidak berbuat apa-apa dengan apa yang mereka bertiga lakukan. Aku hanya dapat meyaksikan mereka mereguk kenikmatan tanpa dapat berbuat apa-apa. Nafasku pun mulai memburu seiring dengan tubuhku yang mulai terasa panas dingin. Posisi Nova yang berhadap-hadapan denganku hanya tersenyum menggodaku. Perlahan ia mendekati sisi ranjang. Dengan tetap membiarkan payudaranya dihisap dan dijilati oleh lidah Arya, ia mendekatiku. Lalu perlahan tangannya mulai membelai pahaku. Kembali aku hanya dapat menggigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan itu. Terrusss Nov.. ke attasss kataku sambil menahan gairah yang sudah terlalu menggebu. Aku tidak perduli lagi dengan apa yang terjadi tadi malam saat aku menolak bermain cinta dengan Mbak Rani. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian.., batinku. Oorrghhhh yyaacchhh ssstt aku hanya dapat mendesah menikmati belaian lembut dan kocokan pelan tangan Novadi batang kemaluanku. Pinggulku bergerak ke arah kanan-kiri dan terkadang sedikit kuangkat untuk menikmati permainan itu. Dan secara perlahan, tanpa mau melepaskan hisapan-hisapan mulut Arya di kedua buah dadanya, Nova bergerak mendekatkan wajahnya ke arah selangkanganku. Tubuhku semakin panas dingin dan bergetar hebat melihat apa yang akan dilakukanNova di selangkanganku. Aku menahan nafas untuk menikmati permainan selanjutnya. Tapi, tiba-tiba tangan Mbak Raniyang tadi sibuk dengan kemaluan Arya, segera menarik tubuh Nova. Dari pada jilatin itu, mendingan jilatin punyaku aja, Nov.., kata Mbak Rani sambil bangkit dari jongkoknya dan duduk di sebelah Arya yang hanya tersenyum kepadaku tanpa kutahu maksudnya. Nova sendiri hanya menuruti kata-kata Mbak Rani yang seolah-olah memang menguasai permainan itu. Sekarang, MbakRani meletakkan pantatnya di sisi ranjang. Kaki kanannya ia biarkan tergelantung. Sementara kaki kirinya ia letakkan di sisi ranjang, sehingga pangkal pahanya terbuka. Dan giliran Nova yang jongkok mendekati vagina Mbak Rani. Oorgghh sstthhh yyaaa.. ooupppsss erang Mbak Rani ketika lidah Nova menyentuh vaginanya. Arya yang melihat Mbak Rani dan Nova dalam keadaan seperti itu, langsung meraih wajah Mbak Rani yang duduk di sampingnya. Ia lumat habis bibir Mbak Rani sambil mengarahkan tangan Mbak Rani untuk mengocok penisnya. Ouuggrrhhh yaacchhh sssttt aaauuuwww..! geliatan Mbak Rani semakin menjadi. Tubuhnya bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, tidak beraturan. Dan tidak berapa lama, kulihat Mbak Rani membungkukkan tubuhnya ke arah kemaluan Arya. Rupanya ia belum puas mengulum penis Arya. Aaacchhh Noovvv aakkk.. kuuu mmaauuu.. keellluuaaa.. arrr erangan Mbak Rani di sela-sela kesibukan bibirnya melumat penis Arya. Mendengar teriakan itu, Arya pun merubah posisinya. Ia biarkan Mbak Rani yang tergeletak dengan posisi miring di sisi ranjang. Lalu Arya ikut jongkok di samping Nova yang gerakan-gerakan kepalanya makin cepat menjilat dan menghisap-hisap vagina Mbak Rani. Arya segera mendekatkan bibirnya ke puting susu Mbak Rani. Mendapat perlakuan seperti itu, Mbak Rani sepertinya tidak kuat lagi menahan puncak orgasmenya. Hingga akhirnya, Aargghhh aaachhh..! Mbak Rani mengerang sejadi-jadinya menikmati lendir kenikmatannya keluar dari vaginanya. Sedangkan Nova pun semakin cepat pula membersihkan cairan yang keluar dari vagina Mbak Rani dengan hisapanhisapan kuatnya. Ooocchhh yyaaacchhh terdengar nafas Mbak Rani yang memburu dan kadang tersengal menikamti sisa-sisa orgasmenya. Dan dengan tubuh yang sudah agak lemas itu, Mbak Rani kembali duduk sambil mengangkat pinggul Nova. Sehingga posisi Nova menjadi menungging. Mbak Rani lalu meoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya, lalu memberi isyarat. Arya tahu apa yang dimaksud. Lalu ia pun berdiri di belakang bongkahan pantat Nova yang menungging dengan batang zakarnya yang masih tegak mangacung.

Kamu siap, Nov..? tanya Arya yang sudah siap dengan penisnya. Cepetan doongg.. Arr udah nggak tahhaann niichh..! sahut Nova yang sebentar menoleh ke arah Arya, lalu melanjutkan memainkan lidahnya di vagina Mbak Rani. Aacchhh peelllaann.. peellaa aannn Arrr..! desah Nova saat bibir kemaluannya menerima sodokan ujung penis Arya. Saat penis Arya sudah seluruhnya masuk ke vagian Nova, ia maju mundurkan pinggulnya dengan irama yang stabil. Nova pun mengiringinya dengan memutar-mutar pantatnya. Kedua tangan kekarnya membantu menggerakgerakkan pinggul Nova. Hoohhh sssttt teerrruuu uusss Aarrr lebbbiihhh kerraaa.. arrs..! Mbak Rani sendiri pun ikut-ikutan mendesah. Kedua tangannya ia gunakan untuk meremas-remas payudara Nova yang masih tetap membungkuk di depannya. Sesekali ia menurunkan badannya untuk menciumi punggung Nova yang mulus itu. Sementara Nova, mendapat serangan dari atas dan bawah itu hanya dapat menahan desahan-desahannya. Karena mulutnya pun sibuk di antara pangkal paha Mbak Rani. Beberapa menit kemudian, Arya dan Nova sepertinya hendak mencapai puncak orgasmenya. Kulihat Arya yang seolah-olah sudah tidak kuat lagi menahan mani yang mau keluar dari penisnya. Noovv aakkkuuu mmauu keelluu aaarrr..! kata Arya di sela-sela gerakan maju mundur pantatnya. Ceepppaatt Aarrr akkuu jjuggaa mmauuu keelluu aaarrgghhh aarrrghhh ssttt..! er ang Nova saat mencapai klimak sambil mendongakkan kepalanya. Melihat itu, Mbak Rani segera menyambutnya dengan ciuman di bibir Nova. Dan bersamaan itu pula, kulihat Arya menekan pinggulnya keras-keras ke pantat Nova. Bersambung ke bagian 03

TERLANJUR BASAH YA SUDAH 03

Sambungan dari bagian 02 Setelah beberapa saat, ketiganya terdiam menikmati orgasme mereka masing-masing dengan nafas yang terengahengah. Gila kamu Nov. Memek kamu kuat sekali kalau menjepit ya.., puji Arya sambil duduk di sisi ranj ang di sebelah MbakRani. Nova hanya tersenyum mendengar kata-kata itu. Kalo sama punya Mbak Rani, kuatan mana..? goda Nova sambil mendekati Arya dan melirik sebentar ke arah Mbak Rani. Ah.. apa-apan sih kamu, Nov..? sahut Mbak Rani dengan sedikit malu. Lalu ketiganya bercanda sambil berpelukan di sisi ranjang. Eh Kalian masih kuatkan..? tiba-tiba Mbak Rani memotong pembicaraan mereka sambil menoleh ke arahku. Lalu ketiganya pun menoleh ke arahku yang masih menahan nafsu akibat melihat persetubuhan yang baru saja kusaksikan tanpa dapat berbuat apa-apa. Kalo bareng-bareng, boleh nggak Ran..? tanya Arya kepada Mbak Rani. Usulan menarik itu.. sahut Nova dengan sambil melirik ke arah penisku yang sudah sedikit mengendor. Ok kita mulai..! kata Mbak Rani sambil memberi isyarat kepada Nova dan Arya untuk mencari posisi masingmasing. Aku masih terbengong-bengong sambil bertanya-tanya, apa yang akan mereka perbuat kepadaku. Lalu kulihat, Novapindah ke samping kiriku. Sementara Arya di tengah, tepat di antara kedua kakiku yang mengangkang

karena ikatan tali itu. Sedangkan Mbak Rani berada di samping kananku. Perlahan mereka mengusap-usap bagian tubuhku. Mulai dari dada, perut, paha sampai ujung kaki. Tidak ada lagi kulitku yang lolos dari belaian-belaian tiga pasang tangan itu. Aku hanya dapat mendesah perlahan menikmati belain-belaian itu sambil memejamkan mataku. Hingga akhirnya, kedua putingku terasa basah dan hangat. Saat kubuka mataku, aku melihat Mbak Rani dan Nova sudah menempelkan bibirnya di kedua putingku. Dan tidak berapa lama, pahaku pun juga terasa basah. Rupanya Arya pun turut menempelkan bibirnya di tubuhku. Kembali aku memejamkan mataku agar dapat menikmati jilatan-jilatan di tubuhku sepenuhnya. Apalagi dengan posisiku yang telentang pasrah dengan kedua tangan dan kaki terikat. Tiba-tiba aku sedikit tersentak dan mengangkat pinggulku ketika jilatan-jilatan itu kurasakan mengumpul di bawah pusarku. Tepat di selangkanganku. Aarrghh aacchhh hhooohh sssttthh..! eranganku. Sejenak mataku kubuka kembali untuk melihat ketiga bibir yang tengah mempermainkan batang kemaluanku. Kulihat Mbak Rani dan Nova saling bergantian mengulum penisku. Sedangkan Arya sibuk mengulum dan melumat habis kedua biji telurku. Sesekali kuangkat pinggulku saat Mbak Rani atau Nova mengulum penisku. Mbar Rani ataupun Nova tahu apayang kulakukan, mereka justru mengimbanginya dengan mempercepat kulumannya. Saat pantatku kuangkat, aku kembali menerima sensasi yang lain. Karena dengan kuangkat pantatku, Arya justru menggelitik lubang anusku dengan ujung lidahnya. Mbak dilepas aja talinya, Mbak pintaku kepada Mbak Rani. Mbak Rani yang mendengar kata-kataku bergerak naik perlahan sambil terus menjilati sekujur tubuhku. Saat wajah sayunya tepat berada di dadaku, ia mendongak ke atas, sambil tersenyum penuh rasa kemenangan. Pleeaaassse tolloonngg.. mmmbb aku merajuknya kembali. Belum selesai kata-kata yang keluar dari bibirku, bibir Mbak Rani sudah menerkam bibirku. Maka kubalas pula lumatan-lumatan bibirnya. Bibir kami saling memagut dan saling memilin. Mbak Rani pun menggeser tubuhnya ke atas tubuhku. Kurasakan dadaku yang tertindih dengan dada Mbak Rani. Kekenyalan buah dadanya kurasakan lembut dan hangat di dadaku. Lalu ia menggeserkan pinggulnya ke arah Nova. Novapun paham dengan kelakuan Mbak Rani itu. Ia segera menjulurkan lidahnya ke arah vagina Mbak Rani yang kembali becek itu. Sedangkan bibir Arya menggantikan bibir Nova untuk mengulum batang kemaluanku. Desahan-desahanku dan MbakRani pun hanya tertahan dalam pagutan-pagutan bibir kami. Sementara vagina Mbak Rani dijilati oleh Nova, batang kemaluanku pun dikulum rakus oleh Arya. Sesekali aku tersentak kembali saat lidah Arya bergerak turun ke arah anusku. Tidak berapa lama Nova memberi pelumas di bibir vagina Mbak Rani dengan air liurnya, Mbak rani sudah tidak tahan lagi. Udaacchhh Novv masukin aja kontolnya uddaacchhhsss nggaaakkkgg aahhaannn nicchh..! Lalu Nova memegang batang kamaluanku dalam genggamannya dan menuntunnya ke arah vagina Mbak Rani. Dan bless.., kurasakan ada sesuatu yang hangat dan basah menyentuh setiap kulit di kemaluanku. Ooouucchh yyaaacchh. sshhttt terdengar erangan Mbak Rani saat penisku mulai memasuki lubang vaginanya. Kulihat Mbak Rani hanya mendongakkan kepalanya sambil matanya merem melek sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Lalu perlahan dan pasti, ia naik turunkan pinggulnya dengan dibantu kedua tangan Nova yang membantu memeganginya. Aku pun secara refleks segera menaik-turunkan pinggulku. Lepasin talinya doong Mbak aku mencoba kembali meminta Mbak Rani saat bibir kami terlepas untuk sejenak menarik nafas. Ketika kedua tangan Mbak Rani menuju ke arah tali yang mengikat, tiba-tiba Arya melarangnya. Nggak usah dilepas dulu, Mbak.. Punyaku juga nggak tahann nicchh Aku terkejut mendengar kata-kata Arya itu. Dalam benakku, apa hubungannya tali yang mengikatku dengan punya-nya Arya. Tapi belum sempat aku berpikir lama, kurasakan sesuatu yang kenyal, basah dan hangat menyentuh ujung kemaluanku. Yeaacchhh terrruuusss Jak yang kerraasss..! Mbak rani semakin meracau tidak karuan saat batang kemaluanku mengaduk-aduk dinding dalam vagina Mbak Rani. Konnttollmuuu eennaacckkk Jaakkk.. Aku pun ikut-ikutan mengerang nikmat. Namun, di tengah-tengah kenikmatan yang kurasakan, aku sedikit

tersentak dan kurasakan anusku sedikit perih. Aauuwww ssaakkkiiitt Aarrr..! jeritku ketika kulihat Arya sudah bersimpuh di antara selangkanganku. Kedua kakinya ia selipkan di bawah pahaku. Sehingga secara otomatis, pinggulku agak terangkat ke atas. Saat itu, sejenak aku melupakan kenikmatan yang kudapat dari Mbak Rani. Saat itu aku hanya merasakan perih di lubang anusku. Saat kulihat tubuh Arya, ia tengah sibuk dan perlahan-lahan bergerak maju mundur. Rupanya pertanyaan yang tadi sempat terlintas dalam benakku, kini terjawab sudah. Ternyata Arya ingin bermain anal dengan anusku. Dan mungkin, dalam pikirannya, jika tali itu dilepas, aku pasti menolaknya. Mbak Rani pun sempat kaget ketika mendengar jeritanku. Sejenak ia menoleh ke belakang, dan hanya tersenyum. Lalu kembali merundukkan tubuhnya dan meyambar bibirku yang terbuka. Jeritan-jeritanku pun akhirnya tertahan di mulut Mbak Rani. Kepalaku hanya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri mendapat perlakuan seperti itu. Antara kenikmatan dari batang penisku yang dicengkeram kuat oleh dinding vagina MbakRani dan rasa perih akibat permainan anal dari Arya. Lama-lama kelamaan rasa perih itu berangsurangsur berkurang, berbaur dengan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh sendi tubuhku. Sedangkan Nova yang sedari tadi hanya membantu pinggul Mbak Rani saat bergerak naik turun, mulai ikut aktif dalam permaianan itu. Nova segera mendaratkan ciumannya di bibir Arya. Lalu tangan kanannya pindah ke arah pangkal pahanya dan mulai mengocok-kocok vaginanya sendiri. Namun ternyata, Nova kurang puas dengan posisi seperti itu. Akhirnya Nova pun melepaskan ciumannya dan menarik tubuh Mbak Rani yang sudah tengkurap menindih tubuhku. Lalu langsung menyambar bibir Mbak Rani, sementara tangan kanannya tidak ia lepaskan dari vaginanya sendiri. Dengan tangan kanannya, MbakRani memeluk pinggang Nova. Nova pun menggeser tubuhnya agar bisa enjoy menikmati ciuman Mbak Rani. Novv memeecckk muu ssiinnn niii Noovvv aku nekat meminta vagina Nova untuk kujilati meski dengan kata-kata terputus menikmati permainan sehebat itu. Lalu Nova menggeser pantatnya ke arah wajahku. Dan dalam kedua kaki Nova pun menyilang tepat di atas wajahku. Dan untuk pertama kalinya, aku menjilat-jilat vagina seorang perempuan. Agak asin dan licin saat cairan di bibir vagina Novamenempel di bibirku. Namun tidak berapa lama, aku langsung memiringkan wajahku dan menjerit keras saat kurasakan spermaku hendak muntah dari ujung penisku. Yyaanngghh. kerraasss. Mbaackkk aackkuu mmauuu kellluuaarrrggghh dan saat itulah kuangkat pinggulku dengan keras hingga pantat Mbak Rani yang berada di atas pinggulku juga turut terangkat. Hingga akhirnya, spermaku pun keluar ke dalam vagina Mbak Rani. Sedangkan Mbak Rani ikut mengimbangi gerakanku. Sejenak mereka bertiga diam dalam posisi masing-masing. Penis Arya yang sedang berada di dalam anusku pun kurasakan ikut berhenti sambil meremas-remas pantatku. Mbak Rani pun turut berhenti, meski tanpa melepaskan bibirnya dari bibr Nova. Sedangkan Nova kembali menggesek-gesekkan tangannya di vaginannya sendiri. Rupanya mereka bertiga memberi kesempatan kepadaku untuk menikmati klimaksnya sebuah orgasme. Namun tidak berapa lama, kulihat Arya segera mengocok kemaluannya dengan frekuensi lebih cepat. Begitu juga dengan Mbak Rani yang semakin mempercepat gerakan naik turunnya pinggangnya. Mungkin khawatir, jika penisku mulai mengendur. Hingga akhirnya, Acckkuuu keellluaarrr Jaacckkk Kurasakan cairan keluar dari vagina Mbak Rani meleleh dan memberikan efek hangat di batang kemaluanku yang masih tersimpan di dalam vagina Mbak Rani. Mbak Rani lalu melepaskan jepitan vaginanya, kemudian mendekatkan bibirnya ke arah batang kemaluanku. Penisku pun dilumat habis dalam mulut Mbak Rani. Seiring itu pula, Arya kulihat semakin mengejang dengan nafas agak tertahan. Dan saat ia benamkan seluruh batang kemaluannya dalam anusku, saat itulah kurasakan ada cairan hangat menyentuh dinding-dinding anusku. Arya pun mendapatkan puncak orgasmenya. Arya pun mencabut penisnya dari anusku, dan kemudian ikut menjilat-jilat batang kemaluanku, meski kurasakan batang penisku sudah mulai mengendur. Sedangkan Nova masih saja berkutat dengan jari-jari tangannya yang sibuk mengocok vaginanya sendiri. Mbak Rani, Arya.., tolongin akuu.. dong sambil melentangkan tubuhnya di sampingku dan membuka kedua kakinya. Bibirnya pun diarahkan ke mulutku. Aku pun membalas ciuman bibir Nova. Sementara itu, Mbak Rani dan Arya sibuk menjilat-jilat vagina Nova. Setelah beberapa saat, Nova melepaskan ciumannya, dan, Aaarrrccgghh Nova

mengerang saat mencapai orgasmenya. Ia tersenyum puas ke arahku dan memberikan seulas senyum manis kepadaku. Gimana sayang..? tanyanya menggodaku. Tadi malam, diajak single nggak mau.. sahut Mbak Rani yang menggeser tubuhnya n aik sambil melepaskan tali di kedua tanganku. Arya pun juga sudah melepaskan ikatan tali di kedua kakiku, lalu menyusul naik ke atas. Punya kamu masih sempit, Jak. Masih perawan ya..? kata Arya sambil bergeser mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Kini posisi kami berempat saling berhimpitan di atas sebuah ranjang, saling memeluk dan menyilangkan kaki. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan peristiwa yang baru saja kualami. Kenapa sayang..? tanya Mbak Rani melihat gelengan kepalaku. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mbak Rani, Nova dan Arya pun ikut tersenyum melihat tingkahku. Hingga akhirnya kami terlelap dalam tidur dengan masing-masing masih telanjang. Itulah pengalaman pertamaku melakukan hubungan sex. Pengalaman yang hanya sekali itu kualami. Karena beberapa minggu setelah peristiwa itu, Arya pulang ke daerah asalnya di luar Jawa, karena kuliahnya sudah selesai. Sedangkan Nova, telah menikah. Meskipun katanya masih tinggal di kota ini, tapi aku tidak mendapatkan alamatnya yang jelas. Itu kuketahui saat aku kembali bertandang ke rumah Mbak Rani beberapa minggu kemudian. Sehingga, saat itu aku hanya bercinta dengan Mbak Rani. Single fighter, kata Mbak Rani. Memang peristiwa itu hanya berlangsung beberapa saat, namun peristiwa itu pula yang telah merenggut keperjakaanku sekaligus keperawananku. Hingga saat ini pun, terkadang aku masih ingin mengulangi pengalaman pertamaku itu. Meski sebenarnya, aku yakin jika suatu saat nanti, aku dapat mengulanginya kembali. Namun, hanya setumpuk pertanyaan yang ada di dalam benakku saat ingin kembali mengulanginya. Kapan, dimana dan dengan siapa? TAMAT

LANI, ISTRI TEMANKU

Dia memang seorang wanita yang cukup menarik, umurnya lebih tua dua tahun dariku, dan dia adalah istri teman kantorku. Lani, namanya, memiliki tinggi badan yang lebih kecil dariku, sekitar 160 cm dan memiliki kulit yang bisa dibilang lebih putih daripada orang-orang Indonesia kebanyakan, tapi dia bukanlah keturunan chinese. Di kantorku aku merupakan satu-satunya keturunan chinese, tinggi badan sekitar 172 dan tidak gemuk, yah, wajar lah. Di kantor ini aku menduduki jabatan sebagai wakil kepala akunting. Aku sebenarnya tergolong baru bekerja di perusahaan ini, baru sekitar satu tahun dan aku sudah cukup akrab dengan salah satu pegawai yang bernama Roni. Aku pernah diajak berkunjung ke rumahnya di daerah Jakarta Utara. Disinilah awalnya perkenalan aku dengan Lani. Pada pandangan pertama, aku memang sudah menyadari kecantikan Lani namun pikiran itu aku buang jauh-jauh karena menyadari bahwa dia adalah istri teman aku. Pembicaraan di rumah Roni berlangsung cukup lama dan cukup akrab sekali. Roni tinggal bertiga dengan pembantunya dan istrinya. Aku sendiri sempat makan malam di rumah mereka. Harus aku akui, sambutan mereka di rumahnya benar-benar membuat aku merasa betah dan ingin berlama-lama terus disitu tapi akupun akhirnya harus pulang juga ke rumah. Setelah pertemuan itupun sikap aku terhadap Roni dan sebaliknya pun biasa-biasa saja, tidak ada istimewanya.

Sampai suatu minggu sore jam 3-an handphoneku berbunyi, ternyata dari rumah Roni. Aku pikir Roni yang menghubungi karena perlu sesuatu, ternyata yang kedengaran adalah suara wanita. Halo, ini Hari ya?, kata suara disana. Ya, ini siapa ya?, jawabku. Aku Lani, istri Roni. Masih inget ga? Oh, iya, masih inget. Aku kira siapa..? ada apa nih Lan? Gini Har, aku ingin ketemu dengan kamu. Boleh aku ke rumah kamu? Kamu lagi sendirian di rumah? Boleh aja, dulu aku pernah ke rumah kamu, sekarang boleh aja kalian main ke rumah aku. Kalian datang berdua? Nggak, aku datang sendiri saja. Roni sedang pergi dengan temannya. Sempet bengong juga aku mendengar pernyataan itu. Ada apa gerangan? Mau apa Lani ke rumah aku sendirian sore-sore begini? Banyak pikiran campur aduk di otakku. Halo.. halo.. haloo.. Hari, kamu masih disitu? Eh.. oh.. iya Lan.. Oke, kamu boleh ke rumahku kok sekarang. Aku cuman bingung aja mau siapin makanan apa buat kamu. Ngga perlu repot-repot lagi Har, biasa aja. Aku berangkat yah sekarang. Jarak antara rumahku dengan rumah Roni memang cukup jauh, rumahku terletak di daerah Jakarta Barat sedangkan Roni di Jakarta Utara. Perlu waktu sekitar 45 menit untuk ingin ke rumahku jika dari Jakarta Utara. Rumahku tidak terlalu besar memiliki halaman depan yang cukup untuk satu mobil. Aku memelihara sepasang anjing jenis ukuran yang tidak bisabesar. Rumahku memiliki 4 ruangan kamar, satu kamar terletak di loteng rumah. Sebenarnya ini adalah rumah orang tuaku, namun mereka saat ini sedang pergi keluar negeri sehingga tinggallah aku sendiri di rumah dengan seorang pembantu yang tidak menginap, pembantuku ini hanya datang pada pagi dan sore hari setelah aku pulang kerja dan pada hari sabtu atau minggu, dia datang pagi hari untuk membersihkan rumah. Sedangkan anjing-anjingku aku sengaja sediakan makan dan minumnya berlebih di tempatnya supaya mereka tidak kehausan dan kelaparan jika aku pergi kerja. Setelah membersihkan rumah seadanya, aku menunggu kedatangan Lani sambil menonton televisi. Sambil menunggu, pikiranku tidak bisa konsen ke tv. Banyak pikiran yang berkecamuk dalam otakku mengenai kedatangan Lani yang sendirian ke rumahku. Sekitar setengah jam menunggu akhirnya terdengar suara mobil di depan rumah. Aku segera keluar untuk melihat; ternyata memang Lani yang datang sendirian. Langsung saja aku persilahkan dia masuk, begitu melihat ada tamu, langsung saja anjingku pada ribut. Ehh.. kamu pelihara anjing ya, lucu bangeet, kata Lani sambil mendekati anjingku lalu mengelusnya. Iya. Kamu suka anjing juga Suka banget Kemudian aku persilahkan Lani mauk dan duduk di ruang tamu sementara aku menyiapkan minuman untuk dia. Kamu kok tidak datang bersama Roni? Biasanya kemana-mana berdua melulu? Memangnya harus sama dia terus kalau kemana-mana? Iya dong, apalagi kamu sekarang datang ke rumahku, kalau ketauan sama dia kan, ntar gimana jadinya nanti? Ah.. sudahlah, hal kayak begituan biar aku yang urus dengan Roni, Kata Lani lebih lanjut. Gini Har, aku ingin ngobrol-ngobrol sama kamu nih tentang masalah bisnis. Kamipun berbicara masalah bisnis, ternyata dia kerumahku untuk berbicara mengenai bisnis baru yang akan dirintisnya dan meminta bagaimana pendapat aku dari segi akunting dan manajemennya. Pembicaraan tersebut berlangsung kurang lebih selama satu jam. Sambil berbicara konsentraasiku agak terganggu karena duduk bersebelahan dengan Lani dan hampir berdekatan. Kadang-kadang kalau sedang bicara bertatapan ingin sekali rasanya mencium bibirnya soalnya hanya berjarak sekitar 45 cm. Saat itu Lani berpakaian cukup sederhana, hanya mengenakan kaos dan celana jeans. Namun aku suka sekali apabila melihat perempuan yang berpenampilan seperti itu. Sedangkan aku sendiri tadinya hanya memakai celana hawaii dankaos tapi setelah kedatangan Lani, aku langsung mengganti dengan celana panjang. Akhirnya pembicaraan mengenai bisnis pun selesai, kamipun bersandar lega di sofa yang kami dudukin. Sekarang otakku benar-benar sudah gak karuan deh, pengin rasanya untuk mencium Lani tapi bagaimana caranya? Otakku memutar dengan keras dan akhirnya aku mengambil keputusan untuk mencoba menyenggol tubuhnya. Tanganku dengan sengaja aku bentangkan kedepan badan dia seakan-akan aku sedang meregangkan otot dan menyentuh tangannya.

Kamu cape ya Har setelah ngomongin bisnis?, kata Lani. Iya nih, kalo dipijit enak nih kayaknya, pancingku. Sini biar aku pijitin, kata Lani sambil memegang punggungku. Ntar dulu ah, mao nyalain musik dulu Akupun mulai menyalakan musik, maksduku supaya suasananya nyaman. Kemudian aku mulai duduk membelakangi Lani dan ia mulai memijit punggungku. Gimana har? Enak gak pijitanku?, kata Lani disamping telingaku. Enaak.. Akupun memalingkan wajah menghadap Lani maksudnya ingin bicara sesuatu tapi karena wajah kita berdekatan seperti itu, aku lupa tidak tau mau omongin apa. Situasi saat itu sempat hening sebentar, lalu entah siapa yang mulai, kamipun berciuman dengan penuh hasrat. Langsung aku membalikkan badan dan memeluk tubuh Lani dan membaringkan dia di sofa. Lani hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Sepertinya dia menikmati banget ciuman ini. Aku tidak mendengar suara apapun dari Lani, hanya.. Mmh.. urm.. ss.. Itulah yang terdengar pada waktu kami ciuman. Aku menciumi bibirnya dengan sangat lembut meskipun aku sebenarnya bernapsu banget. Dengan lembut aku mainkan lidahnya, bibirnya. Aku memainkan lidahku didalam mulutnya, kadang-kadang aku tarik lidahnya dengan gigiku saat ada di dalam mulutku. Sambil berciuman aku melihat matanya, ternyata dia menciumku sambil memeramkan matanya, sungguh pemandangan yang menambah laju birahiku. Aku terus menciumi bibirnya, kadang ciumanku lari ke kupingnya serta lehernya. Sengaja aku tidak terlalu napsu menciumi lehernya supaya tidak meninggalkan bekas yang bisa mencurigakan. Demikian juga dengan Lani, ia menciumi seluruh wajah dan leherku dengan bibirnya, saat itu perasaan geli seakan-akan ingin memeluk Lani erat-erat sungguh tak tertahankan. Sejenak kemudian kami mengehentikan akivitas kami karena handphone Lani berbunyi, Kamu angkat dulu deh, siapa tahu suami kamu, kataku sambil tersenyum. Oke, jawabnya tersenyum pula. Lalu Lani mengangkat telpon dan memang benar dari Roni suaminya. Begitu tau dari suaminya, aku langsung mendekati dia, maksudnya untuk mendengarkan pembicaraan mereka dan membantu kalaukalau Lani tidak bisa jawab. Tapi aku tiba-tiba berubah pikiran dan mendekati Lani dan memeluk dia dari belakang sambil menjilati kupingnya. Lani sempat berbalik dan memelototi aku tapi aku tidak perduli. Aku tetap mendekati dia dan menjilati lehernya. Tangankupun mulai menyusup ke dalam kaosnya dan lebih dalam lagi menyusup ke dalam bh-nya. Akupun bisa menjamah putingnya. Begitu aku merasakan putingnya, aku pun mulai memainkannya dengan jari-jari tanganku. Sementara itu Lani sudah tidak bisa mencegahku lagi, diapun mulai menikmatinya dan malahan dia membuka kaosnya dan duduk di sofa kembali. Semua itu dilakukan sambil ia berbicara dengan suaminya di telpon. Lani memberikan alasan bahwa dia sedang jalan-jalan di sebuah gallery busana. Aku juga segera melepaskan baju dan celana panjangku. Ketika Lani sudah duduk di sofa, akupun mulai menciumi tetenya, aku meremas-remas payudara Lani dengan napsu, aku jilatin putingnya dan kadang aku gigit putingnya dengan bibirku. Aku lalu melihat ke wajah Lani.. wahh.. wajah yang pasrah tapi dia masih melihat ke aku sambil memberi isyarat bahwa dia lagi telpon. Sebenarnya dia sudah tidak tahan lagi ingin melepas semuanya tapi karena ia masih nelpon maka ia terpaksa menahan semua gejolak tersebut. Aku tau bahwa saat ini dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak ataupun mendesah karena rangsanganku; yang Lani bisa lakukan adalah menggeliat-geliat tidak keruan berbaring di atas sofa di bawah tubuhku. Ketika kemudian telpon sudah selesai, Lani langsung mengeluarkan gejolak yang tertahan dari tadi, Aahkk.. Harrii.., teriak Lani. Gila kamu ya Har, itu tadi kan si Roni, kalau aku kebablasan tadi gimana coba?, katanya memarahi tapi dengan nada menggoda. Aku cuma tersenyum saja, Tapi kamu suka kan Lan?

Iya sih.., lanjutnya tersenyum. Lalu kami pun melanjutkan kegiatan yang tertunda itu. Aku mulai membuka celana jeansku dan celana jeans Lani beserta dengan celana dalamnya. Aku menciumi paha Lani yang bagian kiri dan meremas pahanya yang kanan. Aku jilatin sambil terus bergerak bergerak ke bagian selangkangannya. Selama itu juga tubuh Lani tidak bisa diam, selalu bergerak dan mendesah. Sampai akhirnya aku menjilati pas di memeknya Lani. Aku terus melakukan kegiatan ini dengan penuh napsu, aku memainkan itilnya sambil kadang-kadang aku hisap dalam-dalam dan aku kulum dengan bibirku. Selama aku melakukan serangan kepada Lani, dia terus berteriak, mendesah, dan menekan kepalaku kuat -kuat seakan-akan tidak mau membiarkan kepalaku pindah dari selangkangannya. Suara yang ditimbulkan oleh Lani membuat aku tambah bergairah dalam melakukan kegiatanku tersebut. Aku menjilati memek Lani makin liar, aku permainkan memeknya sampai dalam dengan lidahku dan jari-jari tanganku juga mulai masuk ke dalamnya sampai akhirnya.. aku merasakan kaki Lani menjepit kepalaku dan tangannya menekan kepalaku sangat kuat serta pinggulnya terlihat menggelinjang dengan dahsyat. Aahh, Harii, uhh Ternyata Lani sudah mencapai klimaksnya yang pertama dalam permainan ini. Aku melihat sebentar ke arah Lani dan dia menatapku sambil tersenyum. Kamu hebat Hari, aku suka sekali, katanya. Masa sihh? Aku masih belum apa-apa nih, jawabku sambil mencium bibirnya. Aku maenin yah kontolmu?, Itu yang aku tunggu sayang, bisikku di telinganya. Maka akupun segera mengambil posisi duduk bersandar di sofa dan dia perlahan mulai jongkok di hadapanku. Mulamula ia mengelus kontolku dengan tangannya, kontolku dielus olehnya dari bijinya sampai ke ujung kepala kontolnya. Lalu ia mulai menjulurkan lidahnya ke ujung kontolku. Begitu lidahnya menyentuh kontolku, aku merasa agak sedikit geli. Kemudian Lani langsung memasukkan seluruh kontolku ke dalam mulutnya. Wah, perasaanku saat itu benar-benar nikmat sekali, urat-urat kontolku yang bergesekkan dengan bibir dan lidahnya memberikan suatu sensasi yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Saat itu yang bisa aku lakukan hanyalah menggeliat-geliat kenikmatan sambil membelai-belai rambutnya Lani. Terkadang giginya Lani menyentuh salah satu bagian kontolku, sakit dikit sih, namun itu tidak mempengaruhi sensasi nikmat yang diberikan. Saat itu kontolku benar-benar diberikan sensasi yang begitu dahsyat, titik-titik syaraf yang ada di seluruh kontolku tidak ada yang tidak tersentuh oleh bibir dan lidahnya Lani, benar-benar permainan yang membuat aku tidak dapat bertahan lama dan akhirnya aku mulai merasakan sesuatu yang mendorong dari dalam dan mengeluarkannya. Ahh.. Hanya itulah kata yang bisa keluar dari dalam mulutku saat semuanya tertumpah keluar. Akupun terbaring lemas namun terasa rilex banget dengan Lani bersandar di dadaku. Tidak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua saat itu. Setelah diam selama sekitar 10 menit, Lani mulai meremas-remas kontolku lagi sambil memandangku. Kamu mau lagi ya Lan? Hmm.., jawabnya sambil terus meremas kontolku. Diberi rangsangan seperti itu, tidak berapa lama kemudian kontolku sudah mulai kekar berdiri lebih tegak daripada tadi. Menurut pengalamanku dan cerita teman-teman, kontol seorang lelaki akan lebih kekar pada ronde kedua daripada ronde pertama dan akan berlangsung lebih lama. Lani terus meremas-remas dan mengelus kontolku kemudian mengulumnya di dalam mulutnya. Akupun mulai mencari-cari daerah dada Lani untuk memainkan kembali tetenya. Begitu aku mendapatkannya, langsung aja aku membaringkan Lani di sofa kembali dan melanjutkan mengulum puting susunya. Aacchh.., Lani menjerit keras-keras ketika aku menggigit-gigit putingnya Rambutku diacak-acak olehnya dan dia mendekap erat-erat kepalaku di dadanya sehingga aku agak kesulitan untuk bernapas. Setelah puas memainkan dadanya, akupun kembali turun ke selangkangannya. Pertama-tama aku mainkan bulu-bulu yang mengitari selangkangannya, aku jilatin bibir memeknya dan aku mainkan itilnya. Saat itu, Lani sudah mendesah dan menggeliat-geliat tidak karuan. Aku sudah merasakan memeknya Lani sudah basah lagi dan sepertinya dia akan mencapai klimaksnya kembali. Namun dengan segera aku menghentikan kegiatan

menjilatku dan berdiri. Kenapa Har..?, tanyanya lemas. Ah, tidak, jawabku tersenyum. Kemudian aku membuka selangkangannya dan mengarahkan kontolku ke lubang itu. Mula-mula aku mengusapusapkan ujung kontolku ke bibir selangkangannya dan pelan-pelan aku masukkan kontolku ke memeknya Lani. Aahh.. Har.. ayo.., desah Lani. Aku masukkin yah sayang.., kataku. Iyaah.. ohh.. cmon honey.. Oke.. Zleeb.. kontolku langsung aku masukkan ke dalam memek Lani. Aacchh.., teriak Lani. Gimana sayang..?, kataku sambil menciumi bibirnya. Harr.. ochh.. yesshh.. teruskann.. Kemudian aku mulai menggerakkan kontolku dalam memeknya, aku putar, aku goyang dengan berbagai macam cara, pendek kata aku mencoba untuk memberikan kenikmatan pada Lani dengan kontolku itu. Harr.. ah.. enak bangett.. uhh.., desah Lani sambil memandangku Enak yah Lan..? Iyah.. ohh.. goyang terus.. Har.., Kami melakukannya dengan penuh gairah, kadang aku mengambil posisi di atasnya menindih badannya sambil memegang telapak tangannya di telentangkan kiri kanan, kadang juga dia yang di atas menindih tubuhku dan aku mendekap dia erat-erat sambil meremas-meremas pantatnya dan dia terus bergoyang kadang berirama kadang tidak. Sampai akhirnya kami sama-sama merasakan ada sesuatu yang keluar dari diri kami masing-masing. Perasaan itu benar-benar merupakan sensasi yang luar biasa bagi kami berdua. Kamipun terbaring lemas di sofa itu, Nina berbaring didekapan dadaku. Pengalaman ini sungguh-sungguh diluar dugaanku sebelumnya ternyata aku telah mengkhianati temanku dengan meniduri istrinya dan mungkin juga pikiran Lani sama denganku bahwa ia sudah mengkhianati suaminya hanya karena selingan belaka. Lan, kamu menyesal sudah melakukannya denganku?, tanyaku padanya. Sedikit sih ada perasaan menyesal, tapi aku tau kok kalau Roni itu sering selingkuh di belakangku, jawabnya lag i. Jadi aku lakukan ini karena ingin membalasnya saja. Ohh begitu Tidak kusangka sama sekali, Roni yang aku kenal sebagai orang yang baik ternyata sudah menyakiti istrinya beberapa kali. Hari, kamu jangan marah ya dengan kelakuanku ini Tentu aja tidak, jawabku tersenyum. Kalau kamu butuh sesuatu lain hari aku bersedia kok bantu kamu. Terima kasih ya Waktu jugalah yang memisahkan kami hari itu, setelah membersihkan diri kemudian Lani pulang meninggalkanku yang penuh dengan pikiran, apa yang akan aku lakukan? Apakah aku akan terus berhubungan dengan Lani? Apakah aku akan berteman terus dengan Roni? Apakah yang akan terjadi kalau kami ketahuan Roni? Pusing aku memikirkan hal itu, akhirnya aku putuskan untuk menjalani saja semuanya sesuai dengan alurnya nanti, namun yang pasti aku menikmati masa-masa bersama Lani tadi sore. Dan akhirnya akupun pergi tidur dengan lelap malam itu memimpikan kejadian yang mungkin akan terjadi hari-hari berikutnya dengan Lani atau dengan siapapun? END

PEMBANTU GUA GANJEN

Sepeninggal Lastri, kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Atun. Atun berambut lurus sebahu, berperawakan sedang , berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm , badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan tetek yang besarnya sedang saja. Yang agak istimewa daripenampilan Atun adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal. Hari pertama kedatangannya , saat memperkenalkan diri , ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, akh, nakal juga nih . Ternyata Atun ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisahdari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah. Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Atun cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan ; dan bilasaya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas. Suatu malam sepulang kerja, Atun seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuksaya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus dibalik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada dibawah pintu tersebut. hah. , saya kaget juga, karena disitu terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang men-jinjit menempel dipintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip , oleh siapa lagi kalau bukan Atun. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi ; saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian ****** saya, meremasremas sehingga ****** sayapun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus meng-kocok-kocok ****** saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara dibelakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras daritarikan nafas. Naahlo.rasain , kata saya dalam hati. Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yangdililitkan kebadan bagian bawah saya, ****** saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan kearah belakang untuk menaruh pakaian kotor. pep..pak.. bapak mau emm.. makan, sapa Atun , oh enggak Tun, sudah makan tolong bikinkan kopi saja, jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran. eehkamu kenapa Tun,..sakit yaa ?, tanya saya ah , tidak pak.. saya cuma sedikit pusing aja, jawab Atun IyaaTun.saya juga sedikit pusing apa kamu bisa mijitin kepala saya bebbisbisa pak, jawab Atun tergagap, sembari matanya terus menerus melirik kearah ****** saya yang menyembul. Sayapun masuk kekamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya; setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk disofa didepan televisi sambil menunggu Atun membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja didepan saya. Tun.tolong nyalakan tv-nya

Atun berjalan kearah televisi untuk menyalakan , saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Atun daribalik dasternya. wah.boleh juga, terasa denyutan di ****** saya, nafsu saya mulai memuncak. Tun. tolong kecilkan sedikit suaranya, kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Atun sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol tv tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali , Atun ternyata tidak memakai BH dan puting teteknya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar. lagi sedikit Tun. kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh , denyutan di ****** saya pun makin keras saja. Ayo ..Tun..pijitin kepala saya kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepalasaya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut. nah..gitu.baru enak, kata saya lagi, tapi film-nya kok jelek banget yaa iya..pakfilm-nya film tua.. katanya. kamu mau lihat film baru, kata saya sambil langsung berdiri dan menuju kearah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Atun kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut. Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba ****** lawan mainnya , tangan Atun mengejang dikepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat keatas kearah Atun; terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker. Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan dikepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru memburu. Atun terlihat bagaiorang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya. Saya langsung saja berdiri dan menuju kebelakangnya; sarung saya jatuhkan kelantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan ****** saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Atun, menjilatjilat sambil menggigit pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak kearah teteknya yang menantang dan meremasremas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Atun tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan kekiri. Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas; Atun diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan ****** saya ke lubang memeknya. Saat kepala ****** saya mulai memasuki memeknya yang sudah basah, Atun sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga ****** saya terbenam seluruhnya. aaaaaaaakh..pak , desah Atun lirih, ennnaaaak.paaaaak Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik ****** saya. Waah. memek Atun bagaikan menjepit ****** saya dan seperti tidak mau melepaskan ****** saya. Memek Atun ternyata sempit sekali dan ****** saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak.plak.plak.. saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Atun. Mulut Atun menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya , matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh , dari pinggang keatas condong kedepan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan. Bila saya menekan ****** saya untuk membenamkannya lebih dalam kelubang memeknya, Atun segera mendorong pantatnya kebelakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian. Aah .. Atun, ternyata luar biasa enaknya memek kamu. Saya benar benar menikmati tubuh dan memek Atun. Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Atun mengejang , kedua kaki nya juga mengejang serta terangkat kebelakang . Memeknya meremas dan menghisap-hisap ****** saya dengan keras dan berusaha untuk menelan ****** saya seluruhnya. aaaaaaaaaaaaahhhhh .. desah Atun panjang Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan ****** saya kuat-kuat kedalam memek Atun. Saya pun melepaskan cairan mani saya kedalam lubang memek Atun yang begitu hangat dan menghisap. hhhhheeeeeeeeeh creeet.creettt..creet tttt Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk kearah sandaran sofa dengan posisi ****** saya masih ada di dalam jepitan memek Atun. Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan kearah belakang ; Atun langsung berbelok kekamarnya,

tapi sebelumnya ia berkata halus, terima kasih yaa pak dan sambil tersenyum nakal ia meremas ****** saya. Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kekamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas. Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus ****** saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. looo .. , pikir saya kok isteri saya tidak bekerja hari ini Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho. ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus -elus ****** saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium ****** saya, yang sudah keras dan tegang. Tun.. ayo naik kesini, kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Atun sudah tidak memakai apa-apa dibalik dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium memeknya yang wangi, sedangkan Atun langsung juga mengulum ****** saya dimulutnya yang kecil; waah Atun langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya. Saya mulai menjilat-jilat memeknya dan sesekali mengulum serta mempermainkan klentitnya dengan lidah saya, Atun tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya, hheeeh.heeeehhh Dari lubang memeknya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat .. mmmhenaknya Setelah itu saya tarik Atun untuk jongkok di atas badan saya, sedangkan saya tetap terlentang dan Atun mulai menurunkan badannya dengan lubang memeknya yang sempit itu tepat kearah batang ****** saya yang sudah sangat tegang sekali. hhhheeehhhh.cleeeep, batang ****** saya masuk langsung kedalam lubang memeknya dan terbenam sampai keujung biji saya, oooohh enak bener Tun.memek kamu kata saya, Atun sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan.. Batang ****** saya terasa mau putus karena enaknya memek Atun, benar-benar nikmat sekali permainan dipagi hari ini; Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas teteknya yang keras. ooooh . Atun.ennaaaak Atun kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, memeknya tetap menjepit batang ****** saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut..Akh , akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang ****** saya sedalam-dalamnya dilubang memek Atun , badan Atun pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme. Pagi hari itu saya dan Atun bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya. Sejak pagi itu, saya selalu dibangunkan oleh isapan lembut dari mulut mungil Atun, kecuali bila hari libur dimana isteri saya berada di rumah.

DOKTER MIRANTI 01

Dalam sebuah seminar sehari di hall Hotel Hilton International di Jakarta, tampak seorang wanita paruh baya berwajahmanis sedang membacakan sebuah makalah tentang peranan wanita modern dalam kehidupan rumah tangga keluarga bekerja. Dengan tenang ia membaca makalah itu sambil sesekali membuat lelucon yang tak ayal membuat para peserta seminar itu tersenyum riuh. Permasalahan yang sedang dibahas dalam seminar itu menyangkut perihal mengatasi problem perselingkuhan para suami yang selama ini memang menjadi topik hangat baik di forum resmi ataupun tidak resmi. Beberapa peserta seminar yang terdiri dari wanita karir, ibu-ibu rumah tangga dan para pelajar wanita itu tampak serius mengikuti jalannya seminar yang diwarnai oleh perdebatan antara pakar sosiologi keluarga yang sengaja diundang untuk menjadi pembicara. Hadir juga beberapa orang wartawan yang meliput jalannya seminar sambil ikut sesekali mengajukan pertanyaan ke arah peserta dan pembicara. Suasana riuh saat wanita pembicara itu bercerita tentang seorang temannya yang bersuamikan seorang pria mata keranjang doyan main perempuan. Berbagai pendapat keluar dalam perdebatan yang diarahkan oleh moderator. Diakhir sesi pertama saat para peserta mengambil waktu istirahat selama tiga puluh menit, tampak wanita pembicara itu keluar ruangan dengan langkah cepat seperti menahan sesuatu. Ia berjalan dengan cepat

menuju toilet di samping hall tempat seminar. Namun saat melewati lorong menuju tempat itu ia tak sadar menabrak seseorang, akibatnya ia langsung terhenyak. Oh, maaf, saya tidak melihat anda, maaf ya?, seru wanita itu pada orang yang ditabraknya, namun orang itu seperti tak mengacuhkan. Oke, sahut pria muda berdasi itu lembut dan berlalu masuk ke dalam toilet pria. Wanita itupun bergegas ke arah toilet wanita yang pintunya berdampingan dengan pintu toilet pria. Beberapa saat lamanya wanita itu di sana lalu tampak lelaki itu keluar dari toilet dan langsung menuju ke depan cermin besar dan mencuci tangannya. Kemudian wanita tadi muncul dan menuju ke tempat yang sama, keduanya sesaat saling melirik. Hai, tegur pria itu kini mendahului. Halo, anda peserta seminar?, tanya si wanita. Oh, bukan. Saya bekerja di sini, maksud saya di hotel ini, jawab pria itu. Oh, kalau begitu kebetulan, saya rasa setelah seminar ini saya akan kontak lagi dengan manajemen hotel ini untuk mengundang sejumlah pakar dari Amerika untuk seminar masalah kesehatan ibu dan anak. Ini kartu namaku, kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya pada pria itu. Lelaki itu mengambil secarik kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada wanita itu. Dokter Miranti Pujiastuti, oh ternyata Ibu ini pakar ilmu kedokteran ibu dan anak yang terkenal itu, maaf saya baru pertama kali melihat Ibu. Sebenarnya saya banyak membaca tulisan-tulisan Ibu yang kontroversial itu, saya sangatmengagumi Ibu, mendadak pria itu menjadi sangat hormat. Ah kamu, jangan terlalu berlebihan memuji aku, dan kamu, hmm, Edo Prasetya, wakil General Manager Hilton International Jakarta. Kamu juga hebat, manajer muda, seru wanita itu sambil menjabat tangan pemuda bernama Edo itu kemudian. Kalau begitu saya akan kontak anda mengenai masalah akomodasi dan acara seminar yang akan datang, senang bertemu anda, Edo, seru wanita itu sambil kemudian berlalu. Baik, Bu dokter, jawab sahut pria itu dan membiarkan wanita paruh baya itu berlalu dari ruangan di mana mereka berbicara. Sejenak kemudian pemuda itu masih tampak memandangi kartu nama dokter wanita itu, ia seperti sedang mengamati sesuatu yang aneh. Bukankah dokter itu cantik sekali?, ia berkata dalam hati. Oh aku benar-benar tak tahu kalau ia dokter yang sering menjadi perhatian publik, begitu tampak cantik di mataku, meski sudah separuh baya, ia masih tampak cantik, benaknya be rbicara sendiri. Ah kenapa itu yang aku pikirkan?, serunya kemudian sambil berlalu dari ruangan itu. Sementara itu di sebuah rumah kawasan elit Menteng Jakarta pusat tampak sebuah mobil memasuki halaman luas rumahitu. Wanita paruh baya bernama dokter Miranti itu turun dari sedan Mercy hitam dan langsung memasuki rumahnya. Wajah manis wanita paruh baya itu tampaknya menyimpan sebuah rasa kesal dalam hati. Sudah seminggu lamanya suami wanita itu belum pulang dari perjalanan bisnis keluar negeri. Sudah seminggu pula ia didera isu dari rekan sejawat suaminya tentang tingkah laku para pejabat dan pengusaha kalangan atas yang selalu memanfaatkan alasan perjalanan bisnis untuk mencari kepuasan seksual di luar rumah alias perselingkuhan. Wanita itu menghempaskan badannya ke tempat tidur empuk dalam ruangan luas itu. Ditekannya remote TV dan melihatprogram berita malam yang sedang dibacakan penyiar. Namun tak berselang lama setelah itu dilihatnya di TV itu seorang lelaki botak yang tak lain adalah suaminya sedang berada dalam sebuah pertemuan resmi antar pengusaha di Singapura. Namun yang membuat hati wanita itu panas adalah saat melihat suaminya merangkul seorang delegasi dagang Singapurayang masih muda dan cantik. Sejenak ia memandang tajam ke arah televisi besar itu lalu dengan gemas ia membanting remote TV itu ke lantai setelah mematikan TV-nya. Ternyata apa yang digosipkan orang tentang suamiku benar terjadi, huh, seru wanita itu dengan hati dongkol. Bangsaat..!, Teriaknya kemudian sambil meraih sebuah bantal guling dan menutupi mukanya. Tak seorangpun mendengar teriakan itu karena rumah besar itu dilengkapi peredam suara pada dindingnya, sehingga empat orang pembantu di rumah itu sama sekali tidak mengetahui kalau sang nyonya mereka sedang marah dan kesal. Ia menangis sejadi-jadinya, bayang-bayang suaminya yang berkencan dengan wanita muda dan cantik itu terus menghantui pikirannya. Hatinya semakin panas sampai ia tak sanggup menahan air matanya yang kini menetes di pipi. Tiga puluh menit ia menangis sejadi-jadinya, dipeluknya bantal guling itu dengan penuh rasa kesal sampai kemudian ia jatuh tertidur akibat kelelahan. Namun tak seberapa lama ia terkulai tiba-tiba ia terhenyak dan

kembali menangis. Rupanya bayangan itu benar-benar merasuki pikirannya hingga dalam tidurnyapun ia masih membayangkan hal itu. Sejenak ia kemudian berdiri dan melangkah keluar kamar tidur itu menuju sebuah ruangan kecil di samping kamar tidurnya, ia menyalakan lampu dan langsung menuju tumpukan obat yang memenuhi sebagian ruangan yang mirip apotik keluarga. Disambarnya tas dokter yang ada di situ lalu membuka sebuah bungkusan pil penenang yang biasa diberikannya pada pasien yang panik. Ditelannya pil itu lalu meminum segelas air. Beberapa saat kemudian ia menjadi tenang kemudian ia menuju ke ruangan kerjanya yang tampak begitu lengkap. Di sana ia membuka beberapa buku, namun bebarapa lamanya kemudian wanita itu kembali beranjak menuju kamar tidurnya. Wajahnya kini kembali cerah, seberkas senyuman terlihat dari bibirnya yang sensual. Ia duduk di depan meja rias dengan cermin besar, hatinya terus berbicara. Masa sih aku harus mengalah terus, kalau bangsat itu bisa berselingkuh kenapa aku tidak, benaknya sambil menatap dirinya sendiri di cermin itu. Satu-persatu di lepasnya kancing baju kerja yang sedari tadi belum dilepasnya itu, ia tersenyum melihat keindahan tubuhnya sendiri. Bagian atas tubuhnya yang dilapisi baju dalam putih berenda itu memang tampak sangat mempesona. Meski umurnya kini sudah mencapai empat puluh tahun, namun tubuh itu jelas akan membuat lelaki tergiur untuk menyentuhnya. Kini ia mulai melepaskan baju dalam itu hingga bagian atas tubuhnya kini terbuka dan hanya dilapisi BH. Perlahan ia berdiri dan memutar seperti memamerkan tubuhnya yang bahenol itu. Buah dadanya yang besar dan tampak menantang itu diremasnya sendiri sambil mendongak membayangkan dirinya sedang bercinta dengan seorang lelaki. Kulitnya yang putih mulus dan bersih itu tampak tak kalah mempesonakan. Kalau bangsat itu bisa mendapat wanita muda belia, kurasa tubuh dan wajahku lebih dari cukup untuk memikat lelaki muda, gumamnya lagi. Akan kumulai sekarang juga, tapi.., tiba-tiba pikirannya terhenti. Selama ini aku tak pernah mengenal dunia itu, siapakah yang akan kucari? hmm... Tangannya meraih tas kerja di atas mejanyanya, dibongkarnya isi tas itu dan menemukan beberapa kartu nama, sejenak ia memperhatikannya. Dokter Felix, lelaki ini doyan nyeleweng tapi apa aku bisa meraih kepuasan darinya? Lelaki itu lebih tua dariku, katanya dalam hati sambil menyisihkan kartu nama rekan dokternya itu. Basuki Hermawan, ah, pejabat pajak yang korup, aku jijik pada orang seperti ini, ia merobek kartu nama itu. Oh ya, pemuda itu, yah, pemuda itu, siapakah namanya, Dodi?.., oh bukan. Doni?.., oh bukan juga, ah di mana sih aku taruh kartu namanya.., ia sibuk mencari, sampai-sampai semua isi tak kerja itu dikeluarkannya namun belum juga ia temukan. Bangsat! Aku lupa di mana menaruhnya, sejenak ia berhenti mencari dan berpikir keras untuk mencoba mengingat di mana kartu nama pemuda gagah berumur dua puluh limaan itu. Ia begitu menyukai wajah pemuda yang tampak polos dan cerdas itu. Ia sudah terbayang betapa bahagianya jika pemuda itu mau diajak berselingkuh. Ahaa! Ketemu juga kau!, katanya setengah berteriak saat melihat kartu nama dengan logo Hilton International. Ia beranjak berdiri dan meraih hand phone, sejenak kemudian ia sudah tampak berbicara. Halo, dengan Edo, maaf Bapak Edo?. Ya benar, saya Edo tapi bukan Bapak Edo, anda siapa, terdengar suara ram ah di seberang. Ah maaf, Edo, saya Dokter Miranti, kamu masih ingat? Kita ketemu di Rest Room hotel Hilton International tadi siang. Oooh, Bu dokter, tentu dong saya ingat. Masa sih saya lupa sama Bu dokter idola saya yang cantik. Eh kamu bisa saja, Do. Gimana Bu, ada yang bisa saya bantu?, tanya Edo beberapa saat setelah itu. Aku ingin membicarakan tentang seminar minggu depan untuk mempersiapkan akomodasinya, untuk itu sepertinya kita perlu berbicara. No problem, Bu. Kapan ibu ada waktu. Lho kok jadi nanya aku, ya kapan kamu luang aja dong. Nggak apa-apa Bu, untuk orang seperti ibu saya selalu siap, gimana kalau besok kita makan siang bersama. Hmm, rasanya aku besok ada operasi di rumah sakit. Gimana kalau sekarang saja, kita makan malam. Wah kebetulan Bu, saya memang lagi lapar. baiklah kalau begitu, saya jemput ibu. Oohh nggak usah, biar ibu saja yang jemput kamu, kamu di mana?. wah jadi ngerepotin dong, tapi oke-lah. Saya tunggu saja di Resto Hilton, okay?. Baik kalau begitu dalam sepuluh menit saya datang, kata wanita itu mengakhiri percakapannya. Lalu dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaian yang dikenakannya dengan gaun terusan dengan belahan di tengah dada. Dengan gesit ia merias wajah dan tubuh yang masih tampak menawan itu hingga tak seberapa lama

kemudian ia sudah tampak anggun. Mbok..!, ia berteriak memanggil pembantu. Dalem, Nyaah!, sahut seorang yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Malam ini ibu ndak makan di rumah, nanti kalau tuan nelpon bilang saja ibu ada operasi di rumah sakit. Baik, Nyah.., sahut pembantunya mengangguk. Sang dokter itupun berlalu meninggalkan rumahnya tanpa diantar oleh sopir. Kini sang dokter telah tampak menyantap hidangan makan malam itu bersama pemuda tampan bernama Edo yang berumur jauh di bawahnya. Maksud wanita itu untuk mengencani Edo tidak dikatakannya langsung. Mereka mulamula hanya membicarakan perihal kontrak kerja antara kantor sang dokter dan hotel tempat Edo bekerja. Namun hal itu tidak berlangsung lama, dua puluh menit kemudian mereka telah mengalihkan pembicaraan ke arah pribadi. Maaf lho, Do. Kamu sudah punya pacar?, tanya sang dokter. Dulu pernah punya tapi, Edo tak melanjutkan kalimatnya. Tapi kenapa, Do?, sergah wanita itu. Dia kawin duluan, ah, Emang bukan nasib saya deh, dia kawin sama seorang om-om senang yang cuma menyenangi tubuhnya. Namanya Rani... Maaf kalau ibu sampai membuat kamu ingat sama masa lalu. Nggak apa-apa kok, Bu. Toh saya sudah lupa sama dia, buat apa cari pacar atau istri yang mata du itan. Sukurlah kalau begitu, trus sekarang gimana perasaan kamu. Maksud ibu?. Perasaan kamu yang dikhianati, apa kamu masih dendam?, tanya sang dokter seperti merasa ingin tahu. Sama si Rani sih nggak marah lagi, tapi sampai sekarang saya masih den dam kesumat sama om-om atau pejabat pemerintah yang seperti itu, jelas Edo pada wanita itu sembari menatapnya. Sejenak keduanya bertemu pandang, Edo merasakan sebuah perasaan aneh mendesir dadanya. Hanya beberapa detik saja keduanya saling memandang sampai Edo tersadar siapa yang sedang dihadapinya. Ah, ma.., ma.., maaf, Bu. Bicara saya jadi ngawur, kata pemuda itu terpatah -patah.Oh nggak, nggak apa-apa kok, Do. Aku juga punya problem yang serupa dengan kamu, jawab wanita itu sambil kemudian mulai menceritakan masalah pribadi dalam keluarganya. Ia yang kini sudah memiliki dua anak yang bersekolah di Amerika itu sedang mengalami masalah yang cukup berat dalam rumah tangganya. Dengan penuh emosi ia menceritakan masalahnya dengan suaminya yang seorang pejabat pemerintah sekaligus pengusaha terkenal itu. Berkali-kali aku mendengar cerita tentang kebejatan moralnya, ia pernah menghamili sekertarisnya di kantor, lalu wanita itu ia pecat begitu saja dan membayar seorang satpam untuk mengawini gadis itu guna menutupi aibnya. Dasar lelaki bangsat, ceritanya pada Edo. Sekarang dia sudah berhubungan lagi dengan seorang wanita pengusaha di luar negeri. Baru tadi aku melihatnya bersama dalam sebuah berita di TV, lanjut wanita itu dengan raut muka yang sedih. Sabar, Bu. Mungkin suatu saat dia akan sadar. Masa sih dia nggak sadar kalau memiliki istri secantik ibu, ujar Edo mencoba menghiburnya. Aku sudah bosan bersabar terus, hatiku hancur, Do. Kamu sudah tahu kan gimana rasanya dikhianati? Dibohongi?, sengitnya sambil menatap pemuda itu dengan tatapan aneh. Wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu pada Edo. Beberapa menit keadaan menjadi vacum. Mereka saling menatap penuh misteri. Dada Edo mendesir mendapat tatapan seperti itu, pikirannya bertanya-tanya. Ada apa ini?, gumamnya dalam hati. Namun belum sempat ia menerka apa arti tatapan itu, tangannya tiba -tiba merasakan sesuatu yang lembut menyentuh, ia terhenyak dalam hati. Desiran dadanya kini berubah menjadi getaran keras di jantungnya. Namun belum sempat ia bereaksi atas semua itu tangan sang dokter itu telah meremas telapak tangan Edo dengan mesra. Kini ia menatap wanita itu, dokter Miranti memberinya senyuman, masih misteri. Edo., kamu dan aku memiliki masalah yang saling berkaitan, katanya perlahan. Ma, maksud ibu?, Edo tergagap. Kehidupan cinta kamu dirusakkan oleh generasi seumurku, dan rumah tanggaku rusak oleh kehidupan bejat suamiku. Kita sama-sama memiliki beban ingatan yang menyakitkan dengan musuh yang sama. lalu?. Kenapa tak kamu lampiaskan dendam itu padaku?. Maksud ibu?, Edo semakin tak mengerti. Aku dendam pada suamiku dan kaum mereka, dan kau punya dendam pada para pejabat yang telah mengecewakanmu. Kini kau menemukan aku, lampiaskan itu. Kalau mereka bisa menggauli generasimu mengapa

kamu nggak menggauli kaum mereka? Aku istri pejabat, dan aku juga dikecewakan oleh mereka. Saya masih belum mengerti, Bu. Maksudku, hmm, kenapa kita tidak menjalin hubungan yang lebih dekat lagi, jelas wanita itu. Edo semakin penasaran, ia memberanikan dirinya bertanya, Maksud ibu, mm, ki, ki, kita berselingkuh?, ia berkata sambil memberanikan dirinya menatap wanita paruh baya itu. Yah, kita menjalin hubungan cinta, jawab dokter Miranti enteng. Tapi ibu wanita bersuami, ibu punya keluarga. Ya, tapi sudah hancur, tak ada harapan lagi. Kalau suamiku bisa mencicipi gadis muda, kenapa aku tidak bisa?, lanjutnya semakin berani, ia bahkan merangkul pundak pemuda itu. Edo hanya terpaku. Ta, tapi, Bu. Seumur perkawinanku, aku hanya merasakan derita, Do. Aku ingin kejantanan sejati dari seorang pria. Dan pria itu adalah kamu, Do, lalu ia beranjak dari tempat duduknya mendekati Edo. Dengan mesra diberinya pemuda itu sebuah kecupan. Edo masih tak bereaksi, ia seperti tak mempercayai kejadian itu. Apakah saya mimpi?, katanya konyol. Tidak, Do. Kamu nggak mimpi, ini aku, Dokter Miranti yang kamu kagumi. Tapi, Bu.., ibu sudah bersuami. Tolong jangan katakan itu lagi Edo. Kemudian keduanya terpaku lama, sesekali saling menatap. Pikiran Edo berkecamuk keras, ia tak tahu harus berkata apa lagi. Sebenarnya ia begitu gembira, tak pernah ia bermimpi apapun. Namun ia masih merasa ragu. Apakah segampang ini?, gumamnya dalam hati. Cantik sekali dokter ini, biarpun umurnya jauh lebih tua dariku tapi oh tubuh dan wajahnya begitu menggiurkan, sudah lama aku memimpikan bercinta dengan wanita istri pejabat seperti dia. Tapi, hatinya bertanya -tanya. Sementara suasana vacum itu berlangsung begitu lama. Kini mereka duduk dalam posisi saling bersentuhan. Baru sekitar tiga puluh menit kemudian dokter Miranti tiba-tiba berdiri. Do, saya ingin ngobrol lebih banyak lagi, tapi nggak di sini, kamu temui saya di Hotel Hyatt. Saya akan memesan kamar di situ. Selamat malam, serunya kemudian berlalu meninggalkan Edo yang masih terpaku. Pemuda itu masih terlihat melamun sampai seorang pelayan restoran datang menyapanya. Pak Edo, bapak mau pesan lagi?. Eh, oh nggak, nggak, aduh saya kok ngelamun, jawabnya tergagap mengetahui dirinya hanya terduduk sendiri. Teman Bapak sudah tiga puluh menit yang lalu pergi dari sini, kata pelayan itu. Oh ya?, sahut Edo seperti orang bodoh. Pelayan itu mengangkat bahunya sambil berlalu. Eh, billnya!, panggil Edo. Sudah dibayar oleh teman Bapak, jawab pelayan itu singkat. Bersambung ke bagian 02

DOKTER MIRANTI 02

Sambungan dari bagian 01 Kini Edo semakin bingung, ia masih merasakan getaran di dadanya. Antara percaya dan tidak. Ia kemudian melangkah kelift dan turun ke tempat parkir. Hanya satu kalimat dokter Miranti yang kini masih terngiang di telinganya. Hotel GrandHyatt! Dengan tergesa-gesa ia menuju ke arah mobilnya. Perjalanan ke hotel yang dimaksud wanita itu tak terasa olehnya, kiniia sudah sampai di depan pintu kamar yang ditanyakannya pada receptionis. Dengan gemetar ia menekan bel di pintu kamar itu, pikirannya masih berkecamuk bingung.

Masuk, Do, sambut dokter Miranti membuka pintu kamarnya. Edo masuk dan langsung menatap dokter Miranti yang kinitelah mengenakan gaun tidur sutra yang tipis dan transparan. Ia masih tampak terpaku. Do, ini memang hari pertemuan kita yang pertama tapi apakah salahnya kalau kita sama-sama saling membutuhkan, kata dokter Miranti membuka pembicaraan. Cobalah realistis, Do. Kamu juga menginginkan ini kan?, lanjut wanita itu kemudian mendudukkan Edo di pinggir tempat tidur luas itu. Edo masih tampak bingung sampai sang dokter memberinya kecupan di bibirnya, ia merasakan seperti ada dorongan untuk membalasnya. Oh, Bu, desahnya sambil kemudian merangkul tubuh bongsor dokter Miranti. Dadanya masih bergetar saat merasakan kemesraan wanita itu. Dokter Miranti kemudian memegang pundaknya dan melucuti pakaian pemuda itu. Dengan perlahan Edo juga memberanikan diri melepas ikatan tali gaun tidur sutra yang dikenakan sang dokter. Begitu tampak buah dada dokter Miranti yang besar dan ranum itu, Edo terhenyak. Oh, indahnya susu wanita ini, gumamnya dalam hati sambil lalu meraba payudara besar yang masih dilapisi BH itu. Tangan kirinya berusaha melepaskan kancing BH di punggung dokter Miranti. Ia semakin terbelalak saat melihat bentuk buah dada yang kini telah tak berlapis lagi. Tanpa menunggu lagi nafsu pemuda itu bangkit dan ia segera meraih buahdada itu dan langsung mengecupnya. Dirasakannya kelembutan susu wanita cantik paruh baya itu dengan penuh perasaan, ia kini mulai menyedot puting susu itu bergiliran. Ooohh, Edo, nikmat sayang., mm sedot terus sayang ooohh, ibu sayang kamu, Do, ooohh, desah dokter Mirantiyang kini mendongak merasakan sentuhan lidah dan mulut Edo yang menggilir kedua puting susunya. Tangan wanita itupun mulai meraih batang kemaluan Edo yang sudah tegang sedari tadi, ia terhenyak merasakan besar dan panjangnya penis pemuda itu. Ohh, besarnya punya kamu, Do. Tangan ibu sampai nggak cukup menggenggamnya, seru dokter Miranti kegirangan. Ia kemudian mengocok-ngocokkan penis itu dengan tangannya sambil menikmati belaian lidah Edo di sekitar payudara dan lehernya. Kemaluan Edo yang besar dan panjang itu kini tegak berdiri bagai roket yang siap meluncur ke angkasa. Pemuda yangsebelumnya belum pernah melakukan hubungan seks itu semakin terhenyak mendapat sentuhan lembut pada penisnyayang kini tegang. Ia asyik sekali mengecupi sekujur tubuh wanita itu, Edo merasakan sesuatu yang sangat ia dambakan selama ini. Ia tak pernah membayangkan akan dapat menikmati hubungan seks dengan wanita yang sangat ia kagumi ini, iayang sebelumnya bahkan hanya menonton film biru itu kini mempraktekkan semua yang ia lihat di dalamnya. Hatinya begitu gembira, sentuhan-sentuhan lembut dari tangan halus dokter Miranti membuatnya semakin terlena. Dengan mesra sekali wanita itu menuntun Edo untuk menikmati sekujur tubuhnya yang putih mulus itu. Dituntunnya tangan pemuda itu untuk membelai lembut buah dadanya, lalu bergerak ke bawah menuju perutnya dan berakhir di permukaan kemaluan wanita itu. Edo merasakan sesuatu yang lembut dan berbulu halus dengan belahan di tengahnya. Pemuda itu membelainya lembut sampai kemudian ia merasakan cairan licin membasahi permukaan kemaluan dokter Miranti. Ia menghentikan gerakannya sejenak, lalu dengan perlahan sang dokter membaringkan tubuhnya dan membuka pahanya lebar hingga daerah kemaluan yang basah itu terlihat seperti menantang Edo. Pemuda itu terbelalak sejenak sebelum kemudian bergerak menciumi daerah itu, jari tangan dokter Miranti kemudian menarik bibir kemaluannya menjadi semakin terbuka hingga menampakkan semua isi dalam dinding vaginanya. Edo semakin terangsang, dijilatinya semua yang dilihat di situ, sebuah benda sebesar biji kacang di antara dinding vagina itu ia sedot masuk ke dalam mulutnya. Hal itu membuat dokter Miranti menarik nafas panjang merasakan nikmat yang begitu hebat. Ohh, hmm, Edo, sayang, ooohh, desahnya mengiringi bunyi ciplakan bibir Edo yang bermain di permukaan vaginanya. Dengan gemas Edo menjilati kemaluan itu, sementara dokter Miranti hanya bisa menjerit kecil menahan nikmat belaian lidah Edo. Ia hanya bisa meremas-remas sendiri payudaranya yang besar itu sambil sesekali menarik kecil rambut Edo. Aduuuh sayang, ooohh nikmaat, sayang, oooh Edo, ooohh pintarnya kamu sayang, ooohh nikmatnya, ooohh sedooot teruuusss, ooohh enaakkk, hmm, ooohh, jeritnya terpatah-patah. Puas menikmati vagina itu, Edo kembali ke atas mengarahkan bibirnya kembali ke puting susu dokter Miranti. Sang dokterpun pasrah saja, ia membiarkan dirinya menikmati permainan Edo yang semakin buas saja. Daerah sekitar puting susunya tampak sudah kemerahan akibat sedotan mulut Edo. ooohh, Edo sayang. Berikan penis kamu sama ibu sayang, ibu ingin mencicipinya, pinta wanita itu sambil beranjak bangun dan menggenggam kemaluan Edo. Tangannya tampak bahkan tak cukup untuk menggenggamnya, ukurannya yangsuper besar dan panjang membuat dokter Miranti seperti tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Wanita itu mulai mengulum penis Edo, mulutnya penuh sesak oleh kepala penis yang besar itu, hanya sebagian kecil saja kemaluan Edoyang bisa masuk ke mulutnya sementara sisanya ia kocok-kocokkan dengan telapak tangan yang ia lumuri air liurnya. Edokini menikmati permainan itu. Auuuhh, Bu, ooohh, enaakk aahh Bu dokter, oooh nikmat sekali, mm, oooh enaknya, ooohh, ssstt, aahh, desah pemuda itu mulai menikmatinya. Sesaat kemudian, Dokter Miranti melepaskan kemaluan yang besar itu lalu membaringkan dirinya kembali di pinggiran tempat tidur. Edo meraih kedua kaki wanita itu dan langsung menempatkan dirinya tepat di depan selangkangan dokter Miranti yang terbuka lebar. Dengan sangat perlahan Edo mengarahkan kemaluannya menuju liang vagina yang menganga itu dan, Sreett.., bleeesss. Aduuuhh, aauuu Edooo, sa.., sa.., sakiiittt, vaginaku robeeek aahh, sakiiit, teriak dokter Miranti merasakan vaginanya yang ternyata terlalu kecil untuk penis Edo yang super besar, ia merasakan vaginanya robek oleh terobosan penis Edo. Lebih dahsyat dari saat ia mengalami malam pertamanya. Edo sayang, punya kamu besar sekali. Vaginaku rasanya robek do, main yang pelan aja ya, sayang?, pintanya lalu pada Edo. Ouuuhh, ba.., ba.., baik, Bu, jawab Edo yang tampak sudah merasa begitu nikmat dengan masuknya penis ke dalam vagina dokter Miranti. Kini dibelainya rambut sang dokter sambil menciumi pipinya yang halus dengan mesra. Pemuda itu mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vagina dokter Miranti dengan perlahan sekali sampai beberapa menit kemudian rasa sakit yang ada dalam vagina wanita itu berubah menjadi nikmat, barulah Edo mulai bergerak menggenjot tubuh wanita itu dengan agak cepat. Gerakan tubuh mereka saling membentur mempertemukan kedua kemaluan mereka. Nafsu birahi mereka tampak begitu membara dari gerakan yang semakin lama semakin menggairahkan, teriakan kecil kini telah berubah menjadi desah keras menahan nikmatnya hubungan seks itu. Keduanya tampak semakin bersemangat, saling menindih bergilir menggenjot untuk meraih tahap demi tahap kenikmatan seks itu. Edo yang baru pertama kali merasakan nikmatnya hubungan seks itu benar-benar menikmati keluar masuknya penis besar itu ke dalam liang vagina sang dokter yang semakin lama menjadi semakin licin akibat cairan kelamin yangmuali melumasi dindingnya. Demikian pula halnya dengan dokter Miranti. Ia begitu tampak kian menikmati goyangan tubuh mereka, ukuran penis Edo yang super besar dan terasa merobek liang vaginanya itu kini menjadi sangat nikmat menggesek di dalamnya. Ia berteriak sejadi-jadinya, namun bukan lagi karena merasa sakit tapi untuk mengimbangi dahsyatnya kenikmatan dari penis pemuda itu. Tak pernah ia bayangkan akan dapat menemukan penis sebesar dan sepanjang milik Edo, penis suaminya yang bahkan ia tahu sering meminum obat untuk pembesar alat kelamin tak dapat dibandingkan dengan ukuran penis Edo. Baru pertama kali ini ia melihat ada kemaluan sebesar itu, panjang dan keras sekali. Bunyi teriakan nyaring bercampur decakan becek dari kedua alat kelamin mereka memenuhi ruangan luas di kamar suite hotel itu. Desahan mereka menahan kenikmatan itu semakin memacu gerakan mereka menjadi kian liar. Ooohh, ooohh, ooohh, enaak, oooh, enaknya bu, ooohh nikmat sekali ooohh, desah Edo. mm, aahh, goyang terus, Do, ibu suka sama punya kamu, ooohh, enaknya, sayang ooohh, ibu sayang kamu Edo, ooohh, balas dokter Miranti sambil terus mengimbangi genjotan tubuh pemuda itu dengan menggoyang pinggulnya. Lima belas menit lebih mereka melakukannya dengan posisi itu dimana Edo menindih tubuh sang dokter yang mengapit dengan pahanya. Kini saatnya mereka ingin mengganti gaya. Ouuuhh Edo sayang, ganti gaya yuuuk?, ajak sang dokter sambil menghentikan gerakannya. Baik, Bu, jawab pemuda itu mengiyakan. Kamu di bawah ya sayang? Ibu pingin goyang di atas tubuh kamu, katanya sambil menghentikan gerakan tubuh Edo, pemuda itu mengangguk sambil perlahan melepaskan penisnya dari jepitan vagina dokter Miranti. Kemudian ia duduk sejenak mengambil nafas sambil memandangi tubuh wanita itu. uuuh, cantiknya wanita ini, ia bergumam dalam hati lalu berbaring menunggu dokter Miranti yang sudah siap menungganginya. Kini wanita itu berjongkok tepat di atas pinggang Edo, ia sejenak menggenggam kemaluan pemuda itu sebelum kemudian memasukkannya kembali ke dalam liang vaginanya dengan perlahan dan santai. Kembali ia mendesah merasakan penis itu masuk menembus dinding kemaluannya dan menerobos masuk sampai dasar liang vagina yang terasa sempit oleh Edo. Ooouuuhh, desahnya memulai gerakan menurun-naikkan pinggangnya di atas tubuh pemuda itu.

Edo meraih payudara montok yang bergantungan di dada sang dokter, sesekali ia meraih puting susu itu dengan mulutnya dan menyedot-nyedot nikmat. Keduanya kembali terlibat adegan yang lebih seru lagi, dengan liar dokter Miranti menggoyang tubuh sesuka hati, ia tampak seperti kuda betina yang benar-benar haus seks. Ia yang baru kali ini menikmati hubungan seks dengan lelaki selain suaminya itu benar-benar tampak bergairah, ditambah dengan ukuran kemaluan Edo yang super besar dan panjang membuatnya menjadi begitu senang. Dengan sepenuh hati ia raih kenikmatan itu detik demi detik. Tak semili meterpun ia lewatkan kenikmatan penis Edo yang menggesek dinding dalam kemaluannya. Ia semakin berteriak sejadi-jadinya. Aahh, ooohh, aahh, ooohh, ooohh, enaak, ooohh, nikmaatt, sekali, Edo sayaanngg, ooohh Edo, Do, enaak sayang ooohh, teriaknya tak karuan dengan gerakan liar di atas tubuh pemuda itu sembari menyebut nama Edo. Ia begitu menyukai pemuda itu. Ooohh Bu dokter, ooohh, ibu juga pintar mainnya, ooohh, Bu dokter cantik sekali, balas Edo. Remas susu ibu, Do. ooohh, sedot putingnya sayang, ooohh pintarnya kamu, oooh, ibu senang sama punya kamu, ooohh, nikmatnya sayang, ooohh, panjang sekali, ooohh, enaak, lanjut sang dokter dengan gerakan yang semakin liar. Edo mengimbangi gerakan itu dengan mengangkat-angkat pantatnya ke arah pangkal paha dokter Miranti yang mengapitnya itu. Ia terus menghujani daerah dada sang dokter yang tampak begitu disenanginya, puting susu itupun menjadi kemerahan akibat sedotan mulut Edo yang bertubi-tubi. Namun beberapa saat kemudian sang dokter tampak tak dapat lagi menahan rasa nikmat dari penis pemuda itu. Ia yang selama dua puluh menit menikmati permainan itu dengan garang, kini mengalami ejakulasi yang begitu hebat. Gerakannya berubah semakin cepat dan liar, diremasnya sendiri buah dada montoknya sambil lebih keras lagi menghempaskan pangkal selangkangannya pada penis Edo hingga sekitar dua menit berlalu ia berteriak panjang sebelum kemudian menghentikan gerakannya dan memeluk tubuh pemuda itu. Ooohh, ooohh, aauu, aku keluarr, Edo, aahh, aah, aku, nggak kuat lagi aku, Do, ooohh, enaaknya, sayang, ooohh, Edo sayang, hhuuuh, ibu nggak tahan lagi, jeritnya panjang sambil memeluk erat tubuh Edo, cairan kelamin dalam rahimnya muncrat memenuhi liang vagina di mana penis Edo masih tegang dan keras. Ooohh nikmat bu, ooohh punya ibu tambah licin dan nikmat, ooohh, nikmat Bu dokter, ooohh, semakin nikmat sekali Bu dokter, ooohh, enaak, mm, ooohh, uuuhh, ooohh, ooohh, nikmat sekali, uuuhh, Bu dokter cantik, aauuuhh, ssshh nikmat bu, desah Edo merasakan kenikmatan dalam liang vagina sang dokter yang tengah mengalami ejakulasi, vagina itu terasa makin menjepit penisnya yang terus saja menggesek dinding vagina itu. Kepala penisnya yang berada jauh di dalam liang vagina wanita itu merasakan cairan hangat menyembur dan membuat liang vagina sang dokter terasa semakin nikmat dan licin. Pemuda itu membalas pelukan dokter Miranti yang tampak sudah tak sanggup lagi menggoyang tubuhnya di atas tubuh Edo. Sejenak gerakan mereka terhenti meski Edo sedikit kecewa karena saat itu ia rasakan vagina sang dokter sangat nikmat. Ia berusaha menahan birahinya yang masih saja membara dengan memberi ciuman mesra pada wanita cantik itu. Oh Edo sayang, kamu kuat sekali mainnya sayang, aku puas sekali, ibu betul -betul merasa seperti berada di tempat yang paling indah dengan sejuta kenikmatan cinta. Kamu betul-betul jago, katanya pada Edo sambil memandang wajah pemuda itu tepat di depan matanya, dipeluknya erat pinggang Edo untuk menahan goyangan penis di selangkangannya. Sejenak Dokter Miranti beristirahat di pelukan pemuda itu, ia terus memuji kekuatan dan kejantanan Edo yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan sekalipun dari suaminya. Matanya melirik ke arah jam dinding di kamar itu. Edo.., sapanya memecah keheningan sesaat itu. Ya, bu?, jawab Edo sambil terus memberi kecupan pada pipi dan muka sang dokter yang begitu ia senangi. Sudah satu jam lamanya kita bermain, kamu hebat sekali, Do, lanjutnya terheran -heran. Saya baru sekali ini melakukannya, Bu, jawab Edo. Ah masa sih, bohong kamu, Do, sergah dokter Miranti sambil membalas ciuman Edo di bibirnya. Benar kok, Bu. Sumpah saya baru kali ini yang pertama kalinya, Edo bersikeras. Tapi kamu mainnya kok hebat banget? Dari mana kamu tahu gaya-gaya yang tadi kita lakukan, lanjut sang dokter tak percaya. Saya hanya menonton film, Bu, jawab pemuda itu. Bersambung ke bagian 03

DOKTER MIRANTI 03

Sambungan dari bagian 02 Beberapa menit mereka ngobrol diselingi canda dan cumbuan mesra yang membuat birahi sang dokter bangkit untuk mengulangi permainannya. Dirasakannya dinding vagina yang tadinya merasa geli saat mengalami ejakulasi itu mulai terangsang lagi. Edopun merasakan gejala itu dari denyutan vagina sang dokter. Edo melepaskan pelukannya, lalu menempatkan diri tepat di belakang punggung sang dokter, tangannya nenuntun penis besar itu ke arah permukaan lubang kemaluan dokter Miranti yang hanya pasrah membiarkannya mengatur gaya sesuka hati. Pemuda itu kini berada tepat di belakang menempel di punggung sang dokter, lalu perlahan sekali ia memasukkan penis besarnya ke dalam liang sang dokter dari arah belakang pantatnya. Ooohh, pintarnya kamu Edo, oooh ibu suka gaya ini, mm, goyang teruuuss, aahh, nikmat do, ooohh, sampai pangkalnya terusss, ooohh, enaak..tarik lagi sayang ooohh, masukin lagii ooohh, sampai pangkal nya Edo, ooohh, sayang nikmat sekali, ooohh, oohh Edo, ooohh, mm, Edo, sayang, desah sang dokter begitu merasakannya, atas bawah tubuhnya merasakan kenikmatan itu dengan sangat sempurna. Tangan Edo meremas susunya sementara penis pemuda itu tampak jelas keluar masuk liang vaginanya. Keduanya kembali terlihat bergoyang mesra meraih detik demidetik kenikmatan dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Demikian juga dengan Edo yang menggoyang dari arah belakang itu, ia terus meremas payudara montok sang dokter sambil memandang wajah cantik yang membuatnya semakin bergairah. Kecantikan Dokter Miranti yang sangat menawan itu benar-benar membuat gairah bercinta Edo semakin membara. Dengan sepenuh hati digoyangnya tubuh bahenol dan putih mulus itu sampai-sampai suara decakan pertemuan antara pangkal pahanya dan pantat besar sang dokter terdengar keras mengiringi desahan mulut mereka yang terus mengoceh tak karuan menikmati hebatnya rasa dari permainan itu. Sekitar dua puluh menit berlalu tampak kedua insan itu sudah tak dapat menahan lagi rasa nikmat dari permainan mereka hingga kini keduanya semakin berteriak keras sejadi-jadinya. Tampaknya mereka ingin segera menyelesaikan permainannya secara bersamaan. Huuuh, ooohh, ooohh, aahh, ooohh, nikmat sekali Do, goyang lagi sayang, ooohh, ibu mau kelu ar sebentar lagi sayang, ooohh, goyang yang keras lagi sayang, ooohh, enaknya penis kamu, ooohh, ibu nggak kuat lagi oooh, jerit dokter Miranti. Uuuhh, aahh, ooohh, mm, aah, saya juga mau keluar Bu, ooohh, dokter Miranti sayaang, ooohh, mm, enaakk sekali, ooohh, ooohh, dokter sayang, ooohh, dokter cantik, ooohh, enaakk, dokter dokter sayang, ooohh, vagina dokter juga nikmat sekali, oooh, teriak Edo juga. Ooohh enaknya sayang, ooohh, pintar kamu sanyang, ooohh, kocok terus, oooh, genjot yang keraass, ooohh. Ooohh dokter, susunya, ooohh, saya mau sedot, ooohh, Edo meraih susu sang dokter lalu menyedotnya dari arah samping. Oooh Edo pintarnya kamu sayang, ooohh, nikmatnya, ooohh, ibu sebentar lagi keluar sayang, ooohh, keluarin samaan yah, ooohh, ajak sang dokter. Saya juga mau keluar Bu, yah kita samaan Bu dokter, ooohh, vagina ibu nikmat sekali, ooohh, mm, enaknya, ooohh, teriak Edo sambil mempercepat lagi gerakannya. Namun beberapa saat kemudian dokter Miranti berteriak panjang mengakhiri permainannya. Aauuuwww, ooohh, Edooo, ibu nggak tahan lagiii, keluaar, aauhh nikmatnya sayang, ooohh, jeritnya panjang sambil membiarkan cairan kelaminnya kembali menyembur ke arah penis Edo yang masih menggenjot dalam liang kemaluannya. Edo merasakan gejala itu lalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya keluar juga, beberapa saat ia merasakan vagina sang dokter menjepit kemaluannya keras diiringi semburan cairan mani yang deras ke arah penisnya. Dan beberapa saat kemudian ia akhirnya berteriak panjang meraih klimaks permainan. Ooohh, aahh, oooww,aahh, dokter, Miranti, sayyaang, oooh, enaak sekalii, ooohh saya juga keluaarr, ooohh, jeritnya panjang sesaat setelah sang dokter mengakhiri teriakannya.

Edo sayang, ooohh, jangan di dalam sayang, ooohh, ibu nggak pakai alat kontrasepsi, ooohh, sini keluarin di luar Edo, sayang berikan pada ibu, oooh, enaknya, cabut sayang. Semprotkan ke Ibu, ooohh, pintanya sembari merasakan nikmatnya denyutan penis Edo. Ia baru sadar dirinya tak memakai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Didorongnya tubuh Edo sambil meraih batang penis yang sedang meraih puncak kenikmatan itu. Kemudian pemuda itu mencabut penisnya dengan tergesa-gesa dari liang kemaluan sang dokter dan, Cropp bresss, crooottt.., crooott.., creeess, cairan kelamin Edo menyembur ke arah wajah sang dokter. Edo berdiri mengangkang di atas tubuhnya dan menyemburkan air maninya yang sangat deras dan banyak ke arah badan dan muka sang dokter. Sebagian cairan itu bahkan masuk ke mulut sang dokter. Ohh, sayang,terus ooohh, berikan pada ibu, ooohh, hmm, nyam, enaknya, ooohh, semprotkan pada ibu, ooohh, ibu ingin meminumnya Edo, ooohh, enaakkknya sayang, oooh, lezat sekali, jerit wanita itu kegirangan sambil menelan habis cairan mani pemuda itu ke dalam mulutnya, bahkan belum puas dengan itu ia kembali meraih batang penis Edo dan menyedot keras batang kemaluannya dan menelan habis sisa-sisa cairan itu hingga Edo merasakan semua cairannya habis. Ooohh Bu dokter, ooohh dokter, saya puas sekali bu, kata Edo sembari merangkul tubuh sang dokter dan kembali berbaring di tempat tidur. Kamu kuat sekali Edo, sanggup membuat ibu keluar sampai dua kali, kamu benar-benar hebat dan pintar mainnya, ibu suka sekali sama kamu. Nggak pernah sebelumnya ibu merasakan kenikmatan seperti ini dengan suami ibu. Dia bahkan tak ada apa-apanya dibanding kamu, seru sang dokter pada Edo sambil mencium dada pemuda itu. Saya juga benar-benar puas sekali, Bu. Ibu memberikan kenikmatan yang nggak pernah saya rasakan sebelumnya. Sekarang saya tahu bagaimana nikmatnya bercinta, jawab Edo sekenanya sambil membalas ciuman dokter Miranti. Tangannya membelai halus permukaan buah dada sang dokter dan memilin-milin putingnya yang lembut. Tapi apakah ibu tidak merasa berdosa pada suami Ibu, kita sedang berselingkuh dan ibu punya keluarga, sergah Edo sambil menatap wajah manis dokter Miranti. Apakah aku harus setia sampai mati sementara dia sekarang mungkin sedang asyik menikmati tubuh wanita wanita lain?. Benarkah?. Aku pernah melihatnya sendiri, Do. Waktu itu kami sedang berlibur di Singapura bersama kedua anakku, lanjut sang dokter memulai ceritanya pada Edo. Edo hanya terdiam mendengar cerita dokter Miranti. Ia menceritakan bagaimana suaminya memperkosa seorang pelayanhotel tempat mereka menginap waktu ia dan anak-anaknya sedang berenang di kolam hotel itu. Betapa terkejutnya ia saat menemukan sang pelayan keluar dari kamarnya sambil menangis histeris dan terisak menceritakan semuanya pada manajer hotel itu dan dirinya sendiri. Kamu bisa bayangkan, Do. Betapa malunya ibu, sudah bertahan-tahun kami hidup bersama, dengan dua orang anak, masih saja dia berbuat seperti itu, dasar lelaki kurang ajar, bangsat dia itu, ceritanya pada Edo de ngan muka sedih. Maaf kalau saya mengungkap sisi buruk kehidupan ibu dan membuat ibu bersedih. Tak apa, Do. Ini kenyataan kok. Dilihatnya sang dokter meneteskan air mata, Saya tidak bermaksud menyinggung ibu, oh.., Edo berusaha menenangkan perasaannya, ia memeluk tubuh sang dokter dan memberinya beberapa belaian mesra. Tak disangkanya dibalik kecantikan wajah dan ketenaran sang dokter ternyata wanita itu memiliki masalah keluarga yang begitu rumit. Tapi saya yakin dengan tubuh dan wajah ibu yang cantik ini ibu bisa dapatkan semua yang ibu inginkan, apalagi dengan permaian ibu yang begitu nikmat seperti yang baru saja saya rasakan, bu, Kata Edo menghibur sang dokter. Ah kamu bisa aja, Do. Ibu kan sudah nggak muda lagi, umur ibu sekarang sudah empat puluh tiga tahun, lho?. Tapi, Bu terus terang saja saya lebih senang bercinta dengan wanita dewasa seperti ibu. Saya suka sekali bentuk tubuh ibu yang bongsor ini, lanjut pemuda itu sambil memberikan ciuman di pipi sang dokter, ia mempererat pelukannya. Kamu mau pacaran sama ibu?. Kenurut ibu apa yang kita lakukan sekarang ini bukannya selingkuh?, tanya Edo. Kamu benar suka sama ibu?. Benar, Bu. Sumpah saya suka sama Ibu, Edo mengecup bibir wanita itu. Oh Edo sayang, ibu juga suka sekali sama kamu. Jangan bosan yah, sayang?. Nggak akan, bu. Ibu begitu cantik dan molek, masa sih saya mau bosan. Saya sama sekali tidak tertarik pada gadis remaja atau yang seumur. Ibu benar-benar sesuai seperti yang saya idam-idamkan selama ini. Saya selalu ingin bermain cinta dengan ibu-ibu istri pejabat. Tubuh dan goyang Bu dokter sudah membuat saya benar-benar puas.

Mulai sekarang kamu boleh minta ini kapan saja kamu mau, Do. Ibu akan berikan padamu, jawab sang dokter sambil meraba kemaluan Edo yang sudah tampak tertidur. Terima kasih, Bu. Ibu juga boleh pakai saya kapan saja ibu suka. Ibu sayang kamu, Do. Saya juga, Bu. oooh dokter Miranti, desah pemuda itu kemudian merasakan penisnya teremas tangan sang dokter. Oooh Edo, sayang.., balas dokter Miranti menyebut namanya mesra. Kembali mereka saling berangkulan mesra, tangan mereka meraih kemaluan masing-masing dan berusaha membangkitkan nafsu untuk kembali bercinta. Edo meraih pantat sang dokter dengan tangan kirinya, mulutnya menyedot bibir merah sang dokter. Oooh dokter Miranti, sayang, ooohh, desah Edo merasakan penisnya yang mulai bangkit lagi merasakan remasan dan belaian lembut tangan sang dokter. Sementara tangan pemuda itu sendiri kini meraba permukaan kemaluan dokter Miranti yang mulai terasa basah lagi. ooohh, uuuhh Edo sayang, nikmat.sayang, ooohh Edo, Ibu pingin lagi, Do, ooohh, kita main lagi sayang, ooohh, desah manja dan menggairahkan terdengar dari mulut dokter Miranti. Uuuhh, saya juga kepingin lagi Bu dokter, ooohh, Ibu cantik sekali, oooh, dokter Miranti sayang, ooohh, remas terus penis saya Bu, ooohh. Ibu suka penis kamu Do, bentuknya panjang dan besar sekali. ooouuuhh, baru pertama ini ibu merasakan penis seperti ini, suara desah dokter miranti memuji kemaluan Edo. Begitu mereka tampak tak tahan lagi setelah melakukan pemanasan selama lima belas menit, lalu kembali keduanya terlibat permainan seks yang hebat sampai kira-kira pukul empat dini hari. Tak terasa oleh mereka waktu berlalu begitu cepat hingga membuat tenaga mereka terkuras habis. Dokter Miranti berhasil meraih kepuasan sebanyak empat kali sebelum kemudian Edo mengakhiri permainannya yang selalu lama dan membuat sang dokter kewalahan menghadapinya. Kejantanan pemuda itu memang tiada duanya. Ia mampu bertahan selama itu, tubuh sang dokter yang begitu membuatnya bernafsu itu digoyangnya dengan segala macam gaya yang ia pernah lihat dalam film porno. Semua di praktikkan Edo, dari doggie style sampai 69 ia lakukan dengan penuh nafsu. Mereka benar-benar mengumbar nafsu birahi itu dengan bebas. Tak satupun tempat di ruangan itu yang terlewat, dari tempat tidur, kamar mandi, bathtub, meja kerja, toilet sampai meja makan dan sofa di ruangan itu menjadi tempat pelampiasan nafsu seks mereka yang membara. Akhirnya setelah melewati ronde demi ronde permainan itu mereka terkulai lemas saling mendekap setelah Edo mengalami ejakulasi bersamaan dengan orgasme dokter Miranti yang sudah empat kali itu. Dengan saling berpelukan mesra dan kemaluan Edo yang masih berada dalam liang vagina sang dokter, mereka tertidur pulas. Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat indah bagi keduanya. Edo yang baru pertama kali merasakan kehangatan tubuh wanita itu benar-benar merasa puas. Dokter Miranti telah memberinya sebuah kenikmatan yang selama ini sangat ia dambakan. Bertahun-tahun lamanya ia bermimpi untuk dapat meniduri istri pejabat seperti wanita ini, kini dokter Miranti datang dengan sejuta kenikmatan yang ia berikan. Semalam suntuk penuh ia lampiaskan nafsu birahinya yang telah terpendam sedemikian lama itu di tubuh sang dokter, ia lupa segalanya. Edo tak dapat mengingat sudah berapa kali ia buat sang dokter meronta merasakan klimaks dari hubungan seks itu. Cairan maninya terasa habis ia tumpahkan, sebagian di mulut sang dokter dan sebagian lagi disiramkan di sekujur tubuh wanita itu. Begitupun dengan dokter Miranti, baginya malam yang indah itu adalah malam pertama ia merasakan kenikmatan seksual yang sesungguhnya. Ia yang tak pernah sekalipun mengalami orgasme saat bermain dengan suaminya, kini merasakan sesuatu yang sangat hebat dan nikmat. Kemaluan Edo dengan ukuran super besar itu telah memberinya kenikmatan maha dahsyat yang takkan pernah ia lupakan. Belasan kali sudah Edo membuatnya meraih puncak kenikmatan senggama, tubuhnya seperti rontok menghadapi keperkasaan anak muda itu. Umur Edo yang separuh umurnya itu membuat suasana hatinya sangat bergairah. Bagaimana tidak, seorang pemuda tampan dan perkasa yang berumur jauh di bawahnya memberinya kenikmatan seks bagai seorang ksatria gagah perkasa. Ia sungguhsungguh puas lahir batin sampai-sampai ia rasakan tubuhnya terkapar lemas dan tak mampu bergerak lagi, cairan kelaminnya yang terus mengucur tiada henti saat permainan cinta itu berlangsung membuat vaginanya terasa kering. Namun sekali lagi, ia merasa puas, sepuas-puasnya. Sejak saat itu, dokter Miranti menjalin hubungan gelap dengan dengan Edo. Kehidupan mereka kini penuh dengan kebahagiaan cinta yang mereka raih dari kencan-kencan rahasia yang selalu dilakukan kedua orang itu saat suami dokter Miranti tidak di rumah. Di hotel, di apartement Edo atau bahkan di rumah sang dokter mereka lakukan perselingkuhan yang selalu diwarnai oleh hubungan seks yang seru tak pernah mereka lewatkan.

Terlampiaskan sudah nafsu seks dan dendam pada diri mereka masing-masing. Dokter Miranti tak lagi mempermasalahkan suaminya yang doyan perempuan itu. Ia bahkan tak pernah lagi mau melayani nafsu birahi suaminya dengan serius. Setiap kali lelaki itu memintanya untuk bercinta ia hanya melayaninya setengah hati. Tak ia hiraukan lagi apakah suaminya puas dengan permainan itu, ia hanya memberikan pelayanan sekedarnya sampai lelaki botak dan berperut besar itu mengeluarkan cairan kelaminnya dalam waktu singkat kurang dari tiga menit. Ingin rasanya dokter Miranti meludahi muka suaminya, lelaki tak tahu malu yang hanya mengandalkan uang dan kekuasaan. Yang dengan sewenang-wenang membeli kewanitaan orang dengan uangnya. Lelaki itu tak pernah menyangka bahwa istrinya telah jatuh ke tangan seorang pemuda perkasa yang jauh melebihi dirinya. Ia benarbenar tertipu. TAMAT

AURA KASIH

Bagaimana mendapatkan Aura Kasih agar mau bercinta denganku ? Wah sulit . tetapi cewek ini sebenarnya tidak susah ditaklukan . ada banyak kelemahan, aku suka memancingnya dengan mengirim email liwat inbox facebooknya, alhasil suatu hari Aura Kasih mengirimi email lewat inbox facebooknya butuh bantuanku, aku diminta datang sore itu, aku datang memakai motorku. Sesampai di rumahnya yang lumayan besar, beberapa orang ada di situ, kayaknya orang darimana aku tidak menggubrisnya, aku duduk menunggu Aura Kasih di ruangan tengah ketika aku datang hanya disapa oleh pembantunya. Akhirnya, dewi pujaanku muncul juga dengan kaos yang aduhai, buahdadanya membusung padat dan menggunakan celana pendek .. alamak kemulusan pahanya membuat adikku ngaceng.Selamat sore Han Aku tergagap melihat kecantikan luar biasa dari Aura Kasih. Sell la .. mat sore Aura Tumben kamu kok grogi ? mang ada apa denganku ? Kamu sih cantik sekali sore ini .. membuat aku jatuh hati rayuku Halah .. aku biasa saja kok Asli deh Udah .. udah ! aku mau minta tolong benerin komputerku, laptopku, juga komputer di ruangan sebelah timur itu tunjuknya sambil duduk di sampingku Lha kok ngasih kerjaan bejibun nih mang guwe kayak kerja rodi .. Ndak deh .. ntar aku bayar .. Bayar pake cium ya Ah kau ini jahil Han ujarnya sambil mencubitku

Aku memilih mengerjakan komputer dulu, Aura Kasih meletakan laptop baru yang dibelinya dan tidak ada OSnya, aku sendiri yang membelikan OS dan Officenya sendiri itu pun uangnya juga ditransfer ke rekeningku, jadi aku cuma tenaga dan transport dowangan. Itupun masih sisa jadi tetap kukembalikan ke pacarku eh Aura Kasih Aura Kasih hanya menonton tv, aku dibiarkan bekerja dengan satu komputer satu laptop. Karena aku menggunakan 2 keping dvd maka aku bisa meninggalkan komputer, tapi aku menyelesaikan komputer dulu. cukup lama juga, toh komputer itu dah ngejreng dan memukau, saatnya mengerjai Aura Kasih .. maksudnya laptopnya Aku dudu di kursi sofa itu, melihatku bekerja serius Aura Kasih memukul punggungku dengan bantal Mang kamu belajar dari mana semua itu, nggak mungkin nggak kuliah Mang ada kuliah komputer terus mata kuliahnya benerin komputer ? itu kursus Lha kamu kursus di mana ? Sama Tarzan .. ujarku asal Hah ujarnya kaget dan memukul lagi dengan bantal lalu duduk menggeser dekat aku, ngomong beberapa softwareminta diinstall kadang kepalanya hanya beberapa centi dengan diriku, ketika dia mencoba laptopnya dan dekat dengan kepalanya langsung kucium pipinya Nakal kamu .. ujarnya memukul dengan bantal lalu mencubiti tanganku dan matanya melotot marah. Aku melawan rasa sakit dicubiti kadang di tampar dengan keras, aku hanya diam, melihat aku tak melawan Aura Kasih terdiam. Ada apa denganmu Han .. kok tiba tiba menciumku ujarnya masih dongkol Aku hanya mengelus pipiku yang sakit ditampar. Gimana aku nggak tahan melihat seorang bidadari secantik Aura Kasih ujarku polos Maumu apa sih ujarnya melemah. Kuangkat tanganku dan kurangkul, kutarik kepalanya, Aura Kasih tidak menolak dan langsung kucium bibirnya. Kucium bibirnya dengan lembut Aura Kasih membalas pagutanku dengan pelan pula dan sedikit ragu, tiba tiba Aura Kasih merangkulkan tangannya ke pundaku serta memegang kepalaku, pagutannya kian cepat dan bernafsu. Tanganku semakin aktif mengelus pahanya yang mulus, Aura Kasih merintih rintih, mendesah penuh kenikmatan. Tiba-tiba Aura melepaskan pagutannya dan menepis tanganku Apa yang kita lakukan Han ? ujarnya heran Aku hanya tersenyum. Tangan satuku masih melingkar di punggung Aura Kasih. Aku tak akan mundur, akan kunikmati cewek ini. Penisku yangsudah ngaceng membuat Aura Kasih melotot, besaran penisku tercetak jelas di celanaku. Kukembali menubruk Aura Kasih dan menindih di sofa itu dan kembali melumat bibirnya, Aura Kasih tidak menolak dan membalas pagutannku Kau nekat sekali Han Aku suka dirimu Aura Jangan lakukan di sini Han .. bahaya

Lalu di mana ? Aku melirik ke kamar yang jauhnya 5 meter dan lirikannya tertangkap mataku, kuberdiri dan kutarik tangannya, Aura Kasih tak menolak, kugandeng masuk ke kamar dan kututup pintu kamar itu. Han kau benar benar keras kepala .. Aku tak menjawab dan menindih Aura Kasih dan melumat bibirnya, Aura Kasih membalas pagutanku, lidahku menjulur ke dalam mulut Aura Kasih, kami bermain lidah dan tanganku sendiri sudah mulai meraba raba tubuhnya, masuk ke dalam kaosnya, menaikan cup BHnya dengan susah, tangan satuku tak tinggal diam masuk juga mencari kaitan BHnya dan terlepas. Tangan kananku langsung menaikan cup BHnya dan meremas buah dada Aura Kasih, Aura Kasih mendesah ditengah sela sela pagutan kami, rintihan semakin memenuhi kamar itu, ranjang yang empuk, ranjang akan memuaskan dua manusia berlawan jenis itu. Tubuh Aura Kasih masih kutindih dan buah dadanya kuremasi keduanya, tangan kananku bergantian meremas buah dadanya yang semakin mengeras itu dibakar rangsangan, aku menaikan kaosnya. Lepas kaosmu Aura aku ingin melihat kesintalan tubuhmu Aura Kasih yang sudah terbakar nafsu hanya tersenyum kau juga Han .. tak adil hanya aku melepas kaosku, akan kulihat seberapa jauh dirimu kurang ajar Kulepas kaosnku juga, lalu aku membuka resluiting celanaku lalu menariknya kebawah dan membuangnya, penisku yangmasih tertutup CD itu membuat Aura Kasih mendelik. Kutarik BHnya lewat tangannya dan kulepas Buah dadamu indah sekali Aura ujarku langsung menyusu ke buah dadanya, kuemut puntingnya yang lancip itu, Aura Kasih meremasi kepalaku Lakukan Han beri aku kepuasa .. aku sudah lama tak melakukan ini Aura Kasih menarik CDnya dan kakinya ikut mendorong kebawah CD itu dan sampai pada dengkuku Gede banget punyamu Han Kulepaskan kulumanku pada punting buh dada Aura Kasih, kubuang CD ku ke lantai dan aku membuka celana pendek Aura Kasih, CDnya suda basah terangsang, kutarik dan tinggal CDnya. Alamak, kemaluannya benar benar bersih dan rambut kemaluannya benar benar tipis dan rapi Kau benar benar memikat aku Aura pujiku sambil menarik CDnya. Lakukan Han Lakukan .. Kami sudah bertelanjang bulat tanpa sehelai benangmu, kutindih Aura Kasih dan kugulingkan, kini Aura Kasih berada di atas, Aura Kasih memagut bibirku dan tangan satunya meremas penisku. jangkauan tangannya tidak menggegam namun tak sampai bisa penuh karena penisku yang membesar itu, sesekali di kocoknya Siapa yang pernah melakukan Aura Hmmm .. rahasia Han . kau juga harus pegang rahasia Kami kembali bergumul saling memeluk, memilin dan memagut, kakinya menjepit kedua kakiku, penisku tertindih pahanyayang mulus. Tubuh kami sudah basah berkeringat, Aura Kasih masih memeluku erat, kugulingkan dan kini aku menindih, kuangkat kedua pahanya dan aku menarik tubuhku, langsung saja aku menyosor ke vagina

Oh .. Han .. betapa enaknya .. Aura Kasih mendesah dan merintih. vaginanya yang rapat kini akan kubuka dengan jilatanku, jilatan pertama membuat Aura menaikan badanya melengkung dan kusambut dengan remasan pada buah dadanya, sehingga kepalanya oleng ke sana kemiri, kujilati dan kumasukan lidahku ke lubang yang becek itu. Rambutnya terurai tak beraturan, olengan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Matanya memutih menahan sensasi jilatanku pada vaginanya. Han .. enak Han .. terus Han .. terus .. Aku terus menjilati dan menyedot nyedot vaginanya, tangan Aura Kasih menggapai gapai sprei dan kadang menggigit bibirnya sendiri. Menit demi menit, vaginanya kian merekah dan kelentitnya aku jilati, Aura Kasih semakin menjerit penuh kenikmatan, Aura Kasih berteriak dan menahan jeritannya. Gantian aku Han Kuhentikan jilatannya dan aku kembali dalam posisi duduk, Aura Kasih bangun dan langsung memegang penisku, kepalanya masuk menuju ke selakanganku, Aura Kasih menjilati penisku dan juga menjilati buah zakarku, mengocok penisku naik turun. Penisku yang besar itu dijilati dengan rakus, dan pada bagian kelapanya di masukan, kemudian dikeluarkan. Kurapikan rambutnya agar tidak menganggu bermain dengan penisku. Kuremas buah dadanya yang memadat itu dengan tanganku Erangan Aura Kasih menggema dalam kamar itu dan mulai memasukan sebagian batangku dalam mulutnya, menyedot nyedot bagaikan mainan. Giginya menyentuh batang penisku dan membuat aku serasa terbang Enak Aura enak terus Aura Aura semakin tenggelam dalam kenikmatan mengulum penisku. Penisku serasa mengkilap penuh air liuar Aura Kasih, Crop Aura Kasih melepaskan penisku lalu merangkul pundaku Masukin Han Kau mau keluar di mana Aura ..? Didalam saja .. Kau tak takut hamil .. ?? tanyaku lakukan saja Han Aura Kasih seakan memaksa dan memegang penisku, lubangnya yang belum tertutup rapat itu mengepaskan pada penisku. Penisku mulai masuk pada bagian atas batangku, serasa sangat sesak sekali, Punyamu kebesaran .. Han Aura Kasih menekan penisku dengan pelan. Aura Kasih meringis kesakitan ketika batangku mulai tenggelam sedikit demi sedikit, Aura Kasih menaikan badannya lalu menurunkan lagi berulang ulang, mili demi mili, menit demi menit berjalan, penisku sudah separo amblas dalam vagina Aura Kasih dan membuatku serasa diremas remas dan disedot sedot, dinding vagina seolah olah menggoyak batang penisku yang semakin panas Sakit Han . tapi enak khan, kutelan penismu Han ujarnya dengan tersenyum Oh .. betapa enaknya Aura

Akhirnya amblas juga penisku dalam lubangnya yang becek itu. Kita lakukan Han beri aku kenikmatan surga Han .. Baik Aura . Aura Kasih menggenjot tubuhku naik turun kami saling melumat dan memelukku, tanganku kadang meremas buah buah dadanya, bunyi keciplak memenuhi kamar itu, Aura Kasih berteriak, menggelinjang. Tubuhnya naik turun dengan irama teratur, tanganku mengelus elus pahanya yang mulus. Han . enak Han Oh . ujarnya ditengah deburan nafasnya yang tak teratur, kuberikan rangsangan dengan meremas buah dadanya sebelah kanan dan sebelah kiri puntingnya aku kulum, Aura Kasih meremas kepalaku. Kami memacu dengan posisi seperti itu lama sekali, namun Aura Kasih sepertinya hendak orgasme Han .. aku tak tahan .. Keluarkan Aura oh .. betapa enak tempekmu Aura Aura Kasih tersenyum sambil naik turun di selakanganku. Aura mempercepat gejotannya dan akhirnya muncrat juga. Oh .. aku sammmmmmpaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii Tubuhnya yang indah itu melengkung bak busur panah, kuberikan tambahan remas pada buah dadanya dengan meremasnya untuk mengoptimalkan orgasmenya. Aura menikmati orgasmenya yang pertama, tubuhnya lunglai lalu kutangkap dan ku dekap, Aura Kasih memelukku dengan kedua tangannya. Makasih Han .. telah memberikan aku kepuasan ..

SULASMI DAN AKU

Aku anak pertama dari lima bersaudara. Usiaku menginjak 16 tahun manakala orangtuaku harus pindah tugas dari kota K ke kota P. Alhasil waktu itu aku baru dua bulan masuk kelas 1 SMA sayang jika harus pindah, apalagi sekolahku adalah sekolah swasta yang membutuhkan biaya banyak. Atas kebijakan orangtuaku, aku harus kos. Maka aku diantar oleh kedua orangtuaku dan keempat adik-adikku menempati kos baru. Rumah kosku sangat besar, dengan model kuno khas ukiran Jepara. Berbentuk letter L dengan halaman luas, terdapat sepasang pohon mangga. Ruang tamu yang memanjang kebelakang yang bersekat dimana terdapat empat kamar di bagian tengahnya yang berhadapan langsung dengan ruang makan. Semuanya berjumlah sepuluh kamar. Aku sendiri berada di kamar terakhir di bagian letter L-nya. Empat kamar termasuk kamarku berakses langsung keluar melalui pintu samping dengan halaman kecil di tanami pohon mangga kecil. Dipisahkan oleh tembok belakang sebuah rumah. Teman-teman kosku waktu itu bernama Mbak Mamiek, Mbak Mur, Mas Prayitno, Mbak Srini, Indarto, Sularno dan pemilik Kos. Rumah bagian depan yang tepat membatasi kamarku memiliki dua anak perempuan, Sulasmi kelas tiga SMP dan SutarmiSD kelas 6.

Ukuran tubuhku biasa-biasa saja 168, berat 60 dengan tahi lalat di dagu sebelah kanan dan rahang sebelah kiri yang kata mbak Srini menarik dan sekaligus membuatku manis kata mbak Srini, padahal aku laki-laki tulen hal ini nanti aku ceritakan. Ukuran penisku juga normal, tegak lonjong keatas tanpa membengkok. Setiap pagi semenjak duduk di SD aku selalu merendam dengan teh basi selama 10 menit-tanpa diberi gula loh (entar di krubut semut, bisa berabe he.. he..), lalu pelan-pelan di kocok-kocok, diremas jangan sampe keluar mani (seringnya sih keluar, abis enak sih). Itu kata anak-anak kos sebelah rumahku dahulu, entah benar atau tidak. Manfaatnya? Itu juga aku belum tahu. Hari-hari berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan lingkunganku yang baru, aku sering keluar dengan temantemanku yang baru. Terutama mas Prayit sering meminta menemaniku untuk menemui pacarnya, sebel juga habis jadi obat nyamuk sih. Saat kami pulang sering kami berjumpa dengan Sulasmi. Kami berhenti dan mas Prayit sering menggoda cewek itu, orangnya sih khas cewek K, radak item dibilang cantik juga enggak, manis juga enggak. Lalu apa dong, yah kayak gitu lah. Lama kelamaan aku juga iseng-iseng ikut menggodanya. Dia pulang jam 12.45 sedangkan aku pulang jam 13.30 dan Cuma aku yang masih sekolah teman-teman kosku sudah bekerja semua, paling cepat jam 17 mereka baru pulang praktis cuman aku yang pulang awal. Duh, lagi santai ya Mi, begitulah kalau aku memanggilnya. Baru pulang mas? Aku mendekat, dia hanya mengenakan celana pendek olahraganya dan berkaos tanpa lengan sedang membaca sebuah novel. Lumayan, tidak hitam-hitam amat demikian pikirku manakala ekor mataku menelusuri kakinya. Begitulah, sering aku menggodanya dan nampaknya dia suka. Naluri laki-lakiku mengatakan kalau dia sebenarnya ada hati kepadaku. Atas dasar keisengan, aku membuat sebuah surat di atas kertas surat berwarna pink dan harum dengan ukuran tulisan agak besar. Sangat singkat, Lasmi, I love u kemudian pada malam harinya aku sisipkan di jendela kamarnya, dari luar aku dengar dia sedang bersenandung kecil menyanyikan lagu dangdut kesukaanya. Dengan cepat kertasku tertarik masuk, hatiku terkesiap takut kalau-kalau bukan Lasmi yang menariknya. Tidak beberapa lama lampu dimatikan dan jendela terbuka, ah Lasmi melongokkan kepalanya keluar. Ketika dia melihatku dia tersenyum lalu melambai supaya aku mendekat. Kemudian aku mendekat. Ketika aku mendekat tiba-tiba Cuupp! Lasmi mengecup bibirku, aku terperanjat atas perlakuan itu. Belum lagi keterkejutanku hilang Lasmi mengulangi perbuatannya. Kali ini dengan sigap aku rengkuh pundaknya, aku lumat bibirnya. Gantian Lasmi yang terkejut, dia hanya ingin menjawab suratku dengan kecupan kilat justru aku tidak kalah cepat. Lidahku meliuk-liuk dalam mulutnya yang menganga karena terkejut, tampak sekali dia belum pernah melakukan ciuman. Mmmppphh Lalu tubuhnya mengejang, rona wajahnya memerah desiran panas napas kami mulai memburu. Lasmi memejamkan matanya pelan dia mulai mengikuti lidahku yang menjelajah rongga mulutnya dan dia melenguh pelan tertahan manakala lidah-lidahku menaut lembut lidahnya. Refleks tangan kirinya merengkuh tengkukku, menarik lembut kepalaku dan tangan kirinya bertopang pada tepian daun jendela. Dalam suasana gelap, pelan aku turunkan telapak tangan kananku dan meraih gundukan payudaran sebelah kirinya. Ah..! Lasmi melenguh lirih dan terkejut, menepis pelan tanganku.

Sudah malam, besok yah? Bisiknya lirih, memberiku satu kecupan dan menutup daun jendela. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku kembali kekamarku, tidak kuasa menolak desakan birahi aku lepas semua pakaianku. Dengan tidur terlentang jemari telunjut dan ibu jariku menjepit erat batang kontolku dan aku tegakkan membuat kepala kontolku dan otot-ototnya merah membesar. Telapak tangan kiriku menggosok-gosok pelan, sementara cairan bening sudah keluar dari kepala kontol yang memerah. Mataku terpejam, aku pentang kedua kakiku lebar-lebar dan membayangkan Lasmi yang sempat aku pegang payudaranya yang kecil lembut tadi. Ah! Ssstt Kepalaku berdenyut-denyut dan tubuhku terasa melayang tanpa terasa kocokanku semakin cepat seiring desah napasku yang mulai memburu. Ahhhh hhh! Croot croott croottt! Airmaniku menyembur dengan dasyat, kali ini cukup banyak mengingat kali pertama aku berciuman dan meremas milik perempuan. Paginya seperti biasa aku siap-siap hendak berangkat, aku biasa naik angkutan umum toh motor juga ada tapi enggak seru. Kebetulan angkutan kosku pangkalan kedua angkutan jadi belum banyak penumpangnya dan aku bisa memilih tempat duduk. Nah, serunya pas pangkalan ke tiga sudah mulai penuh anak-anak sekolah apalagi jalurnya melewati tiga SMA dan 1 SMP, bayangkan deh pas penuh-penuhnya lumayan dapat senggolan susu, he he Sulasmi sudah menunggu di samping rumahnya di balik kerindangan pohon Mahkotadewa. Aku berangkatnya agak siang, soalnya sekolahku masuk pukul 7.15, maklum banyak atlit Pelatnas yang bersekolah disekolahku dan biasanya Lasmi sudah berangkat, pasti dia menungguku toh semenjak malam itu aku resmi jadi pacarnya. Aku menengok kekanan dan kekiri, kedua orangtua yang seorang guru dan adiknya sudah berangkat semenjak tadi, Lasmi biasa menggunakan sepeda. Maaf tadi malam, marah? Senyuman dan guratan giginya semakin tampak putih dipadu rona wajahnya yang coklat kehitaman. Tidak tuh, seraya aku menghampirinya di kerimbunan. Entah mengapa dia juga beranjak semakin masuk ke lorong samping rumahnya dan tentunya kami semakin tidak tampak dari luar. Habis surat kamu sudah malam sih. Aku raih tangannya dan pelan aku rapatkan tubuhku kearahnya dan aku cium bibirnya ah.. dingin-dingin empuk. Lidah-lidah kami bertautan, matanya terpejam. Jarum jam menunjukkan pukul 6.35 jadi masih ada waktu buat bercinta! Berlahan aku lingkarkan kedua tanganku kepinggangnya, dia hanya terdiam sambil memejamkan matanya dengan kedua tangannya tergerai kebawah. Akankah aku ditolak? Demikian pikirku manakala pelan aku julurkan telapak tangan kananku kearah dadanya.

Jangan disini, kemudian menarik tanganku menuju ke belakang gudang. Disitu terdapat sebuah dipan (tempat tidur kecil) dari bambu dan kami duduk bersebelahan lalu aku rengkuh pundaknya tanpa di komando bibir kami beradu dan saling bertautan, kali ini bagaikan kuda liar terlepas dari kandangnya Lasmi memeluk erat pinggangku. Matanya terpejam rapat manakala bibirku merayap turun kelahernya. Kali ini tangan kananku dibiarkannya menelusuri payudaranya yang terbungkus baju seragam SMPnya. Ehh Lasmi melenguh lirih manakala aku dengan lembut meremas payudaranya, kecil dan tampak kenyal. Dan sementara bibirku terus meliuk-liuk di sekitar lehernya dan dengan naluri laki-laki bibirku bermain di telinganya sehiingga membuat bulu kuduknya merinding. Lasmi semakin merapatkan kedua kakinya dan sementara tubuhnya bersandar erat ke tubuhku. Lasmi merenggangkan dadanya, memberi jarak agar tanganku leluasa bermain-main di payudaranya dan sementara kepalanya sedikit meliuk-liuk mengikuti gerak wajahku dan di seputar lehernya dan bulu kuduknya sesekali meremang. Baju seragam Lasmi bagian depan sudah awut-awutan padahal ini adalah hari senin. Hhh. Hhhhhhh Hanya desah napas kami yang terdengar. Dan berlahan Lasmi semakin menekuk tubuhnya dan terlentang keatas dipan bambu. Pelan aku mendekatkan bibirku ke bibirnya, Lasmi membalasnya penuh gairah. Jemari tanganku membuka satu persatu kancing bajunya seiring dengan berjalannya waktu dari menit ke menit. Aku menindih pelan seraya membuka resletting celana seragam SMAku yang berwarna abu-abu. Aku menjatuhkan kecupan lembut dibibirnya, refleks Lasmi membuka mulutnya memberi jalan untuk lidahku menjelajahi rongga mulutnya. Sementara tanganku telah menurunkan celana seragam dan celana dalamku sampai batas pantatku, kini kontolku telah terbebas. Aku raih tangan Lasmi yang sedikit terentang keatas, aku tuntun kearah kontolku. Uhh Tubuhnya bergetar, payudara yang terhimpit tangannya menyembul kecoklatan berkilatan saat dengan bimbinganku Lasmi meremas batang kontolku. Karena belum terbiasa dan untuk pertama kalinya dia memegang maka genggamannya sedikit kencang dan tidak ada reaksi selain menggenggam. Toh aku juga tidak pernah tahu karena ini juga baru pertama kalinya aku memperlakukan lawan jenisku sampai jauh. Mmmpp Hhh Hhhh Ciumanku merayap turun ke payudaranya dan tanganku mulai meraba-raba gundukan diatas selangkangannya. Hhhmmmpp Aku serasa melayang ketika tangan lembut yang menggenggam batang kontolku sedikit naik meraup kepala kontolku. Tegang dan keras sekali.

Sayang Demikian bisiknya lirih di telingaku ketika tanganku pelan menyibakkan rok seragam biru milikya sedikit naik. Lasmi mengangkat sedikit pantatnya sehingga dengan bebas roknya tersibak keatas. Ketika aku menoleh kebawah Lasmi seketika menysupkan kepalanya kedadaku, malu tapi mau dan suka. Celana dalam warna pink menyembunyikan gundukan kecil diatasnya tampak jelas sekali bagian bawahnya telah basah kuyup. Lasmi membiarkan tanganku menyusup kebalik celana dalamnya, serasa gundukan belum ditumbuhi banyak bulu, masih ada satu dua dan sangat halus. Basah dalam benakku saat telapak tanganku merayap diatas permukaan tempiknya, Lasmi semakin berani memberiku kesempatan dengan sedikit membuka himpitan pahanya. Naluriah, demikian istilahnya. Jari telunjuk dan jari manisku pelan menggosok samping kanan dan kiri tempiknya sementara jari tengahku menemukan sebuah biji kacang klentit miliknya. Semakin basah saat aku pelan menggosok-gosok tanganku dengan kaku, maklum belum biasa sih. Telapak tanganku penuh dengan cairan kental dan lembab. Aku terus menggosok-gosokkan tangannku, hangat, lembab dan licin. Sementara Lasmi tidak melepaskan genggaman tangannya di kontolku, kalau tadi di bagian kepala sekarang di bagian pangkalnya yang berbulu. Aku menurunkan celana dalamnya sampai kebatas lutunya dan dengan kakiku aku lepaskan. Aku menindihnya dimana sebelumnya tangan Lasmi yang menggenggam kontolku aku terlentangkan, membuat sepasang payudaranya yang sempat tertutup sedikit kaosnya membusung. Lasmi seolah-olah mengiyakan apa yang akan aku lakukan, berarti sungguh dia mencintaiku. Pernyataan cinta yang secara iseng aku lontarkan ternyata mendapat sambutan yang sedemikian dasyatnya. Sungguh dia kini pasrah terlentang di bawahku. Sementara aku, hanya nafsu yang berputar-putar didalam otakku. Ulangan Fisika pada jam pertama dengan pak Anton sang guru killer dimana tak ada ampun bagi yang tidak masuk pelajarannya tanpa surat keterangan apalagi saat ulangan sudah tidak aku pikirkan. Aku rentangkan lutut Lasmi biar pinggulku sedikit leluasa menindih tubuhnya. Lasmi hanya menurut saja. Aku genggam batang kontolku, aku arahkan kelobang vaginanya. Naluri laki-lakiku seolah-olah secara otomatis bekerja. Saat bagian kepala menempel di bagian lembut dan basah aku menarik napas untuk mengurangi keteganggan. Sreet Terasa kepala kontolku menyibak sesuatu ketika pinggulku aku tekan sedikit. Lasmi sedikit mengrenyitkan dahinya tanda ada sesuatu yang aneh. Sreet Kembali seperti menyobek sesuatu. Kini Lasmi menggigit bibir bagian bawahnya, wajahnya sedikit tegang sementara wajahku pun demikian, genggaman tanganku sedikit gemetar ketika aku dorong pantatku kebawah. Sreet sreeettt Mpphhh Erangan lirih dari mulut Lasmi katika separuh kontolku sudah menghujam masuk. Tetesan darah perawan menetes, bagaikan aliran sungai Mahakam menetes disela-sela dipan bambu yang kami pakai untuk bergelut. Menetes kebawah, berjatuhan tetes demi tetes keatas tanah yang berdebu.

Aku menarik keatas pantatku dan dengan pelan aku tekan kembali kebawah, kali ini tanganku sudah tidak menggenggam berganti menopang tubuhku yang merapat diatas tubuh Lasmi. Sreettt Aaahhhh! Lasmi menjepit pantatku dengan kedua pahanya yang sedikit terangkat menahan perih saat semua kontolku untuk pertama kalinya menembus vaginannya. Dan kini semua batang kontolku sudah menghujam kedalam liang surgawi tempiknya. Tangannya menggenggam erat, pahanya menjepit kuat pantatku dan wajahnya semakin terpejam. Aku berikan kecupan lembut kebibirnya lalu dia mulai menangis. Dan memeluk tubuhku dengan erat dengan tidak melepaskan jepitan pahanya di pantatku justri kakinya yang terangkat di letakkan diatas betisku. Berlahan pantatku aku mainkan naik-turun, untuk menenangkannya aku membisikkan sesuatu ketelinganya, Sakit? Aku tahan, aku sayang kamu Suara berderit pada dipan bambu menahan tubuh kami saat kontolku aku maju-mundurkan, Lasmi tidak melepaskan pelukannya dan kedua kakinya tetap berada diatas betisku dan kali ini jepitan pahanya di pantatku sedikit mengendor. Plak plak plak Kelamin kemi mengeluarkan bunyi khas saat saling bergesekan dan suara itu merupakan pertama kalinya kami dengar. Dua puluh menit berlalu dari aku berhasil memerawani Lasmi, aku terus memainkan kontolku maklum masih jejaka jadi maju-mundur, maju-mundur terus tanpa ada variasi. Toh dengan demikian lambat laun rasa perih pada Lasmi mulai hilang, aku pun demikian. Lasmi mulai mencari-cari bibirku dan aku menyambutnya dengan mengulum lidahnya dan memilinnya dengan lembut. Hhhmmppp Hhhhhhh Sayang Sepuluh menit kemudian Lasmi mengencangkan pelukannya dan kembali pelan menguatkan jepitannya. Plak plakk plakkk Aku terus menghujaninya dengan goyangan kontolku, sesekali aku berlahan untuk menarik napas. Lumayan pegel juga ternyata, palagi rambut kontolku yang sudah mulai lebat lenyodok-nyodok vaginanya yang belum berambut membuat rasa perih padanya menjadi suatu sensasi mengenakkan, menggugah birahi yang sedikit berkurang akibat rasa perih. Hhggghh Aahhhhh

Lasmi mengejang, rona wajahnya memerah, napasnya tertahan manakala birahinya menanjak menghantam ubunubun dan bagaikan suatu hempasan gelombang menerjang apa saja lalu padam terkulai Lemas. Banyak energi yang telah dikeluarkan. Aku terus menggenjot saat Lasmi sudah jatuh terlentang, kedua kakinya terkulai mengkangkang. Aku topang badanku dengan kedua tanganku kali ini pantatku bebas naik turun. Lesatan kontolku di dalam vaginanya bagaikan terpedo yang diluncurkan dari sebuah kapal selam. Seperti ada sesuatu yang akan keluar aku percepat gerakan pantatku naik-turun. Dan Ahhhhhh Crott.. croot.. crooot Bersamaan dengan aku semprotkan air maniku tiba-tiba, Gubraaak Dipan yang kami pakai rubuh karena beban goyangan yang aku lakukan. Ah! Aduhh Kami jatuh berguling, Lasmi tetap aku peluk sehingga dia menindih tubuhku. Kontolku terlepas dari tempiknya, spermaku muncrat kemana-mana. Akibatnya, kontolku yang masih ereksi tertimpa pantatnya Lasmi. Dipan sialan, demikian umpatku. Sudah keropos. Lalu kami berdiri, Lasmi memandangku saat aku meringis menahan ngilu di kontolku yang tertimpa pantatnya. Sakit? He-eh Sambil berdiri dimana aku masih telanjang bulat, Lasmi mengulurkan tangannya, memegang kontolku yang sudah terkulai seraya memberikan pijitan-pijitan lembut. Aku tumpangkan kedua tanganku keatas pundaknya. Hari ini kita bolos ya? Aku hanya tersenyum, aku biarkan tubuhku bugil dihadapannya. Lasmi sambil membersihkan dengan tangan kirinya badanku yang sedikit berdebu memandangku mesra, duh bening mata itu menusuk lekat ke dalam kalbuku. Padahal aku jam pertama ada ulangan fisika. O ya? Biar saja, sambil aku belai rambutnya yang tergerai. Masih sakit?

Sedikit. Enakan sekarang? He-eh Lasmi mengocok berlahan-lahan dan kontolku seperti diurut tangan lembut, berlahan kontolku mulai tegak kembali. Aku belai payudaranya yang tertutup kaos dan seragamnya sudah tersibak tidak karuan. Aku cium kembali bibirnya sementara Lasmi terus dan terus mengurut-urut kontolku. Mmmpphhh Di kamar yuk? Lasmi meraih seragamku dan menggandeng tanganku masuk melalui pintu belakang dimana dia memegang anak kunci. Setiap dia pulang duluan selalu melalui pintu belakang sedangkan adiknya pulang bersama orangtuanya. Lasmi langsung melepas seragam putih birunya yang sudah awut-awutan, sebercak darah perawan masih sedikit meleleh di selangkangannya, Lasmi langsung merebahkan diri keatas ranjang. Dan aku pelan menempatkan diri keatas tubuhnya, pantatku berada ditengah-tengah selangkangannya. Bleesss Kontolku langsung menyusup ke dalam vaginannya. Aku ciumi wajahnya dan melumat bibirnya. Sontak Lasmi merengkuh tengkukku dan aku meremas payudaranya. Sepasang anak manusia bertelanjang bulat saling memagut, memadu cinta, membakar api birahi. Pikiranku lepas terbang, sudah tidak ada batas sama sekali diantara kami padahal baru semalam aku mengatakan cinta, itupun hanya kesiengan belaka. Ah, setelah ini semua begitu kejam dan jahatkah aku? En tahlah, itu urusan belakang saat ini kontolku tertanam didalam vaginannya. Ahh-hh Lasmi menggeliat saat aku mulai kembali aksi kontolku naik turun. Perih dan pedih berganti kenikmatan, bagaikan sebuah gada dengan kepala membesar membuat sensasi nikmat saat bergesekan. Kali ini aku tidak perlu kuatir ranjangnya akan ambruk, ranjang berderit-derit saat aku menggoyangkan pinggulku. Seperti tadi Lasmi memelukku dengan erat dan sepasang kakinya mengait kali ini tidak diatas betisku melainkan lebih naik keatas pantatku. Desah napasnya semakin memburu di dekat telingaku dan kali ini tidak memerlukan waktu lama Lasmi sudah mulai mengejang dan walaupun dia mencoba menahan tapi desakan biologisnya lebih kuat. Aahhh Tanpa sadar Lasmi melenguh dengan kerasnya ketika sampai dipuncak birahinya dan dalam hitungan detik pula aku mengikuti. Aakkhhh. Croottt crooottt crooottt aku semburkan airmaniku kedalam rahimnya, entah apa yang akan terjadi sudah tidak aku pikirkan. Aku biarkan kontolku masih menancap di vaginanya dan pluppp terlepas dan terkulai lemas. Jam 10 aku kembali kekamar kosku dibelakang rumahnya setelah sebelumnya untuk yang ketiga kalinya aku menidurinya. Uh, pegal semua badanku. Terutama kontolku langsung bekerja keras. Aku langsung mandi untuk menyegarkan badan, kosku masih sepi karena semua masih kerja sampai jam 17 kecuali mbak Srini seorang guru SD

paling jam 1 sudah pulang, bapak kosku juga pergi biasanya ke pasar untuk mancari hiburan bermain catur, maklum pensiunan. Dan akhirnya aku tertidur sampa sore hari. Praktis semenjak kejadian itu antara aku dan Lasmi sudah tidak ada batas apapun, kedua orangtua dan adiknya selalu berangkat jam 6.30 sehingga memberiku keleluasaan untuk bercinta dengannya. Hai pah, demikian Lasmi menyebutku Pah. Lucu juga kedengarannya tapi asyik juga tapi satu hal hingga kini aku tidak mencintainya. Ah, sayang, aku memang jahat sekali. Padahal dia mencintaiku dengan tulus. Hai, sapaku pula ketika melewati kamarnya, dia hanya mengenakan kaos oblong sehingga beha warna kuning yang dia pakai terlihat. Sedangkan dia hanya mengenakan celana dalam warna pink dengan sedikit tersipu dia meraih rok seragam biru yang tergolek di ranjang dan menutup bagian depannya. Barusan aku dengar suara motor orang tuanya berangkat ke sekolah. Lalu dia seperti biasa memberiku kode melalui pintu belakang, sebentar aku menoleh dan tidak ada orang. Teman-teman kosku masih pada tidur kecuali mbak Srini seornag guru SD teman kosku juga sudah berangkat. Aku langsung mengunci pintu dan memeluknya sambil melumat bibirnya, 20 menit, pintanya tegas. Oke 20 menit bagiku sudah cukup, maklum dia masuk jam 6.55 sedangkan aku jam 7.15. Tanpa perlu komando kami langsung naik keatas ranjang sementara Lasmi terlihat pasrah dengan dada membusung dibalik kaos oblongnya dan celana dalam warna pink. Tanganku meraih kaos yang diekanakannya dan menariknya keatas bersamaan dengan behanya, akupun demikian membuka baju seragamku hingga aku bugil. So, kontolku sudah nafsu langsung ereksi. Ups! Dingin empuk manakala Lasmi meremas kontolku saat aku hendak menindih sedikit tubuhnya sambil meremas payudaranya. Hmmmppp Payudaranya bergetar saat aku merabanya dengan lembut, mengeras saat aku meremasnya, menggelinjang saat putingnya aku pilin dengan jemariku dan, Paaahh merintih saat aku susupkan wajahku diantara sepasang gunung kembarnya dam memberikan gigitan mesra yang meninggalkan tanda merah kebiruan di kulitnya yang kecoklatan. Aku menurunkan ciumanku keatas perutnya, berputar-putar diatas pusarnya, Aahhh Lasmi merintih geli, refleks genggamannya terlepas dari kontolku dan mesra mengusap kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kananya tersibak keatas. Cewek usia 14 tahun tentunya di kelaminya belum ditumbuhi rambut lebat, beberapa tipis dan baru mulai tumbuh tampak saat aku merayap turun dari perutnya kebawah pangkal selangkanagnnya. Aku geser posisiku dengan

menarik keatas pinggulku, dengan posisi itu Lasmi mulai memberanikan diri mengusap kontolku sambil memandang lekat-lekat kontolku. Besar pikirnya, itu aku tahu kemudian dari buku hariannya yang aku amb il saat dia kekamar mandi. Aku belum berpengalaman dalam session ini, maka langsung aku julurkan lidahku menjilati langsung klentit dan semuanya dan menghisap menggunakan mulutku. Hhmmppphh Akkhhh! Tidak dinyana Lasmi terkejut dengan apa yang aku lakukan, refleks dia mengatupkan pahanya sehingga kepalaku terjepit. Refleks juga genggamannya di kontolku mengencang, tapi dia tidak memejamkan matanya. Dipandangnya kontolku yang sudah mengeluarkan cairan bening tanda birahi dari ujung kepala kontolku. Masukin pah, sudah siang, pintanya sambil menggeser tubuhku darinya. Aku merebahkan tubuhku keatasnya, Lasmi membuka kedua kakinya, memberiku keleluasaan mengarahkan kontolku dan, Blesss Kontolku melesat masuk kedalam liang vaginanya yang sudah basah langsung sampai kedasarnya, hangat, lembut dan kenyal. Kontolku seperti diremas oleh kelembutan dan kehangatan, dipilin oleh cairan birahi dan kami pagi itu menyatu dengan tubuh bugil. Lasmi memelukku dan kembali seperti sebelumnya mengaitkan kedua kakinya keatas pinggulku dan aku memacu, melesatkan berulangkali kontolku kedalam tempiknya. Saling menderu napas kami berkejar-kejaran, sesekali Lasmi tersipu malu saat dia membuka kelopak matanya dan aku sangat dekat diatasnya memandang tajam kearahnya, tersipu dengan rona wajah memerah dan menyembunyikannya kebawah pundakku. Aku terus menayunkan pinggulku naik turun, suara-suara yang akhirnya terbiasa di telinga kami mengiringi derit ranjang yang terdengar pelan karena goyangan kami. Paahhh Sayanggg Hentakan birahi merayap keujung kontolku, dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya. Sementara dengan tegang memelukku erat dan mengapitkan kedua pahanya kuat-kuat di pinggulku. Dinginnya udara pagi dengan jendela berkaca nako menyebabkan kami semakin birahi. Ahhh Lasmi melenguh, mengejang, bergetar dan jepitan vaginanya meremas-remas kontolku saat aku hentakkanhentakkan hingga dasar vaginanya dimana rambut kelaminku menggesek-gesek klentitnya saat beradu. Dalam hitungan detik, akupun mengejang, sambil menggigit belakang telinganya dan tangan meremas payudaranya aku hujamkan kuat-kuat kontolku. Ak-akkk-akkhhh! Croot serrr croot, croot crooot

Kami terdiam, Lasmi sudah terkulai lemas dengan bersimbah peluh dan aku biarkan kontolku terjepit vaginanya yang berdenyut-denyut lembut. Aku memeluknya dan desah napas kami yang semula menderu-deru berlahan-lahan mulai teratur. Pah, dah siang loh, aku tidak mau bolos lagi, Lasmi mengingatkanku sambil tersenyum. Lalu aku kecup bibirnya dan tampak di leher belakang telinganya membekas gigitanku. Saat kami berpakaian tampak hampir sekujur tubuhnya penuh dengan cupang-an dan gigitan mesraku. Payudara kirinya membekas jemari kananku tadi saat aku akan orgasme. Lasmi tersenyum saat aku memandang tubuhnya, Hasil karyamu pah, seraya memakai kembali behanya. Karya abstrak mah, lalu aku hampiri dia dan aku belai kelaminya yang masih melelehkan spermaku. Tidak dicuci dahulu mah Enggak ah, biarin aku tetap merasakan milikmu pah. Jam menunjukkan pukul 7.50 saat Lasmi mengayuh sepedanya dan aku berjalan ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum. Biasa, buat cari senggolan apalagi jam mendekati waktu masuk. Pernah suatu ketika aku mewakili sekolahku dalam ajang lomba menggambar, lumayan aku memiliki bakat menggambar. Sebelum jam 1 aku sudah kembali, aku longokkan kepalaku tampak Lasmi sedang mengerjakan PRnya. Melihatku dia beranjak keluar melalui pintu belakang. Darah mudaku seketika bergelora, aku hampiri dan aku lumat bibirnya. Hampir jam 1 pah, demikian dia mengingatkan, berarti 30 menit lagi orangtuanya pulang. Sontak aku minta dia nungging dengan kedua tangan diatas dipan bambu (sudah diganti dengan yang baru) lalu aku sibakkan rok yang dipakainya, celana dalamnya aku plorotkan dan lidahku dengan cepat menjilati tempiknya. Ups, he he sedikit pesing, sebodo amat. Lalu aku arahkan kontolku ke vaginanya dan, Sleeebbb bleeesss Ahhhh Lasmi terkejut dan sedikit meringis menahan perih tapi hanya sebentar dan napasnya sudah mulai tidak beraturan. Berselang lima menit dengan mencengkeram tepian dipan bambu sambil mekangkang Lasmi menggeliat seraya melenguh kuat. Aahhhh Aku pegang pantatnya dengan kedua tanganku, aku sodokkan kedepan dan kebelakang pantatku sehingga kontolku leluasa melesak keluar dan kedalam. Lalu aku remas dengan mencengkeram pantatnya manakala kontolku memuntahkan spermaku. Ahhhh hh ahhh Serrr serrr serrr Cairan kental putih muncrat didalam vaginanya seraya menimbulkan bunyi ceplak-ceplak-ceplak, belum puas aku teruskan genjotanku sampai-sampai Lasmi hampir jatuh terkulai kalau saja tidak aku topang pinggulnya dengan kedua tanganku.

Semangat mudaku menggelora, aku terus memacu dan memacu. Kontolku yang semula terasa ngilu karena sudah melontarkan airmaniku berlahan kembali mendapatkan kekuatannya. Aku mati-matian agar kontolku setelah mengeluarkan airmani tidak terkulai. Aku paksa semangatku agar cepat meraih birahi kembali. Lasmi hanya menggigit bibirnya, lemas sekali. Sendi-sendinya serasa mau lepas, napasnya tersengal-sengal. Rasa pening menghantam kepalanya tapi tempiknya ternyata tidakmau kompromi, berlahan cairan birahi membasahi gesekan kontol dan tempiknya. Lasmi tidak kuasa menahan hentakan birahi yang berlahan mulai merambat naik ke ubun-ubunnya. Merayap ke semua ujung syarafnya, jantungnya berdegup dengan kencang, matanya terbelalak dengan semua otot diwajahnya menyembul menyebabkan rona wajahnya memerah. Akkk hhhhhh! Crooot crooot crooot Ah Bersamaan kami dihempas oleh puncak birahi, bersamaan kami dihantam oleh kenikmatan surgawi dan bersamaan kami jatuh terjerembab keatas dipan bambu dan seolah-olah dunia terasa melayang. Lasmi jatuh tanpa daya keatas dipan menyisakan lelehan sperma di selangkangannya dibawah tonjolan pantatnya, ternyata dia pingsan! Disekolah aku termasuk siswa yang biasa-biasa saja, sedangkan Lasmi termasuk kategori siswa kelompok dodol alias bego dan kategori cewek non nominasi pantes saja aku radak GR langsung main tancep pedang aja. Hebatnya aku tidak puas hanya sekali, paling sedikit dua kali, inikah manfaat akibat rendaman air teh basi? Mungkin kali ya ha ha Sudah tiga bulan aku setubuhi Sulasmi, selama itu pula dia tidak hamil. Luar biasa, membuat aku ketagihan. Sungguh tidak ada waktu lowong aku dengan dia untuk tidak bermain sex. Terus terang dan terang terus, aku memperlakukan Lasmi sebagai obyek dan bukan sebagai subyek, duh memang aku sadari aku betul-betul jahat. Tidak jarang Lasmi sekitar jam 2 siang menyusup masuk ke kamarku, meminta jatah disaat kedua orangtuanya istirahat siang. Ternyata apa yang kami lakukan disiang itu tidak lepas dari mbak Srini teman kosku yang seorang guru SD, nanti aku ceritakan pada bagian tersendiri supaya cerita ini tidak terlalu panjang.

BERCINTA DENGAN MBAK YULI

Perkenalkan nama saya Aldi, saya sering membaca cerita-cerita di Ceritapanas.com dan saya ingin berbagi cerita dengan para pembaca. Cerita saya ini betul-betul terjadi dan ini pengalaman pertama saya dalam dunia seks. Saat ini saya berusia 24 tahun dan cerita ini terjadi pada saat saya berusia 13 tahun tepatnya saat saya kelas 2 SMP. Waktu itu saya tinggal di daerah perbatasan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur dan didekat rumah kami ada seorang wanita yang bernama Mbak Yuli yang tinggal dengan ibunya yang berusia sekitar 55 tahun dan di rumahnya ada seorang pembantu tetapi tidak tinggal di rumah itu karena ia dan keluarganya mengontrak rumah di perkampungan sekitar rumah saya. Sejak kecil saya sudah dekat dengan Mbak Yuli, saya sering diajak main ke rumahnya dan kadang-kadang menginap untuk menemani dia.Orang tua saya juga dekat dengan ibunya Mbak Yuli sehingga mereka tidak pernah melarang saya bermain atau menginap di rumah Mbak Yuli. Pada tahun 1989 Mbak Yuli menikah dengan Mas Dodi yang bekerja sebagai awak kapal pesiar sehingga ia jarang pulang dan dalam 1 tahun ia cuma pulang 4 kali. Karena Mas Dodi jarang pulang maka Mbak Yuli sering mengajak

saya bermain atau menginap di rumahnya untuk mengusir rasa sepi terlebih sejak Mbak Yuli menikah, ibunya pindah ke Semaranguntuk mengasuh cucunya. Pada saat itu Mbak Yuli berusia 21 tahun, ia memiliki tubuh yang indah dengan tinggi 168 cm, badannya kelihatan padat berisi apalagi payudaranya yang besar dan bulat dan baru saya ketahui ia memakai BH ukuran 34C. Bila sedang di rumah ia senang mengenakan kaos oblong tipis dan celana pendek ketat kadang-kadang tanpa BH. Pada mulanya saya tidak peduli dengan dia, tetapi setelah saya menonton film BF milik kakak teman saya, saya baru mulai tertarik dengan Mbak Yuli. Karena sudah terbiasa dengan adanya saya di rumahnya, sehingga ia sering berganti pakaian tanpa menutup pintu atau mandi dengan pintu hanya tertutup setengah. Saya sering mengintip bila ia mandi dimana saya dapat melihat keindahan tubuhnya dengan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam dan payudaranya yang besar dan bulat dengan pentilnya yang berwarna coklat muda. Bila sedang tidur Mbak Yuli tidak pernah menggunakan BH dan sering saya terbangun untuk mengelus-elus buah dadanya dan kadang saya pilin-pilin pentilnya. Karena sering melihat pemandangan seperti itu saya menjadi suka berkhayal bagaimana rasanya kalau saya bersetubuh dengan Mbak Yuli seperti yang saya lihat di film BF dan hal itu saya lakukan sambil saya mengocok-ngocok kemaluan saya hingga tegang yang panjangnya 14 cm dan berdiameter 4 cm pada saat itu. Waktu itu saya sedang liburan kenaikan kelas dan seperti biasanya saya manfaatkan untuk bermain. Pada suatu siang saya keluar dari rumah untuk membeli mainan, sesampainya di depan rumah Mbak Yuli yang berjarak sekitar 5 rumah tiba-tiba hujan turun dan Mbak Yuli yang sedang mengangkat jemuran berteriak memanggil saya, Aldi, kamu jangan hujan-hujanan! Sini bantuin Mbak ngangkat jemuran! Lalu saya berlari masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di dalam rumahMbak Yuli langsung ke belakang membereskan jemuran sedangkan saya menuju ke ruang tengah untuk bermain game dan saya lihat TV dalam keadaan menyala tetapi tidak ada gambarnya dan video dalam keadaan stand by, akhirnya saya hidupkan video itu dan ternyata berisi film BF dimana adegannya seorang laki-laki dan perempuan sedang melakukan pemanasan. Setelah agak lama saya menyaksikan adegan dalam film tersebut tiba-tiba Mbak Yuli muncul dan langsung mematikan TV, Heh, ini film orang dewasa kamu belum boleh nonton ini! akhirnya saya menyeletuk, Aldi udah pernah nonton kok di rumah Toni, dan dengan polosnya saya bertanya, Mbak, enak nggak sih begituan? Kok orang teriak-teriak, emang sakit ya? dan Mbak Yuli menjawab, Ya enak dong, kalau orangnya teriak-teriak itu tandanya keenakan, saya hanya manggut-manggut mendengarnya. Akhirnya Mbak Yuli masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama dia memanggil saya, Di, pijitin Mbak dong, Mbak pegel nih, dan mendengar itu saya langsung masuk ke kamarnya. Bila sebelum hari itu saya memijit Mbak Yuli tanpa perasaan apa-apa tetapi hari itu saya merasa gemeteran dan pikiran saya langsung ngeres. Mbak buka bajunya dong! entar kusut lho, begitu saya menyuruh Mbak Yuli agar saya dapat melihat dan memegang payudaranya. Akhirnya Mbak Yuli membuka kaos oblongnya dan langsung tengkurap sehingga saya tidak sempat melihat payudaranya secara langsung. Ketika saya sedang memijat punggungnya, dengan sengaja pijatan saya turunkan sehingga menyentuh buah dadanya dari samping. Tanpa diduga Mbak Yuli berbalik dan Di, pijitin tetek Mbak, langsung saya remas-remas buah dada yang besar dan bulat itu dan Mbak Yuli mengeluarkan suara mendesis dari mulutnya. Tanpa diperintah saya langsung menjilati dan menghisap payudaranya bergantian kanan dan kiri seperti yang saya lihat dalam film dan Mbak Yuli semakin mendesah, Aaasshhh, terus hisap sayang ooohhh enak Di badannya menggeliat-geliat kegelian. Kemudian Mbak Yuli menyuruh saya untuk mencopot semua baju saya dan saya turuti dan akhirnya ia mencopot celana pendek dan CD-nya hingga akhirnya kami berdua telanjang bulat. Setelah telanjang saya masih menciumi payudara Mbak Yuli, sedangkan tangan Mbak Yuli meremas-remas batang kemaluan saya sambil mengocoknya. Akhirnya karena sudah bernafsu, ciuman saya semakin turun dan berhenti di gundukan yang ditumbuhi rambut hitam, Mbak Yuli memegang kepala saya dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Jilatin memek Mbak, Di! langsung kumainkan lidahku di daerahnya yang telah basah karena telah terangsang waktu kuhisap-hisap payudaranya dan sesekali kuhisap daging kecil di atas lubang kemaluannya yang lebih dikenal denganklitoris. Oohh Di enak banget sayang aacchhh aku mau keluar, celotehnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya hingga liang kemaluannya terangkat. Aku terus menjilati liang kemaluannya sampai akhirnya Aachh aku mau keluar oohh yes, dan Creeet creeet creeet mengalirlah air yang berwarna putih kental dari lubang kemaluan Mbak Yuli dan langsung kujilat hingga bersih bersamaan dengan mengejangnya otot Mbak Yuli. Setelah nafasnya teratur setelah orgasmenya yang pertama, Mbak Yuli kembali mengocok-ngocok batang kemaluanku dan berkata, Titit kamu gede, Di! Masukin ke memek Mbak, ya! aku hanya mengangguk karena merasakan nikmatnya kocokan tangan Mbak Yuli. Akhirnya sambil tidur terlentang Mbak Yuli membuka kedua kakinya lebar-lebar hingga lubang kemaluannya yang merah dan basah terlihat menganga, sambil menuntun burungku ke depan lubang kemaluannya ia berkata, Nanti kamu masukinnya pelan-pelan ya, soalnya titit kamu gede. Setelah pas di depan lubang kemaluannya langsung saya tekan hingga batang kemaluan saya masuk

setengah, Aaaoooww sakit pelan-pelan! Kemudian saya tarik lagi batang kemaluan saya hingga tinggal kepalanya yang tertinggal dan rasanya geli sekali apalagi lubang kemaluan Mbak Yuli masih terasa seret. Kemudian saya memompa pantat saya maju mundur dan waktu mendorong seluruh batang kemaluan saya amblas ke dalam lubang kemaluan Mbak Yuli dan semakin cepat saya memompa semakin keras Mbak Yuli mengerang, ooohhh yeeaah terus aaahhh masukkin yang dalam sayang ooohhh aku mau keluar terus aahhh enak benar kontolmu, aku nggak tahaaan aaakkhhh tiba-tiba kaki Mbak Yuli melingkar ke pinggul saya dan mengunci saya, tetap saya masih terus memompa sambil memeluk dan menciumi lehernya dan kemudian dia berteriak, Aku mau keluar aakkhh Creeet creeet creeeet Tubuhnya mengejang dan batang kemaluan saya yang masih menancap di dalam lubang kemaluannya terasa hangat. Setelah nafasnya kembali teratur, saya kembali menghisap puting susunya dan ia mulai mendesis, kemudian di dalam kemaluannya mulai mengeluarkan cairan dan saya mulai memompa kembali sekitar 15 menit. Ooohhh Mbak.. memekmu enak acckhh Kontolmu juga enak hhhsss yes terus akhh aku mau keluar lagi oohhh Mbak, aku mau keluar! Tunggu, kita keluarin sama-sama! Tiba-tiba badan saya kaku akhirnya Aakkhhh aku kell.. keluar keluar Crot.. croot.. croot Sekitar 6 kali saya semprotkan air mani saya ke dalam rahim Mbak Yuli dan saya biarkan batang kemaluan saya di dalam liang kemaluannya sampai lemas dan Mbak Yuli memeluk saya dan berkata, Kamu hebat Di, Mbak seneng ngentot sama kamu, kalau kamu kepengen bilang ya! sambil mencium bibir saya. Malam itu akhirnya saya menginap di rumah Mbak Yuli dan kami bercinta sampai 4 kali. Sekitar 3 tahun saya selalu meniduri Mbak Yuli apabila suaminya sedang berlayar dan akhirnya ia hamil dan punya anak. Saya sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi karena saya sudah pindah ke daerah pinggiran Jakarta dan Mbak Yuli sendiri menurut kabar yang saya terima sekarang tingg