ARGENTOMETRI

PARAMETER 1. TUJUAN

ARGENTOMETRI MOHR Penetapan kadar analit (Cl-, Br-) dalam sampel FAYANS Penetapan kadar (Cl-, Br-, I- , SeO32-) VOLHARD Penetapan kadar Penetapan kadar (Cl -, Br-, I,ASO43-, SCN-, CNO-)

2. REAKSI

Cl- + AgNO3 (titran) 2AgNO3 + K2CrO4 Ind

AgCl + NO3putih Ag2CrO4 + 2KNO3 merah bata

Cl- + AgNO3 (titran) HFl H+ +

AgCl + NO3putih FlAgCl.Ag+.Flpink

Cl- + AgNO3 (berlebih) AgNO3 + CNS(sisa) (titran)

AgCl + NO3putih AgCNS + NO3-

AgCl.Ag+ + FlInd 3. PRINSIP

NH4CNS + Fe3+ (ind)

[FeCNS]2+ + NH4+ merah

Ion halida (Cl-) dalam sampel bereaksi dengan Ion halida (Cl-) atau anion larutan peraknitrat membentuk perak klorida, sampel kromat membentuk endapan merah bata pada menyerap titik akhir titrasi (T.A) bereaksi ion dengan koloid indikator kelebihan peraknitrat bereaksi dengan indikator peraknitrat, endapan

dalam Ion halida (Cl-) atau anion dalam sampel larutan direaksikan dengan peraknitrat AgCl kelebihan paraknitrat membentuk dititrasi endapan fluoresin tiosianat berlebih, dengan putih,

membentuk warna pink (T.A)

kelebihan tiosianat bereaksi dengan indikator Fe3+ membentuk merah (T.A) ion kompleks berwarna

PARAMETER MOHR

ARGENTOMETRI FAYANS
HERAWATI – KA 2. ARGENTOMETRI - 07

VOLHARD 1

sampel organik yang ditambahkan (benzena. Kelarutan Ag2CrO4 lebih besar dari AgCl. KONDISI YG HARUS 1. Sehingga Pemilihan indikator harus sesuai pH. KCNS. pelarut H+ + Fl- nitrobenzen) sebagai koagulan. PERHITUNGAN AgNO3 AgNO3 NaCNS.A) 7. HERAWATI – KA 2. ARGENTOMETRI . akibatnya : konsentrasi indikator kecil sehingga terbentuknya endapan sangat lambat. karena syarat titrasi volhard dalam kondisi asam.telah semua bereaksi dengan AgNO3 adsorpsi agar tidak terjadi reaksi sebagai berikut : 2 .4. Flkecil 1. INDIKATOR 6. ion kromat menjadi dikromat.LARUTAN STANDAR (TITRAN) 5. sehingga larutan sample sebelum dititrasi ditambahkan HNO3 4N. TITIK AKHIR TITRASI (T. 2. berfungsi 8. untuk menghindari reaksi hidrolisis Fe3+ agar tidak terjadi endapan Fe(OH)3. NH4CNS K2CrO4 Merah bata Floresen (HFl) Pink Ion Fe3+ Merah % Cl = mL AgNO3 x N AgNO3 x BE Cl x 100 mg sampel 1.+ H2O HF sehingga titik akhir titrasi tidak jelas 2. karena : DIPERHATIKAN (SELAMA TITRASI) • Jika pH tinggi (pH basa) terbentuk AgOH 2AgOH Ag2O + H2O 2Ag+ + 2OH• Jika pH rendah (pH asam). pH diatur asam. pH diatur netral.07 sehingga Ag2CrO4 terbentuk jika ion Cl.Larutan dan terlambat. konsentrasi 2H+ + 2CrO42- Cr2O72. pH diatur netral. karena : • Jika pH tinggi (pH basa) terbentuk AgOH 2Ag+ +2OH• Jika pH 2AgOH rendah indikator Ag2O + H2O (pH ion asam).

Konsentrasi CrO42. Hindari penetapan anion (X-) yang kelarutan endapannya terlalu besar b.A) diketahui AgCl + CNS- AgCNS + Cl- berdasarkan : • Endapan yang semula berwarna putih menjadi pink dan menggumpal. maka : a.Diperlukan koreksi blanko atau Titik Akhir Titrasi (T.01M 4. HERAWATI – KA 2.Selama titrasi berlangsung. Untuk penetapan Xyang menstandardisasi AgNO3 dengan NaCl 5.harus dihitung berdasarkan 2. karena terkompleks oleh indikator. Konsentrasi indicator dapat lebih kecil sampai 0. Ksp AgCl dan Ksp Ag2CrO4 4. kelarutan AgX lebih besar harus dilakukan isolasi AgX c. luas (jenis koloid). Gunakan konsentrasi Fe3+ lebih besar sehingga konsentrasi CNS pada terlalu titik ekivalensi menjadi rendah untuk bereaksi dengan AgX. harus • Larutan yang semula keruh menjadi jernih • Larutan yang semula kuning hijau menjadi tidak berwarna 3.3. maka akan terjadi kelebihan titran secara lokal yang sebelum menyebabkan titik indikator mengendap ekivalensi(oklusi perak kromat oleh AgCl) sehingga titik akhir 3.07 3 . Sifat endapan yang diperoleh pada titrasi Fayans harus mempunyai permukaan yang titrasi tidak tajam. larutan diaduk/dikocok secara homogen. Kesalahan titrasi dapat terjadi jika kelarutan AgX lebih besar dibanding dengan kelarutan AgCNS. ARGENTOMETRI . . jika tidak diaduk.