Anda di halaman 1dari 91

Teori Strukturalisme Levi Stauss

A.

Pendahuluan Teori Sosiologi dapat dibagi sesuai dengan periode ditemukannya, yaitu,

teori Sosiologi Klasik dan teori-teori Sosiologi Modern dan Post Modern. Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Paper ini ditulis dalam rangka ingin menjelaskan mengenai teori Strukturalisme Levi-Strauss, yang termasuk teori Sosiologi Modern, namun untuk memperjelas pembahasannya akan ditambah juga dengan pembahasan teori Strukturalisme Post Modern. Walaupun teori ini jelas memusatkan perhatiannya pada struktur, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan struktur yang menjadi sasaran perhatian teoritisi Fungsionalisme Struktural (salah satu teori Sosiologi klasik). Perbedaanya pada tekanannya, yaitu Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya pada struktur sosial, sedangkan Teori Strukturalisme Levi-Strauss memusatkan pada struktur linguistik (Ritzer, 2004 : 603). Teori ini sebenarnya lebih terkenal sebagai teori Antropologi, tetapi dalam perkembangannya juga dimasukkan dalam teori Sosiologi. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Hal-hal yang tadinya dianggap sederhana dan tidak penting, justru memiliki peran yang sangat penting dalam menemukan dan memahami gejala sosial budaya, misalnya adalah bagaimana kita mungkin bisa memahami suatu fenomena sosial dengan menggunakan analisis sebagaimana para ahli Linguistik memahami bahasa. Bahasa memiliki tempat yang istimewa dalam ilmu sosial. Sebagai alat berkomunikasi, bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam kebudayaan manusia. Oleh karena itu wajar jika untuk mengungkap persoalan budaya dapat dilakukan melalui atau mencontoh metode bahasa (ilmu bahasa). Marcel Mauss (dalam Allen Lane, 1968) menuliskan bahwa:
1

Sociology would certainly have progressed much further if it had everywhere followed the lead of the linguists. Maksudya Sosiologi akan semakin berkembang jika diinspirasi oleh para ahli bahasa dalam memahami gejala sosial. Salah satu ilmuwan sosial yang menggunakan cara bagaimana memahami bahasa dalam menjelaskan fenomena sosial adalah Levi-Strauss. Levi-Strauss melakukan konseptualisasi ulang di bidang Antropologi

dengan sebutan "tiga nyonya" yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marxisme untuk membantu membentuk tren dalam ilmu-ilmu sosial dan teori sastra, dan dipengaruhi oleh intelektualisme seperti Michel Foucault dan Jacques Derrida. Lahir di Belgia, Levi-Strauss belajar filsafat di universitas Sorbonne, Paris dan mengajar Sosiologi di Brasilia pada 1930-an. Teori-teorinya didasarkan hasil penelitannya di belantara Amazone di Brasilia. Sebagian besar teorinya dibangun selama 3 tahun ketika menghabiskan waktu bersama suku Indian di pedalaman Brasil. Pergumulan antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang Antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau Antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh para ahli bidang linguistik. Proses inilah yang kemudian melahirkan teori Strukturalisme Levi-Strauss itu. N. Troubetzkoy (dalam Alan Lane, 1968) menyatakan bahwa pikiran dasar dari teori Struktural adalah: Pertama, linguistik struktural mengalami lompatan dari studi fenomena kesadaran linguistik pada infra-struktur nir-sadar. Kedua, Strukturalisme tidak menganggap istilah-istilah itu independen, tetapi menganalisis hubungan antar istilah-istilah yang saling terikat. Ketiga, Strukturalisme mengenalkan sistem konsep. Dan yang terakhir, linguistik struktural ditujukan untuk menemukan hukum umum (general laws) baik secara induksi maupun dengan cara deduksi.

Lahirnya teori strukturalisme dalam bidang Antropologi/Sosiologi telah melahirkan berbagai perspektif dalam memandang fenomena budaya. Dengan teori ini, persoalan-persoalan tanda (simbol dalam bahasa) semakin mudah dipahami. Hal ini dikarenakan setiap persoalan bisa diidentifikasi melalui struktur dari persoalan tersebut. Karena dalam konsep ini segala sesuatu yang berbentuk diyakini memiliki struktur. Susunan unsur-unsur dapat dianalisis sehingga dapat diketahui asal-usul konsep itu dan juga gejalanya. Dengan demikian penjelasanya akan semakin mudah. Strukturalisme begitu berpengaruh pada pemikiran di kalangan ilmuwan ssosial di tahun 1960-an, terutama di Perancis. Era strukturalisme ini muncul setelah era eksistensialisme yang marak setelah Perang Dunia II. Strukturalisme melakukan beberapa kritik terhadap eksistensialisme dan juga pemikiran fenomenologi. Strukturalisme dianggap menghancurkan posisi manusia sebagai peran utama dalam memandang dan membentuk dunia. Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar. Masyarakat yang semakin kaya dan dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-teknoekonomis mapan dan terkomputerisasi memudarkan aliran humanisme romantis eksistensialis yang berkisar pada subyek otonom, daya cipta peorangan, penciptaan makna, dan pilihan proyek masa depan serta dunia bersama sebagai tempat tinggal yang manusiawi. Usaha eksistensialisme untuk mengubah dan memperbaiki keadaan tersebut tidak berdaya dihadapan kenyataan-kenyataan struktur yang makin kuat yang mengutamakan kemantapan dan keseimbangan struktural daripada dinamika kreatif dari si subyek. Dengan diilhami oleh Marx dan Freud, para strukturalis menyangsikan istilah-istilah kaya kunci eksistensialis seperti ,"manusia", "kesadaran intensional", "subyek", "kebebasan", "otonomi" dan menggantinya dengan istilah-istilah mereka, yaitu: "ketidaksadaran", "struktur","diskursus","penanda" dan "petanda".

Meskipun banyak pertentangan antara eksistensialisme dan strukturalisme tapi ada juga yang saling melengkapi. Dalam pandangan strukturalis manusia terjebak dalam suatu struktur budaya yang dijalinnya sendiri. Ketika manusia lahir ia sudah ada dalam suatu struktur, ia memiliki peran, meskipun kemudian ia mampu memilih atau membuat sendiri sebuah struktur, tapi ia kembali akan terjebak di dalamnya. Pandangan ini mirip dengan faktisitasnya Heidegger dimana manusia terlempar ke dunia tanpa bisa dirundingkan lebih dulu. Perbedaannya faktisitas mengandaikan adanya kebebasan yang menegaskan eksistensialitas manusia. Sedangkan keterjebakkan manusia dalam jaring-jaring struktur mengandaikan hilangnya unsur subyek dan obyek, semua hanyalah bagian dari tenunan struktur. Dengan menggunakan teori linguistik dari Saussure (Semiologi), LeviStrauss melakukan analisis terhadap masalah kekerabatan. Sistem kekerabatan terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi, seperti misalnya suami-istri, anakbapak, saudara lelaki - saudara perempuan, paman-keponakan. Hubungan ini sama seperti bahasa, kekerabatan pun merupakan sistem komunikasi. Bahasa adalah sistem komunikasi, karena informasi atau pesan-pesan yang disampaikan oleh satu individu pada individu lain. Kekerabatan adalah suatu sistem komunikasi, karena klen-klen atau famili-famili lain tukar-menukar wanita-wanita mereka. Sebagaimana halnya bahasa, kekerabatan pun dikuasai oleh aturan-aturan yang tidak disadari. Ketidaksadaran menjadi sebuah unsur pokok yang menandai keberadaan manusia, hubungan antar manusia berada dalam sistem yang tidak disadarinya. Berbeda dengan pandangan Heidegger bahwa seseorang harus memiliki tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri, manusia mempunyai putusan sendiri, ia bukan manusia "massal" atau diombang-ambingkan arus mode dan kecenderungan sosial. Supaya tidak menjadi manusia "massal" tentu dituntut kesadaran penuh tentang lingkungannya yang menurut strukturalis mustahil untuk disadari secara penuh. Perbedaan lain yang cukup mendasar, terutama dengan pemikiran fenomenologi, adalah pencapaian makna atau kebenaran atas yang ada.
4

Bagi Heidegger, Ada itu sendiri tampak sebagai tidak tersembunyi ( aletheia). Ini didapat dari Husserl, seorang fenomenolog, yang mengatakan bahwa obyek kesadaran adalah fenomen dalam arti: apa yang menampakkan diri. Ada sendiri menampakkan diri dan terbuka. Sedangkan Levi-Strauss dengan mengacu pada Kant (P. Ricoeur menjuluki Levi-Strauss sebagai "kantianisme tanpa transendental") bahwa akal budi manusia memiliki sejumlah paksaan, ketentuan dan aturan (bentuk mental apriori, kategori, ide regulatif dan sebagainya) yang dikenakan pada kenyataan empiris. Namun kenyataan itu tidak pernah dimengerti seluruhnya, sebab tiap usaha merepresentasikannya pada dasarnya kurang memadai, kendatipun kenyataan konkret tidak bisa dipahami secara lain, kecuali lewat paksaan mental tersebut. Menurut Levi-Strauss, "Pemahaman" berarti memahami keberadaan sesuatu yang spontan dan tampak bagi kita itu kepada suatu taraf yang lebih dalam, sambil menyadari bahwa realitas yang sebenarnya tidak pernah tampak sendiri dan langsung kelihatan, tetapi justru suka menyembunyikan diri. Dan sisasisa penyembunyian diri itulah yang merupakan bekas-bekas yang hendak "dibaca" sebagai tanda penyingkapan diri yang tak langsung dari kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Makna yang dicari tersembunyi dalam bendabenda yang tampak. Tugas strukturalis lah untuk mengorek makna yang laten tersebut. Seperti sudah diuraikan sebelumnya bahwa Levi-Strauss enggan menggunakan nama "strukturalisme" yang terlalu ideologis, ia memang menolak beberapa pandangan umum mengenai strukturalisme bahwa aliran ini anti humanisme, mengabaikan manusia dan melarutkannya dalam struktur yang berkuasa. Melalui kajian Antropologi budaya, Levi-Strauss membentuk strukturalisme sebagai "humanisme integral baru" yang mengkritik dan mengatasi humanisme klasik Barat. Humanisme klasik dianggap mangancam kehidupan manusia, karena menciptakan pemisahan dan pertentangan antara manusia dan alam, antara budaya Barat dan budaya lain ( non Barat) yang dianggap inferior (merasa rendah dari Budaya Barat). Sebaliknya "humanisme baru" dengan pola

strukturalisme ini tidak mengadakan garis pemisah dan penggusuran yang fatal, tetapi justru menekankan sifat saling terkait dan mencakup segala sesuatu. Hal ini jelas terdapat persamaan dengan pemikiran Heidegger yang juga mengkritik metafisika Barat yang memisahkan subyek (manusia) dan obyek (alam). Penguasaan subyek atas obyek ini dibenahi dengan istilah menggembalakan ada, artinya tidak menguasai keadaan. Persamaan lain adalah keduanya sama-sama menentang bentuk teknik (kemajuan teknologi di Barat) yang jika tidak diwaspadai akan menjadi subyek baru dan menindas keberadaan manusia. Levi-Strauss menyatakannya dengan keprihatinan terhadap nasib masyarakat primitif yang dilenyapkan oleh kekuasaan kolonial Barat demi keuntungan ekonomis (penjajahan yang menggunakan penemuan-penemuan alat /teknik modern). Kebudayaan primitif menurut Levi-Strauss memiliki keaslian dalam menciptakan patokan keselarasan manusia dengan alam dan sesamanya. Rasa kagumnya terhadap budaya primitif tertuang dalam bukunya Mythologica III. Dia mengammbarkan kebudayaan primitif sebagai berikut: "Suatu humanisme yang seimbang, tidak bermula dengan hidup manusia sendiri, tetapi mengutamakan dunia dan alam semesta atas hidup, mengutamakan hidup atas manusia sendiri dan mengutamakan rasa hormat terhadap mahluk-mahluk lain melampaui rasa cinta diri sendiri".

Kedua pemikir memiliki beberapa perbedaan dan kesamaan. Perbedaanperbedaan yang ada tidak dilihat sebagai bertentangan, tetapi justru saling melengkapi. Ketika Levi-Strauss dengan strukturalismenya berusaha menghilangkan dualisme subyek dan obyek yang dianggap mengancam kehidupan manusia maka ia meleburkannya dalam kesatuan struktur yang tak terpilah. Bahaya baru dapat saja muncul dengan tidak ditekankannya pribadi kreatif manusia dan bisa terjebak menjadi manusia "massal". Kekurangan ini dapat dilengkapi dengan pemikiran Heidegger yang meski mengkritik dualisme
6

tersebut, ia tetap menekankan sosok manusia yang autentik. Meski tidak mungkin juga manusia menghindari sepenuhnya arus massa tapi dengan bantuan kesadaran dengan hati nurani manusia yang tidak mudah hanyut. Strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran yang sangat menonjol dalam khazanah pemikiran di Dunia Barat, terutama Eropa Barat, pada dekade 1960-an. Sebuah periode yang ditandai dengan pergolakan intelektual dan juga ditandai dengan berkembang pesatnya strukturalisme, eksistensialisme dan juga yang tidak dapat dilupakan adalah perkembangan Frankfurt School (teori Kritik). Pergolakan intelektual ini juga diwarnai dengan pergolakan mahasiswa yang hidup dalam affluent society, sebagaimana yang terjadi dalam revolusi mahasiswa di bulan Mei 1967 di Paris di Perancis yang menuntut perluasan demokrasi serta penghentian praktek kolonialisme Perancis serta juga gerakan New Left yang menjadikan Herbert Marcuse sebagai nabi yang menginspirasi gerakan mereka. Di tengah kapitalisme yang melahirkan masyarakat serba melimpah di Eropa Barat dan Amerika Serikat serta komunisme di Uni Sovyet yang mengundang decak kagum banyak orang dengan keberhasilannya menjangkau bulan, ilmu sosial di Perancis melahirkan strukturalisme, sebuah genre pemikiran yang melampaui Marxisme yang sedang menjadi trend pemikiran pada saat itu. Adalah Ferdinand de Saussure yang mengawali kajian strukturalisme dalam bahasa, walaupun sebenarnya istilah strukturalisme diperkenalkan pertama kali bukan oleh Saussure, namun oleh Roman Jakobson, seorang ahli linguistik dari Rusia (Payne, 1996:513). Saussure secara brilian melepaskan kajian tentang tanda bahasa dari suatu kajian yang merupakan kajian yang bersifat linguistik semata. Kata struktur yang menjadi dasar dari pemikiran strukturalisme dapat kita lacak dengan memahami Semiotika (Semiotics) atau Semiologi (Semiology) yang dikembangkan secara brilian oleh Saussure untuk mengkaji tanda bahasa. Saussure memproklamirkan bahwa tanda bahasa dibangun melalui struktur relasi antar tanda bahasa yang menunjukan adanya perbedaaan (Payne, 1996:513). Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai oposisi biner ( binary opposition)

yang

dapat

diterapkan

hampir

ke

semua

tanda

bahasa.

Semiotika sendiri secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu semieon, yang artinya adalah tanda. Berdasarkan pendapatnya mengenai oposisi biner, Saussure mengembangkan semiotika ke dalam beberapa aturan pokok yang mengatur sistem tanda bahasa, sehingga dari sinilah kemudian lahir strukturalisme. Pertama, dalam pendapat Saussure, sebuah tanda khususnya tanda kebahasaan, merupakan entitas psikologis yang bersisi dua atau berdwimuka, terdiri dari unsur penanda (signifier) dan petanda (signified). Kedua, elemen tanda-tanda itu menyatu dan saling tergantung satu sama lain. Kombinasi dari keduanya inilah yang kemudian menghasilkan tanda (sign). Penanda adalah aspek fisik dari tanda bahasa, sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Relasi antara penanda dengan petanda terjadi begitu saja dan arbitrer. Karena itu kita perlu mengetahui kode-kode yang menyatakan kepada kata apa yang dimaknakan oleh tanda-tanda. Kode (code) adalah satu sistem dari konvensikonvensi yang memungkinkan kepada seseorang untuk mendeteksi arti dalam tanda-tanda karena hubungan (Berger, 2000 : 219 ). Kedua adalah langue dan parole. Langue dimaksudkan sebagai penggunaan tanda bahasa secara umum atau oleh publik yang menyepakatinya, sedangkan parole adalah pemakaian tanda bahasa di tangan individu. Inilah yang membedakan kajian strukturalisme yang dikembangkan oleh Saussure dengan pendekatan linguistik yang lain, di mana pendekatan linguistik yang lain hanya berhenti pada tataran langue (Bertens, 2001 : 182). Agar lebih jelas, kita dapat mengikuti contoh yang dikemukakan oleh Saussure berikut ini. Dalam permainan catur, para pemain harus mengikuti struktur aturan yang telah ada dan tidak mungkin permainan ini dimainkan jika para pemainnya keluar dari aturan permainan. Sebagai ilustrasi adalah bidak kuda dalam permainan catur memiliki gerak berbentuk huruf L. Ini dapat dianggap sebagai parole dari sebuah sistem struktur. Individu yang bermain catur bebas untuk menggerakkan kuda dalam bentuk huruf L baik ke kiri, ke kanan, ke

depan atau ke belakang. Yang penting masih dalam bentuk huruf L. Ini dapat dianggap sebagai parole. Satu hal yang harus diingat kebebasan menggerakkan kuda ini terstruktur dalam huruf L dan tidak boleh keluar dari aturan ini, karena jika bergerak selain gerak L, maka hancurlah struktur permainan catur itu. Paper ini juga mencoba untuk menjelaskan teori Strukturalisme Levi Strauss, dengan menjabarkan keadaan sosial yang terjadi pada saat teori ini dibangun, teori lain yang mempengaruhi, riwayat hidup penemunya, penjelasan tentang teorinya dan juga kritik terhadap teori tersebut.

B. C. B. Sejarah Hidup Claude Levi-Strauss Sebelum membicarakan teori strukturalisme Levi-Strauss, akan lebih baik jika kita membicarakan sejarah hidup Levi-Strauss secara singkat. Hal ini penting, mengingat perjalanan hidup penggagas teori Antropologi struktural ini sangat dinamis. Latar belakang pendidikan, pengalaman kerja dan tentunya pola pikirnya sangat menentukan dalam mencetuskan teori strukturalnya. Lahir dari orang tua berkebangsaan Prancis dengan darah Yahudi, LeviStrauss diberi gelar doktor dari sejumlah institusi pendidikan terkemuka, seperti universitas Harvard, Yale, dan Oxford di Amerika. Selain itu juga dari universitas di Swedia, Kanada dan Meksiko. Sejak lama dia juga menjadi anggota Academie Francaise, badan pembelajaran terkemuka mengenai hal-hal yang bersingungan dengan Bahasa Prancis. Selain itu, yang juga sangat menentukan dalam pandangan-pandangan Levi-Strauss adalah hubungannya dengan para pakar berbagai bidang di Brasilia, Perancis maupun saat ia berada di New York. Pertemuannya dengan para pakar dari berbagai bidang ilmu itu telah melahirkan berbagai konsep yang sangat penting dalam membentuk teori budaya yang sangat

unik itu. Dikatakan sangat unik karena memang belum terpikirkan oleh para pakar di bidang Antropolgi periode sebelumnya. Levi-Strauss dilahirkan pada 28 November 1905 di Brussles, Belgia. Ia adalah keturunan Yahudi. Ayahnya bernama Raymond Levi-Strauss seorang artis dan juga anggota keluarga intelektual Yahudi Perancis (Intelectual French Jewish family). Sedangkan ibunya bernama Emma Levy. Minat utama Levi-Strauss sebenarnya adalah ilmu hukum. Ia mempelajari hukum di fakultas hukum pada suatu universitas di Paris pada tahun 1927. Di tahun yang sama ia juga mempelajari filsafat di universitas Sorbonne. Ia pernah sukses dalam bidang hukum ketika ia telah mendapatkan licence dalam bidang hukum. Penguasaan dalam bidang hukum mengenai aliran-aliran filsafat materialisme historis ini turut mendorong kesuksesannya dalam bidang Antropologi. Hal yang paling penting dan sangat berpengaruh terhadap loyalitasnya di bidang Antropologi adalah ketika ia membaca buku Primitive Society yang ditulis oleh Robert Lowie. Buku itu cukup mengesankan bagi Levi-Strauss dan mendorongnya untuk mengadakan beberapa studi mengenai masyarakat primitif. Bahkan ia menjadi bosan mengajar di Mont de-Marsan Lycee dan berkeinginan untuk mengadakan perjalanan keliling dunia. Apa yang diharapkan oleh Levi-Strauss ini akhirnya terkabulkan setelah ia berkesempatan menjadi pengajar di Universtias Sao Paulo, Brazil. Di universitas ini ia memiliki kesempatan untuk keliling ke daerah-daerah pedalaman Brazil, serta mengunjungi berbagai suku Indian yang selama itu boleh dikatakan belum terjamah oleh peradaban Barat. Dari ekpedisi yang di dukung oleh Musee de 1Hummed dan museum di kota Sao Paulo ini, memberi kesempatan kepadanya untuk mempelajari orang-orang Indian Caduveo dan Bororo. Pengalaman perjalanannya menjelajah daerah-daerah terpencil itu

ditulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Tristes Tropique. Buku ini bercerita tentang penderitaan orang-orang Indian di belantara Amazone. Berawal dari buku inilah yang menjadikan Levi-Strauss terkenal sampai ke negara asalnya yakni
10

Prancis. Ia bahkan telah menghasilkan suatu karya yang sangat penting di bidang Antropologi yang sesungguhnya sangat jauh dari studi formal yang dimilikinya. Karir Levi-Strauss sempat mengalami halangan saat ia diwajibkan menjalani wajib militer. Ia ditugaskan dibagian pos telekomunikasi di bidang sensor telegram. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi liaison officer, yaitu petugas penghubung. Namun dalam situasi yang seperti itu tetap tidak menghalangi dirinya untuk menjadikannya seorang professor. Ia pun akhirnya dibebaskan dari kewajiban militer setelah menjadi seorang professor. Halangan tidak hanya sampai disitu, ia juga mengalami diskriminasi ras. Ia dipecat dari jabatannya karena ia adalah seorang Yahudi. Akhirnya Levi-Strauss diselamatkan oleh program Yayasan Rockefeller, yang memiliki program menyelamatkan ilmuwan dan pemikir-pemikir Eropa berdarah Yahudi di Amerika Serikat. Dari program ini Levi-Strauss berhasil datang ke New York dan selamat dari pembantaian tentara Nazi yang anti terhadap orang-orang Yahudi. Di daerah Greenwich Village, New York, Levi-Strauss tinggal. Di kota New York inilah Levi-Strauss semakin banyak memiliki peluang mengembangkan keilmuannya. Ia banyak berkomunikasi dengan para ilmuan buangan dari Prancis, seperti Maz Ernst, Franz Boas, Ruth Benedict, A.L. Kroever dan Ralph Linton. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah Etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes, yang didirikan oleh para intelektual pelarian dari Prancis. Kita sangat menghargai perjuangan Levi-Strauss dalam menemukan teori (konsep) strukturalisme ini. Dengan ketekunan, kesabaran, dan ketelitian yang luar biasa Levi-Strausss mampu melahirkan karya yang sangat bermanfaat. Berkat jasanya, ribuan bahkan jutaan mitos kini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita. Mitos-mitos itu sebelumnya tak seorang pun yang memperhatikan, bahkan masih sangat sedikit orang yang mendokumentasikan mitos-mitos tersebut.

11

Selama hidupnya Levi-Strauss pernah menduduki jabatan-jabatan strategis terutama di bidang pendidikan. Pada tahun 1935 sampai 1939 ia diangkat sebagai seorang Professor di Universitas Sao Paolo yang kemudian melakukan beberapa ekspedisi ke Brazil. Pada tahun 1942 sampai 1945 ia diangkat sebagai professor di New School for Social Research. Pada tahun 1959 ia menjadi direktur The Ecole Practique des Hautes Etude, yang bersamaan pula dengan kedudukannya sebagai pimpinan Social Antropology pada College de France. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya diantaranya adalah: the wenner-Gren Foundations Viking Fund Medal dan Erasmus Prize pada tahun 1975. Ia juga dianugrahi empat gelar kehormatan oleh Oxford, Yale, Harvard dan Columbia University di Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan National Public Radio, Levi-Strauss menyatakan bahwa prospek manusia sangat suram. "Pada hari ini hilangnya spesies hidup yang sangat mengerikan, baik itu tanaman atau hewan. Dan itu jelas bahwa kepadatan manusia telah menjadi begitu besar, mereka telah mulai meracuni diri mereka sendiri. Dan dunia di mana saya menyelesaikan keberadaan saya, tidak lagi dunia yang aku suka," kata LeviStrauss. Acadmie franaise adalah institusi yang bergengsi milik Levi-Strauss, berencana untuk menghormatinya, setelah dia meninggal. Penulis Jean d'Ormesson, menjulukinya "ilmuwan terbesar Perancis." Hlne Carrre d'Encausse, sekretaris abadi Acadmie franaise, memuji Levi-Strauss memiliki "semangat keterbukaan yang luar biasa". Berbicara pada radio Perancis, ia berkata, "Dia adalah seorang pemikir, seorang filsuf. ... Kami tidak akan menemukan lagi seperti dia." Levi Strauss meninggalkan dua putra, salah satu di antaranya adalah kepala bagian Museum dan benda-benda budaya UNESCO di Paris. Claude Levi-Strauss adalah pencetus Antropologi Struktural dengan

strukturalisme sebagai perspektifnya.Pada zaqmannya, lahir pula Antropologi Kognitif, dikembangkan Ward H. Goodenough (1950-an). Aliran ini membawa

12

definisi budaya dari yg fisik menuju pengertian bahwa budaya sebagai sistem pengetahuan. Aliran Antropologi Simbolik- Interpretatif yg dipelopori oleh Clifford Geertz melihat sistem simbol sebagai media pemahaman manusia atas sistem nilai dan sistem koginitifnya. Levi-Strauss disebut sebagai bapak Antropologi modern berkat karya-karyanya. Beberapa di antaranya adalah teori tentang persamaan komponen antara masyarakat industri dan sukuterasing. Karyakarya pemikir abad 20 ini, dalam rentang enam dekade, antara lain "Tristes Tropiques" (1955), "The Savage Mind" (1963), dan "The Raw and the Cooked" (1964). Seperti dikutip dari siaran stasiun televisi BBC, Levi-Strauss juga memperkenalkan strukturalisme, konsep mengenai pola umum pikiran dan tingkah laku, terutama mitos, dalam jangkauan luas masyarakat. Dia juga seorang pecinta musik sejati. Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebut Levi-Strauss sebagai salah satu etnolog besar sepanjang waktu. Akhirnya Claude Lvi-Strauss, seorang tokoh di dunia Antropologi abad ke-20, meninggal di Paris pada 31 Oktober, 2009 dengan usia 101 tahun. LeviStrauss memperkenalkan "strukturalisme" untuk Antropologi, konsep bahwa semua masyarakat universal mengikuti pola pikir dan perilaku, sebagaimana dicontohkan dalam mitos-mitos yang berkembang.

C.Konsep Strukturalisme Levi-Strauss Sebagaimana diketahui bahwa cakupan ilmu sosial itu sangat luas. Hal ini disebabkan banyaknya persoalan yang timbul dalam aktivitas manusia baik secara individu maupun dalam kaitannya dengan masyarakat. Oleh karena begitu kompleknya persolan itu, sangat tidak mungkin bisa memahami fenomena sosial tanpa mengaitkan dengan fenomena-fenomena lain. Inilah yang menjadikan salah satu alasan kenapa dalam ilmu sosial kita harus meniru metode ilmu-ilmu di luar ilmu sosial; seperti ilmu eksakta dan pengetahuan alam ( exact and natural Sciences). Dari rangkaian persoalan manusia itu terdapat beberapa kesamaan yang
13

bisa dijadikan model dalam sebuah penelitian. Allen Lane (1968;8) menyatakan sebagai berikut: On the other hand, studies in social structure have to do with the formal aspects of social phenomena; they are therefore difficult to define, and still more difficult to discuss, without overlapping other fields pertaining to the exact and natural sciences, where problems are similarly set in formal terms or, rather, where the formal expression of different problems admits of the same kind of treatment. Pendapat Allen ini menunjukkan adanya struktur dalam setiap persoalan. Adanya struktur ini memungkinkan juga adanya persamaan-persamaan. Oleh karena itu pula pemahaman dasar dari teori strukturalisme adalah mengacu pada model penelitian linguistik. Langkah ini dilakukan karena dalam strukturalisme dipahami bahwa setiap benda yang berbentuk pasti memiliki struktur. Kroeber dalam buku edisi kedua Anthropology menyebutkan bahwa: Structure appears to be just a yielding to a word that has perfectly good meaning but suddenly becomes fashionably attractive for a decade or so like streamlining- and during its vogue tends to be applied indiscriminately because of the pleasurable connotations of its sound. Of course a typical personality can be viewed as having a structure. But so can a physiology, any organism, all societies and all cultures, crystals, machines- machines- in fact everything that is not wholly amorphous has a structure. So what structure adds to the meaning of our phrase seems to be nothing, except to provoke a degree of pleasant puzzlement. Dalam konsep Strukturalisme Levi-Strauss, struktur adalah model-model yang dibuat oleh ahli Antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya, yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri (Ahimsa, 2006; 60). Meskipun bertolak pada linguistik, fokus strukturalisme Levi-Strauss sebenarnya bukan pada makna kata, tetapi lebih menekankan pada bentuk (pattern) dari kata itu. Bentuk-bentuk kata ini menurut Levi-Strauss berkaitan erat dengan bentuk atau susunan sosial masyarakat. Oleh sebab itu Sarah Schmitt (1999) menyatakan, Levi-Strauss derived structuralism from school of linguistics whose focus was not on the meaning of the word, but the patterns that the words form.

14

Strukturalisme Levi-Strauss juga bertolak dari konsep oposisi biner (binary opposition). Konsep ini dianggap sama dengan organisasi pemikiran manusia dan juga kebudayaannya. Seperti kata-kata hitam dan putih. Hitam sering dikaitkan dengan kegelapan, keburukan, kejahatan, sedangkan putih dihubungkan dengan kesucian, kebersihan, ketulusan dan lain-lain. Contoh lain adalah kata rasional dan emosional. Rasional dianggap lebih istimewa dan diasosiasikan dengan laki-laki. Sementara emosional dianggap inferior yang diasosiasikan dengan perempuan. Semua konsep mengenai struktur bahasa tersebut di atas, dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang ada dalam kehidupan sosial. Untuk membuktikan adanya keterkaitan atau beberapa kesamaan antara bahasa dan budaya, LeviStrauss mengembangkan teorinya dalam analisis mitos. Levi-Strauss sangat tertarik pada logika mitologi. Itu sebabnya ia mulai dengan mitos, menggabungkan fungsi-fungsi hanya secara vertikal, dan mencoba menerangkan paradigmatik mereka yang tumpah-tindih dengan varian-varian mitos. Model strukturalnya tidak linier (Meletinskij, 1969 dalam Fokkema, 1978). Untuk mengetahui makna struktur dalam bidang Antropologi Levi-Strauss, perlu diketahui terlebih dahulu prinsip dasar dari struktur itu sendiri. Prinsip dasar struktur yang dimaksud disini adalah bahwa struktur sosial tidak berkaitan dengan realitas empiris, melainkan dengan model-model yang dibangun menurut realitas empiris tersebut (Levi-Strauss, 1958; 378). Bangunan dari model-model itu yang akan membentuk struktur sosial. Menurut Levi-Strauss (1958) ada empat syarat model agar terbentuk struktur sosial; 1. Sebuah struktur menawarkan sebuah karakter sistem. Struktur terdiri atas elemen-elemen seperti sebuah modifikasi apa saja, yang salah satunya akan menyeret modifikasi seluruh elemen lainnya.

15

2.

Seluruh model termasuk dalam sebuah kelompok transformasi, di mana masing-masing berhubungan dengan sebuah model dari keluarga yang sama, sehingga seluruh transformasi ini membentuk sekelompok model.

3.

Sifat-sifat yang telah ditunjukan sebelumnya tadi memungkinkan kita untuk memperkirakan dengan cara apa model akan beraksi menyangkut modifikasi salah satu dari sekian elemennya.

4.

Model itu harus dibangun dengan cara sedemikian rupa sehingga kegunaannya bisa bertanggung jawab atas semua kejadian yang diobservasi. Lahirnya konsep Strukturalisme Levi-Strauss merupakan akibat dari

ketidakpuasan

Levi-Strauss

terhadap

fenomenologi

dan

eksistensialisme

(Fokkema, 1978). Masalahnya para ahli Antropologi pada saat ini tidak pernah mempertimbangkan peranan bahasa yang sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan manusia itu sendiri. Dalam bukunya yang berjudul Trites Tropique (1955) ia menyatakan bahwa penelaahan budaya perlu dilakukan dengan model linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, bukan seperti yang dikembangkan oleh Bergson. Karena bagi Bergson tanda linguistik dianggap sebagai hambatan, yaitu sesuatu yang merusak impressi kesadaran individual yang halus, cepat berlalu, dan mudah rusak (Fokkema, 1978). Bagi Levi-Strauss telaah Antropologi harus meniru apa yang dilakukan oleh para ahli linguistik. LeviStrauss memandang bahwa apa yang ada di dalam kebudayaan atau perilaku manusia tidak pernah lepas dari apa yang terefleksikan dalam bahasa yang digunakan. Oleh karena itu akan terdapat kesamaan konsep antara bahasa dan budaya manusia. Singkatnya Levi-Strauss berkeyakinan bahwa untuk mempelajari kebudayaan atau perilaku suatu masyarakat dapat dilakukan melalui bahasa. Istilah kekerabatan, seperti halnya fonem, merupakan unsur makna; dan seperti fonem, kekerabatan memperoleh maknanya hanya dari posisi yang mereka tempati dalam suatu sistem. Kesimpulannya adalah bahwa meskipun mereka berasal dari tatanan relitas yang lain, fenomena kekerabatan merupakan tipe yang sama dengan fenomena linguistik (Levi-Strauss, 1972 dalam Fokkema, 1978).
16

Ahimsa (2006: 24-25) menyebutkan bahwa ada beberapa pemahaman mengenai keterkaitan bahasa dan budaya menurut Levi-Strauss. Pertama, bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Kedua, menyadari bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Karena bahasa merupakan unsur dari kebudayaan, maka bahasa adalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat juga pendapat para pakar kebudayaan yang selalu menyertakan bahasa sebagai unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Untuk itu jika kita membahas mengenai kebudayaan, kita tidak pernah bisa lepas dari pembahasan bahasa (lihat, Koentjaraningrat, 1987). Ketiga, menyatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan. Dengan kata lain melalui bahasa manusia mengetahui kebudayaan suatu masyarakat yang sering disebut dengan kebudayaan dalam arti diakronis. Dengan bahasa manusia menjadi makhluk sosial yang berbudaya. Berikutnya, bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan untuk membangun bahasa pada dasarnya memiliki kesamaan jenis atau tipe dengan apa yang ada pada kebudayaan itu sendiri. Hubungan atau korelasi bahasa dan budaya terjadi pada tingkat struktur (mathematical models) dan bukan pada statistical models (Ahimsa, 2006). Model-model matematis pada bahasa dapat berbeda pada tingkatan dengan model matematis yang ada pada kebudayaan. Seperti yang disebutkan oleh Levi-Strauss (1963), korelasi sistem kekerabatan orang-orang Indian di Amerika Utara dengan mitos-mitos mereka, dan dalam cara orang Indian mengekspresikan konsep waktu mereka. Korelasi semacam ini sangat mungkin terdapat pada kebudayaan lain. Antropologi mengalami perkembangan pesat setelah dikembangkan dengan model linguistik, terutama setelah diakuinya bidang Fonologi atau ilmu tentang bunyi dalam bahasa (Fokkema, 1978). Namun demikian, perlu juga diperhatikan beberapa perbedaan mendasar antara sifat keilmuan Fonologi dengan apa yang ada dalam Antropologi/Sosiologi. Levi-strauss mengakui bahwa analisis yang benar-benar ilmiah harus nyata, sederhana, dan bersifat menjelaskan (Levi17

Strauss, 1972, dalam Fokkema, 1978).Tetapi hal itu agak berbeda dengan apa yang ada dalam Antropologi. Antropologi/Sosiologi bukan bergerak dari hal-hal yang kongkret, analisis Antropolgi justru maju ke arah yang berlawanan, manjauhi yang kongkret, sistemnya lebih rumit daripada data observasi dan akhirnya hipotesisnya tidak menawarkan penjelasan bagi fenomena maupun asalusul sistem itu sendiri. Antropologi/Sosiologi berurusan dengan sistem kekerabatan pada titik persilangan dua tatanan realitas yang berbeda, sistem terminologi dan sistem sikap. Fonologi bisa diterangkan secara ekskulsif dalam sistem persitilahan; ia tidak perlu memperhitungkan segala sikap sumber sosial atau sumber psikologis, tetapi bagaimana manusia mengucapkan vokal. Asumsi dasar nalar manusia (human mind) adalah sistem relasi (system of relation). Kebudayaan dan bahasa berposisi sejajar karena keduanya merupakan hasil dari nalar manusia. Antropolog Levi-Strauss bertujuan menemukan model bahasa dan budaya melalui strukturnya. Pemahaman terhadap pikiran dan perilaku kehidupan manusia, serta relasi manusia dengan tradisi sangat penting. Kebudayaan adalah produk atau hasil aktifitas nalar manusia yang memiliki kesejajaran dengan bahasa dan tradisi. Tradisi adalah sebuah jalan bagi masyarakat untuk memformulasikan dan memperlakukan fakta-fakta dasar dari eksistensi kehidupan manusia. Tradisi adalah tatanan transendental sebagai pengabsah tindakan dan juga sesuatu yg imanen dalam situasi aktual dan bersesuaian dengan konteks bersifat dinamis (J.C. Hastermann). sebagai contoh: Konsensus manusia tentang persoalan kehidupan dan kematian merupakan suatu tradisi yang penuh dengan simbul dan tradisi, oleh karena itu selalu dengan upacara yang berbeda menurut pemahaman suatu suku atau pemeluk agama tertentu. Di Bali, misalnya ketika persiapan menguburkan mayat, selalu daiadakan pesta dan upacara kematiannya penuh dengan kegembiraan, apalagi ketika upacara pembakaran mayat, sedangkan upacara kemaian pada pemeluk Islam, dipenuhi dengan kesedian dan bahkan dilarang sama sekali memasak makanan pada komunitas Islam tertentu.

18

Dalam hal ini pengaruh pemikiran tokoh-tokoh terhadap strukturalisme Levi-Strauss cukup besar. Levi-Strauss Strauss belajar metode komparasi tentang geologi masyarakat (Marx) untuk menemukan geologi psikis (Freud) dan bagaimana pola umum objek dalam menjelaskan gejala yang tersembunyi. Kajiannya berupa relasi antara keilmuan yang inderawi dan yang linguistik rasional yang dilakukan oleh Fredinand de Saussure (1857-1913), ahli bahasa Swiss yang membangun Strukturalisme dari sudut ilmu bahasa struktural yg akhirnya menjadi teori Strukturalisme itu. Bahasa adalah sistem tanda (sign). Suara dapat dikatakan sebagai bahasa jika dapat mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan ide atau pengertian tertentu. Elemen dasarnya adalah katakata. Jadi ide tidak ada sebelum adanya kata-kata. Suara yang muncul dari sebuah kata adalah penanda (signifier), konsep suara tersebut adalah tinanda (signified). Contoh: Jaran, kuda, horse adalah penanda. Sedangkan binatang berkaki 4 (empat) & berlari kencang adalah tinanda. Hubungan antara penanda & tinanda disebut arbiter. Tinanda dari sebuah penanda dapat berupa apa saja, tergantung dari relasinya. Menurut Fredinand de Saussure konsep bentuk (form) dan isi (content) penanda dan tinanda selalu memiliki bentuk dan isi. Isi bisa berubah, namun bentuknya tidak. Untuk dapat mengetahui kekhasan bentuk (distinctive form) ialah dengan mengenali perbedaan satu kata dengan kata yang lain (differensiasi sistematis). Sebagai contoh: babu, tabu, sabu, jelas sekali walaupun fonemnya hampir sama, tetapi artinya sangat berbeda, karena perbedaan sistimatis tersebut. Saussure juga membedakan antara konsep langue & parole. Langue adalah sistem tata bahasa formal; sistem elemen phonic yg hubungannya ditentukan oleh hukum yg tetap. Sedangkan parole adalah percakapan sebenarnya, yaitu cara pembicara mengungkapkan bahasa untuk dirinya sendiri dalam rangka berkomunikasi dengan orang lain. Adanya langue menyebabkan adanya parole. Kehidupan manusia dibentuk oleh struktur bahasa. Studi tentang struktur bahasa melalui tanda melahirkan Semiotics, yaitu suatu ilmu yang lebih luas kajiannya dari pada Strukturalisme, karena
19

juga menganalisa sistem simbol,

bahasa tubuh, naskah sastra, ekspresi, dan bentuk komunikasi. Tokoh Semiotics adalah Roland Barthes dan Fredinand de Saussure yang melakukan studi sinkronis (fakta bahasa sebagai sistem) bukan diakronik (historis bahasa & perubahan evolutifnya), serta berusaha untuk membedakan sintagmatis dan paradigmatis. Sintagmatis adalah hubungan yg dimiliki sebuah kata dengan kata sebelumnya. Contoh: kata menggigit akan berhubungan dg anjing, kedinginan, kegeraman, dan lain sebagainya. Sedangkan paradigmatis atau asosiatif adalah relasi antara suku kata dengan kata lain diluar hubungan sintagmatis. Sebagai contoh: kata menggigit juga ada relasinya dengan memakan, dan lain sebagainya. Selanjutnya menurut Saussure, text/bunyi *jeruk* punya arti/makna karena ada text bunyi lain macam *kelapa*, *pergi*, *bangku*, dan lain-lain. Saussure menyebutnya sebagai oposisi biner. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan secara struktural. Teori oposisi biner ini jadi terkenal setelah Levi Strauss menggunakan teori ini untuk menganalisa proses kultural seperti cara memasak, cara berpakaian, sampai mitos dalam masyarakat. Bahwa lahirnya bahasa dari segi arti/makna yang muncul dalam otak itu berasal dari komunikasi genital. Namun dari segi 'actual speech' atau omongan ('parole'), adalah bagaimana manusia itu merepresentasikan pikirannya lewat omongan, dan memproduksi suara, mungkin lewat gerengan atau raungan sebagaimana ketika seekor harimau makan binatang buruan bersama itu. Dalam sebuah struktur oposisi biner yang ideal, segala sesuatu arti/makna dapat dimasukkan dalam dua kategori. Kategori X ataupun kategori Y. Suatu kategori X tidak ada dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori Y. Dalam sistem biner, hanya ada dua sign (tanda) yang hanya memiliki makna bila masing-masing beroposisi dengan yang lain. Suatu kategori jadi exist atau bermakna, karena ditentukan oleh ketidak existan/ketidakbermaknaan kategori yang lain. Contoh yang jelas dalam sistem biner adalah : laki-laki <--> perempuan. Seseorang disebut laki-laki karena dia bukan perempuan. Contoh lain adalah gunung <--> lembah. Disebut gunung,
20

mencaplok, mengerogoti,

karena dia bukan lembah dan begitulah seterusnya, seperti: . publik <--> privat, daratan <--> lautan, positip <--> negatip. Sistem oposisi biner tidaklah lahir secara natural. Dia adalah berbentuk produk atau reproduksi budaya. Dia lahir karena manusia punya sistem penandaan dalam otaknya (genital-communication), dan sistem penandaan ini digunakan untuk menstrukturkan persepsi serta pemahaman manusia pada dunia di luar mereka, baik terhadap alam natural atau pun dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan. Sistem oposisi biner ini oleh manusia tidak saja digunakan untuk mengkategorikan sesuatu yang hanya ada di dunia alamiah, tetapi dia juga digunakan untuk untuk memahami/menjelaskan kategori-kategori makna yang abstrak. Contoh sederhana adalah oposisi biner alamiah seperti batu <--> air diparalelkan dengan keras <-> lunak, diabstrakkan jadi pemerintah yang kejam <> pemerintah yang ramah. Oposisi biner ini juga dapat menjelaskan dan digunakan untuk menganalisa perkara GAM/OPM lawan NKRI, separatis lawan NKRI, militer-sipil, Islam moderat dan Islam radikal serta hubungan struktural antara keduanya yang timpang dan bagaimana memperbaikinya. Kalau melihat struktur oposisi biner ini dapat disimpulkan bahwa suatu struktur (baik abstrak atau konkrit) selalu ada, karena adanya sistem oposisi biner yang mendukung struktur tersebut. Kalau Indonesia disebut sebagai struktur yang terbentuk dari bermacam-macam oposisi biner, maka penghilangan salah satu bagian dari oposisi biner pasti akan meruntuhkan struktur Indonesia itu. Terjadinya berbagai masalah di Indonesia mungkin disebabkan hilangnya salah satu bagian struktur oposisi biner tersebut. Inilah pentingnya pengetrapan teori Strukturalisme pada fenomena aktual sekarang ini. Konsep oposisi biner mula-mula diteorisikan oleh ahli bahasa Ferdinand de Saussure, tetapi Claude Levi-Strauss-lah yang membuatnya menjadi sangat berpengaruh. Strauss merupakan Antropolog strukturalis yang banyak menggunakan teori-teori bahasa. Bagi Strauss, oposisi biner adalah 'the essence of sense making', yaitu struktur yang mengatur sistem pemaknaan kita terhadap budaya dan dunia tempat kita hidup. Oposisi biner adalah sebuah sistem yang
21

membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Dalam struktur oposisi biner yang sempurna, segala sesuatu dimasukkan dalam kategori A maupun kategori B, dan dengan memakai pengkategorian itulah, kita mengatur pemahaman dunia di luar kita. Suatu kategori A tidak dapat eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan kategori B. Kategori A masuk akal hanya karena ia bukan kategori B. Tanpa kategori B, tidak akan ada ikatan dengan kategori A, dan bahkan tidak akan ada kategori A. Dalam sistem biner, hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Keberadaan mereka ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Misalnya dalam sistem biner laki-laki dan perempuan dan laki-laki, daratan dan lautan, atau antara anak-anak dan orang dewasa. Seseorang disebut laki-laki karena ia bukan perempuan, sesuatu itu disebut daratan karena ia bukan lautan, begitu seterusnya. Oposisi biner adalah produk dari 'budaya', ia bukan bersifat 'alamiah'. Ia adalah produk dari sistem penandaan, dan berfungsi untuk menstrukturkan persepsi kita terhadap alam natural dan dunia sosial melalui penggolonganpenggolongan dan makna. Strauss juga menyebutkan konsep dasar dari oposisi biner yaitu 'the second stage of the sense-making process': penggunaan kategorikategori sesuatu yang hanya eksis di dunia alamiah (sesuatu yang kongkret) untuk menjelaskan kategori-kategori konsep kultural yang abstrak. Contoh sederhana dari konsep ini misalnya diberikan oleh John Fiske (1994): konsep oposisi biner angin badai dan angin tenang (kongkret) misalnya, bisa disejajarkan dengan oposisi biner alam yang kejam dan alam yang tenang (abstrak). Proses transisi metafor dari sesuatu yang abstrak dalam sesuatu yang kongkret ini dinamakan Strauss sebagai 'the logic of concrete'. Secara struktur oposisi biner berhubungan satu dengan yang lain, dan bisa ditransfor-masikan dalam sistem-sistem oposisi biner yang lain. Oposisi biner menimbulkan posisi-posisi ambigu yang tidak bisa dimasukkan dalam kategori A atau kategori B, yang bisa disebut dengan atau kategori ambigu atau 'kategori skandal' (Strauss lebih senang menyebutnya dengan 'anomalous category.Kategori anomali ini muncul dan mengganggu
22

sistem oposisi biner. Ia mengotori kejernihan batas-batas oposisi biner. Antara anak-anak dan orang dewasa, ada posisi remaja. Antara daratan dan lautan, ada pantai. Antara orang hidup dan orang mati ada sesuatu yang disebut vampir, hantu, zombi. Antara laki-laki dan perempuan ada gay/lesbian/banci. Pantai, remaja, vampir/hantu/zombi, atau gay/lesbian/banci adalah 'kategori anomali'. Kata tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik paling dasar karena yang terkecil adalah fonem (satuan) bunyi yang terkecil dan berbeda, sebagai contoh: kutuk dan kuthuk (Jawa). Perbedaan t dan th inilah yang disebut fonem (Nikolai Troubetzkoi). Fonem adalah konsep linguistik bukan konsep psikologis. Struktur terbagi dua, yaitu: Struktur permukaan/luar (surface structure): adalah relasi-relasi antar unsur yg dapat dibuat atau dibangun berdasarkan ciri-ciri empiris dari relasi tersebut. Sedangkan struktur batin/dalam (deep structure): adalah susunan tertentu yg dibangun atas struktur lahir yg telah berhasil dibuat. Transformasi adalah perubahan bahasa pada struktur luar, tapi pada struktur dalam tetap sama. Pemahaman kita akan adanya struktur dalam setiap benda atau aktivitas manusia memudahkan identivikasi benda atau aktivitas tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam Strukturalisme adalah adanya perubahan pada struktur tersebut. Perubahan yang terjadi dalam suatu struktur disebut dengan transformasi (transformation). Transformasi harus dibedakan dari kata perubahan yang berarti change. Karena dalam proses transformasi tidak sepenuhnya berubah. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari suatu struktur yang mengalami perubahan sedangkan elemen-elemen yang lama masih ada. Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa terbentuknya struktur merupakan akibat dari adanya relasi-relasi dari beberapa elemen. Oleh karena itu struktur juga oleh Levi-Strauss diartikan sebagai relations of relations atau system of relation (sistim relasi). Agar pemahaman mengenai teori strukturalisme LeviStrauss lebih baik, perlu disampaikan konsep bahasa menurut para ahli linguistik yang mempengaruhi lahirnya teori ini. Diantara mereka yang sangat berpengaruh

23

terhadap pandangan Levi-Strauss adalah; Ferdinan de Saussure, Roman Jakobson dan Nikolay Trobetzkoy. Dari ketiga pemikir linguistik ini, Levi-Strauss memiliki keyakinan bahwa studi sosial bisa dilakukan dengan model linguistik yaitu yang bersifat struktural. (Levi-Strauss, 1978 dalam Ahimsa 2006). C. Para Ahli bahasa yang berpengaruh pada pemikiran Levi Strauss Berikut ini adalah para pakar bahasa yang mempengaruhi Levi Strauss dalam proses pengembangan teori Struktulaisme. a. Ferdinand de Saussure Ferdinand de Saussure (1857-1913) merupakan penemu linguistik modern (Modern Linguistics). Gagasan terbesar de Saussure adalah pada teori umum sistem tanda (general theory of sign system) yang disebutnya dengan ilmu Semiologi (Semiology) (Winfried Noth, 1995; 56). Sebagai penemu konsep linguistik modern, wajar jika de Saussure dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap teori Strukturalisme. Terobosan pemikiran de Saussure dimulai pada pemikirannya mengenai hakekat gejala bahasa. Pemikiran ini kemudian melahirkan konsep struktural dalam bahasa dan juga semiologi atau yang sekarang disebut dengan semiotik (Ahimsa, 2006). Ada lima pandangan de Saussure yang mempengaruhi Levi-Strauss dalam memandang bahasa. Yaitu; 1. Signifier dan signified. Signified (tinanda) dan signifier (penanda); Bahasa adalah suatu sistem tanda (sign). De Saussure berpendapat bahwa elemen dasar bahasa adalah tanda-tanda linguistik atau tanda kebahasaan (linguistic sign), yang wujudnya tidak lain adalah kata-kata. Bagi Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata, dan menurut dia secara psikologis pikiran kita terlepas dari perwudjudannya dalam kata-kata sebenarnya hanyalah Shapeless and indistinct mass,
24

sesuatu yang tak berbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan atau tak bisa dibeda-bedakan. Tanda adalah juga kesatuan dari suatu bentuk penanda yang disebut signifier, dengan sebuah ide atau tinanda yang disebut signified, walaupun penanda dan tinanda tampak sebagai entitas yang terpisahpisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen dari tanda. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler; 1976, 19 dalam Ahimsya, 2006 h. 35). Setiap tanda kebahasaan pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citra suara (sound image), bukan menyatukan sesuatu dengan sebuah nama. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifier), sedang konsepnya adalah tinanda (signified). 2. Form (bentuk) dan content (isi). Wadah atau form adalah sesuatu yang tidak berubah. Dalam konsep ini, isi boleh saja berganti tetapi makna dari wadah masih tetap berfungsi. Untuk menjelaskan konsep ini memang agak sulit. Kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan kedudukan wadah (form) dan isi adalah pergantian salah satu fungsi dari komponen permainan catur. Meskipun komponen kuda hilang seumpamanya. Fungsi kuda ini masih bisa digantukan dengan benda lain yang mirip atau tidak sama sekali dengan bentuk asli kuda yang digantikan. Suatu benda yang ditempatkan pada posisi kuda, akan tetap memiliki fungsi dan kedudukan yang sama dengan kuda yang hilang itu. Jadi benda apapun selama kita tempatkan dam posisi kuda, meskipun dengan bentuk yang lain dari kuda itu tetap bisa menggantikan fungsi kuda yang digantikan tersebut. 3. Langue (bahasa) dan parole (ujaran, tuturan).

25

Pembahasan de Saussure bukan hanya fokus pada aspek bahasa semata tetapi juga aspek sosial dari bahasa. Komsep langue merupakan aspek yang memungkinan manusia berkomunikasi dengan sesama. Inilah kenapa langue membicarakan juga aspek sosial dalam linguistik. Dalam langue terdapat norma-norma, aturan-aturan antarperson yang tidak disadari tetapi ada pada setiap pemakai bahasa.

Disisi lain parole merupakan tuturan yang bersifat individu, ia bisa mencerminkan kebebasan pribadi seseorang. Tuturan ini marupakan apa yang terwujud ketika kita mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang kita pergunakan. Dengan kata lain tuturan yang membedakan kita dengan orang lain melalui gaya bahasa. 4. Sinkronis dan diakronis De Saussure meyakini akan adanya proses perubahan bahasa. Oleh karena itu keadaan ini menuntut adanya perbedaan yang jelas antara fakta-fakta kebahasasan sebagai sebuah sistem, dan fakta-fakta kebahsaan yang mengalami evolosi (Culler, 1976, via Ahimsa, 2006; 46). Karena sifatnya yang evolutif maka tanda kebahasaan sepenuhnya tunduk pada proses sejarah. Namun demikian, de Saussure masih saja menekankan bahasa pada proses sinkronis. Karena tida semua fakta-fakta kebahasaan itu memiliki sejarah. Hal ini dikarenakan tanda itu sebagi suatu entitas yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasi dengan tanda-tanda lain. kesimpulannya bahasa diartikan sebagai a system of pure values whcih are determined by nothing except the momentary arrangement of its terms (Ferdinand de Saussure, 1966, via Ahimsa, 2006; 47). Dari pengertian inilah akhirnya dapat dipahami bahwa untuk mempelalajari bahasa diperlukan pemahaman terhadap relasi-relasi atas elemen-elemen yang bersifat sinkronis.
26

5. Sintagmatik dan Paradigmatik. Dalam kontek ini de Saussure menyatakan bahwa manusia menggunakan kata-kata dalam komunikasi bukan begitu saja terjadi. Tetapi menggunakan pertimbangan-pertimbangan akan kata yang akan digunakan. Kita memiliki kata yang mau kita gunakan sebagaimana penguasaan bahasa yang kita miliki. Disinilah hubungan sintagmatik dan paradigmatik itu berperan. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik terdapat dalam kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep (Ahimsa, 2006; 47). Hubungan sintagmatik adalah hubungan yang dimiliki sebuah kata dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. Sepeti kata yang terdapat dalam kata saya, memetik dan bunga. Ketiga kata ini bisa digabung menjadi kalimat saya memetik bunga. Gabungan kata yang sesuai itu memiliki makna. Penggabungan kata ini tidak terjadi begitu saja, tetapi dipertimbangkan konvensi bahasa yang sudah ada. Karena seperti kata memetik tentu tidak bisa digabungkan dengan kata mengalir. Atau gabungan kata bunga mengalir gabungan ini tidak memiliki makna karena tidak sesuai tata bahasa yang umum atau standar. b. Roman Jakobson Meskipun Jakobson terlahir setelah de Saussure, ia dikenal sebagai pengembang Semiotika Klasik. Konsep yang ditawarkan oleh Roman Jakobson (1896-1982) lebih condong pada para ahli bahasa dari Rusia (Rusian Linguist). Koch (1981; via Noth, 1995; 74) membedakan empat periode perkembangan penelitian mengenai karya-karya Jakobson; Pertama, periode formalist, yaitu antara tahun 1914 sampai 1920. Pada periode ini Jakobson dikenal sebagai pendiri Moscow Linguistic Circle dan juga sebagai anggota kelompok Opoyaz yang sangat
27

berpengaruh. Kedua, periode stucturalist, yaitu antara tahun 1920 sampai 1939. Jakobson merupakan figur yang paling mendominasi dalam Prague School of Linguistics and Aesthetics. Ketiga, periode Semiotic, antara tahun 1939 sampai 1949.. Pada periode ini Jakobson bergabung dalam Copenhagen Linguistic Circle (Brondal, Hjelmslev) dan aktif dalam Linguistic Circle of New York. Keempat, periode interdisciplinary yang dimulai pada 1949 yaitu saat ia mulai bekerja di Harvard dan juga MIT mengenai teori informasi dan komunikasi (Informatioan and Comunicatioan Theory), matematika dan juga fisika (1982). Pemikiran Jakobson berpengaruh besar pada diri Levi-Strauss pada konsepnya mengenai fenomena budaya. Jakobson memberikan pandangan kepada Levi-Strauss tentang bagaimana memahami atau menangkap tatanan yang ada di balik fenomena budaya yang sangat variatif tersebut (Ahimsa, 2006; 52). Pengaruh yang besar Romand Jakobson disampaikannya sendiri oleh Levi-Strauss sebagaimana dikutib oleh Ahimsa (2006; 52) berikut ini: ...His (Jacobsons) lectures, however, gave me something very different and, need I add, a great deal more than I had bargained for. This was the revelation of structural linguistics, which provided me with a body of coherent ideas where I could crystallize my reveries about the wild flowers I had gazed at somewhere along the Luxembourg border early in May 1940.. (1985:139). Dalam pemikiran Jakobson unsur terkecil dari bahasa adalah bunyi. Dengan demikian kata diartikan sebagai satuan bunyi yang terkecil dan berbeda. Fonem sebagai unsur bahasa terkecil yang membedakan makna, meskipun fonem itu sendiri tidak bermakna. Contoh kasus yang menujukan peranan penting fonem dapat kita lihat dalam dua kata antara kutuk dan kuthuk (basa Jawa). Perbedaan tulisan antar /t/ dan /th/ mengakibatkan sedikit perbedaan pengucapan tetapi memiliki makna yang jauh berbeda. Kutuk mengacu pada nama sejenis ikan gabus sedangkan kuthuk adalah anak ayam (Ahimsa; 2006).
28

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa fonem terbentuk karena adanya relasi-relasi, dan realsi-relasi ini muncul karean adanya oposisi. Jadi sebenarnya fonem tidak akan bermakna atau tidak memiliki isi. yang hakiki dari sebuah fonem adalah relasi karena dengan begitu sebuah fonem baru memiliki fungsi yang jelas. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis, unit-unit yang bermakna, dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciriciri suara yang lain. Langkah-langkah struktural terhadap fonem yang dilakukan oleh Jakobson adalah; a. Mencari distinctive feature (ciri pembeda) yang membedakan tandatanda kebahasaan satu dengan yang lain. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-tanda tersebut; b. Memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah, sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lian; c. Merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah-istilah

kebahasaan mana dengan distinctive features yang mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebahasaan tertentu lainya; d. Menentukan perbedaan- perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis, yakni perbedaan-perbedaan antartanda yang masih dapat saling menggantikan(Pettit, 1977, 11; Ahimsya; h. 55). Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Jakobson

mempengaruhi Levi-Strauss pada tataran tatanan (susunan/order) yang ada di balik fenomena budaya (Ahimsa, 2006). c. Nikolai Troubetzkoy
29

Nikolai mempengaruhi Levi-Strauss dalam hal strategi kajian bahasa yang berawal dari konsepsi mengenai fonem. Nikolai berpendapat bahwa fonem adalah sebuah konsep linguistik, bukan konsep psikologis. Artinya, fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa, dan bukan ide yang diambil dari pengatahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti. Jadi fonem tidak dikenal oleh pengguna suatu bahasa, kecuali ahli fonologi dari kalangan mereka atau mereka yang pernah belajar lingusitik. (Ahimsa, 2006). Toubetzkoy menyarankan agar perhatian pada fenomena fonem sebagai sebuah konsep linguistik. Karena itu sebaiknya para peneliti memperhatikan distinctive feature, ciri-ciri pembeda, yang memiliki fungsi atau operasional dalam satu bahasa. Dengan kata lain, strategi analisis dalam fonogi haruslah struktural, karena relasi-relasi antar ciri-ciri pembeda dalam fonemlah yang menjadi pusat perhatian (Ahimsa, 2006; 59). Langkah analisis struktural dalam fonologi; 1. Beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar. Pada tataran ini seorang ahli fonologi tidak lagi memperlakukan istilah-istilah (terms) atau fonem-fonem sebagai entitas yang berdiri sendiri, tetapi dia harus; 2. Memperhatikan relasi-relasi antar istilah atau antar fonem tersebut, dan menjadikannya sebagai dasar analisisnya. Selanjutnya dia perlu; 3. Memperlihatkan sistem-sisitem fonemis, dan menampilkan struktur dari sistem tersebut. 4. Harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti. d. Asumsi Dasar Strukturalisme Dari pemahaman kita di atas, strukturalisme merupakan aliran baru bagi studi antropologi. Strukturalisme bertolak dari studi linguistik (ilmu bahasa), berbeda dengan pendekatan yang ada dalam fungsionalisme,

30

Marxisme dan lain-lain. Ahimsa (2006; 66-71) menyebutkan bahwa strukturalisme memiliki beberapa asumsi dasar yang berbeda dengan konsep pendekatan lain. Beberapa asumsi dasar tersebut adalah sebagai berikut; 1. Dalam Strukturalisme ada angapan bahwa upacara-upacara, sistemsistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian dan sebagianya, secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasabahasa (Lane; 1970; 13-14 Ahimsya; 66). 2. Para penganut Strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal. Yaitu kemampuan untuk structuring, untuk menstruktur, menyususun suatu struktur, atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita dengar dan saksikan adalah perwujudan dari adanya struktur dalam tadi, akan tetapi perwujudan ini tidak pernah kompolit. Suatu struktur hanya mewujud secara parsial (partial) pada suatu gejala, seperti halnya suatu kalimat dalam bahasa Indonesia hanyalah wujud dari secuil struktur bahasa Indonesia. (Ahimsa, 2006; 68). 3. Mengikuti pandangan dari de Saussure yang berpendapat bahwa suatu istilah ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu, yaitu secara sinkronis, dengan istilah-istilah yang lain, para penganut strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Hukum transformasi adalah keterulangan-keterulangan (regularities) yang tampak, melalui mana suatu konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi struktural yang lain. 4. Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition).
31

Sebagai serangkaian tanda-tanda dan simbol-simbol, fenomena budaya pada dasarnya juga dapat ditanggapi dengan cara seperti di atas. Dengan metode analisis struktural makna-makna yang ditampilkan dari berbagai fenomena budaya diharapakan akan dapat menjadi lebih utuh. Keempat asumsi dasar ini merupakan ciri utama dalam pendekatan strukturalisme. Dengan demikian dapat kita pahami juga bahwa strukturalisme Levi-Strauss menekankan pada aspek bahasa. Struktur bahasa mencerminkan struktur sosial masyarakat. Disamping itu juga Kebudayaan diyakini memiliki struktur sebagaimana yang terdapat dalam bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat. Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial, Strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Realitas sosial adalah teks atau bahasa, dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa), dan sebagai tanda (sign), dalam bahasa ada dua aspek: penanda ( signifier) dan petanda (signified). Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary). Sebagai contoh mengapa SBY disebut sebagai presiden, bukannya sebagai seorang pesinden. Menurut perspektif Strukturalis itulah cara tutur kita yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. Kata presiden ada bukan karena kaitan logis internal dengan orang yang menjadi kepala pemerintahan presidensial, melainkan karena kaitan dan perbedaannya dengan kata sultan, gubernur, camat dan sebagainya. Semua bisa dipahami secara otonom di tataran langue (logika-internal penunjuk), dan tidak terkait dengan objek yang ditunjuk. Ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial, juga jika hanya secara analogis, implikasinya cukup jauh. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan kode tersembunyi yang ada dibalik gejala
32

kasat mata, sebagaimana langue menjadi kunci otonom di balik parole. Kode tersembunyi itulah struktur. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis, misalnya, bidiklah logika-internal kinerja modal. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis, yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku, waktu, ruang, dan proses adalah soal kebetulan. Dalam kritik Giddens, perspektif ini merupakan penolakan yang penuh skandal terhadap subjek. Gejala penyingkiran pelaku tindakan atau subjek (decentering) dalam strukturalisme ini dibawa ke implikasi terjauhnya oleh para penggagas post-strukturalisme. Seperti telah dicontohkan di atas, kata presiden terbentuk bukan karena kaitannya dengan seseorang yang menjadi kepala sebuah negara pada waktu-tempat tertentu, melainkan karena perbedaannya dengan kata raja, gubernur, camat dan sebagainya. Ada dua unsur sentral di situ: sifat sewenang-wenang (arbitrary) dan perbedaan (difference). e. Jacques Derrida. Derrida melihat perbedaan bukan hanya sebagai cara menunjuk, melainkan sebagai pembentuk identitas yang bersifat konstitutif. Artinya, perbedaan kata presiden dan camat bukan sekedar bahwa presiden ialah apa yang bukan camat, melainkan bahwa bukan camat itu sendiri merupakan pokok eksistensi. Berbeda adalah menang-guhkan serta melawan; berbeda merupakan identitas itu sendiri. Sejumlah ahli Antropologi menggunakan cara-cara yang berbeda dalam melihat struktur sosial dalam kaitannya dengan agama dan upacara. Penekanan yang telah diberikan adalah pada hubungan-hubungannya yang dilihat secara konseptual, sehingga model-model mengenai hubunganhubungan tersebut nampak berbeda-beda di antara ahli-ahli yang berbeda; yang mempunyai implikasi pada tingkat pembahasan yang mereka lakukan
33

serta pada tingkat pengertian yang mereka peroleh dengan menggunakan model-model tersebut, dan yang mewujudkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian maka juga nampak bahwa masing-masing model tersebut mempunyai relevansi dan validitas yang terbatas sesuai dengan tujuan penggunaannya dalam hal mengkaji hubungan antara struktur sosial di satu pihak dengan agama dan upacara di pihak lainnya. Secara umum dapatlah dikatakan, bahwa masing-masing model yang telah dibahas tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Model-model dari Geertz yang berdasarkan pada model bagi dan model dari, yang berlandaskan pada konsep-konsepnya mengenai sistem-sistem simbol dan ide yang memberi informasi; yang walaupun berbelit-belit tetapi memberikan suatu ketegasan penjelasan mengenai arti kebudayaan dalam kaitannya dengan struktur dan dengan lingkungan yang dihadapi oleh manusia. Geertz menyatakan bahwa studi mengenai agama, mitos dan upacara adalah sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia memahami dan menerima hakekat dari kedudukan dan peranannya dalam kehidupan sosial di masyarakatnya; struktur sosial yang merupakan bagian yang terorganisasi dalam kehidupan mereka menjadi dapat dipahami serta masuk akal secara sewajarnya bagi mereka. 2. Analogi yang berlandaskan pada sistem penggolongan yang dilakukan oleh Hertz dan Cunningham; yang walaupun masing-masing berbeda dalam hal kedalaman dan luasnya cakupan dari model klasifikasi yang digunakan, tetapi pada prinsipnya berlandaskan pada model-model yang sama. Hertz melihat bahwa agama berperan terhadap adanya semacam polarisasi dalam kehidupan sosial dari individu maupun bagi seluruh warga masyarakat yang bersangkutan; yaitu dengan berlandaskan pada sistem klasifikasi yang menjadi dasar dan yang ada dalam agama. Sedangkan Cunningham memperlihatkan adanya suatu
34

keteraturan (order), yaitu suatu sistem yang menjadi pegangan bagi manusia pada waktu mereka mengklasifikasi dunia yang mereka hadapi. Pada waktu pegangan yang berisikan aturan-aturan itu diikuti/ditaati oleh manusia, maka sesungguhnya ide-ide yang terletak dibalik aturan-aturan tersebut secara simbolik telah juga diterima. Upacara adalah tempat bagi perwujudan ketaatan atas aturan-aturan yang diikuti tersebut dalam bentuk berbagai tindakan yang dapat dilihat sebagai simbol dan metafor. 3. Model-model hubungan yang dibuat berdasarkan atas prinsip- prinsip kesadaran kolektif dan primordial yang dilakukan oleh Levi-Strauss dan Victor Turner; yang walaupun mempunyai landasan model-model sendiri yang sesuai dengan perhatian yang dipunyai masing-masing maka juga telah menghasilkan pengertian-pengertian yang berbedabeda antara yang satu dengan yang lainnya. Turner melihat bahwa upacara berperan untuk membuat individu dapat menjadi cocok dengan masyarakatnya dan membuatnya dapat menerima aturan-aturan yang berlaku. Levi-Strauss melihat struktur sosial bukan sebagai kenyataan yang dapat diamati, tetapi sebagai model bagi kenyataan. Model ini adalah suatu sistem yang mempunyai kesanggupan untuk memprediksi atau meramalkan dan membuat kenyataan dapat menjadi masuk akal dan dipahami. Menurut Levi-Strauss, sebagaimana juga dengan pendahulu-pendahulunya yaitu Durkheim dan RadcliffeBrown, agama adalah suatu bagian dari struktur sosial. Levi-Strauss percaya bahwa dengan melalui studi mengenai agama dan mitos akan dapat diperoleh suatu pemahaman mengenai pengertian struktur sosial yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Dalam perhatiannya mengenai mitos, Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos sebagai agama atau sebagai bagian dari agama, dapat membantu usaha-usaha mengenai struktur sosial karena mitos selalu berhubungan dengan masyarakat dan berbicara mengenai masyarakat tersebut baik
35

mengenai masa yang lampau, sekarang, maupun masa yang akan datang. Yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara, bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. Karena, agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah: 1. Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat, yaitu etos dan pandangan hidup, yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentukbentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada. 2. Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya; sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran, kebingungan dan jiwa tertekan, agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka
36

sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut. 3. Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh, yaitu dalam rangkuman struktur sosial, yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata. Sebagai akhir kata, dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial; kita dapat mempelajari dan mengkaji agama, mitos dan upacara sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya dijelaskan, dibenarkan, dan didukung dalam suatu masyarakat. Begitu juga sebaliknya kalau kita ingin memahami hakekat dan corak dari agama yang diyakini oleh warga suatu masyarakat. Model-model yang telah dibahas tersebut di atas dapat digunakan secara terseleksi, yaitu tergantung pada masalah yang hendak dikaji dan kenyataan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat dimana pengkajian itu hendak dilakukan. D. Kelemahan dan kelebihan Strukturalisme Levi-Strauss Seberapapun sempurnanya suatu teori, pasti akan terdapat celah-celah kekurangan dan kelemahanya. Demikian halnya dengan teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Strukturalisme ini mendapat kritik terutama dari para ahli antroplogi itu sendiri. Kritik yang berkenaan dengan teori Strukturalisme Levi-Strauss dapat dilihat pada persoalan perangkat dan metode analisis, data etnografi dan interpretasi, serta hasil analisis dan kesimpulan dari hasil analisis teori tersebut. a. Perangkat dan Metode Analisis Ahimsa (2006; ) menyebutkan bahwa kritik terhadap perangkat dan metode analisis dapat dibedakan menjadi tiga; a). Cara menggunakan
37

konsep-konsep analisis. b). Konsistensi prosedur analisis dan c). Reduksi dalam proses analisis. Marry Douglas mengkritik mengenai cara penggunaan konsep-konsep analisis. menurutnya Levi-Strauss tidak selalu menggunakan konsep analisisnya dengan tepat. Karena ketidaktepatan itu, Levi-Strauss sering membuat kesimpulan-kesimpulan yang dianggap terlalu jauh. Douglas menyebutkan bahwa Levi-Strauss sering memaksakan datanya agar sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Ahimsa, 2006; 162). Kedua, Levi-Strauss sering tidak konsisten dengan analisis yang dikembangkan. Levi-Strauss pernah mengatakan bahwa untuk memahami sebuah mitos lebih penting memahami struktur daripada isi cerita. Namun dalam prakteknya ia tidak melakukan analisis seperti yang digambarkan. Dalam beberapa analisisnya ia tidak hanya menlaah pada tataran sintaksis, tetapi juga pada tataran semantis yang berarti isinya juga. Disisi lain ia juga berpendapat bahwa dalam mitos isi dan bentuk tidak bisa dipisahkan (Yalman, 1967 dalam Ahimsa, 2006). Ketiga, Levi-Strauss menggunakan cara analisis reductionist (reduksionis). Cara ini sangat kurang tepat untuk menganalisis mitos sebagai produk budaya manusia yang sangat kompolek. Cara analisis menggunakan sistem ini akan mengurangi kesempurnaan analisis karena akan mengalami kelemahan makna (a lesser meaning). Douglas menyebut dua reduksionisme yang dilakukan oleh Levi-Strauss yaitu pada model komputer yang dipakainya dan adanya dua tujuan dalam analisis wacana (Ahimsa, 2006; 164). b. Interpretasi Data Etnografi Data etnografi sangat penting dalam menelaah mitos. Hal ini dikarenakan mitos tidak pernah lepas dari kontek budaya masyarakat setempat dimana lahirnya mitos tersebut. Dalam persoalan ini, Strukturalisme Levi-Strauss memiliki beberapa kelemahan. Menurut para
38

antropolog, seperti Alice Kassakoff dan John W. Adam keakuratan data etnografi yang disampaikan Levi-Strauss belum seutuhnya mendukung dari apa yang disampaikan. Alice Kassakoff (1974) ahli antropologi ini melakukan penelitian suku Indian Tsimshian yang telah dianalisis oleh teori Strukturalisme Levi-Strauss ini. Ia menyatakan bahwa analisis Strauss justru menutupi realistas kekerabatan yang ada pada suku Indian tersebut. (Ahimsa, 2006; 168). Lain lagi dengan pendapat Alice, Adam (1974) mengkritik mengenai hasil analisis Strukturalisme Levi-Strauss terhadap suku Asdiwal. Menurut Adam gagasan Levi-Strauss terhadap suku ini terlalu diada-adakan. Persoalan terhadap suku ini yang sebenarnya sederhana dan bahkan tidak ada, oleh Strauss dipaksakan sesuai apa yang menjadi konsepsinya. Justru dengan tindakan seperti inilah teori ini kridibilitasnya masih perlu untuk disangsikan. Pendapat ini juga didukung oleh tiga ahli antropologi lain yakni; L.L. Thomas, JZ. Kronenfeld dan DB. Kronenfeld. Ketiganya menyimpulkan bahwa analisis Strukturalisme Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografi yang sangat diragukan kebenarannya. Bahkan analsisnya dianggap mengalami kesalahrepresentasi-an. (misrepresentasions of story). c. Hasil Analisis. Bukan sekedar metode dan data etnogarfi yang nampaknya dipersoalkan dalam Strukturalisme Levi-Strauss. Hasil analisisnya pun masih banyak mendapat kritikan dari berbagai kalangan terutama para ahli antropologi. Ahimsa (2006) menyatakan bahwa hasil analisis kritik dapat dibedakan dalam beberapa hal; a). Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan, b). Kebenaran struktur mitos yang dikemukakan. Pengertian mitos yang cenderung dianggap negatif oleh LeviStrauss ditolak oleh Douglas. Douglas beranggapan bahwa masih ada
39

aspek-aspek positif mengenai makna mitos. Tema-tema mitos yang terdapat dalam suatu masyarakat masih banyak yang mengungkap realitas sosial yang positif. Selanjutnya Douglas menyatakan bahwa makna mengenai mitos yang dikemukakan oleh Levi-Strauss dianggap biasabiasa saja dengan istilah lain tidak begitu penting. Metode analisis yang dilakukan oleh Levi-Strauss dalam analisis mitos menggunakan model analisis puisi denganggap tidak tepat. Metoda ini justru dianggap mengalami kebocoran seperti yang diistilahkan Ahimsa dalam tulisannya. Hal yang demikian ini terjadi karena Levi-Strauss terlalu banyak mencontoh model yang diterapkan dalam ilmu bahasa (linguistik) yang menurut Douglas tidak cocok jika diterapkan dalam analisis mitos. Instead of more and richer depths of understanding, we get a surprise, a totally new theme, and often a paltry one at that. ( Douglas, 1967 dalam Ahimsa, 20006; 170).

d. Beberapa Tanggapan Betapapun banyaknya kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam Strukturalisme Levi-Strauss, tentunya banyak hal yang dapat menjadi kelebihan dari teori ini. karena kita menyadari juga bahwa teori ini masih baru dalam bidang antropologi, sehingga tentunya masih banyak penyesuaian dan pendalaman (penyempurnaan). Maka wajar kiranya banyak yang menghujat sekaligus memuja teori ini. Banyak manfaat yang kita dapatkan dari teori Strukturalisme LeviStrauss ini. Maybury-Lewis (1970) menyatakan bahwa banyak hal yang berhasil membuka perspektif-perspektif baru dalam analisis mitos yang telah dilakukan oleh Levi-Strauss. Douglas yang sebelumnya banyak melakukan kritik, ternyata masih mengakui beberapa kemanfaatan dari
40

Strukturalisme Levi-Strauss ini. Ia menyatakan teori ini telah mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu, makna-makna yang sangat dalam, yang tidak terduga dan menarik, dari serangkaian mitos-mitos tertentu (via Ahmisa; 2006; 176). Yalman (1967) menyebutkan bahwa berkat jasa yang dilakukan oleh Levi-Strauss kita mengetahui keterkaitan antara mitos yang satu dengan yang lain. Ada susunan, struktur dan koherensi logis dalam mitos. Dan inilah yang menunjukan pada kita akan keterkaitan mitos dan budaya masyarakat yang terdapat dalam mitos tersebut. Secara umum dapat disimpulkan bahwa meskipun para ahli antropologi melakukan kritik terhadap teori Strukturalisme Levi-Strauss mereka masih mengakui beberapa keunggulan atau manfaat dari jerih payah Levi-Strauss. Bahkan apa yang digagas oleh Levi-Strauss melalui metode struktural ini dapat dikatakan banyak benarnya. Masuk akal, menarik dan mampu memberikan wawasan atau wacana tentang mitos yang sangat penting itu. E. Penutup Dari uraian diatas terbukti bahwa Strukturalisme Levi-Strauss berasal dari teori Antropologi yang analisisnya oleh bagaimana ahli bahasa memahami struktur dalam komponen bahasa. Teori muncul sebagai kritik atas kegagalan filsafat Eksistensialisme yang gagal dalam memahami realitas sosial pada kehidupan kelompok manusia. Terpengaruh oleh ahli-ahli bahasa yang sebelumnya sangat marak dalam kehidupan ilmiah di Prancis, Stauss ketika berkesempatan melakukan penelitian tearhadap suku-suku terasing di lembah Amazon Brazil, berhasil menemukan Teori Stukturalisme yang akhirnya sangat mempengaruhi perkembangan ilmu-ilmu sosial termansuk Sosiologi baik di Eropa maupun di Amerika dan bahkan di negara-negara lain termansuk Indonesia. Strauss yang meninggal pada akhir tahun 2009 di akui sebagai Antropolog/Sosiolog yang sangat terkemuka, karena teorinya selalu dirujuk oleh
41

para pakar pakar ilmu-ilmu sosial dan analisisnya diakui sebagai analisis yang cemerlang, sehingga para intelektual berhasil memahami kehidupan sosial, baik yang berupa realitas maupun yang tersembunyi. Dengan analisis ini pemahaman tentang struktur, relasi sosial dan peran struktur dalam mewarnai prilaku individu dalam kehidupan sosial menjadi lebih jelas. Teori Strukturalisme masih terus relevan sampai berumur satu abad walaupun penemunya Levi-Strauss sudah tiada.

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, T. 2005. Analisis Struktural Lvi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air, Kawin Bedil dan Sobrat. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Ahimsa-Putra, Shri, H., 2006, Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra, kepel Press, Yogyakarta. Ahimsa-Putra, H.S. 1984. Strukturalisme Lvi-Strauss : Sebuah Tanggapan. Basis XXXIII (4) : 122-135. ___________. 1994. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Makalah seminar. ___________. 1995, Lvi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo. Kalam 6 : 124-143. ___________. 1997. Claude Lvi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi dalam Lvi-Strauss : Empu Antropologi Struktural, O. Paz. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Yogyakarta : LKIS. ___________. 1998a. Strukturalisme Lvi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Makalah seminar Arkeologi. ___________. 1998b. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika, dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Makalah seminar. ___________. 1998c. Lvi-Strauss, Orang-Orang PKI, Nalar Jawa, dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng42

Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik, A. Salam (ed). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. ___________. 1999a. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Makalah Sarasehan. ___________. 1999b. Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural. Gerbang 5 (2) : 88 97. ___________. 1999c. Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal dalam Cerlang Budaya, Rahayu S. (ed). Jakarta : UI Press. ___________. 2000a. Strukturalisme Lvi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Humaniora 12 : 1 13, September Desember. ___________. 2000b. Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa. Tembi 1 Thn.I : 10 19. ___________. 2001. Strukturalisme Lvi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta : Galang Press. ___________. 2002a. Roland Barthes : dari Strukturalisme Strukturalisme. Makalah dalam bedah buku. ke Post-

___________. 2002b. Strukturalisme Lvi-Strauss dan Sastra. Makalah Pelatihan. ___________. 2002c. Tari Srimpi dan Struktur Simbolisme Jawa. Makalah seminar. ___________. 2002d. Tiga Dasawarsa, Dua Paradigma, Satu Model. Makalah seminar. ___________. 2002e. Satwa, Totem, Mitos dan Nalar Primitif. Makalah diskusi. ___________. 2003. Structural Anthropology in America and France : A Comparison. Humaniora XV (3) : 239 264. ___________. 2005. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Makalah bedah buku. ___________. 2006a. Strukturalisme Lvi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis dalam Lvi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi, C. Badcock. Terj. Robby H. Abror. Yogyakarta : Insight Reference.

43

___________. 2006b. Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural dalam Esei-esei Antropologi : Teori, Metodologi dan Etnografi, H.S. Ahimsa-Putra (ed.). Kepel Press : Yogyakarta. ___________. 2006c. Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman, T. Abdullah (ed.). Jakarta : Rajagrafindo Persada. ___________. 2006d. Sawerigading, To-manurung dan Nilai-nilai Budaya BugisMakassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya BugisMakassar. Makalah seminar nasional. ___________. 2006e. Strukturalisme Lvi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta : Kepel Press. Edisi Baru. ___________. 2007a. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasi-relasi Simbolik Dalam Mitos Dewi Sri. Makalah seminar. ___________. 2007b. Strukturalisme Lvi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Makalah bedah buku. ___________. 2008a. Ritus Kematian : Ritus Peralihan, Ritus Penandaan, Ritus Pertukaran. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________. 2008b. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Makalah workshop Pemikiran Melayu Jawa. Daiches, David, 1981, Critical Approaches to Literature, Longman, New York. Fokkema, D.W., 1998, Teori Sastra Abad Kedua Puluh (Theories of Literature in the Twentieth Century), Gramedia, Jakarta. Kaplan, David, dkk., 1999, The Theory of Culture (Teori Budaya), Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Lane, Allen, 1968, Structural Anthropology, The Penguin Press. Noth, Winfried, 1995, Hand Book of Semiotics, Indiana university Press, Bloomington and Indianapolis. Selden, Raman, 1985, A Reader Guide to Contemporary Literary Work, The Harvester Press Limited, Sussex. Strauss, Levi, Claude, 1958, Anthropologie Structurale (Terj. Antropologi Struktural, 2007), Kreasi Wacana, Yogyakarta. Nasrulah. 2008. Ngaju, Ngawa, Ngambu, Liwa : Analisis Strukturalisme LviStrauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada.

44

Strauss, Levi, Claude, 1958, Anthropologie Structurale (Terj. Antropologi Struktural, 2007), Kreasi Wacana, Yogyakarta. Sperber, D. 1979. Claude Lvi-Strauss dalam Structuralism and Since : From Lvi-Strauss to Derrida, J. Sturrock (ed.). Oxford : Oxford University Press. Sturrock, J. 1979. Introduction dalam Structuralism and Since : From LviStrauss to Derrida, J. Sturrock (ed.). Oxford : Oxford University Press.

Berkenalan dengan Poststrukturalisme


oleh : easternwriter
Pengarang : Jacques Derrida, Roland Barthes, Erdward Said, Ferdinand de Saussure

Summary rating: 3 stars (15 Tinjauan) Kunjungan : 2286 kata:600

You searched for: "strukturalisme". For the best results, click here!

Daftarkan diri Apakah Shvoong itu? Masuk Write & earn

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.


Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraanStrukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem 45

tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama.Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Selain itu, buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut. Derrida menekankan logosentrime (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda, tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris, sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.Perumusan dasar differance Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis difference, yang dapat berarti pertentangan dan penundaan, merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. Praktik dekonstruksi **-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik 46

sastra, misalnya pada New Criticsm.Essainya yang berjudul Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Sciences , pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966, sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra.Essay Roland Barthes, The Death of the Author pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968, mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis. Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an, khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale, atau disebut para dekonstrusionis Yale. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan pertentangan Derrida. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis. Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks. Diterbitkan di: Januari 04, 2008 23 45Moho n ringkasa n ini dinilai : ilai :1 Link yang relevan :

http://sulhanudin.info/2006/01/berkenalan-dengan-poststrukturali ... 47

You searched for: "strukturalisme". For the best results, click here! Kutipan Dan,

Sastra, Bahasa, Dapat, Bahwa, Dengan, Dalam, Derrida, Pada, Post

Buat kutipan untuk ringkasan ini Tambahkan komentar Anda Terjemahkan Kirim Link Cetak Share

Orang yang membaca ringkasan ini juga membaca:


PERS NASIONAL, TIDAK CUKUP DENGAN MITOS http://helaby-boys.blogspot.com/ Mengolah Kemelayuan di Asia Tenggara Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia! Kritik Sastra Indonesia dari Australia Dua Kiblat dalam Sastra Indonesia

Lainnya tentang Ilmu Sosial


PRRI, Perjuangan Koreksi Keakbaran Penyair Tongkat-Baudelaire Bagaimana Kita Menilai PRRI? Renungan 61 Tahun Republik Proklamasi Intelektual Minang Provinsi Minangkabau Sajak "Malaikat" Saeful Badar Yang Tetap Hadir

48

Paling populer

Ringkasan lain oleh easternwriter


Menulis adalah Jalan Hidupku Petualangan Celana Dalam: Tren awam menulis sastra Opera Zaman: Perlukah Faktualitas dalam Cerpen Tetralogi Laskar Pelangi: Andrea Tak Melawan Pasar Pengakuan Korban NII (1)

More Berikut

Yang paling banyak dicari


tips bisnis kesehatan uang wanita cinta trik jantung pria 2012 berita blog Seks dunia kiamat

Tulis dan dapatkan bayaran

49

Strukturalisme dan Implikasinya


8Oct2008 Filed under: Epistemology, Paradigm and Perspective, Philosophers, Philosophy, Postmodern Author: Arif

Pengantar Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap. Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040) Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040) Ferdinand de Saussure Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme. Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan,
50

abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistemsistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tandatanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia. Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut: 1. Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman) 2. Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. 3. Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem). 4. Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah. Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda (termasuk didalmnya upacaraupacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.
51

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu: 1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifi, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar. 2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam. 3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar. Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Pierre Bourdieu Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser. Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul outline of a theory of practice dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.
52

Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial. Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu. Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus, Field dan Modal. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. Habitus adalah struktur mental atau kognitif yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Secara dialektis habitus adalah produk internalisasi struktur dunia sosial. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan. Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur, jenis kelamin, kelompok dan kelas sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial; tidak setiap orang sama kebiasaannya; orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial, cenderung mempunyai kebiasaan yang sama. Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif, dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur, yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial. Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara, yaitu:

Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup) Sebagai motivasi, preferensi, cita rasa atau perasaan (emosi) Sebagai perilaku yang mendarah daging

53

Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi) Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda. Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain. Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan. Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status. Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain. Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubunganhubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan
54

sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:

Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas) Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis. Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut. Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal. Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan. Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisiposisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan. Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field. Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field
55

menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya. Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal. Daftar Acuan Bagus, Loren. 1996.Kamus Filsafat. Jakarta: Pustakan Gramedia Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra Lechte, John. 2001.50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas. Yogyakarta: Kanisius Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006. Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

. Pengantar Adakah pengaruh strukturalisme Lvi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Itulah beberapa pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Jawaban-jawaban ini lebih didasarkan pada hasil pengalaman pribadi daripada hasil sebuah penelitian yang serius dan teliti mengenai pengaruh strukturalisme Prancis di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya saya paparkan terlebih dulu seperti apa strukturalisme Prancis itu, terutama yang diusung oleh Lvi-Strauss, dan mengapa saya memilih menampilkan strukturalisme Lvi-Strauss di sini. Pada musim semi tahun 1981, setahun setelah meninggalnya ahli filsafat Jean Paul Sartre, majalah Prancis Lire mengadakan sebuah jajak pendapat di kalangan intelektual, mahasiswa dan politisi Prancis, dengan pertanyaan, siapa tiga pemikir berbahasa Perancis yang masih hidup, yang pandangannya menurut anda paling berpengaruh terhadap evolusi (perkembangan) pemikiran sastra dan ilmu pengetahuan dan sebagainya ?. Dari kira-kira 448 jawaban yang masuk, 101 orang menyebut nama Lvi-Strauss, 84 orang menyebut Raymond Aron, 83 orang menyebut Michel Foucault. Nama-nama lain yang juga disebut antara lain adalah Jaques Lacan (51), Simone de Beauvoir (46), dan masih ada lagi beberapa yang lain (Pace, 1986 : 1). Hasil jajak pendapat tersebut mungkin agak mengherankan juga, karena antropologi bukanlah sebuah cabang ilmu yang populer di Prancis, dibandingkan
56

dengan di Inggris dan Amerika Serikat. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa pemikiran-pemikiran Lvi-Strauss ternyata dipandang begitu berpengaruh oleh kaum intelektual Prancis, dan sedikit banyak hal itu juga menunjukkan bahwa Lvi-Strauss tidak hanya dipandang sebagai ahli antropologi, tetapi juga ahli filsafat, walaupun Lvi-Strauss sendiri sudah tidak lagi begitu menyukai filsafat sebagaimana yang dia kenal, setelah dia berkenalan dengan antropologi. Kedua, sebuah karikatur yang banyak direproduksi muncul dalam majalah-majalah Prancis tentang para strukturalis. Di situ digambarkan empat orang tengah duduk melingkar di bawah pohon tropis dengan mengenakan pakaian suku-suku bangsa yang masih primitif, yaitu rok yang terbuat dari daun ilalang. Empat orang tersebut adalah Jacques Lacan, Rolanda Barthes, Michel Foucault dan tentu saja Claude Lvi-Strauss. Judul karikatur ini adalah Le djeuner des structuralistes, atau makan siang para strukturalis (Sturrock, 1979 : 1). Karikatur ini setidak-tidaknya menunjukkan bahwa di kalangan intelektual Prancis ketika itu, empat orang itulah yang dikenal sebagai tokoh-tokoh strukturalisme. Namun, beberapa tahun kemudian, satu persatu dari mereka meninggalkan strukturalisme, dan akhirnya tinggal Lvi-Strauss yang tetap setia menjadi perawat dan pengembang paradigma tersebut. Apa ini artinya ? Tidak lain adalah bahwa Lvi-Strausslah yang paling yakin dengan manfaat dan kemampuan paradigma struktural untuk digunakan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya. Dengan kata lain, dialah seorang penganut strukturalisme tulen. Ketiga, hasil survei sebuah lembaga Amerika atas kutipan-kutipan (citations) antropologi dari tahun 1969-1977, menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Lvi-Strauss adalah tulisan yang paling banyak dikutip orang, dibanding tulisan ahli-ahli antropologi yang lain (Pace, 1986 : 7). Dengan kata lain, strukturalisme Lvi-Strausslah yang paling banyak dikenal dan berpengaruh dibandingkan dengan paradigma antropologi yang lain. Keempat, strukturalisme Lvi-Strauss juga bukan hanya merupakan sebuah teori baru, tetapi sebagaimana dikatakan oleh Lvi-Strauss sendiri adalah juga sebuah epistemologi baru dalam ilmu-ilmu sosial-budaya. Oleh karena itu strukturalisme Lvi-Strauss tidak hanya penting bagi dan dalam antropologi, tetapi juga penting bagi ilmu-ilmu sosial-budaya lain. Tidak mengherankan, setelah kemunculan strukturalisme ini pandangan-pandangan antropologi kemudian mempengaruhi cabang-cabang ilmu sosial-budaya yang lain seperti sosiologi, sastra, dan filsafat. Kelima, aliran pemikiran baru yang muncul setelah strukturalisme, seperti post-modernisme atau post-strukturalisme ini nama-nama yang sebenarnya kurang tepat untuk menyebut sebuah aliran pemikiran atau semiotika yang kini populer di Barat, tidak dapat dipahami dengan baik tanpa memahami strukturalisme. Bagaimanapun juga, kelahiran paradigma-paradigma baru ini tidak dapat dilepaskan dari munculnya strukturalisme itu sendiri. Tanpa memahami strukturalisme akan sulit memahami post-strukturalisme atau post-modernisme.
57

Itulah lima alasan utama mengapa dalam perbincangan tentang strukturalisme ini strukturalisme yang dirintis dan dikembangkan oleh LviStrausslah yang akan ditampilkan di sini. Claude Lvi-Strauss adalah seorang ahli antropologi yang tetap konsisten menekuni dan mengembangkan paradigma struktural. Ditangannyalah strukturalisme kemudian dikenal oleh lebih banyak orang, oleh lebih banyak ilmuwan. Dengan memperbincangkan tentang strukturalisme ini diharapkan akan muncul ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia yang akan bersedia mengembangkan lebih lanjut kerangka pemikiran tersebut. Sebelumnya saya perlu minta maaf kepada publik jika dalam tulisan ini sosok saya terasa begitu menonjol dalam proses penyebaran strukturalisme LviStrauss di Indonesia, karena saya tidak tahu orang lain di Indonesia yang telah membahas pemikiran Lvi-Strauss dengan cukup mendalam sebagaimana yang telah saya lakukan. Saya ingat, ketika saya masih kuliah antropologi di Universitas Indonesia di akhir tahun 1970an, teman-teman saya umumnya tidak menyukai teori-teori dari Lvi-Strauss, karena selalu sulit dan tidak biasa, sedang saya lumayan menyukai teori-teori tersebut karena terasa begitu menantang untuk memahaminya. Sementara itu, dosen-dosen antropologi yang mengajar kami ketika itu juga tidak banyak yang paham dan menaruh minat pada strukturalisme LviStrauss. Prof. Koetjaraningrat misalnya, yang mengajar kami teori-teori antropologi, tidak terlihat menyukai strukturalisme Lvi-Strauss, karena aliran ini kurang sejalan dengan kecenderungan teoritis beliau yang lebih positivistik. Dalam Sejarah Teori Antropologi II, Prof. Koentjaraningrat melontarkan kritik terhadap strukturalisme Lvi-Strauss, yang menurut saya kritik tersebut sebenarnya kurang tepat. Lebih dair itu, dosen-dosen antropologi yang lain yang ketika itu belum Professor seperti Dr. Parsudi Suparlan, Dr. Budi Santoso, Dr. Nico Kalangie, Dr. J. Danandjaja, terasa begitu dipengaruhi oleh ahli-ahli antropologi Amerika, seperti Clifford Geertz, Ward H. Goodenough, James P. Spradley, dan sebagainya, karena mereka melanjutkan pendidikan pascasarjana mereka di Amerika, walaupun mereka itu kemudian tidak mengembangkan aliran pemikiran antropologi tertentu di Indonesia. Antropologi Eropa (Inggris, Belanda, Prancis) sama sekali tidak terasa pengaruhnya dalam pemikiran-pemikiran dan analisis mereka tentang gejala sosial-budaya di Indonesia. Oleh karena itu, sangat dapat dimengerti apabila dari kalangan ahli antropologi tidak ada yang berupaya untuk memperkenalkan secara serius strukturalisme Lvi-Strauss. 2. Ilmu Sosial-Budaya Indonesia 1970-1990an : Mengapa Tidak Struktural? Beberapa tahun setelah saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti pendidikan S-3, pada tahun 1994 saya kembali. Saya berharap ketika itu berbagai pemikiran yang saya kenal dari perkuliahan saya di jurusan Antropologi di Universitas Columbia akan dapat saya temukan di Indonesia, sehingga saya dapat segera membangun wacana tentang pemikiran-pemikiran tersebut di negeri sendiri. Namun, akhirnya saya harus kecewa, karena situasi dan kondisi pemikiran dalam
58

ilmu sosial-budaya Indonesia ketika itu ternyata tidak seperti yang saya duga dan harapkan. Padahal, tokoh-tokoh ilmu sosial-budaya yang saya kagumi dan sebagian pernah menjadi guru saya ketika itu masih ada, dan masih aktif, seperti misalnya Fuad Hasan, Koentjaraningrat, Masri Singarimbun, Sartono Kartodirdjo, Parsudi Suparlan, James Danandjaja, Selo Soemardjan dan sebagainya. Saya bertanya-tanya dalam hati : Mengapa mereka tidak menulis mengenai aliran-aliran baru dalam antropologi atau bidang ilmu yang mereka tekuni ? Dalam antropologi di Indonesia ketika itu, tidak telihat arus pemikiran strukturalisme dari Prancis, tidak ada aliran Etnosains dari Amerika Serikat, tidak terlihat Tafsir Kebudayaan seperti yang dikembangkan Clifford Geertz. Postmodernisme mulai terdengar, dan sempat populer dalam dua-tiga tahun, tetapi setelah itu seperti hilang ditelan bumi. Saya cukup heran dengan situasi dan kondisi seperti itu. Akan tetapi setelah beberapa tahun berada di Indonesia, akhirnya saya dapat memaklumi keadaan yang seperti itu, walaupun itu tidak berarti bahwa saya menyetujui dan menyukai keadaan tersebut. Ketika saya datang pada awal tahun 1990an, strukturalisme Lvi-Strauss tidak terdengar gaungnya di kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Bagi saya ini adalah sebuah keanehan, karena kalau kita membaca jurnal dan bukubuku ilmu sosial-budaya di Barat di tahun 1970an, bahkan sampai tahun 1980an, strukturalisme masih tetap merupakan paradigma yang populer dan terasa kuat pengaruhnya. Saya mencoba untuk mengetahui apa kira-kira penyebab hal tersebut, karena biasanya ilmuwan Indonesia sangat mudah dan cepat menanggapi dan berusaha segera mempopulerkan paradigma-paradigma baru di Barat yang baru saja mereka kenal. Beberapa tahun saya mencoba mengetahui hal ini. Ada beberapa faktor yang tampaknya telah membuat strukturalisme Prancis kurang begitu dikenal di Indonesia. Pertama, strukturalisme tersebut tumbuh dan berkembang di Prancis, sebuah negeri yang relatif kurang begitu dikenal oleh banyak orang Indonesia, karena bahasanya juga kurang populer di Indonesia, dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris dan Belanda. Tidak banyak ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu yang memperoleh pendidikan di Prancis, bahkan hampir tidak ada. Orientasi pendidikan ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah Amerika Serikat, karena di tahun 1950an dan 1960an Indonesia adalah salah satu negeri yang banyak diteliti dan dibahas oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Nama-nama beken sebagian ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat ketika adalah nama-nama mereka yang banyak meneliti masyarakat Indonesia. Nama ilmuwan Prancis yang meneliti Indonesia namun namanya hampir tidak terdengar di Indonesia adalah Christian Pelras (meneliti sejarah Indonesia). Nama Lvi-Strauss sebagai seorang teoritisi hampir tak dikenal. Hanya mahasiswa antropologi saja yang mengenal tokoh tersebut lewah kuliah dari Prof. Koentjaraningrat almarhum di tahun 1970-1980an. Lvi-Strauss yang kita kenal ketika itu adalah merk sebuah celana jeans.

59

Aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi ilmuwan sosial-budaya Indonesia di masa itu adalah aliran fungsionalisme-struktural yang berasal dari Talcott Parsons, ahli sosiologi Amerika Serikat. Fungsionalisme-Struktural yang diwariskan oleh A.R. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski di tahun 1940an dikembangkan lebih lanjut oleh Parsons dan berhasil menjadi sebuah aliran yang mendominasi pemikiran ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat di tahun 1960-1970an. Ilmuwan sosial-budaya Indonesia yang belajar di Amerika Serikat di masa itu otomatis sangat dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini bahkan sampai sekarang . Aalagi ilmuwan sosial-budaya Amerika Serikat yang mempelajari Indonesia juga menggunakan paradigma tersebut. Lengkaplah sarana paradigma Fungsionalisme Struktural untuk menyebar dan dikenal di Indonesia. Kedua, strukturalisme Lvi-Strauss dalam antropologi, sebuah cabang ilmu yang kurang begitu populer di Indonesia. Memang, di tahun 1970an dan 1980an antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan masih belum begitu dikenal di Indonesia. Orang masih sering mengacaukannya dengan arkeologi, yang di Amerika Serikat memang merupakan salah satu spesialisasi dalam antropologi. Kalau antropologi sebagai ilmu sudah tidak begitu dikenal, apalagi teori-teori yang ada di dalamnya. Kalau di kalangan ahli antropologi Indonesia saja strukturalisme di Lvi-Strauss sudah tidak begitu dikenal, apalagi oleh kalangan yang lebih luas. Ketiga, strukturalisme banyak mendapat inspirasi dari ilmu bahasa dan mengambil ilmu tersebut sebagai modelnya. Sementara itu, ilmu bahasa atau linguistik bukanlah sebuah ilmu yang populer di Indonesia, dan teori-teorinya juga tidak begitu dikenal. Para ilmuwan sosial-budaya umumnya juga tidak mengenal linguistik, sehingga mereka tentunya mengalami kesulitan ketika berusaha memahami analisis-analisis strukturalisme Lvi-Strauss yang sangat banyak mendapat inspirasi dari linguistik. Keempat, strukturalisme Lvi-Strauss adalah sebuah epistemologi baru, yang saya kira cukup besar perbedaannya dengan epistemologi yang dianut oleh sebagian besar ilmuwan sosial-budaya Indonesia, yakni epistemologi yang positivistik dan epistemologi yang historis. Sebagai epistemologi strukturalisme sangat berseberangan dengan epistemologi historisme, dan cukup besar perbedaannya dengan epistemologi positivisme. Untuk mereka yang terbiasa berfikir dengan menggunakan sebuah paradigma, atau yang didasarkan pada sebuah epistemologi saja, seperti halnya kebanyakan ilmuwan sosial-budaya Indonesia, munculnya sebuah paradigma atau epistemologi baru tidak akan memicu munculnya tanggapan yang positif. Sebaliknya, reaksi yang muncul biasanya adalah : menolak secara sembunyi-sembunyi, acuh tak acuh, atau menolak secara terang-terangan. Kelima, analisis struktural dan bahasa yang digunakan oleh Lvi-Strauss dalam tulisan-tulisannya termasuk yang tidak mudah dipahami. Analisis struktural Lvi-Strauss banyak memanfaatkan data etnografi dan analisis serta interpretasi
60

dilakukan atas informasi etnografis mengenai berbagai hal yang begitu kecil dan njlimet. Oleh karena itu pula analisis struktural yang dikerjakan Lvi-Strauss termasuk yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang antropologi. Kesulitan memahami ini bertambah besar lagi di kalangan ketika Lvi-Strauss menggunakan bahasa yang juga relatif sulit dipahami. Lvi-Strauss termasuk ahli antropologi yang mampu menggunakan daya retorika yang bagus tetapi tidak mudah dipahami. Bahasa tulisannya memang belum nyastra sekali seperti Geertz, tetapi sudah termasuk nyastra atau sastrawi. Itulah beberapa faktor yang menurut saya telah membuat strukturalisme LviStrauss kurang begitu dikenal di Indonesia, walaupun aliran ini sangat kuat pengaruhnya dalam dunia pemikiran di Barat. Mengingat pentingnya strukturalisme Lvi-Strauss dalam perkembangan pemikiran di Barat, begitu tidak dikenalnya aliran pemikiran itu di Indonesia, serta sulitnya memahami paradigma itu sendiri, maka saya kemudian memberanikan diri untuk mengusung strukturalisme Lvi-Strauss ke Indonesia setelah saya menyiapkan diri dengan lebih baik di Amerika Serikat, dengan mengumpulkan artikel dan buku-buku yang relevan. 3. Mengusung Strukturalisme Lvi-Strauss : 1980an dan 1990an Generasi saya adalah generasi baru pelajar ilmu sosial-budaya yang mulai mengenal pemikiran dari Eropa Daratan, karena saya mendapat pendidikan lanjutan di Belanda. Di sinilah saya berkenalan lebih dekat dengan strukturalisme Prancis, karena antropologi di Belanda di masa lampau sudah lebih dulu mengenal strukturalisme, dan kemudian mendapat pengaruh kuat dari strukturalisme Prancis. Meskipun demikian, saya tidak serta-merta tertarik pada strukturalisme Prancis, walaupun saya terus-terang tertarik pada kecanggihan pemikiran LviStrauss. Ketika itu teman sayalah yang kemudian menggunakan paradigma struktural yang merupakan campuran strukturalisme Prancis dan Belanda untuk menulis tesis S-2 nya, yakni P.M. Laksono. Kami berdua adalah mahasiswa Indonesia yang dipengaruhi oleh pemikiran struktural ketika itu. Yang lain tidak tertarik, bahkan cenderung bersikap negatif dan sinis terhadap aliran strukturalisme yang ketika itu diajarkan oleh P.E. de Josselin de Jong kepada kami. Saya tidak tahu mengapa demikian, tetapi seingat saya karena mereka umumnya menganggap pendekatan tersebut statis, tidak dapat digunakan untuk memahami dan menganalisis perubahan. a. Periode 1980an Laksono menerapkan analisis struktural lebih awal daripada saya. Tesis pascasarjananya, yang kemudian diterbitkan menjadi buku, adalah mengenai struktur yang ada dalam Tradisi Ageng dan Tradisi Alit masyarakat Jawa. Dengan menggunakan analisis struktural Laksono (1986) mencoba menunjukkan bahwa Tradisi Ageng Jawa di Kraton adalah transformasi dari Tradisi Alit Jawa di daerah pedesaan. Dalam hal ini Laksono membandingkan struktur budaya pada masyarakat Jawa di Bagelen dengan struktur budaya Jawa di Kraton Mataram. Buku ini memang tidak mendapat banyak perhatian dari ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Mungkin, karena pendekatannya terasa tidak lazim; mungkin juga sulit
61

dimengerti oleh mereka yang belum mengenal strukturalisme; mungkin pula karena kurang promosi. Yang jelas buku ini setahu saya merupakan analisis kebudayaan secara struktural yang pertama dilakukan oleh ahli antropologi Indonesia. Oleh karena penulisan buku tersebut berada di bawah bimbingan P.E. de Josselin de Jong, ahli antropologi struktural dari Universitas Leiden, Belanda, maka tidak terlalu mengherankan apabila pengaruh strukturalisme Belanda lebih terlihat di situ daripada pengaruh strukturalisme Prancis. Setelah selesai kuliah di Universitas Leiden, Belanda, saya mengajar di jurusan antropologi, dan kesempatan itu saya gunakan untuk menebar paradigma strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM. Satu-dua orang mahasiswa mulai tertarik dengan pendekatan ini dan mulai menerapkannya untuk penulisan skripsi. Walaupun masih dalam taraf yang sangat sederhana namun minta mereka untuk menggunakan sebuah paradigma yang belum lazim diterima dan cukup sulit, patut dihargai. Para mahasiswa antropologi UGM ketika itu mulai mengenal nama Lvi-Strauss serta teori-teorinya dengan cukup baik. Bukan hanya karena kuliahnya lebih terfokus, tetapi juga karena buku-buku dan artikel-artikel antropologi struktural dapat mereka peroleh secara langsung, yaitu dengan memfotocopy buku-buku dan artikel-artikel yang saya bawa dari luar. Secara kebetulan waktu itu di majalah Basis muncul sebuah artikel mengenai Lvi-Strauss dan strukturalismenya, yang ditulis oleh Radrianarisoa. Setelah membaca artikel itu saya berpendapat bahwa apa yang ada dalam artikel tersebut tidak seluruhnya tepat atau seperti yang saya ketahui. Oleh karena itu sayapun menulis sebuah artikel yang isinya merupakan tanggapan, tambahan dan pelurusan beberapa pendapat dalam artikel tersebut (Ahimsa-Putra, 1984). Semenjak itu, saya merasa bahwa nama saya hampir selalu dihubungkan dengan strukturalisme atau antropologi struktural. Pengetahuan mengenai strukturalisme tidak dapat saya tebar lebih lama di UGM, karena setelah dua tahun saya mengajar saya memperoleh kesempatan melanjutkan studi S-3 antropologi ke Universitas Columbia di New York, Amerika Serikat. Ketika itu pengajaran teori antropologi, termasuk di dalamnya strukturalisme Lvi-Strauss, dilanjutkan oleh dosen kami yang paling senior di UGM, Pak Kodiran, yang saat itu masih belum guru besar. Laksono tidak dapat menggantikan, karena dia sudah lebih dulu pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Untuk beberapa tahun, saya tidak mengetahui perkembangan strukturalisme di kalangan mahasiswa antropologi UGM, sampai ketika saya pulang kembali ke UGM setelah menyelesaikan S-3 saya. b. Periode 1990an Pengaruh strukturalisme Lvi-Strauss yang sudah mulai terlihat di tahun 1980an di Indonesia mulai terasa menguat setelah saya memberikan kuliah mengenai strukturalisme lagi selama beberapa tahun di jurusan Antropologi UGM, dan menulis beberapa artikel dengan menggunakan paradigma tersebut. Setelah saya kembali ke UGM, saya kebetulan diminta Prof. Baroroh Baried yang ketika itu
62

menjadi ketua program pascasarjana sastra untuk mengampu matakuliah mitologi. Permintaan tersebut saya terima dan secara kebetulan saya mendapat dana penelitian, yang saya gunakan untuk melakukan penelitian atas mitos orang Bajo. Laporan penelitiannya kemudian saya tulis kembali menjadi artikel yang kemudian diterbitkan oleh majalah Kalam (Ahimsa Putra, 1995). Artikel ini rupanya semakin menguatkan citra saya sebagai orang yang tahu strukturalisme Lvi-Strauss lebih dari yang lain, karena sebagaimana kita ketahui majalah Kalam adalah majalah yang banyak dibaca oleh mereka yang berminat pada sastra, seni dan filsafat, dan diluar lingkaran antropologi setahu saya belum ada orang lain yang berbicara mengenai aliran pemikiran tersebut. Analisis struktural ala Lvi-Strauss atas mitos sama sekali belum dikenal di Indonesia ketika itu. Nama Lvi-Strauss dan strukturalisme tetap belum akrab di kalangan terpelajar di Indonesia. Pendapat bahwa saya adalah orang yang tahu tentang strukturalisme LviStrauss itu rupanya telah mendorong pihak penerbit LKIS meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang akan mereka terbitkan, yang berasal dari buku Octavio Paz mengenai strukturalisme Lvi-Strauss. Sayapun menyanggupi permintaan tersebut. Dalam kata pengantar itu saya kembali menyampaikan berbagai hal mengenai strukturalisme Lvi-Strauss yang belum banyak diketahui, serta memberikan tanggapan terhadap pendapat-pendapat Paz yang menurut saya kurang tepat, atau perlu dijelaskan lagi agar tidak menimbulkan salah pengertian (Ahimsa-Putra, 1997). Ketika itu saya merasa bahwa strukturalisme mulai menarik perhatian kalangan intelektual muda, terutama di Yogyakarta, karena kalau tidak ada ketertarikan tersebut, tentu buku Paz tidak akan diterjemahkan dan diterbitkan. Sementara itu, melalui perkuliahan di S-1 dan S-2 antropologi serta S-2 sastra, saya terus menyebarkan strukturalisme ke kalangan mahasiswa. Beberapa mahasiswa kemudian tertarik untuk menulis tesis dengan menggunakan pendekatan struktural. Oleh karena tidak ada dosen lain yang dipandang lebih memahami strukturalisme, maka pembimbingan penulisan skripsi atau tesis semacam ini boleh dikatakan selalu diserahkan kepada saya. Ketika satu-dua tesis struktural mulai dapat ditulis dan diujikan dengan hasil yang baik (banyak yang mendapat nilai A), semakin banyak mahasiswa yang tertarik untuk menyusun tesis atau skripsi struktural. Gaung strukturalisme sebagai sebuah paradigma semakin luas terdengar di kalangan mahasiswa, terutama jurusan antropologi di UGM, tetapi saya tidak tahu bagaimana gaung tersebut di luar UGM. Mudahmudahan ada yang bersedia memberikan informasi mengenai bagaimana strukturalisme (Lvi-Strauss) dipandang dan dipahami oleh para mahasiswa antropologi maupun bukan di luar UGM. Selain melalui perkuliahan, saya juga menulis makalah-makalah untuk seminar dengan tema struktural, baik itu yang analitis maupun teoritis. Melalui forum seperti inilah saya dapat menyebarkan strukturalisme. Saya menawarkan
63

pendekatan struktural untuk menganalisis fenomena arkeologis (Ahimsa Putra, 1998a; 1999c; 2000a). Saya juga menawarkan pendekatan tersebut untuk menganalisis karya-karya sastra kontemporer yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dianalisis secara struktural, seperti karya-karya Umar Kayam (Ahimsa Putra, 2002c), sedang kepada para peneliti fenomena keagamaan saya juga menunjukkan bahwa strukturalisme dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan seperti sinkretisme (Ahimsa Putra, 2000b). Paradigma strukturalisme Lvi-Strauss menjadi lebih dikenal lagi setelah terbitnya buku Strukturalisme Lvi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra (Ahimsa Putra, 2001). Buku ini saya kira telah membuat peneliti dan pelajar sastra menengok para strukturalisme Lvi-Strauss, yang berbeda dengan strukturalisme yang selama ini mereka kenal dalam analisis sastra. Buku ini pula yang membuat banyak orang mulai menyadari bahwa sekat-sekat keilmuan sebenarnya sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Strukturalisme Lvi-Strauss yang muncul dan berkembang dengan baik dalam antropologi ternyata sangat dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra, dan analisis semacam ini dapat mengungkapkan dimensi tertentu dari karya sastra yang tidak dapat diungkapkan melalui pendekatan yang lain. Dengan demikian, para peneliti sastra sebaiknya juga menengok dan mempelajari paradigma-paradigma yang berkembang di luar kajian sastra. Dengan terbitnya buku tersebut, strukturalisme Lvi-Strauss mulai dikenal di luar lingkaran antropologi. Langkah yang saya tempuh untuk memperkenalkan paradigma antropologi struktural di Indonesia dengan menulis artikel dan menerbikan buku didasarkan pada pandangan bahwa orang tidak akan tertarik pada suatu pendekatan atau paradigma bilamana dia belum mengetahui tentang paradigma tersebut, tentang cara menggunakannya, dan manfaat apa yang akan diperoleh dari penggunaan tersebut. Lewat berbagai makalah dan artikel itulah saya berupaya menunjukkan bahwa strukturalisme adalah sebuah cara baru untuk memandang gejala sosialbudaya. Melalui paradigma tesebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya. Melalui paradigma tersebut ada aspek-aspek lain dari gejala sosial-budaya yang dapat diungkapkan, yang tidak akan dapat diungkap melalui paradigma yang lain. Dari makalah dan artikel tersebut orang dapat menilai keampuhan paradigma struktural untuk memahami gejala sosial-budaya lewat sudut pandang yang berbeda. Sejak itu, strukturalisme Lvi-Strauss semakin dikenal di Indonesia, dan tidak terbatas di kalangan pelajar antropologi saja. 4. Strukturalisme Lvi-Strauss di Indonesia : 2009 Bagaimana strukturalisme di Indonesia sekarang, setelah saya menganalisis mitos Bajo secara struktural dan mulai memberi kuliah strukturalisme 15 tahun yang lalu? Strukturalisme Lvi-Strauss kini sudah lebih dikenal di Indonesia, dan semakin banyak mahasiswa antropologi yang menggunakan pendekatan ini untuk memahami berbagai gejala sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia. Meskipun demikian saya tetap tidak mengetahui bagaimana perkembangan paradigma strukturalisme Lvi-Strauss atapun strukturalisme pada umumnya di luar UGM.
64

Memang, saya sering mendengar nama-nama Barthes dan Foucault disebut-sebut dalam beberapa diskusi, namun belum pernah saya mendengar orang membahas pemikiran-pemikiran Barthes dan Foucault secara serius, baik itu secara formal lewat seminar, ataupun dalam diskusi-diskusi informal. Oleh karena itu, di sini saya hanya akan memaparkan pengaruh-pengaruh strukturalisme, terutama strukturalisme Lvi-Strauss sebagaimana yang saya ketahui dari karya-karya ilmiah yang bisa saya peroleh. a. Metode Analisis Pengaruh strukturalisme terlihat terutama pada metode analisis, dan di sinilah memang terletak kekuatan strukturalisme Lvi-Strauss sebagai sebuah paradigma. Kalau paradigma antropologi sebelumnya jarang sekali menampilkan metode analisisnya, strukturalisme Lvi-Strauss justru terlihat membedakan dirinya dari yang lain melalui metode analisis ini. Strukturalisme Lvi-Strauss mulai terlihat digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kebudayaan yang belum pernah dianalisis secara struktural. Ini terlihat pada tesis dan disertasi di jurusan antropologi UGM. Analisis struktural telah digunakan untuk mengungkap struktur yang ada pada rumah Limas Palembang (Purnama, 2000), rumah tradisional Sumba (Purwadi, 2002). Kalau Dadang H. Purnama mengungkapkan struktur rumah Limas Palembang dan mengaitkannya dengan struktur pemikiran orang Palembang, Purwadi lebih tertarik untuk mengungkap prinsip-prinsip struktural yang ada di balik rumah tradisional Suma di Umaluhu. Oleh karena itu, analisis Purnama kemudian menuntut digunakannya konsep transformasi, dan dengan konsep ini pula dia dapat menyajikan rangkaian transformasi yang ada dalam budaya masyarakat Palembang. Pendekatan struktural juga digunakan oleh Nasrullah (2008), yang berasal dari suku Dayak Bakumpai di Sungai Barito, Kalimantan, untuk menganalisis konsepsi orang Bakumpai tentang ruang. Orang Dayak Bakumpai mengenal istilah-istilah ngaju, ngawa, ngambu dan liwa untuk menunjuk arah, dan konsepsi arah yang terkait dengan ruang ini juga terkait erat dengan sungai, karena sungai merupakan ruang yang sangat penting dalam kehidupan orang Dayak Bakumpai. Struktur ruang juga dianalisis oleh Gerda Numbery (2008) yang melakukan penelitian di kalangan orang Dani di Papua. Dalam hal ini Numbery telah berhasil menunjukkan keterkaitan struktural yang erat antara struktur ruang yang dikenal oleh orang Dani dengan organisasi sosial mereka. Sepengetahuan saya, analisis struktural yang dikerjakan oleh Numbery merupakan analisis struktural ala Lvi-Strauss yang pertama kali dimanfaatkan oleh ilmuwan sosial Indonesia untuk memahami struktur organisasi sosial orang Dani dan pandangan mereka tentang ruang beserta strukturnya. Analisis struktural juga telah diterapkan pada budaya material, yakni patung (Ahimsa-Putra, 1999c; Subiantoro, 2009) dan makanan tradisional orang
65

Minang (Maryetti, 2007). Ahimsa-Putra misalnya menerapkan analisis struktural pada arca ganesya, yang sebelumnya telah diteliti secara seksama oleh Edi Sedyawati, ahli arkeologi UI. Walaupun analisisnya belum sepenuhnya tuntas, namun analisis tersebut telah memberi inspirasi pada sejumlah ahli arkeologi lain untuk mencoba menerapkannya pada artefak-artefak atau benda arkeologis lainnya. Selain arca ganesya, analisis patung secara struktural juga telah dilakukan oleh Slamet Subiantoro, yang menempatkan patung loro-blonyo dalam konteks kebudayaan yang lebih luas, yakni kosmologi Jawa. Sementara itu, Maryetti lebih tertarik untuk menganalisis dan mengungkapkan struktur yang ada di balik berbagai macam makanan tradisional yang disajikan dalam ritual-ritual (Subiantoro, 2009). Lebih dari itu, ternyata pendekatan struktural juga dapat menjelaskan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia tidak lama setelah meletusnya peristiwa G-30-S, yakni banyaknya orang Tionghoa Indonesia yang masuk agama Katholik dan bagaimana perilaku mereka setelah mereka memeluk agama tersebut (Radjabana, 2000). Beberapa contoh kajian ini menunjukkan bahwa strukturalisme sebagai sebuah paradigma ternyata dapat digunakan untuk menganalisis beraneka-macam gejala sosial-budaya. Dalam hal ini para mahasiswa pascasarjana antropologi UGM (S-2) merupakan orang-orang yang cukup besar sumbangannya, karena dengan adanya tesis-tesis tersebut maka paradigma Strukturalisme dari Lvi-Strauss menjadi lebih dikenal dan jelas-jelas dapat digunakan dalam berbagai penelitian. b. Pemahaman tentang Struktur (Structure) Meskipun strukturalisme memberikan penekanan utama pada struktur, namun ternyata pemahaman tentang struktur ini tidak selalu dapat ditangkap. Dari pengalaman berdiskusi, memberikan kuliah dan membimbing penulisan karya ilmiah saya merasa ide Lvi-Strauss mengenai struktur termasuk yang tidak mudah dimengerti dan diketahui adanya dalam gejala sosial-budaya yang dianalisis. Pengertian struktur sebagai sebuah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami gejala yang dipelajari, namun tidak ada hubungan empirisnya dengan gejala sosial-budaya tersebut, dan pengertian struktur sebagai sistem relasi, ternyata tidak selalu mudah dipahami. Meskipun demikian, dengan adanya kuliah mengenai strukturalisme Lvi-Strauss secara khusus, pengertian struktur tersebut kini mulai dapat dimengerti. Diskusi yang lebih teoritis dan konseptual tentang strukturalisme belum dapat diharapkan dapat muncul dari kalangan ilmuwan sosial-budaya Indonesia, karena tradisi membahas secara kritis pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat masih belum tumbuh dan berkembang di kalangan mereka. Kita masih jauh dari suasana akademik dan intelektual yang seperti itu. Masih sangat sedikitnya buku dan artikel jurnal ilmiah yang membahas strukturalisme secara kritis di Indonesia merupakan bukti yang paling jelas masih belum berkembangnya tradisi tersebut.

66

Konsep turunan yang berasal dari struktur, yakni struktur sosial menurut padangan Lvi-Strauss (yang berbeda dengan struktur sosial menurut Radcliffe-Brown), juga belum dapat dimengerti dengan baik. Bahwa ternyata struktur sosial adalah juga sebuah model dari seorang ahli antropologi mengenai suatu masyarakat atau suku bangsa juga masih sulit diterima, karena para ilmuwan dan pelajar Indonesia masih lebih mudah memahami konsep-konsep yang lebih jelas acuannya, yang lebih mudah dilihat dan mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahkan, konsep-konsep penting tidak selalu dapat dipahami fungsinya dalam analisis. c. Stukturalisme : Cara Pandang Transformasional, A-historis Konsep yang sangat penting dalam analisis struktural adalah transformasi. Konsep ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh para mahasiswa daripada konsep struktur atau struktur sosial, dan kebanyakan telah dapat menerapkan konsep ini dengan baik dalam analisis, walaupun implikasi teoritisnya tidak selalu mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu konsep transformasi berasal dari ilmu bahasa juga, namun banyak contoh yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna transformasi sebagaimana digunakan dalam analisis struktural. Hal ini tampaknya telah membuat konsep transformasi menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan dalam analisis. Lebih sulit dari itu adalah membedakan makna transformasi dengan change (perubahan), karena ini menuntut kemampuan memandang gejala sosialbudaya dengan cara yang berbeda, yang a-historis. Kita umumnya memiliki pola pikir yang linier, yang historis, diakronis. Segala sesuatu selalu kita pandang dalam hubungan sebab-akibat sehingga penjelasan tentang sesuatu tersebut selalu mengacu pada sebab-sebabnya, dan itu berarti kepada masa lampaunya. Kebiasaan ini membuat kita mengalami kesulitan jika harus memandang dan menjelaskan gejala sosial-budaya tidak melalui sudut pandang kausalitas. Kesulitan tersebut juga menambah orang semakin kurang berminat memandang gejala sosial-budaya dari perspektif strukturalisme, ketika dikatakan bahwa strukturalisme tidak dapat digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala perubahan sosial dan kebudayaan, bahwa strukturalisme tidak menyejarah (ahistoris). Mereka yang menerima begitu saja kritik ini sebenarnya telah melupakan faktor-faktor yang mendorong munculnya pendekatan struktural, yakni keterbatasan pendekatan sejarah ketika digunakan untuk memahami dan menganalisis gejala-gejala sosial-budaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial, diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Sulit rasanya mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya yang memang tidak ada data sejarahnya. Seperti halnya pada konsep struktur dan struktur sosial, diskusi teoritis dan filosofis mengenai konsep transformasi ini juga masih belum ada. Sulit rasanya

67

mengharapkan munculnya pembahasan seperti itu di kalangan ilmuwan sosialbudaya Indonesia dalam waktu yang relatif dekat ini. 5. Penutup Apa yang saya paparkan di sini adalah apa yang saya ketahui mengenai strukturalisme di Indonesia di masa kini, yang setahu saya sudah mulai banyak dikenal dan digungakan sebagai paradigma dalam penelitian. Pengaruh ini terlihat terutama di jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Saya tidak tahu apakah di jurusan-jurusan antropologi lain di Indonesia paradigma ini telah diajarkan. Yang jelas saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa paradigma ini telah diajarkan di UGM (dulu). Mungkin karena di jurusan-jurusan antropologi yang lain tidak ada orang yang merasa menguasai dan dapat mengajarkan dengan baik strukturalisme sebagai sebuah paradigma; mungkin juga karena paradigma ini dianggap terlalu banyak kelemahannya, terutama karena tidak dapat digunakan untuk memahami dinamika dan perubahan kebudayaan. Di UGM pengaruh strukturalisme Lvi-Strauss terasa terutama di kalangan mahasiswa antropologi, tingkat pascasarjana. Di luar UGM pengaruh tersebut tetap masih belum terasa, atau mungkin ada tetapi saya tidak mengetahuinya. Tidak sebagaimana halnya post-modernisme dan cultural studies, wacana serius tentang strukturalisme (Lvi-Strauss) setahu saya tidak pernah muncul di Indonesia. Kalau pada awal kemunculan post-modernisme dan cultural studies saya sempat diundang dalam diskusi dan seminar di Indonesia tentang dua trend keilmuan tersebut, tidak demikian halnya dengan strukturalisme. Belum pernah saya diundang dalam seminar, diskusi atau lokakarya yang secara khusus membahas strukturalisme (Lvi-Strauss) sebagai sebuah trend pendekatan baru dalam ilmu sosial-budaya. Hal ini tentu sangat mengherankan, jika tidak memprihatinkan. Mengapa demikian? Mungkin beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas adalah diantaranya. Faktor-faktor yang lain mungkin sekali juga menjadi penyebabnya seperti misalnya : langkanya buku mengenai strukturalisme itu sendiri, tidak adanya kuliah khusus mengenai strukturalisme di universitasuniversitas di Indonesia, tidak adanya ilmuwan sosial-budaya yang khusus menekuni strukturalisme dan kemudian memperkenalkannya kepada publik Indonesia. Kalau dalam antropologi saja strukturalisme (Lvi-Strauss) sampai saat ini masih belum sangat dikenal, maka aspek filosofis dari aliran pemikiran ini tentu lebih belum dikenal lagi. Walaupun Lvi-Strauss tidak pernah menganggap strukturalisme yang dikembangkannya sebagai sebuah filsafat, namun sebenarnya sebagai sebuah epistemologi strukturalisme adalah sebuah aliran pemikiran filsafati, dan ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. Sisi filosofis inilah yang belum diserap oleh kalangan intelektual atau ilmuwan Indonesia. Mungkin karena sisi ini lebih sulit untuk ditangkap dan dipahami oleh ahli filsafat Indonesia, mungkin pula karena ahli filsafat Indonesia tidak ada yang tertarik untuk
68

membahasnya. Namun, itulah tantangan dari strukturalisme yang hingga kini di Indonesia masih belum ada yang bersedia menghadapi dan dapat menakhlukannya. Dari paparan di atas kita dapat mengatakan bahwa (a) strukturalisme yang dikenal di Indonesia adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Lvi-Strauss, sementara strukturalisme yang berasal dari Foucault dan Barthes tidak begitu terlihat pengaruhnya di kalangan kaum terpelajar Indonesia; (b) strukturalisme Lvi-Strauss masih terbatas dikenal di kalangan pelajar antropologi, terutama di UGM, karena di jurusan antropologi UGM strukturalisme Lvi-Strauss diajarkan secara khusus selama satu semester, di tingkat pascasarjana; (c) beberapa konsep penting dalam strukturalisme yang mulai dikenal dan dimengerti adalah konsep struktur, struktur sosial, dan transformasi, di samping konsep-konsep seperti nirsadar, oposisi biner, sintagmatik-para digmatik, sign, signified, signifier, dan sebagainya; (d) pembahasan kritis atas pemikiran-pemikiran antropologis dan filosofis belum terlihat, dan tampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat, karena hal semacam ini menuntut pemahaman yang mendalam atas berbagai paradigma dan pandangan filosofis yang berkembang dalam antropologi dan filsafat. Oleh karena itu pula, pengaruh strukturalisme Lvi-Strauss terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan sosial-budaya Indonesia masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat meninggalkan bekas yang cukup dalam serta mudah dikenali dalam karya-karya ilmiah mereka. *Penulis adalah Pengajar Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta **Makalah ini disampaikan dalam diskusi publik bertema: Perkembangan Strukturalisme Prancis di Indonesia pada hari Rabu, 1 April 2009 sebagai mata rangkai Public Culture Series bertajuk: Pemikiran Kritis Prancis dan Implikasinya di Indonesia Sekarang ini Daftar Pustaka Abdullah, T. 2005. Analisis Struktural Lvi-Strauss Terhadap Tiga Lakon Karya Arthur S. Nalan : Kajian Transformasi Tokoh dalam Rajah Air, Kawin Bedil dan Sobrat. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Ahimsa-Putra, H.S. 1984. Strukturalisme Lvi-Strauss : Sebuah Tanggapan. Basis XXXIII (4) : 122-135. ___________. 1994. Semiotik Rituil Belian di Kalimantan. Makalah seminar. ___________. 1995, Lvi-Strauss di Kalangan Orang Bajo : Analisis Struktural dan Makna Ceritera Orang Bajo. Kalam 6 : 124-143.

69

___________. 1997. Claude Lvi-Strauss : Butir-butir Pemikiran Antropologi dalam Lvi-Strauss : Empu Antropologi Struktural, O. Paz. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Yogyakarta : LKIS. ___________. 1998a. Strukturalisme Lvi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Makalah seminar Arkeologi. ___________. 1998b. Seni : Budaya :: Keindahan : Kebenaran :: Rasa : Nalar :: Estetika dan Etika, dan Krisis 1997-1998 di Indonesia. Makalah seminar. ___________. 1998c. Lvi-Strauss, Orang-Orang PKI, Nalar Jawa, dan Sosok Umar Kayam : Telaah Struktural-Hermeneutik Atas Dongeng-Dongeng Etnografis Dari Umar Kayam dalam Umar Kayam dan Jaring Semiotik, A. Salam (ed). Yogyakarta : Pustaka Pelajar. ___________. 1999a. Struktur Simbolisme Budaya Jawa Kuno : Yang Meneng dan Yang Malih. Makalah Sarasehan. ___________. 1999b. Ekonomi Manusia Jawa : Agama dan Perilaku Ekonomi Dalam Perspektif Antropologi Struktural. Gerbang 5 (2) : 88 97. ___________. 1999c. Arca Ganesya dan Strukturalisme : Sebuah Analisis Awal dalam Cerlang Budaya, Rahayu S. (ed). Jakarta : UI Press. ___________. 2000a. Strukturalisme Lvi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik. Humaniora 12 : 1 13, September Desember. ___________. 2000b. Islam Jawa dan Jawa Islam : Sinkretisasi Agama di Jawa. Tembi 1 Thn.I : 10 19. ___________. 2001. Strukturalisme Lvi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta : Galang Press. ___________. 2002a. Roland Barthes : dari Strukturalisme ke PostStrukturalisme. Makalah dalam bedah buku. ___________. 2002b. Strukturalisme Lvi-Strauss dan Sastra. Makalah Pelatihan. ___________. 2002c. Tari Srimpi dan Struktur Simbolisme Jawa. Makalah seminar. ___________. 2002d. Tiga Dasawarsa, Dua Paradigma, Satu Model. Makalah seminar.

70

___________. 2002e. Satwa, Totem, Mitos dan Nalar Primitif. Makalah diskusi. ___________. 2003. Structural Anthropology in America and France : A Comparison. Humaniora XV (3) : 239 264. ___________. 2005. Tanda : Simbol :: Semiotika : Hermeneutika. Makalah bedah buku. ___________. 2006a. Strukturalisme Lvi-Strauss : Positivistis dan Fungsionalistis ? Beberapa Catatan Kritis dalam Lvi-Strauss : Strukturalisme dan Teori Sosiologi, C. Badcock. Terj. Robby H. Abror. Yogyakarta : Insight Reference. ___________. 2006b. Dari Mytheme ke Ceriteme : Pengembangan Konsep dan Metode Analisis Struktural dalam Esei-esei Antropologi : Teori, Metodologi dan Etnografi, H.S. Ahimsa-Putra (ed.). Kepel Press : Yogyakarta. ___________. 2006c. Antropologi Sosial-Budaya di Indonesia : Tingkat Perkembangan dengan Perspektif Epistemologi dalam Ilmu Sosial dan Tantangan Zaman, T. Abdullah (ed.). Jakarta : Rajagrafindo Persada. ___________. 2006d. Sawerigading, To-manurung dan Nilai-nilai Budaya Bugis-Makassar : Status Sosial dan Resiprositas dalam Budaya Bugis-Makassar. Makalah seminar nasional. ___________. 2006e. Strukturalisme Lvi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta : Kepel Press. Edisi Baru. ___________. 2007a. Tanaman : Hama :: Perempuan : Laki-laki : Relasirelasi Simbolik Dalam Mitos Dewi Sri. Makalah seminar. ___________. 2007b. Strukturalisme Lvi-Strauss : Paradigma dan Epistemologi Baru. Makalah bedah buku. ___________. 2008a. Ritus Kematian : Ritus Peralihan, Ritus Penandaan, Ritus Pertukaran. Jurnal Penelitian Walisongo XVI (2) : 59-76. ___________. 2008b. Budi : Roh Pertukaran dalam Budaya Melayu. Makalah workshop Pemikiran Melayu Jawa. Leni, N. 2004. Analisis Struktural Lvi-Strauss dan Mitos Tasawuf. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada.

71

Listia. 2005. Posisi Wahyu dalam Agama Kristiani dan Islam : Studi Atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam Menurut Strukturalisme Lvi-Strauss. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Maryetti. 2007. Makanan dan Struktur Budaya Minangkabau. Tesis Pascasarjana Antropologi, Universitas Gadjah Mada. Nasrulah. 2008. Ngaju, Ngawa, Ngambu, Liwa : Analisis Strukturalisme Lvi-Strauss Terhadap Konsep Ruang dalam Pemikiran Orang Dayak Bakumpai di Sungai Barito. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Numbery, G.K.I. 2007. Struktur Budaya Orang Dani di Desa Jiwika, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya : Suatu Kajian Strukturalisme Lvi-Strauss. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pace, D. 1986. Claude Lvi-Strauss : The Bearer of Ashes. London : Ark Paperbacks. Purnama, D.H. 2000. Rumah Limas dan Struktur Pemikiran Orang Palembang. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Purwadi. 2002. Prinsip-prinsip Struktural dalam Rumah Tradisional Sumba di Umaluhu. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Radjabana, A. 2003. Menjadi Katolik Bagi Keturunan Cina di Jawa : Pertukaran Sosial Antara Keturunan Cina dan Gereja Katolik di Jawa. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Sperber, D. 1979. Claude Lvi-Strauss dalam Structuralism and Since : From Lvi-Strauss to Derrida, J. Sturrock (ed.). Oxford : Oxford University Press. Sturrock, J. 1979. Introduction dalam Structuralism and Since : From Lvi-Strauss to Derrida, J. Sturrock (ed.). Oxford : Oxford University Press. Subiantoro, S. 2009. Loro Blonyo Dalam Rumah Tradisional Jawa : Studi Tentang Kosmologi Jawa. Disertasi Antropologi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sumintarsih. 1998. Pertukaran Dalam Hubungan Subkontrak di Kalangan Perajin Agel, Kulon Progo. Tesis Pascasarjana Antropologi. Universitas Gadjah Mada. Xiao Lixian. 2004. Budaya dan Struktur Masyarakat Tiongkok pada Dinasti Qing dalam Novel Hong Lou Meng. Analisis Struktural Lvi-Strauss. Tesis Pascasarjana Antropologi.

72

11 readers like this article.

Audio Archive : FGD Meteor Garden

On 2002, KUNCI Cultural Studies conducted a research on the popularity of Taiwans TV series, Meteor Garden, in Indonesia. During the research, KUNCI asked Meteor Gardens fans reception to the show through forum group discussion.
More articles

Buku
Koleksi Terbaru Perpustakaan KUNCI September-November 2009 Perpustakaan Kajian Budaya KUNCI mengoleksi buku teks, jurnal, makalah, laporan penelitian, kertas kerja tentang kajian budaya. Selain itu perpustakaan juga memiliki koleksi media alternatif (zine) dan transkrip hasil diskusi. Tema-tema khusus yang menjadi fokus utama
More articles

General
Tiga Usia Jacques Derrida Derrida berbicara tentang arti biografi, tuhan, filsuf perempuan, kematian, dan usia manusia dalam sebuah perbincangan dengan Kristine McKenna dari LA Weekly.
More articles

Kertas Kerja

Demam K-Drama dan Cerita Fans di Yogya oleh YULI ANDARI M Yuli Andari menuliskan pengamatannya tentang demam drama Korea dan para fans di Yogyakarta. Laporan ini dibuat pada tahun 2006.

73

More articles

Kolom
Putih oleh YULI ANDARI M Sejak kecil saya telah menyukai pantai. Bila ada kesempatan di akhir pekan, saya menyempatkan diri ke pantai bersama teman-teman atau kerabat. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di pantai dengan berbagai aktivitas: mandi, merebahkan badan
More articles

Magazine
Seminar Purloined Letter oleh JACQUES LACAN Ini adalah kumpulan Seminar Purloined Letter oleh JACQUES LACAN, lengkap dari bagian I sampai bagian IV.
More articles

PDF
VIDEOCHRONIC [scroll down for English version] Beberapa dekade belakangan Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis dalam penggunaan video sebagai alat perubahan sosial baik di ranah komunitas, kampanye isu tertentu, maupun organisasi aktivis. Alat memproduksi video semakin terdemokratisasi
More articles

Public Culture Series

Strukturalisme Levi-Strauss di Indonesia 2009 oleh HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA

74

Adakah pengaruh strukturalisme Lvi-Strauss di Indonesia? Kalau ada, seperti apa? Di kalangan yang mana ia menunjukkan pengaruh? Kalau tidak ada atau kurang terlihat, mengapa? Hedy-Shri Ahimsa Putra mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
More articles

Review
Kalaupun punk mati oleh FERDIANSYAH THAJIB Sebagai salah satu tampilan subkultur yang kini sering diutak-atik dalam beragam laporan tampak muka rubrik gaya hidup di media massa sehari-hari, punk dibaca secara nostalgis dalam hubungannya yang selalu serba salah di hadapan tradisi (lokal)

Comments

Avatar Play on Avatar: Visualizes yourself! (Estetika Populer dan Identitas dalam Technoculture) Oleh ARIE SETYANINGRUM Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet, praktikkan gaya membaca penyusutan | Indonesia Buku on Newsletter KUNCI #15

Space/Scape Project

Warung Kidul di Alun-alun Selatan 27/11/2009 nuning Monumen Cinta 24/11/2009 nuning

ANONYMOUS WRITERS CLUB

aku ingin hidup aku ingin hidup []

Archives

December 2009 November 2009 October 2009 September 2009 August 2009 July 2009 June 2009 75

Networks

Arts Network Asia Ford Foundation Indonesian Visual Art Archives Yes No Wave Music

Twitter
New article, Tiga Usia Jacques Derrida. Sebuah Wawancara dengan Bapak Dekonstruksi - http://tinyurl.com/ybecqvt 02:53:47 AM December 03, 2009 from WordTwit

KUNCI-List

Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung - Abstracts due 22 FEB 2010 11/01/2010 ... From: primanto danu Subject: Fw: CfP arte-polis3 IntlConf Bandung - Abstracts due 22 FEB 2010 To: danuprimanto@... Date: []

KAJIAN STRUKTURALISME-SIMBOLIK MITOS JAWA PADA MOTIF BATIK BERUNSUR ALAM


Robby Hidajat
Abstract: Batik is a product of Javanese culture, with a great variety of sizes, forms, motifs, and functions. Pujianto writes a book on batik semen, sawat, and alas-alasan and their relationship with Javanese mythology, arguing for the myths underlying those different motifs. In his study he employs a symbolic approach, which, according to the present writer, still needs to be completed with a structural approach proposed and developed by the French anthropologist Levi-Stauss. The latter approach may lead not only to analyzing symbolizations but also to placing symbols in a given structure. The structural approach produces research results different from those produced by the symbolic approach. Therefore, the writer suggests using the structural approach as a complement for the symbolic approach. Key words: batik, Javanese mythology, symbolic approach, structural approach.

Mencermati artikel Pujianto berjudul Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam (Jurnal Bahasa & Seni, Tahun 31, Nomor 1, Februari 2003). Pokok pikiran seperti pada judul artikel tersebut dan mencermati uraiannya. Pujianto tampaknya menggunakan kajian simbolik. Pola diskripsi kajian simbolik seperti pada paparan dan analisisnya menunjukan sebuah pola linier , yaitu berbagai entitas yang dikaji seolah-olah memiliki relasi yang segaris (Line Relation).
Robby Hidayat adalah dosen Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

76

Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 287

Kajian simbolik yang digunakan oleh Pujianto dalam mencermati Motif Batik unsur Alam adalah pola pemikiran yang khas dari para peneliti sebelum generasi Roland Barthes; salah seorang tokoh strukturalisme Prancis, professor di College de France. Dasar utama pemikiran yang digunakan oleh Pujianto secara mendasar mengacu pada filsafat makna, yaitu seperti model analisis yang dikembangkan oleh Ernst Cassire (studi budaya) dan Sussan K. Lenger (studi seni), M. Mauss, di samping tokoh yang lain, dua tokoh tersebut sangat berpengaruh pada pada pemikir tentang simbol . Heddy Shri Ahimsa-Putra seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengomentari kelemahan kajian simbolik. Perspektif simbolik, suatu usaha menafsir terhadap simbol-simbol. Langkah ini tidak akan lengkap dan mantap tanpa memperhatikan pandangan pemilik budaya. Kadang pelacakkan simbol umumnya hanya mencermati tata bentuk visual, artinya wujud objek dicermati sebagai susunan unsur-unsur yang telah memiliki relasi tertentu. Simbol yang ditafsirkan atas dasar wujud fisik dari sesuatu yang terindra sebagai tanda bermakna. Sementara simbol di balik yang disimbolkan kadang sulit atau seringkali tak terjangkau, sehingga pembahasan tentang simbol menjadi sekenanya (2000K:4a0ji3a-n40S8i)m. bolik menjadi pola pencermatan yang sangat popular di lingkungan pengkaji seni, setidaknya telah dilakukan oleh Pujianto. Pemikirannya menjadi sangat lancer karena terdukung oleh tata makna yang bersifat konvensional, referensinya telah tersedia. Pada kaitan ini, Pujianto sangat terbantu oleh paham filosifis Jawa. Hanya saja bagaimana pola relasional filosofis Jawa itu terkait dengan motif batik berunsur alam ?. Pujianto telah memaparkan panjang lebar, tetapi tidak menunjukan sistematika analisisnya. Hal ini dapat disimak pada table 1 [ Mitologi Jawa dalam Motif Batik] (hal. 137), terutama menyimak relasi lambang dan arti . Entitas ini muncul secara tiba-tiba. Seakan-akan unsur ornament , lambang dan arti seoleh-oleh membuat pembenaran adanya relasi tentang konsep hindusitis yang disebut triloka . Pemahaman Pujianto menjadi semakin anakronistik ketika menyimak skematis pada halaman 138. Skema yang dipaparkan tentang adanya relasi antara sifat orang Jawa , Falsafah orang Jawa , Unsur Alam Kehidupan dan Unsur Batik . Paparan Pujianto seolah-oleh seperti bentuk analisis realasional. Ini yang dimaksudkan oleh Heddy Shri Ahimasa-Putra, bahwa kajian
288 BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

simbol tidak melakukan kajian struktur, yaitu terbatas pada aspek permukaan (2000:402). Bertolak dari artikel Pujianto, artikel ini bermaksud melakukan reinterpertasi ulang dengan model strukturalisme-simbolik. Sebuah kajian berpijak pada paradigma Strukturalisme. Salah satu kajian yang dikembangkan oleh Levi-Strauss, di samping bersandar juga pada pemikiran Emile Durkheim, yaitu strukturalisme fungsional. Teori Durkheim menjadi dasar pembenaraan adanya relaisi-realasi dalam struktur kebudayaan manusia yang seolah-oleh seperti Organisme biologi (Abdullah & Leeden, 1986). Berdasarkan pemikiran Emil Durkheim, dapat meletakan posisi batik sebagai benda yang bersifat funsional di lingkungan budaya Jawa. Pujianto telah mengemukakan bahwa Batik , misalnya sebagai contoh 77

uraian tentang fungsi batik alas-alasan, sebagai berikut:


Motif Semen dalam penerapannya di dalam keraton diperuntukkan bagi Pangeran, Adipati, dan untuk pengantin pria pada waktu ijab Kabul (Semen Rama). (halaman 130) Motif alas-alasan tidak tampil pada semua jenis kain batik, tetapi (hanya tempil) pada kain baik sebagi (untuk) Dodot bangun-tulak (pola busana) dengan kombinasi prada emas. Jenis batik ini sering digunakan oleh Raja untuk upacara-uparada agung, dan tari Bedhaya (halaman 133).

Motif Sawat secara etimologis dipahami semi , fungsinya sebagai busana seorang raja Jawa (Kasunanan Surakarta) ketika bertahta, utamanya ketika sedang bertitah. Pujianto mengemukakan batik bermotif Sawat merupakan busana yang melambangkan kebijakan raja, titahnya merupakan keputusan yang terbagik bagi dirinya, keluarganya, maupun Abdi Dalem, dan rakyatnya. (Pujianto, 2003: 131). Batik Sawat merupakan salah satu batik yang menjadi milik raja. Bahkan Sunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengluarkan larangan menggunakan batik tertentu, seperti yang disampaikan oleh Soedjoko yang dikutip oleh Amri Yahya, sebagai berikut:
Ana dene kang arupa jejarit kang kalebu ing laranganingsung: Batik Sawat lan batik parang rusak, batik cumangkiri kang calacep, modang, bangun-tulak, lenga-teleng, daragam lan tumpal. Anadene
Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 289

batik cumangkirang ingkan acalacap lung-lungan utawa kekembangan, ingkang ingsun kawenangaken anganggona pepatih ingsun lan sentaningsun, kawulaningsun Wedana. (Yahya, 1985: 16) Adapun barang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk larangan saya (raja): Batik Sawat, dan batik parang rusak, batik cumangkiri yang calacep, modang, bangun tulak, lenga-teleng, daragam, dan tumpal. Adapun batik Cumangkirang yang acalecep berupa lunglungan (sulur) atau kekembangan (bunga-bungaan), yang saya perbolehkan dipakai Patih, dan abdidalem, Wedana.

Pernyataan Pujianto dan Amri Yahya jelas, bahwa Batik merupakan benda fungsional. Konsep dari fungsi adalah memiliki kaitan relasional dengan unsur yang memungsikan suatu benda. Relasi dari benda dan orang yang memfungsikan didasarkan oleh sebuah konsep . Konsep-konsep dari fungsi menunjukan adanya sebuah struktur. Pemikiran ini yang mengarahkan pada kajian structural, baik pemikiran Emile Durkheim atau Levi-Strauss. Walaupun kedua teori tersebut berpijak pada konsep yang berbeda, tetapi untuk mencermati sebuah simbolisasi dari benda-benda fungsional menjadi lebih kredibel. Mengingat strukturalisme model Levi-Strauss memandang struktur sebagai model dari pola pikir manusia dalam memahami dunianya (Kaplan & Manners, terj. Landung Simatupang, 2000: 237). Strukturalisme lebih menekankan pada sebuah cara berpikir dari masyarakat sederhana yang menganggap bahwa sistem sosial hanyalah refleksi dari sistem dunianya atau dengan kata lain mikro-kosmos merupakan refleksi dari makro-kosmos (Randrianarisoa, 1983:213). Mengetengahkan paradigma strukturalisme sebagai model telaah batik berunsur alam bukan cara pandang yang berbeda dengan pemikiran Pujianto. Tetapi sebuah analisis yang lebih sistematis.
BATIK BERUNSUR MOTIF ALAM

78

Pujianto memilik topik penulisan artikel tentang batik berunsur motif alam dengan objek batik yang berkembang di keraton (?) [tidak dijelaskan lebih sepesifik keraton yang mana] dengan sample analisis batik bermotif Semen, Sawat, dan Alas-alasan. Ketiga mofif batik tersebut diasumsikan bersumber pada fenomena alam sebagai lambang kesuburan dan kekuasaan
290 BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

ran dan kekuasaan Apabila benar, tiga motif batik yang terdiri dari motif Semen, Sawat, dan Alas-alasan memiliki realisi dengan mitos kesuburan dan kekuasaan. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menghubungkan ketiga motif tersebut, seperti Levi-Strauss menganalisis tentang makanan. Levi-Strauss menempatkan makanan dengan pola analisis segitiga kuliner (Cremers, 1997: 80), sebagai berikut:
Gambar 1. Skema segitiga kuliner model strukturalisme Levi-Strauss

Dasar pemempatan sample tiga motif batik tersebut bersifat abitrer (sekenanya), dengan tujuan menguji adanya keterkaitan dengan paham filosofis Hindu tentang Triloka [tri = tiga dan loka = dunia], yaitu yang memahami bahwa secara kosmologis dunia dibagi menjadi tiga. Pemilihan relasi paham triloka didasarkan atas kesamaan relasi tiga , sehingga simbolisasi tentang kesuburan tidak dikemukakan secara jelas oleh Pujianto. Analisisnya lebih pada pemahaman tentang adanya persepsi bentuk, yaitu dipahami dari adanya berdasarkan analogi, yaitu ada kesamaan bentuk dengan pengertian konvensional tentang makna kesuburan . Misalnya, urairan tentang bentuk Semen. Bentuk Semen merupakan tanda penyebaran benih, agar benih tersebut dapat bersemi. Penyebara benih, seperti yang digambarkan berupa tanaman menjalar (sulur) sebagai penggambaran alat kelamin pria (halaman 130). Selanjutnya relasi tentang kesuburan tidak dibahas secara mendalam, demikian juga tentang kekuasaan , dalam kaitan ini adalah Raja Jawa . Berdasarkan konsep Triloka, yang dijelaskan oleh Pujianto, yaitu

Semen Sawat Alas-alasan


Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 291

dipahami sebagai kenyataan tentang kosmologis Jawa. Bahawa dunia dibagi menjadi tiga tataran yang bersifat hirarkis, yaitu: Alam atas, alam tengah, dan alam bawah. Pemahaman tersebut dapat disekematiskan sebagai berikut
Gambar 2. Skema relasional antara konsep Triloka dan motif batik berunsur alam

Keterangan: Batik seolah-oleh memiliki kaitan dengan konsep triloko, pemikiran Pujianto tampaknya seperti skema tersebut di atas. Batik Semen memiliki hubungan kesamaan motif dengan dua batik yang lain (Sawat & Alasalasan), dan demikian pula dengan batik Sawat & Alas-alasan yang memiliki kaitan dengan batik Semen. Batik Semen memiliki kaitan yang bersifat vertical alam atas, sementara batik Sawat memiliki kaitan dengan alam tengah, dan batik Alas-alasan memiliki kaitan dengan alam bawah. Berdasarkan skema tersebut di atas, selanjutnya dicermati lebih lanjut dengan menyusun table realasi dari ketiga entitas tersebut di atas, sebagai berikut.

Semen
79

Sawat Alas-alasan Alam bawah Alam atas Alam tengah


292 BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

Tabel 1. Analisa Taksonomi Relasi antara Konsep Triloka dan Motif Batik Berunsur Alam
SEMEN SAWAT (GURDO) ALAS-ALASAN INTERPERTASI MAKNA ALAM ATAS

Gunung Semeru/ Brahma Lingga (Siwa) Tirta Marta Raja Burung, Lar (sayap) bersulur bangunan, kapal Udara, Garuda, Matahari Burung Garuda, burung merak, Lar (sayap), gunung, Awan, angkasa, Awan, kupukupu, kumbang, Kekuasaan, kejayaan, kesaktian, wahyu, suci, roh
ALAM TENGAH

Manusia, Tanah Brahma Tumbuhan, Kalpataru, (pohon hayat) Ayam jantan, kuda, harimau, tumbuhtumbuhan Kehidupan, kakyaan, kemakmuran, pengavoman, kegembiraa, hidup,
ALAM

80

BAWAH

Laut, Wisnu, Betari Sri Laut, Ular (naga) Kesuburan Roh-roh jahat, sacral, kedukaan, sengsara, kematian

Tabel di atas merupakan dasar analisis yang dilakukan oleh Susanto (1983: 235-237), dan Veldhuisen (1988: 28) yang dicuplik oleh Pujianto ( halaman 134-135). Tabel 1 menunjukan sebuah sistem analisis makan, yang dimungkinkan mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang lambang-lambang dan ditafsir. Sementara Pujianto hanya menyitir dari hasil pemikiran peneliti lain yang telah berupa pernyataan. Paparan Pujianto dalam menguraikan makna-makna seolah-oleh benar. Kalau diperhatikan, ternyata segi tiga kuliner tersebut tidak cocok, atau tidak terbukti. Maka dimungkinkan, bahwa ketiga batik tersebut memiliki pormasi struktural yang lain. Berdasarkan hasil pencermatan melalui table 1, ternyata tidak semua motif batik berunsur alam memiliki realisi dengan konsep triloka, bukti Hidayat,
Kajian Strukturalisme-Simbolik 293

nya unsur-sunsur alam tampak mengelompok pada kolom alam atas , dan sebagian kecil berrelasi dengan kolom alam tangah . Sedangkan untuk kolom alam bawah tidak menunjukan adanya relasi. Analisis ini menunjukan, bahwa konsep triloka dimungkinkan tidak tepat, atau kurang dapat memberikan pemahaman secara komperhensif. Analisis pada tabel 1 menunjukan, bahwa sistem analisis terhadap motif batik berunsur alam kurang menunjukan akurasinya, sungguhpun tidak seluruhnya salah. Akan tetapi menjadi kurang mampu memberikan pemahaman yang lengkap dan jelas. Model pemahaman yang dilakukan oleh Pujianto adalah analisis analogi, simbol dibaca dari materi yang seolah oleh menyimbolkan dari sesuatu. Sebagai contoh garuda dipahami berdasarkan makna sifat dari binatang yang mampu terbang, dan memiliki relasi dengan mitos tentang burung dewata . Salah satu burung yang diyakini sebagai kendaraaan dewa Wisnu, atau ular yang berrelasi dengan air, sungai, laut, sebagai lawan garuda, sehingga ular berrelasi dengan dunia bawah (Pujianto, 2003:134). Apabila diubah relasinya, yuitu tidak dengan paham triloka yang dianggam memberikan makna pada motif batik berunsur alam. Tetapi menekankan relasi batik berunsur alam dengan fenomena kekuasaan Jawa , yaitu menempatkan raja dengan kode (+) dan rakyat dengan kode (-). Ditemukan relasi kearah paham monisme dualitik, yaitu memandang kosmis tercipta serba dua (Sutarno, 2002: 24, Zoetmulder, 2000:127). Jika dicermati lebih lanjut paham monisme dualitik memandang dunia ini terbentuk berdasarkan relasi yang bersifat oposisional (bertentangan dalam kesatuan), yaitu sesuatu menjadi ada karena memiliki realsi dengan keberadaannya. Matahari yang berbentuk bulat, berrelasi dengan bulat yang disebut Matahari , tidak berelasi dengan bulat yang disebut dengan rembulan . Pemikiran ini ditunjukan oleh Levi81

Strausss berdasarkan konsep Ferdinad de Saussure tentang bahasa;


Bahasa memiliki aspek Langue dan parole parole adalah bahasa sebagaimana dia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana berkomunikasi. Parole adalah aspek statistikal dari bahasa yang muncul dari adanya penggunaan bahasa secara kongkrit, sedangkan aspek langue dari sebuah bahasa adalah aspek strukturalnya. Bahasa dalam pengertian ini merupakan struktur-struktur yang membentuk suatu sistem atau merupakan suatu sistem struktur, yang relative tetap, yang tidak terpengaruh oleh individu-individu yang meng294
BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

gunakannya. Struktur inilah yang membedakan suatu bahasa dengan bahasa yang lain. Bahasa sebagai suatu lengue berada dalam waktu yang bisa berbalik (reversibele time), karena dia terlepas dari perangkap waktu yang diakronis, tetapi bahasa sebagai parole tidak dapat terlepas dari perangkap waktu itu sehingga parole dianggap oleh LoviStrauss berada dalam waktu yang tidak dapat berbalik (non-revarsible time). Mitos, kata Levi Strauss, juga berada dalam dua waktu sekaligus, yaitu waktu yang bisa berbalik, dan waktu yang tidak bisa berbalik. (Ahimsa-Putra, 2001: 80-81).

Pemahaman di atas menunjukan, bahwa motif batik berunsur alam dapat dipahami sebagaimana langue dan parole [simak John Strorey, 2003:105-142], perwujudan yang terlukis pada kain (jarid) yang berfungsi sebagai busana para priyayi Jawa. Motif yang terlukis selain menunjukan pola gambar yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan, seperti katakata (bahasa) yang sebagai alat komunikasi sehari-hari, yaitu diucapkan. Akan tetapi wujud gambar itu menunjukan adanya pola realisonal yang bersifat permanen, yaitru disebut struktur atau sebagai grammer pada bahasa. Aspek visual yang ditangkap menjadi perhatian utama untuk dipahami relasi-relasinya, yaitu sesuatu yang tidak tampak pada gambar itu sendiri. Tabel analisis berikut secara keseluruhan memanfaatkan data yang ditulis oleh Pujianto berdasarkan cuplikan dari berbagai sumber. (simak halaman 134-138). Pertimbangannya adalah cuplikan tersebut merupakan data yang telah teranalisis. Tabel yang dibuat oleh Pujianto, tabel 1 Mitologi Jawa dalam Motif Batik (lihat halaman 137) tidak jelas. (antara ornamen, lambang dan arti tidak menunjukkan sumber data, dan relasi konstan). Tetapi tabel 2 di atas cukup jelas, yaitu menempatkan unsur-unsur yang saling berkait dan saling menjelaskan, bahkan mengetengahkan kemungkinan strukturnya. Analisis motif batik berunsur alam yang terdiri dari motif Semen, motif Sawat, dan motif Alas-alasan dapat lebih mendalam. Analisis ditujukan untuk mencari strukltur (Pujianto mengartikan dengan Mitologi, walaupun langkah pencermatannya tidak secara mendalam membicara Skematis antara wujud, realasi, dan simbol dapat dikemukakan sebagai berikut.
Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 295

Tabel 2. Analisis Relasi dan Simbol Motif Batik Berunsur Alam


Wujud Motif Relasi Simbol

Burung, Mitos tentang burung Garuda (burung dewata), cerita Ramayana, cerita Garudia Kejayaan, kebesaran, kekuasaan, keluhuran, kebijakan, kesetiaan

82

Lar (sayap) Unggas bersayap, belencong (lampu/sinar) Kekuatan, kebijakan, pencerahan, kebebasan Sulur Tanaman menjalar Kesuburan, kecerdirkan, ikatan kekerabatan, kesetiaan, pikiran Bangunan, Rumah, Istana, Sorga Ketentraman, kedamaian, perlindungan, kekuasaan Kapal, Mitos kematinan, bentuk wayang rampokan Kebebasan, kebesaran, pelepasan, kepergiaan, harapan, tujuan
Motif Semen

Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan, mitos SriSadana Kemakmuran, kekayaan, ketentraman Burung Garuda, Mitos tentang burung Garuda (burung dewata) Kejayaan, kebesaran, kekuasaan, keluhuran, kebijakan, kesetiaan Burung merak, Wanita (femimimitas) Kasih saying, kecantikan Lar (sayap) Unggas bersayap, belencong (lampu/sinar) Kekuatan, kebijakan, pencerahan, kebebasan Gunung Mitos tentang sorga, puncak meru, kayon Puncak, keabadian, ketenangan, ketentraman, kesucian Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan, mitos Sri Sadana. Kemakmuran, kekayaan, ketentraman
Motif Sawat

Pohon hayat Pohon beringin, ringin kurung, pundhen desa, kalpataru, gunungan wayang kulit (Kayon) Perlindungan, kekuasaan, kelestarian, perdamaian Awan, Sorga, langit, angkasa (langit) Maskulinitas (bapa), kekuasaan, keinginan, harapan, Kupu-kupu, Mitos tentang kesejodohan Kecantikan, kasih sayang, kesetiaan Kumbang, Kejantanan Keperkasaan Ayam jantan, Kejantanan (maskulinitas) Keperkasaan, Kuda, Kejantanan Kekuatan, keperkasan, Harimau, Kejantangan Kekuatan, keperkasaan Tumbuhtumbuhan Mitos kesuburan, Mitos Sri Sardono Kemakmuran, kekayaan, ketentraman Laut, Mitos Laut selatan, Kebebasan, pikiran, kekuasaan, kekuatan penakluk
Motif Alasalasan

Ular (naga) Dewa Siwa, alam kegelapa, tanah Kejahatan, pembasmi, kekuatan perusak, penghancur, rintangan, kegelapan

296 BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

tentang mitologi Jawa. Tetapi mengarah pada kajian simbolik) pemikiran masyarakat pemilik simbol. Dalam hal ini diarahkan pada masyarakat keraton Jawa dari dinasti raja-raja Mataram, atau pandangan para priyayi 83

(maksud dari Pujianto adalah keraton Kasunanan Surakarta). Melalui pendekatan Strukturalisme dapat mencermati motif (wujud material visual sebagai tanda) pada Batik, kaitanya dengan mitologimitologi tertentu yang menghadirkan motif- motif pada kain batik. Pujianto lebih menitik beratkan pemahamannya tentang mitologi Jawa yang tampak pada motif-motif batik berunsur alam, seperti motif Sulur-suluran, tanaman, unggas (burung garuda, merak), pohon hayat, lidah api, awan, naga, kupu-kupu, dan lain sebagainya. Fenomena alam yang berwujud motif alam pada kain batik, secara linier dicari keterkaitannya dengan mitos Jawa (salah satunya digali dari paham filosis Jawa), yaitu tentang paham monisme dualistik. Paparan pada artikel Pujianto tampaknya rasional, logis, dan referentif, sehingga tidak menyadari adanya ambiguitas, antara judul yang diajukan dengan pokok pikiran yang dipaparkan. Kondisi ini dikarenakan oleh sifat diskriptif yang tidak analitis, seolah-olah referensi dari berbagai sumber benar-benar memberikan dukungan pada asumsi judul. Pendekatan strukturalisme mengarahkan kajian pada mitos. Unsur mitos, salah satunya ada pada motif batik. Motif-motif pada batik yang memvisualisasikan fenomena alam diangkat sebagai morfem (unsur terkecil dari unit kata), kemudian motif-motif dianalisis keterkaitannya dengan motif-motif lain untuk menentukan sebuah struktur, yaitu yang terrangkum dalam salah satu bentuk, seperti bentuk batik Semen, Sawat, atau Alas-alasan. Artinya selembar kain batik yang disebut Semen, dipahami sebagai sebuah struktur. Struktur Batik Semen didiskripsikan sedemikian rupa, meliputi warna dasar, ukuran, garis-garis, gambar, posisi motif, dan berbagai perujudan lain termasuk jumlah dan pengulangan bentuknya. Kemudian dilanjutkan menelaah makna dengan alat analisis, salah satunya adalah menggunakan teori semiotika, atau Hermeneutik. Metode ini yang dimaksud oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai kajian tekstual (2000: 404). Pendekatan Strukturalis tidak hanya berhenti memahami teks (wujud kain batik, dan motif-motifnya), akan tetapi lebih mendalam. Kajian yang menjadi sasaran adalah kesadaran dari ketidaksasaran tindakan, ucapan,
Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 297

dan keputusan sesorang. Struktur sebagai bagian dari sistem mental manusia adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia dan merupakan kebudayaan itu sendiri (Masinambaw & Hidajat, 2001:31) Fenomena ini seperti kita berbicara; kata demi kata yang terlontar sangat disadari maknanya, tetapi bersamaan dengan itu, sebenarnnya semua orang tidak dengan amat menyadari tata bahasa (grammer) yang sedang digunakan. Mitos adalah grammer yang membimbing sebuah komunitas memahami realitas kehiduannya, sehingga tercipta berbagai bentuk mitos tentang asal usul sebuah komunitas, mitos kesuburan, mitos perjodohan, mitos kekuasaan, dan lain-lain. Pujianto mengemukakan opininya tentang mitologi Jawa pada subbab Pandangan Hidup Orang Jawa (halaman 137-140). Maksudnya adalah mencari makna dari tanda . Akan tetapi perlu disadari, makna tidaklah dicari pada dunia eksteral, melainkan diperoleh atas dasar pertalian tanda-tana (artinya antar tanda) itu sendiri. Maka, analisis kebudayaan berdasarkan perspektif strukturaliseme adalah analisis unit mental (Masinambaw & Hidajat, 2001:31). Paparan tersebut merupakan interpertasi 84

untuk menemukan makna, yaitu makna yang tersimpan pada struktur dalam (deef stracture). Agar uraian Pujianto menjadi lebih lengkap, paparan berikut ini menganalisis deef stracture berdasarkan realsi antar tanda pada motif batik yang dimaksud.
ANALISIS STRUKTUR

Relasi isor (bawah) [ - ] dan duwur (atas) [ + ], salah satu klasifikasi simbolis dalam budaya Jawa (Koentjaraningrat,1994 :228) yang terwujud dalam mitos-mitos kekuasaan,. Kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus diwujudkan sedikitnya dua relasi, yaitu . Tuhan (Gusti) memiliki kuasa atas makluk (kawula) yang dikuasai . Agar dapat memahami eksistensi Gusti dan kawula dan analoginya gusti (raja) dan kawula (rakyat) maka tercipta sebuah konstruk pikiran Kawula Gusti , yaitu sebuah paham kemanunggalan (kesatuan) yang berikutnya menjadi paham monisme dualitik, yaitu Loro-loroning Atunggal, Curiga manjing warangka. Konsep tersebut dimungkinan dapat ditafsirkan dari bentuk struktur batik Sawat, sebuah batik yang digunakan oleh Susuhunan Pakubuwana (Surakarta) ketika duduk di dapar kencana. Hakekatnya adalah sebuah
298 BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

presentasi idealistik raja Jawa yang menganggap dirinya adalah menivestasi Dewa . Pandangan ini telah dikonstruk sejak jaman kerajaan Singasari. Ken Arok melegitimasi dirinya sebagai putra Betara Brahma. Konsep raja sebagai manivestasi dewa ini ternyata berlanjut hingga dinasti raja-raja Mataram, bahwa raja Jawa dipahami sebagai Gusti (bahasa Jawa gusti juga dipahami sebagai kekuasaana gaib dari realitas transendental), dan rakyat dipandang sebagai kawula . Paham ini dikenal dengan konsep dewa raja . Woro Ariyandini S., seorang peneliti dari Universitas Indonesia menjelaskan paham tersebut sebagai berikut:
Dalam pikiran orang Jawa, bahwa lapisan bawah yang biasa disebut rakyat juga mendapat perhatian. Penguasa dan rakyat ada hubungan timba-balik. Bila dengan ungkapan manunggaling kawula-Gusti (dengan G besar) dimaksudkan sebagai persatuan antara manusia dengan penguasa gaib (Tuhan), maka juga ada persatuan antara manusia dengan penguasa masyarakat. Penguasa masyarakat adalah raja yang dianggap mewakili kekuasan Tuhan di dunia. Persatuan ini diibaratkan sebagai manunggaling kawula gusti (dengan g kecil). Raja yang bersifat Saraita, Danaita, Darmaita ( ahli stragegi perang, siap memberi bantuan pada siapapun yang membutuhkan, dan bersikap adil), berfungsi (raja) sebagai pusering bumi lan langit (pusat bumi dan langit sekaligus) (2002: 101).

Mitos tentang relasi atas-bawah juga hadir pada konsep-konsep tentang kesuburan, yaitu memahami angkasa sebagai bapa (eksistensi maskulin) dan bumi sebagai ibu (eksistensi feminim). Anthony Reid mengemukakan perihal esensi pria-wanita yang bersifat saling melengkapi, sebagai berikut:
Kepriaan biasanya dikaitakan dengan warna putih 9air mani), kehangatan, langit, bentuk, pengendalian, dan kreativitas yang dikarsai. Wanita dikaitkan dengan warna merah (darah), kesejukan, bumi, subtansi, spontanitas, dan kreativitas alami kedua-duanya dipandang perlu pemaduan, sebuah citra yang kuat. (1992:186)

Menyatunya dua eskistensi tersebut menurunkan yang disebut wiji , bibit , atau tunas yang harus di semai kan, istilah ini berrelasi dengan 85

motif batik Semen , yang artinya semi. Semi memberikan petunjuk adanya kaitan dengan mitologi tentang padi , yaitu Betari Sri dan Raden Sedana (Danandjaya,1989: 635). Ayah ibarat pohon, yang tumbuh di bumi
Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 299

(tanah), eksistensinya sebagai pengayom, pelindung istri dan anakanaknya. Ketika laki-laki (ayah) hadir sebagai penguasa menunjukan sikap berbudi bawa leksanan , kebijakan atas dirinya, keluarga, anak buah, dan seluruh rakyat. Maka raja Jawa yang dilegitimasi dengan mitos RajaDewa menunjukan, bahwa titah (perintah) raja selalu dipandang sebagai bijaksana; sabda pandita ratu, ora kena wula-wali. Ini tampak pada struktur batik Alas-Alasan. Relasi gunung laut , gunung adalah sorgaloka; sorga tempat bersemayamnya para dewa, sedangkan dunia ada percapada. Gunung laut berrelasi horizontal, menunjuk pada struktur tengen (kanan)[+]- kiwa (kiri)[-]. Konsep kesuburan menempatkan kedudukan suami (tengen/ kanan) dan istri (kiwa/kiri). Kedudukan relasi ini bermakna Loroloroning Atunggal dalam posisi horizontal. Kenyataan ini hingga kini dapat disimak pada posisi simpingan (jajaran) figure wayang kulit, yang menunjukan kelompok kanan (bala tengen) dan kelompok kiri (bala kiwa). Gunung laut juga berkaitan dengan kiblat (arah mata angin). Gunung (merapi) berada di Utara, dan laut berada di selatan (pantai parangtritis), kaitannya dengan posisi kekuasaan, raja berada di timur (gegong kuning keraton Kasultanan Yogyakarta menghadap ke Timur), berrelasi dengan emas , kebesaran, keagungan, dan kejayaan. Barat menunjukan arah marabahaya, ancaman Batari Durga, sering ditunjukan pada fenomena candikala (mega merah tembaga ketika sore hari). Tempat arwah yang tidak beruntung, siksaan, dan bermukimnya jin, setan, dan roh-roh pengganggu manusia. Selatan menunjukan arah laut, bersemayamnya ratu pantai selatan, ratu pelindung raja-raja Jawa (sejak jaman Mataram). Gunung laut menunjukan posisi horizontal, menampakan hubungan yang bersifat duniawi, tempat makluk hidup bertebaran. Hutan-hutan yang lebat merupakan tempat yang aman, sebuah areal tempat berlindungnya semua satwa, tumbuhan, dan juga manusia. Hutan lebih bersifat magis, keramat, atau sakral. Eksistensial hutan ditampakkan perwujudan kalpataru (pohon hayat), simbol keseimbangan ekologi. Di sini menempatkan posisi Gunung sebagai sumber mataair, dan laut sebagai muara. Gunung laut diwujudkan secara struktural pada bentuk motif Alas-alasan, yang da 300
BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

pat dipahami sebagai hutan . Hutan merupakan gagasan utama adanya kayon atau kayun yang berarti hidup. Kayon dalam konsep wayang Jawa adalah gunungan , atau meru , atau pohon sorga (Sri Mulyana, 1982:33). Paparan relasional dari motif batik Semen, Sawat, dan Alas-alasan merefleksikan sebuah deef structure sebagaimana skema garis bersilang, horizontal dan vertikal.
Gambar 3. Skema oposisional berdasarkan monisme dualitik. Sebuah pola pikir orang Jawa disebut loro-loroning a tunggal

Tengen (kanan) 86

Kiwa (kiri)

Isor (bawah)
Duwur (atas)

(-) (+)
Batik Batik AlasBatik Semen

(+ ) (-) Gusti Kawula


Gunun

Laut
Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 301

Telaah dengan perspektif strukturalisme tidak hanya mendiskripsikan makna mitologis, tetapi dapat menunjukan kedudukan objek. Temuan ini menunjukan, bahwa fungsional suatu benda selalu terkait dengan kedudukan atau posisi di antara benda yang lain. Kenyataan ini yang dimaksudkan oleh Emil Durkheim sebagai organisme; di mana suatu benda memiliki posisi dan fungsi tertentu. Kapasitas benda pada posisi dan fungsinya semata-mata terkait dengan benda lain secara struktural.
PENUTUP

Analisis mitos kaitanya dengan perwujudan benda budaya, seperti topeng, makanan tradisional, perdukunan, ilmu sihir, dan juga dimungkinkan adalah motif batik. Pujianto telah berusaha untuk memaparkan gagasanya tentang mitologi Jawa kaitannya dengan motif batik berunsur alam. Pijianto mempunyai sudut pandang, dan memilik model pemaparan dengan menekankan aspek simbolisasi. Sungguhpun analisis simbolis terpaku pada teks , akibatnya aspek struktur terabaikan. Terlebih, berbagai asumsi dari para peneliti lain atau tulisan-tulisan lain yang bertebaran dengan gampang mempengarui. Sebagai contoh asumsi Pujianto, bahwa motif bagik Semen, Sawat, dan Alas-alasan berkati dengan paham Hindu tentang triloko , hubungannya dengan mitos kesuburan dan kekuasan. Asumsi Pujianto perlu diuji, setidaknya meminjam model segitiga kuliner yang digunakan oleh Lovi-Strauss untuk menganalisa makanan. Inspirasinya menggunakan segitiga kuliner berasal dari segi tiga vocal: gagasan dari seorang lingguis Roman Jakobson (Cremer, 1997:790. Ternyata tidak mempu menjawab gagasan Pujianto yang mengkaitkan konsep triloko dengan bentuk motif batik. Pujianto tidak mengkaitkan tiga motif batik Semen, Sawat, dan Alasalasan. Akibatnya sulit untuk mengetahui hubungan strukturalnya, kaitanya dengan mitologi Jawa tentang kekuasaan dan kesuburan. Setelah dilakukan analisis unsur motif, relasi, dan simbol di temukan sejumlah kecendrungan makna. Temuan tersebut merupakan modal untuk menyusun struktur. Struktur yang berupa persilangan yang dibentuk antara garis vertical; 87

duwur (atas) bernilai (+) yaitu bermakna transkendental, berkait dengan kedudukan raja , yaitu adanya konsep Dewa-raja . isor
302 BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

(bawah) bernilai (-) yaitu bermakna profane, berkait dengan kedudukan rakyat kawula . Garis ini mengubungkan antara struktur motif batik Semen dan Alas-alasan. Garis horizontal menunjukan antara rentang Tengen (kanan) bernilai (+) gunung , swargaloka, tempat arwah bersemayam. Kiwo (kiri) bernilai (-) berrelasi dengan laut , tempat roh-roh jahat, naga, dan kekuatan penghancur. Struktur silang (crossing model) menjelaskan tentang makna kawula-Gusti atau raja-rakyat yaitu sebuah falsafah kekuasaan rajaraja Jawa. Niels Mulder menjelaskan,
gagasan mencapai persatuan antara hamba dan Tuhan secara mistik ( manunggaling kawula-Gusti). Untuk mencapai tujuan ini orang harus mengatasi kekangan-kekangan yang membelenggu dirinya kepada eksitensi gejalan seperti misalnya hawa nafsu dan rasionalitas duniwi yang hanya menuju kearah persepsi kebenaran yang bersifa kehayali (1996:31).

Pemikiran itu juga berkait dengan konsep sangkan paraning dumadi , yaitu tentang asal usul manusia dan kepasrahannya terhadap sifat gaib transendental (Tanpoaran,1988: 56-57). Kepasrahan ini seperti sifat Garuda yang dengan rela sebagai kendaan dewa Wisnu, yang berposisi dengan ular naga pada cerita tentang Garudia , sebuah relief yang dipahat di candi Kidal. Sebuah kisah Garuda yang membebaskan ibunya dari tawanan bangsa naga, ini sebuah kerelaan, ketulusan, dan juga kesetiaan. Struktur silang tersebut juga dapat menjelaskan kedudukan wanita dan laki-laki dalam pengertian vertical, tetapi juga sekaligus menjelaskan Lanang dan Wadhon secara horizontal. Di sini terjadi sebuah pemahaman tentang pesejodohan, dan sekaligus kepasrahan, yaitu ngabekti. Pujianto mengkaitkan dengan sikap wanita sebagai pembatik yang rela, narima, temen, sabar, dan budi luhur. (2003: 139). Gambaran wanita sebagai pembatik itu adalah sebuah metafora, yaitu mendudukan wanita pada sumbu vertikal dengan laki-laki. Fenomena tersebut dapat disimak pada sebuah tembang dhandhanggula dalam Serat Niti-Praja. Kedudukan wanita Jawa dimata laki-laki sebagai berikut: Lamun sira rineka pawestri, Kinarya gedhong dening sang nata, Semunira den asumeh,
Hidayat, Kajian Strukturalisme-Simbolik 303

Mang salokanira kepanggih, Kadi garwa kawitan, Setyanireng kakung, Angrasa yen sinatyan, Ing raga nuta saosa kersing laki, Boga busana mukya Kalau engkau dijadikan istri, Buat simpanan oleh sang raja, Hendaknya wajahmu berseri manis, Pasrahlah dalam segala kehendaknya, Dan pelayananmu bila ketemu, Seperti istri pertama, 88

Kesetiaanmu pada suami Merasalah jika dicintai Jiwa raga serahkan sepenuhnya pada pria Makan minum kegemarannya. (Purwadi, 2001:8-9)
DAFTAR RUJUKAN Tanpoaran. 1988. Sangkan paraning Dumadi. Surabaya: Yayasan Djojo Bojo & Paguyuban Sosrokertanan Surabaya. Abdullah, Faufik & Leeden, A.C. van Der. 1986. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Ahimsa-Putra, Shri Heddy (ed.). 2000. Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang press. Aryandini S, Woro. 2002. Wayang dan Lingkungan. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Ciptaprawiro, Abdullah.1986. Falsafah Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Cremers, Agus. 1997. Antara Alam dan Mitos. Flores: Nusa Indah. Danandjaya, James. 1989. Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Herusatoto, Budiono. 2001. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita. Holt, Claire. 1967. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Diterj. Soedarsono.2000. Bandung: Masyarakat Seni Indonesia. Kaplan, David & Monners, Albert A.2000. Teori Budaya, diterjemahkan: Landung Simatupang.Yogyakrta: Pustaka Pelajar.
304 BAHASA DAN SENI, Tahun 32, Nomor 2, Agustus 2004

Koentjaraningrat, 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. Kurniawan, 2001. Semilogi Roland Barthes. [tanpa kota terbit], Yayasan Indonesiatera. Masinambow, E.K.M. & Hidajat, Rahayu S. 2001. Semiotik; Mengkaji Tanda dalam Artifak. Jakarta: Balai Pustaka. Mulder, Niels, 1974. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional.Yogyakrta: Gadjah Mada Universitas Press. Mulder, Niels. 1996. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Sinar Harapan Mulyana, Sri. 1982. Wayang; Asal-usul, Filsafat dan Masa depannya. Jakarta: Gunungagung. Pujianto, 2003. Mitologi Jawa dalam Motif Batik Unsur Alam , artikel pada Jurnal Bahasa dan Seni, tahun 31, nomor 1, Februari 2003. Malang: Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pujianto. 2003. Mitologi Jawa Dalam Motif Batik Unsur Alam . Artikel pada Jurnal Bahasa & Seni, tahun 31, nomor 1, Februari 2003. Malang: Fak. Sastra, Universitas Negeri Malang. Purwadi, 2001, Memutar Taman Sri Wedari. Yogyakarta: media Pressindo. Randrianarisoa, Olga. 1983. Totemisme di Madagasikara artikel pada majalah budaya Basis, Juni 1983 XXXII 6. Yogyakarta : Yayasan P.B. Basis. Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop. Yogyakarta: Qalam. Sutarno, 2002. Pewayangan Dalam Budaya Jawa artikel dalam jurnal Dewa Ruci, vol. 1, no. 1, April 2002. Surakarta: Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Zoetmulder, P.J. 2000. Manunggaling Kawula Gusti; pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Diterj. Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia. Reid, Anthony [1988]. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. diterj. Mochtar Pabotinggi. 1992. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Yahya, Amri. 1985. Sejarah perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia . Yogyakarta: Makalah disajikan pada seminar Javanologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat jendral Kebudayaan, Proyek Penelitian dan Pe

89

ngkajian, KebuKajian strukturalisme dan nilai edukatif dalam cerita rakyat

kabupaten Klaten L.G. Sarmadi ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan jenis-jenis cerita rakyat Kabupaten Klaten; (2) mendeskripsikan struktur cerita rakyat Kabupaten Klaten; dan (3) mendeskripsikan nilai edukatif yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten. Pendeskripsian struktur cerita rakyat meliputi isi cerita, tema, alur, tokoh, latar, dan amanat. Pendeskripsian nilai edukatif (pendidikan ) dalam cerita rakyat meliputi nilai pendidikan moral, nilai pendidikan adat, nilai pendidikan agama (religi), nilai pendidikan sejarah (historis), dan nilai pendidikan kepahlawanan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Informasi dari penelitian ini dideskripsikan secara analitis dan teliti. Strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal yang dilakukan pada satu sasaran (subjek) dan satu karakteristik, yaitu cerita rakyat Kabupaten Klaten. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa sumber yaitu informan, observasi benda-benda fisik dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi langsung, perekaman, wawancara, pencatatan, dan analisis dokumen. Teknik cuplikan (sampling) yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi data/sumber, metode, dan teori. Teknik validasi data lain yang digunakan adalah informant review. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis struktural dan analisis model interaktif (interactive model of analysis) Dalam penelitian ini ada lima cerita rakyat Kabupaten Klaten yang dihimpun dan dianalisis. Lima cerita rakyat tersebut, yaitu: (1) Ki Ageng Padang Aran, (2) Petilasan Sunan Kalijaga, (3) Raden Ngabehi Ronggo Warsito, (4) Reyog Brijo Lor, dan (5) Kyai Ageng Gribig. Cerita rakyat Kabupaten Klaten tersebut diklasifikasikan ke dalam legenda dan lebih spesifik dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok legenda setempat, legenda perseorangan , dan legenda keagamaan. Isi dan tema cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah syiar agama, perjuangan seorang tokoh, dan terjadinya suatu tempat. Alur cerita yang digunakan adalah alur maju atau lurus. Tokoh yang dominan dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten adalah manusia yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki kasaktian dan berkarakter baik. Latar yang paling dominan adalah latar tempat. Amanat yang terkandung dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten cukup

90

bervariasi. Nilai pendidikan yang terdapat dalam cerita rakyat Kabupaten Klaten, adalah Nilai pendidikan moral , nilai pendidikan adat (tradisi), nilai pendidikan agama (religi), nilai pendidikan sejarah (historis), dan nilai Kepahlawanan
1/1dayaan Nusantara (Javanologi).

91