Anda di halaman 1dari 54

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Energi merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena hampir semua aktivitas manusia selalu membutuhkan energi. Misalnya untuk penerangan, proses industri atau untuk menggerakkan peralatan rumah tangga diperlukan energi listrik, untuk menggerakkan kendaraan baik roda dua maupun empat diperlukan bensin, serta masih banyak peralatan di sekitar kehidupan manusia yang memerlukan energi. Sebagian besar energi yang digunakan di Indonesia berasal dari energi fosil yang berbentuk minyak bumi dan gas bumi. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setidaknya memiliki tiga ancaman serius, yakni: pertama, Menipisnya cadangan minyak bumi. Kedua, Kenaikan / ketidakstabilan harga akibat laju permintaan yang lebih besar dari produksi minyak. Ketiga, Polusi gas rumah kaca (terutama CO2) akibat pembakaran bahan bakar fosil. Dengan kebutuhan energi yang begitu banyak bahan bakar fosil dan gas bumi tidak mampu mencukupi semua kebutuhan, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut dimanfaatkan energi terbarukan yaitu energi yang tidak akan ada habisnya. Pemanfaatan energi terbarukan diantaranya dengan memanfaatkan tenaga radiasi matahari dengan menggunakan sel surya sebagai pengkonversi energi matahari menjadi energi listrik yang kita kenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Oleh karena itu dengan mengetahui proses konversi energi matahari menjadi energi listrik dapat menjadikan bahan pertimbangan

dalam mengembangkan energi alternatif terbarukan yang tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan. Sehinggga untuk kebutuhan ini kami sebagai peneliti ingin memberikan kontribusi positif dalam bidang ketenagalistrikan terlebih khusus pada masyarakat dikampung Puay distrik Sentani Timur yang belum teraliri listrik hingga saat ini. Kampung Puay adalah kampung yang masuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Jayapura, namun untuk sampai ke kampung Puay harus melewati pemerintahan Kotamadya Jayapura.Jarak antara kampung Puay dengan batas Kotamadya Jayapura 7Km Hingga kini masyarakat di kampung Puay yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan hanya bisa menyaksikan penerangan listrik tapi tidak dapat menikmati penerangan listrik tersebut. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, maka penulis akan mengadakan penelitian dengan judul: Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpusat Pada Kampung Puay Distrik Sentani Timur 1.2 Rumusan Masalah Perencanaan Pembangkit listrik tenaga surya dikhususkan untuk rumah sederhana, secara spesifik rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana mengkonversi energi surya menjadi energi listrik? 2. Bagaimana menghitung kapasitas daya modul surya? 3. Bagaimana menghitung kapasitas baterai? 4. Bagaimana menghitung besar arus baterai charge regulator? 5. Bagaimana menghitung kapasitas inverter?

1.3 Batasan Masalah Hasil yang dicapai akan optimal jika skripsi ini membatasi permasalahan. Permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini adalah : a. Dalam menentukan total beban rumah, perencanaan panel terpusat hanya untuk kapasitas 6 rumah. b. Untuk data rata-rata penyinaran matahari berdasarkan data BMKG Wilayah V Jayapura tahun 2011-2012

1.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: a. Mengetahui proses konversi energi surya menjadi energi listrik. b. Mengetahui pengaruh radiasi matahari dan total pemakaian energi terhadap kapasitas daya modul surya c. Mengetahui pengaruh radiasi matahari dan total pemakaian energi terhadap kapasitas baterai d. Mengetahui pengaruh radiasi matahari dan total pemakaian energi terhadap besar arus baterai charge regulator?

1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: a. Memberikan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan bagi peneliti dalam perancangan pembangkit listrik tenaga surya.

b. Memberikan kontribusi pada dunia pendidikan terutama dibidang ketenagalistrikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat diandalkan

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Deskripsi umum Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah peralatan pembangkit listrik yang merubah cahaya matahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar Cell, atau Solar Photovoltaic, atau Solar Energy. Orang awam seringkali keliru menganggap Solar Water Heater (Pemanas Air Tenaga Surya) sebagai PLTS. Solar water heater memanfaatkan thermal dari solar energy dan menghasilkan air panas, prinsip yang sama juga diterapkan untuk solar dryer (pengering tenaga surya), sedangkan PLTS memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan listrik. DC (direct current), yang dapat diubah menjadi listrik AC (alternating current) apabila diperlukan. Oleh karena itu meskipun cuaca mendung, selama masih terdapat cahaya, maka PLTS tetap dapat menghasilkan listrik. PLTS pada dasarnya adalah pencatu daya (alat yang menyediakan daya), dan dapat dirancang untuk mencatu kebutuhan listrik yang kecil sampai dengan besar, baik secara mandiri, maupun dengan Hybrid (dikombinasikan dengan sumber energy lain, seperti PLTS-genset, PLTS microhydro, PLTS-Angin), baik dengan metoda Desetralisasi (satu rumah satu pembangkit) maupun dengan metoda Sentralisasi (listrik didistribusikan dengan jaringan kabel). 2.1.1 Sel Surya Sel surya tersusun dari dua lapisan semikonduktor dengan muatan yang berbeda. Lapisan atas sel surya bermuatan negatif sedangkan lapisan bawahnya bermuatan positif. Silikon adalah bahan semikonduktor yang paling umum digunakan untuk sel surya. Ketika cahaya mengenai permukaan

sel surya, beberapa foton dari cahaya diserap oleh atom semikonduktor untuk membebaskan elektron dari ikatan atomnya sehingga menjadi elektron yang bergerak bebas. Adanya perpindahan elektron-elektron inilah yang

menyebabkan terjadinya arus listrik (Quaschning, 2005). Gambar 2.1 menunjukkan struktur dari sel surya.

Sumber : Quaschning, 2005 Gambar 2.1 Struktur Sel Surya 2.1.2 Karakteristik Sel Surya Total pengeluaran listrik (Watt) dari sel surya adalah sama dengan tegangan (V) operasi dikalikan dengan arus (I) operasi. Tegangan serta arus keluaran yang dihasilkan ketika sel surya memperoleh penyinaran merupakan karakteristik yang disajikan dalam bentuk kurva I-V pada gambar 2.2. Kurva ini menunjukkan bahwa pada saat arus dan tegangan berada pada titik kerja maksimal (Maximum Power Point) maka akan menghasilkan daya keluaran maksimum (PMPP). Tegangan di Maximum Power Point (MPP) VMPP, lebih kecil dari tegangan rangkaian terbuka (Voc) dan arus saat MPP IMPP, adalah lebih rendah dari arus short circuit (Isc) (Quaschning, 2005) .

a) Short Circuit Current (Isc) : terjadi pada suatu titik dimana tegangannya adalah nol, sehingga pada saat ini, daya keluaran adalah nol.

b) Open Circuit Voltage (Voc) : terjadi pada suatu titik dimana arusnya adalah nol, sehingga pada saat ini pun daya keluaran adalah nol.

c) Maximum Power Point (MPP) : adalah titik daya output maksimum, yang sering dinyatakan sebagai knee dari kurva I-V.

Sumber : Quaschning, 2005 Gambar 2.2 Kurva I-V 2.2 Komponen-komponen PLTS Pemanfaatan tenaga surya sebagai pembangkit tenaga listrik, umumnya terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut : 2.2.1 Panel (Modul) Surya Panel surya merupakan komponen yang berfungsi untuk mengubah energi sinar matahari menjadi energi listrik. Panel ini tersusun dari beberapa sel surya yang dihubungkan secara seri maupun paralel. Sebuah panel surya
7

umumnya terdiri dari 32-40 sel surya, tergantung ukuran panel (Quaschning, 2005). Gabungan dari panel-panel ini akan membentuk suatu Array.

Sumber : Patel, 1999 Gambar 2.3 Hubungan Sel Surya, Panel Surya dan Array Jenis panel surya yang terjual di pasaran saat ini, antara lain adalah : 1) Monokristal Silikon (Mono-crystalline Silicon) Monokristal merupakan panel (modul) yang paling efisien, yaitu mencapai angka sebesar 16-25% (Narayana, 2010). 2) Polikristal Silikon (Poly-crystalline Silicon) Polikristal merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak. Tipe ini memiliki efisiensi sebesar 14-16% (Narayana, 2010). 12 3) Amorphous Silicon Amorphous adalah tipe panel dengan harga yang paling murah akan tetapi efisiensinya paling rendah, yaitu antara 9-10,4% (Narayana, 2010).

2.2.2 Charge Controller - Solar Controller

Gbr. 2.4 Charger Control Solar Charge Controller adalah peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur arus searah yang diisi ke baterai dan diambil dari baterai ke beban. Solar charge controller mengatur overcharging (kelebihan pengisian karena batere sudah 'penuh') dan kelebihan voltase dari panel surya. Kelebihan voltase dan pengisian akan mengurangi umur baterai. Solar charge controller menerapkan teknologi Pulse width modulation (PWM) untuk mengatur fungsi pengisian baterai dan pembebasan arus dari baterai ke beban. Solar panel 12 Volt umumnya memiliki tegangan output 16 - 21 Volt. Jadi tanpa solar charge controller, baterai akan rusak oleh over-charging dan ketidakstabilan tegangan. Baterai umumnya di-charge pada tegangan 14 14.7 Volt. 1. Fungsi Solar Charge Controller

Beberapa fungsi detail dari solar charge controller adalah sebagai berikut: Mengatur arus untuk pengisian ke baterai, menghindari overcharging, dan overvoltage. Mengartur arus yang dibebaskan/ diambil dari baterai agar baterai tidak 'full discharge', dan overloading. Monitoring temperatur baterai Untuk membeli solar charge controller yang harus diperhatikan adalah: Voltage yang harus di sesuaikan 12 Volt DC atau 24 Volt DC Kemampuan (dalam arus searah) dari controller. Misalnya 5 Ampere, 10 Ampere, dsb.

Seperti yang telah disebutkan di atas solar charge controller yang baik biasanya mempunyai kemampuan mendetekdi kapasitas baterai. Bila baterai sudah penuh terisi maka secara otomatis pengisian arus dari panel sel surya berhenti. Cara mendeteksi adalah melalui monitor level tegangan baterai. Solar charge sontroller akan mengisi baterai sampai level tegangan tertentu, kemudian apabila level tegangan drop, maka baterai akan diisi kembali. Solar charge controller biasanya terdiri dari: 1 input (2 terminal) yang terhubung dengan output panel sel surya, 1 output (2 terminal) yang terhubung dengan baterai / aki dan 1 output (2 terminal) yang terhubung dengan beban. Arus listrik DC yang berasal dari baterai tidak mungkin masuk ke panel sel surya karena biasanya asa diode protection yang

10

hanya melewatkan arus listrik DC dari panel surya ke baterai, bukan sebaliknya. 2. Cara Kerja Charge Controller Solar charge controller, adalah komponen penting dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Solar charge controller berfungsi untuk:

Charging mode: Mengisi baterai (kapan baterai diisi, menjaga pengisian kalau baterai penuh).

Operation mode: Penggunaan baterai ke beban (pelayanan baterai ke beban diputus kalau baterai sudah mulai 'kosong').

3. Charging Mode Solar Charge Controller Dalam charging mode, umumnya baterai diisi dengan metoda three stage charging:

Fase bulk: baterai akan di-charge sesuai dengan tegangan setup (bulk - antara 14.4 - 14.6 Volt) dan arus diambil secara maksimun dari panel surya. Pada saat baterai sudah pada tegangan setup (bulk) dimulailah fase absorption.

Fase absorption: pada fase ini, tegangan baterai akan dijaga sesuai dengan tegangan bulk, sampai solar charge controller timer (umumnya satu jam) tercapai, arus yang dialirkan menurun sampai tercapai kapasitas dari baterai.

Fase flloat: baterai akan dijaga pada tegangan float setting (umumnya 13.4 - 13.7 Volt). Beban yang terhubung ke baterai dapat menggunakan arus maksimun dari panel surya pada stage ini.

11

4. Sensor Temperatur Baterai Charge Controller Untuk solar charge controller yang dilengkapi dengan sensor temperatur baterai. Tegangan charging disesuaikan dengan temperatur dari baterai. Dengan sensor ini didapatkan optimun dari charging dan juga optimun dari usia baterai. Apabila solar charge controller tidak memiliki sensor temperatur baterai, maka tegangan charging perlu diatur, disesuaikan dengan temperatur lingkungan dan jenis baterai. 5. Mode Operation Solar Charge Controller Pada mode ini, baterai akan melayani beban. Apabila ada overdischarge ataun over-load, maka baterai akan dilepaskan dari beban. Hal ini berguna untuk mencegah kerusakan dari baterai. 2.2.3 Baterai Baterai adalah komponen PLTS yang berfungsi menyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya pada siang hari, untuk kemudian dipergunakan pada malam hari dan pada saat cuaca mendung. Baterai yang dipergunakan pada PLTS mengalami proses siklus mengisi (Charging) dan mengosongkan (Discharging), tergantung pada ada atau tidaknya sinar matahari. Selama ada sinar matahari, panel surya akan menghasilkan energi listrik. Apabila energi listrik yang dihasilkan tersebut melebihi kebutuhan bebannya, maka energi listrik tersebut akan segera dipergunakan untuk mengisi baterai. Sebaliknya selama matahari tidak ada, permintaan energi listrik akan disuplai oleh baterai. Proses pengisian dan pengosongan ini disebut satu siklus baterai.

12

Ada beberapa jenis baterai / aki di pasaran yaitu jenis aki basah/konvensional, hybrid dan MF ( Maintenance Free ). Aki

basah/konvensional berarti masih menggunakan asam sulfat ( H2SO4 ) dalam bentuk cair. Sedangkan aki MF sering disebut juga aki kering karena asam sulfatnya sudah dalam bentuk gel/selai. Dalam hal mempertimbangkan posisi peletakkannya maka aki kering tidak mempunyai kendala, lain halnya dengan aki basah. Aki konvensional juga kandungan timbalnya ( Pb ) masih tinggi sekitar 2,5%untuk masing-masing sel positif dan negatif. Sedangkan jenis hybrid kandungan timbalnya sudah dikurangi menjadi masing-masing 1,7%, hanya saja sel negatifnya sudah ditambahkan unsur Calsium. Sedangkan aki MF / aki kering sel positifnya masih menggunakan timbal 1,7% tetapi sel negatifnya sudah tidak menggunakan timbal melainkan Calsium sebesar 1,7%. Pada Calsium battery Asam Sulfatnya ( H2SO4 ) masih berbentuk cairan, hanya saja hampir tidak memerlukan perawatan karena tingkat penguapannya kecil sekali dan dikondensasi kembali. Teknologi sekarang bahkan sudah memakai bahan silver untuk campuran sel negatifnya. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih aki :

Tata letak, apakah posisi tegak, miring atau terbalik. Bila pertimbangannya untuk segala posisi maka aki kering adalah pilihan utama karena cairan air aki tidak akan tumpah. Kendaraan off road biasanya menggunakan aki kering mengingat medannya yang berat. Aki ikut terguncang-guncang

13

dan terbanting. Aki kering tahan goncangan sedangkan aki basah bahan elektodanya mudah rapuh terkena goncangan.

Voltase / tegangan, di pasaran yang mudah ditemui adalah yang bertegangan 6V, 12V da 24V. Ada juga yang multipole yang mempunyai beberapa titik tegangan. Yang custom juga ada, biasanya dipakai untuk keperluan industri.

Kapasitas aki yang tertulis dalam satuan Ah ( Ampere hour ), yang menyatakan kekuatan aki, seberapa lama aki tersebut dapat bertahan mensuplai arus untuk beban / load.

Cranking Ampere yang menyatakan seberapa besar arus start yang dapat disuplai untuk pertama kali pada saat beban dihidupkan. Aki kering biasanya mempunyai cranking ampere yang lebih kecil dibandingkan aki basah, akan tetapi suplai tegangan dan arusnya relatif stabil dan konsisten. Itu sebabnya perangkat audio mobil banyak menggunakan aki kering.

Pemakaian dari aki itu sendiri apakah untuk kebutuhan rutin yang sering dipakai ataukah cuma sebagai back-up saja. Aki basah, tegangan dan kapasitasnya akan menurun bila disimpan lama tanpa recharge, sedangkan aki kering relatif stabil bila di simpan untuk jangka waktu lama tanpa recharge.

Harga karena aki kering mempunyai banyak keunggulan maka harganya pun jauh lebih mahal daripada aki basah. Untuk menjembatani rentang harga yang jauh maka produsen aki juga

14

memproduksi jenis aki kalsium ( calcium battery ) yang harganya diantara keduanya.

Secara garis besar, battery dibedakan berdasarkan aplikasi dan konstruksinya. Berdasarkan aplikasi maka battery dibedakan untuk automotif, marine dan deep cycle. Deep cycle itu meliputi battery yang biasa digunakan untuk PV ( Photo Voltaic ) dan back up power. Sedangkan secara konstruksi maka battery dibedakan menjadi type basah, gel dan AGM ( Absorbed Glass Mat ). Battery jenis AGM biasanya juga dikenal dgn VRLA ( Valve Regulated Lead Acid ).

Battery kering Deep Cycle juga dirancang untuk menghasilkan tegangan yang stabil dan konsisten. Penurunan kemampuannya tidak lebih dari 1- 2% per bulan tanpa perlu dicharge. Bandingkan dengan battery konvensional yang bisa mencapai 2% per minggu untuk self discharge. Konsekuensinya untuk charging pengisian arus ke dalam battery Deep Cycle harus lebih kecil dibandingkan battery konvensional sehingga butuh waktu yang lebih lama untuk mengisi muatannya. Antara type gel dan AGM hampir mirip hanya saja battery AGM mempunyai semua kelebihan yang dimiliki type gel tanpa memiliki kekurangannya. Kekurangan type Gel adalah pada waktu dicharge maka tegangannya harus 20% lebih rendah dari battery type AGM ataupun basah. Bila overcharged maka akan

15

timbul rongga di dalam gelnya yg sulit diperbaiki sehingga berkurang kapasitas muatannya.

Karena tidak ada cairan yang dapat membeku maupun mengembang, membuat battery Deep Cycle tahan terhadap cuaca ekstrim yang membekukan. Itulah sebabnya mengapa pada cuaca dingin yang ekstrim, kendaraan yang menggunakan baterai konvensional tidak dapat distart alias mogok.

Ada 2 rating untuk battery yaitu CCA dan RC. * CCA ( Cold Cranking Ampere ) menunjukkan seberapa besar arus yang dapat dikeluarkan serentak selama 30 detik pada titik beku air yaitu 0 derajad Celcius.

* RC ( Reserve Capacity ) menunjukkan berapa lama ( dalam menit ) battery tersebut dapat menyalurkan arus sebesar 25A sambil tetap menjaga tegangannya di atas 10,5 Volt.

Battery Deep Cycle mempunyai 2-3 kali lipat nilai RC dibandingkan battery konvensional. Umur battery AGM ratarata antara 5-8 tahun.

Kapasitas baterai umumnya dinyatakan dalam Ampere hour (Ah). Nilai Ah pada baterai menunjukkan nilai arus yang dapat dilepaskan, dikalikan dengan nilai waktu untuk pelepasan tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka secara teoritis, baterai 12 V, 200 Ah harus dapat memberikan baik 200 A selama satu jam, 50 A selama 4 jam, 4 A untuk 50 jam, atau 1 A untuk 200 jam. Pada saat mendesain kapasitas baterai yang akan dipergunakan dalam

16

sistem PLTS, penting juga untuk menentukan ukuran hari-hari otonomi (days of autonomy). (Polarpowerinc, 2011). Suatu ketentuan yang membatasi tingkat kedalaman pengosongan maksimum, diberlakukan pada baterai. Tingkat kedalaman pengosongan (Depth of Discharge) baterai biasanya dinyatakan dalam persentase. Misalnya, suatu baterai memiliki DOD 80%, ini berarti bahwa hanya 80% dari energi yang tersedia dapat dipergunakan dan 20% tetap berada dalam cadangan. Pengaturan DOD berperan dalam menjaga usia pakai (life time) dari baterai tersebut. Semakin dalam DOD yang diberlakukan pada suatu baterai maka semakin pendek pula siklus hidup dari baterai tersebut. Gambar 2.5, menunjukkan hubungan antara DOD dengan siklus hidup baterai.

Gambar 2.5 Hubungan DOD dengan Siklus Hidup Baterai 2.2.4 Inverter DC ke AC Inverter adalah perangkat elektrik yang digunakan untuk mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus listrik bolak balik (AC). Inverter

17

mengkonversi DC dari perangkat seperti batere, panel sel surya menjadi AC. Penggunaan inverter dari dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah untuk perangkat yang menggunakan AC (Alternating Current). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan inverter:

Kapasitas beban dalam Watt, usahakan memilih inverter yang beban kerjanya mendekati dgn beban yang hendak kita gunakan agar effisiensi kerjanya maksimal

Input DC 12 Volt atau 24 Volt Sinewave ataupun square wave outuput AC

True sine wave inverter diperlukan terutama untuk beban-beban yang masih menggunakan motor agar bekerja lebih mudah, lancar dan tidak cepat panas. Oleh karena itu dari sisi harga maka true sine wave inverter adalah yang paling mahal diantara yang lainnya karena dialah yang paling mendekati bentuk gelombang asli dari jaringan listrik PLN. Dalam perkembangannya di pasaran juga beredar modified sine wave inverter yang merupakan kombinasi antara square wave dan sine wave. Bentuk gelombangnya bila dilihat melalui oscilloscope berbentuk sinus dengan ada garis putus-putus di antara sumbu y = 0 dan grafik sinusnya. Perangkat yang menggunakan kumparan masih bisa beroperasi dengan modified sine wave inverter, hanya saja kurang maksimal. Sedangkan pada square wave inverter beban-beban listrik yang menggunakan kumparan / motor tidak dapat bekerja sama sekali. Selain itu dikenal juga istilah Grid Tie Inverter yang merupakan special inverter yang biasanya digunakan dalam sistem energi listrik terbarukan, yang mengubah arus listrik DC menjadi AC

18

yang kemudian diumpankan ke jaringan listrik yang sudah ada. Grid Tie Inverter juga dikenal sebagai synchronous inverter dan perangkat ini tidak dapat berdiri sendiri, apalagi bila jaringan tenaga listriknya tidak tersedia. Dengan adanya grid tie inverter kelebihan KWh yang diperoleh dari sistem PLTS ini bisa disalurkan kembali ke jaringan listriki PLN untuk dinikmati bersama dan sebagai penggantinya besarnya KWh yang disuplai harus dibayar PLN ke penyedia PLTS, tentunya dengan tarif yang telah disepakati sebelumnya. Sayangnya sampai sekarang ketentuan tarif semacam ini masih terus digodok seiring dengan aturan mengenai listrik swasta. Rugirugi / loss yang terjadi pada inverter biasanya berupa dissipasi daya dalam bentuk panas. Effisiensi tertinggi dipegang oleh grid tie inverter yang diclaim bisa mencapai 95-97% bila beban outputnya hampir mendekati rated bebannya. Sedangkan pada umumnya effisiensi inverter adalah berkisar 5090% tergantung dari beban outputnya. Bila beban outputnya semakin mendekati beban kerja inverter yang tertera maka effisiensinya semakin besar, demikian pula sebaliknya. Modified sine wave inverter ataupun square wave inverter bila dipaksakan untuk beban-beban induktif maka effisiensinya akan jauh berkurang dibandingkan dengan true sine wave inverter. Perangkatnya akan menyedot daya 20% lebih besar dari yang seharusnya.

2.3 Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Sel surya menerima penyinaran matahari dalam satu hari sangat bervariasi. Hal ini dikarenakan sinar matahari memiliki intensitas yang besar ketika siang hari dibandingkan dengan pagi hari. Untuk mengetahui kapasitas

19

daya yang dihasilkan, dilakukanlah pengukuran terhadap arus (I) dan tegangan (V) pada gususan sel surya yang disebut modul. Untuk mengukur arus maksimum, maka kedua terminal dari modul dibuat rangkaian hubung singkat sehingga tegangannya menjadi nol dan arusnya maksimum. Dengan menggunakan amper meter akan didapatkan sebuah arus maksimum yang dinamakan short circuit current atau Isc Pengukuran terhadap tegangan (V) dilakukan pada terminal positif dan negatif dari modul sel surya dengan tidak menghubungkan sel surya dengan komponen lainnya. Pengukuran ini dinamakan open circuit voltage atau Voc Hasil pengukuran arus (I) dan tegangan (V) ini dapat digambarkan dalam sebuah grafik yang disebut kurva I-V seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.6 Pada kurva I-V terdapat hal-hal yang sangat penting yaitu: 2.3.1. Maximum Power Point (Vmp dan Imp) Maximum Power Point (Vmp dan Imp) Pada kurva I-V, adalah titik operasi yang menunjukkan daya maksimum yang dihasilkan oleh panel sel surya. 2.3.2. Open Circuit Voltage (Voc) Open Circuit Voltage Voc, adalah kapasitas tegangan maksimum yang dapat dicapai pada saat tidak adanya arus . (2.1) Dimana : k = konstanta boltzmann (1.30x10-16erg) q = konstanta muatan elektron (1.602x10-19 C) T = suhu dalam Kelvin

20

Is = Arus saturasi 2.3.3 Short Circuit Current (Isc) Short Circuit Current (Isc), adalah maksimum arus keluaran dari panel sel surya yang dapat dikeluarkan di bawah kondisi dengan tidak ada resistansi atau hubung singkat. Untuk mengetahui Arus hubung singkat dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 2. (2.2) G = tingkat generasi Ln = panjang difusi elektron Lp = panjang difusi hole 2.3.4 Fiil Factor (FF) Fiil Factor merupakan parameter yang menentukan daya maksimum dari panel sel surya. Besarnya FF dapat dihitung dengan rumus : .....(2.3)

Gambar 2.6 Kurva I-V pada modul sel surya

21

Karena pembangkit listrik tenaga surya sangat tergantung kepada sinar matahari, maka perencanaan yang baik sangat diperlukan. Perencanaan terdiri dari:

Jumlah total pemakaian energi yang dibutuhkan dalam pemakaian sehari-hari (ET).

Berapa besar daya yang dihasilkan panel surya, dalam hal ini memperhitungkan berapa jumlah panel surya yang harus dipasang. Faktor penyesuaian pada kebanyakan instalasi PLTS adalah 1,1. Kapasitas daya modul surya yang dihasilkan adalah: x 1,1 ....(2.4)

Berapa unit baterai yang diperlukan untuk kapasitas yang diinginkan dan pertimbangan penggunaan tanpa sinar matahari. (Ampere hour). ...(2.5) Dimana: Et = Total Pemakaian Energi Vs = Tegangan Saturasi

Menghitung berapa besar arus Batre Charger Regulator (BCR) ....(2.6)

Dalam nilai ekonomi, pembangkit listrik tenaga surya memiliki nilai yang lebih tinggi, dimana listrik dari PT. PLN tidak dimungkinkan, ataupun instalasi generator listrik bensin atau solar. Misalnya daerah terpencil seperti : pertambangan, perkebunan, perikanan, desa terpencil, dll. Dari segi jangka

22

panjang, nilai ke-ekonomian juga tinggi, karena dengan perencanaan yang baik, pembangkit listrik tenaga surya dengan panel surya memiliki daya tahan 20 25 tahun. Baterai dan beberapa komponen lainnya dengan daya tahan 3 5 tahun.

2.4 Diagram Pembangkit Listrik Tenaga Surya Diagram instalasi pembangkit listrik tenaga surya ini terdiri dari solar panel, charge controller, inverter, baterai.

Gambar 2.7 Diagram PLTS Dari diagram pembangkit listrik tenaga surya diatas : beberapa solar panel di paralel untuk menghasilkan arus yang lebih besar. Combiner pada gambar diatas menghubungkan kaki positif panel surya satu dengan panel surya lainnya. Kaki/ kutub negatif panel satu dan lainnya juga dihubungkan. Ujung kaki positif panel surya dihubungkan ke kaki positif charge controller,

23

dan kaki negatif panel surya dihubungkan ke kaki negatif charge controller. Tegangan panel surya yangdihasilkan akan digunakan oleh charge controller untuk mengisi baterai. Untuk menghidupkan beban perangkat AC (alternating current) seperti Televisi, Radio, komputer, dll, arus baterai disupply oleh inverter. Instalasi pembangkit listrik dengan tenaga surya membutuhkan perencanaan mengenai kebutuhan daya: Jumlah pemakaian Jumlah solar panel Jumlah baterai 2.5 Menentukan jam Matahari Ekivalen (Equivalent Sun Hours, ESH) terburuk Jam matahari ekivalen suatu tempat ditentukan berdasarkan peta insolasi matahari dunia atau berdasarkan data insolasi matahari dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika daerah setempat 2.6 Regulasi Energi Terbarukan 2.6.1 Regulasi Energi Terbarukan Berbagai Negara di Dunia Regulasi untuk mempromosikan energi terbarukan telah ada di beberapa negara pada tahun 1980 hingga awal 1990-an, tetapi regulasi energi terbarukan mulai banyak muncul di berbagai negara selama periode 19982005 (REN21, 2011). Untuk meningkatkan peranan energi terbarukan pada bauran konsumsi energi finalnya, maka beberapa negara di dunia telah menetapkan persentase target kebijakan penggunaan energi terbarukan hingga tahun 2020. Gambar 2.8 menunjukkan target kebijakan energi terbarukan pada beberapa negara di dunia.

24

Upaya lain yang dilakukan oleh berbagai negara di dunia untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan sumber energi terbarukan adalah dengan menerapkan regulasi (kebijakan) Feed-in Tariff. Mekanisme kebijakan ini dirancang dengan menempatkan kewajiban kepada perusahaan listrik negara untuk membeli listrik dari produsen energi terbarukan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Tujuan dari kebijakan Feedin Tariff adalah untuk memberikan kepastian harga dan kompensasi biaya dalam kontrak jangka panjang kepada produsen energi terbarukan, sehingga hal tersebut akan membantu membiayai investasi energi terbarukan yang telah dilakukan. Di beberapa negara penetapan Feed-in Tariff biasanya dilakukan dengan berdasarkan biaya pembangkitan dari setiap penggunaan teknologi yang berbeda dan kualitas sumber daya lokal.

25

Gambar 2.8 Target Energi Nasional Sumber Terbarukan 2020 di Berbagai Negara

26

Jerman adalah salah satu negara yang paling sukses menerapkan Feed-in Tariff dalam pengembangan energi terbarukan. Negara ini mulai menerapkan kebijakan Feed-in Tariff pada tahun 1990, akan tetapi kebijakan yang ditetapkan saat itu belum efektif untuk mendorong pengembangan sumber energi terbarukan dengan teknologi mahal seperti energi surya fotovoltaik. Feed-in Tariff tahun 1990 tersebut kemudian mengalami restrukturisasi pada tahun 2000, dengan beberapa perubahan seperti : harga pembelian energi ditetapkan berdasarkan biaya pembangkitan dan jaminan pembelian yang diperpanjang untuk periode 20 tahun. Karena terbukti efektif mempercepat pengembangan sumber energi terbarukan, maka Feed-in Tariff tahun 2000 ini kemudian diamandemenkan oleh pemerintah Jerman pada tahun 2004. Energi surya fotovoltaik adalah salah satu energi terbarukan yang mengalami perkembangan sangat pesat di Jerman. Ini terlihat dari besarnya peningkatan kapasitas daya terpasang energi surya fotovoltaik di negara tersebut, yaitu dari 2,6 GW di tahun 2006 menjadi 9,8 GW di tahun 2009 Gambar 2.9 menunjukkan besarnya Feed-in Tariff yang diterapkan oleh pemerintah Jerman untuk energi surya fotovoltaik.

Gambar 2.9 Tarif energi surya di jerman

27

Pemberian subsidi terhadap industri energi terbarukan di beberapa negara, telah membuat pertumbuhan energi ini menjadi cukup signifikan. Salah satu energi terbarukan yang saat ini mengalami perkembangan cukup pesat adalah energi surya. Pemberian subsidi terhadap industri energi surya telah membuat penurunan biaya produksi untuk per Wp (Wattpeak) . Ini terlihat dari penurunan harga per Wattpeak yang berlaku di beberapa negara, seperti USA (US $ 1,76/Wp), Spanyol, Jerman dan Inggris (US $ 1,68/Wp), Jepang (US $ 2,04/ Wp), serta Cina dan Taiwan (US $ 1,68/ Wp) (Astawa, 2011). Selain dengan sistem Feed-in Tariff, beberapa negara juga menerapkan aturan subsidi dengan sistem kredit seperti sistem kredit untuk perumahan. Bantuan pendanaan sistem ini berasal dari pihak ketiga seperti bank, dengan jangka waktu tertentu. Adanya program insentif ini, membuat konsumen dapat menikmati harga energi surya dengan investasi awal yang tidak memberatkan. Biasanya penerapan sistem ini disertai dengan program Feed-in Tariff sehingga waktu pelunasan kredit terbantukan dengan adanya pemasukan dari penjualan listrik ke perusahaan listrik, yang pada akhirnya akan mempersingkat masa pembayaran atau meringankan pengeluaran. Program ini sudah cukup mapan ditemui di USA (negara bagian California) maupun Uni Eropa seperti, Jerman, Belanda, Perancis dan Spanyol. Di negara berkembang, program kredit ini baru tercatat telah dikembangkan oleh negara Bangladesh. Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat pedesaan atau daerah yang terisolir jaringan listrik

28

2.6.2 Regulasi Energi Terbarukan di Indonesia Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia, mengacu kepada Peraturan Presiden (Perpres) No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, tenaga Air, tenaga Surya, dan tenaga Angin sebesar 5% serta batubara yang dicairkan sebesar 2% (ESDM, 2011). Kebijakan Feed-in Tariff (FiT) di Indonesia sudah mulai diterapkan dalam skala terbatas sejak tahun 2002, yaitu melalui Kepmen ESDM No. 1122 K/30/MEM/2002. Kepmen ini mengatur tentang Pedoman

Pengusahaan Pembangkit Tenaga Listrik Skala Kecil Tersebar (PSK Tersebar, kurang dari 1 MW), badan usaha atau koperasi dapat menjual listrik kepada PLN dari sumber energi terbarukan dengan harga tertentu. Kepmen ini kemudian diperbaharui pada tahun 2009 dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 Tahun 2009 tentang harga pembelian tenaga listrik oleh PT. PLN (Persero) dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi terbarukan skala kecil dan menengah atau kelebihan tenaga listrik. FiT ini mewajibkan perusahaan jaringan listrik nasional untuk membeli listrik yang dihasilkan dari sumber-sumber energi terbarukan seperti energi surya, energi angin, biomassa, panas bumi maupun air. Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri ESDM No. 31 Tahun 2009 telah menetapkan kebijakan FiT untuk energi terbarukan dengan harga Rp

29

656/kWh jika terinterkoneksi pada tegangan menengah atau Rp 1.004/kWh jika terinterkoneksi pada tegangan rendah (ESDM, 2011). Dalam draft Rancangan Peraturan Presiden Republik Indonesia tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2010-2050, pemerintah membuat kebijakan terkait energi surya. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya menerapkan kebijakan penggunaan sel surya pada pemakai tertentu seperti industri besar, gedung komersial, rumah mewah, serta PLN. Sejalan dengan itu, pemerintah juga akan menggalakkan industri sistem dan komponen peralatan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mewujudkan keekonomian PLTS, meningkatkan penguasaan teknologi PLTS dan surya termal dalam negeri melalui penelitian dan pengembangan serta pembelian lisensi (ESDM, 2011).

30

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu 3.1.1 Tempat Penelitian ini mengambil lokasi pada kampung Puay distrik Sentani Timur 3.1.2 Waktu Pelaksanaan penelitian dilakukan pada saat awal bulan januari dengan mengambil data primer berdasarkan pengukuran secara langsung.

3.2 Alat dan Bahan Bahan penelitian yang diperoleh merupakan data - data dari hasil penelitian yang dilakukan secara langsung Adapun alat yang digunakan dalam penelitian, baik yang digunakan untuk pengukuran, maupun yang digunakan dalam hal teknis adalah sebagai berikut: 1. Papan Catat 2. Alat Tulis 3. GPS 4. Camera Canon 7,2 Mp 5. Laptop Acer 3.3 Data-data Penelitian Jenis data yang diambil merupakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil langsung melalui pengukuran yang berupa

31

data pengukuran dalam bentuk angka. Sedangkan data sekunder berupa data insolansi matahari selama setahun. Adapun data primer berupa data hasil survey menggunakan GPS. 3.4 Teknik Pengambilan Data Untuk teknik pengambilan data dilakukan dengan 2 tahapan yang meliputi: 1. Mencari data Sekunder pada kantor BMG Jayapura 2. Melakukan survey dan menentukan lokasi penelitian dengan menggunakan GPS 3.5 Teknik Pengolahan Data Setelah data yang diperlukan telah lengkap selanjutnya diolah dengan menggunakan persamaan-persamaan untuk menentukan berapa besar energi yang dapat dihasilkan per hari untuk insolasi tertinggi maupun terendah.

32

3.6 Diagram Alir


Mulai

Studi Literatur

Pengambilan Data Dengan Metode Pengukuran

Penyusunan Data

Pemrosesan data : 1. Survey Lokasi menggunakan GPS 2. Perhitungan kapasitas daya modul surya, baterai & Inverter 3. Pembahasan

Kesimpulan

Selesai

33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Latar Belakang Lokasi Kampung Puay adalah perkampungan yang terletak pada pinggiran danau sentani yang termasuk dalam distrik sentani timur yang hingga saat ini belum di aliri listrik.

Tiang TM terakhir

Lokasi Rumah kampung Puay

Sumber: Survey GPS

Gambar 4.1 Peta kampung Puay

Kampung Puay berbatasan langsung dengan kampung Yoka di sebelah utara dan kampung Yokiwa disebelah selatan. Hingga saat ini jaringan distribusi listrik dari PLN hanya sampai pada kampung Yoka. Medan yang berbukit-bukit dan pemukiman yang memanjang sepanjang danau sentani ini yang menyulitkan proses penyaluran distribusi selain itu juga terbentur dengan masalah hak ulayat.
34 34

Tiang (T1) Tiang (T2) Tiang (T3)

Sumber: Survey GPS

Gambar 4.2 Tiang TM terakhir di Kampung Yoka Pada Gambar 4.2 merupakan tiang terakhir di kampung Yoka, sedangkan jarak antara tiang terakhir dengan kampung Puay 8 Km. Dan pada gambar 4.3 menunjukan letak lokasi rumah.
Rumah 1

Rumah 3

Rumah 2

Rumah 5 Sumber: Survey GPS

Rumah 4 Rumah 6

Gambar 4.3 Lokasi rumah

35 35

4.2 Menentukan total pemakaian energi Perencanaan panel terpadu hanya untuk kapasitas 6 rumah tangga. Jumlah total kebutuhan energi setelah dihitung berdasarkan hasil survey untuk total pemakain energi (ET) dapat dilihat pada table berikut: Tabel 4.1 Data Kebutuhan Energi Rumah 1 Peralatan Lampu CFL Lampu CFL Televisi 21 Lain-lain Total Volume 4 1 1 Watt 15 15 100 Jam Kerja 4 11 5 Total Kebutuhan Daya 240 165 500 100 1005 Watt Hour

Tabel 4.2 Data Kebutuhan Energi Rumah 2 Peralatan Lampu CFL Lampu CFL Televisi 21 Lain-lain Total Volume 3 1 1 Watt 15 15 100 Jam Kerja 4 11 5 Total Kebutuhan Daya 180 165 500 100 945 Watt Hour

Tabel 4.3 Data Kebutuhan Energi Rumah 3 Peralatan Lampu CFL Lampu CFL Televisi 21 Lain-lain Total Volume 3 1 1 Watt 15 15 100 Jam Kerja 4 11 5 Total Kebutuhan Daya 180 165 500 100 945 Watt Hour

36

Tabel 4.4 Data Kebutuhan Energi Rumah 4 Peralatan Lampu CFL Lampu CFL Televisi 21 Lain-lain Total Volume 4 1 1 Watt 15 15 100 Jam Kerja 4 11 5 Total Kebutuhan Daya 240 165 500 100 1005 Watt Hour

Tabel 4.5 Data Kebutuhan Energi Rumah 5 Peralatan Lampu CFL Lampu CFL Televisi 21 Lain-lain Total Volume 4 1 1 Watt 15 15 100 Jam Kerja 4 11 5 Total Kebutuhan Daya 240 165 500 100 1005 Watt Hour

Tabel 4.6 Data Kebutuhan Energi Rumah 6 Peralatan Lampu CFL Lampu CFL Televisi 21 Lain-lain Total Volume 3 1 1 Watt 15 15 100 Jam Kerja 4 11 5 Total Kebutuhan Daya 180 165 500 100 945 Watt Hour

Maka data total kebutuhan energi keseluruhan rumah adalah (ET) 5000 watt hour

37

4.3 Modul Sel Surya Modul sel surya yang dipilih adalah modul sel surya jenis polikristal yang berkapasitas 200 Wp (gambar 4.4).

Gambar 4.4 PV Modul 200wp merek SPV Schueco

Alasan pemilihan modul surya 200wp adalah karena luas area modul yang besar sehingga lebih efektif di banding modul surya 50wp dalam menangkap cahaya. Dan modul ini merupakan jenis polikristal yang memiliki susunan kristal acak karena dipabrikasi dengan proses pengecoran. Type ini memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monokristal untuk menghasilkan daya listrik yang sama. Panel surya jenis ini memiliki efisiensi lebih rendah dibandingkan type monokristal, sehingga memiliki harga yang cenderung

38

lebih murah dan mudah didapatkan dipasaran. Gambar perbandingan modul surya tipe polikristal dan monokristal

4.4 menunjukan

Gambar 4.5 Perbandingan Modul surya polikristal dan mono Kristal 4.4 Perhitungan kapasitas daya modul surya Menentukan kapasitas daya modul surya diambil berdasarkan harga terendah insolasi matahari. Tabel 4.7 Data rata-rata penyinaran matahari Bulan Juni 2011 Juli 2011 Agustus 2011 September 2011 Oktober 2011 Nopember 2011 Desember 2011 Januari 2012 Februari 2012 Maret 2012 April 2012 Mei 2012
Sumber: BMKG Jayapura

% Penyinaran 39 52 52 64 60 55 43 24,4 43,8 24 55,4 45,9

39 39

Berdasarkan Data BMKG Jayapura lamanya penyinaran matahari dalam satu hari diperkirakan 8 jam. Sehingga besarnya insolasi matahari dapat dihitung dengan mengalikan persentase penyinaran dengan lamanya penyinaran matahari. Data hasil perhitungan insolasi matahari ditunjukkan pada Tabel 4.8. Tabel 4.8 Data Insolasi Matahari Bulan Juni 2011 Juli 2011 Agustus 2011 September 2011 Oktober 2011 Nopember 2011 Desember 2011 Januari 2012 Februari 2012 Maret 2012 April 2012 Mei 2012
Sumber: BMKG Jayapura

Insolasi Matahari Jam/hari 3,12 4,16 4,16 5,12 4,8 4,4 3,44 1,95 3,50 1,92 4,43 3,67

Untuk kondisi penyinaran matahari di Jayapura maka digunakan data insolasi terendah yaitu 1,92h Untuk total kebutuhan energi (Et) dapat dilihat pada Tabel 4.1 4.6. sedangkan Faktor penyesuaian pada kebanyakan instalasi PLTS adalah 1,1 (Mark Hankins, 1991 Small Solar Electric System for Africa page 68). Kapasitas daya modul surya yang dihasilkan berdasarkan persamaan (2.4) adalah:

40

W Sehingga diketahui P modul Surya adalah 2864,5 W atau dapat dibulatkan menjadi 3000 W, dengan kapasitas 1 modul surya 200 wp maka dibutuhkan 15 Modul surya. 4.5 Perhitungan kapasitas baterai Satuan energi (dalam Wh) dikonversikan menjadi Ah yang sesuai dengan satuan kapasitas baterai. Berdasarkan persamaan (2.5) maka akan didapat berapa kapasitas baterai yang dibutuhkan.

Ah Dikarenakan besarnya deep of discharge (DOD) pada baterai 80 % maka kapasitas baterai yang dibutuhkan adalah :

260,3 Ah

41

Dengan total kapasitas 260,3 Ah atau dapat dibulatkan menjadi 300 Ah maka dibutuhkan 6 unit baterai, dimana 1 baterai berkapasitas 50 Ah. 4.6 Perhitungan besar arus baterai charge regulator (BCR) Battery Charge Regulator (BCR) mempunyai dua fungsi yaitu sebagai titik pusat sambungan ke beban, modul surya dan baterai sedangkan fungsi kedua adalah pengatur sistem agar penggunaanya aman dan efektif. Dengan menggunakan persamaan (2.6) maka akan didapat berapa besar arus BCR

Jadi kapasitas BCR yang digunakan harus lebih besar dari 119,3 A dengan tegangan 24 V

4.7 Perhitungan kapasitas Inverter Inverter yang dipakai adalah inverter yang kapasitasnya sama dengan daya maksimal modul surya. Daya maksimal modul surya berdasarkan perhitungan adalah 2864,5 W.

42

Tabel 4.9 Perbandingan nilai komponen yang beredar di pasaran Kapasitas Berdasarkan Hitungan 2864,5 W 260,3 Ah 119,3 A 2864,3W Kapasitas Yang Tersedia di Pasaran 3000 W 300 Ah 120 A 3000 W

Komponen PLTS

Modul Sel Surya Baterai BCR Inverter

4.8 Energi yang Dihasilkan Salah satu faktor yang dapat menentukan daya keluaran modul surya adalah tingkat insolasi matahari yang diterima oleh modul. Hasil keluaran (output) maksimum dari modul surya dapat ditentukan. Rating modul surya berdasarkan kapasitas modul setelah dihitung berdasarkan kapasitas yang tersedia dilapangan adalah 3000 watt. Berikut ini akan dianalisa energi yang dihasilkan oleh modul surya berkaitan dengan data insolasi matahari yang terendah dan yang tertinggi. Apabila data yang digunakan adalah data insolasi matahari yang terendah, yaitu 1,92 h maka energi yang dihasilkan modul dapat dihitung sebagai berikut: Eout = P modul Surya x insolasi matahari = 3000 W x 1,92 h =5760 Wh Maka energi yang dihasilkan modul pada kondisi insolasi terendah adalah 5760 Wh.
43

Dan bila data yang digunakan adalah data insolasi matahari yang tertinggi, yaitu 5,12. Berdasarkan persamaan (4.4) maka energi yang dihasilkan modul dapat dihitung sebagai berikut: Eout =3000 W x 5,12 h =15360 Wh Maka energi yang dihasilkan modul pada kondisi insolasi tertinggi adalah 15360 Wh.

4.9 Analisis Biaya Adapun perencanaan pembangkit listrik tenaga surya terdiri dari 3 bagian antaralain: Pembangkit Rumah daya Sistem Distribusi Instalasi rumah

Pembangkit R6 R5 R4

Rumah Daya R3 R2 R1

Sistem Distribusi 40 m Jarak Rumah R1 R6 = 525 m

Gambar 4.6 Diagram proses distribusi PLTS


44 44

Tabel 4.10 Rincian Anggaran Biaya Pembangkit Komponen Solar Cell 200wp Merk Schueco Battery Yuasa VRLA 50Ah Inverter SP 3kW 24V BCR Epip Total Volume 15 6 1 1 Harga Total (Rp) (Rp) 9.000.000 135.000.000 1.350.000 3.570.000 2.400.000 8.100.000 3.570.000 2.400.000 149.070.00

Tabel 4.11 Rincian Anggaran Biaya Rumah Daya Uraian Pekerjaan Pekerjaan persiapan Pekerjaan galian Urugan Tanah Pekerjaan Pondasi Pekerjaan Beton Pekerjaan Dinding Pekerjaan Kusen Pintu Pekerjaan Atap Pekerjaan Plafon Pekerjaan Lantai Pekerjaan Drainase Pekerjaan Pagar Total 9,6 m2 2,4 m3 5,4 m3 2,67 m3 32,95 m2 0,08 m3 12 m2 16 m2 16 m2 18 m 24 m 150.000 150.000 870.000 3.200.000 120.000 1.700.000 95.000 55.000 120.000 25.000 300.000 Volume Harga (Rp) Total (Rp) 250.000 1.440.000 360.000 4.698.000 8.544.000 3.954.000 136.000 1.140.000 880.000 1.920.000 450.000 7.200.000 30.972.000

45

Tabel 4.12 Rincian Anggaran Biaya Sistem Distribusi Komponen Kabel AAAC Tiang Klem Tarik Tap Konektor Total Volume 700 12 31 28 Harga (Rp) 14.150 750.000 12.000 6.000 Total (Rp) 9.905.000 9.000.000 372.000 168.000 19.445.000

Tabel 4.13 Rincian Anggaran Biaya Instalasi Rumah Komponen Biaya Instalasi Kabel NYA 2,5 mm Lampu CFL Fitting Duduk Saklar tunggal Saklar ganda Stop kontak Pipa Pvc 5/8 Inc Klem Pipa Rol Isolator Tali Ram Total 12 roll 27 27 21 6 6 10 4 dos 100 2 Volume Harga (Rp) 75.000 265.000 36.000 10.000 9.000 12.000 15.000 10.000 5000 500 2500 Total (Rp) 2.025.000 3.180.000 972.000 270.000 189.000 72.000 90.000 100.000 20.000 50.000 5.000 6.973.000

46

Maka total keseluruhan anggaran adalah: 149.070.000 30.972.000 19.445.000 6.973.000 + Rp.206.160.000 206.160.000 5000 = Rp 41.232 / Wh Gambar 4.7 menunjukan grafik komposisi biaya antara Pembangkit, Rumah Daya, Sistem Distribusi, dan Instalasi Rumah

Pembangkit

Rumah Daya 3% 10% 15%

Sistem Distribusi

Instalasi Rumah

72%

Gambar 4.7 Grafik Komposisi Biaya Sedangkan Grafik 4.8 menunjukan komposisi biaya pada pembangkit antaralain terdiri dari Solar cell, Baterai, inverter dan Bcr.

47 47

Solar Cell

Baterai 4% 3%

Inverter

BCR

9%

84%

Gambar 4.8 Grafik Komposisi Biaya Pembangkit Dari grafik diatas menunjukan bahwa biaya untuk pembelian solar cell / panel surya menduduki komposisi paling besar dengan persentase sebesar 84%, selanjutnya biaya untuk pembelian baterai menduduki komposisi kedua dengan persentase sebesar 9% sedangkan biaya inverter di posisi ketiga dengan 4% dan BCR posisi keempat dengan persentase 3%.

48 48

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1 Dalam perancangan sistem PLTS pada kampung Puay Distrik Sentani Timur, digunakan data insolasi matahari terendah. Berdasarkan data BMKG Wilayah V Jayapura tahun 2011- 2012 yaitu besarnya 1,92h. 2 Untuk perencaan pemasangan PLTS pada satu gardu distribusi dengan kebutuhan daya per hari sebesar 5000Wh dibutuhkan 15 modul surya dan 6 unit baterai dengan total kapasitas 300 Ah, BCR berkapasitas 120 A dan inverter berkapasitas 3 kW. 3 Energi yang dihasilkan modul surya perhari tergantung pada insolasi matahari. Untuk insolasi tertinggi menghasilkan energi sebesar 15360 Wh dan insolasi terendah menghasilkan energi 5760 Wh. 4 Dari perencanaan Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya ini bahwa biaya terbesar ada pada pembangkit dimana Modul Surya merupakan komponen yang harganya paling mahal. 5.2 Saran 1. Untuk kedepannya supaya dapat dikembangkan PLTS dengan Sistem Hibrid antara PLTS dan GENSET ataupun dengan sistem pembangkit energi yang lain. 2. Saran kepada mahasiswa agar lebih berperan aktif dalam mengembangkan Energi Energi terbarukan khususnya di Papua

49

DAFTAR PUSTAKA

[1] http://buletinlitbang.dephan.go.id. 2011, Mengenal sel surya sebagai energi alternatif. [2] http://energisurya.wordpress. 2008, Melihat prinsip kerja sel surya lebih dekat [3] http://panelsurya.com. 2011, Sistem panel surya [4] Nasrun Hariyanto, PERANCANGAN DAN APLIKASI PEMBANGKIT LISTRIK HYBRIDA ENERGI SURYA DAN ENERGI BIOGAS DI KAMPUNG HAUR GEMBONG KAB. SUMEDANG, Jurusan Teknik Elektro Konsentrasi Teknik Energi Elektrik Institut Teknologi Nasional (Itenas) [5] Liem Ek Bien, Ishak Kasim & Wahyu Wibowo, PERANCANGAN SISTEM HIBRID PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DENGAN JALAJALA LISTRIK PLN UNTUK RUMAH PERKOTAAN, Dosen-Dosen Jurusan Teknik Elektro - Fakultas Teknologi IndustriUniversitas Trisakti [6] I Dewa Ayu Sri Santiari, 2011, STUDI PEMANFAATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA SEBAGAI CATU DAYA TAMBAHAN PADA INDUSTRI PERHOTELAN DI NUSA LEMBONGAN BALI, Program Magister, Program Studi Teknik Elektro, Universitas Udayana [7] Mark Hankins, 1991 Small Solar Electric System for Africa [8] Prakirawan Penyaji, 2012, Data Penyinaran Matahari Stasiun Metereologi Dok II Jayapura, BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA BALAI BESAR WILAYAH V JAYAPURA

50

LAMPIRAN I

Gambar Rumah 1

Gambar Rumah 2

Gambar Rumah 3

51

Gambar Rumah 4

Gambar Rumah 5

Gambar Rumah 6

52

LAMPIRAN II

Sumber: Software PVSYST

Grafik hubungan I-V terhadap radiasi matahari

Sumber: Software PVSYST

Grafik hubungan I-V terhadap suhu

53

LAMPIRAN III

Tabel Hubungan I-V terhadap radiasi Radiasi (w/m2) Arus (A) Tegangan (V) Daya (W)

200 400 600 800 1000

1,54 3,07 4,61 6,14 7,68

33,1 34,4 35,2 35,8 36,2

37,8 78,5 119,5 160,3 200,6

Tabel Hubungan I-V terhadap Temperatur Temperatur (0C) Arus (A) Tegangan (V) Daya (W)

70 55 40 25 10

7,89 7,82 7,75 7,68 7,61

31,7 33,2 34,7 36,2 37,7

168,8 179,5 190,1 200,6 210,8

54