Anda di halaman 1dari 2

Anestesi Obstetri

Tindakan anestesi atau analgesia regional pada pasien obstetri sering diperlukan untuk persalinan tanpa nyeri,ekstraksi cunam atau vakum,versi dalam atau luar,bedah sesar,atau tindakan penyulit persalinan yang lainnya. Metode anestesia sebaiknya: seminimal mungkin mendepresi janin,aman dan nyaman bagi ibu, dan memungkinkan ahli obstetrik bekerja optimal. Teknik yang aman tergantung pada pengalaman dan kemahiran yang dikuasai oleh anestesis.Disamping itu, perlu dipikirkan komplikasi yang mungkin terjadi dan sejauh mana teknik ini dapat menimbulkan efek samping pada janin yang akan dilahirkan. Dalam makalah ini, akan dibahas beberapa hal yang akan dapat mendepresikan janin,komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu, dan teknik anestesia atau analgesia regional yang biasa dipergunakan. A. Faktor yang menyebabkan asfiksia atau mendepresi janin. Pada umumnya, kesejahteraan bayi baru lahir rendah sering karena pengaruh zat anestetika dan analgetika local pada pemberian yang terlalu besar. Karena zat tersebut mudah melewati sawar plasenta. Hal ini karena bersifat mudah larut dalam lemak, berat molekulnya kecil (kurang dari 1000g/mole), sukar terionisasi, sukar diikat oleh protein plasma. 1. Zat anestetika parentral. Zat ini digunakan untuk induksi,atau hypnosis,atau analgesi. Misalnya tiopenton 4 mg/kgBB, ketamin 1mg/kgBB,diazepam 0,1 mg/kgBB,petidin 1 mg/kg BB, diberikan intravena. Pada pemberian dosis klinis ini pengaruh terhadap bayi sangat minimal. Tetapi efeknya nyata pada bayi prematur, atau yang berat badannya tidak sesuai dengan umur kehamilan. Bila tiopenton diberikan sampai 8 mg/kg BB dapat menyebabkan bayi baru lahir terlambat waktu mulai menangis, tidak bernafas, dan reflex protektif menurun.Ketamin diberikan lebih dari 2 mg/kg BB akan menyebabkan sulit nafas,karena rigid otot nafas. Pemberian diazepam lebih dari 0,2 mg/kg BB menyebabkan hipotoni, hipotermi, dan hipoaktivi. Dosis petidin melebihi 2 menyebabkan hipotoni,hipotermi,dan hipoaktivi. Dosis petidin melebihi 2 mg/kg BB akan menyebabkan hipoventilasi dan asidosis respiratorik. 2. Zat anestetika inhalasi Saat ini zat anastetika inhalasi yang sering dipergunakan di beberapa kota besar Indonesia yaitu halotan, enfluran, isofluran, dan dinitrogen oksida.Sedangkan di kota kecil masih digunakan eter dan kloretil. Pengaruh terhadap bayi tergantung pada dosis diberikan, dan masa mulai induksi sampai bayi lahir. Makin besar dosis dihirup makin nyata efek depresi, dan makin lama masa mulai induksi sampai bayi lahir makin besar pengaruhnya pada bayi. Misalnya pemberian dinitrogen oksida melebihi 70%,atau mulai induksi sampai bayi baru lahir lebih dari 20 menit menimbulkan asfiksia. Perbandingan pemberian dinitrogen oksida dengan oksigen yang aman adalah tidak melebihi 70% : 30%. Golongan zat anestetika berhalogen, seperti halotan, enfluran, dan isofluran yang diberikan dengan dosis kecil, kurang dari 1 volume%,sebagai zat anestetika penambah pada pemberian dini trogenoksida. Pada dosis ini,tidak mendepresikan janin.Bahkan dapat memperbaiki sirkulasi utero-plasenta dan perfusi oksigen ke janin.

Di kota kecil, dimana fasilitas anestesia masih terbatas, eter masih digunakan. Keuntungan eter adalah mempunyai efek hypnosis,dan analgesia kuat. Karena eter cepat melewati sawar plasenta, maka konsentrasi yang diberikan jangan melebihi 2 volume%, sebelum bayi lahir. Pada konsentrasi lebih besar manyebabkan bayi tidur dan kurang tanggap terhadap rangsangan menangis.