Anda di halaman 1dari 6

Pembedahan di Mulut

1 a b c d

Bedah Rekonstruktif Mandibular pada Fraktur Mandibula Pengertian Indikasi Yang diperhatikan fase Praoperatif Yang diperhatikan fase Intraoperatif

Rahang mungkin harus direposisi atau direkonstruksi untuk berbagai alasan. Fraktur sederhana dari mandibula tanpa perubahan posisi, mengakibatkan terangkatnya dagu, dan intervensi bedah direncanakan, untuk mencegah sindrom rahang pendek atau panjang. Rekonstruksi rahang mungkin diperlukan setelah trauma dari kecelakaan atau kanker, baik yang menyebabkan kehilangan jaringan maupun tulang.

Yang diperhatikan fase Pascaoperatif Segera setelah pembedahan, pasien dengan IMF(Fiksasi maksilaris internal) ditempatkan miring, dengan kepala agak tinggi. Selang penghisap nasogastrik dimasukkan selama pembedahan dihubungkan ke penghisap tekanan rendah untuk menghilangkan isi lambung dan mengurangi bahaya aspirasi. Pemotong kawat dipertahankan di sisi tempat tidur pasien. Bila pasien muntah, perawat harus memotong kawat untuk mencegah aspirasi. Pembedahan dan pemasangan kawat kembali akan diulang kemudian. Obat antiemetik diberikan untuk mencegah muntah. Diet harus cair, tetapi masukkan kalori dan cairan cukup dan diberikan dengan mudah pada pasien ini. Mereka dapat makan melalui sedotan tanpa banyak kesulitan, dan makanan lunak diberikan dengan sendok. Air diberikan setelah setiap makan cair, diikuti dengan pencuci mulut.

Pasien yang dilakukan fiksasi lempeng kaku(penempatan lempeng logam dan skup pada tulang untuk menyatukan dan menstabilisasi tulang) tidak boleh mengunyah makanan pada minggu 1 sampai 4 pascaoperasi. Pasien perlu pedoman yang sangat spesifik untuk perawatan mulut dan pemberian makan. Ini mungkin perlu untuk mengingatkan pasien menemui dokter untuk jadwal kunjungan untuk meyakinkan alat fiksasi berfungsi dengan tepat. Untuk pasien yang dipulangkan setelah IMF, pemoting kawat siap tersedia dan pasien serta anggota keluarga diinstrusikan tentang bagaimana memotong kawat dalam keadaan darurat

Pembedahan di Esofagus

1 a

Esofagotomi Pengertian Esofagotomi adalah insisi pada esofagus.

b c d e 2 a

Indikasi Yang diperhatikan fase Praoperatif Yang diperhatikan fase Intraoperatif Yang diperhatikan fase Pascaoperatif Bedah Atresia Esofagus Pengertian

Atresia esofagus merupakan suatu kelainan kongenital dimana esofagus tidak terbentuk secara sempurna. Atresia esofagus, dengan atau tanpa fistel, merupakan kelainan kongenitaL yang seringkali harus di waspadai dan dimasukkan sebagai diagnosis banding dari neonatus yang mengalami kesulitan makan dan distres nafas pada hari-hari pertama kehidupannya. Sebelum dilakukannya repair yang berhasil pada tahun 1941 keadaan ini merupakan hal yang fatal. (Dwayne, 1999)

Indikasi Atresia esofagus ditandai dengan adanya esofagus yang tidak lengkap. Seringkali hal ini disertai dengan adanya fistula antara trakea dan esofagus. Terdapat banyak variasi anatomi dari atresia esofagus. Ini baik yang dengan ataupun tanpa fistula. (Gambar 2), Bentuk yang paling banyak adalah adanya ujung esofagus yang buntu dengan fistula antara trakea dengan ujung distal esofagus; yang insidensnya saat ini berkisar antara 84%, Fistula masuk ke trakea di dekat karina.

Yang diperhatikan fase Praoperatif 1. Penentuan diagnosis dan tipe anomali 2. Evaluasi keadaan paru-paru, mengobati adanya masalah pada paru-paru dan mencegah kontaminasi trakea lebih lanjut 3. Mencari dan bila memungkinkan sekaligus mengobati kelainan lain yang berhubungan

Yang diperhatikan fase Intraoperatif Pembedahan dilakukan dengan pembiusan umum (Swenson, 1990; Holder TM, 1993) dengan teknik sebagai berikut :

1 2

Operasi dilakukan dengan melakukan teknik torakotomi posterolateral pada ICS 4 kanan. Setelah m/ latisimus dorsi dan m. seratus anterior dipisahkan maka rongga torak dapat dibuka melalui ekstrapleura dan daerah mediastinum diidentifikasi untuk mencapai esofagus.

3 4

Vena azygos diidentifikasi dan dipotong. Dicari n. vagus. Segmen distal esofagus biasanya terletak dibawahnya. Bila terdapat fistel pada segmen distal maka dilakukan teugel pada fistel tersebut

yang kemudian dipotong dan diklem. Selanjutnya dilakukan penutupan primer pada sisi trakeza dengan benang 4/0 nonabsorbable.

Segmen proksimal esotagus dicari diatas mediastinum dengan bantuan ahli anestesi yang mendorong slang nasogastrik di esofagus sehingga ujung distal segmen proksimal esofagus ini dapat diidentifikasi. Ukuran segmen proksimal biasanya lebih besar 2-4 kali segmen distal.

Ujung dari segmen proksimal dipotong dan dilakukan anasfiomose end to end dengan menggunakan benang sintetis absorbable dengan jahitan satusatu. Bagian posterior dijahit dengan cara menyatukan semua lapisan dengan simpul didalam lumen, sedangkan bagian anterior dijahit dengan simpul berada diluar lumen. Benang sutera sering menimbulkan komplikasi pada tempat anastomose. Pada saat melakukan anasfomose tidak boleh ada ketegangan.

Bila didapatkan gap yang terlalu lebar, yang sudah diketahui pre operasi, maka sebelum operasi dilakukan usaha pemanjangan segmen proksimal dengan memasukkan kateter atau dilatator besar kedalam esofagus dan dilakukan penekanan secara lembut 2 x sehari selama 3 sampai 6 minggu. Untuk segmen distal tanpa fistel dapat dilakukan cara yang sama dengan memakai slang gastrostomi tetapi hasilnya tidak sepanjang yang dapat dicapai pada segmen proksimal.

Bila gap yang lebar baru ditemukan saat operasi maka dilakukan sirkumferensial esofagotomi untuk memanjangkan dan mengurangi gap yang ada.

Kemudian kateter 10 F diletakkan didalam rongga retropleura didekat anastomose sebagai drainage apabila masih terdapat kebocoran selama menunggu masa penyembuhan.

10

Kemudian lapangan operasi ditutup lapis demi lapis.

Yang diperhatikan fase Pascaoperatif

1 2

kebocoran dari anasfiomose Paling berbahaya, mudah diketahui dengan melihat adanya saliva dalam drain torak, bila masih terpasang. Bila meragukan dapat dites dengan pemberian metilen blue melalui mulut. Esofagogram dapat menentukan letak dan ukuran kebocoran. Bila kebocorannya kecil diharapkan dapat menutup spontan dengan

penyaliran yang baik melalui drain torak, stop diet per gastrostomi dan dekompresi lambung secara berkala untuk mencegah refluks, pemberian nutrisi perenteral dan pemberian antibiotika.

Bila kebocoran besar terjadi pada fase dini (3 hari pasca operasi ) dapat dilakukan koreksi bedah ulang, bila tidak memungkinkan untuk dilakukan penyambungan ulang maka dibuat esofagostomi pada leher.

Infeksi dan sepsis Karena rusaknya anstomose. Dapat menyebabkan kematian.

Kekambuhan TEF Dapat terjadi pasca operasi dini tetapi seringkali tidak terdeteksi. Gejalanya sama dengan TEF yaitu tersedak, terjadinya pnemoni berulang dan atelektasis. Bila kondisi penderita baik koreksi dapat dilakukan 3 sampai 6 bulan kemudian menunggu proses inflamasi mereda. Selama menunggu pemberian diet dapat dilakukan melalui gastrostomi.

Sriktur anastomosis esofagus Gejalanya adalah sulit menelan, aspirasi, gangguan gizi atau obstrusi karena makanan yang tersangkut. Esofagogram merupakan sarana diagnostik yang tepat. Terapinya adalah dengan melakukan dilatrasi dari esofagus.

Refluks gastroesofageal Terjadi karena tegangnya anastomose sehingga terjadi pemendekan dari esofagus intra abdomen dan bentuk dari gastroesofageal junction. Penyebab lain adalah adanya gangguan fungsi sfingter esofagus distal dan pengaruh kelainan intrinsik. Gejalanya berupa muntah, apnea, aspirasi, pnemonitis atau esofagitis. Sarana diagnostik yang dapat digunakan adalah pengukuran pH esofagus dalam 24 jam atau dengan esofagogram untuk mengevaluasi adanya refluks, sritktura atau dismotilitas esofagus. Terapinya adalah dengan medikamentosa atau pembedahan (funduplikasi).

Obstruksi trakea Disebabkan oleh penekanan aorta atau arteri inominata yang didukung oleh adanya kelainan struktur trakea sendiri yaitu adanya kartilago yang pendek

dengan jaringan ikat yang panjang yang memudahkan terjadinya kolaps. Koreksi bedah dapat dilakukan dengan aortopexy.

Penyebab lain adalah karena adanya sriktura esofagus, rendahnya motilitas esofagus, aspirasi, kambuhnya TEF atau adanya refluks gastroesofagus yang penanganannya adalah dengan melakukan koreksi dari penyebab primernya.

Pengertian Esofagotomi adalah insisi pada esofagus.

g h i j

Indikasi Yang diperhatikan fase Praoperatif Yang diperhatikan fase Intraoperatif Yang diperhatikan fase Pascaoperatif