Anda di halaman 1dari 13

ORF / Sore Mouth Disease

Orf atau Sore Mouth Disease adalah infeksi viral yang disebabkan oleh Poxvirus yang terkait dengan Famili Pseudocowpox dan Bovine Papular Stomatitis Virus. Virus ini bersifat epitheliotropik, yang berarti bahwa virus ini memiliki affinitas terhadap kulit.Masa inkubasi relatif singkat. Hewan peka biasanya menunjukkan gejala pertama 4 hingga 7 hari setelah terpapar, dimana gejala ini bertahan selama 1 hingga 2 minggu atau mungkin lebih lama. Penyakit ini menyerang domba dan kambing. Orf merupakan penyakit zoonosis yang berarti bahwa penyakit ini dapat dengan mudah ditularkan dari hewan ke manusia.Orf menginduksi lesi pustular pada kulit kambing, domba ataupun ruminansia. Penyakit ini mempunyai arti ekonomi penting karena dapat menyebabkan : 1.penurunan berat badan 2.kematian pada hewan muda 3.dapat menular pada manusia

Sejarah penyakit orf Penyakit Orf pertama kali dideteksi di Inggris dan Perancis antara tahun 1888-1923.Penyakit ini ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1910 hasil pelacakan oleh Mohler.Investigasi dalam skala besar mengenai penyakit Orf dilaporkan oleh Glover di Inggris pada tahun 1928.Nama penyakit Orf yang digunakan pada waktu itu adalah contagious pustular dermatitis.Menurut Adjid (1993), di Indonesia penyakit Orf pertama kali dilaporkan kejadiannya di Langsa, Aceh pada tahun 1914.

Etiologi Orf disebabkan oleh virus parapox dari family poxviridae dan termasuk dalam genus parapox virus (Fauquet dan Mayo, 1991; Fenner dkk., 1998).Virus Orf berukuran relatif besar sekitar 300-450 nm x 170-260 nm dan struktur luarnya seperti rajutan benang wol (Kluge dkk., 1972).Merupakan virus tipe DNA yang berbentuk ovoid (Mercer dkk., 1997).Mempunyai ciri khas bergaris-garis seperti permukaan buah nenas apabila dilakukan pengamatan dibawah mikroskop elektron dengan pewarnaan negatif menggunakan reagen phospotungtic acid.Virus ini amat tahan terhadap pengaruh suhu lingkungan sehingga tetap infektif dalam waktu relatif lama di luar tubuh hewan dan juga virus ini juga sangat tahan

terhadap kekeringan serta dapat tinggal dalam suatu kandang pada suhu ruangan selama 15 tahun (Subronto, 2003). Epidemiologi - Sekali kelompok hewan diserang maka biasanya penyakit tetap endemic yang disebabkan oleh kontak antara hewan dan tahannya virus pada lingkungan luar. - Kerugian terjadi karena penurunan berat badan yang diakibatkan kesulitan makan karena lesi pada mulut dan bibir. - Laju prevalensi meningkat apabila lapangan pengembalaan mengandung banyak duri yang dapat melukai bibir hewan sebagai tempat masuknya virus. Penularan dan kejadian pada manusia Infeksi pada manusia terjadi sebagai akibat adanya lecet kulit yang kontak dengan hewan terinfeksi atau bahan asal hewan seperti wool ataupun vaksin. Kelompok beresiko 1.Pekerja rumah potong hewan 2.Peternak 3.Dokter hewan 4. Orang lain yang kontak dengan hewan Penyakit pada manusia - Bagian tubuh yang terserang adalah jari dan tangan. - Masa inkubasi penyakit 3-7 hari. - Terbentuknya macula yang berkembang menjadi vesikel besar yang dikelilingi oleh sellulit yang tidak terasa sakit. - Vesikel berkembang menjadi pustule dan pergerakan terjadi setelah dua minggu. - Kesembuhan terjadi setelah 4-6 minggu.

Gejala pertama dari penyakit Orf ditandai oleh adanya bintik-bintik merah pada kulit bibir, yang kemudian berubah menjadi lepuh-lepuh. Lepuh-lepuh membesar yang pada akhirnya terlihat bentukanbentukan keropeng yang menonjol, bentukan keropeng ukurannya bervariasi sampai dengan 5 mm, dan menyembul dari permukaan kulit setinggi 2-4 mm. Masa inkubasi berlangsung selama 2 3 hari.Mula-mula terbentuk papula, vesikula atau pustule pada daerah sekitar mulut. Vesikula hanya terlihat selama beberapa jam saja, kemudian pecah/ Isi vesikula ini berwarna putih kekuningan. Kira-kira pada hari ke 10 terbentuk keropeng tebal dan berwarna keabu-abuan.Bila lesi di mulut luas, maka hewan sulit makan dan menjadi kurus.Terjadi peradangan pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui dan medial kaki, pada tempat yang jarang ditumbuhi bulu. Selanjutnya peradangan ini berubah menjadi eritema (Eritema adalah kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran pembuluh kapiler yang reversible), lepuh-lepuh pipih mengeluarkan cairan, membentuk kerak-kerak. yang mengelupas setelah 1 2 minggu kemudian. Pada selaput lendir mulut yang terserang, tidak terjadi pergerakan.Apabila lesi tersebut hebat, maka pada bibir yang terserang terdapat kelainan yang menyerupai bunga kool.Kalau tidak terkena Orf dan infeksi sekunder, lesi-lesi ini

biasanya sembuh setelah penyakit tersebut berlangsung 4 minggu. Pada hewan muda, keadaan ini bias sangat mengganggu, sehingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu, adanya infeksi sekunder, memperhebat keparahan penyakit. Pada bedah bangkai, tidak terlihat adanya kelainan-kelainan menyolok pada alat tubuh bagian bagian dalam, kecuali kelainan-kelainan pada kulit. Pada manusia, gejala penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan. Lesi ini kemudian mengering serta mengeras estela 2 3 minggu. Patogenesis Patogenesa dari penyakit Orf adalah dermatitis yang ditandai oleh terbentuknya papula, vesikula pada ambing, puting susu, pustula dan keropeng daerah bibir, lubang hidung, kelopak mata, tungkai, perianal dan selaput lendir rongga mulut (Ressang, 1984). Penyakit Orf bersifat cepat menular.Masa inkubasi dari penyakit ini berlangsung selama 2-3 hari. Mekanisme patogenesis penyakit Orf secara lebih rinci dijelaskan oleh Merchant dan Barner (1973). Lesi mula-mula terbentuk sebagai papula ataupun macula akibat dari adanya proliferasi sel-sel epitel dari lapisan malpighi pada epidermis. Sel-sel dalam nodula tersebut kemudian mengalami degenerasi hidrofobik, lalu membengkak dan akhirnya pecah berbentuk vesikula.Akibat adanya peradangan ini leukosit menginvasi vesikula dan terbentuklah pustula yang kemudian mengalami ruptur sehingga terjadi ulcerasi yang akhirnya terbentuk keropeng tebal berwarna keabu-abuan kira-kira pada hari ke-10. Diagnosis Orf didiagnosa berdasarkan gejala klinis, patologis anatomis dan pemeriksaan laboratorium dengan melakukan isolasi dan identifikasi dengan uji serologis. Berdasarkan gejala klinis yang ditemukan.Jumlah penderita yang biasanya lebih dari seekor dalam satu kelompok hewan sehingga memperkuat dugaan adanya Orf.Ukuran virus yang cukup besar dan bentuk virus yang spesifik, sehingga dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron juga memudahkan peneguhan diagnosa (Akoso, 1991).Pada domba dan kambing, lesi yang terlihat cukup spesifik, dapat didiagnosa secara klinik tanpa bantuan laboratorium. Diagnosa banding Penyakit yang mirip dengan Orf adalah cacar pada kambing dan domba.Pada penyakit cacar lesi biasanya mulai dengan haemoragik dan terjadi pada kulit bagian luar, serta ada tendensi meluas keseluruh tubuh, termasukke organ-organ tubuh bagian dalam.Dengan mikroskop electron, kedua jenis virus tadi dapat dibedakan. Pada cacar kambing, lesi yang terjadi tidak separah seperti pada cacar domba, dan lebih mirip Orf Mekanisme Penularan/Transmisi Penularan penyakit Orf adalah melalui kontak langsung antara hewan peka dengan hewan sakit Orf atau dengan kontaminan di lingkungan.Infeksi virus tersebut dapat masuk melalui perlukaanperlukaan di permukaan kulit akhibat dari lapangan pengembalaan yang terdapat banyak duri yang dapat membuat luka. Penularan penyakit ke induk dapat juga terjadi ketika anak yang terserang Orf menyusu pada induknya, sehingga infeksi terjadi pada puting susu (Abu Elzein dan Housawi, 1997).

Pengobatan dan Pencegahan Karena penyebabnya adalah virus, maka tidak ada obat yang efektif terhadap penyakit Orf.Pengobatan yang dilakukan secara simptomatis hanya untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan myasis oleh larva serta mempercepat kesembuhan, misalnya dengan penggunaan antibiotika berspektrum luas seperti oksitetrasiklin dan pemberian multivitamin (Adjid, 1993). Cara lain yang lebih sederhana adalah pengerokan keropeng sampai terkelupas dan sedikit berdarah selanjutnya setelah itu dioleskan methylen blue pada lesinya. Selain itu, dapat juga dengan menggunakan yodium tincture 3% setelah sebelumnya lesi Orf digosok dengan tampon sampai terkelupas lalu di desinfeksi dengan menggunakan alcohol 70% serta dilanjutkan dengan langkah yang terakhir adalah dilakukan penyuntikan antibiotik untuk mencegah super infeksi. Obat anti lalat juga dianjurkan penggunaannya untuk mencegah myasis oleh larva lalat (Abu Elzein dan Housawi, 1997). Pencegahan yang paling tepat untuk kejadian penyakit Orf di daerah endemik dan daerah sporadik terhadap hewan-hewan yang rentan adalah vaksinasi serta menjaga sanitasi kandang dan lingkungan.Vaksinasi sebaiknya dilakukan pada umur sekitar 6-8 bulan. Yang perlu diingat, bahwa vaksin yang digunakan sekarang ini merupakan vaksin hidup (live vaksin) yang belum di atenuasi/dilemahkan sehingga mempunyai resiko penularan lebih lanjut dari penyakit ini, baik kepada hewan lain maupun kepada manusia. Secara tradisional, vaksin dapat dibuat dari keropeng kulit yang dibuat menjadi tepung yang halus, lalu dicampurkan/disuspensikan menjadi 1% dalam gliserin 50%. Aplikasi vaksinasi yaitu dengan mengoleskan vaksin pada kulit paha bagian dalam, daerah leher ataupun telinga.Tujuan vaksinasi itu sendiri adalah diharapkan berhasil menimbulkan imunitas pada anak kambing ataupun domba yang divaksin.Selain dengan vaksinasi, pengawasan lalu lintas ternak juga harus diperketat, hanya hewan yang tidak memperlihatkan gejala klinis penyakit Orf yang boleh dikirim ke wilayah bebas penyakit (Dirjen Peternakan, 2007) dan juga pemeliharaan ternak harus dilakukan secara intensif. Terapi Terapi khusus terhadap orf tidak dikenal.Usahakan pemberian pakan hijau-hijaun yang halus dan muda.Salep antiseptica dan antimikrobial dapat diberikan.Juga salep yang memilki daya mengerutkan.

Daftar pustaka
Dirjen Peternakan. 2007. Petunjuk teknis kesehatan hewan dan biosekuriti pada unit pelaksana teknis perbibitan versi pdf. Deptan.http://www.deptan.go.id/dinakkeswan_jateng/detaildata.php?id=274 Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular Jilid II, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemaen Pertanian Penggemukan kambing Potong, Subangkit Mulyono, B. Sarwono. Pedoman Praktis Beternak Kambing Domba sebagai ternak potong, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, 1989. Anonymous ,2009 .http://drhyudi.blogspot.com/2009/03/penyakit-orf.html Subronto (2003). Ilmu Penyakit Ternak (mamalia) 1. Edisi kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Adjid, R.M.A. 1993. Penyakit Orf pada ternak kambing dan domba serta cara. Akoso, B.T. 1991. Manual untuk Paramedis Kesehatan Hewan.Cet. Ke-2. PT Tirta Wacana, Yogyakarta. Abu Elzein, E.M. and F.M. Housawi. 1997. Severe long-lasting contagious ecthyma infection in goats kid. Zentralbl veterinarmed [B] 44(9) : 561-564. Lestari, SM. 2010. Orf pada Kambing dan Domba.Publikasi Budidaya Ternak Ruminansia ed. 1 (2010). Direktorat Kesehatan Hewan Ressang, A.A (1984). Patologi Khusus Veteriner. Edisi kedua. Team Leader IFAD Project: Bali Cattle Diasease Investigation Unit, Denpasar, Bali.

Penyakit Orf Pada Ternak Kambing


Ecthyma Contagiosa atau yang biasa disebut Orf adalah penyakit kambing menular yang umum dan merupakan penyakit viral yang sangat infeksius. Penyakit ini ditandai dengan terbentuknya lesi-lesi pada kulit berupa keropeng,bernanah,basah, terutama pada daerah moncong dan bibir. Anak domba dengan

umur 3-6 bulang paling banyak menderita , meskipun yang berumur beberapa minggu dan hewan dewasa juga dapat menderita sangat parah. Diketahui juga bahwa penyakit orf pada kambing dapat menular ke manusia (zoonosis) lewat luka abrasi, atau saat memerah susu, atau karena kelalaian pada saat melakukan vaksinasi.

etiologi Penyakit kambing yang dikenal dengan nama Orf ini disebabkan oleh virus cacar pada ungulata berkuku genap, bersifat dermatotropik. Virus tersebut sedikitnya terdiri dari 6 galur yang semuanya potensial menyebabkan penyakit Orf. Virus penyebab penyakit kambing ini juga sangat mirip dengan penyebab penyakit pseudocowpox, yang lesinya mirip dengan lesi cacar pada sapi. Penderita yang sembuh dari penyakit memiliki kekebalan yang disebabkan oleh terbentuknya antibodi yang bersifat protektif.

patogenesis Setelah virus memasuki mukosa kulit atau mulut, kemudian terjadilah proliferasi dan segera menimbulkan lesi primer papulae dan vesikulae. Vesikulae segera berubah jadi pustulae setelah terjadi reruntuhan jaringan dan sel-sel darah, sehingga rongga akan terisi dengan nanah. Vesikulae dan Pustulae yang pecah akan diikuti dengan pembentukan keropeng, lalu terjadilah lesi superfisial. Radang kulit tersebut dikenal sebagai dermatitis pustularis contagiosa.

diagnosis diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan dari gejala klinis yang ditemukan di lapangan. Jumlah hewan penderita biasanya lebih dari satu kelompok memperkuat dugaan adanya orf. sebagai diagnosa differential perlu dipertimbangkan juga penyakit lain seperti dermatitis karena jamur, penyakit cacar virus, blue tongue. Pada radang ulseratif, penyakit biasanya diderita oleh seekor atau lebih domba atau kambing. Penyebab ulsera yang terjadi biasanya karena infeksi kuman. Pada dermatitis yang disebabkan jamur, lesi ayng terjadi kebanyakan pada daerah kulit yang rambutnya rapat, karena di tempat tersebut kelembapannya tinggi.

terapi

terapi khusus untuk pengendalian penyakit kambing yang satu ini tidak dikenal. Seringkali yang dilakukan adalah menghilangkan keropeng dengan cara dikerok, akan tetapi terkadang hal ini justru malah memperlambat kesembuhan. Hal yang harus dilakukan adalah mengganti pakan dengan yang lebih halus, untuk kambing yang biasa diberi pakan hijauan bisa dipilih yang halus dan muda. Pemberian beberapa salep antimikrobial, misalnya sulfonamid dapat diberikan. http://www.saungdomba.com/artikel-domba-garut/319--penyakit-orf-pada-ternak-kambing

PENYAKIT ORF (CONTAGIOUS ECTHYMA) Penyakit orf merupakan penyakit viral utama yang menyerang ternak kambing dan dapat menular ke manusia (bersifat zoonosis). Penyakit ini mempunyai sinonim yaitu, Dakangan (Bali), Muncung (Sumatera Barat) dan Bintumen (Jawa Barat). Agen penyebab penyakit orf adalah virus yang termasuk dalam kelompok parapoks dari keluarga virus poks. Virus ini sangat tahan terhadap kondisi lingkungan, di padang penggembalaan dan mampu hingga tahunan, tahan terhadap pemanasan 50oC selama 30 menit dan juga tahan terhadap pembekuan dan pencairan tetapi tidak tahan terhadap kloroform. Penyakit ini menular dengan cepat dari ternak terinfeksi ke ternak yang sehat melalui kontak langsung. Penularan dapat juga terjadi akibat hewan yang peka mengkonsumsi pakan yang tercemar oleh keropeng bungkul orf. Tingkat penularannya dapat mencapai 100%, sedangkan angka mortalitasnya relatif rendah, yaitu sekitar 2- 5,4%. Angka mortalitas pada kambing dapat mencapai 9,23% yang terjadi diakhir dan awal tahun. Lebih lanjut juga dijelaskan bahwa kejadian orf cenderung meningkat pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Pada kasus yang berat, mortalitas dapat mencapai 93% terutama pada ternak yang muda. Kelembaban udara yang tinggi dan kondisi stress juga dilaporkan sebagai pemicu timbulnya penyakit orf pada ternak. Gejala klinis yang menonjol adalah lesi yang berbentuk keropeng pada bibir. Awal infeksi akan terjadi bintik-bintik merah yang kemudian berubah menjadi vesikel dan pustula (pernanahan). Akhirnya lesi-lesi ini terlihat sebagai tonjolan berkerak (keropeng). Selain menyerang kulit sekitar mulut, lesi-lesi ini dapat juga menyebar ke seluruh muka seperti hidung dan gusi serta bagian tubuh lainnya yang tidak berambut atau berambut sedikit seperti ambing, sekitar mata, hidung, telinga, skrotum atau sekitar kaki. Pada kambing dan domba, gejala klinis akan muncul 1-3 hari pasca infeksi. Penyakit orf dapat berlangsung antara 3-4 minggu tergantung pada kondisi ternak. Kondisi ini akan menjadi lebih parah dan lebih lama apabila diikuti oleh infeksi sekunder. Identifikasi beberapa bakteri yang berperan sebagai infeksi sekunder, yaitu Staphylococcus aureus, S. epidermis dan Corynebacterium pyogenes. Kekebalan pada induk yang terinfeksi relatif rendah sehingga anak yang dilahirkan masih memungkinkan untuk terjangkit penyakit ini. Ternak dengan gangguan kekebalan dilaporkan dapat menderita orf hingga berbulan-bulan. Ternak yang sembuh biasanya memiliki kekebalan selama setahun. Diagnosis penyakit orf dapat dilakukan secara klinis karena sangat menciri. Diagnosis secara laboratoris dengan Presipitasi Agar Gel (PAG) dan Tehnik Antibodi Flouresen (TAF). Jika terdapat lesi dibagian tubuh selain bibir, maka

diagnosisnya perlu ditambah dengan pemeriksaan laboratorium karena penyakit lain seperti cacar kambing, radang mulut dan lidah biru juga menunjukkan gejala yang relatif sama. Pada pemeriksaan pasca mati, lesi mungkin dapat ditemukan pada mukosa mulut sepanjang gusi, lidah, langit-langit dan saluran pencernaan. Penanggulangan orf biasanya dengan pencegahan melalui vaksinasi terutama pada daerah endemis dan dilaksanakan secara regular. Pemberian salep pelunak dapat membantu agar kambing tetap dapat makan dan minum. Pakan yang bergizi tinggi sangat diperlukan untuk mempercepat terjadinya kesembuhan. Apabila keropeng terkelupas menjadi luka baru maka perlu diolesi dengan obat lokal, seperti salep penisilin yang dicampur dengan minyak kelapa. Pemberian antibiotika secara suntik dibutuhkan jika suhu tubuh ternak menjadi tinggi. Tindakan ini juga ditujukan untuk menghilangkan infeksi sekunder oleh bakteri. Ternak-ternak di daerah tertular seharusnya divaksinasi tetapi vaksinasi ternak di daerah bebas tidak dianjurkan. Ternak yang akan didatangkan ke daerah belum tertular harus telah divaksinasi orf. Pengobatan hanya ditujukan untuk mencegah infeksi sekunder dengan memberikan salep antibiotika seperti eritromisin dan oksitetrasiklin. http://kote-ka.blogspot.com/2008/05/penyakit-orf-contagious-ecthyma.html

Penyakit ORF Pada Kambing

ORF PADA KAMBING DAN DOMBA Drh. Sri Mundi Lestari, MM Medik Veteriner di Direktorat Kesehatan Hewan

Pendahuluan Salah satu penyakit yang sering dilaporkan menyerang ternak kambing dan Domba di Indonesia adalah penyakit Ektima Kontagiosa (Orf). Nama lain dari penyakit Orf : Contagious Pustular Dermatitis, Sore Mouth, Scabby Mouth, Bintumen, Puru, Dakangan. Orf adalah dermatitis akut yang menyerang domba dan kambing, ditandai oleh terbentuknya papula, vesikula, pustule dan keropeng pada kulit di daerah bibir, lubang hidung, kelopak mata, putting susu, ambing, tungkai, perineal dan pada selaput lender di rongga mulut.

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang termasuk dalam grup parapoks dari keluarga virus poks (Andrewes et al., 1978). Virus ini sangat tahan terhadap pengaruh udara luar dan kekeringan, tetap hidup di luar sel selama beberapa bulan, serta dapat hidup beberapa tahun pada keropeng kulit. Pada suhu kamar, virus ini dapat tahan selama 15 tahun. Penyakit ini pada umumnya menyerang hewan muda setelah disapih, yaitu pada umur 3 5 bulan, tetapi kadang-kadang yang dewasa juga terkena. Manusia dapat tertular penyakit ini dan memperlihatkan lesi kulit yang berbentuk bulat disertai gatal.

Angka kesakitan (morbiditas) penyakit ini dapat mencapai 90 % pada hewan muda, tetapi angka kematiannya relative rendah. Kematian hewan biasanya diakibatkan oleh infeksi sekunder bakteri.

Epizootiologi Penyakit ini dikenal di Indonesia pada tahun 1931 (Bubberman dan Kraneveld). Pada tahun 1979, penyakit ini dilaporkan di Yogyakarta, Kudus, Banyuwangi, Pasaman, Karangasem, Negara dan Medan. Orf hanya menyerang kambing dan domba. Penyakit ini menimbulkan kekebalan yang berjangka waktu lama, oleh karenanya pada daerah-daerah enzootic penyakit ini ditemukan pada hewan muda, sedangkan di daerahdaerah yang baru pertama kali diserang, penyakit ini ditemukan pada hewan dari segala umur.

Cara Penularan Cara penularan terjadi melalui kontak, melalui luka-luka kulit waktu menyusui, kontak kelamin, atau kontak dengan bahan-bahan yang mengandung virus penyakit ini. Penularan pada manusia juga terjadi melalui kontak dengan hewan yang sakit atau bahan-bahan yang tercemar oleh penyakit ini.

Gejala Klinik Masa inkubasi berlangsung selama 2 3 hari. Mula-mula terbentuk papula, vesikula atau pustule pada daerah sekitar mulut. Vesikula hanya terlihat selama beberapa jam saja, kemudian pecah/ Isi vesikula ini berwarna putih kekuningan. Kira-kira pada hari ke 10 terbentuk keropeng tebal dan berwarna keabuabuan. Bila lesi di mulut luas, maka hewan sulit makan dan menjadi kurus. Terjadi peradangan pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui dan medial kaki, pada tempat yang jarang ditumbuhi bulu.

Selanjutnya peradangan ini berubah menjadi eritema, lepuh-lepuh pipih mengeluarkan cairan, membentuk kerak-kerak. yang mengelupas setelah 1 2 minggu kemudian. Pada selaput lendir mulut yang terserang, tidak terjadi pergerakan. Apabila lesi tersebut hebat, maka pada bibir yang terserang terdapat kelainan yang menyerupai bunga kool. Kalau tidak terkena Orf dan infeksi sekunder, lesi-lesi ini biasanya sembuh setelah penyakit tersebut berlangsung 4 minggu.

Pada hewan muda, keadaan ini bias sangat mengganggu, sehingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu, adanya infeksi sekunder, memperhebat keparahan penyakit. Pada bedah bangkai, tidak terlihat adanya kelainan-kelainan menyolok pada alat tubuh bagian bagian dalam, kecuali kelainan-kelainan pada kulit. Pada manusia, gejala penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan. Lesi ini kemudian mengering serta mengeras estela 2 3 minggu.

Diagnosa banding Penyakit yang mirip dengan Orf adalah cacar pada kambing dan domba. Pada penyakit cacar lesi biasanya mulai dengan haemoragik dan terjadi pada kulit bagian luar, serta ada tendensi meluas keseluruh tubuh, termasukke organ-organ tubuh bagian dalam. Dengan mikroskop electron, kedua jenis virus tadi dapat dibedakan. Pada cacar kambing, lesi yang terjadi tidak separah seperti pada cacar domba, dan lebih mirip Orf.

Pencegahan penyakit Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemberian autovaksin pada daerahdaerah enzootic. Vaksin ini dibuat dari keropeng kulit yang menderita, dibuat tepung halus dan disuspensikan menjadi 1 % dalam 50 % gliserin. Vaksinasi pada hewan muda dilakukan berupa pencacaran kulit, diadakan pada kulit di daerah sebelah dalam paha, sedangkan pada hewan dewasa dilakukan disekitar leher, beberapa minggu sebelum masa penyusuan.

Anak domba biasanya divaksinasi pada umur 1 bulan dan divaksinasi ulang pada umur 2 3 bulan agar memperoleh kekebalan yang maksimal. Reaksi timbul 7 hari setelah vaksinasi dan kekebalan berlangsung selama 8 28 bulan. Hewan di daerah endemic sebaiknya divaksinasi setiap tahun. Vaksin harus diperlakukan hati-hati agar tidak menginfeksi tangan. Sedang botol bekas awetan segera dibakar agar tidak mengkontaminasi tanah atau tempat diadakan vaksinasi. Pada daerah yang belum dijangkiti

penyakit ini, tidak dianjurkan mengadakan vaksinasi. Karena Orf dapat menular pada manusia, maka pada waktu vaksinasi harus memakai sarung tangan.

Pengendalian dan pemberantasan Hewan yang menunjukkan gejala sakit segera dipisahkan dari hewan yang sehat, agar perluasan penyakit dapat dibatasi. Di samping itu, tempat penggembalaan yang tertulari sebaiknya tidak dipakai lagi untuk jangka waktu lama, mengingat bahwa virus Orf masih dapat hidup beberapa bulan di udara luar. Daerah sekitar terjangkit segera diberi vaksinasi massal agar penyakit dapat dikendalikan dan tidak menjalar lebih luas. Hewan yang mati karena penyakit ini segera dibakar atau dikubur dalam.

Pengobatan Hewan yang sakit dapat diobati dengan antibiotic berspektrum luas untuk infeksi sekunder. Di samping itu dapat juga diberikan multivitamin agar kondisi tubuh dapat diperbaiki. Sedang pada kulit yang sakit dapat diberikan pengobatan lokal dengan salep atau jood tincture.

Kambing yang sakit sebaiknya dipisahkan sendiri dan diberi pakan rumput segar dan lunak. Hewan muda yang telah sembuh,menjadi kebal seumur hidup.Mengingat bahwa penyakit ini dapatmenular ke manusia, sebaiknya daging yang berasal dari hewan sakit tidak untuk dikonsumsi. Karena itu pemotongan hewan sakit tidak diperbolehkan.

Pemotongan hewan yang sakit atau tersangka sakit tidak dilarang dengan syarat harus di bawah pengawasan dokter hewan yang berwenang.

Daftar Pustaka 1. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular Jilid II, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemaen Pertanian. 2. Penggemukan kambing Potong, Subangkit Mulyono, B. Sarwono.

3. Pedoman Praktis Beternak Kambing Domba sebagai ternak potong, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, 1989.