Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Selama ini metode pembelajaran yang pernah kita terima adalah pembelajaran bermetode ceramah (lecturing), yaitu suatu cara mengajar yang penyampaiannya secara lisan. Dalam metode ini, keterampilan pengajar dalam menyampaikan informasi dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pengajaran sehingga peran pengajar bagi proses belajar dalam kelas sangat besar. Dengan metode ceramah (lecturing) , peran siswa/mahasiswa sangat terbatas, karena peran pengajar lebih besar, dimana siswa/mahasiswa hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh pengajar dan sesekali mencatat. Bahkan beberapa penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan metode ceramah (lecturing) dapat

menghambat proses belajar siswa/mahasiswa (Turnwald, Bull & Seeler, 1993 dalam Wardhani, 2002). Chims et all. (1990, dalam Wardhani, 2002) mengatakan beberapa kekurangan dalam metode ceramah (lecturing): - Metode lecturing dapat menghalangi proses belajar karena menempatkan siswa pada peran pasif didalam kelas. - Metode lecturing sangat kurang memberikan umpan balik baik kepada peserta didik meupun pengajar. - Metode lecturing memerlukan pengajaran yang efektif. - Metode lecturing menempatkan tanggung jawab untuk mengorganisasi dan sintesa terhadap isi materi pengajaran hanya kepada pengajar. - Metode lecturing tidak sesuai digunakan untuk menjelaskan materi yang terlalu kompleks, detail dan abstrak.

Shenker, Goss dan Bernstein, (1996, dalam Wardhani 2002) mengatakan bahwa tujuan belajar aktif adalah menumbuhkan kemampuan berfikir kritis dan analitis, juga kemampuan peserta didikuntuk menggunakan keterampilan tersebut agar dapat menguasai materi pengajaran. Jadi, dengan ini kita tidak akan hanya menerima informasi dari pengajar. Salah satu metode pembelajaran aktif adalah PBL (Problem Based Learning) atau Pembelajaran Berdasarkan Masalah. PBL adalah proses pembelajaran yang dimulai dengan problem dan bukanlah penjelasan mengenai knowledge (Bound, Feletti, 1987 dalam penghantar PBL, Widjajakusuma). Oleh karena itu sistem belajar PBL sangatlah penting bagi siswa atau mahasiswa, karena tidak hanya afektif kita saja yang bekerja, namum psikomotoris kita juga berperan. Didalam dunia kedokteran terutama, karena dokter dituntut mampu mengetahui semua ilmu medis, maka dari itu disaat masih menjadi mahasiswa hendaknya disokong oleh metode ilmu belajar yang pas, dalam hal ini adalah metode PBL, karena disaat mahasiswa tingkat awal kita telah diberi masalah layaknya mahasiswa kedokteran disaat sarjana kedokteran dan progam dokter muda. Jadi jelas kita akan lebih banyak tahu dan lebih siap untuk menghadapi materi-materi ajaran selanjutnya. Dalam metode PBL ini juga mahasiswa kedokteran diajarkan untuk berfikir kritis, karena dengan adanya masalah kita dituntut lebih untuk mengemukakan informasi yang telah kita dapat. Sehingga dapat dikatakan metode PBL ini sangatlah penting bagi mahasiswa dan mahasiswa kedokteran pada khususnya.

PROBLEM BASE LEARNING Belajar dengan metode PBL sangatlah penting bagi kita, khususnya untuk

mahasiswa kedokteran seperti kita. Karena kita akan mudah memahami ilmu dan pengetahuan baru dengan adanya problem-problem, kita akan berusaha untuk mengekploitasi ilmu-ilmu pengetahuan tentang problem tersebut, sehingga kita akan mudah mengingat ilmu-ilmu tentang problem tersebut. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2007:67), belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respons, merupakan hubungan antara dua arah, belajar dan lingkungan. Jadi dalam belajar dengan model PBL, secara tidak langsung kita juga belajar mengenai sekitar kita. Contohnya adalah problem dimana adanya suatu penyakit, maka kita akan tahu lebih luas akan problem tersebut, karena dalam metode ini kita dituntut untuk mengupas lebih luas informasi-informasi yang terkandung didalam problem tersebut dan ini sangat berbeda dengan metode lecturing dimana kita hanya menerimadan menyerap apa yang disampaikan oleh pengajar. Menurut Arends (1997, dalam Trianto, 2007:68) PBL merupakan pembelajaran yang menuntut siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Jadi dalam artian definisinya sendiri PBL adalah proses penyelidikan yang menyelesaikan pertanyaan, keingintahuan, keraguan dan ketidakpastian tentang fenomena yang kompleks dalam kehidupan (Barell, 2004). Jadi belajar bermetode PBL adalah belajar dengan cara pencarian informasi lebih detail dan dihadapkan oleh konteks masalah lalu kita diharuskan untuk mencari solusinya dan memecahkan masalah tersebut.

Sementara

manfaat

PBL

sendiri

adalah

untuk

membantu

siswa

mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. Jadi peran pengajar sesungguhnya tidaklah besar dalam metode ini, karena peran pengajar adalah sebagai pengatur dan penyeimbang jalannya pembelajaran. Tugas guru adalah membantu siswa merumuskan tugas-tugas dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku teks tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya (dalam Trianto, 2007:71).

KARAKTERISTIK DAN CIRI PBL - Adanya pertanyaan dan masalah. Dengan adanya pertanyaan dan masalah,

mahasiswa akan bisa lebih mudah mengingatnya dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikatakan akan menjadi suatu pengalaman, karena pengalaman akan sangat mudah diingat. - Fokus dan berkaitan namun teratur. PBL fokus pada mata pelajaran tertentu, namun dengan adanya masalah kita dituntut untuk bisa mengambil sumber dari berbagai pelajaran. - Penyelidikan yang dapat dipercaya (autentik). PBL mengharuskan mahasiswa melakukan penyelidikan terhadap suatu masalah secara autentik atau dapat dipercaya, bahkan sumber yang terdapat nara sumber atau pusat informasinya. - Mendapatkan hasil dan mempresentasikan. Didalam PBL mahasiswa dituntun untuk menghasilkan suatu produk, dalam hal ini hasil dari program kerja dan kemudian dipresentasikan kepada pengajar, teman ataupun publik.

- Kerja sama. PBL dicirikan dengan adanya kelompok kerja sama, bisa berpasangan ataupun kelompok kecil. David; Patel Burdett; Rangachari, 2000 (dalam penghantar PBL, Djauhari Widjajakusumah) menyebutkan bahwa inti dari PBL adalah: - Diskusi kelompok kecil berdasarkan suatu problem, untuk memutuskan apa yang harus mereka pelajari. - Self study, proses memperoleh pengetahuan. - Diskusi kelompok kecil untuk membagi pengetahuan, membandingkan dan menghubungkan apa yang telah mereka temukan/dapatkan pada masa self study. - Pengembangan sejumlah skill dan attitude: reasoning skills, problem solving skills, communicating skills, working on teams, initiative, dll.

KESIMPULAN

Pada era modern ini, model pembelajaran metode berceramah (lecturing) sudah tidak lagi efektif untuk digunakan karena membuat mahasiswa menjadi lebih pasif dan kuliah terasa statis. Untuk itu diterapkanlah suatu metode pembelajaran yang baru dimana membuat mahasiswa lebih aktif dengan adanya pertanyaan dan masalah, penyelidikan autentik, kerjasama antar kelompok, lebih fokus dan teratur yaitu menggunakan metode PBL (Problem Based Learning).

PBL diharapkan mampu memberikan perubahan yang signifikan dalam prestasi belajar murid karena PBL mampu menuntun mahasiswa untuk lebih berfikir kritis dalam menganalisa sebuah masalah serta mencari solusinya, dan juga mengembangkan ketrampilan intelektual yang mereka miliki.

PENUGASAN BLOK KBTI ESSAY PROBLEM BASED LEARNING

Disusun Oleh : Nama NIM Kelompok Tutor : Jimbo Bonek Mania : 081XXXXXX : 1 : dr. Yenny Cahyaningrum

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM NDONESIA YOGYAKARTA 2010