Anda di halaman 1dari 14

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A 1 Landasan Teori Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan individu secara keseluruhan, baik fisik maupun psikis, untuk mencapai perubahan dalam tingkah laku1. Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dari segala sesuatu yang diperkirakan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia2. Belajar pada dasarnya pengalaman yang sama dan berulang-ulang dalam situasi tertentu serta berkaitan dengan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan dan pemahaman. Sedang yang dimaksud pengalaman adalah proses belajar tidak lain adalah interaksi antara individu dengan lingkungannya. Benyamin S. Bloom seperti dikutip oleh Catharina3 merumuskan belajar sebagai perubahan tingkah laku, meliputi tiga ranah yaitu, ranah kognitif, ranah efektif, ranah psikomotorik. Ranah kognitif adalah perilaku yang menyangkut masalah pengetahuan, inoformasi, dan masalah kecakapan intelektual. Ranah afektif adalah perilaku yang berupa sikap, nilai-nilai, dan prestasi, sedangkan psikomotorik adalah yang keterampilan / kelincahan dan kondisinya. a Ciri-ciri pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut4 : Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. terutama berkaitan dengan

b Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. c Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. d Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. e Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. 1 Slameto. Belajar dan faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta 2003, hlm 2 2 Darsono, Max. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press. 2000. hlm. 6 3 Anni, Catharina Tri, Psikologi Belajar, Semarang : UPT MKK UNNES, 2006, hlm. 7. 4 Darsono, Max, Op. Cit., 2000, Hal 25

Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik secara fisik maupun psikologis. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan

terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa5. Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor. Sedangkan Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik 2 Pembelajaran Cooperatif Learning Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur. Ada empat (4) prinsip pembelajaran kooperatif jika kita ingin menerapkannya6, yaitu : a Terjadinya saling ketergantungan secara positif (positive interdependence) Siswa berkelompok, saling bekerja sama dan menyadari bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. b Terbentuknya tanggung jawab personal (individual accountability) Setiap anggota kelompok merasa bertanggung jawab untuk belajar dan mengemukakan pendapatnya sebagai sumbang saran dalam kelompok. c Terjadinya keseimbangan dan keputusan bersama dalam kelompok (equal participation) Dalam kelompok tidak hanya seorang atau orang tertentu saja yang berperan, melainkan ada keseimbangan antarpersonal dalam kelompok. 5 Suyitno, Amin. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Jurusan
Matematika FMIPA UNNES. 2004. Hal 2

6 Lie, Anita. 2003. Cooperative Learning (Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang


Kelas). Jakarta : Grasindo Halaman 12

Interaksi menyeluruh (simultaneous interaction) Setiap anggota kelompok memiliki tugas masing-masing secara proporsional dan secara simultan mengerjakan tugas atau menjawab pertanyaan.

Roger dan David Johnson menjelaskan ada lima unsur pembelajaran kooperatif (pembelajaran gotong royong) yang harus diterapkan7, yaitu : a Saling ketergantungan positif Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. b Tanggung jawab perseorangan Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. c Tatap muka Setiap kelompok harus diberi kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. d Komunikasi antar anggota Suatu kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka mengutarakan pendapat. e Evaluasi proses kelompok Setiap kelompok harus melakukan evaluasi hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. 3. Metode Pembelajaran tipe team quiz a Pengertian Metode Pembelajaran tipe team quiz Team Quiz merupakan model pembelajaran dimana siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil dengan masingmasing anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama atas keberhasilan kelompoknya dalam memahami materi dan menjawab soal, dan pembelajaran konvensional untuk kelas kontrol. Strategi ini dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama atau gotong royong dalam pembelajaran yang menekankan terbentuknya hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Terbentuknya sikap dan perilaku yang demokratis serta tumbuhnya produktivitas kegiatan belajar peserta didik. Peserta didik selain individu juga mempunyai segi sosial yang perlu dikembangkan, mereka dapat bekerjasama saling bergotong royong dan saling tolong 7 Ibid. 2002. Hal. 12

menolong, maka siswa diharapkan dapat menjalin kerjasama antar teman satu kelas. b Unsur-Unsur Metode Pembelajaran tipe team quiz Metode Pembelajaran tipe team quiz ini memiliki unsur-unsur yang saling terkait yakni : 1 2 3 4 5 c Saling ketergantungan positif (positive interdepence) Akuntabilitas individual (individual accountability) Tatap muka (face to face interaction) Ketrampilan sosial (social skill) Proses kelompok (group processing)

Langkah-Langkah Metode Pembelajaran tipe team quiz Langkah-langkah dalam pelaksanaan strategi quiz atau metode kuis berkelompok adalah : 1 Memilih topik yang dapat disampaikan dalam tiga bagian 2 Bagilah siswa (peserta didik menjadi tiga kelompok yaitu A, B, dan C 3 Sampaikan kepada siswa format penyampaian pelajaran kemudian mulai penyampaian materi. Batasi penyampaian materi maksimal 10 menit. 4 Setelah penyampaian, minta kelompok A menyiapkan pertanyaanpertanyaan sederhana berkaitan dengan materi yang baru saja disampaikan, kelompok B dan C menggunakan waktu ini untuk melihat lagi catatan mereka. 5 Mintalah kepada kelompok A untuk memberikan pertayaan kepada kelompok B jika kelompok B lemparkan pertanyaan ke kelompok C begitu sebaliknya. 6 Jika tanya jawab selesai, lanjutkan pelajaran kedua dan tunjuk kelompok B untuk menjadi kelompok penanya, lakukan seperti proses untuk kelompok A. 7 Setelah kelompok B selesai dengan pertanyaannya, lanjutkan penyampaian materi pelajaran ketiga dan tunjuk kelompok C sebagai kelompok penanya. 8 Akhiri pelajaran dengan menyimpulkan tanya jawab dan jelaskan sekiranya ada pemahaman siswa yang keliru

Evaluasi Metode Pembelajaran tipe team quiz Penilaian Metode Pembelajaran tipe team quiz, peserta didik mendapat nilai pribadi dan nilai kelompok siswa bekerja sama

dengan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk tes, kemudian masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan menerima nilai pribadi. Nilai kelompok tradisional biasanya dibentuk dengan beberapa cara; pertama, nilai kelompok biasanya diambil dari nilai terendah yang didapat oleh siswa dalam kelompok. Kedua, nilai kelompok juga diambil dari rata-rata nilai semua anggota kelompok8. Kelebihan cara tersebut adalah semangat gotong royong yang ditanamkan. Dengan cara ini kelompok lebih keras untuk membantu semua anggota dalam mempersiapkan diri untuk tes, namun kekurangannya adalah perasaan negative dan tidak adil, siswa yang mampu akan merasa dirugikan oleh nilai rekannya yang terendah sedangkan siswa yang lemah mungkin bias merasa bersalah karena nilai sumbangannya paling rendah. 4 Hasil Belajar IPA a Hasil Belajar Hasil belajar adalah suatu usaha atau kegiatan anak untuk mengusai bahan-bahan pelajaran yang diberikan guru di sekolah. Hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai individu sebagai usaha yang dialami secara langsung serta merupakan aktivitas yang bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, ketrampilan, kecerdasan, kecakapan dalam keadaan kondisi serta situasi tertentu. Syarat-syarat perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar adalah sebagai berikut9: 1 2 3 4 5 Hasil belajar sebagai pencapaian tujuan. Hasil belajar sebagai buah dari proses kegiatan yang disadari. Hasil belajar sebagai produk latihan. Hasil belajar merupakan tindak tanduk yang berfungsi efektif dalam kurun waktu tertentu. Hasil belajar harus berfungsi operasional dan potensial yaitu merupakan tindak tanduk yang positif bagi pengembangan tindak tanduk lainnya.

8 M. Buchori, Tehnik Evaluasi Pendidikan, 1985 9 Slameto. Belajar dan faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta 2003, hlm 10

Prestasi belajar memang merupakan hasil proses yang kompleks yang melibatkan sejumlah variabel dan faktor yang terdapat dalam diri individu sebagai pembelajar. Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran disekolah atau diperguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Hasil belajar siswa berfokus pada nilai atau angka yang dicapai siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut terutama dilihat dari sisi kognitif, karena aspek ini yang sering dinilai oleh guru untuk melihat penguasaan pengetahuan sebagai ukuran pencapaian hasil belajar siswa. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa terdiri dari: kecerdasan, bakat, minat dan perhatian, motif, kesehatan, cara belajar, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, sekolah dan antara lain :
)WS. Wingkel Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar.Gramedia Jakarta.2004. halaman 169 )WS. Wingkel Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar.Gramedia Jakarta.2004. halaman 169
2 )WS. Wingkel Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar.Gramedia Jakarta.2004. halaman 169 2 2

sarana pendukung belajar10,

Faktor kecerdasan Kecerdasan menyangkut kemampuan yang luas, tidak hanya kemampuan rasional memahami, mengerti, memecahkan problem, tetapi termasuk kemampuan mengatur perilaku berhadapan dengan lingkungan yang berubah dan kemampuan belajar dari pengalamannya. Faktor bakat. Bakat adalah kemampuan yang ada pada seseorang yang dibawanya sejak lahir, yang diterima sebagai warisannya dari orang tua. Bakat-bakat yang dimiliki siswa tersebut apabila

10 Ibid. 2003. hlm 10

diberi kesempatan dikembangkan dalam pembelajaran, akan dapat mencapai prestasi yang tinggi. 3 Faktor minat dan perhatian Minat adalah kecenderungan yang besar terhadap sesuatu. Perhatian adalah melihat dan mendengar dengan baik dan teliti terhadap sesuatu. Apabila seorang siswa menaruh minat pada satu pelajaran tertentu, biasanya cenderung untuk memperhatikannya dengan baik. Faktor motif Motif adalah dorongan yang membuat seseorang berbuat sesuatu. Motif selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Faktor cara belajar Keberhasilan studi siswa dipengaruhi juga oleh cara belajar siswa. Cara belajar yang efisien memungkinkan mencapai prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan cara belajar yang tidak efisien. Cara belajar yang efisien sebagai berikut: a Berkonsentrasi sebelum dan pada saat belajar. b Segera mempelajari kembali bahan yang telah diterima. c Membaca dengan teliti dan baik bahan yang sedang dipelajari, dan berusaha menguasainya dengan sebaik-baiknya. d Mencoba menyelesaikan dan melatih mengerjakan soalsoal. Faktor lingkungan keluarga Keluarga merupakan salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh pada prestasi siswa. Maka orang tua sudah sepatutnya mendorong, memberi semangat, membimbing dan memberi teladan yang baik kepada anaknya. Faktor sekolah Selain keluarga, sekolah adalah lingkungan kedua yang berperan besar memberi pengaruh pada prestasi belajar siswa. Apabila sekolah berhasil menciptakan suasana kondusif bagi pembelajaran, hubungan dan komunikasi per orang di sekolah berjalan baik, metode pembelajaran aktif interaktif, sarana penunjang cukup memadai, siswa tertib disiplin. Keberhasilan siswa mencapai hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor itu terdiri dari tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai bakat yang dimiliki, ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran variatif yang dikembangkan guru. Suasana keluarga yang memberi dorongan anak untuk maju.

Selain itu, lingkungan sekolah yang tertib, teratur, disiplin, yang kondusif bagi kegiatan kompetisi siswa dalam pembelajaran. Pencapaian hasil belajar yang optimal dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu11 : 1 Kesiapan belajar Kesiapan belajar merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar baik kesiapan fisik maupun psikologis. 2 Motivasi Motivasi merupakan motif yang sudah menjadi aktif saat orang melakukan suatu aktivitas. 3 Keaktifan siswa Pelaku kegiatan belajar adalah siswa sehingga siswa harus aktif dan tidak boleh pasif. Dengan bantuan guru siswa harus mampu mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. 4 Mengalami sendiri Siswa hendaknya tidak hanya tahu secara teoritis, tetapi juga secara praktis sehingga akan diperoleh pemahaman yang mendalam. 5 Pengulangan Agar materi semakin mudah diingat perlu diadakan latihan yang berarti siswa mengulang materi yang dipelajari. 6 Balikan dan Penguatan Balikan adalah masukan yang sangat penting bagi siswa maupun guru. Penguatan adalah tindakan yang menyenangkan dari guru terhadap siswa yang telah berhasil untuk melakukan sesuatu perbuatan belajar. b 1 Tinjauan tentang Kawasan Prestasi Belajar12 Kawasan Kognitif (pemahaman) Tujuan kognitif berorientasi kepada kemampuan berfikir, mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntutkan siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan gagasan, metode, atau prosedur yang sebelumnya dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut13.

11 Darsono, Max. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press. 2000, hlm 26
29

12 Yamin, Martinis. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Gaung Persada Press.
2005, hlm 27-39

13 Anni, Catharina Tri, Psikologi Belajar, Semarang : UPT MKK UNNES, 2006, hlm. 7.

Kawasan kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat tersebut adalah : a Tingkat pengetahuan (knowledge) Tingkat ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) informasi yang telah diterima sebelumnya, seperti misalnya: fakta, rumus, strategi pemecahan masalah, dan sebagainya. b Tingkat pemahaman (comprehension) Kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. c Tingkat penerapan (aplication) Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. d Tingkat analisis (analysis) Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada tidaknya kontradiksi. e Tingkat sintesis (synthesis) Sintesis di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. 2 Kawasan Afektif (sikap dan perilaku) Kawasan afektif merupakan tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati ( attitude) yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Pengukuran hasil belajar afektif jauh lebih sukar dibandingkan dengan hasil belajar kognitif karena menyangkut kawasan sikap dan apresiasi. Kawasan afektif terdiri dari lima tingkat secara berurutan yaitu : a Tingkat menerima (receiving) Menerima di sini adalah diartikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang mengandung estetika. Tingkat tanggapan (responding)

Tanggapan diartikan sebagai perilaku baru dari sasaran didik siswa sebagai menifestasi dari pendapatnya yang timbul karena adanya perangsang pada saat ia belajar. c Tingkat menilai Menilai dapat diartikan sebagai kemauan untuk menerima suatu objek atau kenyataan setelah seseorang itu sadar bahwa objek tersebut mempunyai nilai atau kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku positif atau negatif. Tingkat organisasi Organisasi dapat diartikan sebagai proses konseptualisasi nilai-nilai dan menyusun hubungan antar nilai-nilai tersebut, kemudian memilih nilai-nilai yang terbaik untuk diterapkan. Tingkat karakterisasi (characterization) Karakterisasi adalah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga sikap dan perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri perilakunya. Kawasan psikomotor adalah kawasan yang berorientasi kepada ketrampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot. Kawasan psikomotor terdiri dari dari empat kelompok yang urutannya tidak bertingkat seperti kawasan kognitif dan afektif. Kelompok-kelompok tersebut adalah sebagai berikut : a Gerakan seluruh badan Gerakan seluruh badan adalah perilaku seseorang dalam suatu kegiatan yang memerlukan gerakan fisik secara menyeluruh, misalnya siswa sedang berolah raga. b Gerakan yang terkoordinasi Gerakan yang terkoordinasi adalah gerakan yang dihasilkan dari perpaduan antara fungsi salah satu atau lebih indera manusia dengan salah satu anggota badan. Misal, siswa sedang menulis. c Komunikasi nonverbal

Kawasan Psikomotor (psychomotor domain)

Komunikasi nonverbal adalah hal-hal yang berkenaan dengan komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau isyarat, misalnya : isyarat, dengan tangan, anggukan kepala, ekspresi wajah, dan lain-lain. d Kebolehan dalam berbicara Kebolehan dalam berbicara dalam hal-hal yang berhubungan dengan koordinasi gerakan tangan atau anggota badan lainnya dengan ekspresi muka dan kemampuan berbicara. Dengan menjelaskan prestasi belajar di atas bisa mengetahui tentang bagaimana proses dari belajar mengajar yang merupakan suatu proses mendasar dalam pencapaian prestasi belajar. Prestasi belajar yang kurang optimal, hal itu kemungkinan disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam belajar khususnya belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. c Pengertian Hasil Belajar IPA IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang mempelajari tentang manusia dan lingkungannya yang dikaitkan dengan pengenalan dan pengetahuan tentang Cahaya dan sifat-sifatnya. Pelajaran IPA memiliki kontribusi dan motivasi bagi peserta didik untuk mengkonsumsi makanan sehat dalam kehidupan sehari-harinya sehingga peserta didik dapat tumbuh dan berkembang dari fisik dan kognitifnya dengan baik dan optimal. Untuk memperoleh prestasi belajar IPA yang diharapkan maka ada kriteria untuk meningkatkan hasil atau prestasi belajar. Menurut Sudjana ada dua kriteria yang dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan hasil belajar yaitu : 1 2 d Kriteria ditinjaudari prosesnya Kriteria ditinjau dari sudut hasil yang dicapai. Ruang Lingkup Pembelajaran IPA Ruang lingkup pembelajaran IPA meliputi :

Ranah kognitif, berkaitan dengan hasil belajar intelektual yang meliputi aspek pengetahuan kognitif tingkat rendah (ingatan dan pemahaman), kognitif tingkat tinggi (aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi).

Ranah afektif berkaitan dengan sikap yang meliputi aspekaspek penerimaan, tanggapan keyakinan, organisasi dan internalisasi.

Ranah psikomotorik yang berkenaan dengan ketrampilan dan kemampuan bertindak yang meliputi aspek-aspek gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perceptual, ketepatan dan ketrampilan kompleks.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar IPA Faktor-faktor 1 a b 2 a yang mempengaruhi prestasi belajar IPA diklafikasi menjadi 2 (dua) 14 yaitu : Faktor internal siswa (peserta didik) meliputi : Faktor psikis intelektual yang meliputi intelegensi, motivasi sikap, perasaan, minat, kondisi akibat sosial dan ekonomi. Faktor fisik meliputi keadaan fisik. Faktor eksternal peserta didik meliputi : Faktor pengatur proses belajar di sekolah yang meliputi kurikulum, disiplin sekolah, fasilitas belajar, pengelompokan belajar. b c Faktor sosial di sekolah yang meliputi system sosial status sosial dan interaksi guru dan siswa. Faktor situasi meliputi keadaan ekonomi, keadaan waktu, tempat dan iklim.

Pembelajaran IPA dengan Penerapan Metode Team Quiz Indikator pencapaian tujuan pembelajaran IPA pada materi pokok Cahaya dan sifat-sifatnya melalui metode pembelajaran tipe team quiz. yaitu :

14 Winkel, 1989, W.S., Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Gramedia, hlm 34

a b

Dapat mengembangkan kapasitas belajar kompetensi dasar dan potensi yang dimiliki siswa secara penuh. Dapat mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar dengan suasana lingkungan yang menyenangkan.

Hipotesa Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan suatu hypothesis tindakan sebagai berikut : Dengan penerapan Metode Pembelajaran tipe team quiz, maka hasil belajar siswa kelas V MI Raudlatul Atfal Nongkosawit Kecamatan Gunungpati Kota Semarang pada mata pelajaran IPA materi pokok Cahaya dan sifat-sifatnya akan meningkat.