Anda di halaman 1dari 2

Analisis Rencana Peraturan Pemprov DKI Jakarta Tentang Pembatasan Operasi Kendaraan Dengan Sistem Genap Ganjil

Oleh: Aulia Havidz, Teknik Mesin, 0906555992 Kemacetan di jalanan merupakan permasalahan kota Jakarta yang semakin hari semakin parah. Dalam upaya menyelesaikan permasalahan ini sudah dilakukan banyak upaya oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta, diantaranya dengan pemberlakukan sistem 3 in 1 pada jalan-jalan utama, penambahan dan peningkatan fasilitan pada angkutan umum, dll. Namun hingga saat ini upaya yang telah dilakukan selama ini dirasa belum efektif dilihat dari kenyataan setiap harinya jalanan masih saja macet terutama saat pagi dan sore hingga malam hari. Kemacetan ini semakin diperparah dengan penambahan kendaraan bermotor di Jakarta sangat tidak seimbang dengan penambahan fasilitas jalan yang akan menampung semua kendaraan yang ada. Melihat kondsi ini menjadi kewajiban bagi pemerintah dan warga bersama-sama memikirkan cara mengatasi kemacetan ini. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang sejak awal dilantiknya bekerja secara maksimal dan melakukan banyak perubahan termasuk demi memenuhi janji politiknya saat kampanye juga mulai membahas cara penanganan masalah kemacetan Jakarta. Inilah beberapa argumentasi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang mendasari Pemprov DKI Jakarta menerapkan aturan tersebut pada Maret 2003 seperti dilansir beritajakarta.com. Kebijakan ini diterapkan pada koridor 3 in 1, Jalan Rasuna Said, Jalan Letjen Suprapto, Jalan Pramuka, seluruh koridor Bus Rapid Transit (BRT) dan wilayah yang dilalui jalur bus Transjakarta, serta seluruh koridor utama di lingkar dalam kota. Penerapannya dimulai dari pukul 06.00 hingga 20.00. Untuk bisa mengurai kemacetan di Jakarta harus ada kebijakan radikal dan berani. Sebab, ada sekitar 1.400 motor dan 450 mobil baru setiap harinya. Sehingga kapasitas jalan di Jakarta tidak akan mampu menampung. Kalau kita tidak punya sebuah kebijakan yang radikal dan berani seperti itu, ya tidak akan selesai-selesai. Sehingga menurut saya itu kebijakan yang harus diterapkan. Selain bisa mengurangi kemacetan, kebijakan ini juga berdampak pada penurunan polusi dan penghematan BBM. Juga mendorong orang pindah ke angkutan umum. Keputusan atau kebijakan memang ada risikonya. Bagaimana menutup risiko itu, nanti kalau ada risiko saya siap. Sembari menunggu penerapan kebijakan ini, Pemprov DKI Jakarta akan berusaha memperbaiki angkutan massal. Salah satunya dengan menambah armada bus Transjakarta yang mencapai 102 bus gandeng pada Januari 2013. Selin itu akan ada penambahan 1.000 bus sedang untuk peremajaan kopaja dan metromini. Berdasarkan kajian sementara setelah diterapkan kebijakan ini bisa meningkatkan kecepatan laju kendaraan di kawasan lingkar dalam kota dari semula hanya 16,8 kilometer per jam menjadi 47 kilometer per jam. Kemudian bisa menurunkan tingkat kemacetan dari 47,2% menjadi 30,7%. Sementara untuk wilayah kota kecepatan laju kendaraan juga meningkat dari

20,8 kilometer per jam menjadi 41,3 kilometer per jam. Untuk tingkat kemacetan turun dari 43,7% menjadi 32,7%. Selain itu, keuntungan ekonomi yang didapat dengan pembatasan kendaraan ini bisa menghemat biaya operasi kendaraan hingga Rp 8,85 triliun per tahun. Serpa penghematan BBM hingga 345 ribu kilo liter per tahun, atau 19,7 persen daru kuota BBM bersubsidi untuk wilayah DKI. Agar mempermudah pengawasan, kendaraan akan ditempel stiker berwarna merah untuk ganjil dan hijau untuk genap. Hal tersebut untuk membedakan kendaraan dengan pelat ganjil atau genap. Sebab, petugas untuk mengawasi kebijakan ini juga terbatas. (beritajakarta.