Anda di halaman 1dari 16

Agnesia Brilianti Kananlua Stephanie Edward Christian Sona Karisnata Inriano

Mampu Menyelesaikan Masalah Terkait Dengan Penggunaan Sediaan Farmasi

Merupakan keahlian apoteker dalam menyelesaikan setiap permasalahan terkait penggunaan sediaan farmasi. Keahlian ini bukan sekedar kemampuan teknis akan tetapi secara substantif dibentuk oleh karakter patient care sehingga disamping mendeskripsikan pemahaman penyelesaian masalah juga ketrampilan dan karakter yang didasari kepedulian kepada pasien. Terdiri dari 6 (enam) elemen dan dijabarkan dalam unjuk kerja beserta kriteria penilaiannya

Mampu Menyelesaikan Masalah Penggunaan Obat Yang Rasional

Penggunaan obat dikatakan rasional jika tepat secara medik dan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Kriteria penggunaan obat dikatakan rasional :
Tepat diagnosis Sesuai dengan indikasi penyakit Tepat pemilihan obat Tepat dosis Tepat cara pemberian Tepat interval waktu pemberian Tepat lama pemberian Waspada terhadap efek samping Tepat penilaian kondisi pasien Tepat informasi Tepat tindak lanjut Tepat penyerahan obat Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang dibutuhkan

Mampu Melakukan Telaah Penggunaan Obat Pasien

Kemampuan untuk melakukan telaah terhadap berbagai hasil uji klinik yang disajikan menjadi amat penting dalam menentukan pengobatan yang rasional. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menentukan pengobatan rasional yaitu :
derajat keparahan penyakit yang akan diobati efektivitas obat yang akan digunakan keparahan dan frekuensi efek samping yang mungkin timbul efektivitas dan keamanan obat lain yang bisa dipakai sebagai pengganti

Apoteker dapat melakukan intervensi, yaitu tindakan yang dilakukan apoteker secara langsung untuk merubah manajemen dan atau terapi obat pasien yang teridentifikasi.

Mampu Melakukan Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1027/MenKes/SK/ IX/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek, Apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, termasuk tentang efek samping obat (MESO). Pasien juga berhak melaporkan terjadinya efek samping obat kepada farmasis di apotek agar dilakukan upayaupaya pencegahan, mengurangi atau menghilangkan efek samping tersebut. MENGAPA PERLU MESO
Informasi obat secara lengkap mengenai obat sebelum beredar di pasaran sulit didapat, uji klinik yang memenuhi syarat tetap menghasilkan informasi yang terbatas. Maka perhatian terhadap reaksi yang tidak diinginkan selama pemakaian sangat perlu dipantau secara sistemik

Mampu Melakukan Evaluasi Penggunaan Obat

Setelah penyerahan obat kepada pasien maka perlu dilakukan evaluasi penggunaan obat, meliputi :
Menentukan skala prioritas evaluasi penggunaan obat berdasarkan obat yang paling banyak digunakan, obat dengan indeks terapetik sempit, obat yang sering menimbulkan efek samping, obat yang mahal, obat yang digunakan untuk penyakitpenyakit kardiovaskuler. Menyusun indikator dan kriteria evaluasi serta menetapkan standar pembanding yang digunakan.

Mampu Melakukan Praktik Therapeutic Drug Monitoring (TDM)*

PEMANTAUAN TERAPI OBATadalah suatu proses yang meliputi semua fungsi yang perlu untuk menjamin terapi obat kepada pasien yang aman, efektif / rasioanal dan ekonomis. FUNGSINYA :
Pengamatan obat pilihandokter terhadap kondisi diagnosanya Pengamatan pemakaian obat Jaminan ketepatan dosis ( jumlah, frekwensi, rute dan bentuk obat ) Pengenalan respon terapi obat saat itu cukup atau kurang Penilaian adverse effect( reaksi yang merugikan ) potensial yang terjadi Alternatif atau perubahan perubahan direkomendasikan dalam terapi apabila situasi tertentu mengharuskan

SASARAN :
Mengoptimalkan terapi obatdengan memastikan secara efektif, efisien, efekasi terapi. Meminimalkan toksisitasdan memberikan solusi masalah yang merusak / mengurangi akses seorang pasien ke atau patuh pada suatu regimen terapi obat tertentu

Mampu Mendampingi Pengobatan Mandiri (Swamedikasi) Oleh Pasien

Menurut The International Pharmaceutical Federation (FIP) yang dimaksud dari swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat non resep oleh seseorang atas inisiatif sendiri (FIP,1999) Pengobatan mandiri bertujuan agar masyarakat mampu membuat keputusan dalam mengobati gejala penyakit yang ringan secara aman dan efektif serta mampu mencegah, mengantisipasi dan mengambil tindakan jika terjadi masalah dalam pengobatan. Peran farmasis diharapkan tidak hanya menjual obat tetapi lebih kepada menjamin tersedianya obat yang berkualitas, mempunyai efikasi, jumlah yang cukup, aman, nyaman bagi pemakaiannya dan harga yang wajar serta pada saat pemberiannya disertai informasi yang cukup memadai, diikuti pemantauan pada saat penggunaan obat dan akhirnya di evaluasi.