Anda di halaman 1dari 3

Diskusi Pro Kontra Nuklir sebagai Energi Terbarukan

Senin, 11 April 2011 08:55 Admin Jumat 8 April 2011 yang lalu, Fakultas Filsafat bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Penerbit Kanisius mengadakan diskusi tentang pro kontra nuklir. Hal ini menarik mengingat insiden Fukushima menjadikan banyak orang berpikir ulang mengenai mendesak atau tidaknya pengembangan nuklir di Indonesia. Tentu saja bagi masyarakat umumnya, ketakutan akan bahaya radiasi menjadi alasan tersendiri untuk berpikir ulang perlu atau tidak atau bahkan menolak mentah-mentah pengembangan nuklir di Indonesia. Diskusi menghadirkan Dr. A. Sonny Keraf, dosen filsafat Unika Atmajaya Jakarta dan mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dan Dekan Fakultas Teknik UGM, dan sebagai pembahas Prof. dr. Hari Kusnanto. Dr.PH., Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM. Diskusi yang dimoderatori Drs. Achmad Charris Zubair ini mendapat perhatian banyak kalangan, diikuti oleh tidak kurang dari 200 peserta yang terdiri dari banyak pakar/dosen dari Teknik Fisika, Sosiologi, dan berbagai ilmu di lingkungan UGM, para praktisi kesehatan dan lainnya di lingkungan DIY, para mahasiswa baik S1, S2 maupun S3 di lingkungan UGM, wartawan, dan peminat lain. Dalam sambutannya Dekan Fakultas Filsafat mengatakan bahwa termasuk tugas Fakultas Filsafat untuk memberikan

ruang publik bagi pengembangan dan konsultasi berbagai gagasan terkait dengan persoalan di masyarakat termasuk mengenai perlu tidaknya pengembangan energi nuklir di Indonesia. Hadir mewakili penerbit Kanisius Drs. Supriyono menyambut baik kerjasama yang dirintis Perpustakaan Fakultas Filsafat. Selain ini beliau juga menyinggung mengenai filosofi makan untuk hidup atau hidup untuk makan. Implisit dalam konteks ini, sesungguhnya nuklir diperlukan dalam rangka untuk hidup yang seperti apa. Apakah manusia harus hidup dan memerlukan energi nuklir? Kapan? Sejalan dengan konsep ini diskusi mengupas sejauh mana energi nuklir diperlukan dan kapan mengingat banyak di antara kita setuju tentang pentingnya nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi asal tidak dekat-dekat dengan tempat kita tinggal, not in my back yard. Sonny Keraf lebih menekankan pada perlunya pengembangan energi lain mengingat Indonesia sangat kaya akan sumber-sumber energi. Pembangunan reaktor nuklir juga memerlukan proses yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Kalau toh pengembangan energi nuklir terpaksa dilaksanakan, persiapkan dulu segala persyaratannya termasuk kesiapan mentalitas dan moralitas masyarakat sehingga mampu menopang kemungkinan efek negatif yang mungkin timbul. Faktor resiko bencana alam juga menjadi salah satu perhatian. Maka Sonny mengatakan, mungkin pengembangan energi nuklir di Indonesia baru bisa direalisasikan tahun 2100, ketika manusia Indonesia sudah mampu menyiapkan diri untuk menghadapi segala resiko yang dihadapi. Prinsip kehati-hatian menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi resiko pengembangan sumber energi terutama yang akan berdampak serius di masyarakat.

Dr. Ir. Tumiran, M.Eng., lebih banyak menyajikan mengenai kebutuhan energi Indonesia. Menurutnya, dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia mengalami defisit energi dibandingkan dengan yang semestinya diperlukan. Belum semua wilayah di Indonesia mendapatkan pasokan listrik padahal kecukupan energi menjadi faktor penting yang akan mendorong kemajuan masyarakat. Pengembangan sumber energi menjadi kebutuhan dan semuanya memerlukan biaya yang besar. Pengembangan nuklir hanyalah salah satu alternatif dan bila hal itu diambil maka resikonya juga harus dipertimbangkan. Pilihan inilah yang akan menjadi titik pijak bagi tidak atau dilaksanakannya pengembangan sumber energi baru termasuk nuklir. Mempertimbangkan banyak faktor yang di atas, Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH. mengingatkan bahwa banyak insiden yang terjadi di Indonesia lebih dikarenakan human factor. Nah, siapkah bangsa Indonesia membawa diri untuk tidak mengalami insiden dan bencana di banyak hal berkait pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? Kalau sampai 2100 tidak ada aspek human factor dari semua kegiatan yang berkait dengan teknologi, mungkin ini menjadi ujian dan lulusnya bangsa Indonesia untuk menyiapkan pengembangan sumber energi nuklir. Tetapi bagaimana dengan resiko yang lebih besar karena Indonesia berada di wilayah bahaya (ring of fire)? Sepertinya kita harus menghitung lebih banyak faktor lagi. Sekali lagi. Hati-hati! (WD3)