Anda di halaman 1dari 16

Dermatitis seboroik merupakan penyakit inflamasi kronik yang mengenai daerah kepala dan badan di mana terdapat glandula

sebasea1. Prevalensi dermatitis seboroik sebanyak 1% - 5% populasi2. Lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita1. Penyakit ini dapat mengenai bayi sampai dengan orang dewasa. Umumnya pada bayi terjadi pada usia 3 bulan sedangkan pada dewasa pada usia 30-60 tahun3.

Dermatitis seboroik dan Pityriasis capitis (cradle cap) sering terjadi pada masa kanak-kanak. Berdasarkan hasil suatu survey terhadap 1116 anak-anak yang mencakup semua umur didapatkan prevalensi dermatitis seboroik adalah 10% pada anak laki-laki dan 9,5% pada anak perempuan. Prevalensi tertinggi pada anak usia tiga bulan, semakin bertambah umur anaknya prevalensinya semakin berkurang. Sebagian besar anak-anak ini menderita dermatitis seboroik ringan3. Secara internasional frekuensinya sebanyak 3-5%. Ketombe yang merupakan bentuk ringan dari dermatitis ini lebih umum dan mengenai 15 - 20% populasi4. A. Definisi Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh berambut, terutama pada kulit kepala, alis mata dan muka, kronik dan superfisial5, didasari oleh faktor konstitusi6. B. Etiologi Etiologi dermatitis seboroik masih belum jelas, meskipun demikian berbagai macam faktor seperti faktor hormonal1, infeksi jamur, kekurangan nutrisi, faktor neurogenik diduga berhubungan dengan kondisi ini3. Menurut Djuanda (1999) faktor predisposisinya adalah kelainan konstitusi berupa status seboroik6. Keterlibatan faktor hormonal dapat menjelaskan kenapa kondisi ini dapat mengenai bayi, menghilang secara spontan dan kemudian muncul kembali setelah pubertas3. Pada bayi dijumpai kadar hormon transplansenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan membaik bila kadar hormon ini menurun5. Faktor lain yang berperan adalah terjadinya dermatitis seboroik berkaitan dengan proliferasi spesies Malassezia yang ditemukan di kulit sebagai flora normal3. Ragi genus ini dominan dan ditemukan pada daerah seboroik tubuh yang mengandung banyak lipid sebasea (misalnya kepala, tubuh, punggung). Selden (2005) menyatakan bahwa Malassezia tidak menyebabkan dermatitis seboroik tetapi merupakan suatu kofaktor yang berkaitan dengan depresi sel T, meningkatkan kadar sebum dan aktivasi komplemen4. Dermatitis seboroik juga dicurigai berhubungan dengan kekurangan nutrisi tetapi belum ada yang menyatakan alasan kenapa hal ini bias terjadi3. Pada penderita gangguan sistem syaraf pusat (Parkinson, cranial nerve palsies, major truncal paralyses) juga cenderung berkembang dermatitis seboroik luas dan sukar disembuhkan. Menurut Johnson (2000) terjadinya dermatitis seboroik pada penderita tersebut sebagai akibat peningkatan timbunan sebum yang disebabkan kurang pergerakan. Peningkatan sebum dapat menjadi tempat berkembangnya P. ovale sehingga menginduksi dermatitis seboroik1. Faktor genetik dan lingkungan dapat merupakan predisposisi pada populasi tertentu, seperti penyakit komorbid, untuk berkembangnya dermatitis seboroik. Meskipun dermatitis seboroik hanya terdapat pada 3% populasi, tetapi insidensi pada penderita AIDS dapat mencapai 85%. Mekanisme pasti infeksi virus AIDS memacu onset dermatitis seboroik (ataupun penyakit inflamasi kronik pada kulit lainnya) 1

belum diketahui1. Berbagai macam pengobatan dapat menginduksi dermatitis seborok. Obat-obat tersebut adalah auranofin, aurothioglucose, buspirone, chlorpromazine, cimetidin, ethionamide, griseofulvin, haloperidol, interferon alfa, lithium, methoxsalen, methyldopa, phenothiazines, psoralens, stanozolol, thiothixene, and trioxsalen4. C. Klasifikasi dan Manifestasi Klinik Dermatitis seboroik umumnya berpengaruh pada daerah kulit yang mengandung kelenjar sebasea dalam frekuensi tinggi dan aktif. Distribusinya simetris dan biasanya melibatkan daerah berambut pada kepala meliputi kulit kepala, alis mata, kumis dan jenggot. Adapun lokasi lainnya bisa terdapat pada dahi, lipatan nasolabial, kanalis auditoris external dan daerah belakang telinga. Sedangkan pada tubuh dermatitis seboroik dapat mengenai daerah presternal dan lipatan-lipatan kulit seperti aksila, pusar, inguinal, infra mamae, dan anogenital1. Menurut usia dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Pada remaja dan dewasa Dermatitis seboroik pada remaja dan dewasa dimulai sebagai skuama berminyak ringan pada kulit kepala dengan eritema dan skuama pada lipatan nasolabial atau pada belakang telinga. Skuama muncul pada kulit yang berminyak di daerah dengan peningkatan kelenjar sebasea (misalnya aurikula, jenggot, alis mata, tubuh (lipatan dan daerah infra mamae), kadang-kadang bagian sentral wajah dapat terlibat. Dua tipe dermatitis seboroik dapat ditemukan di dada yaitu tipe petaloid (lebih umum ) dan tipe pityriasiform (jarang). Bentuknya awalnya kecil, papul-papul follikular dan perifollikular coklat kemerahmerahan dengan skuama berminyak. Papul tersebut menjadi patch yang menyerupai bentuk daun bunga atau seperti medali (medallion seborrheic dermatitis). Tipe pityriasiform umumnya berbentuk makula dan patch yang menyerupai pityriasis rosea. Patch-patch tersebut jarang menjadi erupsi3. Pada masa remaja dan dewasa manifestasi kliniknya biasanya sebagai scalp scaling (ketombe) atau eritema ringan pada lipatan nasolabial pada saat stres atau kekurangan tidur3. 2. Pada bayi Pada bayi, dermatitis seboroik dengan skuama yang tebal, berminyak pada verteks kulit kepala (cradle cap). Kondisi ini tidak menyebabkan gatal pada bayi sebagaimana pada anak-anak atau dewasa. Pada umumnya tidak terdapat dermatitis akut (dengan dicirikan oleh oozing dan weeping). Skuama dapat bervariasi warnanya, putih atau kuning. Gejala klinik pada bayi dan berkembang pada minggu ke tiga atau ke empat setelah kelahiran. Dermatitis dapat menjadi general. Lipatan-lipatan dapat sering terlibat disertai dengan eksudat seperti keju yang bermanifestasi sebagai diaper dermatitis yang dapat menjadi general. Dermatitis seboroik general pada bayi dan anak-anak tidak umum terjadi, dan biasanya berhubungan dengan defisiensi sistem imun. Anak dengan defisiensi sistem imun yang menderita dermatitis seboroik general sering disertai dengan diare dan failure to thrive (Leiners disese). Sehingga apabila bayi menunjukkan gejala tersebut harus dievaluasi sistem imunnya3.

Menurut daerah lesinya, dermatitis seboroik dibagi tiga: 1.Seboroik kepala 2

Pada daerah berambut, dijumpai skuama yang berminyak dengan warna kekuning-kuningan sehingga rambut saling melengket; kadang-kadang dijumpai krusta yang disebut Pitriasis Oleosa (Pityriasis steatoides). Kadang-kadang skuamanya kering dan berlapis-lapis dan sering lepas sendiri disebut Pitiriasis sika (ketombe)5. Pasien mengeluhkan gatal di kulit kepala disertai dengan ketombe. Pasien berpikir bahwa gejala-gejala itu timbul dari kulit kepala yang kering kemudian pasien menurunkan frekuensi pemakaian shampo, sehingga menyebabkan akumulasi lebih lanjut. Inflamasi akhirnya terjadi dan kemudian gejala makin memburuk1. Bisa pula jenis seboroik ini menyebabkan rambut rontok, sehingga terjadi alopesia dan rasa gatal. Perluasan bisa sampai ke belakang telinga. Bila meluas, lesinya dapat sampai ke dahi, disebut Korona seboroik. Dermatitis seboroik yang terjadi pada kepala bayi disebut Cradle cap 5. Selain kulit kepala terasa gatal, pasien dapat mengeluhkan juga sensasi terbakar pada wajah yang terkena. Dermatitis seboroik bisa menjadi nyata pada orang dengan kumis atau jenggot, dan menghilang ketika kumis dan jenggotnya dihilangkan. Jika dibiarkan tidak diterapi akan menjadi tebal, kuning dan berminyak, kadang-kadang dapat terjadi infeksi bakterial1. 2.Seboroik muka Pada daerah mulut, palpebra, sulkus nasolabialis, dagu, dan lain-lain terdapat makula eritem, yang diatasnya dijumpai skuama berminyak berwarna kekuning-kuningan. Bila sampai palpebra, bisa terjadi blefaritis. Sering dijumpai pada wanita. Bisa didapati di daerah berambut, seperti dagu dan di atas bibir, dapat terjadi folikulitis. Hal ini sering dijumpai pada laki-laki yang sering mencukur janggut dan kumisnya. Seboroik muka di daerah jenggot disebut sikosis barbe5. 3.Seboroik badan dan sela-sela Jenis ini mengenai daerah presternal, interskapula, ketiak, inframama, umbilicus, krural (lipatan paha, perineum). Dijumpai ruam berbentuk makula eritema yang pada permukaannya ada skuama berminyak berwarna kekuning-kuningan. Pada daerah badan, lesinya bisa berbentuk seperti lingkaran dengan penyembuhan sentral. Di daerah intertrigo, kadang-kadang bisa timbul fisura sehingga menyebabkan infeksi sekunder5. D. Diagnosis 1. Anamnesis Bentuk yang banyak dikenal dan dikeluhkan pasien adalah ketombe/ dandruft. Walaupun demikian, masih terdapat kontroversi para ahli. Sebagian mengganggap dandruft adalah bentuk dermatitis seboroik ringan tetapi sebagian berpendapat lain8. 2. Pemeriksaan fisik Secara klinis kelainan ditandai dengan eritema dan skuama yang berbatas relatif tegas. Skuama dapat kering, halus berwarna putih sampai berminyak kekuningan, umumnya tidak disertai rasa gatal8. Kulit kepala tampak skuama patch ringan sampai dengan menyebar, tebal, krusta keras. Bentuk plak jarang. Dari kulit kepala dermatitis seboroik dapat menyebar ke kulit dahi, belakang leher dan belakang telinga4. Distribusi mengikuti daerah berambut pada kulit dan kepala seperti kulit kepala, dahi, alis lipatan nasolabial, jenggot dan belakang telinga. Perluasan ke daerah submental dapat terjadi4. 3. Histologis 3

Pemeriksaan histologis pada dermatitis seboroik tidak spesifik. Dapat ditemukan hiperkeratosis, akantosis, spongiosis fokal dan paraketatosis4. Biopsi kulit dapat efektif membedakan dermatitis seboroik dengan penyakit sejenis. Pada dermatitis seboroik terdapat neutrofil dalam skuama krusta pada sisi ostia follicular. AIDS berkaitan dengan dermatitis seboroik tampak sebagai parakeratosis, nekrotik keratinosites dalam epidermis dan sel plasma dalam dermis. Ragi kadang tampak dalam keratinosites dengan pengecatan khusus3.

E. Diagnosis Banding 1. Dermatitis atopik Dermatitis atopik pada dewasa tampak pada fossa antecutabital dan poplitae3. Bayi dapat menderita dermatitis atopi predileksi terutama pada bagian tubuh tertentu (misalnya kulit kepala, wajah, daerah sekitar popok, permukaan otot ekstensor) menyerupai dermatitis seboroik. Akan tetapi dermatitis seboroik pada bayi memiliki ciri-ciri axillary patches, kurang oozing dan weeping dan kurang gatal. Membedakannnya berdasarkan gejala klinis karena kenaikan kadar immunoglobulin E pada dermatitis atopik tidak spesifik. 2. Kandidiasis Pada pemeriksaan histologis kandidiasis menghasilkan pseudohipa3. 3. Langenhan cell histiocytosis Bayi jarang menderita Langenhan cell histiocytosis. Langenhan cell histiocytosis cirinya seborrheic dermatitis-like eruptions pada kulit kepala disertai demam3. 4. Psoriasis Pada psoriasis dijumpai skuama yang lebih tebal, kasar, berlapis-lapis, putih seperti mutiara dan tak berminyak. Selain itu ada gejala yang khusus untuk psoriasis5. Tanda lain dari psoriasi seperti pitting nail atau onycholysis distal dapat untuk membantu membedakan3.

5. Pitiriasis rosasea Pitiriaris rosasea dapat terjadi eritem pada wajah menyerupai dermatitis seboroik. Meskipun rosasea cenderung melibatkan daerah sentral wajah tetapi dapat juga hanya pada dahi3. Pada pitiriasis rosea, skuamanya halus dan tak berminyak. Sumbu panjang lesi sejajar dengan garis kulit5. 6. Tinea Pada tinea kapitis, dijumpai alopesia, kadang-kadang dijumpai kerion. Pada tinia kapitis dan tine kruris eritem lebih menonjuo di pinggir dan pinggirnya lebih aktif dibandingkan tengahnya (Hrahap, 2000). Tinea capitis, facei dan korporis dapat ditemukan hipa pada pemeriksaan sitologik dengan potassium hydroksida3. F. Penatalaksanaan Terapi yang efektif untuk dermatitis seboroik yaitu obat anti inflamasi (immunomodulatory), keratolitik, anti jamur dan pengobatan alternatif3. 1.Obat anti inflamasi (immunomodulatory) Terapi konvensional untuk dermatitis seboroik dewasa pada kulit kepala dengan steroid topikal atau 4

inhibitor calcineuron. Terapi tersebut pemberiannya dapat berupa shampo seperti fluocinolon (Synalar), solusio steroid topikal, losio yang dioleskan pada kulit kepala atau krim pada kulit7. Kortikosteroid merupakan hormon steroid yang dihasilkan oleh korteks adrenal yang pembuatan bahan sintetik analognya telah berkembang dengan pesat. Efek utama penggunaan kortikosteroid secara topikal pada epidermis dan dermis ialah efek vasokonstriksi, efek anti inflamasi, dan efek antimitosis. Adanya efek vasokonstriksi akan mengakibatkan berkurangnya eritema. Adanya efek anti inflamasi yang terutama terhadap leukosit akan efektif terhadap berbagai dermatoses yang didasari oleh proses inflamasi seperti dermatitis. Sedangkan adanya efek antimitosis terjadi karena kortikosteroid bersifat menghambat sintesis DNA berbagai jenis sel8. Terapi dermatitis seboroik pada dewasa umumnya menggunakan steroid topikal satu atau dua kali sehari, sering diberikan sebagai tambahan ke shampo. Steroid topikal potensi rendah efektif untuk terapi dermatitis seboroik pada bayi terletak di daerah lipatan atau dewasa pada persisten recalcitrant seborrheic dermatitis. Topikal azole dapat dikombinasikan dengan regimen desonide (dosis tunggal perhari selama dua minggu)3. Akan tetapi penggunaan kortikosteroid topikal ini memiliki efek samping pada kulit dimana dapat terjadi atrofi, teleangiectasi dan dermatitis perioral7. Topikal inhibitor calcineurin (misalnya oinment tacrolimus (Protopix), krim pimecrolimus (Elidel)) memiliki efek fungisidal dan anti inflamasi tanpa resiko atropi kutaneus. Inhibittor calcineurin juga baik untuk terapi dimana wajah dan telinga terlibat, tetapi efeknya baru bisa dilihat setelah pemberian tiap hari selama seminggu3. 2.Keratolitik Terapi lain untuk dermatitis seboroik dengan menggunakan keratolitik. Keratolitik yang secara luas dipakai untuk dermatitis seboroik adalah tar, asam salisiklik dan shampo zinc pyrithion. Zinc pyrithion memliki efek keratolitik non spesifik dan anti fungi, dapat diberikan dua atau tiga kali per minggu. Pasien sebaiknya membiarkan rambutnya dengan shampo tersebut selama lima menit agar shampo mencapai kulit kepala. Pasien dapat menggunakannya juga untuk tempat lain yang terkena seperti wajah3. 3.Anti fungi Sebagian besar anti jamur menyerang Malassezia yang berkaitan dengan dermatitis seboroik. Dosis satu kali sehari gel ketokonazol (Nizoral) dalam dua minggu, satu kali sehari regimen desonide (Desowan) dapat berguna untuk dermatitis seboroik pada wajah. Shampo yang mengandung selenium sulfide (Selsun) atau azole dapat dipakai. Shampo tersebut dapat diberikan dua sampai tiga kali seminggu. Ketokonazole (krim atau gel foaming) dan terbinfin (Lamisil) oral dapat berguna. Anti jamur topikal lainnya seperti ciclopirox (Loprox) dan flukonazole (Diflucan) mempunyai efek anti inflamasi juga3. Anti jamur (selenium sulfide, pytrithion zinc, azola, sodium sulfasetamid dan topical terbinafin) dapat menurunkan kolonisasi oleh ragi lipopilik1. 4.Pengobatan Alternatif Terapi alami menjadi semakin popular. Tea tree oil (Melaleuca oil) merupakan minyak essensial dari seak belukar Australia. Terapi ini efektif dan ditoleransi dengan baik jika digunakan setiap hari sebagai shampo 5%3. 1.Penatalaksanaan dermatitis seboroik pada kulit kepala dan daerah jenggot Banyak kasus dermatitis seboroik di kulit kepala dapat diterapi secara efektif dengan memakai shampo tiap hari atau berselang satu hari dengan shampo anti ketombe yang mengandung 2,5 persen selenium 5

sulfide atau 1-2 persen pyrithione zinc. Alternatif lain shampo ketoconazole dapat dipakai. Shampo sebaiknya mengenai kulit kepala dan daerah jenggot selama 5 sampai 10 menit sebelum dibilas. Shampo moisturizing dapat dipakai setelah itu untuk mencegah kerontokan rambut. Setelah penyakit dapat dikendalikan frekuensi memakan shampo dapat dikurangi menjadi dua kali seminggu atau seperlunya. Solusio topical terbinafin 1 % efektif untuk terapi dermatitis seboroik pada kulit kepala1. Jika kulit kepala tertutupi oleh skuama difus dan tebal, skuama dapat dihilangkan dengan memberikan minyak mineral hangat atau minyak zaitun pada kulit kepala dan dibersihkan dengan deterjen seperti dishwashing liquid atau shampoo tar beberapa jam setelahnya1. Skuama ekstensif dengan peradangan dapat diterapi dengan moistening kulit kepala dan kemudian memberikan fluocinolone asetonid 0,01% dalam minyak pada malam hari diikuti dengan shampo pada pagi harinya. Terapi ini dilakukan sampai dengan peradangan bersih, kemudian frekuensinya diturunkan menjadi satu sampai tiga kali seminggu. Solusio kortikostreroid, losion atau ointment dipakai satu atau dua kali sehari di tempat fluocinolon acetonid dan dihentikan pada saat gatal dan eritema hilang. Pemberian kortikosteroid dapat diulang satu sampai tiga minggu sampai gatal dan eritemanya hilang dan kemudian dipakai lagi jika diperlukan. Pemeliharaan dengan shampo anti ketombe dapat secara adekuat. Pasien dianjurkan agar memakai steroid topikal poten dengan hemat sebab pemakaian yang berlebihan dapat menyebabkan atrofi dan telangiectasi pada kulit1. Bayi sering terkena dermatitis seboroik, disebut cradle cap. Dapat mengenai kulit kepala, wajah dan intertrigo. Daerah yang terkena dapat luas tetapi kelainan ini dapat sembuh secara spontan 6-12 bulan dan tidak kambuh sampai dengan pubertas. Terapinya dapat dengan memakai shampo antiketombe. Jika skuama mencakup daerah luas pada kepala, skuama dapat dilembutkan dengan minyak yang disikan ke sikat rambut bayi kemudian dibilas1. 2.Penatalaksanaan pada wajah Daerah pada wajah yang terkena dapat sering di cuci dengan shampo yang efektif untuk seborik. Alternatif lain dapat dipakai kream ketokonazone 2%, diberikan 1-2 kali. Hidrokortison 1% sering kali diberikan 1-2 kali dan akan menghasilkan proses resolusi eritema dan gatal. Losion Sodium sulfacetamide 10% juga efektif sebagai agen topikal untuk dermatitis seboroik. 3.Penatalaksaan pada tubuh Dapat diterapi dengan zinc atau shampo yang mengandung tar batu bara atau dengan dicuci dengan sabun yang mengandung zinc. Sebagai tambahan dapat dipakai krim ketokonazole 2 % dan atau krim kortikosteroid, losion atau solusion yang dipakai 1-2 kali sehari. Benzoil peroksida dapat dipakai untuk dermatitis seboroik pada tubuh. Pasien harus membilas secara menyeluruh setelah pemakaian zat tersebut1. 4.Penatalaksanaan dermatitis seboroik berat Pada pasien dengan dermatitis seboroik berat yang tidak responsif dengan terapi topikal yang biasa dapat di terapi dengan isotretionoin. Isotretinoin dapat menginduksi pengecilan glandula sebasea sampai dengan 90% dengan mengurangi produksi sebum. Isotretinoin juga dapat dipakai sebagai anti inflamasi. Terapi dengan isotretinoin 0,1 0,3 mg/ kg BB/ hari dapat memperbaiki dermatitis seboroiknya. Kemudian dosis pemeliharaan 5-10 mg/ hari efektif untuk beberapa tahun. Akan tetapi isotretinoin memiliki efek samping serius, yaitu teratogenik, hiperlipidemia, neutropenia, anemia dan hepatitis. Efek samping mukokutaneus mencakup khelitis, xerosis, konjungtivitis, uretritis dan kehilangan rambut. Penggunaan jangka panjang berhubungan dengan perkembangan diffuse idiopathic 6

skeletal hyperostosis (DISH) 1. Pendekatan lain pada pasien yang sulit dengan mencoba berbagai macam kombinasi yang berbeda dari obat-obat yang biasa dipakai: shampo anti ketombe, anti jamur dan steroid topikal. Jika ini gagal dapat dipakai steroid topikal poten jangka pendek . Pilihan terapinya mencakup steroid kelas III non fluorinate seperti mometasone furoate (Elocon) atau menggunakan steroid ekstra poten kelas I atau steroid topikal kelas II seperti clobetasol propionate (Temovate) atau fluocinonude (Lidex). Steroid topikal kelas III harus dipakai lebih dulu, tetapi jika masih tidak resposif dapat menggunakan kelas I. Obat tersebut dapat diberikan satu sampai dua kali sehari, bahkan untuk wajah, tetapi harus dihentikan setelah dua minggu sebab terjadinya peningkatan efek samping. Jika pasien respon sebelum dua minggu, obat harus di stop sesegera mungkin1. Sebagian besar kortikosteroid tersedia sebagai solusio, losion, kream dan ointment. Penggunaan vehikulum ini tergantung pasien dan lokasi terapi. Losion dan kream sering digunakan pada wajah dan tubuh sedangkan solusio dan ounment sering digunakan pada kulit kepala. Umumnya pemakaian solusio kulit kepala lebih dipilih pada orang kulit putih dan asia, untuk orang kulit hitam mungkin terlalu kering, ointment merupakan pilihan yang lebih baik1. G. Saran Penderita harus diberitahu bahwa penyakit berlangsung kronik dan sering kambuh. Harus dihindari factor pencetus seperti stress emosional, makanan berlemak dan sebagainya5. H. Prognosis Pada sebagian kasus yang mempunyai factor konstitusi penyakit ini agak sukar disembuhkan6. DAFTAR PUSTAKA 1.Johnson, B. A., Nunley, J. R., 2000, Treatment of Seborrheic Dermatitis, American Family Physician Vol. 61/ No. 9 (May 1, 2000). 2.Scheinfeld, N. S., 2005, Seborrheic Dermatitis, SKINmed. 2005; 4 (1): 49-50. 2005 Le Jacq Communications, Inc, http://www.medscape.com/viewarticle/499706 3.Schwartz, R. A., Janusz, C. A., Janniger, C. K., 2006, Seborrheic Dermatitis: An Overview, University of Medicine and Dentistry at New Jersey-New Jersey Medical School, Newark, New Jersey, American Family Physician, Volume 74, Number 10 July 1, 2006, www.aafp.org/afp 4.Selden, S., 2005, Seborrheic Dermatitis, http://www.emedicine.com 5.Harahap, M., 2000, Dermatitis seboroik pada buku Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates, Jakarta. 6.Djuanda, A., 1999, Dermatosis eritroskuamosa dalam buku Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketiga, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 7.Gupta, A. K., Bluhm, R., 2004, Coclopirox Shampoo For Treating Seborrheic Dermatitis, Skin Therapy Left 9(6):4-5, http://www.medscape.com. 7

8. Ardhie, A. M, 2004, Dermatitis dan Peran Steroid dalam Penanganannya, DEXA MEDIA, No. 4, Vol. 17, Oktober - Desember 2004

Pendahuluan Dermatitis seboroik di Indonesia dikenal dengan sebutan ketombe. Ketombe merupakan suatu kondisi kelainan pada kulit yang sangat umum, sehingga dikatakan bahwa semua orang pernah mengalaminya. Dermatitis seboroik atau Ketombe ini terlihat seperti lapisan kulit kering yang mati, dan sekitarnya terlihat merah muda tanda dari peradangan pada kulit. Fakta tentang Dermatitis Seboroik Mengenai seluruh orang, tidak memandang umur, ras, dan jenis kelamin Ada orang yang menderita dermatitis seboroik sepanjang hidupnya Dapat terjadi pada permukaan kulit yang berambut seperti kepala, bagian dalam telinga, alis, jambang, kumis, jenggot, bahkan di dada Bisa terjadi terus menerus atau hilang timbul Dermatitis seboroik tidak menular, namun ditengarai merupakan kasus yang diturunkan. Walau pun bukan masalah emergency, ketombe dapat sangat mengganggu dan bisa mengeluarkan biaya yang tidak sedikit Penyebab Dermatitis Seboroik Penyebab pasti dari Ketombe ini belum diketahui sampai sekarang. Tapi dimungkinkan terkait dengan meningkatnya produksi minyak pada kulit, tipe kulit yang berminyak, dan ada peran dari jamur di kulit. Namun demikian, Ketombe bukan disebabkan oleh jamur. Sementara bakteri juga tidak pernah ditemukan sebagai penyebab dari Ketombe. Sistem imun ditengarai juga memegang peranan penting dari kejadian dermatitis seboroik. Sehingga sering terjadi pada orang yang menderita Parkinson, atau penyakit lemahnya sistem imun lain seperti HIV/AIDS. Dermatitis seboroik dapat juga dipicu dan diperparah oleh buruknya higienitas kulit kepala. Misalnya pada orang yang malas mencuci dan menyampo rambutnya. Dan stres juga ternyata pernah diteliti sebagai kemungkinan penyebab tumbuh suburnya Ketombe pada seseorang. Perjalanan Penyakit Banyak orang yang tidak mengalami peradangan pada kulitnya, namun hanya mengeluh adanya serpihan putih pada kulitnya, yang biasanya terlihat pada permukaan baju berwarna gelap Banyak yang datang ke dokter bermula dari keluhan kulit yang kering tapi tidak bereaksi dengan pemberian lotion biasa. Bagi yang mengalami peradangan, dapat merasakan gatal, dan rasa panas seperti terbakar. Rasa gatal pada dermatitis seboroik dapat membuat orang tidak berhenti-hentinya menggaruk. Bagi yang menderita dermatitis seboroik yang kronis, kasusnya kadang tidak bisa disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan menjaga higienitas kulit kepala atau yang berambut. Pada kondisi lembab penderita akan merasa keluhannya lebih bertambah. Gejala Klinis Dermatitis Seboroik 1. Adanya serpihan putih yang terlihat pada permukaan pakaian yang berwarna gelap 2. Gatal pada kulit kepala 3. Kulit kepala yang berminyak 4. Kulit muka yang kering dan bersisik 5. Sering mengalami dermatitis pada kulit telinga bagian dalam

6.

Merah pada bagian yang berambut di daerah muka (alis, kumis, jenggot, jambang)

Penarikan Diagnosis Dermatitis Seboroik Ketombe biasanya sangat gampang didiagnosis. Namun pada kasus khusus mungkin memerlukan pemeriksaan kerokan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop. Tujuannya untuk memastikan bukan disebabkan oleh jamur. Pemeriksaan darah atau bahkan biopsi kulit juga dapat dilakukan untuk memastikan bukan karena penyakit psoriasis atau lupus. Berikut penyakit-penyakit lainnya yang mungkin memiliki gejala seperti dermatitis seboroik: 1. Psoriasis 2. Lupus 3. Tinea capitis (jamur pada kulit kepala) 4. Dermatitis alergi 5. Pruritus 6. Seborosacea (kombinasi antara psoriasis dan seboroik) 7. Kelainan sistem imun lainnya Kapan mencari Pertolongan Medis 1. Bila Ketombe menjadi semakin banyak dan tidak terkontrol; hingga membuat rambut rontok. 2. Rasa gatal tidak dapat tertahankan; hingga terasa nyeri. 3. Bila sudah mengganggu kegiatan mengganggu sosialisasi. 4. Untuk kasus ketombe yang tidak bisa hilang, harus rajin kontrol ke dokter kulit, paling tidak 2x setahun. Penanganan Dermatitis Seboroik Dilakukan Sendiri Menggunakan beberapa jenis shampoo, cream, dan lotion; dapat mengatasi ketombe yang membandel. Pakailah shampoo yang juga mengandung anti jamur seperti ketokonazole, selenium sulfide. Mencuci kepala setiap hari secara rutin, dan bukan hanya kepala tapi seluruh bagian tubuh yang mungkin bisa ditumbuhi ketombe. Bila ketombe tumbuh pada alis, dapat menggunakan shampo bayi. Peradangan di kulit sekitarnya dapat menggunakan cream yang dijual bebas (OTC). Misalnya hydrocortisone yang dipakai 2 sampai 3 kali sehari. Hindari memakai topi, atau helm dalam waktu yang lama. Diresepkan oleh Dokter Setelah dipastikan bahwa diagnosisnya adalah dermatitis seboroik maka dokter akan memberikan obatobatan sebagai berikut: 1. Shampo anti jamur 2. Shampo steroid 3. Cleanser anti bakteri 4. Cream dan lotion anti inflamasi 5. Kombinasi dari sediaan yang ada; karena telah dipahami memiliki hasil yang lebih baik. 6. Pada kasus berat, dapat diberikan obat steroid minum Pencegahan Menjaga higienitas kulit kepala dan rambut Secara teratur cuci kepala dan bagian yang sering ditumbuhi ketombe setiap hari.

10

Mengenal Lebih Dekat Penyakit Dermatitis Seboroik

Apa itu Dermatitis Seboroik?


Dermatitis Seboroik (Seborrhoeic Dermatitis, Seborrheic Dermatitis) merupakan peradangan permukaan kulit berbentuk lesi squamosa (bercak disertai semacam sisik), bersifat kronis, yang sering terjadi di area kulit berambut dan area kulit yang banyak mengandung kelenjar sebasea ( kelenjar minyak, lemak ), seperti kulit kepala, wajah, tubuh bagian atas dan area pelipatan tubuh (ketiak, selangkangan, pantat).
ANGKA KEJADIAN

30MEI

Prevalensi Dermatitis Seboroik diperkirakan sekitar 3-5 %. Jika ketombe yang merupakan Dermatitis Seboroik ringan ditambahkan, angka kejadian mencapai 15-20 %. Dermatitis Seboroik dapat dialami oleh semua ras.
Berdasarkan usia, Dermatitis Seboroik dapat terjadi pada semua umur, terutama usia pubertas hingga usia 40 tahun. Pada bayi, Dermatitis Seboroik kerap dijumpai di area kepala dan pelipatan tubuh. Berdasarkan jenis kelamin, Dermatitis Seboroik sedikit lebih banyak dialami pria ketimbang wanita. PENYEBAB

Penyebab Dermatitis Seboroik hingga kini belum diketahui secara pasti. Faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab Dermatitis Seboroik, antara lain: infeksi jamur Malassezia ovale, faktor imunologi, iklim, genetik, lingkungan, hormonal, dan aktifitas kelenjar sebasea yang berlebihan.Selain
itu, beberapa obat-obat tertentu diduga memicu terjadinya Dermatitis Seboroik, seperti: auranofin, aurothioglucose, buspirone, chlorpromazine, cimetidine, ethionamide, griseofulvin, haloperidol, interferon alfa, lithium, methoxsalen, methyldopa, phenothiazines, psoralens, stanozolol, thiothixene, dan trioxsalen. GEJALA

Dermatitis Seboroik relatif mudah dikenali karena tandanya yang khas, yakni dijumpainya krusta (bercak disertai semacam sisik) berminyak.
Gejala Pada Bayi:

11

Di area kepala (bagian depan dan samping) ditandai: krusta tebal, pecah-pecah, berwarna kekuningan dan berminyak. Tanda ini disebut cradle cap karena bentuknya yang mirip topi menutupi kulit kepala. Di bagian tubuh yang lain, ditandai: ruam berwarna kemerahan, merah kekuningan, dengan krusta berminyak yang menutupi permukaannya.
Gejala Pada Dewasa:

Keluhan gatal Peradangan pada area seboroik dengan gambaran berbagai bentuk lesi, berwarna kemerahan atau kekuningan disertai dengan adanya skuama, krusta, basah berminyak, dan bisa juga kering. Residif (mudah kambuh) dan bersifat kronis. Diduga behubungan dengan faktor stress, kelelahan, sinar matahari dan iklim.
PENGOBATAN

Pada dasarnya, pengobatan Dermatitis Seboroik ditujukan untuk menghilangkan penyebabnya, jika penyebabnya diketahui, dan untuk meredakan gejalanya.

Antihistamin untuk meredakan gatal dan reaksi alergi, misalnya: Loratadine 10 mg, Cetirizine 10 mg atau antihisamin golongan lainnya. Steroid, digunakan pada Dermatitis Seboroik yang berat. Pada pemakaian jangka lama, steroid digunakan secara tappering down, yakni dosis obat diturunkan secara bertahap dan berkala. Antibiotika, digunakan jika Dermatitis Seboroik disertai infeksi sekunder oleh kuman akibat garukan, gesekan, dan lain-lain.
Obat Topikal ( obat luar: salep, krim, gel, lotion, shampo, dll )

Obat Minum ( sistemik ):

Krim atau salep steroid. Pada area wajah digunakan steroid potensi rendah agar kulit wajah tidak menipis pada penggunaan jangka lama.
12

Krim atau salep yang mengandung asam salisilat 2-5%, atau sulfur 4%, atau ter 2%, atau ketokonazole 2%, atau obat kombinasi. Shampo yang mengandung asam salisilat, sulfur, selenium sulfida 2%, zinc pirition 1-2 %. Digunakan untuk keramas 2-3 kali seminggu selama 5-10 menit, kemudian dibilas dengan air bersih.

PENCEGAHAN

Sedapat mungkin penderita Dermatitis Seboroik mengamati pemicu timbulnya kekambuhan. Jika sudah mengenali pemicunya, diupayakan untuk mencegah paparan faktor pemicu.
Pada umumnya penderita Dermatitis Seboroik mengalami kesulitan mengenali pemicu timbulnya kekambuhan. Hal ini wajar mengingat beragamnya faktor-faktor pemicu. Kalaupun faktor pemicunya dapat dikenali, tak jarang penderita sulit menghindarinya, terutama jika faktor-faktor pemicu tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, misalnya stress, iklim dan sejenisnya. Fakta tentang Dermatitis Seboroik

Mengenai seluruh orang, tidak memandang umur, ras, dan jenis kelamin Ada orang yang menderita dermatitis seboroik sepanjang hidupnya Dapat terjadi pada permukaan kulit yang berambut seperti kepala, bagian dalam telinga, alis, jambang, kumis, jenggot, bahkan di dada Bisa terjadi terus menerus atau hilang timbul Dermatitis seboroik tidak menular, namun ditengarai merupakan kasus yang diturunkan. Walau pun bukan masalah emergency, ketombe dapat sangat mengganggu dan bisa mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Kasus

Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun mengeluh kulit kepala bagian belakang seperti ada luka berwarna putih dan kadang-kadang gatal sejak 1 tahun yang lalu. Pasien sering meggaruk-garuk jika gatal. Gatal terutama dirasakan pada saat beraktivitas atau berkeringat. Kemudian mulai timbul seperti luka berwarna putih yang semakin meluas pada kulit kepala. Pasien berkeramas dengan shampoo setiap 1-2 hari sekali, tetapi masih tetap gatal. Pasien belum pernah berobat sebelumnya. Pasien punya riwayat penyakit
13

kulit yang lain, kaki penderita sering gatal-gatal sejak kecil.Dari


pemeriksaan fisik didapatkan Keadaan Umum baik, kesadaran composmentis. Pemeriksaan fisik secara umum dalam batas normal. Status Dermatologi Makula Eritematosa numular batas tidak tegas dengan skuama kasar berwarna putih regional pada kulit kepala bagian belakang. Penyebab Dermatitis Seboroik(tambahan)

Penyebab pasti dari Ketombe ini belum diketahui sampai sekarang. Tapi dimungkinkan terkait dengan meningkatnya produksi minyak pada kulit, tipe kulit yang berminyak, dan ada peran dari jamur di kulit. Namun demikian, Ketombe bukan disebabkan oleh jamur. Sementara bakteri juga tidak pernah ditemukan sebagai penyebab dari Ketombe.Sistem imun ditengarai juga memegang peranan penting dari kejadian
dermatitis seboroik. Sehingga sering terjadi pada orang yang menderita Parkinson, atau penyakit lemahnya sistem imun lain seperti HIV/AIDS. Dermatitis seboroik dapat juga dipicu dan diperparah oleh buruknya higienitas kulit kepala. Misalnya pada orang yang malas mencuci dan menyampo rambutnya. Dan stres juga ternyata pernah diteliti sebagai kemungkinan penyebab tumbuh suburnya Ketombe pada seseorang.

Perjalanan Penyakit

Banyak orang yang tidak mengalami peradangan pada kulitnya, namun hanya mengeluh adanya serpihan putih pada kulitnya, yang biasanya terlihat pada permukaan baju berwarna gelap Banyak yang datang ke dokter bermula dari keluhan kulit yang kering tapi tidak bereaksi dengan pemberian lotion biasa. Bagi yang mengalami peradangan, dapat merasakan gatal, dan rasa panas seperti terbakar. Rasa gatal pada dermatitis seboroik dapat membuat orang tidak berhenti-hentinya menggaruk. Bagi yang menderita dermatitis seboroik yang kronis, kasusnya kadang tidak bisa disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan menjaga higienitas kulit kepala atau yang berambut. Pada kondisi lembab penderita akan merasa keluhannya lebih
14

bertambah.
Gejala Klinis Dermatitis Seboroik(tambahan)

Adanya serpihan putih yang terlihat pada permukaan pakaian yang berwarna gelap Gatal pada kulit kepala Kulit kepala yang berminyak Kulit muka yang kering dan bersisik Sering mengalami dermatitis pada kulit telinga bagian dalam Merah pada bagian yang berambut di daerah muka (alis, kumis, jenggot, jambang)
Penarikan Diagnosis Dermatitis Seboroik

Ketombe biasanya sangat gampang didiagnosis. Namun pada kasus khusus mungkin memerlukan pemeriksaan kerokan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop. Tujuannya untuk memastikan bukan disebabkan oleh jamur. Pemeriksaan darah atau bahkan biopsi kulit juga dapat dilakukan untuk memastikan bukan karena penyakit psoriasis atau lupus.Berikut penyakit-penyakit lainnya yang mungkin memiliki
gejala seperti dermatitis seboroik: 1. Psoriasis 2. Lupus 3. Tinea capitis (jamur pada kulit kepala) 4. Dermatitis alergi 5. Pruritus 6. Seborosacea (kombinasi antara psoriasis dan seboroik) 7. Kelainan sistem imun lainnya Kapan mencari Pertolongan Medis?

1. Bila Ketombe menjadi semakin banyak dan tidak terkontrol; hingga membuat rambut rontok. 2. Rasa gatal tidak dapat tertahankan; hingga terasa nyeri. 3. Bila sudah mengganggu kegiatan mengganggu sosialisasi. 4. Untuk kasus ketombe yang tidak bisa hilang, harus rajin kontrol ke dokter kulit, paling tidak 2x setahun.
15

Penanganan Dermatitis Seboroik Dilakukan Sendiri

Menggunakan beberapa jenis shampoo, cream, dan lotion; dapat mengatasi ketombe yang membandel. Pakailah shampoo yang juga mengandung anti jamur seperti ketokonazole, selenium sulfide. Mencuci kepala setiap hari secara rutin, dan bukan hanya kepala tapi seluruh bagian tubuh yang mungkin bisa ditumbuhi ketombe. Bila ketombe tumbuh pada alis, dapat menggunakan shampo bayi. Peradangan di kulit sekitarnya dapat menggunakan cream yang dijual bebas (OTC). Misalnya hydrocortisone yang dipakai 2 sampai 3 kali sehari. Hindari memakai topi, atau helm dalam waktu yang lama.
Diresepkan oleh Dokter

Setelah dipastikan bahwa diagnosisnya adalah dermatitis seboroik maka dokter akan memberikan obat-obatan sebagai berikut: 1. Shampo anti jamur 2. Shampo steroid 3. Cleanser anti bakteri 4. Cream dan lotion anti inflamasi 5. Kombinasi dari sediaan yang ada; karena telah dipahami memiliki hasil yang lebih baik. 6. Pada kasus berat, dapat diberikan obat steroid minum

16