Anda di halaman 1dari 24

WELDING PROCEDURE

WELDING PROCEDURE ( Prosedur Pengelasan / Fabrikasi pemipaan )

1. LINGKUP Spesifikasi ini merupakan persyaratan-persyaratan pekerjaan konstruksi dan inspeksi untuk sistem pemipaan pada pekerjaan PENGGANTIAN MAIN LINE DAN FLOW LINE DI FIELD JATIBARANG. 2. KODE DAN STANDAR Kode dan standard yang dipakai sebagai referensi untuk fabrikasi dan pemasangan semua sistem pemipaan dan perlengkapannya harus sesuai yang tercantum pada edisi terakhir dari kode-kode dan standard berikut ini : ASME Boiler and and Pressure Vessel Code Section IX ANSI B.31.4. ( Liquid Petroleum Transportatioin Piping System ) ANSI B.31.1. ( Power Piping ) ANSI B.31.8 ( Gas Transmission and Distribution Piping ) API STD. 1104 ( Flow Line ).

3. BAHAN-BAHAN Bahan-bahan pipa harus sesuai dengan klarifikasi pipa yang ditunjukkan didalam diagram pipa dan instrument. Bahan-bahan pipa tersebut ialah : 3.1. ASTM A.53 Grade B atau yang sejenis. 4. PROSEDUR PENGELASAN 1. Pada prinsipnya pengelasan dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dan prosedur pengelasan yang telah disetujui. 2. Prosedur pengelasan harus diuji sesuai dengan metode-metode tersebut dalam ASME Boiler and Pressure Vessel Code Section IX. Prosedur pengelasan yang telah ditetapkan dan disetujui oleh Client atau PERTAMINA tidak dapat diganti /dirubah lagi tanpa persetujuan dari Client dan PERTAMINA. 3. Semua pengelasan termasuk tack welding harus dilaksanakan oleh juru-juru las yang telah lulus ujian kualifikasi juru las. 4. Semua alat-alat dan material las harus sesuai dengan kebutuhan dan harus dalam keadaan baik, agar dapat menghasilkan suatu produk pengelasan yang sama/seragam. Kawat las harus disimpan ditempat penyimpanan sesuai rekomendasi pabrik (Oven dan Ing dryer). 5. Sambungan-sambungan pipa disusun dan dilas bersamaan pada jalur pipa dan semua pengelasan pipa sedemikian rupa sehingga mempunyai kekuatan yang sama dengan pipa sendiri dan mutu dari pengelasan sesuai dengan spesifikasi.

6. Semua ujung pipa yang akan disambung dengan las harus dipotong serong (bevel) di workshop atau dilapangan, sehingga membentuk sudut dengan besar sesuai ketebalan pipanya dengan root face sebesar 1,6 mm kurang lebih 0,8 mm, apabila dilaksanakan dilapangan bisa menggunakan beveling machine, atau alat potong oxygen. 7. Untuk penyetelan yang baik, akan dipakai internal atau eksternal clamp, internal line up clamp akan dipakai apabila memnungkinkan dan clamp tidak akan dilepas sebelum pengelasan Root Bead selesai 100% atau di Tack weld dengan cukup. 8. Prosedur pengelasan a. Metode pengelasan, semua pekerjaan dilapangan dipakai shield metal arc process. Multiple joint welding dapat dikerjakan secara manual atau dengan automatic process dengan dilengkapi prosedur yang sedang qualified dan disetujui oleh PERTAMINA. b. Electrode : Electrode yang dipilih disesuaikan dengan ketentuan untuk pengelasan berlapis dan yang disetujui oleh Client & PERTAMINA. c. Kualitas welding electrode harus dipilih sesuai dengan kegunaannya untuk pengelasan flow line, seperti yang direkomendasikan oleh pabriknya. d. Tacking (Penyematan) : kalau menggunakan internal clamps, tacking dengan cara pengelasan tidak diijinkan, jika penyematan dengan las digunakan (untuk tie-ins dan fitting ) maka harus diperhitungkan untuk pembuatan stinger beadnya dan kualitas yang dibutuhkan.

d. Stringer Bead, stringer bead harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga mengikat kedua ujung pipa dengan sempurna. Pipa-pipa tidak boleh pindahkan/bergerak sebelum stringer beads selesai. e. Hot Pass, interval waktu antara stringer bead dan hot pass harus diperhatikan sesuai dengan spesifikasi materialnya yang telah disetujui oleh PERTAMINA, paling tidak dua lapis (passes) harus dilengkapi pada setiap lasan. f. Filler Pass, semua filler pass harus diselesaikan pengerjaannya sebelum dimulai dengan pekerjaan filler pass berikutnya. Pada pembuatan filler pass, haru s dibuat overlap dengan filler pass terdahulu. g. Cover Pass, adalah melengkapi pekerjaan pengelasan. Permukaan cover pass harus disikat dan dibersihkan sebaik-baiknya untuk inspeksi. Lebar dari pengelasan yang dihasilkan tidak diperkenankan melebihi dari 3.2 mm. h. Perlindungan, pekerjaan pengelasan harus dapat diselesaikan menurut kualitas yang dikehendaki, maka perlu mengatasi gangguan kondisi cuaca antara lainkelembaban, angin membawa pasir atau angin besar. Perlu dibuat penghalang angin atau tenda untuk pekerjaan pengelasan. i. Kecuali pertimbangan lain ditambahkan disini, semua pengelasan mengikuti ketentuanketentuan pada API STANDARD 1104. j. Diutamakan pada pekerjaan pengelasan, setiap juru las harus qualified sesuai dengan Api Standard 1104, atau section IX ASEM BOILER AND PRESSURE VESSL Code for Welding Qualification. Tenaga welder tidak boleh bekerja di tempat lain yang tidak sesuai dengan spesifikasi testnya. k. Untuk pengelasan dilapangan tidak boleh dilaksanakan apabila keadaan cuaca tidak baik, seperti hujan lebat, angin besar yang dapat merugikan mutu pengelasan. Apabila memungkinkan akan dipakai penahan angin yang cocok untuk pengelasan. l. Baik tack welding maupun pengelasan-pengelasan harus dilaksanakan oleh juru las yang telah lulus pengujian kualifikasi juru las. m. Semua pengelasan posisi harus dilaksanakan dengan ruang kerja yang cukup disekitar sambungan, hingga juru las dapat menghasilkan pengelasan produksi yang bermutu tinggi. Dalam satu lokasi tidak boleh ada 2 lapis las.

5. CARA PEMOTONGAN PIPA 5.1. Pemotongan pipa harus dilaksanakan dengan memperhatikan bahan pipa, gambar pipa dan cara-cara pemotongan : 5.2. Jika perlu agar dipersiapkan gambar sket. 5.3. Pemberian tanda pada pipa yang sudah terpasang harus dengan menggunakan kapur atau cat khusus. 5.4. Pemotongan pipa baja karbon harus dilakukan dengan menggunakan High Speed Cutting Machine dan atau Oxygen Cutting Equipment. 5.5. Jika menggunakan High Speed Cutting Machine, maka pipa harus dijaga agar tidak rusak, misalnya retak atau bentuk lingkaran berubah karena terlampau kuatnya ikatan dari jack. 5.6. Pemotongan dengan Oxygent Cutting Equipment harus dilakukan tepat pada garis tanda dan dengan memutar pipa secara manual. 5.7. Sistem sambungan pada cabang pipa harus dilakukan sebagai berikut : 5.7.1. Bentuk ujung dari branch pipe yang dilaksanakan pada main pipe harus disesuaikan dengan diameter luar dari main pipe. 5.7.2. Bentuk ujung dari branch pipe yang dilaksanakan pada main pipe harus diberi tanda. 5.7.3. Cara membuat lubang untuk branch pipe yang harus dibuat pada main pipe, harus menggunakan Oxygent Cutting Equipment atau bor. 5.7.4. Lubang untuk boss pada main pipe harus dibor. Ukuran mata bor harus sama dengan diameter dalam dari boss. 5.8. Sesudah pemotongan, semua slag yang timbul harus dibersihkan. Pemotongan yang tidak baik harus diratakan. 5.9. Jika Kontraktor akan memotong pipa yang sudah terpasang maka harus disaksikan oleh Pemilik Proyek.

6. PERSIAPAN UNTUK BIDANG PERMUKAAN YANG AKAN DILAS 6.1. Bidang permukaan untuk butt-welding harus dihaluskan dengan menggunakan gerinda. Untuk membuat bevel boleh digunakan gas oxygen cutting tool. Jika menggunakan Manual Cutting, maka bidang permukaan potongan harus digerinda. Tetapi jika menggunakan automatic atau semi automatic cutting machine, maka bidang permukaan potongannya harus dikikir untuk bidang potong yang tidak harus diratakan. 6.2. Sesudah bidang-bidang permukaan ini selesai dikerjakan, maka pipa harus dipersiapkan sedemikian rupa hingga diameter dalamnya bisa distel dengan garis sumbu peralatanperalatan mekanis. 6.3. Jika ukuran diameter pipa bagian dalam tidak rata, maka harus diretakan. 6.4. Bidang permukaan untuk butt-welding ini harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum didalam Welding Procedure Qualification Test Specification (WPS) atau ANSI B. 36.10. 6.5. Bidang permukaan yang akan dilas ini harus bersih dan bebas karat, scale atau bahanbahan lain yang akan merusak hasil lasan.

6.6. Untuk pengelasan pipa-pipa yang mempunyai tebal tidak sama, maka root faces antara kedua ujungnya harus sama. Untuk beda ketebalan yang besar, maka bagian dalamnya untuk penyediaan harus ditrim. 6.7. Root opening dari sambungan harus sesuai dengan Welding Procedure Qualification Test Specification (WPS). 7. CARA-CARA MENYUSUN SAMBUNGAN 7.1. Penyambungan harus dilakukan dengan menggunakan jigs dan tack walded. Bidang permukaan komponen-komponen yang akan dilas harus didekatkan satu sama lain. 7.2. Jika akan menyambung pipa atau komponen-komponen pipa, maka jigs harus ditempatkan dan dilas sedekat mungkin dengan bevel. Setelah girth welded selesai, maka welding marks pada komponen harus segera dibuang jika terjadi notch maka harus digerinda sampai halus, dilas kembali dan diratakan, hingga ukuran semula dapat dipertahankan. 7.3. Kawat las yang digunakan untuk tack weld dan production weld . 7.4. Jika tebal pipa kurang dari 4/16, maka penyambungan dapat diklakukan tanpa menggunakan jigs. 8. PENGELASAN 8.1. Semua tukang las yang dipekerjakan dalam proyek ini harus lulus test sesuai dengan Tata Cara Pengelasan dan Pengkwalifikasi Tukang Las, yang dapat dilihat pada bagian lain dan merupakan satu kesatuan dari pekerjaan ini. 8.2. Semua cat, karet , kotoran , scale yang akan mempengaruhi hasil lasan harus dibuang. 8.3. Pipa-pipa yang akan disambung satu sama lain harus distel dan diberi spasi (jarak) dengan teliti. 8.4. Root bead pass harus dilakukan secara penuh melingkari keliling pipa dan harus dibersihkan terhadap adanya Scale, Coating, Slag, dan lain-lain. Hal ini harus dikerjakan sebelum bead berikutnya dilaksanakan. 8.5. Jika hari hujan atau cuaca buruk, maka pengelasan harus dilindungi sedemikian rupa dan harus diperhatikan agar lasan tidak mengalami perubahan suhu secara mendadak. Jika menurut perkiraan Pemilik Proyek, keadaan cuaca tidak baik untuk pengelasan, maka pekerjaan harus dihentikan. 8.6. Bidang permukaan hasil lasan harus tidak menunjukan adanya Coarse ripple, Grooves, Overlaps, Abrupt ridges, Valleyes. 8.6.1. Kondisi permukaan dari hasil lasan harus memungkinkan untuk interpretasi radiography secara benar atau untuk melaksanakan non Destructif test. 8.6.2. Undercuts tidak boleh melebihi 1/32 ( 0,8 mm ) dan tidak boleh menyebabkan tercapainya tebal minimum. 8.6.3. Jika permukaan hasil lasan perlu penggerindaan, maka agar diperhatikan jangan sampai mengurangi ukuran atau menyebabkan berkurangnya ukuran tebal pipa dari tebal minimumnya. 8.7. Semua cacat pada lasan yang perlu direparasi harus dihilangkan dengan cara yang sesuai, yaitu seperti dengan menggunakan Flame atau Arc gauging, Grinding chipping atau Machining.

Prosedur untuk mereparasi lasan sama dengan prosedur waktu mengelas mula-mula, walaupun ukuran dan contournya berbeda. Cara-cara pemeriksaan dan batasa-batasan lainnya yang diberlakukan untuk lasan yang diperbaiki ini, sama dengan las-lasan aslinya. 9. PREFABRIKASI 9.1. Sebelum menggunakan prefabrikasi, maka piping block-nya harus ditentukan sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari Pemilik Proyek. Piping block harus didasarkan atas berat dan bentuknya, sehingga mudah untuk diangkut dan diangkat atau dipasang tanpa mengalami kesulitan. 9.2. Pelaksanaan prefabrikasi harus menggunakan tapesquare atau carpenters square, level, spacer, dan lain-lain untuk mendapatkan presisi. 9.3. Penyetelan Flange; 9.3.1. Penyetelan flanges terhadap pipa harus memeperhatikan orientasi lubang-lubang baut dan lubang-lubang baut yang terletak pada garis horizontal. 9.3.2. Sebelum fabrikasi Flanges yang harus dipasang langsung pada equipment nozzle atau pada valve yang dipasang langsung pada equipment nozzle, lubang-lubang bautnya harus disesuaikan dengan lubang baut yang terdapat pada equipment nozzle flange. 9.4. Untuk mencegah timbulnya perubahan posisi akibat pengelasan, jika perlu di pakai reinforcement. 9.5. Pipe block harus difabrikasi secara lengkap tanpa meninggalkan adanya sambungansambungan atau boss yang belum dilas. 9.6. Pipa block yang sudah selesai difabrikasi bagian dalamnya harus di flush atau furged dengan air atau udara sampai bersih. Sesudah dibersihkan, pipe block harus ditutup dengan tape yang sesuai agar kotoran-kotoran atau air tidak masuk kedalamnya.

HYDROSTATIC TEST PROCEDURE

HYDROSTATIC TEST PROCEDURE

1. Ruang Lingkup

Prosedur ini menjelaskan cara-cara kebutuhan dasar untuk melakukan pengujian dengan tekanan atau Hydrostatic Test terhadap jalur pipa pada proyek PENGGANTIAN MAIN LINE DAN FLOW LINE DI FIELD JATIBARANG.

2. Kode dan Standard

Kode dan standard yang digunakan adalah edisi terakhir, kecuali yang telah ditentukan lain di prosedur ini, tetap sebagai bagian dari prosedur ini. Semua pengujian Hydrostatic Test ini akan dikerjakan menurut standard sebagai berikut : - API Standard 1104 - ANSI Standard for Pipe lines and Related facilities. American National Standard Institute

Liquid transportation system for hydrocarbons, liquid petroleum gas anhydrous ammonia and alcohols. B 16.5 - ASME Pipe flanges and Flanged fittings. American Society of Technical Engineers, Section V Non Destructive Examination. - 84 K/38/DJM/1998 Keputusan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

3. Program Test

Uji tekan pada flow line dapat dilaksanakan apabila : Pekerjaan konstruksi jalur pipa telah selesai seluruhnya. Hasil penyambungan pipa, Lowering-in, back filling telah dinyatakan baik dan diterima oleh Pertamina. Prosedur pengujian yang diajukan oleh kontraktor sudah disetujui oleh Pertamina. Air yang dipakai adalah air tawar / air bersih, yang ditest kadar PH nya tidak boleh lebih dari 6, Chemical Inhibitor akan ditambahkan bila perlu.

4. Persiapan Test

Sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu pipa yang akan diuji harus dalam keadaan bersih. Semua sambungan-sambungan dengan peralatan lain harus dilepas. Pada pelaksanaan Hydrostatic Test ini jika terdapat katup / valve yang tidak digunakan untuk pengetesan harus dilepas dan diganti dengan temporary spool:

Adapun urutan pekerjaan yang akan dilaksanakan antara lain :

Pembersihan bagian dalam pipa dengan menggunakan angin / udara dari compressor. Pengisian pipa dengan air bersih / tawar yang telah disetujui Pertamina. Menaikkan tekanan sesuai dengan spesifikasi.

Peralatan ( instrument ) untuk mencatat data-data selama Hydrostatic Test dilaksanakan. Equipment yang masih berfungsi baik harus sudah disiapkan seperti :

1. Fresh Water Source 2. Water Filling Pump 3. Pressure Raising Pump 4. Air Compressor 5. Pressure & Temperatur Chart Recorder 6. Pressure Gauge 7. Thermometer ( untuk pengukuran temperatur udara luar ) 8. SW Flange Gasket 9. Check Valve

10. Electrical Source or Generator Set

Khusus untuk item no. 4, 5 & 6 telah dikalibrasi dan memenuhi sertifikasi kalibrasi. Pelaksanaan pengujian juga didasarkan pada kekuatan jenis material pipa yang telah disetujui dan besarnya tekanan pengujian adalah 1,5 x design pressure atau yang telah ditentukan oleh PERTAMINA = 750 Psig.

5. Hydrostatic Testing / Pelaksanaan Pengujian Dengan Hydrostatic 5.1. Sebelum dilakukan pengetesan yang diperiksa jalur pipa yang akan di test, apakah sudah selesai sesuai yang direncanakan. 5.2. Area dimana jalur pipa yang akan di test harus diberi tanda atau batas yang jelas dan hanya petugas yang berwenang yang boleh masuk daerah tersebut. 5.3. Pompa air akan dipakai untuk mengisi air kedalam pipa dengan jumlah yang cukup. 5.4. Air yang dipergunakan adalah air baru tawar ( air bersih ) yang telah di test kadar PH nya dan sudah disetujui oleh Pertamina, Chemical Inhibitor akan ditambahkan, bila perlu. 5.5. Kecepatan air pengisian lebih kecil dari 1 M / detik 5.6. Tekanan uji / Pressure Test ditentukan sebagai berikut : 1. 1,5 x Design Pressure, atau 2. 1,5 x Max. Operating Pressure.

5.7. Pressure Test dan Waktu Test Pelaksanaan test dilakukan secara bertahap sebagai berikut :

1. 30 % x Pressure Test ditahan selama 10 menit 2. 60 % x Pressure Test ditahan selama 10 menit 3. 100 % x Pressure Test ditahan selama 10 menit (dilakukakan pemeriksaan tanpa direcord) 4. 100 % x Pressure Test dan direcord selama 4 ( empat ) jam. 5.8. Nilai tekanan pada kedua Pressure Gauge dicatat setiap interval 15 Menit. 5.9. Selama tekanan 100% Pressure Test, agar dilakukan pemeriksaan kemungkinan adanya kebocoran pada sambungan-sambungan antara lain sambungan pipa, Flange to flange, Blind flange dan lainlain. 5.10. Dalam pengetesan digunakan minimal 1 ( satu ) Pressure Gauge ( Telah dikalibrasi ) dengan range Pressure Gauge 1.5 sampai maximum 2x Pressure test dan 1 ( satu ) temperatur gauge dengan range 0 - 50 C. 5.11. Bila terjadi kebocoran maka tekanan didalam pipa harus dikeluarkan secara bertahap sampai titik Atmosphere, selanjutnya dilakukan perbaikan pada kebocoran tersebut. 5.12. Sesudah perbaikan dilakukan, pengujian diulangi lagi mulai butir 5.7 dan 5.8 sampai pengujian baik dan diterima Pertamina.

6. Record Data-data pengetesan / Hydrostatic Test tercantum informasi sebagai berikut : 6.1. Tanggal Test 6.2. Line test of pipe 6.3. Tekanan uji / Pressure Test 6.4. Temperature Test 6.5. Waktu test 6.6. Media yang dipakai 6.7. Pressure gauge yang dipakai

6.8. Temperature gauge yang dipakai 6.9. Pelaksanaan pengetesan 6.10. Pelaksanaan pengetesan 6.11. Disaksikan oleh PERTAMINA EP 6.12. Disaksikan oleh jasa inspeksi teknik ( bila diperlukan )

7. Dewatering (Pengeluaran Air)

7.1. Flow Line

a. Sesudah pengujian Hydrostatic Test selesai dilakukan dan disetujui oleh pihak Pertamina secara baik, maka air akan dikeluarkan dari dalam pipa dan didorong oleh udara dengan memakai air compressor. b. Air akan dikeluarkan melalui pipa sementara dan ditempatkan pada tempat yang diijinkan/disetujui oleh Pertamina. c. Ujung pipa yang mana didalamnya mengandung air yang akan dikeluarkan ditutup dengan karton ( kertas tebal ), agar pada saat penekanan oleh compressor dapat menghasilkan pembersihan yang baik. d. Air yang akan dikeluarkan akan disambungkan dengan drain yang dilengkapi dengan alat penampung air. e. Sistem pengeluaran air ini akan diatur dilapangan sesuai dengan petunjuk dan instruksi pengawas Pertamina.

8. Keselamatan Kerja

a. Uji tekan harus dilaksanakan oleh kontraktor. b. Semua peralatan pengetesan / pengujian seperti water pump, Pressure Indicator, Temperature Indicator, Recorder dan lain-lain harus ditempatkan di suatu tempat/area yang sama, selama kondisi memungkinkan untuk memudahkan memonitor pelaksanaan pengetesan. c. Selama pengetesan berlangsung harus selalu dimonitor oleh petugas yang ditugaskan untuk pengetesan tersebut. d. Menggunakan kelengkapan keselamatan kerja bagi pekerja yang terlibat langsung.

CONSTRUCTION METHOD METODE KERJA / STRATEGI PENANGANAN PROYEK PIPING WORK FOR DUMAI CRUDE OIL KAP.20.000.KL

CONSTRUCTION METHOD METODE KERJA / STRATEGI PENANGANAN PROYEK

PIPING WORK FOR DUMAI CRUDE OIL KAP.20.000.KL

A. 1.

PEKERJAAN PERSIAPAN

Penyelidikan secara cermat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan lokasi pekerjaan, problem yang mungkin timbul, selama pengadaan bahan/material, pengaruh cuaca/musim selama konstruksi, keadaan tanah, peraturan-peraturan, undang-undang dan hukum yang berlaku. Survey langsung di lokasi pekerjaan sebagai persyaratan design engineering dan pembuatan gambar-gambar konstruksi.

2.

3. 4. 5. 6.

Pembuatan dan Persetujuan Construction Drawing berdasarkan basic design dan standard yang telah dipersiapkan oleh Client. Pemborong akan melakukan Inspeksi dan Verifikasi bersama-sama pihak Client terhadap Material yang disupply sebelum dilaksanakan pekerjaan. Pemborong akan membuat kantor sementara sebagai pusat sentralisasi laporan kerja dan tempat koordinasi selama pelaksanaan pekerjaan. Reqruitment tenaga kerja non skill dari lokasi sekitar kerja dengan tidak menutup kemungkinan penerimaan tenaga skill lokal jika ada. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kerja dan pendekatan dengan penduduk sekitar sehingga tidak menimbulkan kesenjangan sosial atau menekan timbulnya masalah. Pembuatan ijin-ijin kerja dan ijin masuk baik untuk tenaga kerja, peralatan maupun material dengan pihak Client maupun dengan Pemerintah setempat. Penyediaan Transportasi selama pekerjaan berjalan. Pembuatan format-format laporan sebagai bahan pendukung data dalam meeting koordinasi, progress dari seluruh tahapan pekerjaan mulai dari engineering hingga selesainya pekerjaan konstruksi.

7. 8. 9.

10. Melakukan Koordinasi antara Tim Pelaksana dengan Pengawas Lapangan, untuk selanjutnya dibuatkan Rencana Kerja Lapangan. 11. Stand-up Metting akan diadakan setiap hari dengan dihadiri LKKK sebagai langkah koordinasi kerja 12. Pelaksanaan Training & Welder Test a. Dalam hal ini Welder Training akan dilaksanakan sebelum suatu pekerjaan dilakukan pengelasan. Welder Training dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 minggu sampai kondisi juru las itu yakin dalam meghadapi welder test yang akan dilaksanakan oleh pemborong atau Client. b. Welder Training disini bisa juga dilakukan untuk menghadapi pelaksanaan WPS/PQR. c. WPS/PQR didalam pelaksanaan pekerjaan pengelasan harus sudah ada disyahkan oleh DIRJEN Minyak dan Gas Bumi lebih dulu baru pelaksanaan pekerjaan pengelasan dilapangan diijinkan/laksanakan. Kondisi juru las diusahakan prima untuk menghadapi WQT (Welder Qualification Test). Dalam pelaksanaan WPS/PQR yang perlu digaris bawahi adalah dalam uji terhadap spesification bahan yang telah ditentukan dari Client. d. WQT hanya dilaksanakan untuk welder yang sertifikatnya sudah tidak berlaku, bagi yang masih berlaku cukup dengan Production Test. e. Bila PERTAMINA telah memiliki WPS/PQR sesuai dengan spesifikasi material yang ada, maka kami akan memakai sebagai referensi teknis pelaksanaan pekerjaan 13. Material :

a. Procurement Material termasuk pengadaan Equipment disesuaikan dengan Project Schedule. b. Cara Penyimpanan Material : Pemborong akan mengusahakan cara-cara penyimpanan dari material-material sebaik-baiknya seperti fitting, valve, plate-plate dan sebagainya dilapangan. Material-material yang disimpan tersebut hendaknya di letakan secara baik, diberi landasanlandasan kayu atau benda lain sedemikian rupa sehingga aman terhadap kerusakan, dan kotor oleh tanah.

c. Plate-plate dan baja profil yang dipakai harus memenuhi persyaratan fisik dan komposisi kimia sesuai ASTM A.283 Grade C atau SS.400, Revisi terakhir. Hanya baja-baja dari open hearth atau electric furnace yang akan dipakai.

B. PEKERJAAN KONSTRUKSI

FABRIKASI PEMIPAAN

1. LINGKUP

Spesifikasi ini merupakan persyaratan-persyaratan pekerjaan konstruksi dan inspeksi untuk sistem pemipaan.

2. KODE DAN STANDAR

Kode dan standard yang dipakai sebagai referensi untuk fabrikasi dan pemasangan semua sistem pemipaan dan perlengkapannya harus sesuai dengan peraturan-peraturan yang disebutkan didalam : ANSI : American National Standard Institute Code for Pressure Piping.

ASME : American Society of Mechanical Engineers Boiler and Pressure Vessel Code, yaitu sebagai berikut :

2.1. Jalur Pipa ANSI : B. 36.10

3. BAHAN-BAHAN

Bahan-bahan pipa harus sesuai dengan klarifikasi pipa yang ditunjukkan didalam diagram pipa dan instrument. Bahan-bahan pipa tersebut ialah :

3.1. ASTM A.53 Grade B atau yang sejenis.

4. CARA PEMOTONGAN PIPA

4.1. Pemotongan pipa harus dilaksanakan dengan memperhatikan bahan pipa, gambar pipa dan cara-cara pemotongan :

4.2. Jika perlu agar dipersiapkan gambar sket.

4.3. Pemberian tanda pada pipa yang sudah terpasang harus dengan menggunakan kapur atau cat khusus.

4.4. Pemotongan pipa baja karbon harus dilakukan dengan menggunakan High Speed Cutting Machine dan atau Oxygen Cutting Equipment.

4.5. Jika menggunakan High Speed Cutting Machine, maka pipa harus dijaga agar tidak rusak, misalnya retak atau bentuk lingkaran berubah karena terlampau kuatnya ikatan dari jack.

4.6. Pemotongan dengan Oxygent Cutting Equipment harus dilakukan tepat pada garis tanda dan dengan memutar pipa secara manual.

4.7. Sistem sambungan pada cabang pipa harus dilakukan sebagai berikut :

4.7.1. Bentuk ujung dari branch pipe yang dilaksanakan pada main pipe harus disesuaikan dengan diameter luar dari main pipe.

4.7.2. Bentuk ujung dari branch pipe yang dilaksanakan pada main pipe harus diberi tanda.

4.7.3. Cara membuat lubang untuk branch pipe yang harus dibuat pada main pipe, harus menggunakan Oxygent Cutting Equipment atau bor.

4.7.4. Lubang untuk boss pada main pipe harus dibor. Ukuran mata bor harus sama dengan diameter dalam dari boss.

4.8. Sesudah pemotongan, semua slag yang timbul harus dibersihkan. Pemotongan yang tidak baik harus diratakan.

4.9. Jika Kontraktor akan memotong pipa yang sudah terpasang maka harus disaksikan oleh Pemilik Proyek.

5. PERSIAPAN UNTUK BIDANG PERMUKAAN YANG AKAN DILAS

5.1. Bidang permukaan untuk butt-welding harus dihaluskan dengan menggunakan gerinda. Untuk membuat bevel boleh digunakan gas oxygen cutting tool. Jika menggunakan Manual Cutting, maka bidang permukaan potongan harus digerinda. Tetapi jika menggunakan automatic atau semi automatic cutting machine, maka bidang permukaan potongannya harus dikikir untuk bidang potong yang tidak harus diratakan.

5.2. Sesudah bidang-bidang permukaan ini selesai dikerjakan, maka pipa harus dipersiapkan sedemikian rupa hingga diameter dalamnya bisa distel dengan garis sumbu peralatanperalatan mekanis.

5.3. Jika ukuran diameter pipa bagian dalam tidak rata, maka harus diratakan.

5.4. Bidang permukaan untuk butt-welding ini harus memenuhi syarat-syarat yang tercantum didalam Welding Procedure Qualification Test Specification (WPS) atau ANSI B. 36.10.

5.5. Bidang permukaan yang akan dilas ini harus bersih dan bebas karat, scale atau bahan-bahan lain yang akan merusak hasil lasan.

5.6. Untuk pengelasan pipa-pipa yang mempunyai tebal tidak sama, maka root faces antara kedua ujungnya harus sama. Untuk beda ketebalan yang besar, maka bagian dalamnya untuk penyediaan harus ditrim.

5.7. Root opening dari sambungan harus sesuai dengan Welding Procedure Qualification Test Specification (WPS).

6. CARA-CARA MENYUSUN SAMBUNGAN

6.1. Penyambungan harus dilakukan dengan menggunakan jigs dan tack walded. Bidang permukaan komponen-komponen yang akan dilas harus didekatkan satu sama lain.

6.2. Jika akan menyambung pipa atau komponen-komponen pipa, maka jigs harus ditempatkan dan dilas sedekat mungkin dengan bevel. Setelah girth welded selesai, maka welding marks pada komponen harus segera dibuang jika terjadi notch maka harus digerinda sampai halus, dilas kembali dan diratakan, hingga ukuran semula dapat dipertahankan.

6.3. Kawat las yang digunakan untuk tack weld dan production weld harus sesuai dengan yang ada didalam WPS 7 PQR.

6.4. Jika tebal pipa kurang dari 4/16, maka penyambungan dapat diklakukan tanpa menggunakan jigs.

7. PENGELASAN

7.1. Semua tukang las yang dipekerjakan dalam proyek ini harus lulus test sesuai dengan Tata Cara Pengelasan dan Pengkwalifikasi Tukang Las, yang dapat dilihat pada bagian lain dan merupakan satu kesatuan dari pekerjaan ini.

7.2. Semua cat, karet , kotoran , scale yang akan mempengaruhi hasil lasan harus dibuang.

7.3. Pipa-pipa yang akan disambung satu sama lain harus distel dan diberi spasi (jarak) dengan teliti = 3 mm.

7.4. Root bead pass harus dilakukan secara penuh melingkari keliling pipa dan harus dibersihkan terhadap adanya Scale, Coating, Slag, dan lain-lain. Hal ini harus dikerjakan sebelum bead berikutnya dilaksanakan.

7.5. Jika hari hujan atau cuaca buruk, maka pengelasan harus dilindungi sedemikian rupa dan harus diperhatikan agar lasan tidak mengalami perubahan suhu secara mendadak. Jika menurut perkiraan Pemilik Proyek, keadaan cuaca tidak baik untuk pengelasan, maka pekerjaan harus dihentikan.

7.6. Bidang permukaan hasil lasan harus tidak menunjukan adanya Coarse ripple, Grooves, Overlaps, Abrupt ridges, Valleyes.

7.6.1. Kondisi permukaan dari hasil lasan harus memungkinkan untuk interpretasi radiography secara benar atau untuk melaksanakan non Destructif test.

7.6.2. Undercuts tidak boleh melebihi 1/32 ( 0,8 mm ) dan tidak boleh menyebabkan tercapainya tebal minimum.

7.6.3. Jika permukaan hasil lasan perlu penggerindaan, maka agar diperhatikan jangan sampai mengurangi ukuran atau menyebabkan berkurangnya ukuran tebal pipa dari tebal minimumnya.

7.7. Semua cacat pada lasan yang perlu direparasi harus dihilangkan dengan cara yang sesuai, yaitu seperti dengan menggunakan Flame atau Arc gauging, Grinding chipping atau Machining.

Prosedur untuk mereparasi lasan sama dengan prosedur waktu mengelas mula-mula, walaupun ukuran dan contournya berbeda. Cara-cara pemeriksaan dan batasa-batasan lainnya yang diberlakukan untuk lasan yang diperbaiki ini, sama dengan las-lasan aslinya.

8. PREFABRIKASI

8.1. Sebelum menggunakan prefabrikasi, maka piping block-nya harus ditentukan sesuai dengan petunjuk-petunjuk dari Pemilik Proyek. Piping block harus didasarkan atas berat dan bentuknya, sehingga mudah untuk diangkut dan diangkat atau dipasang tanpa mengalami kesulitan.

8.2. Pelaksanaan prefabrikasi harus menggunakan Tapsquare atau carpenters square, level, spacer, dan lain-lain untuk mendapatkan presisi.

8.3. Penyetelan Flange;

8.3.1. Penyetelan flanges terhadap pipa harus memeperhatikan orientasi lubang-lubang baut dan lubang-lubang baut yang terletak pada garis horizontal.

8.3.2. Sebelum fabrikasi Flanges yang harus dipasang langsung pada equipment nozzle atau pada valve yang dipasang langsung pada equipment nozzle, lubang-lubang bautnya harus disesuaikan dengan lubang baut yang terdapat pada equipment nozzle flange.

8.4. Untuk mencegah timbulnya perubahan posisi akibat pengelasan, jika perlu di pakai reinforcement.

8.5. Pipe block harus difabrikasi secara lengkap tanpa meninggalkan adanya sambungansambungan atau boss yang belum dilas.

8.6. Pipa block yang sudah selesai difabrikasi bagian dalamnya harus di flush atau furged dengan air atau udara sampai bersih. Sesudah dibersihkan, pipe block harus ditutup dengan Tap yang sesuai agar kotoran-kotoran atau air tidak masuk kedalamnya.

C. LAIN-LAIN

PENGECATAN
1. Pengecatan dikerjakan sesuai dengan spesifikasi yang telah disetujui PERTAMINA RU-II Dumai.

2. Pemborong akan menyediakan semua material, pengawas dan pekerja yang berpengalaman dalam bidang pengecatan. 3. Metarial cat yang tiba di Site harus dalam keadaan baik, tertutup rapat menurut aslinya, merek dan nomor/macam warna dan cat tidak boleh dibuka jika belum siap untuk dipakai. Dalam penyimpanan dan pemakaian temperatur harus dijaga diatas 35 F. Pencampuran/Pengadukan bahan harus mengikuti petunjuk pabrik pembuatnya. Pekerjaan Pencampuran dilakukan sewaktu siap melakukan pekerjaan pengecatan, agar tidak merubah mutu hasil pengecatan yang disebabkan karena persiapan pemakaian cat terlalu lama.

4.

5. Usahakan seluruh permukaan yang akan dicat terbebas dari kotoran dan karat-karat. 6. Setiap lapis pengecatan diusahakan mempunyai ketebalan yang merata tidak berpori, arah gerakan melengkung atau melingkar. Jika ada permukaan yang akan disempurnakan, harus ditunggu hingga lapisan dalam keadaan kering. 7. Tidak diperbolehkan dilakukan pengecatan jika temperatur permukaan besi dibawah 50 F, dan ketebalan relatif diatas 85%. 8. Hasil pengecatan kering dari setiap lapisan pengecatan akan diukur ketebalannya dengan alat non destructive film thickness gauge, demikian juga dengan ketebalan totalnya, untuk menjamin hasilnya sesuai spesifikasi.

9. Waktu Pengeringan diantara lapisan adalah 24 jam pada temperature 70 F. 10. Setelah lapisan pengecatan paling atas selesai, diperlukan waktu pengeringan minimum 3 (tiga) hari sebelum dioperasikan.

KEAMANAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


1. Pemborong akan melengkapi semua keperluan perangkat keamanan untuk pelaksanaan sesuai dengan spesifikasi pekerjaan mekanikal umunya.

2. Perangkat keamanan yang dibutuhkan PPE standard antara lain, Safety helmet, Safety shoes, safety body hardness, masker, safety gougle, penutup telinga, dll. 3. Pekerja-pekerja yang melakukan pekerjaan di dalam ruang tertutup agar menggunakan safety hardness dan pekerjaan-pekerjaan tersebut jangan melalui pekerjaannya selama masih ada orang lain di daerah tersebut.

4. Tempat untuk istirahat, supaya disediakan pada daerah-darah yang telah ditentukan.

COATING & WRAPPING PROCEDURE

COATING & WRAPPING PROCEDURE

1. Lingkup

Spesifikasi dan prosedur berikut meliputi persyaratan-persyaratan yang diperlukan oleh proyek. Prosedur ini akan digunakan untuk pekerjaan PENGGANTIAN MAIN LINE DAN FLOW LINE DI FIELD JATIBARANG.

2. Persyaratan Dasar Teknis Pekerjaan

Sebagai persyaratan dasar teknis untuk lingkup pekerjaan ini, mengikuti standard sebagai berikut : 2.1. ANSI 2.2. API ( American National Standard Institute ) ( American Petroleum Institute )

Spesifikasi ini adalah dipakai sebagai standard dan pedoman secara umum dalam melaksanakan pekerjaan. Apabila ada persyaratan yang menyangkut hal khusus termasuk dalam spesifikasi ini, maka hal tersebut akan diperhatikan sepenuhnya oleh kontraktor. Kontraktor akan berpedoman pada spesifikasi ini dalam hal mengambil keputusan.

3. Material

Semua material yang akan disediakan oleh kontraktor, dalam keadaan baru ( bukan barang bekas ) dan harus sesuai dengan spec, sebelum dipasang material harus disetujui oleh PERTAMINA terlebih dahulu.

Permukaan luar dari pipa Trunk Line 6 underground harus di coating dan wrapping dengan benarbenar baik, untuk perlindungan mekanikal maupun untuk perlindungan korosi.

4. Penyimpanan Material

a. Material harus disimpan dan atau dipindahkan/ di transport masih dalam kemasan asli dari pabrik, dalam gudang atau kendaraan yang tertutup / terlindungi dan kering hingga saat pemakaiannya. b. Trunkline Coating tape dalam rol pabrik atau dalam dus / karton akan ditumpuk tidak melebihi ketinggian 2 M. c. Material ini akan dipindahkan / ditransfer dengan cara mengangkat dan meletakkan tanpa memakai hook (pengait) sling, kabel atau barang tajam lainnya.

5. Persiapan Permukaan Pipa

a. Permukan pipa yang akan di coating harus dibersihkan terlebih dahulu. b. Pembersihan permukaan pipa yang diperbolehkan diantaranya meliputi : Pembersihan bekas percik las, kerak las, karat, ujung-ujung yang tajam dengan mengikir, menggerinda, sikat baja atau dengan metode lain yang sesuai / disetujui.

6. Metoda-metoda dan Prosedur untuk Pemakaian Primer pada Pipa

a. Primer pipa akan dicatkan pada pipa dengan cara manual dan memakai kuas yang cocok atau sesuai prosedur pabrik. b. Pemakaian primer pipa ini adalah 1 ( satu ) liter untuk kira-kira 10 ( sepuluh ) M atau sesuai kebutuhan untuk mencakup seluruh permukaan pipa.

Untuk mengetahui apakah pembersihan atau pengecatan dengan primer sudah benar, dapat dilihat dengan mengorek primer dengan pisau, apabila masih terlihat karat atau kotor dan lain-lain dibawah lapisan primer, berarti pembersihan masih kurang baik, atau primer kurang atau kedua-duanya sehingga harus diperbaiki lagi oleh kontraktor.

7. Metoda-metoda dan Prosedur untuk Pemakaian Wrapping Material pada Pipa

a. Tape coating dipasang pada pipa harus dengan cara spiral wrapped dengan maximal 1 edge overlap untuk pipa diameter < 12. b. Tape Coating harus dilingkar-lingkarkan dengan rata dan kencang,dan tarikan pada tape harus tetap sehingga tidak berlebihan dan tidak kurang. Hasil coating ini tidak boleh ada keriput-keriput atau membentuk kantong udara, coating tape harus seluruhnya langsung kontak dengan permukaan pipa secara rata. c. Pelaksanaan tape coating ini harus sedemikian rupa sehingga overlap tape coating bagian dalam terletak ditengah-tengah / sepertiga tape coating bagian luar. d. Ujung tape dari roll yang baru harus mempunyai overlap sedikitnya 230 mm pada roll yang terdahulu. Ujung terakhir suatu roll akan dipasang tanpa tarikan dan diletakkan dengan ditekan-tekan dengan tangan. Sudut spiralnya harus parallel dengan yang terdahulu.

8. Inspeksi

a. Tape coating yang sudah dipasang harus diperiksa oleh kontraktor dengan memakai Holiday Detector tegangan tinggi, segera sebelum pipa dimasukkan kedalam galian dan disaksikan oleh PERTAMINA. b. Tegangan uji minimum yang menembus tape coating ( antara electrode detector dan pipa ) adalah 7000 volt. c. Kecepatan jalan dari Holiday Detector ini adalah kira-kira 30 meter / menit, dan tidak boleh didiamkan / dibiarkan ditempat apabila alat ini dalam keadaan jalan / hidup. d. Holiday Detector ini akan diadakan dan dijalankan oleh kontraktor. e. Semua kebocoran dan kerusakan coating harus diberi tanda yang jelas, segera setelah diketahui melalui Holiday Detector maupun melalui pemeriksaan visual. f. Semua kebocoran dan kerusakan coating tersebut harus diperbaiki sesuai dengan spesifikasi ini, oleh kontraktor. g. Pemeriksaan visual ini juga termasuk pengawasan pada overlap.

9. Perbaikan pada Coating

a. Semua kebocoran, kerusakan pada coating begitu ditemukan / diketahui, harus segera diperbaiki oleh kontraktor. b. Prosedur untuk memperbaiki kerusakan coating dengan luas sekitar 100 cm kebawah : Buang seluruh coating yang rusak dengan mempergunakan pisau yang tajam. Dengan memakai pisau yang tajam, coating pada sekitar tempat bocor / rusak akan dipotong dengan rata dan dengan cara agar supaya bekas potongan berbentuk serong dengan panjang serongan minimum 3 mm. Pada lokasi yang akan diperbaiki pipa akan dicat lagi dengan primer sehingga melebihi sedikitnya 50 mm sekeliling luasnya. Biarkan dulu primer agar mengering hingga agak lekat kalau disentuh. Siapkan dan pasang sepotong tape coating dalam ( inner wrapp ) yang akan menutup sedikitnya 50 mm lebih luas dari lokasi yang rusak dan memasangnya sampai melilit / melingkar seluruh keliling pipa. Apabila dibutuhkan lebih dari 1 ( satu ) kali lebar, maka overlap satu dan lain harus sedikitnya 30 % dari lebar yang diperbaiki.

10. Coating pada Tie In dan Field Joint

a. Buanglah ujung-ujung coating yang rusak, permukaan pipa disikat atau digerinda sikat sehingga bersih dari semua kotoran karat dan lain-lainnya. Tonjolan-tonjolan, bekas potongan yang tajam, percik las dan lain-lain tonjolan-tonjolan tajam harus dihilangkan dengan memakai kikir dan gerinda atau alat lain yang cocok. b. Minyak gemuk dan olie harus dihilangkan dengan cara menghapus dengan lap yang diberi bahan pelarut yang tidak mengandung minyak antara lain dengan xylene,xylol atau naptha. c. Pipa yang sudah bersih diberi / dicat dengan primer sampai rata. Primer harus lewat sedikitnya 50 mm dari ujung yang terdekat dan dibiarkan hingga agak kering dan menjadi lekat apabila disentuh. d. Pipa yang sudah diprimer akan dibalut dengan cara CIGARETTE HAND WRAPPED dengan tape coating. Pada umumnya pipa dengan <= 12 Overlap = 1 dan pipa > 12 Overlap = 2.

e. Tiap lapisan dari tape coating harus dikerjakan dengan tarikan tangan yang cukup untuk mendapatkan hasil yang baik, mulus, rata, dan tidak ada keriput-keriput atau kantong udara atau tidak berhasil menempel langsung dengan rata pada permukaan sebelumnya. http://ojanelya.blogspot.com/2011/12/prosedur-radiography-test.html

Anda mungkin juga menyukai