Anda di halaman 1dari 4

Kategori Obat: Obat Anti Epilepsi Obat-obatan ini mencegah rekuerensi bangkitan dan mengakhiri aktivitas bangkitan elektris

dan klinis. L.1. Valproate Dianggap sebagai pilihan utama epilepsi general primer, mempunyai spectrum yang sangat luas dan efektif pada kebanyakan tipe kejang, termasuk kejang mioklonik. Mempunyai mekanisme kerja multipel termasuk meningkatkan kadar GABA dalam otak dan aktivitas saluran kalsium tipe-T. Untuk dewasa, dosis inisial valproat injeksi (100mg/ml vial) 10-15 mg/kgBB/hari, tingkatkan 5-20 mg/kgBB/minggu sampai maksimum dosis 60 mg/kgBB/hari atau sampai batas dosis yang ditoleransi; kecepatan pemberian iv 20 mg/menit. Sementara dosis oral sama dengan dosis injeksi. Sementara, untuk anak-anak, dosis inisial adalah 20 mg/kgBB/hari i.v, dan dosis pemeliharaan 30-60 mg/kg/hari iv.v. L.2. Phenytoin Efektif pada kejang tonik-klonik dan sering digunakan. Mempunyai efek samping jangka panjangnya berupa osteopenia dan ataksia serebelar. Mempunyai kinetika obat zero-order dan interaksi obat yang signifikan. Untuk dewasa, loading dose adalah 15-20 mg/kg/hari per oral atau i.v. Dosis pemeliharaan 5 mg/kg/hari per oral atau i.v, dengan kecepatan pemberian tidak melebihi 50 mg/kgBB. Sementara dosis inisial pediatrik adalah 5-7 mg/kgBB/hari per oral atau i.v, dengan dosis pemeliharaan 5-7 mg/kgBB/hari per oral atau i.v. L.3. Fenobarbital Salah satu oabt anti epilepsi utama yang digunakan sejak awal 1900-an. Sekarang diketahui bahwa obat ini dapat menyebabkan beberapa efek samping kognitif sehingga kemudian kurang disukai. Lebih menguntungkan diberikan dalam bentuk dosis sekali sehari, karena mempunyai waktu paruh yang sangat panjang. Dosis dewasa adalah 90 mg per oral terbagi dalam 4 dosis, ditingkatkan 30 mg/hari sampai dosis pemeliharaan biasanya adalah 90-120 mg/hari. Sementara itu, dosis inisial pediatric adalah 3-5 mg/kgBB/hari per oral, dengan dosis pemeliharaan 3-5 mg/kgBB/hari per oral. L.4. Karbamazepin

Obat antiepilesi generasi lama yang digunakan sebagai lini kedua bersama fenitoin. Efek samping adalah osteopenia. Dosis dewasa adalah 400-1200 mg/hari per oral, terbagi dalam 3 kali sehari. Dosis awal 5 mg/kgBB/hari per oral, dengan dosis pemeliharaan 15-20 mg/kgBB/hari per oral. L.5. Lamotrigine Obat anti epilepsi generasi lebih baru dengan spectrum kerja yang luas seperti valproat. FDA mengakuinya baik sebagai epilepsi general dan parsial primer. Mempunyai beberapa mekanisme kerja. Kekurangan utamanya adalah dosis harus ditingkatkan sangat perlahan dalam beberapa minggu untuk meminimalisasi kemungkinan timbulnya rash. Dosis dewasa untuk minggu pertama dan kedua adalah 50 mg/hari per oral; bila diberikan bersama dengan valproat (VPA), mulai dengan 25 mg 4 kali per hari. Pada minggu ketiga dan keempat, 100 mg/hari per oral dalam dosis terbagi; bila diberikan bersama VPA, 25 mg/hari. Tingkatkan 100 mg/hari dalam 4 minggu; bila diberikan bersama VPA, tingkatkan 25-50 mg tiap minggu. Dosis pemeliharaan tanpa VPA adalah 300-500 mg per oral dalam dosis terbagi. Sementara itu dosis pemeliharaan tanpa VPA adalah 100-200 mg/hari per oral. Untuk pediatrik, dosis inisial adalah 1-2 mg/kgBB/hari per oral. Dosis pemeliharaan adalah 5-10 mg/kgBB/hari per oral. Obat ini merupakan satu-satunya obat yang diakui oleh FDA untuk sindrom Lennox-Gastaut untuk pasien berusia kurang dari 16 tahun. L.6. Zonisamide Salah satu dari obat generasi baru yang memblok saluran kalsium tipe T, memperpanjang inaktivasi saluran natrium dan merupakan suatu inhibitor karbonik anhidrase. Dosis inisial dewasa adalah 100 mg/kg/hari per oral terbagai dalam 2 dosis, tingkatkan 100mg/hari/minggu sampai ke dosis pemeliharaan 100-300 mg dua kali sehari per oral. L.7. Felbamat Obat ini diakui oleh FDA untuk terapi kejang parsial refreakter dan sndrom Lennox-Gastaut. Mempunyai banyak mekanisme kerja, termasuk (1) inhibisi NMDA-associated sodium channels, (2) potensiasi aktivitas GABA-ergic, dan (3) inhibisi voltage-sensitive sodium channels. Hanya digunakan untuk kasus-kasus refrakter karena risiko anemia aplastik dan toksisitas hepar, sehingga dibutuhkan tes darah reguler. Dosis inisial dewasa adalah 600 mg tiga kali sehari per oral, tingkatkan 600-1200 mg/hari tiap minggu sampai dosis maksimum 1200-1600 mg tiga kali per hari per oral. L.7. Topiramat Obat anti epilepsi spektrumluas yang diakui untuk kejang tonik-klonik umum primer. Mekanisme kerjanya meliputi blok kerja state-dependent sodium channel, potensiasi aktivitas

inhibitorik dari neurotransmitter GABA, dapat memblok aktivitas glutamate, dan sebagai inhibitor karbonik anhidrase. Dosis dewasa adalah 50 mg/hari per oral, titrasi 50 mg/hari tiap interval 1 minggu sampai dosis target 200 mg 2 kali per hari. Sementara itu, dosis inisial pediatrik adalah 25 mg atau 50 mg/hari per oral; lakukan titrasi sampai dosis 6 mg/kg/hari. L.8. Levetiracetam Diindikasikan untuk kejang tonik-klonik primer pada dewasa dan anak usia 6 tahun atau lebih. Diindikasikan untuk kejang umum tonik klonik primer pada dewasa dan dan anak usia lebih dari 6 tahun. D. Gambaran Rekaman Ensefalografik (EEG) A. Fase Interiktal EEG saat sadar pasien dengan GTCS umumnya normal. Abnormalitas interiktal meliputispikes, sharp waves, polyspikes, dan polyspike atau spike-and-wave complexes. (Ko, 2007; Browne & Holmes, 2004) Aktivitas spike-and-wave yang cepat sering dihubungkan dengan GTCS Hiperventilasi, stimulasi fotik, dan saat tidur dapat meningkatkan kemungkinan menemukan abnormalitas EEG. (Ko, 2007) Paroxysmal frontal intermittent rhythmic delta activity (FIRDA) mungkin ditemukan pada beberapa pasien, terutama yang mempunyai riwayat absans, tetapi gelombang ini merupakan abnormalitas nonspesifik sehingga tidak dianggap epileptiform. 1. Fase Awal/Inisial Selama fase awal GTCS sekunder, EEG dapat memperlihatkan gelombang tajam atau gelombang lambat fokal. (Browne & Holmes, 2004) 1. Fase Tonik dan Fase Klonik Fase tonik kejang dikarakteristikkan dengan pola amplitudo letupan yang lebih tinggi dan frekuensi yang lebih rendah secara progresif yang diamati secara simultan pada kedua korteks hemisfer, mencapai maksimum 10 Hz. (Ko, 2007) Hal ini kemudian menjadi lebih lambat, bercampur dengan spike amplitudo tinggi bilateral, dan lebih banyak aktivitas ritme delta amplitudo tinggi. Gelombang-gelombang ini lambat, berkembang progresif menjadi kompleks aktivitas spike-and-slow-wave amplitudo tinggi repetitif pada fase klonik. (Ko, 2007) 1. Fase Post-Iktal EEG postiktal dapat isoelektris atau menunjukkan aktivitas gelombang delta amplitudo sangat rendah yang difus. Hal ini berkaitan dnegan hiperpolarisasi. (Ko, 2007; Browne & Holmes, 2004) 1. E. Pemeriksaan Penunjang Lainnya A. Pemeriksaan Laboratorium 1.1. Kadar prolaktin plasma, bila diperiksa dalam 10-20 menit saat kejang, meningkat 530 kali kadar normal. Kadar prolaktin plasama merupakan alat diagnosik yang berguna untuk menyingkirkan pseudoseizure yang menyerupai kejang tonik-klonik. Kadar prolaktin tidak

meningkat pada bangkitan absans, mioklonik, dan pada kejang parsial sederhana atau kompleks. (Ko, 2007) 1.2. Kadar hormon adrenokortikotropik (ACTH), kortisol, vasopresin, growth hormone, and endorfin beta serum juga meningkat post-iktal tetapi dalam durasi yang sangat singkat. Sehingga sulit dilacak secara klinis. (Ko, 2007) 1.3. Pada 15% pasien, terutama pada kejang yang berkepanjangan, mungkin didapatkan pleiositosis likuor (umumnya 10 sel/mm3 dan jarang sampai sebanyak 50 sel/mm3). (Ko, 2007) 1.4. Asidosis metabolik dan peningkatan kadar laktat dan kreatinin kinase sering ditemukan setelah kejang. (Ko, 2007) 1. Pemeriksaan Radiologis 2.1. Abnormalitas dalam CT scan ditemukan dalam 10% pasien dengan GTCS primer. Karena CT scan tidak mendeteksi kebanyakan jenis abnormalitas struktural congenital, MRI adalah pilihan pemeriksaan. (Ko, 2007) 2.2. Pada GTCS sekunder yang terjadi karena gangguan migrasi neuronal, yang dapat dideteksi MRI adalah lissencephaly, pachygyria, band atau laminar heterotopia,subependymal heterotopias, focal cortical dysplasia polymicrogyria, focal subependymal heterotopias, dan schizencephaly. (Ko, 2007) Pasien dengan GTCSs dan epilepsi general idiopatik tidak mempunyai bukti-bukti abnormalitas otak yang terlokalisir, regional, ataupun umum pada anamnesis, pemeriksaan fisik atau neurologis, tes laboratorium, atau pemeriksaan radiologis. (Ko, 2007) 1. F. Diagnosis Diferensial GTCS perlu dibedakan dengan sinkop dan pseudoseizure pada pasien dari segala usia. Pada anak-anak, GTCS perlu dibedakan dengan breath-holding spell dan sindrom QT memanjang. (Browne & Holmes, 2004) GTCS primer yang merupakan bagian dari epilepsi general atau idiopatik perlu dibedakan dengan kejang parsial yang menjadi GTCS sekunder sebagai bagian dari epilepsi fokal simptomatik. Dicurigai GTCS primer bila (a) tidak terdapat bukti gangguan struktural otak, (b) terdapat riwayat kejang dalam keluarga, (c) terdapat penyerta kejang mioklonik atau absans, (d) kejadian kejang biasanya segera setelah bangun tidur, (e) hentakan mioklonik bilateral saat onset kejang, dan (f) terdapat generalized spike-wave ataupolispike wave pada rekaman EEG interiktal. Dicurigai GTCS sekunder bila terdapat (a) aura, (b) tanda gangguan struktural otak (dari pemeriksaan fisik atau radiologis), (c) onset dengan gejala atau tanda kejang parsial sederhana, kejang parsial kompleks atau keduanya, dan (d) gelombang tajam atau lambat fokal pada rekaman EEG interiktal. (Browne & Holmes, 2004) Beberapa keadaan atau penyakit yang juga perlu dibedakan dengan GTCS adalah kejang parsial kompleks, gangguan keseimbangan, kejang demam, distonia, dan hiperventilasi. (Ko, 2007)