Anda di halaman 1dari 16

BAB 1.

Pendahuluan

Oksigen pertama kali dijadikan sebagai suatu cara pengobatan dalam perawatan pasien adalah pada tahun 1775 dimana lewat penemuan yang dilakukan oleh Joseph Priestley yang menyatakan bahwa adanya bukti pertukaran gas pada proses pernafasan. Dan baru pada tahun 1920 oksigen ditetapkan dapat digunakan sebagai terapi. Sejak saat itu, efek hipoksia lebih dimengerti dan pemberian oksigen pada pasien penyakit paru membawa dampak meningkatnya jumlah perawatan pasien. Setelah itu, penelitian berkembang dan memperlihatkan bahwa pemberian oksigen pada pasien-pasien dengan hipoksemia, dapat memperbaiki harapan hidup, hemodinamik paru, dan kapasitas latihan. Keuntungan lainnya oksigen dapat memperbaiki kor pulmonal, meningkatkan fungsi jantung, memperbaiki fungsi neuropsikatrik dan pencapaian latihan, mengurangi hipertensi pulmonal, dan memperbaiki metabolisme otot. Oksigen dapat diberikan temporer selama tidur maupun saat beraktivitas pada penderita hipoksemia. Pemberian oksigen pun berkembang 1ea rah ventilasi mekanik, pemberian oksigen di rumah. Pengembangan oksigen rawat jalan dapat mengurangi perawatan di rumah sakit.Tujuan utama terapi oksigen adalah untuk mencegah atau memperbaiki hypoxemia meskipun merugikan dan/atau jaringan hipoksia. Namun terapi tunggal oksigen mungkin tidak dibenarkan pada kasus hipoksia atau hipoksemia. Terapi tambahan oksigen diindikasikan untuk orang dewasa, anak-anak dan infants (usia lebih dari 1 bulan) ketika PaO2 (Tekanan Oksigen) adalah kurang dari 60 mm Hg (7.98 kPa) atau SaO2 kurang dari 90% pada saat pernapasan biasa. Terapi oksigen diperlukan ketika adanya dugaan hipoksia berdasarkan hasil pemeriksaan fisik atau riwayat penyakit kardiopulmonal yang ada. Pasien pasien dengan keadaan infark miokard, cardiopulmonal edema, Respiratory distress syndrome (ARDS), fibrosis pulmonal, keracunan sianida, atau keracunan karbonmonoksida membutuhkan juga terapi tambahan oksigen disamping pengobatan utama terhadap penyebab penyakitnya. Terdapatnya bukti bahwa terapi oksigen efektif dalam meningkatkan angka kehidupan pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Terapi oksigen juga mempunyai efek yang menguntungkan terhadap tekanan arteri pulmo rata rata pada kasus dispnue. Berikut ini adalah pemahaman mengenai mekanisme hipoksia, indikasi, efek terapi dan jenis pemberian oksigen serta evaluasi penggunaan oksigen tersebut.

BAB 2. ISI

Hipoksia Hipoksia jaringan terjadi ketika aliran oksigen tidak adekuat dalam memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Hal ini dapat terjadi kira-kira 4-6 menit setelah ventilasi spontan berhenti. Berdasarkan mekanismenya terjadinya, penyebab hipoksia jaringan yaitu: 1. Hipoksemia arteri (PO2 arterial rendah) 2. Aliran darah ke jaringan yang tidak adekuat (gagal jantung, emboli) 3. Konsentrasi hemoglobin yang rendah (anemia) 4. Keracunan penggunaan oksigen intraseluler (misalnya sianida) Jika aliran oksigen ke jaringan berkurang maka metabolisme akan berubah dari aerobic ke metabolisme anaerobic untuk menyediakan energy yang cukup untuk metabolisme. Apabila ada ketidakseimbangan, akan mengakibatkan produksi asam laktat berlebihan, menimbulkan asidosis dengan cepat, metabolisme seluler terganggu dan mengakibatkan kematian sel. Pemeliharaan oksigenasi jaringan tergantung pada 3 sistem organ yaitu system kardiovaskuler, hematologi, dan respirasi. Hipoksia Hipoksia Hipoksik Kategori Patofisiologi Hipoventilasi alveolar Kegagalan difusi paru Maslah pada paru Hipoksia Sirkulasi Hipoksia Anemik Hipoksia Histotoksik Penurunan Output Penurunan merah sel Contoh Penyakit Overdosis obat, PPOK ekaserbasi Emfisema, fibrosis paru Astma, emboli paru infark

Cardiac Gagal jantung, miokard darah Anemia

Sel tidak mampu Keracunan sianida menpergunakan Oksigen yang tersedia

Tabel 1. Klasifikasi hipoksia (Morgan 4th edition)

Manifestasi klinik hipoksia Bervariasi, tergantung lamanya hipoksia (akut atau kronik), kondisi kesehatan individu, dan biasanya timbul pada keadaan hipoksia yang sudah berat. Manifestasi klinis dapat berupa perubahan status mental/ bersikap labil, pusing, dispnue, takipnue, dan aritmia. Sianosis sering dapat dianggap sebagai tanda hipoksia, namun ini hanya dapat dibenarkan apabila tidak terdapat anemia. Penderita anemia walaupun sudah menderita hipoksia jaringan yang berat karena jumlah Hb absolute tereduksi tidak dapat mencapai 5 gr per 100ml. Faktor-faktor lain yang menyulitkan pengenalan sianosis adalah variasi ketebalan kulit dan pigmentasi. Untuk mengukur hipoksia dapat digunakan alat aksimetri (pulse oksimetry) dan analisis gas darah. BIla saturasi kurang dari 90% diperkirakan hipoksia, dan membutuhkan oksigen Gejala dan tanda hipoksia akut: Respirasi Kardiovaskular Siste Saraf Pusat Neuromuskuler Matabolik : Sesak nafas, sianosis : Curah jantung meningkat, palpitasi, takikardia, aritmia, hipotensi, vasodilatasi dan syok : Sakit kepala, perilaku tidak sesuai, binggung, euphoria, dellerium, edema papil : Lemah, tremor, inccordinatiion : Retensi cairan dan kalium, asidosis laktat

Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang lainnya Pemeriksaan ini dilakukan mengingat gejala hipoksia yang bervariasi dan tidak spesifik. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah pemeriksaan PaO2 arteri atau saturasi oksigen arteri melalui pemeriksaan invasive yaitu analisis gas darah arteri ataupun noninvasive yaitu pulse oximetry (dengan menjepitkan alat oksimetri pada ujung jari). Pada pemeriksaan analisis gas darah, akan didapatkan nilai PaO2, PaCO2, saturasi oksigen dan parameter lain.

Terapi Oksigen Tujuan terapi oksigen adalah mengoptimalkan oksigenasi jaringan dan meminimalkan asidosis reporatorik. Pada pasien PPOK dengan konsentrasi oksigen yang tepat dapat mengurangi sesak nafas saat aktivitas, dapat menigkatkan kemampuan beraktivitas dan dapat memperbaiki kualitas hidup. Manfaat lain terapi oksigen adalah memperbaiki hemodinamik paru, kapasitas latihan, kor pulmonal, menurunkan cardiac output, meningkatkan fungsi jantung, mengurangi hipertensi pulmonal, dan memperbaiki metabolisme otot.

Indikasi Terapi Oksigen Indikasi oksigen harus jelas, dan dipertimbangkan apakah pasoen benarbenar membutuhkan oksigen, apakah dibutuhkan terapi oksigen jangka pendek (Short-term Oxygen Therapy) atau terapi jangka panjang ( Long-term Oxygen Therapy). Jumlah oksigen yang diberikan juga harus dalam jumlah yag tepat, dapat diatur dan dievaluasi agar mendapat manfaat terapi dan menghindari toksisitas. Terapi Oksigen Jangka Pendek Terapi yang dibutuhkan pada pasien dengan keadaan hipoksemia akut, diantaranya pneumonia, PPOK dengan eksaserbasi akut, asma bronchial, gangguan kardiovaskular, emboli paru. Pada keadaan ini pemberian oksigen harus diberikan secara cepat, karena dapat menyebabkan cacat tetap atau kematian. Pasien pada kondisi ini diberikan FiO2 60-100% dalam waktu pendek, sampai kondisi membaik, selanjutnya diberikan oksigen dengan dosis yang dapat mengatasi hipoksemia dan meminimalisasikan efek samping. Terapi Oksigen Jangka Panjang Pasien PPOK paling banyak yang menggunakan terapi oksigen jangka panjang. Pada pasein PPOK dan cor pulmonal, terapi jangka panjang dapatmeningkatkan jangka hidup sekitar enam sampai tujuh tahun. Berdasarkan beberapa penelitian didapatkan bahwa terapi oksigen jangka panjang dapat memperbaiki harapan hidup. Karena itu, maka saat ini terapi oksigen jangka panjang direkomendasikan untuk pasien hipoksemia (PaO2 <55 mmHg atau saturasi oksigen <88%) oksigen diberikan secara terus menerus selama 24 jam dalam sehari. Oksigen dosis tinggi yang diberikan kepada pasien denga PPOK yang sudah mengalami gagal nafas tipe II akan dapat mengurangi efek hipoksik untuk pemicu gerakan bernafas. Hal ini akan

menyebabkan retensi CO2 dan akan menimbulkan asidosis respiratorik yang berakibat fatal. Pasein yang menerima terapi oksigen jangka panjang, harus dievaluasi ulang dalam 2bulan untuk menilai apakah hipoksemia menetap atau ada perbaikan dan apakah masih dibutuhkan terapi oksigen? Berikut ini adalah Indikasi terapi oksigen jangka panjang yang telah direkomendasi: PaO2 istirahat 55 mmHg atau saturasi oksigen 88% Erisotemia (hematokrit >56%) PaO2 > 59 mmHg atau oksigen saturasi > 89%

Kontraindikasi Pasien dengan keterbatasan jalan nafas yang berat dengan keluhan utama dispnue, tetapi dengan PaO2 lebih atau sama dengan 60 mmHg dan tidak mempunyai hipoksia kronik Pasien yang meneruskan merokok, karena kemungkinan prognosis yang buruk dapat meningkatkan risiko ebakaran Pasien yang tidak menerima terapi adekuat

Teknik pemberian Oksigen Cara pemberian oksigen dibagi menjadi 2 jenis yaitu sistem arus rendah dan sistem arus tinggi, keduanya masing masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Alat oksigen arus rendah diantaranya adalah kanul nasal, topeng oksigen, reservoir mask, kateter transtracheal dan simple mask. Sedangkan alat oksigen arus tinggi diantaranya adalah venturi mask dan reservoir nebulizer blenders.

Alat Pemberian Oksigen Arus Rendah Kanula Nasal Kanul nasal terdiri dari dua pipa kecil yang dimasukkan ke dalam nares anterior dan disokong oleh kerangka yang ringan. Ukurannya tersedia untuk dewasa, anak-anak, dan infants. Oksigen diberikan pada kecepatan 14 liter/ menit, menghasilkan konsentrasi oksigen inspitrasi sekitar 25-30%. Semakin tinggi kecepatan inspirasi pasien, semakin rendah konsentrasi yang dihasilkan. Kanul nasal dapat dipakai berulang dan cukup nyaman pada sebagian besar pasien. Pasein dengan terapi oksigen yang lama dapat menggunakan kanul nasal. Gas harus dilembabkan sedekat mungkin dengan suhu tubuh untuk mencegah pengeringan sekret mukosa nasal. Keunggulan utama kanul nasal adalah pasien tidak merasa tidak nyaman seperti dengan masker dan ia dapat bicara dan makan dan ada akses ke wajah. Kanula dapat dipakai terus menerus untuk waktui yang lama, suatu hal yang penting karena pemberian oksigen biasanya harus kontinu. Oksigen dari kanul nasal dapat mengisi nasofaring selama napas, namun ketika proses inspirasi, oksigen dan udara yang masuk akan tertarik ke dalam Trakea. Pada saat proses inspirasi menggunakan kanul nasal, oksigen yang terinspirasi meningkat sekitar 1-2% per liter oksigen dengan aliran oksigen nafas tenang pada dewasa. Nasal kanul diharapkan dapat meningkatkan konsentrasi oksigen inspirasi 3-4 liter/menit dalam bernafas normal pada orang dewasa. Bagaimanapun aliran oksigen yang diberikan diatas 5liter/menit dengan menggunakan kanul nasal ditoleransi buruk karena ketidaknyamanan akibat terlalu tingginya aliran oksigen pada cavum nasal dan karena mukosa nasal yang dapat mengering dan iritasi karena hal tersebut. Ukuran kanul nasal untuk anak-anak dan bayi juga tersedia dan penggunaannya secara klinis telah mengjadi semakin umum. Karena ventilasi semenit yang berbeda pada orang dewasa dan anak serta bayi, maka persyaratannya aliran oksigen pada kanul nasal harus dikurangi. Biasanya dipergunakan udara kurang dari 1-3 liter/menit dengan pengawasan. Kekurangan kanul nasal adalah konsentrasi oksigen inspirasi maksimun yang rendah dan konsentrasi yang tidak dapat diperkirakan, terutama jika pasien lebih banyak bernafas menggunakan mulut.

Masker Masker tersedia dalam berbagai rancangan. Masker plastik sederhana yang pas menutupi hidung dan mulut memberikan konsentrasi oksigen inspirasi sampai 60% jika diberikan dengan kecepatan aliran 6 liter/menit. Walaupun demikian, karena terjadi sedikit akumulasi CO2 di dalam maker (sampai 20%), alat ini haru digunakan dengan hati-hati pada pasien yang rentan mengalami retensi CO2.

Sungkup muka sederhana Sungkup oksigen sederhana adalah perangkat plastik ringan yang sekali pakai yang melingkupi hidung dan mulut. Masker diikat dengan menggunakan ikat kepala elastis pada bagian kepala belakang pasien. Masker berfungsi untuk menampung oksigen dan karbondioksida hasil dari pernafasan Merupakan alat pemberian oksigen kontinu atau selang seling 5 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 60%. Keuntungan Konsentrasi oksigenyang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol. Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah, penggunaan jangka panjang kurang nyaman bagi pasien karena sulit untuk berbicara, dan sulit untuk makan. Jumlah oksigen yang masuk pada saat inspirasi tergantung pada volume dari masker, pola ventilasi, dan aliran oksigen yang diberikan. Dengan pernafasan yang normal, dapat diberikan FIO2 0,3-0,6 dengan arus 5-10L/menit. Sungkup muka sederhana ini cukup untuk pasien yang membutuhkan kebutuhan oksigen yang lebih tinggi dari kanul nasal, namun digunakan untuk terapi oksigen jangka pendek, misalnya pada terapi sementara di unit perawatan postanastesia, atau pada ruangan Gawat Darurat. Bukan merupakan pilihan pertama pada penyakit yang dengan hipoksemia sangat berat, takipnue, yang tidak dapat memproteksi pasien dari keadaan aspirasi.

Sungkup muka dengan kantong penampung (Non rebreathing mask ) Sungkup muka ini sama seperti sungkup muka diatas, namun sungkup muka dilengkapi kantung tambahan yang dimaksudkan agar tidak terjadi pencampuran antara oksigen dengan udara luar. Pada masker dipasang reservoir oksigen yang mempunyai katup. Dapat memberikan oksigen dengan konsentrasi lebih dari 60%. Bila diinginkan konsentrasi oksigen yang

tinggi, maka rebreathing mask paling baik. Dengan pemberian 8 12 liter/menit konsentrasi 02 sampai 99% yang bisa menyebabkan tidak mengeringkan selaput lendir. Kekurangannya kantong oksigen bisa terlipat dan mempengaruhi sirkulasi oksigen.

Gambar 1. Kanul hidung, sungkup muka dan non rebreathing mask Karena adanya kekurangan pada penggunaan sungkup muka ini, dimana terjadi penumpukan atau pengumpulan CO2, beberapa pasien mengeluh merasa tercekik ketika masker jenis ini dipakai dan luka dapat terjadi di sekitar nares eksternal akibat penggunaan jangka panjang masker ini, maka untuk memperbaiki efisiensi pemberian oksigen, telah didisain beberapa alat, diantaranya Electronic demand devices, reservoir nasal cannulas, dan transtracheal cathethers, dan dibandingkan dengan kanul nasal konvensional, alat-alat tersebut lebih efektif dan efisien. Electronic demand devices Secara komersial dibuat dengan perbedaan dalam hal waktu, frekuensi dan volume. Berdasarkan beberapa studi alat ini menunjukkan penghematan oksigen 50-86%. Salah satu kerugiannya adalah bunyi yang gaduh dari alat ini. Reservoir Nassal Canulas Alat ini dapat mengurangi penggunaaan oksigen 50-75%. Namun kerugian penggunaan alat ini adalah tidak nyaman bagi pasien diantaranya harus bernafas dengan bibir terkatup. Transtracheal Oxygen Mengalirkan oksigen secraa langsung melalui kateter ke dalam trakea. Oksifeb transtrakeal dapat meningkatkan kesetian pasien menggunakan oksigen secara kontinu selama 24 jam, dan sering berhasil pada pasien dengan hipoksemia refrakter. Dari hasil studi, dengan oksigen transtrakeal ini dapat mengehemat penggunaan oksigen 30-60%.

Keuntungan dari penggunaan pemberian oksigen transkeal yaitu tidak menyolok mata, tidak ada bunyi gaduh dan tidak ada iritasi muka/hidung. Rata-rata oksigen yang diterima mencapai 80-96%. Kerugian dari penggunaan oksigen transtrakeal adalah biaya tinggi dan resiko infeksi lokal. Komplikasi yang terjadi biasanya pada pemberian oksigen transtrakeal ini adalah emfisema subkutan, bronkospasme, dan batuk paroksismal. Komplikasi lain diantaranya infeksi stoma, dan mulkus ball yang dapat mengakibatkan fatal. Resiko retensi CO2 ini perlu dihindari dengan berhati-hati mengatur pemberian oksigen dengan memepetrtahankan PaO2 antara 60-65 mmHg.

Alat Pemberian Oksigen dengan Arus Tinggi Ambubag (Bag Valve Mask) Desain dasar mengikuti sistem sungkup muka dengan kantong penampung, namun alat ini lebih mampu menampung komponen. Biasanya digunakan untuk memberikan tekanan pada pasien yang henti nafas atau nafasnya tidak adekuat. Ambubag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udara bebas, valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung pasien. Pada ambubag ini diperlukannya observasi dada pasien pada setiap pernafasan untuk mengetahui apakah pompa bekerja dengan baik. Oksigen yang dihasilkan adalah 21% namun dapat mencapai 100% bila menggunakan oksigen tambahan.

Gambar 2. Ambubag

Sungkup Muka Venturi ( Venturi Mask) Alat venturi mask dibuat dengan tujuan untuk membuat sistem terbuka dengan aliran tinggi pada mulut dan hidung . Masker dikenal sebagai venture atau venti masker dan oksigennya mengguanakan alat Adengan prinsip Jet mixing (efek bernoulli). Jet mixing mask, mask dengan arus tinggi, bermanfaat untuk mengirimkan secara akurat konsentrasi oksigen rendah (24-35%). Venturi mask dilengkapi dengan suatu petunjuk bagi operator untuk mengatur aliran minimum oksigen yang diberikan. Pada pasien denga PPOK dan gagal nafas tipe II, bernafas dengan mask ini mengurangi retensi CO2, dan memeprbaiki hipoksemia. Alat tersebut terasa lebih nyaman dipakai, dan masalah rebreathing diatasi melalui proses pendorongan dengan arus tinggi tersebut.

Gambar 3. Sungkup Muka Venturi

Nebulizer Nebulizer telah digunakan bertahun tahun untuk kasus yang memerlukan control terhadap FIO2 dengan arus oksigen bertekanan tinggi. Pada nebulizer juga menggunakan mixing jet sama seperti venture mask. Dapat memebrikan oksigen sampai 100%. Nebilizer dapat dipergunakan pada pasien dengan berbagai perangkat , termasuk aerosol, trakeostomy collar dan sebagainya.

Gambar 4. Nebulizer

Sistem arus tinggi ini dapat mengirimkan sampai 40 liter/menit oksigen melalui mask, yang umumnya cukup total untuk kebutuhan respirasi. Dengan penggunaan mask ini tidak mempengaruhi FiO2. Dua inidikasi klinis untuk penggunaan oksigen dengan arus tinggi adalah pasien dengan hipoksia yag memerlukan pengendalian FiO2, dan pasien hipoksia dengan ventilasi abnormal. Berikut ini adalah tabel dari macam macam alat pemberi oksigen Alat Nasal Kanul Aliran ( L/menit) 1 2 3 4 5-6 Masker sederhana 5-6 7-8 Non-rebreathing mask 7-15 Oksigen FIO2 0,21-0,24 0,23-0,28 0,27-0,34 0,31-0,44 0,32-0,44 0,30-0,45 0,40-0,60 0,65-100

Venturi Mask dan Jet 4-6 (Aliran total =15) nebulizer 4-6 (Aliran total =45) 8-10 (Aliran total = 45) 8-10 (Aliran total = 33) 8-12 (Aliran total =33)

0,24 0,28 0,35 0,40 0,50

Tabel 2. Alat Pemberi Oksigen (Morgan 4th edition)

Sistem Sulpai Oksigen Ada beberapa macam sistem untuk suplai oksigen diantaranya: oxygen concentrators, sistem gas kompresor dan oksigen dalam bentuk cair. Masingmasing ada kerugian dan keuntungannya, oleh karena itu harus dipilih mana yang terbaik, disesuaikan dengan kondisi pasien. Oxygen concentrators Secara elektrik bertenaga mesin, menyaring molekul oksigen udara lingkungan dengan konsentrasi oksigen 90-98%, dan aliran oksigen maksimum mencapai 3-5 L/menit. Concentrators merupakan sistem pemberian oksigen yang paling hemat biaya. Compressed gas cylinders Silinder dengan gas yang dipadatkan menyediakan oksigen kurang lebih 57 jam dengan aliran oksigen 2 L/menit sampai 15 L/menit. Liquid oxygen reservoir Oksigen dalam bentuk cair yang bertahan 5 sampai 7 hari dengan aliran oksigen 2 L/menit dan dapat digunakan dengan mengisi ulang. Kerugian alat ini cukup mahal dan kadang kadang terjadi pembekuan pada klep apabila pemberian oksigen mencapai * L/menit, dan kadang terjadi penguapan oksigen cair tersebuut apabila tidak digunakan.

Bahaya Terapi Oksigen Hipoventilasi Komplikasi ini terutama terlihat pada pasien dengan COPD yang memiliki kronis CO2 retensi. Faktor penting pengatur ventilasi pada pasien ini yang memiliki kerja pernafasan yang tinggi sering kali adalah stimulasi hipoksik kemoreseptor perifernya. Jika ini dihilangkan dengan mengurangi hipoksemianya, tingkat ventilasi dapat turun mendadak dan terjadi retensi CO2. bila diberi tekanan O2 arteri lebih dari normal terjadi rangsangan nafas yang menyebabkan hipoventilasi. Pasien seperti ini perlu diberikan oksigen kontinu bpada konsentrasi rendah, dan gas darah harus dipantau. Awalnya pada konsentrasi oksigen 24% sering diberi melalui masker Venturi, PO2,dan PCO2 arteri diukur setelah 1520 menit. Apabila PCO2 menigkat lebih dari beberapa mmHg dan pasien tetap sadar, konsentrasi oksigen dapat ditingkatkan menjadi 28%. Ini umumnya adekuat untuk mengurangi hipoksemia berat walaupun nkonsentrasi setinggi 35% terkadang digunakan.

Atelektasis konsentrasi tinggi oksigen dapat menyebabkan atelectasis pulmonalis di daerah dengan kadar nitrogen yang relative sedikit lebih rendah. Ketika nitrogen yang normalnya berfungsi memperlambat proses absorpsi karena kelarutannya rendah, digantikan keluar dari paru-paru, terjadilah peningkatan penyerapan gas dari alveoli paru. Jika di daerah alveolus tersebut tetap terjadi proses difusi, namun tidak terjadi proses ventilasi, hal itu menyebabkan alveolus kolaps dan terjadi atelektasis.

Toksisitas Oksigen Konsentrasi tinggi oksigen dalam waktu lama dapat merusk paru. Perubahan yang terjadi di taut intraseluler endotel, dan terjadi peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan edema interstisial dan alveolar. Selain itu, epitel alveolar dapat menjadi luruh seluruhnya dan digantikan oleh lapisan sel epitel tipe 2. Biasanya gejala yang dirasakan adalah mengeluh rasa tidak nyaman di substernal setelah bernafas dengan oksigen 100% selama 24 jam. Keadaan ini biasanya pada pasien yang diintubasi atau diventilasi secara mekanik.

Fibroaplasia Retrolental Apabila neonates dengan sindrom distres napas bayi diterapi dengan oksigen konsentrasi tinggi, mereka mungkin mengalami fibrosis di belakang lensa mata, yang menyebabkan kebutaan. Hal ini dapat dihindari dengan menjaga PO2 arteri dibawah 140 mmHg.

BAB 3. KESIMPULAN Tujuan terapi oksigen adalah mengoptimalkan oksigenasi jaringan dan meminimalkan asidosis reporatorik. Manfaat lain terapi oksigen adalah memperbaiki hemodinamik paru, kapasitas latihan, kor pulmonal, menurunkan cardiac output, meningkatkan fungsi jantung, mengurangi hipertensi pulmonal, dan memperbaiki metabolisme otot. Teknik pemberian oksigen terbagi atas 2 yaitu yang bertekanan rendah ( Kanul nasal, sungkup muka sederhana, sungkup muka berkantung) dan yang bertekanan tinggi yaitu (Ambubag, venture dan nebulizer).

Refferensi 1. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Ed 4 Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam; 2006 2. Morgan GE, Mikhail MS. Clinical Anesthesiology.4th ed. Appleton & Lange. Stamford. 2002 3. Patofisiologi Paru edisi 6. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran; 2010