P. 1
Aplikasi Konseptual Madeline Leininger

Aplikasi Konseptual Madeline Leininger

|Views: 203|Likes:
Dipublikasikan oleh king_arejuna

More info:

Published by: king_arejuna on Apr 17, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2013

pdf

text

original

APLIKASI KONSEPTUAL MADELINE LEININGER PADA ASUHAN KEPERAWATAN AN R DENGAN KASUS KEP BERAT TIPE MARASMIK KWASHIORKOR di Ruang

Anak RSD dr. Soebandi jember OLEH

Yunita Rengganis 07.1101.119 PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER 2009

1

LEMBAR PERSETUJUAN Jember, 26 Juni 2009 Pembimbing Akademik

CE Ruang Anak

Inganah, Amd. Kep

Ners. Nikmatur R.

Kepala Ruang Anak RSD dr. Soebandi Jember a/n Tinuk Tri lestari, Amd. kep

2

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Krisis ekonomi yang melanda Indonesia berdampak juga pada semua sektor di negeri ini. Hal yang paling nyata dalam dunia kesehatan adalah peningkatan jumlah anak balita yang menderita kekurangan energi protein (KEP) sebagai akibat kemiskinan, utamanya anak usia di bawah lima tahun (balita) yang merupakan golongan rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah sepertinya kurang berhasil, karena masih banyaknya kasus gizi buruk di beberapa daerah yaitu mencapai 5,4 % total populasi anak-anak (http://news.okezone.com). Keberhasilan penanganan permasalahan gizi buruk sesungguhnya dipengaruhi beberapa faktor karena masalah gizi buruk tidak hanya disebabkan karena tidak tersedianya pangan, tetapi juga disebabkan karena ketidakmampuan mengakses makanan dan ketidaktahuan terhadap ilmu pangan. Dan sesuai apa yang diungkapkan oleh Menkes, masalah gizi kurang & gizi buruk yang terjadi pada anak Balita di tanah air, bukanlah peristiwa yang terjadi seketika karena umumnya anak gizi buruk sudah bermasalah dari dalam kandungan ibunya (http://www.kapanlagi.com). Berbicara tentang gizi pada ibu hamil tidak lepas dari kultur budaya, karena beberapa suku yang ada memiliki budaya pantang makan makanan tertentu pada ibu hamil yang justru makanan tersebut bernilai gizi tinggi yang dibutuhkan bagi ibu maupun janin. Hal ini artinya bahwa dimensi budaya seperti yang diungkapkan oleh Madeliene Leininger yang terkenal dengan teori Transkultural matahari terbit menjadi penentu baik sebagai penyebab masalah maupun sebagai kunci keberhasilan penanganan masalah KEP ini. RSD dr. Soebandi jember melayani klien dari segala lapisan masyarakat, di salah salah satu ruangannya yaitu bangsal anak, dari seluruh pasien yang dirawat 90% menyatakan dirinya tidak mampu, baik dengan cara menggunakan fasilitas Jamkesmas maupun dengan menggunakan SKM (surat keterangan miskin). Dari catatan rekam medik yang ada di ruangan tersebut, prevalensi jumlah pasien yang
3

yang paling penting adalah upaya antisipasi masalah. memiliki anak dirawat dengan gizi buruk justru tidak jarang berpenampilan sebaliknya. Ada suatu fenomena yang menarik dalam masalah ini yaitu mereka yang mengatakan dirinya miskin. Hal ini disebabkan karena KEP yang ada bukan saja disebabkan oleh adanya kemiskinan tetapi juga oleh faktor-faktor yang lain diantaranya dimensi budaya/transkultural masyarakat terhadap kesehatan. kelompok. PERNYATAAN MASALAH Upaya pemerintah untuk menurunkan angka penderita KEP (kekurangan energi protein) dengan program mengentas kemiskinan. tetapi perhatian mulai diberikan saat ibu dinyatakan hamil. Apakah era globalisasi berpengaruh pada pergeseran nilai-nilai budaya sehingga mereka lebih mengutamakan penampilan ? Untuk mencari jawaban itulah penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh dengan menggunakan Leininger. TUJUAN 1. seperti BLT (bantuan langsung tunai) tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan karena kenyataannya setiap tahun angka masyarakat miskin yang terdata dan angka penderita KEP berat pada anak balita yang merupakan golongan usia rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi semakin bertambah. C. karena dengan cara ini ada jalan bagi perawat untuk dapat merekontruksi adanya pandangan hidup/budaya yang salah di masyarakat atau memberikan support terhadap budaya masyarakat yang sudah benar sehingga potensi yang ada di masyarakat dapat dioptimalisasikan menuju kondisi kesehatan dan pola hidup ke arah yang lebih baik. B.dirawat dengan KEP berat meningkat yaitu dari jumlah 45 orang anak pada tahun 2007 menjadi 68 orang anak pada tahun 2008. maupun masyarakat. sehingga perhatian kita tidak ditujukan hanya pada saat anak sudah mengalami masalah. Melihat permasalahan yang ada dalam mengatasi masalah gizi buruk pada anak ini. keluarga. Peran perawat dalam hal ini sangat dibutuhkan utamanya dalam hal memahami budaya klien baik sebagai individu. Tujuan Umum pendekatan transkultural Madeliene 4 .

Menguraikan alasan ketertarikan dalam pengambilan kasus dan konsep yang dipilih b. R c. Melakukan pengelolaan kasus KEP Berat pada an. Tujuan Khusus a. Melakukan penerapan model konsep keperawatan Transkultural Leininger pada kasus KEP berat pada an. di Ruang Anak RSD dr. Soebandi Jember 2. R dengan menggunakan pendekatan model konsep keperawatan model 5 .Mempelajari dan untuk mengetahui aplikasi Model Konsep Keperawatan Transkultural Leinenger terhadap kasus KEP berat pada an. R.

• KEP total adalah jumlah KEP ringan. 6 . yang meliputi KEP sedang dan KEP berat/Gizi buruk dan pada KMS berada di bawah garis merah (tidak ada garis pemisah antara KEP sedang dan KEP berat/Gizi buruk pada KMS). 3) KEP berat/Gizi buruk bila BB/U <60% baku median WHO-NCHS dan/atau BB/TB <70% baku median WHO-NCHS. Marasmus. KEP sedang. dan KEP berat/Gizi buruk (BB/U <80% baku median WHO-NCHS). dan Marasmik-Kwashiorkor. KONSEP DASAR KEP BERAT (KEKURANGAN ENERGI PROTEIN) 1. Klasifikasi KEP 1) KEP ringan bila berat badan menurut umur (BB/U) 70-80% baku median WHO-NCHS dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) 8090% baku median WHO-NCHS. • KEP nyata adalah istilah yang digunakan di lapangan. CATATAN: KEP berat/Gizi buruk secara klinis terdapat dalam 3 (tiga) tipe yaitu. Kurang Energi Protein (KEP) KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). Pengertian a.BAB II LANDASAN TEORI A. 2) KEP sedang bila BB/U 60-70% baku median WHO-NCHS dan/atau BB/TB 70-80% baku median WHO-NCHS. b. • Tanpa melihat Berat Badan bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat/Gizi buruk tipe Kwashiorkor. Kwashiorkor.

2. Gejala klinis KEP berat/Gizi buruk yang dapat ditemukan: a. mudah dicabut tanpa rasa sakit. Marasmus: Tampak sangat kurus. rewel Kulit keriput. . umumnya akut b. kemerahan seperti warna rambut jagung. umumnya seluruh tubuh. 7 anemia diare.penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) . jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (pada daerah pantat tampak seperti memakai celana longgar/”baggy pants”) Perut cekung Iga gambang Sering disertai: . terutama pada punggung kaki (dorsum pedis) Wajah membulat dan sembab Pandangan mata sayu Rambut tipis.diare c. lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavement dermatosis) Sering disertai: . Kwashiorkor Edema. hingga tulang terbungkus kulit Wajah seperti orang tua Cengeng. rontok Perubahan status mental. dan rewel Pembesaran hati Otot mengecil (hipotrofi).penyakit infeksi. Marasmik-Kwashiorkor: Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klnik Kwashiorkor dan Marasmus. apatis. dengan BB/U <60% baku median WHONCHS disertai edema yang tidak mencolok.

Dalam proses pengobatan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi. asam folat) Stomatitis (vitamin B. fase transisi. Marasmus maupun Marasmik-Kwashiorkor) 8 . vitamin B12. Prinsip dasar pengobatan rutin KEP berat/Gizi buruk (10 langkah utama) 1) Atasi/cegah hipoglikemia 2) Atasi/cegah hipotermia 3) Atasi/cegah dehidrasi 4) Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit 5) Obati/cegah infeksi 6) Mulai pemberian makanan 7) Fasilitasi tumbuh-kejar (“catch up growth”) 8) Koreksi defisiensi nutrien mikro 9) Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental 10) Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh. Tata Laksana Rawat Inap KEP Berat/Gizi Buruk Pada tata laksana rawat inap penderita KEP berat/Gizi buruk di Rumah Sakit terdapat 5 (lima) aspek penting. selalu periksa adanya gejala defisiensi nutrien mikro yang sering menyertai seperti: Xerophthalmia (defisiensi vitamin A) Anemia (defisiensi Fe. Tata laksana ini digunakan pada semua penderita KEP Berat/Gizi Buruk (Kwashiorkor. yang perlu diperhatikan: a. dan fase rehabilitasi. C). 4.3. Cu. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang cocok untuk setiap fase. Defisiensi nutrien mikro yang sering menyertai KEP berat/ Gizi buruk Pada setiap penderita KEP berat/Gizi buruk.

beri tambahan perawatan lokal untuk mencegah prolaps lensa :  beri tetes mata kloramfenikol atau salep mata tetrasiklin. 3 kali sehari selama 3-5 hari 9 . Pengobatan penyakit penyerta Pengobatan ditujukan pada penyakit yang sering menyertai KEP berat. 1 tetes. setiap 2-3 jam selama 7-10 hari  teteskan tetes mata atropin.000 SI/kali Bila ada ulserasi pada mata. 2 dan 14 atau sebelum pulang dan bila terjadi perburukan keadaan klinis dengan dosis:  umur > 1 tahun : 200. yaitu: 1) Defisiensi vitamin A Bila terdapat tanda defisiensi vitamin A pada mata.000 SI/kali  umur 0-5 bulan : 50.000 SI/kali  umur 6-12 bulan : 100.Bagan dan jadwal pengobatan sebagai berikut: N o Hari ke 1-2 1 2 3 4 5 6 7 Hipoglikemia Hipotermia Dehidrasi Elektrolit Infeksi MulaiPemberian Makanan Tumbuh kejar/peningkata n 8 9 10 pemberian Tanpa Fe dengan Fe makanan Mikronutrien Stimulasi Tindak lanjut Hari ke 27 Minggu ke-2 Minggu ke 3-7 FASE STABILISASI TRANSISI REHABILITASI b. beri anak vitamin A secara oral pada hari ke-1.

4) Diare Berlanjut Diare biasa menyertai KEP berat. tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali. Intoleransi laktosa tidak jarang sebagai penyebab diare. Beri: Metronidasol 7. 2) Dermatosis Dermatosis ditandai adanya :  hipo/hiperpigmentasi  deskwamasi (kulit mengelupas)  lesi ulserasi eksudatif.5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari. 2 kali sehari selama 3 hari. Kegagalan pengobatan Kegagalan pengobatan tercermin pada angka kematian dan kenaikan berat badan: 1) Tingginya angka kematian 10 . obati sesuai pedoman pengobatan TB. Tata laksana :  kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO4 (Kpermanganat) 1% selama 10 menit  beri salep/krim (Zn dengan minyak kastor)  usahakan agar daerah perineum tetap kering. menyerupai luka bakar. antara lain oleh Candida. Sering kerusakan mukosa usus dan Giardiasis merupakan penyebab lain dari melanjutnya diare. sering disertai infeksi sekunder.  Umumnya terdapat defisiensi seng (Zn) : beri preparat Zn peroral 3) Parasit/cacing Beri Mebendasol 100 mg oral. lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik. 5) Tuberkulosis Pada setiap kasus gizi buruk. Bila mungkin. Berikan formula bebas / rendah laktosa. tetapi akan berkurang dengan sendirinya pada pemberian makanan secara berhati-hati. c. Diobati hanya bila diare berlanjut dan tidak ada perbaikan keadaan umum. atau preparat anti helmintik lain. Bila positif atau sangat mungkin TB. Lakukan tes tuberkulin/Mantoux (seringkali alergi) dan Ro-foto toraks.

berat badan/umur mencapai minimal 70% atau berat badan/tinggi badan mencapai minimal 80%. Penderita pulang sebelum rehabilitasi tuntas Rehabilitasi dianggap lengkap dan anak siap dipulangkan bila gejala klinis sudah menghilang. hipotermia. Anak KEP berat yang pulang sebelum rehabilitasi tuntas. masalah psikologik. 2) Kenaikan berat-badan tidak adekwat pada fase rehabilitasi Penilaian kenaikan BB: .Bila mortalitas >5%.baik . perhatikan saat terjadi kematian:  dalam 24 jam pertama: kemungkinan kurang tepat. dirumah harus diberi makanan tinggi energi (150 Kkal/kgBB/hari) dan tinggi protein (4-6 gram/kgBB/hari):  beri anak makanan yang sesuai (energi dan protein) dengan porsi paling sedikit 5 kali sehari  beri makanan selingan diantara makanan utama  upayakan makanan selalu dihabiskan  beri suplementasi vitamin dan mineral/elektrolit  teruskan ASI. sehingga tidak diobati. mineral infeksi yang tidak terdeteksi. perubahan konsentrasi formula terlalu cepat.  dalam 72 jam: cek apakah volume formula terlalu banyak atau pemilihan formula tidak tepat  malam hari: kemungkinan terjadi hipotermia karena selimut kurang memadai. sepsis yang terlambat atau tidak terdeteksi. atau proses rehidrasi Kemungkinan penyebab kenaikan BB <50 gram/kgBB/minggu antara d. tidak diberi makan.kurang lain:     pemberian makanan tidak adekwat defisiensi nutrien tertentu. vitamin. : ≥50 gram/kgBB/minggu : <50 gram/kgBB/minggu hipoglikemia. 11 .

beri furosemid 1 mg/kgBB secara i. 2) Anemia berat Transfusi darah diperlukan bila: • • Hb <4 g/dl Hb 4-6 g/dl disertai distres pernafasan atau tanda gagal jantung. Bila tidak ada perbaikan klinis→ anak menderita syok septik. Tindakan pada kegawatan. Ulangi pemberian cairan seperti diatas untuk 1 jam berikutnya. Evaluasi setelah 1 jam : Bila ada perbaikan klinis (kesadaran. 10 ml/kgBB/jam selama 10 jam. selanjutnya mulai berikan formula khusus (F-75/pengganti).v. Bila ada tanda gagal jantung. 12 . berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan berikan transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3 jam). gunakan ‘packed red cells’ untuk transfusi dengan jumlah yang sama. Pedoman pemberian cairan: Berikan larutan Dekstrosa 5% : NaC1 0. per oral/nasogastrik. Transfusi darah: berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam. Dalam hal ini. Perhatikan adanya reaksi transfusi (demam. 1) Syok (renjatan): Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit membedakan keduanya secara klinis saja. frekwensi nadi dan pernafasan) dan status hidrasi→ syok disebabkan dehidrasi. sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak. Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi. Hb-uria. . gatal. Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan intravena. kemudian lanjutkan dengan pemberian Resomal/pengganti.9% (1:1) atau larutan Ringer dengan kadar dekstrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam 1 jam pertama. pada saat transfusi dimulai. syok). Kemudian mulailah pemberian formula (F-75/pengganti).e.

telur ayam. bayam. 5. kacang tanah. sebagai berikut: Bahan makanan sumber mineral khusus  Sumber Zn : daging sapi. Jumlah cairan 130-200 ml per kg BB/hari. kacang tanah. pisang. Makanan fase stabilisasi hipoosmolar/isoosmolar dan rendah laktosa dan rendah serat. makanan laut. Kebutuhan energi mulai dari 80 sampai 200 kalori per kg BB/hari. yaitu: • • BB <7 kg diberikan kembali makanan bayi dan BB >7 kg dapat langsung diberikan makanan anak secara bertahap Mempertimbangkan hasil anamnesis riwayat gizi 13 .  Sumber Kalium : jus tomat. Cara pemberian : per oral atau lewat pipa nasogastrik 3. 2.  Sumber Cuprum : tiram. daging tanpa lemak. kentang. apel. Terus memberikan ASI 6. kacang-kacangan. Pemberian suplementasi vitamin dan mineral bila ada defisiensi atau pemberian bahan makanan sumber mineral tertentu. (lihat tabel 1 formula WHO dan modifikasi). 4. daging. jangan diulangi pemberian darah. hati  Sumber Mangan : beras. kedelai  Sumber Magnesium : daun seldri. Membedakan jenis makanan berdasarkan berat badan. Porsi makanan kecil dan frekwensi makan sering 4. dan periode rehabilitasi. hati. 5. kacang-kacangan. bayam. bubuk coklat. Kebutuhan protein mulai dari 1 sampai 6 gram per kg BB/hari. Pemberian Diet Pemberian diet pada KEP berat/gizi buruk harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. 1. Melalui 3 periode yaitu periode stabilisasi. periode transisi. alpukat.Bila pada anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap <4 g/dl atau antara 4-6 g/dl. bila terdapat edema dikurangi 2. 3.

Fase transisi diberikan Formula WHO 75 sampai Formula WHO 100 atau modifikasi 3. terutama yang mengalami diare. Dengan demikian pada kasus diare lebih baik digunakan modifikasi Formula WHO 75 yang menggunakan tepung 2. Larutan Formula WHO 75 ini mempunyai osmolaritas tinggi sehingga kemungkinan tidak dapat diterima oleh semua anak.5 g/KgBB/hr Lihat langkah 8 Idem Idem Idem Idem 2-3 g/KgBB/hr Lihat langkah 8 Idem Idem Idem Idem 4-6 g/KgBB/hr Lihat langkah 8 Idem Idem Idem Idem 150-200 ml/KgBB/hr 130 ml/KgBB/hr 150 ml/KgBB/hr atau 100 ml/KgBB/hr bila ada edema Keterangan : 1.Tabel 1 : KEBUTUHAN GIZI MENURUT FASE PEMBERIAN MAKAN FASE TRANSISI ZAT GIZI Energi STABILISASI 100 Kkal/KgBB/hr REHABILITASI 150 Kkal/KgBB/hr 150-200 Kkal/KgBB/hr Protein Vitamin A Asam Folat Zink Cuprum Fe Cairan 1-1. Fase stabilisasi diberikan Formula WHO 75 atau modifikasi. Fase rehabilitasi diberikan secara bertahap dimulai dari pemberian Formula WHO 135 sampai makanan biasa 14 .

Bila ada gangguan saluran cerna (diare. Kejadian hipoglikemia : beri minum air gula atau makan setiap 2 jam B. atau kelompok dari budaya lain karena mereka meyakini bahwa budayanya lebih tinggi daripada budaya dari kelompok lain. formula tempe yang ditambah tepung-tepungan. Leininger menggambarkan teori keperawatan transkultural matahari terbit. Sunrise model ini melambangkan esensi keperawatan transkultural yang menjelaskan bahwa sebelum memberikan keperawatan kepada klien. kembung. infeksi.6. memaksakan nilai-nilai budaya. Karena dengan memahaminya maka dapat mencegah terjadinya culture shock maupun cultur imposition. Timbang berat badan sekali seminggu. modifikasi diet sesuai selera. perawat terlebih dahulu harus mempunyai pengetahuan mengenai pandangan dunia tentang dimensi budaya serta struktur sosial yang berkembang di berbagai belahan dunia. kelompok. bila tidak naik kaji penyebabnya (asupan gizi tidak adequat. 3. dimana klien merasakan perasaan tidak nyaman. keyakinan dan kebiasaan. sehingga disebut juga sebagai sunrise model. keluarga. baik secara diamdiam maupun terang-terangan. misal: susu rendah laktosa. agama dan falsafah 15 . maka gunakan formula rendah atau bebas lactosa dan hipoosmolar. 2. Dimensi budaya dan stuktur sosial tersebut menurut leininger dipengaruhi oleh 7 faktor yaitu: teknologi. gelisah dan disorientasi karena perbedaan nilai budaya. maupun masyarakat. keluarga. Cultur shock terjadi saat pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau beradaptasi secara efektif dengan kelompok budaya tertentu (klien). defisiensi zat gizi. keyakinan dan kebiasaan/perilaku yang dimilikinya kepada individu. DESKRIPSI KONSEP TRANSCULTURAL NURSING TEORY MADELIENE LEININGER Teori Keperawatan Transkultural menekankan pentingnya peran perawat dalam memahami budaya klien baik individu. Sedangkan Cultur Imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan (perawat). Evaluasi Dan Pemantauan Pemberian Diet Evaluasi dengan menggunakan formulir pemantauan kasus gizi buruk 1.muntah) menunjukkan bahwa formula tidak sesuai dengan kondisi anak. 4. Bila asupan zat gizi kurang. masalah psikologis).

yaitu prinsip merekontruksi atau mengubah desain untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien ke arah yang lebih baik. ketujuh faktor tersebut masuk kedalam level pertama yaitu tahap pengkajian. Cultur Care Preservation/mantenance. Cultur Care repatterning/restructuring. Peran perawat pada transcultural nursing teori adalah menjembatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan profesional melalui asuhan keperawatan. Jika disesuaikan dengan proses keperawatan. yaitu prinsip membantu. memfasilitasi. Fokus intervensi dalam Praktek keperawatan transkultural adalah membina hubungan saling percaya melalui penghargaan terhadap nilai-nilai budaya. memfasilitasi. Cultur Care accommodation/negotiation. BAB III 16 . atau memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan 2. bernegosiasi. atau memperhatukan fenomena budaya ada. yaitu prinsip membantu. Peran Ners :  Memberi intervensi keperawatan berdasarkan praktek asuhan budaya klien meliputi : mempertahankan. politik dan hukum. agama. ekonomi dan pendidikan. Tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien harus tetap memperhatikan tiga prinsip . yang merefleksikan cara-cara beradaptasi. dan sosial serta mengatasi masalah/konflik melalui pendekatan budaya klien.hidup. atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu atau klien 3. menegosiasi dan merestrukturisasikan asuhan berbudaya  Memahami bahwa dalam memberikan asuhan keperawatan harus disadari pentingnya keperawatan transkultural karena budaya setiap individu berbeda  Memberi dukungan pada klien dan keluarga untuk mempertahankan keyakinan dan tradisi dalam budayanya. yaitu : 1.

Identitas An. Riwayat Penyakit Sekarang Selama 1 bulan klien diare terus menerus dalam sehari BAB ± 4 x konsistensi cair. ada demam. Riwayat Pasien a. 2. f. Sudah berobat ke puskesmas bahkan lebih dari sekali.APLIKASI MODEL KONSEP TRANSKULTURAL MEIDELINE LEININGER PADA STUDI KASUS A. jenis kelamin perempuan. Keluhan Utama Diare. tapi semenjak 2 bulan terakhir ini klien tidak dapat berjalan lagi. nafsu makan kurang baik. Soebandi Jember. PENGKAJIAN 1. c.. pada lengan kiri juga terlihat scar BCG. usia 13 bulan anak sudah berjalan. e. ada ampas. umur 7 bulan sudah dapat duduk. badan bengkak dan seluruh tubuh lecet-lecet. Riwayat Peyakit Dahulu Sejak umur 2 bulan klien sakit-sakitan. Nafsu makan tambah turun apalagi setelah timbul selaput putih di mulut. sering diare. d. Alamat dusun Prapah Wonolangu RT 02/RW 03 Kecamatan Panti. sebenarnya badan mulai bengkak sejak 2 bulan yang lalu tetapi dipikir oleh ibu klien bertambah gemuk karena minum susu yang diberi oleh Posyandu. berlendir tapi tidak ada darah. Sunrise teori 17 . tetapi keluhan selalu hilang timbul. R. Riwayat Imunisasi Lengkap. MRS tanggal : 15 Juni 2009. BAK lancar. Reg : 254314. Tapi belum pernah opname. tadi pagi klien dibawa ke puskesmas lagi dan disarankan MRS ke RSD dr. 4 hari SMRS klien batuk pilek. Penanggung Jawab Pembiayaan Rumah Sakit: SKM b. umur 15 bulan. Riwayat Tumbuh Kembang Perkembangan klien awalnya normal. 2 hari ini badan klien bertambah bengkak diikuti luka berair. Karena luka di kulit klien semakin banyak.

informasi yang diterima jatahnya sudah habis. c.a. Faktor ekonomi Tingkat ekonomi klien tergolong rendah. Orang tua klien pernah dapat program bantuan dari pemerintah yaitu BBM tapi sekarang sudah tidak lagi karena programnya telah habis. Faktor Politik dan Hukum Kebijakan pemerintah dibidang politik & hukum terhadap orang miskin dinikmati juga oleh klien. Bila sedang mendapat pekerjaan sehari ± dapat uang Rp. Tetapi walaupun tingkat pendidikan yang dimilikinya tergolong rendah. tidak punya listrik sendiri hanya numpang milik tetangga dengan membayar Rp. orang tua klien berusaha hidup sederhana/tidak konsumtif. tapi dibelikan kambing tetapi sayangnya 4 ekor kambing yang dimilikinya mati semua. sementara ibu klien sampai klas 6 SD. 20. Biaya RS klien ditanggung pemerintah walaupun klien tidak memiliki Jamkesmas tapi klien menggunakan fasilitas surat SKM (surat keterangan miskin). Faktor pendidikan Klien dibesarkan oleh orang tua dengan tingkat pendidikan yang rendah. tetapi pada saat tidak mendapat pekerjaan ayah klien mencari hutangan kadang hutang bahan-bahan pokok di warung atau hutang uang pada tetangga. 20. Sumber penghasilan suami. b. walaupun rumah yang dihuni terbuat dari tembok tapi alas rumah sebagian tidak disemen. d. keinginan untuk meningkatkan ekonomi keluarga cukup baik. Kadang ayah klien jadi buruh tani. Nilai Budaya dan gaya Hidup 1) Kebiasaan Keluarga terhadap keyakinan yang berkaitan dengan Kesehatan 18 . Klien juga mendapat bantuan susu dari Posyandu berupa susu kotak tapi hanya dapat 2 X (2 kotak) setelah itu tidak dapat lagi. Saat mendapat bantuan BBM dari pemerintah oleh orang tua tidak dibelikan Hp maupun tidak digunakan untuk ngredit sepeda motor seperti tetangga-tetangganya yang lain.000. soalnya begitu dapat uang langsung habis untuk kebutuhan sehari-hari. dari pekerjaan yang tidak tetap sulit diambil rata-rata pendapatan per bulan. kadang sebagai kuli bangunan.000/bulan untuk 2 mata lampu. Ayah klien pendidikan sampai klas 2 SD.

Terbukti klien merupakan anak angkat yaitu anak bibi dari sang istri. 2) Pola Nutrisi dan Cairan Nilai budaya tentang kesehatan terutama tentang gizi kurang baik. tidak ada hari buruk e. 3) Pola Eleminasi BAK lancar sehari ≥ 4 x. tetapi karena klien diare terutama setelah minum susu sejak umur 2 bulan klien tidak diberikan susu tapi air putih saja. Harapan dan keyakinan tentang kesembuhan saat dirawatpun baik. ibu klien mengatakan sebelumnya klien mengkonsumsi susu formula 400 G untuk 2 hari. orang tua tidak tampak acuh saat dilakukan anamnesa. 5) Keyakinan terhadap hari-hari tertentu yang berhubungan dengan Kesehatan Orang tua menganggap semua hari dalam satu minggu baik. Faktor Kekerabatan dan Sosial Hubungan kekerabatan. walaupun klien sangat cengeng tapi cenderung kelihatan tidur terus.Keyakinan keluarga terhadap kesehatan baik. BAB memang bermasalah. ikan ayam. Sementara orang tua yang 19 . jiwa sosial dari orang tua yang mengasuhnya dengan keluarga maupun tetangga sangat baik. Saat 2 bulan terakhirpun saat badan klien bengkak dan lecet-lecet orang tua menganggap alergi akibat diberikannya telur. dan mematuhi anjuran yang diberikan. terbukti klien rutin datang ke Posyandu setiap bulan dan Imunisasi lengkap. dengan takaran 1 takar peres untuk 60 cc. sehingga dua bulan terakhir klien tidak pernah mengkonsumsi ikan kecuali tempe tahu. Orang tua klien menganut anggapan bahwa makan banyak ikan menyebabkan cacingan. dibantu mengasuh/diambil sebagai anak angkat karena merasa kasihan kepada bibinya yang memiliki anak sebanyak 8 orang yang masih kecil-kecil. klien sering diare. 4) Pola istirahat/tidur Kebutuhan tidur tidak ada masalah. yang menyebabkan anaknya diare akibat pemberian susu. atau ikan laut. tapi sejak badan bengkak jumlah yang keluar sedikit.

86 (Hipokalsemi). tidak terdapat ronchi maupun wheezing.9. Faktor Teknologi Klien jarang sekali mendapat informasi yang berkaitan dengan kesehatan maupun pendidikan. tarikan dada simetris. Albumin 1. B2 (Blood) Akral hangat. Cl 109. kering.6 gr/dl (Hipo Albumin). merah. tetapi jalannya sudah terbuat dari aspal. 3. anisositosis. B1 (Breathing) Pola nafas eupneu.000. Hasil laborat 15 Juni 2009 : Hb 8. dan mereka tergolong orang miskin. Trombosit 211. Gula darah acak : 140. Sementara jarak rumah klien dengan jalan raya maupun pasar sangat jauh sekali. suara nafas broncho vesikuler. Hitung Jenis -/-/-/40/57/3. karena disamping tidak memiliki TV maupun radio. klas 2 SD. anisositosis) c. jika nonton TV di rumah tetangga yang ditonton juga sinetron. sel polikromasia ±) Leukosit (Leukositosis. orang tua klien awalnya menganggap bahwa penyakit yang diderita anaknya karena diteluh orang. Imbalance elektrolit : Na 137.6 gr % (anemis). B3 (Brain) 20 . Nadi : 140 x/mnt.400.mengasuhnya memiliki anak kandung seorang laki-laki berumur 9 tahun. g. Leucosit 24. Tetapi karena badan klien bengkak semua. tapikarena setelah berobat ke kyai. Ca 1. Suhu tubuh : 38º C. fremitus raba normal. tidak terdapat retraksi inter costal maupun pernafasan cuping hidung. netrofilia.87 (hipokalemi). hasil evaluasi darah tepi : Eritrosit (Hipokrom normositer sebagian makrositer. dukun prewangan maupun dukun urut badannya tetap bengkak orang tua mulai berfikir yang lain. Pemeriksaan fisik a. K 2. PCV 28 %. Perkusi sonor. tidak mungkin orang meneluhnya apalagi orang tua merasa tidak pernah bertengkar/mengganggu orang. limfositosis) Trombosit (kesan jumlah dalam batas normal. Faktor Agama dan Falsafah Hidup Klien dibesarkan oleh keluarga yang memeluk agama islam. Gol darah B/RH +. Hasil photo thorax tgl 16 juni 2009 : Gambaran KP b. reguler 40 x/mnt. f.

RENCANA TINDAKAN 3. kedua. B4 (Bladder) BAK spontan. Program Pengobatan Farmakologi Infus Dex 5%-NaCl 0. reflek fisiologis + d. cegah hipothermi dan hipoglikemi.Kesadaran compos mentis. Bising usus > 15 x/mnt. Intoleransi aktivitas ybd ketidakadekuatan sumber energi sekunder akibat malnutrisi C. PK : Syock Hipovolumik Tujuan : tidak terjadi syock hipovolumik Kriteria Hasil : 21 . Tidak kejang. B. B5 (Bowel) Pada mulut terdapat moniliasis. dan oedem anasarka. tekstur kasar dan kering. B6 (Bone & Integument) Kulit warna pucat. Abdomen flat.Rehabilitasi) dan pemberian mikronutrien Koreksi elektrolit. PK : Syock Hipovolumik 2. dan empat belas hari rawat inap) Diet : sesuai Program Fase (Stabilisasi-Transisi. tidak ada keluhan nyeri saat BAK. kekuatan otot nomal. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ybd penurunan masukan oral sekunder akibat persepsi orang tua yang salah terhadap gizi 3. aktivitas lemah : tidak kuat berdiri/digendong ibunya. pada palpasi soepel tidak ada nyeri tekan. hipertimpani. turgor sulit dievaluasi (klien bengkak) e. 4. Resti perluasan infeksi ybd kehilangan pertahanan tubuh sekunder (Crazy Pavement Dermatosis) 4. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Berat badan 6 Kg. status gizi 57 % (KEP berat tipe Marasmic-Kwashiorkor) f. terdapat crazy pavement dermatosis.225 % = 25 TPM mikro Injeksi : Cefotaxim 2 X 300 mg Gentamicine 2 X 15 mg Vit A (hari pertama.

5 ° C) RR (20-40 x/mnt). BAB konsistensi lembek sehari ≤ 3 x. Albumin serum meningkat minimal 3 gr/dl.5-37. Berat badan berkurang sampai oedem hilang selanjutnya meningkat 0.sebab terjadinya syock hipovolumik b) Berikan kebutuhan cairan 100cc/Kg BB/hari = 25 TPM mikro c) Lakukan koreksi elektrolit dengan cairan Infus Dex 5%-NaCl 0.5-3 gram/KgBB/hari  Fase Stabilisasi 150-200 kklal/KgBB/hari dgn protein 3-4 gram/KgBB/hari d) Awali diet dengan jumlah kalori yang sama saat di rumah 22 .5 kg/minggu.5 gram/KgBB/hari  FaseTransisi 100-150 kklal/KgBB/hari dgn protein 1. Hb minimal 10 gr% Intervensi : a) Kaji pemasukan nutrisi sebelumnya b) Restrukturisasi pemahaman ibu terhadap kebutuhan gizi yang benar c) Berikan diet dengan kalori sesuai fase :  Fase Stabilisasi 80-100 kklal/KgBB/hari dgn protein 1-1. Berat badan berkurang.Tanda vital normal : Nadi (70-120x/mnt) suhu (36. Albumin serum meningkat minimal 3 gr/dl. BAB konsistensi lembek sehari ≤ 3 x Intervensi : a) Informasikan pada ibu sebab. BAK spontan dan lancar. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ybd penurunan masukan oral sekunder akibat persepsi orang tua yang salah terhadap gizi Tujuan : Nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh ( 2 minggu) Kriteria Hasil : Nafsu makan meningkat.225 % drip KCl 10 cc/fles cairan d) Monitoring TTV tiap 8 jam atau sesuai kebutuhan e) Monitoring intake-output f) Monitoring BB tiap hari dengan timbangan yang sama g) Monitoring ACCT faeses h) Kolaborasi dengan dokter : K/p pertahankan status haemodinamik dengan cairan koloid (albumin) i) Cek ulang Albumin serum setelah 1 minggu perawatan 2.

e) Berikan porsi kecil tapi sering: 8 x pemberian / hari f) Jaga oral higiene g) Observasi intake-Out Put h) Tingkatkan diet bila k/u memungkinkan i) Monitor BB tiap hari dengan timbangan yang sama j) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang bentuk & jumlah kalori yang sesuai dengan k/u klien k) Kolaborasi dengan dokter tentang :  Oral obat Candistantine 3 x 1 ml  K/p transfusi dan Albumin.: 23 . TTV normal : Nadi (70-120x/mnt) suhu (36.5 ° C) RR (20-40 x/mnt). tidak terdapat tanda-tanda infeksi.5-37. kulit yang sehat tetap intack. mandikan anak dengan sabun yang lembut f) Monitoring vital sign/ 8 jam atau sesuai kebutuhan g) Pertahankan suhu dalam batas normal h) Kolaborasi dengan team medis tentang obat yang sudah diberikan. pengobatan injeksi e) Skin Care & Self Care asistant : lindungi permukaan kulit yang sehat dengan minyak dan massage dengan lembut kulit yang sehat. Resti perluasan infeksi ybd kehilangan pertahanan tubuh sekunder (Crazy Pavement Dermatosis) Tujuan : Perluasan infeksi tidak terjadi Kriteria Hasil : luka kering tak berair. vitamin supplay 3. laborat leukosit dalam batas normal Intervensi : a) Informasi kepada keluarga sebab-akibat lecet-lecet di kulit b) Ajarkan keluarga untuk mengenali tanda awal kerusakan kulit c) Pengendalian infeksi secara rutin  Cuci tangan  Teknik antiseptik  Batasi pengunjung d) Kaji terhadap prediktor infeksi : saat pemasangan alat-alat invasive.

5 ° C) RR (20-40 x/mnt). 2. Intervensi : a) Kaji respon klien terhadap aktivitas b) Ajarkan ibu methode penghematan energi : jangan membiarkan anak menangis terlalu lama c) Berikan stimulus pemulihan perkembangan klien sesuai dengan kemampuan d) Tingkatkan aktivitas/stimulus perkembangan secara bertahap e) Hentikan aktivitas bila klien berespon negatif terhadap TTV maupun keadaan umum. aktivitas/perkembangan kembali seperti semula.5-37. II. Memenagement pemberian cairan sesuai fase yaitu:  Tgl 15 – 17 juni 2009 fase stabilisasi pemberian cairan terpenuhi 100 %. Cairan terpenuhi full dari minum susu formula tgl 18 – 19 Juni 2009 terpenuhi 750 cc = 83. Cefotaxim 2 x 300 mg  Gentamicine 2 x 15 mg  Vit A (Hr I.3 %. TINDAKAN YANG TELAH DILAKUKAN 1. ditengkatkan pelan-pelan sampai tagl 22 Juni 2009 terpenuhi kebutuhan 100% 24 . tidak cyanosis. Intoleransi aktivitas ybd ketidakadekuatan sumber energi sekunder akibat malnutrisi Tujuan : toleran terhadap aktivitas (1 minggu) Kriteria Hasil : sebelum saat dan sesudah aktivitas TTV normal : Nadi (70120x/mnt) suhu (36. istirahatkan klien selama 3 menit. XIV hari rawat)  k/p konsul specialist kulit 4. penyakit kulit yang diderita anaknya. hari kedua dan ketiga infus stop terpenuhi full dari minum susu 10 x 60cc = 600 cc  Tgl 18 – 22 Juni 2009 Fase transisi kebutuhan cairan ditingkatkan menjadi 150 cc/kgBB/hari. f) Ukur tanda-tanda vital saat istirahat dan k/p 3 menit setelah klien melakukan aktivitas D. Melakukan restrukturisasi tentang pemahaman keluarga yang dsalah terhadap nutrisi. pada hari pertama pemenuhan cairan dari infus yaitu 25 TPM mikro.

hari ke 3 dirawat klien yang semula demam suhu tubuhnya kembali normal 6.6 Kg. Sejak Tgl 17 Juni 2009 klien mendapat pengobatan OAT yaitu : INH 1 x 50 mg. Melakukan Koreksi elektrolit dengan menambahkan potasium 10 cc tiap fles cairan Dex 5%-NaCl 0.9 Kg hari 3 – 8 berat badan turun dan bertahan 5. protein terpenuhi 10 gram atau 100% dengan bentuk diet LLM 10 x 60 cc (1 takar LLM mengandung 22 kkal dan protein 0.225 % (hanya hari pertama saja) Melakukan monitoring terhadap perkembangan berat badan. Tgl 23 Juni 2009 diawali fase Rehabilitasi kebutuhan cairan ditingkatan menjadi 200cc?kgBB/hari tercapai 95. hari ke dua dirawat BAB klien lembek/tidak pernah diare Melakukan management Nutrisi/Diet :  Tgl 15 – 17 juni 2009 fase stabilisasi pemberian nutrisi/kalori terpenuhi 440 kkal atau 98 %. 5. mulai hari ke 9 berat badan turun pada level terendah berat badan turun menjadi 5. dari hasil konsul kulit didapatkan terapi Hidrocortisan 2 % dioles tipis di kulit.4 kg. hari ke-2 turun menjadi 5. klien tidak pernah mengalami hipothermi. yaitu : Saat pertama MRS Berat badan 6 Kg. 4.2 %. Keluhan BAB cair tidak terbukti. 3. Melakukan program pengobatan sesuai jadwal. PZA 1 x 150 mg. Awalnya diberikan extra bubur halus sehingga kalori terpenuhi 76. 25 .9% selanjutnya bertahap ditingkatkan susunya menjadi 10 x 75cc sehingga kalori tercapai 100%  Tgl 23 Juni 2009 diawali fase Rehabilitasi kebutuhan nutrisi ditingkatan menjadi 200cc/kgBB/hari berupa llm 10 x 80 cc dan buburkasar 1/2 porsi. Melakukan monitoring terhadap TTV. Program teraphy/advis dokter yang tidak dilakukan adalah transfusi darah PRC 60 cc pro lasix 6 mg dikarenakan klien tidak memiliki uang untuk membayar harga darah. Rifampisine 1 x 75 mg. 7. vit B6 1x 5 mg. Sehingga kalori maupun protein tercapai 100 % 8.5 gram)  Tgl 18 – 22 Juni 2009 Fase transisi kebutuhan kalori ditingkatkan menjadi 150 kkal/kgBB/hari. Pada tanggal 18 Juni 2009 dapat tambahan teraphy Apialist sirup 1 x 1 cth.

Leukosit . EVALUASI Perkembangan keadaan umum klien semakin hari semakin meningkat. nutrisi dan cairan terpenuhi sesuai program. nafsu makan klien tampak baik.900.1 26 . Hasil laboratorium Tgl 16 Juni 2009 : Hb meningkat dengan sendirinya yaitu 9. tidak ada keluhan mual/mentah.E. Badan klien mulai tampak kuat. Kulit klien yang luka berair kering dan kulit yang sehat tetap intact. retikulosit 0. belajar jalan dibantu oleh ibunya. PCV 29 %.000. tidak terjadi syock. Trombosit 180.1%.

mungkin karena adanya kekuatiran dari orang tua kalau berkata jujur akan dimarahi maka mereka cenderung berkata bohong. sehingga data yang diperoleh pada hari pertama disangkal sendiri oleh ibu pasien. Bengkak awalnya diakui selama 2 hari diralat menjadi 2 bulan. karena tanpa tambahan transfusi darah 27 . beberapa kali interaksi agar terbina jalinan hubungan saling percaya. Suatu kendala ekonomi yang mengakibatkan advis dokter tidak dapat dilaksanakan dalam memberikan asuhan keperawatan pada kasus ini adalah pemberian transfusi darah PRC dan penambahan Albumin. Tentu dalam hal ini dibutuhkan kesabaran. dll. terbukti klien selalu rutin datang ke posyandu. Semula ibu mengatakan bahwa sakit sejak 1 bulan berganti menjadi 2 bulan. Salah satu yang perlu di restrukturisasi adalah pandangan klien yang salah terhadap nutrisi yaitu tentang makan banyak ikan akan menjadi cacingan dan alergi. pengaturan diet dan penghitungan kebutuhan kalori dengan benar menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tetapi disini justru menunjukkan kepada kita bahwa penanganan gizi yang baik. Disini sangat nampak sekali adanya ketidak jujuran data yang diberikan oleh orang tua. Potensi dan budaya yang dimiliki klien dalam hal ini perlu mendapat support sehingga klien dapat mencapai hidup sehat secara maksimal. susu menyebabkan diare.BAB IV PEMBAHASAN Ada beberapa hal menarik yang ingin penulis sampaikan dari hasil penerapan teori konseptual Transkultural Madeline Lininger pada kasus yang diamati. utamanya yaitu saat melakukan anamnesa untuk mendapatkan data yang telah ditulis ternyata tidaklah mudah. Begitu pula keinginan klien untuk memperbaiki ekonomi maupun kesehatan cukup baik terbukti klien berusaha mengembangkan penghasilannya dengan cara membeli kambing untuk bisnis walaupun pada akhirnya gagal. Salah satu kalimat yang paling mencolok adalah saat ibu mengatakan bahwa saat anak usia 2 bln susu SGM 1 kotak 400 gram habis dalam waktu 1 hari. karena sesuai anjuran yang ada dikemasan tidak mungkin susu satu kotak akan habis dalam waktu Cuma 1 hari. Persepsi klien terhadap kesehatan cukup baik. Informasi yang diberikan orang tua selalu berganti-ganti. Pada akhinya dari 3 kali membina hubungan saling percaya penulis mendapatkan juga data yang benar-benar valid.

8 mg/dl 28 .maupun penambahan albumin.1 gr% dan albumin yang semula 1.6 gr%menjadi 9.6 mg/dl meningkat menjadi 2. Hb dan albumin klien meningkat dengan sendirinya yaitu yang semula Hb 8.

Praktek keperawatan transkultural dapat diterapkan dan menjadi salah satu hal penting dan relevan dalam mempertahankan keyakinan nilai-nilai budaya orang lain B. Kesehatan disamping banyak diakibatkan adanya gangguan akibat stress fisik. kepercayaan dan pengetahuan yang salah terhadap Gizi. Hasil Penataran Petugas Kesehatan Dalam Rangka Pelayanan Gizi Buruk di Puskesmas dan Rumah Sakit. Daftar Pustaka Direktorat Bina Gizi Masyarakat. genetik dari dalam tubuh tetapi penyakit juga dapat dipengaruhi oleh budaya dan pandangan hidup yang salah 2.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 29 . SARAN Perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan hendaklah membina hubungan saling percaya melalui penghargaan terhadap nilai-nilai budaya. BLK Cimacan. Dan hendaknya dalam mengatasi masalah/konflik dapat dilakukan dengan pendekatan budaya yang dimiliki klien. karena memang problem utama masalah kurang gizi pada an. R erat hubungannya dengan masalah kultur. Oktober 1981. Model konseptual Madeline Lininger sangat sesuai digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan utamanya kasus ini. dan sosial. 3. KESIMPULAN 1. agama.

Asmadi. 2009. 2008. http://news. WHO Searo. Edward Arnold. Pedoman Penanggulangan Kekurangan Energi Protein (KEP) dan Petunjuk Pelaksanaan PMT pada Balita. 2002.com Anonim. 1992 Departemen Keseharan RI. Konsep Dasar Keperawatan. Waterlow JC. 1998. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Ditjen Binkesmas Depkes. WHO. 2005. Pemerintah belum Seriau Tangani Gizi Buruk. Unicef. Dietary Management of PEM (Not Published. Laporan Aplikasi Model Konsep “ Materi Kuliah Fikes S1 Unmmuh Jember” tidak dipublikasikan Anonim. Petunjuk Teknis Bagi Bidan Desa Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK).com 30 .kapanlagi.Departemen Kesehatan RI. http://www. Protein Energy Malnutrition. EGC. 1998) WHO. Konsep Penanganan Gizi Buruk di Indonesia Secara Makro Cukup Bagus. Jakarta 1997 Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Jakarta 1997. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Indonesia. Jakarta Indriyani. London.okezone. Guideline for the Inpatient Treatment of Severely Malnourished Children.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->