Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

LUKA TEMBAK

OLEH: NENI (GIA 10600) FAIZAH (G1A 107042) APRI SYLVIANI (GIA 107028) SAFTIANI (GIA 107027) SHINTIA DARA JULISA (GIA 1070)

PEMBIMBING: dr. Junus Widjaja, SpF

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN KEDOKTERAN FORENSIK RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JAMBI 2012 2013

HALAMAN PENGESAHAN Referat yang berjudul Luka Tembak

Disusun oleh : Neni Faizah Apri sylviani Saftiani Dara

Telah diterima sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepanitraan Klinik Senior (KKS) di bagian Ilmu Kedokteran Forensik Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 25 Maret 2013 s.d. 30 April 2013.

Palembang, April 2013 Pembimbing,

dr. Junus Widjaja, SpF

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat kesehatan dan keselamatan sehingga pembuatan referat ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Referat ini dibuat sebagai salah satu tugas Kepanitraan Klinik Senior Bagian Ilmu Forensik RSUP Dr. Mohammad Husein Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Jambi. Ucapan terimakasih saya haturkan kepada dosen pembimbing dr. Junus Widjaja, SpF. atas bimbingan dan arahannya dalam pembuatan referat ini dan kepada semua pihak yang telah membantu saya sehingga referat ini dapat terselesaikan dengan baik. Tentunya sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan dan sebagai insan yang masih terus menuntut ilmu, saya menyadari bahwa pembuatan referat ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kesalahan. Akhirnya saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya dan semoga referat ini dapat berguna dan menambah pengetahuan bagi kita semua. Amin.

Palembang, April 2013

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kekerasan dengan menggunakan senjata api meningkat dalam dekade terakhir ini. Dalam konteks kesehatan masyarakat, diperkirakan terdapat lebih dari 500.000 luka per tahunnya yang merupakan luka akibat senjata api. Menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2001, jumlah tersebut mewakili seperempat dari total perkiraan 2,3 juta kematian akibat kekerasan. Dari jumlah 500.000 tersebut, 42%nya merupakan kasus bunuh diri, 38% merupakan kasus pembunuhan, 26% merupakan perang dan konflik persenjataan.1,2 Luka tembak merupakan penyebab kematian akibat pembunuhan di Amerika Serikat dan pada banyak yurisdiksi, paling sering dipakai untuk bunuh diri. Diperkirakan bahwa tiaptahun di Amerika Serikat terdapat 70.000 korban luka tembak dengan 30.000 kematian.Pemeriksaan terhadap luka ini memerlukan latihan khusus dan spesialis, baik oleh dokter gawat darurat terhadap korban luka tembak hidup atau ahli patologi forensik pada korbanyang meninggal.3 Laporan dari negara lain seperti Inggris dan Wales pada tahun 2001 angka kejadian luka tembak adalah 0,4/100 ribu (bunuh diri 65%, homicide 7%, kecelakan 28%), dan angka kejadian di Kanada pada tahun 2002 adalah 2,6 per 100.000 (bunuh diri 80%, homicide 15%, kecelakaan 5%).4 Sedangkan di Indonesia, menurut laporan hak asasi manusia triwulan ke dua tahun 1998 yang dikeluarkan oleh ELSAM (Lembaga Studi dan Avokasi Masyarakat) pada triwulan ke II tercatat ada 102 warga negara yang menjadi korban kekerasan akibat senjata api.5 Untuk menjelaskan tugas dan fungsi sebagai pemeriksa maka dokter harus menjelaskan berbagai hal, diantaranya: apakah luka tersebut memang luka tembak, yang mana luka tembak masuk dan mana luka tembak keluar, jenis senjata yang dipakai, jarak tembak, arah tembakan, perkiraan posisi korban sewaktu ditembak, berapa kali korban ditembak dan luka tembak mana yang menyebabkan kematian.

Interpretasi yang benar mengenai luka tembak mengenai ahli patologi tidak hanya memberikan informasi berharga yang dapat menunjang

pelaksananaan hukum selama investigasi, tetapi juga penting untuk penentuan akhir jenis kematian.6 Biaya medis, legal, dan emosional akibat kejahatan tersebut menjadi suatu kerja berat bagi rumah sakit, sistem peradilan, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Evaluasi mengenai luka tersebut memerlukan latihan khusus dan keahlian baik oleh seorang dokter yang menangani kegawatdaruratan bagian luka tembak maupun para ahli patologi dan forensik.7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI LUKA TEMBAK Luka tembak adalah luka yang disebabkan oleh penetrasi anak peluru kedalam tubuh yang diproyeksikan lewat senjata api atau persentuhan peluru dengan tubuh. Yang termasuk dalam luka tembak adalah luka tembak masuk maupun luka tembak keluar. Luka tembak masuk terjadi apabila anak peluru memasuki suatu objek dan tidak keluar lagi, sedangkan pada luka tembak keluar, anak peluru menembus objek secara keseluruhan. Umumnya luka tembak ditandai dengan luka masuk yang kecil dan luka keluar yang lebih besar. Luka ini biasanya juga disertai dengan kerusakan pada pembuluh darah, tulang, dan jaringan sekitar.

2.2 JENIS SENJATA API Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. Berikut adalah jenis-jenis senjata api: Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil perledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil (anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. Berikut adalah jenis-jenis senjata api:
a.

Berdasarkan Panjang Laras:


1.

Laras pendek

Revolver: mempunyai metal drum (tempat penyimpanan 6 peluru) yang berputar (revolve) setiap kali trigger ditarik dan menempatkan peluru baru pada posisi siap untuk di tembakkan. Revolver terdapat dua jenis, single action dan double action. Pada tipe single action pelatuk harus dikokang setiap kali akan menembak. Sedangkan pada double action revolver penekanan picu secara berulang untuk langsung memutar silinder, mensejajarkan laras dan tempat peluru, mengokang dan selanjutnya melepaskan pelatuk untuk menembak.

Pistol : peluru disimpan dalam sebuah silinder yang diputar dengan menarik picunya. Pistol otomatis dan semi otomatis, peluru disimpan dalam sebuah magasin, putaran

pertama harus dimasukkan secara manual ke dalam ruang ledaknya.

Gambar 1. Senjata api laras pendek 2.

Laras panjang Senjata ini berkekuatan tinggi dengan daya tembak sampai 3000 m, mempergunakan peluru yang lebih panjang. Senjata laras panjang dibagi menjadi dua yaitu:

Senapan tabur: Senapan tabur dirancang untuk dapat memuntahkan butir-butir tabur ganda lewat larasnya, sedangkan senapan dirancang untuk memuntahkan peluru tunggal lewat larasnya, moncong senapan halus dan tidak terdapat rifling.

Senapan untuk menyerang: Senapan ini mengisi pelurunya sendiri, mampu melakukan tembakan otomatis sepenuhnya, mempunyai kapasitas magasin yang

besar dan dilengkapi ruang ledak untuk peluru senapan dengan kekuatan sedang (peluru dengan kekuatan sedang antara peluru senapan standard dan peluru pistol)

SKS-45

Chinese AKS-47 semi-automatic rifle


Gambar 2. Senjata api laras panjang b.

Berdasarkan Alur Laras


1.

Laras beralur (Rifled bore) Agar anak peluru dapat berjalan stabil dalam lintasannya, permukaan dalam laras dibuat beralur spiral dengan diameter yang sedikit lebih kecil dari diameter anak peluru, sehingga anak peluru yang didorong oleh ledakan mesiu, saat melalui laras, dipaksa bergerak maju sambil berputar sesuai porosnya, dan ini akan memperoleh gaya sentripetal sehingga anak peluru tetap dalam posisi ujung depannya di depan dalam lintasannya setelah lepas laras menuju sasaran. Alur laras ini dibagi menjadi dua yaitu, arah putaran ke kiri (COLT) dan arah putaran ke kanan (Smith and Wesson).

Senjata api dengan alur ke kiri


Dikenal sebagai senjata tipe COLT Kaliber senjata yang banyak dipakai: kaliber 0.36; 0.38; dan 0.45 Dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban yaitu adanya goresan dan alur yang memutar ke arah kiri bila dilihat dari basis anak peluru.

gambar 3. Senjata api beralur

Senjata api dengan alur ke kanan


Dikenal sebagai senjata api tipe SMITH & WESSON (tipe SW) Kaliber senjata yang banyak dipakai: kaliber 0.22;0.36;0.38;0.45; dan 0.46 Dapat diketahui dari anak peluru yang terdapat pada tubuh korban yaitu adanya goresan dan alur yang memutar ke arah kanan bila dilihat dari bagian basis anak peluru.

Laras tak beralur atau laras licin (Smooth bore) Senjata api jenis ini dapat melontarkan anak peluru dalam jumlah banyak pada satu kali tembakan. Contohnya adalah shot gun.

2.3 PROSES TERJADINYA TEMBAKAN a. Senjata yang digunakan, meliputi: Jenisnya Dengan melihat ciri-ciri luka akan dapat ditentukan apakah disebabkan oleh senjata api, senjata angin, atau shotgun. Kalibernya Kaliber senjata dapat diperkirakan dengan melihat diameter cincin lecet. Kaliber tersebut ditentukan berdasarkan diameter lumen dari laras, yang tidak selalu sama dengan diameter peluru. Akibat adanya elastisitas kulit maka biasanya diameter anak peluru sedikit lebih besar dari diameter cincin lecet. Pada bagian tubuh yang bagian kulitnya terlihat sangat dekat dengan tulang maka diameter

anak peluru hampir sama besar dengan diameter cincin lecet sebab tulang dapat menjadi penahan terhadap elastisitas kulit diatasnya ketika mendapat dorongan anak peluru. b. Cara melakukan tembakan, meliputi: Arah tembakan Secara teori arah tembakan dapat ditentukan dengan pasti dengan menghubungkan luka tembak masuk dengan luka tembak keluar. Hanya saja luka tembak keluar selalu tidak ditemukan. Kalaupun ditemukan kadang-kadang luka tersebut terjadi sesudah arah anak peluru berubah setelah membentur tulang. Selain itu kadang-kadang jumlah luka tembak banyak sehingga sulit menentukan luka tembak masuk dan luka tembak keluar dari anak peluru yang sama. Dalam keadaan demikian maka perkiraan arah tembakan dapat didasarkan pada posisi lubang luka terhadap cincin lecet. Bila letaknya terpusat berarti arah tembakan tegak lurus terhadap permukaan sasaran dan bila episentris berarti arahnya miring. Jarak tembak Kecuali pada jarak tempel, jarak tembak hanya dapat ditentukan secara kasar dengan melihat bentuk lukanya serta ada tidaknya produkproduk dari ledakan mesiu. Selain itu ada tidaknya luka tembak keluar juga dapat dijadikan dasar perhitungan secara kasar. Namun harus diingat bahwa banyak senapan modern sekarang ini yang memiliki kemampuan tinggi, sehingga dapat menimbulkan luka tembak keluar meskipun ditembakkan dari jarak yang sangat jauh. Mengenai daya tembusnya baik pada manusia atau binatang, dipengaruhi oleh kecepatan (velocity) ketika menyentuh tubuh, berat massa, resistensi jaringan, serta jarak tembakan.

2.3 KLASIFIKASI LUKA TEMBAK Berdasarkan ciri-ciri yang khas pada setiap tembakan yang dilepaskan dari berbagai jarak, maka perkiraan jarak tembak dapat diketahui, dengan demikian dapat dibuat klasifikasinya.

Gambar 4. Gambaran luka tembak

Klasifikasi yang dimaksud antara lain : a. Luka Tembak Masuk Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan kebetulan mengenai sasaran yaitu tubuh korban maka pada tubuh korban tersebut akan didapatkan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api tersebut. adapun komponen atau unsur-unsur yang keluar dari setiap penembakan adalah : Anak peluru Luka terbuka yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu : Kecepatan, Posisi peluru pada saat masuk ke dalam tubuh, Bentuk dan ukuran peluru, dan Densitas jaringan tubuh dimana peluru masuk. Peluru yang mempunyai kecepatan tinggi (high velocity), akan menimbulkan luka yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan peluru yang kecepatannya lebih

rendah.Kerusakan jaringan tubuh akan lebih berat bila peluru mengenai bagian tubuh yang densitasnya lebih besar. Pada organ tubuh yang berongga seperti jantung dan kandung kencing bila terkena tembakan dan kedua organ tersebut sedang terisi penuh (jantung dalam fase diastole), maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila dibandingkan dengan jantung dalam fase diastole), maka kerusakan yang terjadi akan lebih hebat bila dibandingkan dengan jantung dalam fase sistole dan kandung kencing yang kosong; hal tersebut disebabkan karena adanya penyebaran tekanan hidrostatik ke seluruh bagian.

Mekanisme terbentuknya luka dan kelim lecet Pada saat peluru mengenai kulit, kulit akan teregang, Bila kekuatan anak peluru lebih besar dari kulit, maka akan terjadi robekan, Oleh karena terjadi gerakan rotasi dari peluru ( pada senjata yang beralur atau rifle bore), terjadi gesekan antara badan peluru dengan tepi robekan sehingga terjadi kelim lecet (abrasion ring), Oleh karena tenaga penetrasi peluru dan gerakan rotasi akan diteruskan kesegala arah, maka sewaktu anak peluru berada dan melintas dalam tubuh akan terbentuk lubang yang lebih besar dari diameter peluru. Bila peluru telah meninggalkan tubuh atau keluar, lubang atau robekan yang terjadi akan mengecil kembali, hal ini dimungkinkan oleh adanya elastisitas dari jaringan, Bila peluru masuk ke dalam tubuh secara tegak lurus maka kelim lecet yang terbentuk akan sama lebarnya pada setiap arah, Peluru yang masuk secara membentuk sudut atau serong akan dapat diketahui dari perangai kelim lecet, Kelim lecet yang paling lebar merupakan petunjuk bahwa peluru masuk dari arah tersebut dengan kata lain kelim lecet yang terlebar menunjukkan arah masuknya peluru, Pada senjata yang dirawat baik, maka pada kelim lecet akan dijumpai pewarnaan kehitaman akibat minyak pelumas hal ini disebut kelim kesat atau

kelim lemak (grease ring; grease mak), Bila peluru masuk pada daerah diman densitasnya rendah, maka bentuk luka yang terjadi adalah berbentuk bundar; bila jaringan di bawahnya memiliki densitas yang besar, misalnya tulang maka sebaiknya tenaga dari peluru yang disertai pula dengan gas yang terbentuk akan memantul dan mengangkat kulit diatasnya, sehingga robekan yang terjadi menjadi tidak beraturan atau berbentuk bintang, Perkiraan diameter anak peluru merupakan penjumlahan antara diameter lubang luka ditambah dengan lebar kelim lecet yang tegak lurus dengan arah masuknya peluru, Peluru yang hanya menyerempet tubuh korban akan menimbulkan robekan dangkal, dan ini disebut bullet slap atau bullet graze, Bila peluru menyebabkan luka terbuka dimana luka tembak masuk bersatu dengan luka tembak keluar, luka yang terbentuk disebut gutter wound. Butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar Butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar akan masuk kedalam kulit Daerah dimana butir-butir mesiu tersebut masuk akan tampak berbintikbintik hitam dan bercampur dengan perdarahan. Oleh karena penetrasi butir mesiu tadi cukup dalam, maka bintik-bintik hitam tersebut tidak dapat dihapus dengan kain dari luar. Jangkauan butir-butir mesiu untuk senjata genggam berkisar sekitar 60 cm Black powder adalah butir mesiu yang komposisinya terdiri dari nitrit, tiosinat, tiosulfat, kalium karbonat, kalium sulfat dan kalium sulfit, sedangkan smoke less powder terdiri dari nitrit dan selulosa nitrat yang dicampur dengan karbon dan grafit. Asap atau jelaga Oleh karena setiap proses pembakaran itu tidak sempurna maka terbentuk asap atau jelaga Jelaga yang berasal dari black powder komposisinya CO2 (50%),

Nitrogen (35%), CO (10%), Hidrogen-sulfid (3%), Hidrogen (2%), serta sedikit Oksigen dan Methane. Smokeless powder akan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit Jangkauan jelaga untuk senjata genggam berkisar sekitar 30 sentimeter Oleh karena jelaga itu ringan, jelaga hanya menempel pada permukaan kulit, sehingga bila dihapus akan menghilang. Api (Flame effect) Terbakarnya butir-butir mesiu akan menghasilkan api serta gas panas yang mengakibatkan kulit akan tampak hangus terbakar (scorching, charring), Jika tembakan terjadi pada daerah yang berambut, maka rambut akan terbakar, Jarak tempuh api serta gas panas untuk senjata genggam sekitar 15 sentimeter, sedangkan untuk senjata yang kalibernya lebih kecil, jaraknya sekitar 7 sentimeter. Partikel logam (Metal effect) Oleh karena diameter peluru lebih besar dari diameter laras, maka sewaktu peluru bergulir pada laras yang beralur akan terjadi pelepasan partikel yang berlogam sebagai akibat pergesekan tersebut Partikel atau fragmen logam tersebut akan menimbulkan luka lecet atau luka terbuka dangkal kecil-kecil pada tubuh korban Partikel tersebut dapat masuk kedalam kulit atau tertahan pada pakaian korban. Akibat moncong senjata (Muzzle Effect) : Jejas larasss Jejas laras dapat terjadi pada luka tembak temple, baik luka tembak temple, baik luka tembak temple yang erat (hard contact), maupun yang hanya sebagian menempel (soft contact). Jejas laras dapat terjadi bila moncong senjata ditempelkan pada bagian tubuh dimana dibawahnya ada bagian yang keras (tulang) Jejas laras terjadi oleh karena adanya tenaga yang terpantul oleh tulang dan mengangkat kulit sehingga terjadi benturan yang cukup kuat antara kulit dengan moncong senjata

Jejas laras dapat pula terjadi jika sipenembak memukulkan moncong senjatanya dengan cukup keras pada tubuh korban, akan tetapi hal ini jarang terjadi, Pada Hard contact jejas laras tampak jelas mengelilingi lubang luka, sedangkan pada Soft Contact, jejas laras yang sebetulnya luka lecet tekan tersebut akan tampak sebagian, sebagai garis lengkung Bila pada Hard Contact, tidak akan dijumpai kelim jelaga atau kelim tattoo, oleh karena tertutup rapat oleh laras senjata, maka pada soft contact, jelaga dan butir mesiu ada yang keluar melalui celah antara moncong senjata dan kulit, sehingga masih terdapat adanya kelim jelaga dan kelim tattoo.

Luka tembak masuk dapat dibedakan menjadi : 1. Luka tembak tempel (contact wounds) Terjadi bila moncong senjata ditekan pada tubuh korban dan ditembakkan. Bila tekanan pada tubuh erat disebut hard contact, sedangkan yang tidak erat disebut soft contact. Umumnya luka berbentuk bundar yang dikelilingi kelim lecet yang sama lebarnya pada setiap bagian. Jaringan subkutan 5-7,5 cm di sekitar luka tembak masuk mengalami laserasi. Di sekeliling luka tampak daerah yang berwarna merah atau merah cokelat, yang menggambarkan bentuk dari moncong senjata, ini disebut jejas laras. Rambut dan kulit sekitar luka dapat hangus terbakar. Saluran luka akan berwarna hitam yang disebabkan oleh butir-butir mesiu, jelaga dan minyak pelumas. Tepi luka dapat berwarna merah, oleh karena terbentuknya COHb. Bentuk luka tembak temple sangat dipengaruhi oleh keadaan / densitas jaringan yang berada dibawahnya, dengan demikian dapat dibedakan :

a. Luka tembak tempel di daerah dahi b. Luka tembak tempel di daerah pelipis c. Luka tembak tempel di daerah perut Luka tembak temple di daerah dahi mempunyai ciri : a. Luka berbentuk bintang b. Terdapat jejas laras Luka tembak temple di daerah pelipis mempunyai ciri : a. Luka berbentuk bundar b. Terdapat jejas laras Luka tembak temple di daerah perut mempunyai ciri : a. Luka berbentuk bundar b. Kemungkinan besar tidak terdapat jejas laras 2. Luka tembak jarak dekat (close range wounds) Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban masih dalam jangkauan butir-butir mesiu (luka tembak jarak dekat) atau jangkauan jelaga dan api (luka tembak jarak sangat dekat). Luka berbentuk bundar atau oval tergantung sudut masuknya peluru, dengan di sekitarnya terdapat bintik-bintik hitam (kelim tato) dan atau jelaga (kelim jelaga). Ukuran luka lebih kecil dibanding peluru. Di sekitar luka dapat ditemukan daerah yang berwarna merah atau hangus terbakar. Bila terdapat kelim tato, berarti jarak antar moncong senjata dengan korban sekitar 60 cm (50-60 cm), yaitu untuk senjata genggam. Bila terdapat pula kelim jelaga, jaraknya sekitar 30 cm (25-30 cm) Bila terdapat juga kelim api, maka jarak antara moncong senjata dengan korban sekitar 15 cm. 3. Luka tembak jarak jauh ( long range wound) Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau

terbakar sebagian. Jarak diatas 45 cm Ukuran luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru. Warna kehitaman atau kelim tattoo tidak ada. Luka berbentuk bundar atau oval dengan disertai adanya kelim lecet. Bila senjata sering dirawat (diberi minyak) maka pada kelim lecet dapat dilihat pengotoran berwarna hitam berminyak, jadi ada kelim kesat atau kelim lemak.

b. Luka Tembak Keluar Jika peluru yang ditembakkan dari senjata api mengenai tubuh korban dan kekuatannya masih cukup untuk menembus dan keluar pada bagian tubuh lainnya, maka luka tembak dimana peluru meninggalkan tubuh itu disebut luka tembak keluar. Luka tembak keluar mempunyai ciri khusus yang sekaligus sebagai perbedaan pokok dengan luka tembak masuk. Ciri tersebut adalah tidak adanya kelim lecet pada luka tembak keluar, dengan tidak adanya kelim lecet, kelim-kelim lainnya juga tertentu tidak ditemukan. Disekitar luka tembak keluar mungkin pula dijumpai daerah lecet bila pada tempat keluar tersebut terdapat benda yang keras, misalnya ikat pinggang, atau korban sedang bersandar pada dinding. Luka tembak keluar umumnya lebih besar dari luka tembak masuk akibat terjadi deformitas anak peluru, bergoyangnya anak peluru dan terikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari luka tembak keluar. Pada anak peluru yang menembus tulang pipih, seperti tulang atap tengkorak, akan terbentuk corong yang membuka searah dengan gerak anak peluru. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan luka tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk adalah: Perubahan luas peluru, oleh karena terjadi deformitas sewaktu peluru berada dalam tubuh dan membentur tulang Peluru sewaktu berada dalam tubuh mengalami perubahan gerak, misalnya karena terbentur bagian tubuh yang keras, peluru bergerak berputar dari ujung ke ujung (end to end), keadaan ini disebut tumbling Pergerakan peluru yang lurus menjadi tidak beraturan , disebut yawning Peluru pecah menjadi beberapa fragmen. Fragmen-fragmen ini menyebabkan luka tembak keluar menjadi lebih besar.

Bila peluru mengenai tulang dan fragmen tulang tersebut turut terbawa keluar, maka fragmen tulang tersebut akan membuat robekan tambahan sehingga akan memperbesar luka tembak keluarnya. Luka tembak keluar mungkin lebih kecil dari luka tembak masuk bila terjadi pada luka tembak tempel/kontak, atau pada anak peluru yang telah kehabisan tenaga pada saat keluar meninggalkan tubuh, bentuk luka tembak keluar tidak khas dan sering tidak beraturan. Pada beberapa keadaan luka tembak keluar lebih kecil dari luka tembak masuk, hal ini disebabkan: Kecepatan atau velocity peluru sewaktu akan menembus keluar berkurang, sehingga kerusakannya (lubang luka tembak keluar) akan lebih kecil, perlu diketahui bahwa kemampuang peluru untuk dapat menimbulkan kerusakan berhubungan langsung dengan ukuran peluru dan velocity Adanya benda menahan atau menekan kulit pada daerah dimana peluru akan keluar yang berarti menghambat kecepatan peluru, luka tembakkeluar akan lebih kecil bila dibandingkan dengan luka tembak masuk Bentuk dan jumlah luka tembak keluar tidak dapat diprediksi. Luka tembak keluar sebagian (parsial exit wound), hal ini dimungkinkan oleh karena tenaga peluru tersebut hampir habis atau ada penghalang yang menekan pada tempat dimana peluru akan keluar, dengan demikian luka dapat hanya berbentuk celah dan tidak jarang peluru tampak menonjol sedikit pada celah tersebut. Jumlah luka tembak keluar bisa lebih banyak dari pada luka tembak masuk, hal ini dimungjkinkan karena: 1. Peluru pecah dan masing-masing pecahan membuat sendiri luka tembak keluar. 2. Peluru menyebabkan ada tulang yang patah dan tulang tersebut terdorong keluar pada tempat yang berbeda dengan tempat keluarnya peluru. 3. Dua pelurunya masuk kedalam tubuh melalui satu luka tembak masuk (tandem bullet injury) dan di dalam tubuh ke dua peluru tersebut berpisah dan keluar melalu tempat yang berbeda. Peluru jarang dapat dihentikan oleh tulang, terutama tulang-tulang yang tipis seperti scapula dan ileum atau bagian tipis dari tengkorak. Anak peluru yang mengenai lokasi yang tidak biasa dapat menyebabkan luka dan kematian tetapi luka tembak masuk akan sangat sulit untuk ditemukan. Contohnya telinga, cuping hidung, mulut, ketiak, vagina, dan rektum.

2.4 KARAKTERISTIK DARI LUKA TEMBAK Luka Tembak Tempel Pada luka tembak temple yang tidak erat (soft contact, lost contact), hanya memperlihatkan sedikit perbedaan dengan luka akibat senjata tanpa alat peredam suara. Lubang luka yang berbentuk bundar yang dikelilingi kelim lecet, fouling disekitar kelim lecet dan jelaga serta butir-butir mesiu juga ditemukan dalam saluran luka. Perbedaan yang bermakna terletak pada karakter dan ukuran dari jejas laras. Kelim lecet pada luka tembak dengan alat peredam merupakan daerah lingkaran yang eritematosus, batas yang tegas; pada beberapa kasus kelim tersebut dapat hanya merupakan bagian dari lingkaran. Pada pemeriksaan mikroskopis tampak perbedaan yang sangat kontras dimana pada jejas laras kerusakan karena efek termis atau mekanis minimal sekali atau tidak ada. Pada pembesaran yang lebih besar tampak dilatasi kapiler-kapiler pada epidermis pada area dimana terdapat jejas laras, hal mana tidak akan tampak pada luka tembak temple dengan senjata api tanpa alat peredam. dapat ditambahkan bahwa salah satu cirri dipergunakannya alat peredam ialah adanya perbedaan yang mencolok antara diameter luka serta klim lecet dengan jejas laras misalnya ; diameter jejas laras 40 mm, sedangkan diameter kelim hanya 5 mm Luka tembak yang bukan luka tembak temple (Noncontact wound) Tidak banyak menunjukkan perbedaan dengan luka tembak yang disebabkan oleh senjata api tanpa alat peredam. cirri yang paling bermakna dan amat membantu didalam memeriksa luka tembak yang bukan luka tembak temple adalah : luka tembak masuk yang atipikal/ tidak khas, dengan cirri bentuk yang ireguler atau luka yang berbentuk celah (slit-like defects) sering disertai dengan klim lecet yang eksentrik dan beberapa laserasi disekitar luka tembak. Satu hal yang perlu difikirkan disini adalah kemungkinan luka tembak ricochet.

2.5 DESKRIPSI LUKA TEMBAK Hal-hal yang penting dalam deskripsi luka tembak: 1. Lokasi a. Jarak dari puncak kepala atau telapak kaki serta ke kanan dan kiri garis tengah tubuh b. Lokasi secara umum terhadap bagian tubuh 2. Deskripsi luka luar a. Ukuran dan bentuk b. Lingkaran abrasi, tebal dan pusatnya c. Luka bakar d. Lipatan kulit utuh atau tidak e. Tekanan ujung senjata 3. Residu tembakan yang terlihat a. Grains powder b. Deposit bubuk hitam, termasuk korona c. Tattoo d. Metal stippling 4. Perubahan a. Oleh tenaga medis b. Oleh bagian pemakaman 5. Track a. Penetrasi organ b. Arah

Depan ke belakang (belakang ke depan) Kanan ke kiri (kiri ke kanan) Atas ke bawah

c. Kerusakan sekunder

Perdarahan Daerah sekitar luka

d. Kerusakan organ individu 6. Penyembuhan luka tembakan a. Titik penyembuhan b. Tipe misil c. Tanda identifikasi d. Susunan 7. Luka keluar a. Lokasi b. Karakteristik 8. Penyembuhan fragmen luka tembak 9. Pengambilan jaringan untuk menguji residu

2.6 PEMERIKSAAN KHUSUS PADA LUKA TEMBAK Adapun pemeriksaan khusus yang dimaksud adalah : Pemeriksaan mikroskopik Perubahan yang tampak diakibatkan oleh dua faktor, yaitu: trauma mekanis dan termis. Luka tembak tempel dan luka tembak jarak dekat; Kompresi epitel disekitar luka tembak tampak epitel yang normal dan yang mengalami kompresi, elongasi, dan menjadi pipihnya sel-sel epidermal serta elongasi dari inti sel, Distorsi dari sel epidermis di tepi luka yang dapat bercampur dari butir-butir mesiu. Epitel mengalami nekrose, koagulatif, epitel sembab, vakuolisasi sel-sel basal, Akibat panas jaringan kolagen menyatu dengan pewarnaan HE akan lebih banyak mengambil warna biru (basofilic steining) Tampak perdarahan yang masih baru dalam epidermis (kelainan ini paling dominan) dan adanya butir-butir mesiu. Sel-sel pada dermis intinya mengkerut, vakuolisasi, dan piknotik

Butir-butir mesiu tampak sebagai benda-benda tidak beraturan, bewarna hitam atau hitam kecokelatan, Pada luka tembak tempel hard contact permukaan kulit sekitar luka tidak terdapat butir-butir mesiu atau hanya sedikit sekali, butir-butir mesiu akan tampak banyak dilapisan bawahnya, khususnya disepanjang tepi saluran luka. Pada luka tempel soft contact butir-butir mesiu terdapat pada kulit dan jaringan dibawah kulit Pada luka tembak jarak dekat butir-butir mesiu terutama terdapat pada permukaan kulit, hanya sedikit yang ada pada lapisan-lapisan kulit.

Pemeriksaan kimiawi Pada black gun powder dapat ditemukan kalium, nitrit, nitrat, sulfas, sulfat, karbonat, tiosianat, dan tiosulfat. Pada smokeless gunpowder dapat ditemukan nitrit, dan selulosa-nitrat. pada senjata api yang modern unsure kimiawa yang dapat ditemukan ialah timah, barium, antimony, dan merkuri unsure-unsur kimiawi yang berasal dari laras senjata dan dari peluru sendiri dapat ditemukan, yaitu : timah, antimon, nikel, tembaga, bismuth, perak dan talium. Pemeriksaan atas unsure-unsur tersebut dapat dilakukan terhadap pakaian, didalam atau disekitar luka Pada pelaku penembakan, unsure-unsur tersebut dapat dideteksi pada tangannya menggenggam senjata. Pemeriksaan dengan sinar X Pemeriksaan secara radiologic dengan sinar-x ini pada umumnya untuk memudahkan dalam mengetahui letak peluru dalam tubuh korban demikian pula bila ada partikel-partikel yang tertinggal.

Pada tandem bullet injury dapat ditemukan dua peluru walaupun luka tembak masuknya hanya satu. Bila pada tubuh korban banyak pellet tersebar, maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak dengan senjata jenis shotgun yang tidak beralur, dimana satu peluru terdiri dari berpuluh pellet bila pada tubuh korban tampak satu peluru, maka korban ditembak oleh senjata api jenis Rifled Pada keadaan dimana tubuh korban telah membusuk lanjut atau telah rusak sedemikian rupa, sehingga pemeriksaan sulit maka dengan pemeriksaan radiologi ini akan dengan mudah menentukan kasusnya, yaitu dengan ditemukannya anak peluru pada poto rontgen . Pada beberapa keadaan pemeriksaan terhadap luka tembak masuk sering dipersulit oleh adanya pengotoran oleh darah, sehingga pemeriksaan tidak dapat dilakukan dengan baik, akibat penafsiran atau kesimpulan mungkin sekali tidak tepat. Untuk menghadapi penyulit pada pemeriksaan tersebut dapat dilakukan prosedur sebagai berikut : Luka tembak dibersihkan dengan hydrogen-perokside (3 % by volume) Setelah 2-3 menit luka tersebut dicuci dengan air, untuk membersihkan busa yang terjadi dan membersihkan darah dengan pemberian hydrogen-perokside tadi, luka tembak akan bersih dan tampak jelas sehingga deskripsi dari luka dapat dilakuan dengan akurat.

2.7 CARA PENGUTARAAN JARAK TEMBAK DALAM VISUM ET REPERTUM Bila pada tubuh korban terdapat luka tembak masuk dan tampak jelas adanya jejas laras, kelim api, kelim jelaga atau tato; maka perkiraan atau penentuan jarak tembak tidak sulit. Kesulitan baru timbul bila tidak ada kelim-kelim tersebut selain kelim lecet. Bila ada kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 30 sentimeter. Bila ada kelim tato, berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 60 sentimeter, dan seterusnya.

Bila hanya ada kelim lecet, cara pengutaraannya adalah sebagai berikut: Berdasarkan sifat lukanya luka tembak tersebut merupakan luka tembak jarak jauh, ini mengandung arti: Korban ditembak dari jarak jauh, yang berarti diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar. Korban ditembak dari jarak dekat atau sangat dekat, akan tetapi antara korban dengan moncong senjata ada penghalang; seperti bantal dan lain sebagainya.

Bila ada kelim api, berarti korban ditembak dari jarak yang sangat dekat sekali, yaitu maksimal 15 sentimeter. Menurut Hadikusumo (1998), luka tembak tempel bentuknya seperti bintang, dengan

gambaran bundaran laras senjata api dengan tambahan gambaran vizierkorrel (pejera, foresight) akibat panasnya mulut laras. Bila larasnya menempel pada kulit, gas peluru ikut masuk ke dalam luka, dan berusaha menjebol keluar lagi lewat jaringan disekitar luka. Sementara luka tembak jarak dekat ada sisa mesiu yang menempel pada daerah sekitar luka. Gambaran mesiu ini tergantung jenis senjata dan panjang laras. Mesiu hitam lebih jauh jangkauannya dari pada mesiu tanpa asap. Sedangkan luka tembak jarak jauh, luka bersih dengan cincin kontusio, pada arah tembakan tegak lurus permukaan sasaran bentuk cincin kontusionya konsentris dan bundar.

2.8 PROSES TERJADINYA TEMBAKAN Senjata yang digunakan, meliputi:

Jenisnya Dengan melihat ciri-ciri luka akan dapat ditentukan apakah disebabkan oleh senjata api, senjata angin, atau shotgun.

Kalibernya Kaliber senjata dapat diperkirakan dengan melihat diameter cincin lecet. Kaliber tersebut ditentukan berdasarkan diameter lumen dari laras, yang tidak selalu sama dengan diameter peluru. Akibat adanya elastisitas kulit maka biasanya diameter anak peluru sedikit lebih besar dari diameter cincin lecet. Pada bagian tubuh yang bagian kulitnya terlihat sangat dekat dengan tulang maka diameter

anak peluru hampir sama besar dengan diameter cincin lecet sebab tulang dapat menjadi penahan terhadap elastisitas kulit diatasnya ketika mendapat dorongan anak peluru. Cara melakukan tembakan, meliputi: Arah tembakan Secara teori arah tembakan dapat ditentukan dengan pasti dengan menghubungkan luka tembak masuk dengan luka tembak keluar. Hanya saja luka tembak keluar selalu tidak ditemukan. Kalaupun ditemukan kadang-kadang luka tersebut terjadi sesudah arah anak peluru berubah setelah membentur tulang. Selain itu kadang-kadang jumlah luka tembak banyak sehingga sulit menentukan luka tembak masuk dan luka tembak keluar dari anak peluru yang sama. Dalam keadaan demikian maka perkiraan arah tembakan dapat didasarkan pada posisi lubang luka terhadap cincin lecet. Bila letaknya terpusat berarti arah tembakan tegak lurus terhadap permukaan sasaran dan bila episentris berarti arahnya miring. Jarak tembak Kecuali pada jarak tempel, jarak tembak hanya dapat ditentukan secara kasar dengan melihat bentuk lukanya serta ada tidaknya produkproduk dari ledakan mesiu. Selain itu ada tidaknya luka tembak keluar juga dapat dijadikan dasar perhitungan secara kasar. Namun harus diingat bahwa banyak senapan modern sekarang ini yang memiliki kemampuan tinggi, sehingga dapat menimbulkan luka tembak keluar meskipun ditembakkan dari jarak yang sangat jauh.

Mengenai daya tembusnya baik pada manusia atau binatang, dipengaruhi oleh kecepatan (velocity) ketika menyentuh tubuh, berat massa, resistensi jaringan, serta jarak tembakan.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN Luka tembak adalah luka yang disebabkan karena adanya penetrasi peluru kedalam tubuh yang diproyeksikan lewat senjata api, umumnya ditandai dengan luka masuk kecil dan dapat disertai dengan luka keluar yang lebih besar. Luka ini biasanya juga disertai dengan kerusakan pembuluh darah, tulang dan jaringan disekitarnya. Terdapat berbagai jenis senjata yang dapat didasarkan pada berbagai macam hal, antara lain berdasarkan tenaga pendorong yang terdiri dari senjata api dan senjata angin. Berdasarkan cara penggunaannya senjata genggam, dapat juga didasarkan pada bentuk permukaaan dalam laras yaitu senjata berlaras rata dan senjata beralur melingkar. Mekanisme terjadinya senjata, baik senjata angin atau senjata api pada prinsipnya sama yaitu memanfaatkan tekanan tinggi dari udara atau gas untuk melontarkan anak proyektil atau anak peluru keluar dari laras dengan kecepatan tinggi. Tekanan tinggi tersebut dapat berasal dari gas CO2 atau pembakaran mesiu. Gambaran luka tembak dapat berupa gambaran makroskopik dan mikroskopik. Pada gambaran makroskopik dapat dijumpai adanya luka berbentuk bintang maupun oval, dipinggir luka biasa terdapat adanya kelim tato maupun kelim jelaga. Sedangkan pada gambaran mikroskopik dapat dilihat perubahan progresif epitel akibat panas dan mekanik. Demikian pula kemungkinan didapatkannya butir-butir mesiu dalam saluran luka dan pada permukaan epitel. Untuk memperoleh gambaran yang lengkap akan luka tembak, maka dapat dilakukan pemeriksaan radiologis yaitu X-ray dan CT-scan. Umumnya X-ray lebih sering dilakukan mengingat akan faktor biaya yang lebih terjangkau.