P. 1
Referat Akne

Referat Akne

|Views: 50|Likes:
Dipublikasikan oleh Sri Mahtufa Riski
...
...

More info:

Published by: Sri Mahtufa Riski on Apr 17, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2013

pdf

text

original

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT & KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFARAT NOVEMBER 2011

ACNE VULGARIS

OLEH : ABDUL RAJAB H C 111 08 013 AHMAD IBRAHIM RUM C 111 08 119

PEMBIMBING Dr. WIWIN MULIANINGSIH SUPERVISOR Dr. A. M. ADAM, Sp. KK (K) DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

1

Sp. Makassar. M.HALAMAN PENGESAHAN Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa: Nama : 1. Abdul Rajab H 2. Ahmad Ibrahim Rum Judul Referat : Akne Vulgaris Telah menyelesaikan tugas refarat dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Kesehatan Kulit-Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Wiwin Mulianingsih 2 . Pembimbing. A. KK(K) dr. Adam. 8 November 2011 (C11108013) (C11108119) Supervisor. dr.

...................................................................................................................... 9 DIAGNOSIS BANDING ....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... 16 DAFTAR PUSTAKA ......................... 3 EPIDEMIOLOGI ....................................................................................................................DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ........... 2 PENDAHULUAN ................................................................. 6 PEMERIKASAAN PENUNJANG .................................................................................................. 15 PENCEGAHAN .......... 4 ETIOPATOGENESIS................................................................................................................. 11 PENATALAKSANAAN ............................................................................ 11 PROGNOSIS ........................... 17 3 ........................................................... 4 GEJALA KLINIS ............... 9 KOMPLIKASI ....................................................................................................................................... 1 DAFTAR ISI ...............................................................

Akne sedang merupakan lesi yang lebih inflamasi. sedang. peningkatan sekresi sebum. Sekresi androgen merupakan faktor pemicu utama akne pada orang dewasa.4 Diagnosis akne vulgaris ditegakkan berdasarkan anamnesis. Di Selandia Baru akne terjadi pada 91 % laki-laki dan 79% perempuan dan populasi yang sama terjadi di Portugal sekitar 82%. Pengobatan sebaiknya dimulai pada awal onset munculnya akne sehingga pengobatan lebih efektif. 5 Prevalensi akne pada usia 14-16 tahun di Inggris mencapai 50%.atau keduanya. Bakteri anaerob Propionibacterium acnes berperan penting dalam patogenesis akne. efek fisiologi dan penyebab dari penyakit tersebut. tipe lesi. papul. pustul. dada. beberapa nodul dan sedikit jaringan parut . Predileksi akne vulgaris pada daerah-daerah wajah. 4 Akne diklasifikasikan sebagai akne ringan. pemeriksaan fisis. dan tes laboratorium.AKNE VULGARIS I. Pada umumnya prognosis dari akne vulgaris cukup baik. Akne ringan merupakan sebagai lesi non-inflamasi (komedo).4 Penyebab pasti dari akne belum diketahui secara pasti. bakteri pada duktus kelenjar polisebaseus dan inflamasi.4 Akne yang signifikan sekitar 56% pada laki-laki dan 45% pada anak perempuan yang berusia antara 14 dan 16 tahun dan tingkat keparahan terjadi antara 14 dan 17 tahun pada wanita dan 16 dan 19 tahun pada laki-laki. dan kista. lesi inflamasi yang sedikit (papulopustular) . adanya obstruksi folikel.5 4 . derajat akne. dan dermatitis perioral. Secara keseluruhan baik laki-laki maupun perempuan mencapai puncak pada usia 17 tahun.1 Penatalaksanaan pengobatan akne vulgaris berdasarkan riwayat. Diagnosis banding akne vulgaris antaralain : erupsi akneiformis. bahu bagian atas. PENDAHULUAN Akne vulgaris merupakan peradangan kronik folikel polisebasea yang ditandai dengan adanya komedo. Akne berat merupakan lesi inflamasi yang lebih luas disertai nodul dan jaringan parut.1. Ada empat faktor penting yang berhubungan dengan terjadinya akne yaitu. dan punggung. rosasea. atau berat.

Jumlah kasus terbanyak terjadi pada periode pertengahan sampai akhir remaja. dengan komedo sebagai lesi predominan pada pasien yang sangat mudah. namum karena tingginya prevalensi penyakit.11 5 . Hal tersebut terjadi dengan frekuensi yang lebih besar pada usia antara 15-18 tahun pada kedua jenis kelamin. involusi penyakit akne vulgaris terjadi sebelum usia 25 tahun. 5 Akne vulgaris merupakan penyakit yang terjadi pada remaja sekitar 85% dengan beberapa derajat akne vulgaris. Sebagian kecil akan menjadi papul dan nodul inflamasi sampai usia dewasa akhir. 6 Akne vulgaris bisa familial. Insiden penurunan dermatitis atopik pada penderita akne vulgaris mungkin bisa didapatkan secara genetik.1 III. Keratinisasi dalam folikel yang biasanya berlangsung longgar berubah menjadi padat sehingga sukar lepas dari saluran folikel tersebut. Dari sebuah penelitian diketahui bahwa mereka yang bergenotip XYY mendapat akne vulgaris yang lebih berat. Usia pubertas akne vulgaris biasanya mulai timbul berupa komedo terutama di daerah dahi dan pipi. Asam lemak hasil dari pemecahan gliserol dapat dipakai untuk metabolisme propiniobacterim acne. Namun pada wanita dapat terus berlanjut sampai lebih dari dekade ketiga. 2 Akne vulgaris derajat ringan biasanya terjadi pada bayi oleh karena stimulasi folikuler oleh kelenjar androgen adrenal yang berlanjut pada periode neonetal. Survei di Jerman menunjukan bahwa sekitar 45% akne vulgaris terjadi pada anak yang didapatkan dari kedua orang tuanya . namun beberapa faktor yang berkaitan dengan patogenesis akne vulgaris adalah : 1. Produksi sebum yang meningkat yang menyebabkan peningkatan unsur komedogenik dan inflamatogenik penyebab lesi akne vulgaris. Sekitar 12% perempuan dan 3% laki-laki akan terus berlanjut sampai usia 44 tahun. Perubahan pola keratinisasi dalam folikel.II. Setelah itu akan menurun. Pada umumnya. Akne juga biasanya bermanifestasi awal pada puberitas. 2 2. hal ini sukar di buktikan. EPIDEMIOLOGI Pada beberapa studi menunjukan faktor genetik sangat mempengaruhi terjadinya akne vulgaris. 2.6 Akne vulgaris biasanya mulai terjadi usia pubertas yang disebabkan karena produksi hormon seks yang meningkat. ETIOPATOGENESIS Etiologi yang pasti belum diketahui.

Dikutip dari kepustakaan 7 6 . dan Staphylococcus epidermidis) yang berperan dalam proses kemotaktik inflamasi.tetapi pada orang-orang yangmemiliki akne vulgaris. Kelenjar sebasea berfungsi melembabkan folikel rambut dan kulit. dan tubuh. Faktor lain : usia.Acne juga mengeluarkan faktor kemotaktik (IL-1. Terjadinya proses inflamasi . 2. 2. Hormon Androgen menyebabkan peningkatan aktivitas kelenjar sebasea pada wajah. ras. Peningkatan kadar hormon androgen. famili. 2 8. 2 7. Terjadinya stres psikik yang dapat memicu kegiatan kelenjar sebasea. P. P.11 4. gonadotropin serta ACTH yang mungkin menjadi faktor penting pada kegiatan kelenjar sebasea. Terjadinya respon hospes berupa pembentukan circulating antibodies yang memperberat akne vulgaris. Peningkatan jumlah flora folikel (Propionibacterium Acne. 2 5. TNF alfa) yangmemicu leukosit. Pytirosporum ovale. leher. Patogenesis akne vulgaris vulgaris. sehingga mengakibatkan inflamasi pada jaringan sekitarnya. IL-8. Acne memproduksi enzim lipase yang menghidrolisis trigliserid pada sebum untuk memproduksi asam lemak bebas yang bersifat iritatif dan komedogenik.11 Gambar 1. Acne disebabkan beberapa mekanisme. kortikosteroid.anabolic. kelenjar ini terlalu hiper responsif terhadap hormon androgendibandingkan orang yang normal. Adanya leukosit ini mengakibatkan dilepaskannya enzim hidrolitik yang berperan dalam rupturnya dinding folikel. 2 6. baik secaralangsung maupun melalui rangsangan terhadap kelenjar hipofisis. cuaca/musim yang secara tidak langsung dapat memacu peningkatan proses pathogenesis tersebut.3. Proses inflamasi yang dipicu oleh P. makanan.

dan punggung. dan punggung. namun umumnya keluhan penderita adalah keluhan estetis. dan punggung bagian atas. Lokais kulit lain misalnya leher. serta menimbulkan scar yang berat.1 Gambar dikutip dari kepustakaan 8 Gambar 2. terdapat banyak komedo dan lesi peradangan yang lebih berat pada daerah wajah . dada bagian atas. GEJALA KLINIK Tempat predileksi akne vulgaris adalah muka. papul yang tidak beradang dan pustul. dan glutea kadang-kadang terkena. Sedangkan bila berwarna putih karena letaknya lebih dalam sehingga tidak mengandung unsur melanin disebut komedo putih atau komedo tertutup (white komedo. nodus dan kista yang beradang. Grade 4: Akne konglobata. lebih luas pada daerah wajah.2 Ada berbagai pola pembagian gradasi penyakit akne vulgaris yang dikemukakan. close comedo). lengan atas. 2 Komedo adalah gejala patognomorik bagi akne vulgaris berupa papul miliar yang ditengahnya mengandung sumbatan sebum. Grade 2 : Komedo. dada. bahu.2 7 . Dapat disertai rasa gatal. 2 Gambar 2. dada. papul dan dapat pula disertai dengan pustula. bila berwarna hitam mengandung unsure melanin disebut komedo hitam atau komedo terbuka (black comedo/open comedo).2 4. Grade 3 : Banyak komedo dan peradangan papula kecil dan besar dan pustula.2 3.IV.2 2. Pillsbury (1963) membuat gradasi sebagai berikut :2 1. Erupsi kulit polimorf dengan gejala predominan salah satunya komedo. Grade 1 : Komedo pada wajah.

beberapa lesi beradang pada 1 predileksi . Cipto Mangunkusumo (1982) membuat gradasi sebagai berikut:2 1. yang terdiri dari atas 4 gradasi : a. Ringan.bila : . Bila ada 10 sampai 20 lesi papulopustul c. Bila ada lebih dari 50 komedo 2. Komedonal yang terdiri atas gradasi : a.banyak lesi tak beradang pada lebih dari 1 predileksi .banyak lesi tak beradang pada 1 predileksi . Akne komedonal non inflamatoar 2.sedikit lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi . Bila ada kurang dari 10 komedo dari satu sisi muka b. Bila ada lebih dari 30 lesi papulopustul 3. Akne komedonal inflamatoar 3.bila : .beberapa lesi tak beradang pada 1 predileksi . Akne popular 4. Akne berat 7. Bila ada 10 sampai 24 komedo c. Bila ada 25 sampai 50 komedo d. Berat. Papulopustul.sedikit lesi beradang pada 1 predileksi 2.banyak lesi beradang pada 1 atau lebih predileksi 8 . Bila ada kurang dari 10 lesi papulopustul dari astu sisi muka b. Bila ada 21 sampai 30 lesi papulopustul d.beberapa lesi tak beradang pada lebih dari 1 predileksi . Akne nodulo kistik/konglobata Plewig dan Kligman (1975) membuat gradasi sebagi berikut:2 1.bila : . Sedang. Akne papulo pustular 5. Akne agak berat 6.sedikit lesi beradang pada lebih dari 1predileksi 3. Konglobata Bagian Ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI/RSUPN Dr.Frank (1970) membuat gradasi sebagai berikut:2 1.

beberapa 5-10. berat Gambar dikutip dari kepustakaan 1 9 . nodus.2 Akne vulgaris nodular. banyak >10 lesi Tidak meradang : komedo putih. sedang-berat Gambar dikutip dari kepustakaan 1 Gambar 3. komedo hitam Meradang : pustul.3 Akne Vulgaris nodular. kista Gambar 3.1 Akne vulgaris ringan Gambar dikutip dari kepustakaan 1 Gambar 3.Catatan : sedikit <5.

Dari 623 gadis prepubertal yang diobservasi. tumor adrenal dan polycystic ovarian disease. dan pada perenpuan dewasa muda 12-60 ng/dl). DIAGNOSIS BANDING Gambar 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG Umumnya. gadis yang mempunyai akne mengalami peningkatan level DHEAS (normal DHEAS 4. pemeriksaan laboratorium diindikasikan pada pasien dengan suspek hyperandrogenism. congenital adrenal hyperplasia.777 nmol/L) dibandingkan dengan kontrol yang tidak mempunyai akne.1 VI. Gambar dikutip dari kepustakaan 1 10 . ovarium. Pada umunya pasien akne kadar hormon androgennya dalam batas normal (normalnya kadar testosterone total pada laki-laki dewasa muda 300-950 ng/dl. Peningkatan hormon androgen mendasari terjadinya akne vulgaris pada usia remaja ataupun pada usia dewasa. DHEAS menjadi prekrusor pada kasus akne kistik yang berat dan berhubungan dengan keadaan varietas endokrin seperti.V. Diagnosis Banding .920-12.

2 Gambar 5. Rosasea Gambar dikutip dari kepustakaan 14 11 . dan edema. Rosasea merupakan penyakit peradangan kronik dengan daerah predileksi pada daerah sentral wajah (hidung. misalnya kortokosteroid. paparan sinar matahari dan demodex folliculorum. 2 Anamnesis dan pemeriksaan fisis : onset mulai munculnya tiba-tiba. dan tidak terasa panas. kina dan lainnya. tidak gatal. papul tidak terasa nyeri. dagu. ACTH. trimetadion. barbiturate. INH. Erupsi Akne vulgarisiformis Gambar dikutip dari kepustakaan 12 2. yodida. pipi. bromide. Dapat disertai demam dan dapat terjadi di semua usia. Tidak terdapat komedo kecuali bila kombinasi dengan akne vulgaris. pustul. papul dan pustule terasa nyeri. tidak terasa panas. tidak terasa gatal. difenil hidantoin.1. 2 Anamnesis dan pemerikasaan fisis : onset muncul setelah minum obat-obatan yang dapat memicu terjadinya erupsi akneiformis. Klinisnya berupa erupsi papulo pustule mendadak tanpa adanya komedo dihampir seluruh bagian tubuh. dapat pula dicetuskan oleh riwayat mengonsumsi alkohol. dan alis) yang ditandai dengan kemerahan pada kulit dan telangiektasis disertai episode peradangan yang memunculkan erupsi papul. kening. Erupsi akneiformis merupakan reaksi kulit berupa peradangan folikular akibat adanya iritasi epitel duktus polisebasea yang terjadi yang disebkan oleh induksi obat.2 Gambar 4. dapat disertai demam.

Dermatitis Perioral Gambar dikutip dari kepustakaan 15 VII. terdapat bercak kemerahan pada daerah sekitar mulut. KOMPLIKASI Semua lesi akne vulgaris mempunyai potensi untuk meninggalkan sequelae. pipi. Akne vulgaris mengakibatkan gangguan psikologis pada banyak pasien. post-inflamasi hiperpigmentasi dapat timbul beberapa bulan setelah penyembuhan lesi akne.3. Sekitar 30-50% remaja mengalami gangguan psikologis karena akne vulgaris. Beberapa studi penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mengalami akne vulgaris memiliki level gangguan sosial. bercak terasa seperti terbakar. Artinya bisa muncul di dagu. dan kadang disertai gatal. Dermatitis perioral adalah peradangan kronik dengan bentuk papulopustular pada daerah kulit di seluruh bagian luar mulut. Pada kebanyakan individu lesi akne vulgaris menimbulkan scar yang permanen. 15 Anamnesis dan pemeriksaan fisis : onset munculnya tiba-tiba. nyeri. psikologi dan emosional. samping dan di bawah hidung. Hampir semua lesi akne vulgaris meninggalkan transient macular erythema setelah penyembuhan.1 12 .15 Gambar 6. Pada kulit yang lebih gelap.

isotretinoin. Acnes. tipe lesi. partikulat P. A.1 Menggunakan efek anti-inflamsi. dan steroid. Obat lain seperti dapson.VIII .4 13 . PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pengobatan akne vulgaris berdasarkan riwayat. dan vit. Pilihan terapi sangat penting untuk mengetahui etiologi akne vulgaris. clofazimine.1 Mengurangi populasi folikel bakteri.1 Mengurangi produksi dari kelenjar sebasea. A jarang digunakan. efek fisiologi dan penyebab dari penyakit tersebut. 5 Mekanisme pengobatan dari akne dapat dikategorikan menurut patofisiologi yaitu 1 : • • • • Memperbaiki folikular keratinisasi. derajat akne. hormonal. Pengobatan sistemik Pengobatan sistemik pada akne vulgaris yaitu: antibiotik. 6.1 Seringkali pengobatan yang multiple menggunakan kombinasi banyak faktor dalam patogenesis akne.

Antibiotik • Tetrasiklin. spirinolakton.6 1. atau kelenjar adrenal.1 b. androgen atau agen yang dapat menurunkan produksi endogen oleh ovarium. 1. Eritromisin dapat digunakan pada pasien bila ada kontraindikasi dalam menggunakan tetrasiklin.1. tetapi eritromisin sering resisten pada P. Obat ini digunakan untuk akne vulgaris yang resisten terhadap tetrasiklin. dan obat kontrasepsi (estrogen + progesteron). dimana pemberian eritromisin dalam keadaan lambung kosong . Fungsi spironolakton bisa sebagai androgen reseptor bloker dan menghambat 5α-reduktase. atau GnRH agonis. Terapi Hormonal Terapi hormonal berperan dalam mereduksi aktivitas dari kelenjar sebasea. biasanya ini diberikan pada wanita dewasa akne vulgaris yang meradang dan gagal dengan terapi lain. Dosis yang digunakan 50-100 mg tiap 2 kali sehari. acnes dan penggunaannya terbatas terutama pada wanita hamil dan anak-anak. glukokortikoid. Hal ini telah dibuktikan dapat mereduksi produksi sebum dan mengurangi akne vulgaris.6 • Trimethropan-Sulfamethoxazole. Anti androgen. 1. Obat kontrasepsi 14 .1 a. Acnes. 6 Obat hormonal digunakan untuk menekan produksi androgen dan secara kompetitif menduduki reseptor organ target di kelenjar sebasea. Dosis pada orang dewasa 160 mg dari trimethoprim dikombinasikan dengan 800 mg sulfamethoxazole selama dua kali sehari. 2 Keberhasilan terapi hormonal dapat menurunkan efek androgen pada kelenjar sebasea. Merupakan antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk pengobatan akne vulgaris. Tetrasiklin dapat menekan secara langsung jumlah dari P.10 • Eritromisin. Tetrasiklin biasanya diberikan dosis awal mulai 500 mg/hari sampai 100 mg/hari. Dosis awal 250 sampai 500 mg.misalnya estrogen (50 mg/hari selama 21 hari dalam 1 bulan).10 2. Derivat tetrasiklin seperti: doksisiklin. dan minosiklin sering digunakan.Obat antibiotik diberikan pada akne vulgaris derajat sedang sampai berat serta pada pasien yang gagal pemberian secara topikal. Terapi hormonal meliputi : anti-androgen. Kombinasi obat ini sangat efektif untuk pengobatan akne vulgaris.

Kerjanya sebagai antibakterial ialah dengan jalan mengikat ribosom.000 ui – 150. Pilihan untuk memakai antibiotika secara topikal disebabkan sensitasi pada kulit sangat kecil dan untuk mencegah pengobatan secara sistemik dalam jangka panjang dengan segala akibatnya.2 5. Dosis isotretinoin yaitu 0. dalam hal ini antibiotika. Akhir-akhir ini digunakan pula asam alfa hidroksi (AHA).2 B.1 4. Bahan iritan yang dapat mengelupas kulit : misalnya sulfur (4-8%). norgestimat. ke dalam duktus pilosebaseus.resolsinol (1-5 %). Dosis 150 mg sehari atau 300 mg seminggu selama 3 bulan. methemoglobinemia. Obat topikal terdiri atas :2 1.2 2.eritromisin (1%). Vitamin A dan retinoid oral Digunakan sebagai antikratinisasi (50.5-1. asam salisilat ( 2-5%). Yang penting ialah syarat.1 3. menekan peradangan.D.5-10%).Tiga generasi seperti : progestin. misalnya oksitetrasiklin ( 1%). dan gestoden hanya mempunyai sedikit aktivitas intrinsik androgen. dengan demikian menghalangi pemindahan RNA (Ribo Nucleic Acid) yang 15 . (dapsone. Isotretinoin Penggunaan oral retinoid dan isotertinoin sebagai solusi penanganan akne yang resisten berat terhadap pengobatan Mekanisme kerja dari isotretinoin belum diketahui secara pasti. Antibiotika topikal yang dapat mengurangi jumlah mikroba dalam folikel yang berperan dalam etiopatogenesis akne vulgaris. Pemakaian antibiotika secara topikal pada pengobatan akne dimulai pada tahun 1957. Dosis estrogen 20 uq dan estradiol 20-35 uq dikombinasikan dengan noretindron asetat. diaminodifenil sulfone) Indikasi akne vulgaris bentuk kista dan konglobata.S. desogestrel. Isotertinoin digunakan pada pasien dengan akne nodulistik dan konglobata.0 mg/kgBB/hari.000 ui/hari) sudah jarang digunakan sebagai obat akne vulgaris karena efek sampingnya. peroksida benzoil (2. klindamisin fosfat ( 1%) Klindamisin adalah suatu antibiotik terdiri atas 7-dioksi-7 kloro derivat linkomisin. Pengobatan topikal Pengobatan topikal dilakukan untuk mencegah pembentukan komedo. dan mempercepat penyembuhan lesi. bahwa bahan pelarut harus dapat membawa bahan aktif (active ingredient). D. Efek samping: anemia hemolitik.

berguna untuk pembentukan kompleks ribosomal/messenger-RNA dari kuman dengan akibat mikroorganisme tersebut tidak dapat membentuk protein esensial.10 IX.1%.10 b. Akne Ringan Akne ringan sering terjadi pada awal remaja yang disebabkan karena produksi sebum yang meningkat. salep atau krim kortikosteroid kekuatan ringan atau sedang (hidrokortison 1-2. Jarang terjadi akne vulgaris yang menetap sampai tua atau mencapai gradasi sangat berat sehingga perlu dirawat inap dirumah sakit. Retinoid dapat diberikan pada malam hari dan benzoyl peroxide atau antibiotik dapat diberikan pada pagi hari. Pada umumnya prognosis dari akne vulgaris cukup baik. Pada tahap ini dapat kita berikan retinoid topikal yang dioleskan sebelum tidur.2 3.2 16 . Akne Berat Akne berat memiliki lebih dari 20 pustul yang meradang dan terdapat beberapa komedo tertutup.acnes.5%) atau suntikan intralesi kortikosteroid kuat pada lesi nodulo-kistik. atau kombinasi obat dan retinoid sebagai obat alternatif yang diberikan pada malam hari. Dosis diberikan dengan konsentrasi yang rendah yaitu gel 0. Akne Sedang Pada akne sedang lesi inflamasi terjadi setelah terbentuknya komedo karena proliferasi dari P. a.10 c.1. Akne vulgaris biasanya sembuh sebelum mencapai usia 30-40 an.05% dan 0. PROGNOSIS. Pengobatan yang diberikan dapat berupa Benzoil peroxida sebagai antibiotik topikal. Pengobatan yang dapat diberikan yaitu dengan terapi kombinasi antibiotik topikal dan oral. Antiperadangan topikal.2 Pengobatan akne vulgaris sebaiknya berdasarkan gradasi dari akne vulgaris.

Menghindari terjadinya faktor pemicu terjadinya akne. 2 3. 1. 2. penyakit. PENCEGAHAN Menghindari terjadinya peningkatan jumlah lipid sebum dan perubahan isi sebum. Memberikan informasi yang cukup pada penderita mengenai penyebab 17 . serta prognosisnya.X. pencegahan dan cara maupun lama pengobataannya.

Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Neil Cox. David de Berker. Kalbe Farma.com 9. Jakarta : Pusat Penilitian dan Pengembangan PT. hal. and Related Disorder.. Canada : ElSevier.htm 8. Berger T.utah. Penatalaksanaan Akne Vulgaris. Berger TG. Halim. Wasitaatmadja S M . Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 7 Th ed. 3. 5. Rinofima . (online) January 2006.DAFTAR PUSTAKA 1. eds. eds. Acne vulgaris. 2007. 2003. National Institute of Health. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . Clinical Evidence 2011. Erupsi Akneiformis. hal . Rook’s Textbook Of Dermatology vol 1-4 Seventh Edition. p: 690-703. 6. Available from : URL : http://library. Rosace. Strauss JS.edu/kw/derm/pages/ac07_3.259. 10. Akne vulgaris Vulgaris andAkne vulgarisiform Eruptions. Dr. p : 15-16. Paller A. Philadelphia : Mosky 2004. Katz S. 2000. Akne vulgaris. p: 231 7. 2007 . Sthepen Breathnach. Goldsmith L.Leffell D. 253 . Davey P . Sambijono S W. 2004. p : 2 Burns Tony. Available from : URL : www. Purdy sarah. hal . 33-37. Dalam : Cermin Dunia Kedokteran No. ElstonDM. New York:McGraw-Hill. (online) 1997. 4. Akne vulgaris Vulgaris . In Clinical Dermatology A Color Guide to Diagnosis an Terapy (4ed)pdf. James WD. Akne. 162175. In : James W. In: Wolff K. Rosasea. Comedo. Thiboutot DM. 404. Zaenglein AL. Hal. Elston DM. 2003.P. 18 . Habif T.. Dalam : At a Glance Medicine . Andrews’ disease of the skin Clinical Dermatology 10Th ed. 2. Gilchrest B.akne vulgarispain. Graber EM. Christopher Griffiths. Jakarta : Penerbit Erlangga .Akne vulgaris Vulgaris . Bezzant.med. Chapter 43. Dr. John L.41.

Muhammad Tahir. Rosacea. Medica atore : Dermatitis perioral. Anti-EGFR Therapy: Incidence..56:651-63. Available : from : URL : from http://www.medscape.S.11. (online) 2007. Ch. and Robert G.com/viewarticle/719266_4 15. Guidelines of care for acne vulgaris management. 20: 93-97.html 19 . James J.. Pathology and Management of Associated Side Effects 2010. Journal of Pakistan Association of Dermatologists 2010. 13. Lerner. 12. Krowchuk D. Michael Liu. Sunil Babu. 14. J Am Acad Dermatol 2007. Medscape General Medicine.P. et all.. Strauss J.com/penyakit/814/Dermatitis_Perioral.(online) Available URL :http://medicastore.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->