P. 1
Sistem Politik Menurut Gabriel A

Sistem Politik Menurut Gabriel A

|Views: 15|Likes:
Dipublikasikan oleh Nashoihul Imam
just copy
just copy

More info:

Published by: Nashoihul Imam on Apr 17, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2014

pdf

text

original

Oleh Muhammad Affan

STISIPOL PAHLAWAN 12 SUNGAILIAT – BANGKA 2009

Lingkungan Internasional

Lingkungan fisik , sosial, ekonomi, domestik

Lingkungan Internasional

Output/ Peluang Yudikatif Penghakiman Kebijakan Birokrasi Penerapan Kebijakan Eksekutif Interest Group

Input

Sosialisasi Politik Rekruitment Politik Komunikasi Politik

Parpol

Artikulasi Kepentingan

Legislatif

Aggregasi Kepentingan

Pembuatan kebijakan

Pengertian sistem politik menurut Gabriel A. Almond
 Sistem politik adalah sistem interaksi yang terdapat

dalam semua masyarakat yang bebas/merdeka dalam melaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan adaptasi (baik dalam masyarakatnya maupun berhadaphadapan dengan masyarakat lainnya) melalui penggunaan paksaan fisik yang lebih kurang bersifat absah.  Bebebapa hal yang perlu dicermati berdasarkan pengertian sistem politik diatas:
 Sistem politik merupakan “sistem interaksi” yang

terdapat dalam semua masyarakat yang bebas/merdeka.

 Sistem politik juga melaksanakan fungsi integrasi,

bahwa tujuan pokok sistem politik mengusahakan tercapainya kesatuan di dalam masyarakat.  Fungsi adaptasi, yaitu penyesuaian diri dari sistem politik terhadap lingkungan masyarakatnya sendiri maupun lingkungan masyarakat lainnya.

UNSUR-UNSUR SISTEM POLITIK
 COMPREHENSIVENESS (menyeluruh)  Artinya, sistem politik mencakup semua interaksi, baik berupa masukan (input) maupun keluaran (output) yang mempengaruhi penggunaan atau cara penggunaan paksaan.  INTERDEPENDENCE (saling ketergantungan)  Artinya, perubahan pada salah satu aspek akan menyebabkan perubahan pada seluruh sistem.  BOUNDRIES (adanya batasan-batasan)  Artinya, terdapat batas-batas antara sistem politik dengan sistem-sistem lainnya sehingga ada ketegasan dan kejelasan mengenai wilayah kajian sistem politik.  Sistem politik merupakan sub sistem dari sistem yang lebih kompleks dan besar. Sistem politik berinteraksi dengan sub sistem lainnya, seperti sistem budaya, sistem ekonomi, dll.

DASAR PEMIKIRAN ANALISA STRUKTURAL FUNGSIONAL
 Semua sistem politik, baik yang masih primitif ataupun

yang sudah modern memiliki keempat ciri ini, yaitu:
 Semua sistem politik memiliki struktur-struktur atau

lembaga-lembaga politik.  Semua sistem politik menjalankan fungsi-fungsi yang sama walaupun tingkatannya berbeda-beda yang ditimbulkan karena perbedaan struktur.  Semua struktur politik menjalankan fungsi-fungsi tertentu. Meskipun demikian, ia tetap bersifat multifungsi dalam arti melaksanakan beberapa fungsi sekaligus.  Semua sistem politik merupakan sistem “campuran” manakala dipandang dari segi kebudayaan, artinya tidak ada suatu struktur kebudayaan yang semuanya bersifat modern, dan tidak semua yang tradisional identik dengan primitif.

 Menurut Gabriel Almond :  Pada setiap Sistem politik pasti terdapat fungsi-fungsi yang ada demi berlangsungnya sistem politik  Ciri-ciri universal yang pasti dimiliki oleh sistem politik adanya fungsi politik dan struktur politik

FUNGSI POLITIK
 Fungsi Politik dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:  FUNGSI INPUT, meliputi artikulasi kepentingan, aggregasi kepentingan, sosialisasi politik, rekruitmen politik, dan komunikasi politik.  FUNGSI OUTPUT, meliputi pembuatan kebijakan (policy making), penerapan kebijakan (policy implementation), dan penghakiman kebijakan (policy adjudication).  Fungsi Politik dijalankan oleh struktur politik yang

didalamnya telah terbentuk differensiasi struktural dan diikuti dengan spesialisasi fungsi. Bekerjanya struktur politik dalam menjalankan fungsi politik mengikuti rangkaian alur proses politik yang ada.

STRUKTUR POLITIK
 Struktur politik yang dijelaskan oleh Almond terdiri dari 6

komponen, yaitu: kelompok kepentingan, partai politik, legislatif, eksekutif, birokrasi, dan yudikatif.  Namun, apabila merunut pada pemikiran Sri Soemantri, maka struktur politik yang diungkapkan oleh Almond dapat dipilah dalam 2 kategori dan diperkaya dengan sejumlah unsur struktur politik yang lain, sebagaimana berikut ini:
 SUPRASTRUKTUR POLITIK, terdiri dari legislatif, eksekutif,

birokrasi, dan yudikatif.  INFRASTRUKTUR POLITIK, terdiri dari kelompok kepentingan, kelompok penekan, partai politik, alat komunikasi politik, dan tokoh politik.

KEUNGGULAN SISTEM POLITIK ALMOND DAN EASTON:
 Kedua model tersebut berpengaruh besar dalam

perkembangan studi ilmu politik sejak tahun 1950.  Kedua model mampu membuat analisa politik dengan cukup peka diantara kompleksitas sistem politik di dalam sistem sosial yang lebih besar.  Kedua model sistem politik mampu menciptakan keseimbangan/ekuilibrium/stabil dan jika ada konflik, maka model sistem politik mampu mengecek setiap komponen atau subsistem untuk menemukan sumber konfliknya.  Kesederhanaan kedua model tersebut dapat dipakai untuk menganalisa berbagai sistem politik, baik yang demokratis maupun otoriter, tradisional maupun modern.

KELEMAHAN SISTEM POLITIK ALMOND DAN EASTON:
 Analisis Sistem Politik Easton dan Almond tidak

menghasilkan rumusan yang empirik atau mampu menjelaskan seluruh proses politik yang terjadi.  Kedua model ini sistem politik ini tidak memahami kejadian dis-equilibrium, seperti revolusi. Kedua model sistem politik tersebut tidak memasukkan gagasan perubahan tersebut yang dapat mempengaruhi sistem politik.  Kedua model tersebut cenderung tidak menghasilkan teori dari hubungan sebab-akibat karena kedua model tersebut hanya menunjuukkan sifat model analisis, yaitu hanya menganalisa fenomena politik.

 Terminologi dari definisi kedua sistem ini tidak bisa

dioperasionalkan, artinya tidak memiliki variabel yang dapat diukur, misal fungsi input yang terdiri dari tuntutan dan dukungan dimana bentuk dan isinya berbeda-beda disetiap masyarakat.  Analisa struktural fungsional Almond memiliki ketidakjelasan tentang konsep fungsi. Almond tidak menjelaskan secara tepat garis-garis yang membatasi peran fungsi, misalnya jika seorang pemimpin politik menyuarakan pendapat kelompoknya, secara bersamaan pemimpin tersebut menjalankan tiga jenis fungsi politik sekaligus, yaitu: komunikasi politik, artikulasi kepentingan, dan aggregasi kepentingan kelompoknya.

 Jika almond dikritik karena ketidakjelasan tentang

konsep fungsi, maka Easton dikritik karena caranya memandang masyarakat sebagai organismik, menyamakan masyarakat dengan organisme, yang selalu terlibat dalam proses differensiasi, koordinasi, dan mencapai sebuah keadaan yang penuh keselasarasan serta keseimbangan tanpa mempertimbangkan keberadaan konflik yang dapat menimbulkan dis-equilibrium.  Kedua pendekatan ini juga dikritik karena sangat diwarnai oleh ideologi atau sistem nilai demokrasiliberal Barat, secara jelas sistem tersebut berasumsi bahwa fungsi-fungsi yang ada di dalam sistem politik Barat pasti juga ada di dalam sistem non-Barat.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->