Anda di halaman 1dari 7

Kurva Kelarutan Laboratorium Kimia Fisika Departemen Teknik Kimia FT USU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Percobaan

4.1.1 Sampel Sukrosa 2 gram Tabel 4.1 Tabel Hasil Percobaan Untuk Sampel Sukrosa Sampel Sukrosa Berat Zat Terlarut (gram) 2 Volume H2O (ml) 5 7 9 Temperatur Jernih (oC) Keruh (oC) 86 82 83 60 84 30

4.1.2 Sampel Sukrosa 4 gram Tabel 4.2 Tabel Hasil Percobaan Untuk Sampel Sukrosa Sampel Berat Zat Terlarut (gram) Volume H2O (ml) 5 7 9 11 13 Temperatur Jernih ( C) Keruh (oC) 82 78 80 63 81 45 80 37 81 30
o

Sukrosa

4.1.3 Sampel Sukrosa 6 gram Tabel 4.3 Tabel Hasil Percobaan Untuk Sampel Sukrosa Sampel Berat Zat Terlarut (gram) Volume H2O (ml) 5 7 9 11 13 15 Temperatur Jernih (oC) Keruh (oC) 86 82 84 64 83 58 83 55 85 42 84 30

Sukrosa

William & Kate Middleton Incredible

13

Kurva Kelarutan Laboratorium Kimia Fisika Departemen Teknik Kimia FT USU 4.2 Pembahasan 4.2.1 Temperatur Jernih Terhadap Volume
100 95 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

14

Massa Sukrosa
Sukrosa 4 gr Regresi Sukrosa 4 gr Sukrosa 8 gr regresi sukrosa 8 gr Sukrosa 12 gr Regresi sukrosa 12 gr

Gambar 4.1 Temperatur Jernih Terhadap Volume Pelarut

Secara teori dinyatakan bahwa efek dari perubahan temperatur terhadap kelarutan zat padat dalam cairan sangat signifikan. Peningkatan temperatur menghasilkan peningkatan kelarutan bagi kebanyakan zat (Miller, 1984). Sifat kelarutan sukrosa didalam air diteliti oleh Herzfeld yang menemukan bahwa kelarutan gula dalam air dipengaruhi suhu dan komponen lain yang terlarut bersama gula (Cakti, 2012). Pada gambar 4.1, grafik perbandingan temperatur jernih terhadap volume pelarut yang diperoleh setelah melakukan percobaan, dapat dilihat bahwa temperatur jernih berbanding terbalik dengan volume pelarut. Semakin besar volume pelarut, maka semakin kecil temperatur jernihnya. Hal tersebut belum sesuai dengan teori dimana kelarutan berbanding lurus terhadap temperatur. Hal ini disebabkan oleh: 1. Tidak telitinya pada saat penentuan larutan itu telah jernih ataupun keruh 2. Penambahan volum aquadest yang kurang tepat 3. Adanya kontaminasi terhadap sampel 4. Pembacaan suhu yang tidak tepat 5. Pemanasan sampel yang kurang sempurna

William & Kate Middleton Incredible

Kurva Kelarutan Laboratorium Kimia Fisika Departemen Teknik Kimia FT USU 4.2.2 Temperatur Keruh Terhadap Volume
110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Volume (ml)

15

Massa Sukrosa
4 gr Regresi 4 gr 8 gr Regresi 8 gr 12 gr Regresi 12 gr

Temperatur (C)

Gambar 4.2 Temperatur Keruh Terhadap Volume

Secara teori dinyatakan bahwa efek dari perubahan temperatur terhadap kelarutan zat padat dalam cairan sangat signifikan. Peningkatan temperatur menghasilkan peningkatan kelarutan bagi kebanyakan zat (Miller, 1984). Sifat kelarutan sukrosa didalam air diteliti oleh Herzfeld yang menemukan bahwa kelarutan gula dalam air dipengaruhi suhu dan komponen lain yang terlarut bersama gula (Cakti, 2012). Pada gambar 4.2, grafik perbandingan temperatur keruh terhadap volume pelarut yang diperoleh setelah melakukan percobaan, dapat dilihat bahwa temperatur keruh berbanding terbalik dengan volume pelarut. Semakin besar volume pelarut, maka semakin kecil temperatur keruhnya. Hal tersebut sesuai dengan teori dimana kelarutan berbanding lurus terhadap temperatur.

William & Kate Middleton Incredible

Kurva Kelarutan Laboratorium Kimia Fisika Departemen Teknik Kimia FT USU 4.2.3 Temperatur Jernih Terhadap Kelarutan
100 90 80 Temperatur (C) 70 60 50 40 30 20 10 0 0.5 0.8 1.1 1.4 1.7 2 2.3 2.6 2.9 Konsentrasi (M)

16

Massa Sukrosa
4 gr regresi 4 gr 8 gr Regresi 8 gr 12 gr Regresi 12 gr

Gambar 4.3 Temperatur Keruh Terhadap Kelarutan

Secara teori dinyatakan bahwa efek dari perubahan temperatur terhadap kelarutan zat padat dalam cairan sangat signifikan. Peningkatan temperatur menghasilkan peningkatan kelarutan bagi kebanyakan zat (Miller, 1984). Sifat kelarutan sukrosa didalam air diteliti oleh Herzfeld yang menemukan bahwa kelarutan gula dalam air dipengaruhi suhu dan komponen lain yang terlarut bersama gula (Cakti, 2012). Pada gambar 4.3, grafik perbandingan temperatur jernih terhadap kelarutan sampel yang diperoleh setelah melakukan percobaan, dapat dilihat bahwa temperatur jernih berbanding lurus dengan kelarutan sampel. Semakin besar temperatur jernih, maka semakin besar kelarutan sampelnya. Hal tersebut belum sesuai dengan teori dimana kelarutan berbanding lurus terhadap temperatur. Hal ini disebabkan oleh : 1. Tidak telitinya pada saat penentuan larutan itu telah jernih ataupun keruh 2. Penambahan volum aquadest yang kurang tepat 3. Adanya kontaminasi terhadap sampel 4. Pembacaan suhu yang tidak tepat 5. Pemanasan sampel yang kurang sempurna 6.

William & Kate Middleton Incredible

Kurva Kelarutan Laboratorium Kimia Fisika Departemen Teknik Kimia FT USU 4.2.4 Temperatur Keruh Terhadap Kelarutan
120 100

17

Massa Sukrosa
Temperatur (C) 80 60 40 20 0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Konsentrasi (M) 4 gr Regresi 4 gr 8 gr Regresi 8 gr 12 gr Regresi 12 gr

Gambar 4.4 Temperatur Keruh Terhadap Kelarutan Secara teori dinyatakan bahwa efek dari perubahan temperatur terhadap kelarutan zat padat dalam cairan sangat signifikan. Peningkatan temperatur menghasilkan peningkatan kelarutan bagi kebanyakan zat (Miller, 1984). Sifat kelarutan sukrosa didalam air diteliti oleh Herzfeld yang menemukan bahwa kelarutan gula dalam air dipengaruhi suhu dan komponen lain yang terlarut bersama gula (Cakti, 2012). Pada gambar 4.4, grafik perbandingan temperatur keruh terhadap kelarutan sampel yang diperoleh setelah melakukan percobaan, dapat dilihat bahwa temperatur keruh berbanding terbalik dengan kelarutan sampel. Semakin besar temperatur keruh, maka semakin kecil kelarutan sampelnya. Hal tersebut belum sesuai dengan teori dimana kelarutan berbanding lurus terhadap temperatur. Hal ini disebabkan oleh : 1. Tidak telitinya pada saat penentuan larutan itu telah jernih ataupun keruh 2. Penambahan volum aquadest yang kurang tepat 3. Adanya kontaminasi terhadap sampel 4. Pembacaan suhu yang tidak tepat 5. Pemanasan sampel yang kurang sempurna

4.2.5 Temperatur Jernih Terhadap % Berat Sampel

William & Kate Middleton Incredible

Kurva Kelarutan Laboratorium Kimia Fisika Departemen Teknik Kimia FT USU


120

18

Massa Sukrosa
100 Temperatur (C) 80 60 40 20 0 20 25 30 35 40 45 50 55 60 % Berat sampel 4 gr Regresi 4 gr

8 gr Regresi 8 gr

12 gr Regresi 12 gr

Gambar 4.5 Temperatur Keruh Terhadap % Berat Sampel

Secara teori dinyatakan bahwa efek dari perubahan temperatur terhadap kelarutan zat padat dalam cairan sangat signifikan. Peningkatan temperatur menghasilkan peningkatan kelarutan bagi kebanyakan zat (Miller, 1984). Sifat kelarutan sukrosa didalam air diteliti oleh Herzfeld yang menemukan bahwa kelarutan gula dalam air dipengaruhi suhu dan komponen lain yang terlarut bersama gula (Cakti, 2012). Pada gambar 4.5, grafik perbandingan temperatur jernih terhadap % berat sampel yang diperoleh setelah melakukan percobaan, dapat dilihat bahwa temperatur jernih berbanding lurus dengan % berat sampel. Semakin besar % berat sampel, maka semakin besar temperatur jernihnya. Hal tersebut belum sesuai dengan teori dimana kelarutan berbanding lurus terhadap temperatur. Hal ini disebabkan oleh : 1. Tidak telitinya pada saat penentuan larutan itu telah jernih ataupun keruh 2. Penambahan volum aquadest yang kurang tepat 3. Adanya kontaminasi terhadap sampel 4. Pembacaan suhu yang tidak tepat 5. Pemanasan sampel yang kurang sempurna

William & Kate Middleton Incredible

Kurva Kelarutan Laboratorium Kimia Fisika Departemen Teknik Kimia FT USU 4.2.6 Temperatur Keruh Terhadap % Berat Sampel
120 100 Temperatur (C) 80 60 40 20 0 0 20 40 % Berat Sampel 60 80 4 gr Regresi 4 gr 8 gr Regresi 8 gr 12 gr Regresi 12 gr

19

Gambar 4.4 Temperatur Keruh Terhadap Kelarutan Secara teori dinyatakan bahwa efek dari perubahan temperatur terhadap kelarutan zat padat dalam cairan sangat signifikan. Peningkatan temperatur menghasilkan peningkatan kelarutan bagi kebanyakan zat (Miller, 1984). Sifat kelarutan sukrosa didalam air diteliti oleh Herzfeld yang menemukan bahwa kelarutan gula dalam air dipengaruhi suhu dan komponen lain yang terlarut bersama gula (Cakti, 2012). Pada gambar 4.6, grafik perbandingan temperatur keruh terhadap % berat sampel yang diperoleh setelah melakukan percobaan, dapat dilihat bahwa temperatur keruh berbanding terbalik dengan % berat sampel. Semakin besar % berat sampel, maka semakin kecil temperatur keruhnya. Hal tersebut belum sesuai dengan teori dimana kelarutan berbanding lurus terhadap temperatur. Hal ini disebabkan oleh : 1. Tidak telitinya pada saat penentuan larutan itu telah jernih ataupun keruh 2. Penambahan volum aquadest yang kurang tepat 3. Adanya kontaminasi terhadap sampel 4. Pembacaan suhu yang tidak tepat 5. Pemanasan sampel yang kurang sempurna

William & Kate Middleton Incredible