Anda di halaman 1dari 34

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Definisi Resusitasi atau reanimasi mengandung arti harfiah menghidupkan kembali, dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis.4 Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) adalah prosedur kegawatdaruratan medis yang ditujukan untuk serangan jantung dan pada henti napas.5 RJP adalah kombinasi antara bantuan pernapasan dan kompresi jantung yang dilakukan pada korban serangan jantung.6 II.2. Indikasi A. Henti Napas Henti napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas, obstruksi jalan napas oleh benda asing, tesengat listrik, tersambar petir, serangan infark jantung, radang epiglotis, tercekik (suffocation), trauma dan lain-lainnya.7 Pada awal henti napas, jantung masih berdenyut, teraba nadi, pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Kalau henti napas mendapat pertolongan segera maka

pasien akan teselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung.7 B. Henti Jantung Henti jantung primer (cardiac arrest) ialah ketidak sanggupan curah jantung untuk memberi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan dapat kembali normal, kalau dilakukan tindakan yang tepat atau akan menyebabkan kematian atau kerusakan otak. Henti jantung terminal akibat usia lanjut atau penyakit kronis tentu tidak termasuk henti jantung.7 Sebagian besar henti jantung disebabkan oleh fibrilasi ventrikel atau takikardi tanpa denyut (80-90%). Kemudian disusul oleh ventrikel asistol (+10%) dan terakhir oleh disosiasi elektro-mekanik (+5%). Dua jenis henti jantung yang terakhir lebih sulit ditanggulangi karena akibat gangguan pacemaker jantung. Fibirilasi ventrikel terjadi karena koordinasi aktivitas jantung menghilang. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis femoralis, radialis) disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping, apnu), dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar(4). Pengiriman O2 ke otak tergantung pada curah jantung, kadar hemoglobin (Hb), saturasi Hb terhadap O2 dan fungsi pernapasan. Iskemi melebih 3-4 menit pada suhu normal akan menyebabkan kortek

serebri rusak menetap, walaupun setelah itu dapat membuat jantung berdenyut kembali.7 II.3. Fase RJPO Resusitasi jantung paru otak dibagi menjadi 3 fase diantaranya :4 1. FASE I : Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support) yaitu prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas dan henti jantung, dan bagaimana melakukan RJP secara benar. Terdiri dari : A (airway) B (breathing) C (circulation) jantung paru. 2. FASE II : Tunjangan hidup lanjutan (Advance Life Support); yaitu tunjangan hidup dasar ditambah dengan : D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan. E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai KJL, untuk mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole atau agonal ventricular complexes. F (fibrillation treatment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel. 3. FASE III : Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support). G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya. : menjaga jalan nafas tetap terbuka. : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat. : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi

H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen. H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada suhu antara 30-32C. H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan prikemanusiaan. I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan, dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kejang.4 II.4. Prosedur RJPO Pada dasarnya resusitasi jantung paru terdiri dari 2 elemen: kompresi dada dan mulut-ke-mulut (mouth-to-mouth) napas buatan. Sebelum menolong korban, hendaklah menilai keadaan lingkungan terlebih dahulu: 1. Apakah korban dalam keadaan sadar ? 2. Apakah korban tampak mulai tidak sadar, tepuk atau goyangkan bahu korban dan bertanya dengan suara keras Apakah Anda baik-baik saja ? 3. Apabila korban tidak berespon, mintalah bantuan

untuk menghubungi rumah sakit terdekat dan mulailah RJP.

Gambar 1

A. Bantuan Hidup Dasar Merupakan prosedur pertolongan darurat tentang henti jantung dan henti napas serta bagaimana melakukan RJP yang benar sampai ada bantuan datang.4 Caranya ialah: 1. Airway (Jalan Napas) Posisikan korban dalam keadaan terlentang pada alas yang keras (ubin), bila diatas kasur selipkan papan.7 Periksa jalan napas korban sebagai berikut :

- membuka mulut korban - masukkan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) - lihat apakah ada benda asing, darah, (bersihkan)
Pada korban tidak sadar, tonus otot menghilang sehingga lidah akan menyumbat laring. Lidah dan epiglottis penyebab utama tersumbatnya jalan napas pada pasien tidak sadar. Lidah yang jatuh kebelakang (drop), menutupi jalan napas.9

Gambar 2

- Letakkan tangan penolong diatas kening korban dan tangan yang


lain didagu korban , tengadahkan/dongakkan kepala korban (Head tilt - chin lift).4

- Jika kita mencurigai adanya patah atau fraktur tulang


leher/servikal, maka pakai cara jaw trust, lalu buka jalan napas. 2. Breathing (Pernapasan) Untuk menilai pernapasan korban dilakukan 3 cara :

- Look : lihat gerakan dada apakah mengembang atau tidak. - Listen : dengarkan suara napas korban ada atau tidak - Feel : rasakan hembusan napas korban pada mulut/hidung ada atau
tidak.

Gambar 3

Jika tidak ada maka dapat dilakukan napas buatan mulut ke mulut atau mulut ke sungkup atau mulut ke hidung atau mulut ke lubang trakheostomi sebanyak 2 kali.9

Gambar 4

Saat memberi napas buatan, pasti dada korban mengembang yang menandakan bahwa bantuan napas adekuat. 3. Circulation (Sirkulasi buatan) Nilai sirkulasi darah korban dengan menilai denyut arteri besar (arteri karotis, arteri femoralis).

- Apabila terdapat denyut nadi maka berikan pernapasan buatan 2


kali.

- Apabila tidak terdapat denyut nadi maka lakukan kompresi dada


sebanyak 30 kali.10

Gambar 5

Posisi kompresi dada, dimulai dari melokasi proc. Xyphoideus, dan tarik garis ke cranial 2 jari diatas proc. Xyphoideus, dan lakukan kompresi pada tempat tersebu.11

Gambar 6

10

Kemudian berikan 2 kali napas buatan dan teruskan kompresi dada sebanyak 30 kali. Ulangi siklus ini sebanyak 5 kali.10 Kemudian cek nadi dan napas korban, apabila:

- Tidak ada napas dan tidak ada nadi : teruskan RJP sampai bantuan
datang

- Terdapat nadi tetapi tidak ada napas : mulai lakukan pernapasan


buatan

- Terdapat nadi dan napas: korban membaik.

10

11

Gambar 7

11

12

RJP pada bayi dan anak : Pada anak dipakai satu tangan, sedangkan untuk bayi hanya dipakai ujung jari telunjuk dan tengah. Ventrikel bayi dan anak kecil terletak lebih tinggi dalam rongga dada, jadi tekanan harus dilakukan di bagian tengah tulang dada.

Gambar 8

12

13

Gambar 9

13

14

B. Bantuan Hidup Lanjut Terdiri atas Bantuan hidup dasar ditambah langkah-langkah: D (Drugs): Pemberian obat-obatan. Obat-obat tersebut dibagi menjadi 2 golongan: 1. Penting: a. adrenalin : Mekanisme kerja merangsang reseptor alfa dan beta, dosis yang diberikan 0,5 1 mg iv diulang setelah 5 menit sesuai kebutuhan dan yang perlu diperhatikan dapat

meningkatkan pemakaian O2 myocard, takiaritmia, fibrilasi ventrikel.4 b. Natrium Bikarbonat : Penting untuk melawan metabolik asidosis, diberikan iv dengan dosis awal : 1 mEq/kgBB, baik berupa bolus ataupun dalam infus setelah selama periode 10 menit. Dapat juga diberikan intrakardial, begitu sirkulasi spontan yang efektif tercapai, pemberian harus dihentikan karena bisa terjadi metabolik alkalosis, takiaritmia dan hiperosmolalitas. Bila belum ada sirkulasi yang efektif maka ulangi lagi pemberian dengan dosis yang sama.4 c. Sulfat Atropin : Mengurangi tonus vagus memudahkan konduksi atrioventrikuler dan mempercepat denyut jantung pada keadaan sinus bradikardi. Paling berguna dalam mencegah arrest pada keadaan sinus bradikardi sekunder karena infark miokard, terutama bila ada hipotensi. Dosis yang

14

15

dianjurkan mg, diberikan iv. Sebagai bolus dan diulang dalam interval 5 menit sampai tercapai denyut nadi > 60 /menit, dosis total tidak boleh melebihi 2 mg kecuali pada blok atrioventrikuler derajat 3 yang membutuhkan dosis lebih besar. d. Lidokain : Meninggikan ambang fibrilasi dan mempunyai efek antiaritmia dengan cara meningkatkan ambang stimulasi listrik dari ventrikel selama diastole. Pada dosis terapeutik biasa, tidak ada perubahan bermakna dari kontraktilitas miokard, tekanan arteri sistemik atau periode refrakter absolut. Obat ini terutama efektif menekan iritabilitas sehingga mencegah kembalinya fibrilasi ventrikel setelah defibrilasi yang berhasil, juga efektif mengontrol denyut ventrikel prematur yang mutlti fokal dan episode takikardia ventrikel. Dosis 50-100 mg diberikan iv sebagai bolus, pelan-pelan dan bisa diulang bila perlu. Dapat dilanjutkan dengan infus kontinu 1-3 mg/menit, biasanya tidak lebih dari 4 mg/menit, berupa lidocaine 500 ml dextrose 5 % larutan (1 mg/ml).4 2. Berguna: a. Isoproterenol : Merupakan obat pilihan untuk pengobatan segera (bradikardi hebat karena complete heart block). Ia diberikan dalam infus dengan jumlah 2 sampai 20 mg/menit (110 ml larutan dari 1 mg dalam 500 ml dectrose 5 %), dan diatur untuk meninggikan denyut jantung sampai kira-kira 60

15

16

kali/menit. Juga berguna untuk sinus bradikardi berat yang tidak berhasil diatasi dengan Atropine.4 b. Propanolol : Suatu beta adrenergic blocker yang efek anti aritmianya terbukti berguna untuk kasus-kasus takikardi ventrikel yang berulang atau fibrilasi ventrikel berulang dimana ritme jantung tidak dapat diatasi dengan lidocaine. Dosis umumnya adalah 1 mg iv, dapat diulang sampai total 3 mg, dengan pengawasan yang ketat.4 c. Kortikosteroid : Sekarang lebih disukai kortikosteroid sintetis (5 mg/kgBB methyl prednisolon sodium succinate atau 1 mg/kgBB dexamethasone fosfat) untuk pengobatan syok kardiogenik atau shock lung akibat henti jantung. Bila ada kecurigaan edema otak setelah henti jantung, 60-100 mg methyl prednisolon sodium succinate tiap 6 jam akan menguntungkan. Bila ada komplikasi paru seperti pneumonia post aspirasi, maka digunakan dexamethason fosfat 4-8 mg tiap 6 jam.4 E (EKG) : Diagnosis elektrokardigrafis untuk mengetahui adanya fibrilasi ventrikel dan monitoring. F: Fibrilation Treatment Gambaran EKG pada Ventrikel Fibrilasi ini menunjukan gelombang listrik tidak teratur baik amplitudo maupun frekuensinya.

16

17

Gambar 10

Terapi definitifnya adalah syok electric (DC-Shock) dan belum ada satu obat pun yang dapat menghilangkan fibrilasi.

17

18

Gambar 11

Tindakan defibrilasi untuk mengatasi fibrilasi ventrikel yaitu elektroda dipasang sebelah kiri putting susu kiri dan di sebelah kanan sternum atas. C. Bantuan Hidup terus-menerus G (Gauge) : Tindakan selanjutnya adalah melakukan monitoring terusmenerus terutama system pernapasan, kardiovaskuler dan system saraf.
18

19

H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih lanjut, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen. H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada suhu antara 30 32C. H Humanization : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan. I Intensive care : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan, dan tunjangan sirkulasi, mengendalikan kejang. Keputusan untuk mengakhiri resusitasi : Keputusan untuk memulai dan mengakhiri usaha resusitasi adalah masalah medis tergantung pada pertimbangan penafsiran status serebral dan kardiovaskuler penderita. Kriteria terbaik adanya sirkulasi serebral dan adekuat adalah reaksi pupil, tingkat kesadaran, gerakan dan pernafasan spontan dan refleks. Keadaan tidak sadar yang dalam tanpa pernafasan spontan dan pupil tetap dilatasi 15-30 menit, biasanya menandakan kematian serebral dan usaha-usaha resusitasi selanjutnya biasanya sia-sia. Kematian jantung sangat memungkinkan terjadi bila tidak ada aktivitas

elektrokardiografi ventrikuler secara berturut-turut selama 10 menit atau lebih sesudah RJP yang tepat termasuk terapi obat.4

19

20

II.5 Terapi Cairan a. Terapi Cairan Perioperatif Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander) secara intravena. Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk menyediakan jumlah cairan yang cukup untuk mempertahankan volume intravaskuler yang adekuat agar system

kardiovaskuler dalam keadaan optimal. Gangguan dalam keseimbangan cairan oleh kombinasi dari faktor faktor preoperatif, perioperatif dan postoperatif. Faktor-faktor preoperatif : 1) Kondisi yang telah ada Diabetes mellitus, penyakit hepar atau insufisiensi renal dapat diperburuk oleh stres akibat operasi. 2) Prosedur diagnostik Arteriogram atau pyelogram intravena yang memerlukan marker intravena dapat menyebabkan ekskresi cairan dan elektrolit urin yang tidak normal karena efek diuresis osmotik. 3) Pemberian obat Pemberian obat seperti steroid dan diuretik dapat mempengaruhi eksresi air dan elektrolit.

20

21

4) Preparasi bedah Enema atau laksatif dapat menyebabkan peningkatan kehilangan air dan elekrolit dari traktus gastrointestinal. 5) Restriksi cairan preoperative Selama periode 6 jam restriksi cairan, pasien dewasa yang sehat kehilangan cairan sekitar 300-500 mL. Kehilangan cairan dapat meningkat jika pasien menderita demam atau adanya kehilangan abnormal cairan. 6) Defisit cairan yang telah ada sebelumnya Harus dikoreksi sebelum operasi untuk meminimalkan efek dari anestesi. Faktor Perioperatif: 1) Induksi anestesi. Dapat menyebabkan terjadinya hipotensi pada pasien dengan hipovolemia preoperatif karena hilangnya mekanisme kompensasi seperti takikardia dan vasokonstriksi. 2) Kehilangan darah yang abnormal 3) Kehilangan abnormal cairan ekstraselular ke third space 4) Kehilangan cairan akibat evaporasi dari luka operasi Faktor postoperatif: 1) Stres akibat operasi dan nyeri pasca operasi 2) Peningkatan katabolisme jaringan 3) Penurunan volume sirkulasi yang efektif 4) Risiko atau adanya ileus postoperative

21

22

b. Dasar-Dasar Terapi Cairan Perioperatif Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan menjadi pegangan dalam pemberian cairan perioperatif, yaitu : 1) Kebutuhan normal cairan harian. Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan Secara umum kebutuhan cairan rumatan dapat dilihat table Holliday. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang hilang akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat (lewat kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water losses. 2) Defisit cairan pra bedah Hal ini dapat timbul akibat dipuasakannya penderita terutama pada bedah elektif (sektar 6-12 jam), kehilangan cairan abnormal yang seringkali menyertai penyakit bedahnya (perdarahan, muntah, diare, diuresis berlebihan, translokasi cairan pada penderita dengan trauma), kemungkinan meningkatnya insensible water loss akibat hiperventilasi, demam dan berkeringat banyak. 3) Kehilangan cairan saat pembedahan Perdarahan, dapat diukur dari : a. Botol penampung darah yang disambung dengan pipa penghisap darah (suction pump). a. 10 ml darah, sedangkan tampon besar (laparatomy pads) dapat menyerap darah 100-10 ml.

22

23

4) Jumlah perdarahan bisa ditentukan berdasarkan kepada taksiran dan keadaan klinis penderita yang kadang-kadang dibantu dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit berulang-ulang (serial). Derajat perdarahan DERAJAT BLOOD LOSS (ml) BLOOD LOSS EBV) NADI (x/mnt) TD < 100 118/72 > 100 110 / 80 > 120 weak 70- 90/50 60 CRT RESPIRASI DIURESIS (ml/hr) MENTAL STATUS N/gelisah gelisah/anxiety somnolen somnolen/coma N 14 20 >30 + 20 30 20 - 30 + 30 - 40 10 20 + > 40 0 10 > 140 Sistol < 50/60 (% < 15% 15 30 % 30 40 % > 40% I <750 II 750 - 1500 III 1500 - 2000 IV > 2000

Tabel 1

23

24

FLUID THERAPY

Crystalloid/RL 2,5 L

Crystalloid/RL+ Crystalloid + blood/RL 1L

Crystalloid + Blood/RL

or Colloid 1 L

Colloid 1 L

+ 1L

Colloid 0,5 Colloid 1 L L + Blood + Blood 2 L 1-1,5 L or or PRC 1 PRC 0,75 L 0,5- L+Colloid 1 L

Tabel 2

Menifestasi klinis syok hipovolemik Agitasi Akral dingin Penurunan konsentrasi Penurunan kesadaran Penurunan atau tidak ada keluaran urine Lemah Warna kulit pucat Napas cepat Berkeringat Pada setiap pembedahan selalu terjadi kehilangan cairan yang lebih menonjol dibandingkan perdarahan sebagai akibat adanya evaporasi dan

24

25

translokasi cairan internal. Kehilangan cairan akibat penguapan (evaporasi) akan lebih banyak pada pembedahan dengan luka pembedahan yang luas dan lama. Jaringan yang mengalami trauma, inflamasi atau infeksi dapat mengakibatkan sequestrasi sejumlah cairan interstitial dan perpindahan cairan ke ruangan serosa (ascites) atau ke lumen usus. Pada organ ginjal pembedahan dan anestesia dapat mengakibatkan: Laju Filtrasi Glomerular (GFR = Glomerular Filtration Rate) menurun. Reabsorbsi Na+ di tubulus meningkat yang sebagian disebabkan oleh meningkatnya kadar aldosteron. Meningkatnya kadar hormon anti diuretik (ADH) menyebabkan terjadinya retensi air dan reabsorpsi Na+ di duktus koligentes (collecting tubules) meningkat. Ginjal tidak mampu mengekskresikan free water atau menghasilkan urin hipotonis. c. Terapi Cairan I. Pengganti defisit Pra bedah Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa, lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada masa pra-bedah sebelum induksi. Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti dengan cairan hipotonis seperti garam fisiologis, ringer laktat dan dextrose. Pedoman koreksinya adalah : Hitung kebutuhan cairan perhari ( perjam ) Hitung deficit puasa ( lama puasa ) atau derajat dehidrasi

25

26

Pada jam I berikan 50 % deficit + cairan pemeliharaan/jam Pada jam II berikan 25 % deficit + cairan pemeliharaan/jam Pada jam III berikan 25 % deficit + cairan pemeliharaan/jam

II. Terapi cairan selama pembedahan Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan (perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). Jenis cairan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah yang hilang. 1) Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya bedah mata (ekstrasi, katarak) diberikan cairan rumatan saja selama pembedahan. 2) Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma

pembedahan. 3) Pembedahan dengan trauma sedang berat diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk pembedahannya.

26

27

Kebutuhan cairan tambahanan berdasar derajat trauma : Perubahan Contoh operasi cairan Perbaikan Tendon Kecil Timpanoplasti Histerektomi Sedang hernia Inguinal Peritonitis Besar Laparatomi dengan memotong usus
Tabel 3

Rata rata ( kristaloid )

0 2 ml/kg/hr

2 4 ml/kg/hr

4 8 ml/kg/hr

1) Penggantian darah yang hilang Kehilangan darah sampai sekitar 20% EBV (EBV = Estimated Blood Volume = taksiran volume darah), akan menimbulkan gejala hipotensi, takikardi dan penurunan tekanan vena sentral. Kompensasi tubuh ini akan menurun pada seseorang yang akan mengalami pembiusan (anestesi) karena depresi komponen vasoaktif. Perkiraan volume darah :

27

28

Usia Prematur Neonatus Full term Bayi Laki-laki Dewasa Wanita

Volume darah 90 ml/kgBB 85 ml/kgBB 80 ml/kgBB 75 ml/kgBB 65 ml/kgBB

Tabel 4

Volume cairan intravaskuler dapat dipertahankan dengan larutan kristaloid ( 2 3x jumlah perdarahan), koloid ( jumlahnya sama dengan perkiraan jumlah perdarahan), pemberian transfusi darah tetap harus menjadi bahan pertimbangan berdasarkan: a) Keadaan umum penderita ( kadar Hb dan hematokrit) sebelum pembedahan b) c) d) e) f) Jumlah/penaksiran perdarahan yang terjadi Sumber perdarahan yang telah teratasi atau belum. Keadaan hemodinamik (tensi dan nadi) Jumlah cairan kristaloid dan koloid yang telah diberikan Kalau mungkin hasil serial pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit. g) Usia penderita

28

29

c. Terapi Cairan Pasca Bedah Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini: Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi. Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal sekitar 50 ml/kgBB/24jam. Pada hari pertama pasca bedah tidak dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari sel/jaringan yang rusak, proses katabolisme dan transfusi darah. Akibat stress pembedahan, akan dilepaskan aldosteron dan ADH yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh sebab itu, pada 2-3 hari pasca bedah tidak perlu pemberian natrium. Penderita dengan keadaan umum baik dan trauma pembedahan minimum, pemberian karbohidrat 100-150 mg/hari cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat menekan pemecahan 1) protein sampai 50% kadar albumin harus dipertahankan melebihi 3,5 gr%. Penggantian cairan pasca bedah cukup dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garam isotonis. Terapi cairan ini berlangsung sampai penderita dapat minum dan makan. 2) Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah: a). Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap kenaikan 1C suhu tubuh a. Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung atau muntah. b. Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui trakeostomi dan humidifikasi.

29

30

3) Melanjutkan penggantian defisit cairan

pembedahan dan selama

pembedahan yang belum selesai. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr%, sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki daya angkut oksigen. 4) Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi cairan. Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara seksama meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, diuresis, tingkat kesadaran, diameter pupil, jalan nafas, frekuensi nafas, suhu tubuh dan warna kulit. d. Jenis Cairan 1) Cairan Kristaloid Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF). Indikasi penggunaan antara lain untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel pada pasien syok hipovolemik, kasuskasus perdarahan memerlukan cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali jumlah darah yang hilang) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume intravaskuler. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit. Keuntungan dari cairan ini antara lain harga murah, mudah di dapat, tidak perlu dilakukan cross match, tidak menimbulkan alergi, menurunkan viskositas darah, penyimpanan sederhana dan dapat disimpan lama. Efek samping pemberian sejumlah cairan kristaloid dapat mengakibatkan timbulnya edema perifer dan edema paru. Selain itu, pemberian cairan kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra kranial.

30

31

Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme di hati menjadi bikarbonat. 2) Cairan Koloid Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut plasma substitute atau plasma expander. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar). Kerugian dari plasma expander yaitu mahal dan dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (walau jarang) dan dapat menyebabkan gangguan pada cross match. Berdasarkan pembuatannya, terdapat 2 jenis larutan koloid : a). Koloid alami Yaitu fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5 dan 2,5 % ). Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60C selama 10 jam untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. Fraksi protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa globulin dan beta globulin. Prekallikrein activators

31

32

(Hagemans factor fragments) seringkali terdapat dalam fraksi protein plasma dibandingkan dalam albumin. Oleh sebab itu pemberian infuse dengan fraksi protein plasma seringkali menimbulkan hipotensi dan kolaps kardiovaskuler. b). Koloid sintesis yaitu: A. Dextran: Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 dan Dextran 70 (Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70.000 diproduksi oleh bakteri Leuconostoc mesenteroides B yang tumbuh dalam media sukrosa. Walaupun Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih baik dibandingkan dengan Dextran 40, tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi mikro karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah. Selain itu Dextran mempunyai efek anti trombotik yang dapat mengurangi platelet adhesiveness, menekan aktivitas faktor VIII, meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran darah. Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat mengganggu cross match, waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal. Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu dengan memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu. B. Hydroxylethyl Starch (HES) Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10.000 1.000.000, rata-rata 71.000, osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan

32

33

onkotik 30 mmHg. Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari. Larutan koloid ini juga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik dan dapat meningkatkan kadar serum amilase (walau jarang). Low molecullar weight

Hydroxylethyl starch (Penta-Starch) mirip Heta starch, mampu mengembangkan volume plasma hingga 1,5 kali volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Karena potensinya sebagai plasma volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka Penta starch dipilih sebagai koloid untuk resusitasi cairan pada penderita gawat. C. Gelatin Larutan koloid 3,5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat molekul rata-rata 35.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang. Ada 3 macam gelatin, yaitu: a. b. c. Modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell) Urea linked gelatin Oxypoly gelatin Merupakan plasma expanders dan banyak digunakan pada penderita gawat. Walaupun dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (jarang) terutama dari golongan urea linked gelatin. Keuntungan gelatin tidak terlalu mahal, dapat disimpan 23 tahun pada suhu ruangan, dampak pada system koagulasi tidak terlalu

33

34

menonjol, aman bagi fungsi ginjal. Kerugian gelatin cepat diekskresi melalui urin, meningkatkan viskositas darah dan memudahkan agregasi eritrosit, terjadi reaksi anafilaksis.

34