Anda di halaman 1dari 11

Penjelasan Zakat Fitrah di Bulan Ramadhan

Penjelasan Tentang Zakat Fitrah - Zakat fitrah adalah mengeluarkan bahan makanan pokok dengan ukuran tertentu setelah terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan (malam 1 . Syawwal) dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan .Zakat fitrah diwajibkan ditahun kedua Hijriyah : Dasar wajib zakat fitrah

) )
Diriwayatkan dari Sayyidina Abdullah bin Umar, Sesungguhnya Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah bulan Ramadhan berupa satu sho kurma atau satu sho gandum atas setiap orang muslim, merdeka atau budak, laki2 maupun perempuan

Zakat fitrah wajib bagi setiap orang islam yang mampu dan hidup di sebagian bulan Ramadhan serta sebagian bulan Syawwal. Artinya, orang yang meninggal setelah masuk waktu maghrib malam lebaran (malam 1 Syawwal) wajib baginya zakat fitrah (dikeluarkan dari harta peninggalannya). Begitu juga bayi yang dilahirkan sesaat sebelum terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan dan terus hidup sampai setelah terbenamnya matahari malam 1 Syawwal. Tapi sebaliknya, orang yang meninggal sebelum terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan atau bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari di malam 1 Syawwal tidak . diwajibkan baginya zakat fitrah Yang dimaksud mampu yaitu, memiliki harta lebih dari 1. Kebutuhan makan dan pakaian untuk dirinya dan orang yang wajib dinafkahi pada siang hari raya beserta malam 2. harinya (1 Syawwal dan malam 2 Syawwal) . 3. Hutang, meskipun belum jatuh tempo (saat membayar). 4. Rumah yang layak baginya dan orang yang wajib dinafkahi. 5. Biaya pembantu untuk istri jika dibutuhkan. :Orang yang wajib dinafkahi yaitu 1. Anak yang belum baligh dan tidak memiliki harta. 2. Anak yang sudah baligh namun secara fisik tidak mampu bekerja seperti lumpuh, idiot, dan sebagainya serta tidak memiliki harta. 3. Orang tua yang tidak mampu (musir). 4. Istri yang sah. 5. Istri yang sudah ditalak roji (istri yang pernah dikumpuli dan tertalak satu atau dua) dalam masa iddah. 6. Istri yang ditalak bain (talak 3) apabila dalam keadaan hamil. .Zakat fitrah berupa makanan pokok mayoritas penduduk daerah setempat .Ukuran zakat fitrah 1 sho beras = 2,75 3 kg .Urutan dalam mengeluarkan zakat fitrah ketika harta terbatas

Orang yang memiliki kelebihan harta seperti di atas tetapi tidak mencukupi untuk fitrah seluruh keluarganya, maka dikeluarkan sesuai urutan berikut : 1. Dirinya sendiri. 2. Istri. 3. Pembantu istri sukarela (tanpa bayaran). 4. Anak yang belum baligh. 5. Ayah yang tidak mampu. 6. Ibu yang tidak mampu. 7. Anak yang sudah baligh dan tidak mampu (secara fisik dan materi). .Jika kelebihan harta tersebut kurang dari 1 sho maka tetap wajib dikeluarkan :Waktu mengeluarkan zakat fitrah 1. Waktu wajib, yaitu ketika mendapati sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari bulan Syawwal. 2. Waktu jawaz (boleh), yaitu mulai awal Ramadhan. Dengan catatan orang yang telah menerima fitrah darinya tetap dalam keadaan mustahiq (berhak menerima zakat) dan mukim saat waktu wajib. Jika saat wajib orang yang menerima fitrah dalam keadaan kaya atau musafir maka wajib mengeluarkan kembali. 3. Waktu fadhilah (utama), yaitu setelah terbitnya fajar hari raya (1 Syawwal) sebelum pelaksanaan shalat ied. 4. Waktu makruh, yaitu setelah pelaksaan shalat ied hingga terbenamnya matahari 1 Syawwal, kecuali karena menunggu kerabat atau tetangga yang berhak menerimanya. 5. Waktu haram, yaitu mengakhirkan hingga terbenamnya matahari 1 Syawwal kecuali karena udzur seperti tidak didapatkan orang yang berhak didaerah itu. Namun wajib menggodhoi. :Syarat sah zakat fitrah .I. Niat .Niat wajib dalam hati. Sunnah melafadzkannya dalam madzhab syafii :Niat untuk fitrah diri sendiri


(Saya niat mengeluarkan zakat fitrah saya karena Allah Taala ) :Niat untuk zakat fitrah orang lain


(saya niat mengeluarkan zakat fitrah fulan atau fulanah karena Allah Taala ) CATATAN : Anak yang sudah baligh, mampu secara fisik, tidak wajib bagi orang tua mengeluarkan zakat fitrahnya. Oleh karena itu apabila orang tua hendak mengeluarkan zakat fitrah anak tersebut, maka caranya : 1. Men-tamlik makanan pokok kepadanya (memberikan makanan pokok untuk fitrahnya agar diniati anak tersebut). 2. Atau mengeluarkannya dengan seizin anak. Cara niat zakat fitrah a. Jika dikeluarkan sendiri, maka diniatkan ketika menyerahkannya kepada yang berhak atau setelah memisahkan beras sebagai fitrahnya. Apabila sudah diniatkan ketika dipisah maka tidak .perlu diniatkan kembali ketika diserahkan kepada yang berhak b. Jika diwakilkan, diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil atau memasrahkan niat kepada wakil. Apabila sudah diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil maka tidak wajib bagi wakil untuk niat kembali ketika memberikan kepada yang berhak, namun lebih afdhol tetap meniatkan kembali, tetapi jika memasrahkan niat kepada wakil maka wajib bagi wakil meniatkannya .

,II. Menyerahkan kepada orang yang berhak menerima zakat yaitu ada 8 golongan yang sudah maklum Mustahik Zakat Ada 8 golongan yang berhak menerima zakat (mustahiq) baik zakat fitrah atau zakat harta, yaitu sesuai dengan firman Allah SWT : Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi (Maha Bijaksana.(QS. At-taubah : 60 Delapan golongan yang berhak menerima zakat sesuai ayat di atas adalah : 1. Orang Fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. Orang Miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. 3. Pengurus Zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpilkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. Memerdekakan Budak: mancakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orangorang kafir. 6. Orang yang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. Orang yang berjuang di jalan Allah (Sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufassirin ada yang berpendapat bahwa fi sabilillah itu mancakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. Orang yang sedang dalam perjalanan ( ibnu sabil) yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. . :Halhal yang perlu diperhatikan 1. Tidak sah memberikan zakat fitrah untuk masjid. 2. Panitia zakat fitrah yang dibentuk oleh masjid, pondok, LSM, dll (bukan BAZ) bukan termasuk amil zakat karena tidak ada lisensi dari pemerintah. 3. Fitrah yang dikeluarkan harus layak makan, tidak wajib yang terbaik tapi bukan yang jelek. 4. Istri yang mengeluarkan fitrah dari harta suami tanpa seizinnya untuk orang yang wajib dizakati, hukumnya tidak sah. 5. Orang tua tidak bisa mengeluarkan fitrah anak yang sudah baligh dan mampu kecuali dengan izin anak secara jelas. 6. Menyerahkan zakat fitrah kepada anak yang belum baligh hukumnya tidak sah (qobd-nya), karena yang meng-qobd harus orang yang sudah baligh. 7. Zakat fitrah harus dibagikan pada penduduk daerah dimana ia berada ketika terbenamnya matahari malam 1 Syawal. Apabila orang yang wajib dizakati berada di tempat yang berbeda sebaiknya diwakilkan kepada orang lain yang tinggal di sana untuk niat dan membagi fitrahnya.

8. Bagi penyalur atau panitia zakat fitrah, hendaknya berhati-hati dalam pembagian fitrah agar tidak kembali kepada orang yang mengeluarkan atau yang wajib dinafkahi, dengan cara seperti memberi tanda pada fitrah atau membagikan kepada blok lain. 9. Mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) tetap wajib fitrah sekalipun dari hasil fitrah yang didapatkan jika dikategorikan mampu. 10. Fitrah yang diberikan kepada kyai atau guru ngaji hukumnya TIDAK SAH jika bukan termasuk dari 8 golongan mustahiq. 11. Anak yang sudah baligh dan tidak mampu (secara materi) sebab belajar ilmu wajib (fardlu ain atau kifayah) adalah termasuk yang wajib dinafkahi, sedangkan realita yang ada mereka libur pada saat waktu wajib zakat fitrah. Oleh karena itu, caranya harus di- tamlikkan atau dengan seizinnya sebagaimana di atas. 12. Ayah boleh meniatkan fitrah seluruh keluarga yang wajib dinafkahi sekaligus. Namun banyak terjadi kesalahan, fitrah anak yang sudah baligh dicampur dengan fitrah keluarga yang wajib dinafkahi. Yang demikian itu tidak sah untuk fitrah anak yang sudah baligh. Oleh karena itu, ayah harus memisah fitrah mereka untuk di- tamlikkan atau seizin mereka sebagaimana keterangan di atas. 13. Fitrah dengan uang tidak sah menurut madzhab Syafii. Sumber : http://raytkj.blogspot.com/2012/07/penjelasan-zakat-fitrah-dibulan.html#ixzz22ryK6RTB

NIAT ZAKAT FITRAH 1. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiri


NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ANNAFSII FARDHAN LILLAHI TAAALAA Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas diri saya sendiri, Fardhu karena Allah Taala 2. Niat zakat Fitrah untuk IstriSelebihnya...


NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI AN ZAUJATII FARDHAN LILLAHI TAAALAA Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas istri saya, Fardhu karena Allah Taala 3. Niat zakat Fitrah untuk anak laki-laki atau perempuan

/
NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI AN WALADII / BINTII FARDHAN LILLAHI TAAALAA Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya) / anak perempuan saya (sebut namanya), Fardhu karena Allah Taala 4. Niat zakat Fitrah untuk orang yang ia wakili

( ..)
NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI AN () FARDHAN LILLAHI TAAALAA Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas . (sebut nama orangnya), Fardhu karena Allah Taala 5. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiri dan untuk semua orang yang ia tanggung nafkahnya


NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ANNII WA AN JAMIII MAA YALZAMUNII NAFAQAATUHUM SYARAN FARDHAN LILLAHI TAAALAA

Sengaja saya mengeluarkan zakat atas diri saya dan atas sekalian yang saya dilazimkan (diwajibkan) memberi nafkah pada mereka secara syariat, fardhu karena Allah Taaala Makna Iedul Fitri Bagaimana dengan kata "Halal bi Halal" ? Ditinjau dari segi bahasa, halal

bi halal berasal dari kata ( ) halla - yahullu atau( ) halala yang artinya membuka, mengurai tali/benang kusut. Maka dengan halal bi halal, hubungan yang sebelumnya tertutup, kusut, dan keruh diharapkan bisa terbuka, terurai kembali.

Bisa juga berasal dari kata /Hall Bi al-Hall (halal dengan halal) sehingga terjadi saling mengikhlaskan terhadap apa yang selama ini menjadi "ganjalan" di hati, sehingga terjadi jalinan silaturahim yang hangat dan tulus.
Halal bi halal adalah suatu tradisi khas umat Islam Indonesia dan tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad saw untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Di Negara jiran Malaysia, Singapore maupun Brunei biasa menggunakan "Happy Eid Mubarak "atau Eid Mubarak Ada istilah yang sering digunakan untuk merayakan hari kemenangan itu dengan ber-sms ke saudara, kawan dan handai taulan dengan ucapan "Mohon Maaf Lahir dan Bathin Minal 'Aaidin wal Fa'izin" Sering ada kekeliruan dalam penulisan (disamping memang transliterasi bahasa arab ke tulisan latin memang tidak sempurna) yaitu : Minal 'Aaidin wal Fa'idzin" Tulisan ini sekilas benar tapi salah !!. Yang benar adalah Minal 'idin wal Fizn, dan itu terdiri dari 4 (empat) kalimat (bahasa Indonesia- kata) yaitu : 1. Kata 2 .Kata - ) /da-Yadu) berarti kembali dari safar/bepergian (Kamus Al Munawwir) yang berbentuk fi'il mu'tal ajwaf yaitu ain fi'il-nya berbentuk alif, maka untuk menjadikan Isim Fa'il (pelaku) makaharusdiganti

/id atau orang yang kembali, bentuk jamak mudzakkar salim-nya adalah /idn atau orang-orang yang kembali. /Fza artinya beruntung 3. Kata /wa 4.Kata /Fizn berasal dari kata
hamzah ( )menjadi atau menang/sukses, juga berbentuk fi'il mu'tal ajwaf sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran(3) : 185 ..Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh ia amat beruntung.

Karena ada huruf jar /Min maka dia jadi amil bagi kalimat berikutnya: (majrur) dengan cara mengganti tanda rafa' : /wawu nun menjadi tanda jar /n sehingga ( /idn menjadi / idn) dan ( / Fizn menjadi /Fizn) jadilah kalimat :
(Min al- idn Wa al-Fizn) (Semoga) termasuk orang-orang yang kembali (suci/fitrah) dan termasuk orangorang yang beruntung

Dan ucapan di hari raya sebagaimana di dalam hadits :

: : . : : - -

Bercerita Habib bin Umar Al Anshary, mengabarkan ayahku ketika beliau bertemu Watsilah di hari 'Id dan berkata : Taqabbalallhu Minn Wa Minka

Maka di jawab : ya , /Taqabbalallhu Minka (Semoga Allah menerima (amal kebajikan) kita dan anda) ( Mu'jam Kabr at-Tabrn, Nihyat al-Muhtj, Mughn Muhtj)
Bila untuk orang banyak : (www.jatiqo.com)

Minn

Wa

Ka/Minka diganti

Kum/Minkum /

::

Tata cara Shalat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha
Hukum Shalat Idul Fitri dan Idul Adha Mengerjakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha (idain) berhukum sunah muakkad. Dalil Shalat Idul Fitri dan Idul Adha Dalil mengerjakan shalat dua hari raya adalah firman Allah swt.:

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah. (QS. Al Kautsar: 3) Dan hadits Nabi Muhammad saw.:

(3: ).

Rasulullah saw., Abu Bakar, Umar melakukan shalat dua hari raya sebelum khutbah dilaksanakan. (Muttafaq Alaih)

( )

Shalat hari raya adalah shalat yang berjumlah dua rakaat, dan sunah dengan berjamaah, serta dikerjakan sebelum khutbah. Akan tetapi, bagi orang yang mengerjakan ibadah haji disunahkan mengerjakannya tanpa berjamaah. Bagi orang yang mengerjakannya tanpa berjamaah tidak disunahkan melakukan khutbah setelahnya. Adapun tempat melaksanakan shalat idain adalah masjid. Waktu Pelaksanaan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha Pelaksanaan shalat hari raya dimulai saat matahari terbit sampai dengan tergelincir, dan yang paling utama adalah mengerjakannya ketika matahari sudah naik kira-kira satu tombak dalam pandangan mata. Kesunahan di Hari Raya Kesunahan yang dapat dilakukan pada saat hari raya adalah: Melantunkan takbir Kesunahan ini dimulai sejak terbenamnya matahari hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan berakhir ketika imam memulai shalat id. Hanya saja, pada hari raya Idul Adha tetap disunahkan melantunkannya setiap selesai mengerjakan shalat fardlu, shalat rawatib, shalat sunah mutlak, dan shalat janazah. Kesunahan ini berlangsung sampai waktu Ashar tanggal tiga belas Dzulhijjah. Catatan: Takbir yang disunahkan pada setiap selesai shalat disebut takbir muqayyad. Takbir yang disunahkan tidak pada setiap shalat disebut takbir mursal. Adapun bacaan takbir yang dimaksud adalah:

.
Mandi dengan niat untuk melaksanakan shalat hari raya:

. /
Berangkat pagi-pagi, kecuali bagi imam disunahkan berangkat ketika shalat hendak dilaksanakan. Berhias diri dengan memakai parfum, pakaian yang bagus, memotong kuku, serta menghilangkan bau yang tidak sedap. Menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Idul Fitri, sedangkan pada Idul Adha, sunah melakukan shalat terlebih dahulu. Tahniah (ungkapan suka cita) atas datangnya hari raya disertai dengan berjabat tangan. Seperti lafadh:


Menjawab ucapan suka cita (tahniah) dengan bacaan: .

Teknis Pelaksanaan Shalat dan Khutbah Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha Ketika imam sampai di masjid, muraqi segera berdiri untuk memberi aba-aba dimulainya shalat, yakni dengan lafadh:

. /
Imam segera menuju mihrab (tempat imam), lalu niat shalat disertai takbiratul ihram. Niatnya adalah:

. /
Setelah takbiratul ihram, dilanjutkan membaca doa iftitah, kemudian melakukan takbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakaat kedua. Lalu, membaca tasbih di sela-sela takbir:


Setelah selesai melakukan takbir ketujuh, dilanjutkan membaca taawwudz, surat Al Fatihah dan surat-surat yang disunahkan; seperti surat Qaf atau Al Ala pada rakaat pertama, dan surat Al Qamar atau surat Al Ghasyiyah pada rakaat kedua. Selesai melaksanakan shalat, muraqi segera berdiri untuk memberi aba-aba dimulainya khutbah, disusul dengan membaca shalawat sambil menyerahkan tongkat. Redaksinya semisal:

/ . .

Setelah itu, khotib menuju mimbar khutbah. Kemudian muraqi membaca doa:

.
Selesai doa, khotib mengucapkan salam kemudian duduk.


Lalu, muraqi membaca takbir sebanyak tiga kali:

3 .

Kemudian, khotib melaksanakan khutbah pertama. Selesai khutbah, khotib duduk sejenak, disusul muraqi membaca shalawat:

Selesai duduk, khotib melanjutkan dengan khutbah kedua sampai selesai. Lafadz - teks - bacaan bilal ini bersumber dari buku Menapak Hidup Baru, Doa-doa Keseharian yang ditulis oleh KH. M. Yusuf Chudlori ; Pengasuh PP. API Tegalrejo Magelang

- - - - , - - )
Allaahu akbar - Allaahu akbar - Allaahu akbar, Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil - hamd. Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa. Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil hamd. Artinya : Allah maha besar (3X). Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah. Allah maha besar dengan segala kebesaran, Segala puji bagi Allah, dan aku mensucikan dengan kesucian-Nya di waktu pagi dan sore, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.

Allaahu akbar - Allaahu akbar - Allaahu akbar, Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah. Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil - hamd. Artinya: Allah maha besar (3X). Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah. Allaahu akbar - Allaahu akbar - Allaahu akbar, Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar walillaahil - hamd. Shallu sunnatal li'iidil fitri rak'ataini jama'atar rahimakumullaah ( 3). Artinya: Allah maha besar (3X). Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah. Shalatlah kamu sekalian, shalat sunah Idul Fitri dua rakaat dengan berjama'ah, semoga Allah memberi rahmat kepadamu. Jama'ah / Hadirin menjawab: Ash shalaatu laa-ilaaha illallaah. Kemudian melaksanakan sholat Ied. Setelah selesai dan salam, Bilal membaca takbir walaupun hanya satu kali. Lalu membaca:

) (
Yaa ma'aasyiral ikhwani wal ahibbaa-i rahimakumullaah, i'lamuu anna yaumakum haadza yaumul idhaami wa yaumus suruuri, yaumu ahallallaahu lakum fiihit ta'aam waharrama 'alaikum fiihis siyaam. ansituu wasma'uu wa atii'uu rahimakumullaah (3x) ansituu la-ilaaha illallaah. Artinya: Wahai saudara-saudara sekalian dan para kekasih Allah semoga Allah memberi rahmat kepadamu, ketahuilah sesungguhnya hari ini adalah hari yang agung dan hari suka cita, yaitu hari dimana Allah menghalalkan kepadamu untuk makan dan mengharamkan kepadamu berpuasa. Perhatikanlah dan dengarkanlah, serta taatlah... semoga Allah memberi rahmat kepadamu (3x), Perhatikanlah, tiada Tuhan selain Allah. Kemudian dilanjutkan dengan khutbah, seperti khutbah Jum'at. Notice: Untuk hari raya qurban / Idul Adha, lafadz Fitri di ganti dengan lafadz Adha.