Anda di halaman 1dari 2

Pendidikan Seks Perlu Dimasukkan dalam Proses Pembelajaran di Sekolah dengan Penyampaian yang Tepat Oleh : Dwi Handayani

Dewasa ini banyak kasus kenakalan remaja yang masih belum bisa dikendalikan. Fenomena yang saat ini masih marak menjadi pemberitaan baik melalui media tulis maupun elektronik adalah kasus pemerkosaan, pencabulan, hamil di luar nikah, aborsi dan masih banyak lagi penyimpangan yang banyak dilakukan pada anak-anak usia sekolah. Anak usia sekolah merupakan anak yang memiliki usia yang sangat rentan terhadap adanya perilaku seks bebas. Mengingat pada usia tersebut mereka cenderung mudah terpengaruh karena masih labil dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga mereka akan mencoba-coba hal baru yang tidak diimbangi dengan pengetahuan atau pemahaman yang cukup terutama mengenai pengetahuan seks. Terlebih lagi perkembangan teknologi seperti internet juga berkontribusi pada maraknya kasus penyimpangan remaja. Karena selain dapat memberikan efek positif, adanya teknologi juga dapat memberikan efek negatif. Hal tersebut tergantung dari cara menggunakan teknologi yang ada dan ada atau tidaknya pengawasan dari orangtua. Oleh karena itu penting untuk memberikan pendekatan kepada anak usia sekolah mengenai pemahaman seks yang diterapkan sebagai kurikulum di sekolah-sekolah. Karena biasanya para orangtua di rumah kurang memberikan perhatian ataupun pemahaman kepada anaknya tentang pengetahuan seks. Banyak orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaanya, sehingga tidak mengetahui perkembangan anaknya. Menurut Dr. Boy yang merupakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kota Bandar Lampung, menjadikan pendidikan seks dan organ reproduksi pada remaja sebagai bagian dari kurikulum pendidikan dapat menjadi langkah ampuh dalam menekan perilaku seks bebas di kalangan remaja..Dengan adanya pendidikan seks di sekolahsekolah, diharapkan moral penerus bangsa ini dapat terbentuk dengan baik. Dalam menerapkan pendidikan seks di sekolah, tentunya harus diperhatikan beberapa aspek penyampaian yang cocok dengan usia anak sekolah. Karena tidak mudah untuk menyampaikan materi pendidikan seks pada anak-anak usia sekolah. Perlu adanya pelatihan bagi para guru yang akan ditugaskan untuk menyampaikan materi pendidikan seks. Pelatihan tersebut

pernah dilakukan di daerah Yogyakarta yang menjadi pelopor pelaksanaan pendidikan seks bagi remaja secara formal di sekolah. Menurut Soepri Tjahjono selaku Manager Program Youth Center Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, secara umum, pendidikan seks yang diberikan berfokus pada kesehatan reproduksi. Cakupan materi, antara lain, meliputi permasalahan jender, komunikasi atau keseimbangan relasi antara perempuan dan laki-laki, kesehatan seksual, pubertas, serta HIV/AIDS dan narkoba. Materi-materi itu akan diberikan dengan menggunakan metode pembelajaran partisipatif. Jadi siswa dilibatkan penuh dalam setiap pembelajaran sehingga tidak ada materi yang diberikan sepenuhnya dengan metode ceramah satu arah. Metode ini digunakan dengan tujuan agar para siswa dapat lebih aktif berdiskusi dan menyampaikan pengalaman ataupun memberikan pendapat. Berbagai metode seperti role play, studi kasus, permainan, atau menonton video akan digunakan untuk menunjang pembelajaran partisipatif. Sehingga metode tersebut dapat menarik perhatian siswa karena materi disajikan dengan menarik dan tidak membosankan. Selain itu, untuk di luar jam pelajaran formal, sekolah juga sebaiknya memberikan kegiatan organisasi atau ekstrakurikuler yang mampu menunjang keaktifan mereka agar siswa tidak mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Salah satu contoh organisasi yang berperan dalam memberikan pendidikan seks adalah organisasi KSPAN (Kelompok Mahasiswa Peduli AIDS dan Narkoba).

Referensi : http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/kesehatan/10/09/27/136641-idi-sudahsaatnya-pendidikan-seks-masukkurikulum?view=berita&TB_iframe=true&width=1000&height=600 http://mmdnews.wordpress.com/2007/10/30/pendidikan-seks-di-yogyakarta-menjadipelopor-pertama-pengajaran-di-sekolah/