Anda di halaman 1dari 2

Fianti Femmilia Darmawan 2412100081

Calon Koruptor Teriak Koruptor Pendidikan adalah salah satu hak manusia yang perlu dipenuhi demi keberlangsungan hidup dan kesejahteraan serta kebermanfaatan bagi orang banyak. Di Indonesia, hak untuk mendapatkan pendidikan seperti yang tertuang dalam undang undang, dipenuhi dengan adanya program wajib belajar 12 tahun dari pemerintah. Pemerintah Indonesia sangat memfasilitasi rakyatnya khususnya pemuda untuk dapat mengecam bangku sekolah. Namun sangat disayangkan dalam penyebarannya tidak merata ke setiap daerah yang ada di nusantara ini. Banyak terjadi kesenjangan dalam hal apapun baik apabila ditinjau dari segi ekonomi maupun keadilan sosial. Padahal, yang membutuhkan pendidikan dan kesempatan untuk mengecam bangku sekolah bukanlah saja orang orang yang ada di perkotaan dan bukan saja orang orang yang mempunyai uang. Meskipun demikian, pemerintah tetap mengupayakan pemerataan hak pendidikan dengan seadiladilnya dan selayak-layaknya agar tujuan dan manfaat pendidikan benar benar terasa oleh bangsa, bukan hanya menjadi visi yang menggantung semata. Mari kita kesampingkan terlebih dahulu masalah ketidak-adilan pemerataan hak pendidikan yang sangat jelas terlihat di negeri ini. Hal tersebut bukanlah satu satunya yang harus dikritisi, karena bukan hanya pemerintah saja yang perlu di awasi dan di protes setiap gerak geriknya. Kita sebagai penggerak negara yang sesungguhnya haruslah juga diperhatikan tindakannya, khususnya para pemuda. Mengapa pemuda lebih ditekankan? Sasaran utama dari pendidikan adalah para pemuda, karena pemuda adalah agen perubahan yang diharapkan akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Pemuda adalah generasi pengontrol jalannya pemerintahan. Mereka menyuarakan aspirasi aspirasi yang datang dari rakyat. Turun ke jalan, ataupun dengan menggunakan intelektual mereka. Mereka ramai ramai menuntut keadilan, menagih janji janji manis semasa kampanye, menunggu pertanggung jawaban, dan yang paling sering adalah meneriakkan harapan akan pemberantasan korupsi, korupsi, dan korupsi. Mereka dengan semangatnya yang berkobar, tiada hentinya meminta koruptor dihukum mati, dihukum

Fianti Femmilia Darmawan 2412100081

gantung, meminta para koruptor mengembalikan uang rakyat yang digelapkannya. Namun lagi lagi sangat disayangkan, kebanyakan pemuda tidak berfikir tentang tindakannya sebagai pemuda yang katanya intelek. Sangat disayangkan, kebanyakan pemuda berteriak membenci koruptor sementara dirinya sendiri sedang belajar menjadi koruptor dengan cara mencontek. Mari kita telusuri. Di setiap sekolah, saat sedang ujian pasti ada saja pelajar yang mencontek. Mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi selalu saja ada, baik itu sekolah yang ada di pedalaman maupun sekolah yang ada di kota. Hanya segelintir saja yang mempunyai integritas dan kejujuran yang tinggi. Bahkan di perguruan tinggi ternama pun, mencontek sudahlah menjadi hal yang biasa. Di jaman sekarang ini, mencontek sudah menjadi budaya yang sangat mengakar. Tanpa diajari pun hampir semua orang pernah melakukannya tanpa rasa bersalah. Lalu akan jadi apakah generasi muda ini di saat tua kelak jika sekarang menyontek sudah merupakan hal yang lumrah bahkan membudaya. Tentu saja nanti tidak jauh dari korupsi dan semacamnya. Maka siapakah yang salah? Atau apa sebenarnya yang salah? Itu adalah pertanyaan tersulit yang jika dijawab tidak akan ada ujungnya. Banyak yang harus dibenahi dari bangsa ini. Pemerintahannya, mindset penduduknya, sistem pendidikannya, mindset para pemuda yang harus dijernihkan lagi. Banyak sekali. Semoga para pelajar di Indonesia segera sadar akan esensi sekolah dan pendidikan yang sebenarnya, dan cita cita bangsa yang sangat mulia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai, tidak hanya cerdas otaknnya, tapi juga imannya.