Anda di halaman 1dari 15

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN DISCOVERY TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PADA SISWA SMKN 6 BANDUNG

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Metode Penelitian Dosen : Drs. H. Bambang Trisno, MSie

Oleh : Astri Afmi Wulandari (1005269)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pendidikan sangat berperan penting dalam memajukan suatu kehidupan manusia, dengan program pendidikan yang bermutu manusia yang cerdas serta professional dan mandiri dapat dicetak. Setiap pendidikan pasti mempunyai suatu tujuan yakni menyiapkan generasi yang mampu memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan konsep yang dicanangkan oleh UNESCO tentang empat pilar pendidikan yaitu sebagai berikut: a. learning to know, kemampuan peserta didik untuk menggali informasi yang ada disekitarnya b. lerning to be, peserta didik mampu mengenali diri sendiri serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar c. learning to do, sebuah tindakan atau aksi, dan untuk memunculkan ide yang berkaitan dengan sainstek d. learning to life together, memuat tentang kehidupan di dunia nyata dan hidup dalam masyarakat yang saling bergantung antara satu dengan yang lain. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran,

diantaranya: a. ceramah; b. demonstrasi; c. diskusi; d. simulasi; e. laboratorium; f. pengalaman lapangan; g. brainstorming; h. debat, i. simposium,

Menurut Nana Sudjana metode pembelajaran adalah, Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Sedangkan M. Sobri Sutikno menyatakan, Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan. Berdasarkan definisi / pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan. Benny A. Pribadi menyatakan, tujuan proses pembelajaran adalah agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan sistemik. Banyak metode yang digunakan seorang guru dalam pembelajaran passing bawah bolavoli, antara lain dengan menggunakan metode pembelajaran inovatif dan konvensional. Motivasi belajar merupakan kebutuhan dalam belajar yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan belajar dan memberikan arah kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Motivasi belajar ada yang berasal dari diri sendiri yang biasa disebut motivasi intrinsik, ada juga yang berasal dari luar diri yang mana munculnya dibutuhkan rangsangan dari luar yang biasa disebut dengan motivasi ekstrinsik. Dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi. Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. 1. Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri

tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. 2. Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari

luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi

pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. Dalam setiap proses belajar mengajar seorang guru harus mampu meningkatkat motivasi belajar siswa. Motivasi belajar sedikit banyak dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Oleh karena itu guru harus dapat memilih dengan tepat metode pembelajaran yang diterapkan agar motivasi belajar siswa menjadi meningkat. Dalam penelitian ini peneliti akan menerapkan metode pembelajaran discovery sebagai peningkat motivasi belajar siswa lebih khusus siswa SMK yang akan diteliti. Pengertian metode discovery menurut Suryosubroto adalah proses mental dimana siswa mengesimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya: mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Metode Pembelajaran discovery akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju hal itu disebabkan karena metode discovery ini: a. Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif, b. Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa, c. Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain, d. Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri, e. dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan probela yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat. 2. Identifikasi Masalah Berdasarkan paparan di atas maka permasalahan yang timbul adalah model pembelajaran yang digunakan di SMK belum terlalu memotivasi siswanya untuk

belajar sehingga perlu dicoba metode pembelajaran discovery untuk meningkatkan motivasi siswa. 3. Rumusan masalah a. hubungan antara metode pembelajaran yang diterapkan dengan motivasi belajar siswa SMKN 6 Bandung b. seberapa besar pengaruh metode pembelajaran discovery jika di ajarkan pada siswa SMKN 6 Bandung 4. TujuanPenelitian a. Mengetahui hubungan antara metode pembelajaran yang diterapkan dengan motivasi belajar siswa SMKN 6 Bandung b. Mengetahui seberapa besar pengaruh metode pembelajaran discovery jika di ajarkan pada siswa SMKN 6 Bandung 5. ManfaatPenelitian Penulis mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi: a. Guru Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan siswa SMK. b. Siswa Meningkatkan motivasi dalam belajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai. c. Sekolah Memberikan masukan pada sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan di sekolah tersebut. 6. Sistematika Penulisan Penulisan hasil penelitian penerapan model pembelajaran ini akan dijabarkan dalam sistematika sebagai berikut. Bab I Pendahuluan. Dalam bab ini memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan pustaka. Dalam bab ini, peneliti menjabarkan konsep-konsep yang digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam penulisan hasil

penelitian dan menjadikannya sebagai kerangka berpikir. Peneliti menggunakan berbagai sumber dan hasil browsing untuk menguraikan konsep-konsep dalam penelitian ini.

Bab

III metodologi penelitian. Bab ini terbagi ke dalam pendekatan, metode

dan teknik penelitian, lokasi dan subjek penelitian, prosedur penelitian, validitas data dan analisis data.

Bab IV hasil penelitian. Bab ini merupakan pembahasan masalah dan analisis data berdasarkan hasil penelitian di SMKN 6 Bandung yang telah dilakukan peneliti.

Bab V kesimpulan. Dalam bab ini disajikan jawaban dari rumusan masalah yang diangkat setelah melalui penelitian dan pengolahan data.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Bab II Tinjauan Pustaka

Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research, penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja. Suryosubroto mengutip pendapat Sund bahwa discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan menurut Suryosubroto adalah: a. Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realities untuk mengajar dengan penemuan, b. Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajarai, c. Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan, d. Berkomunikasi dengan siswa akan membantu menjelaskan peranan penemuan, e. menyiapkan suatu situasi yang mengandung masalah yang minta dipecahkan, f. Mengecek pengertian siswa tentang maslah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan, g. Menambah berbagai alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan, h. memberi kesempatan kepada siswa untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai data harga bahan-bahan pokok dan jumlah orang yang membutuhkan bahan-bahan pokok tersebut, i. Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri, sehingga memperoleh tilikan umum,

j. Memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri, k. memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya dan diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya, l. Memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses, m. Mengajarkan ketrampilan untuk belajar dengan penemuan yang diidentifikasi oleh kebutuhan siswa, misalnya latihan penyelidikan, n. Merangsang interaksi siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul, o. Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat yang sederhana, p. Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandanganan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar, q. Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alas an dan fakta, r. Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri, s. membantu siswa menulis atau merumuskan prinsip, aturan ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan, t. Mengecek apakah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi berikutnya, yaitu situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya. Sedangkan langkah-langkah menurut Richard Scuhman yang dikutip oleh Suryosubroto adalah : a. identifikasi kebutuhan siswa, b. Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari, c. Seleksi bahan, dan problema serta tugas-tugas, d. Membantu memperjelas problema yang akan dipelajari dan peranan masing-masing siswa, e. Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan,

f. Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas siswa, g. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan, h. Membantu siswa dengan informasi, data, jika diperlukan oleh siswa, i. memimpin analisis sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan

mengidentifikasi proses, j. Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa, k. memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan, l. Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil

penemuannya. Metode discovery memiliki kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan oleh Suryosubroto yaitu: a. Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu, b. Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer, c. Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan, d. metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri, e. metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus, f. Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat

memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan, g. Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi sebagai sesama dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya,

h. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisssisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

BAB III METODE PENELITIAN

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mencoba mengungkap dampak dari suatu perlakuan yang tidak dibarengi dengan pengontrolan maupun manipulasi ubahan yang mengganggu kemurnian hubungan sebabakibat dari ubahan-ubahan yang diteliti.

2. Objek Penelitian siswa kelas X di SMKN 6 Bandung

3. Lokasi Penelitian SMKN 6 Bandung

4. Prosedur Pengumpulan Data a. Wawancara Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa b. Angket Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan respon kooperatif c. Observasi Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berpikir siswa yang terdiri dari beberapa deskriptor yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh 3 orang observer. d. Test Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan. Test tersebut berbentuk multiple choise agar banyak materi tercakup e. Catatan lapangan atau tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran

Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian sehingga diharapkan semua data yang tidak termasuk dalam observasi dapat dikumpulkan pada penelitian ini.

5. Analisis Data Dalam analisis data hasil belajar pada aspek kognetif dari hasil test dianalisis dengan teknik analisis evaluasi untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa. Caranya adalah dengan menganalisis hasil test formatif dengan menggunakan criteria ketuntasan belajar. Secam Aswirara individu, siswa dianggap telah belajar tuntas apabila daya serapnya mencapai 65 %, Secara kelompok dainggap tuntas jika telah belajar apabila mencapai 85 % dari jumlah siswa yang mencapai daya serap minimal 65 % (Dedikbud 2000 dalam Aswirda 2007)

6. tahapan penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus . Setiap siklus tediri dari perencanaan, tindakan, penerapan tindakan, observasi, refleksi. Siklus I a. Perencanaan Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Kegiatan pada tahap ini adalah : 1) Penyusunan RPP dengan model pembelajaran yang direncanakan yaitu model pembelajaran discovery. 2) Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai 3) Membuat soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pemebelajaran siswa. 4) Membentuk kelompok yang bersifat heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis kelamin,maupun etnis. 5) Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang akan dilaksanakan b. Pelaksanaan Tindakan Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa

dibimbing untuk belajar sesuai dengan metode pembelajaran discovery. Adapun langkah langkah yang dilakukan disesuaikan dengan scenario pembelajaran. Kegiatan penutup Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. c. Observasi Pengamatan dilakukan selama proses proses pembelajaran berlangsung dan hendaknya pengamat melakukan kolaborasi dalam pelaksanaannya. d. Refleksi Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah diperoleh. Hasil analisis data yang telah ada dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai. Refleksi daimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah atau belum terjadi, apa yang dihasilkan,kenapa hal itu terjadi dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya unttuk menghasilkan perbaikan pada siklus II

Siklus II Kegiatan pada siklus dua pada dasarnya sama dengan pada siklus I hanya saja

perencanaan kegiatan mendasarkan pada hasil refleksi pada siklus I sehingga lebih mengarah pada perbaikan pada pelaksanaan siklus I.

mulai

Perencanaan

Pelaksanaan Tindakan
Tidak tercapai

Observasi

Refleksi

tercapai

selesai

Daftar Pustaka

Tietiek Sumiarti. (2011). Penelitian Tindakan Kelas.[Online]. Tersedia: http://www.sarjanaku.com/2011/07/contoh-proposal-ptk-penelitian-tindakan.html [01 Maret 2013 Irman. (2012). Karya Siswa SMK dan Pendidikan Berkarakter. [Online]. Tersedia: http://jabartoday.com/opini/2012/09/30/1152/6403/karya-siswa-smk-dan-pendidikan-karakter [01 Maret 2013] Joko, M. (2011). Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa. [Online]. Tersedia: http://smkmuh3wates.com/article/40811/peran-guru-dalam-membangkitkanmotivasi-belajar-siswa.html [01 Maret 2013] Murdiansyah Daud. (2012). Model Metode Strategi dan Teknik Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://smkn2tbalai.wordpress.com/2012/08/04/model-metode-strategi-pendekatandan-teknik-pembelajaran/ [ 01 Maret 2013] Hikmah N. (2011). Pengertian Definisi Metode pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertian-definisi-metode-pembelajaran.html [01 Maret 2013]