Anda di halaman 1dari 19

MOLA HIDATIDOSA (HAMIL ANGGUR)

Disusun oleh : Yeni Dwi Lestari Yeni Puspitasari Yenri Noor Vitasari Agam Suwaskito Anggraeni Wahyuningtyas Arum Tirta Ratnasari Danan Setianta Dani Dewi Ichtiarini Kelas 2C ( 2220111975/ 09 ) ( 2220111976/ 10 ) ( 2220111977/ 11 ) ( 2220111978/ 12 ) ( 2220111979/ 13 ) ( 2220111980/ 14 ) ( 2220111981/ 15 ) ( 2220111982/ 16 )

Pengertian
Menurut beberapa ahli pengertian mola hidatidosa adalah sebagai berikut : Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. (Mochtar, Rustam, dkk, 1998 : 23). Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339). Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104).

Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik. (Mansjoer, Arif, dkk, 2001 : 265). Mola hidatidosa adalah kelainan villi chorialis yang terdiri dari berbagai tingkat proliferasi tropoblast dan edema stroma villi. (Jack A. Pritchard, dkk, 1991 : 514). Mola hidatidosa adalah pembengkakan kistik, hidropik, daripada villi choriales, sdisertai proliperasi hiperplastik dan anaplastik epitel chorion. Tidak terbentuk fetus ( Soekojo, Saleh, 1973 : 325). Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton, C. Mary, 1995 : 104).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas yang dimaksud dengan mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh villi kariolisnya mengalami perubahan hidrofobik yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematous. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat, membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG).

Etiologi
Penyebab mola hidatidosa belum diketahui secara pasti, namun factor penyebabnya adalah 1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati tetapi terlambat dikeluarkan. 2. Imunoselektif dari tropoblast 3. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah 4. Kekurangan protein dan asam folat, infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas 5. Kekurangan gizi pada ibu hamil. 6. Kelainan rahim. 7. Wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau diatas 40 tahun.

Patofisiologi
Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas : Teori missed abortion Mudah mati pada kehamilan 3-5 minggu karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan mesenkim dari villi dan akhirnya terbentuk gelembung gelembung. TeoriNeoplasmadaripark Sel- sel trofoblas adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan kedalam villi sehingga timbul gelembung. Studi dari Hertig Mola Hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tidak adanya embrio komplit pada minggu ketiga dan kelima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblas berpoliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.

Klasifikasi
Klasifikasi mola hidatidosa berdasarkan ada atau tidaknya janin yaitu : 1. Mola Hidatidosa Komplit (Klasik) a) Villi korion berubah menjadi massa vesikel dengan ukuran bervariasi dari sulit terlihat sehingga diameter beberapa centimeter. Histologinya memiliki karakteristik yaitu : b) Tidak ada pembuluh pada vili yang membengkak c) Prolifersi dari epitel trofoblas dengan bermacam-macam ukuran d) Tidak adanya janin atau amnion 2. Mola Hidatidosa Inkomplit (Parsial) Masih tampak gelembung yang disertai janin atau bagian dari janin. Umumnya janin masih hidup dalam bulan pertama. Tetapi ada juga yang hidup sampai aterm. Pada pemeriksaan histopatologik tampak di beberapa tempat villi yang edema dengan sel trofoblas yang tidak begitu berproliferasi, sedangkan tempat lain masih banyak yang normal.

GambaranKlinik
Amenore dan tanda- tanda kehamilan Perdarahanpervaginamberulang. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. Preeklamsi atau eklamsi yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.

Tanda dan Gejala


Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 16, dimana kita dapat melihat adanya tanda-tanda seperti dibawah ini : Ukuran rahim lebih besar dari kehamilan biasa Pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan Bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam. Adapun gejala dari mola hidatidosa adalah : Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan 10% pasien masuk RS. Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar). Gejala gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit lembab. Gejala gejala preeklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai, peningkatan tekanan darah, proteinuria.

Pemeriksaan Penunjang
1. 2. Pemeriksaan Fisik Mola lengkap (Complete mole) a. Tanda klasik: pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan yang diharapkan, atau dengan kata lain, ukuran (uterus) inkonsisten dengan usia kehamilan. Pembesaran yang tidak diharapkan ini disebabkan oleh pertumbuhan trofoblas yang berlebihan (excessive trophoblastic growth) dan darah yang tertahan (retained blood) b. Preeclampsia (Preeklamsia) Sekitar 27% pasien mola lengkap disertai toksemia, yangditandai dengan: 1) hipertensi (tekanan darah>140/90 mmHg) 2) proteinuria (>300 mg/hari) 3) edema dengan hyperreflexia, kejang (convulsion) jarang terjadi. 4) Kista teka lutein (Theca lutein cysts)

3.

Mola parsial (Partial mole) a. Pembesaran uterus dan preeclampsia dilaporkan terjadi hanya pada 3% pasien. b. Jarang disertai kista teka lutein, hiperemesis, dan hipertiroidisme. c. Kembar (Twinning). d. Kembar dengan mola lengkap dan janin (fetus) dengan plasenta normal telah dilaporkan. Kasus bayi sehat pada keadaan seperti ini telah dilaporkan pula. e. Wanita dengan coexistent molar dan kehamilan (gestation) normal berisiko tinggi untuk berkembang menjadi persistent disease dan metastasis. Tindakan mengakhiri kehamilan (termination of pregnancy) merupakan pilihan yang direkomendasikan. f. Kehamilan dapat dilanjutkan selama status maternal stabil, tanpa perdarahan (hemorrhage), thyrotoxicosis, atau hipertensi berat. Pasien haruslah diberitahu tentang tingginya risiko morbiditas maternal (kematian ibu) ari komplikasi yang mungkin terjadi. g. Diagnosis genetika prental melalui sampel chorionic villus atau amniocentesis direkomendasikan untuk mengevaluasi karyotype janin (fetus).

Pemeriksaan Laboratorium
1. Quantitative beta-HCG 2. Hitung darah lengkap dengan trombosit (complete blood cell count with platelets) 3. Fungsi pembekuan (clotting function) 4. Tes fungsi hati (Liver function test) 5. Blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin 6. Thyroxin 7. Serum inhibin A dan activin A

Tes Diagnostik
Pemeriksaan kadar beta HCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta HCG darah atau urin. Uji sonde : Sonde (penduga rahim) di masukkan pelanpelan dan hati- hati kedalam kanalis servikalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta- Sison). Foto Rontgen abdomen : tidak terlihat tulang- tulang janin ( pada kehamilan 3-4 bulan ). Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janin. Fotothoraks : pada mola ada gambaran emboli udara.

Penatalaksanaan
1. 2. Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan Perdarahan tidak teratur atau spotting, pembesaran abnormal uterus, pelunakan serviks dan korpus uteri. Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin. Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus) Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun.

3. 4. 5.

Pengelolaan
Pengelolaan MolaHidatidosa sebaiknya dilakukan di rumah sakit, adapun langkahlangkah pengelolaannya adalah : 1. Pengelolaan syok bila terjadi syok 2. Transfuse darah bila kadar Hb < 8 gr% 3. Kuretase sebaiknya dengan vacuum kuretase, kemudian dilanjutkan dengan sendok kuret yang tumpul setelah terjadi pengecilan uterus dan harus dilindungi dengan oksitosin 10 IU dalam 500 ml Dextrose 5% apabila sondase uterus >12 cm 4. Pasca kuretase diberikan ergometrin tablet 3x1 tablet/hari. 5. Pengamatan lanjut dilakukan untuk kemungkinan keganasan Mola Hidatidosa, selama 1-2 tahun dengan jadwal sebagai berikut :
1x1 minggu pertama selama 1 bulan (4x). 1x2 minggu selama 2 bulan (4x). 1x1 bulan selama 4 bulan (4x). 1x3 bulan selama 1 tahun (4x) sampai 2x periksa berturut-turut negative.

6.

Untuk tidak mengkacaukan pengamatan, pasien dianjurkan menggunakan kontrasepsi kondom dan tidak hamil selama pengawasan.

Komplikasi
1. 2. Perforasi uterus saat melakukan tindakan kuretase ( suction curettage ) terkadang terjadi karena uterus luas dan lembek (boggy). Jika terjadi perforasi, harus segera diambil tindakan dengan bantuan laparoskop. Perdarahan (hemorrhage) merupakan komplikasi yang sering terjadi saat pengangkatan (evacuation) mola. Oleh karena itu, oksitosin intravena harus diberikan sebelum evakuasi mola. Methergine dan atau Hemabate juga harus tersedia. Selain itu, darah yang sesuai dan cocok dengan pasien juga harus tersedia. Penyakit trofoblas ganas ( malignant trophoblastic disease) berkembang pada 20% kehamilan mola. Oleh karena itu, quantitative HCG sebaiknya dimonitor terus-menerus selama satu tahun setelah evakuasi ( post evacuation ) mola sampai hasilnya negatif. Pembebasan faktor-faktor pembekuan darah oleh jaringan mola memiliki aktivitas fibrinolisis. Oleh karena itu, semua pasien harus diskrining untuk disseminated intravascular coagulopathy (DIC). Emboli trofoblas dipercaya menyebabkan acute respiratory insufficiency. Faktor risiko terbesar adalah ukuran uterus yang lebih besar dibandingkan usia kehamilan (gestational age) 16 minggu. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian.

3.

4. 5.

Prognosis
Kematian pada Mola Hidatidosa disebabkan oleh perdarahan, infeksi, payah jantung atau tirotoksikosis. Sebagian pasien Mola akan sehat kembali setelah jaringannya dikeluarkan tetapi ada sekelompok perempuan yang kemudian menderita degenerasi keganasan menjadi kario karsinoma. Bila terjadi keganasan maka pengelolaan secara khusus pada divisi Onkologi Ginekologi.

Referensi
Aisah, Siti. 2010. Hamil Anggur ( online ), (http://aizahpessa.blogspot.com/2010/12/makalah-hamil-anggur.html, diunduh tanggal 2 Maret 2013 ) Herbal, Khasanah. 2012. Hamil Anggur Molahidatidosa (online), (http://khasanahherbal.com/penyakit/h-penyakit/hamil-anggur-molahidatidosa-kandungan-kesuburan-2649.html, diunduh tanggal 2 Maret 2013) Iswara, Adefa. 2012. Molahidatidosa (online), (http://adefaiswara.blogspot.com/2012/11/mola-hidatidosa-hamilanggur_5.html, diunduh tanggal 3 Maret 2013) Setyaningrum, Etik. 2013. Molahidatidosa ( online ), (http://midwiferyclass.blogspot.com/2013/01/mola-hidatidosa-hamilanggur.html, diunduh tanggal 2 Maret 2013) Satriyo, Danny. 2012. Molahidatidosa Kehamilan Anggur (online), (http://dannysatriyo.blogspot.com/2012/12/molahidatidosa-kehamilananggur.html, diunduh tanggal 3 Maret 2013)

MATUR NUWUNNN..NGGIH..