Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Konsep diri adalah semua pikiran, kepercayaan dan keyakinan yang diketahui tentang dirinya yg mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (stuart, sundeen 1991). Dimana konsep diri di dalamnya menyangkut gangguan harga diri rendah dan ganggguan isolasi sosial. Menarik diri adalah suatu keadaan pasien yang mengalami ketidak mampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan di sekitarnya secara wajar. Pada pasien dengan perilaku menarik diri sering melakukan kegiatan yang ditujukan untuk mencapai pemuasan diri, dimana pasien melakukan usaha untuk melindungi diri sehingga ia jadi pasif dan berkepribadian kaku, pasien menarik diri juga melakukan pembatasan (isolasi diri), termasuk juga kehidupan emosionalnya, semakin sering pasien menarik diri, semakin banyak kesulitan yang dialami dalam mengembangkan hubungan sosial dan emosional dengan orang lain (Stuart dan Sundeen, 1998). Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga,tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negative terhadap diri sendiri atau kemampuan diri dan adanya perasaan hilang kepercayaan diri,merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat, 1998) Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang adaptif sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya. Respon sosial dan emosional yang maladaptif sering sekali terjadi dalam kehidupan seharihari, khususnya sering dialami pada pasien menarik diri sehingga pendekatan memberikan proses keperawatan yang komprehensif asuhan keperawatan penulis melalui berusaha

yang semaksimal mungkin kepada pasien

dengan masalah keperawatan utama kerusakan interaksi sosial : menarik diri dan harga diri rendah.

Berdasarkan hal hal di atas maka gangguan konsep diri yang di dalamnya termasuk gangguan menarik diri dan harga diri rendah perlu di ulas lebih lanjut lagi

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa definisi dari konsep diri? 2. Bagaimana rentang respon konsep diri? 3. Bagaimana perkembangan konsep diri berdasarkan usia? 4. Apa saja komponen konsep diri? 5. Apa saja penyebab dari gangguan konsep diri? 6. Apa saja faktor predisposisi dari gangguan konsep diri? 7. Apa saja tanda dan gejala dari gangguan konsep diri? 8. Apa saja komplikasi dari gangguan konsep diri? 9. Bagaimana penatalaksanaan dari gangguan konsep diri? 10. Bagaimana asuhan keperawatan pada gangguan konsep diri?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Mengetahui definisi dari konsep diri 2. Mengetahui rentang respon konsep diri 3. Mengetahui perkembangan konsep diri berdasarkan usia 4. Mengetahui komponen konsep diri 5. Mengetahui etiologi dari gangguan konsep diri 6. Mengetahui faktor predisposisi dari gangguan konsep diri 7. Mengetahui tanda dan gejala dari gangguan konsep diri 8. Mengetahui komplikasi dari gangguan konsep diri 9. Mengetahui penatalaksanaan dari gangguan konsep diri 10. Mengetahui asuhan keperawatan pada gangguan konsep diri

BAB II ISI
2.1 Definisi 1. Penilaian subjektif terhadap dirinya, perasaan sadar atau tidak sadar, dan persepsi terhadap fungsi, peran, dan tubuh. (Farida Kusumawati, 2010) 2. Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir tetapi

dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia. (Gail Wiscarz Stuart, 1998) 3. Konsep diri adalah semua ide, pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart dan sundeen 1998: 227) 2.2 Rentang Respon Konsep Diri

(gambar: rentang respon konsep diri) Rentang respon konsep diri dibagi menjadi respon adaptif dan respon maladaptif. a) Respon-respon adaptif meliputi : Aktualisasi diri adalah pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman yang sukses Konsep diri positif individu mempunyai pengalaman yang positif dalam perwujudan dirinya. b) Rentang respon yang berada antara rentang respon adaptif dan maladaptif meliputi : Harga diri rendah adalah keadaan dimana individu mengalami atau beresiko mengalami evaluasi diri negatif tentang kemampuan diri.
3

c) Rentang respon maladaptif meliputi : Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak kedalam kematangan

kepribadian pada remaja yang harmonis. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistik dan merasa asing dengan diri sendiri, yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan dan kegagalan dalam ujian realitas. Individu mengalami kesulitan membedakan diri sendiri dari orang lain dan tubuhnya sendiri terasa tidak nyata dan asing baginya.( Struart, 2007)

2.3 Perkembangan Konsep Diri Berdasarkan Usia Setiap manusia mengalami tumbuh dan berkembang, dimana dalam

perkembangannya manusia akan mengalami perubahan sesuai dengan usianya. Di bawah ini adalah tahap perkembangan konsep diri manusia sesuai dengan tahapan umur manusia. Usia 0-1 tahun Trust Berhubungan dengan lingkungan Usia 1-3 tahun Belajar dan mengontrol bahasa Mulai beraktivitas mandiri dan otonomi Menyukai diri sendiri Menyukai tubuh sendiri Usia 3-6 tahun Berinisiatif Mengenal jenis kelamin Meningkatkan kesadaran diri Meningkatkan kemampuan bahasa Usia 6-12 tahun Berhubungan dengan kelompok sebaya Tumbuh harga diri dengan kemampuan baru yang dimiliki Menyadari kekurangan dan kelebihan Usia 12-20 tahun
4

Menerima perubahan-perubahan tubuh Eksplorasi tujuan dan masa depan Merasa positif pada diri sendiri Memahami hal-hal terkait seksualitas Usia 20-40 tahun Hubungan yang intim dengan pasangan, keluarga, dan orang-orang terpenting Stabil Positif pada diri sendiri Usia 40-60 tahun Dapat menerima kemunduran Mencapai tujuan hidup Menunjukkan proses penuaan Usia 60- tahun ke atas Perasaan positif, menemukan makna hidup Melihat kepada kelanjutan keturunannya (Farida Kusumawati, 2010,Buku Ajar Keperawatan Jiwa)

2.4 Komponen Konsep Diri Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut: a. Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman baru. b. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berprilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu. c. Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik prilaku seseorang sesuai dengan identitas diri, harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetapi merasa sebagai seorang yang penting dan berharga. d. Penampilan peran adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi diberbagai kelompok sosial. Peran

yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang di terima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. e. Identitas personal adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan individu. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang hidupnya, tetapi merupakan tugas utama pada masa remaja. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

2. 5 Etiologi Penyebab dari gangguan konsep diri adalah: 1) Situasional Yaitu terjadi trauma yang tibatiba, misal : harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh, korupsi, kolusi, nepotisme, dipenjara tibatiba). 2) Kronik Yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri telah berlangsung lama sebelum sakit atau dirawat, klien mempunyai cara berfikir negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.

2.6 Faktor Predisposisi a) Faktor yang mempengaruhi harga diri, meliputi penolakan orang tua,harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis. b) Faktor yang mempengaruhi performan peran, adalah steriotif peran gender, tuntutan peran kerja,dan harapan peran budaya. Nilai-nilai budaya yang tidak dapat diikuti oleh individu c) Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi, meliputi ketidak percayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya,dan perubahan struktur sosial.

2.7 Sumber-Sumber Koping Semua orang, betapapun terganggu perilakunya tetap mempunyai beberapa kelebihan personal yang mungkin meliputi:
6

Aktivitas olah raga dan aktivitas lain diluar rumah Hobi dan kerajinan tangan Seni yang ekspresif Kesehatan dan perawatan diri Pekerjaan, vokasi atau posisi Bakat tertentu Kecerdasan Imaginasi dan kreativitas Hubungan interpersonal

2.8 Mekanisme Koping Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka pendek dan jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang menyakitkan. a) Pertahanan jangka pendek termasuk berikut ini: Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis identitas (misal: konser musik, bekerja keras, menonton televisi secara obsesif) 1. Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara (misal: ikut

serta dalam aktivitas sosial, agama, klub politik, kelompok atau geng). 2. Aktivitas yang secara sementara menguatkan perasan diri (misl: olah raga

yang kompetitif, pencapaian akademik, kontes untuk mendapatkan popularitas). 3. Aktivitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat masalah

identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan individu (misal : penyalahgunaan obat).

b) Pertahanan jangka panjang termasuk berikut ini: 1. Penutupan identitas: adopsi identitas prematur yang diingankan oleh orang

yang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi dan potensi diri individu tersebut. 2. Identitas negatif: asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh

nilai dan harapan masyarakat.

c) Mekanisme pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi, disosiasi, projeksi, pergeseran (displacement), peretakan (spilitng), berbalik marah terhadap diri sendiri, dan amuk.

2.9 Tanda dan Gejala Tanda dan gejala dari harga diri rendah pada seseorang berbeda-beda dan bervariasi antara individu satu dengan yang lainnya, tetapi biasanya dimanisfestasikan sebagai berikut : a. Perasaan malu terhadap diri sendiri,akibat penyakit /tindakan mis : malu karena botak akibat kemoterapi. b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri, menyalahkan, mengkritik,mengejek diri sendiri. c. Merendahkan martabat: saya tidak bisa, saya bodoh, saya tidak tahu apa-apa, saya tidak mampu. d. Gangguan hubungan sosial e. Percaya diri kurang, sukar mengambil keputusan f. Mencederai diri g. Mudah marah, mudah tersinggung h. Apatis, bosan,jenuh dan putus asa i. Kegagalan menjalankan peran, Proyeksi (menyalahkan orang lain)

2.10 Komplikasi 1) Isolasi sosial: menarik diri. 2) Timbulnya masalah persepsi sensori halusinasi dengar, lihat, raba, cium dan lainlain. 2.11 Penatalaksanaan Terapi Spesialis: 1. Terapi individu : Terapi Penghentian Pikiran (Thought Stopping) 2. Terapi Kelompok : Terapi Suportif 3. Terapi Keluarga : Terapi Family Psiko Edukasi 4. Terapi Komunitas : Terapi AC

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

Dalam melakukan asuhan keperawatan pada gangguan konsep diri meliputi beberapa kegiatan, diantaranya adalah: 3.1 Pengkajian Didalam kegiatan pengkajian ini, beberapa komponen yang dikaji yaitu: a) Faktor yang mempengaruhi gangguan konsep diri. Faktor ini meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal,

ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis. b) Stresor Pencetus 1) Adanya trauma Trauma aniaya seksual, psikologis, dan menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan. 2) Ketegangan peran Berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan, dimana individu mengalami fluktuasi. c) Manifestasi klinis Gejala gejala yang muncul akibat dari gangguan konsep diri yaitu : Mengkritik diri sendiri, perasaan malu terhadap diri sendiri, perasaan bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, kurang percaya diri. d) Pohon Masalah

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah Gangguan citra tubuh

(Kelliat 1998)

Masalah Keperawatan 1) Isolasi sosial: Menarik diri. 2) Gangguan konsep diri: Harga diri rendah. 3) Gangguan citra tubuh 3.2 Diagnosa Keperawatan a) Gangguan konsep diri : Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. b) Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh.

3.3 Intervensi Keperawatan 1) Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Tujuan umum: Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tujuan Khusus/TUK: TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya Kriteria Evaluasi: a) Klien dapat memperkenalkan dirinya b) Klien dapat mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita c) Klien mau menjawab salam d) Klien menunjukan ekspresi bersahabat Tindakan keperawatan: a) Bina hubungan saling percaya Salam terapeutik Jelaskan tujuan interkasi Buat kontrak yang jelas

b) Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dengan penyakit yang diderita c) Sediakan waktu untuk mendengarkan klien d) Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri. TUK 2 : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Kriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya
10

Tindakan keperawatan: a) Diskusikan kemampuan dan sapek positif yang dimiliki klien b) Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif c) Utamakan memberikan pujian yang realistik. TUK 3: Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan Kriteria Evaluasi: klien dapat menyabutkan kemampuan yang masih dapat digunakan Tindakan Keperawatan: a) Diskusikan kemampuan yang dapat digunakan selama sakit b) Diskusikan pula kemampuan yang dapat dianjurkan penggunaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit klien TUK 4: Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yamg dimiliki. Kriteria Evaluasi: klien dapat menetapkan keinginan atau tujuan yang realistis. Tidakan Keperawatan: a) Rencana bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan b) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien c) Beri contoh pekasanaan kegiatan yang boleh klien lakukan TUK 5: Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yang dimiliki Kriteria Evaluasi: klien melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Tindakan keperawatan: a) Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan b) Beri pujian atas keberhasilan klien c) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah TUK 6: Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada Kriteria Evaluasi: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga Tindakan keperawatan:

11

a) Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah b) Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat c) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah TUK 7: Klien dapat mengguanakan obat dengan 6 benar Kriteria Evaluasi: klien dapat mengguankan obat dengan prinsip 6 benar Tindakan keperawatan: a) Beri pengetahuan tentang obat, dosis dan manfaat obat dengan benar b) Anjurkan klien meminta obat sendiri pada perawat

2). Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh Tujuan umum: klien dapat menunjukan peningkatan harga diri Tujuan Khusus/TUK: TUK 1: Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya Kriteria Evaluasi: klien dapat meningkatkan keterbukaan dan saling percaya dengan perawat Tindakan keperawatan: a) Bina hubungan saling percaya Salam terapeutik Komunikasi terbuka, jujur dan empati Sediakan waktu untuk mendengarkan klien Berikan kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan terhadap perubahan itu TUK 2: Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi Tindakan keperawatan: a) Diskusikan perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh b) Observasi ekspresi klien pada saat diskusi TUK 3: Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Kriteria Evaluasi: klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan keperawatan:

12

a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki oleh klien dari luar perubahan yang terjadi b) Beri pujian atas aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki klien TUK 4: Klien dapat menerima realita perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi Tindakan keperawatan: a) Dorong klien untuk dan berperan serta dalam asuhan keperawatan secara bertahap b) Libatkan klien dalam kelompok dengan masalah gangguan citra tubuh c) Tingkatkan dukungan keluarga pada klien terutama pasangan TUK 5: Klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang harus dihadapi. Kriteria evaluasi: klien dapat memilih beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi Tindakan keperawatan: a) Diskusikan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan struktur atau fungsi tubuh. b) Dorong klien memilih cara yang sesuai bagi klien c) Bantu klien melakukan cara yang dipilih TUK 6: Klien dapat melakukan tindakan pengambilan integritas tubuh Kriteria evaluasi: Klien adaptasi dengan cara yang dipilih dan digunakan Tindakan keperawatan: a) Bantu klien mengurangi perubahan citra tubuh, misalnya protes untuk bagian tubuh yang tertentu b) Rehabilitasi bertahap bagi klien.

3.3 Penatalaksanaan Medis Harga diri rendah termasuk dalam kelompok penyakit skizoprenia tidak tergolongkan, maka jenis penatalaksanaan yang bisa dilakukan adalah: 1) Psikofarmakol Adalah terapi dengan menggunakan obat, tujuannya untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa, obat yang biasa digunakan di RS jiwa antara lain.
13

a) Anti Psikosis Cloropromazin ( Thorazime) dosis 25-2000 mg/hari Haloperidol (hal dol) dosis 2-40 mg/hr indikasi digunakan untuk pengobatan psikosa, mengobati masalah perilaku yang berat pada anak-anak yang berhubungan dengan keadaan yang tiba-tiba meledak, mengontrol mual dan muntah yang berat dan kecemasan berat. Kontra indikasi Efek samping : hiperaktif, galaukoma, hamil dan menyesui : anemia, mulut kering, mual dan muntah, konstipasi, diare, hipotensi, aritmia cordis, takikardi, eksrapiramidal, penglihatan berkabut. b) Anti Parkinson Trihexypenidril (artane) dosis 5-15 mg/hr indikasi berbagai bentuk parkinsonisme. Kontra indikasi asma, Efek samping : galukoma, takikardi, hipertensi, penyakit jantung, ulserasi, duodenum. : sakit kepala, lemas, cemas, psikosis, depresi,

halusinasi, ortostatik, foto sensitivitas, penglihatan berkabut, mual muntah, konstipasi, frekuensi/retansi urin. 2) Pengobatan Somatik a) Elektro Convulsif Therapi (ECT) Merupakan pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal yang

menghasilkan efek therapi dengan menggunakan arus listrik berkekuatan 75-100 volt. Cara kerja belum diketahui secara jelas namun dapat dikatakan bahwa therapi convulsif dapat memperpendek lamanya skizofrenia dan dapat mempermudah kontak dengan orang lain, indikasi ECT yaitu depresi berat dan bila therapi obat-obatan belum berhasil (gangguan berpolar), klien yang sangat mania, hiperaktif, klien resiko tinggi bunuh diri, psikosis akut, skozoprenia. b) Pengkajian Fisik Terdiri dari pengekangan mekanik dan isolasi Pengekangan mekanik dilakukan dengan menggunakan manset untuk pergelangan tangan dan kaki serta seprei pengekang. Isolasi yaitu menempatkan klien dalam suatu ruangan tertentu di Rumah sakit.
14

Indikasi: Pengendalian prilaku amuk yang membahayakan diri dan orang lain Kontra indikasi: resiko tinggi bunuh diri, hukuman. 3) Psikoterapi Psikoterapi membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi yaitu memberikan rasa aman dan tenang. Menerima klien apa adanya, motivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah sopan dan jujur pada klien. 4) Terapy Modalitas Therapi Okupasi: Therapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisifasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau juga yang segala dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri.

3.4 Evaluasi a) Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah 1) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat 2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 3) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan 4) Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yang dimiliki 5) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit yang dimiliki 6) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada 7) Klien dapat menggunakan kegiatan sesuai kondisi sakit yang dimiliki b) Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh 1) Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya 2) Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh 3) Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 4) Klien dapat menerima realita perubahan struktur, bentuk fungsi tubuh 5) Klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang harus dihadapi 6) Klien dapat melakukan tindakan pengembalian integritas tubuh

15

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri memiliki rentang respon adaptif dan maladaptif yaitu respon-respon adaptif meliputi aktualisasi diri dan konsep diri positif; rentang respon yang berada antara rentang respon adaptif dan maladaptif yaitu harga diri rendah; rentang respon maladaptif meliputi kekacauan identitas dan depersonalisasi. Konsep diri terdiri atas komponenkomponen yaitu: Citra tubuh, Ideal diri, Harga diri, Penampilan peran, Identitas personal. 4.2 Saran Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca mengerti tentang konsep diri dalam bidang kejiwaan dan dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien yang mengalami gangguan konsep diri.

16

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI, (1994), Pedoman Perawatan Psikiatri Intervensi Keperawatan,Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Kelliat, Budi Anna, (1998), Proses Keperawatan Klien Gangguan Jiwa, Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Maramis, W.F, (1998), Catatan Ilmu Keperawatan Jiwa, Surabaya, Airlangga Universitas Press. Rusdi Muslim, Dr, (2001), Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Tujuan Ringkas , PPDGJ III, Jakarta. Stuart, Gail Wiscart and Sundeen Sandra, (1998), Buku Saku Keperawatan Jiwa, (edisi 3), EGC, Jakarta. Towesend Mary, (1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

17