Anda di halaman 1dari 8

Bagaimana cara memulai investasi

Menurut Robert T Kiyosaki dalam bukunya Conspiracy of The Rich, derivatif adalah "senjata kehancuran massal" dan salah satu alasan kita berada dalam krisis keuangan. Saran saya, jangan memasuki sebuah jenis investasi yang rumit dan kompleks untuk dipahami. Sebab, semakin rumit investasi maka makin mudah akan kehilangan uang di sana. Kembali ke persoalan Anda, Kiyosaki menegaskan, "Ingat, salah satu tujuan industri keuangan adalah membuat orang bingung." Jadi, sebaiknya hindari investasi yang tidak Anda pahami.

"Pay Yourself First Concept" Apakah selama ini Anda tidak mampu menabung dan berinvestasi demi masa depan yang cemerlang dan mandiri? Apakah gaji ternyata tak bersisa (tidak cukup) untuk memampukan Anda memiliki tabungan atau investasi? Bila jawabannya "ya", berarti Anda menjalankan konsep keuangan yang kuno dan keliru. Tidak perlu bersedih karena Anda tidak sendiri. Mungkin selama ini konsep menabung Anda adalah di akhir bulan. Ketika ada uang sisa dari belanja kebutuhan diri dan bulanan baru Anda menabung. Namun, bila ternyata di akhir bulan uang tidak bersisa, malah defisit, maka Anda pun melewatkan menabung di bulan itu. Cara tersebut tidak akan membuat kaya. Sekarang cobalah untuk mulai menggunakan konsep baru, pay yourself first at 20 percent. Maksudnya adalah menyisihkan terlebih dahulu bagi masa depan di muka sebesar 20 persen sebelum membelanjakan untuk kebutuhan lain dan keperluan biaya bulanan. Konsep baru: Income (pendapatan) - Saving (masa depan) = Expenses (kebutuhan hari ini) Mengapa 20 persen? Selama ini banyak yang menganjurkan bahwa cukup menabung atau menyisihkan sebesar 10 persen saja. Namun, menurut saya angka ini sangat tidak memadai. Angka ini berasal dari standar luar negeri yang angka inflasi mereka berkisar antara 3-5 persen per tahun. Dengan demikian, menabung atau berinvestasi sebesar 10 persen atau sama dengan 2 kali angka investasi, jadi sudah dianggap memadai. Sedangkan angka inflasi di Indonesia, sebesar 8-10 persen (padahal inflasi riil di pasar bisa saja lebih dari itu) sehingga saya anjurkan untuk memakai angka 20 persen untuk mengamankan dan memastikan masa depan Anda sendiri. Mulailah dari 1 persen Bila Anda sulit untuk menyisihkan langsung pada angka 20 persen maka mulailah menyisihkan dari angka 1 atau 2 persen pada bulan pertama, dan kemudian tambahkan angka yang sama pada bulan berikut dan seterusnya. Sehingga pada bulan ke-10 sampai ke-20 angka tersebut sudah tercapai.

Kalahkan diri Anda Bila mampu mendisiplinkan diri dan mengalahkan keinginan-keinginan yang kurang produktif untuk melakukan konsep ini maka Anda akan sangat mudah mencapai berbagai tujuan-tujuan keuangan di masa depan. Memang sangat sulit dan mungkin paling sulit untuk mengalahkan diri sendiri. Namun percayalah, bila mampu mengalahkan diri sendiri maka dunia akan mudah Anda taklukkan.

Bagaimana cara mengenali produk investasi sesuai resikonya


Jika Anda sudah lebih mahir mengelola keuangan , maka tahapan lanjutan yang sebaiknya dilakukan adalah berinvestasi. Anda tentu ingin menyiapkan dana untuk masa depan anak dan keluarga bukan? Namun, kadang sulit mengejar tingginya harga barang dan jasa yang terkena imbas inflasi yang meningkat setiap tahun. Ahmad Gozali, perencana keuangan, menjelaskan, investasi merupakan kebutuhan masa depan dengan jumlah yang besar di kemudian hari. Pastikan Anda sudah lebih dahulu memiliki tabungan agar investasi bisa berjalan optimal.

"Sebaiknya jangan menggunakan dana investasi untuk kebutuhan sehari-hari. Karenanya, pastikan Anda sudah lebih dahulu menabung sebagai dana cadangan. Untuk karyawan, sebaiknya menabung 3-6 kali dari pengeluaran bulanan. Sedangkan untuk pengusaha sebanyak 6-12 kali dari pengeluaran bulanan. Untuk pegawai negeri sipil, masih aman menabung 1-2 kali dari pengeluaran bulanan karena risiko berhenti kerja atau PHK sangat kecil. Dana ini digunakan untuk membiayai hidup selama 3-4 bulan tanpa penghasilan (PHK atau berhenti bekerja)," jelas Gozali dalam workshop keuangan bertema "Salary vs Selera", yang diadakan oleh EXPERD di Barcode Kemang Jakarta, Sabtu (24/7/2010).

Tujuan investasi harus jelas, tegas Gozali. Penting untuk mengenali ragam jenis investasi dari urutan risiko terendah hingga tertinggi. Gozali menyebutkan jenis investasi yang disebutnya sebagai tangga investasi:

Dana cadangan Dana cadangan lebih kepada tabungan. Pastikan Anda sudah menyiapkan dana ini sebelum

memilih tiga jenis investasi berdasarkan tingkat risiko. Produk dana cadangan bisa berupa tabungan, deposito, atau emas. Jumlahnya mulai dari tiga kali dari jumlah pengeluaran rutin setiap bulan.

"Jumlah pengeluaran biasanya selalu lebih tinggi dari pendapatan. Karenanya, perlu disiapkan dana cadangan dengan menghitungnya dari biaya pengeluaran, bukan penghasilan," jelas Gozali.

Investasi risiko rendah Investasi ini termasuk kategori jangka pendek. Produknya, tabungan berjangka, valas, emas, sukuk atau obligasi syariah, pasar uang, asuransi investasi, ORI, reksa dana, atau unit link.

Investasi risiko menengah Valas, properti, reksa dana, atau unit link bisa menjadi pilihan investasi kategori risiko menengah.

Investasi risiko tinggi Bursa saham termasuk instrumen investasi yang berisiko paling tinggi, selain valas atau indeks. Reksa dana atau unit link berbentuk saham juga sangat berisiko tinggi.

Dengan mengenali investasi berdasarkan risiko, Anda bisa lebih bijak memilih investasi. Selain tentu saja terdapat sejumlah faktor yang menentukan sebaiknya Anda berinvestasi di produk apa. Portofolio investasi menjadi faktor pertimbangan lain dalam memilih investasi yang tepat.

Bagaimana cara memilih investasi dengan membaca wajah


Pilihan investasi yang makin bervariasi mungkin membuat Anda sulit menentukan pilihan. Selain faktor kemampuan dan kebutuhan, ada faktor lain yang bisa membantu Anda menentukan pilihan investasi, yakni dengan membaca wajah. Erwin Yap, Educator & Consultant Fengshui, Bazi, face reading, dan Numerology berbagi keahliannya. Pilihan investasi bisa ditentukan dengan bantuan metafisika Cina, katanya dalam workshop investasi beberapa waktu lalu.

Caranya dengan mengukur jarak antara alis dengan mata. Letakkan ruas jari telunjuk Anda di area antara alis dengan mata. Jika jarak di antaranya sebesar satu ruas jari atau melebihi satu ruas jari, maka investasi yang tepat untuk Anda adalah berhubungan dengan elemen tanah, yakni properti. "Usaha atau investasi yang berhubungan dengan elemen tanah, tak hanya dilihat dari materinya saja (tanah), namun juga investasi atau bisnis lain yang termasuk dalam elemen tanah," papar Erwin, yang juga penulis buku Face Reading: Teknik Membaca Wajah. Tanah, kata Erwin, merupakan elemen yang paling stabil. Tanah cenderung diam (stabil) namun selalu berproduksi. Bentuk investasi dalam elemen tanah, selain properti adalah asuransi. Jadi, bila jarak mata dan alis kurang dari satu ruas jari, investasi yang tepat adalah dengan menggunakan elemen tanah lainnya, seperti asuransi. Investasi asuransi (elemen tanah) cenderung aman dan stabil, dibandingkan investasi lain seperti saham misalnya. Saham memiliki elemen api yang pergerakannya sangat cepat. Anda bisa melihat dari harga saham yang seringkali naik-turun. Lain lagi dengan reksa dana yang memiliki elemen kayu. Prinsipnya seperti menanam pohon, butuh waktu untuk melihat hasilnya. Menanamkan investasi reksa dana tak bisa terlihat langsung hasilnya dalam dua bulan, kata Erwin, namun butuh waktu tahunan.

Bagaimana cara membuat keputusan financial


Ketika Anda hendak membuat suatu keputusan finansial, misalnya membeli rumah, mobil, atau berinvestasi dalam saham, lazimnya ada pertimbangan yang mendasari. Berapa persen keputusan itu didasari pertimbangan rasional ketimbang pertimbangan emosional? Tatkala Anda hendak membeli rumah, ada pertimbangan lokasi yang dekat dengan kantor atau berdekatan dengan keluarga. Pendeknya, ada berbagai latar dari keputusan tersebut. Tentu saja ada pertimbangan mengenai harga rumah. Pertanyaannya, berapa persen pertimbangan harga dibandingkan dengan pertimbangan lain, yang mendorong Anda untuk membeli rumah?

Namun, coba jujur, pernahkah Anda membeli suatu barang sebenarnya lebih didominasi oleh pertimbangan emosional? Artinya, tidak peduli berapa pun harga rumah tersebut, tetap Anda beli karena Anda menyukainya. Dan boleh jadi, Anda membayar terlalu mahal untuk membeli fungsi dari sebuah barang. Itulah yang disebut dengan keputusan finansial, yang tidak berbasis argumentasi finansial. Nah, agar tidak terjebak dalam pengambilan keputusan seperti itu, ada baiknya direnungkan kembali,

bagaimana baiknya pembuatan keputusan finansial itu dilakukan. Tujuan dan budget Pertama, pastikan dulu tujuan dari keputusan finansial Anda. Membeli rumah misalnya, apa tujuannya? Untuk tempat tinggal yang baru, atau sebagai alat investasi? Apa pun alasannya terserah Anda. Yang mesti dipahami adalah, perbedaan tujuan keuangan tersebut mestinya akan melahirkan keputusan keuangan yang berbeda. Dengan kata lain, keputusan keuangan untuk membeli suatu barang yang bersifat konsumtif akan sangat berbeda dengan keputusan keuangan yang tujuannya produktif. Dan Anda mesti memahami benar konsekuensi dari keputusan tersebut. Kedua, menentukan berapa budget yang disediakan untuk suatu keputusan keuangan. Ini menjadi faktor penting sebab banyak kalangan membeli barang tanpa perencanaan jelas tentang biaya yang dialokasikan. Membeli barang konsumtif menggunakan kartu kredit, misalnya, maka setiap bulan, tagihan Anda akan membengkak. Atau kalau membeli rumah, penyesalan akan datang belakangan karena realitas yang diperoleh berbeda dengan harapan. Atau ketika Anda membeli barang branded, demi ingin menaikkan status sosial. Anda sebenarnya merasa tidak kuat mengeluarkan dana untuk membeli barang dimaksud, tetapi memaksakan diri agar kelihatan hebat . Yang terjadi kemudian adalah penyesalan karena teman-teman Anda juga mampu membeli barang yang sama, atau malah lebih mahal ketimbang barang yang sudah Anda beli. Membeli suatu barang branded dengan maksud meningkatkan gengsi bukanlah keputusan finansial. Itu lebih merupakan keputusan emosional yang hanya menimbulkan masalah di kemudian hari. Purnajual dan dampak Ketiga, aspek purnajual dari barang yang dibeli. Keputusan finansial yang tidak mempertimbangkan aspek purnajual dari suatu barang akan menimbulkan penyesalan. Perilaku finansial yang benar adalah ketika aset yang dimiliki lebih bersifat produktif ketimbang konsumtif. Demikian juga halnya dengan pembelian barang. Jika barang tersebut sudah tidak memiliki nilai produktif, termasuk ketika dijual kembali, barang tersebut tergolong biaya semata. Dengan kata lain, barang apa pun yang dibeli sebaiknya masih memiliki nilai kalau hendak dijual kembali. Hal seperti ini berlaku buat seluruh barang yang Anda beli dan miliki. Jika membeli suatu barang, pertimbangkan barang tersebut bisa dijual kembali pada suatu ketika dengan harga yang memadai. Keempat, dampak keputusan terhadap kondisi keuangan secara menyeluruh. Setiap keputusan finansial pada dasarnya berdampak positif ataupun negatif. Kerap kali kita lupa bahwa suatu keputusan tidak berdiri sendiri. Ketika Anda membeli rumah secara kredit, misalnya, akan berpengaruh terhadap perilaku keuangan Anda dalam mengelola pengeluaran pada masa berikutnya, karena sebagian penghasilan akan dipakai untuk mencicil angsuran kredit.

Pernahkah Anda bayangkan pengaruhnya terhadap rencana pengeluaran Anda yang lain? Artinya, bisa saja Anda mesti menghentikan salah satu pengeluaran Anda agar cash flow tidak defisit. Nah, setiap keputusan keuangan sebaiknya dianalisa pengaruhnya terhadap pengeluaran secara menyeluruh. Argumentasi rasional Kelima, argumentasi rasional harus lebih tinggi dibandingkan dengan alasan emosional. Dalam istilah yang lebih lazim, bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Semua pembelian yang hanya berdasarkan keinginan umumnya adalah berdasarkan emosional. Sementara pembelian yang berbasis kebutuhan juga tidak selalu rasional. Termasuk dalam hal ini adalah pertimbangan harga, aspek purnajual, dan sebagainya. Kendati keputusan finansial Anda sudah diyakini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, belum tentu memenuhi kriteria logis rasional. Oleh karena itu, cek sekali lagi, berapa persen aspek emosional terkandung di dalamnya. Masih banyak faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum membuat keputusan finansial. Untuk memudahkan Anda dalam membuat keputusan, tidak ada salahnya semua alasan dicatat dan dimasukkan dalam daftar pertimbangan. Dengan daftar tersebut, Anda bisa menimbang-nimbang apakah keputusan Anda dapat dipertanggungjawabkan secara logika atau sekadar emosional belaka. Yang jelas, keputusan berdasarkan emosional biasanya akan lebih makan biaya ketimbang keputusan berdasarkan rasional. Pilihan ada di tangan Anda.

Bagaimana cara memilih investasi sesuai usia


Memperbaiki kondisi finansial bisa dimulai dengan menabung, lalu lanjutkan dengan investasi. Jadi, sebaiknya mulai bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Termasuk keinginan berinvestasi dengan melihat portofolio (profil) investasi. Sebaiknya hindari mengambil jalan pintas dengan memilih sembarang investasi. Memilih produk investasi juga membutuhkan perhitungan dengan menganalisis portofolio, yakni usia dan status Anda.

Ahmad Gozali, perencana keuangan, menyatakan, setiap orang memiliki portofolio investasi yang berbeda. Melihat dari kebutuhan, usia, dan statusnya. Apakah Anda lajang tetapi menjadi tulang punggung keluarga, atau lajang yang tidak menanggung kebutuhan orang lain. Apalagi bagi yang sudah menikah, perhitungan cermat sangat diperlukan. "Portofolio investasi sangat tergantung perhitungan setiap individu, tidak pernah bisa berlaku mutlak. Melihat kebutuhan, usia, bahkan jumlah anak yang ditanggungnya," papar Gozali dalam workshop keuangan bertema "Salary vs Selera", yang diadakan oleh EXPERD di Barcode, Kemang, Jakarta, Sabtu (24/7/2010).

Memilih investasi berdasarkan portofolio tak bisa sembarangan. Bahkan, jika perlu, konsultasikan dengan pakar sebelum memutuskan produk investasi yang tepat sesuai kemampuan dan kebutuhan. Sebagai gambaran, Gozali membagi portofolio investasi sebagai berikut: - Usia 20-30 tahun Pada usia produktif ini, investasi risiko rendah dan tinggi masih cukup aman. Komposisinya bisa seimbang (50:50). Produk investasi cukup beragam, mulai dari emas, asuransi investasi, unit link hingga saham. (baca Mengenali Produk Investasi Sesuai Risikonya) - Usia 30 - 40 tahun Pada usia ini, fokus investasi sebaiknya kepada produk dengan risiko menengah. Komposisinya lebih dominan (60-70 persen). Instrumen investasinya bisa berupa properti, reksa dana, dan unit link. Kurangi investasi pada produk berisiko rendah dan hindari investasi berisiko tinggi. - Usia di atas 50 tahun Mendekati masa pensiun, sebaiknya Anda fokus berinvestasi dengan produk berisiko rendah, komposisinya 50 persen. Salah satu produk investasi rendah risiko yaitu ORI. Anda masih aman berinvestasi produk berisiko menengah, tetapi sebaiknya kurangi investasi berisiko tinggi. - Usia pensiun Gozali menyarankan, sebaiknya jual investasi berisiko menengah dan tinggi yang sudah Anda miliki sebelumnya. Boleh saja menyisakannya, tetapi porsinya masing-masing 10 persen saja untuk investasi risiko menengah dan tinggi. Selebihnya, 80 persen sebaiknya berinvestasilah di produk dengan risiko rendah, emas salah satu contohnya.

Bagaimana cara menentukan tujuan awal sebelum berinvestasi


Banyak investor pemula yang merasa terjebak dengan pilihan investasinya, lalu menyalahkan pihak lain karena pilihannya berinvestasi. Menurut perencana keuangan Ligwina Hananto, kekeliruan yang paling umum terjadi adalah calon investor memilih produk, masuk di dalamnya, dan bingung dengan pilihannya. "Harus punya tujuan saat memilih produk investasi," katanya, saat talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli", yang diadakan tabloid Kontan di Menara Batavia, Jakarta, Sabtu (14/8/2010). Menentukan tujuan awal saat berinvestasi sama dengan menyusun perencanaan keuangan (financial planning). Buat perencanaan keuangan bersama pasangan, dengan membagi tugas siapa yang berperan memonitor apakah perencanaan keuangan berjalan dengan baik. Dengan memiliki perencanaan keuangan yang baik, artinya Anda memiliki tujuan yang jelas, termasuk untuk investasi. Jika pilihan investasi Anda adalah reksadana, financial planning yang tegas dan jelas di awal akan sangat membantu. Reksadana sifatnya likuid. Anda bisa menyimpan atau mencairkan kapan saja. Nah, kemudahan ini bisa mengacaukan investasi jika Anda tidak disiplin menggunakan dana yang diinvestasikan di reksadana. "Investasi tergantung tujuannya. Jika tujuan berinvestasi dengan reksadana untuk menyiapkan

biaya pendidikan S1 anak selama 18 tahun ke depan, untuk mendapatkan target Rp 750 juta, ya jangan cairkan uang Anda hingga 18 tahun mendatang," tegas Ligwina. Dibutuhkan kedisplinan agar lebih bijak menggunakan dana investasi, dalam hal ini reksadana. Kembali ke tujuan awal yang dituangkan dalam perencanaan keuangan akan sangat menentukan keberhasilan investasi tersebut. Nah, jika rencana keuangan sudah ditetapkan dengan jelas, akan lebih mudah bagi Anda untuk menentukan pilihan produk investasi. Anda tak akan kesulitan saat akan menyusun portfolio investasi nantinya. Portfolio merupakan tahapan dalam investasi (reksadana) untuk menentukan bagaimana dana investasi Anda akan digunakan nantinya. Hal ini akan mempengaruhi target investasi ke depannya, termasuk hasil yang akan Anda nikmati dengan portfolio yang tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan Anda. Jika Anda masih bingung bagaimana cara merencanakan keuangan, apakah jangka pendek, menengah atau panjang, mana yang paling tepat untuk Anda, berbagai sumber pengetahuan bisa Anda manfaatkan, melalui berbagai kegiatan workshop atau talkshow tentang perencanaan keuangan, atau buku. Dengan pengetahuan ini Anda tak perlu membayar jasa perencana keuangan untuk mengontrol sejauhmana investasi Anda berjalan baik atau tidak. Keuntungan dengan menggunakan jasa perencana keuangan, Anda bisa mendapatkan rekomendasi pilihan produk investasi termasuk dalam menyusun portfolio berdasarkan pengalaman para praktisi keuangan ini. Apapun pilihan Anda, sebaiknya kenali lebih dahulu kebutuhan, kemampuan, dan kondisi finansial Anda saat ini, serta tetapkan tujuan sebelum asal pilih produk investasi.