Anda di halaman 1dari 2

BACAAN SOAL LATIHAN UNSUR INTRINSIK CERPEN

1
Suamiku itu kadung jadi pejuang, dan aku selalu menahan diri untuk tidak mengusut keperjuangannya. Aku berusaha percaya padanya, apapun yang diceritakannya padaku. Walaupun sering kutemukan hal-hal ganjil yang tak perlu aku tanyakan.

Jangan kuatir, Bu, kata sang Ayah dengan congkak. Ini belum seberapa besarnya. Aku baru saja mulai menggelembungkan diriku. Tapi si Ibu Katak tetap berusaha mencegah perbuatan itu. Karena terus diomeli, pada akhirnya Ayah Katak menjadi marah dan berkata, Kalau kau tak suka melihatnya, tinggalkan saja kami, jangan menggangguku dan urus saja dirimu. Ia terusmenggelembungkan diri hingga akhirnya badan ayah Katak meletus seperti balon pecah.

Sejak berpisah dengan burung kesayangannya Mbah Parto, bukan sakit encok seperti biasanya,namun sakitnya lebih merupakan sakit rohani ketimbang sakit jasmani. Tiga bulan yang lalu burung perkutut yang sudah kung itu dibeli Pak Umar. Sebetulnya Mbah Parto tak hendak melepaskan burung kesayangannya. Namun, karena Pak Umar mendesak dan meninggalkan penawaran sampai delapan ratus ribu rupiah, akhirnya Mbah Parto merelakan perkutut itu dibeli.Ia mengira dengan uang sebanyak itu dia dapat membeli perkutut lagi dan sisanya untuk membeli kebutuhan hidup. Namun yang terjadi di luar perkiraannya. Semenjak berpisah dengan burung perkututnya, Mbah Parto justru menderita. Tubuhnya semakin kurus dan akhirnya jasmaniahnya tak kuat, ia terbaring sakit.

Dan 5 1). Seperti teman-temannya yanglain, sebenarnya Tommy ingin sekali memberi hadiahuntuk Salma. 2). Apalagi, ibunya hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Salma. 3) Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda diterangi bianglala di langit jingga. 4) Diamnya ibu, pertanda tidak ada persediaanuang untuk membeli hadiah, Lagi pula sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, memang harus hidup hemat, gumamnya dalam hati. 1) Ah, masa ia aku tidak bisa memberi hadiah untuk Salma temanku? gumam Tommy seraya bangkit dari tempat pembaringan. 2) Ia beranjak menuju meja belajarnya. 3) Apa yang harus aku perbuat , uang ga ada, minta ibu gak mungkin? 4) Kini, ia senyum menghiasi bibirnyadan berkata dalam hati, Ah, sahabatku tercinta.

6. (1) Ketika itu pula ibu menceritakan bahwa kakaknya Norttama lulus sebagai Letnan muda dan dua minggu lagi akan di wisuda (2) Suasana keluarga menjadi ceria mendengar kabar itu, sambil bekerja tak henti-hentinya mereka membicarakan Norttama (3) Santi akan mewakili keluarganya hadir pada hari wisuda (4) Malam keberangkatan, santi tidak dapat tidur nyeyak banyak yang direncanakan dan yang diharapkan. 7. Setelah mengetahui uang kembalinya lebih, cukup lama Maryati termenung dan berpikir. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengembalikan unag kembaliannya yang lebih itu. Ia tampak gembira sekali, segera dikayuhnya sepedahnya perlahan-

lahan sambil bersiul meninggalkan toko itu. Menurutnya pelayan toko itu sudah lupa akan kekeliruannya. Inikan rezekiku, katannya dalam hati. Hari hari berikutnya Maryati gelisah, tidak tenang karena memikirkan hal itu. 8. Untuk pergi bersama-sama ke rimba tempat mereka mengumpulkan damar, mereka harus meninggalkan Kampung Air Jernih, yang terletak di tepi Danau Bantau. Air Jernih terletak pula di tepi Sungai Putih yang bermuara ke danau. Di pinggir muara sungailah terletak kampung mereka. Mereka menuju hutan dengan menyusuri tepi sungai, memudikinya, memasuki hutan, dan mendaki gunung-gunung. Sungai tak dapat dilalui dengan perahu karena penuh dengan batu besar dan karena sungai mengalir dengan derasnya turun dari gunung-gunung.