Anda di halaman 1dari 6

Bab 5 / Analisis Volume Atur Hingga

(Jawaban)

Untuk kondisi ini (Tporos =0), air masuk dan keluar volume atur dengan momentum agular nol. Sebagai rangkuman, dapat kita amati bahwa torsi penahan yang berkaitan dengan rotasi lebih kecil dari pada torsi yang dibutukan untuk menjaga sebuah rotor agar tetap diam. Bahkan tanpa adanya torsi penahan, kecepatan maksimum rotor adalah terhingga.

Apabila persamaan momen dari momentum (persamaan 5.42) diterapkan pada aliran satu dimensi yang lebih umum melalui sebuah mesin berputar, kita memperoleh Tporos = (- ke dalam )(
ke dalam ke dalam )+

keluar (

keluar

keluar

) (5.50)

dengan menerapkan analisis yang sama dengan yang di gunakan pada sprinkler dalam gambar 5.4. tanda digunakan dengan lanjut aliran massa yang masuk ke dalam volume atur, ke dalam dan tanda + di gunakan dengan laju aliran massa yang keluar dari volume atur keluar untuk menyatakan tanda dari perkalian titik v , yang terlibat. Baik tanda + atau yang digunakan pada perkalian tergantung pada arah dari (r V)aksial . cara yang sederhana untuk menentukan tanda dari perkalian adalah membandingkan arah dari dan kecepatan sudu, U. jika dan U arahnya sama, maka pekalian adalah positif. Jika dan U berlawanan arahnya, maka perkalian adalah negative. Tanda dari torsi poros adalah + jika Tporos berarah sama panjang sumbu putaran dengan , dan jika sebaliknya. Daya poros, poros dihubungkan denan torsi poros, Tporos, oleh
poros =

Tporos

(5.51)

Jadi, dengan menggunakan persamaan 5.50 dan 5.51 dengan tanda + untuk Tporos pada Persamaan 5.50, kita peroleh
poros =

(- ke dalam )(

ke dalam

ke dalam )+

keluar (

keluar

keluar

(5.52)

Atau karena r =U
poros

= (- ke dalam )(

ke dalam

ke dalam )+

keluar (

keluar

keluar )

(5.53)

Tanda + digunakan untuk hasil perkalian apabila U dan berada dalam arah yang sama; tanda digunakan apabila U dan berada dalam

Bab 5 / Analisis Volume Atur Hingga

arah yang berlawanan. Demikian pula karena +Tporos digunakan untuk mendapatkan persamaan 5.53, apabila poros positif, daya masuk ke dalam volume atur (misalnya pompa), dan apa bila poros negatif, daya keluar dari volume atur (misalnya turbin). Kerja poros persatuan massa, wporos, dapat diperoleh dari gaya poros, . Menurut poros, dengan membagi persamaan 5.53 dengan laju aliran massa, kekekalan massa, ke dalam=
keluar

Dari persamaan 5.53, kita mendapatkan wporos = (


ke dalam ke dalam )+( keluar keluar )

(5.54)

penerapa persamaan 5.50, 5.53, dan 5.54 ditunjukan dalam Contoh 5.19. lebih banyak lagi contoh-contoh penerapa persamaan 5.50, 5.53 dan 5.54 diberikan dalam bab 12.

Contoh 5.19
Kipas udara mempunyai rotor bersudu dengan diameter luar 12-in. dan diameter dalam 10-in. seperti yang diilustrasikan pada Gambar C5.19a. Ketinggian setiap sudu rotor adalah konstan dari sisi masuk sampai sisi keluar sudu sebesar 1 in. Laju alirannya tunak berdasarkan rata-rata waktu pada 230ft3/min, dan kecepatan mutlak dari udara pada sisi masuk sudu, V1 , dalam arah radial. Sudut keluar sudu sebesar 30 dari arah tangensial. Jika rotor berputar pada kecepatan konstan 1725 rpm, pertarakan daya yang dibutuhkan untuk menjalankan kipas tersebut.

Bab 5 / Analisis Volume Atur Hingga

PENYELESAIAN
Kita memilih sebuah volume atur yang tetap dan tak berdeformasi yang memuat rotor berputar dan fluida di dalam barisan sudu pada suatu saat, seperti yang ditunjukkan dengan garis putus-putus pada Gambar C5.19a. Aliran didalam volume atur ini siklis, tetapi tunak secara rata-rata. Satu-satunya torsi yang kita tinjau adalah torsi poros penggerak, Tporos,. Torsi ini diberikan oleh sebuah motor. Kita asumsikan bahwa aliran masuk dan keluar masing-imasing diwakili oleh kecepatan-kccepatan dan sifat fluida yang terdistribusi secara seragam dan sifat aliran. Kareiui daya poros yang dicari, Persamaan 5.53 cocok untuk digiinakan. Penerapan Pcrsaiiiaaii 5.53 terhadap kandungan volume atur dalam Gambm C5.19 memberikan 0 ( V1 radial )
poros =

(- 1 )(

)+ 2 (

2)

(1)

Dari Persamaan 1 kita lihat bahwa untuk menghitung daya kipas, kita memerlukan laju aliran massa, , kecepatan sudu pada sisi keluar rotor, U2, dan kecepatan tangensial pada sisi keluar sudut, . Laju aliran massa, m, dengnn iiiudah diperoleh dari Persamaan 5.6 sebagai = = = 0,00912 slug/s (2)

Kecepatan sudu pada sisi keluar rotor, U2, adalah (3) Untuk menentukan kecepatan tangensial fluida pada sisi keluar rotor kipas, , kita menggunakan Persamaan 5.43 untuk mendapatkan (4) Penjumlahan vektor pada Persamaan 4 ditunjukkan dalam bentuk sebuah "segitiga kecepatan" pada Gambar C5.l9b. Dari Gambar C5.19b kita liliul lihat bahwa (5)

Untuk menyelesaikan Persamaan 5 bagi kita memerlukan nilai dari , di samping nilai yang telah ditentukan (Psrsamaan 3). Untuk mendapatkan kita ketahui bahwa (6)

Bab 5 / Analisis Volume Atur Hingga

di mana adalah komponen radial dari baik menggunakan Persamaan 5.6 kita bisa dapatkan atau karena

maupun

. Juga, dengan

(7)

(8)

di mana h adalah ketinggian sudu, kombinasi Persamaan 7 dan 8 membentuk

(9)

Dengan menggunakan Persamaan 6 dan 9 bersama-sama, bisa kita dapatkan

(10)

Dengan mensubtitusikan nilai-nilai yang diketahui ke dalam persamaan 10, kita memperoleh

Dengan menggunakan nilai

ini ke dalam persamaan 5, kita mendapatkan

= 90,3 ft/s

(0,866) = 64,9 ft/s

Persamaan 1 sekarang dapat di peroleh

atau

(Jawaban)

Bab 5 / Analisis Volume Atur Hingga

Perhatikan bahwa tanda "+" digunakan pada hasil perkalian karena dan berada dalam arah yang sama. Hasil ini, 0,0972 hp, adalah daya yang dibutuhkan untuk disalurkan melalui poros kipas bagi kondisi yang diberikan. Idealnya, seluruh daya ini akan diberikan kepada udara yang mengalir. Namun, karena ada gesekaq fluida, hanya sebagian dari daya ini yang akan menghasilkan efek yang berguna (yaitu kenaikan tekanan) pada udara. Seberapa besar efek yang berguna ini tergantung pada efisiensi perpindahan energi antara sudu-sudu kipas dan fluida. Aspek penting dari perpindahan energi ini akan dibahas dalam subbab 5.3.5.

5.3

Hukum Pertama Termodinamika Persamaan Energi 5.3.1 Penurunan Persamaan Energi Hukum pertama tennodinamika untuk sebuah sistem dinyatakan dengan katakata adalah Laju pertambahan terhadap waktu dari energi tersimpan total dari suatu sistem laju netto laju netto pertambangan pertambangan = perpindahan + energi dari kerja energi dari kalor yang dipindahkan ke dalam sistem ke dalam sistem

Dalam bentuk simbolik, peryataan ini menjadi


sistem


sistem

atau

(5.55)

Beberapa dari variabel ini memerlukan penjelasan ringkas sebelum kita meuju ke pembahasan yang lebih lanjut lagi. Energi tersimpan total per satuam massa dari setiap partikel di dalam sistem, e, dihubungkan dengan energi dalam persatuan massa, , energi kinetik per satuan massa , dan energi potemsial persatuan massa, gz, menurut persamaan

(5.56)

Bab 5 / Analisis Volume Atur Hingga

Laju netto dari perpindahan kalor ke dalam sistem dinyatakan dengan laju netto perpindahan kerja ke dalam sistem dinyatnknn dengan . Perpindahan kalor dan perpindahan kerja dianggap "+" jika berlangsung ke dalam sistem dan " " jika ke luar sistem. Persamaan 5.5 berlaku untuk sistem acuan inersial maupun tak inersial. Kita akan mengembangkan pemyataan volume atur untuk hukum pertama termodinamika. Untuk volume atur yang berimpit dengan sistem tersebut pada suatu saat ( (5.57)

Lebih lanjut lagi, untuk sistem dan kandungan volume atur berimpit yang tetap dan tak berdeformasi, teorema transport Reynolds (Persamaan 4.19 dengan parameter b ditetapkan sama dengan e), memungkinkan kita untuk menyimpulkan bahwa