Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS SISTEM KEUANGAN

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah pengantar analisis sistem

Disusun oleh : M. Febriwan P1A040097

Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor 2006

ANALISIS SISTEM KEUANGAN Dalam pembuatan studi kelayakan, kita menganalisis sistemnya, dalam hal ini tentu saja yang dianalisis adalah sistem keuangannya dilihat dari IRR, BEP, dan NPV dari kajian yang kita ambil. Di bawah ini akan diberikan contoh analisis sistem keuangan pada kajian mengenai potensi rotan dari segi ekonomi : CONTOH ANALISIS SISTEM KEUANGAN Rotan merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang berperan penting dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan. Peran Indonesia sebagai produsen utama rotan, kini bukan lagi sebagai pemasok bahan baku bagi industri mebel rotan di luar negeri, tetapi sudah beralih menjadi pemasok mebel rotan dan barang kerajinan. Laju pemanenan yang begitu cepat perlu diimbangi dengan upaya pelestarian berupa pemanenan dan efisiensi pemanfaatan. Hal tersebut sangat diperlukan agar kesinambungan pasokan bahan baku terjamin. Selain itu, perlu dilakukan pemahaman potensi hutan yang tersedia melalui pengenalan dan pemanfaatan jenis-jenis rotan yang terdapat di Indonesia. Dari 306 jenis rotan yang terdapat di Indonesia baru 51 jenis saja yang dimanfaatkan secara komersial. Proses pengolahan rotan yang dilakukan di industri rotan pada umumnya sudah baku, yaitu penggorengan, penggosokan dan pencucian, pengeringan, pengasapan dan pengawetan. Berbagai upaya penyempurnaan tiap tahap proses pengolahan telah dilakukan agar kualitas produk rotan meningkat. Alih teknologi dalam proses pengolahan dapat diberikan kepada masyarakat petani pemungut untuk meningkatkan mutu yang dihasilkan dan menghindari kerusakan yang lebih besar akibat serangan jamur dan penggerek rotan. Untuk mencukupi kebutuhan rotan yang bermutu perlu introkduksi jenis-jenis yang kurang awet tetapi perlu diawetkan terlebih dahulu disertai teknologi pengolahan yang tepat. Campur tangan pihak instansi penelitian untuk mendukung penyuluhan dan alih teknologi perlu diperluas secara intensif. Pengkajian pola pengusahaan rotan telah dilakukan pula agar pengusahaan rotan dapat meningkatkan pemberdayaan para petani rotan, terutama masyarakat sekitar hutan. Disarankan agar arah pengusahaan rotan dilakukan dengan pola Hutan Tanaman Industri (HTI) secara komersial dan pola Hutan Tanaman Rakyat.

Penerobosan pasar ekspor menuju era ekonomi dunia yang lebih terbuka memerlukan strategis khusus sebagai tindak lanjut Indonesia memasuki ekspor barang jadi rotan berkualitas. Upaya penelitian pengembangan rotan masih harus terus dipacu, terutama yang menyangkut aspek silvikultur, provenance, bibit dan biji serta sosial ekonomi Selain itu, produksi dan pemasaran, teknologi pasca panen, sumber daya manusia dan pendidikan serta penyuluhan harus dilakukan pula secara terpadu. Survey potensi rotan alam yang lebih menyeluruh untuk memantau neraca persediaan dan sumber alamnya dari waktu ke waktu perlu dilakukan. Penetapan harga ditingkat petani hendaknya ditentukan oleh pedagang besar atau industri besar tetapi dipertimbangkan terhadap pemeratan keuntungannya yang tidak terpusat di pengusaha besar saja. Untuk itu pengawasan penetapan harga dasar ditingkat petani harus pula dipantau oleh aparatur di tingkat kabupaten dengan tujuan untuk lebih memberdayakan fungsi otonomi daerah. ANALISIS SOSIAL EKONOMI Nasendi (1995) dalam laporannya, menyimpulkan bahwa potensi rotan Indonesia masih baik. Disarankannya agar arah pengusahaan rotan dilakukan dengan pola Hutan Tanaman Industri secara Komersial dan Hutan Tanaman Rakyat. Penerobosan pasar ekspor menuju era ekonomi dunia yang lebih terbuka pasca Putaran Uruguay memerlukan strategi khusus sebagai tindak lanjut Indonesia memasuki ekspor barang jadi rotan yang berkualitas dan penting (sejak Januari 1989). Upaya penelitian pengembangan rotan masih terus harus dipacu khusus yang menyangkut aspek silvikultur, provenance, bibit dan biji, serta sosial ekonomi, Selain itu produksi dan pemasaran, teknologi pasca panen, sumber daya manusia dan pendidikan serta penyuluhan harus dilakukan pula secara terpadu. Survey potensi rotan alam yang lebih menyeluruh untuk memantau neraca stock dan sumber alamnya dari waktu ke waktu perlu dilakukan. Rotan berperan sangat penting dalam peningkatan pendapatan petani peladang berpindah di Kalimantan. Mereka menanam rotan di ladang berpindah dengan memanfaatkan bibit rotan alam yang tumbuh liar di ladang mereka. Biaya penebangan kebun rotan di Kabupaten Pasir atau Kutai berkisar sekitar Rp 82.500,- yang terdiri dari upah buruh Rp 75.000,- dan yang lainnya untuk biaya peralatan (Purnama dan Prahasto, 1996).

Sebagian besar produksi rotan dari Kabupaten Pasir diangkut ke propinsi Kalimantan Selatan. Di sana digunakan sebagai bahan baku industri tikar dan lampit. Lampit merupakan 80% nilai ekspor rotan. Rotan dari Kabupaten Kutai hanya sebagian kecil saja yang diangkut ke Pulau Jawa. Biaya produksi untuk mebel rotan, lampit dan anyaman berbeda tergantung pada tipe rotan dan jenis barang. Untuk mebel ruangan duduk sekitar Rp 73.130/unit, tikar rotan sekitar Rp 16.519/m2 dan penutup makanan sekitar Rp 1.615/20 buah. Upah yang diterima pengrajin mebel rotan di Kabupaten Samarinda dan Hulu Sungai Utara masing-masing adalah Rp 3.374.000 dan Rp 2.888.000 tiap tahun. Dibandingkan dengan KFM (Kebutuhan Fisik Minimum) jumlah tersebut cukup baik, karena pendapatan dari penganyaman rotan hanya berjumlah Rp 63.500/bulan, dengan dugaan pekerjaan penganyaman rotan satu-satunya sumber pendapatan. Jalur distribusi dari produsen kepada konsumen beragam, pengamatan lapangan menunjukkan sekurang-kurangnya ada 10 pola jalur distribusi. Yang sangat nyata adalah pola pemasaran antar pulau, pola dari produsen rotan ke industri lampit dan pola ke pengrajin rotan (Purnama dan Parahasto, 1996). Irawati dan Dwiprabowo (1996), menganalisis sosial ekonomi rotan tanaman di Jawa, dengan kesimpulan bahwa pendapatan pekerja pada kegiatan perkecambahan, persemaian dan penanaman rotan berturut-turut Rp 63.000,-, Rp 285.00,-, Rp 65.000,- dan Rp 81.000,- per bulan. Pendapatan ini memberikan konstribusi kepada pendapatan total keluarga pekerja berturut-turut sebesar 6 - 26%, 56% dan 17%. Pendapatan bersih dari tanaman pinus saja adalah Rp 9.430.866,- per ha untuk rotasi 25 tahun dan tingkat IRR 15,05%. Pendapatan bersih dari tanaman campuran pinus dan rotan adalah Rp 13.256.753,dengan tingkat IRR sebesar 16,36% sehingga penanaman rotan dapat meningkatkan manfaat ekonomis hutan. Penanaman rotan di Jawa Barat sejak tahun 1993 menurun padahal luas hutan baru mencapai 4% dari hutan produksi. Demikian pula penanaman rotan di Jawa Timur telah terhenti sejak tahun 1993. Hasil kajian kelompok kerja rotan Badan Litbang Kehutanan (1997) tentang permasalahan rotan dalam rangka reorientasi kebijakan rotan Indonesia dilaporkan seperti berikut:

1) Keadaan rotan masih cukup baik, kerana dari 306 jenis rotan yang ada di Indonesia baru dimanfaatkan 51 jenis, sedangkan yang belum dimanfaatkan 255 jenis. Pekiraan luas areal berotan adalah 98,7 juta ha, yang terdiri dari 75% berhutan dan 25% tidak berhutan. Rata-rata potensi rotan diameter 18 mm sekitar 161.320,56 ton, dan secara total adalah 349.177 ton/tahun produksi netto lestari. Tanpa perhitungan Faktor Effisiensi (FE) dan faktor pengaman (FP) yang 0,5, maka AAC (tebang lestari) diperkirakan 698,254 ton/tahun (tidak berbeda dengan angka tahun 1986 pada 15 propinsi yaitu 696.000 ton/tahun). 2) Pola produksi bahan baku masih bersifat tradisional dengan pola pungut tanpa perangkat alat penarik. Tenaga pekerja untuk memungut rotan alam berkisar antara 5 - 10 orang/regu selama 10 - 15 hari di hutan. Rotan tanaman 2 - 3 orang/regu langsung diangkut. Status harga tidak jelas dan lebih ditentukan pemodal. 3) Jumlah industri pengolahan rotan dari tahun ketahun meningkat. Pada tahun 1988 berjumlah 381 perusahaan dan pada tahun 1995 menjadi 548 perusahaan. Kapasitas produsksi barang setengah jadi dan barang jadi pada tahun 1988 sebanyak 101.086 ton, sedangkan tahun 1995 meningkat menjadi 1.152.900 ton/tahun. Keadaan ini sudah mencapai target AAC tebang lestari rotan sebagai bahan baku; adanya perbedaan suplai sebesar 454.900 ton/tahun. Total investasi 1995 adalah 944 milyar dengan 584 perusahaan, 198.990 tenaga kerja pada industri. 4) Harga jual rotan pada berbagai lembaga tata niaga di Kalimantan : (a) Petani rotan Rp 350/kg (b) Pedagang pengumpul Rp 925/kg (c) Pedagang besar Rp 1.350 /kg (d) Pedagang antar pulau Rp 1.600/kg 5) Harga jual rotan pada berbagai lembaga tata niaga di Sulawesi : (a) Pemungut rotan Rp 200/kg (b) Ketua kelompok Rp 240 /kg (c) KUD Pengumpul Rp 270/kg (d) KUD pengumpul dan pengolah Rp 565/kg (e) Pedagang antar pulau Rp 2.250/kg.

6) Margin keuntungan pada berbagai lembaga tata niaga di Kalimantan : (a) Pedagang pengumpul Rp 120/kg (b) Pedagang besar Rp 260/kg (c) Pedagang antar pulau Rp 170/kg 7) Margin keuntungan pada berbagai lembaga tata niaga di Sulawesi : (a) Ketua kelompok Rp 40/kg (b) KUD pengumpul Rp 20/kg (c) KUD pengumpul dan pengolah Rp 85/kg (d) Pedagang antar pulau Rp 520/kg Margin keuntungan yang diterima oleh lembaga tata niaga makin kecil makin ke hulu. Dampak sosial ekonomi rotan hasil kajian ini sebagai berikut: a. Dampak kegiatan tata niaga ekspor rotan yang dikeluarkan pemerintah sejak tahun 1986 dan seterusnya terhadap kesempatan kerja cukup tinggi khususnya dibidang industri pengolahan rotan (pengrajin rotan dan industri rumah tangga) serta petani/pemungut rotan di desa. Selama ini diperkirakan sektor ini mampu menyerap 200 - 250 orang pekerja per tahun. b. Dampak kebijakan tata niaga ekspor rotan terhadap pendapatan petani pada awalnya dirasakan bergairah dan produktif. Namun akhir-akhir ini khususnya sejak tahun 1994 1997 margin keuntungan dan harga rotan tidak dirasakan lagi dapat memberikan dorongan yang berarti lagi bagi petani dan pemungut rotan di pedesaan di dalam/sekitar hutan. Harga rotan jatuh sampai Rp 250 - Rp 400 per kg (1996), dibandingkan dengan harga pada tahun 1986 Rp 2.750 per kg. Harga tersebut tidak cukup untuk membeli beras yang Rp 800 per kg. Rotan sudah tidak lagi menjadi komoditi dan aktivitas produksi andalan bagi petani/pemungut rotan di pedesaan sekitar hutan. c. Banyak areal rotan yang dikonversi menjadi kebun kelapa sawit dan kebun karet khususnya di Kalimantan dan Sumatra. d. Dampak terhadap penebangan liar dan perdagangan (ekspor) ilegal juga cukup tinggi (rata-rata 60 - 70 ton rotan per kapal motor per hari). Analisis biaya dan sosial ekonomi pengolahan rotan alternatif, yaitu konvensional (panen - goreng - jemur - natural/polis), alternatif I (panen - goreng + bahan pengawet - jemur - polis - jemur) dan

alternatif II (panen - pengawetan - polis - jemur). Hasilnya menunjukkan persentase rotan bebas serangan jamur pewarna untuk cara

konvensional 74%, alternatif I 89% dan alternatif II 100%. Biaya pengolahan riil per batang rotan untuk cara pengolahan konvensional Rp 4.440,-, alternatif I Rp 4.767,-, dan alternatif II Rp 4.143,-. Perkiraan pendapatan kotor (termasuk upah kerja) per batang rotan untuk cara pengolahan konvensional Rp 4.920,- alternatif I Rp 4.593,- dan alternatif II Rp 5.217,(Puspitodjati dan Supriadi, 1998). Hasil studi kasus alih teknologi pengolahan rotan lepas panen di KPH Kuningan (Martono dan Puspitodjati ,1999), menunjukkan prestasi kerja 4 orang petani peserta alih teknologi pengolahan rotan asalan menjadi rotan W&S kering adalah 300 batang per hari (9 jam kerja). Alokasi waktu pengolahan 300 batang rotan tersebut : 0,5 jam untuk pemanasan tunggu, 3,5 jam untuk penggorengan, penggososkan dan penjemuran, 1 jam istirahat, 2 jam untuk pembalikan rotan yang dijemur dan 1 jam untuk sortasi. Rotan W&S hasil pengolahan masyarakat kualitas lebih baik tetapi hanya dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi (minimal Rp 944,- per batang) dibanding harga yang berlaku di pasar (Rp.900,per batang). Hasil kerjasama Perhutani dengan Litbang Hasil Hutan (1999), tentang pedoman teknis pengembangan pengolahan Rotan Lepas Panen di Pulau Jawa dapat diuraikan dibawah ini. A. Biaya Investasi Investasi yang diperlukan untuk membangun unit pengolahan lepas panen adalah sebesar Rp 16.194.750,- (1 unit) dan perinciannya seperti Tabel 1. Tabel 1. Investasi pembangunan unit instalasi PRLP Uraian Wajan dan tunggu Bangsal kerja Gudang penyimpanan Jumlah
Sumber : Anonim (1999)

Biaya (Rp) 2.700.000 5.743.250 7.751.500 16.194.750

B. Biaya produksi dan Harga Pokok Besarnya biaya produksi dipengaruhi oleh tingkat pemakaian bahan baku pembantu serta produktivitas tenaga kerja. Biaya produksi terdiri dari biaya produksi langsung dan

biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi langsung merupakan biaya yang terkait langsung dengan proses pengolahan rotan. Biaya produksi tidak langsung antara lain adalah : biaya pemeliharaan, biaya penyusutan alat dan bangunan, biaya administrasi, bunga bank dan pajak. Dengan menghitung seluruh biaya yang terjadi, diperoleh harga pokok rotan W&S sebesar Rp 1427,- per batang. Rincian perhitungan harga pokok rotan W&S dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Harga pokok rotan W&S
No I 1 2 3 4 5 II 1 2 3 Uraian Biaya langsung : Bahan baku rotan segar Angkutan rotan segar Bahan pembantu Gaji dan upah Angkutan rotan kering Biaya tidak langsung : Pemeliharaan Penyusutan alat dan bangunan Bunga bank Jumlah: I II Harga pokok (Rp./batang) Harga jual (Rp/batang) Laba (Rp/batang) Sumber : Anonim (1999) Biaya untuk produksi 100.000 batang(@Rp 1.000) 80.000 15.000 6.355 21.000 15.000 1.620 3.200 480 142.655 1.427 2.000 0.573

C. Analisis Finasial Analisis finasial dapat diketahui : Proyeksi pendapatan ,BEP, Payback period dan NVP sebagai berikut: 1. Proyeksi Pendapatan Proyeksi pendapatan dibuat mempertimbangkan kapasitas produksi pengolahan rotan lepas panen dan peluang pemasaran, ditambah dengan asumsi bahwa bahan baku rotan tersedia baik dalam jumlah maupun kesinambungan. Proyeksi pendapatan dibuat selama 5 tahun sesuai dengan umur proyek (Tabel 3). Tabel 3. Proyeksi pendapatan PRLP (Rp 1.000) Tahun Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Laba kotor 26.912 47.128 47.128 47.128 Laba bersih 24.222 42.415 42.415 42.415

Tahun 5 Rata-rata
Keterangan : Anonim, 1999

47.128 43.084

42.415 38.776

2. Break Even Poit (BEP) Hasil analisis menunjukkan bahwa BEP produksi dan harga jual rotan W&S adalah 78.700 batang per tahun dan Rp 1.573,- per batang. Tingkat BEP produksi rotan W&S ini jauh di bawah nilai yang diproyeksikan. Hal ini berarti PRLP (Panen Rotan Lepas Panen) bila dioperasikan secara optimal (Produksi 100.000 batang per tahun) akan mendatangkan keuntungan yang tinggi. 3. Payback period Payback period adalah perkiraan lamanya jangka waktu yang diperlukan untuk kembalinya suatu investasi yang ditanamkan dalam sutu proyek. Dari Tabel proyeksi pendapatan diketahui bahwa selama 5 tahun operasi, PRLP selalu memperoleh pendapatan yang positif sehingga investasi dapat dikembalikan pada tahun pertama operasi. Payback period 1 tahun tersebut lebih pendek dibandingkan dengan umur bangunan dan peralatan unit PRLP, sehingga usaha pengolahan rotan lepas panen layak untuk dilaksanakan. 4. Net Present Value (NPV) Hasil analisis diperoleh nilai NPV sebesar Rp 161.503.000,-. Nilai NPV yang positif menunjukkan bahwa usaha pengolahan rotan lepas panen layak untuk dilaksanakan. (Tabel 4).

Tabel 4. Analisis BEP, NPV, BC Ratio dan Payback Period Analisis 1. - Harga jual (Rp) - Produksi (batang) NPV (Rp 1.000) B/C Ratio (BCR) Payback period (tahun) BEP 1.573 78.700 161.503 1,27 1 Hasil Analisis

2. 3. 4.

Sumber : Anonim (1999)

D. Analisis Kepekaan Faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi keuangan industri adalah harga jual, biaya produksi dan tingkat produksi. 1. Volume produksi turun 20% Kerusakan peralatan dan kekurangan bahan baku dapat menyebabkan realisasi produksi di bawah tingkat produksi yang direncanakan. Apabila tingkat produksi hanya mencapai 80.000 batang (turun 20%) maka NPV menjadi Rp 126.439.000,- B/C ratio menjadi 1,26 dan BEP produksi harga jual menjadi 53.324 batang per tahun dan Rp. 1.583,per batang. Meskipun, volume produksi turun, usaha pengolahan rotan lepas panen masih layak untuk dilaksanakan. 2. Harga jual turun 15% Dalam analisis kepekaan, penurunan harga rotan diperkirakan dapat mencapai 15%. Penurunan harga jual tersebut menyebabkan nilai NPV menjadi Rp. 47.769.000,- BEP produksi dan harga jual menjadi 92.588 batang per tahun dan Rp 1.573,- per batnag, dan niali B/C ratio 1,08. Penurunan harga jual ini tidak mempengaruhi kelayakan usaha pengolahan rotan lepas panen. 3. Biaya produksi naik 15% Kenaikan biaya produksi dapat disebabkan oleh kenaikan harga rotan asalan, harga bahan pembantu dan upah tenaga kerja. Apabila biaya produksi naik 15 % maka niali NPV menjadi Rp. 71.995.000,-, B/C ratio menjadi 1,10, BEP produksi dan harga jual menjadi 90.905 batang per tahun dan Rp. 1.810,- per batang. Hasil analisis kepekaan disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Analisis Kepekaan
Analisis Produksi turun 20% Harga turun 15% Biaya produksi naik 15%

1. - Harga jual (Rp) 1.583 - Produksi (batang) 63.324 NPV (Rp 1.000) 126.439 B/C Ratio (BCR) 1,26 Sumber : Anonim (1999)

BEP 1.573 92.588 47.769 1,08 1.810 90.905 71.995 1,10

2. 3.