Anda di halaman 1dari 65

Fakultas Ekonomi & Bisnis PKK Jurusan Akuntansi

Akuntansi Pajak
Asral Simatupang, SE, Ak., MAk.

April 17, 2013

Bunga Pinjaman, Leasing dan Selisih Kurs

IBMC

Bunga Pinjaman

Kuis

Pinjaman Tanpa Bunga AGENDA ATAU TOPIK BAHASAN

Selisih Kurs

Leasing

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

4/17/2013

Jadwal Perkuliahan
1. Tanggal 8 Desember 2012: Membahas 2 Topik sekaligus, yaitu: Bunga Pinjaman dan SGU, serta Topik PPN 2. Tangal 15 Desember 2012: Membahas Topik Perbedaan Waktu dan Permanen serta Koreksi Fiksla dan Rekonsiliasi Fiskal, serta Pengisian SPT 3. Tanggal 22 Desember 2012: Libur (Cuti). Kita Cari Penggantian di tanggal 15 Desember 2012 Pagi 4. Tanggal 29 Desember 2012: Cuti, kita cari penggantian di tanggal 5 Januari 2013: Latihan Pengisian SPT Tahunan PPh Badan 5. Tanggal 5 Januari 2013: UAS Pengisian SPT Tahunan PPh Badan 6. Tanggal 26 Januari 2013: UAS dari Kampus UMB
3 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

April 17, 2013

Landasan Hukum Beban Bunga, SGU dan Selisih Kurs Valas 1. 2. 3. 4. Perhitungan Bunga Yang Boleh Diakui Sebagai Biaya Sesuai SE-46/PJ.4/1995 KMK No.1169/KMK.01/1991 PSAK 30 (Revisi 2007) Tentang Leasing PP No.94 Tahun 2010, syarat pinjaman tanpa bunga

April 17, 2013

KUIS (WAKTU 15 MENIT)

1. Jelaskan syarat pinjaman tanpa bunga menurut ketentuan perpajakan? 2. Jelaskan syarat pembayaran bunga pinjaman yg dapat diperlakukan sebagai biaya secara fiskal dlm perhitungan PPh Badan ? 3. Jelaskan perhitungan beban bunga pinjaman yang dapat diakui sebagai biaya menurut SE-46/PJ.4/1995? 4. Jelaskan aspek perpajakan dari Capital/financing Lease dengan hak opsi? 5. Jelaskan secara singkat aspek perpajakan yg terkait dgn Operating Lease? 6. Jelaskan kriteria capital lease dan kriteria operating lease? 7. Jelaskan 5 contoh Barang yang biasa di-leasing-kan? 8. Apakah semua perusahaan dapat melakukan kegiatan finance lease dalam konteks pengertian secara fiskal. Apa syarat syarat dan dasar hukum menjadi perusahaan finance lease secara fiskal? 9. Jelaskan 2 (dua) sistem pembukuan terhadap selisih kurs? 10. Apa yang dimaksud dengan Kurs Pajak dan Kurs Komersial? 11. Jelaskan perbedaan operating lease dengan finance lease secara fiskal?

Perlakuan PPh atas Bunga Pinjaman


Bunga Pinjaman
Dapat dibebankan

Akuntansi Pajak

Sepanjang berhubungan dengan biaya untuk 3 M Penghasilan (obyek PPh non-final)


Kecuali

Bunga tersebut dikapitalisasi, pada:- pembelian saham, - pembelian tanah (real estate) - masa konstruksi (IDC)

Apabila WP juga mempunyai deposito atau tabungan (SE-46)


Rata-rata Pinjaman =< Rata-rata Dep/Tab Rata-rata Pinjaman > Rata-rata Dep/Tab

Bunga tidak boleh dibebankan

Bunga dibebankan atas selisih lebih rata-rata pinjaman

Bunga dapat dibebankan seluruhnya dalam hal : - dana pinjaman ditempatkan dalam rekening giro - ketentuan mengharuskan dana pinjaman ditempatkan di dep/tab Tax Audit - saldo dep/tab dananya berasal dari tambahan modal/sisa laba

Halaman 6-41

Akuntansi Pajak

Biaya Bunga Pinjaman

Akuntansi Pajak

Dalam dunia bisnis, meminjam uang adalah suatu hal yang biasa. Bisnis berkembang atau maju dan juga sebaliknya bisa bangkrut tidak terlepas dari kegiatan utang piutang atau pinjam atau meminjamkan. 1. Bagaimana definisi bunga menurut pajak? 2. Coba jelaskan aspek perpajakan yang terkait denan bunga pinjaman? 3. Apakah menurut pajak bahwa suatu perusahaan dapat pinjaman kepada pihak lain tanpa harus dikenakan bunga atau meminjam kepada pihak lain tanpa harus membayar bunga pinjaman? Halaman 7-41 Tax Audit

Akuntansi Pajak

Biaya Bunga Pinjaman


1. Bunga bagi pihak yang meminjam disebut sebagai cost of capital dan bagi yang meminjamkan disebut sebagai capital income (masuk dalam kelompok passive income) 2. /Tidak ada penjelasan secara eksplisit mengenai definisi bunga dalam UU PPh No.36 Tahun 2011. Dalam Pasal 4 ayat (1) huruf f mengatakan: yang termasuk pengertian bunga adalah premium, diskonto dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang. Berarti pengertian bunga menurut pajak cukup luas dan tidak ada definisi dan batasan yang jelas. 3. Bunga sangat terkait dengan konsep time value of money (nilai uang menurut waktu atau dari sudut waktu). 4. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bunga adalah imbalan jasa untuk penggunaan uang/modal yang dibayar pada waktu tertentu sesuai kesepakatan/ketentuan yang biasanya dihitung berdasarkan % dari pokok pinjaman.

Akuntansi Pajak

Tax Audit

Halaman 8-41

Akuntansi Pajak

Biaya Bunga Pinjaman

Perusahaan dapat menerima pinjaman atau memberikan pinjaman dari/kepada: 1. Pinjaman dari Bank 2. Pinjaman dari pemegang Saham atau pihak terkait 3. Pinjaman dari pihak ketiga 4. Pinjaman dari luar negeri 5. Pinjaman antar afiliasi 6. Pinjaman dari lembaga keuangan non bank atau lembaga pembiayaan 7. Pinjaman dari Koperasi dan pinjaman lainnya
Akuntansi Pajak

Tax Audit

Halaman 9-41

Akuntansi Pajak

Aspek Pajak Terkait Bunga Pinjaman


ika yang menerima bunga adalah WPDN (baik Badan atau OP) dikenakan pemotongan PPh Pasal 23 dengan tarif 15%. Namun dikecualikan dari pemotongan PPh Pasal 23, jika bunga tersebut dibayarkan kepada Bank (sesuai Pasal 23 ayat 4 huruf a UU PPh). 2. Jika yang menerima bunga adalah WPLN selain BUT, maka dipotong PPh Pasal 26 dengan tarif 20% atau sesuai tarif dalam Tax Treaty antara Indonesia dengan negara si WPLN tersebut. 3. Bagi pihak yang menerima pembayaran bunga pinjaman, maka pendapatan bunga tersebut harus dilaporkan dalam laba rugi fiskal sebagai pendapatan bunga atau penerimaan penghasilan dan akan dikenakan PPh Badan (taxable income). Disamping itu, PPh Pasal 23 yang dipotong oleh pihak pembayara bunga dapat dicatat sebagai pajak dibayar dimuka yang akan dikreditkan di akhir tahun sebagai pengurang PPh Badan di tahun pajak yang bersangkutan. 4. Bagi pihak pembayar bunga dapat diakui sebagai biaya pengurang penghasilan (deductible expenses) dalam perhitungan PPh Badan) dgn syarat:
1. J

Tax Audit

Halaman 10-41

Akuntansi Pajak

Aspek Pajak Terkait Bunga Pinjaman Syarat pembayaran bunga pinjaman yg dapat diperlakukan sebagai biaya secara fiskal dlm perhitungan PPh Badan adalah: 1. Dana yang pinjam benar-benar digunakan untuk kegiatan usaha pokok perusahaan atau tidak digunakan untuk kegiatan di luar usaha. Jika digunakan untuk membeli atau membangun aktiva tetap yang memiliki masa manfaat lebih dari 1 tahun dapat dikapitalisasi (SE-22/PJ.42/1999) 2. Dana yang dipinjam tidak digunakan untuk memperoleh penghasilan yang bukan obyek pajak penghasilan 3. Dana yang dipinjam tidak digunakan untuk memperoleh penghasilan yang dikenakan PPh Final (depo & tab), jika ternyata terbukti akan dikoreksi sesuai SE-46/PJ.4/1995) 4. Tingkat bunga pinjaman yang diberikan sesuai tingkat bunga yang wajar (arm leght rate).

Tax Audit

Halaman 11-41

Akuntansi Pajak

Pinjaman Tanpa Bunga Yang Diperbolehkan

Pemegang saham pemberi pinjaman tidak dalam keadaan merugi

Membina

PT penerima pinjaman sedang mengalami kesulitan keuangan untuk kelangsungan usahanya.

Sesuai PP No.94 Tahun 2010, syarat pinjaman tanpa bunga

Modal yang seharusnya disetor oleh pemegang saham pemberi pinjaman telah disetor seluruhnya kepada perusahaan yang menerima pinjaman;

Pinjaman yang diterima WP dari pemegang sahamnya

Pindana milik pemegang saham perusahaan itu sendiri dan bukan berasal dari pihak lain; jaman berasal dari

Tax Audit

Halaman 12-41

Akuntansi Pajak

Perhitungan Bung Pinjaman Yang Dikoreksi


Apabila pinjaman yg diperoleh ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan

Membina

Perhitungan Bunga Yang Boleh Diakui Sebagai Biaya Sesuai SE46/PJ.4/1995

Jika rata-rata pinjaman = atau > dari jumlah ratarata dana yg ditempatkan di depo/tabungan, maka semua bunga pinjaman yg dibayar non deductible

Jika rata-rata jlh pinjaman > dari jlh rata-rata dana yang ditempatkan dlm depo/tab, maka Jumlah bunga pinjaman yg boleh dibiayakan adalah

Jumlah bunga yang dibayar atau tertuang atas rata-rata pinjaman yg melebihi jlh rata-rata dana yang ditempatkan

Tax Audit

Halaman 13-41

Akuntansi Pajak

Contoh Praktek Penerapan SE-46 PT X memperoleh pinjaman sebesar Rp200 jt. Dengan tingkat bunga 20%. Pinjaman tersebut telah dicairkan bulan Feb 125 jt, bulan Juni 25 jt, Agst 50 jt. PT X menempatkan dana dalam bentuk deposito sbb: Feb s.d Mar 25 jt, April s.d Agst 46 jt, Sep s.d Des 50 jt. 1. Hitung berapa rata-rata pinjaman per bulan 2. Hitung berapa rata-rata deposito per bulan 3. Berapa jumlah bunga pinjaman yang dapat dibiayakan sesuai SE-46?

Tax Audit

Halaman 14-41

Akuntansi Pajak
Rata-rata pinjaman Januari Feb s.d Mar Jun s.d Jul Ags s.d Des Jumlah Pinjaman 0 125.000.000 150.000.000 200.000.000 JW 1 bulan 4 bulan 2 bulan 5 bulan Jumlah 500.000.000 300.000.000 1.000.000.000 1.800.000.000

Rata-rata pinjaman per bulan


Rata-rata Dana Deposito Januari Feb s.d Mar Apr s.d Ags Sep s.d Des Penempatan 0 25.000.000 46.000.000 50.000.000 JW 1 bulan 2 bulan 5 bulan 4 bulan

150.000.000
Jumlah 50.000.000 230.000.000 200.000.000

Jumlah Rata-rata deposito per bulan Bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya dihitung dengan rumus Kelebihan Rata-Rata Pinjaman di atas Rata-Rata Deposito x Tarif Bunga Biaya bunga yang deductible
Tax Audit

480.000.000 40.000.000

22.000.000
Halaman 15-41

Akuntansi Pajak

Dikecualiakan Penerapan SE-46 1. Jika dana ditempatkan dalam bentuk Giro yang jasanya telah dipotong PPh Final 2. Dapat dibuktikan bahwa dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan berasal dari tambahan setoran modal dari pemegang saham atau berasal dari laba usaha setelah pajak 3. Dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan semata-mata merupakan suatu keharusan sesuai ketentuan yang disyaratkan pemerintah misalnya dana jaminan atau dana cadangan biaya reklamasi dll

Tax Audit

Halaman 16-41

IBMC

SEWA GUNA USAHA (LEASING)

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Pengertian Leasing/Sewa Guna Usaha (PSAK30) Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan
Untuk suatu jangka waktu tertentu Berdasarkan pembayaran-pembayaran berkala disertai dengan hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang modal ybs atau memperpanjang jw leasing berdasarkan nilai sisa yg disepakati
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Pengertian Leasing Menurut KMK No.1169/KMK.01/1991

Kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara finance lease maupun operating lease untuk digunakan oleh lesee Selama jangka waktu tertentu

Berdasarkan pembayaran secara berkala


Pihak atau perusahaan lessor yang memberikan jasa pembiyaan telah memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan. Jika belum dapat ijin, maka transaksi financing lease tersebut dianggap transaksi sewa-menyewa biasa
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Alasan memilih leasing

Masalah fleksibilitas, karena dengan cara leasing, konsumen dapat memilih barang/peralatan yang dibutukan sesuai dengan perkembangan usaha dan kebutuhannya, serta dapat menambah atau memperbaharui jenis barang selama periode leasing, karena ada banyak pilihan dan jw cicilan leasing yang rata-rata relatif lebih rendah dari pada pinjaman.
Relatif tersedia beragam jenis produk leasing dibanding alternatif lain dan lessee dapat mendesain paket pembiayaan sesuai kebutuhan arus kas bulanan dan tahunan, karena pembayaran dilakukan secara angsuran dengan jumlah pembayaran relatif tetap selama masa leasing Dengan leasing, secara langsung lessee telah melakukan manajemen aset dan lessor mengatur resikonya karena barang masih miliknya Lessee memiliki hak opsi untuk membeli barang di akhir periode
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Barang yang biasa di-leasing-kan

Kereta Api, Pesawat Terbang, Kapal Laut dan Kendaraan Air Peralatan produksi/pemrosesan Peralatan kehutanan, telekomunikasi/penyiaran Peratalan jasa kesehatan Mobil dan Kendaraan Penumpang, Bis Material Handling Peralatan Konstruksi Perabot dan peralatan toko dan kantor, komputer Peralatan Hotel/restoran, peratalan pertambangan dan minyak Truk, Trailer, Traktor & Kendaraan Rekreasi
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Adalah kegiatan pembiayaan dlm bentuk penyediaan barang modal baik secara SGU dengan hak opsi maupun tanpa hak opsi untuk digunakanoleh Lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala
Jenis SGU Dengan Hak Opsi Finance Lease Teknis Pelaksanaan Tanpa Hak Opsi Operating Lease

SGU Langsung Direct Lease

SGU Sindikasi Syndicated Lease

Jual & Sewa Kembali Sale & Lease Back

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Unsur-unsur SGU

Lessor Lessee

Badan Badan/OP AT Berwujud Dgn syarat tertentu

Barang Modal
Perjanjian SGU

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Membedakan SGU Operating Lease atau Finance Lease Secara Komersial

PSAK 30 (Revisi 2007) Sewa


KLASIFIKASI SEWA

Sewa Pembiayaan / Financial Lease

Sewa Operasi / Operating Lease

DIDASARKAN PADA SUBSTANSI TRANSAKSI BUKAN KONTRAK

Aset Sewa dicatat sebagai Aset Tetap dan biaya yang dikeluarkan adalah Biaya Depresiasi.

Aset Sewa tidak dicatat sebagai Aset Tetap dan biaya yang dikeluarkan adalah Biaya Sewa.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Is the lease non-cancellable (Apakah sewa dapat dibatalkan)

No Is ownership expected to be transferred at the end of the lease term? or Is there a BPO (Bargain Purchase Option) or the leased asset of a specialist Nature? No
Is the lease term a major part of the economic life of the leased asset?

Yes

No
the PV of the minimum lease payment substantially all of the fair value of the Leased asset? Do gain/losses relating to fair value changes accrue to the lease? Is there an option to continue the lease at a rent lower than market?
Is

No
Is the substance of the leasing arrangement and any related arrangment such T

hat substantially all the risk and rewards incident to ownership are transferred to the leasee

No
Capital Lease Operating Lease
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Kriteria Finance Lease

1.Jumlah pembayaran selama masa SGU I + nilai sisa brg, harus dpt menutup cost brg + profit Lessor; 2.Masa SGU minimal : - 2 th utk brg modal Gol. I - 3 th utk brg modal Gol. II & III - 7 th utk brg modal Gol. Bangunan; 3.Perjanjian memuat hak opsi bagi Lessee. 1.Jumlah pembayaran selama masa SGU I tidak dpt menutup cost brg + profit Lessor; 2.Perjanjian tidak memuat hak opsi bagi Lessee.

Kriteria Operating Lease

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Perjanjian SGU
Minimal harus memuat 1.Jenis transaksi SGU; 2.Identitas masing-masing pihak; 3.Nama, jenis, tipe dan lokasi penggunaan barang; 4.Harga perolehan, nilai pembayaran, pembayaran SGU, angsuran pokok, imbalan jasa, nilai sisa, simpanan jaminan, dan ketentuan asuransi atas brg modal; 5.Masa SGU; 6.Ketentuan masa SGU yg dipercepat dan kerugian yg harus ditanggung Lessee atas risiko brg modal; 7.Opsi bagi Lessee (utk finance lease); 8.Tanggungjawab atas brg modal.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Perlakukan PPh atas SGU


Finance Lease

Lessor
a.Objek PPh adalah Imbalan Jasa (pembyrn - angs.pokok); b.Tidak boleh menyusutkan brg modal; c.Bila masa SGU lebih pendek, penghasilan akan dikoreksi; d.Dapat membentuk cadangan; e.Kerugian piutang tak tertagih dibebankan ke cadangan ybs; f.Dlm hal cadangan > kerugian, sisanya mrpk penghasilan, demikian sebaliknya; g.Angsuran PPh Ps 25 dihitung dari laporan keuangan triwulan disetahunkan dibagi 12.

Lessee

a.Selama masa SGU tidak boleh menyusutkan brg modal, sampai hak opsi dipakai; b.Dasar penyusutan setelah pemakaian hak opsi adalah nilai sisa brg ybs; c.Dapat membebankan pembayaran SGU dari pengh bruto; d.Bila masa SGU lebih pendek, biaya akan dikoreksi.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Perlakukan PPh atas SGU


Operating Lease

Lessor
a.Objek PPh adalah seluruh pembayaran yg diterima; b.Dapat membebankan biaya penyusutan brg modal; c.Tidak diperkenankan membentuk cadangan penghapusan piutang ragu-ragu. d.Memungut PPN

Lessee
a.Seluruh pembayaran dpt dibebankan sbg biaya; b.Tidak boleh membebankan biaya penyusutan brg modal; c.Wajib memotong PPh Ps. 23 atas pembayaran kpd Lessor.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Perlakukan Pajak Transaksi Finance Lease & Oeprating Lease Untuk Lessor Khususnya Untuk Perhitungan PPh Badan
Uraian Operating Lease Seluruh pembayaran angsuran leasing (lease payment) yang diterima atau diperoleh lessor dari lessee merupakan taxable income . Finance Lease Obyek PPh hanya sebagian dari pembayaran yang diterima yaitu seluruh pembayaran leasing dikurangi dengan angsuran pokok.

Obyek PPh Badan

Penyusutan aktiva leasing


Pembentukan Cadangan Piutang Ragu-Ragu

Boleh disusutkan dan dibiayakan dalam SPT Tahunan PPh Badan


Tidak boleh membentuk Cadangan penghapusan piutang ragu-ragu

Tidak boleh disusutkan dan dibiayakan dalam SPT Tahunan PPh Badan
Boleh membentuk cadangan penghapusan piutang raguragu sesuai PMK 80/KMK.04/1995 jo 83/PMK.03/2006 Bukan obyek pemungutan PPN
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Kewajiban Pemungutan PPN

Transaksi merupakan obyek pemungutan PPN

IBMC

Perlakukan Pajak Transaksi Finance Lease & Oeprating Lease Untuk Lessee Khususnya Untuk Perhitungan PPh Badan
Uraian Operating Lease Seluruh pembayaran angsuran leasing (lease payment) yang ddibayarkan oleh lesee kepada lessor dapat dibiayakan sebagai biaya secara fiskal oleh lessee . Tidak boleh disusutkan dan dibiayakan dalam SPT Tahunan PPh Badan Finance Lease Biaya sewa yg dibayar/ terutang boleh menjadi pengurang penghasilan (boleh menjadi biaya secara fiskal bagi lessee

Biaya dalam perhitungan PPh Badan

Penyusutan aktiva leasing

Tidak boleh disusutkan dan dibiayakan dalam SPT Tahunan PPh Badan. Lessee boleh menyusutkan setelah hak opsi telah dipergunakan Tidak wajib memotong PPh Pasal 23

Kewajiban Pemotongan PPh

Pada saat melakukan pembayaran Lessee wajib memotong PPh Pasal 23

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Sewa guna usaha (leasing)


Sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) Sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) Periode leasing dapat meliputi jangka waktu beberapa tahun

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

SGU tanpa hak opsi


Sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) yaitu :

1. Jumlah pembayaran SGU selama masa SGU tdk dapat menutupi harga perolehan barang modal yang di SGU kan ditambah keuntungan yg diperhitungkan oleh lessor
2. Perjanjian SGU tdk memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee 3. Kepemilikan barang masih berada ditangan pihak lessor sehingga yg berhak menyusutkan barang adalah lessor.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Perlakuan Perpajakan
Lessor
Seluruh pembayaran sewa yg diterima obyek PPh pasal 23 Menyusutkan aktiva yg di SGU karena kepemilikan Memungut PPN jasa sewa yang diberikan

Lesse
Biaya sewa yg dibayar/ terutang boleh menjadi pengurang Tidak boleh menyusutkan karena milik lessor Memotong PPh ps 23 sesuai tarif

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Kasus
PT. X (lessor) meng-SGU-kan mesin gol II dg harga Rp200jt kepada PT. Z(lessee) jangka waktu leasing 24 bulan dan nilai sisa barang setelah periode leasing adalah nihil. Pembayaran perbulan Rp8.000.000. Jumlah pembayaran adalah Rp192 jt lebih kecil dari 200jt, karena tidak klausul untuk memiliki maka termasuk operating lease
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Contoh SGU Tanpa HO/Hak Opsi & Dengan HO)


Lessor : PT. Jaya Hrg perolehan brg modal (truk) : Rp 200.000.000 Jangka waktu : 24 bulan Pembayaran per bulan : Rp 8.000.000 Lessee : PT. Adil
PT. Jaya Tagihan setiap bulan PPN PT. Adil Memotong PPh Pasal 23 Dibayar ke lessor

: Rp 8.000.000 : Rp 800.000 Rp 8.800.000 : Rp 120.000 : Rp 8.680.000

Jmlh pembayaran SGU tdk dpt menutupi HP brg modal yg diSGUkan + keuntungan lessor
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

SAK Lessor (PT. Jaya) Ph. SGU Penyusutan brg modal Lessee (PT. Adil) Biaya SGU

Koreksi

Fiskal (PPh)

8 jt XX

Beda waktu

8 jt YY

8 jt

8 jt

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

SAK SGU tanpa HO Pmbayarn

Koreksi

Fiskal (PPh)

XX

YY

SGU dgn HO -Penyst -Pembyrn

XX -

XX XX

XX

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Jawaban
Lessor
Terimasewa

PT. X
8.000.000

Lessee
Bayarsewa Bayar PPN Memotong PPh ps 23 Dibayar

PT. Z
8.000.000 800.000 360.000 8.440.000

Pungut PPN 800.000 Dipotong PPh ps 23 Diterima 360.000 8.440.000

Penyusutan

Sesuai metode

Penyusutan

Tidak ada

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

SGU dengan hak opsi


Sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) yaitu : Jumlah pembayaran SGU selama masa SGU ditambah nilai sisa harus menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor Masa SGU ditetapkan sekurang2nya 2 th utk gol I, 3 th utk gol II dan III dan 7 tahun utk gol bang Perjanjian SGU memuat ketentuan mengenal hak opsi bagi lessee

1.

2. 3.

4.

Lessor berniat menjual barang dengan menghitung jumlah seluruh angsuran lebih besar dari harga pokok barang
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Perlakuan perpajakan
Lessor Lessee
Seluruh pembayaran angsuran pokok dan bunga boleh menjadi pengurang atau diakui sebagai biaya Tidak boleh menyusutan atau tidak ada biaya penyusutan Tidak memotong PPh pasal 23 atas angsuran

Ph yg menjadi obyek PPh adl seluruh pembayaran

Tidak ada penyusutan Dapat membentuk cad piutang ragu-ragu Kerugian dibebankan pd akm.cad.piutang ragu2 Besarnya PPh pasal 25 triwulanan

Jasa pembiayaan tdk terutang PPN. Penyerahan terutan PPN

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Kasus
PT. X (lessor) meng-SGU-kan mesin gol II dg harga Rp200jt kepada PT. Z(lessee) jangka waktu leasing 36 bulan dan nilai sisa barang setelah periode leasing adalah nihil. Pembayaran perbulan Rp8.000.000. pembayaran terdiri dari pokok Rp.5.555.555 dan bunga Rp.2.444.445 Ada klausul opsi bagi lessee untuk membeli

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

jawaban
Lessor PT X Lessee PT Y Mencatat 288 juta piutang Terima 2.444.445 bunga Terimapokok 5.555.555 Jumlah 8.000.000 Byr sewa 8.000.000 Tidak memungut
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Penyusutan Tidak ada Penyusut Tidak ada


Debet biaya 2.5% x PPh pnyisihan saldo piut pasal 23

IBMC

Kuis-1
PT. Sejahtera Sekali (PKP) menyewa kendaraan operasional dari PT Astra (PKP) dengan harga sewa sebesar Rp.5 juta (belum termasuk PPN). Tagihan diterima tanggal 1 November 2010 dan dibayar pada tanggal 18 November 2010. Buatlah jurnal saat tagihan diterima dan saat tagihan dibayarkan Ssaat disetorkan pajak yang dipotong ke Kas Negara?

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Jawaban
Jurnal saat tagihan diterima:
Dr: Rent Expenses Rp. Dr: Vat In Rp. Cr: Others Liability Rp. Cr: Income Tax Payable Art 23 Rp. (Income Tax = 2% x Rp.5 juta = Rp. 100.000) 5.000.000 500.000 5.400.000 100.000

Jurnal saat pembayaran:


Dr: Others Liability Cr: Cash Rp. 5.400.000.000 Rp. 5.400.000.000

Jurnal saat pembayaran pajak ke Kas Negara:


Dr: Income Tax Payable Art 23 Cr: Cash Rp.100.000.000 Rp..100.000.000
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Kuis-2
PT. Sejahtera Sekali (PKP) pada tanggal 1 Juli 2010 membeli mesin seharga Rp.1.600.000.000 dengan capital lease dari PT Astra (PKP) dgn opsi dan masa leasing 4 tahun dan diangsur setiap 6 bulan (mulai tanggal 31 Desember 2010 dan setiap tanggal 30 Juni) sebesar Rp.200 juta, belum termasuk bunga 12%/tahun atau 6% per semester. Mesin disusutkan secara accounting 8 tahun dan metode garis lurus. Daftar pembayaran angsuran pokok dan bunga terlampir:

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Tabel Bunga Present Value Ordinary Annuity

PVIFA 1 2 3 4 0,9901 1,9704 2,9410 3,9020

1% 0,9804 1,9416 2,8839 3,8077

2% 0,9709 1,9135 2,8286 3,7171

3% 0,9615 1,8861 2,7751 3,6299

4% 0,9524 1,8594 2,7232 3,5460

5% 0,9434 1,8334 2,6730 3,4651

6%

5
6 7 8

4,8534
5,7955 6,7282 7,6517

4,7135
5,6014 6,4720 7,3255

4,5797
5,4172 6,2303 7,0197

4,4518
5,2421 6,0021 6,7327

4,3295
5,0757 5,7864 6,4632

4,2124
4,9173 5,5824 6,2098
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Pembayaran Leasing

Tanggal 01/07/2010 31/12/2010

Keterangan Saldo awal Byr 1

Termasuk PPN

Jumlah 257.657.251,00

Bunga 96.000.000

Pembayaran Pokok -

Saldo Kewajiban Leasing 1.600.000.000,00

PPN

277.657.251,00

161.657.251,00 30/06/2011 Byr 2 277.657.251,00 257.657.251,00 86.300.565

1.438.342.749,00 20.000.000

171.356.686,06
31/12/2011 Byr 3 277.657.251,00 257.657.251,00 76.019.164 181.638.087,22 30/06/2012 Byr 4 277.657.251,00 257.657.251,00 65.120.879 192.536.372,46 31/12/2012 Byr 5 277.657.251,00 257.657.251,00 53.568.696 204.088.554,80 30/06/2013 Byr 6 277.657.251,00 257.657.251,00 41.323.383 216.333.868,09

1.266.986.062,94
20.000.000 1.085.347.975,72 20.000.000 892.811.603,26 20.000.000 688.723.048,45 20.000.000 472.389.180,36 20.000.000

31/12/2013

Byr 7

277.657.251,00

257.657.251,00

28.343.351
229.313.900,18 243.075.280,18 20.000.000 243.075.280,18 20.000.000

30/06/2014

Byr 8

277.657.251,00

257.657.251,00

14.584.517

2.221.258.008,00 2.061.258.008,00 461.260.554,00 1.600.000.000,00 6.087.675.899,92 160.000.000 Jumlah pembayaran angsuran (belum termasuk PPN) adalah Rp.1.600.000.000/6,2098) = Rp.257.657.251, dimana nilai 6,2098 diambil dari tabel PV

Penyusutan secara komersial per tahun: 12,5% x Rp.1.600.000.000= Rp.200 juta dan per semester Rp.100 juta.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Pertanyaan
Buat jurnal secara komersial accounting atas transaksi tersebut yaitu pada saat pembelian, pembayaran dan pembebanan penyusutan Apakah biaya penyusutan diakui secara fiskal?

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Jawaban
Jurnal saat pembelian,
Dr: Leased Asset - Mechines Capital Lease Rp.1.600.000.000 Dr: Vat In Rp. 160.000.000 Cr: Lease Liability (Obligation) Rp.1.760.000.000

Jurnal saat pembayaran hutang, misalnya pembayaran 1:


Dr: Lease Liability (Pokok + PPN) Dr: Interest Expenses Cr: Cash Rp. Rp. Rp. 181.657.251 96.000.000 277.657.251

Jurnal saat pembebanan penyusutan:


Dr: Depreciation Expenses Rp. 100.000.000 Cr: Accumulated Depreciation Rp. 100.000.000 (Penyusutan 2010:12,5% x 6/12 x Rp.1.600.000.000=Rp.100.000.000)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

IBMC

Jawaban
Biaya penyusutan yang dicatat secara komersial tidak diakui secara fiskal dan biaya penyusutan tersebut dikoreksi menjadi koreksi positif, namun pembayaran pokok dan bunga diakui menjadi pengurang penghasilan atau menjadi biaya pada saat menghitung laba atau rugi secara fiskal. Alasan biaya penyusutan tidak diakui sebagai biaya secara fiskal karena?

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

April 17, 2013

Selisih Kurs

52 cluster service

Jenis Kurs April 17, 2013 Mata Uang Asing

Kurs Menkeu

Kurs Realisasi Bagi WP yang menyelenggarakan pembukuan dalam Rupiah

Kurs BI

PERLAKUAN PAJAK ATASSELISIH KURS

Akan terkena dampak fluktuasi kurs rupiah thd valas berupa selisih kurs
Keuntungan selisih kurs Obyek Pajak Diakui sesuai Sistem Pembukuan yg dianut WP Kerugian selisih kurs Pengurang penghasilan

Kurs Tetap

Kurs Neraca Harus diterapkan secara taat azas

53 cluster service

April 17, 2013

Kurs Menteri Keuangan (Kurs Fiskal)


Kurs yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang diterbitkan setiap minggu dan berlaku selama 1 minggu (mulai dari hari Senin sampai hari Minggu) Kurs digunakan untuk penghitungan pajak-pajak yang terutang dalam valuta asing yang harus terlebih dahulu di nilai ke dalam mata uang rupiah Perhitungan bea masuk, PPN-import, PPh pasal 22 sesuai dengan tanggal PIB Penghitungan PPN dan PPn BM sesuai tanggal faktur pajak Penghitungan PPh pasal 21 atau PPh pasal 26 apabila penghasilan diterima dlm mata uang asing Penghitungan pajak ekspor Penghitungan Pajak final yang dibayarkan dlm valuta asing
54 cluster service

April 17, 2013

5Sistem

pembukuan terhadap selisih kurs ada 2 macam, yaitu:

a. Kurs tetap atau kurs historis, pembebanan selisih kurs

dilakukan pada saat terjadinya realisasi atas perkiraan mata uang asing tersebut, b. Kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun dan dilakukan secara taat asas yaitu pembebanan dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun.

55 cluster service

Kurs Tengah BI (Kurs Komersial)


Digunakan oleh perusahaan yg pembukuan dgn rupiah untuk membukukan transaksi yg nilainya dalam valuta asing Perbedaan selisih kurs BI terjadi pada saat membukukan utang piutang valas dengan kurs BI pada saat realisasi menimbulkan laba atau rugi selisih kurs

Cth 1: utk Kurs Tetap/Historis


PT mengekspor barangnya bulan 15 Januari 2011 ke USA nilai US 100,000 (Kurs Rp.9000/dollar). Bulan31 Maret 2011 dterima pembayaran dengan niai kurs Rp.10.000/dollar. Maka laba selisih kurs yang diakui oleh PT A= (100.000 x Rp.10.000) (100.000 x Rp.9000)=100.000.000 15/01 Dr : Piutang dgg Rp.900.000.000 Cr: Penjualan Rp.900.000.000 31/03 Dr: Kas/bank Rp. 1.000.000.000 Cr: Piutang dgg Rp 900.000.000 Cr: Laba selkurs Rp. 100.000.000

Kurs Tengah BI
Pada tgl 30-4-05 PT.A deposito uangnya $10.000 dgn kurs Rp.12.457. Jatuh tempo deposito 31-10-05. pada saat pencairan kurs Rp.13.200
Rp yg dikeluarkan ($10.000xRp.12.457) = 124.570.000 Rp. Diterima($10.000xRp.13.200) = 132.000.000 Keuntungan selkurs 7.430.000

Cth 2
Contoh sblmnya, Kurs tengah BI 17 Juni 2005, Rp.10.200 dan kurs realisasi tgl 13 ags 2005 Rp.10.300 Penjualan PT.X $10.000 x Rp.10.200 = 102.000.000 Jml yg dibayar PT.Y 103.000.000 Selisih kurs 1.000.000 Jurnal PT.X PT.Y 30/06 Piutang dgg 102.000.000 Pembelian 102.000.000 Penjualan 102.000.000 Utang dgg 102.000.000 13/08 Kas/bank 103.000.000 Utang dgg 102.000.000 Piutang dgg 102.000.000 Rugi selkurs 1.000.000 Laba selkurs 1.000.000 Kas/bank 103.000.000

Cth Kurs Tengah BI Akhir Thn


PT S menjual garmen ke LN selama tahun 2011 dengan nilai 1,000.000 USD. Piutang Dagang Awal tahun 2011 sebesar 5.000 USD dengan nilai kurs Rp.9.000 per dollar, Piutang akhir tahun sebesar 15.000 dengan nilai kurs Rp.10.000 per dollar, pelunasan piutang selama tahun 2011 sbsr 990.000 UDS. Perhitungan Laba Selisih Kurs
Keterangan Piutang dagang awal Penjualan Piutang dagang akhir Pelunasan Laba selisih kurs yang diakui adalah sebesar USD 5.000 1.000.000 15.000 990.000 Kurs TBI 9000 9000 9000 9000 Dgn Kr Awal Thn (Rp) Kurs TBI 45.000.000 9.000.000.000 135.000.000 8.910.000.000 10000 10000 10000 10000 Dgn Kr Akhir Thn (Rp) 50.000.000 10.000.000.000 150.000.000 9.900.000.000 Laba Selisih Kurs 5.000.000 1.000.000.000 15.000.000 990.000.000

1.000.000.000

Jurnalnya sbb: Penjualan Dr : Piutang dgg kurs 9.000 Rp.9.000.000.000 Cr: Penjualan Rp.9.000.000.000 Pelunasan Dr: Kas/bank Rp. 9.900.000.000 Cr: Piutang dgg Rp 9 900.000.000 Penyesuaian : Dr: Piutang Dagang Rp.9.900.000.000 Cr: Piutang Dagang Rp.8.910.000.000 Cr: Laba selkurs realisasi Rp. Rp. 990.000.000 Laba kurs yang belum direalisasi: 15.000 5.000) x (10.000 9.000) = Rp.10.000.000. Saldo piutang daganga akhir : 1.005.000 990.000 = 15.000 US x kurs akhir tahun 10.000 menjadi sebesar Rp.150.000.000.

Kurs Menteri Keuangan (Kurs Pajak)


Pada tgl 17 Juni 2005 PT. Z (PKP) menjual barang secara kredit kepada PT.Y (PKP) seharga $ 10.000 belum termasuk PPN. FP standar dibuat tanggal 31 Juli 2005 dan dilunasi tanggal 13 Agustus 2005. Kurs menkeu 15-20 juni Rp. 10.000, 29 jul-4 ags Rp. 10.100 dan 1116 ags Rp.10.200. Berapa jumlah PPN terutang ? Faktur pajak dibuat pada tanggal 31 Juli 2005, PPN dihitung 10% x $ 10.000 x 10.100 = Rp.10.100.000

Kurs
Jurnal PT. Z Piutang dagang PPN Keluaran Jurnal PT. Y PPN Masukan Utang dagang

10.100.000 10.100.000

10.100.000 10.100.000

Selisih kurs akhir tahun


PSAK menyatakan utang piutang dalam valas pada akhir tahun dinyatakan dalam kurs per tgl 31 Desember. Pajak memberikan pilihan bagi WP untuk menyesuaikan nilai utang piutang valas dengan kurs BI atau tidak asalkan taat asas/konsisten Apabila WP tidak menyesuaikan nilai utang piutang valas sesuai kurs pada akhir tahun berarti WP menggunakan kurs tetap

Terima Kasih