Anda di halaman 1dari 21

Tutorial 11 Ketua : Hendra Kurniawan Sekretaris : Roni Andika P. Testi Melina C. Anggota : M.

Fadillah Monica Paramita Nofa Rizky Dwi U. Annisa Guseldha Eka Cahya Yunita Idola Lorenza Merlyn Sanctizsya Y.

Aldi seorang balita yang tinggal didaerah yang hygiene dan sanitasinya jelek, seringmengeluhkan nyeri abdomen kepada ibunya. Tadi pagi Aldi BAB di pekarangan belakang rumahnya dan keluar cacing. Kemudian Aldi dibawa berobat ke Puskesmas oleh ibunya sambil membawa cacing tadi untuk diperlihatkan kepada dokter di Puskesmas. Setelah dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan laboratorium dokter menjelaskan Aldi menderita Ascariasis. Dokter juga menjelaskan kenapa perkembangan berat badan Aldi tidak sesuai dengan umurnya karena terjadinya malabsorbsi dan kalau tidak cepat diobati akan terjadi komplikasi lainya termasuk gangguan imunitas tubuh, dan bisa jatuh ke penyakit malnutrisi berat seperti kwashiorkor dan sangat sukar diobati. Selain diberi obat, dokter juga memberikan penyuluhan untuk penceghan penyakit ini. Gangguan imunitas apa serta bagaimana penatalaksanaanya.

STEP I 1. Kwashiorkor : penyakit karena defisiensi protein 2. Ascariasis : infeksi yang disebabkan oleh cacing a. Lumbricoides 3. Sanitasi : kebersihan lingkungan sekitar 4. Malabsorbsi : keadaan dimana tubuh tidak mampu menyerap sari-sari makanan 5. Hygiene:kebersihan 6. Komplikasi : gabungan dari beberapa gangguan 7. Malnutrisi : kekurangan zat gizi makanan

STEP II 1. Apa yang menyebabkan ascariasis? 2. Penyebaran A.lumbricoide? 3. Hospes A. Lumbricoides? 4. Gejala klinis A. Lumbricoides? 5. Kenapa Ascariasis dapat menyebabkan malabsorbsi? 6. Sikus hidup 7. Hubungan hygiene dengan Ascariasis? 8. Pengobatan ascariasis 9. Diagnosis ascariasis 10. Pencegahan 11. Peran sistem imun 12. Cara infeksi

STEP III 1. Infeksi dari cacing A. Lumbricoides 2. Kosmopolit, terutama daerah tropis 3. Hospes = manusia Habitat = usus halus 4. a. stadium larva : sindroma loffler menyebabkan batuk, eosinofil timggi, demam, ada bayang-bayang putih di thorax saat di rontgen b. stadium dewasa : malabsorbsi, malnutrisi, diare, muntah, sakit perut 5. Cacing dewasa mengambil nutrisi pada tubuh sehingga dapat menyebabkan malnutrisi 6. Manusia menelan telur infektif >masuk ke usus halus> menetas menjadi larva> menembus mukosa usus> melalui hati masuk ke jantung kanan> paruparu> bronchus> trachea> laring > tertelan> faring> eosofagus> usus halus> stadium dewasa

7. Karena termasuk soil transmitted helminth, dimana telur akan menjadi inektif pada tanah sehingga kita harus menjaga kebersihan agar telur cacing infektif ini tidak masuk ke dalam tubuh kita 8. Mebemdazol, pirantel pamoat, piperazin, albendazol,tetramisol. 9. Ditemukan telur pada tinja pada infeksi awal, ditemukan cacing dewasa, ditemukan larva didalam sputum 10. Tidak BAB dsembarang tempat, potong kuku, mejaga kebersihan tubuh, tidak menggunakan pupuk yang mengandung feses manusia, melindungi makanan dari pencemaran kotoran 11. IgE dan eosinofil 12. Autoinfeksi, tertelan telur infektif

STEP IV
Infeksi & Imunitas Parasit a. lumbricoides -epidemiologi -hospes dan habitat -morfologi -Siklus hidup -Gejala klinis -diagnosa -pengobatan -pencegahan

Sistem Imun

Peran sistem imun terhadap a. lumbricoides

STEP V 1. ASCARIS LUMBRICOIDES


a) b) c) d) e) f) g) h) Epidemiologi Hospes dan habitat Morfologi Siklus hidup cara infeksi Gejala klinis Diagnosa Pengobatan Pencegahan

2. Mekanisme sistem imun terhadap A. lumbricoides

STEP VI (Gathering information and private study)

STEP VII 1. Ascaris Lumbricoides


a. Epidemiologi Cacing ini ditemukan kosmopolit (Diseluruh dunia), terutama di daerah dan erat hubungannya dengan hygiene dan sanitasi. Lebih sering ditemukan pada anak-anak. Di indonesia frekuensinya tinggi berkisar antara 20-90% b. Hospes dan habitat Hospes definitifya hanya manusia, jadi manusia pada infeksi cacing ini sebagai hospes obligat. Cacing dewasanya berhabitat di rongga usus halus.

c.

Morfologi Cacing dewasa hidup dalam rongga usus halus manusia. Panjang yang betina 20-40 cm dan cacing jantan 15-31 cm. Cacing betina dapat bertelur sampai 200.000 butir sehari, yang dapat berlangsung selama masa hidupnya yaitu kira-kira 1 tahun. Telur ini tidak menetas di dalam tubuh manusia, tapi dikeluarkan bersama tinja hospes. Telur cacing ini ada yang dibuahi, disebut fertilized. Bentuk ini ada dua macam, yaitu yang mempunyai cortex, disebut fertilized-corticated dan yang lain tidak mempunyai cortex, disebut fertilized-decortcated. Ukuran telur ini 60x45 mikron. Telur yang tidak dibuahi disebut unfertilized, ukurannya lebih lonjong: 90x 40 mikron dan tidak mengandung embrio didalamnya. Telur yang dibuahi ketika keluar bersama tnja manusia tidak infektif. Di tanah pada suhu 20 c- 30 c, dalam waktu 2-3 minggu menjadi matang disebut telur infektif dan di dalam telur ini sudah terdapat larva. Telur infektif ini dapat hidup lama dan tahan terhadap pengaruh buruk.

d. Cara Infeksi Cara infeksi dari cacing ini adalah dengan menelan telur infektif. Di usus halus telur akan menetas. Larva menembus dinding usus masuk kedalam kapiler-kapiler darah, kemudian melalui hati, jantung kanan, paru-paru, bronkus, trakea, laring dan tertelan masuk ke eosofagus, rongga usus halus dan tumbuh menjadi dewasa

e. Siklus Hidup Siklus hidup parasit "Ascaris lumbricoides" dimulai dari cacing dewasa yang bertelur dalam usus halus dan telurnya keluar melalui tinja lewat anus (1), sehingga tahap ini disebut juga dengan fase diagnosis, dimana telurnya mudah ditemukan. Kemudian telur yang keluar bersama tinja akan berkembang di tanah tempattinja tadi dikeluarkan (2) dan mengalami pematangan (3). Selanjutnya setelah telur matang di sebut fase infektif, yaitu tahap di mana telur mudah tertelan (4). Telur yang tertelan akan menetas di usus halus (5). Setelah menetas, larva akan berpindah ke dinding usus halus dan dibawa oleh pembuluh getah bening serta aliran darah ke paru-paru (6). Di dalam paru-paru, larva masuk ke dalam kantung udara (alveoli), naik ke saluran pernafasan dan akhirnya tertelan (7). Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Mulai dari telur matang yang tertelan sampai menjadi cacing dewasa membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan

f.

Gejala Klinis Infeksi A. Lumbricoides akan menimbulkan penyakit ascariasis . penyakit ini menimbulkan gejala yang disebabkan oleh stadium larva dan stadium dewasa. Stadium larva Yaitu lerusakan pada paru-paru yang menimbulkan gejala yang disebut sindroma loffler yang terdiri dari batu-batuk, eosinofil dalam darah menigkat, dan dalam rontgen fhoto thorax terlihat bayangan putih halus yang merata diseluruh lapangan paru yang akan hilang dalam waktu 2 minggu. Gejala dapat ringan dan dapat mejnadi berat pada penderita yang rentan atau infeksi berat. Stadium dewasa Biasanya terjadi gejala usus ringan. Pada infeksi berat terutama pada anak-anak dapat terjadi malabsorbsi yang memperbesar malnutrisi karena perampasan makanan oleh cacing dewasa. Bila cacing nyasar ketempat lain dapat terjadi infeksi ektopik pada apendiks dan ductus choleduchus.

g. Diagnosa Diagnosis dapat ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja penderita atau larva pada sputum, dan dapat juga dengan menemukan cacing dewasakeluar bersama tinja atau melalui muntah pada infeksi berat

h.

Pengobatan Mebendazol Obat ini adalah obat cacing berspektrum luas dengan toleransi hospes yang baik. Diberikan satu tablet (100mg) dua kali sehari selama tiga hari, tanpa melihat umur, dengan menggunakan obat ini sudah dilaporkan beberapa kasus terjadi migrasi ektopik Pirantel pamoat Dosis tunggal sebesar 10 mg/kg berat badan adalah efektif untuk menyembuhkan kasus lebih dari 90%. Gejala sampingan, bila ada tapi cukup ringan dan obat ini biasanya dapat diterima. Obat berspektrum luas ini berguna di daerah endemik dimana infeksi multipel berbagai cacing nematoda merupakan hal yang biasa. Piperazin Obat ini dipakai secara luas, karena murah dan efektif. Piperazin sitrat diberikan dalam dosis tunggal sebesar 30 ml (5 ml adalah ekuivalen dengan 750 mg piperazin). Tetramisol

i. Pencegahan Menjaga sanitasi dan hygiene Tidak BAB disembarang tempat Menjaga kebersihan Tidak memakai tinja manusia sebagai pupuk

2.

Mekanisme sistem imun terhadap Ascaris lumbricoides

a)

Respon imunitas humoral Antibodi yang spesifik ditemukan konsentrasi dan afinitas cukup memadai efektif untuk memberikan proteksi terhadap parasit. Gambaran reaksi imun erhadap infeksi cacing adalah eosinofilia dan peningkatan jumlah IgE. Reaksi yang diperantarai Ige mungkin penting dalam penyembuhan dari infeksi, sedangkan resistensi pada individu yang telah divaksinasi mungkin lebih tergantung pada adanya antibodi IgG dan IgA. Selanjutnya kemampuan untuk mengatasi cacing tertentu dapat diarahkan kepada produksi limfokin tipe Th1 seperti IFN dari TH2 yang menghasilkan IgE.

b) Respon imunitas seluler Seperti halnya mikroba, banyak parasit beradaptasi untuk hidup dalam makrofag, meskipun magrofag mempunyai kemampuan mikrobisidal ampuh termasuk adanya peran NO(nitric a=oxide). Seperti pada infeksi mikrobakteri, sel T penghasil sitokin sangat penting untuk makrofag melaksanakan kemampuan membunuh dan menyingkirkan pengganggu yang tidak dinginkan.

Kesimpulan
Ascariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi oleh cacing A. lumbricoides yang penyebarannya kosmopolit dan berhabitat di usus halus dengan cara infeksi tertelan telur infektif , siklus hidupnya melalui paru-paru, cacing betina dewasa bertelur 200.000/hari dan respon imun yang berperan adalah respon imunitas humoral dan seluler untuk melawan larva dan cacing tersebut. Kita dapat mendiagnosa dengan cara menemukan telur atau cacing dewasa di tinja dengan pengobatan dengan mebendazol, pirantel pamoat dan piperazin dan melakukan pencegahan dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat.

DAFTAR PUSTAKA Safar,rosdiana.2010.Parasitologi Kedokteran Edisi Khusus. Bandung : CV Yrama Widya Soemarno,dkk.2011.Kamus Kedokteran Edisi Keenam. Jakarta : FKUI Subowo,dr.2010.Imunologi Klinik Edisi Ke2. Jakarta : CV Sagung Seto